Anda di halaman 1dari 9

Nama : Nailil Hidayati Maulidika

Kelas : PSIK 3B
NIM : 2019012192

1. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang penularan virus HIV secara transeksual!
Jawab:
HIV adalah Human Imunnedefinciency Virus (virus yang melemahkan daya tubuh
manusia). Virus ini adalah “retrovirus” yang menyerang sel-sel pembentukan sistem
kekebalan tubuh manusia, sehingga fungsinya akan terhalang atau bahkan hancur. Infeksi
HIV menyebabkan kelemahan terus menerus pada sistem pertahanan tubuh atau bisa
disebut lemahnya kekebalan tubuh. Dengan begitu seseorang tidak mempunyai
perlindungan lagi berhadapan dengan berbagai penyakit, yang pada akhirnya tidak dapat
dirawat lagi dan menuju dalam kematian. Salah satu penularan HIV/AIDS di Indonesia,
yaitu secara transeksual atau melalui aktivitas seksual baik heteroseksual, homoseksual,
oral seks maupun anal seks.
Pada perilaku seksual berisiko (tanpa kondom), virus HIV sangat mudah menular
melalui hubungan seksual dari orang yang positif HIV ke pasangan yang sehat. Risiko
penularan HIV akan meningkat jika ada luka atau sakit disekitar vagina atau penis.
Apalagi jika orang yang terinfeksi melakukan hubungan seksual melalui anus, maka akan
terjadi peningkatan risiko penularan HIV karena lapisan anus lebih mudah terluka. Oral
seks juga memiliki risiko menularkan HIV jika orang yang terinfeksi memiliki gusi
berdarah atau luka kecil di mulut dan tenggorokan mereka.

2. Seorang wanita berusia 38 tahun datang ke rumah sakit di poliklinik penyakit


dalam. Hasil pemeriksaan saat pengkajian didapatkan bahwa pasien tersebut
dengan riwayat batuk lama, demam, nyeri telan, dan penurunan berat badan yg
drastis dalam 3 bulan terakhir ini, disertai dengan diare kronis. Hasil anamnesa
didapatkan bahwa pasien tersebut mempunyai suami yg menderita HIV. Apa
tindakan saudara sebagai perawat dalam menyikapi kasus tersebut?
Jawab:
Dari gejala-gejala yang dialami pasien dan resiko tinggi untuk menderita HIV, maka
perawat menyarankan pasien untuk segera melakukan tes HIV. Perawat memberikan
edukasi tentang tes apa saja yang harus dilakukan seperti:
a. Tes antibody/antigen. Biasanya hal ini dilakukan melalui tes darah, di mana jika
hasilnya positif akan menandakan adanya antibodi terhadap HIV yang berarti sudah
terinfeksi. Tetapi biasanya antibodi akan muncul dalam jangan waktu selama 12
minggu dari awalnya virus ini masuk ke tubuh. Sebaiknya dilakukan pemerikasaan
ulang untuk lebih pastinya.
b. Tes penghitungan sel CD4. Pada umumnya, secara normal jumlah CD4 setiap orang
sebesar 500-1400 sel per milimeter kubik darah. Tetapi jika seseorang terkena HIV
akan terjadi penurunan CD4 mencapai di bawah 200 per milimeter kubik darah.
c. Pemeriksaan viral load (HIV RNA). Hal ini merupakan beban virus dengan
menjumlah virus dalam darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menunjukkan
perkembangan virus HIV itu sendiri.
d. Tes resistensi obat. Biasanya hal ini dilakukan untuk membantu para dokter untuk
melakukan terapi kepada para penderita HIV ini.
Ketika, pasien sudah terinfeksi HIV, maka perawat memberikan anjuran seperti:
a. Terapi antiretoviral (ARV)
Obat ARV pada dasarnya tidak dapat menyembuhkan penyakit ini, tetapi dapat
membantu penderitanya hidup lebih lama dan sehat, Selain itu, baiknya lagi terapi ini
dapat membantu mengurangi penularan HIV itu sendiri.
Tujuan utama obat ini untuk mencegah dan mengurangi virus HIV dalam tubuh dan
menghambat virus ini memperbanyak diri.
b. Gaya hidup yang harus diperbaiki
Selain mengonsumsi obat-obatan untuk menghambat dan mengurangi infeksi penyakit
ini, pasien sebaiknya mengubah gaya hidup untuk mengatasi HIV.
1) Mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang seperti sayur, buah, bij-bijian, dan
protein tanpa lemak
2) Membiasakan rajin berolahraga untuk mencegah virus ini
3) Memperbanyak istirahat agar terhindar dari berbagai penyakit termasuk HIV
4) Menghindari konsumsi obat-obat terlarang termasuk alkohol
5) Menghindarimerokok
6) Melakukan olahraga ringan seperti yoga ataupun meditasi
7) Rajin mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap memegang benda atau
hewan
8) Menghindari konsumsi makanan mentah, seperti daging mentah, telur mentah, dan
makanan laut mentah
9) Sebaiknya melakukan vaksin untuk mencegah infeksi seperti flu dan paru

Terdapat berbagai macam cara dalam merawat seorang pasien HIV/AIDS. Pasien
membutuhkan dukungan tak hanya berasal dari dalam dirinya namun juga memerlukan
dorongan dari luar yang dapat berasal dari perhatian dan dukungan keluarga dan sahabat.

Hal terpenting dalam memperjuangkan hidup dari pasien HIV/AIDS adalah perawat
medis selalu membantu untuk menjalani hidup sehat serta rajin dalam mengonsumsi obat
yang telah diberikan sebagai cara menjaga kesehatan pasien HIV/AIDS. Dengan
demikian gejala dan tanda akibat virus HIV/AIDS dapat berkurang kemunculannya.
Saat merawat pasien HIV/AIDS, perawat medis memberikan obat secara oral maupun
suntikan. Dalam hal ini, perawat medis menggunakan jarum suntik dengan sangat berhati-
hati untuk menghindari penularan yang tidak diinginkan. Selain itu, perawat medis akan
membersihkan permukaan segera setelah terkena darah atau cairan tubuh seperti sperma,
cairan vagina, dll. Perawat medis menerapkan tindakan keselamatan saat membersihkan.
Dengan begitu, apa yang dilakukan perawat medis dapat membunuh virus pada
permukaan dan mengurangi risiko terkena infeksi.

3. Virus penyebab AIDS yang menyerang jaringan limfoid yang menyebabkan


destruksi pada sistem kekebalan tubuh. Jelaskan prosesnya!
Jawab:
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome). HIV masuk kedalam tubuh manusia melalui kegiatan transeksual
(homoseksual, heteroseksual, oral seks, maupun anak seks), melalui plasenta dari ibu ke
anaknya dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
HIV termasuk dalam famili retrovirus dimana virus tersebut membawa materi genetik
dalam asam ribonukleat (RNA) bukan dalam asam deoksiribo nukleat (DNA). Virus HIV
yang masuk kedalam tubuh akan menyerang sel CD4+ yang meliputi monosit, makrofag
dan limfosit T4 helper dengan cara berikatan dengan limfosit T4 helper yang akan
memprogram ulang materi genetik sel untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-
ganda) dengan bantuan enzim revers transcriptase. DNA akan disatukan dengan nucleus
T4 sebagai provirus sehingga terjadi infeksi permanen. Sel T4 yang sudah terinfeksi akan
diaktifkan, sehingga HIV dapat menghancurkan sel T4 kemudian HIV dilepas melalui
plasma darah dan akan menginfeksi sel-sel CD4+ lain.
Siklus replikasi HIV belum aktif sampai sel yang terinfeksi diaktifkan oleh antigen,
mitogen, hepatitis, herpes simplek dan sitokin. Infeksi HIV tidak langsung
memperlihatkan tanda atau gejala tertentu, namun gejala tidak khas pada HIV akut
muncul 3-6 minggu setelah terinfeksi. Virus HIV yang inaktif dalam sel tubuh dianggap
infeksius karena dapat ditularkan selama penderita masih hidup. Produksi Virus HIV
dalam tubuh tergantung pada
kesehatan seseorang yang terinfeksi. Produksi akan berjalan lambat bila sistem imun tidak
terpengaruhi oleh infeksi lain dan berjalan cepat bila sistem imun terpengaruhi dengan
infeksi lain.
HIV mempunyai kemampuan untuk melekat dan membunuh limfosit CD4. Jumlah
CD4 dalam tubuh pasien HIV akan menurun secara bertahap dalam beberapa tahun
dengan tingkat penurunan yang lebih cepat dalam jangka waktu 1,5 sampai 2,5 tahun
sebelum pasien masuk dalam keadaan AIDS.
Tahapan infeksi HIV berkembang jadi AIDS
Seseorang yang terinfeksi HIV pada umumnya tak langsung menyadari terpapar virus
berbahaya tersebut. HIV kira-kira membutuhkan waktu 2-15 tahun hingga menimbulkan
gejala.
a. Periode masa jenderla
Periode masa jendela yaitu periode di mana pemeriksaan tes antibody. HIV masih
menunjukkan hasil negatif walaupun virus sudah masuk ke dalam darah pasien
dengan jumlah yang banyak. Antibodi yang terbentuk belum cukup terdeteksi melalui
pemeriksaan laboratorium karena kadarnya belum memadai. Antibodi terhadap HIV
biasanya baru muncul dalam 3-6 minggu hingga 12 minggu setelah infeksi primer.
Periode jendela sangat penting diperhatikan karena pada periode jendela ini pasien
sudah mampu dan potensial menularkan HIV kepada orang lain. Pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan pada periode ini sebaiknya yang mampu mendeteksi
antigen p18, p24, p31, p36, gp120, gp41.
b. Fase infeksi akut
Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang menghasilkan virus-
virus baru (virion) dengan jumlah hingga berjuta-juta virion. Viremia dari begitu
banyak virion tersebut dapat memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala
yang mirip penyakit flu atau infeksi mononukleosa. Diperkirakan bahwa sekitar 50-70
persen orang yang terinfeksi HIV mengalami sindrom infeksi akut selama 3-6 minggu
setelah terinfeksi virus dengan gejala umum, yakni: demam, faringitis, limfadenopati,
artralgia, mialgia, letargi, malaise,nyeri kepala, mual, muntah, diare, dan anoreksia.
Penurunan berat badan HIV juga sering menimbulkan kelainan pada sistem saraf
meski paparan HIV baru terjadi pada stadium infeksi yang masih awal. Kondisi itu,
antara lain bisa menyebabkan: meningitis, ensefalitis, neuropati perifer, mielopati.
Sementara, gejala pada dematologi atau kulit, yaitu ruam makropapuler eritematosa
dan ulkus mukokutan.
c. Fase infeksi laten
Pembentukan respons imun spesifik HIV dan terperangkapnya virus dalam sel
dendritik folikuler (SDF) di pusat germinativum kelenjar limfa dapat menyebabkan
virion dapat dikenalikan, gejala hilang, dan mulai memasuki fase laten. Pada fese ini
jarang ditemukan virion di plasma sehingga jumlah virion di plasma menurun karena
sebagian besar virus terakumulasi di kelenjar limfa dan terjadi replikasi di kelenjar
limfa. Fase infeksi laten berlangsung rata-rata sekitar 8-10 tahun (dapat 3-13 tahun)
setelah terinfeksi HIV. Pada tahun ke-8 setelah terinfeksi HIV, penderita mungkin
akan mengalami berbagai gejala klinis, berupa: demam, banyak berkeringat pada
malam hari, kehilangan berat badan kurang dari 10 persen, diare lesi pada mukosa dan
kulit, berulang penyakit infeksi kulit berulang. Gejala ini merupakan tanda awal
munuculnya infeksi oportunistik. Pembengkakan kelenjar limfa dan diare secara
terus-menerus termasuk gejala infeksi oportunistik.
d. Fase infeksi kronis (AIDS)
Selama berlangsungnya fase ini, di dalam kelenjar limfa terus terjadi replikasi virus
HIV yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi
kelenjar limfa adalah sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus
dicurahkan ke dalam darah. Pada fese ini terjadi peningkatan jumlah virion secara
berlebihan di dalam sirkulasi sistemik. Respons imum tidak mampu meredam jumlah
virion yang berlebihan tersebut. Sementara, limfosit semakin tertekan karena
intervensi HIV yang kian banyak. Penurunan limfosit ini mengakibatkan sistem imun
menurun dan penderita semakin rentan terhadap berbagai penakit infeksi
sekunder.Perjalanan penyakit kemudian semakin progresif yang mendorong ke arah
AIDS. Infeksi sekunder yang sering menyertai, di antaranya adalah: pneumonia yang
disebabkan oleh pneumocytis carinii, tuberkulosis sepsis, toksoplasmosis ensefalitis,
diare akibat kriptisporidiasis, infeksi virus sitomegalo, infeksi virus herpes,
kandidiasis esophagus, kandidiasis trachea, kandidiasis bronchus atau paru-paru
infeksi jamur jenis lain, misalnya histoplasmosis, koksidiodomikosis.

4. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang infeksi oportunistik?


Jawab:
Infeksi yang mengambil kesempatan dari kelemahan dalam pertahanan kekebalan disebut
“oportunistik”. Kata “infeksi oportunistik” sering kali disingkat menjadi “IO”. Infeksi
oportunistik adalah infeksi yang terjadi akibat adanya penurunan sistem kekebalan tubuh.
Infeksi tersebut umumnya tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem
kekebalan tubuh yang normal, namun dapat berakibat fatal pada orang dengan sistem
kekebalan tubuh yang lemah seperti pada penderita HIV/AIDS(Human
Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome). HIV memperlemah
sistem kekebalan, sehingga IO dapat berkembang. Jika kita terinfeksi HIV dan
mengalami IO, kita mungkin AIDS.
IO yang paling umum terlampir di sini, berbarengan dengan penyakit yang biasa
disebabkannya, dan jumlah CD4 waktu penyakit menjadi aktif:
a. Kandidiasis (thrush) adalah infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina.
b. Virus sitomegalia (CMV) adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit mata yang
dapat menimbulkan kebutaan.
c. Dua macam virus herpes simpleks dapat menyebabkan herpes pada mulut atau
kelamin.
d. Malaria adalah umum di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit ini lebih umum dan
lebih berat pada orang terinfeksi HIV.
e. Mycobacterium avium complex (MAC atau MAI) adalah infeksi bakteri yang dapat
menyebabkan demam kambuhan, rasa sakit yang umum, masalah pada pencernaan,
dan kehilangan berat badan yang parah.
f. Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi jamur yang dapat menyebabkan
pneumonia (radang paru) yang berbahaya.
g. Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi otak oleh semacam protozoa.
h. Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri yang menyerang paru, dan dapat
menyebabkan meningitis (radang selaput otak).
5. Jelaskan faktor predisposisi dalam terjadinya HIV AIDS!
Jawab:
Faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah
terjadinya perilaku seseorang, seperti pengetahuan, sikap, pendidikan dll
a. Pengetahuan tentang HIV/AIDS
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui. Pengetahuan merupakan hasil tahu
yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek. Pengetahuan
yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan.
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Misalnya masyarakat tahu bahwa penyakit HIV itu penyakit menular.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar. Misalnya masyarakat memahami bahwa penyakit HIV bisa
ditularkan lewat hubungan seksual.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Misalnya menggunakan kondom
ketika melakukan hubungan seks berisiko.
4) Analisis
Analisis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Misalnya seseorang
mengetahui tidak dapat tertular HIV jika berinteraksi dengan ODHA (orang
dengan HIV/AIDS) karena mengetahui bahwa penularan hanya bisa lewat
hubungan kelamin, jarum suntik, darah, dan perinatal.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi yang sudah ada. Misalnya dapat merencanakan, dapat meringkaskan,
dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori yang telah ada.
b. Sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS
Sikap (attitude) merupakan konsep yang sangat penting dalam komponen sosio-
psikologis, karena merupakan kecenderungan untuk bertindak dan berpersepsi. Sikap
masih merupakan reaksi yang tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau
objek. Semakin buruk sikap responden maka akan terjadi peningkatan perilaku
berisiko HIV/AIDS.

Sikap terdiri dari 4 tingkatan, yaitu:


1) Menerima (receiving) diartikan bahwa hanya subjek mau menerima stimulus yang
diberikan objek.
2) Menanggapi (responding) diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
objek yang dihadapi.
3) Menghargai (valuing) diartikan subjek memberikan nilai yang positif terhadap
objek.
4) Bertanggung jawab (responsible) diartikan berani mengambil risiko terhadap
sikap yang sudah diambil.
c. Tingkat Pendidikan
Menurut Undang- Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1
menyatakan bahwa pendidikan sebagai proses yang di dalamnya seseorang belajar
untuk mengetahui, mengetahui, mengembangkan kemampuan, sikap dan
bentukbentuk tingkah laku lainnya untuk menyesuaikan dengan lingkungan dimana
dia hidup. Penelitian di Afrika dan Asia dengan metode cross sectional juga
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan dengan tingkat
pengetahuan dan perilaku berisiko tertular HIV. Hubungan variabel pendidikan
dengan tindakan berisiko dan menunjukkan hubungan yang kuat dengan berpola
positif, artinya semakin rendah pendidikan responden maka akan terjadi peningkatan
perilaku berisiko HIV/AIDS. Karena tingkat pendidikan berbanding lurus dengan
pengalaman yang dimiliki.
d. Usia
Usia merupakan lama masa hidup seseorang terhitung dari waktu kelahirannya sampai
berlangsungnya penelitian dalam hitungan tahun. Usia menjadi salah satu faktor
mempengaruhi perilaku berisiko HIV/AIDS. Terdapat hubungan antara umur dengan
tindakan berisiko HIV. Semakin rendah umur seseorang maka akan meningkatkan
perilaku berisiko HIV.
Daftar Pustaka

Demartoto A. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Seksual Laki-laki yang berhubungan Seks

Dengan Laki-laki (LSL) Dalam Kaitannya Dengan HIV dan AIDS. 2012

Simanjuntak E. Analisis Faktor Resiko Penularan HIV/AIDS Di Kota Medan. 2010;4.

Nursalam. Asuhan Keperawatan Pada Pasien HIV/AIDS. Jakarta. EGC. 2006.

Peran Perawat Indonesia Dalam Pencegahan Dan Peningkatan Kasus HIV/AIDS.

Maret 2008. Diakses Kamis 12 November 2020. URL : http://www.inna-ppni.Or.id

World Health Organization, HIV/AIDS, Novermber 2016. URL:

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs360/en/

Yayasa Spiritia. Infeksi Oportunistik. 2007. Diakses 12 November 2020. URL :

http://www.aidsinfonet.org/

KemenKes.RI. Situasi dan analisis HIV AIDS. Jakarta: KemenKes.RI; 2014.

Septiawan MPdC. Perilaku Pencegahan Infeksi HIV/AIDS pada Remaja di Puskesmas

Purwakarta. 2016.URL: http://journals.stikim.ac.id. Diakses tanggal 12 November


2020..

Anda mungkin juga menyukai