Anda di halaman 1dari 20

IDENTIFIKASI SENYAWA ALKOHOL DAN ETER

(Laporan Praktikum Kimia)

NAMA LENGKAP : BENHAGAR ANDREANDA


NIM : 2010516210004

JURUSAN TEKNOLOGI INDUTRI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2020
A.    TUJUAN

1.      Mahasiswa mampu mengetahui struktur umum kimia dari Alkhol, Fenol, dan Eter

2.      Mahasiswa mampu mengetahui reaksi-reaksi kimia Alkhol, Fenol, dan Eter

B.     PENDAHULUN

            Alkohol (R-OH) dan eter (R-O-R) begitu erat hubungannya dengan

kehidupan manusia sehari-hari sehingga orang awam pun kenal akan istilah-istilah

dietil eter (eter) digunakan sebagai pematirasa (anestetik).. 2-propanol (isopropil

alkohol atau alkohol gosok) digunakan sebagai bakterisid,dan masih benyak

senyawa alkohol dan eter lainnya. Sedangkan Fenol (Ar-OH) merupakan senyawa

dengan gugus fungsi OH yang terikat dengan cincin aromatik. Dimana gugus OH

merupakan activator kuat dalam reaksi subtitusi aromatik elektrofilik. Alkohol

adalah deriva dan hidroksi yang mempunyai ikatan langsung maupun rantai

cabang dari alifatikhirokarbon. Bentuk rantai alkohol yang sering ditemukan

adalah yang mengandung 3 gugus hidroksil dan 1 gugus hidroksi dalam satu

rantai karbon.

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain

alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini

disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada

minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan

alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah

etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas

lagi.
            Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk

senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada

atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon

lain.Berdasarkan jumlah gugus fungsi –OH, jenis alkohol:

   o   Alkohol monovalent     : memiliki 1 gugus fungsi –OH

       o   Alkohol polivalen     : memiliki gugus fungsi –OH lebih dari 1

Alkohol merupakan senyawa turunan alkana yang mengandung gugus

fungsi –OH.contoh rumus struktur alkohol adalah metanol.  Senyawa alkohol

sudah banyak di kenal dan di manfaatkan oleh manusia, baik dalam bentuk

minuman,makanan,maupun untuk keperluan medis. Beberapa jenis makanan dan

minuman yang beralkohol yang banyak di konsumsi orang dihasilkan dari hasil

fermentasi karbohidrat, misalnya tape, singkong, anggur dan lain-lain.

            Fenol merupakan asam yang lebih kuat dibandingkan alkohol atau air.

Kekuatan asam fenol kira-kira ditengah antara etanol dan asam asetat. Ion

fenoksida merupakan asam yang lemah dibandingkan OH, oleh karena

itu,fenoksida dapat diolah dengan seuatu fenol dan NaOH dalam air.reaktifitas ini

sangat berbeda dengan reaktifitas alkohol. Fenol bersifat lebih asam dibandingkan

alkohol karena anion yang dihasilkan oleh resonansi,dengan muatan negatifnya

disebar (delokalisasi) oleh cincin aromatik. Reaksi alkohol dengan asam kuat

menghasilkan pemindahan (eliminasi gugus fungsi –OH), alkohol dan fenol

adalah asam-asam lemah,tentang keasaman ini dapat diketahui dengan

penambahan karbonat dan bikarbonat membentuk CO2.


Eter adalah nama segolongan senyawa organik yang mengandung unsur-unsur C,

H, dan O dengan rumus umum R-O-R'. Bila rumus umum ini dikaitkan dengan

rumus air (HOH), maka eter dapat dianggap sebagai turunan dialkil dari senyawa

air.

Eter dapat digilongkan menjadi dua jenis, yaitu eter simetris dan eter asimetris.

Kalau dalam rumus umum eter R = R', maka eter tersebut dinamakan eter

sederhana atau eter simetrik. Tetapi bila R ≠ R', dinamakan eter campuran atau

eter asimetrik. Di samping yang mempunyai gugus alkil (R) terdapat pula eter

yang mengandung gugus aril (Ar) yang rumus umumnya dinyatakan dengan Ar-

O-Ar' atau Ar-O-'R.

Di antara eter dan alkohol terdapat isomeri gugus fungsi dalam arti keduanya

mempunyai rumus molekul yang sama tetapi gugus fungsinya berbeda. Contoh

untuk isomeri fungsi di antara eter dan alkohol ini adalah CH 3-O-CH3 dan

CH3CH2OH. Perbedaan gugus fungsi tersebut mengakibatkan adanya perbedaan

sifat-sifat fisika dan kimia pada eter dan alkohol.

Struktur Eter

Eter mempunyai rantai C-O-C  yang mempunyai sudut ikatan sebesar 104,5º dan

jarak antara atom C dengan O adalah sekitar 140 pm. Halangan rotasi untuk ikatan

C-O sangat kecil. Ikatan oksigen dalam eter, alkohol dan air sangatlah mirip. Pada

teori ikatan valensi, hibridisasi oksigen adalah sp3.

Oksigen lebih elektronegatif daripada karbon, dengan demikian hidrogen alfa eter

bersifat lebih asam daripada hidrokarbon sederhana, tetapi jauh kurang asam

dibandingkan dengan hidrogen alfa golongan karbonil (seperti aldehida dan

keton).
Pembuatan Eter

a. Mereaksikan alkil halida dengan alkoksida

Eter dapat dibuat dengan mereaksikan antara alkil halida dengan natrium

alkoksida. Hasil samping diperoleh garam natrium halida.

R-ONa + R'-X → R-O-R' + NaX

b. Mereaksikan alkil halida dengan perak(I) oksida

Alkil halida bereaksi dengan perak(I) oksida menghasilkan eter. Hasil samping

diperoleh garam perak halida.

c. Dehidrasi alkohol primer

2 R-OH → R-O-R + H2O

Eter dapat dibuat dengan dehidrasi alkohol primer dengan asam sulfat

dan katalis alumina.

Eter merupakan suatu senyawa organik yang tidak terlalu reaktif. Dengan kata

lain, eter hanya dapat mengalami reaksi khusus. Reaksi terhadap eter adalah:

      1.    Reaksi Oksidasi Eter

Dengan campuran (K2Cr2O7 + H2SO4), eter mengalami oksidasi dengan hasil

seperti pada oksidasi alkohol asalnya. Sebagai contoh, dietil eter (yang dibuat dari

etanol) bila direaksikan dengan (K2Cr2O7 + H2SO4) menghasilkan asetaldehida.

C2H5-O-C2H5 → 2 CH3CHO

2.    Reaksi Eter dengan Asam

      a.    Dengan HI Dingin

Dengan asam iodida dingin, eter menghasilkan alkohol dan alkil iodida. Contoh:

C2H5-O-C2H5 + HI → C2H5OH + C2H5I

      b.    Dengan H2SO4 Dingin


Dengan asam sulfat pekat dingin, eter dapat larut. Pemanasan larutan eter dalam

asam sulfat pekat mengakibatkan terbentuknya alkohol dan alkil hidrogensulfat.

Contoh:

C2H5-O-C2H5 + H2SO4 → C2H5OH + C2H5HSO4

      3.    Reaksi Hidrolisis Eter

Bila eter dididihkan dalam air yang mengandung asam (umumnya H2SO4)

terjadilah hidrolisis yang memberikan hasil alkohol. Contoh:

C2H5-O-C2H5 + H2O → 2 C2H5OH

C.    ALAT DAN BAHAN

1.      ALAT

a.       Pipet skala

b.      Pipet tetes

c.       Rak tabung

d.      Tabung reaksi

2.      BAHAN

a.       Aquadest

b.      Asam asetat

c.       1 butanol

d.      Metil
e.       Etanol

f.       N-heksana

g.      Na2CO3

h.      Zncl2

i.        NaHCO3

j.        FeCl3

D.     HASIL PENGAMATAN

1.      Kelarutan dalam air dan n-heksana

No SAMPEL REAKSI YAANG TERJADI WARNA


1 Air (0,5) + Etanol 1 Pada saat  percobaan di Putih bening

tetes lakukan, air sebanyak 0,5 Ml

ditambahkan etanol 1 tetes  

tercampur rata, dan tidak ada

endapan
2  Air (0,5) + Metanol Pada saat  percobaan di Putih bening

1 tetes lakukan, air sebanyak 0,5 Ml

ditambahkan Metanol 1 tetes  

tercampur rata, dan tidak ada

endapan
3 Air (0,5) + Butanol Pada saat  percobaan di Putih bening

1 tetes lakukan, air sebanyak 0,5 Ml

ditambahkan Butanol 1 tetes  

tercampur rata, dan tidak ada

endapan
4 N-heksana (0,5) + 1 Pada saat percobaan Putih bening
tetes etanol dilakukan,N-heksana

ditambahkan 1 tetes etanol

reaksi yang terjadi larutan

tersebut tercampur rata dan

tidak ada endapan


 5 N-heksana (0,5) + 1 Pada saat percobaan Putih bening

tetes Metanol dilakukan,N-heksana

ditambahkan 1 tetes metanol

reaksi yang terjadi larutan

tersebut tercampur rata dan

tidak ada endapan


6 N-heksana (0,5) + 1 Pada saat percobaan Putih bening

tetes  butanol dilakukan,N-heksana

ditambahkan 1 tetes butanol

reaksi yang terjadi larutan

tersebut tercampur rata dan

tidak ada endapan

2. Pereaksi lucas ( etanol, metanol, butanol )


No Sampel Reaksi yang terjadi Warna

1 Pereaksi lucas 0,2 Pada saat percobaan dilakukan,

mL pereaksi lucas 0,2 mL Putih keruh

+ ditambahkan etanol 3 tetes reaksi

Etanol 3 tetes yang terjadi terdapat endapan

putih didasar tabung reaksi, dalam

artian larutan tersebut tidak

tercampur rata
2 Pereaksi lucas 0,2 Pada saat percobaan dilakukan,

mL pereeaaksi lucas 0,2 ml Putih keruh

+ ditambahkan metanol 3 tetes

Metanol 3 tetes reaksi yang terjadi terdapat

endapan putih didasar tabung

reaksi  dalam artian larutan

tersebut tidak tercaampur rata


3 Pereaksi lucas 0,2 Pada saat percoban dilkukaan,

ml pereaksi lucas 0,2 ml ditambahkan  Putih bening

+ butanol 3 tetes reaksi yang terjadi

Butanol 3 tetes terdapat endapan putih didasar

tabung reaksi dalam artian

larutantersebut tidak tercampur

rata
3. Reaksi dengan Na2CO3

No Sampel Reaksi yang terjadi Warna


1-Butanol
1 1 ml Larutan tidak tercampur dan Bening

membentuk dua lapisan


Na2CO3
2 Asam asetat 1 ml Larutan tercmpur sempurna Bening

Na2CO3
3 Metanol 1 ml Larutan tercampur sempurna Bening

Na2CO3

4. Etanol 1 ml Larutan tercampur sempurna Bening

Na2CO3

Reaksi dengan NaHCO3

No Sampel Reaksi yang terjadi Warna


1 1-      Butanol 1 ml Larutan tidak dapat tercampur Bening

dan membentuk dua lapisan

NaHCO3 0,5 ml
2 Asam asetat 1 ml Larutan dapat larut sempurna Bening

NaHCO3 0,5 ml
3 Metanol 1 ml Larutan dapat larut sempurna Bening

NaHCO3 0,5 ml
4 Etanol 1 ml Larutan dapat larut sempurna Bening

NaHCO3 0,5 ml
Reaksi dengan FeCl3 5 tetes

No Sampel Sampel Reaksi yang terjadi Warna


1 Etanol 1ml Larutan dapat tercampur Kuning Jernih

+ sempurna dan tidak memiliki

FeCl3 5 tetes lapisan dan Endapan


2 Metanol 1 ml Larutan dapat tercampur Kuning  jernih

+ sempurna, tidak memiliki

FeCl3 5 tetes endapan  dan lapisan


1-      Butanol 1 ml Larutan tercampur seketika Atas = bening

saat tabung reaksi dikocok, Bawah = jingga

+ kemudian dalam beberapa

menit larutan membentuk dua

FeCl3 5 tetes lapisan, dan tidak memiliki

endapan
E.     PEMBAHASAN

1.    Kelarutan dalam air dan n-heksana

Pada sampel pertama dimasukan  air kedalam tabung reaksi sebanyak 0,5

dicampurkan dengan etanol sebanyak 1 tetes, pada saat percobaan rekasi yang

terjadi menurut hasil pengamatan kami, etanol dan air bila campurkan

menghasilkan larutan yang tercampur sempurna dan tidak ada sama sekali

endapan , warna yang dihasilkan akibat reaksi ini ialah putih bening. Sesuai

dengan teori nya  etanol adalah pelarut yang serba guna, larut dalam air dan

pelarut organik lainnya.

Pada sampel kedua dimasukkan air kedalam tabung reaksi sebanyak 0,5 

dicampurkan dengan metanol sebanyak 1 tetes, pada saat percobaan reaksi yang

terjadi menurut hasil pemgamatan yang kami lakukan, metanol dan air bila

dicampurkan menghasilkan larutan yang tercampur rata, tidak ada sama sekali

endapan, warna yang dihasilakan pun sama dengan sampel pertama yaitu putih

bening. Tidak ada perubahan yang signifikan sampel kedua dengan sampel

pertama, hasil yang diperoleh sama sekali tidsk berbeda.metanol larut dalam air

Pada sampel ketiga dimasukkan air kedalam tabung reaksi sebanyak 0,5 

dicampurkan

Dengan butanol sebanyak 1 tetes, pada  saat percobaan reaksi yang terjadi

menurut hasil pengamatan yang kami lakukan, butanol dan air dicampurkan

menghasilkan larutan yang tercampur rata, tidak sama sekali ada endapan. Warna

yang dihasilkan putih bening sesuai dengan teorinya bahwa butanol larut dalam

air
Pada sampel kempat dimasukkan  N-heksana kedalam tabung reaksi

sebanyak 0,5 ml dicampurkan dengan etanol sebanyak 1 tetes, pada saat

percobaan  reaksi yang terjadi menurut  hasil pengamatan yang kami lakukan

menghasilkan larutan yang tercampur rata, tidak ada sama sekali endapan , warna

yang dihasilkan putih bening. Berdasarkan teori nya n heksana bila campurkan

dengan etanol reaksi yang terjadi , n-heksana tidak larut tetapi terbentuk 2 lapisan

karena perbedaan sifat kepolarannya. Berbanding terbalik dengan hasil

pengamatan yang kami peroleh

Pada sampel kelima dimasukkan n-heksana kedalam tabung reaksi sebnayak

0,5 ml dicampurkan dengan metanol sebanyak 1 tetes, pada saat percobaan reaksi

yang terjadi menurut hasil pengamatan yang kami lakukan menghasilkan larutan

ysng tercampur rata dan tidak memiliki endapa, dengan warna yang dihasilkan

putih bening. . Berdasarkan teori nya n heksana bila campurkan dengan etanol

reaksi yang terjadi , n-heksana tidak larut tetapi terbentuk 2 lapisan karena

perbedaan sifat kepolarannya. Berbanding terbalik dengan hasil pengamatan yang

kami peroleh

Pada sampel keenam dimasukkan n-heksana kedalam tabung reaksi

sebanyak 0,65 ml dicampurkan dengan butanol sebanyak 1 tetes, , pada saat

percobaan reaksi yang terjadi menurut hasil pengamatan yang kami lakukan

menghasilkan larutan ysng tercampur rata dan tidak memiliki endapa, dengan

warna yang dihasilkan putih bening

2.    Alkohol primer, sekunder, dan tersier

Percobaan kedua adalah percobaan menggunakan reagen/pereaksi lucas. Reagen

lucas merupakan suatu campuran asam klorida pekat dan seng klorida. Uji Lucas
dalam alkohol adalah tes untuk membedakan antara alkohol primer, sekunder dan

tersier. Hal ini didasarkan pada perbedaan reaktivitas dari tiga kelas alkohol

dengan hidrogen halida. Alkohol tersier bereaksi dengan reagen Lucas untuk

menghasilkan kekeruhan walaupun tanpa pemanasan, sementara alkohol sekunder

melakukannya dengan pemanasan. Alkohol primer tidak bereaksi dengan reagen

Lucas (Ghalib, 2010).

          Pertama kali yang harus dilakukan adalah menyiapkan 3 buah tabung reaksi yang

telah diberi sampel dengan etanol, methanol, dan 1 butanol. Masing-masing

tabung diisi dengan 0,2 ml pereaksi lucas lalu masukkan 3-5 tetes etanol,

methanol, dan 1 butanol pada tabung yang telah diberi sampel. Selanjutnya tabing

dikocok dan didiamkan selama 3-5 menit sambal memperhatikan dan mencatat

perubahannya.

          Adapun hasil pengamatan yang kami dapatkan adalah pada sampel pertama

pereaksi lucas 0,2 ml+etanol 3 tetes hasilnya adalah cairan tidak tercampur rata

karena terdapat endapan putih di bagian bawah serta cairan berwarna putih keruh.

Tapi sampel yang lain juga memiliki hasil pengamatan yang sama sehingga tidak

dapat diindetifikasi jenis alkohol tersebut.

        Berdasarkan teori metanol merupakan alkohol primer. Alkohol primer tidak

bereaksi dengan reagen Lucas (Hart, 2005). Seharusnya metanol tetap berwarna

bening. Sedangkan juga merupakan alkohol primer yang seharusnya juga tidak

bereaksi dengan reagen Lucas sehingga tetap. Adapun 1 butanol juga merupakan

alkohol primer dimana hasilnya seharusnya berwarna. Hasil yang didapatkan

berbeda dengan apa yang dijelaskan di literatur. Terdapat 3 faktor yang

mempengaruhi, yaitu:
1.    Faktor Alat

     Tabung reaksi atau botol tempat bahan yang digunakan mungkin saja tidak bersih

saat dicuci sehingga zat/larutan sebelumnya masih terdapat di dalam tabung

reaksi.

2.    Faktor Bahan

     Bahan yang digunakan mungkin terkontaminasi dengan zat/larutan lain. Hal ini

bisa terjadi di saat memipet bahan yang hendak digunakan. Pipet yang digunakan

bisa tertukar dengan pipet bahan lain atau pipet tidak bersih saat dicuci

3.    Faktor Manusia

     Kemungkinan praktikan kurang teliti saat memipet bahan.

3.             Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHC03

Percobaan ketiga adalah percobaan menggunakan Na2CO3 dan NaHC03

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui keasaman dari suatu zat dengan

mereaksikannya dengan basa kuat yakni Na2CO3 dan NaHCO3. Jika zat uji bersifat

asam maka zat itu dapat bereaksi dengan kedua basa tersebut dan sebaliknya jika

bersifat basa maka zat itu tidak dapat bereaksi dengan kedua basa tersebut.

          Pertama kali yang harus dilakukan adalah menyiapkan 4 buah tabung reaksi yang

telah diberi sampel dengan 1- butanol,metanol,asam asetat dan fenol. Masaing-

masing tabung reaksi ditambah dengan 0,5 ml Na2CO3. Tabung dikocok dan

biarkan selama 3-5 menit. Perhatikan yang terjadi dan catat hasilnya. Lakukan hal

yang sma dengan penambahan NaHCO3.

Hasil pengamatan yang kami dapat 1- butanol 1 ml direaksikan dengan

Na2CO3 dan NaHCO3 0,5 ml Larutan tidak tercampur dan membentuk dua lapisan

dan berwarna bening.  Pada percobaan ini, didapatkan bahwa butil alkohol dapat
bereaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3 yang ditandai dengan adanya gelembung

gas (CO2). Karena bahwa  zat ini dapat bereaksi dengan basa (Na2CO3 dan

NaHCO3) maka bersifat asam. Hal ini sesuai dengan teori dimana butil alkohol

merupakan asam lemah dan jika direaksikan dengan basa maka akan

menghasilkan garam alkoksida dan air.

 Asam asetat 1 ml direaksikan dengan Na2CO3 dan NaHCO3 0,5 ml Larutan

tercampur sempurna dan berwarna bening. Berdasarkan teori asam asetat, saat

direaksikan dengan Na2CO3 dan NaHCO3 terdapat gelembung gas CO2 yang

menandakan asam asetat merupakan asam lemah. Metanol 1 ml direaksikan

dengan Na2CO3 dan NaHCO3 0,5 ml Larutan tercampur sempurna dan berwarna

bening. Ini menunjukan bahwa larutan bersifat asam lemah. Etanol  1 ml

direaksikan dengan Na2CO3 dan NaHCO3 0,5 ml Larutan tercampur sempurna dan

berwarna bening.juga menunjukan bahwa larutan bersifat asam.

4.             Reaksi denagn FeCL3

Tes Ferri Klorida digunakan untuk membedakan alkohol alifatik (rantai

terbuka) dengan alkohol aromatik. FeCl3 digunakan untuk membedakan antara

senyawa alkohol dan fenol, karena FeCl3 mempunyai kemampuan untuk beraksi

dengan fenol (alkohol alifatik) dan tidak beraksi dengan alkohol alifatik. Adanya

reaksi ditandai dengan melihat perubahan warna sesaat setelah dicampurkan. Jika

bereaksi larutan akan berubah warna menjadi merah sampai ungu kehitaman.

Pada percobaan ini disiapkan 3 buah tabung reaksi. Tabung (1) diidi dengan

metanol,tabung (2) diisi dengan fenol masing-masing 1 ml. Ke dalam masing-

masing tabung reaksi ditambhakan beberapa tetes FeCl3.


Dari hasil percobaan pada Metanol, etanol, dan 1-butanol setelah

dicampurkan dengan FeCl3, larutan menjadi berubah warna menjadi kuning dan

kuning keruh. Hal ini menunjukkan bahwa etanol, 1–butanol tidak bereaksi

dengan FeCl3. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa alkohol tidak dapat bereaksi

dengan FeCl3. Warna kekuning-kuningan berasal dari larutan FeCl3 bukan hasil

reaksi.

F.    KESIMPULAN

 Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Alkohol dan fenol memiliki kemiripan dalam sifat kimia maupun sifat fisika, hal

ini didasarkan pada kelarutannya dalam air yang bersifat polar, dan kelarutannya

dalam n-Heksana yang bersifat nonpolar.

2. Alkohol primer, sekunder, dan tersier dapat dibedakan dengan menggunakan

pereaksi Lucas (ZnCl2 + HClpekat). Alkohol tersier lebih cepat bereaksi

dibandingkan dengan alkohol sekunder, dan alkohol primer bereaksi lebih lambat

dibandingkan dengan alkohol sekunder. Sehingga urutan kecepatan reaksi dapat

dituliskan sebagai: alkohol tersier > alkohol sekunder > alkohol primer.

3. Terjadi reaksi alkohol dan fenol dengan N2CO3 dan NaHCO3, yaitu pelepasan gas

CO2 yang menandakan bahwa alkohol dan fenol bersifat asam lemah. Alkohol

lebih lemah dibandingkan dengan air, dn fenol lebih kuat dibandingkan dengan

air..

4. Alkohol dan fenol bereaksi dengan FeCl3 dilihat dari perubahan warna yang

terjadi, yang disebabkan reaksi oksidasi-reduksi pada alkohol sehingga dapat

diketahui kekuatan alkoksinya. Fenol merupakan aalkoksik kuat karna mampu


membentuk senyawa kompleks, sedangkan alkohol merupakan alkoksik lemah

karena tidak bereaksi dengan FeCl3.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2011. Alkohol Dan Fenol.
https://www.scribd.com/doc/63649752/Alkohol-Dan-Fenol. Diakses 23April 2018
pukul 02.21 WIB
 
Ghalib, Achmad Kholish. 2010. Ilmu Kimia Untuk Universitas Edisi VI.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Humaira, Vela. 2014. Laporan Kimia Organik-IDENTIFIKASI GUGUS
FUNGSI ALKOHOL.
http://velahumaira.blogspot.co.id/2014/03/laporan-kimia-organik-
identifikasi.html. Diakses 22 April 2018 pukul 17.27 WIB.

Munawaroh. S., Prima.AH. 2010. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut


(Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Jurnal Kompetensi
Teknik. Vol. 2. No.1. Hal : 73-78

Anda mungkin juga menyukai