Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

ARTI DAN KANDUNGAN PERBUATAN BAIK DAN BURUK MANUSIA


SERTA ARTI DAN KANDUNGAN HIDUP SEDERHANA DAN
PERINTAH MENYANTUNI PARA DUAFA

DOSEN PEMBIMBING : AGUS SISWANTO, M. Pd.I

Disusun Oleh :
1. DENI WARDOYO
2. MIFTAHUDIN AL HARIS

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH


STIT MISBAHUL ULUM GUMAWANG
BELITANG OKU TIMUR
2021
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, semoga shalawat dan salam-
Nya terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan
seluruh kerabatnya, sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jejaknya hingga
akhir zaman. Alhamdulillah akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Arti dan Kandungan Perbuatan Baik dan Buruk Manusia serta Arti dan
Kandungan Hidup Sederhana dan Perintah Menyantuni Para Duafa” ini tepat pada
waktunya.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampu Bapak Agus
Siswanto, M. Pd.I yang telah memberikan arahan dalam pembuatan makalah ini
dan kepada semua pihak yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini,
atas do’a dan dukungan yang memberikan semangat dan kekuatan, sehingga
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini tentunya masih sangat jauh dari kesempurnaan yang
semestinya. Karena pengetahuan yang kami miliki sangat terbatas. Oleh karena
itu, kami sangat berharap kritik dan saran yang sangat konstruktif demi
kesempurnaan makalah-makalah kami yang lainnya.

Belitang, Maret 2021


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................... 1
C. Tujuan...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Arti dan Kandungan Al-qur'an Hadits tentang Akibat
yang Baik dan Buruk dari Perbuatan Manusia ........................... 3
B. Arti dan Kandungan tentang Hidup Sederhana dan
Perintah Menyantuni Para Duafa................................................ 6

BAB III PENUTUP


Kesimpulan....................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan masyarakat muslim, Al-Quran merupakan sumber
hukum pertama dan utama. Al-Quran merupakan realitas normatif sebagai sumber
pokok ajaran. Dalam kapasitasnya sebagai petunjuk (hudan) dan penjelasan
(mubin), al-quran memuat berbagai tema abadi kemanusiaan, termasuk penjelasan
tentang kebaikan dan keburukan bagi kehidupan manusia. Sebagai sumber utama,
al-quran mestilah menjadi sumber rujukan yang utama pula bagi kaum muslimin
dalam memberikan pandangan tentang baik dan buruk.
Dalam memaparkan dan menjelaskan kebaikan dan keburukan, Alquran
menggunakan banyak istilah dengan gaya dan ragam bahasa yang berbeda pula.
Demikian pula ayat-ayat tentang kebaikan dan keburukan tersebar di berbagai
surat dengan tema-tema tertentu pula. Keragaman istilah dan tema dalam
menggambarkan kebaikan dan keburukan, tentu memiliki maksud dan makna
tersendiri. keadaan demikian menuntut penggalian dan pengkajian secara tekstual
dan kontekstual untuk selanjutnya menghasilkan rumusan-rumusan konseptual
mengenai kebaikan dan keburukan.
Sikap sederhana selalu dipraktekkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupan
beliau. Beliau adalah manusia yang memerintahkan umatnya untuk selalu hidup
sederhana dan beliau pula yang mempraktekkan pertama kali. Sikap sederhana ini
beliau praktekkan dalam semua lini kehidupan, baik tutur kata, penampilan,
bahkan dalam berwudu.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan arti dan kandungan Al-Qur’an Hadits tentang akibat baik dan
buruk perbuatan manusia?
2. Jelaskan arti dan kandungan tentang hidup sederhana dan perintah
menyantuni para duafa?

1
C. Tujuan
1. Mengetahui arti dan kandungan Al-Qur’an Hadits tentang akibat baik dan
buruk perbuatan manusia.
2. Mengetahui arti dan kandungan tentang hidup sederhana dan perintah
menyantuni para duafa.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Arti dan Kandungan Al-qur'an Hadits tentang Akibat yang Baik dan
Buruk dari Perbuatan Manusia
Al-Ashfahani menyebutkan bahwa kata al-husnu merupakan gambaran
segala sesuatu yang menyenangkan dan disukai, baik berdasarkan pandangan
akal, hawa, atau dari segi pandangan secara fisik. Sedangkan al- hasanah
menggambarkan kenikmatan manusia pada dirinya, badannya, dan keadaannya,
seperti kemewahan, kelapangan, dan kemenangan (QS. 4: 78). Sedangkan al-
sayyiah biasa digunakan untuk kelaparan, kesempitan, atau kesusahan (QS. 4 :
78; 7: 131; 30: 36). Pengertian lain penggunaan al- hasanah adalah digunakan
untuk pahala, sedangkan al-sayyiah untuk siksaan1. Dengan demikian belum
merupakan kebaikan akhlak.
Penggunaan kata al-husnu, di dalam Alquran, adalah untuk segala sesuatu
yang dipandang baik berdasarkan bashirah (hati nurani), seperti ditunjukkan
dalam QS. 39: 18, yaitu menjauhi subhat. Ditegaskan Rasulullah s.a.w.:
“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan”. (HR. Ahmad; 17320, CD
Hadits)
Ditunjukkan pula dalam QS. 29: 8; 9: 52; 5: 50, bahwa kebaikan hukum
Allah hanya akan terang dan jelas bagi orang yang yakin terhadapnya, dengan
memelihara dan mempelajari serta menjauhkan diri jauh dari kebodohan.
Disisi lain ditegaskan bahwa al-ihsan pada dasarnya terbagi menjadi dua
bagian, yaitu memberi nikmat kepada yang lain dan mengamalkan kebaikan yang
diketahuinya yang sifatnya lebih umum daripada memberikan kenikmatan (QS :
17:7). Inilah istilah yang tepat untuk digunakan kebaikan akhlak manusia. Dengan
istilah ini, maka dalam peristilahan ini perilaku manusia menggambarkan kualitas
diri yang melakukan perbuatan sesuai dengan pikirannya dan memberi manfaat
kepada orang lain. Alquran menegaskan bahwa perbuatan baik akan kembali

1al-Raghib al-Asfahani, op.cit. h.117.

3
kepada dirinya (Q.S. 17 : 7).
Ibnu Manzhur menyatakan bahwa yang dimaksud al-khair adalah
kebaikan berupa kenikmatan dunia yaitu yang terbaik dari segala sesuatu. Abu
Ishak menyebutnya bahwa pada dirinya terdapat kebaikan akhlak dan bagus rupa.
Kata al-khairah dinisbatkan kepada wanita yang mulia, yaitu yang berketurunan
mulia, bagus rupa bagus akhlak, dan banyak hartanya sehingga jika melahirkan
akan memberikan kesenangan /menyenangkan2.
Al-khair adalah segala sesuatu yang disukai, seperti akal, adil, utama, dan
sesuatu yang bermanfaat. Kebaikan berdasarkan kata ini dibagi dua, yaitu
kebaikan mutlaq dan kebaikan muqayyad. Kebaikan mutlak adalah kebaikan yang
disenangi pada setiap keadaan dan siapa pun, seperti syurga. Sedangkan kebaikan
muqayyad adalah kebaikan yang mungkin baik bagi seseorang dan dalam keadaan
tertentu, tetapi tidak bagi yang lainnya atau dalam keadaan lainnya3.
Al-khair yang diartikan harta untuk kepentingan wasiat dalam QS. 2: 180,
menurut para ulama adalah harta yang banyak dan suci/bersih. Dalam
pemakaiannya kata al-khair-al-syarr dapat diartikan sebagai isim (QS. 3:104) dan
dapat pula sebagai sifat pada wajan af’ala (2: 106, 197). Sedangkan pada QS. 2:
184 dapat diartikan kedua-duanya4. Al-syarr menunjukkan pengertian segala
sesuatu yang dibenci. Biasanya keburukan yang ditunjukkan dengan kata al-syarr
diperkuat dengan menyebut kata al- khair dan macamnya (QS. 12: 77; 19: 85; 25:
34). Seseorang yang buruk adalah yang terpanggil pada keburukan, dan kaum
yang buruk dinisbatkan kepada keburukannya5. Sementara Ibnu Manzhuur
menyatakan bahwa keburukan manusia adalah sesuatu yang menjadikannya hina6.
Untuk menggambarkan kebaikan dalam istilah al-khairat, Alquran
menunjukkan perintah untuk berlomba-lomba (QS. 2: 148; 5: 48), atau
bersegera meraihnya (QS. 3: 114; 21: 90; 23: 61). Penggunaan kalimat-
kalimat tersebut menunjukkan bahwa kebaikan dimaksud harus diraih dengan
kerja keras untuk menunjukkan keutamaan masing-masing dibanding lainnya.
2Ibn. Manzuur, op.cit. jilid 2 h.265.
3al-Raaghib al-Asfahani, op.cit. h.163
4al-Raaghib al-Asfahani, op.cit. h.163
5Ibid h. 263.
6Ibnu Manzuur, op.cit. jilid 2 h. 400.

4
Ayat-ayat itu menyatakan bahwa masing-masing mempunyai jalan yang dianggap
baik menuju keutamaan hidup. Salah satu bentuk kebajikan mukmin adalah jihad
dengan jiwa dan harta (QS. 9: 88). Selanjutnya Alquran menjelaskan bahwa
keutamaan yang hakiki adalah keutamaan berdasarkan ilham yang diberikan Allah
(QS. 21: 73). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa konsep kebaikan dan
keburukan dalam term al- khair-al-syarr, memiliki kecenderungan dalam
menggambarkan kebaikan dan keburukan yang berdimensi sosial. Kebaikan dan
keburukan berdasarkan istilah ini lebih menggambarkan kebaikan dan keburukan
yang tidak mudah diketahui oleh masyarakat banyak, melainkan hanya oleh
orang-orang tertentu. Dengan demikian wajar bila Alquran mengisyaratkan bahwa
untuk sampai pada al-khair mesti diajak bukan diperintahkan.
Sedangkan konsep kebaikan dan keburukan dalam term al-ma’ruf-al-
munkar menunjukan kecenderungan kepada kebaikan-keburukan yang
berhubungan dengan ketaatan dan ketundukan manusia kepada Allah, sang
Pencipta. Secara akal dan syara’ mudah dikenali masyarakat umum. Secara tegas,
Alquran sering menggunakan istilah al-ma’ruf-al-munkar dengan
dipersandingkan dengan kata ‘amara dan naha. Berdasarkan pencarian frase,
dalam Alquran ditemukan sebanyak 14 kali persandingan al-ma’ruf dengan kata
‘amara, dan 12 kali kata al-munkardengan naha. Keterangan lain dapat dirujuk
adalah bahwa secara konstektual penggunaan kata al-ma’ruf dalam Alquran yang
senantiasa berhubungan dengan persoalan dan ketentuan yang digariskan Allah
secara syar’i. Oleh sebab itu dapat dimaklumi bila Al- Suyuthi menegaskan
bahwa al-ma’ruf dan al-munkar bersifat syar’iyah7.
Konsep kebaikan dan keburukan dalam term al-mashlahah dan al-
mafsadah lebih cenderung kepada gambaran kebaikan yang berhubungan dengan
kebaikan-keburukan alam dan lingkungan secara umum dan menunjukkan
kebaikan bersifat amaliyah. Keterangan ke arah tersebut dapat dilihat dari
larangan berbuat kerusakan di bumi, baik secara fisik maupun pada tatanan
kehidupan secara umum. Para mufasir, disamping memaknai amal shalih dengan
sejumlah ketaatan, juga menjelaskan bagaimana peperangan, permusuhan, dan

7al-Suyuthi, op.cit. CD Quran Versi 6.5

5
lainnya sebagai hal yang merusak tatanan kehidupan sehingga dikategorikan
sebagai perbuatan merusak al-mafsadah di muka bumi dan harus dicegah demi
kemaslahatan.
Pada akhirnya Alquran mengoreksi sekaligus mengarahkan manusia pada
kebaikan akhlak yang hakiki yang secara mutlak tergambar dalam penggunaan al-
birr, sebagai kebaikan yang hakiki dan menggambarkan integrasi akal, perasaan,
sekaligus tuntunan syara dalam menentukan baik buruk, sehingga mencakup
sekaligus mengintegralkan seluruh kebaikan dari berbagai dimensi.
Isyarat-isyarat yang ditunjukkan Alquran melalui ayatnya tentang
kebaikan dan keburukan menunjukan bahwa pandangan baik-buruk pada diri
manusia dapat beraneka ragam, tergantung landasan yang digunakannya. Pada
gilirannya pengetahuan dan pemahaman yang jelas serta mendalam tentang
rumusan baik buruk ditentukan oleh hal-hal yang menjadi keharusan untuk
dilakukan dan keharusan untuk dijauhi.
Beberapa istilah yang digunakan Alquran dalam menggambarkan
kebaikan dan keburukan telah memberikan petunjuk bahwa kebaikan dan
keburukan bermacam-macam. Berdasarkan uraian yang lalu, dapat dinyatakan
bahwa kebaikan dan keburukan ditentukan oleh berbagai sumber, yaitu:
berdasarkan syar’i, akal, pandangan secara fisik, dan kehendak manusia (sifat jiwa
manusia). Oleh karena itu, pembicaraan tentang baik (kebaikan) – buruk
(keburukan) menuntut pembicaraan berbagai dimensi. Dimensi dimaksud adalah:
kebaikan alam, kebaikan hewani, kebaikan lahiriah manusia, dan kebaikan susila
(moral)33. Dengan demikian, tidak semua yang dikatakan ”kebaikan” merupakan
”kebaikan” dalam dimensi akhak34.

B. Arti dan Kandungan tentang Hidup Sederhana dan Perintah Menyantuni


Para Duafa
1. Surah al-Furqan ayat 67
a. Membaca dan Menerjemahkan
ِ ‫َوالَّ ِذ ْينَ إِ َذا أَ ْنفَقُوْ ا لَ ْم يُس‬
‫ْرفُوْ ا َولَ ْم يَ ْقتُرُوْ ا َو َكانَ بَ ْينَ َذلِكَ قَ َوا ًما‬
(67 :‫)الفرقان‬

6
Artinya:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-
tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al Furqan: 67).

b. Isi Kandungan Surah al-Furqan ayat 67


Ayat ini adalah merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang
berisi tentang ciri-ciri ‘ibadurrahman. Dalam tafsir al-Jalalain disebutkan
bahwa sifat ‘ibadurrahman adalah ketika mereka berinfak pada keluarga,
mereka tidak berlebihan dan tidak pelit. Mereka membelanjakan harta
mereka di tengah-tengah keadaan berlebihan dan meremehkan. Intinya
infak mereka bersifat pertengahan.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sifat ‘ibadurrahman adalah mereka tidak
mubazir (boros) kala membelanjakan harta mereka, yaitu
membelanjakannya di luar hajat (kebutuhan). Mereka tidak bersifat lalai
sampai mengurangi dari kewajiban sehingga tidak mencukupi. Intinya
mereka membelanjakan harta mereka dengan sifat adil dan penuh
kebaikan. Sikap yang paling baik adalah sifat pertengahan, tidak terlalu
boros dan tidak bersifat kikir.
Disebutkan dalam riwayat Ahmad, “Di antara tanda cerdasnya seseorang
adalah bersikap pertengahan dalam penghidupan (membelanjakan harta).”
Sebagian ulama mengatakan tentang maksud dari berlebih-lebihan dalam
membelanjakan harta adalah menafkahkan harta dalam maksiat kepada
Allah. Hasan al-Bashri berkata, “Nafkah yang dibelanjakan di jalan Allah
tidak disebut boros (berlebihan).”

2. Surah al-Isra: 26-27 dan Surah al-Isra: 29-30

7
a. Membaca dan Menerjemahkan
ْ ُ‫ إِ َّن ْال ُمبَ ِّذ ِرينَ َكان‬- ً‫يل َوالَ تُبَ ِّذرْ تَ ْب ِذيرا‬
ِ َ‫وا إِ ْخ َوانَ ال َّشي‬
‫اطي ِن‬ ِ ِ‫ت َذا ْالقُرْ بَى َحقَّهُ َو ْال ِم ْس ِكينَ َوا ْبنَ ال َّسب‬
ِ ‫َوآ‬
)27 -26 :‫) َو َكانَ ال َّش ْيطَانُ لِ َربِّ ِه َكفُوراً (اإلسراء‬
Artinya:
“(Dan berikanlah) kasihkanlah (kepada keluarga-keluarga yang dekat)
famili-famili terdekat (akan haknya) yaitu memuliakan mereka dan
menghubungkan silaturahmi kepada mereka (kepada orang-orang miskin
dan orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan hartamu secara boros) yaitu menginfakkannya
bukan pada jalan ketaatan kepada Allah. (Sesungguhnya orang-orang
pemboros itu adalah saudara-saudara setan) artinya berjalan pada jalan
setan (dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya) sangat ingkar
kepada nikmat-nikmat yang dilimpahkan oleh-Nya, maka demikian pula
saudara setan yaitu orang yang pemboros.” (Q.S. al-Isra’: 26-27)
ْ ‫ك َوالَ تَ ْبس‬
ُ‫ إِ َّن َربَّكَ يَ ْب ُسط‬- ً‫ َملُوما ً َّمحْ سُورا‬ ‫ُطهَا ُك َّل ْالبَ ْس ِط فَتَ ْق ُع َد‬ َ ِ‫ك َم ْغلُولَةً إِلَى ُعنُق‬
َ ‫َوالَ تَجْ َعلْ يَ َد‬
ِ َ‫ ب‬ ً‫ق لِ َمن يَ َشا ُء َويَ ْق ِد ُر إِنَّهُ َكانَ بِ ِعبَا ِد ِه خَ بِيرا‬
) 30 -29 :‫صيراً (اإلسراء‬ َ ‫الر ِّْز‬

Artinya:
“(Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu)
artinya janganlah kamu menahannya dari berinfak secara keras-keras;
artinya pelit sekali (dan janganlah kamu mengulurkannya) dalam
membelanjakan hartamu (secara keterlaluan, karena itu kamu menjadi
tercela) pengertian tercela ini dialamatkan kepada orang yang pelit (dan
menyesal) hartamu habis ludes dan kamu tidak memiliki apa-apa lagi
karenanya; pengertian ini ditujukan kepada orang yang terlalu berlebihan
di dalam membelanjakan hartanya. (Sesungguhnya Rabbmu melapangkan
rezeki) meluaskannya (kepada siapa yang Dia kehendaki dan
membatasinya) menyempitkannya kepada siapa yang Dia kehendaki
(sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-
hamba-Nya) mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang terlahirkan

8
tentang diri mereka karena itu Dia memberi rezeki kepada mereka sesuai
dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.” (Q.S. al-Isra’: 29-30)

b. Isi Kandungan Surah Al-Isra’ ayat 26-27 dan 29-30


Berikut ini merupakan isi pokok kandungan dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 26-
27 
1) Allah swt. telah berfirman dan memerintahkan kepada kita semua
sebagai umat Islam untuk memberikan atau menunaikan hak (berzakat,
sedekah, infak, dll) kepada keluarga-keluarga yang dekat, orang
miskin, musafir (orang yang dalam perjalanan).
2) Dalam ayat ini berisi perintah untuk berbuat baik kepada kaum dhuafa
seperti orang orang miskin, orang terlantar, dan juga orang yang dalam
perjalanan.
3) Hak lainnya yang harus ditunaikan adalah “mempererat tali
persaudaraan dan hubungan kasih saya satu sama lain, saling
bersilaturahmi, bersikap lemah lembut dan sopan santun, memberikan
bantuan kepada mereka, dan memberikan sebagaian rizeki yang Allah
swt berikan kepada kita semua.
4) Selanjutnya Allah swt memberikan penegasan bahwa kita dilarang
untuk menghambur-hamburkan harta yang kita miliki secara boros
atau berlebihan, Islam mengajarkan kita kesederhanaan, sehingga kita
harus membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan saja, seperlunya
saja dan tidak boleh berlebihan.
5) Dalam ayat yang ke 27 Allah berfirman bahwa orang-orang yang
berperilaku boros adalah saudara-saudaranya setan.

Adapun isi kandungan dari Surah al-Isra’ ayat 29-30 adalah sebagai
berikut :
1) Allah swt. memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar bersikap
ekonomis dalam kehidupan dan mencela sifat kikir, serta dalam waktu
yang sama melarang sifat berlebih-lebihan. Surah al-Isra’ ayat 29 ini

9
juga menegaskan bahwa anggapan orang-orang Yahudi bahwa tangan
Allah terbelenggu (maksudnya Allah bersifat kikir) itu salah.
Kenyataannya, Allah Mahatinggi lagi Mahasuci, Mahamulia, dan
Maha Pemberi.
2) Namun di saat kita hendak membelanjakan harta, Allah swt melarang
untuk berlaku berlebih-lebihan dengan cara memberi di luar
kemampuan dan mengeluarkan biaya lebih dari pemasukanmu.
3) Selanjutnya, dalam ayat 30, Allah swt. memberi penegasan bahwa
Dialah yang memberi rezeki dan menyempitkannya. Dia pulalah yang
mengatur rezeki makhlukNya menurut apa yang dikehendaki. Hal itu
karena Dia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak
menjadi kaya dan siapa yang berhak menjadi miskin.

3. Surah al-Qashash: 79-82


a. Membaca dan Menerjemahkan
ٍّ ‫فَخَ َر َج َعلَى قَوْ ِم ِه فِ ْى ِز ْينَتِ ِه قَا َل الَّ ِذ ْينَ ي ُِر ْي ُدوْ نَ ْال َحيَاةَ ال ُّد ْنيَا يَلَيْتَ لَنَا ِم ْث َل َما اُوْ تِ َي قَارُوْ نَ إِنَّهُ لَ ُذوْ َح‬
‫ظ‬
َ‫صالِحًا َوالَ يُلَقَّاهَا إِالَّ الصَّابِرُوْ ن‬ َ ‫ َوقَا َل الَّ ِذ ْينَ اُوْ تُوا ْال ِع ْل َم َو ْيلَ ُك ْم ثَ َوابُ هللاِ َخ ْي ٌر لِ َم ْن آ َمنَ َو َع ِم َل‬- ‫َع ِظي ٍْم‬
- َ‫ص ِر ْين‬ ِ َ‫صرُوْ نَهُ ِم ْن ُدوْ ِن هللاِ َو َما َكانَ ِمنَ ْال ُم ْنت‬ ُ ‫ض فَ َما َكانَ لَهُ ِم ْن فِئَ ٍة يَ ْن‬ َ ْ‫َار ِه اأْل َر‬ِ ‫ فَخَ َس ْفنَا بِ ِه َوبِد‬-
َ ‫س يَقُوْ لُوْ نَ َو ْي َكأ َ َّن هللاَ يَ ْب ُسطُ ال ِّر ْز‬
َ‫ق لِ َم ْن يَ َشا ُء ِم ْن ِعبَا ِد ِه َويَ ْق ِد ُر لَوْ ال‬ ِ ‫َوأَصْ بَ َح الَّ ِذ ْينَ تَ َمنَّوْ ا َم َكانَهُ بِاأْل َ ْم‬
)82 -79 :‫أَ ْن َم َّن هللاُ َعلَ ْينَا لَخَ َسفَ بِنَا َو ْي َكأَنَّهُ الَ يُ ْفلِ ُح ْال َكافِرُوْ نَ (القصص‬

b. Isi Kandungan Surah Al-Qashash ayat 79-80


 Ayat 79 dari surah al-Qashash mengandung makna suatu kisah umat
terdahulu, yaitu Qarun yang hidup dengan bergelimang harta. Qarun hidup
pada zaman Nabi Musa a.s., bahkan suatu riwayat mengatakan bahwa
Qarun adalah anak paman Nabi Musa. Oleh Allah SWT. Qarun dikarunia
harta melimpah. Begitu banyaknya harta yang dimiliki Qarun sehingga
kunci anak gudang hartanya itu tidak bisa diangkat oleh puluhan oramg
kuat. Namun sayangnya, harta yang melimpah itu membuat Qarun lupa

10
diri dan menjadi takabur. Dia mengatakan bahwa hartanya yang banyak itu
berkat hasil usahanya semata, bukan karena adanya rahmat Allah atau
pemberian-Nya.
            Pada suatu hari, Qarun keluar dari istana (rumahnya) dengan segala
kemegahannya, dikawal oleh para punggawanya. Tujuannya adalah untuk
memamerkan kekayaannya kepada masyarakat dan menunjukkan
kehebatan dirinya dalam berusaha. Qarun berhasil memperdaya sebagian
masyarakat dan diantara mereka ada yang berkata; “Alangkah senangnya
seandainya kita diberi harta yang melimpah seperti Qarun, kita dapat
menikmati hidup ini dengan sepuas – puasnya”.
            Dinyatakan pada ayat berikutnya (80) bahwa orang yang
mempunyai ilmu dan akal sehat, sama sekali tidak tertarik oleh harta yang
dipamerkan Qarun tersebut. Apalah artinya harta jika tidak dapat
mendatangkan kebahagiaan diakhirat. Mereka bahkan mengatakan bahwa
pahala Allah SWT. Jauh lebih penting dan bernilai daripada harta
melimpah bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Sebab, harta yang
tidak berkah seperti harta kekayaan Qarun tersebut hanya akan
mendatangkan azab dari Allah SWT. Mereka yakin bahwa Allah hanya
akan memberikan pahala kepada orang – orang yang beriman dan beramal
saleh.
Selanjutnya (ayat 81 – 82), Allah menegaskan bahwa akibat
kesombongan dan ketakaburannya, Qarun ditenggelamkan beserta seluruh
harta kekayaannya ke dasar bumi dan tidak ditemukan bekas – bekasnya.
Akhirnya, menjadi sebutan orang, setiap menemukan sesuatu yang bernilai
dari dalam tanah, kita sering menyebutnya harta karun.
Ditenggelamkannya Qarun ke dasar bumi merupakan azab Allah yang
harus diterimanya atas kesombongannya. Ketika azab Allah itu datang,
tidak ada seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepadanya.
Bahkan dia sama sekali tidak mampu menolong dirinya sendiri., apalagi
menolong orang lain. Harta kekayaan yang disombongkannya juga tidak
mampu berbuat apa – apa, kecuali ikut hancur musnah ditelan bumi.

11
            Atas kejadian tragis yang menimpa Qarun beserta para pengikut
setianya itu maka masyarakat yang sebelumnya menginginkan harta
melimpah seperti yang dimiliki Qarun menjadi sadar dan kembali bertobat
kepada Allah. Mereka menyadari bahwa harta benda sama sekali tidak bisa
menolong dari azab Allah. Ia hanyalah titipan dan amanah yang harus
digunakan sesuai dengan kehendak Allah. Jika tidak, maka harta itu akan
mendatangkan bencana bagi pemiliknya, seperti halnya yang menimpa
Qarun.

4. Surah al-Baqaah: 177


a. Membaca dan Menerjemahkan
‫اآلخ ِر َو ْال َمآلئِ َك ِة‬
ِ ‫ َم ْن آ َمنَ بِاهّلل ِ َو ْاليَوْ ِم‬ ‫ب َولَـ ِك َّن ْالبِ َّر‬
ِ ‫ق َو ْال َم ْغ ِر‬
ِ ‫وا ُوجُوهَ ُك ْم قِبَ َل ْال َم ْش ِر‬
ْ ُّ‫ْس ْالبِ َّر أَن تُ َول‬
َ ‫لَّي‬
َ‫ َوالسَّآئِلِين‬ ‫ ْال َما َل َعلَى ُحبِّ ِه َذ ِوي ْالقُرْ بَى َو ْاليَتَا َمى َو ْال َم َسا ِكينَ َوا ْبنَ ال َّسبِي ِل‬ ‫ب َوالنَّبِيِّينَ َوآتَى‬ ِ ‫َو ْال ِكتَا‬
‫ُوا َوالصَّابِ ِرينَ فِي ْالبَأْ َساء‬
ْ ‫ بِ َع ْه ِد ِه ْم إِ َذا عَاهَد‬  َ‫ب َوأَقَا َم الصَّالةَ َوآتَى ال َّز َكاةَ َو ْال ُموفُون‬ِ ‫َوفِي ال ِّرقَا‬
) 177 : ‫ك هُ ُم ْال ُمتَّقُونَ (البقرة‬ َ ِ‫ص َدقُوا َوأُولَـئ‬ َ ِ‫س أُولَـئ‬ ْ
َ َ‫ك الَّ ِذين‬ ِ ‫ ْالبَأ‬  َ‫ضرَّاء َو ِحين‬ َّ ‫وال‬

Artinya:
“(Kebaktian itu bukanlah dengan menghadapkan wajahmu) dalam salat
(ke arah timur dan barat) ayat ini turun untuk menolak anggapan orang-
orang Yahudi dan Kristen yang menyangka demikian, (tetapi orang yang
berbakti itu) ada yang membaca ‘al-barr’ dengan ba baris di atas, artinya
orang yang berbakti (ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat-malaikat, kitab) maksudnya kitab-kitab suci (dan nabi-nabi,)
(serta memberikan harta atas) artinya harta yang (dicintainya) (kepada
kaum kerabat) atau famili (anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang
yang dalam perjalanan) atau musafir, (orang-orang yang meminta-minta)
atau pengemis, (dan pada) memerdekakan (budak) yakni yang telah
dijanjikan akan dibebaskan dengan membayar sejumlah tebusan, begitu
juga para tawanan, (serta mendirikan salat dan membayar zakat) yang
wajib dan sebelum mencapai nisabnya secara tathawwu` atau sukarela,
(orang-orang yang menepati janji bila mereka berjanji) baik kepada Allah

12
atau kepada manusia, (orang-orang yang sabar) baris di atas sebagai pujian
(dalam kesempitan) yakni kemiskinan yang sangat (penderitaan) misalnya
karena sakit (dan sewaktu perang) yakni ketika berkecamuknya perang di
jalan Allah. (Mereka itulah) yakni yang disebut di atas (orang-orang yang
benar) dalam keimanan dan mengakui kebaktian (dan mereka itulah orang-
orang yang bertakwa) kepada Allah.” (Q.S. al-Baqarah: 177)

b. Isi Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 177


Surah al-Baqarah ayat 177 menjelaskan tentang hakikat daripada
sebuah kebaikan.  Yang dimaksud dengan kebaikan pada surah Al Baqarah
Ayat 177 ini adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan senantiasa mewujudkan keimanannya di dalam
kehidupan sehari-hari. Contoh-contoh dari perbuatan baik tersebut antara
lain sebagai berikut.
1) Memberi harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang
membutuhkannya.
2) Memberikan bantuan kepada anak yatim.
3) Memberikan harta kepada musafir yang membutuhkan
4) .Memberi harta kepada orang-orang yang terpaksa meminta-minta
5) .Memberikan harta untuk memerdekakan hamba sahaya.
6) Memjalankan ibadah yang telah diperintahkan Allah dengan penuh
keikhlasan.
7) Menunaikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya
8) .Menepati janji bagi mereka yang mengadakan perjanjian.
Dari ayat ini juga, kita mengetahui contoh golongan yang termasuk
dalam kelompok orang-orang lemah. Mereka terdiri dari anak yatim, fakir,
miskin, ibnu sabil (orang orang yang kehabisan bekal di perjalanan), para
tawanan perang, orang yang tertimpa musibah, dan orang yang meminta
minta. Mereka semua harus mendapat perlindungan dari negara dan
bantuan dari manusia.

13
Pada kelompok dhu’afa dan mustadh’afin ini tersimpan sebuah
potensi besar yang apabila digali akan menjadi suatu kekuatan luar biasa,
sebagaimana firman Allah di atas. Karenanya, kelompok dhu’afa dan
mustadh’afin perlu dibina, dihimpun, dan diberdayakan. Orang yang tidak
memberi perhatian kepada golongan ini, dalam Islam disebut pendusta
agama.

5. Surah al-An’am: 1-7


a. Membaca dan Menerjemahkan
‫ هُ َو‬- َ‫ت َوالنُّو َر ثُ َّم الَّ ِذينَ َكفَرُوا بِ َربِّ ِه ْم يَ ْع ِدلُون‬
ِ ‫الظلُ َما‬ُّ ‫ض َو َج َع َل‬ َ ْ‫ت َواأْل َر‬ َ َ‫ْال َح ْم ُد هَّلِل ِ الَّ ِذي خَ ل‬
ِ ‫ق ال َّس َما َوا‬
‫ت َوفِي‬ِ ‫ َوهُ َو هَّللا ُ فِي ال َّس َما َوا‬- َ‫ضى أَ َجاًل َوأَ َج ٌل ُم َس ¯ـًمًّى ِع ْن َدهُ ثُ َّم أَ ْنتُ ْم تَ ْمتَرُون‬َ َ‫الَّ ِذي خَ لَقَ ُك ْم ِم ْن ِطي ٍن ثُ َّم ق‬
‫ت َربِّ ِه ْم إِاَّل َكانُوا َع ْنهَا‬ ِ ‫ َو َما تَأْتِي ِه ْم ِم ْن آيَ ٍة ِم ْن آيَا‬- َ‫ض يَ ْعلَ ُم ِس َّر ُك ْم َو َج ْه َر ُك ْم َويَ ْعلَ ُم َما تَ ْك ِسبُون‬ ِ ْ‫اأْل َر‬
‫ أَلَ ْم يَ َروْ ا َك ْم‬- َ‫ق لَ َّما َجا َءهُ ْم فَ َسوْ فَ يَأْتِي ِه ْم أَ ْنبَا ُء َما َكانُوا بِ ِه يَ ْستَه ِْزئُون‬ِّ ‫ فَقَ ْد َك َّذبُوا بِ ْال َح‬- َ‫ضين‬ ِ ‫ْر‬ِ ‫ُمع‬
‫ض َما لَ ْم نُ َم ِّك ْن لَ ُك ْم َوأَرْ َس ْلنَا ال َّس َما َء َعلَ ْي ِه ْم ِم ْد َرارًا َو َج َع ْلنَا‬
ِ ْ‫أَ ْهلَ ْكنَا ِم ْن قَ ْبلِ ِه ْم ِم ْن قَرْ ٍن َم َّكنَّاهُ ْم فِي اأْل َر‬
َ ‫ َولَوْ نَ َّز ْلنَا َعلَ ْي‬- َ‫اأْل َ ْنهَا َر تَجْ ِري ِم ْن تَحْ تِ ِه ْم فَأ َ ْهلَ ْكنَاهُ ْم بِ ُذنُوبِ ِه ْم َوأَ ْن َشأْنَا ِم ْن بَ ْع ِد ِه ْم قَرْ نًا آ َخ ِرين‬
‫ك ِكتَابًا‬
)7 -1 : ‫ين (األنعام‬ ٌ ِ‫ال الَّ ِذينَ َكفَرُوا إِ ْن هَ َذا إِاَّل ِسحْ ٌر ُمب‬ َ َ‫س فَلَ َمسُوهُ بِأ َ ْي ِدي ِه ْم لَق‬
ٍ ‫فِي قِرْ طَا‬
Artinya:
“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan
mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir
mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. Dialah Yang
menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal
(kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit)
yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian
kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). Dan Dialah Allah (Yang
disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu
rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang
kamu usahakan. Dan tak ada suatu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan sampai
kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya
(mendustakannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak
(Al Qur’an) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai
kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-

14
olokkan. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya
generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal
(generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,
yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami
curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai
mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa
mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. Dan
kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat
memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang
kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (Q.S. al-
An’am: 1-7)

b. Isi Kandungan Surah Al-An’am ayat 1-7


Al-‘Aufi, Ikrimah, dan ‘Atha meriwayatkan dari Ibnu Abbas :
Surat Al-An’am diturunkan di Makkah. Ath-Thabrany meriwayatkan dari
Ibnu Abbas: Surat Al-An’am turun di Makkah pada waktu malam hari
dengan sekaligus, dan bersama turunnya diiringi 70.000 Malaikat yang
mengumandangkan tasbih di sekiarnya. As-Suddy meriwayatkan dari
Murrah dari Abdullah : Surat Al-An’am turun dengan diiringi 70.00
Malaikat.
Pada ayat pertama, Allah Ta’ala berfirman dengan memuji diriNya
yang mulia, menyanjung diriNya atas penciptaan makhlukNya, langit, dan
penciptaan bumi sebagai tempat tinggal untuk hamba-hambaNya. Dia
menjadikan pula adanya gelap dan terang yang bermanfaat bagi hamba-
hambaNya baik pada malam hari maupun siang hari.
Setelah penjelasan ringkas dan jelas tentang penciptaan langit dan bumi,
terang dan kegelapan, kemudian Allah berkata, “namun orang-orang yang
kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
Dengan firman Allah di penutup ayat 1 surat al-An’am ini, Allah
berkata bahwa dengan semua penjelasan itu, sebagian hambaNya tetap saja
kafir. Mereka menjadikan sekutu – sekutu dan tandingan – tandingan bagi

15
Allah. Mereka juga menjadikan Allah memiliki istri dan anak. Maha
Tinggi Allah dari semua anggapan itu setinggi-tingginya.
Pada ayat kedua, yang dimaksud dengan menciptakan kamu dari
tanah ini yakni Adam, yang merupakan nenek moyang dan asal mereka.
Bermula Adamlah kemudian mereka lahir dan tersebar di timur dan barat.
Sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang
ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu
masih ragu-ragu tentang hari kiamat.
Ayat ketiga menjelaskan bahwa Dialah Tuhan yang diseru,
disembah baik di langit maupun di bumi. Dialah yang disembah dan
diesakan, diakui sebagai Tuhan yang berhak diibadahi oleh semua yang
ada di langit dan di bumi. Mereka menyembahNya dengan rasa takut dan
penuh harap, kecuali sebagian dari golongan jin dan manusia yang kafir.
Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan
dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan, yakni Dia Maha
Mengetahui semua amalanmu, yang baik maupun yang buruk.\
Pada ayat selanjutnya, Allah memberitahukan tentang orang –
orang musyrik yang mendustakan dan mengingkariNya, bahwa setiap kali
datang kepada mereka ayat, yang merupakan bukti – bukti dan mukjizat
serta hujjah-hujjah yang menunjukkan keesaan Allah dan kebenaran
Rasul-RasulNya, maka dengan serta merta mereka berpaling darinya, tidak
mau memperhatikannya, dan tidak mempedulikannya.
Ayat kelima merupakan kecaman dan ancaman keras bagi mereka
atas pendustaan mereka terhadap kebenaran. Bahwa pasti akan datang
(kebenaran) berita yang mereka dustakan itu, pasti mereka akan mendapati
akibatnya, dan pasti mereka akan merasakan akibat dari perbuatan mereka.
Lalu Allah memberikan nasehat kepada meraka, akan datangnya
azab dan pembalasan dunia yang menimpa mereka sebagaimana telah
terjadi pada orang–orang terdahulu, yaitu umat yang melakukan perbuatan
serupa dengan perbuatan mereka. Sedangkan orang–orang sebelum mereka
itu adalah orang–orang yang lebih kuat dari mereka, jumlah mereka lebih

16
banyak, harta dan anak mereka juga lebih banyak, mereka juga lebih
perkasa, dan kebudayaan mereka lebih maju.
Allah mengingatkan mereka dengan firmannya pada ayat keenam,
“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah
Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi.” Yaitu, keteguhan yang belum
pernah Allah berikan kepada orang tersebut seperti harta dan anak-anak
serta bangunan – bangunan generasi terdahulu itu lebih banyak dan lebih
kokoh. Mereka memiliki pengaruh yang luas, kedudukan yang kuat, serta
mereka juga memiliki bala tentara. Allah memperbanyak curah hujan dari
langit, dan mengalirkan sumber – sumber air bagi mereka. Semua itu
sebagai istidraj untuk memuaskan mereka.
Selanjutnya, Allah menciptakan generasi baru pengganti mereka
untuk diuji. Lalu mereka (generasi baru itu) melakukan perbuatan yang
sama dengan generasi sebelumnya, sehingga Allah hancurkan pula mereka
sebagaimana menghancurkan generasi sebelumnya.
Maka berhati-hatilah, janganlah seseorang ditimpa seperti yang
telah menimpa orang – orang sebelumnya. Sesungguhnnya di hadapan
Allah, seseorang tidak lebih hebat dari orang-orang sebelum mereka.
Sedang Rasul Muhammad Saw. yang mereka dustakan itu lebih mulia di
sisi Allah daripada Rasul – Rasul yang didustakan oleh orang-orang
sebelum kamu. Dan sekiranya bukan karena kelembutan Allah dan
kebaikanNya, tentulah orang tersebut lebih berhak untuk mendapatkan
azab dan lebih tepat untuk disegerakan siksaNya bagi kamu.

17
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Konsep kebaikan dan keburukan dalam Alquran dengan menggunakan
keragaman kata mengarahkan konsep utuh yang meliputi labelisasi, spesifikasi,
kriteria, serta contoh-contoh serta jelas dan tegas. Alquran secara tegas
mengoreksi sekaligus mengarahkan pandangan baik–buruk pada intregasi dimensi
akal dan trasenden menuju pertanggung –jawaban pada diri sendiri, sesama, alam,
dan Tuhannya.
Tanamkan keyakinan bahwa di dalam harta yang kita miliki, terdapat hak
orang lain, yaitu kaum lemah, seperti fakir miskin, anak yatim, dan terlantar.
Mereka mempunyai hak atas harta yang kita miliki, dan hak itu harus diberikan
kepada mereka.

18
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Achamad. 1975. Etika (Ilmu akhlak). Terj: Farid Ma’ruf. Jakarta :
Bulan Bintang.

Ardani, Mansur. 2001. Nilai-nilai Akhlak /Budi pekerti dalam Ibadat.


Jakarta: Karya Mulia.

Drijarkoro.S.,J. 1969. Filsafat Manusia, Yayasan Knisius, Yogyakarta,.


E.Sumarsono. 1995. Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat. Jakarta:
Kanisius.

Federsfild, Howard M. 1996. Kajian Alquran di Indonesia. Bandung: Mizan.

Hamzah Ya’qub, Etika Islam, Pembinaan Akhlakqulkarimah (Suatu Pengantar).


Bandung : CV.Diponogoro.

Hidayat, Komarudin. 1996. Memahami Bahasa Agama (Sebuah Kajian


Hermeneutik), Jakarta : Paramadina.

19