Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

BRONKOPNEUMONIA

Disusun Oleh :
Rulyanis, S.Kep

(NIM : 70900120014)

Dosen Pengampuh :
Huriati, S.Kep, Ns., M.Kes

PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan
Pendahuluan terkait penyakit akut pada anakini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya.

Penulis sangat berharap laporan pendahuluan ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pemenuhan kebutuhan
dasar khususnya Aktivitas. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan laporan
pendahuluan yang telah penulis buat di masa yang akan datang.

Semoga laporan pendahuluan ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-
kata yang kurang berkenan.

Makassar, 6 Januari 2021

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................

DAFTAR ISI .....................................................................................................

BAB I KONSEP DASAR

A. Pengertian……………………………………………………………….

B. Etiologi………………………………………………………………….

C. Klasifikasi……………………………………………………………….

D. Patofisiologi…………………………………………………………….

E. Manifestasi klinis………………………………………………………..

F. Komplikasi…………………………………………………………...….

G. Penatalaksanaan ……….……………………………………………….

H. Pemeriksaan penunjang…………………………………………………

I. Patway…………………………………………………………………...

BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian………………………………………………………………

B. Diagnosa Keperawatan………………………………………………….

C. Intervensi Keperawatan…………………………………………………

D. Implementasi………………………………………………………...….

E. Evaluasi………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………

BAB I

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian
Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau
beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat
yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing (Wijayaningsih,
2013).
Bronkopneumonia adalah cadangan pada parenkim paru yang meluas
sampai bronkioli atau dengan kata lain peradangan yang terjadi pada jaringan
paru melalui cara penyebaran langsung melalui saluran pernapasan atau
melalui hematogen sampai ke bronkus. (Riyadi dan Sukarmin, 2009).
B. Etiologi
Secara umum bronkopneumonia diakibatkan penurunan mekanisme
pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang normal dan
sehat memiliki mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang
terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang
menggerakkan kuman keluar dari organ dan sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronkopneumonia disebabkan oleh bakteri virus dan jamur, antara
lain :
1. Bakteri :Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella
2. Virus :Legionella Pneumoniae
3. Jamur :Aspergillus Spesies, Candida Albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung kedalam paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama (Nurarif dan Kusuma, 2015).
C. Klasifikasi
Klasifikasi pneumonia berdasarkan letak anatomi
1. Pneumonia lobaris Pneumonia lobaris melibatkan seluruh atau satu
bagian besar dari satu atau lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena,
maka dikenal sebagai pneumonia bilateral atau “ganda”.
2. Pneumonia lobularis (bronkopneumonia) Bronkopneumonia terjadi pada
ujung akhir bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk
membentuk bercak konsolidasi dalam lobus yang berada didekatnya.
Pneumonia interstisial Proses implamasi yang terjadi di dalam dinding
alveolar (interstisium) dan jaringan peribronkial serta interlobular ( Nurarif
dan Kusuma, 2013)
D. Patofisiologi
Sebagian besar penyebab dari bronkopneumonia ialah mikroorganisme
(jamur, bakteri, virus) awalnya mikroorganisme masuk melalui percikan
ludah (droplet) invasi ini dapat masuk kesaluran pernafasan atas dan
menimbulkan reaksi imonologis dari tubuh. reaksi ini menyebabkan
peradangan, dimana ketika terjadi peradangan ini tubuh menyesuaikan diri
maka timbulah gejala demam pada penderita.
Reaksi peradangan ini dapat menimbulkan sekret, semakin lama sekret
semakin menumpuk di bronkus maka aliran bronkus menjadi semakin sempit
dan pasien dapat merasa sesak. Tidak hanya terkumpul dibronkus lama-
kelamaan sekret dapat sampai ke alveolus paru dan mengganggu sistem
pertukaran gas di paru.
Tidak hanya menginfeksi saluran nafas, bakteri ini juga dapat
menginfeksi saluran cerna ketika ia terbawa oleh darah. Bakteri ini dapat
membuat flora normal dalam usus menjadi agen patogen sehingga timbul
masalah GI.
Dalam keadaan sehat, pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme. keadaan ini disebabkan adanya mekanisme pertahanan paru.
terdapatnya bakteri didalam paru menunjukkan adanya gangguan daya tahan
tubuh, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan mengakibatkan
timbulnya infeksi penyakit. masuknya mikroorganisme ke dalam saluran
nafas dan paru dapat melalui berbagai cara, antara lain inhalasi langsung dari
udara, aspirasi dari bahan- bahan yang ada dinasofaring dan orofaring serta
perluasan langsung dari tempat-tempat lain, penyebaran secara hematogen
( Nurarif dan Kusuma, 2013)

E. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis yang muncul pada penderita bronkopneumonia
menurut ( Nurarif dan Kusuma, 2013), ialah :
1. Biasanya didahului infeksi traktus respiratori bagian atas
2. Demam (39 -40 derajat celcius) kadang-kadang disertai kejang karena
demam yang tinggi.
3. Anak sangat gelisah, dan adanya nyeri dada yang terasa ditusuk-tusuk,
yang dicetuskan saat bernafas dan batuk.
4. Pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan
sianosis sekitar hidung dan mulut.
5. Kadang-kadang disertai muntah dan diare.
6. Adanya bunyi tambahan pernafasan seperti ronchi, wheezing.
7. Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipoksia apabila infeksinya
serius.
8. Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mokus yang
menyebabkan atelectasis absorbsi.
F. Komplikasi
1. Obstruksi Jalan nafas
2. Gagal napas – pleura effusion
3. Empiema
4. Otitis media akut
5. Atelectasis
6. Emfisema
7. Meningitis ( Nurarif dan Kusuma, 2013)
G. Penatalaksanaan
Ada dua jenis penatalaksanaan pada pasien bronkopneumonia yaitu
secara asuhan keperawatan dan medis (Nugroho, 2015) :
1. Asuhan keperawatan
a. Melakukan fisioterapi dada atau mengajarkan batuk efektif pada
anak yang mengalami gangguan bersihan jalan nafas
b. Mengatur posisi semi fowler untuk memaksimalkan ventilasi
c. Memberikan kompres untuk menurunkan demam
d. Pantau input dan output untuk memonitor balance cairan
e. Bantu pasien memenuhi kebutuhan ADLs
f. Monitor tanda-tanda vital
g. Kolaborasi pemberian O2
h. Memonitor status nutrisi dan berkolaborasi dengan ahli gizi
2. Medis
a. Farmakologi
Pemberian antibiotik misalnya penisilin G, streptomisin,
ampicillin, dan gentamicin. Pemberian antibiotik ini berdasarkan
usia, keaadan penderita, dan kuman penyebab.
b. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan radiologi yaitu foto thoraks, terdapat konsolidasi
satu atau beberapa lobus yang bebercak-bercak.
2) Pemeriksaan laboratorium biasanya terjadi peningkatan leukosit.
3) Pemeriksaan AGD untuk mengetahui status kaardiopulmuner
yang berhubungan dengan oksigen.
4) Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : untuk mengetahui
mikroorganisme penyebab dan obat yang cocok diberikan.
H. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan radiologi yaitu foto thoraks, terdapat konsolidasi satu atau
beberapa lobus yang bebercak-bercak.
2. Pemeriksaan laboratorium biasanya terjadi peningkatan leukosit.
3. Pemeriksaan AGD untuk mengetahui status kaardiopulmuner yang
berhubungan dengan oksigen.
4. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : untuk mengetahui
mikroorganisme penyebab dan obat yang cocok diberikan. (Nugroho,
2015)
I. Pathway
BAB II

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Menurut Dermawan (2012) pengkajian adalah pemikiran dasar yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenal masalah-masalah kebutuhan kesehatan dan
keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan. Pengkajian pada
anak menurut Nursalam (2008) antara lain :
1. Usia : Pneumonia sering terjadi pada bayi dan anak. Kasus terbanyak
terjadi pada anak berusia di bawah 3 tahun.
2. Keluhan utama : Saat dikaji biasanya penderita bronkopneumonia
mengeluh sesak nafas.
3. Riwayat penyakit sekarang : Pada penderita bronkopneumonia biasanya
merasakan sulit untuk bernafas, dan disertai dengan batuk berdahak,
terlihat otot bantu pernafasan, adanya suara nafas tambahan, penderita
biasanya juga lemah dan tidak nafsu makan, kadang disertai diare.
4. Riwayat penyakit dahulu : Anak sering menderita penyakit saluran
pernafasan bagian atas, memiliki riwayat penyakit campak atau pertussis
serta memiliki faktor pemicu bronkopneumonia misalnya riwayat terpapar
asap rokok, debu atau polusi dalam jangka panjang.
5. Pemeriksaan fisik :
a. Inspeksi. Perlu diperhatikannya adanya sianosis, dispneu, pernafasan
cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula non produktif menjadi
produktif, serta nyeri dada pada saat menarik nafas. Batasan takipnea
pada anak 2 bulan – 12 bulan adalah 50 kali/menit atau lebih, sementara
untuk anak berusia 12 bulan – 5 tahun 12 adalah 40 kali/menit atau
lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding dada ke dalam pada
fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada ke dalam
akan tampak jelas.
b. Palpasi Fremitus biasanya terdengar lemah pada bagian yang terdapat
cairan atau secret, getaran hanya teraba pada sisi yang tidak terdapat
secret.
c. Perkusi Normalnya perkusi ppada paru adalah sonor, namun untuk
kasus bronkopneumonia biasanya saat diperkusi terdengar bunyi redup.
d. Auskultasi Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara
mendekatkan telinga ke hidung atau mulut bayi. Pada anak pneumonia
akan terdengar stridor, ronkhi atau wheezing. Sementara dengan
stetoskop, akan terdengar suara nafas akan berkurang, ronkhi halus
pada posisi yang sakit, dan ronkhi basah pada masa resolusi. Pernafasan
bronkial, egotomi, bronkoponi, kadang-kadang terdengar bising gesek
pleura.
6. Penegakan diagnosis : Pemeriksaan laboratorium : Leukosit meningkat dan
LED meningkat, X-foto dada : Terdapat bercak-bercak infiltrate yang
tersebar (bronkopneumonia) atau yang meliputi satu atau sebagian besar
lobus.
B. Diagnosa
Diagnosa Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis
mengenai respon pasien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan
yang dialami baik secara aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan
bertujuan untuk mengidentifikasi respons pasien terhadap situasi yang
berkaitan dengan kesehatan (PPNI, 2016).
Masalah keperawatan yang muncul menurut (SDKI , 2017):
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan nafas.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi,perubahan membrane alveolus-kapiler.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan,
ketidakmampuan mencerna makanan, faktor psikologis (mis. Stress,
keengganan untuk makan)
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dengan kebutuhan oksigen, kelemahan.
5. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan
yang asing, ketidaknyamanan.
6. Gangguan tumbuh kembang b.d terpisah dari orang tua, keterbatasan
lingkungan
7. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan
ketidakseimbangan cairan (mis. Dehidrasi intoksikasi air), diare.

C. Intervensi
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh
perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk
mencapai luaran (outcome) yang diharapkan (SIKI DPP PPNI 2018) (SLKI
DPP PPNI 2019).
No Diagnosa Standar luaran Intervensi Rasional
keperawatan keperawatan keperawatan
1. Bersihan jalan Setelah dilakukan Manajemen pola
nafas tidak efektif tindakan nafas - Untuk
berhubungan keperawatan … Observasi mengetahui
dengan spasme x… jam nafas - Monitor pola nafas status pola
jalan nafas kembali efektif - Monitor bunyi nafas
dengan kriteria nafas tambahan - Apakah ada
hasil : - Monitor sputum bunyi nafas
1. Pola napas Terapeutik tambahan
membaik - Pertahankan - Untuk
2. Jalan nafas kepatenan pola mengetahui
menjadi bersih nafas adanya
3. Mampu - Posisi semifowler produksi
mengidentifikasi - Berikan minuman sputum
dan mencegah - Untuk
hangat
faktor yang dapat kenyaman
Edukasi
menghambat jalan - Agar jalan
- Anjurkan asupan
nafas. nafas tidak
cairan yang tepat tertutup
Kolaborasi - Untuk
- Kolaborasi mengencerkan
pemberian dahak
bronkodilator - untuk
memastikan
asupan cairan
perhari
- Untuk
mengisap
lendir
2. Gangguan Setelah dilakukan Pemantauan - Untuk
pertukaran gas tindakan …x… respirasi mengetahui
berhubungan jam pertukaran gas Observasi karakteristik
dengan membaik dengan - Monitor frekuensi nafas
ketidakseimbanga kriteria hasil : nafas, kedalaman, - Untuk
n ventilasi- 1. Dispnea upaya nafas mengetahui
perfusi,perubahan menurun - Monitor pola nafaa pola nafas
membrane 2. Takikardi - Monitor adanya pasien
alveolus-kapiler. membaik produksi sputum - Untuk
3. Pola nafas Terapeutik mengetahui
membaik - Atur interval adanya
pemantauan produksi
respirasi sesuai sputum
kondisi pasien - Untuk
- Dokmentasi hasil mengetahui
pemantauan status respirasi
Edukasi pasien
- Jelaskan tujuan - Sebagai
pemantauan catatan
- Informasikan hasil - Agar keluarga
pementauan paham dengan
tindakan
- Untuk
mengetahui
hasil pantau
jalan nafas
3. Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi - Untuk
berhubungan tindakan Observasi mengetahui
dengan kurangnya keperawatan … - Identifikasi status status nutrisi
asupan makanan, x… jam Anoreksia nutrisi pasien
ketidakmampuan dan kebutuhan - Untuk
- Identifikasi alergi
mencerna nutrisi dapat menentukan
dan intoleransi
makanan, faktor teratasi dengan intervensi
makanan
psikologis (mis. kriteria hasil: selanjutnya
Stress, keengganan 1. Porsi makanan - Identifikasi - Mengetahui
untuk makan) yang dihabiskan makanan yang adanya
meningkat disukai penurunan BB
2. Frekuensi yang berarti
- Monitor asupan
makan membaik - Menjadi
makan
3. Nafsu makan pedoman
membaik - Monitor berat dalam
badan melakukan
intervensi
- Monitor hasil
keperawatan
pemeriksaan
- Makanan yang
laboratorium
menarik dan
Terapeutik suhu yang
- Berikan makanan sesuai dapat
tinggi serat untuk meningkatkan
mencegah nafsu makan
konstipasi - Untuk
- Berikan makanan mencukupi
tinggi kalori dan kebutuhan
tinggi protein kalori dan
- Berikan suplemen protein pasien
makanan, jika - Pemberian
perlu medikasi
Edukasi untuk
- Anjurkan posisi meningkatkan
duduk nafsu makan
Kolaborasi - Kolaborsi
- Kolaborasi dengan hali
pemberian gizi untuk
medikasi sebelum memenuhi
makan kebuthan
- Kolaborasi nutrisi pasien
dengan ahli gizi
untuk
menentukan
jumlah & jenis
nutrisi yang
dibutuhkan
4. Intoleransi Setelah dilakukan - Untuk
aktifitas tindakan Observasi mengetahui
berhubungan keperawatan … - Monitor kelelahan faktor yang
dengan x… jam Anoreksia fisik dan dapat
ketidakseimbanga dan kebutuhan emosional mempengaruhi
n antara suplai O2 nutrisi dapat - Monitor pola dan kelelahan
dengan kebutuhan, teratasi dengan jam tidur - Jam tidur yang
kelemahan. kriteria hasil: Terapeutik kurang dapat
1. Frekuensi nadi - Sediakan menimbulkan
meningkat lingkungan rasa lelah
nyaman dan - Lingkungan
2. Kemudahan
rendah stimulus yang nyaman
dalam
(mis, cahaya, akan
melakukan
suara, kunjungan) meningkatkan
aktivitas
- Berikan aktivitas perasaan yang
sehari-hari
distraksi yang segar
meningkat
menenangkan - Menghindari
3. Frekuensi Edukasi pemaksaan
napas - Anjurkan tirah penggunaan
baring energy yang
- Anjurkan berat dalam
melakukan aktivitas
aktivitas secara - Untuk
bertahap menentukan
- Anjurkan intervensi
menghubungi selanjutnya
perawat jika tanda ketika lelah
dan gejala tidak
kelelahan tidak berkurang
berkurang - Asupan gizi

Kolaborasi yang baik akan

- Kolaborasi meningkatkan

dengan ahli tenaga dalam

gizi tentang melakukan

cara aktivitas

meningkatka
n asupan
makanan
D. Implementasi
Implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan intervensi
keperawatan. Implementasi merupakan langkah keempat dari proses
keperawatan yang telah direncanakan oleh perawat untuk dikerjakan dalam
rangka membantu klien untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan
dampak atau respons yang ditimbulkan oleh masalah keperawatan dan
kesehatan (Ali 2016).

E. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan
seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan.
Penilaian proses menentukan apakah ada kekeliruan dari setiap tahapan proses
mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, tindakan dan evaluasi (Ali
2016).
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan (2012) Proses Keperawatan Penerapan Konsep Dan Kerangka Kerja.

Yogyakarta: Gosyen Publishing

Nugroho, T (2015) Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan Penyakit

Dalam Yogyakarta: Nuha Medika

Nursalam (2008) Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan Jakarta: Salemba Medika

Nurarif, A. Huda dan Hardhi Kusuma (2015) Aplikasi Asuhan Keperawatan

Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC jilid 1 Yogjakarta:

Mediaction

Riyadi dan Sukarmin (2009) Asuhan Keperawatan pada Anak Edisi pertama

Yogyakarta: Graha Ilmu

SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.

SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta.

SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.

Wijayaningsih, Kartika Sari (2013) Asuhan Keperawatan Anak Jakarta : CV

Trans Info Media

Anda mungkin juga menyukai