Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

METODE ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA

Dosen Pengampu : Herni Fitriani, M.Pd

Disusun Oleh :
1. Jhonata Hajis P
2. Neti Sasmita
3. Deni
4. Surani

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


(STKIP) NURUL HUDA
TAHUN AKADEMIK 2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah S.W.T. Dimana atas


anugrah-Nyalah maka penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Metode Ilmiah dan Implementasinya.
Penulis mengucapkan terimakasih kapada semua pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini, semoga makalah ini memberikan
manfaat bagi pembaca semua.
Makalah yang dibuat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pihak-pihak yang telah membaca
makalah ini demi kesempurnaan makalah-makalah kami yang berikutnya.

Belitang, November 2019

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan........................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Ilmiah......................................................... 3
B. Tahapan-tahapan Metode Ilmiah................................................ 4
C. Kebenaran Ilmiah....................................................................... 5
D. Implementasi Metode Ilmiah dalam Pengembangan Ilmu......... 8

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan .............................................................................. 10
3.2 Saran ........................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuhan telah menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dibanding
dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki oleh
makhluk lain, ciri khusus tersebut adalah kemampuan untuk berpikir (homo
sapiens).
Manusia dengan berbagai fenomena alam tidak dapat dipisahkan.
Perkembangan alam pikiran manusia telah berkembang sejak lama, dimana
manusia akan selalu merasa ingin tahu dan akan berusaha untuk mencari tahu
jawaban dari rasa ingin tahunya tersebut. Manusia dengan akal pikirannya yang
berbeda-beda akan mencoba mencari pemecahan permasalahan dengan cara yang
beragam. Ada yang mencari jawaban dengan cara menduga-duga atau berpikir
secara subjektif dan ada juga yang menggunakan akal pikirannya untuk berfikir
secara logis dan objektif.
Berbagai ilmu pengetahuan pada waktu yang akan datang dapat digunakan
sebagai wahana untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang berkaitan
dengan kehidupan. Baik itu ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu lainnya akan sangat
membantu manusia dalam memecahkan masalah-masalah yang muncul. Akan
banyak sekali muncul pertanyaan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan
dan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini. Pertanyaan tersebut
merupakan suatu pertanda adanya masalah dan akan meningkat frekuensinya pada
waktu yang akan datang dibanding dengan pada saat ini.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bukanlah perkara yang mudah.
Akan tetapi solusi untuk pemecahan masalah-masalah tersebut harus ditemukan
dan diinformasikan kepada masyarakat. Apalagi di era globlasasi seperti saat ini,
masyarakat perlu mendapatkan informasi-informasi yang cukup dan memuaskan.
Oleh karena itu, pada makalah ini akan dijelaskan mengenai metode ilmiah dan
implementasinya dalam pengembangan ilmu.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam
makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah yang dimaksud dengan metode ilmiah?
2. Bagaimanakah tahapan-tahapan dalam metode ilmiah?
3. Apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah?
4. Bagaimanakah implementasi metode ilmiah terhadap pengembangan ilmu?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Menjelaskan mengenai metode ilmiah.
2. Menjelaskan mengenai tahapan-tahapan dalam metode ilmiah.
3. Menjelaskan mengenai kebenaran ilmiah.
4. Menjelaskan implementasi metode ilmih terhadap pangembangan ilmu.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Ilmiah


Kata metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang merupakan
gabungan dari kata depan meta (menuju, melalui, mengikuti) dan kata benda
hodos (jalan, cara, arah). Metode ilmiah berarti cara bertindak menurut sistem
aturan tertentu.
Menurut Almadk (1939), metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-
prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran. Ostle
(1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu
untuk memperoleh suatu interelasi. Sedangkan menurut Suastra, I Wayan (2005)
menyatakan bahwa metode ilmiah adalah cara dalam mendapatkan pengetahuan
ilmiah, yang merupakan sintesis antara berpikir rasional dan bertumpu pada data
empiris.
Jadi metode ilmiah adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan
informasi-informasi (fakta-fakta) tentang berbagai fenomena alam dan kehidupan
yang disusun secara sistematis, objektif dan logis.
Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah memiliki ciri-ciri
sebagai berikut.
1. Objektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, yakni kesuaiannya
atau kebenarannya dibuktikan dengan hasil pengindraan atau empiris.
2. Metodik, yakni suatu pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-
cara tertentu, teratur dan terkontrol.
3. Sistematik, artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem, tidak
berdiri sendiri.
4. Berlaku umum, yakni pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati
oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi oleh semua orang, dengan cara
ekperimen yang sama dan akan memperoleh hasil yang sama pula atau
konsisten sifatnya.

3
B. Tahapan-Tahapan Metode Ilmiah
1. Observasi atau Pengamatan
Penelitian ilmiah biasanya dimulai dengan observasi dari sebuah kejadian
yang tidak dapat dijelaskan dan kejadiannya berulang-ulang. Semua
informasi yang diperoleh melalui hasil observasi dari suatu kejadian
disebut petunjuk empiris.
2. Perumusan masalah
Perumusan masalah bertujuan untuk memperjelas luas masalah yang
dibahas. Masalah yang dijelaskan diformulasikan dalam sebuah rumusan
masalah dan umumnya rumusan masalah berkenaan dengan pertanyaan
apa, bagaimana, kapan, dimana, siapa, dan mengapa masalah tersebut yang
diteliti.
3. Penyusunan kerangka berpikir
Kerangka berpikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan
yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling terkait dan
membentuk kostelasi permasalahan, yang disusun secara rasionil
berdasarkan premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya.
4. Pengajuan hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang
diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir
yang dikembangkan. Hipotesis digali dari penelusuran referensi teoritis
dan mengkaji hasil-hasil penelitian sebelumnya. Hipotesis ada dua macam,
yaitu hipotesis alternatif, yaitu hipotesis yang menyatakan adanya
pengaruh dari variabel manipulasi terhadap respons dan hipotesis nol,
yaitu hipotesis yang menyatakan tidak adanya pengaruh antara variabel
manipulasi terhadap variabel respons.
5. Prediksi atau Peramalan
Prediksi merupakan tindakan untuk membuat ramalan atau proyeksi
mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi atau gejala-gejala yang
akan muncul dari kegiatan ilmiah yang dilakukan.

4
6. Pengujian hipotesis atau Eksperimen
Eksperimen adalah usaha sistematis yang dilakukan oleh saintis yang
sengaja dibuat dan diatur untuk membuat memperoleh petunjuk empiris
yang sahih dan reliable (terpecaya), namun sebelum bereksperimen,
seorang saintis terlebih dahulu perlu menyusun perencanaan tentang
eksperimen yang dilakukan.
7. Penarikan kesimpulan.
Penarikan kesimpulan merupakan penilaian yang diterima atau tidaknya
sebuat hipotesis. Dalam membuat kesimpulan seorang peneliti harus lepas
dari unsur subjektif dan tetap berpedoman pada pandangan objektif yang
berdasar pada hasil penelitian. Kesimpulan yang diperoleh dapat bersifat
mendukung hipotesis maupun menolak hipotesis.
Jika beberapa hasil penelitan tetap memberikan dukungan kepada
hipotesis, maka hipotesis terangkat lebih tinggi menjadi suatu teori. Jika
pengujian terhadap teori tersebut tidak terbantah , maka teori akan menjadi
suatu hukum ilmiah.
8. Publikasi
Suatu temuan tidak akan ada artinya jika temuan yang diperoleh tidak
dikomunikasikan ke masyarakat ilmiah. Baberapa bentuk komunikasi
ilkiah yang dilakukan adalah berupa laporan ilmiah maupun seminar
ilmiah.
Keseluruhan langkah tersebut harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat
disebut ilmiah karena langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah yang
lain. Pentingnya metode ilmiah bukan saja dalam proses penemuan dan
pembuktian ilmu pengetahuan, namun terlebih lagi dalam mengkomunikasikan
penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmiah.

C. Kebenaran Ilmiah
Kebenaran merupakan tujuan dari setiap pengetahuan dan ilmu. Kebenaran
yang dituju oleh ilmu ialah kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah diperoleh melalui
prosedur baku di bidang keilmuan yakni metologi ilmiah.

5
1. Ada tiga teori utama tentang kebenaran yaitu sebagai berikut.
a. Teori Korespondensi
Teori ini dikembangkan oleh Betrand Russel (1872-1970). Teori ini
mengatakan bahwa suatu proposisi benar kalau prosisi itu sesuai dengan
fakta. Kalau saya mengatakan bahwa salju berwarna putih, pernyataan itu
benar jika fakta menunjukkan bahwa salju bewarna putih.
b. Teori Koherensi
Para penganut teori koherensi mengatakan bahwa suatu proposisi benar
jika proposisi itu koheren dengan proposisi-proposisi lain yang
sebelumnya dianggap benar. Bila kita menganggap bahwa “semua
manusia akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan
“ani adalah seorang manusia dan ani pasti akan mati” adalah pernyataan
yang benar pula, karena pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan
pertama.
c. Teori Pragmatis
Teori ini dikembangkan oleh Charles S Peirce (1839-1914) dalam sebuah
makalahnya yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul How to Make Our
Ideas Clear. Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa suatu proposisi
benar jika dilihat dari realisasi proposisi itu. Jadi, benar-tidaknya
tergantung pada konsekuensi. Kata kunci untuk teori pragmatis adalah
“dapat dilaksanakan” dan “berguna”. Teori ini mengatakan bahwa benar-
tidaknya sesuatu bergantung pada dapat-tidaknya proposisi dilaksanakan
dan apakah proposisi itu berguna. Sebagai contoh : seorang ahli mencoba
teori belajar X dalam kelas, ternyata dengan menerapkan teori tersebut
maka prestasi belajar anak meningkat. Teori ini dianggap benar sebab ini
adalah fungsional dan mempunyai kegunaan.

2. Tiga Jenis Kebenaran


Ada tiga jenis kebenaran yaitu sebagai berikut.
a. Kebenaran Epistemologis (kebenaran Logis)

6
Yang dipersoalkan di sini adalah apa artinya pengetahuan yang benar?
Atau kapan sebuah pengetahuan disebut pengetahuan yang benar?
Jawabannya adalah apabila yang terdapat dalam pikiran subjek sesuai
dengan yang ada dalam objek.
b. Kebenaran Ontologis
Kebenaran ontologis berkaitan dengan sifat dasar atau kodrat dari objek.
Misalnya, kita mengatakan batu adalah benda padat yang keras. Ini sebuah
kebenaran ontologis, sebab batu pada hakikatnya benda padat yang sangat
keras.
c. Kebenaran Semantik
Kebenaran ini berkaitan dengan pemakaian bahasa. Ini tergantung pada
kebebasan menusia sebagai mahkluk yang bebas melakukan sesuatu.
Bahasa merupakan ungkapan dari kebenaran.

3. Sifat-sifat Kebenaran Ilmiah


a. Bersifat objektif
Bersifat objektif artinya kebenaran sebuah teori ilmiah harus di dukung
oleh kenyataan objektif atau fakta, bukan bersifat subjektif
b. Bersifat universal
Bersifat universal karena kebenaran ilmiah merupakan hasil konvensi dari
para ilmuan-ilmuan di bidangnya.
c. Bersifat relatif
Ilmu dan teknologi mengalami perkembangan tidak sekaligus dan final,
tetapi tahap demi tahap, yang sering lebih sering disebut kebenaran
sementara (Tim UGM, 121-123). Sebagai contoh, suatu teori yang
dianggap benar suatu waktu akan gugur oleh hasil penemuan baru. Dalam
kasus seperti ini dilakukan penelitian ulang dan pengkajian yang
mendalam. Apabila penemuan baru (yang menolak kebenaran lama) bisa
dibuktikan kebenarannya, maka kebenaran yang lama harus ditinggalkan
dan membutuhkan konvensi para ilmuan.

7
D. Implementasi Metode Ilmiah dalam Pengembangan Ilmu
Rasa ingin tahu merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia.
Sifat tersebut akan mendorong manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Setiap
manusia yang berakal sehat pasti memiliki pengetahuan, baik berupa fakta,
konsep, maupun prinsip. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman
atau melalui interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Salah satu bentuk
pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan ilmiah yang sering
disebut ilmu. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, namun tidak semua
pengetahuan dapat disebut ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara
sistematis dan logis yang didasari oleh dua teori kebenaran yaitu teori
korespondensi dan koherensi.
Korespondensi dan koherensi mendasari bagaimana ilmu diperoleh dan
melahirkan cara mendapatkan kebenaran ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu
agar memiliki nilai kebenaran harus dilandasi oleh cara berpikir rasional
berdasarkan logika dan berpikir empiris berdasarkan fakta. Salah satu cara untuk
mendapatkan ilmu adalah melalui suatu penelitian .
Penelitian sebagai upaya memperoleh kebenaran harus didasari oleh
proses berpikir ilmiah yang dituangkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah
adalah kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang
dilakukan menggunakan metode ilmiah mengandung dua unsur penting, yaitu
pengamatan dan penalaran. Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila
suatu pernyataan ingin diterima sebagai suatu kebenaran, maka pernyataan
tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji kebenarannya secara empiris
(berdasarkan fakta).
Metode ilmiah boleh dikatakan merupakan sutu pengejaran terhadap
kebenaran yang diatur dalam pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari
ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka
metode ilmiah berkehendak mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan
menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan
metode ilmiah memiliki hubungan yang sangat dekat. Pentingnya metode ilmiah
bukan saja dalam proses penemuan dan pembuktian ilmu pengetahuan, namun

8
terlebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan illmiah tersebut kepada
masyarakat ilmiah karena penemuan ilmiah tersebut telah tersusun secara
sistematis.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode ilmiah merupakan merupakan suatu cara yang digunakan untuk
mendapatkan informasi-informasi (fakta-fakta) tentang berbagai fenomena alam
dan kehidupan yang disusun secara sistematis, objektif dan logis. Metode ilmiah
bersifat objektif, metodik, sistematik, serta berlaku umum (generalisasi).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ilmiah meliputi:
observasi atau pengamatan, perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir,
menentukan hipotesis, prediksi atau peramalan, pengujian hipotesis atau
eksperimen, penarikan kesimpulan, serta publikasi.
Ada tiga teori kebenaran dalam berpikir ilmiah, yaitu teori koherensi,
teori korespondensi, dan teori pragmatisme. Ilmu-ilmu alam pada umumnya
menuntut kebenaran yang korespondensi karena fakta- fakta objektif sangat
dituntut terhadap setiap pernyataan.
Metode ilmiah merupakan suatu langkah terhadap pengejaran kebenaran
yang ditur dalam pertimbangan-pertimbangan logis. Metode ilmiah tidak saja
berguna dalam proses penemuan dan pembuktian ilmu pengetahuan, namun
terlebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada
masyarakat ilmiah.

B. Saran
Dengan mengetahui tentang metode ilmiah dan tahapan-tahapan dalam
metode ilmiah, dapat kita pergunakan sebagai bekal dalam penelitian yang akan
kita gunakan nantinya. Tampaknya dengan perkembangan alam pikiran yang
semakin luas, manusia tidak akan berhenti berpikir dan mencari tahu tentang suatu
kebenaran, sehingga pembuktian ilmiah sangat diperlukan untuk membuktikan
keingintahuan manusia akan kebenaran tersebut.

10
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2012. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Makasssar : Anugrah Mandiri.

Aryana, Ida Bagus Putu.dkk.2005. Ilmu Alamiah Dasar. Singaraja : Undiksha

Aryulina, Diah.2006.Biologi SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta : Erlangga

Sudjadi, Bagod.2007. Biologi untuk SMA Semester Pertama. Jakarta : Yudistira

http://ayuwisnawati.blogspot.com/2013/01/metode-ilmiah-dan-implementasinya-
dalam.html

11