Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.

E
DENGAN Dengue Hemmorhagic Fever (DHF)
Dianjukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan II

Dosen Pengajar :

Ns. Aditia Puspa Negara, M.Kep

Disusun oleh :

 Cicih Kuraesih
 Cindy Adhi Gusti
 Dewi Nurhayati
 Endah Fatihatul Aini
 Lilis Rismayanti
 Pebbi Irmala Desinawat
Keperawatan Reg. C

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan


Jl.Lingkar Kadugede No.02 Kuningan Jawa Barat
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penulis tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah untuk memenuhi salah satu tugas Konsep Keperawatan Dasar II.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan
pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Kuningan

i
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... i

Daftar Isi ............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang ............................................................................................ 1


B. Tujuan ........................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian .................................................................................................. 2
B. Etiologi ...................................................................................................... 2
C. Patofisiologi ............................................................................................... 3
D. Manifestasi klinik ...................................................................................... 3
E. Klasifikasi................................................................................................... 4
F. Pemeriksaan penunjang ............................................................................. 4
G. Pencegahan ................................................................................................ 4-5
H. Penatalaksanaan ........................................................................................ 5-6

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN ........................................................................................ 7
1. Biodata ..................................................................................................... 7
2. Keluhan utama ......................................................................................... 7
3. Riwayat penyakit sekarang ...................................................................... 7
4. Riwayat penyakit dahulu ......................................................................... 7
5. Riwayat penyakit keluarga ...................................................................... 8
6. Riwayat kesehatan lingkungan ................................................................ 8
7. Pengkajian persistem ............................................................................... 8-9
8. Pemeriksaan fisik .................................................................................... 9

B. ANALISA DATA ................................................................................... 9-10


C. DIAGNOSA KEPERAWATAN ............................................................. 10
D. PERENCANAAN KEPERAWATAN .................................................... 10-12
E. EVALUASI .........................................................................................

ii
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan tanda dan gejala demam, nyeri otot, nyeri sendi disertai lekopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia (Rohim, 2004). Sekitar 2,5 milyar (2/5 penduduk dunia)
mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus Dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan
subtropis pernah mengalami letusan demam berdarah. Kurang dari 500.000 kasus setiap tahun di
rawat di RS dan ribuan orang meninggal (Mekadiana, 2007).
Sebagian pasien DHF yang tidak tertangani dapat mengalami Dengue Syok Sindrom yang
dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan pasien mengalami deficit volume cairan
akibat meningkatnya permeabilitas kapiler pembuluh darah sehingga darah menuju keluar
pembuluh. Sebagai akibatnya hampir 35% paien DHF yang terlambat ditangani di RS
mengalami syok hipovolemik hingga meninggal.
Saat ini angka kejadian DHF di RS semakin meningkat, tidak hanya pada kasus anak, tetapi
pada remaja dan juga dewasa. Oleh karena itu diharapkan perawat memiliki ketrampilan dan
pengetahuan yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF.
Ketrampilan yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda
syok dan kecepatan dalam menangani pasien yang mengalamim Dengue Syok Sindrom (DSS).

B. Tujuan
1. Melakukan pengkajian pada klien dengan DHF

2. Merumuskan dan menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan DHF

3. Menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan DHF

4. Melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan DHF

5. Melakukan evaluasi pada klien dengan DHF

1
2
BAB II
Pembahasan
A. Pengertian
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus
(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes
Albopictus (Ngastiyah, 1995 ; 341).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotipe
virus dengue dan ditandai dengan empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi,
manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya
renjatan (sindroma renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat
menyebabkan kematian  (Rohim dkk, 2002 ; 45).
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, sejenis virus yang tergolong
arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina. Penyakit
ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123).

B. Etiologi
1.      Virus Dengue.
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus
(Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4
keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang
lainnya. Secara serologis, virus dengue yang termasuk dalam genus flavovirus ini berdiameter 40
nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang
berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel
Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus.
2.      Vektor.
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes
aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan
vektor yang kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan
antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer & Suprohaita; 2000;420).

3
C. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala
karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi
ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system
retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada
DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan
DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin,
histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan
intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya cairan
dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik
yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia
jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan
hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit
dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan
terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan
diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system
koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan
perdarahan hebat.

D. Manifestasi Klinik
Menurut Wahidayat (2005) manifestasi klinis DHF sebagai berikut :
 Demam tinggi (2-7 hari),
 Perdarahan (petekia, purpura, epiktasis, perdarahan gusi),
 Pembesaran hati (hepatomegali), tekanan darah menurun,
 Pembesaran kelenjar limfa, gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut, muntah, melena.

4
E. Klasifikasi
Menurut Suriadi (2010) derajat penyakit DHF diklasifikasikan menjadi 4 golongan, yaitu :
a. Derajat I : demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Uji tourniquet positif,
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II : sama dengan derajat I, ditambah gejala pendarahan spontan.
c. Derajat III : ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>
120 x/mnt) tekanan nadi sempit (< 120 mmHg).
d. Derajat IV : nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur.

F. Pemeriksaan Penunjang
-          Trombositopeni ( £ 100.000/mm3)
-          Hb dan PCV meningkat ( ³ 20% )
-          Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
-          Isolasi virus
-          Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
-          Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila
sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN,
creatinin serum.

G. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes
Aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode
yang tepat, yaitu :
1.      Lingkungan.
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
pengembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia.
2.      Biologis.
Pengendalian biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan cupang).
3.      Kimiawi.
Pengendalian kimiawi antara lain :

5
a.        Pengasapan/fogging berguna untyk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas
waktu tertentu.
b.       Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas
bunga, kolam, dan lain-lain.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
1.      Tirah baring atau istirahat baring.
2.      Diet makan lunak.
3.      Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri penderita
sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.
4.      Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang
paling sering digunakan.
5.      Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien
memburuk, observasi ketat tiap jam.
6.      Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan
asetaminopen.
7.      Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
8.      Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
9.      Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil
pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
10.  Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di
perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila
tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 
30 ml/kg BB.Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 
48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas,
amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya
dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.Transfusi darah diberikan pada pasien dengan
perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF
yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan
penurunan Hb yang mencolok.Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu

6
1½-2 liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua.
Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
a.       Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam
terjadinya dehidrasi.
b.      Hematokrit yang cenderung mengikat.

7
BAB III
Asuhan Keperawatan
A.    PENGKAJIAN
1.     Biodata
a. Identitas pasien
Nama                            : An. E
Umur                            : 9 thn
Alamat                         : desa pagundan
Agama                          : Islam
Nama Ibu                     : Ny. T
Pendidikan                    : SMP
Nama Ayah                   : Tn S
Pendidikan                    : SMA
Pekerjaan                     : Karyawan swasta
Diagnosa Medik            : DBD Grade II
b. Penanggung Jawab
Nama : Ny. Z
Umur : 35
Pendidikan : S1 Keperawatan
Alamat : Kuningan

2.     Keluhan Utama :
Sakit kepala, panas dan tidak nafsu makan.
3.     Riwayat penyakit sekarang :
Senin pagi panas, dibawa ke puskesmas dapat paracetamol. Panas turun. Rabu malam anak tiba-
tiba muntah-muntah air, makan tidak mau, minum masih mau. Kamis jam 03 pagi keluar darah
dari hiding pada waktu bersin, keluhan pusing, mencret air, dibawa ke IRD.
4.     Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya klien tidak penah dirawat karena penyakit apapun.

8
5.     Riwayat penyakit keluarga
Menurut keluarga ( Ibu ) tidak ada keluarga yang dalam waktu dekat ini menderita sakit DBD.
6.     Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut ibu kondisi lingkungan rumah cukup bersih, walaupun tinggal dekat kali kecil, sekitar
rumah terdapat beberapa ban bekas untuk menanam tanaman yang belum dipakai, bak mandi
dikuras setiap seminggu 1 kali. Menurut ibu seminggu yang lalu ada tetangga gang yang
menderita DHF, tetapi sekarang sudah sembuh, dan lingkungan wilayah belum pernah
disemprot.
7.    Pengkajian Persistem
a. Sistem Gastrointestinal
Nafsu makan menurun, anak hanya mau makan 3 sendok makan, minum tidak suka, harus
dipaksakan baru mau minum. Mual tidak ada, muntah tidak terjadi. Terdapat nyeri tekan daerah
hepar dan asites positif, bising usus 8x/mnt.
b. Sistem muskuloskeletal :
Tidak terdapat kontraktur sendi, tidak ada deformitas, keempat ekstremitas simetris,
kekuatan otot baik.
c. Sistem Genitourinary
BAK lancar, spontan, warna kuning agak pekat ditampung oleh ibu untuk diukur, BAB dari
malam belum ada.
d. Sistem Respirasi.
Pergerakan napas simetris, tidak terdapt pernapasan cuping hidung, pd saat pengkajian
tanda-tanda epistaksis sudah tidak ada, Frekuensi napas 25x/menit. Bunyi nafas tambahan tidak
terdengar.
e. Sistem Cardiovaskuler
TD : 100/60, nadi 98x/mnt, akral dingin, tidak terdapat tanda-tanda cyanosis, cap. Refill < 3
detik, tidak terjadi perdarahan spontan, tanda-tanda petikhie spontan tidak terlihat, hanya tanda
pethike bekas rumple leed.
f. Sistem Neurosensori
Tidak ada kelainan
g. Sistem Endokrin
Tidak ada kelainan

9
h.     Sistem Integumen.
Suhu 37o turgor baik, tidak ada luka, pethikae bekas rumple leed, tidak terdapat perdarahan
spontan pada kulit.
8.     Pemeriksaan fisik
- penampilan umum :lemah
- tanda-tanda vital :
Suhu : 37o,  Nadi : 98x/mnt,
Tekanan darah : 100/60 RR : 25x/mnt.

B.     ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah
S1 : Klien mengatakan badanya terasa Proses infeksi virus dengue Peningkatan suhu
panas, pusing tubuh
O :  Akral dingin Viremia
Panas hari ke 2 panjang.
TTV : Thermoregulasi
S : 37o,  Nadi 98x/mnt,
TD : 100/60, RR 25x/mnt.

S : Klien mengatakan tidak suka Peningkatan suhu tubuh Cairan tubuh


minum dan perut terasa kenyang Ektravasasi cairan
minum terus. Intake kurang
O :  Turgor kulit baik
Mukosa bibir kering Volume plasma berkurang
Urine banyak warna kuning
pekat Penurunan volume cairan tubuh
Panas hari ke 2 panjang
Trombosit ; 133.000
TD : 100/60, N ; 98x/mnt.

10
S : Klien menyatakan tidak mau Nafsu makan menurun Nutrisi
makan, tetapi tidak mual.
O : KU lemah Intake nutrisi tidak adekuat
Makan pagi hanya mau 3 sendok
Nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler
3. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.

D. PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal
Kriteria : TTV khususnya suhu dalam batas normal ( 36O – 37O )
  Membran mukosa basah.
Rencana Intervensi ;
- Observasi TTV setiap 1 jam
Rasional : Menentukan intervensi lanjutan bila terjadi perubahan
- Berikan kompres air biasa / kran
Rasional : Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi.
- Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 – 2000 ml
Rasional : Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine
guna pembuangan panas lewt urine.
- Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat.

11
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas
- Observasi intake dan out put
Rasional : Deteksi terjadinya kekurangan volume cairan tubuh.
- Kolaborasi untuk pemberian antipiretik
Rasional : Antipireik berguna bagi penurunan panas.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke


ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : TD: 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt
Pulsasi kuat
Rencana Intervensi ;
- Observasi Vital sign setiap jam atau lebih.
Rasional : Mengetahui kondisi dan mengidentifikasi fluktuasi cairan intra vaskuler.
- Observasi capillary refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer.
- Observasi intake dan output, catat jumlah, warna / konsentrasi urine.
Rasional : Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.
- Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 mL
Rasional : Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh
- Kolaborasi pemberian cairan intra vena atau plasma atau darah.
Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok.

3. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi
Kriteria :  Nafsu makan meningkat
Porsi makan dihabiskan
Rencana Intervensi :
- Kaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan
Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.
- Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna

12
Rasional : Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan  gastrointestinal.
- Berikan makanan porsi kecil tapi sering.
Rasional : Menghindari mual dan muntah
- Hindari makanan yang merangsang : pedas, asam.
Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah.
- Beri makanan kesukaan klien
Rasional : Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak
- Kolaborasi pemberian cairan parenteral
Rasional : Nutrisi parenteral sangat diperlukan jika intake peroral sangat kurang.

13