Anda di halaman 1dari 27

Kepemimpinan

dan Pendidikan
dalam Islam
Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem
tertentu, karenanya Istilah kepemimpinan pada dasarnya
berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan
tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang.

(Jarwanto, Pengantar Manajemen (3 IN 1), Mediatera, Yogyakarta, 2015,


hlm. 92 )
Menurut Ibnul Khaldun, definisi
imamah adalah mengatur seluruh
rakyat agar sesuai dengan aturan
syariat demi merealisasikan
kemaslahatan mereka dalam urusan
dunia dan akherat.

(Ibnu Khaldun, Al-Muqaddimah, hal. 190, dinukil dari


Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘inda Ahl As-Sunnah wa
Al-Jama’ah karya Abdullah bin Umar bin Sulaiman
Ad-Dumaiji, hal 29)
Al-Baidhawi juga menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah
sebagai proses seseorang (di antara umat Islam) dalam
menggantikan (tugas) Rasulullah untuk menegakkan pilar-pilar
syariat dan menjaga eksistensi agama, di mana ada kewajiban
bagi seluruh umat Islam untuk mengikuti (tunduk kepada)-nya.
Dengan demikian Imamah (kepemimpinan) bukanlah tujuan,
akan tetapi ia hanya wasilah untuk menjalankan ketaaan
kapada Allah.
(Al-Baidhawi, Hasyiyah Syarh Al-Mathali’, hal. 228, dinukil dari Al-Wajiz fi Fiqh
Al-Khilafah karya Shalah Shawi, hal. 5)
Tugas Utama Pemimpin dalam Islam
Tentang tugas kepemimpinan ini, diantaranya, Allah isyaratkan
dalam Al-Quran surat (Al-Hajj: 41).

”( yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan


mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali
segala urusan.”
Tugas seorang pemimpin
1. Menegakkan keadilan dan memberantas kezhaliman

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat


kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
(QS. An-Nahl: 90)
2. Menjaga persatuan antar umat dan
mencegah perpecahan
َ‫ﷲ ﻟَﻌَ ﻠﱠ ُﻛ ْم ﺗُرْ ﺣَ ﻣُون‬
َ ‫إِ ﱠﻧﻣَﺎ ا ْﻟﻣ ُْؤ ِﻣﻧُونَ إِﺧْ َوةٌ َﻓﺄ َﺻْ ﻠِﺣُوا َﺑﯾْنَ أَﺧَ َو ْﯾ ُﻛ ْم َوا ﱠﺗﻘُوا ﱠ‬
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat,” (QS.
Al-Hujurat: 10)
3. Menjaga perbatasan wilayah dan
menciptakan keamanan bagi setiap
warga yang ada dalam
kepemimpinannya
Imam Haramain Al-Juwaini berkata,
“Perhatian pemimpin untuk menjaga
perbatasan merupakan perkara yang
cukup penting, yaitu dengan menjaga
benteng perbatasan, menyimpan
cadangan makanan yang cukup, menggali
parit, serta menyediakan alat
perlengkapan militer untuk pertahanan
wilayah dan menyiapkan para pasukan di
sepajang jalur perbatasan.”

(Al-Juwaini, Ghiyasul Umam, hal. 156)


4. Mengelola kekayaan alam untuk kemaslahatan
umat

Diantara tujuan dari adanya kepemimpinan dalam Islam


adalah mengelola kekayaan alam yang telah diciptakan
oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya:
‫ض َواﺳْ ﺗَﻌْ ﻣَرَ ُﻛ ْم ﻓِﯾﮭَﺎ‬
ِ ْ‫ھ َُو أَ ْﻧ َﺷﺄ َ ُﻛ ْم ﻣِنَ اﻷر‬
“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
menjadikan kamu pemakmurnya…”(QS. Hud: 61)
Sifat-sifat yang harus
dimiliki pemimpin:
1. Mempunyai kekuatan atau kapasitas serta
kecerdasan
2. Amanah dalam menjalankan tugas
3. Adanya kepekaan terhadap hak-hak yang ada
4. Profesionalitas dalam mengemban tanggung jawab
5. Tidak mengambil kesempatan dan kesempitan
Karakteristik Pemimpin Dalam Islam
Pemimpin ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau
adalah pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan
bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan,
kebaikan dan kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
‫ﷲَ َﻛﺜِﯿﺮًا‬
‫ﷲَ وَا ْﻟﯿَﻮْ َم ْاﻵﺧِ َﺮ َو َذ َﻛ َﺮ ﱠ‬
‫ﷲِ أُ ْﺳ َﻮةٌ َﺣ َﺴﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎنَ ﯾَﺮْ ﺟُﻮ ﱠ‬
‫ﻟَﻘَ ْﺪ ﻛَﺎنَ ﻟَ ُﻜ ْﻢ ﻓِﻲ َرﺳُﻮلِ ﱠ‬
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia
banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab:21)

Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah dikaruniai
empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam
perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung
jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan
fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.
Dengan demikian, di antara tujuan yang paling mendasar
adanya konsep kepemimpinan dalam Islam adalah seorang
pemimpin dipilih untuk melanjutkan tugas kenabian yang
bertanggung jawab untuk menegakkan agama dan mengatur
kemaslahatan umat. Di tangannya-lah urusan umat akan
berjalan dengan teratur. Baik urusan dunia maupun urusan
akhirat.

Karena perannya yang begitu mulia, para ulama sepakat bahwa


seluruh umat Islam wajib tunduk dan taat kepada pemimpin
selagi tidak dalam perkara maksiat. Tanpa memandang ras atau
Pedoman dalam Memilih
Pemimpin

1. Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai
pemimpin bagi orang-orang muslim karena bagaimanapun akan
mempengaruhi kualitas keberagamaan rakyat yang dipimpinya (An-Nisaa:
144)
2. Tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan
agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam (QS. Al-Maidah: 57 ) Jangan
memilih pemimpin berdasarkan kekerabatan ataupun pertemanan dengan
mengorbankan faktor agama dan keimanan(QS. At-Taubah: 34)
4. Pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya. Pemberian tugas atau
wewenang kepada yang tidak berkompeten akan mengakibatkan rusaknya
pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana Sabda Rasulullah
SAW.
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah
masa kehancurannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Pemimpin harus bisa diterima (accep-table), mencintai dan dicintai umatnya,


mendoakan dan didoakan oleh umatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.
“Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu,
kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk
pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu
melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR. Muslim)
Pengertian Pendidikan

Secara bahasa pendidikan yang


dalam bahasa Arab disebut “tarbiyah”
memiliki tiga asal makna. Makna
pertama tarbiyah bermakna
az-ziyadah dan an-namâ` yang
berarti bertambah atau tumbuh.
Makna kedua tarbiyah adalah
nasya`a dan tara’ra’ah yang
bermakna tumbuh dan berkembang.
Dan makna ketiga, tarbiyah
bermakna aslaha yang berarti
memperbaiki.
Sedangkan secara umum pendidikan atau tarbiyah adalah sebuah
amal yang memiliki tujuan dan sebuah seni yang fleksibel dan selalu
berkembang. Adapun tujuannya adalah membentuk karakter kebaikan
sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.

Dengan begitu pendidikan atau tarbiyah adalah menjaga supaya


manusia tetap dalam fitrahnya sebagaimana ia dilahirkan supaya tidak
tersusupi oleh hawa nafsu yang dihembuskan setan.
Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib
Tarbiyah: Pemeliharaan jiwa dan akal, akhlak
sebagai pemeliharaan syariat
Ta’lim: Mengajar dan mendidik
Ta’dib: “Undangan Pendidikan” pendidikan
akhlak/tatakrama dalam kebenaran, tatakrama
dalam pengabdian, dan tatakrama dalam syariat,
tatakrama dalam persahabatan.
Rasulullah saw. bersabda bahwa “Semua
manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka
TUJUAN
PENDIDIKAN orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu
DALAM ISLAM
menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau majusi. (HR.
Bukhari)
Maka untuk menjaga fitrah manusia tetap
dalam tauhid dan karakter kebaikan maka Allah
menurunkan risalahnya berupa Al-Quran dan
juga Sunnah Rasul-Nya sebagai panduan untuk
menjaga fitrah tersebut sekaligus mendidiknya
dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan yang
sempurna.
Menurut ‘Atif as-Sayid dalam bukunya at-Tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha
wa manhajuha wa mualimuha menerangkan bahwa pendidikan dalam
pandangan Islam adalah pembentukan karakter sehingga menjadi insan yang
sempurna dari segi jasad, ruh, dan akhlaq berdasarkan apa yang menjadi misi
Islam.
Singkatnya, pendidikan dalam Islam bertujuan untuk menjadikan manusia
sebagai insan yang bertakwa. Sebab takwa merupakan sebaik-baik bekal untuk
menghadapi hari esok. Tanpa takwa manusia akan merasakan kesengsaraan
yang amat pada hari mendatang.
Inilah output sesungguhnya dari pendidikan dalam Islam. Takwa yang
memiliki maka berusaha untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan sesuai
dengan kemampuan hamba-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sekuat
tenaga inilah tujuan utama. Sebab, jika seseorang sudah memiliki sifat taqwa,
berarti pendidikan terhadapnya telah berhasil
TIGA OBJEK PENDIDIKAN

Tiga Objek Pendidikan Dalam


Al-Quran
Al-Quran membagi objek
pendidikan menjadi tiga objek.
Yang pertama adalah objek
individual. Kedua adalah objek
keluarga dan orang-orang dekat,
dan ketiga adalah objek
Objek individual
Bahwa objek pendidikan tersebut adalah dirinya
sendiri. Yakni seseorang mendakwahi dirinya sendiri.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
saw. Allah memberikan beliau semacam wahyu untuk
menyendiri di dalam gua Hira. Tak lain tujuannya
adalah untuk mendakwahi diri sendiri dengan
mentadaburi alam dan melihat keadaan sekitar berupa
masyarakat Makah yang sangat jauh dari nilai-nilai
kemanusiaan.

Objek dakwah individual inilah yang Allah singgung


dalam Al-Quran surat (at-Tahrim:6)
Allah berfirman yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka….” (At-Tahrim: 6)
Objek keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita. Ini adalah sasaran kedua
setelah individu. Sebagaimana firman Allah di atas, Allah menyebutkan “Jagalah dirimu”
setelah itu Allah melanjutkan “dan keluargamu”. Ibarat penjagaan polisi dari terorisme,
individu ada di ring pertama dan keluarga ada di ring kedua.
Dakwah seseorang kepada keluarga dekatnya dan juga kepada orang-orang yang
hidup bersamanya, mulai dari teman dan kolega, merupakan dakwah yang dilakukan
oleh para nabi termasuk Nabi Muhammad saw.
Nabi Muhammad saw. ketika selesai mendapat perintah untuk berdakwah, beliau tidak
langsung menuju ke Ka’bah di mana Ka’bah adalah tempat berkumpulnya masyarakat
Makah waktu itu, tetapi beliau berdakwah kepada keluarganya terlebih dahulu. Hal ini
juga atas petunjuk dari Allah langsung sebagaimana firmannya:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’arâ’: 214)
Tentu Islam hadir tidak hanya untuk menshalihkan individu tertentu dan
MASYARAKAT
atau keluarga tertentu, melainkan untuk menshalihkan semua orang yang
menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
Secara tegas Allah memperingatkan kepada kita agar kita tidak tiga egois
dengan keadaan orang lain. Allah berfirman yang artinya:
“Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak ditimpakan hanya untuk
orang-orang yang zhalim saja dan ketahuilah bahwasanya azab Allah
amatlah keras.”
Ayat ini memberikan indikasi bahwa kita jangan merasa aman ketika kita
sudah shalih. Padahal di samping kanan dan kiri kita masih banyak orang
yang berbuat kezhaliman. Maka dari sini kita paham bahwa objek ketiga
dari pendidikan adalah masyarakat umum.
Namun, apakah seseorang harus shalih individunya dahulu sebelum
mendidik keluarga dan masyarakat? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah
sikap tawazun atau keseimbangan antara menshalihkan diri sendiri dengan
menshalihkan keluarga dan menshalihkan masyarakat. Sebab itulah
Rasulullah menyampaikan, “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.”
Artinya apa yang kita sampaikan adalah apa yang kita ketahui.
Kesimpulan
1. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau
memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan
atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu
sosial, sebab prinsip-prinsip dan rumusanya diharapkan
dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia
2. Pendidikan menjadi langkah pertama sebagai dasar
pembentukan pola pikir dan berwawasan luas.
Kumpulan pertanyaan

Apakah pemimpin kita sudah sesuai dengan sifat” yang ada?


(Al-maidah:3) pisahkan politik dengan agama?
1. Bagaimana jika kita dihadapkan oleh pemimpin yahudi dan nasrani? Bagaimana apabila pemimpin muslim tetapi dibelakngnya non
muslim
2. Bagaimana jika pemimpin ini mudah memotifasi tetapi tidak sesuai dibidangnya?
3. Apa penyebab orang pintar tetapi tidak bijak dalam menerapkan keilmuannya? Apa penyebabnya?
4. Bagaimana agar tujuan pendidikan tercapai dengan baik? Peran pemerintah, Objek, kurikulum
5. Bagaimana pendidikan Islam di Era modern? Pendidikan yang menitik beratkan pada Akhlak
6. Tips dalam memilih pemimpian?
7. Bagaimana kalau pemimpin yang kita plih itu tdk menjalankan dengan baik dipertengahan kepemimpinannya?
8. Bagaimana apabila pemimpin yang non muslim tetapi memiliki sifat seperti Rasululah?
9. Apa yang harus dilakkukan pemimpin apabila menghadapi karyawan yang tdk patuh?
10. Pemimpin yang tdk amanah? Dzolim

Anda mungkin juga menyukai