Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya

kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih

mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat

yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.1

Hipertensi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia,

sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan

diberbagai tingkat fasilitas kesehatan. Seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki

tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada

pemeriksaan yang berulang. Tekanan darah sistolik merupakan pengukuran utama yang

menjadi dasar penentuan diagnosis hipertensi.3

Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia.

Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. Hal

itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%, sesuai

dengan data. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan

yang efektif banyak tersedia. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol

dan jumlahnya terus meningkat.3

Hipertensi yang tidak mendapat penanganan yang baik menyebabkan komplikasi

seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner, Diabetes, Gagal Ginjal dan Kebutaan. Stroke

(51%) dan Penyakit Jantung Koroner (45%) merupakan penyebab kematian tertinggi.

Kerusakan organ target akibat komplikasi Hipertensi akan tergantung kepada besarnya

peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan

1
tidak diobati. Organ-organ tubuh yang menjadi target antara lai notak, mata, jantung, ginjal,

dan dapat juga berakibat kepada pembuluh darah arteri periferitu sendiri. Selain itu

Hipertensi banyak (17,2%). Sedangkan menurut status ekonominya, proporsi Hipertensi

terbanyak pada tingkat menengah bawah (27,2%) dan menengah (25,9%).2 Menurut data

Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, Hipertensi dengan komplikasi

(5,3%) merupakan penyebab kematian nomor 5 (lima) pada semua umur. Data World Health

Organization (WHO) tahun 2011 menunjukkan satu milyar orang di dunia menderita

Hipertensi, 2/3 diantaranya berada di Negara berkembang yang berpenghasilan rendah

sampai sedang.2 Prevalensi Hipertensi akan terus meningkat tajam dan diprediksi pada tahun

2025 sebanyak 29% orang dewasa di seluruh dunia terkena Hipertensi. Hipertensi telah

mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, dimana 1,5 juta kematian terjadi di

Asia Tenggara yang 1/3 populasi nya menderita Hipertensi sehingga dapat menyebabkan

peningkatan beban biaya kesehatan. Prevalensi Hipertensi nasional berdasarkan Riskesdas

2013 sebesar 25,8%, tertinggi di Kepulauan Bangka Belitung (30,9%), sedangkan terendah di

Papua sebesar (16,8%). Berdasarkan data tersebut dari 25,8% orang yang mengalami

hipertensi hanya 1/3 yang terdiagnosis, sisanya 2/3 tidak terdiagnosis. Data menunjukkan

hanya 0,7% orang yang terdiagnosis tekanan darah tinggi minum obat Hipertensi. Hal ini

menunjukkan bahwa sebagian besar penderita Hipertensi tidak menyadari menderita

Hipertensi atau pun mendapatkan pengobatan.3

Menurut profil kesehatan Lombok tengah pada tahun 2019, kasus tertinggi penyakit

tidak menular pada tahun 2019 adalah penyakit hipertensi esensial, yaitu sebanyak 137.852

kasus, lebih tinggi disbanding tahun 2018 sebanyak 61.733 kasus.2

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, menunjukan angka prevalensi Hipertensi di

provinsi NTB (7,19%) dan angka nasional (8,36%). Di perkirakan penderita Hipertensi usia ≥

18 tahun di Provinsi NTB sebanyak 758.051 jiwa dan mendapat pelayanan sebesar 321.388

2
(42,40%). Lebih dari setengah penderita Hipertensi tidak kontak dengan pelayanan

kesehatan. Penderita Hipertensi yang mendapat pelayanan kesehatan tertinggi di Kota

Mataram sebesar 100% dan terendah terdapat di Kabupaten Lombok Timur sebesar 12,86%.2

Angka kejadian hipertensi ini menunjukkan bahwa penyakit hipertensi menjadi salah

satu prioritas utama masalah kesehatan yang terjadi di Kecamatan Pringgarata tersebut.

Penyakit hipertensi ini bagi masyarakat sangat penting untuk dicegah dan diobati. Hal ini

dikarenakan dapat menjadi pencetus terjadinya stroke yaitu kerusakan pembuluh darah di

otak.

Hipertensi sangat erat hubungannya dengan factor gaya hidup dan pola makan. Gaya

hidup sangat berpengaruh pada bentuk perilaku atau kebiasaan seseorang yang mempunyai

pengaruh positif maupun negative pada kesehatan. Hipertensi belum banyak diketahui

sebagai penyakit yang berbahaya, padahal hipertensi termasuk penyakit pembunuh diam-

diam, karena penderita hipertensi merasa sehat dan tanpa keluhan berarti sehingga

menganggap ringan penyakitnya. Sehingga pemeriksaan hipertensi ditemukan ketika

dilakukan pemeriksaan rutin/saat pasien dating dengan keluhan lain. Dampak gawatnya

hipertensi ketika telah terjadi komplikasi, jadi baru disadari ketika telah menyebabkan

gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung koroner, fungsi ginjal, gangguan fungsi

kognitif/stroke. Hipertensi pada dasarnya mengurangi harapan hidup para penderitanya.

Penyakit ini menjadi muara beragam penyakit degeneratif yang bisa mengakibatkan

kematian. Hipertensi selain mengakibatkan angka kematian yang tinggi juga berdampak

kepada mahalnya pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para penderitanya.3

Perlu pula diingat hipertensi berdampak pula bagi penurunan kualitas hidup. Bila

seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan secara rutin

dan pengontrolan secara teratur, maka hal ini akan membawa penderita kedalam kasus-kasus

serius bahkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus mengakibatkan kerja

3
jantung ekstra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadi kerusakan pembuluh darah

jantung, ginjal, otak dan mata.1

Lansia tetap mengkonsumsi garam berlebih, kebiasaan minum kopi merupakan

contoh bagaimana kebiasaan yang salah tetap dilaksanakan. Pengetahuan yang kurang dan

kebiasaan yang masih kurang tepat pada lansia hipertensi dapat mempengaruhi motivasi

lansia dalam berobat. Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang

cukup banyak mengganggu kesehatan masyarakat. Namun banyak orang tidak menyadari

bahwa dirinya menderita hipertensi. Ada beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi, baik

faktor yang dapat diubah maupun faktor risiko yang tidak dapat diubah. Faktor risiko yang

tidak dapat dihindarkan atau tidak dapat diubah meliputi umur, genetik, dan suku / ras.

Sedangkan faktor risiko hipertensi yang dapat dihindari / diubah antara lain : rokok,

kegemukan, kopi, alkohol, hiperkolesterolemia, obesitas, stress dan diet tinggi garam.1

Salah satu cara untuk menanggulangi masalah kesehatan adalah dengan pencegahan

terjadinya hipertensi bagi masyarakat secara umum dan pengendalian pada penderita

hipertensi pada khususnya. Pencegahan hipertensi perlu dilakukan oleh semua penderita

hipertensi agar tidak terjadi peningkatan tekanan darah yang lebih parah. Tetapi sayangnya

tidak semua penderita hipertensi dapat melakukan pencegahan terhadap penyakitnya.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

terhadap penderita hipertensi dengan judul “Gambaran Kejadian Pasien Hipertensi

Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Pola Hidup, Dan Obesitas Di Posyandu Keluarga Desa

Sintung Puskesmas Bagu”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas perlu diketahui “Bagaimana Gambaran Kejadian Pasien

Hipertensi Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Pola Hidup, Dan Obesitas Di Posyandu

Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu”.

4
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin,

usia, pola hidup, dan obesitas di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin di

Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu.

b. Mengetahui gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan usia di Posyandu

Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu.

c. Mengetahui gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan pola hidup

(mengkonsumsi garam, merokok, aktivitas olahraga) di Posyandu Keluarga Desa

Sintung Puskesmas Bagu.

d. Mengetahui gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan obesitas di Posyandu

Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Puskesmas Bagu

Sebagai suatu bahan evaluasi dalam melakukan upaya peningkatan kesehatan

pada penderita hipertensi di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu

1.4.2 Bagi Masyarakat

Untuk menambah pengetahuan masyarakat terhadap penyakit hipertensi

dengan faktor resiko terjadinya hipertensi di Posyandu Keluarga Desa Sintung

Puskesmas Bagu

1.4.3 Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan mengetahui gambaran karakteristik tentang

kejadian hipertensi serta menambah pengalaman dalam melakukan penelitian.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih

dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran

dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.1

Hipertensi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia,

sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan

diberbagai tingkat fasilitas kesehatan.1

2.2 Klasifikasi Hipertensi

Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi pada seseorang merupakan salah satu

dasar penentuan tatalaksana hipertensi (disadur dari A Statement by the American Society of

Hypertension and the International Society of Hypertension 2013).

Gambar 2.1 Klasifikasi Hipertensi

Sumber :Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular

6
2.3 Etiologi Hipertensi

Hipertensi berdasarkan penyebab dibagi menjadi 2, diantaranya yaitu :5

2.3.1 Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial

Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan

dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola

makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi.

2.3.2 Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial

Hipertensi yang diketahui penyebabnya.Pada sekitar 5-10% penderita

hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya

adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

2.4 Faktor Risiko Hipertensi

Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.Hipertensi terjadi

sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada

beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain :6

1. Jenis Kelamin

Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita

terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause salah satunya adalah

penyakit jantung coroner.7Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh

hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadarHigh Density Lipoprotein

(HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam

mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap

sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada

premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang

selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut

7
dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita

secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.

2. Usia

Tekanan darah pada usia lanjut (lansia) akan cenderung tinggi sehingga lansia

lebih besar resiko terkena hipertensi. Bertambahnya umur mengakibatkan tekanan

darah meningkat karena dinding arteri pada usia lanjut akan mengalami penebalan

yang akan mengakibatkan penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga

pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku.

Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tekanan darah. Usia

berkaitan dengan tekanan darah tinggi oleh karena semakin tua seseorang maka

semakin besar resiko seseorang itu terkena hipertensi. Salah satu penelitian pada

tahun 2009 menemukan bahwa pada lansia usia 55-59 tahun dengan umur 60-64

tahun terjadi peningkatan hipertensi sebesar 2,18 kali, umur 65-69 tahun 2,45 kali dan

umur >70 tahun 2,97 kali. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut arteri besar

kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, karena itu darah pada setiap deyut

jantung dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang sempit dari pada biasanya dan

menyebabkan naiknya tekanan darah.

3. Genetik

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu

mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan

kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium

Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar

untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan

riwayat hipertensi.4 Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan

riwayat hipertensi dalam keluarga.

8
4. Penggunaan Natrium Dengan Hipertensi

Natrium berfungsi dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh

(ekstrasel). Natrium yang mengatur tekanan osmosis yang menjaga cairan tidak

keluardari darah dan masuk kedalam sel. Bila jumlah natrium didalam sel meningkat

secara berlebihan, air akan masuk kedalam sel, akibatnya sel akan membengkak.

Inilah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan dalam jaringan tubuh.

Keseimbangan cairan juga akan tengganggu bila seseorang kehilangan natrium. Air

akan memasuki sel untuk mengencerkan natrium dalam sel. Cairan ekstraseluler akan

menurun. Perubahan ini akan menurunkan tekanan darah, natrium juga dapat menjaga

keseimbangan asam basa didalam tubuh, kepekaan otot dan saraf, yaitu berperan

dalam transmisi saraf yang menghasilkan terjadinya kontraksi otot, berperan dalam

absorbsi glukosa dan berperan sebagai alat angkut zat-zat gizi melalui membran

terutama melalui dinding usus.

Natrium berhubungan dengan kejadian darah tinggi karena konsumsi natrium

dalam jumlah yang tinggi dapat mengecilkan diameter dari arteri, sehingga jantung

harus memompa lebih keras dan mendorong volume darah yang meningkat melalui

ruang yang semakin sempit dan akan menyebabkan tekanan darah meningkat.

Pengaruh asupan natrium terhadap tekanan darah tinggi terjadi melalui

peningkatan volume plasma dan tekanan darah.Natrium merupakan kation utama

dalam cairan ekstraseluler yang berperan penting dalam mempertahankan volume

plasma dan ekstraseluler.Asupan tinggi natrium dapat menyebabkan konsentrasi

natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat sehingga untuk menormalkannya

cairan intraseluler ditarik keluar dan mengakibatkan meningkatnya volume darah dan

berdampak pada peningkatan tekanan darah.

9
5. Obesitas

Berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada

kebanyakan kelompok etnik di semua umur. Menurut National Institutes for Health

USA (NIH,1998), prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dengan Indeks Massa

Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk wanita,

dibandingkan dengan prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang

memiliki IMT <25 ( status gizi normal menurut standar internasional).4

Menurut Hall (1994) perubahan fisiologis dapat menjelaskan hubungan antara

kelebihan berat badan dengan tekanan darah, yaitu terjadinya resistensi insulin dan

hiperinsulinemia, aktivasi saraf simpatis dan sistem reninangiotensin, dan perubahan

fisik pada ginjal.4

2.5 Patofisiologi Hipertensi

Tekanan darah dipengaruhi volume sekuncup dan total peripheral resistance. Apabila

terjadi peningkatan salah satu dari variabel tersebut yang tidak terkompensasi maka dapat

menyebabkan timbulnya hipertensi.Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah

perubahan tekanan darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi dan

mempertahankan stabilitas tekanan darah dalam jangka panjang.Sistem pengendalian tekanan

darah sangat kompleks. Pengendalian dimulai dari sistem reaksi cepat seperti reflex

kardiovaskuler melalui sistem saraf, refleks kemoreseptor, respon iskemia, susunan saraf

pusat yang berasal dari atrium, dan arteri pulmonalis otot polos. Sedangkan sistem

pengendalian reaksi lambat melalui perpindahan cairan antara sirkulasi kapiler dan rongga

intertisial yang dikontrol oleh hormon angiotensin dan vasopresin. Kemudian dilanjutkan

sistem poten dan berlangsung dalam jangka panjang yang dipertahankan oleh sistem

pengaturan jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ.7

10
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari

angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis

penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi

di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi

angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi

angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan

darah melalui dua aksi utama.8

Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa

haus.ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk

mengatur osmolalitas dan volume urin.Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang

diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.

Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik

cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan

meningkatkan tekanan darah.8

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.Aldosteron

merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur

volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara

mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali

dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan

meningkatkan volume dan tekanan darah.

2.6 Manifestasi Klinik Hipertensi

Manifestasi klinis yang dapat muncul akibat hipertensi menurut Elizabeth J. Corwin

ialah bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun.

Manifestasi klinis yang timbul dapat berupa nyeri kepala saat terjaga yang kadang-kadang

11
disertai mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah intrakranium, penglihatan kabur

akibat kerusakan retina, ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf,

nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) karena peningkatan aliran darah ginjal dan

filtrasi glomerolus, edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler. Keterlibatan

pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang

bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi atau hemiplegia atau gangguan

tajam penglihatan. Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga

berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang-kunang.10

2.7 Diagnosis Hipertensi

Dalam menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan yang

harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang akan diambil. Algoritme

diagnosis ini diadaptasi dari Canadian Hypertension Education Program. The Canadian

Recommendation for The Management of Hypertension 2014.10

Gambar 2.2 Diagnosis Hipertensi

Gambar 1. Algoritma diagnosis hipertensi (diadaptasi dari Canadian Hypertension Education Program:
TheCanadian Recommendation for The Management of Hypertension 2014)

12
2.8 Komplikasi Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung, gagal

jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit ginjal.Tekanan darah yang

tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak

diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup

sebesar 10-20 tahun. 20 Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya

tidak terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab kematian

yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai stroke dan gagal

ginjal.9

Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata, ginjal,

jantung dan otak.Pada mata berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan

kebutaan.Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat

selain kelainan koroner dan miokard.Pada otak sering terjadi stroke dimana terjadi

perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan

kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia

otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai

komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi maligna.8

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun

tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ

tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena

efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress

oksidatif. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap

garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan

pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β).9

1. Otak

13
Stroke merupakan kerusakan target organ pada otak yang diakibatkan oleh

hipertensi.Stroke timbul karena perdarahan, tekanan intra kranial yang meninggi, atau

akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi.

Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang mendarahi otak

mengalami hipertropi atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang

diperdarahinya akan berkurang. Arteri-arteri di otak yang mengalami arterosklerosis

melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.Ensefalopati

juga dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna atau hipertensi dengan onset

cepat.Tekanan yang tinggi pada kelainan tersebut menyebabkan peningkatan tekanan

kapiler, sehingga mendorong cairan masuk ke dalam ruang intertisium di seluruh

susunan saraf pusat. Hal tersebut menyebabkan neuron-neuron di sekitarnya kolap

dan terjadi koma bahkan kematian.

2. Kardiovaskular

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami arterosklerosis

atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah yang melalui

pembuluh darah tersebut, sehingga miokardium tidak mendapatkan suplai oksigen

yang cukup. Kebutuhan oksigen miokardium yang tidak terpenuhi menyebabkan

terjadinya iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi infark.10

3. Ginjal

Penyakit ginjal kronik dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan

tinggi pada kapiler-kepiler ginjal dan glomerolus. Kerusakan glomerulus akan

mengakibatkan darah mengalir ke unitunit fungsional ginjal, sehingga nefron akan

terganggu dan berlanjut menjadi hipoksia dan kematian ginjal. Kerusakan membran

glomerulus juga akan menyebabkan protein keluar melalui urin sehingga sering

14
dijumpai edema sebagai akibat dari tekanan osmotik koloid plasma yang berkurang.

Hal tersebut terutama terjadi pada hipertensi kronik.10

4. Retinopati

Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah

pada retina.Makin tinggi tekanan darah dan makin lama hipertensi tersebut

berlangsung, maka makin berat pula kerusakan yang dapat ditimbulkan. Kelainan lain

pada retina yang terjadi akibat tekanan darah yang tinggi adalah iskemik optik

neuropati atau kerusakan pada saraf mata akibat aliran darah yang buruk, oklusi arteri

dan vena retina akibat penyumbatan aliran darah pada arteri dan vena retina. Penderita

retinopati hipertensif pada awalnya tidak menunjukkan gejala, yang pada akhirnya

dapat menjadi kebutaan pada stadium akhir.11

Kerusakan yang lebih parah pada mata terjadi pada kondisi hipertensi maligna,

di mana tekanan darah meningkat secara tiba-tiba. Manifestasi klinis akibat hipertensi

maligna juga terjadi secara mendadak, antara lain nyeri kepala, double vision, dim

vision, dan sudden vision loss.11

2.9 Penatalaksanaan Hipertensi

2.9.1 Non Farmakologi

Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah,

dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan

kardiovaskular.Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko

kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal,

yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut,

tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko

kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.5

15
Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah:

a. Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak

asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain

penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan dislipidemia.5

b. Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak

merupakan makanan tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula

pasien tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan

kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga

bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi

derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/ hari.5

c. Olahraga. Olahraga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/ hari,

minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Terhadap

pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya

harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki

tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya.8

d. Mengurangi konsumsi alkohol. Walaupun konsumsi alkohol belum menjadi pola

hidup yang umum di negara kita, namun konsumsi alkohol semakin hari semakin

meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di

kota besar. Konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per

hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian

membatasi atau menghentikan konsumsi alkohol sangat membantu dalam

penurunan tekanan darah.8

e. Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek

langsung dapat menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu

16
faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan

untuk berhenti merokok.8

2.9.2 Farmakologi

Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien

hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan

menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa

prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan

dan meminimalisasi efek samping, yaitu 11

 Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal

 Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya

 Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia

55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor komorbid

 Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i)

dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)

 Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi farmakologi

 Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.

17
Algoritme tatalaksana hipertensi yang direkomendasikan berbagai guidelines memiliki

persamaan prinsip, dan dibawah ini adalah algoritme tatalaksana hipertensi secara umum,

yang diatur dari A Statement by the American Society of Hypertension and the

International Society of Hypertension2013;

Gambar 2.3 Alur Tatalaksana Hipertensi

Sumber : Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular

1. Betablocker

Betablocker merupakan obat pilihan pertama dalam tatalaksana hipertensi pada

pasien dengan penyakit jantung koroner terutama yang menyebabkan timbulnya gejala

angina. Obat ini akan bekerja mengurangi iskemia dan angina, karena efek utamanya

sebagai inotropik dan kronotropik negative. Dengan menurunnya frekuensi denyut

jantung maka waktu pengisian diastolik untuk perfusi koroner akan memanjang.

Betablocker juga menghambat pelepasan renin di ginjal yang akan menghambat

18
terjadinyagagal jantung. Betablocker cardioselective (β1) lebih banyak direkomendasikan

karena tidak memiliki aktifitas simpatomimetik intrinsik.11

2. Calcium channel blocker (CCB)

CCB akan digunakan sebagai obat tambahan setelah optimalisasi dosis

betabloker, bila terjadi : 3

 TD yang tetap tinggi

 Angina yang persisten

 Atau adanya kontraindikasi absolute pemberian dari betabloker

CCB bekerja mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan menurunkan

resistensi vaskular perifer dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, CCB juga akan

meningkatkan suplai oksigen miokard dengan efek vasodilatasi koroner.Perlu diingat,

bahwa walaupun CCB berguna pada tatalaksana angina, tetapi sampai saat ini belum ada

rekomendasi yang menyatakan bahwa obat ini berperan terhadap pencegahan kejadian

kardiovaskular pada pasien dengan penyakit jantung koroner.

3. ACE inhibitor (ACEi)

Penggunaan ACEi pada pasien penyakit jantung koroner yang disertai diabetes

mellitus dengan atau tanpa gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri merupakan pilihan

utama dengan rekommendasi penuh dari semua guidelines yang telah dipublikasi.

Pemberian obat ini secara khusus sangat bermanfaat pada pasien jantung koroner dengan

hipertensi, terutama dalam pencegahan kejadian kardiovaskular.

Pada pasien hipertensi usia lanjut ( > 65 tahun ), pemberian ACEi juga

direkomendasikan , khususnya setelah dipublikasikannya 2 studi besar yaitu ALLHAT

dan ANBP-2.Studi terakhir menyatakan bahwa pada pasien hipertensi pria berusia lanjut,

ACEi memperbaiki hasil akhir kardiovaskular bila dibandingkan dengan pemberian

diuretik, walaupun kedua obat memiliki penurunan tekanan darah yang sama.

19
4. Angiotensin Receptor Blockers (ARB)

Indikasi pemberian ARBs adalah pada pasien yang intoleran terhadap ACEi.

Beberapa penelitian besar, menyatakan valsartan dan captopril memiliki efektifitas yang

sama pada pasien paska infark miokard dengan risiko kejadian kardiovaskular yang

tinggi.2

5. Diuretik

Diuretik golongan tiazid, akan mengurangi risiko kejadian kardiovaskular, seperti

yang telah dinyatakan beberapa penelitian terdahulu, sepertiVeterans Administrations

Studies, MRC dan SHEP.

6. Nitrat

Indikasi pemberian nitrat kerja panjang adalah untuk tatalaksana angina yang

belum

20
terkontrol dengan dosis betablocker dan CCB yang adekuat pada pasien dengan

penyakit jantung koroner. Tetapi sampai saat ini tidakada data yang mengatakan

penggunaan nitrat dalam tatalaksana hipertensi, selain dikombinasikan dengan hidralazin

pada kasus-kasus tertentu.

2.10 Prognosis Hipertensi

 Menggunakan perhitungan estimasi risiko kardiovaskular yang formal (ESC

2013), untuk mengetahui prognosis.

 Selalu mencari faktor risiko metabolik ( diabetes, ganguan tiroid dan lainnya)

pada pasien dengan hipertensi dengan atau tanpa penyakit jantung dan pembuluh

darah.12

2.11 Pencegahan Hipertensi

Modifikasi gaya hidup dapat dilakukan dengan membatasi asupan garam tidak lebih

dari ¼ - ½ sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari minuman

berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi penderita

hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25 menit dengan frekuensi

3-5 x per minggu. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress.

Ada pun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh pen de rita hipertensi adalah:13

1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).

2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, crackers,

keripikdan makanan keringyangasin).

3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-

buahan dalam kaleng, soft drink).

21
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang,

udang kering, telur asin, selai kacang).

5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani

yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).

6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta

bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandunggaram natrium.

7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

22
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui

gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin, usia, pola hidup, dan

obesitas di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu. Penelitian ini disajikan dalam

bentuk distribusi frekuensi terhadap variabel yang diteliti yaiu variabel jenis kelamin, usia,

pola hidup dan obesitas.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di POSYANDU KELUARGA Desa Sintung

Puskesmas Bagu.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada tanggal 2 Februari – 3 Maret 2021.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka populasi dalam penelitian ini adalah

semua penderita hipertensi yang datang berobat ke Posyandu Keluarga Desa Sintung

Puskesmas Bagu yang berjumlah 77 penderita.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel Penelitian adalah populasi target yang masuk dalam kriteria inklusi.

Sampel yang memenuhi kriteria inklusi yaitu berjumlah 50 orang.

23
3.4 Kriteria Pemilihan Sampel Penelitian

3.4.1. Kriteria Inklusi

1. Pasien yang datang ke POSYANDU KELUARGA dengan TD ≥140 mmHg

2. Pasien yang kooperatif (bersedia dan mampu menjawab kuesioner/wawancara)

3.4.2. Kriteria Eksklusi

1. Pasien yang datang ke POSYANDU KELUARGA dengan TD <140 mmHg

2. Pasien yang tidak kooperatif ( tidak bersedia dan tidak mampu menjawab kuesioner

/wawancara)

3.5 Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

3.5.1 Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive

Sampling.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data

A. Data Primer

Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi :

1. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada Responden dengan panduan kuesioner yang telah

disiapkan.

2. Pengukuran Tekanan darah dengan menggunakan Tensimeter.

3. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan

B. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini meliputi :

1. Data demografi dan geografi diperoleh dari Puskesmas Bagu

2. Data jumlah penderita hipertensi diperoleh dari puskesmas Bagu.

24
3.6 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

3.6.1 Teknik Pengolahan Data

a. Pengolahan Data (editing)

Meneliti kembali apakah lembar kuesioner sudah cukup baik sehingga dapat di proses

lebih lanjut. Editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga jika

terjadi kesalahan maka upaya perbaikan dapat segera dilaksanakan.

b. Pengkodean (Coding)

Usaha mengklarifikasi jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya, menjadi

bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.

c. Pemasukan Data (Entry)

Memasukan data ke dalam perangkat komputer sesuai dengan kriteria.

d. Pembersihan Data (Cleaning data)

Data yang telah di masukan kedalam komputer diperiksa kembali untuk mengkoreksi

kemungkinan kesalahan.

3.6.2 Teknik Analisis Data

Pada penelitian ini digunakan analisa univariat yaitu analisa yang dilakukan

terhadap setiap variabel dari hasil penelitian dalam analisa ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel yang diteliti yaitu variabel jenis kelamin,

usia, pola hidup dan obesitas.

25
3.7 Jadwal Penelitian

Tanggal
No Jenis kegiatan 20—30 13-20 13
3-4 FEB 1-7 MAR
JAN FEB MAR
1 Pengajuan judul
Konsultasi dengan dokter
pendamping dan studi literatur terkait
Menyusun kuesioner sesuai dengan
2
studi literature
3 Pengumpulan data
4 Analisis data
5 Penyusunan laporan penelitian
8 Presentasi hasil penelitian

3.8 Alur Penelitian

Berkeliling Posyandu Keluarga untuk


mengukur tekanan darah/BB/TB

Penjelasan maksud dan tujuan dan


pengisian lembar persetujuan

Pengisian data kuesioner

Mengarahkan pertanyaan bila responden kurang jelas


dalam menjawab pertanyaan

Analisis Data dan Pembuatan Laporan

Presentasi Laporan Penelitian

Gambar 3.1 Alur Penelitian.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

26
4.1 Profil Puskesmas Bagu

UPTD Puskesmas Bagu adalah Puskesmas perawatan yang berada di wilayah Desa

Menemeng, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah yang mempunyai wilayah

kerja lima desa yaitu Desa Bagu, Desa Sintung, Desa Bilebante, Desa Sisik dan Desa

Menemeng. Jumlah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bagu adalah 31.759 jiwa

dengan luas wilayah kerja 16.092 km2.

4.1.1 Letak Geografis

UPTD Puskesmas Bagu adalah  Puskesmas perawatan yang berada di wilayah

Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah yang mempunyai  wilayah kerja dengan

batas-batas sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Kecamatan Narmada

 Sebelah Selatan : Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Jonggat

 Sebelah  Barat : Kecamatan Kediri

 Sebelah Timur : Desa Bagu

4.1.2 Kependudukan

Jumlah penduduk di wilayah kerja UPT Puskesmas Bagu adalah 28.920 jiwa dengan 

wilayah kerja 16,092 km2.  Ini berarti kepadatan penduduk rata-rata adalah 1797 jiwa/km2..

Adapun jarak tempuh dan waktu tempuh terjauh dengan puskesmas adalah Desa Sintung

yaitu 8 km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit  menggunakan sepeda motor, sedangkan

jarak dan waktu tempuh terdekat adalah Desa Bagu yaitu 1 km dengan waktu tempuh sekitar

5 menit menggunakan sepeda motor. Ratio antara penduduk penduduk yang dilayani oleh

Puskesmas adalah 1 : 28.920 jiwa, maka beban kerja UPTD Puskesmas Bagu masih termasuk

normal karena idealnya ratio tenaga puskesmas dengan jumlah penduduk yang dilayani

adalah 1 : 30.000 jiwa.

27
4.1.3 Data 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas Bagu

Gambaran Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan dan rawat inap di

UPTD Puskesmas Bagu tahun 2019 menunjukkan bahwa kasus terbanyak adalah Infeksi akut

lain pada saluran pernapasan bagian atas, rincian 10 penyakit terbanyak dapat dilihat pada

tabel beikut :

Tabel Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan dan rawat inap di UPTD Puskesmas
Bagu Tahun 2019
NO KODE ICD DIAGNOSA JUMLAH TOT
LAKI-LAKI PEREMPUAN
10 AL
1 I10 Hipertensi 430 485 915
primer/essensial
2 J06.9 Infeksi saluran pernapasan atas 312 550 862
(ISPA), tidak spesifik
3 M79.1 Myalgia 220 258 478
4 R50.9 Fever, unspecified 198 203 401
5 K30 Dispepsia 218 12 5 343
6 E11.9 Non-insulin-dependent diabetes 125 200 325
mellitus without complications
7 A09 Diarrhoea and gastroenteritis of 106 120 226
presumed infectious origin
8 J39.8 Other specified diseases of 111 114 225
upper respiratory tract

9 K29 Gastritis and duodenitis 85 108 193

10 E10 Insulin-dependent diabetes 102 74 176


mellitus

28
TOTAL 1907 2237 4144

4.1.4 Kasus Hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Bagu Berdasarkan Data IKS 2019
Desa Jumlah
BAGU 48
SINTUNG 86
BILEBANTE 80
MENEMENG 85

4.2 Hasil Penelitian

Pada hasil penelitian ini akan diuraikan mengenai gambaran kejadian pasien hipertensi

berdasarkan jenis kelamin, usia, pola hidup dan obesitas di Posyandu Keluarga Desa Sintung

Puskesmas Bagu. Dimana penelitian ini telah dilaksanakan dengan jumlah responden

sebanyak 50 orang.

4.2.1 Analisis Univariat

Analisis univariat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi

dari masing-masing karakteristik responden pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin,

usia, pola hidup dan obesitas di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan Jenis
Kelamin Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021
Jenis Kelamin Frekuensi Presentase
Perempuan 40 80
Laki-Laki 10 20
Total 50 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah

sebanyak 40 (80%) perempuan dan 10 (20%) laki-laki.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan Usia
Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021
Usia (tahun) Frekuensi Presentase
Lansia (≥50) 37 74

29
Tidak Lansia (<50) 13 26
Total 50 100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah

sebanyak 37 (74%) pasien lansia dan 13 (26%) pasien tidak lansia.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan Pola
Hidup Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021

Tabel 4.3.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan


Konsumsi Garam Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021
Konsumsi Garam Frekuensi Presentase
Konsumsi Garam Berlebih 44 88
Konsumsi Garam Normal 6 12
Total 50 100

Berdasarkan tabel 4.3.1 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah

sebanyak 44 (88%) yang mengonsumsi garam berlebih dan 6 (12%) yang mengonsumsi

garam normal.

Tabel 4.3.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan


Perilaku Merokok Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021
Merokok Frekuensi Presentase
Ya 14 28
Tidak 36 72
Total 50 100

Berdasarkan tabel 4.3.2 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah
sebanyak 14 (28%) yang merokok dan 36 (72%) yang tidak merokok.

Tabel 4.3.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan


Aktivitas Olahraga Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021
Olahraga Frekuensi Presentase
Ya 44 88
Tidak 6 12
Total 50 100

30
Berdasarkan tabel 4.3.3 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah

sebanyak 44 (88%) yang olahraga dan 6 (12%) yang tidak olahraga.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Hipertensi Berdasarkan


Obesitas Di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu Tahun 2021
IMT Frekuensi Presentase
Obesitas 26 52
Overweight 11 22
Normal 5 10
Gizi Kurang 8 16
Total 50 100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah

sebanyak 26 (52%) yang obesitas, sebanyak 11 (22%) yang overweight, sebanyak 5 (10%)

yang IMT normal dan 8 (16%) yang IMT kurang.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil analisis menunjukan bahwa

mayoritas responden yang menderita hipertensi berjenis kelamin perempuan dengan

persentase 80%.

Menurut Anggraini (2012) rata-rata perempuan akan mengalami peningkatan resiko

tekanan darah tinggi (hipertensi) setelah menopause yaitu usia diatas 45 tahun. Perempuan

yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam

31
meningkatkan kadar HDL (High Density Lipoprotein). Kadar kolesterol HDL rendah dan

tingginya kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) mempengaruhi terjadinya proses

aterosklerosis. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sarasati (2011) yang

membuktikan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan hipertensi. Pada penelitian

tersebut didapatkan presentase penderita hipertensi berjenis kelamin perempuan lebih banyak

dari pada laki-laki.12

4.3.2 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan usia

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil analisis menunjukan bahwa

mayoritas responden yang menderita hipertensi berusia lansia (≥50 tahun) dengan persentase

74%.

Menurut kemenkes RI (2018) bertambahnya usia terjadi penurunan fungsi fisiologis

dan daya tahan tubuh yang terjadi karena proses penuaan yang dapat menyebabkan seseorang

rentan terhadap penyakit salah satunya penyakit hipertensi.

Salah satu penelitian pada tahun 2012 menemukan bahwa pada lansia usia 55-59

tahun dengan umur 60-64 tahun terjadi peningkatan hipertensi sebesar 2,18 kali, umur 65-69

tahun 2,45 kali dan umur >70 tahun 2,97 kali. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut arteri

besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, karena itu darah pada setiap deyut jantung

dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan

naiknya tekanan darah.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh

sulistyowati (2010) dan artianingrum (2015) yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara

umur dengan kejadian hipertensi. Pada penelitian tersebut menemukan bahwa umur >40th

memiliki resiko terkena hipertensi sebesar 11,71 kali dibandingkan dengan umur <40th. 12

4.3.3 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan pola hidup13

32
4.3.3.1 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan kebiasaan konsumsi garam

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil analisis menunjukan bahwa

mayoritas responden yang menderita hipertensi dengan kebiasaan konsumsi garam berlebih

menunjukkan persentase 88%.

Mike Rahayu Susanti (2017), Natrium berhubungan dengan kejadian darah tinggi

karena konsumsi natrium dalam jumlah yang tinggi dapat mengecilkan diameter dari arteri,

sehingga jantung harus memompa lebih keras dan mendorong volume darah yang meningkat

melalui ruang yang semakin sempit dan akan menyebabkan tekanan darah meningkat.

Pengaruh asupan natrium terhadap tekanan darah tinggi terjadi melalui peningkatan volume

plasma dan tekanan darah. Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler yang

berperan penting dalam mempertahankan volume plasma dan ekstraseluler. Asupan tinggi

natrium dapat menyebabkan konsentrasi natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat

sehingga untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik keluar dan mengakibatkan

meningkatnya volume darah dan berdampak pada peningkatan tekanan darah.11

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mike Rahayu

Susanti (2017) yang menunjukkan bahwa lansia yang memiliki asupan natrium lebih

cenderung memiliki tekanan darah yang masuk ke dalam kategori tinggi yaitu sebanyak

50,9%.

4.3.3.2 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan kebiasaan merokok

Berdasarkan tabel 4.3.2 dapat dilihat bahwa dari 50 responden didapatkan jumlah

sebanyak 14 (28,0%) yang merokok dan 36 (72,0%) yang tidak merokok.

Penelitian ini menyatakan bahwa faktor kebiasaan merokok tidak signifikan dalam

peningkatan kejadian hipertensi. Meskipun beberapa penelitian menyatakan faktor rokok

berperan dalam kejadian hipertensi. Karena pada penelitian ini responden lebih banyak

33
perempuan daripada laki-laki sedangkan yang biasanya merokok adalah laki-laki.

Pada perokok, risiko untuk terkena hipertensi lebih besar daripada yang tidak merokok,

hal ini disebabkan karena merokok dapat merangsang system adrenergik yang dapat

meningkatkan tekanan darah, tapi hal ini belum dibuktikan secara signifikan ( Gunawan,

2011).13

4.3.3.3 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan aktivitas olahraga

Dari hasil penelitian lansia yang mempunyai kebiasaan olahraga sebagian besar 88%

menderita hipertensi sedangkan yang tidak melakukan aktivitas olahraga yang menderita

hipertensi sebesar 12%.

Hal ini kemungkinan disebabkan bahwa responden banyak melakukan aktivitas fisik

sehari-hari seperti bertani / berkebun. Aktivitas olahraga tidak signifikan dan tidak bisa

menggambarkan peningkatan kejadian hipertensi dikarenakan sulitnya menilai aktivitas dan

jenis olahraganya.

Menurut Suryati (2011), Olahraga yang dilakukan dengan intensitas 40 -70 % denyut

nadi maksimal dengan frekwensi 3-5 kali seminggu selama 20-60 menit seperti jalan kaki,

jogging, berenang dan senam aerobik akan menurunkan tekanan darah sebanyak 11/9 mmHg

sedangkan jika latihan tersebut sebanyak 7 kali seminggu akan menurunkan tekanan darah

sebanyak 16/11 mmHg.

Menurut Pedoman Pembinaan Kesehatan Lansia Bagi Petugas Kesehatan (2010),

olahraga yang baik bagi lansia dalam memelihara kesehatan kebugaran fisiknya antara lain

berjalan – jalan, jalan cepat, berenang dan bersepeda. dalam melakukan olahraga jalan cepat

frekwensi 3 – 5 kali seminggu selama 15 – 30 menit, dilakukan tidak kurang dari 2 jam

setelah makan dan apabila nafas sudah mulai susah atau dada sakit maka harus berhenti.

Intensitas 60 – 80 % dari denyut nadi maksimal. Denyut nadi maksimal adalah denyut nadi

34
dikurangi dengan umur yang bersangkutan.14

Contoh pada lansia yang berusia 60 tahun,

Denyut nadi maksimal :

220 kali / menit - 60 = 160 kali / menit.

60 % dari denyut nadi maksimal = 60/100 x 160 = 96 kali / menit

80 % dari denyut nadi maksimal = 80/100 x 160 = 128 kali / menit

Jadi intensitasnya 96 – 128 kali / menit .

Menurut penelitian, olah raga secara teratur seperti gerak jalan dan naik sepeda dapat

menyerap atau menghilangkan endapan kolesterol dari pembuluh nadi (Gunawan, 2001).

Menurut WHO dalam Padmawinata (2001) bahwa orang yang tidak suka berolahraga

cenderung tidak bugar dan mempunyai risiko hipertensi 20-50% dibandingkan dengan orang

yang suka berolahraga. Menurut Depkes RI (2012) kegiatan olahraga secara teratur sesuai

kemampuan sangat dianjurkan bagi lansia. Olahraga teratur dapat membantu pembakaran

kalori, mengaktifkan otot jantung dan pernafasan serta membantu menghilangkan stress.

4.3.4 Gambaran kejadian hipertensi berdasarkan IMT (Obesitas & Overweight)

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil analisis menunjukan bahwa

responden yang menderita hipertensi dengan obesitas menunjukan bahwa sebanyak 26

(52,0%) yang obesitas, sebanyak 11 (22,0%) yang overweight.

Menurut National Institutes for Health USA (NIH,1998), prevalensi tekanan darah

tinggi pada orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria

dan 32% untuk wanita, dibandingkan dengan prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk

wanita bagi yang memiliki IMT <25 ( status gizi normal menurut standar internasional).

35
Padmawinata (2012) menyatakan bahwa obesitas dapat menimbulkan terjadinya

hipertensi melalui berbagai mekanisme, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara

langsung. Obesitas dapat menyebabkan peningkatan cardiac output karena semakin besar

massa tubuh semakin banyak pula jumlah darah yang beredar, sehingga curah jantung ikut

meningkat. Sedangkan secara tidak langsung melalui perangsangan aktivitas sistem saraf

simpatis dan Renin Angiotensin Aldosteron Sistem (RAAS) oleh mediator mediator seperti

hormon, adipokin, dan sebagainya. Salah satunya adalah hormon aldosteron yang terkait erat

dengan retensi air dan natrium sehingga volume darah meningkat.11

Hasil penelitian ini sejalan dengan estimasi risiko dari Framingham Heart Study yang

menunjukkan bahwa 78% hipertensi pada laki-laki dan 65% hipertensi pada wanita secara

langsung berhubungan dengan obesitas.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian tentang gambaran kejadian pasien hipertensi berdasarkan jenis


kelamin, usia, pola hidup, dan obesitas di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu
didapatkan hasil sebagai berikut :

1) Pasien dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki yang menderita

hipertensi di Posyandu Keluarga Desa Sintung Puskesmas Bagu

36
2) Usia mempengaruhi kejadian hipertensi dibuktikan dengan banyaknya pasien dengan

usia lanjut

3) Masih banyak pasien penderita hipertensi yang mengkonsumsi garam berlebih.

4) Kebiasaan merokok tidak signifikan untuk menyatakan peningkatan kejadian hipertensi

dikarenakan responden lebih banyak perempuan daripada laki – laki. Dan responden

perempuan tidak merokok sedangkan responden laki-laki termasuk dalam perokok berat.

5) Aktivitas olahraga tidak signifikan dan tidak bisa menggambarkan peningkatan kejadian

hipertensi dikarenakan sulitnya menilai aktivitas dan jenis olahraganya.

6) Berat badan berlebih (obesitas) mempengaruhi kejadian hipertensi.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Penderita Hipertensi

1. Diharapkan penderita hipertensi agar teratur melakukan control tekanan darah sesuai

dengan anjuran dokter sehingga dapat meminimalisir kemungkinan komplikasi yang

dapat terjadi.

2. Selalu meningkatkan pengetahuan agar timbul suatu pemahaman bahwa penyakit

hipertensi adalah suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan tapi dapat dikontrol

dengan pola hidup sehat yang harus dijalani seumur hidup.

3. Diharapkan penderita hipertensi untuk istirahat yang cukup, menjalankan pola hidup

sehat seperti melakukan aktivitas fisik dan mematuhi diet hipertensi untuk mencegah

komplikasi lebih lanjut.

 Kendala-kendala yang dihadapi oleh penderita hipertensi adalah sebagai berikut :

a. Tidak adanya waktu untuk datang ke posyandu keluarga pada pagi hari karena

mereka sibuk kerja sebagai tani

b. Tidak ada yang mengantar ke puskesmas

37
c. Malas ke puskesmas

d. Malas minum obat

e. Peran keluarga masih kurang dalam mengajak anggota keluarga untuk berobat.

5.2.2 Bagi Keluarga Penderita Hipertensi

1. Bagi keluarga/kerabat terdekat penderita hipertensi diharapkan berperan aktif untuk

selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada anggota keluarga yang menderita

hipertensi agar selalu rutin minum obat dan senantiasa patuh dalam melakukan

pengobatan ke tempat pelayanan kesehatan.

2. Keluarga sebagai pemegang peranan penting pada penderita hipertensi yaitu dengan

cara merawat pasien dengan penuh kasih sayang, mengingatkan pasien untuk

berolahraga, mendengarkan keluhan yang dirasakannya, memberikan kesempatan

kepada penderita hipertensi untuk menentukan tempat berobat yang diinginkan, tidak

membiarkan penderita hipertensi untuk memakan makanan apa saja yang disukainya

yang tidak cocok dengan diet hipertensi, menyediakan/memasakkan makanan rendah

garam. Contohnya diet DASH (Dietary Approaches to stop hypertenson) yang mana

setiap orang disarankan mengkonsumsi natrium kurang dari 2.300 mg (setara dengan

1 satu sendok teh garam) per hari. Sedangkan bagi penderita hipertensi berat

disarankan pembatasan konsumsi natrium harus lebih ketat yaitu sekitar 1.500 mg

natrium setara dengan 2/3 sendok teh garam perhari. Serta membatasi asupan garam

tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh (6 gram/hari).

5.2.3 Bagi Instansi Terkait

1. Menyediakan media berisikan informasi mengenai tatalaksana hipertensi diruang

pemeriksaan maupun saat turun lapangan agar dapat menambah pengetahuan

38
masyarakat mengenai penyakit hipertensi (misalnya : x banner, leafleat, lembar balik,

poster)

2. Diharapkan pihak puskesmas lebih meningkatkan lagi kegiatan penyuluhan tentang

pentingnya olahraga bagi pasien hipertensi, memberdayakan kader-kader disetiap

wilayah untuk mengadakan senam hipertensi diluar hari yang diadakan di puskesmas,

serta melibatkan keluarga dalam acara penyuluhan.

5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

1. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan

perbandingan dan referensi untuk penelitian, dan sebagai bahan pertimbangan untuk

lebih memperdalam penelitian selanjutnya.

2. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel yang belum diteliti, misalnya:

variabel penggunaan alat kontrasepsi, atau menggunakan rancangan penelitian yang

berbeda dengan jumlah variabel tertentu.

3. Diharapkan peneliti selanjutnya menjelaskan point-point penting dalam kuesioner

kepada responden, misalnya : berapa sendok makan anda konsumsi garam dalam satu

hari?, apa jenis olahraga yang anda lakukan?, berapa lama durasi anda melakukan

olahraga tersebut?

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Info Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2014. Hipertensi menjadi tantangan terbesar
di Indonesia. Jakarta. (Diakses dari www.depkes.go.id.)
2. Dinkes NTB, 2018. Profil Kesehatan NTB 2018. Dinas Kesehatan NTB.

3.Departemen Kesehatan. 2018. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)


Indonesia-Tahun 2018. Depkes RI :Jakarta.

4.Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Sebagian Besar Penderita Hipertensi


Tidak Menyadarinya..(Diakses dari http://www.depkes.go.id)

40
5.Anarini. 2012. Terapi Nutrisi Pasien Usia Lanjut yang Dirawat di Rumah Sakit. Di dalam:
Harjodisastro D, Syam AF, Sukrisman L, editor. Dukungan Nutrisi pada Kasus Penyakit
Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI.

6.Budijanto, Didik dan Dwi, Anggaeni (2000), Analisis Kecenderungan Hipertensi Dalam
Hubungannya Dengan Usia dan Body Mass Index, Jurnal Kedokteran Trisakti Vol.19 No.1,
Jakarta.

7.Anggraeni, D. M., & Saryono., 2013. Metodelogi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
dalam bidang Kesehatan, Nuha Medika, Yogyakarta.

8.Arikunto, S., 2011. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi 8, Rineka
Cipta, Jakarta.

9. Bustan, M. N., 2007. Epidemiologi: Penyakit tidak Menular, Cetakan 2, Rineka Cipta,
Jakarta.

10.Aris, S. 2015. Mayo Clinic. Hipertensi, Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. PT Intisari
Mediatama : Jakarta.

11.Dalimartha, S. 2011. Care Your Self Hipertension. Jakarta: Penebar Plus.

12. Mustamin. 2010. Asupan Natrium, Status Gizi dan Tekanan Darah Tinggi Usia Lanjut.
Jurnal Media Gizi Pangan. Volume IX. Edisi 1 : Makassar.

13. Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta:Jakarta.

14.Pradono J. 2010. Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Hipertensi Di Daerah


Perkotaan (Analisis Data Riskesdas 2007). Gizi Indon 2010, 33(1):59-66.

41