Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Kekerasan Terhadap Perempuan


“Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas II”

Dosen Pengajar :

Ns.Rany Muliany Sudirman S.kep M.Kep.

Disusun oleh :

Cicih Kuraesih Lilis Rismayanti

Cindy Adhi Gusti Pebbi Irmala Desinawati (CKR0180105)

Dewi Nurhayanti Sisca Damayanti

Endah (teuing) Tita Agustiani lain?

Keperawatan Reguler C

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN


Jl. Lingkar Kadugede No.2 Kuningan Jawa Barat Indonesia (0232) 875 847 fax:(0232) 875
123
Website : Stikku.ac.id email : info@stikeskuningan.ac.id
KATA PENGANTAR

Bismallahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullah hiwabarakatuh.

            Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat,
nikmat dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang konsep IPE
dan aplikasinya. Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Interprofesional
Education (IPE).

            Dalam hal ini tak luput kami ucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah
Interprofesional Education yang telah memberi tugas membuat makalah ini, dan kami juga
mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam makalah ini. Demikianlah, makalah ini semoga
bermanfaat bagi yang membacanya. Terima kasih.

Wassalammu’alaikum warahmatullah hiwabarakatuh.

Kuningan, 12 November 2020

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di era global seperti saat ini, seorang tenaga kesehatan dituntut untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan yang bermutu dapat diperoleh dari kolaborasi
yang baik antar profesi seperti dokter, perawat, & apoteker dalam kerjasama tim (Keith, 2008).
Salah satu upaya dalam mewujudkan kolaborasi yang efektif antar profesi perlu diadakannya
praktik kolaborasi sejak dini melalui proses pembelajaran yaitu dengan melatih mahasiswa
pendidikan kesehatan menggunakan strategi Interprofessional Education (IPE) (WHO, 2010).

Pendidikan interprofessional umumnya diterima dengan baik oleh mahasiswa pendidikan


kesehatan (Sundari, 2013 & Fallatah, 2015). Menurut Hammick (2007), dalam buku A Best
Evidence Systematic Review of Interprofessional Education mengatakan bahwa pelaksanaan IPE
dalam proses pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, hal tersebut
diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Fallatah (2015), bahwa persepsi yang
baik terhadap IPE dapat meningkatkan kerjasama antar tim dalam memberikan pelayanan dan
kepuasan kepada pasien.

Hasil survei institusi dari 42 negara menyatakan sudah melakukan strategi


Interprofessional Education (IPE) dan memberikan dampak positive bagi sistem kolaborasi antar
profesi dalam dunia kesehatan serta dapat meningkatkan perawatan dan kepuasan pasien, bukan
hanya bagi negara terkait tetapi juga bila digunakan dinegara-negara lain (WHO, 2010). Di
Indonesia sendiri IPE juga mulai dikenal, ini terbukti dari keterlibatan Indonesia sebagai partner
dalam Kobe University Interprofessional Education for Collaborating Working Center (KIPEC)
(HPEQ Project, 2011). Tetapi pengembangan kurikulum IPE belum dikembangkan secara
merata di instansi pendidikan (WHO, 2010).

Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari model Interprofessional Education
(IPE), yaitu membantu mempersiapkan mahasiswa pendidikan kesehatan untuk mampu terlibat
dan berkontribusi secara aktif dalam memecahkan permasalahan (problem solving), serta dapat
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan (HPEQ Project, 2011 & Barr, 2012).
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
Pembahasan

A. Interprofesional education
1. Definisi Interprofesional education
Interprofesional education atau disingkat dengan IPE merupakan praktik kolaborasi
antara dua atau lebih profesi kesehatan yang saling mempelajari profesi kesehatan lain dan peran
masing-masing profesi kesehatan dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan
kualitas pelayanan kesehatan. 

Interprofesional education adalah sebuah inovasi yang sedang dieksplorasi dalam dunia
pendidikan profesi kesehatan.  Interprofessional education merupakan suatu proses dimana
sekelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang memiliki perbedaan latar belakang profesi
melakukan pembelajaran bersama dalam periode tertentu, berinteraksi sebagai tujuan yang
utama, serta untuk berkolaborasi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan jenis
pelayanan kesehatan yang lain (WHO, 1988). 

Melalui Interprofesional education (IPE) diharapkan berbagai profesi kesehatan dapat


menumbuhkan kemampuan antarprofesi, dapat merancang hasil dalam pembelajaran yang
memberikan kemampuan berkolaborasi, meningkatkan praktik pada masing-masing profesi
dengan mengaktifkan setiap profesi untuk meningkatkan praktik agar dapat saling melengkapi,
membentuk suatu aksi secara bersama untuk meningkatkan pelayanan dan memicu perubahan;
menerapkan analisis kritis untuk berlatih kolaboratif, meningkatkan hasil untuk individu,
keluarga, dan masyarakat; menanggapi sepenuhnya untuk kebutuhan mereka, mahasiswa dapat
berbagi pengalaman dan berkontribusi untuk kemajuan dan saling pengertian dalam belajar
antarprofesi dalam menanggapi pertanyaan, di konferensi dan melalui literatur profesional dan
antarprofesi (Paul,2013).

2. Tujuan Interprofesional education

Tujuan Interprofessional education adalah untuk mempersiapkan mahasiswa profesi


kesehatan dengan ilmu, ketrampilan, sikap dan perilaku profesional yang penting untuk praktek
kolaborasi interprofesional.
3. Ciri khas interprofessional education

Ciri khas Interprofessional education menurut Freeth & Reeves (2004) adalah terjadinya perubahan
mindset, pengetahuan dan perilaku peserta didik atau mahasiswa:
a) Mahasiswa paham akan prinsip dasar, konsep dan kontribusi dari
setiap bidang profesi.
b) Familier dengan bahasa atau istilah serta pola pikir dari berbagai jenis
profesi.
c) Mahasiswa harus sudah menguasai dasar keilmuan dan ketrampilan
spesifik masing-masing profesi.
d) Mahasiswa harus mengusai konsep tentang kolaborasi.

4. Faktor yang mempengaruhi Interprofessional education


a) Faktor budaya
Dampak dari faktor budaya merupakan pertimbangan penting bagi
individu untuk mengembangkan pendidikan interprofesional. Banyak dari tim ahli
yang menganggap bahwa pendidikan interprofesional tidak perlu digunakan dan
sering menganggap tidak penting. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa staf
yang berkomitmen dalam pentingnya kolaborasi di dunia kesehatan harus terlibat
dengan kegiatan ini.
Tanpa dukungan dari para tim ahli yang menyadari pentingnya pendidikan
interprofesional, menurut Lary (1997) ia berpendapat bahwa program antar profesi
tidak mungkin dipertahankan jika para tim ahli kesehatan tidak menyadari tentang
pentingnya kolaborasi dan pendidikan interprofesional. Sebagai contoh, Pryce dan
Reeves (1997) menemukan bahwa siswa keperawatan dan mahasiswa kedokteran gigi
mempunyai persepsi untuk bekerjasama dalam belajar kelompok profesional karena
mereka mulai pada antar profesi. Persepsi tersebut dapat menyebabkan siswa untuk
melihat sedikit menilai dalam belajar bersama. Hal ini dapat mempengaruhi motivasi
mereka untuk belajar dan berinteraksi dengan siswa lainnya kelompok.
b) Faktor pendidikan
Pendidikan antar profesi lebih diperparah oleh keberadaan dari sejumlah
faktor pendidikan. Untuk misalnya, mengingat ketidakseimbangan sosial-politik
sejarah yang telah ada antara profesi kesehatan (Hugman, 1991; Porter, 1995), sangat
penting bahwa setiap antar profesi dilandasi dan secara eksplisit menekankan
kesetaraan antara peserta. Disarankan bahwa jenis aktivitas harus dilakukan di
profesional lingkungan belajar yang netral (Parsell, 1998), memastikan bahwa satu
kelompok profesional tidak mengambil kesempatan untuk mendominasi kegiatan
pembelajaran (Funnell, 1995). Penelitian telah menemukan bahwa di mana
pendidikan antar profesi tidak memenuhi kebutuhan belajar siswa (khususnya dalam
hal mengembangkan profesi-spesifik kompetensi) resistensi terhadap kegiatan
kolaboratif dapat dihasilkan.
Fasilisator memfasilitasi kelompok antarprofesi merupakan tugas yang sulit.
Serta memiliki baik pengetahuan teori-teori belajar kelompok, keterampilan praktis,
pengalaman dan keyakinan untuk memenuhi tuntutan yang berbeda dari sebuah
antarprofesi kelompok. Menurut Holland (2002) menguraikan berbagai keterampilan
yang dibutuhkan untuk pendidikan yang efektif fasilitator antarprofesi: Pengetahuan
tentang profesi, isu-isu saat ini mereka hadapi dalam praktek, pengetahuan tentang
fokus dari pembelajaran antarprofesi program. Tanpa berbagai pengetahuan dan
keterampilan, fasilitasi kelompok antarprofesi telah ditemukan untuk tidak konsisten
antara profesional berpartisipasi (Freeth dan Nicol, 1998; Reeves, 2000).
c) Faktor organisasi
Interprofessional education umumnya dianggap sebagian besar oleh
pemerintah meragukan dan tidak berhasil. Halangan dari luar lebih banyak
dibandingkan dengan hambatan dari dalam. Misalnya, institusi yang berbeda dan
adanya kompetisi di antara institusi. Tetapi masalah tersebut dapat diatasi dengan
adanya perencanaan dan adanya koordinasi antar pendidikan kesehatan (Barber,
1997; Mires., 2001; Reeves and Freeth, 2002).

5. Kompetensi yang diharapkan dari Interprofessional education


Menurut Freeth & Reeves (2004) kompetensi yang diharapkan dari Interprofessional
education :

a) Pengetahuan
Paham otonomi tiap profesi danpaham peran masing-masing dalam keterpaduan.
b) Ketrampilan
Profesionalisme terjaga, bukan untuk berebut, bertentangan tetapi untuk bersinergi,
saling melengkapi dan terpadu dalam pelayanan holistik, manusiawi, etis dan
bermutu. Kemampuan komunikasi yang baik, mengutamakan keselamatan klien /
pasien.
c) Sikap
Profesional, saling menghormati, keiklasan untuk bekerja sama dalam kesejajaran,
saling percaya dengan profesi lain, keterbukaan disiplin jujur dan bertanggung jawab.

6. Ruang lingkup interproffesional education


a) Kolaborasi perawat dengan tim kesehatan yang lain
1) Pengertian kolaborasi
Kolaborasi tidak dapat didefinisikan atau dijelaskan dengan mudah.
Kebanyakan definisi menggunakan prinsip perencanaan dan pengambilan
keputusan bersama, berbagi saran, kebersamaan, tanggung gugat, keahlian, dan
tujuan serta tanggung jawab bersama. American Nurses Association (ANA):
Baggs & Schmitt,1988; Evans & Carlson,1992; Shortridge, McLain, &
Gillis1986, (dalam Siegler & Whitney,1994) menyebutkan kolaborasi sebagai
hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan memegang tanggung jawab
paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif
mereka. Praktik kolaborasi menekankan tanggung jawab bersama dalam
menajemen perawatan pasien, dengan proses pembuatan keputusan bilateral
didasarkan pada masing-masing pendidikan dan kemampuan praktisi. Meskipun
definisi ini termasuk yang terbaik, tapi belum dapat menyampaikan sekian
ragam variasi dan kompleksnya kolaborasi dalam perawatan kesehatan National
Joint Practice Commission (Siegler & Whitney, 1994).
Kolaborasi adalah hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan
memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan dalam kerangka kerja
bidang respektif mereka. Praktik kolaboratif menekankan tanggung jawab
bersama dalam manajemen perawatan pasien, dengan proses pembuatan
keputusan bilateral didasarkan pada pendidikan dan kemampuan praktisi
(Shortridge, 1986).
2) Model/pola praktik kolaborasi
Model praktek kolaborasi menurut Burchell, R.C., Thomas D.A., dan
Smith H.I.,(dalam Siegler & Whitney, 1994) ada 3 yaitu Model Praktek Hirarkis
tipe I, tipe II, tipe III.

- Model praktik Hirarkis tipe I menekankan komunikasi


satu arah, kontak terbatas antara pasien dan dokter.
Dokter merupakan tokoh yang dominan

- Model Praktik Hirarkis tipe II menekankan komunikasi


dua arah, tapi tetap menempatkan dokter pada posisi
utama dan membatasi hubungan antara dokter dan pasien

- Model Praktik Hirarkis tipe III lebih berpusat pada pasien,


dan semua pemberi pelayanan harus saling bekerja sama
dengan pasien. Model ini tetap melingkar, menekankan
kontinuitas, kondisi timbal balik satu dengan yang lain
dan tidak ada satu pemberi pelayanan yang mendominasi
secara terus menerus. Kolaborasi yang dilakukan dokter,
perawat dan tenaga kesehatan lainnya semuanya
berorientasi kepada pasien. Dalam situasi apapun, praktik
kolaborasi yang baik harus dapat menyesuaikan diri
secara sdekuat pada setiap lingkungan yang dihadapi
sehingga anggota kelompok dapat mengenal masalah
yang dihadapi pasien, sampai terbentuknya diskusi dan
pengambilan keputusan.

3) Proses kolaborasi perawat – dokter


Sifat interaksi antara perawat – dokter menentukan kualitas
praktik kolaborasi ANA (1980) menjabarkan kolaborasi sebagai
”hubungan rekanan sejati, dimana masing-masing pihak
menghargai kekuasaan pihak lain, dengan mengenal dan
menerima lingkup kegiatan dan tanggung jawab masing-masing
yang terpisah maupun bersama, saling melindungi kepentingan
masing-masing dan adanya tujuan bersama yang diketahui kedua
pihak”

B. Persepsi
1. Pengertian persepsi

Terdapat berbagai penelitian mengenai persepsi yang dikemukaan oleh para


ahli. Menurut rokhmat (2000), persepsi adalah pengalaman tentang obyek,
peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan
informasi dan menafsirkannya. Persepsi merupakan suatu proses yang dilakukan
oleh penginderaan yaitu merupakan proses diterimanya stimulasi oleh individu
melalui responnya. Stimulasi dilanjutkan ke susunan saraf otak dan terjadilah
proses kognitif sehingga individu mengalami persepsi (walgito, 1994).

Menurut sunaryo (2004) persepsi dapat diartikan sebagai proses diterimanya


ransangan melalui panca indera dengan didahului oleh perhatian sehingga
individu mampu mengetahui, mengartikan, dan menghayati tentang hal yang di
amati, baik yang ada diluar maupun didalam diri individu.

2. Tahapan proses persepsi

Tahapan proses persepsi ada dua macam yakni :


a) Eksternal perseption yaitu persepsi yang terjadi karena adanya ransangan yang datang
dari luar individu.
b) Self perseption yaitu persepsi yang terjadi karena adanya ransangan yang datang dari
dalam diri individu. Dalam hal ini menjadi obyek adalah dirinya sendiri.

3. Syarat terjadinya persepsi

Syarat terjadinya persepsi menurut walgito (1994) dan sunaryo (2004) agar
individu dapat mengandalkan persepsi yaitu dengan :
a. Adanya obyek yang dipersepsi, obyek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera
atau reseptor.
b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi.
c. Adanya alat indera atau reseptor sebagai penerima stimulus.
d. Sebagai reseptor untuk meneruskan stimulus yang diterima ke pusat susunan syaraf otak
sebagai pusat kesadaran.
4. Proses terjadinya persepsi

Proses terjadinya persepsi terdiri dari beberapa proses diantaranya :


a. Proses fisik, dimana proses ransangan mengenahi alat indera.
b. Proses fisiologis, merupakan ransangan yang diterima oleh alat indera kemudian
diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak.
c. Proses psikologis adalah proses yang terjadi di dalam otak dalam pusat kesadaran.

5. Pengaruh persepsi dalam membuatan penilaian orang lain

Ada tiga hal yang dapat mempengaruhi persepsi dalam membuat penilaian
tentang orang-orang lain yaitu:
a. Perbedaan
Menjelaskan apakah seseorang itu memeperlihatkan prilaku yang berbeda pada situasi
yang berbeda pula.
b. Konsensus
Apabila setiap orang dihadapkan pada situasi yang sama merespon dengan cara yang
sama.
c. Konsisitensi
Apakah seseorang merespon dengan cara yang sama secara terus menerus.

C. Peran Perawat Dalam Pendidikan Interprofesional

Peran perawat dalam interproffesional education adalah peran perawat dalam


berkolaborasi ada 2 yaitu sebagai advokat dan juga sebagai koordinasi.

1. Sebagai advokat
Perawat berfungsi sebagai penghubung antara tim kesehatan yang lain.
Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai
narasumber dan fasilitator.
2. Sebagai koordinasi

Perawat sebagai penghubung antar profesi, karena perawat yang


berhubungan langsung dengan klien.

D. Penerapan Interprofesional Education Dalam Kurikulum Pendidikan Kesehatan

IPE yang juga dikenal dengan istilah interprofessional learning, merupakan suatu konsep
Pendidikan yang direkomendasikan oleh World Health Organisation (WHO) sebagai Pendidikan
terintegrasi untuk membangun kolaborasi antara tenaga kesehatan.  

IPE terjadi ketika mahasiswa dari dua tau lebih profesi kesehatan belajar bersama, belajar
dari profesi kesehatan lain, dan belajar tentang peran masing-masing profesi kesehatan untuk
meningkatkan keterampilan kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan. 

Menurut Speakman, IPE bertujuan menghasilkan tenaga kesehatan yang memiliki


pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mendukung praktik kolaborasi antarprofesi
kesehatan. Implementasi IPE dalam kurikulum Pendidikan kesehatan memiliki tiga focus, yaitu : 

- Peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mahasiswa dalam praktik


kolaborasi antar profesi kesehatan.
- berfokus pada pembelajaran tentang bagaimana menciptakan kolaborasi yang
efektif dalam sebuah tim.
- Menciptakan kerjasama yang efektif untuk meningkatkan kualitas pelayanan
terhadap pasien. 

Berdasarkan penelitian Lapkin, penerapan IPE harus dimulai pada tahap awal akademik
mahasiswa, sebelum mereka menjadi seorang professional kesehatan. Hal ini diperkuat dengan
hasil penelitian Thibault, bahwa IPE harus dilaksanakan baik pada tahap akademik maupun
praktik klinik dengan tujuan menghubungkan antara teori yang didapatkan mahasiswa selama
pembelajaran di kampus dan praktik yang dijalani di lapangan, ini terbukti memberikan banyak
manfaat bagi mahasiswa. 

Pendekatan IPE memfasilitasi mahasiswa untuk belajar dari dan tentang disiplin
kesehatan yang lain sehingga akan meningkatkan keterampilan mahasiswa dan menciptakan
kerjasama yang lebih baik dalam sebuah lingkungan kerja yang terintegrasi. Namun sangat
disayangkan pelaksanaan IPE di institusi-institusi Pendidikan kesehatan sekarang masih belum
konsisten. 

Untuk itu, penting kiranya membuat komitmen untuk menerapkan pembelajaran


interprofesi di institusi Pendidikan kesehatan dan mengintegrasikan IPE ke dalam kurikulum
Pendidikan kesehatan untuk memastikan keberlanjutan IPE.

E. Efektifitas IPE Dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Telah banyak hasil penelitian yang menunjukkan dampak positif pelaksanaan IPE dalam
pendidikan kesehatan. Keuntungan yang didapat tidak hanya dari sisi pendidikan saja, tetapi juga
dalam hal pelayanan kesehatan. 

Dalam hal akademik, IPE membantu mahasiswa dalam peningkatan pengetahuan dan
keterampilan yang spesifik, seperti pemecahan masalah dalam tim, konseling kesehatan, dan
keterampilan klinik. Hal ini berpotensi untuk meningkatkan pemahaman, kepercayaan, dan
saling menghargai antara profesi kesehatan, sehingga memungkinkan mahasiswa untuk
mencapai kompetensi kolaboratif. 

Keuntungan penerapan IPE dalam pelayanan kesehatan didapat dari tercapainya


kolaborasi yang lebih baik antara praktisi kesehatan. Pelayanan pasien harus dilihat sebagai suatu
proses terintegrasi. IPE merupakan salah satu cara untuk mengintegrasikan keahlian tenaga
kesehatan dari berbagai bidang dengan mendorong para professional kesehatan untuk berbagi
pengetahuan dan bekerja dalam tim. 

Dengan adanya kolaborasi antar profesi kesehatan, dapat mengurangi overlapping


pekerjaan, mempercepat pemberian layanan, dan menyediakan informasi yang lebih
komprehensif bagi pasien. 
Bekerja secara kolektif dalam sebuah tim yang terdiri dari berbagai profesi kesehatan
memungkinkan untuk berbagi beban kerja dan mengurangi pembatas antar profesi. Efek positif
yang lain dari penerapan kolaborasi antarprofesi kesehatan yaitu memudahkan tenaga kesehatan
untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas sehingga mereka dapat
menyelesaikan berbagai macam tugas. Hal ini akan menciptakan suasana kerja yang lebih efektif
dan mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada. 

Beberapa penelitian telah membuktikan dampak positif dari penerapan kolaborasi antar
profesi kesehatan dalam pelayanan maternitas. Salah satunya, adalah penelitian yang dilakukan
oleh Margaret, mendeskripsikan keberhasilan rumah sakit di San Fransisco, California dalam
memberikan pelayanan yang prima kepada ibu dan bayi yang dicapai dengan adanya kolaborasi
yang baik antara dokter obgyn dan bidan selama lebih dari 30 tahun. 

Kolaborasi yang bertahan lama antara bidan dan dokter obgyn ini ditopang dengan
persamaan nilai, tujuan, dan komitmen untuk memberikan pelayanan yang unggul bagi pasien
dan juga melakukan kaderisasi dengan melatih generasi bidan dan dokter selanjutnya dengan
pola yang sama. Selain itu, keberhasilan juga dikaitkan dengan adanya rasa saling menghargai
perbedaan antar profesi dan memanfaatkan keahlian masing-masing profesi secara maksimal.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpula
IPE merupakan praktik kolaborasi antara dua atau lebih profesi kesehatan yang saling
mempelajari profesi kesehatan lain dan peran masing-masing profesi kesehatan, dan bertujuan
untuk mempersiapkan mahasiswa profesi kesehatan dengan ilmu, ketrampilan, sikap dan
perilaku profesional yang penting untuk praktek kolaborasi interprofesional.

Keuntungan penerapan IPE dalam pelayanan kesehatan didapat dari tercapainya


kolaborasi yang lebih baik antara praktisi kesehatan. Pelayanan pasien harus dilihat sebagai suatu
proses terintegrasi. IPE merupakan salah satu cara untuk mengintegrasikan keahlian tenaga
kesehatan dari berbagai bidang dengan mendorong para professional kesehatan untuk berbagi
pengetahuan dan bekerja dalam tim. 

B. Saran
Diharapkan berbagai profesi kesehatan dapat menumbuhkan kemampuan antarprofesi,
dapat merancang hasil dalam pembelajaran yang memberikan kemampuan berkolaborasi,
meningkatkan praktik pada masing-masing profesi dengan mengaktifkan setiap profesi untuk
meningkatkan praktik agar dapat saling melengkapi, membentuk suatu aksi secara bersama untuk
meningkatkan pelayanan dan memicu perubahan.
DAPTAR PUSTAKA
Sulistyowati, Endah. 2019. Jurnal Kebidanan. Interprofessional Education (IPE) Dalam
Kurikulum Pendidikan Kesehatan Sebagai Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Maternitas.

Wijoyo, E.B. dan Hananto, Suki. 2017. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah. Pengembangan
Pasien Virtual untuk Peningatan Interprofessional Education dalam Dunia Pendidikan
Keperawatan di Indonesia.

Nicol, paul. 2013. Interprofessional Education for Health Professionals in Western Australia:
Perspectives and Activity. Sydney.

https://www.academia.edu/11576260/Interprofessional_education

https://docplayer.info/45304501-Bab-i-pendahuluan-a-latar-belakang.html

https://www.kompasiana.com/triaauliaaa/5e80b3f2097f3640666918d2/standar-praktik-
keperawatan-menggunakan-ipe-dan-ipc?page=all#:~:text=IPE%20adalah%20suatu
%20pelaksanaan%20pembelajaran,menciptakan%20tenaga%20kesehatan%20yang
%20professional.