Anda di halaman 1dari 24

BAB 7

Biaya Bersama
Banyak perusahaan yang dalam memproses produksinya akan
menghasilkan tidak hanya satu macam produk, akan tetapi menghasilkan
bermacam-macam produk. Produk yang bermacam-macam tersebut dihasilkan
dengan proses produksi yang bersamaan. Beberapa jenis produk yang dihasilkan
akan dapat memiliki nilai yang relatif lebih besar atau malah sebagian relatif lebih
kecil. Di dalam bab ini akan kita kenal yang namanya produk sampingan (by
product), produk utama (main product) dan produk gabungan (joint product).

7.1 Biaya Produk Bersama


Jika beberapa jenis produk gabungan atau produk sampingan yang berbeda
dihasilkan dari faktor biaya yang sama, maka akan menimbulkan biaya gabungan.
Biaya gabungan terjadi sebelum titik pemisahan. Atau, dapat juga kita katakan
bahwa biaya bersama akan timbul apabila dua atau lebih produk akan dihasilkan
oleh proses produksi yang sama.
Gambar 7.1
Produk Bersama (Joint Cost)

Joint cost berbeda dengan common cost . Common cost berkaitan dengan
pemakaian fasilitas secara bersama oleh dua pemakai atau lebih. Joint cost tidak
dapat dipisah-pisahkan dan harus dibebankan ke produk. Contoh common cost
adalah biaya yang terjadi di departemen jasa yang kemudian dialokasikan ke
departemen produksi.
Gambar 7.2
Common Cost

Tabel 7.1
Perbedaan Joint Cost Dan Common Cost

Joint Cost Common Cost


1. Merupakan produk-produk utama 1. Dihasilkan bersama dengan produk
yang dihasilkan dengan sengaja utama dalam suatu proses atau
sesuai dengan tujuan produksi serangkaian proses tanpa
melalui suatu proses atau dimaksudkan untuk membuat
serangkaian proses dan dilakukan produk-produk ini.
secara simultan
2. Nilai penjualan adalah relatif besar 2. Nilai penjualan adalah relatif ecil
bula dibandingkan dengan atau tidak berarti, bila
produk-produk sampingan yang dibandingkan dengan produk-
dihasilkan dan relatif sana produk utama.
diantara produk utama.
3. Biasanya dihasilkan dalam jumlah 3. Dihasilkan dalam jumlah unit yang
unit atau kualitas yang besar. lebih sedikit.
4. Sering kali memerlukan 4. Kadang memerlukan pengolahan
pengolahan lebih lanjut. lebih lanjut dan pembungkusan.
5. Salah satu produk tidak dapat 5. produk ini tidak akan dapat
dihasilkan tanpa memproduksi dihasilkan tanpa memproduksi
yang lain. produk utama.
Sumber: Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah, Akuntansi Biaya, Edisi Kedua:
Salemba Empat, 2009

Produk yang dihasilkan secara simultan dalam suatu proses produksi akan
menghasilkan produk bersama (joint product) dan produk sampingan (by product),
dimana itu akan terjadi apabila produk-produk tersebut mencapai titik pisah (splitt off
point). Biaya-biaya yang terjadi selama proses produksi sampai batas titik pisah,
itulah yang dikatakan sebagai biaya bersama (joint cost).

Gambar 7.3
Hubungan Antara Biaya Bersama Dan Titik Pisah

Titik Pisah Produk Utama A

Produk Utama B

Biaya Bersama
Produk Sampingan

Gambar 7.4
Beda Nilai Jual Produk Utama Dan Produk Sampingan

7.2 Alokasi Biaya Persama


Biaya bersama harus dialokasikan ke masing-masing jenis produk supaya
dapat menentukan nilai persediaan akhir barang dalam proses, persediaan barang
jadi, harga pokok produksi dan laporan laba kotor per segmen produk. Biaya
bersama dapat dialokasikan dengan menggunakan salah satu metode yang ada.
Pemilihan metode alokasi mana yang baik digunakan lebih baik melihat hubungan
yang bisa diterima akal. Metode alokasi biaya bersama adalah sebagai berikut:
a. Nilai jual relatif
b. Satuan fisik
c. Rata-rata biaya persatuan
d. Rata-rata tertimbang

Nilai Jual Relatif


Biaya bersama dialokasikan ke setiap jenis produk bersama berdasarkan
proporsi nilai jualnya. Metode ini dipakai dengan asumsi bahwa produk yang
memiliki nilai jual yang lebih tinggi, tentu memerlukan biaya yang tinggi juga. Produk
yang memiliki nilai jual yang tinggi mendapat alokasi biaya bersama yang tinggi juga.
Pada metode niai jual relatif, terdapat dua metode, yaitu metode nilai pasar saat split
off dan metode nilai jual hipotesis.
Biaya bersamaa dialokasikan ke produk sesuai dengan perbandigan setiap
nilai jualnya. Dalam metode ini biasanya besarnya nilai jual merupakan cerminan
dari besarnya harga pokok produk yang bersangkutan.

Contoh 1
Tuan Sihombing mempunyai pabrik yang memproduksikan suatu produk. Produk
yang dihasilkan oleh pabrik tersebut ada 4 macam produk, yaitu produk A, B, C dan
D. Biaya bahan baku yang terjadi merupakan biaya bersama. Selain biaya bahan
baku, semua biaya yang terjadi sudah dapat dihitung menurut jenis produk. Biaya
bahan baku yang digunakan untuk proses produksi pada bulan Juni 2015 sebesar
Rp 500.000. jumlah produksi dan harga jual masing-masing produk adalah sebagai
berikut:
Produk Harga Jual/ Unit (Rp) Unit Biaya Konversi (Rp)
A 10 19.500 47.550
B 12 15.000 30.800
C 15 10.000 10.650
D 15 15.000 16.000

Nilai Jual Produk A = 19.500 unit x Rp 10 per unit = Rp 195.000


Nilai Jual Produk B = 15.000 unit x Rp 12 per unit = Rp 180.000
Nilai Jual Produk C = 10.000 unit x Rp 15 per unit = Rp 150.000
Nilai Jual Produk D = 15.000 unit x Rp 15 per unit = Rp 225.000
Total Nilai Jual Rp 750.000
195.000
Biaya Bersama BB Untuk Produk A = X 500.000 = Rp 130.000
750.000
Biaya Konversi Rp 47.550
Total Harga Pokok Produksi Rp 177.550
Unit Yang Diproduksikan 19.500 Unit
Harga Pokok Produksi Produk A Per Unit Rp 9,11

180.000
Biaya Bersama BB Untuk Produk B = X 500.000 = Rp 120.000
750.000
Biaya Konversi Rp 30.800
Total Harga Pokok Produksi Rp 150.800
Unit Yang Diproduksikan 15.000 Unit
Harga Pokok Produksi Produk B Per Unit Rp 10,05

150.000
Biaya Bersama BB Untuk Produk C = X 500.000 = Rp 100.000
750.000
Biaya Konversi Rp 10.650
Total Harga Pokok Produksi Rp 110.650
Unit Yang Diproduksikan 10.000 Unit
Harga Pokok Produksi Produk C Per Unit Rp 11,07

225.000
Biaya Bersama BB Untuk Produk D = X 500.000 = Rp 150.000
750.000
Biaya Konversi Rp 16.000
Total Harga Pokok Produksi Rp 166.000
Unit Yang Diproduksikan 15.000 Unit
Harga Pokok Produksi Produk D Per Unit Rp 11,07

Contoh 2
Di sebuah pabrik pengolahan kayu terdapat biaya bersama untuk memproduksikan
papan broti dan serbuk gergaji. Biaya bersama yang dikeluarkan untuk
memproduksikan papan broti dan serbuk gergaji sebesar Rp 150.000.000 untuk
bahan baku dan Rp 75.000.000 untuk biaya konversi. Nilai jual daripada papan broti
adalah Rp 385.000.000 dan nilai jual daripada serbuk gergaji sebesar Rp
265.000.000.
Biaya Bahan Baku Rp 150.000.000
Biaya Konversi Rp 75.000.000
Total Biaya Bersama Rp 225.000.000

Nilai Jual Papan Broti Rp 385.000.000


Nilai Jual Serbuk Gergaji Rp 265.000.000
Total Nilai Jual Rp 650.000.000

385.000.000
Biaya Bersama Untuk Papan Broti = X 225.000.000 = Rp 133.269.000
650.000 .000

265.000.000
Biaya Bersama Untuk Serbuk Gergaji = X 225.000.000 = Rp 91.731.000
650.000 .000

Papan Broti Serbuk Gergaji Total


Penjualan Rp 385.000.000 Rp 265.000.000 Rp 650.000.000
Alokasi Biaya
Bersama 133.269.000 91.731.000 225.000.000
Laba Kotor Rp 251.731.000 Rp 173.269.000 Rp 425.000.000

Contoh 3
Pabrik keripik di tanjung morawa memproduksikan 3 rasa kripik dari satu jenis bahan
baku. Setelah diolah pada tahap pertama, kripik dapat dikenali menurut
rasanya.Rasa kripik yang dihasilkan adalah kripik asin, kripik manis dan kripik
pedas. Setelah pengolahan tahap pertama selesai, kripik itu diolah lebih lanjut
dengan biaya masing-masing per bungkus Rp 5,- untuk rasa manis dan Rp 7,5
untuk rasa pedas. Yang diproduksikan selama Maret 2015 adalah 250.000 bungkus
untuk rasa manis, 187.500 bungkus untuk rasa asin dan 187.500 bungkus untuk
rasa pedas. Untuk dapat menghasilkan ketiga rasa kripik tersebut telah
dipergunakan biaya bahan baku dan pengolahan pada tahap pertama sebesar Rp
10.000.000. setelah pengolahan tahap pertama selesai, 3 rasa kripik tersebut baru
dapat diidentifikasi. Harga jual masing-masing kripik adalah Rp 10 per bungkus
untuk rasa asin, Rp 12 per bungkus untuk rasa manis, dan Rp 15,5 per bungkus
untuk rasa pedas.
Harga jual per bungkus kripik rasa manis Rp 10
Biaya tambahan per bungkus (Rp 5)
Harga jual hipotesis per bungkus kripik rasa manis Rp 5
Bungkus yang diproduksikan untuk kripik rasa manis 250.000
Total nilai jual kripik rasa manis Rp 1.250.000

Harga jual per bungkus kripik rasa asin Rp 12


Biaya tambahan per bungkus (Rp 0)
Harga jual hipotesis per bungkus kripik rasa asin Rp 12
Bungkus yang diproduksikan untuk kripik rasa asin 187.500
Total nilai jual kripik rasa asin Rp 2.250.000

Harga jual per bungkus kripik rasa pedas Rp15,5


Biaya tambahan per bungkus (Rp7,5)
Harga jual hipotesis per bungkus kripik rasa pedas Rp 8
Bungkus yang diproduksikan untuk kripik rasa pedas 187.500
Total nilai jual kripik rasa pedas Rp 1.500.000
Total Nilai Jual Keseluruhan Rp 5.000.000

Alokasi Biaya Bersama Untuk Masing-Masing Produk:


1.250.000
Kripik Rasa Manis = X 10.000.000 = Rp 2.500.000
5.000 .000

2.250.000
Kripik Rasa Asin = X 10.000.000 = Rp 4.500.000
5.000 .000

1.500.000
Kripik Rasa Manis = X 10.000.000 = Rp 3.000.000
5.000 .000

Satuan Fisik
Pada metode ini, biaya bersama akan dialokasikan ke setiap jenis produk
memakai output per jenis produk.
Bab 7 – Biaya Bersama

Contoh 4
Pabrik minuman ringan mempunyai 3 jenis minuman, yaitu rasa jeruk manis, jeruk
asli dan jeruk sangat manis. Ketiga jenis produk tersebut merupakan produk utama
yang diolah dari satu jenis bahan baku. Data-data yang diperoleh dari pabrik
minuman ringan yaitu biaya bahan baku dan biaya pengolan sebesar
Rp 95.405.000. Produksi yang dihasilkan untuk masing-masing minuman adalah 558
kaleng untuk rasa jeruk manis, 465 kaleng untuk rasa jeruk asli dan 837 kaleng
untuk rasa jeruk sangat manis.

Produk Yang Dihasilkan Rasa Jeruk Manis 558 kaleng


Produk Yang Dihasilkan Rasa Jeruk Asli 465 kaleng
Produk Yang Dihasilkan Rasa Jeruk Sangat Manis 837 kaleng
Total Produk Yang Dihasilkan 1.860 kaleng

Alokasi Biaya Bersama Untuk Masing-Masing Produk:


558
Rasa Jeruk Manis = X 95.405.000 = Rp 28.621.500
1.860

465
Rasa Jeruk Asli = X 95.405.000 = Rp 23.851.250
1.860

837
Rasa Jeruk Sangat Manis = X 95.405.000 = Rp 42.932.250
1.860

Rata-Rata Biaya
Biaya rata-rata satuan ditentukan dengan jumlah biaya bersama akan dibagi
dengan total unit produk bersama yang dihasilkan. Setiap jenis produk bersama
akan mendapatkan alokasi biaya bersama sebesar biaya rata-rata per unit yang
dikaitkan dengan besarnya unit pada jenis tersebut.

Contoh 5
Sebuah industri rumah tangga memproduksikan 3 produk, yaitu produk A, produk B
dan produk C. Ketiga produk tersbeut diolah secara bersama dari satu jenis bahan
baku yang sama. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat ketiga produk tersebut
adalah Rp 500.000. Produk A yang dihasilkan sebanyak 30.000 unit, produk B yang
dihasilkan sebanyak 28.000 unit dan produk C yang dihasilkan sebanyak 22.000
unit.

Produk A yang dihasilkan 30.000 unit


Produk B yang dihasilkan 28.000 unit
Produk C yang dihasilkan 22.000 unit
Total Produk Yang Dihasilkan 80.000 unit
Rp 500.000
Biaya Bersama Per Unit = = Rp 6,25
80.000 unit

Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk A = 30.000 unit x Rp 6,25 = Rp 187.500


Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk B = 28.000 unit x Rp 6,25 = Rp 175.000
Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk C = 22.000 unit x Rp 6,25 = Rp 137.500

Rata-Rata Tertimbang
Metode ini mirip dengan metode nilai jual, dimana metode nilai jual setiap produk
diberi bobot dengan harga jualnya. Pada metode rata-rata tertimbang, tiap produk
diberi bobot sesuai dengan keinginan kita. Tentu dengan mempertimbangkan
berbagai faktor dalam menentukan besarnya bobot untuk setiap produk.

Contoh 6
CV. Cantika Indah memproduksikan 4 jenis produk yang dihasilkan dari satu proses
produksi. Selama periode Juni 2015 terjadi biaya bersama sebesar Rp 50.000.000.
Produk Q diproduksi sebanyak 24 unit dan diberi bobot 3, produksi X diproduksi
sebanyak 18 unit dan diberi bobot 2, produksi Y diproduksi sebanyak 9 unit dan
diberi bobot 4, produksi Z diproduksi sebanyak 36 unit dan diberi bobot 1.

Produk Q = 24 unit x 3 = 72
Produk X = 18 unit x 2 = 36
Produk Y = 9 unit x 4 = 36
Produk Z = 36 unit x 1 = 36
Total 180
Alokasi Biaya Bersama Untuk Masing-Masing Produk:

72
Produk Q = X Rp 50.000.000 = Rp 20.000.000
180

36
Produk X = X Rp 50.000.000 = Rp 10.000.000
180

36
Produk Y = X Rp 50.000.000 = Rp 10.000.000
180

36
ProdukZ = X Rp 50.000.000 = Rp 10.000.000
180

6.3 Produk Sampingan (By Product)


Produk sampingan (by product) merupakan produk yang relatif lebih kecil
apabila dibandingkan dengan nilai produk utama (main product). Produk sampingan
tidak dapat dihindarkan. Apabila kita akan melakukan proses produksi dimana akan
menghasilkan produk utama pasti akan menghasilkan juga produk sampingan.
Produk sampingan dapat terjadi akibat beberapa hal, seperti:
a. Timbul karena seleksi dalam proses produksi, seperti dedak sewaktu
menggiling padi.
b. Limbah, seperti serbuk gergaji pada perusahaan pengolahan kayu.
c. Timbul akibat daripada proses penyempurnaan bahan baku, seperti
pemisahan minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit dari cangkang
tandan buah segar.
Gambar 7.5
Penjualan Produk Sampingan

Dijual Saat Splitt Off Point

Produk Sampingan
Dijual Saat Proses Lanjutan Jual
Produk sampingan yang dihasilkan dapat kita jual kembali dengan dua cara,
yaitu dijual pada saat titik pisah (splitt off point) tanpa proses lanjutan, dan dijual
setelah diproses lebih lanjut.
Apabila kita membandingkan antara produk sampingan dengan produk
utama, produk sampingan nilainya relatif lebih rendah. Oleh karena itu, alokasi biaya
bersama ke produk sampingan tidak perlu dilakukan. Ada beberapa metode yang
diperkenankan untuk menetapkan harga pokok produk sampingan, yaitu:
A. Biaya produksi bersama tidak dialokasikan ke produk sampingan (tanpa
alokasi).
1. Metode Pengakuan Pendapatan Kotor
Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan
diberlakukan sebagai:
a. Pendapatan lain-lain.
b. Hasil penjualan tambahan
c. Pengurang total biaya produksi utama
2. Metode Pengakuan Pendapatan Bersih
Hasil penjualan produk sampingan setelah dikurangi dengan biaya
pemasaran dan administrasi serta biaya pemrosesan lanjutan, dalam
perhitungan laba rugi akan diberlakukan sebagai:
a. Pendapatan lain-lain.
b. Hasil penjualan tambahan
c. Pengurang total biaya produksi utama
B. Biaya produksi bersama dialokasikan kepada produk sampingan (dengan alokasi).
Metode Sebagian Biaya Gabungan Dialokasikan Ke Produk Sampingan
Metode ini akan dapat dibedakan dengan dua metode, yaitu
a. Metode biaya pengganti (replacement cost)
b. Metode nilai pasar (reversal cost)

Contoh 7
Unit Yang diproduksikan sama dengan unit yang dijual yaitu 10.000 unit. Harga Jual
per unit adalah Rp 10.000 dan biaya produksi per unit sebesar Rp 5.500. Penjualan
produk sampingan sebesar Rp 5.000.000. Biaya penjualan dan administrasi produk
utama sebesar Rp 6.000.000.
Metode Pengakuan Pendapatan Kotor

a. Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan


diberlakukan sebagai: pendapatan lain-lain.

Penjualan (10.000 unit x Rp 10.000) Rp 100.000.000


Harga Pokok Penjualan (10.000 unit x Rp 5.500) (55.000.000)
Laba Kotor Rp 45.000.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi (6.000.000)
Laba Bersih Sebelum Pendapatan Lain-lain Rp 39.000.000
Pendapatan Lain-lain 5.000.000
Laba Bersih Setelah Pendapatan Lain-lain Rp 44.000.000

b. Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan


diberlakukan sebagai: hasil penjualan tambahan.

Penjualan Produk Utama (10.000 unit x Rp 10.000) Rp 100.000.000


Penjualan Produk Sampingan 5.000.000
Total Penjualan Rp 105.000.000
Harga Pokok Penjualan (10.000 unit x Rp 5.500) (55.000.000)
Laba Kotor Rp 50.000.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi (6.000.000)
Laba Bersih Rp 44.000.000

c. Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan


diberlakukan sebagai: pengurang total biaya produksi utama

Penjualan (10.000 unit x Rp 10.000) Rp 100.000.000


Harga Pokok Penjualan
Biaya Produksi (10.000 unit x Rp 5.500) Rp 55.000.000
Penjualan Produk Sampingan (5.000.000) (50.000.000)
Laba Kotor Rp 50.000.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi (6.000.000)
Laba Bersih Rp 44.000.000
Contoh 8
Unit Yang diproduksikan sama dengan unit yang dijual yaitu 10.000 unit. Harga Jual
per unit adalah Rp 10.000 dan biaya produksi per unit sebesar Rp 5.500. Penjualan
produk sampingan sebesar Rp 5.000.000 dan membutuhkan biaya proses lanjutan
sebesar Rp 500.000. Biaya penjualan dan administrasi produk utama sebesar Rp
6.000.000 dan produk sampingan sebesar Rp 200.000.

Penjualan Produk Sampingan Rp 5.000.000


Biaya Proses Lanjutan Rp 500.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi 200.000 (700.000)
Penjualan Produk Sampingan Bersih Rp 4.300.000

Metode Pengakuan Pendapatan Bersih

a. Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan


diberlakukan sebagai: pendapatan lain-lain.

b. Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan


diberlakukan sebagai: hasil penjualan tambahan.

Penjualan Produk Utama (10.000 unit x Rp 10.000) Rp 100.000.000


Penjualan Produk Sampingan 4.300.000
Total Penjualan Rp 104.300.000
Harga Pokok Penjualan (10.000 unit x Rp 5.500) (55.000.000)
Laba Kotor Rp 49.300.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi (6.000.000)
Laba Bersih Rp 43.300.000
c. Hasil penjualan produk sampingan dalam perhitungan laba rugi akan
diberlakukan sebagai: pengurang total biaya produksi utama

Penjualan (10.000 unit x Rp 10.000) Rp 100.000.000


Harga Pokok Penjualan
Biaya Produksi (10.000 unit x Rp 5.500) Rp 55.000.000
Penjualan Produk Sampingan 4.300.000 (59.300.000)
Laba Kotor Rp 40.700.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi (6.000.000)
Laba Bersih Rp 34.700.000

Metode biaya pengganti (replacement cost)

Pada metode ini, biasanya produk sampingan tersebut digunakan lagi untuk
memenuhi kebutuhan sendiri, yang mungkin saja dipakai menjadi bahan untuk
membuat produk yang lain dalam satu perusahaan. Pada metode ini, produk
sampingan tidak dijual ke pasar. Nilai produk sampingan ini sebesar berapa nilai
pasar yang berlaku.

Contoh 9
Pabrik XYZ menghasilkan produk X sebagai produk utama dan menghasilkan
produk Q sebagai produk sampingan. Pada bulan Maret 2015 dihasilkanlah produk
X sebesar 20.000 unit dan produk sampingan Q sebesar 100 kg. Biaya produksi
yang dikeluarkan untuk memproduksikan X adalah bahan baku sebesar Rp
20.000.000, biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 15.000.000 dan biaya
overhead sebesar Rp 10.000.000. Produk Q digunakan oleh pabrik tersebut untuk
membuat produk Y. Harga pokok Q dipasaran adalah Rp 3000,- per kg.

Harga Pokok Produk Sampingan = 100 kg x Rp 3000 per kg = Rp 300.000


Bahan Baku Rp 20.000.000
Tenaga Kerja Langsung 15.000.000
Biaya Overhead Pabrik 10.000.000
Biaya Produksi Rp 45.000.000
Harga Pokok Pengganti 300.000
Harga Pokok Produksi Produk Utama Rp 44.700.000

Metode Nilai Pasar (reversal cost)

Pada metode ini, produk sampingan mendapat alokasi harga pokok produksi
sebelum dipisahkan dari produk utama. Alokasi harga pokok produksi yang diterima
produk sampingan adalah sebesar taksiran dari nilai jual semua produk sampingan
setelah dikurangi denga taksiran laba kotor produk sampingan, biaya proses lanjutan
produk sampingan dan biaya penjualan dan administrasi dari produk sampingan.

Contoh 10
CV. Laris memproduksikan satu jenis produk yaitu produk S dan menghasilkan satu
produk sampingan yaitu produk A. Untuk menghasilkan kedua produk itu
memerlukan biaya bersama sebesar Rp 15.000.000. CV. Laris menetapkan taksiran
laba kotor dari produk sampingan adalah 20%. Data-data yang berhubungan dengan
produksi kedua produk tersebut adalah sebagai berikut:
Produk Utama S Produk sampingan A
Unit Yang Dihasilkan 50.000 unit 6.850 unit
Penjualan Rp 40.000.000 Rp 2.000.000
Biaya Proses Lanjutan Rp 11.170.000 Rp 200.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi Rp 3.700.000 Rp 230.000

Penjualan Produk sampingan Rp 2.000.000


Taksiran Laba Kotor (20%) (400.000)
Taksiran Harga Pokok Rp 1.600.000
Taksiran Biaya Proses Lanjutan Rp 200.000
Taksiran Biaya Penjualan Dan Administrasi 230.000 (430.000)
Taksiran Biaya Produk Sampingan Rp 1.170.000

Biaya Bersama Rp 15.000.000


Taksiran Biaya Produk Sampingan (1.170.000)
Biaya Bersama Produk Utama Rp 13.830.000
Rp 13.830.000 + Rp 11.170.000 Rp 25.000.000
Produk Utama S = = = Rp 500
50.000 unit 50.000 unit

Rp 1.170.000 + Rp 200.000 Rp 1.370.000


Produk smpingn A = = = Rp 200
6.850 unit 6.850 unit

CV. Laris
Laporan Laba Rugi

Produk Utama S Produk Sampingan A


Penjualan Rp 40.000.000 Rp 2.000.000
Harga Pokok Penjualan:
Alokasi Biaya Bersama Rp 13.830.000 Rp 1.170.000
Biaya Proses Lanjutan 11.170.000 (25.000.000) 200.000 (1.370.000)
Laba Kotor Rp 15.000.000 Rp 630.000
Biaya Penjualan Dan Administrasi (3.700.000) (230.000)
Laba Bersih Rp 11.300.000 Rp 400.000

Contoh 11
PT. Xiyi memproduksi dua produk utama (yaitu : produk X dan produk Y) dan dua
produk sampingan (yaitu: produk Xi dan produk Yi). Biaya bersama yang dikeluarkan
dalam menghasilkan keempat produk tersebut sebesar Rp 180.975.000,-. Data-data
lain yang dibutuhkan dalam menghasilkan produk tersebut adalah:
Unit Pers Akhir Harga Jual Biaya Proses
Produk
Produksi (Unit) (Rp) Lanjutan (Rp)
X 30.000 3.000 8.000 30.000.000
Y 25.000 1.500 6.400 20.000.000
Xi 600 150 1.300 180.000
Yi 500 100 1.000 150.000
Informasi lain yang berhubungan dengan pengolahan produk tersebut adalah:
Produk
Jenis Beban
Penjualan (Rp) 25.000.000 23.200.000 114.000 50.000
Administrasi Dan Umum (Rp) 17.500.000 15.400.000 30.000 25.000
Taksiran laba masing-masing produk sebesar 20 %
Produk Sampingan Xi
Penjualan Produk sampingan (600 unit x Rp 1.300) Rp 780.000
Taksiran Laba Kotor (20%) (156.000)
Taksiran Harga Pokok Rp 624.000
Taksiran Biaya Proses Lanjutan Rp 180.000
Taksiran Biaya Penjualan 114.000
Taksiran Biaya Administrasi Dan Umum 30.000 (324.000)
Taksiran Biaya Produk Sampingan Produk Xi Rp 300.000

Produk Sampingan Yi
Penjualan Produk sampingan (500 unit x Rp 1.000) Rp 500.000
Taksiran Laba Kotor (20%) (100.000)
Taksiran Harga Pokok Rp 400.000
Taksiran Biaya Proses Lanjutan Rp 150.000
Taksiran Biaya Penjualan 50.000
Taksiran Biaya Administrasi Dan Umum 25.000 (225.000)
Taksiran Biaya Produk Sampingan Produk Yi Rp 175.000

Biaya Bersama Rp 180.975.000


Taksiran Biaya Produk Sampingan Xi Rp 300.000
Taksiran Biaya Produk Sampingan Yi 175.000 (475.000)
Biaya Bersama Produk Utama Rp 180.500.000

Penjualan X (30.000 unit x Rp 8.000) Rp 240.000.000


Biaya Proses Lanjutan (30.000.000)
Nilai Jual Hipotesis Produk X Rp 210.000.000

Penjualan Y (25.000 unit x Rp6.400) Rp 160.000.000


Biaya Proses Lanjutan (20.000.000)
Nilai Jual Hipotesis Produk Y Rp 140.000.000
Total Rp 350.000.000

Alokasi Biaya Bersama Ke Produk Utama

Rp 210.000.000
Produk Utama X = X Rp 180.975.000 = Rp 108.585.000
Rp 350.000.000

Rp 140.000.000
Produk Utama Y = X Rp 180.975.000 = Rp 72.390.000
Rp 350.000.000
Produk Utama X
Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk X Rp 108.585.000
Biaya Proses Lanjutan 30.000.000
Total Biaya Produksi Produk Utama X Rp 138.585.000
Unit Yang Diproduksikan 30.000 unit
Harga Pokok Produksi Per Unit ( ®®®.®®®.®®®) Rp 4.619,5
®®.®®® ®®®®

Produk Utama Y
Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk X Rp 72.390.000
Biaya Proses Lanjutan 20.000.000
Total Biaya Produksi Produk Utama X Rp 92.390.000
Unit Yang Diproduksikan 25.000 unit
Harga Pokok Produksi Per Unit (®® ®®.®®®.®®®) Rp 3.695,6
®®.®®® ®®®®

Produk Sampingan Xi
Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk X Rp 300.000
Biaya Proses Lanjutan 180.000
Total Biaya Produksi Produk Utama X Rp 480.000
Unit Yang Diproduksikan 600 unit
Harga Pokok Produksi Per Unit (®® ®®®.®®®) Rp 800
®®® ®®®®

Produk Sampingan Yi
Alokasi Biaya Bersama Untuk Produk X Rp 175.000
Biaya Proses Lanjutan 150.000
Total Biaya Produksi Produk Utama X Rp 325.000
Unit Yang Diproduksikan 500 unit
Harga Pokok Produksi Per Unit (®® ®®®.®®®) Rp 650
®®® ®®®®
PT. XiYi
Laporan Laba Rugi

Penjualan Produk Utama:


Produk Utama X ((30.000 unit- 3.000 unit) x Rp 8.000) Rp 216.000.000
Produk Utama Y ((25.000 unit - 1.500 unit) x Rp6.400) 150.400.000 Rp 366.400.000

Penjualan Produk Sampingan:


Produk Utama Xi ((600 unit - 150 unit)x Rp 1.300) Rp 585.000
Produk Utama Yi ((500 unit - 100 unit)x Rp 1.000) 400.000 985.000
Total Penjualan Rp 367.385.000
Harga Pokok Penjualan:
Produk Utama X ((30.000 unit- 3.000 unit) x Rp 4.619,5) Rp 124.726.500
Produk Utama Y ((25.000 unit - 1.500 unit) x Rp 3.695,6) 86.846.600
Produk Utama Xi ((600 unit - 150 unit)x Rp 800) 360.000
Produk Utama Yi ((500 unit - 100 unit)x Rp 650) 260.000 (212.193.100)
Laba Kotor Rp 155.191.900
Biaya Penjualan :
Produk Utama (Rp 25.000.000 +Rp 23.200.000) Rp 48.200.000
Produk Sampingan (Rp 114.000 + Rp 50.000) 164.000
Biaya Administrasi Dan Umum :
Produk Utama (Rp17.500.000 +Rp 15.400.000) 32.900.000
Produk Sampingan (Rp 30.000 + Rp 25.000) 55.000 (81.319.000)
Laba Bersih Rp 73.872.900
LATIHAN
1. Strada, Inc memproduksi empat jenis produk secara bersama yang terdiri dari
produk A, B, C, dam D. Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan ke empat
jenis produk tersebut sebesar Rp 135.000.000,-. Perusahaan dalam
mengalokasikan biaya bersama perusahaan menggunakan metode unit fisik.
Berikut data yang berhubungan dengan keempat produk tersebut:
Produk Unit Biaya Proses
Lanjutan
A 28.000 Rp 16.000.000,-
B 10.500 Rp 11.250.000,-
C 21.000 Rp 18.300.000,-
D 10.500 Rp 13.350.000,-
Diminta:
a. Hitunglah alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode unit fisik!
b. Hitunglah biaya produksi dan harga pokok produksi masing-masing produk!

2. PT. Muara memproduksi tiga jenis produk yang terdiri dari produk X, Y, dan Z.
Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan ketiga produk tersebut sebesar Rp
59.500.000. Data yang berhubungan dengan ketiga jenis produk tersebut
adalah:
Keterangan Produk X Produk Y Produk Z
Unit Produksi 3.600 7.200 13.200
Harga Jual Rp 7.200.000 Rp 14.400.000 Rp 14.400.000
Diminta:
a. Hitunglah alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode unit fisik!
b. Hitunglah alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode nilai jual!

3. CV. Bersama Sonang memproduksikan 4 (empat) jenis produk dalam suatu


proses dengan biaya produksi bersama sebesar Rp 30.000.000. Data penting
yang berhubungan dengan keempat produk tersebut adalah:
Produk Unit Produksi Nilai Pasar Per Unit (Rp) Bobot
A 2.000 4.000 10
B 8.000 1.000 4
C 6.000 2.000 8
D 4.000 3.000 6
Diminta: Alokasikan biaya bersama dengan menggunakan metode:
a. Rata-rata
b. Rata-rata tertimbang

4. Suatu industri manufaktur yang menghasilkan 3 produk utama , dimana ketiga


produk utama tersebut diproduksikan secara bersama-sama. Biaya produksi
bersama sebesar Rp 84.000.000. Data-data yang diperoleh dari perusahaan
tersebut adalah sebagai berikut:
Biaya
Nilai Pasar Per Proses
Produk Unit Produksi Bobot
Unit (Rp) Lanjutan
(Rp)
A 3.000 20.000 6 6.500.000
B 5.000 15.000 4 6.000.000
C 4.000 12.000 3 4.500.000
Diminta: Alokasikan biaya bersama dengan menggunakan metode:
a. Unit Fisik
b. Harga Jual Hipotesis
c. Rata-rata
d. Rata-rata tertimbang

5. PT. Indrapura memproduksi tiga jenis produk secara bersama yaitu produk X, Y,
Z. Untuk menghasilkan ke tiga jenis produk tersebut dibutuhkan biaya sebesar
Rp 312.000.000,-. Data lain yang berhubungan dengan ketiga produk tersebut
adalah:
Keterangan Produk X Produk Y Produk Z
Unit Produksi 30.000 70.000 20.000
Harga Jual Setelah Proses Lanjutan Rp 2.500 Rp 2.000 Rp 950
Biaya Proses Lanjutan Rp 24.000.000 Rp 38.000.000 Rp 2.000.000
Diminta:
c. Hitunglah alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode nilai rata-rata
satuan!
d. Hitunglah alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode harga jual
hipotesis!
e. Hitunglah biaya produksi dan biaya produksi per unit masing-masing produk
dengan menggunakan alokasi biaya bersama metode harga jual hipotesis!
6. PT. Chocoku merupakan pabrik permen coklat yang memproduksi permen
coklat mint dan permen coklat original. Apabila 2.700 kg coklat akan dapat
menghasilkan 2.000 kg permen coklat mint dan 500 kg permen coklat origin.
Harga coklat per kg sebesar Rp 50.000/ Kg. Ampas coklat tidak menerima biaya
produksi dari produk bersama karena dianggap by product. Untuk mengolah
coklat, diperlukan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 75.000.000 dan
biaya overhead sebesar Rp 100.000.000,-. Harga jual permen coklat mint per kg
sebesar Rp 190.000,- dan harga jual permen coklat origin per kg sebesar Rp
175.000,- setelah titik pisah.
Diminta:
a. Alokasikan biaya bersama untuk produk utama (yaitu permen coklat mint dan
permen coklat origin) dengan menggunakan metode harga jual hipotesis,
dengan asumsi biaya proses lanjutan untuk permen coklat mint sebesar Rp
20.000,-/ kg dan untuk permen coklat origin sebesar Rp 5.000,- / per Kg.
b. Misalkan ampas coklat dapat dijual dengan harga Rp 10.000,- / kg, dan PT.
Chocoku beramsumsi bahwa penjualan ampas coklat dianggap sebagai
pengurang biaya produksi, maka buatlah laporan laba rugi PT. Chocoku.

7. PT. Exe memproduksi 1 jenis produk utama yaitu produk C dan menghasilkan 1
produk sampingan yaitu produk Cx. Untuk menghasilkan ke tdua produk
tersebut dibutuhkan biaya bersama sebesar Rp 64.800.000,-. Hasil penjualan
dan biaya lain yang berhubungan dengan proses produksi tersebut adalah:
Produk Utama Produk Sampingan
(C) (Cx)
Unit yang dihasilkan 16.000 unit 6.000 unit
Hasil Penjualan Rp 150.700.000
Taksiran Penjualan Rp 38.700.000
Biaya Proses Setelah Titik Pisah Rp 10.900.000 Rp 10.900.000
Beban Penjualan Rp 38.000.000 Rp 12.250.000
Beban Administrasi Rp 20.000.000 Rp 2.150.000
Perusahaan mengestimasi laba sebesar 15 %
Diminta:
a. Pisahkan biaya bersama untuk produk utama dan produk sampingan
dengan menggunakan metode reversal!
b. Hitunglah biaya produksi per unit masing-masing produk!
c. Susunlah laporan laba rugi untuk masing-masing produk!
8. CV. Dikidu merupakan perusahaan manufaktur yang menghasilkan produk Y.
Selain produk Y sebagai produk utama, terdapat juga produk Y1 yang
merupakan produk sampingan dari produk Y. Untuk menghasilkan produk
tersebut, dibutuhkan biaya bersama, yaitu Bahan baku sebesar Rp 93.500.000,-
biaya tenaga kerja sebesar Rp 31.390.000,- dan biaya overhead pabrik sebesar
Rp 27.060.000,-. Hasil penjualan dan biaya lain yang berhubungan dengan
proses produksi tersebut adalah:
Keterangan Produk Utama (Y) Produk Sampingan (Y1)
Unit yang dihasilkan 30.000 Unit 1.000 Unit
Hasil Penjualan Rp 300.000.000,-
Taksiran Penjualan Rp 2.500.000,-
Biaya proses setelah titik pisah Rp 50.250.000,- Rp 300.000,-
Beban penjualan Rp 25.000.000,- Rp 100.000,-
Beban administrasi Rp 12.500.000,- Rp 275.000,-
Perusahaan mengestimasikan laba sebesar 25 %.
Diminta:
a. Pisahkan biaya bersama untuk produk utama dan produk sampingan
dengan menggunakan metode reversal!
b. Hitunglah biaya produksi per unit masing-masing produk!
c. Susunlah Laporan laba Rugi CV Dikidu!

9. PT. Kendal memproduksi dua produk utama yang terdiri atas produk X dan
produk Y, dan dua produk sampingan yaitu produk X1 dan produk Y1. Semua
produk semulanya diproduksi secara bersama yang kemudian diproses lebih
lanjut untuk menghasilkan produk yang disesuaikan dengan kriteria produk yang
diinginkan. Biaya yang dikeluarkan dalam proses bersama sebesar Rp
65.575.000,-. Dalam mengalokasikan biaya bersama perusahaan menggunakan
metode harga jual hipotesis. Berikut ini data yang dimiliki perusahaan dalam
menghasilkan produk adalah:
Produk Unit Harga Jual Biaya Proses Biaya Biaya
produksi Per Unit Lanjutan Penjualan Administrasi
Umum
X 40.000 Rp 2.200,- Rp 16.000.000,- Rp6.500.000,- Rp 5.000.000,-
Y 25.000 Rp 2.000,- Rp 14.000.000,- Rp 5.000.000,- Rp 2.500.000,-
X1 15.000 Rp 1.500,- Rp 5.220.000,- Rp 3.305.000,- Rp 2.500.000,-
Y1 20.000 Rp 1.600,- Rp 7.500.000,- Rp 4.250.000,- Rp 3.250.000,-
Taksiran laba untuk masing-masing produk sampingan adalah 20 %.
Diminta:
a. Alokasikan Joint cost produk utama dan produk sampingan dengan metode
reversal!
b. Hitunglah alokasi joint cost untuk produk utama!
c. Hitunglah biaya produksi dan harga pokok per unit masing-masing produk
utama!
d. Hitunglah biaya produksi dan harga pokok per unit masing-masing produk
sampingan!

10. CV senantiasa memproduksi dua produk utama dan dua produk sampingan.
Biaya bersama yang dikeluarkan sebesar Rp 90.000.000,-. Berikut ini data-data
dari setiap produk tersebut:
Produk Unit Produksi Pers Akhir (Unit) Harga Jual By Proses Lanjutan
X 15.000 1.800 Rp 8.500 Rp 40.000.500
Y 7.500 1.200 Rp 7.800 Rp 10.350.000
Xi 10.500 750 Rp 5.700 Rp 6.525.000
Yi 5.000 500 Rp 6.000 Rp 5.200.000
Informasi lain yang berhubungan dengan pengolahan tersebut adalah:

a) Biaya Penjualan untuk X sebesar Rp 15.600.000,-, Y sebesar Rp


13.400.000,-, Xi sebesar Rp 7.530.000,- dan Yi sebesar Rp 10.650.000,-
b) Biaya administrasi umum untuk X sebesar Rp 13.430.000,-, Y sebesar Rp
23.400.000,-, Xi sebesar Rp 5.630.000,- dan Yi sebesar Rp 8.450.000,-
Taksiran laba masing-masing produk tersebut adalah 20 %.

Diminta:

a. Hitunglah alokasi biaya bersama produk utama dan produk sampingan!


b. Hitunglah alokasi biaya bersama, biaya produksi dan harga pokok per unit!
c. Hitung biaya produksi dan harga pokok per unit produk sampingan!
d. Hitunglah nilai persediaan akhir masing-masing produk!
e. Susunlah laporan laba rugi dengan asumsi bahwa pendapatan penjualan
produk sampingan sebagai penambah penjualan!

Anda mungkin juga menyukai