Anda di halaman 1dari 32

Fungsi Penerimaan

FUNGSI PENERIMAAN
      Fungsi Penerimaan (revenue function, R) = fungsi (total) penerimaan suatu usaha yg menjual
satu macam barang/produk
                                                            R = Q.P
            Q = banyaknya (unit); P =harga/unit
      Ada 2 kemungkinan ttg. P:
–        Dalam pasar kompetisi murni (pure competition), P terjadi di pasar; suatu perusahaan tidak
bisa menentukan P; mis. P = Rp 1750/unit
–        Pasar monopoli P = fungsi permintaan konsumen;
            contoh: P = 16-2Q => R = Q.P
                                                            = Q(16-2Q} = 16Q -2Q2
NB: bila suatu usaha membuat/menjual 2 atau lebih jenis produk, R = total dari penerimaan
semua jenis produk  
PENERIMAAN MARJINAL
      Penerimaan marjinal (marginal revenue, MR) = penerimaan tambahan bila output bertambah
satu unit.
      MR = turunan pertama dari fungsi penerimaan (revenue, R), yaitu:
                                    MR = R’ = dR/dQ
            Contoh
                        R= - 2Q2 + 16 Q
                               
MR = - 4Q + 16;
            Utk Q = 3 => MR = -4(3) + 16 = 4
SOAL DAN PENYELESAIAN
1. Suatu perusahaan monopoli menghadapi permintaan terhadap barang yang dihasilkan
ditunjukkan oleh persamaan; P = 20 – 1/2Q. Tentukan persamaan penerimaan marjinal (MR)
dan gambarkan kurva permintaan dan kurva penerimaan marjinal perusahaan monopoli dari
barang yang dihasilkan.
Penyelesaian:
Persamaan kurva penerimaan marjinal
            MR = ∂TR/∂Q
                        TR       = P.Q
                              P    = 20 – 1/2Q
                        TR       = (20 – 1/2Q)Q
                        TR       = (20 – 1/2Q2
                        MR      = ∂TR/∂Q = 20 – Q
   Gambar Kurva Permintaan (D) dan Kurva Penerimaan Marjinal (MR)

2. Fungsi permintaan akan suatu barang ditunjukkan oleh P = 20 – 5Q.


Tentukan persamaan penerimaan marjinal (MR) kemudian hitung penerimaan totalnya.
Penyelesaian:
Penerimaan total:
R  = P.Q
                = (20 – 5Q). Q
    = 20Q – 5Q2
Penerimaan marjinal:

MR = R’ =
       = 20 – 10Q
Pada MR = 0,
     0 = 20 – 10Q

10Q = 20
   Q = 2
P = 20 – 5(2) = 10
Maka penerimaan total:
R = 20(2) – 5(2)2 = 40 - 20 = 20

Fungsi Biaya dan Penerimaan

      Biaya atau ongkos pengertian secara ekonomis merupakan beban yang harus dibayar
produsen untuk menghasilkan barang dan jasa  sampai barang tersebut siap untuk dikonsumsi
. Biaya merupakan fungsi dari jumlah produksi, dengan notasi C = f(Q).
C = biaya total
Q = jumlah produksi.
      Fungsi biaya merupakan hubungan antara biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan,
fungsi biaya dapat digambarkan ke dalam kurva dan kurva biaya menggambarkan titik-titik
kemungkinan bsarnya biaya di berbagai tingkat produksi. Dalam membicarakan biaya ada
beberapa macam biaya, yaitu:
a. Biaya Total ( Total Cost = TC = C)
b. Biaya Variabel (Variable Cost = VC)
c. Biaya Tetap (Fixed Cost = FC)
d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost = AC)
e. Biaya Variabel Rata Rata ( Average Variable Cost = AVC)
f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC)
g. Biaya Marginal

Rumus :
1. C = AC x Q  atau C = FC + VC
2. FC = AFC X Q
3. VC = AVC  X Q

      Dalam menganalisa biaya umumnya tidak terlepas dari analisa penerimaan atau revenue
atau total revenue. Pengertian revenue atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang
diterima dari hasil penjualan barang pada tingkat harga tertentu. Secara matematik total
revenue dirumuskan sebagai berikut:

* TR = PQ.       TR = Penerimaan Total, P = Harga Barang dan Q = Jumlah barang yang
dijual.
* Penerimaan Rata-rata (AR) adalah penerimaan rata-rata tiap unit produksi, dapat
dirumuskan :
   AR = TR/Q
* Penerimaan Marginal atau Marginal Revenue adalah tambahan penerimaan sebagai akibat
dari tambahan
   produksi, dirumuskan"
   MR = ∆TR/∆Q     atau  turunan dari TR
   MR = Marginal Revenue,  ∆TR = Tambahan penerimaan,  ∆Q = Tambahan Produksi.
Berdasarkan konsep penerimaan dan biaya (TR dan TC)  dapat diketahui beberapa
kemungkinan diantaranya :

TR < TC  = keadaan untung / laba


TR= TC   = keadaan  Break Even Point
TR > TC  = Keadaan rugi.
Contoh Soal:
Sebuah pabrik Sandal dengan Merk " Idaman" mempunyai biaya tetap (FC) = 1.000.000;
biaya untuk membuat sebuah sandal Rp 500; apabila sandal tersebut dijual dengan harga Rp
1.000, maka:
Ditanya:
a. Fungsi biaya total (C), fungsi penerimaan total ( TR) dan Variable Cost.
b. Pada saat kapan pabrik sandal mencapai BEP
c. Untung atau rugikah apabila memproduksi 9.000 unit

Jawab:
a. FC = Rp 1.000.000
    VC= Rp 500.
    Fungsi biaya variabel VC = 500  Q ..........................................................................(1)
    Fungsi biaya total C = FC + VC     -----> C = 1.000.000 + 500 Q ..........................(2)
    Fungsi penerimaan total  TR = P.Q -----> TR = 1.000 Q ..........................................(3)

b. Break Even Point terjadi pada saat TR = TC


    1.000 Q  = Rp 1.000.000 + 500 Q
    1.000 Q - 500 Q = 1.000.000
     500 Q = 1.000.000
     Q = 2.000 unit
    Pabrik roti akan  mengalami BEP pada saat Q = 2.000 unit
    Pada biaya total  C = 1.000.000 + 500 ( 2.000)
                              C = 2.000.000

c. Pada saat memproduksi Q = 9000 unit


    TR = P.Q
          = 1.000  X  9.000
          = 9.000.000

    C  = 1.000.000 + 500 (Q)


         = 1.000.000 + 500 ( 9.000)
         = 1.000.000 + 4500.000
         = 5.500.000

    Bila  TR > TC, maka keadaan laba / untung.


    laba = TR - TC
           = 9.000.00 - 5.500.000
           = 3.500.000

    Bila hanya memproduksi 1.500 unit maka akan mengalami kerugian sebesar :
    Rugi = TR - TC
            = 1.000 (1.500)  - 1.000.000 + 500 ( 1.500)
            = 1.500.000 - 1.750.000
            = 250.000
Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan Beserta Contoh soal

1. Fungsi konsumsi
Fungsi Konsumsi menjelaskan hubungan antara konsumsi dan pendapatan nasional kedalam
bentuk persamaan digunakan beberapa asumsi sebagai berikut :
a.       Jika Y = 0 masyarakat tetap akan melakukan pengeluaran konsumsi minimum (otonom)
b.      Pengeluaran konsumsi tergantung dari besar kecilnya pendapatan
c.       Jika terjadi kenaikan pendapatan, maka konsumsi meningkat dengan jumlah yang lebih kecil
dibanding kenaikan pendapatan.
d.      Proporsi kenaikan pendapatan yang akan dikonsumsi adalah tetap. Proporsi ini disebut
“Marginal Propensity to Consume” (MPC)
 Berdasarkan asumsi persamaan linier pengeluaran konsumsi dirumuskan : 
                                        C = a +  bY

 Keterangan :
Y = Pendapatan (income)
C = Konsumsi
 a = Konstanta, besarnya konsumsi saat tidak ada pendapatan ( sama dengan nol) disebut
konsumsi
       otonom.
 b = Tambahan melakukan konsumsi bila ada tambahan pendapatan, disebut hasrat konsumsi
       marginal, merupakan perbandingan antara perubahan pengeluaran konsumsi dan
perubahan   
       pendapatan.
                  APC =  C/Y    dan   MPC = ∆C/∆Y      
 Untuk menghitung besar ( a ) dirumuskan
                   a = (APC – MPC) Y

 Untuk menghitung ( b )  Secara matematis dirumuskan :


                 MPC =  ∆C/∆Y      
Dimana :
APC = Average Propencity to Consume
MPC = Marginal Propensity to Consume

2. Fungsi Tabungan
Pendapatan dimanfaatkan untuk konsumsi dan tabungan sehingga rumus umumnya:

Y=C+S
Keterangan:
Y = Pendapatan
C = Konsumsi
S = saving (tabungan)

Karena Y = C + S maka S = Y – C, Jika kita subtitusikan  dengan fungsi konsumsi, maka:


S=Y–C
S = Y – (a + BY)
S = Y – a – BY
S = –a + (1 – b)Y

Hasrat untuk Menabung (Marginal Propensity to Save/ MPS)

Dalam fungsi saving juga mengenal Marginal Propensity to Save (MPS), yaitu perbandingan
antara bertambahnya saving dengan bertambahnya pendapatan nasional yang mengakibatkan
bertambahnya saving termaksud. Di mana perumusannya adalah sebagai berikut :

  Keterangan:
 S  =  Tambahan tabungan
 Y =  Tambahan pendapatan
Di dalam fungsi konsumsi S = –a + (1 – b)Y, maka besarnya MPS = 1 – b Karena b = MPC,
maka MPS = 1 – MPC atau MPS + MPC = 1. Untuk fungsi saving berbetuk garis lurus
besarnya nilai S, yaitu marginal propensity to save, pada semua tingkatan pendapatan
nasional adalah sama.

Faktor yang memengaruhi Tabungan (S), yaitu:


1) Pendapatan yang diterima
    Semakin banyak pendapatan yag diterima berarti semakin banyak pula pendapatan yang
disisihkan 
    untuk saving.
2) Hasrat untuk menabung (Maginal Propensity to Save)
    Hal ini didorong dengan keinginan masing-masing individu dalam
mengalokasikanpendapatannya 
    untuk ditabung karena pertimbangan keamanan.
3) Tingkat suku bunga bank
    Semakin tinggi tingkat suku bunga simpanan maka semakin banyak masyarakatuntuk
menabung 
    (saving).
Contoh Soal
1 . Pada tingkat pendapatan Rp. 500.000,00 besarnya konsumsi Rp. 400.000,00 dan pada
tingkat pendapatan Rp. 1.000.000,00 besarnya konsumsi Rp. 600.000,00. Berdasarkan data
tersebut fungsi konsumsinya adalah ...

A.    C = -200 – 0,4Y                           D. 5C = 1.000 + 2Y

B.    C = -200 + 0,4Y                           E. 5C = 1.000 – 2Y

C.    C = 200 + 0,6Y

Jawab : Dik : Y1 = Rp. 500.000,00             Dit : Fungsi konsumsi?

                      C1 = Rp. 400.000,00

                      Y2 = Rp. 1.000.000,00

                      C2 = Rp. 600.000,00

             Jawab : MPC = Y2/Y1 = 1.000.000/500.000 = 0,4

                           APC = C1/Y1 = 400.000/500.000 = 0,8

                           a = (0,8 - 0,4) x 500.000 = 0,4 x 500.000 = 200

                          Jadi, C = a + bY

                                  C = 200 + 0,4Y

2. Diketahui fungsi konsumsi masyarakat adalah C = 60 milyar + 0,7 Y. Jika pendapatan


nasionalnya Rp. 300.000 milyar maka besarnya tabungan masyarakat adalah ...

A.                Rp. 89.940 milyar                           D. Rp. 210.000 milyar

B.                 Rp. 90.000 milyar                           E. Rp. 210.060 milyar

C.                 Rp. 90.000 milyar

Jawab :       Dik : C = 60 milyar + 0,7 Y              Dit : S?

                               Y = 300.000

Jawab : C = 60 M + 0,7 Y

                                     S = -60 M + 0,3 x 300.000


                                     S = -60 M + 90.000

                                     S = 89.940 Milyar

3. Diketahui fungsi konsumsi C = 200.000,00 + 0,70 Y. Jika besarnya tabungan masyarakat


Rp. 100.000,00 maka besarnya konsumsi adalah ...

A.    Rp. 270.000,00                           D. Rp. 900.000,00

B.    Rp. 370.000,00                           E. Rp. 1.000.000,00

C.    Rp. 628.570,00

Jawab :   Dik : C = 200.000,00 + 0,70 Y            Dit : C?

                         S = 100.000

                            Jawab : C = 200.000 + 0,70 Y

                                         C = 200.000 + 0,70 x 100.000

                                         C = 200.000 + 70.000

                                         C = 270.000
 

4. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 100 + 0,75 Y maka pendapatan saat Break Even
Income adalah ...

             A. Rp. 500                                        D. Rp. 350

             B. Rp. 450                                        E. Rp. 300

             C. Rp. 400

             Jawab :      Dik : C = 100 + 0,75 Y

                                Dit : Titik keseimbangannya?

                                Jawab : Y = C

                                             Y = 100 + 0,75 Y

                               Y – 0,75 Y = 100

                                      0,25 Y = 100

                                             Y = 100/0,25

                                             Y = 400
5. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 200 + 0,80 Y maka pendapatan pada saat Break Even
Income adalah ...

             A. Rp. 1.000                                     D. Rp. 4.000

             B. Rp. 2.000                                     E. Rp. 5000

             C. Rp. 3.000

Jawab :      Dik : C = 200 + 0,80 Y

                                Dit : Titik keseimbangannya?

                                Jawab : Y = C

                                             Y = 200 + 0,80 Y

                               Y – 0,80 Y = 200

                                      0,20 Y = 200

                                             Y = 200/0,20

                                             Y = 1000
 
6. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 500 + 0,75 Y maka pendapatan pada saat Break Even
Income adalah ...

             A. Rp. 1.000                                     D. Rp. 4.000

             B. Rp. 2.000                                     E. Rp. 5000

             C. Rp. 3.000

Jawab :      Dik : C = 500 + 0,75 Y

                                Dit : Titik keseimbangannya?

                                Jawab : Y = C

                                             Y = 500 + 0,75 Y

                               Y – 0,75 Y = 500

                                      0,25 Y = 500

                                             Y = 500/0,25
                                             Y = 5000

7. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 100 + 0,75 Y maka MPC adalah ...

             A. 0,25                                              D. -100

             B. 0,75                                              E. 0,30

             C. 100

             Jawab : C             = 100 + 0,75 Y

                         MPC         = 0,75


 
8. Jika diketahui fungsi konsumsi S = -100 + 0,25 Y maka MPC adalah ...

             A. 0,25                                              D. 100 + 0,75 Y

             B. 0,75                                              E. 0,30

             C. -100

             Jawab : MPC + MPS     = 1

                          MPC + 0,25     = 1

                          MPC                 = 1 – 0,25

                           MPC                 = 0,75


 
9. Jika diketahui fungsi konsumsi S = -100 + 0,25 Y maka MPS adalah ...

             A. 0,25                                              D. 100 + 0,75

             B. 0,75                                              E. 0,30

             C. -100

             Jawab : S             = -100 + 0,25 Y

                          MPS       = 0,25


 10. Dalam suatu masyarakat memiliki fungsi konsumsi sebesar C = 70.000 + 0,25y.
Kemudian, pendapatan nasional Negara tersebut adalah Rp 160.000,00. Maka hitunglah besar
tabungan masyarakat !
Jawab  :
Diketahui       :
a        = 70.000
b        = 0,25
y        = 160.000
c        = 110.000
Ditanya                   :
S        = ?
Jawab            :
S        =        -a + (1 – b)y
          =        -70.000 + (1 – 0,25) y
          =        -70.000       + 0,75 . 160.000
          =        -70.000       + 120.000
          =        50.000

11.     Saat YoonA memiliki pendapatan sebesar $ 5,000, dia memiliki tabungan sebesar $ 1,500 .
Kemudian, pendapatan Badrun naik menjadi $ 8,000, karena itu tabungannya naik menjadi $
2,700. Tentukan fungsi konsumsi dari YoonA!
Diketahui       :
Y1       =        5000
Y2       =        8000
S1       =        1500
S2       =        2700
Ditanya                   :
Fungsi Konsumsi
Jawab            :
Masukkan ke rumus fungsi konsumsi         :
Fungsi Konsumsi
Jawab            :

Jawab            :

Masukkan ke rumus fungsi konsumsi         :

Masukkan ke rumus fungsi konsumsi         :

12. Michael Essien, memiliki pendapatan sebesar $ 1,000,000 dengan pendapatan hasil
bermainnya di klub besar Real Madrid, dia mengkonsumsi banyak benda dengan
menghabiskan $ 1,300,000. Tapi ketika dia naik gaji karena berhasil menjebol gawang
Hendro Kartiko, pendapatannya naik menjadi $ 1,250,000 tapi besar konsumsinya pun naik
demi memenuhi hasrat laparnya sebesar $ 1,500,000. Tentukan pendapatan Essien pada titik
keseimbangan antara pendapatan dan konsumsi yang dilakukan Essien !
Jawab  :
Diketahui       :
Y1       =        1.000.000
Y2       =        1.250.000
C1       =        1.300.000
C2       =        1.500.000
Ditanya                   :
Pendapatan pada titik keseimbangan
Jawab            :
ISOcost dan ISOquant

Isocost & Isoquant
FUNGSI PRODUKSI
Yang di maksud dengan fungsi produksi adalah hubungan teknis antara factor produksi
bersifat variabel produksi yang dihasilkan dalam proses produksi. Fungsi produksi dapat
dituliskan sebagai berikut
Q = f(K,L)
Dimana :           Q = jumlah barang yang diproduksi
                        K = barang modal
                        L = tenaga kerja
Hukum Pertambahan Hasil yang Semakin Berkurang
dalam hubungannya dengan produksi jangka pendek, di mana satu factor peoduksi bersifat
variabel  dan factor-faktor produksi lainya tetap, akan dijumpai suatu kenaikan produksi total
apabila kita menambah factor produksi variabel secara terus menerus, produksi total akan
bertambah terus tetapi dengan tambahan yang semakin kecil, dan setelah seatu jumlah
tertentu akan mencapai maksimum dan kemudian menurun.
Produksi Jangka Panjang
yang dimaksud dengan produksi jangka panjang adalah suatu proses produksi simana semua
factor produksi dapat diubah-ubah jumlahnya atau semua factor produksi bersifat variabel
Isoquant
Yang dimaksud dengan isoquant adalah kurva yang merupakan tempat kedudukan titik-titik
yang menunjukan kombinasi dua factor produksi guna menghasilkan tingkat produksi yang
sama. Kurva isoquant memiliki cirri-ciri sama dengan kurva indefferensi dalam teori prilaku
konsumen.
Kurva isoquant menunjukkan  kombinasi dua faktor produksi yang menghasilkan jumlah
produk yang sama
Contoh:

COMBINATIONS UNITS OF CAPITAL UNITS OF LABOUR TOTAL OUTPUT


A 50 1 1500
B 45 2 1500
C 41 3 1500
D 38 4 1500
Sumber:  http://wikieducator.org
Isocost
Isocost adalah kurva yang menunjukan kedudukan dari titik-titik yang menunjukan
kombinasi factor produksi yang dibeli oleh produsen dengan sejumlah anggaran tertentu.
Kombiniasi pengunaan Ciri-ciri kurva isocost sama dengan budget line atau kurva garis
anggaran dalam teori prilaku konsumen.
Kurva isocost menunjukkan kombinasi dua faktor produksi dengan  biaya yang sama.
Contoh :
Units of Capital Units of Labour
Combinations Total expenditure
Price = 150 Price = 100
A 8 0 1200
B 6 3 1200
C 4 6 1200
D 2 9 1200
E 0 12 1200
ujuan  dari  suatu  perusahaan adalah  untuk  memperoleh  laba  yang maksimal  agar 
kelangsungan  hidup perusahaan  terus  berjalan  dari  waktu  ke waktu,  manajemen  yang 
baik  dan  efisien adalah  manajemen  yang  dapat  mengelola dan  mengambil  keputusan 
yang  berguna bagi kelangsungan hidup perusahaan guna untuk mencapai tujuan tersebut.
Salah satu fungsi manajemen adalah sebagai alat dalam membantu perencanaan  (planning). 
Salah  satu pendekatan  yang  digunakan  manajemen Hal – 2 dalam  perencanaan  laba 
adalah  analisis titik  impas  (break  even  point).

Pengertian BEP (Break Even Point)

Break even point adalah titik dimana Entity/company/business dalam keadaan belum
memperoleh keuntungan, tetapi juga sudah tidak merugi. Break Even point atau BEP dapat
diartikan suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus
dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta
mendapatkan keuntungan / profit.

BEP dapat diartikan suatu keadaan di  mana  dalam  operasi  perusahaan, perusahaan  tidak 
memperoleh  laba  dan tidak  menderita  rugi  (penghasilan   yang dinilai  menggunakan 
total  biaya).  Tetapi analisa  BEP  tidak  hanya  semata-mata untuk  mengetahui  keadaan 
perusahaan apakah  mencapai  titik  BEP,  akan  tetapi analisa  BEP  mampu  memberikan
informasi  kepada  pinjaman  perusahaan mengenai  berbagai  tingkat  volume penjualan, 
serta  hubungannya  dengan kemungkinan  memperoleh  laba  menurut tingkat penjualan
yang bersangkutan.

Fungsi Analisis BEP


Rumus BEP/analisis break even point (Analisis balik modal) digunakan untuk menentukan
hal-hal seperti:
 Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak
mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi
minimum yang harus dibuat.
 Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan
atau dapat diartikan bahwa tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba
tersebut.
 Mengukur dan menjaga agar penjualan dan tingkat produksi tidak lebih kecil dari
BEP.
 Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan atau
tingkat produksi. Sehingga analisis terhadap BEP merupakan suatu alat perencanaan
penjualan dan sekaligus perencanaan tingkat produksi, agar perusahaan secara
minimal tidak mengalami kerugian. Selanjutnya karena harus memperoleh
keuntungan berarti perusahaan harus berproduksi di atas BEP-nya (Prawirasentono :
1997).

Rumus BEP (Break Even Point)


Berikut beberapa model rumus BEP yang dapat digunakan dalam analisis Break Even Point :

1)  Pendekatan Matematis

Rumus BEP yang pertama adalah menghitung  break  even  point  yang  harus  diketahui
adalah jumlah total biaya tetap, biaya  variabel  per  unit  atau  total  variabel,  hasil 
penjualan total atau harga jual per unit. Rumus  yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

1. Break even point dalam unit.

Keterangan :

BEP : Break Even Point

FC : Fixed Cost

VC : Variabel Cost

P : Price per unit

S : Sales Volume

2. Break even point dalam rupiah.


Berikut Contoh Kasus :

Diketahui PT. Gear Second memiliki usaha di bidang alat perkakas martil  dengan data
sebagai berikut :

1. Kapasitas produksi yang mampu dipakai 100.000 unit mesin martil.


2. Harga jual persatuan diperkirakan Rp. 5000,- unit
3. Total biaya tetap sebesar Rp. 150.000.000,- dan total biaya variabel sebesar
Rp.250.000.000,-

Perincian masing-masing biaya adalah sebagai berikut :

1. Fixed Cost

Overhead Pabrik :     Rp.  60.000.000,-

Biaya disribusi :          Rp.  65.000.000,-

Biaya administrasi : Rp.  25.000.000,-

Total FC :                  Rp.150.000.000,-                

2. Variable Cost

Biaya bahan    :          Rp.  70.000.000,-

Biaya tenaga kerja : Rp.  85.000.000,-

Overhead pabrik :    Rp.  20.000.000,-

Biaya distribusi : Rp.  45.000.000,-

Biaya administrasi : Rp.  30.000.000,-

Total VC :                    Rp.250.000.000,-

Penyelesaian untuk mendapatkan BEP dalam unit  maupun rupiah.

Penyelesaian :

Kapasitas produksi              100.000 unit

Harga jual per unit             Rp. 5000,-

Total Penjualan 100.000 unit x Rp 5000,- = Rp. 500.000.000,-


Untuk mencari BEP dalam unit adalah sebagai berikut :

Keterangan : Jadi perusahaan harus menjual 60.000 Unit perkakas martil agar BEP.

Kemudian, mencari BEP dalam rupiah adalah sebagai berikut :

Keterangan : Jadi perusahaan harus mendapatkan omset sebesar Rp. 300.000.000,-


agar terjadi BEP.

Untuk membuktikan kedua hasil tersebut dengan :

BEP = Unit BEP x harga jual unit

BEP = 60.000 unit x Rp.5000 = Rp.300.000.000,-

2) Pendekatan Grafik

Kemudian rumus BEP yang kedua yaitu pendekatan  grafik  menggambarkan  hubungan 
antara  volume  penjualan  dengan  biaya  yang  dikeluarkan  oleh  perusahaan  serta  laba. 
Selain  itu  juga  untuk  mengetahui  biaya  tetap  dan  biaya  variabel  dan  tingkat  kerugian
perusahaan. Asumsi yang  digunakan  dalam  analisis  peulang  pokok  ini  adalah bahwa
harga jual, biaya variabel per unit  adalah konstan.

Dari grafik di bawah terlihat bahwa untuk tiap-tiap masing unit penjualan terdapat informasi
yang lengkap setiap rupiah penjualan, biaya tetap, biaya variabel, total biaya maupun laba
atau rugi. Jadi manajemen dapat melihat jika akan memproduksi sekian unit, akan terlihat
seluruh komponen di atas. BEP melalui grafik tampak jelas ditunjukkan baik dari segi unit
maupun rupiah yang diperoleh.
Pendekatan grafik dilakukan dengan menggambarkan unsur-unsur biaya dan penghasilan
kedalam sebuah gambar grafik. Dalam gambar tersebut akan terlihat garis-garis biaya tetap,
biaya total yang menggambarkan jumlah biaya tetap dan biaya variabel, dan garis
penghasilan penjualan. Besarnya volume produksi/penjualan dalam unit digambarkan pada
sumbu horizontal (sumbu X) dan besarnya biaya dan penghasilan penjualan digambarkan
pada sumbu vertikal (sumbu Y).

Untuk menggambarkan garis biaya tetap dalam grafik break even point dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya tetap secara horizontal sejajar
dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan garis biaya tetap sejajar dengan garis biaya
variabel. Pada cara yang kedua, besarnya contribution margin akan tampak pada gambar
break even point tersebut.

Penentuan break even point pada grafik, yaitu pada titik dimana terjadi persilangan antara
garis penghasilan penjualan dengan garis biaya total. dan Apabila titik tersebut kita tarik garis
lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X akan tampak besarnya break even point dalam unit.
dan Kalau titik itu ditarik garus lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan tampak
besarnya break even point dalam rupiah.

Baca Juga: Cara Berbisnis yang Baik Bagi Seorang Pemimpin

FUNGSI BIAYA, REVENUE, BEP, KONSUMSI, TABUNGAN


& KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL

FUNGSI BIAYA :
Menunjukkan hubungan antara biaya total dengan tingkat output/produksi yang
dihasilkan.
Bentuk Fungsi Biaya : TC = aQ + b, dimana :
Q = Kuantitas barang yang dihasilkan
a dan b = bilangan tetap (konstanta)
Biaya Total (TC/Total Cost) :
Keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen dalam memproduksi
barang tertentu, sehingga TC terdiri dari biaya tetap (FC/Fixed Cost) dan biaya yang
berubah-ubah (VC/Variabel Cost).
Bentuk fungsi TC = aQ + b, dimana :
aQ sebagai Variabel Cost (VC) per unit
b sebagai Fixed Cost (FC)
Fixed Cost (FC) :
Biaya yang harus dibayar oleh produsen berapapun tingkat outputnya (walaupun
tidak berproduksi sama sekali), contoh : sewa, penyusutan dsb.
Variabel Cost (VC) :
Biaya yang berubah menurut tinggi rendahnya produksi yang dihasilkan, contoh :
biaya bahan baku, upah dsb.
Latihan 1 :
Diketahui : TC = 2Q + 5, tentukan fungsi FC dan fungsi VC serta gambarkan grafik
dari TC, FC, VC !

FUNGSI REVENUE :
Menunjukkan hubungan penerimaan total dengan hasil penjualan produksinya.
Bentuk Fungsi Revenue : TR = P.Q, dimana :
TR = Total Revenue (penerimaan total)
P = harga per unit barang
Q = kuantitas yang dijual

BREAK EVENT POINT (BEP) :


Titik potong antara TC dan TR, yaitu satu titik yang menunjukkan keadaan dimana
pada satu tingkat harga jual tertentu penghasilan yang diterima produsen sama
dengan biaya yang dikeluarkan.
Keadaan BEP : TR = TC
Latihan 2 :
1.    Seorang produsen menjual produknya dengan harga Rp 1000,- per unit. Biaya tetap
produksi Rp 3.000.000,-. Biaya variabelnya 40% dari pendapatan. Tentukan :
a. BEP-nya !
b. Bila produsen menjual produknya sebesar 6.000 unit. Hitunglah keuntungan yang
diperoleh !
c.Gambar grafiknya !
2.    Agar mendapatkan keuntungan sebesar Rp 10.000,- sebuah perusahaan harus
menjual produksinya sebanyak 2.000 unit. Apabila harga produksinya Rp 15,- per
unit dan biaya tetap yang harus dibayar Rp 4.000,-. Tentukan :
a.  Fungsi TR, TC dan VC !
b.  BEP-nya !
c.  Gambarkan grafiknya !
FUNGSI KONSUMSI :
Fungsi yang menunjukkan hubungan antara konsumsi dan pendapatan.
Bentuk umum Fungsi Konsumsi : C = a + bY, dimana :
C = konsumsi (variabel tidak bebas)
Y = pendapatan (variabel bebas)
a = intercept (penggal garis konsumsi pada saat pendapatan = 0)
b = slope garis konsumsi (perbandingan antara tambahan konsumsi (∆C/∆Y) dengan
tambahan pendapatan atau Marginal Propensity to Consume/MPC).

FUNGSI SAVING (TABUNGAN) :


Fungsi yang menunjukkan hubungan antara pendapatan dan saving (tabungan).
Bentuk umum Fungsi Tabungan : Y = C + S
S = Y-C, sedangkan C = a + bY, maka :
S = Y – (a +bY)
S = Y – a –by
S = Y – bY - a
S = (1-b)Y -a
Jadi Fungsi Saving : S = (1 - b)Y – a, dimana :
S = Saving
Y = Pendapatan
a = besarnya saving pada tingkat pendapatan = 0
(1 - b) = MPS (Marginal Propensity to Save) atau (∆S/∆Y)
Latihan 3 :
Diketahui fungsi konsumsi : C = 3/4Y + 30, tentukan fungsi saving dan gambarkan
grafiknya !

KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL (EQUILIBRIUM OF INCOME) :


Akan terjadi apabila pendapatan nasional sama dengan konsumsi plus investasi.
Y=C+I
Y = a + by + I
Y - bY = a + I
(1 - b)Y = a + I
Y = 1 (a + I)
(1 - b)
Latihan 4 :
1.    Diketahui fungsi konsumsi masyarakat : C = 0,8 Y + 40 milyar dan besarnya
investasi = 20 milyar. Tentukan :
a. Besarnya pendapatan nasional keseimbangan !
b. Besarnya konsumsi dan saving keseimbangan !
Posted by cahya wardhana at 11:57
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
 Home
 Showcase
 Works
 News
 Agency
 Shop






Retna Rindayani
Dumb Art Admirer | Knowledge Hunter

Break Event Point (Analisis Titik Impas)


by retna rindayani 00.23 4 komentar
Analisis BEP (Break Even Point)
Adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara biaya, volume penjualan
dan profit.

Asumsi-asumsi:
1.      Analisis titik impas digunakan untuk analisis jangka pendek
2.      Biaya dikelompokkan menjadi 2:
            a.       Biaya tetap
            b.      Biaya variable : gambarannya apabila jumlah produksi berubah maka biaya juga
berubah
            Misal : Tukang gorengan
            Biaya tetapnya : kuali, sendok, kompor, tabung gas
            Biaya variabelnya : minyak goring, tepung, gas, dll.
3.      Jumlah yang diproduksi = jumlah yang dijual
TC = AC x Q
TR = P x Q

TC : Total Cost
TR : Total Revenue
AC : Average Cost
ATC : Average Total Cost

4.      Harga jual per unit tetap


5.      Bauran penjualan tetap pada kasus multiproduk
 
          BEP : 1. Berdasarkan jumlah barang yang diproduksi (unit)
     2. Berdasarkan harga penjualannya (Rp)
1.      BEP (Q) atau BEP berdasarkan jumlah barang yang diproduksi (unit)
= FC 
P-V
Ket
FC :Fixed Cost/biaya tetap
P :Harga
VC :Variable Cost/biaya variable

Contoh :
Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000. Biaya variabel per unit 40.
Harga jual per unit 100. Kapasitas produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP (Q)!

BEP (Q) = FC   


P–V
= 300.000
100 - 40
= 5.000 unit
atau
P- V = contribution margin = 100 – 40 = 60
BEP (Q) = FC                    
Contribution margin
= 300.000
60
= 5.000 unit
2.      BEP (P) atau berdasarkan harga penjualannya (Rp)
= FC     
1 – TVC
S
Ket
Sales (S) atau volume penjualan = P x Q
Total Variable Cost (TVC) = VC x Q

Dari soal yang sama diatas:


Sales (S) atau volume penjualan = P x Q = 100 x 10.000 = 1.000.000
Total Variable Cost (TVC) = VC x Q = 40 x 10.000 = 400.000

BEP (Rp)       = FC       


1 – TVC
S
= 300.000   
1 – 400.000
1.000.000
= 500.000

BEP (Q) = BEP (Rp)


P
= 500.000
100
= 5.000

Contribution margin ratio = 1– 400.000 = 0,6


Atau contribution to fixed cost 1.000.000

Setiap perubahan penjualan akan menyebabkan setiap perubahan terhadap fixed cost sebesar
0,6
atau 60%

*** Margin of Safety : angka yg menunjukkan jarak antara penjualan yang direncanakan atau
budget sales dengan penjualan break even.
= penj. yg direncanakan – penj. Pada BEP x 100%
Penj. yg direncanakan
= 1.000.000 – 500.000 x 100%
1.000.000
= 50%

Efek Penambahan Faktor Terhadap BEP


A.     Harga jual
     1.      Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000. Biaya variabel per unit 40.
Harga jual per
           unit naik dari 100 menjadi 160. Kapasitas produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP
(Q)!
Jawab:
BEP (Q) = 300.000 = 300.000
160 – 40 120
= 2.500 unit

BEP (Rp) = 300.000     


1 – 400.000
1.600.000
= 400.000
Bila harga jual dinaikkan maka BEP-nya akan turun

    2.      Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000. Biaya variabel per unit 40.
Harga jual per
          unit turun dari 100 menjadi 80. Kapasitas produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP
(Q)!
Jawab:
BEP (Q) = 300.000 = 300.000
80 – 40 40
= 7.500 unit

BEP (Rp) = 300.000    


1 – 400.000
800.000
= 600.000
B.     Biaya Tetap
  1.      Ada Ada tambahan biaya tetap Rp 100.000 (300.000 + 100.000)
Memperbesar kapasitas produksi dari 10.000 unit – 15.000 unit
Biaya variabel per unit 40.
Harga jual per unit 100 – 90. Berapa BEP nya?

Jawab:
BEP (Q) = 400.000 = 400.000
90 – 40 40
= 8.000 unit

BEP (Rp) = 400.000    


1 – 600.000
1.350.000
= 727.000
C.     Sales Mix
Contoh soal:
Perusahaan memproduksi lebih dari satu produk
Sales = TR = Total Revenue = P. Q

Produk
Keterangan Total
A B
Sales 200.000 200.000 400.000
Q/unit 20.000 8.000
VC 60% x 200.000 = 40% x 200.000 = 200.000
120.000 80.000
FC 40.000 80.000 120.000
TC = VC + FC 160.000 160.000 320.000
Laba = S – TC 40.000 40.000 80.000(untung)

Jawab:
Sales mix = A : B = 200.000 : 200.000 = 1 : 1
Produk mix = A : B = 20.000 : 80.000 = 2,5 : 1

BEPtotal (Rp)        = FC
1 – TVC
S
= 120.000
1 – 200.000
400.000
= 120.000/0,5
= 240.000

Sales Produk A = ½ x 240.000


  = 120.000
TR = P. Q
= P . 20.000
P = 120.000/20.000
=6

Sales Produk B = ½ x 240.000


= 120.000
TR = P. Q
= P . 8.000
P = 120.000/8.000
= 15

Anda mungkin juga menyukai