Anda di halaman 1dari 11

Herpes Zoster

a. Pengertian
 Merupakan penyakit neurodermal ditandai dengan nyeri radikular
unilateral serta erupsi vesikuler berkelompok dengan dasar eritematoso
pada daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf kranialis atau spinalis.
( Sjaiful, 2002:190 )
 Adalah radang kulit akut dan setempat yang merupakan reaktivasi virus
variselo-zaster dari infeksi endogen yang telah menetap dalam bentuk
laten setelah infeksi primer oleh virus. ( Marwali, 2000:92 )

b. Etiologi
 Timbul karena terkena penularan kembali ( reexposure ) atau karena
reaktivasi virus yang laten, oleh infeksi varisella bila daya tahan tubuh
menurun.
 Disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). Infeksiositas virus ini
dengan cepat dapat dihancurkan oleh bahan organic, deterjen, enzim
proteolitik, panas, dan lingkungan pH yang tinggi.

c. Klasifikasi
Menurut daerah penyerangannya dikenal:
 Herpes Zoster oftalmika : menyerang dahi dan sekitar mata
 Herpes Zoster servikalis : menyerang pundak dan lengan
 Herpes Zoster torakalis : menyerang dada dan perut
 Herpes Zoster lumbalis : menyerang pantat dan paha
 Herpes Zoster sakralis : menyerang sekitar anus dan genitalia
 Herpes Zoster otikum : menyerang telinga.
Gangguan pada nervus fasialis dan optikus dapat menimbulkan Sindrom Ramsay-
Hunt dengan gejala paralysis otot-otot muka ( Bell’s palsy ), tinitus, vertigo,
gangguan pendengaran, nistagmus, dan nausea.
Bentuk-bentuk lain Herpes zoster:
 Herpes zoster hemoragika : vesikula - vesikulanya tampak berwarna
merah kehitaman karena berisi darah
 Herpes zoster abortivum : penyakit berlangsung ringan dalam waktu
yang singkat dan erupsinya hanya berupa eritema dan papula kecil
 Herpes zoster generalisata : kelainan kulit unilateral dan segmental
disertai kelainan kulit yang menyebar secara generalisata berupa vesikula
dengan umbilikasi.

d. Patofisiologi
Selama terjadinya infeksi varisela, VZV meninggalkan lesi di kulit dan
permukaan mukosa ke ujung serabut saraf sensorik. Kemudian secara sentripetal
virus ini dibawa melalui serabut saraf sensorik tersebut menuju ke ganglion saraf
sensorik. Dalam ganglion ini, virus memasuki masa laten dan di sini tidak
infeksitas dan tidak mengatakan multiplikasi lagi, namun tidak berarti ia
kehilangan daya infeksinya.
Bila daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan, akan terjadi reaktivasi
virus. Virus mengalami multiplikasi dan menyebar di dalam ganglion. Ini
menyebabkan nekrosis pada saraf serta terjadi inflamasi yang berat, dan biasanya
disertai neuralgia yang berat.
VZV yang infeksius ini mengikuti serabut saraf sensorik, sehingga terjadi neuritis.
Neuritis ini berakhir pada ujung serabut saraf sensorik di kulit dengan gambaran
erupsi yang khas untuk erupsi herpes zoster.
1) Neuralgia pascaherpetika adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah
bekas penyembuhan. Neuralgia dapat berlangsung berbulan-bulan
sampai beberapa tahun. Keadaan ini cenderung terjadi pada penderita
di atas usia 40 tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi.
2) Infeksi sekunder oleh bakteri akan menyebabkan terhambatnya
penyembuhan dan akan meninggalkan bekas sikatriks.
3) Pada sebagian kecil penderita dapat terjadi paralysis motorik, terutama
bila virus juga menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis,
terjadinya biasanya 2 minggu setelah timbulnya erupsi.

e. Manifestasi Klinis
 Muncul lesi-lesi didahului gatal-gatal sebelum erupsi yang ringan atau
parah
 Nyeri tekan atau rasa sakit dan parestesi pada dermatom yang terserang
 Gejala konstitusi seperti sakit kepala, malaise, dan demam dan timbul 1-2
hari sebelum terjadi erupsi
 Adanya macula, vesikula, pustula, kiusta, dan parut yang merupakan
evolusi dari lesi
 Erupsi seperti korset mengikuti suatu dermatom dada unilateral
(manifestasi tersering)
 Gangguan motorik dan sensorik ( bila melibatkan gelang ekstremitas atau
ekstremitas perifer )
 Disestesia
 Rasa terbakar dangkal
 Limfadenopati
 Tingking

f. Komplikasi
• Karena terjadi vaskulopati misalnya pada saraf mata, organ dalam,
miositis, sistitis, motor paraksis.
• Pada kulit, antara lain skar, keloid, dermatitis, granulomatosis, veskulitis
granulomatosis, komedo, xanthomatous changes, dan milia.
• Gangguan pada mata, antara lain konjungtivitis, ptosis paralitik, keratitis,
epithelial, skleritis, iridosiklitis, uveiritis, dan glaucoma.
• Gangguan pada Nervus Trigeminus cabang ke 3 atau saraf kranial cabang
ke 5, 7, 9, dan 10 timbul otikus zoster denganm manifestasi klinis berupa
sakit kepala, tinitus, vertigo, tuli, nyeri telinga, dan facial pain ( sindrom
Ramsay Hunt ).

g. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan sediaan apus secara Tzanck, membantu menegakkan diagnosis
dengan menemukan sel datia berinti banyak
 Pemeriksaan cairan vesikel atau material biopsy dengan mikroskop elektron
 Tes serologic.

h. Penatalaksanaan.
1) Pencegahan
Mencakup pencegahan infeksi laten dan pencegahan reaktivasi virus yang laten
yang bisa dilakukan melalui isolasi.
2) Pengobatan
 Terapi sistemik hanya bersifat simptomatik, misalnya pemberian
analgetika untuk mengurangi neuralgia. Dapat juga ditambahkan
neurotropik : vitamin B1, B6, dan B12.
 Antibiotika, bila ada infeksi sekunder.
 Local : bedak. Losio kelamin diberikan untik mengurangi rasa tidak enak
dan mengeringkan lesi vesikuler.
 IDU 5-40% dalam 100% DMSO ( dimetilsulfoksial ) dipakai secara
topical.
 Pemberian secara oral predhison 30 mg per hari atau triamsinolon 48 mg
sehari akan memperpendek masa neuralgia pascaherpetika.
 Pengobatan dengan imunodulator, seperti isoprinosin dan antivirus seperti
interveron dapat dipertimbangkan.
 Asiklovir ( zovirax ) 5x200 mg sehari selam 5 gari kemungkinan dapat
memperpendek dari memperingan penyakit.
 Pemberian kompres dingin dengan larutan Burowi.
 Lesi-lesi diolesi dengan campuran benzoin tincture dengan flexible
collodion dengan takaran yang sama besarnya.
 Membalut daerah sakit dengan perban yang cukup ketat seringkali sangat
berguna untuk meringankan rasa nyeri. Lesi-lesi harus ditutup dengan
kapas dan kemudian dibalut dengan perban elastik seperti yang digunakan
untuk rusuk yang patah.
 Herpes zoster kerato conjungtivitis diobati dengan ophthalmic
costicosteroid secara intralesi.
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Biodata
Mencantumkan identitas klien : umur, jenis kelamin, pekerjaan,dll.
Keluhan utama
Alasan yang sering membawa klien penderita herpes datang berobat adalah
nyeri pada daerah terdapatnya vesikel berkelompok / lesi yang timbul.
Riwayat penyakit sekarang
Biasanya, klien mengeluh sudah beberapa hari demam dan timbul rasa gatal /
nyeri pada dermatom yang terserang. Pada daerah yang terserang, mula – mula
timbul papula berbentuk urtika, setelah 1 – 2 hari timbul gerombolan vesikula.
Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien.
Riwayat penyakit keluarga
Biasanya, keluarga atau teman dekat ada yang menderita penyakit herpes, atau
klien pernah kontak dengan penderita / terinfeksi virus ini.
Riwayat psikososial
Perlu dikaji bagaimana konsep diri klien terutama tentang gambaran diri / citra
diri dan harga diri. Disamping itu, perlu dikaji tingkat kecemasan klien dan
informasi / pengetahuan yang dimiliki tentang penyakit.
Kebutuhan sehari – hari
Perlu dikaji juga tentang pola tidur, aktivitas. Penyakit ini sering diderita oleh
klien yang mempunyai kebiasaan melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan dan menggunakan alat-alat pribadi secara bersama-
sama.
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : tidak ada gangguan, kecuali jika terjadi infeksi lain.
Pemeriksaan tingkat nyeri dengan menggunakan skala nyeri.
Inspeksi : kulit ditemukan adanya vesikel berkelompok (tanda yang khas
pada herper zoster). Kadang ditemukan vesikel yang berisi nanah dan darah
disebut herpes zoster hemoragic. Dapat ditemukan edema disekitar lesi, dan
dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder. Perhatikan mukosa mulut,
hidung dan penglihatan klien. Pada genetalia pria daerah yang perlu
diperhatikan adalah bagian glens penis, batang penis, uretra dan daerah anus.
Sedangkan pada wanita daerah yang perlu diperhatikan adalah labia mayora dan
minor, klitoris, intratus vaginal, dan serviks. Jika timbul lesi catat jenis, bentuk,
ukuran/luas, warna, dan keadaan lesi.
Palpasi : Kelenjar limfe regional, periksa adanya pembesaran.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
2. Kerusakan integritas kulit b.d deficit imunologis ( respon peradangan / lesi )
3. Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan
4. Resiko infeksi b.d pemajanan melalui kontak ( langsung / tidak langsung )

INTERVENSI
Dx. I Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
NOC : Tingkat Nyeri
Kriteria Hasil :
• Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah
• Perubahan dalam TTV
• Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif
• Melaporkan kenyamanan fisik maupun psikologis
NIC : Penatalaksanaan nyeri
Intervensi :
1. kaji nyeri secara komphrehensif
2. observasi ketidaknyamanan non verbal
3. berikan informasi tentang nyeri
4. ajarkan teknik non farmakologi ( relaksasi, distraksi, terapi musik )
5. kendalikan factor lingkungan yang mempengaruhi respon pasien.

Dx. II Kerusakan integritas kulit b.d deficit imunologis ( respon peradangan / lesi )
NOC : Tissue Integrity
Kriteria Hasil :
• Integritas kulit bias dipertahankan
• Berkurangnya luka / lesi pada kulit
• Perfusi jaringan baik
• Mampu melindungi kulit dan memepertahankan
kulit
• Perawatan alami
NIC : Pressure Management
Intervensi :
1. anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian longgar
2. hindari kerutan pada tempat tidur
3. jaga kebersihan kulit agar tetaap bersih dan kering
4. mobilisasi pasien secara teratur
5. monitor kulit akan adanya kemerahan

Dx. III Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan


NOC : Citra tubuh
Kriteria Hasil :
• Kongruen antara realitas tubuh, ideal tubuh, dan
wujud tubuh
• Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh
• Mengidentifikasi kekuatan personal
• Memelihara hubungan social yang dekat dan
hubungan personal
Intervensi :
1. pantau frekuensi pernyataan yang mengkritik diri
2. ajarkan keluarga pentingnya respon mereka terhadap peubahan tubuh
3. dengarkan pasien / keluarga secara aktif
4. beri dorongnan kepada pasien / keluarga untuk mengungkapkan perasaan
5. berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, peihara privasi.

Dx. IV Resko Infeksi b.d pemajanan melalaui kontak ( langsung / tidak langsung )
NOC : Pengendalian Infeksi
Kriteria Hasil :
• Memantau factor resiko lingkungan dan perilaju
seseorang
• Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
• Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
• Melaporkn tanda dan gejala infeksi
NIC : Pengendalian Infeksi
Intervensi :
1. pantau tanda / gejala infeksi
2. ajarkan pasien / pengunjung untuk mencuci tangan dengn benar
3. ajarkan pasien dan keluarga kapan harus melaporkan tanda / gejala infeksi
4. batasi jumlah pengunjung, bila diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA

• Arndt, Kenneth A. 1989. Pedoman Terapi Dermatologis. Yogyakarta : Yayasan


Essentia Medica.
• A.P. Bali and J.A. Gray. 1992. Atlas Bantu Penyakit Infeksi. Alih Bahasa Petrus
Andrianto. Jakarta : Hipokrates.
• Djuanda, Adhi. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke Dua. Jakarta :
FKUS.
• Marwali Harahap, dkk. 1984. Pedoman Pengobatan Penyakit Kulit. Bandung :
Alumni.
• NANDA. 2005. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006,
NANDA international, Philadelphia.
• Rahariyani, Dwi Lutfia. 2007. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Sistem Integumen. Jakarta : EGC.
• Sjaiful Fahmi D dan Wresti I. 2002. Infeksi Virus Herpes. Jakarta : FKUS.
• Wilkinson, Judith M, ( Alih Bahasa Widyawati, dkk ). 2007. Buku Saku
Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, edisi 7.
Jakarta : EGC.