Anda di halaman 1dari 17

DISTRESS SPIRITUAL

Mata kuliah : Keperawatan Jiwa


Dosen pengampu :

Disusun oleh :

1. Alfira Cahya Anggraeni 010118A010


2. Annisa Chelsea Listya 010118A016
3. Arifah Damayanti 010118A018
4. Aslah Asfi Magfiroh 010118A020
5. Ika Ratna Sari 010118A063
6. Khusnul latifah 010118A073
7. Mei Dwi Handayani 010118A083
8. Muhammad Arfiq Ilkham A 010118A085
9. Nadhea Dinda kurniasari 010118A089

PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDIWALUYO
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, bimbingan dan hidayah-Nya. Sehingga Makalah yang
berjudul “Distress Spiritual” ini dapat diselesaikan dengan baik.
Melalui makalah ini, penulis berharap pembaca dapat mengetahui tentang
Konsep dan Alat-alat optik khususnya pembahasan tentang Alat-Alat Optik
Dalam Pelayanan Kesehatan.Seperti ungkapan, “Tak ada gading yang tak retak”,
begitu pula dengan penulisan makalah yang sangat jauh dari sempurna ini. Penulis
sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk
memperbaiki kualitas makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menambah pengetahuan bagi mahasiswa.

Ungaran 30 April 2020

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I...............................................................................................................................3
PENDAHULUAN..........................................................................................................3
A. Latar Belakang.............................................................................................3
B. Rumusan Masalah........................................................................................3
C. Tujuan.............................................................................................................4
BAB II.............................................................................................................................5
PEMBAHASAN............................................................................................................5
A. Definisi............................................................................................................5
B. Etiologi............................................................................................................5
C. Patofisiologi...................................................................................................5
D. Karakteristik.................................................................................................6
E. Penatalaksanaan distres spiritual...........................................................8
F. Terapi aktivitas distres spiritual................................................................9
G. Tanda dan gejala distress spritual .........................................................9
H. Penyebab dari gangguan distres spiritual. ........................................10
BAB III..........................................................................................................................11
ASUHAN KEPERAWATAN...................................................................................11
A. Pengkajian..........................................................................................................11
B. Diagnosa keperawatan..............................................................................13
C. Intervensi Keperawatan...........................................................................15
D. Implementasi Keperawatan....................................................................16
E. Evaluasi.........................................................................................................16
BAB IV............................................................................................................................18
PENUTUP.......................................................................................................................18
A. Kesimpulan.........................................................................................................18
B. Saran...................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................19
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya dibandingkan
makhluk tuhan yang lainnya. Mengapa demikian?,tentu jawabannya karena
manusia telah diberkahi dengan akal dan fikiran yang bisa membuat manusia
tampil sebagai khalifah dimuka bumi ini. Akal dan fikiran ini lah yang
membuat manusia bisa berubah dari waktu ke waktu.Dalam kehidupan
manusia sulit sekali dipredeksi sifat dan kelakuannya bisa berubah sewaktu-
waktu. Kadang dia baik,dan tidak bisa bisa dipungkiri juga banyak manusia
yang jahat dan dengki pada sesame manusia dan makhluk tuhan lainnya.
Setiap manusia kepercayaan akan sesuatu yang dia anggap angung atau
maha.kepercyaan inilah yang disebut sebagai spriritual. Spiritual ini sebagai
kontrol manusia dalam bertindak, jadi spiritual juga bisa disebut sebagai
norma yang mengatur manusia dalam berperilaku dan bertindak.
Dalam ilmu keperawatan spiritual juga diperhatikan.Berdasarkan konsep
keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna,
harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman,
1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut
dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan
Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan
transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang
memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam
pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang
lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).

B. Rumusan Masalah
1.Apa pengertian dari Distress spiritual?
2.Apa etiologi dari distress spritual?
3.Apa patofisiologi dari distress spritual?
4.Apa batasan karakteristik dari distress spiritual?
5.Bagaimana penatalaksanaan distress spritual?
6. Apa saja Terapi aktivitas distres spiritual?
7.Apa saja tanda dan gejala dari distres spritual?
8.Bagaimana Penyebab dari gangguan distres spiritual?
C. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah di uraikan sebelumnya, maka
tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengertian distres spiritual
2.untuk mengetahui etiologi dari distres spiritual
3.untuk mengetahui patofisiologi dari distres spiritual
4.untuk mengatahui batasan karakteristik dari distres spiritual
5.untuk mengetahui penatalaksanaan distres spiritual
6.untuk mengetahui terapi aktivitas distres spiritual
7.untuk mengetahui tanda dan gejala dari distres spriritual
8. untuk mengetahui penyebab dari gangguan distres spiritual
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni,
musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya (EGC, 2008).
Definisi lain mengatakan bahwa distres spiritual adalah gangguan dalam
prinsip hidup yang meliputi seluruh kehidupan seseorang dan diintegrasikan
biologis dan psikososial (EGC, 2011)
Distress spiritual adalah gangguan pada prinsip hidup yang meliputi
aspek  dari seseorang yang menggabungkan aspek psikososial dan biologis
seseorang. dari seseorang yang menggabungkan aspek psikososial dan
biologis seseorang. (Wilkinson, Judith M., 2007: 490). (Wilkinson, Judith M.,
2007: 490)
Kesimpulannya adalah bahwa distress spiritual adalah dkegagalan
individu dalam menemukan arti kehidupannya
B. Etiologi
Menurut Budi anna keliat (2011) penyebab distres spiritual adalah sebagai
berikut :
A. Pengkajian Fisik (Abuse)
B. Pengkajian Psikologis (Status mental, mungkin adanya depresi, marah,
kecemasan, ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah,
dan pemikiran yang bertentangan) (Otis-Green, 2002).
C. Pengkajian Sosial Budaya (dukungan sosial dalam memahami keyakinan
klien) (Spencer, 1998)
C. Patofisiologi
Patofisiologi distress spiritual tidak bisa dilepaskan dari stress dan
struktur serta fungsi otak. Stress adalah realitas kehidupan manusia sehari-
hari. Setiap orang tidak dapat dapat menghindari stres, namun setiap orang
diharpakan melakukan penyesuaian terhadap perubahan akibat stres. Ketika
kita mengalami stres, otak kita akan berespon untuk terjadi. Konsep ini sesuai
dengan yang disampikan oleh Cannon, W.B. dalam Davis M, dan kawan-
kawan (1988) yang menguraikan respon “melawan atau melarikan diri”
sebagai suatu rangkaian perubahan biokimia didalam otak yang menyiapkan
seseorang menghadapi ancaman yaitu stres.
Stres akan menyebabkan korteks serebri mengirimkan tanda bahaya ke
hipotalamus. Hipotalamus kemudian akan menstimuli saraf simpatis untuk
melakukan perubahan. Sinyal dari hipotalamus ini kemudian ditangkap oleh
sistem limbik dimana salah satu bagian pentingnya adalah amigdala yang
bertangung jawab terhadap status emosional seseorang. Gangguan pada sistem
limbik menyebabkan perubahan emosional, perilaku dan kepribadian.
Gejalanya adalah perubahan status mental, masalah ingatan, kecemasan dan
perubahan kepribadian termasuk halusinasi (Kaplan et all, 1996), depresi,
nyeri dan lama gagguan (Blesch et al, 1991).
Kegagalan otak untuk melakukan fungsi kompensasi terhadap stresor
akan menyebabkan seseorang mengalami perilaku maladaptif dan sering
dihubungkan dengan munculnya gangguan jiwa. Kegagalan fungsi
kompensasi dapat ditandai dengan munculnya gangguan pada perilaku sehari-
hari baik secara fisik, psikologis, sosial termasuk spiritual.
Gangguan pada dimensi spritual atau distres spritual dapat dihubungkan
dengan timbulnya depresi. Tidak diketahui secara pasti bagaimana mekanisme
patofisiologi terjadinya depresi. Namun ada beberapa faktor yang berperan
terhadap terjadinya depresi antara lain faktor genetik, lingkungan dan
neurobiologi. Perilaku ini yang diperkirakan dapat mempengaruhi kemampuan
seseorang dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya sehingga terjadi distres
spritiual karena pada kasus depresi seseorang telah kehilangan motivasi dalam
memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan spritual.
D. Karakteristik
Menurut NANDA (2019-2020) karakteristik distres spiritual adalah:
1. Anxietas
2. Menangis
3. Keletihan
4. Ketakutan
5. Insomnia
6. Mempertanyakan identitas
7. Mempertanyakan makna hidup
8. Mempertanyakan makna penderitaan
Hubungan dengan diri sendiri:
1. Marah
2. Kurang pasrah
3. Perasaan tidak dicintai
4. Rasa bersalah
5. Kurang diterima
6. Strategi koping tidak efektif
7. Kurang dorongan
8. Merasa hidup kurang bermakna
Hubungan dengan orang lain:
1. Perasaan asing
2. Menolak interaksi dengan pemimpin spiritual
3. Menolak interaksi dengan orang terdekat mad
4. Perpisahan dari sistem pendukung
Hubungan dengan seni, musik, literatur, alam
1. Penurunan ekspresi tentang pola kreativitas sebelumnya
2. Tidak berminat pada alam
3. Tidak berminat membaca literatur spiritual
Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri
1.  Marah terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya
2.  Perasaan diabaikan
3.  Tidak berdaya
4.  Ketidakmampuan berintrospeksi
5.  Ketidakmampuan mengalami pengalaman religiositas
6.  Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas agama
7.  Ketidakmampuan berdoa
8.  Mengungkapkan penderitaan
9.  Meminta menemui pemimpin  keagamaan
10.  Perubahan yang tiba-tiba dalam praktik spiritual. 
E. Penatalaksanaan distres spiritual
Tindakan Psikoterapeutik
1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien
Tujuan tindakan keperawatan gangguan spiritual untuk pasien adalah
agar pasien:
a. Mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b. Mengungkapkan penyebab gangguan spiritual.
c. Mengungkapkan perasaan dan pikiran tentang spiritual yang diyakininya.
d. Mampu mengembangkan skill untuk mengatasi masalah atau penyakit atau
perubahan spiritual dalam kehidupan.
e. Aktif melakukan kegiatan spiritual atau keagamaan.
f. Ikut serta dalam kegiatan keagamaan.
2. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya dengan pasien.
b. Kaji faktor penyebab gangguan spiritual pada pasien.
c. Bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran akan terhadap
spiritual yang diyakininya.
d. Bantu klien mengembangkan skill untuk mengatasi perubahan spiritual
dalam kehidupan.
e. Fasilitasi pasien dengan alat-alat ibadah sesuai keyakinan atau agama
yang dianut oleh pasien.
f. Fasilitasi klien untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang lain
g. Bantu pasien untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan.
h. Bantu pasien mengevaluasi perasaan setelah melakukan kegiatan ibadah
atau kegiatan spiritual lainnya.
F. Terapi aktivitas distres spiritual
A. Psikofarmako
a. Memberikan obat - obatan sesuai program pengobatan pasien.
Psikofarmaka pada distres spiritual tidak dijelaskan secara
tersendiri.
Berdasarkan dengan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa
(PPDGJ) di Indonesia III aspek spiritual tidak digolongkan secara
jelas.
abuah masuk kedalam aksis satu, dua, tiga, empat atau lima.
b. Memantau keefektifan dan efek samping obat yang diminum.
c. Mengukur vital sign secara periodik.
B. Manipulasi Lingkungan
a. Memodifikasi ruangan dengan menyediakan tempat ibadah.
b. Menyediakan sarana dan prasarana untuk melakukan kegiatan spiritual.
c. Melibatkan pasien dalam kegiatan spiritual secara berkelompok.
G.Tanda dan gejala distress spritual
Tanda dan gejala yang dapat di temukan pada pasien distress
spritual(melalui wawancara adalah) menurut buku karangan Budi
anna keliat:
1.selalu menanyakan kebenaran keyakinan yang di anutnya
(contoh pasien kurang atau tidak yakin lagi dengan nilai
yang selama ini di anutnya)
2.merasa tidak nyaman terhadap keyakinan atau nilai
dianutnta
3.perasaan ragu terhadap nilai atau keyakinan yang
dimilikinya
4.menyatakan perasaan tidak ingin hidup
5.mengatakan putus hubungan dengan orang lain atau tuhan
6.mengekspresikan erasaan marah,takut,cemas terhadap arti
hidup ini
7.merasakan kekosongan jiewa yang berkaitan dengan
keyakinan yang dimilikinya
H.Penyebab dari gangguan distres spiritual.
a. Faktorfisik : kecacatan akibat kecelakaan atau bencana
alam atau buatan manusia
b. Faktor psikologi : kehilangan orang yang berarti atau
harta benda akibat bencana
c. Faktor lingkungan : gangguan akibatkerusakan atau
hilangnya potensi atau situasi lingkungan yang selama
iniakrab dengan pasien
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Puchalski’s FICA Spritiual History Tool (Pulschalski, 1999) :
a. F : Faith atau keyakinan (apa keyakinan saudara?) Apakah saudara
memikirkan diri saudara menjadi sesorang yang spritual ata religius?
Apa yang saudara pikirkan tentang keyakinan saudara dalam
pemberian makna hidup?
b. I : Impotance dan influence. (apakah hal ini penting dalam kehidupan
saudara). Apa pengaruhnya terhadap bagaimana saudara melakukan
perawatan terhadap diri sendiri? Dapatkah keyakinan saudara
mempengaruhi perilaku selama sakit?
c. C : Community (Apakah saudara bagian dari sebuah komunitas
spiritual atau religius?) Apakah komunitas tersebut mendukung
saudara dan bagaimana? Apakah ada seseorang didalam kelompok
tersebut yang benar-benar saudara cintai atua begini penting bagi
saudara?
d. A : Adress bagaimana saudara akan mencintai saya sebagai seorang
perawat, untuk membantu dalam asuhan keperawatan saudara?
e. Pengkajian aktifitas sehari-hari pasian yang mengkarakteristikan
distres spiritual, mendengarkan berbagai pernyataan penting seperti :
1) Perasaan ketika seseorang gagal
2) Perasaan tidak stabil
3) Perasaan ketidakmmapuan mengontrol diri
4) Pertanyaan tentang makna hidup dan hal-hal penting dalam
kehidupan
5) Perasaan hampa
2. Faktor Predisposisi :

a. Gangguan pada dimensi biologis akan mempengaruhi fungsi kognitif


seseorang sehingga akan mengganggu proses interaksi dimana dalam
proses interaksi ini akan terjadi transfer pengalaman yang
pentingbagi perkembangan spiritual seseorang.
b. Faktor frediposisi sosiokultural meliputi usia, gender, pendidikan,
pendapattan, okupasi, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan,
politik, pengalaman sosial, tingkatan sosial.

3. Faktor Presipitasi :
a. Kejadian Stresful

Mempengaruhi perkembangan spiritual seseorang dapat terjadi


karena perbedaan tujuan hidup, kehilangan hubungan dengan orang
yang terdekat karena kematian, kegagalan dalam menjalin hubungan
baik dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan zat yang maha
tinggi.

b. Ketegangan Hidup

Beberapa ketegangan hidup yang berkonstribusi terhadap terjadinya


distres spiritual adalah ketegangan dalam menjalankan ritual
keagamaan, perbedaan keyakinan dan ketidakmampuan menjalankan
peran spiritual baik dalam keluarga, kelompok maupun komunitas.

4. Penilaian Terhadap Stressor :

a. Respon Kognitif
b. Respon Afektif
c. Respon Fisiologis
d. Respon Sosial
e. Respon Perilaku

5. Sumber Koping :
Menurut Safarino (2002) terdapat lima tipe dasar dukungan sosial bagi
distres spiritual :

a. Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati, caring, memfokuskan


pada kepentingan orang lain.
b. Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekspresi
positif thingking, mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain.
c. Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu
menyediakan pelayanan langsung yang berkaitan dengan dimensi
spiritual.
d. Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat,
petunjuk dan umpan balik bagaimana seseorang harus berperilaku
berdasarkan keyakinan spiritualnya.
e. Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan
dukungan kelompok untuk berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor,
dkk (2003) menambahkan dukungan apprasial yang membantu
seseorang untuk meningkatkan pemahaman terhadap stresor spiritual
dalam mencapai keterampilan koping yang efektif.

PSIKOFARMAKA :Psikofarmaka pada distres spiritual tidak


dijelaskan secara tersendiri. Berdasarkan dengan Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia
III aspek spiritual tidak digolongkan secara jelas apakah masuk
kedalam aksis satu, dua, tiga, empat atau lima

B. Diagnosa keperawatan
Distress spiritual (Nanda 2018- 2020)
a. Definisi:
Suatu keadaan menderita yang berhubungan dengan hambatan
kemampuan untuk mengalami makna hidup melalui hubungan
dengan diri sendiri, dunia, atau kekuatan yang Maha Tinggi.
b. Batasan karakteristik:
d. Anxietas
e. Menangis
f. Keletihan
g. Ketakutan
h. Insomnia
i. Mempertanyakan identitas
j. Mempertanyakan makna hidup
k. Mempertanyakan makna penderitaan
Hubungan dengan diri sendiri:
1. Marah
2. Kurang pasrah
3. Perasaan tidak dicintai
4. Rasa bersalah
5. Kurang diterima
6. Strategi koping tidak efektif
7. Kurang dorongan
8. Merasa hidup kurang bermakna
Hubungan dengan orang lain:
1. Perasaan asing
2. Menolak interaksi dengan pemimpin spiritual
3. Menolak interaksi dengan orang terdekat mad
4. Perpisahan dari sistem pendukung
Hubungan dengan seni, musik, literatur, alam
1. Penurunan ekspresi tentang pola kreativitas sebelumnya
2. Tidak berminat pada alam
3. Tidak berminat membaca literatur spiritual
Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri
1. Marah terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya 
2. Perasaan diabaikan
3. Tidak berdaya
4. Ketidakmampuan berintrospeksi
5. Ketidakmampuan mengalami pengalaman religiositas
6. Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas agama
7. Ketidakmampuan berdoa
8. Mengungkapkan penderitaan
9. Meminta menemui pemimpin  keagamaan
10. Perubahan yang tiba-tiba dalam praktik spiritual. 
C. Intervensi Keperawatan
Konseling ( 5240)
Definisi: penggunaan proses membantu interaktif yang berfokus pada
kebutuhan pokok masalah atau perasaan klien dan SO untuk meningkatkan
atau mendukung keping, penyelesaian masalah dan hubungan 
interpersonal.
 aktivitas:
1. Identifikasi adanya perbedaan pandangan pasien terhadap situasi
dengan pandangan dari tim tenaga kesehatan
2. Bangun hubungan terapeutik yang didasarkan pada rasa saling percaya
dan saling menghormati
3. Tunjukkan empati, kehangatan dan ketulusan
4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan menguatkan hal 
tersebut 
5. Jangan mendukung pembuatan keputusan pada saat pasien berada
dalam kondisi stress berat jika memungkinkan.
D. Implementasi Keperawatan
Pembuatan keputusan ( 0906)
Definisi: kemampuan untuk membuat penilaian dan keputusan diantara
dua pilihan atau lebih.
 indikator:
1. Mengidentifikasi informasi yang relevan
2. Mengidentifikasi alternatif pilihan
3. Mengidentifikasi kemungkinan konsekuensi dari masing-masing
pilihan
4. Mengenali  kontradiksi dari keinginan yang lain
5. Mempertimbangkan alternatif. 
E. Evaluasi
1. Mampu beristirahat dengan tenang
2. Menyatakan penerimaan keputusan moral/etika
3. Mengekspresikan rasa damai berhubungam dengan Tuhan
4. Menunjukan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka
agama
5. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaanya
6. Menunjukkan efek positif tanpa perasaan marah, rasa bersalah
dan ansietas
7. Menunjukkan perilaku lebih positif
8. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi atau
keberadaannya
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain,
seni, musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besr dari dirinya namun
adapun  penyebabnya yaitu dapaat dilihat dari pengkajian fisik, pengkajian
psikologis ® Status mental, mungkin adanya depresi, marah, kecemasan,
ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah, dan pemikiran
yang bertentangan dan Pengkajian sosial budaya ® dukungan sosial dalam
memahami keyakinan.
B. Saran
Perlu banyak pembelajaran tentang spiritualitas karena spiritual sangat
penting bagi manusia dalam berbagai hal. dalam ilmu kesehatan juga perlu
ditingkatkan  agar seorang tenaga kesehatan tidak salah mengambil sikap atau
tindakan dalam menghadapi klien dengan gangguan spiritualitas. perhatian
spiritualitas dapat menjadi dorongan yang kuat bagi klien kearah
penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritualitas.
untuk itu seorang perawat tidak boleh mangesampingkan masalah spiritualitas
klien.
DAFTAR PUSTAKA

Laeliyah.2013.Distress spiritual
https://www.scribd.com/doc/137026657/Distress-Spiritual-Isi. Diakses tanggal 30
April 2020
Ahmad hesaeni.2016.Askep Distress Spiritual.
https://www.scribd.com/doc/298950985/ASKEP-Distres-Spiritual. Diakses
tanggal 30 April.2020
T. heather,  Herdman. 2018. Nanda-I  diagnosis keperawatan definisi dan
klasifikasi 2018- 2020. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC.
Keliat, Budi Anna. 2011. Manajemen kasus gangguan jiwa.Jakarta:EGC.