Anda di halaman 1dari 8

2 Buletin Inssan Putra

SAPA
REDAKSI INSSAN
Assalamualaikum War. Wab.

Salam rindu kami tak lekang hilang, meski edisi Inssan seringkali
pupus terbitan. Setelah banyak kertas dan tinta yang kami habiskan untuk
para pembaca sekalian. Sampailah kita di edisi Buletin Inssan ke-38, lebih
tepatnya terbitan kedua di kepemimpinan direktur baru kami.
Pembahasan edisi kali ini ialah seputar serpihan hujan yang terus menerus
datang. Kenangan, kekecewaan, kedinginan, kerinduan, dan perasaan-
perasaan lain yang ikut meluap di lumbung hati bersama air hujan.

“Belakangan ini tanah-tanah kering yang mulai retak, kian dibasahi


tetesan hujan. Begitu pula kenangan yang mulai hilang dan pudar, kembali
merasuk ke dalam jiwa yang sudah berusaha keras tuk melupakan.”

Udah penasaran dengan pembahasan kita? Silahkan nikmati buletin


kita untuk kalian para pembaca setia. Salam literasi....

Redaktur

Susunan Redaksi

Pelindung H.Hanafi,SP.,M.Pd.I Penanggung Jawab Abdullah Munif,S.Pd


Pembina M.Ramlin s.Pd, Irfan Muhammad Direktur JC Asy’ari Pimpinan
Redaksi Achmad Muzaki Redaktur Anggota JC
Edisi 38 3
PEMBAHASAN
UTAMA

BUKAN HUJAN
“DIA” Yang Aku Kenal Dulu
“Kamu ikut hujan-hujanan gak?” Ya... Itu ialah sosok hujan yang
begituliah kiranya masa kecilku dahulu. aku kenal dulu. Kini, dia sudah berbeda,
Teriakan teman-temanku tak pernah atau hanya karena aku sudah beranjak
hilang dalam penyimpanan otakku. Tak dewasa. Aku selalu merasa kalau “dia”
pernah ada jeda bermain ketika hujan bukan lagi hujan yang aku kenal dulu.
sudah membasahi tubuh kecil kami.
Saat ini, pelataran sepi dan sunyi
Kejar-kejaran, mainan kapal dari kertas
saat hujan mengguyur tanah. Tak ada
yang dilipat tangan, dan segala
lagi anak-anak yang berlarian diatas
permainan yang menyelinap di otak
tanah yang becek akan hujan. Mereka
polos kami.
tak seaktif masa kecilku dulu, mereka
Saat beranjak remaja, semua itu berbeda.
tak lagi ku lakukan. Payung dan jas
Bahkan, payung yang dulu aku
hujanlah yang aku butuhkan saat hujan.
gunakan untuk meneduh, menuai kasih
Mandi hujan sudah tak cocok dengan
sayang bersama kekasihku. Kini tak lagi
orang seumuranku. Meski begitu, aku
kulihat. Sepasang kekasih, tak semesra
masih tampak bahagia melihat banyak
masa mudaku dulu.
bocah bermain hujan di sekitarku
4 Buletin Inssan Putra

Jika aku tak melihat peristiwa yang Masa remaja yang aku lihat
sama dalam memori otakku. Aku ingin sekarang, berkenalan lalu berpacaran
melakukan hal itu sendiri, mandi hujan, dengan perantara media sosial di
kejar-kejaran, membuat kapal-kapalan. gawainya. Dan saat hujan turun di
musimnya, banyak postingan yang aku
Tapi... Aku sadar usiaku sudah
baca. Menggunakan kutipan “rindu” di
terlalu rapuh untuk melakukan itu.
dalamnya.
Anak dan cucu-cucuku pun tak ada
yang sepertiku dulu. Kisah muda kalian tak seindah
masa mudaku dulu. Dan kelak, tak ada
Mereka semua hanya sibuk
lagi bekas luka yang bisa kau tunjukkan
berdiam diri sendiri. “Ahh... Bentar
karena jatuh saat kejar-kejaran. “Dia”
dong! Aku lagi main game nih!” respon
yang berubah atau aku yang terlalu
turunanku saat kuminta bantuan. Sibuk
tua.
dengan permainan yang menghabiskan
tabungan. Tak seperti masa kecilku, Ir_Sya
bermain kalau tak punya uang.

SETETES SAJAK
Edisi 38
Cerita pendek 5

Ruang Publik
Aktivitas sosial sangatlah dibutuhkan dalam Sifat nya yang introvert itu tidak
kehidupan setiap makhluk bernyawa. membuat dirinya berhenti berkarya, dan
Terkumpul dalam ruang publik kehidupan, membuatnya ingin menjadi lebih baik daripada
watak setiap makhluknya pun beragam. teman yang membully-nya hingga
Namun, ruang publik menjadi hal paling membuatnya selalu mengerjakan setiap
menyebalkan bagi kaum introvert, ya... perkara sendirian, tanpa memperdulikan
sebutan untuk individu yang bersikap lebih teman sekitarnya.
internal. Banyak dari mereka telah tertipu akan
Sampai pada suatu waktu, pihak
keindahan dunia. Hingga mereka mengurung
sekolah memberi tugas akhir sekolah kepada
dirinya dalam ruang imajinasi tanpa batas.
tiap pelajar untuk membuat kelompok dan
Arga merupakan seorang pemuda pergi berkemah untuk mengamati alam sekitar.
yang sangat membenci keramaian publik, ia Sebenarnya, ia agak tak senang ketika
trauma akan bully-an yang pernah ia dapatkan mendapat tugas tersebut, yang terbesit di
semasa kecilnya. Ditambah orang tuanya yang pikirannya adalah: ia takut kalau teman
selalu melarang nya untuk bermain di luar sekelompoknya akan menghianati nya dan
rumah dan memantau pergaulannya secara akan menjahilinya ketika di lokasi perkemahan.
berlebihan. Apalagi, tak ada satu orang pun yang dapat ia
percaya dalam kelompok yang ia dapat.
6 Buletin Inssan Putra

Pagi yang cerah bersama kilau cahaya temannya itu.


yang menembus dedaunan halaman sekolah
Sembari menjabat tangan Arga,
Arga. Hari itu adalah waktu untuk para siswa
teman itu berkata “Aku Vero, tenda milikku
menyelesaikan tugas akhir sekolahnya,
tepat berada disamping kananmu, dari tadi
dengan mengamati alam sekitar selama 2
aku melihatmu kesulitan mendirikan tendamu
hari. Di sekitar daerah air terjun yang
sendirian.” Arga pun balik membalas “Aku
berlokasi diantara pepohonan jati.
Arga.” Dengan memberi sedikit senyuman dan
Saat perjalanan menuju lokasi mulai mendirikan tendanya bersama-sama.
perkemahan, pembimbing menyuruh agar
Bulan pun mulai menutupi sinar
setiap anggota kelompok saling berkenalan.
mentari yang dikenal manusia dengan
Raut wajahnya yang agak cuek itu, seringkali
sebutan senja. Arga kesepian dan tak nyaman
menjadi bahan pembicaraan teman-teman
dengan tugas akhir tersebut. Sembari
nya.
memandangi langit, ia berfikir “Akankah aku
Sesampainya di lokasi, setiap terus memenjarakan diriku dalam pikiranku
kelompok ditugaskan untuk mendirikan sendiri, tak adakah seorang yang mampu
tendanya masing-masing. Awalnya Arga menemani sepiku tuhan? Akankah mereka
mencoba untuk tidak membutuhkan hanya akan datang ketika membutuhkan dan
temannya. Ia mendirikan tenda miliknya ingin mengecewakan ku, seburuk itukah ruang
sendirian tanpa meminta bantuan. Tapi, ia publik tuhan?”. Perlahan ia pun terlelap
terlihat kesulitan untuk memasang pipa di tiap bersama harapannya pada tuhan.
sisinya sendirian.
Lagi-lagi pagi datang dengan wajahnya

Hingga salah satu temannya datang yang cerah, seolah hanya ada kebahagiaan di

dan mengulurkan tangannya, berharap untuk bumi tempat para kaki berpijak. Tugas yang

berkenalan dan akan memberi tawaran diberikan selanjutnya oleh pembimbing yaitu,

bantuan mendirikan tenda. Pemikiran Arga para siswa dibagi dalam kelompok kecil yang

yang sensitif membuatnya berpikir negatif berjumlah 3 anggota untuk dibagi ke tiap pos

tentang temannya itu, tapi di sisi lain ia juga konservasi. Kali ini Arga kembali

butuh bantuan teman. Arga pun mengulurkan dipertemukan dengan temannya Vero dan
tangannya dan menerima bantuan dari satu lagi, dia bernama Aletta.
Edisi 38 7

Mereka bertiga mendapat bagian Setelah berhasil menyelematkan Arga


untuk mengamati kehidupan di sekitar air mereka berdua pun membawanya untuk
terjun. Vero dan Aletta terus berbincang- istirahat ke tenda. Karena Aletta tak bisa
bincang ketika perjalanan menuju air terjun, masuk ke perkemahan siswa putra, ia
sedangkan Arga tetap dengan sifatnya yang menitipkan pesan kepada Vero “Ver,
tertutup itu. Hingga ketika sesampainya sampaikan salamku untuk Arga dan ucapan
mereka di air terjun, Arga bergegas lari lekas sembuhku untuknya.”
mendekati tepian air terjun, karena matanya
Beberapa menit setelah istirahat di
tertuju pada ikan-ikan indah di dalamnya dan
tenda miliknya, Arga tersadar dari pingsan dan
melupakan kelompoknya.
melihat Vero sedang memasakkan air hangat
Tanpa melihat bebatuan sekitar, ia untuknya. Ketika Vero tau bahwa temannya
terus maju untuk mengetahui kehidupan ikan telah tersadar, ia pun bergegas
di daerah curug. Ternyata batu yang dipijaknya mengampirinya dan membawakannya segelas
itu berlumut, dari kejauhan Vero meneriaki teh hangat.
temannya itu untuk berhati-hati agar tidak
“Untunglah kamu cepat sadar ga, tadi
jatuh kedalam air.
di perbatasan Aletta menitipkan pesan
Sedangkan yang ada dipikirkan Arga untukmu agar cepat sembuh,” ucap Vero. Arga
adalah “Ahh... palingan mereka berdua ingin terharu dengan perlakuan temannya yang
aku pergi dari sini agar bisa menyaingi mau menemani dirinya di kala susah.
penelitianku.” Ia terus maju dan kakinya tak
Saat malam tiba, Vero memutuskan
sengaja menginjak lumut yang basah dan
untuk menemani Arga di tendanya agar tetap
terpeleset jatuh kedalam curug yang cukup
aman. Lagi-lagi bintang berkedipan dengan
deras laju airnya.
indahnya dan untuk pertama kalinya Arga
Tanpa berfikir lama Vero langsung menunjukkan keramahannya pada Vero.
menyeburkan dirinya ke air dan menarik Arga
“Ternyata tuhan itu adil ya... Mungkin
yang kesusahan berenang. Sedangkan Aletta
hanya hambanya yang egois, tanpa melihat
mencari akar kuat yang panjang untuk
apa yang telah diberikan Nya pada kita,” kata
menarik kedua temannya dari atas.
Arga sembari menatap indahnya bintang.
8 Buletin Inssan Putra

“Memangnya, sebenarnya kamu ini Dan mengertilah bahwa seseorang akan


kenapa sih, kok gapernah bersosialisasi selalu baik pada kita, jika kita selalu
dengan temanmu?” balas Vero. membantu mereka di kala susah.”

“Sebenarnya aku pernah “Terimakasih ver, telah


dikecewakan oleh teman lamaku, aku adalah membantuku. Mungkin tanpamu dan Aletta
korban bully yang selalu diam tanpa aku sudah hilang dibawa alam. Dan
membalas sedikitpun Ver. Aku trauma terimakasih sudah mampu
dengan ruang publik.” Arga menjawab menyadakarkanku akan pentingnya ruang
pertanyaan Vero dengan nada sangat publik,” ucap vero sambil memeluk
rendah. temannya itu.

Vero pun berkata “Ruang publik tak


seburuk yang kau pikirkan ga, memang benar
Ir_Sya
ada orang yang kadang kala berniat buruk
pada kita, tapi bukan berarti tak ada orang
baik yang dapat menemani kita dikala susah.