Anda di halaman 1dari 277

RAJAWALI PERS

Divisi Buku Perguruan Tinggi


PT RajaGrafindo Persada
DEPOK
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Indang Dewata
Pencemaran Lingkungan/Indang Dewata, Yun Hendri Danhas.
— Ed. 1—Cet. 1.—Depok: Rajawali Pers, 2018.
xx, 256 hlm. 23 cm
Bibliografi: hlm. 157
ISBN 978-602-425-511-4


1. Pencemaran I. Judul II. Yun Hendri Danhas
363. 73

Hak cipta 2018, pada Penulis


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun,
termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit

2018.2005 RAJ
Indang Dewata
Yun Hendri Danhas
PENCEMARAN LINGKUNGAN

Cetakan ke-1, Juli 2018


Hak penerbitan pada PT RajaGrafindo Persada, Depok
Desain cover octiviena@gmail.com
Dicetak di Rajawali Printing

PT RAJAGRAFINDO PERSADA
Anggota IKAPI
Kantor Pusat:
Jl. Raya Leuwinanggung, No.112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Kota Depok 16956
Tel/Fax : (021) 84311162 – (021) 84311163
E-mail : rajapers@rajagrafindo.co.id http: // www.rajagrafindo.co.id

Perwakilan:
Jakarta-16956 Jl. Raya Leuwinanggung No. 112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Depok, Telp. (021) 84311162.
Bandung-40243, Jl. H. Kurdi Timur No. 8 Komplek Kurdi, Telp. 022-5206202. Yogyakarta-Perum. Pondok
Soragan Indah Blok A1, Jl. Soragan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Telp. 0274-625093. Surabaya-601 18, Jl.
Rungkut Harapan Blok A No. 09, Telp. 031-8700819. Palembang-30137, Jl. Macan Kumbang III No. 10/4459
RT 78 Kel. Demang Lebar Daun, Telp. 0711-445062. Pekanbaru-28294, Perum De' Diandra Land Blok C 1 No.
1, Jl. Kartama Marpoyan Damai, Telp. 0761-65807. Medan-20144, Jl. Eka Rasmi Gg. Eka Rossa No. 3A Blok A
Komplek Johor Residence Kec. Medan Johor, Telp. 061-7871546. Makassar-90221, Jl. Sultan Alauddin Komp.
Bumi Permata Hijau Bumi 14 Blok A14 No. 3, Telp. 0411-861618. Banjarmasin-701 14, Jl. Bali No. 31 Rt 05, Telp.
0511-3352060. Bali, Jl. Imam Bonjol Gg 100/V No. 2, Denpasar Telp. (0361) 8607995. Bandar Lampung-35115,
Jl. P. Kemerdekaan No. 94 LK I RT 005 Kel. Tanjung Raya Kec. Tanjung Karang Timur, Hp. 082181950029.
PENCEMARAN
LINGKUNGAN
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka
agar mereka kembali (ke jalan yang benar)
QS Ar-Ruum [30]: 41
KATA SAMBUTAN

Pemasalahan lingkungan saat ini memiliki


kompleksitas yang tinggi dan menyangkut
bidang teknik, sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Masing-masing bidang ilmu sosial, teknik dan
lingkungan merupakan suatu bidang ilmu
tertentu dan bersifat parsial. Untuk
mengintegrasikan semua bidang ilmu tersebut
diperlukan suatu pendekatan yang mampu
menyelesaikan persoalan yang kompleks dan
bersifat dinamis. Pendekatan sistem merupakan
metoda untuk menyelesaikan permasalahan
yang kompleks dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, pendekatan sistem
menjadi suatu pendekatan yang paling sesuai untuk menjawab
permasalah ilmu sosial, teknik, dan lingkungan.
Dengan terbitnya buku ini, besar harapan saya dapat menjadi
tambahan rujukan bagi mahasiswa, dosen, profesional yang menekuni
bidang ilmu interdisipliner. Akhirnya saya memberikan penghargaan
yang tinggi kepada tim penyusun buku pendekatan sistem ini yang telah
melahasilkan suatu karya.
Terima kasih.
Rektor,
Universitas Negeri Padang

Prof. Ganefri, Ph.D

vii
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
KATA PENGANTAR

Buku yang anda pegang ini merupakan salah satu dari sekian banyak
buku tentang PencemaranLingkungan. Secara substansi, tentu tidak ada
perbedaan antara buku yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang
ada, hanya terletak pada cara dan sistematika penyajian serta lingkupan
materi yang disusun. Tetapi, di sisi inilah kualitas sebuah buku, akan
berbeda dengan buku yang lain.
Sistematika penyajian dan lingkupan materi pada buku ini, sangat
menentukan terhadap proses pemahaman substansial pencemaran
lingkungan. Karena hal ini menyangkut proses penalaran dan penarikan
kesimpulan bagi pembaca. Di samping itu, bahasa yang digunakan
bernuansa dialogis, seolah terjadi diskusi antara pembaca dengan
penulis secara dinamis. Di akhir bagian bab, pembaca akan sampai
pada titik kesimpulan.
Lingkupan materi yang dimuat dalam buku ini, di samping konsep
dan teoretis, juga dilengkapi dengan metodologi serta aplikasi dalam
upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Memang,
persoalan lingkungan adalah multidimensi, sehingga cara pandang
terhadap lingkungan itu pun membutuhkan perspektif keilmuan yang
tak cukup dengan hanya satu disiplin.Walaupun dalam bahasannya,
didominasi oleh Ilmu Kimia, tapi tetap bersinggungan dengan ilmu
lain seperti kimia, ilmu ekonomi, ilmu-ilmu pertanian, tata hukum,
dan lain sebagainya.

ix
Begitu juga pendekatan yang digunakan dalam menelaah persoalan
lingkungan hidup. Pendekatan dari satu sudut pandang terhadap sebuah
sistem fungsi lingkungan tidak akan menghasilkan potret lingkungan
secara optimal. Oleh karena itu, pendekatan sistem menjadi salah satu
yang disuguhkan dalam buku ini.
Diharapkan, buku ini mendapatkan tempat sebagai landasan dalam
pengembangan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
(UPPLH) ke depan.
Semoga bermanfaat. amiin.

Indang Dewata
Yun Hendri Danhas

x Pencemaran Lingkungan
Matahari dan bulan
beredar dengan perhitungan,
Dan bintang dan pohon pun bersujud
Langit telah ditinggikan
dan diletakkanNya neraca (keseimbangan)
Maka janganlah kamu
merusak keseimbangan itu.

QS Ar-Rahman [55]: 4-7

xi
Saya sudah cukup banyak membaca buku tentang pencemaran lingkungan,
tapi buku yang satu ini terasa sepertinya saya baru pertama kali membaca
buku yang berbicara tentang pencemaran lingkungan.

Agus Teguh Prihartono, Direktur Eksekutif Wahana Liar

Selama hidup, masalah lingkungan tak akan selesai untuk dicermati.Buku


ini salah satu substansi esensial dalam mencermati masalah pencemaran,
sampai pada hantarannya ke pembangunan berkelanjutan.

Aulia Azhar, Fungsional Peneliti Lingkungan Hidup

xii Pencemaran Lingkungan


DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN vii


KATA PENGANTAR ix
DAFTAR ISI xiii
DAFTAR TABEL xvii
DAFTAR GAMBAR xix

BAB 1 PENDAHULUAN 1
A.
Konsep Pencemaran Lingkungan 1
B. Perspektif Pencemaran Lingkungan 6
C. Konsep Dasar Ilmu Lingkungan dan Aplikasinya 31
D.
Resume 35

BAB 2 PARADIGMA PENCEMARAN LINGKUNGAN 39


A.
Apa itu Paradigma? 39
B. Paradigma Pencemaran Lingkungan Sebagai Ilmu 41
C.
Resume 52

BAB 3 PENDEKATAN DALAM PENCEMARAN


LINGKUNGAN
57
A.
Pengertian 57
B. Manusia dan Lingkungan yang Berubah 61
C.
Manusia dan Masalah 62

Daftar Isi xiii


D. Kasus Pencemaran Lingkungan di Pemukiman 63
E. Langkah dan Sistematika 64
F. Resume 71

BAB 4 PERSPEKTIF KIMIA TERHADAP PENCEMARAN


LINGKUNGAN 73
A. Ruang Lingkup dan Pengertian Kimia Lingkungan 73
B. Antara Kimia dan Pencemaran Lingkungan 74
C.
Resume 76

BAB 5 PENCEMARAN TERHADAP KOMPONEN


LINGKUNGAN 77
A.
Pencemaran Udara 77
B. Pencemaran Tanah 87
C. Pencemaran Air 91
D. Resume 94

BAB 6 POLUTAN DAN PARAMETER PENCEMARAN 97


A.
Jenis Kimia 97
B. Jenis Biologi 98
C. Jenis Fisik 98
D. Parameter Pencemaran 98
E. Indeks Lingkungan 103

BAB 7 PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN


LINGKUNGAN HIDUP (PPLH) 107
A. Perlindungan Lingkungan 107
B. Pengelolaan Lingkungan 113

BAB 8 PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN


SEBAGAI UPAYA PPLH 117
A.
Jenis Pengendalian 118
B. Industri dan Pengendalian Pencemaran 135
C. Pengendalian Pencemaran di Industri 148

xiv Pencemaran Lingkungan


DAFTAR PUSTAKA 157
LAMPIRAN 161
1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 162
2. Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 216

BIODATA PENULIS 255

Daftar Isi xv
[Halaman ini sengaja dikosongkan]

Pencemaran Lingkungan
DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Komposisi Udara Kering dan Bersih 84


Tabel 5.2 Beberapa Pestisida Menurut Golongan, Nama dan
Unsurnya 89
Tabel 5.3 Hubungan Aspek Kimia - Fisika dengan Sumber
Pencemar 93
Tabel 5.4 Rangkuman Pencemaran terhadap Komponen
Lingkungan 94
Tabel 8.1 Jenis Kegiatan dan Tujuan Pengolahan Limbah Cair 133

Daftar Isi xvii


[Halaman ini sengaja dikosongkan]

Pencemaran Lingkungan
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Skema Sederhana Terjadinya Pencemaran


Lingkungan 3
Gambar 1.2 Skematis Filsafat Ilmu 7
Gambar 1.3 Pencemaran Lingkungan dalam Perspektif
Filsafat Ilmu 9
Gambar 1.4 Struktur Keilmuan Penyusun Pencemaran
Lingkungan 25
Gambar 1.5 Degradasi Lingkungan Hidup 34
Gambar 1.6 Skematis Konsep Pencemaran Lingkungan 35
Gambar 1.7 Diagram Alur Pencemaran Lingkungan 36
Gambar 2.1 Paradigma Pencemaran Lingkungan 42
Gambar 2.2 Skema Prinsip Pembangunan Berkelanjutan 49
Gambar 2.3 Diagram Alur Masalah dalam Pembangunan
Berkelanjutan 51
Gambar 2.4 Diagram Alur Alasan Terjadinya Pencemaran
Lingkungan 52
Gambar 2.5 Peranan Ilmu Ekonomi 53
Gambar 2.6 Peran Ekonomi Lingkungan dalam PPLH 54
Gambar 3.1 Ilustrasi Pendekatan dalam Pencemaran
Lingkungan 57

Daftar Isi xix


Gambar 3.2 Lingkungan Hidup yang Tercemar 63
Gambar 4.1 Skema Perspektif Kimia Terhadap Pencemaran
Lingkungan 73
Gambar 5.1 Analisis Polutan Udara Menurut Sifat Kimia 86
Gambar 7.1 Sarana Mengatasi Pencemaran Lingkungan
di Satu Kota 115
Gambar 8.1 Proses Pembelajaran Cinta dan Peduli
Lingkungan 126
Gambar 8.2 Skema Pengolahan Limbah pada
Primary Treatment 133
Gambar 8.3 Penggolongan Limbah Menurut Sumber,
Jenis, dan Wujud 147
Gambar 8.4 Diagram Alur Industri dan Pencemaran
Lingkungan 149
Gambar 8.5 Terbentuknya Limbah di Industri 150
Gambar 8.6 Rangkaian Proses Pembuatan Gula 152

xx Pencemaran Lingkungan
BAB
1 PENDAHULUAN

Pada pendahuluan ini, dimuat konsep umum berupa garis besar


tentang pencemaran lingkungan. Konsep umum ini dijadikan sebagai
landasan tempat berpijak untuk menuju pada hal yang khusus dan
spesifik di bab-bab selanjutnya. Dengan demikian, kita diajak untuk
mengembangkan penalaran deduktif untuk memahami isi buku ini
secara keseluruhan sebagai satu kesatuan.
Proses penarikan kesimpulan (conclusion) secara sistematis didapat
dengan mudah melalui bahasan di tiap-tiap sub bab yang ada pada
bab ini. Kesimpulan yang didapat, akan dipertegas melalui penyajian
skematis di Sub Bab Resume. Sub Bab Resume memang mengintisarikan
bahasan di Bab I, melalui penggambaran alur pikir untuk memudahkan
dalam mengingat apa yang telah dipahami, dan sebagai pisau analisis
terhadap persoalan lingkungan ke depan.

A. Konsep Pencemaran Lingkungan


Dalam hal wacana, Pencemaran Lingkungan bukan hal yang
baru. Tapi, yang senantiasa baru ialah peristiwa pencemaran terhadap
lingkungan. Pencemaran lingkungan bukan sebuah fenomena, tapi
fakta. Begitu keluar dari rumah, kita langsung menyaksikan peristiwa
pencemaran.
Bahkan kadang kita pun mencemari, sadar atau tidak. Udara, air
dan tanah tercemar, dan kita hidup di dalamnya. Kita hidup di suatu
wadah yang kita sebut “lingkungan” dan itu sudah tercemar.

Bab 1 | Pendahuluan 1
Pencemaran terjadi bukan hari ini, tapi sudah berlangsung sekian
lama. Sementara bumi yang kita tempati ini, adalah bumi yang dulu itu
juga. Tidak di bumi yang baru. Kita tidak bisa ke mana-mana.
Oleh karena itu, perlu kita mempelajari tentang pencemaran
lingkungan, dengan memulainya dari menjawab pertanyaan mendasar
yang dikenal dengan 2WH (what, why, how).
Dimulai dari W yang pertama

1. What is Pollution?
Apakah pencemaran lingkungan?
a. Pencemaran Lingkungan adalah suatu kondisi yang telah berubah
dari bentuk asal pada kondisi yang lebih buruk (Palar H, 2004).
b. Pencemaran Lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku
mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan (Undang-Undang
Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bab I Pasal 1 Ayat 14).
Yang dimaksud Baku Mutu Lingkungan (BML) dinyatakan pada bab
dan pasal yang sama, di ayat 13, adalah: Ukuran batas atau kadar
makhluk, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/
atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu
sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
c. The Pollution is “... The direct or indirect introduction, as a result of human
activity, of substances or heat into the water or land which may be harmful
to human health or the quality of aquatic ecosystems or terrestrial ecosystems
directly depending on aquatic ecosystems, which result in damage to material
property, or which impair or interfere with amenities and other legitimate
uses of the environment.” (Enviironmental Protection Act, 2017).
d. The Pollution is the discharge of a toxic orcontaminating substance that is
likely to have an adverse effect on the natural environment of life (Duhaime’s
Law Dictionary, 2017).
e. Dari beberapa batasan dan pengertian di atas, disimpulkan bahwa
pencemaran lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang
memberikan pengaruh negatif terhadap makhluk hidup yang
disebabkan oleh manusia.

2 Pencemaran Lingkungan
2. Why does Pollution Happen?
Mengapa Pencemaran Lingkungan Terjadi?
Sesuai dengan batasan tentang pencemaran lingkungan di atas, bahwa
kondisi lingkungan yang berpengaruh negatif terhadap makhluk hidup itu
disebabkan oleh manusia, maka jawaban atas pertanyaan mengapa hal ini
bisa terjadi tentulah berpulang kepada manusia itu sendiri.
Apa dan bagaimana manusia melaksanakan keinginan dan kebutuhan
hidupnya, itulah sebagai penyebab terjadinya pencemaran lingkungan.
Apa yang dilakukan, menjadi sumber pencemaran. Bagaimana
melakukan, menjadi proses dan bahan yang menyebabkan terjadinya
pencemaran. Contoh sederhana manusia menambang emas tanpa izin.
Menambang emas tanpa izin ini, adalah jawaban atas apa yang dilakukan.
Berarti sumber pencemaran adalah kegiatan menambang emas tanpa izin
itu. Bagaimana melakukan proses menambang emas tanpa izin itu, adalah
menjelaskan bagaimana pencemaran itu bisa terjadi dan apa bahan yang
mencemari (pollutant).
Sederhana sekali bukan?
Artinya, sumber pencemaran tidak sama dengan bahan pencemar. Tapi
keduanya menyebabkan terjadinya pencemaran melalui sebuah proses.
Proses itu bergantung pada jenis dan bagaimana manusia melakukan
aktivitas. Dengan demikian, pada contoh kegiatan tambang emas di
atas, secara skematis dijelaskan pada Gambar 1.1 berikut.

Gambar 1.1 Skema Sederhana Terjadinya Pencemaran Lingkungan

Bab 1 | Pendahuluan 3
Gambar 1.1 menjelaskan mana yang sumber pencemar dan
apa bahan pencemarnya serta bagaimana peristiwa itu bisa disebut
mencemari sehingga menjadi apa yang disebut dengan pencemaran
lingkungan. Dalam hal ini, dicontohkan dengan aktivitas penambangan
emas tanpa izin.
Penambang emas tanpa izin, menggunakan bahan kimia yang
disebut merkuri cair dalam proses penambangan emas tersebut.
Akibatnya, merkuri cair sebagai pollutant bercampur atau masuk ke
dalam lingkungan hidup kita. Sederhananya demikian.
Dipertanyakan lagi, mengapa manusia melakukan hal yang
demikian? Penyebabnya bisa digunakan pendekatan ekonomi dengan
teori ekonomi mikro. Bahwa keinginan dan kebutuhan manusia tidak
terbatas, sementara sumber daya alam bersifat terbatas. Sehingga
manusia dihadapkan kepada kompetisi yang berimplikasi pada
eksploitasi dan eksplorasi sumber daya alam.
Eksploitasi berarti penguasaan terhadap suatu sumber daya untuk
mendapatkan keuntungan maksimal, sementara eksplorasi berarti
penggalian/pengambilan sumber daya untuk tujuan ekonomis. Yang
dibicarakan tentang sumber daya alam di sini tak lain tak bukan adalah
lingkungan hidup. Dengan demikian, jawaban singkat atas pertanyaan
mengapa pencemaran lingkungan itu mesti terjadi, ialah karena aktivitas
ekonomi manusia yang melakukan eksploitasi dan eksplorasi terhadap
sumber daya alam.
Ditelusuri lebih jauh, aktivitas ekonomi manusia dalam memenuhi
kebutuhan dan keinginannya yang menjadi penyebab pencemaran
lingkungan itu, tak lepas dari perilaku (behavior). Akurat rasanya jika
penyebab pencemaran lingkungan itu, hakikinya adalah persoalan
perilaku manusia. Inilah akar persoalan yang kemudian menjadi
fenomena terjadinya berbagai macam peristiwa pencemaran lingkungan
melalui aktivitas manusia tersebut. Tidak hanya dalam aktivitas
ekonomi, dalam kehidupan sehari-hari pun manusia berkontribusi
untuk mencemari lingkungan, seperti perilaku membuang sampah
sembarangan dan lain sebagainya.
Semakin jelas bagi kita bahwa masalah pencemaran lingkungan,
memerlukan berbagai sudut pandang atau pendekatan multi disiplin.
Tak hanya dengan ekonomi, tapi juga digunakan pendekatan psikologi
dan pendidikan karena permasalahannya berakar sampai pada perilaku.

4 Pencemaran Lingkungan
Lalu apakah manusia dilarang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya terkait jawaban di atas? Tentu tidak dilarang. Tapi perlu suatu
kearifan lingkungan, yang lebih khusus dibahas nanti di Sub Bab C
tentang Pembangunan Berkelanjutan, sebagai jembatan untuk menuju
upaya nyata meminimalisasi pencemaran lingkungan.
Persoalan yang dibicarakan ini adalah masalah perilaku. Sementara
perilaku terwujud dari ranahnya sikap dan pengetahuan pada manusia.
Variabel ini, perlu dihubungkan dengan peran manusia dalam tataran
konsep pembangunan berkelanjutan serta upaya perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
Penulis berkeyakinan, untuk menemukenali dan mengenakan
kembali nilai-nilai kearifan lokal yang sarat dengan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan tidak bisa muncul begitu saja tanpa dilandasi
oleh perubahan perilaku. Perilaku terwujud dari sikap dan pengetahuan.
Tanpa adanya sikap dan pengetahuan tentang pencemaran lingkungan,
perilaku ke arah konsep dan upaya perlindungan dan pengelolaan
lingkungan tidak akan pernah ada dan terwujud dalam perilaku.
Inilah salah satu alasan kenapa di awal buku ini, dibicarakan konsep
umum sebagai prior knowledge dan selanjutnya menjadi batu loncatan
(stepping stones) mencapai derajat kearifan terhadap lingkungan.

3. How does Pollution Happen?


Bagaimana Pencemaran Lingkungan Terjadi?
Jawaban pertanyaan bagaimana ini, secara umum sudah diuraikan
di atas dan pada Gambar 1.1 Secara rincinya, jawaban ini akan merujuk
pada 3 (tiga) komponen dalam bentuk pertanyaan 3W, yaitu what, when
and where.
Artinya, bagaimana terjadinya pencemaran itu, berarti dikaji
tentang (a) apa yang mencemari, (b) kapan terjadi dan (c) di mana
terjadinya peristiwa pencemaran tersebut. Secara detail, disajikan
sebagai berikut.
(a) Apa yang mencemari, berarti bahan pencemar yang masuk ke
dalam lingkungan, yang disebut sebagai pollutant.
(b) Waktu terjadinya pencemaran itu, adalah saat di mana pollutant
bercampur dengan komponen lingkungan alamiah, dan disebut
dengan pollution (pencemaran lingkungan).

Bab 1 | Pendahuluan 5
Artinya, kita membicarakan pencemaran lingkungan telah terjadi.
Keberadaan bahan pencemar telah melewati baku mutu lingkungan.
(c) Di mana terjadinya pencemaran itu, berarti di komponen
lingkungan yang mana polusi itu terjadi. Bisa terjadi di udara
(air pollution), di tanah (soil pollution) dan di air (water pollution).
Bahkan bisa saja dideteksi terjadi di semua komponen
lingkungan.
Setelah dipahami secara umum dan garis besar suatu realitas
tentang pencemaran lingkungan, setidaknya sudah bisa diraba arah ke
mana kita akan melangkah lebih jauh. Diketahuinya apa pencemaran
lingkungan, apa penyebab dan bagaimana bisa terjadi, berarti secara
keilmuan, sudah diketahui tentang apa itu realitas dari objek yang
dikaji, dan bagaimana ia bisa terjadi.
Kajian detail tentang masing-masing peristiwa pencemaran yang
sudah dipahami secara umum di atas, tentu mempunyai metode-metode
ilmiah dan melibatkan banyak disiplin ilmu, terutama ilmu exacta,
khususnya kimia. Dengan kata lain, menjawab apa bahan pencemar,
dan bagaimana proses terjadinya pencemaran itu, tidak bisa ditentukan
dengan cara sederhana, karena ada batas ambang baku yang hanya bisa
diukur dengan metode dan alat tertentu.
Pada bab-bab berikut, akan disajikan secara khusus tentang
kimia dan lingkungan serta komponen lingkungan yang tercemar dan
bahan pencemar yang ada. Untuk melengkapi pengetahuan tentang
pencemaran lingkungan sebagai ilmu, selanjutnya akan kita pahami
untuk apa dipelajari hal-hal di atas tersebut, yang tersaji di Bab
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

B. Perspektif Pencemaran Lingkungan


Beberapa sudut pandang dalam melihat dan menelaah masalah
pencemaran lingkungan, yaitu (a) sudut pandang filsafat ilmu, (b)
tinjauan historis, (c) tinjauan yuridis, dan (d) tinjauan scientific, serta
(e) sudut pandang filosofis.
Tujuannya ialah untuk memberikan berbagai landasan dalam
mencermati pencemaran lingkungan itu, sehingga mampu memberi
tempat kepada kita untuk memahami pencemaran lingkungan secara
komprehensif.

6 Pencemaran Lingkungan
Di samping itu, memberikan pemahaman secara terstruktur dan
sistematis bagaimana pencemaran lingkungan sebagai ilmu, mempunyai
banyak pendekatan. Dengan demikian, kajian dalam pencemaran
lingkungan di masa kini dan di masa depan, dapat dipahami sebagai
satu kesatuan yang holistik dalam satu domain pencemaran lingkungan
sebagai satu disiplin ilmu.

1. Sudut Pandang Filsafat Ilmu


Yusuf, M (2015) menyatakan bahwa ilmu dapat dibedakan
dari pengetahuan berdasarkan apa objeknya (ontology), bagaimana
mendapatkannya (epistomology) dan untuk apa (nilai) ilmu itu
(axiology).
Mari kita skemakan pernyataan di atas, pada Gambar 1.2 berikut.

Gambar 1.2 Skematis Filsafat Ilmu

Dari Gambar 1.2 terlihat bagaimana filsafat ilmu menjelaskan


sebuah ilmu dari sudut pandang apa, bagaimana, dan untuk apa.
Apakah pencemaran lingkungan telah mempunyai 3 (tiga) hal di
atas?
Mari kita diskusikan lebih lanjut.
Ontology menjawab pertanyaan “Apa itu realitas?”
Epistomology menjawab pertanyaan “Bagaimana mendapatkan
realitas itu?”
Aksiologi menjawab “Untuk apa realitas itu?”

Bab 1 | Pendahuluan 7
Apa itu realitas, berarti menjelaskan sesuatu objek secara relatif
benar dalam keilmuan. Dikatakan sebagai objek apabila bisa diindrai
oleh manusia. Manusia selalu ingin tahu terhadap sesuatu yang
diindrainya. Rasa ingin tahu telah mendorong manusia untuk mengenali
kebenaran terhadap sesuatu objek yang disebut sebagai “realitas”.
Bagaimana mendapatkan realitas itu. Berarti cara yang sistematis
yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan kebenaran relatif
terhadap objek, sehingga sampai pada suatu kesimpulan.
Kalau ontology adalah objek itu sendiri, maka epistomology adalah
sistematika dan metode untuk mendapatkan objek tersebut.
Untuk apa realitas itu, berarti berhubungan dengan aplikasi dan
implementasi suatu realitas dari suatu objek. Hal ini berhubungan
dengan perbuatan dan nilai.
Biologi sebagai ilmu misalnya. Ontologinya ialah konsep biologi
itu sendiri. Epistomologinya ialah segala metodologi yang membangun
konsep biologi itu. Aksiologi adalah penerapan biologi seperti
bagaimana cara bercocok tanam, yang perkembangannya membentuk
disiplin ilmu terapan yakni Ilmu Pertanian. Begitu juga dengan praktik
medis untuk kesehatan manusia, yang merupakan jawaban untuk apa
mempelajari Biologi sebagai ilmu.

a. Pencemaran Lingkungan Sebagai Ilmu


Di awal pembahasan sudah disinggung secara garis besar, tentang
konsep dari pencemaran lingkungan, beserta prinsipnya. Dengan
demikian, ontology dari pencemaran lingkungan, adalah konsep dan
prinsip dari pencemaran lingkungan itu sendiri.
Epistomology dari pencemaran lingkungan adalah metodologi
dalam menemukan dan mendapatkan teori dan fakta dari peristiwa
pencemaran lingkungan yang terjadi.
Metodologi yang dipakai dalam ranah pencemaran lingkungan
adalah metode ilmiah dengan berbagai macam pendekatan dari ilmu
lain.
Aksiology dari pencemaran lingkungan adalah semua upaya
yang menggunakan konsep dan prinsip serta teori dan praksis ilmu
pencemaran lingkungan, untuk praktis diimplementasikan agar
pencemaran lingkungan tidak terjadi.

8 Pencemaran Lingkungan
Artinya, pemahaman terhadap pencemaran lingkungan bisa
digunakan sebagai landasan dalam meminimalisasi pencemaran yang
terjadi, atau mengendalikan pencemaran lingkungan, sehingga lingkungan
tidak memberikan pengaruh negatif pada manusia.

b. Objek Formil dan Objek Materil


Layaknya sebuah ilmu, mestilah mempunyai objek kajian. Pengetahuan
juga begitu, apalagi ilmu. Ilmu yang merupakan tubuhnya pengetahuan
tentu akan mempunyai objek yang lebih kompleks dan terstruktur dari
sekadar pengetahuan terhadap suatu objek.
Objek formil pencemaran lingkungan adalah segala sesuatu yang
terkait dalam kajian terhadap pencemaran lingkungan sebagai ilmu.
Baik terkait dengan ontologism, epistomologis, dan aksiologis.
Contohnya, untuk mengkaji suatu peristiwa pencemaran lingkungan,
maka yang ditelaah tentu banyak hal. Termasuk masalah kebijakan dan
aturan hukum, masalah perilaku manusia dan lain sebagainya. Inilah yang
disebut sebagai objek formilnya pencemaran lingkungan.
Objek materil pencemaran lingkungan adalah komponen
lingkungan berupa biotic dan abiotik. Biotic berupa flora, fauna dan
manusia, sementara abiotik adalah air, tanah dan udara. Cakupan objek
materil lebih sempit dari objek formil.
Skematis tentang pencemaran lingkungan dalam pandangan filsafat
ilmu ini, digambarkan pada Gambar 1.3 berikut.

Gambar 1.3 Pencemaran Lingkungan dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Bab 1 | Pendahuluan 9
Sebagai sebuah disiplin ilmu, pencemaran lingkungan merupakan
ilmu yang multidisiplin. Artinya pencemaran lingkungan itu tersusun
dan terbangun dari berbagai macam disiplin ilmu yang ada dan yang
bersinggungan secara langsung terhadap persoalan lingkungan hidup.
Dengan kata lain, tidak bisa mengkaji pencemaran lingkungan baik
secara teoretik maupun terapan hanya dari satu disiplin ilmu saja.
Apalagi dalam hal penerapannya.

2. Sudut Pandang Historis


Secara historis tidak mudah memastikan kapan mulainya istilah
pencemaran lingkungan dipakai. Belum ada dilaporkan secara akurat di
mana dan bagaimana perkembangan pengetahuan manusia, sehingga
sampai pada munculnya istilah pencemaran lingkungan.
Tetapi, secara kronologis, dapat dirujuk bahwa sejak manusia
memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan sumber daya
alam, maka potensi perubahan lingkungan alamiah sudah terjadi. Hanya
saja, di zaman nenek moyang, hal ini tidak menjadi masalah besar.
Perkembangan peradaban tentu telah dimulai begitu manusia sudah
hidup pada suatu lingkungan. Dalam catatan sejarah, sebenarnya di
masa abad pertengahan, penyakit kolera dan tifus melanda masyarakat
Eropa. Hal ini adalah karena lingkungan yang tidak sehat. Karena
keberadaan kotoran hewan dan manusia serta sampah.
Di tahun 1800-an, masyarakat dunia khususnya di Eropa, mulai
menyadari bahwa kondisi lingkungan yang tidak sehat, adalah penyebab
utama terjadinya perkembangan penyakit dan berakibat kematian.
Upaya nyata pengendalian terhadap sampah pertama kali dilakukan di
Chicago Amerika Serikat. Upaya ini selanjutnya diadopsi oleh negara-
negara lain di dunia.
Sejak saat itu, manusia sudah semakin menyadari bahwa kualitas
hidupnya tergantung pada kondisi lingkungan. Berbagai upaya dilakukan
dalam hal peningkatan kondisi lingkungan beriringan dengan munculnya
disiplin ilmu seperti Higiene Perusahaan, Sanitasi Lingkungan dan lain
sebagainya. Tapi, persoalan lingkungan hidup, tak bisa secara parsial
dilakukan di salah satu wilayah di muka bumi ini.
Pada tahun 1900-an, pencemaran lingkungan tetap terjadi. Terutama
disebabkan oleh industrialisasi dan Perang dunia II. Manusia merasakan

10 Pencemaran Lingkungan
bahwa dampak pencemaran lingkungan benar-benar berbahaya karena
di samping mematikan, juga berdampak jangka panjang terhadap
kesehatan manusia.

Bom Atom di Hirosyima dan Nagasaki


15-16 Agustus 1945 Perang Dunia II berakhir. Jepang menyerah tanpa
syarat kepada sekutu. Momentum akhir perang ialah dijatuhkannya bom
atom di Kota Hirosyima dan Nagasaki di Jepang. Sisi baiknya perang
berakhir. Sisi buruknya menyisakan dampak yang luas dan panjang.
Dampak bom atom di Hirosyima dan Nagasaki tidak saja bagi manusia
yang hidup di dua kota itu, tapi meluas sampai ke manusia yang
tinggal di sekitarnya. Tidak hanya mematikan manusia saat itu juga,
tapi penurunan derajat kesehatan manusia diwariskan ke generasi
berikutnya. Banyak bayi yang dilahirkan dalam keadaan cacat fisik
karena terjadinya mutasi gen.

The Great Smog


Desember 1952, di Kota London, Inggris terjadi pencemaran udara
berupa smog (smoke and fog) atau asap kabut. Hal ini disebabkan karena
penggunaan batubara yang berlebihan pada pabrik-pabrik industri di
sekitar kota London.
Awalnya memang tidak terkesan berbahaya. Tapi setelah beberapa minggu
kemudian dilaporkan ribuan orang meninggal dan ratusan ribu lainnya
sakit kronis. Dilaporkan sebanyak 12.000 orang tewas. Kelanjutannya
pada tahun 1956 keluar undang-undang tentang polusi udara.

Tragedi Minamata
Tahun 1956. Minamata adalah nama sebuah kota di Jepang. Di kota
itu terjadi kematian manusia, anjing, babi dan kucing serta binatang
lain hampir dalam kurun waktu yang lama. Di samping itu, terjadinya
gejala syndrome neurologis pada manusia.
Gejala syndrome neurologis yang terjadi ternyata disebabkan oleh keracunan
merkuri. Penyakit ini kemudian disebut sebagai penyakit minamata.
Penyebabnya ialah karena pelepasan merkuri pada air limbah oleh industri
dan pabrik kimia Chisso Corporation sejak Tahun 1932 – 1968.

Bab 1 | Pendahuluan 11
Merkuri pada air limbah yang dilepaskan terakumulasi pada biota air,
salah satunya ialah kerang. Kerang merupakan makanan bagi masyarakat
Jepang dan hewan-hewan peliharaan.

Tumpahan Minyak Amoco Cadiz


16 Maret 1978, kapal tanker minyak Liberia, Amoco Cadiz kandas di
dekat pelabuhan kecil Portsall, pantai Breton, Perancis. Kapal tersebut
mengangkut minyak mentah yang kemudian tumpah ke laut.
Kita bisa bayangkan berapa jumlah flora dan fauna yang punah di laut
akibat dari peristiwa ini.

Tragedi Agen Oranye


Tahun 1961-1971, perang antara militer AS dengan Vietnam, selain
mengorbankan nyawa saat perang, juga terjadinya dampak akibat
pestisida. Saat itu, militer AS mencari taktik lain dalam perang.
Vegetasi tempat tentara Vietnam berlindung dianggap sebagai kendala
dalam memenangkan pertempuran. Vegetasi di kawasan hutan itu
dimusnahkan dengan menyemprotkan pestisida dengan volume hampir
20 juta galon. Peristiwa ini disebut sebagai agen oranye.

Bencana Seveso
10 Juli 1976, terjadi bencana kebocoran bahan kimia dioksin di Seveso,
Italia. Akibatnya juga berujung pada kematian flora dan fauna dan ribuan
orang menderita penyakit kronis.

Kecelakaan Three Mile Island


28 Maret 1979, di Dauphin Country, Pennsylvania terjadi kecelakaan
pada Perusahaan Listrik Tenaga Nuklir. Kecelakaan berupa kebocoran
telah melepaskan sejumlah gas dan iodium radioaktif ke lingkungan.
Akibatnya, penduduk sekitar terpapar bahan radioaktif. Hal ini
berdampak luas dan jangka panjang.

Tragedi Bhopal
3 Desember 1984, terjadi kebocoran gas beracun pada pabrik pestisida
Union Carbide di Bhopal. India. Pestisida adalah industry yang
menghasilkan senyawa kimia berbahaya karena difungsikan untuk

12 Pencemaran Lingkungan
membunuh makhluk hidup yang disebut sebagai hama dalam usaha
tani. Dampaknya ialah menewaskan lebih dari 30.000 orang dan tak
kurang dari 200 ribu orang menderita penyakit kronis.

Tragedi Chernobyl
26 April 1986 di Chernobyl, sebuah kota di utara Ukraina. Pada pukul
01.23 dini hari, terjadi kebocoran pada Perusahaan Listrik Tenaga Nuklir.
Pelepasan radioaktif ke udara tak terelakkan.
Peristiwa masuk dan dimasukkannya zat radioaktif ke lingkungan
hidup melalui udara terjadi sebegitu cepat. Ini adalah salah satu kenapa
peristiwa pencemaran lingkungan tidak bisa dianggap sepele.
Sekitar 6,6 juta penduduk terpapar materi radioaktif dan mengakibatkan
berbagai kelainan mulai dari bayi yang lahir cacat hingga kanker ganas.

Pencemaran Minyak Exxon Valdez


23 Maret 1989, Kapal supertanker Exxon Valdes yang memuat 12 juta
galon minyak mentah tenggelam di tengah perairan Alaska. Kematian
flora dan fauna di laut tak terelakkan. Hal ini berakibat langsung
pada penurunan jumlah flora dan fauna serta keanekaragaman hayati
(biodiversity) yang ada.

Sampah Industri Senjata Kimia


Tahun 1998, di Dzerhinsk, Rusia. Sampah industri senjata kimia
ditumpuk di situ sejak tahun 1930 – 1998. Blacksmith Institute,
melaporkan bahwa bahan kimia tersebut jika dicampurkan dengan air,
akan mengubah warna air menjadi lumpur yang berwana putih.
Lumpur putih itu mengandung dioksin dan fenol tingkat tinggi yang
bisa menimbulkan keracunan akut dan kematian.

Lumpur Sidoarjo
Mei 2006, sayang sekali, Indonesia juga mencatat peristiwa pencemaran
lingkungan di dunia. Hal ini bukanlah prestasi.
Terjadinya banjir lumpur panas di Sidoarjo ini dipicu oleh ledakan gas
alam dari sumur minyak yang dieksploitasi oleh PT Lapindo Brantas
di Jawa Timur, Indonesia.

Bab 1 | Pendahuluan 13
Semburan lumpur panas tak berhenti dalam waktu yang singkat.
Sehingga berakibat rusak dan cemarnya lingkungan pun terjadi tidak
dalam satu waktu.

Fly Ash di Tennese


22 Desember 2008, Di Kingston Fossil Plant, Tennessee, terjadi
kecelakaan berupa bobolnya tanggul penahan limbah fly ash seluas 35
Ha. Lebih dari 3,9 juta meter kubik bubur abu batubara tumpah dan
menggenangi 400 hektar lahan di sekitarnya. Tidak hanya itu, abu ini
pun mengalir ke sungai.
Fly ash berarti abu terbang yang merupakan residu pembakaran batubara.
Dari kronologis sejarah di atas, terlihat bahwa di tiap 10 tahun selalu
ada peristiwa pencemaran terhadap lingkungan yang parah. Kendati pun
di tahun 1800-an penduduk dunia di Eropa sudah mengetahui bahwa
lingkungan yang cemar bisa mengakibatkan kematian dan kemerosotan
derajat kualitas hidup antargenerasi, tapi pencemaran lingkungan tetap
terjadi di belahan dunia lain.
Penyebab pencemaran terlihat karena industri dan perang. Kecelakaan
di dunia industri tetap merupakan human error dan disebut sebagai
pencemaran lingkungan, bukan bencana alam.
Di Indonesia, kalau disepakati perkembangan ilmu dan teknologi
pertanian di Indonesia secara pesat bermula di era 70-an, maka di era itu
pulalah embrio pencemaran lingkungan karena residu pestisida dimulai.
Embrio itu tumbuh dan berkembang, kemudian lahir. Kehadirannya
tak terkendalikan. Karena saat embrio sudah dikenali, tidak diiringi
dengan pemeliharaan dan upaya strategis untuk mengantisipasi dan
pengendalian nantinya.
Kalau disepakati, perkembangan industri secara pesat di era tahun 80-an,
maka di era itu pulalah potensi pencemaran lingkungan karena senyawa
kimia pada limbah industri baik yang dilepaskan ke udara, maupun ke air
dan tanah sudah ada. Tetapi, kala itu persoalan pencemaran lingkungan
baru sebatas wacana dan publikasi, belum sampai pada suatu upaya
yang nyata dan penegakan hukum yang efektif.

14 Pencemaran Lingkungan
3. Sudut Pandang Yuridis
Di negara kita aspek legalitas adalah salah satu aspek yang
diharapkan mampu mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan.
Aspek legalitas ialah seperangkat aturan dan kebijakan secara hukum
yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Secara legalitas, beberapa hal yang terkait dengan upaya pencegahan
pencemaran lingkungan ini, serta aturan yang mengikatnya ialah sebagai
berikut.
(1) Upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
(2) AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
• Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
• KepMen LH Nomor 86 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup.
• PerMen LH Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan
atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup (Pengganb KepMenLH Nomor 17
Tahun 2001).
• KepMen LH Nomor 30 Tahun 2001 tentang Pedoman
Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup yang Diwajibkan
Menteri Negara Lingkungan Hidup.
• KepMen LH Nomor 02 Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian
Dokumen AMDAL (Juga Menyatakan Tidak Berlakunya
KepMen KLH Nomor 29 Tahun 1992 tentang Panduan Evaluasi
Dokumen ANDAL).
• KepMen LH Nomor 04 Tahun 2000 Tentang Panduan
Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Kegiatan Pembangunan Pemukiman Terpadu.
• KepMen LH Nomor 05 Tahun 2000 tentang Panduan
Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah.

Bab 1 | Pendahuluan 15
• KepMen LH Nomor 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan
Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
• PerMen LH Nomor 08 Tahun 2006 tentang Pedoman
Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
(Pengganb KepMenLH 09 Tahun 1000).
• KepMen LH Nomor 40 Tahun 2000 tentang Tata Kerja Komisi
Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
(Pengganti KepMen LH Nomor 13 Tahun 1994).
• KepMen LH Nomor 41 Tahun 2000 tentang Pedoman
Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota.
• KepMen LH Nomor 42 Tahun 2000 tentang Susunan
Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup Pusat.
• KepMen LH Nomor 30 Tahun 1999 tentang Panduan
Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.
• KepMen LH Nomor 42 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum
Pelaksanaan Audit Lingkungan.
• KepMen LH Nomor 45 Tahun 2005 Pedoman Penyusunan
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) (Pengganb KepMen LH Nomor
105 tahun 1997).
• KepKa Bapedal Nomor 124 Tahun 1997 tentang Panduan Kajian
Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL.
• KepKa Bapedal Nomor 299 Thun 1996 tentang Pedoman Teknis
Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan.
• KepKa Bapedal Nomor 56 Tahun 1994 tentang Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penang.
• KepKa Bapeten Nomor 3-P Tahun 1999 tentang Pedoman
Teknis Penyusunan AMDAL untuk Rencana Pembangunan &
Pengoperasian Reaktor Nuklir.

16 Pencemaran Lingkungan
• KepKa Bapeten Nomor 04-P Tahun 1999 tentang Pedoman
Teknis Penyusunan AMDAL untuk Rencana Pembangunan &
Pengoperasian Instalasi.
(3) Pengendalian Pencemaran Air
• Undang-undang Nomor 07 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air.
• Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air.
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.
• (KepMen LH Nomor 122 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
KEPMEN LH No 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kegiatan Industri Pupuk.
• KepMen LH Nomor 202 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Usaha & atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas
& atau Tembaga.
• KepMen LH Nomor 28 Tahun 2003 tentang Pedoman Teknis
Pengkajian Pemanfaatan Air Limbah dari Industri Minyak Sawit
pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.
• KepMen LH Nomor 29 Tahun 2003 tentang Pedoman Syarat
dan Tata Cara Perizinan Pemanfaatan Air Limbah Industri
Minyak Sawit pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.
• KepMen LH Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode Analisis
Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air
Permukaan.
• KepMen LH Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber
Air.
• KepMen LH Nomor 111 Tahun 2003 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air.
• KepMen LH Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Usaha dan Kegiatan Domestik.
• KepMen LH Nomor 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batu Bara

Bab 1 | Pendahuluan 17
• KepMen LH Nomor 114 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pengkajian Untuk Menetapkan Kelas Air.
• KepMen LH Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penentuan Status Mutu Air.
• KepMen LH Nomor 142 Tahun 2003 tentang Perubahan
Atas KepMen LH Nomor 111 Tahun 2003 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah ke Air Atau Sumber Air.
• KepMen LH Nomor 03 Tahun 1998 tentang Baku Mutu Limbah
Bagi Kawasan Industri.
• KepMen LH Nomor 09 Tahun 1997 tentang Perubahan KepMen
LH Nomor 42/MENLH/10/1996 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi.
• KepMen LH Nomor 42 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi.
• KepMen LH Nomor 35 Tahun 1995 tentang Program Kali
Bersih (Prokasih).
• KepMen LH Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kegiatan Industri.
• KepMen LH Nomor 52 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kegiatan Hotel.
• KepMen LH Nomor 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit.
• PerMen LH Nomor 02 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air
Limbah Rumah Pemotongan Hewan.
• PerMen LH Nomor 04 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air
Limbah Penambangan Timah.
• PerMen LH Nomor 09 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air
Umbah Penambangan Nikel.
• PerMen LH Nomor 10 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air
Limbah Usaha Poly Vinyl Chloride.

(4) Pengendalian Pencemaran Udara dan Gangguan


• Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara.

18 Pencemaran Lingkungan
• KepMen LH Nomor 133 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Emisi
Bagi Kegiatan Industri Pupuk.
• KepMen LH Nomor 129 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi
Usaha dan Atau Kegiatan Minyak Bumi dan Gas Bumi.
• KepMen LH Nomor 141 Tahun 2003 tentang Ambang Batas
Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Kendaraan
Bermotor yang Sedang Diproduksi (Current Production).
• KepMen LH Nomor 45 Tahun 1997 tentang Indeks Standar
Pencemar Udara.
• KepMen LH Nomor 15 Tahun 1996 tentang Program Langit
Biru.
• KepMen LH Nomor 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat
Kebisingan.
• KepMen LH Nomor 49 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat
Getaran.
• KepMen LH Nomor 50 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat
Kebauan.
• KepMen LH Nomor 13 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Emisi
Sumber Tidak Bergerak.
• PerMen LH Nomor 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas
Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama (Pengganti
KepMenLH 35 Tahun 1993).
• KepMen Kesehatan Nomor 289 Tahun 2003 tentang Prosedur
Pengendalian Dampak Pencemaran Udara Akibat Kebakaran
Hutan Terhadap Kesehatan.
• KepKa Bapedal Nomor 107 Tahun 1997 tentang Pedoman
Teknis Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi Indeks
Standar Pencemaran Udara.
• KepKa Bapedal Nomor 205 Tahun 1996 tentang Pedoman
Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak
Bergerak.

(5) Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut


• Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut.

Bab 1 | Pendahuluan 19
• KepMen LH Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut.
• KepMen LH Nomor 179 Tahun 2004 tentang Ralat Atas KEPMEN
LH No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut.
• KepMen LH Nomor 200 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku
Kerusakan & Pedoman Penentuan Status Padang Lamun.
• KepMen LH Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku &
Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.
• KepMen LH Nomor 04 Tahun 2001 tentang Kriteria Baku
Kerusakan Terumbu Karang.
• KepMen LH Nomor 45 Tahun 1996 tentang Program Pantai
Lestari.
• PerMen LH Nomor 12 Tahun 2006 tentang Perizinan Pembuangan
Limbah ke Laut.
• KepKa Bapedal Nomor 47 Tahun 2001 tentang Pedoman
Pengukuran Kondisi Terumbu Karang.

(6) Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun


• Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
• Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
• KepMen LH Nomor 128 Tahun 2003 tentang Tata Cara
Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah
Terkontaminasi oleh Minyak Bumi Secara Biologis.
• KepMen LH Nomor 520 Tahun 2003 tentang Larangan Impor
Limbah Bahan Berbahaya & Beracun.
• KepMen LN Nomor 03 Tahun 2007 tentang Penyimpanan Limbah
Bahan Berbahaya & Beracun di Pelabuhan.
• KepMen ESDM Nomor 1693 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan
Pabrikasi Pelumas & Pengolahan Pelumas Bekas serta Penetapan
Mutu Pelumas.
• KepMen Perindustrian & Perdagangan Nomor 372 Tahun 2001
tentang Ketentuan Pemberian Izin Usaha Industri Pabrikasi
Pelumas & Pengolahan Pelumas Bekas.

20 Pencemaran Lingkungan
• KepKa Bapedal Nomor 02 Tahun 1998 tentang Tata Laksana
Pengawasan Pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
di Daerah.
• KepKa Bapedal Nomor 03 Tahun 1998 tentang Penetapan
Kemitraan dalam Pengolahan Limbah B3 KepKa Bapedal Nomor
04 Tahun 1998 tentang Penetapan Prioritas Limbah B3.
• KepKa Bapedal Nomor 255 Tahun 1996 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas
Bekas.
• KepKa Bapedal Nomor 01 Tahun 1995 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3.
• KepKa Bapedal Nomor 02 Tahun 1995 tentang Dokumen Limbah
B3.
• KepKa Bapedal Nomor 03 Tahun 1995 tentang Persyaratan Teknis
Pengelolaan Limbah B3.
• KepKa Bapedal Nomor 04 Tahun 1995 tentang Tata Cara
Persyaratan Penimbunan Hasil Pengolahan, Persyaratan Lokasi
Bekas Pengolahan, dan Lokasi Bekas Penimbunan limbah B3.
• KepKa Bapedal Nomor OS Tahun 1995 tentang Simbol dan Label
Limbah B3.
• KepKa Bapedal Nomor 68 Tahun 1994 tentang Tata Cara
Memperoleh Izin Penyimpanan, Pengumpulan, Pengoperasian
Alat Pengolahan, Pengolahan dan Penimbunan Akhir Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun.
• Per MenLH Nomor 03 Tahun 2007 tentang Penyimpanan Limbah
83 di Pelabuhan.
• Surat Edaran Kepala Bapedal Nomor 08/SEJ02J1997 tentang
Penyerahan Minyak Pelumas Bekas.
• KepKa Bapeten Nomor 03 Tahun 1999 tentang Ketentuan
Keselamatan untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif.
(7) Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun
• Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang
Pengelolan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
• Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan
Atas Peredaran, Penyimpanan & Penggunaan Pestisida.

Bab 1 | Pendahuluan 21
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 3 Tahun 1985 tentang
Kesehatan & Keselamatan Kerja Pemakaian Asbes.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi Nomor 1 Tahun
1982 tentang Bejana Tekanan.
• Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 472 Tahun 1996 tentang
Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan.
• KepMen Pertanian Nomor 763 Tahun 1998 tentang Pendaftaran
& Pemberian Izin Tetap Pestisida.
• KepMen Pertanian Nomor 764 Tahun 1998 tentang Pendaftaran
& Pemberian Izin Sementara Pestisida.
• KepMen Pertanian Nomor 949 Tahun 1998 tentang Pestisida
Teratas.
• KepMen Pertanian Nomor 541 Tahun 1996 tentang Pendaftaran
& Pemberian Izin Tetap Pestisida.
• KepMen Pertanian Nomor 543 Tahun 1996 tentang Pendaftaran
& Pemberian Izin Sementara Pestisida KepMen Pertanian Nomor
544 Tahun 1996 tentang Pendaftaran & Pemberian Izin Bahan
Teknis Pestisida.
• KepMen Pertanian Nomor 546 Tahun 1996 tentang Pemberian
Izin & Perluasan Penggunaan Pestisida.
• KepMen Perindustrian & Perdagangan Nomor 790 Tahun 2002
tentang Perubahan atas KEPMEN PERINDAG Tahun 1998 No.
110 tentang Larangan Produksi dan Memperdagangkan ODS.
• KepMen Perindustrian & Perdagangan Nomor 254 Tahun
2000 tentang Tata Niaga Impor & Peredaran Bahan Berbahaya
Tertentu.
• KepMen Perindustrian & Perdagangan Nomor 110 Tahun 1998
tentang Larangan Memproduksi & Memperdagangkan Bahan
Perusak Lapisan Ozon serta Memproduksi & Memperdagangkan
Barang Baru yang Menggunkan BPLO (ODS).
• SK Menteri Perindustrian Nomor 148 Tahun 1985 tentang
Pengamanan Bahan Beracun & Berbahaya di Perusahaan Industri.
• KepMen Tenaga Kerja Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja KepMen Tenaga

22 Pencemaran Lingkungan
Kerja Nomor 187 Tahun 1999 tentang Pengendalian Bahan
Kimia Berbahaya di Tempat Kerja.
• SE Menteri Tenaga Kerja Nomor 01 Tahun 1997 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja.
• Kep DIRJEN Pehubungan Darat Nomor 725 Tahun 2004 tentang
Penyelenggaraan Pengangkutan B3 di Jalan.

(8) Penataan Ruang


• Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar
Alam.
• Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang.
• Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah.
• Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang
Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan hutan,
Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan
• Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 Tentang Hutan
Kota.
• Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 2000 tentang
Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah.
• Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional Peraturan Pemerintah Nomor
69 Tahun 1996 Tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta
Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan
Ruang.
• Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1993 tentang Koordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional 10.
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung.
• Keputusan Presiden Nomor S7 Tahun 1989 Tim Koordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional.

(9) Laboratorium Lingkungan


KepKa BAPEDAL Nomor 113 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum
dan Pedoman Teknis Laboratorium Lingkungan.

Bab 1 | Pendahuluan 23
(10) Penegakan Hukum Lingkungan
• Peraturan Pemerintah RI Nomor 54 Tahun 2000 tentang
Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa
Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan.
• KepMen LH Nomor 19 Tahun 2004 tentang Pedoman
Pengelolaan Pengaduan Kasus Pencemaran dan atau Perusakan
Lingkungan Hidup.
• KepMen LH Nomor 197 Tahun 2004 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Lingkungan Hidup di Daerah Kabupaten &
Daerah Kota.
• KepMen LH Nomor 77 Tahun 2003 tentang Pembentukan
Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa LH
di Luar Pengadilan (lPJP2SLH).
• KepMen LH Nomor 78 Tahun 2003 tentang Tata Cara
Pengelolaan Permohonan Penyelesaian Sengketa LH di Luar
Pengadilan pada Kementerian LH.
• KepMen LH Nomor 56 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum
Pengawasan Penataan Lingkungan Hidup Bagi Pejabat Pengawas.
• KepMen LH Lingkungan Hidup Nomor 58 Tahun 2002 tentang
Tata Cara Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup di Provinsi/
Kabupaten Kota.
• KepMen LH Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pejabat Pengawasan
Lingkungan Hidup dan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup
Daerah.
• Keputusan Bersama Kementerian LH, Kejaksaan, Kepolisian
Nomor KEP-04/MENLH/04/2004, KEP208/A/J.A/04/2004,
KEP-19/N/2004 tentang Penegakan Hukum Lingkungan
Hidup Terpadu (SATU ATAP), Menteri Lingkungan Hidup
Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia dan Kepala
Kepolisian Negara Republik Indonesia.
• KepKa BAPEDAL Nomor 27 Tahun 2001 tentang Pembentukan
Satuan Tugas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Lingkungan
Hidup di BAPEDAL.
• Surat Jaksa Agung Muda Tidak Pidana Umum Nomor B-60/E/
Ejp/01/2002 tentang Perihal Pedoman Teknis Yustisial
Penanganan Perkara Tindak Pidana Lingkungan Hidup.

24 Pencemaran Lingkungan
Secara yuridis terlihat bahwa terdapat 10 (sepuluh) item perihal yang
berkaitan dengan pencemaran lingkungan. Masing-masing item atau
hal tersebut telah mempunyai landasan hukum. Dengan sebegitu
banyaknya aturan hukum yang mengatur dan mengikat, idealnya,
tentu tidak ada lagi peristiwa pencemaran lingkungan terjadi bukan?
Kenyataannya, pencemaran lingkungan tetap ada sampai hari ini.
Kita sepakat bahwa bagus tidaknya suatu aturan dan kebijakan
bukan terletak pada substansi yang dikandungnya, tapi dinilai dari
pelaksanaan tata aturan itu sendiri. Apakah aturan hukum untuk
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan sudah optimal?
Silakan jawab sendiri.

4. Sudut Pandang Scientific


Secara scientific atau dari sudut pandang keilmuan terhadap
pencemaran lingkungan ialah menguraikan dan menjelaskan bagaimana
pencemaran lingkungan terstruktur secara disiplin ilmu. Struktur itu
terbentuk sedemikian rupa selaras dengan fungsi ilmu-ilmu yang ada
menurut disiplin masing-masing.
Struktur disiplin ilmu yang menyusun pencemaran lingkungan ini
dapat dicermati pada Gambar 1.4 berikut.

x x1
xy z P
y y1

Gambar 1.4 Struktur Keilmuan Penyusun Pencemaran Lingkungan


Keterangan Gambar 1.4:
X : Salah satu Ilmu murni (pure science)
X1 : Ilmu terapannya (applied science)
Y : Salah satu ilmu murni yang lain
Y1 : Ilmu terapannya
XY : Sintesis antara ilmu murni yang satu dengan ilmu murni yang lainnya.
P : Ilmu Lingkungan
Z : Pencemaran Lingkungan

Bab 1 | Pendahuluan 25
Pencemaran Lingkungan disimbolkan dengan huruf Z. Artinya ia
merupakan sintesis dari beberapa ilmu lain (X1 dan Y1) dengan
ilmu lingkungan (P).
Bahasa matematisnya ialah: Z = X1 + X2 + P
Dicontohkan X : Kimia.
Maka X1 : Kimia Lingkungan.
Dicontohkan Y : Biologi.
Maka Y1 : Pertanian, peternakan, kedokteran.
Sehingga XY : Biokima.

Irisan X1 dengan Y1 pada ranah P membentuk Z


Z : Pencemaran Lingkungan
Contoh lain dari ilmu-ilmu yang menyusun pencemaran lingkungan
ini seperti:
X = ekonomi, X1 = ekonomi lingkungan.
Y = ilmu hukum, Y1 = hukum lingkungan
Maka XY = hukum ekonomi

Ketika hukum ekonomi berada dalam permasalahan dan kajian


lingkungan hidup (ilmu lingkungan), maka pada ranah yang terbentuk
(Z) itulah kita berada di pencemaran lingkungan sebagai ilmu.
Ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa berkembang, terutama
dalam ranah lingkungan hidup. Oleh karena itu, berdasarkan pada
struktur dasar keilmuan di atas, perkembangan selanjutnya dapat
disesuaikan menurut eksistensinya masing-masing.

5. Sudut Pandang Filosofis (Kebijaksanaan)


Filsafat merupakan sebuah disiplin ilmu yang terkait dengan perihal
kebijaksanaan. Kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan
manusia, karena ia dapat menjadikan manusia untuk bersikap dan
bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi (actus
humanus), bukan asal bertindak sebagaimana yang biasa dilakukan
manusia (actus homini) (Mustansyir dan Munir, 2006).

26 Pencemaran Lingkungan
Endraswara (2012) menambahkan bahwa filsafat ilmu adalah
wahana berpikir kritis. Menurutnya, orang yang menguasai ilmu, jika
tanpa mengetahui filsafat ilmu ada kalanya akan keliru pemahamannya
(terhadap ilmu yang dipelajari dan dikuasainya itu).
Mengapa perlu sudut pandang filosofis dalam mempelajari
pencemaran lingkungan?
Filsafat muncul ketika manusia merasa perlu memiliki pengetahuan
untuk membuat keputusan bijaksana bagi pemecahan masalah
kehidupan. Sebab, menurut Thut, kumpulan pengetahuan yang
bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia adalah filsafat (Zais,
1976). Sehingga jika kita tidak berlandas pula pada filosofisnya
pencemaran lingkungan ini, maka dikhawatirkan nilai guna atau manfaat
yang akan didapatkan tidak akan ada nantinya bagi kemaslahatan umat
manusia di muka bumi.
Bagaimana pandangan filosofis terhadap pencemaran lingkungan?
Filosofis memuat nilai-nilai kebijaksanaan. Dalam Bahasa Inggris,
bijaksana ialah wise. Kebijaksanaan = wisdom.
Mari kita menoleh ke masa lalu.
Nenek moyang di belahan bumi manapun, sarat dengan local wisdom
(kearifan lokal). Antropolog mengungkapkan bahwa banyak tradisi
budaya di tanah air seperti adanya “sesajen” yang merupakan suatu
sikap hidup dan budaya.
Setiap mereka mendapatkan “hasil” dari alam, dan untuk pemanfaatan
hasil tersebut dalam bentuk upacara pernikahan, pengangkatan kepala
suku dan pesta rakyat, maka mereka menyuguhkan sesajen kepada
“lingkungan”.
Sesajen adalah sebuah budaya. Ini dilabel sebagai sebuah mitos.
Sering dinilai tak berguna karena tak empiris. Ketidaktahuan manusia
menjelaskan sesuatu fenomena, lalu mengubur fenomena tersebut, dan
dipilih cara lain yang dinilai lebih efektif dan efisien.
Budaya sesajen dianggap kuno dan tak efisien. Tetapi nilai budaya
yang dikandungnya sungguh luar biasa. Manusia berbagi dengan
lingkungan. Manusia diajarkan untuk tidak serakah. Dari sudut pandang
lain, diklasifikasikan budaya sesajen merupakan budaya “animisme,”
kata orang-orang yang modern dan memiliki agama setelah itu. Hal ini,
tentu tidak kita bahas panjang lebar.

Bab 1 | Pendahuluan 27
Pendek kata, nenek moyang dulunya tetap melakukan aktivitas
ekonomi tapi masalah pencemaran lingkungan belum ada. Tapi, ketika
orang-orang berilmu pengetahuan dan beragama beraktivitas untuk
hidupnya, mereka mencemarkan lingkungan.
Contoh lain. Perkembangan ilmu pertanian dulunya menuduh
nenek moyang melakukan pola usaha tani subsistem yang berarti
tidak komersial. Artinya pertanian dilakukan hanya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari berupa kebutuhan pokok saja. Pola yang
dilakukan ialah dengan cara menanam, kemudian panen dan setelah
itu berpindah ke hamparan yang baru. Lahan yang lama dibiarkan. Hal
ini dipandang sebagai tindakan yang tidak menguntungkan.
Jika nenek moyang akan tetap melanjutkan usaha tani padi sawah
di lahan yang sama, setelah panen mereka mengubur jerami sisa panen
bersama lumpur, dan dibiarkan beberapa lama. Ini kearifan lokal yang
agung. Bahan organik kembali menyusun kesuburan lahan itu secara
alamiah.
Perkembangan ilmu dan teknologi di era 70-an dan puncaknya di
era 80-an telah menghasilkan usaha tani yang disebut pola modern.
Eksploitasi sumber daya lahan tidak tanggung-tanggung dilakukan
sampai pada akhirnya tak sedikit lingkungan bereaksi negatif
menyuguhkan lahan kritis dan tandus.
Tanah subur alamiah, berubah menjadi gersang dan untuk
mengembalikan kesuburannya, dituntut biaya yang tidak sedikit. Pupuk
sintetis yang memberi janji terhadap produktivitas ternyata harus
membayar berlipat-lipat setelah itu.
Pemberian pupuk sintetis telah merubah komposisi kimia penyusun
tanah. Di satu waktu memang memberikan hasil yang produktif, tapi di
waktu mendatang, tanah menuntut kembali keseimbangannya. Manusia
mesti menyiapkan biaya dan tenaga untuk menghadapi persoalan itu.
Begitu juga halnya dengan aplikasi pestisida. Sekali manusia
melakukan aplikasi pestisida pada suatu ekosistem pertanian,
sebenarnya manusia itu sudah berikrar dan membuat komitmen dengan
lingkungan, untuk akan melipatgandakan biaya perawatan. Karena
pestisida hanya mampu mengatasi masalah hama dan penyakit primer
saat itu, dan berpotensi memunculkan hama sekunder ke depannya.

28 Pencemaran Lingkungan
Karena rantai makanan telah diputus, bersamaan dengan rusaknya
keseimbangan ekosistem alami. Hama yang telah punah karena
pestisida, alamiahnya adalah sebagai salah satu penyusun mata rantai
jaring makanan. Akibatnya, terjadi peledakan populasi serangga lain
yang bukan hama awalnya tapi karena predatornya punah, ia akan segera
menjadi hama di tahun mendatang.
Belum lagi serangga betina yang mengandung telur, yang kena efek
pestisida tapi belum mematikan. Ia segera membentuk sistem kekebalan
dan mewariskan pada anaknya. Anaknya menjadi resisten terhadap
pestisida tertentu. Manusia akan senantiasa berkutat dengan persoalan
yang demikian. Seolah lingkungan hidup menjadi “musuh” bagi manusia.
Di era 90-an, ilmu pertanian mulai menggeser paradigma untuk
kembali ke bahan organik. Muncul istilah pertanian organik dan lain
lain. Istilah “pemberantasan hama dan penyakit tanaman” mulai
perlahan sirna, berganti dengan “pengendalian hama dan penyakit
tanaman”. Bersamaan dengan itu, muncullah istilah penerapan teknik
pengendalian hama dan penyakit tanaman terpadu yang mengedepankan
siklus alamiah berupa rantai makanan dan keseimbangan ekosistem.
Salah satu teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman terpadu
itu ialah dengan penggunaan agen biologis. Artinya memasukkan
spesies tertentu sebagai predator untuk keseimbangan alamiah dalam
rantai makanan pada ekosistem pertanian tersebut. Peran kimia dan
organik mulai dikurangi.
Cara-cara nenek moyang mulai diakui sebagai suatu bentuk
persahabatan dan interaksi harmonis antara mereka dengan lingkungan.
Nenek moyang melakukan bera terhadap lahan yang sudah
menghasilkan panen. Bera berarti dibiarkan. Artinya, alam akan
bermekanisme alamiah memulihkan keadaannya. Suksesi alamiah
terjadi dengan optimal tanpa bencana. Tumbuh tumbuhan mulai
tumbuh lagi satu per satu. Lahan yang sudah direkayasa, kembali
membentuk tatanan yang subur lagi secara alamiah.
Sama halnya dengan Suku Indian yang menangkap ikan di satu ruas
aliran sungai. Setelah 2 bulan purnama, mereka akan pindah ke sungai
lain. Sungai yang lama dibiarkan untuk membentuk keseimbangan
baru. Para pemuda Suku Apache memelihara kuda-kuda perang di alam
bebas, bukan dikandangkan.

Bab 1 | Pendahuluan 29
Mereka mempercayakan pada “lingkungan alami” untuk mengajari
kuda mereka membentuk tubuh yang gagah dan keterampilan berlari
kencang. Lingkungan alam yang “buas” dan suguhan makanan yang
disediakan alam telah menciptakan kuda-kuda perang yang perkasa.
Tanpa rekayasa genetika dan penyuntikan adrenalin.
Salah satu nilai budaya yang arif dan bijaksana dalam menyikapi
persoalan hidup dan lingkungan, tersusun dalam kalimat bijak
warisan nenek moyang di salah satu suku bangsa di Indonesia, yakni
di masyarakat Minangkabau. Kalimat itu ialah: “Alam Takambang
Dijadikan Guru”.
Filosofis kalimat itu sekarang kembali diabadikan di berbagai
pendekatan pendidikan. Malah salah satu perguruan tinggi di Sumatera
Barat menjadikan itu sebagai mottonya.
Agaknya, yang mengaku ilmu dan teknologi lebih canggih dari
nenek moyang, mesti tersandar dan sadar bahwa ada ilmu-ilmu
kebijaksanaan yang tak bisa terjelaskan secara empiris dalam bentuk
harmonisasi manusia dengan lingkungan.
Ketika disiplin ilmu yang dibangun di atas teori-teori dan empiris
yang diagung-agungkan, tidak mampu memberikan penjelasan terhadap
suatu fenomena, maka saat itulah peran filsafat ditunggu untuk
memberikan iluminasi (penerangan).
Sekarang, ketika struktur dan fungsi ilmu pengetahuan yang ada
sudah memadai, aspek yuridis yang sangat banyak, dari hal manakah
kekurangan kita untuk meniadakan pencemaran lingkungan? Padahal
tujuan ilmu pengetahuan jelas adalah untuk kesejahteraan hidup kita.
Tujuan akhir dari “pencemaran lingkungan” pada prinsipnya adalah
menjadi landasan berpijak dalam hal perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup. Ia bersama dengan disiplin ilmu lain menopang
kesejahteraan manusia. Itulah pandangan filosofis pencemaran
lingkungan yang sedang kita pelajari ini.
Bukan sebaliknya. Perkembangan ilmu dan teknologi malah
menyeret manusia hidup dalam kualitas lingkungan yang buruk
(cemar dan rusak). Sehingga kualitas manusia yang hidup di dalamnya
pun buruk. Ilmu-ilmu lain yang diasumsikan tegak berorientasi pada
pemenuhan kebutuhan hidup manusia saja, bukanlah menjadi “lawan”
dari ilmu pencemaran lingkungan.

30 Pencemaran Lingkungan
Seyogianya, semua ilmu dan pengetahuan manusia berorientasi
pada kesejahteraan umat manusia dengan lingkungan yang mendukung
untuk itu. Semua ilmu dan teknologi mesti menyatukan cara pandang
antara fungsi ekonomis dan fungsi ekologis serta fungsi sosial.
Ketiga fungsi tersebut, disebut sebagai pilar dalam konsep
pembangunan berkelanjutan.

C. Konsep Dasar Ilmu Lingkungan dan Aplikasinya


1. Prinsip Ilmu Lingkungan
Salah satu ilmu yang bersinergis dengan pencemaran lingkungan
adalah ilmu lingkungan. Memahami ilmu lingkungan secara utuh
sebagai satu disiplin, tentu tidak substansi buku ini. Tetapi penting
diketahui prinsip-prinsip ilmu lingkungan itu dalam membangun
kerangka konsep pencemaran lingkungan secara terstruktur.
Ilmu Lingkungan merupakan sebuah ilmu yang multidisiplin.
Sebagai sebuah disiplin ilmu yang merupakan bidang akademik, ilmu
lingkungan mengintegrasikan ilmu fisika, biologi, kimia, ekologi,
ilmu tanah, geologi, sains atmosfer, dan geografi untuk mempelajari
lingkungan, serta menemukan solusi dari permasalahan lingkungan
yang ada.
Pada prinsipnya Ilmu Lingkungan mengkaji segala sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan lingkungan, meliputi perubahan
lingkungan, pelestarian fungsi lingkungan dan pengelolaan lingkungan
hidup. Tentu salah satu yang menjadi fokus dan telaah dalam ilmu
lingkungan ialah pencemaran yang terjadi, dan kerusakan lingkungan.
Secara definisinya, Ilmu Lingkungan dapat dikatakan sebagai:
(1) Ilmu yang mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari
hubungan jasad hidup (manusia) dengan lingkungannya
(lingkungan hidup).
(2) Ilmu interdisipliner untuk mengukur dan menilai perubahan
dan dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem, sedemikian
rupa sehingga manusia dapat mengelola ekosistem tersebut demi
kehidupannya sendiri (Johnson, 1977).

Bab 1 | Pendahuluan 31
Istilah lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar suatu
makhluk hidup yang mana lingkungan itu memberikan pengaruh
pada makhluk hidup tersebut. Istilah lingkungan ini pun mengalami
relativitas ruang lingkup. Bisa luas dan bisa sempit tergantung bahasan
yang akan dikaji.
Lingkungan terdiri dari beberapa ranah kajian, yang apabila dilihat
dari interaksi yang terjadi di antara komponennya itu, bisa dibagi
menurut tipe ekosistem. Kita mengenal ekosistem pesisir, ekosistem
hutan dan ekosistem kota. Hal itu tetap merupakan bahasan dalam
ilmu lingkungan.
Dijelaskan secara yuridis formal dalam Undang-Undang No. 32
Tahun 2009 bahwa yang berada di luar suatu organisme yang disebut
sebagai lingkungan hidup itu ialah meliputi kesatuan ruang dengan
semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya, yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

2. Ilmu Lingkungan Sebagai MultiDisiplin


Ilmu Lingkungan merupakan ilmu murni yang multidisiplin. Sama
halnya dengan ilmu pencemaran lingkungan. Untuk mengkaji persoalan
lingkungan tidak bisa dengan satu disiplin ilmu saja dalam hal perspektif
dan pendekatannya.
Tujuan mempelajari Ilmu Lingkungan juga tak lepas dari upaya
manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Hanya saja dalam Ilmu
Lingkungan fokus upaya terletak pada lingkungan secara holistik,
bukan pada sumber daya manusia menurut kacamata ekonomi. Ilmu
Lingkungan sangat dekat dengan ekology. Ekology adalah salah satu
cabang Biologi yang khusus mempelajari interaksi antara satu organisme
dengan sesamanya, dan dengan organisme lainnya, atau dengan
lingkungan abiotik dan biotiknya.

32 Pencemaran Lingkungan
Dalam Ilmu Lingkungan secara praktis, sering diterapkan prinsip-
prinsip ekology yang mengkaji bentuk interaksi yang ada pada suatu
ekosistem menurut tipologinya, guna menjelaskan suatu keadaan
lingkungan. Hal ini dilakukan guna mencapai peningkatan kualitas
lingkungan hidup.
Pada praktisnya, Ilmu Lingkungan merupakan perpaduan konsep
dan asas berbagai ilmu yang bertujuan untuk mempelajari dan
memecahkan masalah yang menyangkut hubungan antara makhluk
hidup dengan lingkungannya. Masalah yang ada pada lingkungan hidup
selalu ada, selagi manusia hidup di dalamnya dan berinteraksi.
Masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan berkembang,
menyertai perkembangan di dalam ilmu lingkungan itu sendiri baik
secara teoretis maupun terapan. Pencemaran dengan kerusakan
lingkungan dalam kajian keilmuan dan ranah yuridis adalah dua hal
yang berbeda. Tapi keduanya tetap bermuara pada degradasi lingkungan
hidup, yang menjadi titik pangkal ilmu lingkungan menjadi eksis.

3. Masalah Degradasi Lingkungan


Degradasi lingkungan diindikasikan dengan menurunnya fungsi
komponen lingkungan hidup. Ini adalah salah satu contoh bahan kajian
dalam ilmu lingkungan.
Dicontohkan dengan salah satu komponen lingkungan seperti
tanah yang di atasnya tumbuh flora dan hidup berkembang biak fauna
tertentu. Tetapi, manusia melakukan aktivitas yang merusak komponen
lingkungan itu, seperti pengambilan pohon kayu (flora) yang tentu
berakibat pada punahnya fauna yang ada. Pengambilan pohon kayu
diikuti pula dengan pengerukan tanah di perbukitan untuk keperluan
bahan bangunan oleh manusia.
Peristiwa ini adalah perusakan lingkungan oleh manusia. Disebut
dengan kerusakan lingkungan, bukan pencemaran. Hal ini berakibat
terjadinya degradasi lingkungan hidup yang dapat dijelaskan melalui
Gambar 1.5 berikut.

Bab 1 | Pendahuluan 33
Gambar 1.5 Degradasi Lingkungan Hidup

Dari Gambar 1.5 terlihat suatu keadaan yang disebut degradasi


lingkungan hidup. Awalnya, bukit ini merupakan suatu sistem
keseimbangan alamiah. Di dalamnya terdapat peristiwa rantai makanan
dan energi. Di samping itu, komponen lingkungan itu pun menjadi salah
satu komponen di dalam siklus hidrologi. Air hujan yang turun dari langit,
sebelum mengalir ke badan air, terlebih dahulu diserap oleh bukit ini.
Tapi, kemudian manusia untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan hidupnya mengambil kayu dan tanah yang ada di bukit itu.
Akibatnya tentu sistem keseimbangan yang ada telah berubah. Tanah,
flora dan fauna yang ada sudah terganggu.
Fungsi bukit itu pun menurun. Awalnya bisa berfungsi menahan
air hujan, sebelum didistribusikan ke badan air tapi sekarang tidak
lagi. Air hujan yang turun deras, justru akan mengakibatkan terjadinya
penghanyutan tanah yang ada. Terjadilah longsor. Terjadilah banjir dan
lain sebagainya masalah lingkungan.
Sering peristiwa perusakan/kerusakan lingkungan ini diikuti
dengan pencemaran lingkungan. Atau sebaliknya. Sehingga peristiwa
degradasi lingkungan hidup pun menjadi cepat terjadi.

34 Pencemaran Lingkungan
Dicontohkan pada kawasan perumahan yang ada di sekitar bukit
itu, seandainya sampah pun berserakan, maka hal ini mempercepat
terjadinya banjir. Sampah yang berserakan dalam hal ini adalah peristiwa
pencemaran lingkungan. Tentu, di sinilah perannya kita mempelajari
pencemaran lingkungan sebagai ilmu.

D. Resume
Konsep pencemaran lingkungan di samping mengenal definisi dari
peristiwa pencemaran lingkungan sebagai “masuk atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku
mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan” juga harus mempunyai
metodologi dan pengembangan serta penerapan upaya pengendalian
terhadap pencemaran lingkungan itu sendiri.
Demikianlah secara filosofis ilmu, pencemaran lingkungan tidak
hanya sebatas ontologis, tapi juga mempunyai epistomologis serta
aksiologisnya. Di samping itu, pencemaran lingkungan juga memiliki
fokus kajian atau mempunyai objek yang jelas dan tegas baik dipandang
dari segi objek formil maupun dari sudut pandang objek materil.
Secara konseptual, pencemaran lingkungan dapat diskemakan
sebagai terlihat pada Gambar 1.6 berikut.

Scope
Source
What is Pollution? Process
What
Why does Pollution?
Happened? When
Where
How does Pollution?
Happened?

Gambar 1.6 Skematis Konsep Pencemaran Lingkungan

Bab 1 | Pendahuluan 35
Scope adalah ruang lingkup, atau cakupan. Source berarti sumber
dan process berarti serangkaian peristiwa atau kejadian yang sistematis.
Proses ini selanjutnya ditelusuri dan dikaji lebih detail lagi dalam ranah
pencemaran lingkungan berupa apa penyebabnya, kapan waktunya dan
di mana tempatnya.
Konsep pada Gambar 1.6 masih dalam tataran umum. Tapi sudah
tepat dan tegas memberikan landasan yang kokoh terhadap wacana
pencemaran lingkungan baik sebagai peristiwa, maupun sebagai ilmu
dalam teoretis dan praktis. Tentu, pencemaran lingkungan akan selalu
berkembang seiring waktu ke depan. Tapi konsep ini tak berubah.
Untuk pengkajian lebih lanjut, pencemaran lingkungan tak bisa berdiri
sendiri, karena ia merupakan sebuah disiplin ilmu yang multidisipliner.
Sehingga ia tegak dan berdiri dibangun dari bermacam-macam teori dan
metodologi dari disiplin ilmu lain.
Lanjutan dari Gambar 1.6 di atas, selanjutnya dapat ditelusuri
proses berikutnya melalui Gambar 1.7 di bawah ini.

Scope
General
Source Perspective
What is Pollution? Process Industries
Activities
Why does Pollution?
Behavior
Happened?

How does Pollution? What Polluter


Happened?
Pollutant
When
Where
Pollution

Water/Soil/Air
Environment

Gambar 1.7 Diagram Alur Pencemaran Lingkungan

36 Pencemaran Lingkungan
Keterangan:
1. What a Pollution: Berarti pandangan umum (general perspective), tentang
scope (ruang lingkup) dari peristiwa pencemaran lingkungan. Bisa
dikonseptualkan dalam suatu definisi berupa terjadinya perubahan
lingkungan akibat manusia, sehingga lingkungan memberikan
pengaruh negatif bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain.
2. Why does Pollution Happened: Berarti menjelaskan tentang sumber
(sources) pencemar, yaitu (1) industri, (2) aktivitas manusia sehari
hari dan (3) perilaku. Ketiganya merupakan polluters.
3. How does Pollution Happened: Berarti menjelaskan tentang proses
terjadinya pencemaran. Dijelaskan dengan terjadinya pencampuran
antara pollutant yang disebabkan oleh adanya polluters dengan
lingkungan. Proses ini dicermati melalui (1) apa yang mencemari/
polutan (2) di mana terjadinya, apakah di air, tanah dan atau
udara,(3) kapan di mana terjadinya.

Terlihat dari Gambar 1.7 bahwa persoalan pencemaran lingkungan


tidak berhenti dikaji sebatas apa, kapan dan di mana saja. Tapi lebih jauh
dikaji lagi tentang keberadaan bahan pencemar dan sumber pencemar
yang bercampur dengan lingkungan (pada Gambar 1.7 berupa lingkaran
hitam) sehingga disebut pencemaran lingkungan (pollution).

Bab 1 | Pendahuluan 37
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
BAB
2
PARADIGMA PENCEMARAN
LINGKUNGAN

Sebelum lebih jauh dikupas tentang paradigma pencemaran


lingkungan, ada baiknya kita telaah lebih dahulu tentang pengertian
dari paradigma pencemaran lingkungan itu. Paradigma pencemaran
lingkungan, sebagai alat atau kendaraan bagi kita untuk memandang
secara utuh pencemaran lingkungan.
Sejauh ini, telah dipahami bahwa pencemaran lingkungan
sebagai sebuah konsep yang bisa menjawab pertanyaan (1) apakah itu
pencemaran lingkungan, (2) mengapa terjadinya dan (3) bagaimana
proses terjadinya. Di samping itu, pencemaran lingkungan memiliki
banyak perspektif, dan memiliki keterkaitan fundamental dengan ilmu
lingkungan, baik dalam teoretis, metodologi, dan aplikatif. Itulah yang
sudah kita pelajari di Bab I sebelum ini.

A. Apa itu Paradigma?


Paradigma sering ditafsirkan secara sederhana sebagai sudut
pandang. Padahal kata “perspektif ” lebih cocok digunakan sebagai
“sudut pandang terhadap sesuatu objek”. Apabila objek yang dipandang
dari sisi tertentu kemudian ditafsirkan oleh seseorang berdasarkan hasil
olah pikirnya, maka itu diistilahkan dengan “persepsi”. Lantas apakah
sebenarnya maksud dan batasan paradigma itu?
Kata “paradigma” berasal dari kata serapan yang berasal dari bahasa
Inggris yaitu paradigma (baca: peredeim). Adapun makna leksikologinya
dapat dilihat pada Kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia yang
diterjemahkan sebagai pola atau model.

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 39


Selanjutnya, ditinjau dari makna gramatikalnya, ternyata kata
paradigma telah mengalami perluasan makna. Sudah banyak digunakan
secara eksklusif. Di bidang keilmuan, kata paradigma pun sudah populer
dan sering digunakan sebagai alat untuk mengkaji dan menelaah suatu
konsep.
Dengan demikian, dipahami bahwa kata paradigma sudah
mengalami kekhususan makna sesuai dengan kata yang mengikutinya.
Kata yang mengikuti “paradigm”, berarti objek yang sedang dirujuknya,
dan mempunyai pengertian khusus tergantung objek tersebut.
Selanjutnya juga tergantung pada ranah apa objek tersebut. Apakah di
ranah keilmuan atau bahasa populer.
Orang yang pertama kali menggunakan istilah paradigma dalam
ilmu pengetahuan ialah Thomas Kuhn. Di mana ia mendefinisikan
paradigma sebagai suatu pandangan yang mendasar terhadap apa yang
menjadi pokok persoalan dari suatu cabang ilmu.
Sementara itu, ada juga ahli yang menyederhanakan pengertian kata
paradigma sebagai “usaha untuk mengejar kebenaran melalui model-
model tertentu” . Pengertian ini lebih kepada suatu realitas. Artinya,
bagaimana menerapkan model-model tertentu dalam mendapatkan
suatu realitas.
Pengertian selanjutnya ialah bahwa paradigma merupakan pola
atau model bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya)
dan bagaimana bagian-bagian tersebut berfungsi (objek di dalamnya
memiliki konteks khusus atau dimensi waktu). Pengertian inilah yang
akan kita gunakan dalam sub bab ini. Implikasinya ialah bagaimana
pencemaran lingkungan itu distruktur dan bagaimana bagian-bagian
di dalamnya itu berfungsi.
Dapat dipahami bahwa paradigma lebih kepada substansial objek
yang dimaknai secara mendalam, mendasar dan komprehensif yang
tidak mengandung bias dari unsur subjektif dan perspektif dari salah
satu sudut pandang atau hanya dari suatu cabang ilmu.
Artinya, penggunaan kata paradigma telah digunakan dalam
keilmuan sebagai suatu cara pandang yang komprehensif dan mendasar
sehingga mengkaji objek itu secara struktural dan menjelaskan
bagaimana bagian-bagian yang menyusunnya itu berfungsi (terkait
secara fungsional). Hal ini berarti, tidak sekadar sudut pandang.

40 Pencemaran Lingkungan
B. Paradigma Pencemaran Lingkungan Sebagai Ilmu
Paradigma pencemaran berarti menjelaskan tentang apa sajakah
yang ada dalam pencemaran lingkungan itu secara struktur dan fungsi.
Sehingga kemudian dapat dianalisis implikasinya, untuk dikaji lagi
dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan tentang pencemaran
lingkungan ke depan.
Secara struktur berarti merujuk pada “apa dan bagaimana” komponen
pada pencemaran lingkungan itu. Secara fungsional berarti merujuk pada
“bagaimana keterkaitan peran masing-masing komponen” dalam peristiwa
pencemaran lingkungan itu.
Dari konsep dan perspektif pencemaran lingkungan terdahulu,
sudah dapat sekarang disimpulkan bahwa dalam mempelajari pencemaran
lingkungan sebagai sebuah paradigma, kita akan menemukan beberapa
komponen yang menyusun dan berperan dalam dinamika peristiwa
pencemaran lingkungan, yaitu
1. Apa yang dilakukan manusia
2. Bagaimana manusia melakukan
3. Untuk apa manusia melakukan
4. Apa dan bagaimana dampaknya terhadap manusia dan lingkungan
hidup.
5. Apa dan bagaimana upaya pengendalian dampak akibat perlakuan
manusia itu.
Dengan mengenal lima komponen atau aspek itu, sekaligus melihat
bagaimana masing-masingnya terkait satu sama lain, maka kita sudah
memiliki sebuah paradigma tentang pencemaran lingkungan sebagai
ilmu, baik secara teoretis maupun praktis.
Apabila pencemaran lingkungan belum dipandang secara utuh
memuat lima komponen atau aspek di atas, maka eksistensi pencemaran
lingkungan belum diletakkan pada tempat yang benar.
Apabila salah satu saja dari lima aspek itu tidak dikaji, lalu kita
menyebut mempelajari tentang pencemaran lingkungan, maka apa yang
kita sebut mempelajari itu, belum memberi makna yang sesungguhnya.
Pengetahuan tentang pencemaran lingkungan yang kita punyai
belum sampai pada pengetahuan yang bermakna (meaningful learning)
apabila membicarakan pencemaran lingkungan hanya tentang sumber
pencemar, bahan pencemar, dan dampaknya terhadap lingkungan saja.

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 41


Tetapi, kita mesti mengkaji kelima komponen di atas, apabila kita
berbicara tentang paradigma pencemaran lingkungan.
Sebelumnya, pada Gambar 1.1 halaman 3 telah tergambar perspektif
pencemaran lingkungan yang dicontohkan dengan kegiatan penambangan
emas tanpa izin. Hal itu belum lengkap disebut sebagai sebuah paradigma.
Karena masih berbicara dalam satu lingkup variabel dan faktor. Belum
sampai pada penggambaran realitas yang kompleks dan merupakan suatu
sistem.
Paradigma pencemaran lingkungan dalam konsep ilmu lingkungan,
berimplikasi pada kemampuan memahami dan mendelineasikan proses
dan mekanisme pencemaran lingkungan serta pengendaliannya.
Paradigma lingkungan menggeser cara pandang linear yang
implikatif terhadap lingkungan, menjadi cara pandang menyeluruh,
holistik dan komprehensif. Untuk itu, dikembangkanlah pendekatan
sistem dalam pemodelan lingkungan.
Mari kita cermati Gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Paradigma Pencemaran Lingkungan

42 Pencemaran Lingkungan
Keterangan:
(1) Apa yang dilakukan manusia
Hal ini menentukan sumber pencemar (poluter).
Pada gambar terlihat sumber pencemar berupa kegiatan industri dan
perilaku manusia.
(2) Bagaimana manusia melakukan
Hal ini yang menentukan jenis bahan pencemar (polutan) serta
bagaimana proses dan mekanisme masuknya bahan pencemar
ke lingkungan hidup sehingga terjadilah peristiwa pencemaran
lingkungan (polution).
(3) Untuk apa manusia melakukannya
Hal ini berhubungan dengan alasan terjadinya pencemaran
lingkungan itu. Maksudnya ialah mengapa manusia mesti mencemari
lingkungan. Tentu berhubungan dengan tujuan ekonomis.
Hal ini menjadi pertimbangan untuk langkah pengendalian
pencemaran nantinya.
(4) Apa dampak dari pencemaran terhadap komponen lingkungan hidup
yang digambarkan dalam masing-masing lingkaran yang bertuliskan
tanah, air, udara.
(5) Apa dan bagaimana langkah pengendalian pencemaran lingkungan
yang telah terjadi. Seharusnya tentu sebelum terjadi, sehingga
kalimat yang tepat ialah:
“Apa dan bagaimana langkah pengendalian terhadap pencemaran
lingkungan akibat suatu aktivitas ekonomi manusia yang akan
dilakukan.
Upaya pengendalian pada Gambar 2.1 terlihat mempunyai dua
anak panah. Pertama berawal dari ketika manusia telah menentukan apa
yang akan dilakukannya. Artinya, manusia telah merencanakan dampak
pengendalian terhadap apa yang akan dikerjakannya dan diperkirakan
akan menimbulkan dampak berupa pencemaran terhadap lingkungan
nanti.
Upaya yang kedua terlihat dari arah anak panah “untuk apa manusia
melakukan”. Upaya ini lahir dari sebuah jawaban untuk apa kegiatan
yang mencemari lingkungan itu dilakukan. Jika jawaban atas pertanyaan
itu untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan hidup manusia, maka

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 43


manusia perlu menyertai pula dengan upaya pengandalian terhadap
pencemaran yang telah terjadi.
Sumber pencemar (poluter) adalah kegiatan industri, perilaku
masyarakat yang masih belum berperilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) sehingga masalah sampah domestik menjadi momok dalam
kehidupan sehari-hari, aktivitas pasar, rumah sakit dan perkantoran
dan lain sebagainya adalah sumber terjadinya pencemaran lingkungan.
Kesemua aktivitas manusia itu akan memunculkan bahan pencemar
terhadap lingkungan hidup. Munculnya bahan pencemar adalah suatu
hal yang tak terelakan. Setiap aktivitas manusia, apalagi di industri akan
selalu menghasilkan sisa atau limbah (waste).
Limbah adalah bahan yang tidak diperlukan oleh manusia dalam
suatu aktivitas tertentu, sehingga disebut sisa.
Sisa itu pun digolongkan menurut wujudnya. Ada yang berwujud
cair (liquid waste), padat (solid waste) yang dalam sehari-hari disebut
sebagai sampah serta wujud gas dan partikel (gas and particle waste).
Wujud ini, akan menentukan pula teknik pengendaliannya dalam upaya
pencegahan pencemaran lingkungan.
Besar kecilnya jumlah (kuantitas) limbah tergantung bagaimana
manusia melakukan kegiatan industri, berperilaku hidup bersih dan sehat,
baik di kantor, rumah sakit, pasar, dan lain sebagainya. Sedangkah kuantitas
limbah itu, sangat ditentukan oleh poluter dan polutan yang ada akibat
aktivitas manusia. Secara rinci hal ini akan dibahas di bab-bab selanjutnya.

1. Batasan Pencemaran Lingkungan Sebagai Ilmu


Dari pembahasan di awal yang dimulai dengan konsep dan sudut
pandang pencemaran lingkungan kemudian dikaitkan dengan prinsip
prinsip ilmu lingkungan paling tidak telah memberi sebuah gambaran
umum tentang pencemaran lingkungan.
Walaupun masih secara umum, tapi pemahaman tentang
pencemaran lingkungan yang didapat itu, sudah komprehensif dan
memiliki kerangka yang tegas dan jelas. Terutama pembahasan dan
penyimpulan serta pemaknaan kita terhadap paradigma pencemaran
lingkungan yang memberikan secara utuh lima komponen atau aspek
kajian dalam mempelajari pencemaran lingkungan.

44 Pencemaran Lingkungan
Barangkali, kita sudah bisa memberikan definisi (batasan) terhadap
pencemaran lingkungan saat ini.
Definisi pencemaran lingkungan ialah:
“Suatu ilmu dan seni yang mempelajari terjadinya perubahan
lingkungan ke arah yang tidak diinginkan oleh manusia sebagai akibat
dari perbuatannya, dan mengembangkan metode dan pendekatan
guna menemukan solusi sehingga fungsi lingkungan menjadi optimal
bagi manusia”.
Mempelajari pencemaran lingkungan, tidak hanya sekadar memahami
pengertian terjadinya peristiwa yang disebut sebagai lingkungan tercemar,
sebagaimana yang didefinisikan pada konsep pencemaran lingkungan di
awal bab ini. Tapi lebih dari itu, seorang yang telah memahami pencemaran
lingkungan, mesti mampu mengembangkan metode dan pendekatan untuk
mencari solusi terhadap permasalahan lingkungan yang tercemar itu.
Metode dan pendekatan yang ada di dalam pencemaran lingkungan,
tak lepas dari 5 (lima) komponen atau aspek kajian yang sudah kita
tentukan di atas. Begitulah cara memandang pencemaran lingkungan
sebagai sebuah paradigma.
Paradigma pencemaran lingkungan selaras dengan cara pandang
terhadap lingkungan dalam ilmu lingkungan. Secara akademisi, metodologi
dan pendekatan terhadap lingkungan ini telah berkembang sebagai
pendekatan sistem.
Dalam pendekatan sistem, diasumsikan bahwa potret realitas yang
ada pada suatu objek kajian lingkungan, ditampilkan secara miniatur yang
mampu representatif terhadap kondisi real. Konsep inilah yang merupakan
embrio lahirnya pemodelan lingkungan.
Seorang ahli lingkungan tidak berbicara dari satu variabel berpengaruh
terhadap variabel lain. Tapi berbicara tentang sebuah model yang
memperlihatkan keterkaitan kuat satu sub sistem dengan sub sistem
lain, yang apabila dikuantitatifkan, akan bisa dijadikan sebagai prediktor
(memperkirakan).
Pendekatan sistem ini dipelajari oleh calon doktor ilmu lingkungan
dalam mata kuliah Analisis Pemodelan Lingkungan di bangku kuliah. Hal
ini memberikan landasan cara pandang dan pendekatan terhadap persoalan
di ranah lingkungan, di mana pencemaran lingkungan adalah salah satu
aspek di dalam persoalan ilmu lingkungan.

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 45


2. Pencemaran Lingkungan dalam Konsep Pembangunan
Berkelanjutan
Dengan pemahaman kita terhadap paradigma dan batasan dari
pencemaran lingkungan sebagai ilmu, selanjutnya kita akan temukan
eksistensi pencemaran lingkungan dalam konsep pembangunan
berkelanjutan. Hal ini sangat penting sehingga kita dapat memandang
signifikansi pencemaran lingkungan dalam tataran yang aplikatif.

a. Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)


Pembangunan berkelanjutan bisa dipahami sebagai suatu proses
pembangunan yang dilaksanakan secara berlanjut. Proses pembangunan
dipahami tidak terputus atau tidak terhenti di suatu waktu dan tempat.
Tapi apakah memang sesederhana mengucapkannyakah pelaksanaan
pembangunan berkelanjutan tersebut? Kita mesti sadar bahwa suatu
konsep yang telah dirancang dengan baik dan ideal, tidak bisa dinilai
baik atau optimal apabila dalam implementasinya tidak sesuai dengan
visi yang dimuat di dalam konsep tersebut.
Apabila tidak diketahui apa dimensi yang bertaut di dalam ranah
pembangunan yang dimaksud sebagaimana di atas, maka implementasi
dari pembangunan itu tak akan pernah bisa dicapai. Konsep dan visi
yang ada, akan menjadi sebuah agenda yang tersimpan rapi dalam
dokumen negara.
Oleh karena itu, perlu ditelisik dan dianalisis lebih jauh terhadap
aspek atau komponen yang ada di dalam konsep pembangunan
berkelanjutan tersebut. Khususnya terkait dengan fungsi lingkungan,
di mana ia bisa mendukung dan menopang pembangunan yang
diselenggarakan itu, sehingga bisa berlanjut terus-menerus.
Oleh karena itu, diperlukan wawasan yang mendasar terhadap
konsep pembangunan berkelanjutan, agar dimensi yang terintegrasi di
dalamnya dan berpotensi terhadap persoalan yang akan muncul dapat
dikenali dan diidentifikasi.
Selanjutnya berdasarkan itulah bisa disusun dan direncanakan
berbagai metodologi dan pendekatan untuk mempersiapkan dan
menerapkan solusinya.

46 Pencemaran Lingkungan
Dengan demikian, implementasi dari pembangunan yang dimaksud
menjadi efektif dan efisien. Efektif terjadi, apabila sasaran yang telah
dicapai sesuai dengan target dan tujuan serta tepat untuk menjawab
pertanyaan mengapa.
Efisien terjadi apabila pencapaian sasaran dapat dilaksanakan dalam
waktu dan biaya yang minimal serta tepat untuk menjawab pertanyaan
bagaimana.
Mencapai efektivitas dan efisiensi, atau dengan kata lain untuk
mampu dengan tepat menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana
suatu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan diimplementasikan,
konsekuensinya ialah diperlukan pemahaman terhadap prinsip dan
hal yang mendasari serta tujuan dan ruang lingkup dari konsep
pembangunan berkelanjutan itu sendiri.
Pemahaman tentang prinsip dan tujuan serta ruang lingkup dari
konsep pembangunan berkelanjutan, akan memberi sinyal element
tentang potensi persoalan yang akan muncul. Ataupun dalam
implementasinya, telah mengindikasikan suatu keadaan yang benar-
benar sudah merupakan permasalahan kontemporer.
Untuk itulah dalam sub bab ini akan dibahas terlebih dahulu
tentang substansi dari konsep pembangunan berkelanjutan itu, sebelum
panjang lebar membahas tentang implementasinya dan bagaimana
keterkaitannya dengan pencemaran lingkungan.
Pengertian pembangunan berkelanjutan dapat merujuk pada
definisi yang diberikan oleh WCED (1987) bahwa pembangunan
berkelanjutan ialah pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengabaikan hak generasi mendatang untuk
memenuhi kebutuhan mereka (development that meets the needs of the present
without compromising the ability of future generations to meet their own need).
Lebih jauh menurut Brundtland Report dari PBB (1987) pembangunan
berkelanjutan adalah proses pembangunan yang mencakup tidak hanya
wilayah (lahan, kota) tetapi juga semua unsur, bisnis, masyarakat, dan
sebagainya yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa
mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”.

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 47


Dengan demikian, yang menjadi prinsip pembangunan berkelanjutan
ialah keberlanjutan pelaksanaan pembangunan sampai ke generasi
mendatang, yang dikondisikan dari ketersediaan sumber daya lingkungan
yang optimal. Artinya, pelaksanaan pembangunan di masa sekarang, tidak
menyebabkan terjadinya pengurasan sumber daya lingkungan.
Soemarwoto (2001) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan
adalah di mana lingkungan dapat mendukung pembangunan secara
terus-menerus karena tidak habisnya sumber daya yang menjadi modal
pembangunan. Modal itu sebagian berupa modal buatan manusia,
seperti ilmu dan teknologi, pabrik dan prasarana pembangunan.
Sebagian lagi modal itu berupa sumber daya alam, baik yang bersifat
terperbarui, maupun yang tak terperbarui.
Sumber daya alam yang terbarukan dan yang tak terbarukan berarti
menyangkut masalah fungsi ekologis. Dengan demikian, fungsi ekologis
merupakan hal yang menentukan dalam pembangunan berkelanjutan.
Hal lain yang menentukan pembangunan berkelanjutan selain
fungsi ekologis, ialah lingkungan sosial budaya. Apabila kondisi
lingkungan sosial dan budaya tidak berada dalam kondisi yang optimal,
di mana terjadinya kesenjangan sosial yang tinggi misalnya, maka
pembangunan berkelanjutan juga tidak dapat dilaksanakan. Lagi lagi
kita diajak berpikir secara komprehensif. Kita tidak bisa memandang
ada satu variabel berpengaruh terhadap satu variabel yang lain.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan
tak lepas dari fungsi ekonomis, fungsi ekologis dan fungsi sosial.
Ketiga fungsi tersebut tak lepas dari masalah lingkungan. Sehingga,
Soemarwoto (2001) menegaskan bahwa untuk mencapai pembangunan
berkelanjutan, pembangunan itu haruslah berwawasan lingkungan.
Dengan kata lain, pembangunan berwawasan lingkungan adalah
syarat yang harus dipenuhi agar pembangunan dapat dilaksanakan
secara berkelanjutan.
Cara pandang kita ialah mempersatukan (mengintegrasikan) fungsi
ekologis dengan ekonomis serta sosial.
Adalah naif apabila mencapai kepentingan ekonomis dan kesejahteraan
sosial, berarti mengorbankan kepentingan ekologis. Dan sebaliknya juga
tidak berpersepsi bahwa peningkatan fungsi ekologis berarti menghambat
atau menjadi kendala dalam peningkatan ekonomis dan sosial.

48 Pencemaran Lingkungan
Memang untuk bisa memahami dan melaksanakan proses
pembangunan berkelanjutan di atas, tidaklah mudah. Menjadi sangat
sulit apabila masih adanya ego sektoral pelaku pembangunan itu sendiri.
Sudah saatnya para pelaku pembangunan sesuai peran masing-masing
berinteraksi dan membentuk suatu sistem yang menganut prinsip dari
pembangunan berkelanjutan. Prinsip itu ialah (1) peningkatan fungsi
ekonomis, (2) fungsi ekologis, dan (3) fungsi sosial. Secara skematis
dapat diperhatikan Gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2 Skema Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Dari Gambar 2.2 terlihat bahwa ketiga fungsi berupa ekonomis,


ekologis dan sosial hanya bisa dilaksanakan pada suatu kondisi daya
dukung lingkungan yang optimal. Optimal tidaknya daya dukung
lingkungan akan berhubungan dengan keadaan atau kondisi yang
disebut juga dengan istilah rona lingkungan hidup.
Artinya, lingkungan yang tercemar, mustahil memberikan daya
dukung optimal bagi tatanan kehidupan manusia, baik secara
ekonomis, sosial apalagi ekologis.
Dari sini sudah bisa dirasakan keberadaan pencemaran lingkungan
sebagai ilmu yang kita pelajari dalam konsep pembangunan berkelanjutan
ini bukan?

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 49


Benar sekali, tanpa adanya pemahaman terhadap pencemaran
lingkungan maka mustahil bisa pembangunan yang ditopang oleh
fungsi lingkungan itu bisa mencapai peningkatan fungsi ekonomis,
fungsi ekologis dan fungsi sosial.

b. Masalah dalam Pembangunan Berkelanjutan


Jika tujuan pembangunan berkelanjutan untuk peningkatan tiga
fungsi yang telah dijelaskan di atas, maka yang akan menjadi masalah
di masing-masing fungsi tentu tak akan keluar dari konteks di ranahnya
masing-masing. Secara garis besar, masalah itu ialah:
1) Masalah Ekonomis
a) Rendahnya Kesejahteraan
b) Rendahnya Produktivitas
c) Rendahnya kualitas SDM
2) Masalah Ekologis
a) Menurunnya kualitas lingkungan hidup
b) Keterbatasan sumber daya alam
c) Keterbatasan biodiversity
d) Kerusakan plasma nuftah
3) Masalah Sosial
a) Kesenjangan sosial dan potensi masalah politik
b) Kurangnya solidaritas
c) Kriminalitas yang tinggi
Ke semua masalah yang ada di atas, membentuk akumulasi
sehingga saling menumpuk dan membesar, bukan malah saling
menuju keseimbangan. Sebenarnya 10 (sepuluh) yang ada itu
bukan merupakan akar masalah yang sesungguhnya, tapi hanya
gejala atau akibat yang ditimbulkan dari akar penyebab masalah.
Untuk menelaah akar masalah itu, mari kita cermati Gambar 2.3
berikut.

50 Pencemaran Lingkungan
1. Rendahnya kesejahteraan
2. Rendahnya produktivitas
3. Rendahnya kualitas SDM

4. Menurunnya kualitas
lingkungan hidup
5. Keterbatasan
sumber daya alam
6. Keterbatasan biodiversity
7. Kerusakan plasma nuftah

8. Kesenjangan sosial
dan maslah politiok
9. Kurangnya solidaritas
10. Kriminalitas yang tinggi

Gambar 2.3 Diagram Alur Masalah dalam Pembangunan Berkelanjutan

Dari Gambar 2.3 terlihat bahwa terdapat tiga pokok masalah


dalam pelaksanaan pembangunan bekelanjutan yang bertujuan untuk
peningkatan fungsi ekonomis, ekologis dan sosial. Kenyataannya, masing
masing fungsi mempunyai kesenjangan antara harapan dan kenyataan
yang bisa kita sebut sebagai permasalahan.
Gejala permasalahan yang ada, tak lepas dari persoalan pencemaran
lingkungan. Pencemaran lingkungan bisa berakibat timbulnya masalah
di tiap aspek, baik ekonomis, ekologis maupun sosial. Masing-masing
aspek inilah yang kemudian memunculkan permasalahan yang
sedemikian kompleks dan komplit menjadi 10.
Oleh karena itu, dalam konsep pembangunan berkelanjutan, peran
pencemaran lingkungan sangat menentukan. Apabila pencemaran
lingkungan yang terjadi dapat dieliminir maka ketiga fungsi yang
menjadi tujuan pembangunan bisa tercapai, karena daya dukung
lingkungan sudah optimal.

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 51


C. Resume
Ilmu lingkungan telah mewadahi kajian dan metodologi yang ada di
dalam pencemaran lingkungan dalam perkembangannya baik secara teoretis
maupun terapan. Selanjutnya, pencemaran lingkungan juga terintegrasi di
dalam konsep pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan wawasan
lingkungan.
Dalam konsep pembangunan berkelanjutan, pencapaian tujuan
pembangunan tidak bisa dinilai dari segi ekonomis dan kesejahteraan
sosial saja. Tapi pembangunan itu, mestilah terjadi pengembangan fungsi
ekologis, ekonomis dan sosial sebagai satu kesatuan. Cara pandang yang
menyatukan ketiga aspek tersebut merupakan prinsip dalam pembangunan
berkelanjutan.
Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa terjadiya degradasi lingkungan
hidup, berarti telah terjadinya penurunan fungsi ekologis. Peristiwa ini
berdampak pada menurun pula tingkat kesejahteraan sosial, diikuti dengan
kemiskinan.
Oleh karena itu, dalam mengkaji persoalan lingkungan, diperlukan
pendekatan dari multi disiplin ilmu. Pencemaran lingkungan dalam terapan
membutuhkan ilmu-ilmu lain dalam ranah ilmu lingkungan. Sebagai
contoh dapat dilihat hubungan antara pencemaran lingkungan dengan
disiplin ilmu lain, yang disajikan pada Gambar 2.4 berikut.

Gambar 2.4 Diagram Alur Alasan Terjadinya Pencemaran Lingkungan

52 Pencemaran Lingkungan
Diawali dengan pertanyaan untuk apa manusia melakukan
sesuatu yang menyebabkan terjadinya pencemaran? Jawabnya ialah
karena manusia memenuhi kebutuhan hidup dan keinginannya.
Antara kebutuhan dan keinginan sebenarnya tidak sama, tetapi sering
dicampurkan menjadi abu-abu dalam kehidupan manusia.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana menjelaskan hal yang demikian
dalam wacana pencemaran lingkungan? Teori apakah yang akan dipakai?
Mari kita lihat Gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5 Peranan Ilmu Ekonomi

Teori yang akan menjelaskan tentang bagaimana manusia memilih


dan melakukan aktivitas untuk kebutuhan hidupnya adalah ilmu
ekonomi. Melalui teori ekonomi, mikro maka hal-hal yang berkaitan
dengan aktivitas manusia itu dapat terjelaskan.
Teori ekonomi mikro yang selalu dipegang sampai sekarang
ialah teori produksi, konsumsi, dan distribusi. Ketiga teori tersebut
menciptakan siklus ekonomi. Siklus ekonomi berputar dan bergerak
semakin lama semakin meningkatkan kesejahteraan manusia apabila di
sisi produsen senantiasa meningkatkan produksinya, sedangkan di sisi
konsumen terjadi peningkatan kesejahteraan yang diikuti pula dengan
peningkatan daya beli.
Ekonomi memegang asumsi bahwa manusia selalu memuaskan
kebutuhannya yang tidak terbatas, sementara itu sumber daya alam
bersifat terbatas. Prinsip ekonomi ialah adanya kelangkaan (scarcity)
yang mendorong manusia saling berkompetisi untuk mengeksploitas
sumber daya alam.

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 53


Penerapan teori dan prinsip ekonomi terhadap lingkungan hidup,
membentuk ilmu tersendiri yaitu ekonomi lingkungan. Ekonomi
lingkungan berperan dalam hal perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup. Bersama-sama dengan pencemaran lingkungan
mengandung prinsip meminimalisasi atau bahkan meniadakan
pencemaran lingkungan.
Mari kita cermati Gambar 2.6 berikut.

Materrial Balance
Ekonomi
Cost and Benefits
Lingkungan
Environment Protection

Gambar 2.6 Peran Ekonomi Lingkungan dalam PPLH

Ekonom Lingkungan memuat tiga konsep penting yang dijadikan


sebagai teoretik dan praktik dalam kegiatan PPLH (Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup). Dalam hal ini, terjadi sinergis dengan
pencemaran lingkungan.
Artinya, mempelajari pencemaran lingkungan sebenarnya tidak
akan berlawanan atau antagonis dengan ilmu ekonomi, apalagi
dengan ekonomi lingkungan yang berorientasi pada kesejahteraan
manusia dengan memerhatikan lingkungan sebagai sumber
daya yang mampu menopang kebutuhan hidup manusia secara
berkesinambungan.
Dalam ekonomi lingkungan, terdapat tiga konsep utama, yaitu
1. keseimbangan material (material balance),
2. analisis biaya dan manfaat (cost and benefits),
3. perlindungan lingkungan (environmental protection).

54 Pencemaran Lingkungan
Terlihat bahwa pencemaran lingkungan merupakan multidisiplin
ilmu yang pada tujuan akhirnya adalah peningkatan kualitas lingkungan
hidup manusia. Bersama-sama dengan ilmu lain untuk menuju kondisi
pembangunan berkelanjutan yang terjadinya peningkatan fungsi
ekonomis, ekologis dan sosial secara berkesinambungan.
Perlu diingat bahwa PPLH merupakan aplikatif dari peningkatan
fungsi ekologis sebagai salah satu pilar dalam pembangunan
berkelanjutan. Artinya, sampai di sini, kita sudah bisa memahami
eksistensi dan relevansi yang ada antara pencemaran lingkungan, ilmu
lingkungan dan PPLH serta pembangunan berkelanjutan.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan


bumi, dan silih bergantinya malam dan siang,
Terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal
(QS Al-Imran [3]: 190)

Bab 2 | Paradigma Pencemaran Lingkungan 55


[Halaman ini sengaja dikosongkan]
BAB PENDEKATAN
3 DALAM PENCEMARAN
LINGKUNGAN

A. Pengertian
Pendekatan atau approach bukan bermakna jarak secara kebendaan.
Dalam bahasan ilmiah, kata pendekatan bisa dipahami sebagai cara
untuk menelaah suatu objek. Di dalam suatu pendekatan, terdapat
sudut pandang dan teori yang telah ada sesuai dengan disiplin ilmu
yang digunakan.
Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, pencemaran
lingkungan tersusun dan terstruktur atas beberapa disiplin ilmu. Oleh
karena itu, pendekatan di dalam permasalahan pencemaran lingkungan
pun bisa digunakan banyak pendekatan.
Sebagai ilustrasi sederhana bagaimana yang dimaksudkan dengan
pendekatan di sini disajikan pada Pada Gambar 3.1 di bawah ini.

Masalah
A Pencemaran C
Lingkungan

Gambar 3.1 Ilustrasi Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 57


Pada Gambar 3.1, terlihat lingkaran besar yang bertuliskan “masalah
pencemaran lingkungan” Dimaksudkan sebagai sebuah keadaan di satu
lingkungan yang tercemar. Lingkungan ini dijadikan sebagai fokus atau
ruang lingkup yang akan diteliti.
Selanjutnya simbol:
A: Kimia
B: Biologi
C: Sosiologi
D: Ekonomi

Dalam ilustrasi di atas, pendekatan terhadap persoalan tercemarnya


lingkungan hidup di satu ruang lingkup “didekati” dengan masing-
masing simbol (A, B, C, dan D). Pendekatan dilakukan bisa sekaligus
dan bisa saja salah satu atau kombinasi dari beberapa aspek keilmuan
yang disimbolkan.
Misalnya jika penggunaan simbol A terhadap persoalan lingkungan
itu, maka dalam hal ini disebut pendekatan kimia terhadap kasus
lingkungan hidup yang tercemar pada ruang lingkup tertentu. Begitu
juga untuk simbol yang lain.
Dipahami bahwa persoalan lingkungan memang sangat kompleks.
Sesuai dengan karakteristik lingkungan yang tidak bisa dipandang
secara parsial, tetapi sebuah sistem. Sistem berarti memuat banyak
elemen yang membentuk suatu karakter. Apabila salah satu elemen
ditiadakan, atau berubah, akan berpengaruh terhadap karakter total
dari sistem tersebut.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan terhadap lingkungan
bersifat pendekatan sistem. Tidak bisa dari satu sudut pandang dan
terhadap satu elemen untuk menjelaskan karakter sistem keseluruhan.
Penerapan salah satu disiplin ilmu terhadap persoalan lingkungan
diduga tidak akan mampu menghasilkan sesuatu hasil riset yang
bermanfaat banyak. Sebaliknya, persoalan lingkungan yang melibatkan
banyak disiplin ilmu akan lebih menggambarkan situasi yang sebenarnya
dan solusi yang akan dihasilkan pun akan lebih mendekati akurasi.
Sebagai contoh penjabaran dalam hal pendekatan yang diilustrasikan
pada Gambar 3.1 ialah sebagai berikut.

58 Pencemaran Lingkungan
1. Pendekatan A
Berarti menggunakan konsep dan teori kimia untuk mencarikan
solusi terhadap persoalan pencemaran lingkungan. Kimia yang
khusus dalam hal ini adalah kimia lingkungan. lebih detail tentang
kimia lingkungan akan dibicarakan pada Bab III.

4. Pendekatan B
Berarti permasalahan lingkungan yang tercemar itu, diteliti
dengan menggunakan konsep dan teori dari biologi. Dalam
perkembangannya biologi yang diterapkan terhadap persoalan
lingkungan ini telah membentuk disiplin ilmu baru pula seperti
Biologi Kelautan, dan lain sebagainya sesuai dengan fokus kajian
sub sistem lingkungan yang dikategori menurut ekosistem.
Penerapan biologi terhadap persoalan lingkungan hidup yang
tercemar pada suatu pemukiman akan lebih diarahkan pada
identifikasi mikrobiologi yang ada pada bahan tercemar, dan
pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.
Solusi yang ditawarkan akan berikhtisar dalam lingkup biologi
pula. Seperti bagaimana tindakan manusia dalam mengantisipasi
masalah yang akan ditimbulkan oleh bahan pencemar tersebut.
Manusia sebagai makhluk hidup sesuai dengan sistem biologis
dalam tubuhnya mempunyai kerentanan terhadap penyakit yang
ditimbulkan oleh bakteri dan pathogen lainnya yang ada pada
lingkungan tercemar.

5. Pendekatan C
Kajian dari sudut pandang sosiologi akan lebih menitikberatkan pada
persoalan sosial. Terjadinya pencemaran pada lingkungan tempat
tinggal manusia berarti menunjukkan situasi sosial masyarakat di
situ. Perilaku sosial diteliti dan dijelaskan kemudian. Sikap dan
perilaku tidak peduli pada lingkungan lahir dan bekembang di
tengah masyarakat itu disebabkan oleh apa?
Solusi yang ditawarkan akan menghasilkan suatu keadaan ideal
di mana perilaku sosial masyarakat lebih peduli pada lingkungan
hidupnya. Solusi ini bisa diperoleh setelah melalui proses
identifikasi masalah sosial yang tidak mudah. Tapi bukan berarti
tidak bisa diterapkan.

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 59


6. Pendekatan D
Penerapan prinsip ekonomi lingkungan terhadap persoalan
lingkungan hidup di pemukiman yang cemar akan dimulai dari
penentuan variabel-variabel yang terkait dalam ranah ekonomi.

Misalnya, menghubungkan permasalahan sampah dengan tingkat


kesejahteraan masyarakat. Bisa juga dengan menghubungkan sumber
pencemar dengan aktivitas ekonomi masyarakat dan lain sebagainya.
Solusi yang ditawarkan juga akan berkisar tentang aktivitas
ekonomi yang bagaimana seharusnya dilakukan. Bisa berupa dibentuk
rantai ekonomi mikro dengan cara memanfaatkan sampah yang ada.
Direkomendasikan untuk membentuk suatu kelompok kecil di tengah
masyarakat dan dilatih dengan program pengolahan sampah sehingga
sampah yang ada mempunyai nilai ekonomi.
Ke semua pendekatan akan memiliki teori dan konsep serta solusi
alternatif yang berbeda, tapi pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama,
yaitu meniadakan terjadinya pencemaran lingkungan di tempat tinggal.
Persamaan yang lain di antara masing-masing pendekatan ialah sama-
sama menggunakan metode ilmiah. Karena pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan ilmiah, sehingga metode yang dilaksanakan pun
adalah metode ilmiah.
Secara garis besar, masing-masing pendekatan yang dilakukan
untuk memenuhi syarat ilmiah ialah sebagai berikut.
1. Adanya masalah yang dirasakan.
2. Pengamatan atau observasi terhadap permasalahan.
3. Identifikasi masalah dan penetapan tujuan.
4. Studi literatur dan kajian teori.
5. Hipotesis atau dugaan sementara.
6. Pelaksanaan penelitian, baik itu penelitian kuantitatif berupa
eksperimen dan lain sebagainya ataupun penelitian kualitatif.
7. Pengolahan data.
8. Analisis data hasil pengolahan sesuai dengan jenis penelitian
apakah kualitatif atau kuantitatif.
9. Penarikan kesimpulan dan saran serta rekomendasi.

60 Pencemaran Lingkungan
Contoh penerapan dan penjabaran langkah di atas, akan disajikan
di Subbab E Langkah dan Sistematika nantinya.

B. Manusia dan Lingkungan yang Berubah


Manusia dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan lingkungan
hidup yang senantiasa berubah. Perubahan terhadap lingkungan terjadi
secara alamiah dan sebagai hasil kreasi manusia.
Secara alamiah, lingkungan berubah setiap waktu. Air, udara, dan
tanah berinteraksi dengan semua komponen lingkungan hidup yang
lain membentuk sesuatu yang selalu baru. Inilah sebuah perubahan
yang disebut sistem keseimbangan alami.
Lingkungan alam mempunyai kekuatan untuk selalu berada pada
keseimbangan fungsi dan komponen penyusunnya. Alam bermekanisme
sesuai dengan potensi, fungsi dan interaksi masing-masing elemen
penyusun yang ada di alam tersebut. Dan konsekuensi itu sudah diatur
oleh Sang Pencipta.
Di sisi lain, manusia pun berkreasi dan berkontribusi terhadap
perubahan lingkungan. Sayangnya, perubahan yang dilakukan manusia
tidak semuanya baik dan arif. Kadang justru manusia merusak
keseimbangan alamiah, dan menyebabkan rona lingkungan menjadi
lebih buruk.
Jika masalah diasumsikan dengan ketidakselarasan antara keinginan
dengan kenyataan, maka manusia telah membuat “masalah” dalam
hidupnya sendiri.
Yusuf, M (2015) menyatakan sejarah telah menunjukkan bahwa
manusia di muka bumi ini dengan keterbatasannya selalu berusaha
mencari dan menemukan sesuatu yang baru. Mereka berusaha, mencari,
menemukan, menggali, menyelidiki dan menganalisis sesuatu dengan
tekun dan teliti.
Berarti dalam catatan sejarah kehidupannya, manusia dan
lingkungan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi dan berinterkasi
membentuk suatu kualitas hidup. Suatu kualitas hidup itulah yang
sudah kita pahami sebagai suatu sistem. Bahwa manusia tidak bisa
dipisahkan dengan lingkungannya untuk memenuhi kesejahteraan
manusia semata.

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 61


Manusia menggunakan akal untuk mencapai derajat kehidupan
yang lebih tinggi. Penggunaan akal budi, telah dikreasikan oleh
manusia sejak dahulu. Hasil kreasi akal budi manusia mewariskan nilai
dan ilmu pengetahuan serta teknologi. Penerapan ilmu pengetahuan
secara teoretis serta penerapan teknologi selalu dikembangkan dengan
berlandas pada metode ilmiah (scientific research).
Metode ilmiah adalah sistematika dari sebuah langkah empiris
untuk menemukan sebuah jawaban atas permasalahan kehidupan
manusia sejak dahulu sampai hari ini. Sistematika itu, memenuhi
persyaratan empiris yang teruji, dan mengungkap kebenaran relative
keilmuan. Hal ini sudah dijelaskan sebelumnya.
Jika manusia yang hidup dan melihat situasi yang tidak sesuai
antara kenyataan dengan harapannya seperti terjadinya pencemaran
lingkungan, tapi tidak tergerak hatinya untuk berpikir merubah keadaan,
maka manusia itu belum bisa dikatakan sebagai manusia yang berakal
dan berbudi sesuai dengan harkat dan martabatnya yang dicipta oleh
Tuhan Yang Maha Esa.
Kita bukan seperti itu. Para pembaca adalah ilmuwan. Kita
menyadari bahwa kita bersama dengan lingkungan kita adalah makhluk
ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa dengan kesejajaran peran sebagai
makhluk. Kita dibedakan dari fungsi saja dengan lingkungan. Fungsi
sebagai khalifah dapat kita maknai sebagai pengelola yang me-manage
lingkungan dan kehidupannya menjadi optimal.
Manusia seyogianya bersyukur dengan fungsinya di muka bumi
itu. Rasa syukur manusia tidak hanya dalam khayalan belaka, tapi
terwujud dengan akal budinya, manusia ingin berbuat lebih baik dan
arif terhadap lingkungan hidup.

C. Manusia dan Masalah


Manusia akan selalu dihadapkan pada masalah. Ke semua masalah
itu, tak lepas dari lingkungan hidup. Lingkungan yang senantiasa
berubah, baik secara alamiah apalagi karena perbuatan manusia akan
selalu mendatangkan yang disebut manusia sebagai “masalah” karena
kondisi ideal yang diinginkan manusia itu sangat relatif disediakan oleh
perubahan lingkungan.

62 Pencemaran Lingkungan
Dalam menghadapi masalah, manusia mengembangkan banyak
cara. Pada prinsipnya cara itu terbagi atas 2 (dua) yaitu (1) cara ilmiah
dan (2) cara non ilmiah. Kedua cara itu selalu ditempuh oleh manusia
sejak dahulu. Cara ilmiah memenuhi persyaratan empiris yang teruji dan
bisa diterapkan. Cara ilmiah ini disebut juga dengan pendekatan ilmiah
(scientific research). Dalam hal ini, kita akan menerapkan pendekatan
ilmiah dari pencemaran lingkungan terhadap permasalahan lingkungan
hidup di pemukiman tempat tinggal.
Bahasan dalam bab ini, hanya sebagai salah satu contoh konkret
penerapan pendekatan keilmuan yang multidisipliner terhadap
permasalahan di lingkungan hidup. Karena ranah lingkungan hidup itu
luas dan kompleks, maka kita mengambil salah satu lingkungan yang
ada, yaitu lingkungan pemukiman yang tercemar di sub-bab berikut.

D. Kasus Pencemaran Lingkungan di Pemukiman

Gambar 3.2 Lingkungan Hidup yang Tercemar

Pada Gambar 3.2 terlihat suatu keadaan di sebuah pemukiman


tempat tinggal manusia yang tercemar. Ini adalah fakta. Disebut sebagai
sebuah kasus karena secara umum dan konsep ideal, hal itu seyogianya
tak terjadi.

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 63


Ini merupakan masalah. Telah terjadi kesenjangan atau ketidaksesuaian
antara kondisi ideal dengan kenyataan yang ada. Tidak sama antara teoretis
dengan fakta.
Dikatakan tercemar karena di dalam lingkungan hidup itu terdapat
bahan pencemar berupa sampah.
Keberadaan sampah sebagai bahan pencemar di lingkungan itu
adalah karena perbuatan manusia. Artinya, bukan merupakan peristiwa
alamiah.
Sampah adalah limbah padat. Tapi dalam tumpukan sampah itu,
jenis sampah yang lain seperti bahan berbahaya dan beracun juga
ada. Bukan tidak mungkin dalam tumpukan sampah itu pun juga ada
limbah cair. Sedangkan limbah gas dan partikel sudah pasti ada pada
tumpukan sampah.
Keberadaan sampah di pemukiman, tidak diinginkan oleh manusia
yang tinggal di situ. Mereka merasakan dan menyaksikan. Tapi tidak
semua manusia menyadari untuk berperilaku berwawasan lingkungan.

E. Langkah dan Sistematika


1. Adanya masalah yang ditemukan
Berangkat dari masalah yang ada. Masalah sampah di lingkungan
tempat tinggal sudah nyata terlihat dan terasakan.
Berarti ada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Ada
kondisi real yang tidak selaras dengan kondisi ideal.
2. Pengamatan atau observasi terhadap permasalahan
Seorang ilmuwan, tidak membiarkan masalah itu ada. Dilakukanlah
pengamatan. Pengamatan yang dilakukan meliputi banyak hal.
Sesuai dengan tujuannya adalah untuk menemukan solusi bagaimana
agar sampah itu tidak ada lagi berada di tempat tinggalnya.
Dilamatinya proses terjadinya timbulan sampah di lingkungan
tersebut. Dilakukannya pencatatan dan dokumentasi sebagai data
primer. Dilengkapi data primer dari hasil wawancaranya dengan
orang-orang yang tinggal di lingkungan tersebut.

64 Pencemaran Lingkungan
3. Identifikasi masalah dan penetapan tujuan
Dari hasil pengamatan, sudah bisa dilakukan identifikasi masalah.
Identifikasi masalah ini terjabar dalam bentuk rincian pertanyaan,
seperti berikut.
a. Mengapa ada sampah di lingkungan tempat tinggal itu?
b. Apa sumber sampah pada lingkungan itu?
c. Bagaimana mengatasi masalah sampah pada lingkungan itu?
Tiga pertanyaan mendasar di atas adalah bentuk masalah yang
sudah dirinci dan teridentifikasi. Beberapa ahli metode penelitian
ada yang membedakan antara identifikasi masalah dengan
pertanyaan penelitian.
Jika pertanyaan penelitiannya adalah tiga hal di atas, maka
pertanyaan ini lahir dari hasil identifikasi masalah. Masalah yang
teridentifikasi lebih dahulu dari pertanyaan penelitian.
Sehingga pada contoh di atas, jika itu dianggap pertanyaan
penelitian, identifikasi masalahnya ialah (a) keberadaan sampah di
lingkungan tempat tinggal, (b) cara mengatasi agar sampah tidak
ada di lingkungan tempat tinggal.
Penetapan tujuan penelitian ialah memberikan batasan yang tegas
dan konsekuen terhadap permasalahan yang ada.
Dalam contoh ini, tujuan penelitian ialah:
a. Penyebab keberadaan sampah di lingkungan tempat tinggal.
b. Menentukan sumber sampah yang ada di lingkungan tempat
tinggal.
c. Menetapkan solusi agar lingkungan tempat tinggal menjadi
bebas sampah.
4. Studi literatur
Pada dasarnya studi literatur adalah upaya untuk membangun
kerangka teori yang akan mendukung pencapaian tujuan penelitian.
Lemahnya teori akan mempersulit capaian tujuan penelitian.
Dalam contoh di atas, selanjutnya dikumpulkan beberapa teori
tentang sampah di lingkungan tempat tinggal. Beberapa teori yang
terkait seperti pembagian jenis limbah atas dua yaitu (1) limbah
industri dan (2) limbah domestik.

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 65


Pembagian wujud limbah atas tiga yaitu (1) limbah padat, (2)
limbah cair, dan (3) limbah partikel dan gas. Dilengkapi pula dengan
sifat limbah yang bisa dikategorikan menurut (1) fisis, (2) kimia
dan (3) biologi.
Literatur lain yang diperlukan pula ialah bagaimana pengelolaan
limbah berdasarkan wujudnya. Pengelolaan limbah pun dapat
dibedakan atas sifat, jenis dan tahapan pengolahan yang dilakukan
(biasanya di dunia industri).
Terakhir ialah teori yang menjelaskan dampak dari keberadaan
sampah di lingkungan tempat tinggal terhadap kesehatan
masyarakat yang ada. Dampak ini merupakan landasan untuk
sebuah riset ilmiah menjadi penting untuk dilakukan.
Ke semua literatur di atas, sudah ada pada berbagai buku dari
hasil penelitian para ahli terkait. Sehingga peneliti tidak mendapat
kesulitan dalam membangun teori yang melandasi penelitiannya.
Selanjutnya diperlukan cara menghitung timbulan sampah pada
limbah domestik dalam satu kawasan pemukiman tempat tinggal.
Caranya ialah dengan menentukan jumlah populasi yang menjadi
sumber sampah. Dalam hal ini tentu rumah-rumah yang ada di
lingkungan tersebut.
Peneliti bisa menggunakan sampel jika rumah yang ada sangat
banyak. Tapi untuk akurasi hasil penelitian sebaiknya total sampling
atau dihitung semua populasi yang ada. Umpamanya di pemukiman
itu terdapat rumah sebanyak 100 buah.
Kita tidak perlu menghitung jumlah kepala keluarga yang ada.
Karena kita bukan sedang survei atau sensus tentang jumlah
penduduk. Tapi yang kita perlukan adalah berapa kira-kira
satu rumah menghasilkan sampah per hari. Tujuannya adalah
mengkuantitatifkan “keberadaan sampah” sehingga data bisa
dianalisis secara kuntitatif.
Selanjutnya dilakukan wawancara kepada tiap-tiap rumah guna
menentukan bagaimana rumah tersebut dalam membuang
sampahnya dan berapa sampah yang dihasilkannya.
Apabila dari hasil wawancara dan perolehan data primer lainnya,
didapatkan bahwa rata-rata masing-masing rumah menghasilkan
sampah 1 kg sehari, lalu dibuang ke pinggir jalan (seperti pada

66 Pencemaran Lingkungan
Gambar 3.2) maka jumlah timbulan sampah bisa dihitung sebagai
berikut.
T (timbulan sampah per hari) = 1 kg x 100 = 100 kg
Didapat data sementara bahwa tiap hari timbulan sampah adalah
100 kg. Sampah tersebut menumpuk di pinggir jalan hari demi
hari. Bisa diestimasi berapa volume sampah dalam 7 hari.
5. Hipotesis
Hipotesis adalah pendugaan sementara. Hipotesis menjadi vital
untuk sebuah penelitian kuantitatif yang lebih kepada pengujian
hipotesis.
Jika penelitian bertujuan untuk suatu pengujian hipotesis dalam
hal ini umpamanya ditegakkan hipotesis sebagai berikut.
a. H0: Tidak ada pengaruh status sosial ekonomi terhadap
pencemaran lingkungan di lingkungan tempat tinggal.
b. H1: Terdapat pengaruh status sosial ekonomi terhadap
pencemaran lingkungan di lingkungan tempat tinggal.
Langkah selanjutnya ialah mengoperasionalkan definisi terhadap
variabel yang ada. Pada contoh ini terdapat dua variabel penelitian
yaitu (1) variabel status sosial ekonomi dan (2) pencemaran
lingkungan di lingkungan tempat tinggal. Definisi operasional
adalah bagaimana agar masing-masing variabel di atas bisa
dilaksanakan/diproses dalam statistik.
Sehingga lahirlah beberapa definisi operasional dari variabel 1
seperti: (a) jumlah penghasilan per bulan, (2) tingkat pendidikan,
(3) jenis pekerjaan. Maksudnya ialah kriteria yang disebut sebagai
status sosial ekonomi dalam penelitian ini didasarkan atas tiga
definisi operasional itu.
Sedangkan variabel 2 berupa pencemaran lingkungan di lingkungan
tempat tinggal memiliki makna yang luas. Sama halnya dengan
status sosial ekonomi sebagai variabel 1. Oleh karena itu, variabel
2 ini pun perlu dibuat definisi operasionalnya.
Definisi operasional yang dimungkinkan dalam contoh ini adalah
(1) volume timbulan sampah yang berada di pinggir jalan pada
lingkungan pemukiman tempat tinggal di Jalan X, Kelurahan Y,
Kota Z.

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 67


Penentuan definisi operasional didasarkan pada konsep dan teori
yang sudah ada. Hasil penelitian terdahulu juga akan membantu
dalam menentukan definisi operasional ini.
Variabel 1 adalah variabel bebas (independent) sedangkan variabel
2 merupakan variabel terikat (dependent). Maksudnya ialah bahwa
pada status sosial ekonomi dalam hal ini, tidak tergantung terhadap
pencemaran lingkungan di lingkungan tempat tinggal, sedangkan
variabel 2 berupa pencemaran lingkungan di tempat tinggal
diasumsikan tergantung pada status sosial ekonomi.
Dalam contoh ini, tentu peneliti telah mempunyai landasan teori
yang kuat terhadap masing-masing variabel. Di samping itu, peneliti
juga telah mempunyai data awal dari hasil observasinya.
Sehingga jika peneliti akan menguji hipotesis maka ia memilih
penelitian kuantitatif. Tapi apabila peneliti tetap akan melanjutkan
pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan yang telah ditentukan
pada poin 3 di atas, maka ini berarti peneliti memilih jenis
penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif tidak berfungsi menguji sebuah hipotesis.
Tapi lebih kepada mengungkap suatu fenomena secara utuh.
Dari hasil penggalian informasi selanjutnya peneliti akan mampu
mendeskripsikan jawaban atas pertanyaan penelitian.
Ciri umum dari sebuah penelitian kualitatif ialah menjawab
pertanyaan “why” bukan hanya sebatas “what” dan “how” saja.
Penelitian kualitatif sering disebut sebagai penelitian mendalam
(indeep research) sementara penelitian kuantitatif disebut penelitian
permukaan (surface research). Antara kedua jenis penelitian ini tentu
tidak ada yang bagus dan yang jelek.
Masing-masing mempunyai karakteristik kekuatan dan kelemahan,
tergantung kegunaan dan tujuan penelitian.
Penggunaan jenis penelitian ini tentu tergantung kepada apa yang
hendak dituju dari sebuah penelitian guna menemukan solusi
dari permasalahan yang sedang diteliti. Penelitian gabungan
dimungkinkan sekali dilakukan pada persoalan lingkungan. Diawali
dengan pengujian hipoteisis dan dilanjutkan dengan penelitian
kualitatif.

68 Pencemaran Lingkungan
Tapi, penelitian gabungan atau mix research ini tidak harus dilakukan.
Bisa saja kualitatif saja atau kuantitatif saja. Hal ini tergantung
kepada ketertarikan seorang peneliti.
6. Pelaksanaan penelitian
Pada tahap ini peneliti telah mulai bekerja. Melakukan pencarian
data dengan berbagai teknik sesuai dengan jenis data yang akan
diperoleh.
Teknik perolehan data primer dilakukan baik berupa wawancara,
pengamatan maupun jejak pendapat. Data sekunder didapat dari
dokumentasi yang telah ada seperti profil kelurahan, jumlah
penduduk menurut tingkat status sosial dan lain sebagainya.
Apabila terjadi data yang berbeda antara data primer dengan data
sekunder maka peneliti akan menggunakan data primer. Bukan
sebaliknya.
7. Pengolahan data
Data hasil penelitian diolah menurut jenis penelitian. Jika pada uji
hipotesis dilakukan uji statistik, maka pada kualitatif digunakan
metode pengolahan data berupa grafik dan matrik atau tabulasi.
8. Analisis data hasil pengolahan
Sama halnya dengan di atas. Analisis terhadap hasil pengolahan
data pada intinya ialah mencoba menjawab pertanyaan penelitian
atau tujuan penelitian. Pada tahap ini, proses penelitian sudah
mulai mengerucut menuju pada penyimpulan.
Penarikan kesimpulan tergantung kepada jenis penelitian. Penelitian
kuantitatif akan menarik kesimpulan berdasarkan ada tidaknya
pengaruh antara status sosial ekonomi terhadap pencemaran di
lingkungan tempat tinggal.
Sementara penelitian kualitatif akan menjawab pertanyaan mengapa
sampah berada di lingkungan tempat tinggal, dari mana sumber
dan apa solusi mengatasinya.
Teknik analisis pada kualitatif bisa merujuk pada yang dikembangkan
oleh Miles and Hubberman (1994) yang mendesain penelitian
kualitatif dalam hal tahapan analisis data berupa empat tahapan
yaitu (1) data collect, (2) data display, (3) data reduction, dan (4)
conclusion. Inti tahapan ini adalah membuang data yang tidak

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 69


ada berhubungan dengan tujuan penelitian guna mempermudah
penarikan kesimpulan.
Metode penelitian kualitatif lain yang bisa diacu ialah apa yang
dikembangkan oleh Spradley yang dikenal dengan istilah bola salju.
Intinya adalah bahwa data akan selalu berkembang sampai pada
suatu keadaan data jenuh. Pada saat data jenuh baru kesimpulan
bisa ditarik.
Lebih detail tentang metode penelitian ini, tidak kita bahas di sini.
Karena ada satu disiplin ilmu khusus tentang itu. Pada dasarnya
kita hanya memperkenalkan bahwa dalam khazanah pencemaran
lingkungan, terdapat pendekatan ilmiah yang memungkinkan
pendekatan dari berbagai aspek keilmuan bekerja di dalamnya,
sebagaimana yang sedang kita pelajari di bab ini.
9. Penarikan kesimpulan dan saran serta rekomendasi
Kesimpulan adalah jawaban dari tujuan penelitian. Pada penelitian
kualitatif, terdapat kesimpulan pada contoh ini:
Ho ditolak, berarti H1 diterima.
Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh signifikan antara status
sosial ekonomi terhadap pencemaran lingkungan di pemukiman
tempat tinggal.
Sedangkan pada penelitian kualitatif terdapat tiga butir kesimpulan
yang merupakan jabaran jawaban atas pertanyaan penelitan, sebagai
berikut.
a. Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan adalah perilaku
masyarakat yang membuang sampah sembarangan.
b. Sumber pencemaran adalah sampah domestik yang dihasilkan
dari rumah tangga di lingkungan tempat tinggal.
c. Solusinya ialah pengolahan sampah yang dilakukan oleh
anggota masyarakat.
Saran merupakan apa yang belum dimuat di dalam penelitian, lalu
disarankan untuk dilakukan oleh peneliti lain. Artinya saran bukan
apa yang disarankan karena kekurangan dari penelitian. Ada pula
yang menganggap saran merupakan butiran yang dijadikan bahan
masukan dari hasil penelitian.

70 Pencemaran Lingkungan
Tapi dalam hal ini, penulis meletakkan bahwa apa yang disarankan
dari hasil penelitian ini sebagai rekomendasi. Sedangkan saran
bisa berupa hendaknya dilakukan penelitian serupa di tempat lain,
dengan jumlah populasi yang lebih banyak.
Rekomendasi penelitian ialah apa yang dianggap peneliti
berdasarkan hasil penelitiannya menjadi jawaban atas permasalahan
yang ada.
Dalam hal ini, direkomendasikan kepada pihak stakeholder seperti
berikut ini.
a. Adanya penerapan aturan di tingkat kelurahan, kecamatan,
kota/kabupaten tentang larangan membuang sampah di
tempat umum.
b. Perlunya dibentuk kelompok masyarakat berbasis partisipatif
dalam mengelola sampah di lingkungan tempat tinggalnya.
Peneliti lain ada yang menambahkan dengan implikasi di akhir
laporan hasil penelitian. Implikasi adalah suatu keadaan yang akan
terjadi apabila hasil penelitian berupa rekomendasi yang dibuat
dilaksanakan.
Dalam contoh hasil penelitian ini, implikasinya ialah:
a. Terbentuk kelompok masyarakat peduli lingkungan.
b. Pengadaan pelatihan dan pembinaan kelompok masyarakat
peduli lingkungan yang mengolah sampah menjadi barang
bernilai ekonomis.

F. Resume
Masalah manusia dengan lingkungan hidupnya selalu ada. Masalah
adalah ketidaksesuaian antara kenyataan dengan harapan. Kenyataan
yang ada pada lingkungan hidup manusia sering kali tidak selaras dengan
keinginan dan harapan.
Sebaliknya, masalah bisa terjadi juga karena keinginan dan
kebutuhan manusia selalu meningkat. Setiap peningkatan, menuntut
sesuatu yang lebih pada lingkungan, baik secara kualitatif, maupun
kuantitatif.
Lingkungan senantiasa berubah. Perubahan lingkungan terbagi
atas dua, yaitu

Bab 3 | Pendekatan dalam Pencemaran Lingkungan 71


1. perubahan lingkungan alamiah, dan
2. perubahan lingkungan karena manusia.
Perubahan lingkungan alamiah adalah bagian dari keseimbangan
sistem lingkungan. Walaupun manusia menyebutnya bencana seperti
gunung meletus dan lain sebagainya, tapi itu adalah suatu proses alam
sedang menuju keseimbangan. Manusia tidak mampu mengendalikan
hal yang demikian.
Perubahan lingkungan karena manusia adalah bagian dari kreasi
manusia dalam aktivitas hidupnya. Manusia mampu mengatur hal itu,
karena dialah penyebab perubahan terjadi.

72 Pencemaran Lingkungan
BAB PERSPEKTIF KIMIA
4 TERHADAP PENCEMARAN
LINGKUNGAN

A. Ruang Lingkup dan Pengertian Kimia Lingkungan


Mari cermati Gambar 4.1 berikut.

Kimia Pencemaran
Kimia Lingkungan Lingkungan

Gambar 4.1 Skema Perspektif Kimia Terhadap Pencemaran Lingkungan

Kita mulai dari bahasan sebelumnya. Masalah lingkungan berupa


pencemaran lingkungan yang hadir dalam kehidupan manusia perlu
ditiadakan. Salah satu pendekatan yang akan dibahas di bab ini adalah
dengan perspektif kimia sebagai suatu disiplin ilmu.
Sama halnya dengan apabila kita melakukan perspektif ekonomi
terhadap pencemaran lingkungan. Kita akan mengkaji sifat sumber
daya alam seperti adanya public goods dan common property. Kita akan
membahas masalah eksternalitas dan prinsip poluter pays dan lain lain.
Pada Gambar 4.1 terlihat irisan yang terbentuk antara perpaduan
antara kimia dengan masalah pencemaran lingkungan. Fokus dan ruang

Bab 4 | Perspektif Kimia Terhadap Pencemaran Lingkungan 73


lingkup yang terbentuk pada irisan itu dikaji secara khusus dalam kimia
lingkungan.
Apakah kimia lingkungan?
Sastrawijaya (1991) menyatakan tidak mudah menjawabnya,
karena kimia lingkungan itu amat luas, mulai menyangkut radikal
hidrokarbon di udara, tetesan raksa di lantai atau dasar danau, maupun
unsur beracun di pertambangan. Jadi, kimia lingkungan itu ialah studi
tentang sumber, reaksi, pengaruh dan akhir zat kimia dalam tanah, air
dan udara di sekitar kita. Secara singkat kimia lingkungan ialah studi
tentang gejala kimia di lingkungan kita.
Agaknya pengertian yang diajukan oleh Sastrawijaya (1991)
semakin mempertajam pemahaman kita tentang kaitannya dengan
pencemaran lingkungan. Dinyatakan tentang gejala kimia di lingkungan
kita, berarti tentu dalam hal ini fokus pada persoalan lingkungan hidup.
Terjadinya tragedi kematian, terlahir cacat, punahnya sumber daya alam
di laut dan rusaknya plasma nuftah sudah bisa dipastikan berkaitan
dengan bahan kimia.

B. Antara Kimia dan Pencemaran Lingkungan


Secara umum sudah dipahami tentang pencemaran lingkungan,
terutama dalam sudut pandang historis. Terjadinya tragedi Minamata
dan lain sebagainya adalah indikasi bahwa pencemaran lingkungan
merupakan hal yang vital untuk diprioritaskan dalam kajian dan langkah
nyata di satu negara untuk menuju masyarakat yang madani.
Masyarakat madani dicirikan dengan harmonisasi dengan sumber
daya lingkungan. Sumber daya lingkungan di mana mereka hidup dan
berinteraksi menyediakan daya dukung yang optimal. Interaksi yang
terjalin akan menentukan kualitas hidup.
Istilah kualitas hidup bukan bermakna kesejahteraan manusia saja.
Tapi adalah kesatuan antara manusia dengan lingkungannya dan disebut
dengan rona lingkungan. Rona lingkungan yang berkualitas mempunyai
indikasi terjadinya peningkatan fungsi ekologis dan ekonomis serta
sosial.
Rona lingkungan yang tidak berkualitas apabila terjadinya penurunan
fungsi ekologis (degradasi lingkungan) yang secara simultan dan

74 Pencemaran Lingkungan
sistematis diikuti dengan penurunan fungsi ekonomis dan sosial. Dalam
suatu rona lingkungan yang ada, dengan segala bentuk interaksinya di
situ pula lah terjadi proses dan reaksi kimia.
Dirujuk pendapat Sastrawijaya (1991) yang tegas menyatakan
bahwa pengaruh ilmu dan teknologi dalam masyarakat besar sekali, baik
itu masyarakat sekolah, lingkungan hidup desa atau kota, perkampungan
asrama maupun masyarakat dunia luas. Berbagai bahan yang perlu
dibahas ialah perihal air, sumber alam, minyak bumi, bahan makanan,
kimia nuklir, kesehatan, dan industri.
Semua topik hendaknya dihubungkan dengan kimia, mencakup
konsep-konsep pokok, keterampilan mental dan kerja laboratorium yang
diperlukan untuk memahami dan menghayati masalah yang relevan
dengan lingkungan hidup kita.
Penulis setuju dengan apa yang dikemukakan di atas. Sebagai
motivasi bagi kita semua, apa yang diperlihatkan lingkungan ke
kita sudah cukup banyak di sepanjang sejarah yang sarat dengan
permasalahan pencemaran lingkungan karena bahan kimia. Motivasi
tidak akan berarti apa-apa jika hanya sebatas informasi.
Paling tidak dengan mempelajari buku ini, kita mempunyai suatu
langkah awal dari sebuah wujud motivasi. Bisa dimulai dari diri sendiri.
Setiap kita berperan terhadap lingkungan hidup makro. Agaknya
slogan “think global and act localy” sangat cocok untuk dipahami dan
diterapkan. Berpikir tentang dunia boleh dan harus, tapi berbuatlah
sesuai kemampuan di tingkat level diri masing-masing. Karena jika
tidak berbuat untuk sesuatu di lingkungan mikro saja tidak bisa, maka
memikirkan dunia akan sia-sia. Justru mendatangkan stres.
Mari kita tanggapi peristiwa pencemaran lingkungan pada Tahun
2015 di negeri kita berupa krisis asap dan kabut (smog = smoke and fog).
Asbut adalah singkatan dari asap dan kabut. Kedua bahan ini sangat
berbahaya dalam jumlah besar. Di Indoensia terjadi lagi peristiwa
asbut ini di tahun 2015. Dilaporkan ada yang meninggal dunia dan
hampir setengah juta jiwa menderita gangguan pernapasan. Dampak
lain ialah kurangnya efektivitas tanaman melakukan fotosintesis yang
implikasinya ialah oksigen pun berkurang.
Tidak sedikit karbon sisa pembakaran yang dilepas ke atmosfer, dan
tentu akan berakibat langsung pada pemanasan global. Karbon adalah

Bab 4 | Perspektif Kimia Terhadap Pencemaran Lingkungan 75


bahan kimia. Bahan kimia yang tidak berbahaya dan malah dibutuhkan
dalam skala tertentu oleh manusia akan berdampak kematian apabila
terakumulasi.
Penyebabnya adalah karena kebakaran hutan. Kebakaran hutan
yang bukan alamiah. Manusia bertanggung jawab atas kejadian ini.
Manusia telah memicu terjadinya pelepasan bahan kimia ke lingkungan
dan berakibat kematian pada manusia lain, dan pada makhluk hidup
yang berada di lingkungan.

C.
Resume
Kasus pencemaran lingkungan hidup tak akan lepas dari fokus
kajian kimia lingkungan. Karena dampak dari pencemaran lingkungan
itu dapat dilihat dari segi material yang dikandung bahan pencemar.
Bahan pencemar yang masuk ke lingkungan hidup karena aktivitas
manusia adalah bahan kimia. Unsur-unsur berbahaya terakumulasi pada
lingkungan hidup di mana manusia dan makhluk lain berada.
Masing-masing bahan kimia yang menyebabkan terjadinya
pencemaran pada komponen lingkungan. Selanjutnya, secara fokus
di bab berikutnya kita pelajari satu demi satu komponen lingkungan
yang dimaksud.

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia


meletakkan neraca (keseimbangan)
Supaya kamu jangan melampaui batas
terhadap neraca itu
Tegakanlah neraca dengan adil dan jangan
kamu menguranginya
(QS Ar-Rahman [55]: 7 – 9)

76 Pencemaran Lingkungan
BAB
5
PENCEMARAN TERHADAP
KOMPONEN LINGKUNGAN

Pencemaran lingkungan yang sudah dipahami sejauh ini, masih


belum rinci terhadap keberadaan atau bercampurnya antara bahan
pencemar dengan komponen lingkungan. Oleh karena itu, pada bab ini
akan dirinci masing-masing komponen dari lingkungan dalam konteks
pencemaran lingkungan yang terjadi. Ini merupakan penjabaran jawaban
atas pertanyaan di mana polutan itu bercampur dengan lingkungan
hidup.
Terjadinya pencemaran lingkungan yang dibahas di sini ialah
peristiwa bercampurnya bahan pencemar dengan komponen lingkungan.
Dalam Ekologi dan Ilmu Lingkungan, dibagi komponen lingkungan
hidup itu atas dua yaitu (1) abiotik yang meliputi udara, tanah dan
ar serta (2) biotik yang meliputi flora, fauna dan manusia serta
mikroorganisme.

A. Pencemaran Udara
Perkins (1974) mengemukakan bahwa pencemaran udara berarti
hadirnya suatu kontaminan dalam udara atmosfer seperti debu, asap
gas, kabut, bau-bauan dan uap dalam kuantitas yang banyak dengan sifat
dan lama berlangsungnya di udara, sehingga mendatangkan ganggungan
kepada manusia dan makhluk hidup lain.
Jika dikaitkan dengan pengertian pencemaran lingkungan yang telah
dipahami, berarti persoalannya terletak pada tiga aspek pokok, yaitu

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 77


1. kontaminan: dianalogikan sebagai polutan,
2. komponen lingkungan yang terkontaminasi: tanah/air/udara, dan
3. gangguan pada makhluk hidup: dianalogikan sebagai dampak yang
ditimbulkannya.
Kontaminan adalah bahan yang mencemari atau apa yang sudah kita
pahami sebagai polutan. Polutan didefinisikan sebagai zat atau bahan
yang dapat mengakibatkan terjadinya peristiwa pencemaran lingkungan.
Pencemaran lingkungan itu terjadi karena polutan, bercampur terhadap
salah satu komponen lingkungan di alam, dan tidak diinginkan oleh
manusia. Walaupun penyebabnya adalah manusia itu sendiri. Ironis
bukan?
Komponen lingkungan itu bisa sebagai udara, tanah dan air.
Kenyataannya, salah satu komponen yang terkontaminasi, akan
bercampur dengan komponen yang lain. Misalnya pencemaran pada
tanah, akan bisa berakibat pula pada pencemaran air dan udara.
Syarat-syarat suatu zat disebut polutan ialah apabila keberadaannya
pada komponen lingkungan hidup dapat menyebabkan gangguan
terhadap makhluk hidup. Hal inilah yang dinyatakan di atas sebagai
suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia, yang padahal manusia
pula yang menyebabkan itu terjadi.
Contohnya CO2 (karbondioksida) yang apabila keberadaannya
di udara 0,033% maka ia akan bermanfaat bagi tumbuh-tumbuhan
dalam proses fotosintesis dan melepaskan oksigen. Tetapi jika lebih
tinggi dari 0,033% justru akan dapat memberikan efek merusak pada
makhluk hidup.
Dari perspektif legalitas, apabila kadar suatu zat telah berada di atas
baku mutu lingkungan, maka hal itu sudah dianggap sebagai sebuah
pencemaran lingkungan. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 telah
menentukan suatu keadaan lingkungan dapat dikatakan tercemar dan
atau rusak, apabila aktivitas manusia telah mengakibatkan peristiwa
di mana mutu lingkungan berubah.
Mutu lingkungan dikatakan berubah terlebih dahulu ditentukan
bakunya. Inilah yang disebut dengan baku mutu lingkungan.
Baku Mutu Lingkungan Hidup adalah ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada

78 Pencemaran Lingkungan
dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu
sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
Dengan adanya baku mutu ini diharapkan akan terjadi kesamaan
pandang dalam memandang lingkungan, dan memang baku mutu ini
dimaksudkan untuk melindungi lingkungan dengan semakin banyaknya
kegiatan manusia.
Baku mutu udara dapat dibedakan atas baku mutu udara ambien
dan baku mutu udara emisi.
1. Baku mutu udara ambien
Adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan-bahan
pencemar untuk berada di udara dengan tidak menimbulkan
gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan atau benda
lainnya.
2. Baku mutu emisi
Adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan
pencemar untuk dikeluarkan dari sumber ke udara dengan tidak
mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien.

1. Bahan Pencemar Udara


Bahan pencemar udara dapat digolongkan atas bentuknya atau
wujudnya. Ada juga yang menyebut sebagai sifat dari bahan pencemar
tersebut berupa (1) gas, (2) cair, (3) padat. Tapi bisa saja kombinasi
dari salah satu dengan yang lainnya sekaligus mencemari.
Masing-masing bentuk/wujud atau sifat dari bahan pencemar udara
dijelaskan sebagai berikut.
a. Bahan Pencemar Berbentuk Gas
1) Senyawa belerang (SOx dan H2S)
Senyawa sulfur oksida (SOx) merupakan senyawa sulfur
dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3).
Senyawa sulfur dioksida mempunyai bau yang sangat
menyengat, tapi tidak terbakar di udara. Sulfur trioksida
merupakan senyawa yang tidak reaktif.

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 79


Reaksi pembentukan senyawa ini terjadi dalam dua tahapan
reaksi sebagai berikut.
S + O2 → SO2 Reaksi tahap I
2 SO2 + O2 → 2SO3 Reaksi tahap II
Sumber pencemaran udara oleh polutan SOx ini terutama
sekali disebabkan karena industry baja, kilang minyak dan
pembakaran zat-zat yang mengandung belerang seperti batu
bara dan minyak bumi.
2) Seyawa nitrogen (NO2)
Nitrogen oksida (NOx ) terdiri dari gas nitrit oksida (NO) dan
nitrogen dioksida (NO2). Komponen ini sering menjadi bahan
polutan bagi udara.
Senyawa NO merupakan gas yang tidak berwarna, dan tidak
berbau, tetapi NO2 mempunyai warna cokelat kemerahan dan
mempunyai bau yang menyengat.
Keberadaan nitrogen di udara sebanyak 80% dan 20% oksigen.
Pada suhu kamar kedua unsur ini tidak bereaksi, tapi pada
suhu tinggi keduanya bereaksi.
Jumlah atau kadar NO di udara menjadi berfluktuasi karena
disebabkan oleh peristiwa seperti (1) pembakaran pada suhu
tinggi (di atas 1.200 Celcius), (2) tersedianya oksigen dalam
keadaan yang berlebih.
Dilaporkan oleh Kristanto (2004) bahwa konsentrasi NOx di
udara perkotaan lebih tinggi 10 – 100 kali dibanding dengan
udara di pedesaan. Di perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm.
Hal ini diakibatkan karena di perkotaan di samping jumlah
penduduknya lebih banyak dari pedesaan, juga aktivitas
pembakaran pun lebih sering, baik melalui kendaraan
bermotor, maupun pembuangan sampah.
3) Chloro Floro Carbon (CFC)
CFC merupakan senyawa-senyawa yang mengandung atom
karbon dengan klorin dan fluorin. Dua CFC yang umum adalah
CFC-11 (Trichloromonofluoromethane atau freon 11) dan CFC-12
(Dichlorodifluoromethane).

80 Pencemaran Lingkungan
CFC merupakan zat yang tidak mudah terbakar dan tidak
terlalu beracun. Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup
50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan.
Oleh karena itu, jika terjadi konsentrasi CFC yang tinggi di
atmosfer akan sulit dihilangkan efeknya karena konsentrasi
itu bertahan lama di atmosfer.
Keberadaan CFC sebagai penyebab menipisnya lapisan
ozon mulai marak dibicarakan sejak tahun 1970-an.
Proses menipisnya lapisan ozon oleh CFC ini dikarenakan
kestabilannya untuk sampai di tingkat stratosfer.
Disebabkan radiasi ultraviolet dari sinar matahari, senyawa
CFC kemudian mengeluarkan atom-atom klorin sebagai
perusak ozon.
CFC banyak digunakan pada saat sekarang dalam kehidupan
manusia, seperti untuk pendingin ruangan (AC), media
pendingin pada lemari es (kulkas), bahan pelarut, bahan
dorong, dan proses pembuatan plastik.
Selain itu, CFC juga banyak digunakan sebagai blowing agent
dalam proses pembuatan foam (busa), sebagai cairan pembersih
(solvent), bahan aktif untuk pemadam kebakaran, bahan aktif
untuk fumigasi di pergudangan, pra pengapalan, dan produk-
produk pertanian dan kehutanan lainnya.
4) Karbon monoksida (CO)
Merupakan komponen gas yang tidak bewarna, tidak berasa
dan tidak berbau, serta tidak larut dalam air. Berat karbon
monoksida ialah sebesar 96,5% dari berat air.
Peristiwa pencemaran udara yang disebabkan oleh karbon
monoksida sebagai polutan, sering bersumber dari kegiatan
industri. Tapi juga dimungkinkan terjadi akibat kegiatan non
industri yang disebut domestik.
Penyebab terjadinya pelepasan CO (karbon monoksida) ke
udara ialah:
a) proses pembakaran bahan yang mengandung karbon
secara tidak sempurna;

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 81


b) reaksi kimia antara CO2 (karbon dioksida) dengan bahan
lain yang mengandung karbon pada suhu tinggi, dengan
reaksi sebagai berikut.
CO2 + C → 2CO
Pada suhu yang tinggi maka CO2 akan diuraikan menjadi
karbon monoksida (CO) dan 1 atom C.
5) Hidro Karbon (HC)
Senyawa hidro karbon pada suhu kamar bisa berada di alam
dalam wujud gas, cair, dan padat. Sifat fisik masing-masing
ditentukan oleh struktur molekulnya.
Hidro karbon yang mempunyai 1- 4 atom karbon pada suhu
kamar akan berbentuk gas, tetapi hidro karbon yang mempunyai
lebih dari lima atom karbon akan berbentuk cair atau padat.
Senyawa hidro karbon yang menjadi bahan pencemar udara
primer adalah senyawa hidro karbon yang berbentuk fasa gas
dan cair. Senyawa ini mudah menguap dan memiliki atom C
kurang dari 12 dengan struktur yang sederhana. Senyawa-
senyawa ini dapat berupa senyawa alifatik, aromatic, atau
alisiklik.
Metana adalah salah satu hidro karbon di alam. Berbeda dengan
ozon. Ozon bukanlah hidro karbon. Ozone (O3) adalah naiknya
konsentrasi O3 di atmosfer sebagai akibat langsung dari reaksi
hidro karbon yang terjadi di atmosfer.
Dampak dari bahan pencemar berbentuk gas ini ialah:
a) Kadar CO 2 yang terlampau tinggi di udara dapat
menyebabkan suhu udara di permukaan bumi meningkat
dan dapat mengganggu sistem pernapasan.
b) Kadar gas CO2 lebih dari 100 ppm di dalam darah dapat
merusak sistem saraf dan dapat menimbulkan kematian.
c) Gas SO2 dan H2S dapat bergabung dengan partikel air dan
menyebabkan hujan asam.
d) Keracunan NO2 dapat menyebabkan gangguan sistem
pernapasan, kelumpuhan, dan kematian.
e) CFC dapat menyebabkan rusaknya lapian ozon.

82 Pencemaran Lingkungan
b. Bahan Pencemar Berbentuk Partikel Cair
1) Titik air atau kabut.
2) Kabut yang mengandung partikel cair.
Dampaknya dapat menyebabkan sesak napas dan jika terhirup
akan memenuhi rongga paru-paru pada makhluk hidup. Dampak
ini bisa terjadi saat itu juga atau beberapa waktu kemudian.
Walaupun wujudnya partikel cair, tapi tentu mengandung unsur
kimia yang sudah disajikan di atas.
c. Bahan Pencemar Berbentuk Partikel Padat
1) Partikel dalam bentuk padat dapat berupa debu atau abu yang
berasal dari bahan bakar kendaraan yang bercampur dengan
timbal (Pb). Biasanya bahan bakar kendaraan dicampur dengan
timbal.
Tujuan timbal dicampurkan dalam bahan bakar ialah untuk
mempercepat proses pembakaran agar mesin berjalan
sempurna.
Timbal (Pb) akan bereaksi dengan klor dan brom membentuk
partikel PbClBr. Partikel tersebut akan dikeluarkan melalui
knalpot ke udara.
2) Partikel kecil yang beterbangan ke udara karena peristiwa
pembakaran bahan-bahan anorganik oleh manusia, baik
domestik maupun industri.
Secara umum, penyebab yang utama ialah industri. Tapi,
aktivitas domestik juga tidak bisa dikatakan tidak mencemari
udara melalui pembakaran sampah dan kegiatan lainnya.
Dampak dari pencemaran udara yang disebabkan oleh partikel
padat ialah menyebabkan gangguan kesehatan pada makhluk
hidup terutama saluran pernapasan. Dampak terhadap
gangguan pernapasan ini, bisa terjadi saat itu juga, tapi juga
bisa terjadi beberapa saat kemudian.

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 83


Hal ini disebabkan karena akumulasi partikel telah melewati
batas normal dan kemampuan organ pernapasan mentolerirnya secara
biologis.
Dalam kondisi udara yang disebut normal, ialah ketika manusia
tidak mengalami gangguan untuk bernapas. Terjadi atau tidaknya
gangguan ini, dapat dirasakan langsung oleh manusia tanpa melalui
alat tertentu.
Ketika berada di pantai yang bersih atau di kawasan hijau dan di
pedesaan, manusia akan merasakan udara yang dihirup itu segar. Pada
kawasan padat penduduk dan aktivitas industri di kota besar, udara
yang dihirup terasa menyesakkan dada.
Kristanto (2004) mengemukakan bahwa konsentrasi CO2 di udara
selalu rendah, yaitu sekitar 0,03%. Konsentrasi ini mungkin naik tapi
dalam kisaran yang sangat kecil.
Kondisi naiknya konsentrasi CO2 biasanya terjadi pada kawasan di
mana terjadinya pembusukan bahan organik, pembakaran, atau di antara
kerumunan manusia yang berada dalam ruangan terbatas. Komposisi
udara normal kering, di mana semua uap air telah dihilangkan, relatif
konstan. Komposisi udara kering yang bersih yang dikumpulkan di
sekitar disajikan pada Tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1 Komposisi Udara Kering dan Bersih


No. Komposisi Formula % volume ppm
1. Nitrogen N2 78,08 780.800
2. Oksigen O2 20,85 209.500
3. Argon Ar 0,934 9.340
4. Karbon dioksida CO2 0,0314 314
5. Neon Ne 0,00182 18
6. Helium He 0,000524 5
7. Metana CH4 0,0002 2
8. Kripton Kr 0,000114 1
Sumber: Kristanto (2004)

84 Pencemaran Lingkungan
Di samping Tabel 5.1 di atas, Peave (1986) juga telah melaporkan
konsentrasi gas di dalam atmosfer bersih dan kering, yang disajikan
pada Lampiran 1. Udara dalam keadaan alamiah, tidak pernah terbebas
dari bahan-bahan kimia yang dianggap sebagai bahan berbahaya (dalam
jumlah yang melebihi baku mutu udara) seperti SO2 (Sulfurdioksida),
H2S (Hidrogen Sulfida) dan CO (karbon monoksida).
Senyawa tersebut di atas dilepaskan ke udara melalui proses
alamiah. Proses alamiah itu, seperti pembusukan dan pelapukan oleh
jasad renik (decomposer) dan aktivitas vulkanik.
Tetapi kita tidak menyebut senyawa kimia itu sebagai polutan
(bahan pencemar) dalam perspektif pencemaran lingkungan (pollution).
Karena itu adalah peristiwa alamiah.
Jika senyawa kimia tersebut dilepaskan oleh akibat aktivitas
manusia, barulah kita menyebutnya sebagai polutan. Walaupun dalam
kehidupan sehari-hari, sering disebut semua bahan berbahaya sebagai
polutan.
Untuk membedakan polutan dengan tidak polutan terhadap bahan
yang mengganggu manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya
itu, dapat ditentukan dengan jawaban atas pertanyaan “apakah manusia
mampu mengatur dan mengendalikan bahan berbahaya itu untuk
muncul atau tidak?”
Jika manusia mampu mengatur dan mengontrol suatu bahan
pencemar untuk mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan
maka itu adalah polutan. Tapi, apabila manusia tidak bisa mengatur
dan mengontrol munculnya suatu bahan pencemar dari proses alamiah
maka itu tidak bisa disebut sebagai polutan.
Bisakah kita mengatur terjadinya letusan gunung berapi?

2. Analisis Polutan Udara Menurut Sifat Kimia


Polutan udara yang sudah diketahui, selanjutnya akan dianalisis
menurut sifat kimianya. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa
bahan pencemar udara terdiri dari (1) partikel dan debu; serta (2) gas
dan uap.
Apabila diuraikan satu per satu berdasarkan pada sifat kimianya,
didapat skema seperti yang disajikan pada Gambar 5.1 berikut.

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 85


Polutan Udara

gas dan uap partikel dan debu

Larut Tidak larut Bahan anorganik Bahan


dalam dalam air dan mineral organik
air

Larut Bereaksi dengan


media

Tidak
Larut Tidak bereaksi
dengan media

Gambar 5.1 Analisis Polutan Udara Menurut Sifat Kimia

Pada Gambar 5.1 terlihat bagaimana kompleksinya sifat polutan


pencemar udara yang ada dan berada pada kondisi udara tercemar.
Analisis terhadap sifat polutan di atas, di tinjau dari sifat kimianya,
seperti jenis zat dan kelarutannya dalam air atau pada media yang
ditempatinya.
Dapat dilihat pada polutan yang berupa partikel dan debu, ada
bahan yang tidak larut dalam air, dan pada bahan organik ada pula yang
tidak bereaksi dengan medianya.
Hal ini menyebabkan terjadinya waktu pencemaran udara menjadi
lama.
Analisis ini digunakan sebagai dasar pertimbangan terhadap
langkah-langkah pengendalian terhadap pencemaran udara. Karena
tanpa diketahui sifat kimia dari polutan maka langkah pengendalian
menjadi sulit ditentukan.

86 Pencemaran Lingkungan
B. Pencemaran Tanah
Sama halnya dengan pencemaran pada udara, maka di tanah pun
bisa terjadi pencemaran oleh bahan bahan pencemar yang keberadaannya
melebihi batas toleran daya dukung lingkungan.
Sumber pencemar pada tanah berdasarkan jenisnya dapat
digolongkan atas empat.

1. Pencemaran Tanah Karena Aplikasi Pestisida


Pestisida adalah bahasa yang paling akrab dengan pertanian. Ilmu
pertanian tidak merekomendasikan penggunaan pestisida sebagai satu-
satunya cara dalam teknik budi daya pertanian.
Paling tidak ada tiga cara dalam pengembangan teknik budi
daya pertanian untuk suatu hasil yang diharapkan tanpa mencemari
lingkungan. Dalam praktisnya, hal ini jarang dilakukan. Kecenderungan
terhadap pestisida dan pupuk sintetis lebih mendominasi di kalangan
petani, karena di samping kurangnya pengetahuan, juga karena fanatik
terhadap merek dan hasil instan dari penggunaan bahan kimia tersebut.
Ketiga cara budi daya itu ialah sebagai berikut.
a. Kultur teknis, seperti pengolahan tanah berupa perbaikan struktur
tanah, rotasi tanaman dan jarak tanam yang diatur sedemikian rupa,
dan lain sebagainya.
b. Penanaman bibit unggul dari induk yang sehat yang dapat dikenali
dari morfologis (tampak luar) tanaman induk.
c. Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara terpadu, berupa
(a) teknik fisika, (b) teknik biologis, (c) teknik kimia.
Posisi aplikasi pestisida berada pada poin ketiga dan itu pun
terletak pada sub poin (c) teknik pengendalian kimia. Di poin (c) inilah
digunakan pestisida dari sekian banyak metode yang dikembangkan.
Pestisida berasal dari kata pest = pengganggu dan sida = racun.
Pestisida = bahan beracun sintetis yang membunuh hama dan penyakit
tanaman. Dari dua kata itu saja sudah dapat dimengerti maksudnya
sebagai bahan yang beracun, walaupun diarahkan terhadap hama dan
penyakit tanaman, tapi bukan berarti tidak beracun bagi manusia.

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 87


Dampak pestisida tidak hanya mencemari lingkungan tanah dan air
sebenarnya. Tapi sesungguhnya mengakibatkan terjadinya kerusakan
lingkungan. Dalam konsep PPLH (Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup) memang dibedakan antara pencemaran lingkungan
dengan perusakan lingkungan.
Tapi dalam praktisnya, peristiwa pencemaran dan atau kerusakan
itu, sering terjadi bersamaan di salah satu atau lebih komponen
lingkungan. Pencemaran di air, sering mengakibatkan terjadinya
kerusakan pada tanah.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh dampak pestisida terhadap tanah
ialah perubahan tekstur dan struktur tanah. Akumulasi residu pestisida
memengaruhi agregat tanah. Apalagi residu pupuk sintetis.
Pestisida berdasarkan kegunaannya dibagi atas beberapa golongan
yaitu (1) insektisida, untuk membasmi serangga (insekta), (2)
herbisida, untuk membasmi gula atau tumbuh-tumbuhan yang
dianggap pengganggu, (3) fungisida, untuk membasmi pertumbuhan
dan perkembangan jamur (fungi), (4) nematisida, untuk membasmi
family cacing halus (nematode), (5) rodentisida, untuk membasmi tikus
(rodentia), (6) bakterisidam untuk membasmi perkembangan bakteri.
Ke semua jenis pestisida digunakan hampir di seluruh lahan
pertanian di tanah air. Bisa kita bayangkan efek residu dan akumulasi
bahan berbahaya yang tinggal dan menetap di tanah. Tanah yang
diharapkan subur untuk lahan pertanian, akan mengalami degradasi
secara perlahan.
Istilah degradasi ini, dapat dimaknai sebagai penurunan fungsi
lingkungan karena terjadinya pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan. Degradasi sumber daya lahan karena efek pestisida ternyata
juga berdampak pada pencemaran air. Lebih dari itu, bahkan terjadinya
hujan asam karena penguapan uap air yang mengandung residu pestisida
dari tanah, akan dibawa turun oleh air hujan ke bumi.
Reaksi sederhananya ialah sebagai berikut.
SO3 + H2O → H2SO4
SO3 merupakan residu pestisida yang bersama uap air naik ke atas,
dan dibawa turun lagi oleh air hujan (H2O) yang telah mengandung
asam sulfat (H2SO4). Inilah yang menyebabkan terjadinya cat bangunan
yang terkelupas, karena hujan mengandung asam sulfat.

88 Pencemaran Lingkungan
Sastrawijaya (1991) melaporkan golongan, nama dan unsur yang
dikandung pestisida yang ada di Indonesia, yang disajikan pada Tabel
2 berikut.

Tabel 5.2 Beberapa Pestisida Menurut Golongan Nama dan Unsurnya

No. Golongan Nama Unsur


1. Desikan, Defoliant Natrium Klorat Na
2. Fumigan Metil Bromida Br
Sulfuril Fluorida F
3. Fungisida Kadnium Klorida Cd
Larutan Bordeaux Cu
Ferbam Fe
Maneb Mn
Fenil Merkuri Arsenat Hg
Zineb Zn
4. Herbisida Asam Kokadilin As
Natrium Borat B
5. Insektisida Klordan Cl
Timbal Arsenat Pb
Magnesium Fluosilikat Mg
Matomil N
6. Mitisida Sineksatin Sn
Tetradifon S
7. Organik Organofosfat O
Organofostat P
Sumber: Sastrawijaya (1991)

Dari Tabel 5.2 terlihat beberapa golongan pestisida yang digunakan


oleh petani di lahan-lahan pertanian. Dapat kita ketahui unsur kimia
yang dikandungnya merupakan unsur yang sudah kita pelajari sebagai
bahan pencemar baik pada udara, tanah, dan air.
Pencemaran tanah akibat residu pestida tidak hanya berhenti
sampai di tanah saja. Bisa dimakan oleh manusia melalui bahan tanaman
hasil panen, bisa diuapkan melalui penguapan dan bereaksi dengan air
hujan membentuk hujan asam, seperti yang telah diuraikan sebelumnya,
dan bisa mengalir ke badan-badan air dan lain sebagainya.
Segumpal tanah seberat 0,5 kg mengandung sekitar 1 triliun
bakteri, 200 juta jamur, 25 juta algae, 15 juta protozoa, serta cacing,
insekta dan makhluk kecil lainnya. Apabila penyemprotan dilakukan

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 89


berlebihan maka semua makhluk penyubur tanah akan ikut lenyap
(Sastrawijaya, 1991).
Palar (2004) melaporkan bahwa salah satu keracunan pestisida
dengan bahan aktif DDT (Dichloro Diphenyl Trikhloroetana) pernah
terjadi di Jepang. Pada awal pemakaian pestisida di negeri Sakura itu,
telah meningkatkan jumlah lumbung beras sampai 33%. Sementara
itu, tercatat pemakaian phenyl mercury sebagai bahan pestisida sebesar
140.000 ton.
Keadaan tersebut kemudian ternyata menimbulkan kerugian lain,
yaitu punahnya populasi Bangau Putih (ciconia ciconia) yang banyak
hidup di area persawahan di Jepang.

2. Pencemaran Tanah Karena Sampah Anorganik


Pencemaran tanah karena keberadaan sampah anorganik secara
umum lebih banyak disebabkan karena limbah domestik dewasa ini.
Karena semakin padatnya pemukiman di kota besar, sehingga timbulan
sampah dari rumah tangga pun meningkat. Di samping itu, aktivitas
manusia selain di dunia industri seperti di perkantoran, di pasar dan
lain sebagainya telah berkontribusi terhadap pencemaran tanah karena
keberadaan sampah anorganik.
Di samping menurunkan kualitas lingkungan, terutama aspek
estetika, keberadaan sampah anorganik juga bisa sebagai vektor dari
berbagai penyakit pada manusia dan hewan peliharaan.

3. Pencemaran Tanah Karena Sampah Organik


Sama halnya dengan pencemaran tanah karena sampah anorganik,
maka pada sampah organik yang berasal dari makhluk hidup ini juga
sering berada dalam lingkungan hidup.
Keberadaan sampah organik yang disebabkan oleh manusia ini tak
lepas dari aktivitas ekonomi manusia, seperti di pasar dan pertokoan
yang memiliki barang dagangan berupa makhluk hidup seperti ayam
potong dan lain sebagainya.

90 Pencemaran Lingkungan
4. Pencemaran Tanah Karena Deterjen
Deterjen memiliki senyawa kimia. Deterjen yang digunakan oleh
domestik maupun industri berupa limbah cair sering langsung dialirkan
ke badan air. Hal tersebut membuat terjadinya pencemaran air yang
kemudian terakumulasi pada tanah.

C. Pencemaran Air
Jika didefinisikan pencemaran air dalam suatu pernyataan, maka
pencemaran air adalah terjadinya perubahan dan penyimpangan sifat-
sifat alamiah dari air yang ada di lingkungan hidup manusia. Kristanto
(2000) menyatakan disebut pencemaran air apabila terjadi penyimpangan
sifat-sifat air dari keadaan normal.
Keadaan normal tidak sama dengan kemurnian air. Di alam, air
tidak pernah berbentuk murni, tapi bukan berarti semua air itu tercemar.
Karena semua air yang ada di alam, sudah bercampur dengan CO2, O2
dan N2 serta bahan-bahan tersuspensi lainnya seperti partikel-partikel
yang terbawa oleh air hujan karena peristiwa alamiah.

1. Bahan Pencemar Air


Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar sebagai
berikut.
a. Pembuangan limbah industri, seperti Pb, Hg, Zn dan CO yang
terakumulasi pada badan air, menjadi racun yang berbahaya bagi
makhluk hidup.
b. Pestisida dan residu pestisida
Aplikasi pestisida dalam kegiatan pertanian serta pengolahan
pascapanen tak jarang berakibat terjadinya pencemaran air melalui
badan air.
Pada lahan-lahan pertanian beririgasi teknis, sangat rentan terjadinya
pencemaran air. Karena pestisida secara langsung mengalir bersama
air irigasi.
Walaupun tidak terlihat nyata perubahan warna yang terjadi karena
air yang mengalir, tapi pada suatu keadaan terjadi akumulasi bahan
pestisida tersebut yang mengakibatkan terjadinya pencemaran air
yang berakibat fatal.

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 91


Residu pestisida yang mencemari air, sama halnya dengan proses
pencemaran tanah. Residu pestisida tersimpan dalam tanah dan
dihanyutkan oleh air ke badan-badan air.
c. Pembuangan limbah domestik, misalnya, sisa deterjen hasil cucian
dan masuk ke badan air. Limbah domestik dalam hal ini diartikan
sebagai limbah yang bukan dari industri. Aktivitas pasar termasuk
ke dalam limbah domestik.
d. Tumpahan minyak bumi di laut
Tumpahan minyak bumi di laut adalah suatu peristiwa pencemaran
lingkungan. Walaupun alasan kecelakaan misalnya, tapi itu tetap
akibat perbuatan manusia.
Tumpahan minyak di laut bisa dipandang tidak berbahaya langsung
bagi manusia, karena tidak mendatangkan kematian pada manusia
secara langsung.
Biasanya manusia menilai bahaya tidaknya suatu proses pencemaran
berdasarkan angka kematian pada manusia.
Padahal efeknya terhambat pada manusia juga akhirnya, ketika
tumpahan minyak menyebabkan kematian flora dan fauna di laut.
Secara ekonomis manusia kekurangan sumber daya. Belum lagi
efek yang mungkin timbul sebagaimana tragedi Minamata. Di mana
orang-orang yang memakan kerang mengidap penyakit.

2. Aspek Kimia dan Fisika Pencemaran Air


Yang dimaksud dengan aspek kimia dan fisika pencemaran air
ini adalah penentuan tingkat pencemaran air. Terjadinya pencemaran
terhadap air oleh bahan pencemar di atas, akan dapat ditentukan
menurut aspek kimia dan aspek fisika.
Penentuan tingkat pencemaran air menurut aspek fisika adalah cara
yang paling praktis dan mudah dilakukan. Karena bisa secara langsung
dideteksi suatu keadaan air yang ada dengan pancaindra manusia.
Seperti air yang berbau, berasa dan berwarna. Hal ini bisa disebut
sebagai aspek fisika air.
Aspek kimia air meliputi kandungan bahan kimia seperti nitrat,
amoniak, fosfat dan klorida. Sebagian ahli ada yang memasukkan pH
ke dalam aspek kimia ini.

92 Pencemaran Lingkungan
Secara umum aspek kimia dan fisika air yang tercemar juga meliputi
daya hantar listrik air, suhu dan jumlah padatan yang dikandung air
tersebut. Secara rinci aspek-aspek kimia dan fisika dalam hubungannya
dengan sumber limbah dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut.

Tabel 5.3 Hubungan Aspek Kimia - Fisika dengan Sumber Pencemar


Aspek Kimia dan Fisika Sumber Pencemar

Kimia Organik
1. Karbohidrat Limbah industri dan domestik
2. Pestisida Aktivitas pertanian dan pasca panen
3. Penol Limbah industri
4. Minyak, Lemak dan Protein.
Limbah industri dan domestik
Kimia An Organik
1. Bahan beracun
Limbah industri.
2. pH, Sulfur, Fosfor
Limbah industri
3. Alkali, klorida
Limbah industri dan domestik
Fisika
1. Warna dan rasa Limbah industri dan domestic
2. Bau dan suhu Limbah industri

3. Aspek Biokimia Pencemaran Air


Makhluk hidup yang terdiri dari mikroorganisme di dalam air,
untuk kelangsungan hidupnya membutuhkan oksigen. Jumlah oksigen
di dalam air sangat menentukan proses penguraian yang dilakukan oleh
mikroorganisme ini.
Pengujian terhadap kandungan oksigen dalam air yang lazim untuk
mengukur tingkat pencemaran air adalah BOD (Bilologi Oxygen Demand)
dan COD (Chemical Oxygen Demand). Penelitian lebih lanjut tentang
kadar BOD dan COD ini dapat mengukur daya tampung suatu badan
air terhadap beban pencemaran.
Hal ini dilakukan dengan cara mengukur terlebih dahulu angka
BOD dan COD yang ada pada suatu badan air seperti sungai, kemudian
dilihat batas baku mutu lingkungannya.
Dari selisih antara baku mutu lingkungan dengan beban jumlah
kandungan BOD dan COD yang ada inilah yang menentukan daya tampung
sungai tersebut terhadap beban pencemaran. Apabila kadar BOD dan COD
telah melewati batas baku mutu berarti sungai tersebut telah tercemar
dan perlu kebijakan yang mendesak untuk melindungi sungai tersebut.

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 93


D. Resume
Secara umum, senyawa kimia yang terakumulasi pada salah
satu komponen lingkungan hidup seperti udara, tanah dan air, akan
menyebabkan gangguan pada makhluk hidup. Gangguan itu bisa terjadi
saat itu juga, atau terjadi beberapa saat kemudian.
Terjadinya pencemaran pada udara, tanah dan air bisa disebabkan
oleh aktivitas manusia dalam industri, pertanian, dan limbah domestik.
Ke semua aktivitas itu, menyebabkan masuknya bahan pencemar
ke dalam komponen lingkungan hidup, sehingga terjadi peristiwa
pencemaran lingkungan. Secara tabulasi, pernyataan ini dapat disajikan
sebagaimana pada Tabel 5.4 berikut.

Tabel 5.4 Rangkuman Pencemaran terhadap Komponen Lingkungan


Komponen
No. Sumber Polutan
Udara Air Tanah
1. Kebakaran Hutan CO x    
    CO2 x    
    SO2 x x x
    Smog x x x
2. Kendaraan Bermotor CO x    
    NO2 x    
    SO2 x x x
    Smog x x x
    Bising x    
3. Industri CO x    
    CO2 x    
    SO2 x x x
    NOx x x  
    Bising x    
4. Domestik Plastik x x x
    Kaca   x x
    Logam   x x
    Deterjen   x  
5. Pestisida Pb x x x
    Hg x x x
    Cd x x x
    Zn x x x
6. Radioaktif Radiasi x x x
Sumber: Hasil Analisis Data Penelitian, 2017

94 Pencemaran Lingkungan
KETIKA POHON TERAKHIR DITEBANG,
IKAN TERAKHIR DITANGKAP
DAN AIR SUNGAI TELAH MENGERING
BARULAH MANUSIA SADAR BAHWA
UANG TIDAK BISA DIMAKAN

Bab 5 | Pencemaran Terhadap Komponen Lingkungan 95


[Halaman ini sengaja dikosongkan]
BAB
6
POLUTAN DAN PARAMETER
PENCEMARAN

Berdasarkan jenis atau macamnya, maka polutan dapat dibedakan


atas jenis kimia, biologi dan fisik. Penggolongan berdasarkan kriteria
ini, diperlukan dalam hal identifikasi pencemaran yang terjadi pada
suatu komponen lingkungan.
Kegunaan identifikasi dilakukan, selanjutnya menentukan teknik
analisis dalam pengolahan data dalam penelitian. Begitu juga halnya
terhadap langkah pengendalian yang akan direkomendasikan, sangat
tergantung dari jenis polutan berdasarkan penggolongan ini.
Walaupun dari bahasan sebelumnya hal ini sebenarnya sudah
disajikan, tapi sepertinya penulis merasa perlu menyajikan secara fokus
dalam satu bab tentang hal ini. Di samping memperkuat perhatian, juga
untuk mempermudah memahami maksudnya.
Pada bahasan sebelumnya, secara umum dijelaskan terjadinya
pencemaran pada komponen lingkungan (udara, air, tanah) karena
masuknya bahan pencemar yang dilihat dari wujudnya, serta dampak
yang ditimbulkannya. Sedangkan pada bahasan ini, lebih dipertajam
tentang bahan pencemar yang dimaksud dengan peninjauan dari jenis
bahan pencemar (pollutant) itu.

A. Jenis Kimia
Jenis polutan yang merupakan bahan kimia, ialah:
1. zat radio aktif,
2. logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Hi),

Bab 6 | Polutan dan Parameter Pencemaran 97


3. pupuk anorganik,
4. pestisida,
5. detergen dan
6. minyak.
Masing-masing polutan itu bisa bersumber dari kegiatan industri
yang menghasilkan limbah, yang tidak melakukan pengelolaan terhadap
limbahnya. Di samping itu, bisa juga disebabkan oleh limbah domestik,
seperti rumah tangga, pasar dan rumah sakit serta perkantoran.

B. Jenis Biologi
Polutan yang tergolong pada jenis biologis ialah seluruh
mikroorganisme yang bersifat pathogen, seperti Escherichia Coli,
Entamoeba Coli, dan Salmonella Thyposa. Bakteri E-coli terdapat
pada kotoran manusia. E-coli dapat mengkontaminasi perairan dan
menularkan berbagai macam penyakit bila masuk ke dalam tubuh
manusia. Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat E-coli antara lain
typhus, kolera, hepatitis dan lain lain.

C. Jenis Fisik
Polutan yang tergolong fisis ialah:
1. Kaleng
2. Botol,
3. Plastik
4. Karet.
Umumnya keberadaan polutan dalam fisis ini berada pada sampah
domestik dan industri. Di samping itu, pencemaran lingkungan berupa
kebisingan, radiasi dan suhu juga dikelompokkan menurut jenis fisik ini.

D. Parameter Pencemaran
Yang dimaksud parameter pencemaran adalah beberapa kuantitas
bahan pencemar yang terukur untuk menggambarkan keadaan
pencemaran lingkungan yang terjadi.

98 Pencemaran Lingkungan
Dengan kata lain, untuk mengukur tingkat pencemaran di
suatu tempat digunakan apa yang disebut sebagai parameter
pencemaran.
Di samping parameter pencemaran ini digunakan sebagai indikator
atau petunjuk terhadap indikasi terjadinya pencemaran, juga sebagai
penentu tingkat pencemaran yang sedang atau telah terjadi. Sering
terjadi di lapangan orang menyamakan antara parameter dengan
indikator.
Tetapi, sebenarnya antara parameter dengan indikator tentu
berbeda. Parameter berarti jumlah bahan pencemar yang berada pada
suatu lingkungan yang terukur, seperti BOD, COD dan TSS dan lain
sebagainya. Sedangkan indikator adalah sesuatu yang dijadikan sebagai
petunjuk bahwa telah terjadi pencemaran pada suatu komponen
lingkungan. Hanya saja, seperti diutarakan di atas, parameter
pencemaran itu, juga bisa dijadikan sebagai indikator.
Beberapa parameter pencemaran ini ialah (1) parameter kimia, (2)
parameter biologis, dan (3) parameter fisik.

1. Parameter Kimia
Parameter kimia meliputi C02, pH, alkalinitas, fosfor, dan logam-
logam berat. Artinya, kandungan unsur-unsur di atas akan menentukan
tingkat pencemaran yang terjadi. Sebagai contoh berikut disajikan
pengukuran terhadap beberapa parameter kimia yang mencemari air
seperti (a) pH air, (b) kadar CO2, dan (c) oksigen terlarut.
a. Pengukuran pH air
Pada kondisi alamiah, atau pada keadaan air sungai yang belum
tercemar, memiliki pH dengan interval pH 6,5 – 8,5. Karena
pencemaran terjadi, pH air dapat menjadi lebih rendah dari 6,5
atau lebih tinggi dari 8,5.
Keberadaan bahan-bahan organik sebagai bahan pencemar pada air
biasanya menyebabkan kondisi air menjadi lebih asam. Sementara
itu, keberadaan kapur dapat menyebabkan kondisi air menjadi alkali
(basa). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perubahan pH
air, tergantung kepada bahan pencemarnya (polutan).

Bab 6 | Polutan dan Parameter Pencemaran 99


Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat basa)
tidak cocok untuk kehidupan kebanyakan organisme. Untuk
setiap perubahan satu unit skala pH (dari 7 ke 6 atau dari 5 ke 4)
dikatakan keasaman naik 10 kali. Jika terjadi sebaliknya, keasaman
turun 10 kali.
Keasaman air atau sering disebut juga dengan derajat keasaman
air, dapat diukur secara sederhana dengan mencelupkan kertas
lakmus. Kertas lakmus adalah indikator terhadap derajat keasaman
air. Apabila kertas lakmus berwarna biru maka air berarti basa,
sebaliknya jika berwarna merah, maka ini mengindikasikan air
bersifat asam.
b. Pengukuran Kadar CO2
Gas CO2 juga dapat larut ke dalam air. Kadar gas CO2 terlarut itu,
sangat dipengaruhi oleh suhu, pH, dan banyaknya organisme yang
hidup di dalam air tersebut.
Semakin banyak organisme di dalam air, semakin tinggi
kadar atau kandungan karbon dioksida terlarut (kecuali jika di dalam
air tersebut terdapat ekosistem tumbuhan air yang melakukan
fotosintesis).
Pengukuran kadar atau kandungan gas CO 2 di dalam air
ini, dapat diu ­ ku r d e n g a n c a r a y a n g d i ke n a l d e n g a n
cara­ titrimetri.
c. Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut
Dalam kondisi alami, air yang tidak tercemar mempunyai
kadar oksigen terlarut yang berkisar antara 5-7 ppm (part
per million atau satu per sejuta).
Jika disebutkan kadar oksigen 1 ppm berarti terdapat jumlah 1 ml
oksigen yang terlarut dalam volume 1 liter air.
Penurunan kadar oksigen di dalam air, dapat terjadi karena (1)
proses oksidasi bahan-bahan organik yang ada, (2) proses reduksi
oleh zat-zat yang dihasilkan oleh bakteri anaerob dari dasar
perairan, dan (3) proses respirasi atau pernapasan organisme yang
hidup dalam air, terutama pada malam hari.
Pencemaran air, terutama yang disebabkan oleh bahan
pencemar organik akan dapat mengurangi persediaan oksigen

100 Pencemaran Lingkungan


terlarut. Hal ini akan mengancam kehidupan organisme yang hidup
di dalamnya.
Semakin tercemar air tersebut, maka kadar oksigen terlarut semakin
mengecil. Pengukuran terhadap kadar oksigen terlarut itu, dapat
dilakukan dengan metode Winkler.

2. Parameter Biokimia
Parameter biokima adalah pengukuran tingkat pencemaran dengan
menggunakan parameter kimia melalui makhluk hidup. Dalam hal ini
makhluk hidup yang dimaksud ialah jasad renik. Yang diukur ialah
kegiatan pernapasannya.
Parameter biokimia ini contohnya ialah pengukuran (1) BOD
(Biochemical Oxygen Demand), (2) COD (Chemical Oxygen Demand).
Bahan pencemar organik (daun, bangkai, karbohidrat, protein)
dapat diuraikan oleh bakteri air. Untuk melakukan penguraian tersebut,
bakteri memerlukan oksigen. Akibatnya, kadar oksigen terlarut dalam
air akan semakin berkurang.
Semakin banyak bahan pencemar organik yang ada di perairan
tersebut, maka akan semakin banyak pula oksigen yang dibutuhkan.
Sehingga, mengakibatkan semakin kecil kadar oksigen terlarut.
Banyaknya oksigen terlarut yang diperlukan bakteri untuk
mengoksidasikan bahan organik disebut sebagai Konsumsi Oksigen
Biologis (KOB) atau Biological Oksigen Demand, yang biasa disingkat
dengan BOD.
Angka BOD ditetapkan dengan menghitung selisih antara oksigen
terlarut awal dan oksigen terlarut setelah air cuplikan (sampel) disimpan
selama lima hari pada suhu 200 Celcius. Kegiatan ini sangat kuantiti
sehingga dalam penulisan BOD ini, mesti ditulis secara lengkap seperti
BOD205 atau bisa juga ditulis dengan “BOD5”.
Oksigen terlarut awal diibaratkan kadar oksigen maksimal yang dapat
larut di dalam air. Biasanya, kadar oksigen dalam air ini diperkaya terlebih
dahulu dengan oksigen. Setelah disimpan selama lima hari, diperkirakan
bakteri telah berkembang biak dan menggunakan oksigen terlarut untuk
proses oksidasi. Sisa oksigen terlarut yang ada, diukur kembali. Akhirnya,
konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengurangi kadar oksigen
awal dengan oksigen akhir, setelah lima hari.

Bab 6 | Polutan dan Parameter Pencemaran 101


Sisa oksigen terlarut yang ada, diukur kembali. Akhirnya,
konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengurangi kadar oksigen
awal dengan oksigen akhir, setelah lima hari.

3. Parameter Fisik
Parameter fisik meliputi temperatur, warna, rasa, bau, kekeruhan
terhadap air. Menentukan tingkat pencemaran dengan menggunakan
parameter fisik berarti kegiatan pengukuran terhadap warna, rasa, bau, suhu,
kekeruhan, dan radioaktivitas.
Masing-masing parameter tersebut di atas, sekaligus bisa menjadi
indikator tingkat pencemaran terhadap air secara relatif.

4. Parameter Biologi
Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya mikroorganisme,
misalnya, bakteri coli, virus, dan plankton. Masing-masing parameter
tidak bisa ditentukan begitu saja secara langsung melalui pancaindra,
tetapi membutuhkan peralatan dan media laboratorium. Kecuali
parameter fisik yang langsung diindrai seperti warna, rasa, dan bau.
Di alam terdapat hewan-hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme
yang peka, tapi ada pula yang tahan terhadap kondisi lingkungan
tertentu. Organisme yang peka (sensitif) akan mati karena pencemaran
dan organisme yang tahan akan tetap hidup.
Dengan demikian, yang bisa dijadikan indikator tentu ketidakberadaan
hewan tertentu pada suatu keadaan lingkungan, yang biasanya secara
alamiah hewan itu ada. Dapat dicontohkan seperti Siput Air dan
Planaria yang merupakan hewan yang peka terhadap pencemaran.
Sungai atau badan air yang ditempati oleh Siput Air dan Planaria
menunjukkan sungai tersebut belum mengalami pencemaran. Dalam
hal ini, kedua jenis hewan itu bisa mengindikasikan kondisi air tercemar
atau tidaknya. Sebaliknya jika tidak ada Siput Air dan Planaria dalam
suatu badan air, maka bisa disimpulkan telah terjadi pencemaran pada
air tersebut.
Hewan ini pun bisa dijadikan sebagai indikator biologis telah
terjadinya pencemaran. Untuk lebih memahami istilah parameter dan
indikator dalam domain pencemaran lingkungan ini, akan disajikan
definisi masing-masing pada Subbab E Indeks Lingkungan nanti.

102 Pencemaran Lingkungan


Hewan air berupa Cacing Tubifex (cacing merah) merupakan
bangsa cacing yang tahan hidup dan bahkan tetap bisa berkembang
biak (proses reproduksi) dengan baik pada lingkungan yang kaya atau
banyak mengandung bahan-bahan organik, meskipun spesies hewan
yang lain telah mati.
Sama halnya dengan Siput Air dan Planaria, keberadaan cacing
merah pada air, dapat pula dijadikan indikator pencemaran air dengan
polutannya bahan organik.
Hasil penelitian baru-baru ini terkait tentang indikator biologis
ialah capung. Capung yang terlihat berada di suatu lingkungan, bisa
diindikasikan bahwa lingkungan udara berada pada kondisi yang baik.
Karena capung ternyata sangat sensitif terhadap udara yang tercemar.
Capung segera akan meninggalkan ruangan atau lingkungan udara
yang cemar.

E. Indeks Lingkungan
Dalam upaya menggambarkan data polusi, cukup banyak istilah yang
digunakan. Memang terdapat bermacam-macam istilah di dalam ranah
lingkungan hidup, begitu juga dalam lingkup indeks lingkungan ini.
Untuk itu dalam pembahasan ini, kita letakkan batasan dan
pengertian terkait indeks lingkungan secara tepat.
Indeks lingkungan merupakan gambaran kuantitas lingkungan
melalui pendekatan matematis. Sehingga makna istilah dalam
matematis menjadi teradopsi dan dimodifikasi sesuai kebutuhan di
dalam ranah lingkungan.
Beberapa istilah dan batasan yang mesti diacu dalam mengkaji
permasalahan pencemaran lingkungan terutama dalam hal penggambaran
kualitas lingkungan (indeks lingkungan) yang berimplikasi terhadap
pengelolaan kualitas lingkungan ialah sebagai berikut.
1. Variabel
Beberapa atribut dari ketertarikan yang diambil pada nilai-nilai
yang berbeda-beda sesuai kebutuhan (dalam bahasa matematis).
Dalam hal ini, si peneliti boleh memilih atribut mana yang akan
dijadikannya sebagai variabel, dengan landasan teoretis yang sudah
cukup memadai.

Bab 6 | Polutan dan Parameter Pencemaran 103


2. Variabel Lingkungan
Beberapa kuantitas lingkungan yang dapat diukur atau terukur
(dalam bahasa umum).
3. Parameter
Beberapa kuantitas lingkungan yang terukur untuk menggambarkan
keadaan lingkungan (istilah ini digunakan dalam ranah lingkungan
untuk menggantikan istilah variabel lingkungan).
Sebagaimana yang telah kita pahami, bahwa pendekatan di dalam
ranah lingkungan, termasuk tentu saja dalam telaah pencemaran
lingkungan, lebih kepada sebuah sistem yang terdiri dari beberapa
komponen (sub sistem) yang berinteraksi kuat satu sama lain,
sehingga dalam metodologinya lebih lazim dengan pendekatan
sistem.
Pendekatan sistem lebih praktis dilakukan dengan cara pemodelan.
Melalui pemodelan dapat direpresentasikan kondisi realitas suatu
lingkungan yang akan dikaji.
Istilah parameter lebih tepat dan lazim dipakai dari pada istilah
variabel di dalam penelitian pencemaran lingkungan. Tetapi bisa
saja tetap digunakan istilah variabel yang biasanya disebut dengan
“variabel polutan” yang disesuaikan dengan lingkup penelitian.
4. Variabel Polutan
Yang dimaksud dengan variabel lingkungan ialah setiap kuantitas
fisik, kimia atau biologi yang dijadikan sebagai ukuran polusi
lingkungan.
Misalnya, massa emisi polutan dari kendaraan bermotor, keasaman
air danau, keasaman air sungai atau keasaman lahan gambut dan
lain-lain. Penggunaan variabel polutan ini diperlukan dalam hal
fokus penelitian yang dilakukan.
5. Indikator Lingkungan
Kuantitas tunggal yang berasal dari satu variabel polutan dan
digunakan untuk menggambarkan beberapa atribut lingkungan.
Contohnya adalah angka 0 – 1 yang menggambarkan kuantitas DO
dalam sungai. Kuantitas DO yang ditentukan dengan variasi angka
0 – 1 ini, adalah indikator lingkungan dari kandungan DO.

104 Pencemaran Lingkungan


6. Kualitas Lingkungan
Variabel variabel yang menggambarkan bagian dari lingkungan. Istilah
bagian dari lingkungan ini bisa diartikan sebagai komponen lingkungan
yang hendak ditentukan kualitasnya.
Bisa berupa air, tanah dan udara. Atau bisa juga lebih fokus lagi ke ruas
sungai, lahan tertentu dengan luasan tertentu, dan lain sebagainya.
7. Profil Kualitas Lingkungan
Beberapa indikator lingkungan yang berada pada saat yang sama yang
telah diukur dan ditentukan. Tapi hasilnya tidak digabungkan.
Hal yang perlu diingat ialah bahwa berbagai indeks lingkungan
sering kali juga termasuk variabel lingkungan. Di mana menggambarkan
kuantitas polutan (massa berbagai polutan yang diemisikan dari cerobong
asap atau berbagai efluen dari instalasi pengolahan limbah cair dan bukan
kuantitas sebenarnya yang ada dalam lingkungan ambien) yang dilepaskan/
dimasukkan ke dalam lingkungan.
Di mana pada saat di lingkungan ambien adalah saat setelah terjadi
difusi dan pencampuran dengan variabel lingkungan yang lain. Inilah yang
merupakan lingkungan tercemar.
Artinya, telah terjadi perubahan lingkungan dari kondisi (rona
awal) sebelum terjadinya pencampuran ke kondisi setelah terjadinya
pencampuran (rona akhir).
Sumber variabel-variabel polutan hanya menyinggung kuantitas
polutan yang awalnya dikeluarkan/dimasukkan ke dalam lingkungan,
sehingga tidak secara langsung menggambarkan bagian dari lingkungan.
Untuk bisa menjadi langsung menggambarkan bagian dari lingkungan
itu ialah apabila penentuannya dilakukan ketika sudah tercampur dalam
lingkungan yang akan diukur, yang dalam hal ini kita sebut sudah terjadi
pencemaran lingkungan.
Variabel-variabel yang menggambarkan bagian dari lingkungan
disebuat kualitas lingkungan, variabel polutannya diukur pada kondisi actual
ambient. Contoh untuk memudahkan maksudnya ialah untuk menentukan
kandungan pestisida dalam tanah, konsentrasi berbagai gas di atmosfer,
kuantitas berbagai substansi toksik dalam sungai, semuanya merupakan
variabel polutan. Variabel polutan tersebut akan menggambarkan kualitas
lingkungan.

Bab 6 | Polutan dan Parameter Pencemaran 105


Penentuan ini perlu dilakukan tatkala kita berbicara tentang
pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan mesti berujung pada
pengendalian. Oleh karena itu, kajian mendalam tentang pencemaran
lingkungan ini mesti terukur.
Ada lagi istilah indikator lingkungan yang merupakan kuantitas
tunggal yang berasal dari satu variabel polutan dan digunakan untuk
menggambarkan beberapa atribut lingkungan. Misalnya jumlah hari
observasi konsentrasi SO2 di atmosfer yang melebihi baku mutu udara
ambien dengan menggunakan indikator tingkat polusi SO2.
Hal yang sama adalah variasi angka 0 sampai 1 yang menggambarkan
kuantitas demand oxygen (DO) dalam sungai merupakan indikator
lingkungan dari kandungan DO.
Indikator-indikator lingkungan dapat ditampilkan secara individu
atau gabungan matematis dalam beberapa bentuk indeks lingkungan.
Indeks adalah angka tunggal yang berasal dari dua atau lebih indikator.
Penghitungan indeks pada langkah awalnya biasanya menghitung
indikator-indikator tunggal satu untuk setiap variabel polutan.
Indikator-indikator juga berdasarkan pada subindek.
Perbedaan mendasar antara indikator dengan indeks adalah indikator
berasal dari variabel polutan tunggal, sedangkan indeks berasal dari satu
variabel polutan. Melalui indikator dan indeks inilah bisa ditentukan
kemudian apa yang disebut dengan profil kualitas lingkungan.
Profil kualitas lingkungan ialah jumlah indikator yang ada pada
saat yang sama untuk menghasilkan gambaran kondisi lingkungan tapi
tidak digabungkan.
Materi tentang indeks lingkungan ini, lebih detail dan mendalam
dipelajari dalam pengelolaan kualitas lingkungan.

Kecerdasan adalah realitas manusia terhadap lingkungan


yang berubah.
Tiada kecerdasan pada diri manusia,
Jika tidak ada “kontribusi” dari lingkungan
Akankah manusia dengan kecerdasannya lalu “mem­
posisikan” lingkungan (yang telah mencerdaskannya)
sebagai objek untuk kepuasan belaka?

106 Pencemaran Lingkungan


BAB PERLINDUNGAN
7 DAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP (PPLH)

Pencemaran lingkungan belumlah lengkap tanpa diikuti dengan


konsep perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup (PPLH) ini, merupakan nilai atau
penerapan dari konsep dan metodologi serta pendekatan pencemaran
lingkungan yang sudah dipelajari.

A. Perlindungan Lingkungan
Istilah perlindungan lingkungan lebih praktis dan popular diwarisi
dan dipahami sebagai pelestarian lingkungan hidup. Konsep pelestarian
lingkungan sebenarnya merupakan upaya pelestarian dari fungsi
lingkungan hidup itu sendiri. Dengan demikian, secara langsung telah
mengandung makna perlindungan terhadap lingkungan (environment
protection).
Sebelum lebih jauh membahas tentang konsep dan upaya pelestarian
lingkungan, yang secara implisit adalah perlindungan lingkungan, mari
kita telaah terlebih dahulu tentang maksud melestarikan lingkungan
tersebut. Hal ini akan memberi alasan yang mendasari pemahaman
konsep pelestarian lingkungan.
Di samping itu, agar lebih mempertegas pemahaman dalam
relevansi dan eksistensi pencemaran lingkungan dalam konsep
perlindungan lingkungan yang sedang dipelajari.
Dasar dari pelestarian lingkungan, selaras dengan upaya
perlindungan dan upaya pengelolaan lingkungan. Secara yuridis, konsep

Bab 7 | Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) 107


pelestarian lingkungan di Indonesia dituang dalam Undang-Undang
No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, yang dilampirkan pada Lampiran 2. Upaya pelestarian lingkungan
merupakan bagian dari apa yang disebut dengan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan.
Lingkungan perlu dilindungi dan dikelola. Sehingga dalam Undang-
Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di ayat
2 dinyatakan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan atau
kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan,
pengendalian, pemeliharaan, dan penegakan hukum.
Dijelaskan pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 1 bahwa yang
dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan
semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan Pelestarian fungsi lingkungan
hidup dijelaskan pada Pasal 1 ayat 6 sebagai rangkaian upaya untuk
memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup. Pada ayat 7 dijelaskan pula tentang daya dukung lingkungan
hidup merupakan kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
perikehidupan manusia, makhluk hidup lain dan keseimbangan
antarkeduanya. Sementara itu, yang dimaksud dengan daya tampung
lingkungan hidup dijelaskan pada Ayat 8 sebagai kemampuan lingkungan
hidup untuk menyerap zat, energi, dan atau komponen lain yang masuk
atau dimasukkan ke dalamnya.
Sebelumnya, manusia pernah tidak menyadari bahwa lingkungan
perlu dilestarikan. Manusia menganggap lingkungan menyediakan
segala kebutuhan mereka. Komponen lingkungan yang ada, berfungsi
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hanya itu.
Sementara itu, lingkungan mempunyai kemampuan untuk tumbuh
dan berkembang lagi, setelah manusia memanfaatkan salah satu atau
lebih komponen lingkungan. Dengan alasan itu, manusia lantas seolah
berbuat semena-mena terhadap lingkungan.

108 Pencemaran Lingkungan


Hasan (1988) menyatakan bahwa sebenarnya manusia ialah
pendatang baru di bumi yang sudah tua. Manusia muncul di masa
glasial dalam sejarah geologis, yang disebut zaman pleistosein. Artinya,
lingkungan sudah menyediakan kebutuhan untuk manusia dalam
menjalankan fungsi biologisnya untuk berkembang biak dan bertahan
hidup (survive) serta menyesuaikan diri (adaptation).
Dengan segala apa yang dimiliki oleh manusia, akal dan
kemampuan adaptasi biologisnya, kemudian manusia menempati posisi
teratas dalam mata rantai ekosistem. Pemanfaatan lingkungan pun
tetap senantiasa terjadi. Penebangan pohon, pembakaran hutan tanpa
ada upaya pemulihan terjadi di semua belahan bumi. Manusia kala itu
hanya hidup mengikuti binatang gembalaannya, sehingga lahirlah pola
peradaban nomanden.
Pada kondisi manusia belum terlalu banyak, daya dukung
lingkungan cukup memadai untuk senantiasa menyediakan kebutuhan
manusia kala itu. Tindakan berpindah dan mencari sumber daya yang
baru dan meninggalkan sumber daya yang sudah terkuras saat itu, tidak
signifikan untuk disebut dengan istilah terjadinya degradasi lingkungan.
Apabila satu lingkungan telah menurun kualitasnya, manusia
segera berpindah mencari lingkungan baru. Lingkungan baru selalu
tersedia. Lingkungan lama kembali melakukan suksesi dan membentuk
keseimbangan alami kemudian. Hal ini memungkinkan kala itu. Tapi
sekarang? Ruang yang tersedia untuk dapat disebut sebagai lingkungan
yang baru sudah tidak ada. Lingkungan yang mengalami penurunan
kualitas, hampir terjadi di semua lingkungan di mana manusia
menempatinya.
Berpijak pada teori Ilmu Ekonomi Mikro bahwa munculnya Ilmu
Ekonomi berawal dari keadaan di mana kebutuhan manusia yang tidak
terbatas telah berhadapan dengan ketersediaan sumber daya yang
terbatas. Dengan kata lain, telah terjadi keterbatasan sumber daya dari
segi jumlah dan mutunya, karena manusia telah lama memanfaatkan
komponen lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seiring
dengan perkembangan populasi manusia tersebut.
Oleh karena itu, lahirlah konsep-konsep yang bertema pelestarian
lingkungan. Akal dan kemampuan adaptasi manusia, mulai diarahkan
terhadap pelestarian lingkungan. Hal ini menjadi mutlak diperlukan
karena populasi manusia sudah banyak dan hampir menempati semua

Bab 7 | Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) 109


permukaan bumi. Sementara itu, bumi yang ada sekarang, tetap bumi
yang satu yang dulu juga.
Dalam bukunya yang berjudul Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi,
yang diterbitkan tahun 2010, Emil Salim secara eksplisit mengungkapkan
kekecewaannya terhadap ulah manusia mengeksploitasi besar-besaran
lingkungannya di mulai sejak dulu kala sampai pada masa industrialisasi
dan hari ini. Dampak dari perbuatan itu sangatlah luas dan panjang.
Manusia di dunia baru bisa membangun bagi kepentingan nasional,
bangsa dan negaranya. Tetapi belum memperhitungkan dampak
pembangunan pada kerusakan bumi ini. Gas rumah kaca, memanasnya
bumi, dan perubahan iklim adalah contoh gamblang betapa egosentrisnya
manusia membangun negaranya, sehinga tak memperdulikan lagi dampak
buruknya pada hanya satu bumi di alam sejagat ini (Salim, 2010).
Keseimbangan alam telah dirusak oleh aktivitas manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Akibatnya, terjadi perubahan
keseimbangan lingkungan dan penurunan kualitas lingkungan, sehingga
diperlukan upaya pelestarian.
Demikianlah secara historis, manusia melahirkan gagasan dan konsep
tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Komponen lingkungan yang
telah mengalami kepunahan, bermakna keanekaragaman hayati telah
berkurang dalam istilah ekonomi memunculkan kelangkaan (scalcity).
Selain kelangkaan sumber daya yang dapat dihitung secara kuantitas,
ternyata lingkungan juga mengalami penurunan fungsi. Penurunan fungsi
lingkungan sebenarnya dilukiskan oleh telah terjadinya pengurangan
jumlah komponen yang ada pada lingkungan sehingga menurunkan
fungsi komponen tersebut yang berimbas langsung pada penurunan
fungsi lingkungan tersebut.
Konsep pelestarian secara eksplisit merujuk pada fungsi ekologis.
Artinya, yang dilestarikan tak lain tak bukan adalah komponen lingkungan
yang dijadikan sumber daya bagi manusia untuk tujuan ekonomis.
Di sisi lain, terkait persoalan pelestarian lingkungan atau
mempertahankan keseimbangan alam dalam konteks pembangunan
untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, Somarwoto (2001)
menjelaskan bahwa tidaklah mungkin kita melakukan pembangunan
yang tidak mengganggu keseimbangan lingkungan, yaitu pembangunan
yang melestarikan lingkungan, seperti yang banyak dianjurkan.

110 Pencemaran Lingkungan


Menurut Kamus Purwadarminta (1976) arti “lestari” ialah tetap
selama-lamanya, kekal, tidak berubah seperti sedia kala. Melestarikan
berarti menjadi (membiarkan) tetapi tidak berubah. Dengan demikian,
dalam pembangunan kita tidak dapat melestarikan lingkungan atau
melestarikan keseimbangan lingkungan.
Yang harus kita lestarikan bukanlah lingkungannya itu sendiri
atau keseimbangan lingkungan, melainkan kemampuan lingkungan
untuk mendukung pembangunan dan tingkat hidup yang lebih tinggi.
Perlahan, makna pelestarian lingkungan pun meluas. Sehingga dalam
Undang-Undang No. 32 Tahun 2009, pada Pasal 1 Ayat 6 digunakan
kata “pelestarian fungsi lingkungan” bukan “pelestarian lingkungan”.
Kita dapat juga melihat arti lestari dari sudut pandang yang lain yaitu
kekal atau tetap ada, walaupun sifatnya berubah. Dari sudut pandang ini
lingkungan akan tetap ada atau lestari selama ada bumi dan alam semesta.
Tetapi lingkungan itu belum tentu tetap sesuai untuk kehidupan manusia.
Baik dari sudut pandang pertama maupun yang kedua, substansialnya
ialah bahwa yang harus dilakukan ialah peningkatan kualitas lingkungan.
Dengan demikian, konsep pelestarian lingkungan sebenarnya mempunyai
makna implisit untuk terjadinya peningkatan kualitas lingkungan untuk
menopang kesejahteraan umat manusia menuju tatanan yang lebih tinggi.
Dari pembahasan tentang latar belakang dari pelestarian lingkungan
sebelumnya, dan dari kajian pendapat tiga tokoh terkemuka seperti yang
diutarakan Prof. Emil Salim (2010), Muhammad Hassan (1988) dan Otto
Soemarwoto (2001) sudah bisa kita pahami bahwa pelestarian lingkungan
lahir dari bentuk penyadaran manusia terhadap ulah manusia sebelumnya
yang menguras sumber daya lingkungan.
Padahal, sepanjang hidupnya manusia tetap membutuhkan
lingkungan dan sumber daya. Kenyataannya, kondisi lingkungan
yang terdegradasi, akan mengakibatkan manusia menjadi tidak bisa
mendapatkan kebutuhan hidupnya lagi. Sehingga tindakan pelestarian
perlu dilakukan.
Pengurasan sumber daya lingkungan telah menggiring manusia
membidani lahirnya konsep pelestarian lingkungan. Sementara itu,
manusia mesti juga harus memenuhi kebutuhannya dan melanjutkan
pembangunan yang berimplikasi terhadap perubahan lingkungan.

Bab 7 | Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) 111


Oleh karena itu, konsep pelestarian lingkungan pun mesti
diletakkan pada makna yang benar. Bahwa pelestarian lingkungan
bukan berarti membiarkan lingkungan seimbang menurut alamiah, tapi
manusia mengupayakan peningkatan kualitas lingkungan untuk tetap
berada pada tingkat yang kondusif dan daya dukung optimal terhadap
kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Ruang lingkup pelestarian lingkungan secara konseptual adalah
lingkungan fisis berupa abiotik dan biotik. Masing-masing komponen
berinteraksi membentuk siklus di alam dan menjalankan fungsi masing-
masing membentuk keseimbangan alami. Pelestarian lingkungan,
berarti meningkatkan fungsi ekologis.
Dalam pelaksanaan pelestarian lingkungan ternyata tidak semudah
dan sesederhana mengucapkannya. Ia kemudian dirasa semakin rumit
dan kompleks. Tentu saja demikian, karena masing-masing komponen
lingkungan yang dilingkupi oleh konsep pelestarian lingkungan itu, juga
mempunyai persoalan masing-masing, sehingga terakumulasi di dalam
lingkungan semua persoalan tersebut. Tidak jarang terjadi persoalan
lintas dimensi mensintesa wujud persoalan baru. Persoalan baru tidak
bisa diatasi dengan cara yang lama dan parsial.
Oleh karena itu, diperlukan lagi suatu konsep yang lebih mampu
mewadahi pelestarian lingkungan dalam menghadapi persoalan
lingkungan yang berdinamika sebegitu cepat dan tanggap. Lahirlah
beberapa pemikiran dan konferensi, baik di tingkat global maupun di
tingkat lokal yang mengusung isu lingkungan. Isu-isu lingkungan sejak
dulu sampai hari ini tak akan lepas dari pencemaran dan kerusakan
lingkungan.
Muara dari perkembangan konsep pelestarian lingkungan ialah bahwa
lingkungan dengan segala komponen dan potensinya, memerlukan upaya
pengelolaan. Upaya pengelolaan ini tak lepas dari cara pandang yang
komprehensif terhadap upaya pelestarian lingkungan. Konsep pelestarian
lingkungan mesti dipayungi oleh konsep pengelolaan lingkungan.
Bahwa persoalan lingkungan ke depan lebih ditekankan pada peran
manusia sebagai manajer terhadap lingkungan. Hal ini sebenarnya sudah
diwariskan dari tradisi dan nilai-nilai budaya. Begitu juga dalam agama
yang dianut apa pun jenis agamanya selalu mengajarkan bagaimana
manusia hidup untuk tidak mencemari lingkungannya.

112 Pencemaran Lingkungan


Fungsi pengelolaan manusia terhadap lingkungannya kemudian
menjadi stressing point di setiap wacana pencemaran dan kerusakan
lingkungan. Inilah yang memunculkan serangkaian program-program
lingkungan di tingkat global, regional, dan lokal.
Dengan kata lain, manusia harus lebih arif terhadap lingkungan.
Mencemari lingkungan adalah perbuatan tak bermoral dan tidak
beretika.

B. Pengelolaan Lingkungan
Secara yuridis historis global, lahirnya konsep pengelolaan
lingkungan, diawali dengan sebuah konferensi pada tahun 1972 di
Stockholm – Swedia. Institusi internasional United Nations Organization
(UNO) atau Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menggelar konferensi
tentang lingkungan hidup. Kegiatan itu diselenggarakan pada tanggal
5-16 Juni 1972.
Konferensi ini merupakan cikal bakal dari tumbuh dan berkembangnya
hukum lingkungan internasional maupun nasional. Pada kegiatan
itu melahirkan suatu dokumen yakni Deklarasi tentang Lingkungan
Hidup Manusia atau biasa disebut Deklarasi Stockholm yang terdiri
atas preambule dan 26 asas serta dokumen-dokumen lainnya.
Inilah momentum sejarah di mana secara global manusia mulai
menyadari untuk melakukan pengelolaan lingkungan. Manusia mesti
dan harus melakukan fungsi pengelolaan terhadap lingkungan yang
di dalamnya meliputi banyak hal, salah satunya ialah pelestarian
lingkungan dan peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan
ekonomi.
Seperangkat keharusan dan konsekuensi inilah yang menjadi
substansi dasar dari lahirnya Undang-Undang No. 32 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Negara Indonesia.
Undang-undang ini pun sekaligus menjadi dasar dari perlunya
pengelolaan lingkungan hidup di Wilayah Kesatuan Negara Republik
Indonesia secara yuridis.
Pengelolaan lingkungan dapat diartikan sebagai upaya manusia
dalam mengelola lingkungan hidupnya, sehingga kualitas lingkungan
memberikan daya dukung optimal untuk tatanan kehidupan manusia
mencapai derajat yang lebih tinggi.

Bab 7 | Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) 113


Berkaitan dengan pengertian ini, maka ruang lingkup dari
pengelolaan lingkungan itu tak lepas dari dua aspek pada mulanya,
yakni (a) aspek ekonomis, dan (b) aspek ekologis.
Sebelumnya, pelestarian lingkungan tidak menyebut-nyebut aspek
ekonomis, tapi lebih pada aspek ekologis. Walaupun tujuan dan latar
belakang lahirnya konsep pelestarian lingkungan itu adalah alasan
ekonomis. Tanpa ada upaya pengelolaan, sudah barang tentu aspek
ekonomis tidak akan tersentuh kalau hanya kita stagnan pada pelestarian
lingkungan fisis sebagai fungsi ekologis.
Tujuan pengelolaan lingkungan ialah mengkondisikan lingkungan
menjadi kondusif dan optimal dalam memberi daya dukung pada
tatanan kehidupan manusia. Tentu kondisi ini adalah kondisi di mana
lingkungan tidak tercemar. Pencemaran lingkungan sudah diketahui
menyebabkan penurunan kualitas hidup manusia.
Terdapat 2 (dua) tujuan utamanya, yakni
1. Tujuan ekonomis meliputi kesejahteraan manusia, dan
2. Tujuan ekologis yang menerapkan wawasan lingkungan dan
pelestarian lingkungan hidup.
Dari dua tujuan di atas, secara eksplisit dapat dipahami di mana
dan bagaimana serta untuk apa pencemaran lingkungan yang sudah
dipelajari melalui buku ini.
Terkait tentang upaya pencegahan pencemaran lingkungan
domestik, di satu kota disediakanlah sarana dan prasarana. Bisakah
sarana itu berfungsi tanpa dikawal dengan aturan dan kebijakan?
Bisakah aturan dan kebijakan berjalan tanpa adanya penegakan
hukum?
Mungkinkah penyelesaian masalah pencemaran lingkungan diakhiri
dengan menyediakan sarana dan prasarana saja?
Lihat Gambar 7.1 berikut.

114 Pencemaran Lingkungan


Gambar 7.1 Sarana Mengatasi Pencemaran Lngkungan di Satu Kota

Satu sisi ruas jalan di satu kota. Terlihat sarana untuk mengatasi
masalah pencemaran lingkungan dengan menyediakan tempat sampah
di pinggir jalan. Sayang sekali, masalah lain pun muncul.
Genangan air terjadi di jalan raya, karena saluran drainage yang
bermasalah.
Tampaknya masalah lingkungan tidak selesai apabila mengandalkan
satu aspek saja bukan?
Sekali lagi, masalah dalam lingkungan hidup adalah sangat kompleks
dan saling terkait. Banyak komponen di dalamnya yang berperan dan
membentuk satu kesatuan rona lingkungan. Perubahan salah satu
komponen akan menyebabkan perubahan rona lingkungan secara
menyeluruh. Sehingga, pendekatan dalam pencemaran lingkungan,
adalah pendekatan sistem, yang menganalisis satu per satu komponen
yang dipandang sebagai sub-sub sistem.
Rona lingkungan yang real, harus dipotret dan direpresentasikan
dalam sebuah miniatur yang disebut sebagai model lingkungan terlebih
dahulu. Baru bisa dianalisis satu per satu sub sistem yang ada, sesuai
dengan tujuan penelitian dan lingkup penelitian.

Bab 7 | Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) 115


[Halaman ini sengaja dikosongkan]
BAB PENGENDALIAN
8 PENCEMARAN LINGKUNGAN
SEBAGAI UPAYA PPLH

Lingkungan telah memberikan apa yang manusia butuhkan sejak


dahulu kala. Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh manusia berupa
eksplorasi dan eksploitas sumber daya lingkungan. Tapi pernahkah
manusia memberikan apa yang dibutuhkan lingkungan hari ini untuk
kelangsungan hidup manusia juga di masa depan?
Pencemaran lingkungan tidak bisa dihindari. Manusia hanya bisa
melakukan tindakan pengendalian (control) terhadap pencemaran
lingkungan. Langkah pengendalian senantiasa berkembang seiring
dengan perkembangan yang terjadi pada peristiwa pencemaran
lingkungan itu sendiri.
Sumber pencemaran yang berasal dari kegiatan industri dan
domestik selalu akan ada dan berkembang pula dalam aktivitasnya.
Pengendalian pencemaran adalah suatu upaya sadar dan terencana
yang dilakukan oleh manusia agar lingkungan hidup terlindungi dari
peristiwa pencemaran. Kata-kata terlindungi identik dengan kata
perlindungan dalam konsep PPLH. Artinya, lingkungan dijaga agar
tidak tercemar, sehingga memberikan daya dukung yang optimal bagi
tatanan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi.
Dalam upaya pengendalian, terdapat beberapa kegiatan pokok, yaitu
(1) adanya upaya pencegahan, (2) adanya upaya penanggulangan, dan
(3) adanya tindakan pemulihan sebagaimana kondisi semula.
Dari tiga hal di atas, selanjutnya dapat kita lanjutkan pembahasan
pada jenis pengendalian, dan bagaimana upaya pengendalian pada
kegiatan industri dan domestik yang menjadi sumber pencemaran itu.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 117


A. Jenis Pengendalian
Sifat pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dapat dibagi
berdasarkan beberapa aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan
untuk mengelompokkan sifat pengendalian itu ialah (1) waktu
pelaksanaan, (2) bentuk pengendalian, (3) pelaku pengendalian,
(4) instrumen pengendalian (5) teknik pengendalian, (6) sasaran
pengendalian, (7) tempat pengendalian, (8) metode pengendalian.

1. Waktu Pelaksanaan
Berdasarkan waktu pelaksanaan, maka kegiatan pengendalian
lingkungan itu dapat dikelompokkan atas tiga berikut ini.
a. Sebelum Terjadi Pencemaran
Sebelum terjadi pencemaran, langkah ini disebut dengan pencegahan.
Pencegahan terhadap pencemaran lingkungan yang akan terjadi,
dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti di tingkat perencanaan
kegiatan proyek yang berpotensi menyebabkan pencemaran,
dilakukan penyusunan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan).
Di tingkat kebijakan, dilakukan penyusunan KLHS (Kajian
Lingkungan Hidup Strategis). Maksudnya, untuk melakukan
perencanaan pembangunan di daerah, sebelum dokumen rencana
itu disahkan, maka wajib dilakukan pengkajian terhadap lingkungan
hidup strategis terhadap program dan rencana tersebut.
AMDAL dan KLHS bertujuan untuk mencegah terjadinya
pencemaran dan kerusakan lingkungan yang berpotensi terjadi
akibat suatu kegiatan, baik di tingkat perencanaan maupun di tingkat
pelaksanaan (proyek pengerjaan).
Dalam penyusunan dokumen AMDAL (environment impact assessment)
terdapat tahapan-tahapan yang dimulai dengan penapisan, kemudian
dilakukan scooping berupa penentuan batas wilayah studi, yaitu batas
administrasi, batas proyek dan batas ekologi serta batas sosial.
Selanjutnya diikuti dengan penentuan kedalaman studi.
Setelah ditentukan hal-hal di atas, selanjutnya dituang ke dalam
Kerangka Acuan yang ditindaklanjuti dengan penentuan tim ahli atau
tim peneliti yang akan terlibat dalam penyusunan AMDAL tersebut.

118 Pencemaran Lingkungan


Tahapan berikutnya ialah penentuan metodologi. Metodologi dalam
AMDAL, terbagi atas dua, yaitu (1) metodologi pengumpulan data
dan (2) metodologi ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan).
Pada metodologi ini telah diuraikan tentang teknik dan jenis dalam
pengumpulan data. Data yang dimaksud adalah data yang ada di
rona awal, yang meliputi (1) kondisi abiotik, (2) kondisi biotik dan
(3) kondisi culture. Dapat dilihat bahwa data-data ini tak lepas dari
kerangka ekologis, ekonomis dan sosial.
Dilanjutkan dengan metodologi ANDAL yang pada dasarnya adalah
menghubungkan rona awal dengan apa yang akan dikerjakan, yang
disebut sebagai rona akhir.
Istilah “menghubungkan” itu, ialah membandingkan kondisi
lingkungan yang ada sekarang dengan kondisi lingkungan yang
akan terjadi nanti ketika proyek dilaksanakan.
Dengan menghubungkan antara kondisi rona akhir (keadaan
lingkungan yang diprediksi setelah adanya kegiatan proyek tertentu)
dengan kondisi rona awal, (keadaan kondisi lingkungan saat ini,
atau saat sebelum dilakukan kegiatan proyek tertentu) selanjutnya
ditentukan langkah-langkah yang terdiri dari berikut ini.
1) Identifikasi Dampak
Identifikasi dampak ini ialah untuk menentukan ada atau
tidaknya dampak terhadap komponen lingkungan yang diduga
terjadi seandainya proyek dilakukan.
2) Prakiraan Dampak
Prakiraan dampak ini ditujukan untuk menentukan besar
atau kecilnya dampak yang akan terjadi oleh kegiatan proyek
tersebut.
3) Evaluasi Dampak
Evaluasi dampak adalah menentukan sifat dampak yang akan
terjadi. Kategori dampak dievaluasi menurut penting atau tidak
pentingnya dampak tersebut.
Kriteria dampak dikatakan penting sesuai dengan tujuh kriteria
dampak penting, yaitu
1) Jumlah manusia yang terkena dampak.
2) Luas wilayah pesebaran dampak.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 119


3) Lamanya dampak berlangsung.
4) Intensitas terjadinya dampak.
5) Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak.
6) Sifat kumulatif dampak.
7) Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.
b. Sewaktu Terjadi Pencemaran
Upaya pengendalian yang dilakukan di saat terjadinya pencemaran,
adalah bersifat penanggulangan. Artinya begitu terjadi pencemaran
lingkungan, maka dilakukan penanggulangan terhadap dampak
pencemaran itu sekaligus mengatasi pencemaran itu agar tidak
terjadi atau bertambah parah.
Contoh penanggulangan ialah melakukan uji dan inspeksi terhadap
limbah industri. Ketika pencemaran lingkungan terjadi, maka
industri tersebut dicabut izin operasinya.
Biasanya tindakan ini dilakukan karena adanya laporan dari anggota
masyarakat atau pihak lain yang menerima akibat pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh suatu industri atau pihak lain.
c. Setelah Terjadi Pencemaran
Upaya pengendalian yang dilakukan pada saat setelah terjadinya
pencemaran merupakan langkah pemulihan. Pemulihan kondisi
lingkungan untuk kembali ke keadaan semula atau diistilahkan
dengan kembali ke kondisi rona awal tidaklah mudah dan
membutuhkan biaya yang besar.
Walaupun hal ini adalah langkah pengendalian yang paling tidak
efisien dan efektif, tapi tak jarang di berbagai negara, termasuk di
Indonesia justru langkah inilah yang sering terjadi.
Pada praktisnya, hampir di semua negara, menerapkan kombinasi
dari ketiga jenis pengendalian ini secara simultan. Di Indonesia
upaya pengendalian pencemaran lingkungan berdasarkan waktu
pelaksanaan baik berupa pencegahan, penanggulangan dan
pemulihan telah ada, baik dalam bentuk teknik administratif
maupun teknis operasional.
Tetapi, seperti yang telah dibicarakan di atas, tetap saja upaya
pengendalian dilakukan justru setelah terjadi pencemaran yang
kerap terjadi.

120 Pencemaran Lingkungan


2. Bentuk Pengendalian
Berdasarkan bentuk pengendalian yang dilakukan, maka
pengendalian pencemaran lingkungan itu, selaras dengan waktu
pelaksanaan yang telah diuraikan di atas.
a. Pencegahan (preventif)
Upaya ini dilakukan sebelum terjadinya pencemaran, sebagaimana
yang telah dibahas di atas.
b. Penanggulangan/penanganan (kuratif)
Upaya ini dilakukan bersamaan dengan terjadinya pencemaran
lingkungan di satu tempat.
c. Pemulihan (recovery)
Upaya ini dilakukan setelah pencemaran lingkungan terjadi.

Di samping uraian di atas, dapat juga bentuk pengendalian ini


digolongkan berupa (1) bentuk langsung dan (2) tidak langsung. Bentuk
langsung di mana upaya pengendalian dilakukan pada sumber pencemar
dan tidak langsung dilakukan tidak langsung pada sumber pencemar.
Pada buku ini, bentuk langsung dan tidak langsung, dikelompokkan
ke dalam jenis pengendalian berdasarkan tempat pengendalian yang
dibahas pada poin 7 nantinya.

3. Pelaku Pengendalian
Dilihat dari pelaku pengendalian, maka dapat dikelompokkan atas
empat bagian besar.
a. Pemerintah
Pemerintah melakukan upaya pengendalian pencemaran dengan
cara membuat aturan dan kebijakan terhadap perlindungan
lingkungan. Sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
sumber-sumber pencemar, seperti industri dan domestik.
b Lembaga Swasta
Lembaga swasta yang melakukan pengendalian pencemaran
lingkungan ini bisa pihak yang langsung menjadi sumber pencemar
seperti dunia industri swasta, maupun lembaga profesi swasta lain
seperti pers dan lain sebagainya.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 121


c. Lembaga Non Pemerintah
Lembaga non pemerintah yang berkontribusi dalam pengendalian
pencemaran lingkungan ialah Lembaga Swadaya Masyarakat yang
konsentrasi dengan masalah lingkungan. Cukup banyak LSM
yang ada di tanah air yang telah berkontribusi terhadap upaya
pencemaran lingkungan selama ini.
Biasanya, LSM yang aktif terhadap perlindungan lingkungan
ini, diikutsertakan dalam penyusunan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) oleh stakeholders dari pemerintah. Begitu juga
dengan pihak dari perguruan tinggi juga diikutsertakan.
Hal ini dilakukan untuk lebih meningkatkan mutu dari kajian yang
dihasilkan untuk menghindari dampak lingkungan dari sebuah
kebijakan tentang rencana pembangunan di tingkat provinsi berupa
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi (RPJPD)
dan nasional berupa Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN).
Tujuannya ialah untuk menampung ide-ide dan atau upaya yang
dimunculkan dari pihak LSM tersebut ketika suatu rencana
pembangunan yang dituang dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang/Menengah akan disusun.

4. Instrumen Pengendalian
Instrumen pengendalian ialah aspek yang berfungsi dalam
hal pengendalian pencemaran lingkungan. Berdasarkan instrumen
pengendalian, maka upaya pengendalian itu, dikelompokkan atas empat
aspek berikut.
a. Aspek legalitas
Aspek legalitas adalah segala bentuk aturan dan kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah, seperti Undang-Undang No. 32
Tahun 2009, Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dijabar/diturunkan sampai pada
tingkat Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di tingkat kecamatan
dan kelurahan, serta AMDAL, yang telah diuraikan di atas.

122 Pencemaran Lingkungan


b. Aspek Teknologi
Aspek teknologi adalah pemanfaatan teknologi dalam hal meniadakan
dampak dari pencemaran lingkungan yang terjadi dan atau yang akan
terjadi. Contohnya sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya
berupa penyediaan infrastruktur secara teknis dalam wujud IPAL
(Instalasi Pengelolaan Air Limbah) di dunia industri dan lain
sebagainya.
c. Aspek Ekonomi
Aspek ekonomi ialah kegiatan ekonomi yang dilaksanakan, tetapi
bersifat ramah lingkungan, bahkan mampu meminimalisasi dampak
dari pencemaran lingkungan yang telah terjadi. Biasanya hal ini
dilakukan terhadap limbah padat (sampah) anorganik yang tidak bisa
dijadikan kompos.
Kegiatan yang mengiringi upaya ini disertai dengan berbagai program
seperti adanya sosialisasi dan pelatihan untuk pembuatan bahan-
bahan dari limbah padat seperti plastik, kaleng, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, banyak pelaku yang berperan seperti LSM, Pemerintah
melalui stakeholder terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup di bawah
Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
Dapat dicontohkan upaya pengendalian pencemaran dengan instrumen
ekonomi kreatif ini berupa aktivitas masyarakat yang melakukan daur
ulang, dengan cara membuat barang yang sudah tak berguna (limbah)
menjadi bernilai ekonomis. Seperti pembuatan tas dari bungkus sachet
minuman instan, dan sebagainya.
Persoalan kemudian terletak pada promosi dan pemasarannya.
Contoh instrumen ekonomi kreatif yang lain ialah kegiatan untuk
mendapatkan keuntungan, tapi dengan tidak mencemari lingkungan
seperti industri musik dan lain sebagainya yang secara praktis tidak
mengeksploitasi dan mengeksplorasi sumber daya alam.
d. Aspek Khusus
Yang dimaksud aspek khusus dalam hal ini ialah aspek yang selain
dari a, b, dan c di atas. Disebut khusus karena bersifat situasional dan
kontekstual.
Contohnya ialah seperti diadakannya even-even tertentu yang bersifat
penyelamatan lingkungan hidup, adanya reward seperti kalpataru,
adipura, dan lain sebagainya.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 123


Di tingkat dini, upaya yang tergolong aspek khusus ini adalah
program adiwiyata di sekolah. Program adiwiyata ialah salah satu
bentuk upaya pencegahan pencemaran lingkungan secara dini yang
sasarannya adalah perilaku.
Karena bersifat edukatif, berkelanjutan dan partisipatif, maka
program adiwiyata tetap berjalan setiap tahunnya dengan sasarannya
adalah pendidikan formal (sekolah-sekolah di seluruh Indonesia).
Program ini memiliki indikator capaian yang dijadikan acuan untuk
sekolah sehingga berpredikat sebagai sekolah adiwiyata.
Capaian indikator program adiwiyata dalam rangka pengendalian
pencemaran dan kerusakan lingkungan, adalah sebagai berikut.
1) Adanya kebijakan pihak sekolah yang berwawasan lingkungan
Indikator kebijakan ini dilihat dari (1) apakah ada termuat
dalam visi misi sekolah tersebut pernyataan yang bernuansa
pelestarian dan pencegahan pencemaran dan kerusakan
lingkungan, (2) apakah ada internalisasi visi misi tersebut ke
semua warga sekolah, seperti guru, pegawai, siswa dan penjaga
kantin.
2) Adanya integrasi muatan PPLH dalam kurikulum
Indikator ini dilihat dari implementasinya seperti bagaimana
proses pembelajaran yang dilakukan oleh tenaga pendidik
terhadap peserta didik. Apakah ada dimuat dalam RPP dan
Silabus muatan terkait PPLH dan adanya pengembangan
strategi pembelajaran yang mengaitkan dengan lingkungan
hidup.
3) Adanya partisipasi
Yang dimaksud dalam indikator partisipasi ini terbagi atas
dua, yaitu (1) keikutsertaan pihak warga sekolah terhadap
upaya nyata PPLH berupa kegiatan pengendalian pencemaran
dan kerusakan lingkungan yang dilaksanakan oleh pihak luar
(lingkungan eksternal sekolah) dan (2) keikutsertaan pihak
luar sekolah dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat PPLH
di dalam sekolah.

124 Pencemaran Lingkungan


4) Tersedianya sarana dan prasarana untuk PPLH. Implementasi
untuk indikator ini, diukur dengan cara melihat apakah
ada tersedia sarana pencegahan pencemaran dan kerusakan
lingkungan seperti biopori, tong sampah, green house dan lain-
lain serta ada upaya perawatannya.
Ketersediaan sarana PPLH di sekolah, merupakan langkah
strategis dalam penerapan konsep pengendalian dini terhadap
generasi masa depan.
Di masa pendidikan mereka telah diperkenalkan dan diajak
untuk memiliki perilaku cinta dan peduli pada lingkungan.
Diharapkan perilaku tersebut akan menjadi suatu sikap hidup
dan karakter di masa-masa mendatang.
Memang sasaran program adiwiyata ini adalah siswa dan seluruh
warga sekolah, dengan asumsi bahwa proses perubahan perilaku efektif
adalah di pendidikan formal, dan sekaligus peserta didik di tingkat SD,
SMP dan SMA adalah generasi penerus, sehingga diharapkan mereka
memiliki karakter cinta pada lingkungan di masa depan nanti.
Pendidikan merupakan dimensi yang sebenarnya paling ampuh
untuk upaya pengendalian pencemaran lingkungan di tingkat dini. Tapi,
memang dampaknya tidak bisa dilihat dalam jangka pendek.
Proses transmisi dan pemelihara nilai, pengembangan budaya
di masyarakat dan rekonstruksi sosial yang paling efektif adalah
pendidikan. Karena the end of education is character. Artinya, perubahan
perilaku dan budaya di masyarakat yang paling fungsional pada suatu
bangsa adalah melalui sistem pendidikan yang diselenggarakan oleh
suatu bangsa tersebut. Apabila pendidikan telah gagal dalam mencapai
tujuannya maka generasi yang akan muncul di masa depan juga akan
mendekati kehancuran bangsa itu. Mari lihat Gambar 8.1 berikut.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 125


Gambar 8.1 Proses Pembelajaran Cinta dan Peduli Lingkungan

Pada Gambar 8.1 terlihat tiga buah gambar yang memperlihatkan


proses pembelajaran yang bertujuan membentuk karakter peserta didik
untuk peduli dan cinta lingkungan. Muatannya ialah menumbuhkan
sikap dan membangun karakter untuk menghindari dan mengambil
langkah-langkah nyata untuk PPLH, dengan melindungi dan mengelola
lingkungan hidup dari terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Pada gambar atas kiri, seorang tim penilai Program Adiwiyata di
Provinsi Sumatera Barat sedang mengamati hasil karya siswa berupa
pemanfaatan barang-barang bekas menjadi barang bernilai ekonomis.
Kreativitas siswa yang demikian perlu dilestarikan dan ditingkatkan,
sehingga jalan menuju sektor ekonomi kreatif di masa mendatang akan
terbuka lebar.
Pada gambar atas kanan, salah seorang dari tim pembina Program
Adiwiyata di tingkat Provinsi Sumatera Barat sedang melakukan
sosialisasi upaya pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan,
melalui proses pembelajaran di dalam kelas.

126 Pencemaran Lingkungan


Sedangkah proses pembelajaran di luar kelas, diperlihatkan oleh
gambar yang paling bawah, di mana dilakukan transfer nilai dan
pembentukan karakter yang secara langsung menjadikan lingkungan
itu sebagai sumber belajar sekaligus media pembelajaran.

5. Teknik Pengendalian
Berdasarkan teknik pengendalian yang dilakukan terhadap pencemaran
lingkungan, maka upaya pengendalian itu, dapat dikelompokkan secara (1)
fisika, (2) kimia, dan (3) biologi. Ada juga ahli yang mengelompokkan
teknik di atas ke dalam proses pengendalian, atau sifat pengendalian.
Tapi yang penting adalah bagaimana upaya pengendalian pencemaran itu
dilakukan. Tentang nama untuk pengelompokan ini, tidak terlalu penting
selagi dipahami maksudnya.
Secara rinci dijelaskan sebagai berikut.
a. Teknik Fisika
Secara umum teknis pengendalian fisika adalah menerapkan
cara-cara fisis terhadap upaya penanggulangan dan pemulihan
lingkungan yang tercemar. Upaya fisis ini cukup banyak
dikembangkan di dunia industri, terutama dalam hal pengendalian
pencemaran yang disebabkan oleh limbah cair.
Tapi dalam praktisnya, peristiwa pengendalian pada limbah cair,
sekaligus telah merupakan tahapan pengendalian terhadap limbah
padat juga. Karena proses fisis ini telah memisahkan padatan yang
bercampur dengan air limbah dari suatu industri.
Beberapa teknik fisika ini ialah sebagai berikut.
1) Penyaringan/Screening
Pada prinsipnya penyaringan ini dilakukan untuk menyaring
padatan yang ada bersama air limbah. Bentuk dan ukuran
saringan yang digunakan dalam teknik ini bermacam-macam
sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan kuantitas dan
kualitas limbah yang dihasilkan.
2) Sedimentasi
Pengendalian sedimentasi ini mirip dengan penggumpalan
yang dilakukan dalam sebuah kolam pengolahan limbah.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 127


Kadang disertai dengan penambahan zat kimia tertentu untuk
mempercepat terjadinya penggumpalan untuk partikel yang
tidak larut dalam air.
3) Pengapungan, Pengumpulan, dan Pengambilan
Prinsip kerja pengapungan adalah agar lemak atau minyak
dan partikel lain dalam air limbah mengapung ke permukaan.
Dengan mengapung tersebut, berarti terjadi pengumpulan dan
ditindaklanjuti dengan pengambilan padatan limbah yang ada.
4) Penghancuran
Penghancuran adalah proses mekanis di mana padatan yang
ada pada limbah cair dihancurkan.
Tujuan penghancuran adalah agar ukuran padatan menjadi
seragam dan diperkecil. Hal ini diperlukan untuk mempermudah
proses pengaliran limbah dalam rangkaian pengolahan limbah
di dunia industri.
5) Filtrasi
Filtrasi dibedakan dengan penyaringan dalam hal ukuran
saringan. Filtrasi memiliki kemampuan yang lebih halus dari
pada penyaringan.
b. Teknik Kimia
Teknik kimia adalah proses pengendalian limbah yang biasanya
dilakukan pada pengolahan limbah di dunia industri dengan
menggunakan bahan kimia.
Beberapa cara yang telah dikembangkan dalam teknik kimia ini
ialah:
1) teknik pengendapan dengan bahan kimia,
2) netralisasi,
3) sedimentasi,
4) lagoon,
5) reaksi redox,
6) klorinasi.

128 Pencemaran Lingkungan


c. Teknik Biologi
1) proses aerob,
2) proses anaerob,
3) proses fakultatif.

6. Sasaran Pengendalian
Sasaran pengendalian adalah lingkup komponen lingkungan yang
akan dikendalikan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan. Sasaran
pengendalian ini berupa (1) udara, (2) tanah, (3) air, (4) makanan dan
lain sebagainya.
Sasaran pengendalian tidak bisa disamakan artinya dengan lokasi
pengendalian. Lokasi pengendalian merujuk pada letak suatu sasaran
yang akan dikendalikan, seperti wilayah administratif, atau letak
berdasarkan koordinat lintang dan bujur. Contohnya pengendalian
pencemaran Sungai Batang Lembang di Kota Solok. Lokasinya adalah
Kota Solok, tapi sasarannya adalah Sungai Batang Lembang.
Secara rinci, proses pengendalian menurut sasaran pada komponen
lingkungan yang tercemar ini, dirinci sebagai berikut.
a. Pengendalian pencemaran udara.
b. Pengendalian pencemaran tanah.
c. Pengendalian pencemaran air.

7. Tempat Pengendalian
Tempat pengendalian didasarkan pada di mana dilakukan upaya
atau cara mengatasi pencemaran yang sedang atau telah terjadi pada
suatu kawasan. Misalnya terjadi pencemaran udara berupa kebisingan
karena aktivitas suatu pabrik penggilingan batu. Pabrik ini berada pada
Kota A.
Berdasarkan tempat pengendalian yang dilakukan, bukan di Kota
A, tapi apakah pada pabrik, atau pada ruang atau jarak antara pabrik
dengan lingkungan masyarakat, ataukah pada masyarakat di pemukiman
itu sendiri sebagai penerima dampak.
Dengan demikian, berdasarkan tempat pengendalian yang
dilakukan bisa dikelompokkan atas tiga berikut ini.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 129


a. Pengendalian pada sumber (source)
Pengendalian pada sumber pencemar yang dimaksud adalah
tindakan pengendalian dilakukan atau diterapkan di pabrik
tersebut. Misalnya melalui aspek teknologi sehingga dipilih
teknologi penggilingan yang tidak menimbulkan kebisingan.
b. Pengendalian pada paparan (space)
Pengendalian pada paparan misalnya pencegahan terjadinya
kebisingan dengan membuat dinding kedap suara, atau bisa juga
dengan penanaman pohon penghalang gelombang bunyi yang
ditanam di antara sumber dengan kawasan pemukiman masyarakat
yang menerima dampak bising.
Metode penanaman flora yang membatasi antara sumber pencemar
dengan yang akan menerima dampak pencemaran ini sudah lazim
digunakan di tanah air sampai hari ini. Jenis flora yang efektif adalah
jenis bambu-bambuan yang telah diuji lebih mampu menahan
kebisingan dari sumber ke yang menerima dampak bising tersebut.
c. Pengendalian pada yang menerima dampak (receptor)
Pengendalian pada dampak ini bisa dilakukan berbagai teknik
yang dilakukan bukan pada sumber pencemar yang dalam hal ini
adalah suara bising yang dikeluarkan oleh mesin penggiling, dan
juga bukan dilakukan pada ruang antara mesin dengan lingkungan
sekitar.
Upaya yang dilakukan misalnya dengan memasang penutup telinga,
sehingga bising tidak mengganggu fungsi pendengaran.
Contoh serupa bisa dianalogikan pada industri karet. Adanya bau
yang tidak sedap, bisa dikendalikan dengan penerapan upaya pada
tiga tempat, yaitu
1) pada pabrik sebagai sumber (source);
2) pada ruang antara pabrik dengan masyarakat atau lingkungan
sekitar (space);
3) pada masyarakat atau lingkungan (receptor).

130 Pencemaran Lingkungan


8. Tahapan Pengendalian
Tahapan pengendalian yang dimaksudkan adalah berdasarkan pada
tingkatan perlakuan dalam langkah pengendalian pencemaran, berupa
pengolahan pada sumber limbah. Baik dilakukan terhadap limbah yang
dihasilkan dari industri, maupun domestik.
Menurut tingkatan perlakuan pada pengolahan limbah cari, terdapat
beberapa tahapan yang disampaikan oleh Sugiharto (1987) sebagai
berikut.
a. Pre Treatment
Tahapan ini disebut juga pra pengolahan terhadap limbah yang
berpotensi untuk mencemari lingkungan. Tujuan tahapan ini adalah
untuk mempermudah proses pengolahan limbah selanjutnya. Pada
tahap pra pengolahan, secara umum yang dilakukan ialah:
1) pengambilan bahan terapung (minyak, lemak dan padatan)
2) pengambilan bahan yang mengendap (pasir dan padatan)
Alat yang digunakan berupa filter dan comminutor (alat pencacah
yang memotong limbah dalam aliran tanpa mengambilnya dari
dalam aliran limbah tersebut). Jadi, padatan halus tetap ada
di dalam aliran limbah sebelum masuk ke lingkungan.
Dimensi saringan, tergantung pada debit limbah.
Debit 100 m3/jam\, dimensi saringan: 30 x 30 cm (Kristanto, 2000).
Jika, pada pre treatment ini limbah cair sudah memenuhi baku mutu
lingkungan maka tidak perlu dilanjutkan ke primary treatment.
Biasanya pada tahapan pre treatment, dilakukan teknis fisika saja.
Terdapat beberapa alternatif teknik pengolahan yang bisa dilakukan
pada tahapan ini, yaitu (1) perajangan, (2) penyaringan, (3)
ekualisasi, dan (4) penggunaan bak penangkap lemak.
Pada perajangan, sama halnya dengan penghancuran, dilanjutkan
dengan penyaringan, sedangkan pada ekualisasi, diperlukan
kelengkapan berupa tangki ekualisasi.
Pengadukan dan aerasi merupakan hal yang penting di dalam tangki
ekualisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terbentuknya
kondisi septik yang dapat menimbulkan bau serta menghindari
pengendapan padatan semaksimal mungkin. Untuk meminimalisasi

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 131


kebutuhan pengadukan, sebaiknya tangki ekualisasi diletakkan
setelah grit removal (Metcalf & Eddy, 2004).
Penempelan padatan maupun lemak (grease) di dinding tangki
merupakan hal yang tidak dapat dihindari.
Oleh karena itu, sarana dan fasilitas yang disediakan untuk
membersihkan dinding tangki dari padatan-padatan yang
menempel perlu menjadi perhatian. Begitu pula dengan mekanisme
pembersihan padatan-padatan yang mengapung di permukaan.
b. Primary Treatment
Pada tahapan primary treatment ini, kegiatan yang dilakukan
merupakan lanjutan dari pre treatment dalam hal pengolahan
limbah. Secara umum, terdapat kegiatan berupa (1) penyaringan
dan pengendapan serta (2) pengentalan dan pengapungan.
Prinsip perlakuan ini adalah memisahkan air dari limbah padatan,
yaitu dengan cara “membiarkan padatan tersebut mengendap
atau dengan memisahkan yang terapung seperti daun, ranting dan
plastik dan padatan lainnya.
Prosesnya terdiri dari:
1) filter/screening,
2) tangki pengendap satu,
3) tangki pengendap dua,
4) aliran keluar.
Pada proses ini, penambahan bahan kimia yang diperlukan untuk
percepatan terjadinya pengurangan partikel yang tercampur
(Sugiharto, 1987). Ditambahkan oleh Kristanto (2000) bahwa pada
proses setelah tangki pengendapan kedua, dapat ditambahkan gas
klorin yang disebut dengan klorinasi.
Secara skematis, bagaimana urutan kegiatan pengendalian
pencemaran melalui tahapan ini, dapat dicermati pada Gambar 8.2
berikut.

132 Pencemaran Lingkungan


Air Limbah

Tangki Pengendap Satu


Penyaring
Tangki Pengendap Dua

Gambar 8.2 Skema Pengolahan Limbah pada Primary Treatment

Terlihat pada Gambar 8.2 aliran limbah pertama kali disaring,


kemudian masuk ke tangki pengendap satu yang diikuti dengan
tangki pengendapan dua.
Perbedaan antara perlakuan fisis yang dilakukan antara tahap pra
pengolahan (pre treatment) dengan tahapan primary treatment ialah
terletak pada tujuan dan proses pengolahan yang dilakukan. Pada
pre treatment ditujukan mensortir kerikil dan lumpur, pada primary
treatment ditujukan untuk menghilangkan padatan yang tercampur.
Kristanto (2000) menyatakan bahwa jenis kegiatan pengolahan,
berhubungan dengan tujuan pengolahan. Hubungan ini, dinyatakan
dalam bentuk Tabel 8.1 berikut.

Tabel 8.1 Jenis Kegiatan dan Tujuan Pengolahan Limbah Cair


Jenis Peralatan Tujuan
Kegiatan Pengolahan
Penyaringan Barscreen Menyaring bahan kasar dan padat
Penjebak pasir Grit chamber Menghilangkan pasir dan koral
Penjebak lemak dan Skimmer & Gresetrap Memisahkan bahan terapung
buih
Perataan air Tangki ekualisasi Meratakan konsentrasi
Netralisasi Bahan Kimia Menetralkan pH
Pengendapan Tangki Pengendap Mengendapkan lumpur
Pengapungan Tangki Pengapung Menghilangkan senyawa terlaru
Lumpur Aktif Bak (Kolam) Menghilangkan larutan organik

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 133


Aerasi Tangki dan Kompressor Menghilangkan larutan organik
Karbon Aktif Saringan karbon aktif Menghilangkan senyawa organik
tak terurai
Pengendapan Kimia Tangki Pengendap dan Mengendapkan bahan kimia
bahan kimia
Nitrifikasi Menara Menghilangkan nitrat dan nitrit
Klorinasi Bahan kimia Menghancurkan padatan
Sumber: Kristanto, 2000

c. Secondary Treatment
Tahapan ini dilakukan kegiatan (1) penambahan oksigen (aerasi)
dan (2) terjadinya pertumbuhan bakteri. Proses aerasi bisa
dilakukan dengan memasukkan udara ke dalam limbah atau bisa
juga dengan perlakuan mengondisikan agar limbah berkontak
dengan udara, dengan cara menaikkan permukaan limbah. Secara
umum, di dunia industri pada kegiatan pengolahan limbahnya, di
tahap ini dilakukan proses biologis.
d. Tertiary Treatment
Pada pengolahan limbah di dunia industri tahapan ini dilanjutkan
sebagai rangkaian pengelolaan limbah setelah fase c secondary
treatment.
Beberapa pengolahan yang dilakukan pada tahapan ini ialah:
1) saringan multimedia,
2) saringan pasir sederhana,
3) vacuum filter,
4) adsorbtion/penyerapan,
5) precoal filter,
6) mikrostaining.

e. Desinfektan
Tahapan ini merupakan tahapan di mana bertujuan untuk
membunuh bakteri. Bakteri yang dibunuh atau dihilangkan ialah
bakteri pathogen yang ada pada limbah.
Klorin adalah salah satu senyawa yang biasa digunakan pada
tahapan ini. Jenis senyawa yang digunakan dan kualitas limbah,
akan menentukan proses desinfektan.

134 Pencemaran Lingkungan


Proses pembunuhan pathogen terjadi melalui mekanisme yang
bermacam-macam, salah satunya ialah melalui penghancuran
dinding sel pathogen sehingga tidak bisa berkembang di dalam
limbah.

f. Ultimate Disposal
Tahapan ini sebenarnya merupakan tahapan yang menindaklanjuti
lumpur yang dihasilkan di setiap tahapan sebelumnya terhadap
limbah.
Oleh karena itu, beberapa proses yang ada pada tahapan ini terkait
dengan pengolahan lumpur yang dapat berupa:
1) peristiwa pemekatan lumpur,
2) penstabilan lumpur,
3) pengaturan,
4) pengurangan lumpur,
5) pengeringan,
6) pembuangan,
7) pengulangan kembali jika diperlukan.

B. Industri dan Pengendalian Pencemaran


Tak bisa dipungkiri keberadaan industri memiliki arti penting dalam
perekonomian bangsa. Tapi dampak dari industrialisasi juga tak bisa
kita nafikkan. Dampak terhadap pencemaran lingkungan adalah suatu
konsekuensi dari keberadaan dunia industri.

1. Pengertian Industri
Industri diartikan sebagai suatu usaha atau kegiatan pengolahan
bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi
dalam jumlah dan mutu tertentu dan memiliki nilai tambah untuk
mendapatkan keuntungan. Makna implisit yang perlu kita garis bawahi
adalah bahwa tujuan industri tak lain tak bukan adalah keuntungan.
Dilihat dari definisi di atas, jelas bahwa fungsi ekonomi adalah fungsi
yang dikedepankan.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 135


Sektor industri merupakan salah satu sektor yang dapat dianalisis,
dicermati dan dijelaskan berdasar asas ekonomi. Karena ia lahir
merupakan salah satu alternatif manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidup mereka.
Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari
industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam
bentuk jasa. Demikian kompleksnya sektor industri dalam tatanan
perikehidupan manusia, mulai dari revolusi industri, sampai hari ini.
Sebelum kita menyadari lebih jauh betapa kompleksnya sektor
industri itu, ada baiknya kita merinci satu persatu segala sesuatu tentang
industri ini sehingga kita bisa menemukan benang merahnya dengan
segmen lain dan ataupun lebih eksplisit lagi, kita bisa mengetahui
implikasinya terhadap sumber daya lingkungan, rona lingkungan,
tatanan kualitas kehidupan manusia (kesehatan, moral dan nilai-nilai
budaya lainnya) dan sektor lain seperti ekonomi, politik, dan lain lain.
Tapi kita batasi diskusi kita hanya terkait pada sumber daya
lingkungan, yang dalam hal ini industri sebagai salah satu penyebab
terjadinya pencemaran lingkungan.
Industri sebagai salah satu aktivitas ekonomi, yang merupakan
kegiatan bisnis, dewasa ini sudah diatur untuk melakukan upaya
pengendalian pencemaran lingkungan. Salah satunya adalah adanya
CSR (Corporate Social Responsibility) yang merupakan iktikad perusahaan
industri ikut bertanggung jawab terhadap masalah sosial yang
ditimbulkannya.
Contoh lain ialah penerapan Good Corporate Governance yang
mengupayakan agar perusahaan industri memiliki tata kelola yang baik
dan tidak memberikan dampak pada lingkungannya.
Di samping itu, para pebisnis di dunia industri juga dituntut untuk
menjalankan bisnis yang berbudaya dan beretika, salah satunya adalah
etika terhadap lingkungan hidup.

136 Pencemaran Lingkungan


2. Penggolongan Industri
a. Berdasarkan Tempat Bahan Baku
1) Industri Ekstraktif
Industri ekstraktif adalah industri yang bahan bakunya diambil
langsung dari alam sekitar. Berarti dalam hal ini, sumber bahan
baku untuk melaksanakan proses industri tersebut ialah sumber
daya alam yang ada pada lingkungan (sumber daya lingkungan).
Pada kondisi sekarang, proses industri yang ada, sebagian besar
adalah tergolong pada jenis industri ekstraktif ini.
Contohnya: hasil pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan,
peternakan, pertambangan, dan lain lain.
2) Industri Non Ekstraktif
Industri non ekstraktif adalah industri yang bahan bakunya
didapat dari tempat lain, atau bersumber dari selain alam sekitar.
Industri yang jenis ini, sudah saatnya perlu dipikirkan untuk
pengembangan ke depan.
Di samping untuk melestarikan fungsi lingkungan yang ada, juga
memperluas sektor ekonomi kreatif di sekitarnya.
3) Industri Fasilitatif
Industri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya adalah
berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya. Umumnya,
di negara-negara yang sudah maju, jenis industri ini lebih
berkembang pesat dari pada negara yang sedang berkembang.
Di negara berkembang, yang lebih dominan adalah jenis industri
ekstraktif. Bisa kita hubungkan antara tingkat kesadaran orang-
orang di negara berkembang dengan orang-orang di negara maju
terhadap lingkungan.
Contoh industri ini ialah bisnis asuransi, perbankan, transportasi,
ekspedisi, dan lain sebagainya.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 137


b. Industri Berdasarkan Ukuran Modal
1) Industri Padat Modal
Industri padat modal ini adalah industri yang dibangun dengan
modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional
maupun pembangunannya. Orientasi pelaksanaan lebih
menekankan pada modal yang akan digunakan dalam industri.
2) Industri Padat Karya
Industri padat karya adalah industri yang lebih dititikberatkan
pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam
pembangunan serta pengoperasiannya.
c. Industri Berdasarkan Klasifikasinya
(berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986)
1) Industri Kimia Dasar
Industri kimia dasar ini dapat dicontohkan seperti industri
semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dan sebagainya. Intinya
ialah industri yang menggunakan bahan kimia dalam proses
produksinya.
2) Industri Mesin dan Logam Dasar
Misalnya seperti industri pesawat terbang, kendaraan bermotor,
tekstil. Intinya ialah industri yang menggunakan logam dalam
proses produksinya.
3) Industri Kecil
Contoh seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan,
es, minyak goreng curah, dan lain-lain yang banyak kita temui
dalam lingkungan sehari-hari.
4) Aneka Industri
Misalnya industri pakaian, industri makanan dan minuman,
dan lain-lain.
d. Industri Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
1) Industri Rumah Tangga
Adalah industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah
antara 1-4 orang.

138 Pencemaran Lingkungan


2) Industri Kecil
Adalah industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah
antara 5-19 orang.
3) Industri Sedang atau Industri Menengah
Adalah industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah
antara 20-99 orang.
4) Industri Besar
Adalah industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah
antara 100 orang atau lebih.
e. Industri Berdasakan Pemilihan Lokasi
1) Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar
(market oriented industry)
Adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi
target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-
kantong di mana konsumen potensial berada.
Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi lebih baik.
Prinsip Place, Promotion, Price, dan Product (4P) dalam bisnis
diterapkan sekali oleh industri jenis ini.
2) Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga
kerja/labor (man power oriented industry)
Adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman
penduduk, karena biasanya jenis industri tersebut membutuhkan
banyak pekerja/pegawai untuk lebih efektif dan efisien.
Industri jenis ini apabila menghasilkan limbah akan berada di
tengah masyarakat, sehingga apabila tidak dikelola limbahnya
dengan baik, dan mengakibatkan terjadinya pencemaran, akan
berdampak lebih cepat dan panjang bagi masyarakat.
3) Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan
baku (supply oriented industry)
Adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan
baku berada untuk memangkas atau memotong biaya
transportasi yang besar.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 139


Kita dapat melihat industri kertas, biasanya berada di kawasan
hutan atau tidak berada di kawasan pemukiman penduduk. Hal
ini adalah guna bisa memperoleh langsung bahan bakunya.
f. Berdasarkan Produktivitas Perorangan.
1) Industri Primer
Adalah industri yang barang-barang produksinya bukan
hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu.
Contohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan,
perkebunan, perikanan, dan sebagainya.
2) Industri Sekunder
Industri sekunder adalah industri yang bahan mentah diolah
sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali.
Misalnya pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan
sebagainya.
3) Industri Tersier
Adalah industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa.
Dengan kata lain, industri ini tidak berorientasi pada produk
berupa material atau barang untuk dijual pada konsumen guna
mendapatkan keuntungannya.
Contoh industri tersier ini adalah seperti bisnis telekomunikasi,
transportasi, perawatan kesehatan, dan masih banyak lagi yang
lainnya.

3. Wujud Limbah Industri


Secara teoretis, kita telah mengkaji di bab-bab semula tentang
wujud limbah. Dalam terapannya, dapat kita lakukan analisis terhadap
wujud limbah industri yang ada, sebagai berikut.
a. Limbah Cair
Biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran
air  pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan
buangan organik dan bahan buangan anorganik. Secara teoretis,
hal ini telah kita pelajari di bab-bab sebelumnya tentang wujud
limbah yang ada sebagai bahan pencemar.

140 Pencemaran Lingkungan


b. Limbah Padat
Dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai sampah.
c. Limbah Gas dan Partikel
Sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya, limbah gas dan
partikel yang paling utama mencemari lingkungan adalah:
1) Karbon monoksida (CO).
2) Nitrogen oksida (Nox)
3) Hidrokarbon (HC).
4) Sulfur Oksida (SOx).
5) Partikulat.

4. Dampak Limbah Industri Terhadap Lingkungan


Sebagaimana secara konseptualnya telah dipahami bahwa limbah
sebagai bahan pencemar lingkungan akan memberikan dampak terhadap
komponen lingkungan lain. Komponen lingkungan yang dimaksud tentu
tak akan beralih dari komponen biotik dan abiotik.
Komponen biotik berupa manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Sedangkan abiotik berupa tanah, udara, dan air. Ke semua komponen
lingkungan itu akan dipengaruhi oleh limbah yang dihasilkan oleh
industri. Pengaruh yang terjadi adalah negatif. Artinya, tidak diinginkan,
dan mengakibatkan penurunan kualitas hidup manusia dan makhluk
hidup lainnya.
Kualitas hidup manusia dapat diukur dari berbagai aspek, seperti
aspek kesehatan, (1) tingginya angka kematian bayi, (2) rendahnya
nilai harapan hidup serta (3) tingginya angka penyakit menular.
Sementara itu, dari segi kependudukan, dapat diukur dari (1) tingginya
angka kematian, (2) rendahnya tingkat pendidikan, dan (3) banyaknya
pengangguran karena kurangnya SDM.
Pendek kata, dampak limbah industri adalah selaras dengan dampak
terjadinya pencemaran lingkungan yang telah kita pelajari sebelum ini.
Karena, limbah industri adalah salah satu potensi terjadi pencemaran
karena limbah tersebut mengandung bahan pencemar (pollutant).

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 141


5. Prinsip Pengolahan Limbah Industri
Pada prinsipnya, untuk strategi operasional pengolahan dan atau
penanganan limbah yang merupakan salah satu komponen Sistem
Pengelolaan Limbah (SPL), mestilah berpijak pada pengetahuan dasar
tentang limbah yang akan dikelola. Oleh karena itu, setiap langkah atau
upaya pengendalian pencemaran lingkungan, diperlukan disiplin ilmu
yang multi terutama yang berhubungan dengan industri dan teknik sipil
dan perencanaan.
Kajian terhadap limbah, telah dimulai seharusnya tatkala suatu
industri akan dilaksanakan. Beberapa hal yang harus diketahui ialah
berikut ini.
1. Jenis limbah yang akan dihasilkan oleh suatu jenis industri yang
akan atau sedang dijalankan.
2. Identifikasi jenis limbah yang akan dikelola.
3. Penentuan kuantitas limbah yang akan dikelola.
4. Karakteristik limbah yang akan diolah.
5. Sumber limbah yang akan ada, atau yang dimungkinkan akan
menghasilkan limbah pada suatu proses industri.
6. Dampak limbah terhadap lingkungan dan manusia.
Hal ini mesti mengacu pada literatur yang sudah ada.
7. Baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan.

Apabila tujuh komponen di atas sudah diketahui dengan akurat,


selanjutnya ditentukan langkah pengelolaan terkait dalam hal berikut.
1. Bagaimana pengolahannya agar buangan akhir nanti, sudah
memenuhi standar baku mutu lingkungan.
2. Penyiapan tenaga kerja yang spesialis untuk penanganan limbah
tersebut. Hal ini berkaitan sekali dengan teknis administratif dan
teknis operasional.
3. Memasukkan sistem pengolahan limbah tersebut ke dalam salah
satu komponen proses industri, terkait pembiayaan, kebijakan dan
lain-lain dalam internalitas perusahaan. Hal ini merupakan suatu
kewajiban bagi perusahaan industri sekarang.
4. Senantiasa melakukan penelitian dan pengembangan untuk recycle,
reuse, dan recovery.

142 Pencemaran Lingkungan


6. Proses Pengolahan Limbah Industri
Pada sub bahasan ini, sebenarnya lebih fokus pada suatu disiplin
ilmu yang khusus dipelajari di Perguruan Tinggi yaitu dalam mata kuliah
Pengolahan Limbah Industri.
Tapi dalam hal ini, tidak ada salahnya kita menyinggung sedikit
tentang proses pengolahan limbah industri ini sebagai salah satu upaya
pengendalian pencemaran lingkungan di tingkat sumber pencemar yang
dalam hal ini adalah industri.
Pada praktisnya, di dunia industri terdapat beberapa rangkaian
proses pengolahan, dalam bentuk tahapan-tahapan yang sudah kita
pelajari sebelumnya. Selanjutnya menurut prosesnya, terdapat beberapa
proses pengolahan di dunia industri terhadap limbahnya.
a. Proses pengolahan secara kimia yang meliputi:
1) reduksi oksidasi,
2) elektrolisasi,
3) netralisasi,
4) presipitasi/pengendapan,
5) solidifikasi/stabilisasi,
6) absorpsi,
7) penukaran ion,
8) pirolisa.
b. Proses pengolahan limbah secara fisik yang meliputi:
1) pembersihan gas, berupa elektrostatik presipitator, penyaringan
partikel, wet scrubbing,
2) adsorpsi dengan karbon aktif,
3) pemisahan cairan dengan padatan: sentrifugasi, klarifikasi,
koagulasi, filtrasi, flokulasi, floatasi, sedimentasi, dan
thickening,
4) penyisihan komponen-komponen yang spesifik: adsorpsi,
kristalisasi, dialisa, electrodialisa,
5) leaching, reverse osmosis, solvent extraction, dan stripping.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 143


c. Penerapan Sistem Pengolahan Limbah B3
Penerapan sistem pengolahan limbah harus disesuaikan dengan
jenis dan karakterisasi dari limbah yang akan diolah dengan
memerhatikan enam hal sebagai berikut.
1) Teknik pengolahan yang telah teruji.
2) Biaya pengolahan relatif murah.
3) Pengoperasian dan perawatan alat mudah dan sederhana,
sehingga bisa dilaksanakan oleh tenaga kerja dengan basic skil
human resources atau karyawan berkemampuan dasar.
4) Harga alat murah dan tersedia suku cadang.
5) Keperluan terhadap lahan relatif kecil.
6) Bisa mengatasi permasalahan limbah tanpa menimbulkan efek
samping terhadap lingkungan dan manusia.
Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri. Tetapi
dari hasil survei yang dilakukan, di berbagai industri primer yang
ada, terdapat tiga metode yang paling popular, di antaranya (1)
Chemical Conditioning, (2) Solidification atau Stabilization, dan (3)
Incineration.
1) Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical
conditioning. Tujuan utama dari chemical conditioning ialah sebagai
berikut.
a) Menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung
di dalam lumpur.
b) Mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air
dalam lumpur.
c) Mendestruksi organisme pathogen.
d) Memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning
yang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane
yang dihasilkan pada proses digestion.
e) Mengondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan
dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan.

144 Pencemaran Lingkungan


2) Solidification/Stabilization
Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/
stabilization juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3.
Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses
pencampuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan
tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah
serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut.
Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan
suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif.
Kedua proses tersebut sering kali terkait sehingga sering
dianggap mempunyai arti yang sama. Dalam dunia industri,
hal ini sudah mulai dikembangkan akhir-akhir ini.
Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat
dibagi menjadi enam golongan.
a) Macroencapsulation, yaitu proses di mana bahan berbahaya
dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar.
b) Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation
tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam
struktur kristal pada tingkat mikroskopik.
c) Precipitation.
d) Adsorpsi, yaitu proses di mana bahan pencemar diikat secara
elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme
adsorpsi.
e) Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan
menyerapkannya ke bahan padat.
f) Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa
beracun menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya
lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali.
Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan
semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metode yang
diterapkan di lapangan ialah metode in-drum mixing, in-situ mixing,
dan plant mixing.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 145


3) Incineration
Teknologi pembakaran (incineration) adalah alternatif yang menarik
dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi
volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75%
(berat).
Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem
pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya
memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke
bentuk gas yang tidak kasat mata.
Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas.
Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana
sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan
dan limbah berkurang dengan cepat.
Selain itu, insinerasi memerlukan lahan yang relatif kecil.
Sehingga di rumah sakit, dan tempat-tempat yang memiliki
kebutuhan terhadap luasan lahan yang memadai, teknik
pengolahan ini menjadi solusi.
Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan
energi (heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan
dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran,
heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat
diperoleh dari sistem insinerasi.
Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk
membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple hearth,
fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueous waste
injection, dan starved air unit.
Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai
kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat,
cair, dan gas secara simultan.
Lebih detail tentang bahasan mengenai proses pengolahan
limbah di dunia industri ini, dipelajari secara khusus dalam
satu disiplin ilmu Pengolahan Limbah Industri. Pengolahan
Limbah Industri ini merupakan cabang dari Ekologi Industri.
Pada prinsipnya, pengendalian limbah baik itu limbah industri
maupun limbah domestik secara umum tidak akan berbeda. Perbedaannya
hanya tergantung pada jenis dan jumlah limbah yang dihasilkan.

146 Pencemaran Lingkungan


Dalam memilih upaya pengendalian pencemaran lingkungan terkait
dengan limbah, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara
lain.
a. jenis limbah,
b. jumlah limbah,
c. sumber limbah,
d. dampak limbah,
e. alternatif pengendalian,
f. jenis pengendalian.
Jenis limbah berarti menentukan sifat atau karakteristik dari
limbah. Hal ini didasarkan pada penggolongan limbah menurut sumber,
jenis dan wujudnya. Secara skematis, hal ini dapat dilihat pada Gambar
8.3 berikut.

Gambar 8.3 Penggolongan Limbah Menurut Sumber, Jenis dan Wujud

Dari Gambar 8.3 terlihat bahwa apabila mengidentifikasi sumber


limbah maka akan terdapat tujuh sumbernya. Sedangkan limbah
berdasarkan jenisnya dapat dibedakan atas tiga yaitu pertama, berdasarkan
sifat kimia yang ditinjau dari organik atau non organiknya, kedua dari

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 147


keberbahayaan dan sifat racunnya dibedakan atas Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3) atau tidak termasuk B3. Ketiga, di dalam studi limbah pada
rumah sakit, ada pula penggolongan limbah didasarkan atas limbah klinis
dan non klinis.
Jumlah limbah berarti kuantitas yang terukur dari suatu limbah.
Hal ini sudah dipelajari di bab-bab sebelum tentang variabel pencemar
dan parameter pencemar. Tidaklah mungkin bisa menentukan upaya
pengendalian pencemaran lingkungan tanpa terkuantitatifkan jumlah
limbah yang ada dalam peristiwa pencemaran lingkungan itu.
Jumlah limbah akan menentukan dimensi dan jenis dari suatu
pengendalian yang akan dilakukan. Dimensi yang dimaksud adalah
ukuran dari sarana pengolahan limbah yang akan didesain.
Sumber limbah berarti apa yang menjadi penyebab dari munculnya
bahan pencemar yang mencemari lingkungan. Dalam buku ini telah
dibahas bahwa polluter adalah industri, domestik dan perilaku. Ketiga hal
ini jelas sekali menentukan upaya yang akan dilakukan dalam kerangka
pengendalian pencemaran lingkungan.
Dampak limbah terhadap lingkungan juga akan menentukan pilihan
terhadap upaya pengendalian yang akan dilakukan. Selanjutnya ialah
menentukan alternatif pengendalian, berdasarkan poin-poin di atas
yang diakhiri dengan penetapan jenis upaya pengendalian.

C. Pengendalian Pencemaran di Industri


Sebagai pengayaan materi dalam khazanah pencemaran lingkungan,
ada baiknya kita kemukakan pula beberapa industri yang ada di tanah
air, dalam hal teknis pengelolaan limbahnya. Hal ini menjadi penting
karena di samping industri sebagai salah satu sumber pencemaran
lingkungan yang perlu dibahas dalam buku ini, juga sebagai khasanah
dalam mengembangkan metode dan teknik pengelolaan limbah industri
itu sendiri untuk ke depan, ataupun pada industri sejenis di tempat lain.
Sebelum kita menelaah lebih jauh beberapa industri terkait
pengelolaan limbahnya, terlebih dahulu kita cermati bagaimana keberadaan
terjadinya limbah pada suatu industri. Bagaimana limbah yang ada di
lingkungan kita, dalam hubungannya dengan dunia industri, mari kita
cermati Gambar 8.4 berikut.

148 Pencemaran Lingkungan


Gambar 8.4 Diagram Alur Industri dan Pencemaran Lingkungan

Berawal dari bahan baku. Bahan baku ada di lingkungan hidup.


Kita gunakan istilah sumber daya lingkungan, sebagai bentuk sadar
kita memandang sumber daya alam, merupakan salah satu komponen
dalam integrasi cara pandang menyeluruh terhadap kesatuan ekologis,
ekonomis dan sosial, yang kita sebut sebagai sumber daya lingkungan.
Sumber daya lingkungan merupakan semua sumber daya yang ada di
lingkungan hidup kita. Di mana ia merupakan suatu sistem lingkungan.
Sehingga pengambilan salah satu bahan dasar yang ada padanya, yang
secara ceroboh akan mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan.
Pengambilan dilakukan untuk suatu industri. Industri berproses,dan
menghasilkan produk. Tapi, produk itu juga menyisihkan limbah. Limbah
ini yang disebut sebagai limbah industri. Produk yang dikonsumsi oleh
masyarakat pun kemudian menghasilkan limbah. Artinya, telah terjadi
dua buah sumber limbah yang telah berada di lingkungan hidup kita.
Selanjutnya, dilakukan pengolahan terhadap limbah di tingkat
industri sebagai sumber limbah itu. Di tingkat masyarakat pun dilakukan
tindakan “memperpanjang umur” limbah atau kita sebut reuse. Setelah

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 149


dikonsumsi lagi oleh masyarakat, tetap juga akan menghasilkan limbah.
Pada akhirnya ke semua limbah bermuara pada lingkungan hidup.
Apabila di setiap rangkaian pengolahan limbah yang ada, baik
di tingkat industri maupun di tingkat industri berjalan dengan baik,
maka “limbah yang sudah diolah” dan kemudian bercampur dengan
lingkungan hidup tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Ini akan terjadi apabila limbah yang diolah tidak melampaui batas baku
mutu lingkungan hidup.
Demikianlah penjelasan dari skema di atas, yang secara umum telah
mempresentasikan hubungan antara suatu industri dalam perspektif
pencemaran lingkungan hidup.
Selanjutnya, di internal industri itu sendiri bagaimana pulakah
limbah itu berada dan muncul? Hal ini bisa dijelaskan melalui skema
yang disajikan pada Gambar 8.5 berikut.

1. Sumber daya alam:


bahan baku
2. Sumber daya manusi:
tenaga kerja
3. Sumber daya buatan:
alat dan bahan

Gambar 8.5 Terbentuknya Limbah di Industri

Terlihat pada Gambar 8.5 di mana limbah terbentuk dalam suatu


industri. Di tiap fase industrialisasi, limbah muncul sebagai sisa atau
barang yang tidak diperlukan atau tidak bernilai ekonomis sehingga
keberadaannya tidak diinginkan oleh suatu proses industri lagi.

150 Pencemaran Lingkungan


Terdapat di tiap fase berupa input, proses dan output, limbah
muncul atau ikut diproduksi, baik dalam proses karena kebocoran
ataupun sebagai produk sampingan yang tidak bernilai ekonomis.
Dengan menyadari keberadaan limbah yang sedemikian rupa di
dunia industri, bisa kita bayangkan bagaimana kuantitas dan kualitas
limbah yang ada di lingkungan hidup kita bersamaan dengan keberadaan
industri saat ini.
Kondisi lingkungan kita akan sangat buruk sekali, karena laju
kuantitas limbah berbanding lurus dengan perkembangan jumlah
industri. Tapi, kondisi ini pun bisa menjadi tidak buruk apabila
dilakukan upaya pengendalian pencemaran, yang dalam hal ini berupa
tindakan pengelolaan limbah di industri itu sendiri.

1. Industri Gula
a. Proses Produksi Gula
Proses yang terjadi pada industri gula terdiri atas dua buah proses
yang berbeda, yaitu (1) proses gula tebu kasar dan (2) pemurnian gula
tebu. Di tanah air, kedua proses tersebut berlangsung di satu tempat pada
satu pabrik gula yang ada.
Pada proses gula tebu kasar, terdapat rangkaian kegiatan berupa
(1) pencucian, (2) pemerasan nira, (3) penjernihan, (4) penyaringan,
(5) penguapan dan (6) kristalisasi. Setiap tahapan ini menghasilkan
limbah. Bahkan sejak pengambilan tebu dan diangkut ke pabrik sudah
menghasilkan limbah.
Pada proses pemurnian gula tebu, tujuannya ialah menghilangkan
kotoran dan lapisan tetes dari kristal gula. Hal ini diawali dengan
proses pemasukan kristal kasar ke dalam larutan sentrifugal untuk
memisahkan larutan. Kemudian dilelehkan dengan pemanasan seterusnya
disaring. Setelah dilakukan penyaringan, selanjutnya dilakukan tindakan
penghilangan warna dengan cara penggunaan karbon aktif, resin penukar
ion atau bahan lain sesuai dengan pabrik gula masing-masing.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 151


Secara skematis, disajikan rangkaian proses industri gula pada Gambar
8.6 berikut.

Gambar 8.6 Rangkaian Proses Pembuatan Gula

Berdasarkan Gambar 8.6, dapat dianalisis fase-fase yang menghasilkan


limbah, dan jenis limbah yang dihasilkannya. Pada fase pencucian, terdapat
limbah cair dan limbah padat berupa bagian-bagian tebu yang tidak akan
digunakan dalam proses pembuatan gula, seperti daun, akar dan lain lain,
serta tanah yang terbawa ikut bersama tebu ke pabrik.
Pada fase setelah dihancurkan, dihasilkan nira. Nira ini kemudian
diayak, dan pada proses ini limbah yang dihasilkan ialah berupa serat
(bagasse). Selanjutnya setelah dihasilkan nira jernih, yang kemudian
memasuki fase karbonisasi, maka limbah yang dihasilkan ialah kapur,
fosfat dan karbon dioksida.
Pada fase penjernihan berikutnya, terdapat hasil saringan berupa nira
dan lumpur. Nira selanjutnya difiltrasi, sedangkan lumpur harus disaring
lagi. Hasil saringan lumpur ada yang berupa limbah cair yang harus diolah
lagi, dan ada berupa lumpur yang juga harus diolah pula.
Nira yang memasuki fase sulfitrasi akan menghasilkan limbah berupa
sulfur dioksida, selanjutnya difiltrasi dan menghasilkan limbah lagi.
Demikianlah proses limbah terbentuk sampai terakhir pada fase pencucian
terakhir menjelang dikeringkan sebelum menjadi gula. Limbahnya yang

152 Pencemaran Lingkungan


ada berupa limbah cair yang tercemar secara termal, karena untuk mencuci
ini digunakan air yang panas.

b. Sumber Limbah Cair


Sumber limbah cair yang ada pada industri gula ini, telah dilaporkan
oleh Environmental Management Development in Indonesia (1994) bahwa sumber
utama air limbah adalah air pendingin pada kondensor barometrik. Gula
yang terbawa dalam uap dari evaporator masuk ke dalam air pendingin.
Air pendingin ini merupakan 90% dari seluruh penggunaan air, tetapi
BOD-nya rendah (sampai 500 mg/liter).
Air proses dari pencucian pada penghilangan warna, pencucian
endapan saringan tekan, dan air cuci lantai dan alat, mempunyai laju alir
lebih rendah, akan tetapi BOD-nya tinggi (sampai 6000 mg/liter) dan
padatan tersuspensi dan kadar organikknya relatif rendah.
Air limbah yang terkumpulkan mempunyai BOD yang berkisar dari
300 – 2000 mg/liter dan TSS dari 200 – 800 mg/liter, tergantung pada
beberapa faktor. Faktor-faktor yang memengaruhi hal ini, tidak merupakan
bahasan dalam kajian kita. Umumnya limbah cair pada pabrik gula tidak
mengandung limbah yang berbahaya atau beracun.
Operasi pemurnian yang hanya menghasilkan gula cair mem­
bangkitkan laju alir separuhnya, akan tetapi kadar BOD dua kali pabrik
gula kristal. Di Indonesia, pabrik gula bersifat musiman, yaitu 5 sampai
6 bulan dalam setahun.

c. Pengendalian Pencemaran di dalam Pabrik Gula


Secara umum, berdasarkan proses dan limbah yang dihasilkan,
dapat direkomendasikan beberapa upaya untuk mencegah terjadinya
pencemaran lingkungan, sebagai berikut.
1) Menghindari hilangnya tetes, karena BOD-nya tinggi.
2) Recycle air pencuci sehingga bisa digunakan kembali pada proses
pencucian selanjutnya.
3) Pembersihan gula tumpahan secara sapuan kering.
4) Mendaur ulang air pendingin secara totalitas dan sempurna.
5) Menghindari kebocoran pada mesin penggilingan dengan tindakan
perawatan dan evaluasi serta kontrol yang teratur.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 153


6) Pengapuran untuk memperbaiki sifat berpisahnya air pada lumpur
kapur.

d. Pengolahan Limbah Cair


Direkomendasikan dalam rangka pengendalian pencemaran
lingkungan dalam penanganan limbah cair di pabrik gula dengan
beberapa cara berikut.
1) Penggunaan tangki ekualisasi pada rangkaian pengolahan limbah
cair yang dihasilkan di setiap proses dan aktivitas pabrik, dan
floatasi untuk memisahkan minyak dari air agar minyak pelumas
dapat diperoleh kembali dan digunakan untuk proses selanjutnya.
2) Pengukuran dan pengaturan pH untuk memastikan kondisi
keasaman limbah cair.

2. Industri Pulp dan Kertas


a. Proses Produksi
Proses produksi pulp dan kertas adalah serat selulosa. Serat selulosa
ini ada pada kayu. Di samping pada kayu sebagai bahan utamanya di alam,
juga bisa didapat dari kertas bekas, bagase, jerami padi.
Bahan baku lain yang diperlukan yang merupakan non selulosa
ialah soda kostik, natrium sulfat, kapur, klorin, tanah liat, resin, alum,
zat pewarna, dan getah.
Pulp berbeda dengan kertas. Pulp adalah bahan berupa serat yang
dihasilkan dari pengubahan tanaman berkayu secara mekanis, semikimia
atau kimia. Secara mekanis: pulp asah dan pulp refiner, sedangkan semi
kimia atau mekanis kimia: NSSC dan soda dingin. Pada proses secara
kimia: sulfat/kraft, sulfit dan soda. Cukup banyak cara pembuatan pulp
yang telah dikembangkan.
Sementara itu, kertas adalah lembaran serba sama dari jalinan serat
berselulosa dengan bantuan zat pengikat dan dibuat dalam berbagai
jenis serta dapat digunakan untuk berbagai tujuan.
Environmental Management Development in Indonesia (1994)
mengemukakan bahwa proses pembuatan pulp mencakup penggunaan
bahan kimia, panas, penggilingan mekanis dan atau hydropulping untuk
memisahkan serat selulosa.

154 Pencemaran Lingkungan


Pembuatan pulp secara kimia juga mengurangi jumlah serat.
Untuk menghilangkan warna cokelat dari pulp dan kertas, bahan itu
dikelantang dengan menggunakan klor, hidrosulfit, borohidrida, dan
akhir-akhir ini oksigen dan peroksida. Kostik digunakan untuk ekstraksi
produk kelantang yang mengandung klorin.
Proses pertama dalam pembuatan kertas ialah dengan memurnikan
serat melalui mekanis, seperti menyikat dan memotong serat yang ada.
Kemudian dicampurkan bahan kimia seperti resin dan tanah liat dan
titanium oksida sebagai bahan pengisi.
Kertas dibentuk di atas ayakan kawat lebar yang bergerak cepat
secara kontinu sambil membiarkan air terpisah keluar, menekan dan
mengeringkan produknya.

b. Sumber Limbah Cair


Sumber limbah cair yang ada pada produksi pulp dan kertas ini
adalah:
1) Kulit kayu.
2) Limbah cair tercemar secara termis.
3) Limbah cair tercemar serat,partikel kayu dan partikel kulit kayu.
4) Limbah cair tercemar polutan berat bahan organik dan terlarut.

c. Pengendalian Pencemaran di dalam Pabrik


Direkomendasikan pengendalian pencemaran yang bisa dilakukan
di dalam pabrik sebagai berikut.
1) Recylce, di mana bahan kimia yang telah digunakan untuk proses,
diambil kembali dan digunakan lagi untuk proses berikutnya.
2) Proses pelepasan kulit kayu, hendaknya dilakukan secara kering.
3) Pada proses pengelantangan yang menggunakan klorin, sebaiknya
diganti dengan penggunaan klor dioksida.
4) Pengurangan lignin oksigen setelah pemasakan secara kimia
dilakukan.

Bab 8 | Pengendalian Pencemaran Lingkungan Sebagai Upaya PPLH 155


d. Penanganan Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan yang paling penting ialah lumpur.
Diperkirakan biaya penanganan lumpur untuk sistem lumpur aktif dapat
mencapai 50% biaya operasi pengelolaan buangan. Pada masa lalu,
lumpur ini ditimbun saja. Tapi hal ini sudah lama tidak dilakukan lagi,
karena benar-benar merupakan tindakan pencemaran terhadap tanah.
Sekarang, dikembangkan metode vakum atau belt filter, yaitu
dengan cara menghilangkan air pada lumpur. Selanjutnya dibakar, atau
bisa juga digunakan sebagai bahan bakar. Bahan lumpur ini didominasi
oleh senyawa organik yang bisa dijadikan sebagai pupuk dan bahkan
bisa dikembangkan menjadi sumber energi melalui metode tertentu.

156 Pencemaran Lingkungan


DAFTAR PUSTAKA

Barnet, H.J and Morse, C. 2003. Scarcity and Growth. Baltimore: Jhon
Hopkins University Press.
Danhas, Y. 2014. Manusia dan Perubahan Lingkungan. Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan. Bogor: Pancaran Pelita
Ilmu.
Dewata, Indang. 2016. Spirit For Green: Buah Pikir Lingkungan. Indang
Dewata. Padang: Freeline Book.
Dewata, Indang & Tarmizi. 2015. Kimia Lingkungan: Polusi Air, Udara, dan
Tanah. Padang: Penerbit UNP Press Padang.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang – Dekimpraswil. 2002. Review
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Kebijakan Nasional Untuk
Pengembangan Kawasan Budidaya. Bahan Sosialisasi RTRWN dalam
rangka Roadshow dengan Departemen Pertanian, Jakarta, 17
Oktober 2002.
Drucker, P. 2005. Strategic Management for Manager. Washington DC: APA.
Duhaime’s Law Dictionary. 2017. Oxford: Oxford University Press.
Easterling, W.E., P.R. Crosson, N.J Rosenberg, M.S. McKenney, L.A.
Katz, and K.M. Lemon. 1993. Agricultural impacts of and responses to
climate change in the Missouri-Iowa-Nebraska region. Climatic Change,
24 (1–2): 23–62.
Endraswara, Suwardi. 2012. Filsafat Ilmu; Konsep, Sejarah dan Pengembangan
Metode Ilmiah. Yogyakarta: CAPS.

Daftar Pustaka 157


Environmental Protection Act. 2016. The Pollution. Environmental
Protection Act, R.S.O. c.. E. 19, published at www.canlii.com/on/
laws/sta/e-19/index.htm. l
FAO. 2011. Climate Change, Water and Food Security. FAO Water Report
36. Rome: FAO United Nation of Rome.
Ghopur, A. 2012. Sumber Daya Alam Indonesia Salah Kelola!. Jakarta:
Lajnah Ta’lif Nasyr.
Hanley, N., Shogren, J. F.,White, B. 2001. Introduction for Environmental
Economics. New York: Oxford University Press.
Henry, J.G., Heinke, G.W. 1996. Environmental Science and Engineering.
Second Edition. New Jersey: Pren tice-Hall International Inc.
Hinkley, A.D. 1996. Applied Ecology. USA: Mac Millan. Publishing
Company.
Horning, N., Robinson, J.A., Sterling, E.J., Turner, W., Spector, S.
2010. Remote Sensing for Ecology and Conservation. New York: Oxford
University Press.
Irwan, Z. 2007. Prinsip-prinsip Ekologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Johnson, G.C. 1977. Principles of Ecology. USA: Mc Graw Hill.
Keraf, A.S. 2002. Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Kristanto, P. 2000. Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi.
Kristanto, P. 2004. Ekologi Industri. Yogyakarta: ANDI.
Lerche, I. 2001. Environmental Risk Analyzes. Boston: Mc Graw Hill.
Margalef, R. 1968. Perception in Ecological Theory. University of Chicago:
Chicago Press.
Metcaltf & Eddy. 2004. Wastewater Engineering Treatment. Boston: Mc
Graw Hill.
Mitchell, B., Setiawan, B., Rahmi, D.H. 2000. Pengelolaan Sumber Daya
dan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mustansyir, Rizal dan Munir, Misnal. 2006. Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

158 Pencemaran Lingkungan


Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. London: W. B. Saunders
Company.
Palar, H. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rineka
Cipta.
Palar, Heryando. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta:
Rhineka Cipta.
Patric, F. C. 1987. Environmental Noise Pollution. New York: John Wiley
& Sons.
Pramudya, S. 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001.
Jakarta: Grasindo.
Putra, D E. 2016. “Pencemaran Air Sungai di Perkotaan”. https://
uwityangyoyo.wordpress.com/2016/11/23/pencemaran-air-sungai-di-
perkotaan/. Jurnal Lingkungan Hidup. Diakses Tanggal 17 Februari
2017.
Reksohadiprodjo, S dan Brodjonegoro, A. 1997. Ekonomi Lingkungan
Suatu Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Salim, E. 2003. Sepuluh Tahun Perjalanan Negosiasi Konvensi Perubahan Iklim.
Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Salim, E. 2010. Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.
Sasmita, A. 2011. Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Jakarta: Bintang
Obor.
Shoemaker, Floyd dan Rogers, Everett. 1987. Memasyarakatkan Ide-ide
Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.
Smith, Joel B., Richard J.T. Klein, dan Saleemul Huq. 2003. Climate
Change, Adaptive Capacity And Development. London: Imperial College
Press.
Smithers, J., and B. Smit. 2009. Human adaptation to climatic variability and
change. In L. E. Schipper & I. Burton (Eds.), Adaptation to Climate
Change (pp. 15-33). London: Earthscan.
Soemarwoto, O. 2001. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Daftar Pustaka 159


Soemarwoto, O. 2001. Atur-Diri-Sendiri. Paradigma Baru Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Pembangunan Ramah Lingkungan Berpihak pada
Rakyat, Ekonomi Berkelanjutan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Soeparmoko. 1999. Ekonomika Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Suparmoko, M. 2000. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Suatu
Pendekatan Teoretis. Yogyakarta: BPFE.
U. Iswandi dan Indang Dewata. 2017 Pendekatan Sistem dalam Ilmu
Sosial, Teknik, dan Lingkungan. Jakarta: Rajawali Pers.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Yusuf, Muri. 2015. Metode Penelitian. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Zais, Robert. 1976. Curriculum; Principles and Foundations. New York:
Harper and & Row Publisher.

160 Pencemaran Lingkungan


LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32
TAHUN 2009
TENTANG

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN


HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang: a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan


hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana
diamanatkan dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa pembangunan ekonomi nasional sebagaimana
diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 diselenggarakan
berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan;
c. bahwa semangat otonomi daerah dalam penyelenggaraan
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia
telah membawa perubahan hubungan dan kewenangan
antara Pemerintah dan pemerintah daerah, termasuk di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
d. bahwa kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun
telah mengancam kelangsungan perikehidupan manusia
dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku
kepentingan;
e. bahwa pemanasan global yang semakin meningkat
mengakibatkan perubahan iklim sehingga memperparah
penurunan kualitas lingkungan hidup karena itu perlu
dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;
f. bahwa agar lebih menjamin kepastian hukum dan
memberikan perlindungan terhadap hak setiap orang
untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik
dan sehat sebagai bagian dari perlindungan terhadap
keseluruhan ekosistem, perlu dilakukan pembaruan

162 Pencemaran Lingkungan


terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d,
huruf e, dan huruf f, perlu membentuk Undang- Undang
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup;
Mengingat: Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), serta Pasal 33
ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN
DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan,
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
2. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya
sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan,
pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
3. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang
memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam
strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup
serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.

Lampiran 163
4. Rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
selanjutnya disingkat RPPLH adalah perencanaan tertulis yang
memuat potensi, masalah lingkungan hidup, serta upaya perlindungan
dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu.
5. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan
kesatuan utuh-menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam
membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan
hidup.
6. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup.
7. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup
untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan
keseimbangan antarkeduanya.
8. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup
untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk
atau dimasukkan ke dalamnya.
9. Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri
atas sumber daya hayati dan non hayati yang secara keseluruhan
membentuk kesatuan ekosistem.
10. Kajian lingkungan hidup strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS,
adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif
untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah
menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
11. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut
Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha
dan/atau kegiatan.
12. Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah
pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang
tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha
dan/atau kegiatan.
13. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk
hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau
unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber
daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.

164 Pencemaran Lingkungan


14. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku
mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
15. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas
perubahan sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup
yang dapat ditenggang oleh lingkungan hidup untuk dapat tetap
melestarikan fungsinya.
16. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan
perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia,
dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup.
17. Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau
tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan
hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
18. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya
alam untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana serta
kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.
19. Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung
atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan
perubahan komposisi atmosfer secara global dan selain itu juga berupa
perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu
yang dapat dibandingkan.
20. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
21. Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah
zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi,
dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan
hidup manusia dan makhluk hidup lain.
22. Limbah bahan berbahaya dan beracun, yang selanjutnya disebut
Limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang
mengandung B3.
23. Pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan,
pengolahan, dan/atau penimbunan.
24. Dumping (pembuangan) adalah kegiatan membuang, menempatkan,
dan/atau memasukkan limbah dan/atau bahan dalam jumlah,

Lampiran 165
konsentrasi, waktu, dan lokasi tertentu dengan persyaratan tertentu
ke media lingkungan hidup tertentu.
25. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak
atau lebih yang timbul dari kegiatan yang berpotensi dan/atau telah
berdampak pada lingkungan hidup.
26. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada
lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau
kegiatan.
27. Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terorganisasi
dan terbentuk atas kehendak sendiri yang tujuan dan kegiatannya
berkaitan dengan lingkungan hidup.
28. Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai
ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.
29. Ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim,
tanah, air, flora, dan fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan
alam yang menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan
hidup.
30. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata
kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola
lingkungan hidup secara lestari.
31. Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang secara
turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya
ikatan pada asal-usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan
lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata
ekonomi, politik, sosial, dan hukum.
32. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
33. Instrumen ekonomi lingkungan hidup adalah seperangkat kebijakan
ekonomi untuk mendorong Pemerintah, pemerintah daerah, atau
setiap orang ke arah pelestarian fungsi lingkungan hidup.
34. Ancaman serius adalah ancaman yang berdampak luas terhadap
lingkungan hidup dan menimbulkan keresahan masyarakat.
35. Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang
melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL
dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai
prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.
36. Izin usaha dan/atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi
teknis untuk melakukan usaha dan/atau kegiatan.

166 Pencemaran Lingkungan


37. Pemerintah pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah
Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan
Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
38. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah.
39. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP

Bagian Kesatu
Asas

Pasal 2
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan
berdasarkan asas:
a. tanggung jawab negara;
b. kelestarian dan keberlanjutan;
c. keserasian dan keseimbangan;
d. keterpaduan;
e. manfaat;
f. kehati-hatian;
g. keadilan;
h. ekoregion;
i. keanekaragaman hayati;
j. pencemar membayar;
k. partisipatif;
l. kearifan lokal;
m. tata kelola pemerintahan yang baik; dan
n. otonomi daerah.

Lampiran 167
Bagian Kedua
Tujuan

Pasal 3
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan:
a. melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
b. menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;
c. menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian
ekosistem;
d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;
e. mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan
hidup;
f. menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi
masa depan;
g. menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup
sebagai bagian dari hak asasi manusia;
h. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;
i. mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan
j. mengantisipasi isu lingkungan global.

Bagian Ketiga
Ruang Lingkup

Pasal 4
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:
a. perencanaan;
b. pemanfaatan;
c. pengendalian;
d. pemeliharaan;
e. pengawasan; dan
f. penegakan hukum.

168 Pencemaran Lingkungan


BAB III
PERENCANAAN
Pasal 5
Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
dilaksanakan melalui tahapan:
a. inventarisasi lingkungan hidup;
b. penetapan wilayah ekoregion;
c. penyusunan RPPLH.

Bagian Kesatu
Inventarisasi Lingkungan Hidup

Pasal 6
(1) Inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 huruf a terdiri atas inventarisasi lingkungan hidup:
a. tingkat nasional;
b. tingkat pulau/kepulauan; dan
c. tingkat wilayah ekoregion.
(2) Inventarisasi lingkungan hidup dilaksanakan untuk memperoleh
data dan informasi mengenai sumber daya alam yang meliputi:
a. potensi dan ketersediaan;
b. jenis yang dimanfaatkan;
c. bentuk penguasaan;
d. pengetahuan pengelolaan;
e. bentuk kerusakan; dan
f. konflik dan penyebab konflik yang timbul akibat pengelolaan.

Bagian Kedua
Penetapan Wilayah Ekoregion

Pasal 7
(1) Inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1) huruf a dan huruf b menjadi dasar dalam penetapan wilayah
ekoregion dan dilaksanakan oleh Menteri setelah berkoordinasi
dengan instansi terkait.

Lampiran 169
(2) Penetapan wilayah ekoregion sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesamaan:
a. karakteristik bentang alam;
b. daerah aliran sungai;
c. iklim;
d. flora dan fauna;
e. sosial budaya;
f. ekonomi;
g. kelembagaan masyarakat; dan
h. hasil inventarisasi lingkungan hidup.
Pasal 8
Inventarisasi lingkungan hidup di tingkat wilayah ekoregion
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c dilakukan untuk
menentukan daya dukung dan daya tampung serta cadangan sumber
daya alam.

Bagian Ketiga
Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup

Pasal 9
(1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c terdiri atas:
a. RPPLH nasional;
b. RPPLH provinsi; dan
c. RPPLH kabupaten/kota.
(2) RPPLH nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
disusun berdasarkan inventarisasi nasional.
(3) RPPLH provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
disusun berdasarkan:
a. RPPLH nasional;
b. inventarisasi tingkat pulau/kepulauan; dan
c. inventarisasi tingkat ekoregion.
(4) RPPLH kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c disusun berdasarkan:

170 Pencemaran Lingkungan


a. RPPLH provinsi;
b. inventarisasi tingkat pulau/kepulauan; dan
c. inventarisasi tingkat ekoregion.

Pasal 10
(1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 disusun oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Penyusunan RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memperhatikan:
a. keragaman karakter dan fungsi ekologis;
b. sebaran penduduk;
c. sebaran potensi sumber daya alam;
d. kearifan lokal;
e. aspirasi masyarakat; dan
f. perubahan iklim.
(3) RPPLH diatur dengan:
a. peraturan pemerintah untuk RPPLH nasional;
b. peraturan daerah provinsi untuk RPPLH provinsi; dan
c. peraturan daerah kabupaten/kota untuk RPPLH kabupaten/
kota.
(4) RPPLH memuat rencana tentang:
a. pemanfaatan dan/atau pencadangan sumber daya alam;
b. pemeliharaan dan perlindungan kualitas dan/atau fungsi
lingkungan hidup;
c. pengendalian, pemantauan, serta pendayagunaan dan
pelestarian sumber daya alam; dan
d. adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.
(5) RPPLH menjadi dasar penyusunan dan dimuat dalam rencana
pembangunan jangka panjang dan rencana pembangunan jangka
menengah.

Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai inventarisasi lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, penetapan ekoregion sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8, serta RPPLH sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 dan Pasal 10 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Lampiran 171
BAB IV
PEMANFAATAN

Pasal 12
(1) Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan RPPLH.
(2) Dalam hal RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum
tersusun, pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan
memperhatikan:
a. keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup;
b. keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup; dan
c. keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
(3) Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh:
a. menteri untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup nasional dan pulau/kepulauan;
b. gubernur untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup provinsi dan ekoregion lintas kabupaten/kota; atau
c. bupati/walikota untuk daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup kabupaten/kota dan ekoregion di wilayah
kabupaten/kota.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah.

BAB V
PENGENDALIAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 13
(1) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup.

172 Pencemaran Lingkungan


(2) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pencegahan;
b. penanggulangan; dan
c. pemulihan.
(3) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-
masing.

Bagian Kedua
Pencegahan

Pasal 14
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup terdiri atas:
a. KLHS;
b. tata ruang;
c. baku mutu lingkungan hidup;
d. kriteria baku kerusakan lingkungan hidup;
e. amdal;
f. UKL-UPL;
g. perizinan;
h. instrumen ekonomi lingkungan hidup;
i. peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup;
j. anggaran berbasis lingkungan hidup;
k. analisis risiko lingkungan hidup;
l. audit lingkungan hidup; dan
m. instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan
ilmu pengetahuan.

Lampiran 173
Paragraf 1
Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Pasal 15
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membuat KLHS untuk
memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah
menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam penyusunan atau
evaluasi:
a. rencana tata ruang wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya,
rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), dan rencana
pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional, provinsi,
dan kabupaten/kota; dan
b. kebijakan, rencana, dan/atau program yang berpotensi
menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup.
(3) KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:
a. pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program
terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah;
b. perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/
atau program; dan
c. rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan
kebijakan, rencana, dan/atau program yang mengintegrasikan
prinsip pembangunan berkelanjutan.

Pasal 16
KLHS memuat kajian antara lain:
a. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk
pembangunan;
b. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup;
c. kinerja layanan/jasa ekosistem;
d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan
iklim; dan
f. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.

174 Pencemaran Lingkungan


Pasal 17
(1) Hasil KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) menjadi
dasar bagi kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan
dalam suatu wilayah.
(2) Apabila hasil KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan
bahwa daya dukung dan daya tampung sudah terlampaui,
a. kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan tersebut
wajib diperbaiki sesuai dengan rekomendasi KLHS; dan
b. segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan
lagi.

Pasal 18
(1) KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilaksanakan
dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan KLHS
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragraf 2
Tata Ruang

Pasal 19
(1) Untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan
keselamatan masyarakat, setiap perencanaan tata ruang wilayah
wajib didasarkan pada KLHS.
(2) Perencanaan tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan dengan memperhatikan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup.

Paragraf 3
Baku Mutu Lingkungan Hidup

Pasal 20
(1) Penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup diukur melalui
baku mutu lingkungan hidup.

Lampiran 175
(2) Baku mutu lingkungan hidup meliputi:
a. baku mutu air;
b. baku mutu air limbah;
c. baku mutu air laut;
d. baku mutu udara ambien;
e. baku mutu emisi;
f. baku mutu gangguan; dan
g. baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
(3) Setiap orang diperbolehkan untuk membuang limbah ke media
lingkungan hidup dengan persyaratan:
a. memenuhi baku mutu lingkungan hidup; dan
b. mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai baku mutu lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, huruf c, huruf d,
dan huruf g diatur dalam Peraturan Pemerintah.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai baku mutu lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, huruf e, dan huruf
f diatur dalam peraturan menteri.

Paragraf 4
Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup

Pasal 21
(1) Untuk menentukan terjadinya kerusakan lingkungan hidup,
ditetapkan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
(2) Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup meliputi kriteria baku
kerusakan ekosistem dan kriteria baku kerusakan akibat perubahan
iklim.
(3) Kriteria baku kerusakan ekosistem meliputi:
a. kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa;
b. kriteria baku kerusakan terumbu karang;
c. kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan
dengan kebakaran hutan dan/atau lahan;

176 Pencemaran Lingkungan


d. kriteria baku kerusakan mangrove;
e. kriteria baku kerusakan padang lamun;
f. kriteria baku kerusakan gambut;
g. kriteria baku kerusakan karst; dan/atau
h. kriteria baku kerusakan ekosistem lainnya sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(4) Kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim didasarkan pada
paramater antara lain:
a. kenaikan temperatur;
b. kenaikan muka air laut;
c. badai; dan/atau
d. kekeringan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Paragraf 5
Amdal

Pasal 22
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap
lingkungan hidup wajib memiliki amdal.
(2) Dampak penting ditentukan berdasarkan kriteria:
a. besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana
usaha dan/atau kegiatan;
b. luas wilayah penyebaran dampak;
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.

Lampiran 177
Pasal 23
(1) Kriteria usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting yang
wajib dilengkapi dengan amdal terdiri atas:
a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
b. eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun
yang tidak terbarukan;
c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta
pemborosan dan kemerosotan sumber daya alam dalam
pemanfaatannya;
d. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi
lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial
dan budaya;
e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi
pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau
perlindungan cagar budaya;
f. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, dan jasad renik;
g. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati;
h. kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan/atau mempengaruhi
pertahanan negara; dan/atau
i. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi
besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis usaha dan/atau kegiatan
yang wajib dilengkapi dengan amdal sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 24
Dokumen amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 merupakan
dasar penetapan keputusan kelayakan lingkungan hidup.

Pasal 25
Dokumen amdal memuat:
a. pengkajian mengenai dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;
b. evaluasi kegiatan di sekitar lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan;
c. saran masukan serta tanggapan masyarakat terhadap rencana usaha
dan/atau kegiatan;

178 Pencemaran Lingkungan


d. prakiraan terhadap besaran dampak serta sifat penting dampak
yang terjadi jika rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut
dilaksanakan;
e. evaluasi secara holistik terhadap dampak yang terjadi untuk
menentukan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup;
dan
f. rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

Pasal 26
(1) Dokumen amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 disusun
oleh pemrakarsa dengan melibatkan masyarakat.
(2) Pelibatan masyarakat harus dilakukan berdasarkan prinsip
pemberian informasi yang transparan dan lengkap serta
diberitahukan sebelum kegiatan dilaksanakan.
(3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. yang terkena dampak;
b. pemerhati lingkungan hidup; dan/atau
c. yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses
amdal.
(4) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan
keberatan terhadap dokumen amdal.

Pasal 27
Dalam menyusun dokumen amdal, pemrakarsa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dapat meminta bantuan kepada
pihak lain.

Pasal 28
(1) Penyusun amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1)
dan Pasal 27 wajib memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal.
(2) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi penyusun amdal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. penguasaan metodologi penyusunan amdal;
b. kemampuan melakukan pelingkupan, prakiraan, dan evaluasi
dampak serta pengambilan keputusan; dan

Lampiran 179
c. kemampuan menyusun rencana pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup.
(3) Sertifikat kompetensi penyusun amdal sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diterbitkan oleh lembaga sertifikasi kompetensi penyusun
amdal yang ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi dan kriteria kompetensi
penyusun amdal diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 29
(1) Dokumen amdal dinilai oleh Komisi Penilai Amdal yang dibentuk
oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Komisi Penilai Amdal wajib memiliki lisensi dari Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Persyaratan dan tata cara lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 30
(1) Keanggotaan Komisi Penilai Amdal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 terdiri atas wakil dari unsur:
a. instansi lingkungan hidup;
b. instansi teknis terkait;
c. pakar di bidang pengetahuan yang terkait dengan jenis usaha
dan/atau kegiatan yang sedang dikaji;
d. pakar di bidang pengetahuan yang terkait dengan dampak yang
timbul dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang sedang dikaji;
e. wakil dari masyarakat yang berpotensi terkena dampak; dan
f. organisasi lingkungan hidup.
(2) Dalam melaksanakan tugasnya, Komisi Penilai Amdal dibantu oleh
tim teknis yang terdiri atas pakar independen yang melakukan
kajian teknis dan sekretariat yang dibentuk untuk itu.
(3) Pakar independen dan sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat
(3)ditetapkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.

180 Pencemaran Lingkungan


Pasal 31
Berdasarkan hasil penilaian Komisi Penilai Amdal, Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota menetapkan keputusan kelayakan atau
ketidaklayakan lingkungan hidup sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 32
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah membantu penyusunan amdal
bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah yang
berdampak penting terhadap lingkungan hidup.
(2) Bantuan penyusunan amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa fasilitas, biaya, dan/atau penyusunan amdal.
(3) Kriteria mengenai usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi
lemah diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai amdal sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 32 diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

Paragraf 6
UKL-UPL

Pasal 34
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria
wajib amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) wajib
memiliki UKL-UPL.
(2) Gubernur atau bupati/walikota menetapkan jenis usaha dan/atau
kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.

Pasal 35
(1) Usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPL
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) wajib membuat
surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup.
(2) Penetapan jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria:

Lampiran 181
a. tidak termasuk dalam ketegori berdampak penting sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1); dan
b. kegiatan usaha mikro dan kecil.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai UKL-UPL dan surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup diatur
dengan peraturan Menteri.

Paragraf 7
Perizinan

Pasal 36
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau
UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan.
(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan
berdasarkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 atau rekomendasi UKL-UPL.
(3) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mencantumkan persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan
lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL.
(4) Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 37
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
wajib menolak permohonan izin lingkungan apabila permohonan izin
tidak dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL.
(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4)
dapat dibatalkan apabila:
a. persyaratan yang diajukan dalam permohonan izin mengandung
cacat hukum, kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran
dan/atau pemalsuan data, dokumen, dan/atau informasi;
b. penerbitannya tanpa memenuhi syarat sebagaimana tercantum
dalam keputusan komisi tentang kelayakan lingkungan hidup
atau rekomendasi UKL-UPL; atau
c. kewajiban yang ditetapkan dalam dokumen amdal atau UKL-
UPL tidak dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/
atau kegiatan.

182 Pencemaran Lingkungan


Pasal 38
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2),
izin lingkungan dapat dibatalkan melalui keputusan pengadilan tata usaha
negara.

Pasal 39
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan ke­
wenangannya wajib mengumumkan setiap permohonan dan
keputusan izin lingkungan.
(2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
cara yang mudah diketahui oleh masyarakat.

Pasal 40
(1) Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin
usaha dan/atau kegiatan.
(2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan
dibatalkan.
(3) Dalam hal usaha dan/atau kegiatan mengalami perubahan,
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib memperbarui
izin lingkungan.

Pasal 41
Ketentuan lebih lanjut mengenai izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 sampai dengan Pasal 40 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragraf 8
Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup

Pasal 42
(1) Dalam rangka melestarikan fungsi lingkungan hidup, Pemerintah
dan pemerintah daerah wajib mengembangkan dan menerapkan
instrumen ekonomi lingkungan hidup.
(2) Instrumen ekonomi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
a. perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi;
b. pendanaan lingkungan hidup; dan
c. insentif dan/atau disinsentif.

Lampiran 183
Pasal 43
(1) Instrumen perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) huruf a meliputi:
a. neraca sumber daya alam dan lingkungan hidup;
b. penyusunan produk domestik bruto dan produk domestik
regional bruto yang mencakup penyusutan sumber daya alam
dan kerusakan lingkungan hidup;
c. mekanisme kompensasi/imbal jasa lingkungan hidup
antardaerah; dan
d. internalisasi biaya lingkungan hidup.
(2) Instrumen pendanaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 42 ayat (2) huruf b meliputi:
a. dana jaminan pemulihan lingkungan hidup;
b. dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan
pemulihan lingkungan hidup; dan
c. dana amanah/bantuan untuk konservasi.
(3) Insentif dan/atau disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal
42 ayat (2) huruf c antara lain diterapkan dalam bentuk:
a. pengadaan barang dan jasa yang ramah lingkungan hidup;
b. penerapan pajak, retribusi, dan subsidi lingkungan hidup;
c. pengembangan sistem lembaga keuangan dan pasar modal
yang ramah lingkungan hidup;
d. pengembangan sistem perdagangan izin pembuangan limbah
dan/atau emisi;
e. pengembangan sistem pembayaran jasa lingkungan hidup;
f. pengembangan asuransi lingkungan hidup;
g. pengembangan sistem label ramah lingkungan hidup; dan
h. sistem penghargaan kinerja di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai instrumen ekonomi lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 dan Pasal 43 ayat (1)
sampai dengan ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

184 Pencemaran Lingkungan


Paragraf 9
Peraturan Perundang-undangan Berbasis Lingkungan Hidup

Pasal 44
Setiap penyusunan peraturan perundang-undangan pada tingkat
nasional dan daerah wajib memperhatikan perlindungan fungsi
lingkungan hidup dan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Paragraf 10
Anggaran Berbasis Lingkungan Hidup

Pasal 45
(1) Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
serta pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
wajib mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membiayai:
a. kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
b. program pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup.
(2) Pemerintah wajib mengalokasikan anggaran dana alokasi khusus
lingkungan hidup yang memadai untuk diberikan kepada daerah
yang memiliki kinerja perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang baik.

Pasal 46
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45, dalam
rangka pemulihan kondisi lingkungan hidup yang kualitasnya telah
mengalami pencemaran dan/atau kerusakan pada saat undang-undang
ini ditetapkan, pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan
anggaran untuk pemulihan lingkungan hidup.

Paragraf 11
Analisis Risiko Lingkungan Hidup

Pasal 47
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan
dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap
ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan
manusia wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup.

Lampiran 185
(2) Analisis risiko lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. pengkajian risiko;
b. pengelolaan risiko; dan/atau
c. komunikasi risiko.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai analisis risiko lingkungan hidup
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragraf 12
Audit Lingkungan Hidup

Pasal 48
Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
untuk melakukan audit lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan
kinerja lingkungan hidup.

Pasal 49
(1) Menteri mewajibkan audit lingkungan hidup kepada:
a. usaha dan/atau kegiatan tertentu yang berisiko tinggi terhadap
lingkungan hidup; dan/atau
b. penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menunjukkan
ketidaktaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melaksanakan
audit lingkungan hidup.
(3) Pelaksanaan audit lingkungan hidup terhadap kegiatan tertentu
yang berisiko tinggi dilakukan secara berkala.

Pasal 50
(1) Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak
melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49
ayat (1), Menteri dapat melaksanakan atau menugasi pihak ketiga
yang independen untuk melaksanakan audit lingkungan hidup
atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan.
(2) Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup.

186 Pencemaran Lingkungan


Pasal 51
(1) Audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48
dan Pasal 49 dilaksanakan oleh auditor lingkungan hidup.
(2) Auditor lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib memiliki sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup.
(3) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi auditor lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kemampuan:
a. memahami prinsip, metodologi, dan tata laksana audit
lingkungan hidup;
b. melakukan audit lingkungan hidup yang meliputi tahapan
perencanaan, pelaksanaan, pengambilan kesimpulan, dan
pelaporan; dan
c. merumuskan rekomendasi langkah perbaikan sebagai tindak
lanjut audit lingkungan hidup.
(4) Sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diterbitkan oleh lembaga sertifikasi
kompetensi auditor lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 52
Ketentuan lebih lanjut mengenai audit lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 48 sampai dengan Pasal 51 diatur dengan Peraturan
Menteri.

Bagian Ketiga
Penanggulangan

Pasal 53
(1) Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup wajib melakukan penanggulangan pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
(2) Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan:
a. pemberian informasi peringatan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup kepada masyarakat;

Lampiran 187
b. pengisolasian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
c. penghentian sumber pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup; dan/atau
d. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penanggulangan pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Keempat
Pemulihan

Pasal 54
(1) Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup wajib melakukan pemulihan fungsi lingkungan
hidup.
(2) Pemulihan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan dengan tahapan:
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur
pencemar;
b. remediasi;
c. rehabilitasi;
d. restorasi; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemulihan fungsi
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 55
(1) Pemegang izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
ayat (1) wajib menyediakan dana penjaminan untuk pemulihan
fungsi lingkungan hidup.
(2) Dana penjaminan disimpan di bank pemerintah yang ditunjuk
oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

188 Pencemaran Lingkungan


(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dapat menetapkan pihak ketiga untuk melakukan pemulihan fungsi
lingkungan hidup dengan menggunakan dana penjaminan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai dana penjaminan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Pasal 56
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 sampai
dengan Pasal 55 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB VI
PEMELIHARAAN

Pasal 57
(1) Pemeliharaan lingkungan hidup dilakukan melalui upaya:
a. konservasi sumber daya alam;
b. pencadangan sumber daya alam; dan/atau
c. pelestarian fungsi atmosfer.
(2) Konservasi sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a meliputi kegiatan:
a. perlindungan sumber daya alam;
b. pengawetan sumber daya alam; dan
c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam.
(3) Pencadangan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b merupakan sumber daya alam yang tidak dapat dikelola
dalam jangka waktu tertentu.
(4) Pelestarian fungsi atmosfer sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c meliputi:
a. upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim;
b. upaya perlindungan lapisan ozon; dan
c. upaya perlindungan terhadap hujan asam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai konservasi dan pencadangan
sumber daya alam serta pelestarian fungsi atmosfer sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Lampiran 189
BAB VII
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN
SERTA LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Bagian Kesatu
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun

Pasal 58
(1) Setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah, dan/atau
menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan B3 sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pasal 59
(1) Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan
pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya.
(2) Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah
kedaluwarsa, pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan
limbah B3.
(3) Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan
limbah B3, pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain.
(4) Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan
persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban
yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.
(6) Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan limbah B3 diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

190 Pencemaran Lingkungan


Bagian Ketiga
Dumping

Pasal 60
Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan
ke media lingkungan hidup tanpa izin.

Pasal 61
(1) Dumping sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 hanya dapat
dilakukan dengan izin dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Dumping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan di lokasi yang telah ditentukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan dumping
limbah atau bahan diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB VIII
SISTEM INFORMASI

Pasal 62
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem
informasi lingkungan hidup untuk mendukung pelaksanaan dan
pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
(2) Sistem informasi lingkungan hidup dilakukan secara terpadu dan
terkoordinasi dan wajib dipublikasikan kepada masyarakat.
(3) Sistem informasi lingkungan hidup paling sedikit memuat informasi
mengenai status lingkungan hidup, peta rawan lingkungan hidup,
dan informasi lingkungan hidup lain.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi lingkungan hidup
diatur dengan peraturan Menteri.

Lampiran 191
BAB IX
TUGAS DAN WEWENANG PEMERINTAH DAN
PEMERINTAH DAERAH

Pasal 63
(1) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah
bertugas dan berwenang:
a. menetapkan kebijakan nasional;
b. menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH
nasional;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai KLHS;
e. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai amdal dan
UKL–UPL;
f. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya alam nasional dan
emisi gas rumah kaca;
g. mengembangkan standar kerja sama;
h. mengoordinasikan dan melaksanakan pengendalian pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
i. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai sumber daya
alam hayati dan non hayati, keanekaragaman hayati, sumber daya
genetik, dan keamanan hayati produk rekayasa genetik;
j. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai pengendalian
dampak perubahan iklim dan perlindungan lapisan ozon;
k. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai B3, limbah,
serta limbah B3;
l. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai perlindungan
lingkungan laut;
m. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup lintas batas negara;
n. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
kebijakan nasional, peraturan daerah, dan peraturan kepala
daerah;
o. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan
lingkungan dan peraturan perundang-undangan;

192 Pencemaran Lingkungan


p. mengembangkan dan menerapkan instrumen lingkungan hidup;
q. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja sama dan
penyelesaian perselisihan antardaerah serta penyelesaian
sengketa;
r. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan pengelolaan
pengaduan masyarakat;
s. menetapkan standar pelayanan minimal;
t. menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan
masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat
hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
u. mengelola informasi lingkungan hidup nasional;
v. mengoordinasikan, mengembangkan, dan menyosialisasikan
pemanfaatan teknologi ramah lingkungan hidup;
w. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan
penghargaan;
x. mengembangkan sarana dan standar laboratorium lingkungan
hidup;
y. menerbitkan izin lingkungan;
z. menetapkan wilayah ekoregion; dan
aa. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup.
(2) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah
provinsi bertugas dan berwenang:
a. menetapkan kebijakan tingkat provinsi;
b. menetapkan dan melaksanakan KLHS tingkat provinsi;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH
provinsi;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai amdal dan
UKL–UPL;
e. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya alam dan emisi
gas rumah kaca pada tingkat provinsi;
f. mengembangkan dan melaksanakan kerja sama dan kemitraan;
g. mengoordinasikan dan melaksanakan pengendalian pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup lintas kabupaten/kota;
h. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
kebijakan, peraturan daerah, dan peraturan kepala daerah
kabupaten/kota;

Lampiran 193
i. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan
lingkungan dan peraturan perundang-undangan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
j. mengembangkan dan menerapkan instrumen lingkungan hidup;
k. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja sama dan penyelesaian
perselisihan antarkabupaten/antarkota serta penyelesaian
sengketa;
l. melakukan pembinaan, bantuan teknis, dan pengawasan kepada
kabupaten/kota di bidang program dan kegiatan;
m. melaksanakan standar pelayanan minimal;
n. menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan
masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat
hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup pada tingkat provinsi;
o. mengelola informasi lingkungan hidup tingkat provinsi;
p. mengembangkan dan menyosialisasikan pemanfaatan teknologi
ramah lingkungan hidup;
q. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan
penghargaan;
r. menerbitkan izin lingkungan pada tingkat provinsi; dan
s. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat
provinsi.
(3) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah
kabupaten/kota bertugas dan berwenang:
a. menetapkan kebijakan tingkat kabupaten/kota;
b. menetapkan dan melaksanakan KLHS tingkat kabupaten/kota;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH
kabupaten/kota;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai amdal dan
UKL–UPL;
e. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya alam dan emisi
gas rumah kaca pada tingkat kabupaten/kota;
f. mengembangkan dan melaksanakan kerja sama dan kemitraan;
g. mengembangkan dan menerapkan instrumen lingkungan hidup;
h. memfasilitasi penyelesaian sengketa;

194 Pencemaran Lingkungan


i. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan
lingkungan dan peraturan perundang-undangan;
j. melaksanakan standar pelayanan minimal;
k. melaksanakan kebijakan mengenai tata cara pengakuan
keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak
masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat kabupaten/kota;
l. mengelola informasi lingkungan hidup tingkat kabupaten/kota;
m. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan sistem informasi
lingkungan hidup tingkat kabupaten/kota;
n. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan
penghargaan;
o. menerbitkan izin lingkungan pada tingkat kabupaten/kota; dan
p. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat
kabupaten/kota.

Pasal 64
Tugas dan wewenang Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 63 ayat (1) dilaksanakan dan/atau dikoordinasikan oleh Menteri.

BAB X
HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN

Bagian Kesatu
Hak

Pasal 65
(1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
sebagai bagian dari hak asasi manusia.
(2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup,
akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam
memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
(3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan
terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.

Lampiran 195
(4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
(5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengaduan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 66
Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat
secara perdata.

Bagian Kedua
Kewajiban

Pasal 67
Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan
hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup.

Pasal 68
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:
a. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka, dan
tepat waktu;
b. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup; dan
c. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau
kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

Bagian Ketiga
Larangan
Pasal 69
(1) Setiap orang dilarang:

a. melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/


atau perusakan lingkungan hidup;

196 Pencemaran Lingkungan


b. memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-
undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
c. memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia ke media lingkungan hidup
Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
e. membuang limbah ke media lingkungan hidup;
f. membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
g. melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan
hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan atau izin lingkungan;
h. melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
i. menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal; dan/atau
j. memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan
informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan
yang tidak benar.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h
memperhatikan dengan sungguh-sungguh kearifan lokal di daerah
masing-masing.

BAB XI
PERAN MASYARAKAT

Pasal 70
(1) Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-
luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.
(2) Peran masyarakat dapat berupa:
a. pengawasan sosial;
b. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/
atau
c. penyampaian informasi dan/atau laporan.

Lampiran 197
(3) Peran masyarakat dilakukan untuk:
a. meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
b. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan
kemitraan;
c. menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan
masyarakat;
d. menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk
melakukan pengawasan sosial; dan
e. mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam
rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup.

BAB XII
PENGAWASAN DAN SANKSI ADMINISTRATIF

Bagian Kesatu
Pengawasan

Pasal 71
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
wajib melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat mendelegasikan
kewenangannya dalam melakukan pengawasan kepada pejabat/
instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
(3) Dalam melaksanakan pengawasan, Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota menetapkan pejabat pengawas lingkungan hidup yang
merupakan pejabat fungsional.

Pasal 72
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
wajib melakukan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan terhadap izin lingkungan.

198 Pencemaran Lingkungan


Pasal 73
Menteri dapat melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan yang izin lingkungannya diterbitkan oleh
pemerintah daerah jika Pemerintah menganggap terjadi pelanggaran
yang serius di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 74
(1) Pejabat pengawas lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 71 ayat (3) berwenang:
a. melakukan pemantauan;
b. meminta keterangan;
c. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan
yang diperlukan;
d. memasuki tempat tertentu;
e. memotret;
f. membuat rekaman audio visual;
g. mengambil sampel;
h. memeriksa peralatan;
i. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi; dan/atau
j. menghentikan pelanggaran tertentu.
(2) Dalam melaksanakan tugasnya, pejabat pengawas lingkungan hidup
dapat melakukan koordinasi dengan pejabat penyidik pegawai
negeri sipil.
(3) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang menghalangi
pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan hidup.

Pasal 75
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkatan pejabat
pengawas lingkungan hidup dan tata cara pelaksanaan pengawasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (3), Pasal 73, dan Pasal 74
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Lampiran 199
Bagian Kedua
Sanksi Administratif

Pasal 76
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota menerapkan sanksi
administratif kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin
lingkungan.
(2) Sanksi administratif terdiri atas:
a. teguran tertulis;
b. paksaan pemerintah;
c. pembekuan izin lingkungan; atau
d. pencabutan izin lingkungan.

Pasal 77
Menteri dapat menerapkan sanksi administratif terhadap penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan jika Pemerintah menganggap pemerintah
daerah secara sengaja tidak menerapkan sanksi administratif terhadap
pelanggaran yang serius di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.

Pasal 78
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76
tidak membebaskan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari
tanggung jawab pemulihan dan pidana.

Pasal 79
Pengenaan sanksi administratif berupa pembekuan atau pencabutan
izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) huruf
c dan huruf d dilakukan apabila penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan tidak melaksanakan paksaan pemerintah.

Pasal 80
(1) Paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat
(2) huruf b berupa:

200 Pencemaran Lingkungan


a. penghentian sementara kegiatan produksi;
b. pemindahan sarana produksi;
c. penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;
d. pembongkaran;
e. penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan
pelanggaran;
f. penghentian sementara seluruh kegiatan; atau
g. tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran
dan tindakan memulihkan fungsi lingkungan hidup.
(2) Pengenaan paksaan pemerintah dapat dijatuhkan tanpa didahului
teguran apabila pelanggaran yang dilakukan menimbulkan:
a. ancaman yang sangat serius bagi manusia dan lingkungan
hidup;
b. dampak yang lebih besar dan lebih luas jika tidak segera
dihentikan pencemaran dan/atau perusakannya; dan/atau
c. kerugian yang lebih besar bagi lingkungan hidup jika tidak
segera dihentikan pencemaran dan/atau perusakannya.

Pasal 81
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak
melaksanakan paksaan pemerintah dapat dikenai denda atas setiap
keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan pemerintah.

Pasal 82
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang untuk memaksa
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan
pemulihan lingkungan hidup akibat pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang dilakukannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang atau dapat
menunjuk pihak ketiga untuk melakukan pemulihan lingkungan
hidup akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
yang dilakukannya atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/
atau kegiatan.
Pasal 83
Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Lampiran 201
BAB XIII
PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 84
(1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui
pengadilan atau di luar pengadilan.
(2) Pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup dilakukan secara
suka rela oleh para pihak yang bersengketa.
(3) Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya
penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dipilih dinyatakan
tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa.

Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan

Pasal 85
(1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan
dilakukan untuk mencapai kesepakatan mengenai:
a. bentuk dan besarnya ganti rugi;
b. tindakan pemulihan akibat pencemaran dan/atau perusakan;
c. tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terulangnya
pencemaran dan/atau perusakan; dan/atau
d. tindakan untuk mencegah timbulnya dampak negatif terhadap
lingkungan hidup.
(2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak berlaku terhadap
tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang ini.
(3) Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan
dapat digunakan jasa mediator dan/atau arbiter untuk membantu
menyelesaikan sengketa lingkungan hidup.
Pasal 86
(1) Masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa penyelesaian
sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak.

202 Pencemaran Lingkungan


(2) Pemerintah dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi pembentukan
lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang
bersifat bebas dan tidak berpihak.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga penyedia jasa penyelesaian
sengketa lingkungan hidup diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan

Paragraf 1
Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan

Pasal 87
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan
perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau
lingkungan hidup wajib membayar ganti rugi dan/atau melakukan
tindakan tertentu.
(2) Setiap orang yang melakukan pemindahtanganan, pengubahan sifat
dan bentuk usaha, dan/atau kegiatan dari suatu badan usaha yang
melanggar hukum tidak melepaskan tanggung jawab hukum dan/
atau kewajiban badan usaha tersebut.
(3) Pengadilan dapat menetapkan pembayaran uang paksa terhadap
setiap hari keterlambatan atas pelaksanaan putusan pengadilan.
(4) Besarnya uang paksa diputuskan berdasarkan peraturan perundang-
undangan.

Paragraf 2
Tanggung Jawab Mutlak

Pasal 88
Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya
menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/
atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup
bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu
pembuktian unsur kesalahan.

Lampiran 203
Paragraf 3
Tenggat Kedaluwarsa untuk Pengajuan Gugatan

Pasal 89
(1) Tenggat kedaluwarsa untuk mengajukan gugatan ke pengadilan
mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan dihitung sejak diketahui
adanya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
(2) Ketentuan mengenai tenggat kedaluwarsa tidak berlaku terhadap
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan
oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan dan/atau
mengelola B3 serta menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3.

Paragraf 4
Hak Gugat Pemerintah dan Pemerintah Daerah

Pasal 90
(1) Instansi pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung
jawab di bidang lingkungan hidup berwenang mengajukan gugatan
ganti rugi dan tindakan tertentu terhadap usaha dan/atau kegiatan
yang menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup yang mengakibatkan kerugian lingkungan hidup.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan
peraturan Menteri.

Paragraf 5
Hak Gugat Masyarakat

Pasal 91
(1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok
untuk kepentingan dirinya sendiri dan/atau untuk kepentingan
masyarakat apabila mengalami kerugian akibat pencemaran dan/
atau kerusakan lingkungan hidup.
(2) Gugatan dapat diajukan apabila terdapat kesamaan fakta atau
peristiwa, dasar hukum, serta jenis tuntutan di antara wakil
kelompok dan anggota kelompoknya.
(3) Ketentuan mengenai hak gugat masyarakat dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

204 Pencemaran Lingkungan


Paragraf 6
Hak Gugat Organisasi Lingkungan Hidup

Pasal 92
(1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup, organisasi lingkungan hidup
berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
(2) Hak mengajukan gugatan terbatas pada tuntutan untuk melakukan
tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi, kecuali biaya
atau pengeluaran riil.
(3) Organisasi lingkungan hidup dapat mengajukan gugatan apabila
memenuhi persyaratan:
a. berbentuk badan hukum;
b. menegaskan di dalam anggaran dasarnya bahwa organisasi
tersebut didirikan untuk kepentingan pelestarian fungsi
lingkungan hidup; dan
c. telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai dengan anggaran
dasarnya paling singkat 2 (dua) tahun.

Paragraf 7
Gugatan Administratif

Pasal 93
(1) Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap keputusan tata
usaha negara apabila:
a. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin
lingkungan kepada usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal
tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen amdal;
b. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin
lingkungan kepada kegiatan yang wajib UKL-UPL, tetapi tidak
dilengkapi dengan dokumen UKL-UPL; dan/atau
c. badan atau pejabat tata usaha negara yang menerbitkan izin
usaha dan/atau kegiatan yang tidak dilengkapi dengan izin
lingkungan.
(2) Tata cara pengajuan gugatan terhadap keputusan tata usaha negara
mengacu pada Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.

Lampiran 205
BAB XIV
PENYIDIKAN DAN PEMBUKTIAN

Bagian Kesatu
Penyidikan

Pasal 94
(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia, pejabat
pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah
yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup diberi wewenang sebagai
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana untuk
melakukan penyidikan tindak pidana lingkungan hidup.
(2) Penyidik pejabat pegawai negeri sipil berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
b. melakukan pemeriksaan terhadap setiap orang yang diduga
melakukan tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari setiap orang berkenaan
dengan peristiwa tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen
lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat
bahan bukti, pembukuan, catatan, dan dokumen lain;
f. melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil
pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak
pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
g. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;
h. menghentikan penyidikan;
i. memasuki tempat tertentu, memotret, dan/atau membuat
rekaman audio visual;

206 Pencemaran Lingkungan


j. melakukan penggeledahan terhadap badan, pakaian, ruangan, dan/
atau tempat lain yang diduga merupakan tempat dilakukannya
tindak pidana; dan/atau
k. menangkap dan menahan pelaku tindak pidana.
(3) Dalam melakukan penangkapan dan penahanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf k, penyidik pejabat pegawai negeri
sipil berkoordinasi dengan penyidik pejabat polisi Negara Republik
Indonesia.
(4) Dalam hal penyidik pejabat pegawai negeri sipil melakukan
penyidikan, penyidik pejabat pegawai negeri sipil memberitahukan
kepada penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia dan
penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia memberikan
bantuan guna kelancaran penyidikan.
(5) Penyidik pejabat pegawai negeri sipil memberitahukan dimulainya
penyidikan kepada penuntut umum dengan tembusan kepada
penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia.
(6) Hasil penyidikan yang telah dilakukan oleh penyidik pegawai negeri
sipil disampaikan kepada penuntut umum.

Pasal 95
(1) Dalam rangka penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana
lingkungan hidup, dapat dilakukan penegakan hukum terpadu
antara penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan kejaksaan di
bawah koordinasi Menteri.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penegakan hukum
terpadu diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Pembuktian

Pasal 96
Alat bukti yang sah dalam tuntutan tindak pidana lingkungan
hidup terdiri atas:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa; dan/atau

Lampiran 207
f. alat bukti lain, termasuk alat bukti yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan.

BAB XV
KETENTUAN PIDANA

Pasal 97
Tindak pidana dalam undang-undang ini merupakan kejahatan.

Pasal 98
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang
mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu
air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun
dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak
Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan orang luka berat atau mati, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 99
(1) Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan dilampauinya
baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau
kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun
dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

208 Pencemaran Lingkungan


(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling
lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00
(dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan orang luka berat atau mati, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 9 (sembilan)
tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah) dan paling banyak Rp9.000.000.000,00 (sembilan miliar
rupiah).

Pasal 100
(1) Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, baku
mutu emisi, atau baku mutu gangguan dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dikenakan apabila sanksi administratif yang telah dijatuhkan tidak
dipatuhi atau pelanggaran dilakukan lebih dari satu kali.

Pasal 101
Setiap orang yang melepaskan dan/atau mengedarkan produk
rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf g dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun
dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 102
Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun
dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Lampiran 209
Pasal 103
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan
pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 104
Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke
media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
60 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 105
Setiap orang yang memasukkan limbah ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 ayat (1) huruf c dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling
sedikit Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak
Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Pasal 106
Setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 ayat (1) huruf d dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling
sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 107
Setiap orang yang memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan
perundang–undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf b
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima
belas miliar rupiah).

210 Pencemaran Lingkungan


Pasal 108
Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf h dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan
paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 109
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa
memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 110
Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat
kompetensi penyusun amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69
ayat (1) huruf i dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 111
(1) Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan
tanpa dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan yang menerbitkan izin
usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 112
Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan
pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/
atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan dan izin
lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 dan Pasal 72, yang
mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan

Lampiran 211
yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 113
Setiap orang yang memberikan informasi palsu, menyesatkan,
menghilangkan informasi, merusak informasi, atau memberikan
keterangan yang tidak benar yang diperlukan dalam kaitannya dengan
pengawasan dan penegakan hukum yang berkaitan dengan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 ayat (1) huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 114
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak
melaksanakan paksaan pemerintah dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).

Pasal 115
Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi,
atau menggagalkan pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan
hidup dan/atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil dipidana dengan
pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 116
(1) Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk,
atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana
dijatuhkan kepada:
a. badan usaha; dan/atau
b. orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana
tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan
dalam tindak pidana tersebut.
(2) Apabila tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja
atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja
badan usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah
atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan
tindak pidana tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama-sama.

212 Pencemaran Lingkungan


Pasal 117
Jika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau
pemimpin tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat
(1) huruf b, ancaman pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara
dan denda diperberat dengan sepertiga.

Pasal 118
Terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116
ayat (1) huruf a, sanksi pidana dijatuhkan kepada badan usaha yang
diwakili oleh pengurus yang berwenang mewakili di dalam dan di luar
pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan selaku pelaku
fungsional.

Pasal 119
Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini,
terhadap badan usaha dapat dikenakan pidana tambahan atau tindakan
tata tertib berupa:
a. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
b. penutupan seluruh atau sebagian tempat usaha dan/atau kegiatan;
c. perbaikan akibat tindak pidana;
d. pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau
e. penempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga)
tahun.

Pasal 120
(1) Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 119 huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, jaksa berkoordinasi
dengan instansi yang bertanggung jawab di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup untuk melaksanakan eksekusi.
(2) Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 119 huruf e, Pemerintah berwenang untuk mengelola badan
usaha yang dijatuhi sanksi penempatan di bawah pengampuan
untuk melaksanakan putusan pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap.

Lampiran 213
BAB XVI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 121
(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama
2 (dua) tahun, setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki
izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen amdal
wajib menyelesaikan audit lingkungan hidup.
(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama
2 (dua) tahun, setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki
izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki UKL-UPL wajib
membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 122
(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama
1 (satu) tahun, setiap penyusun amdal wajib memiliki sertifikat
kompetensi penyusun amdal.
(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama
1 (satu) tahun, setiap auditor lingkungan hidup wajib memiliki
sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup.

Pasal 123
Segala izin di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang telah
dikeluarkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya wajib diintegrasikan ke dalam izin lingkungan paling
lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini ditetapkan.

BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 124
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan
perundang- undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor
68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699)
dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum
diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan Undang-Undang ini.

214 Pencemaran Lingkungan


Pasal 125
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699) dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 126
Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam Undang-Undang
ini ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-
Undang ini diberlakukan.

Pasal 127
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 3 Oktober 2009

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 3 Oktober 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK
INDONESIA, ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009


NOMOR 140.

Lampiran 215
PENJELASAN ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 32 TAHUN 2009
TENTANG
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP

I. UMUM
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menyatakan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan
hak asasi dan hak konstitusional bagi setiap warga negara Indonesia.
Oleh karena itu, negara, pemerintah, dan seluruh pemangku
kepentingan berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi
sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk
hidup lain.
2. Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak pada posisi silang
antara dua benua dan dua samudra dengan iklim tropis dan cuaca
serta musim yang menghasilkan kondisi alam yang tinggi nilainya.
Di samping itu, Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang
kedua di dunia dengan jumlah penduduk yang besar. Indonesia
mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati dan sumber daya
alam yang melimpah. Kekayaan itu perlu dilindungi dan dikelola
dalam suatu sistem perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang terpadu dan terintegrasi antara lingkungan laut, darat,
dan udara berdasarkan wawasan Nusantara. Indonesia juga berada
pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Dampak tersebut meliputi turunnya produksi pangan, terganggunya
ketersediaan air, tersebarnya hama dan penyakit tanaman serta
penyakit manusia, naiknya permukaan laut, tenggelamnya pulau-
pulau kecil, dan punahnya keanekaragaman hayati. Ketersediaan
sumber daya alam secara kuantitas ataupun kualitas tidak merata,
sedangkan kegiatan pembangunan membutuhkan sumber daya alam
yang semakin meningkat. Kegiatan pembangunan juga mengandung
risiko terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Kondisi ini

216 Pencemaran Lingkungan


dapat mengakibatkan daya dukung, daya tampung, dan produktivitas
lingkungan hidup menurun yang pada akhirnya menjadi beban sosial.
Oleh karena itu, lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan
dikelola dengan baik berdasarkan asas tanggung jawab negara, asas
keberlanjutan, dan asas keadilan. Selain itu, pengelolaan lingkungan
hidup harus dapat memberikan kemanfaatan ekonomi, sosial, dan
budaya yang dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian, demokrasi
lingkungan, desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan
terhadap kearifan lokal dan kearifan lingkungan. Perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu
sistem yang terpadu berupa suatu kebijakan nasional perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara
taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah.
3. Penggunaan sumber daya alam harus selaras, serasi, dan seimbang
dengan fungsi lingkungan hidup. Sebagai konsekuensinya,
kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan harus dijiwai
oleh kewajiban melakukan pelestarian lingkungan hidup dan
mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. Undang-Undang
ini mewajibkan Pemerintah dan pemerintah daerah untuk membuat
kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) untuk memastikan
bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar
dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau
kebijakan, rencana, dan/atau program. Dengan perkataan lain,
hasil KLHS harus dijadikan dasar bagi kebijakan, rencana dan/
atau program pembangunan dalam suatu wilayah. Apabila hasil
KLHS menyatakan bahwa daya dukung dan daya tampung sudah
terlampaui, kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan
tersebut wajib diperbaiki sesuai dengan rekomendasi KLHS dan
segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi.
4. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup
dan mengubah gaya hidup manusia. Pemakaian produk berbasis
kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan
beracun. Hal itu menuntut dikembangkannya sistem pembuangan
yang aman dengan risiko yang kecil bagi lingkungan hidup, kesehatan,
dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Di
samping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat,
industrialisasi juga menimbulkan dampak, antara lain, dihasilkannya
limbah bahan berbahaya dan beracun, yang apabila dibuang ke dalam
media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup,
kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup

Lampiran 217
lain. Dengan menyadari hal tersebut, bahan berbahaya dan beracun
beserta limbahnya perlu dilindungi dan dikelola dengan baik. Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah
bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. Menyadari
potensi dampak negatif yang ditimbulkan sebagai konsekuensi dari
pembangunan, terus dikembangkan upaya pengendalian dampak
secara dini. Analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) adalah
salah satu perangkat preemtif pengelolaan lingkungan hidup yang
terus diperkuat melalui peningkatan akuntabilitas dalam pelaksanaan
penyusunan amdal dengan mempersyaratkan lisensi bagi penilai amdal
dan diterapkannya sertifikasi bagi penyusun dokumen amdal, serta
dengan memperjelas sanksi hukum bagi pelanggar di bidang amdal.
Amdal juga menjadi salah satu persyaratan utama dalam memperoleh
izin lingkungan yang mutlak dimiliki sebelum diperoleh izin usaha.
5. Upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan
hidup perlu dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal
kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi, perlu dilakukan upaya
represif berupa penegakan hukum yang efektif, konsekuen, dan
konsisten terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang
sudah terjadi. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dikembangkan
satu sistem hukum perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum
sebagai landasan bagi perlindungan dan pengelolaan sumber daya
alam serta kegiatan pembangunan lain. Undang-Undang ini juga
mendayagunakan berbagai ketentuan hukum, baik hukum administrasi,
hukum perdata, maupun hukum pidana. Ketentuan hukum perdata
meliputi penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan
dan di dalam pengadilan. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di
dalam pengadilan meliputi gugatan perwakilan kelompok, hak gugat
organisasi lingkungan, ataupun hak gugat pemerintah. Melalui cara
tersebut diharapkan selain akan menimbulkan efek jera juga akan
meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan tentang
betapa pentingnya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
demi kehidupan generasi masa kini dan masa depan.
6. Penegakan hukum pidana dalam Undang-Undang ini memperkenalkan
ancaman hukuman minimum di samping maksimum, perluasan
alat bukti, pemidanaan bagi pelanggaran baku mutu, keterpaduan
penegakan hukum pidana, dan pengaturan tindak pidana korporasi.
Penegakan hukum pidana lingkungan tetap memperhatikan asas
ultimum remedium yang mewajibkan penerapan penegakan hukum
pidana sebagai upaya terakhir setelah penerapan penegakan hukum
administrasi dianggap tidak berhasil. Penerapan asas ultimum

218 Pencemaran Lingkungan


remedium ini hanya berlaku bagi tindak pidana formil tertentu, yaitu
pemidanaan terhadap pelanggaran baku mutu air limbah, emisi, dan
gangguan.
7. Perbedaan mendasar antara Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Undang-Undang ini
adalah adanya penguatan yang terdapat dalam Undang-Undang ini
tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang didasarkan pada tata kelola pemerintahan yang baik
karena dalam setiap proses perumusan dan penerapan instrumen
pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta
penanggulangan dan penegakan hukum mewajibkan pengintegrasian
aspek transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan keadilan.
8. Selain itu, Undang-Undang ini juga mengatur:
a. keutuhan unsur-unsur pengelolaan lingkungan hidup;
b. kejelasan kewenangan antara pusat dan daerah;
c. penguatan pada upaya pengendalian lingkungan hidup;
d. penguatan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup, yang meliputi instrumen kajian
lingkungan hidup strategis, tata ruang, baku mutu lingkungan
hidup, kriteria baku hidup dan upaya pemantauan lingkungan
hidup, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan hidup,
peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup,
anggaran berbasis lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan
hidup, dan instrumen lain yang sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi;
e. pendayagunaan perizinan sebagai instrumen pengendalian;
f. pendayagunaan pendekatan ekosistem;
g. kepastian dalam merespons dan mengantisipasi perkembangan
lingkungan global;
h. penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi,
akses partisipasi, dan akses keadilan serta penguatan hak-hak
masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;
i. penegakan hukum perdata, administrasi, dan pidana secara
lebih jelas;
j. penguatan kelembagaan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang lebih efektif dan responsif; dan
k. penguatan kewenangan pejabat pengawas lingkungan hidup
dan penyidik pegawai negeri sipil lingkungan hidup.

Lampiran 219
9. Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada
Menteri untuk melaksanakan seluruh kewenangan pemerintahan
di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta
melakukan koordinasi dengan instansi lain. Melalui Undang-Undang
ini juga, Pemerintah memberi kewenangan yang sangat luas kepada
pemerintah daerah dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup di daerah masing-masing yang tidak diatur dalam
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Oleh karena itu, lembaga yang mempunyai beban
kerja berdasarkan Undang-Undang ini tidak cukup hanya suatu
organisasi yang menetapkan dan melakukan koordinasi pelaksanaan
kebijakan, tetapi dibutuhkan suatu organisasi dengan portofolio
menetapkan, melaksanakan, dan mengawasi kebijakan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu, lembaga ini diharapkan
juga mempunyai ruang lingkup wewenang untuk mengawasi
sumber daya alam untuk kepentingan konservasi. Untuk menjamin
terlaksananya tugas pokok dan fungsi lembaga tersebut dibutuhkan
dukungan pendanaan dari anggaran pendapatan dan belanja negara
yang memadai untuk Pemerintah dan anggaran pendapatan dan
belanja daerah yang memadai untuk pemerintah daerah.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2

Huruf a
Yang dimaksud dengan “asas tanggung jawab negara” adalah:
a. negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa kini maupun
generasi masa depan.
b. negara menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat.
c. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber
daya alam yang menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup.

220 Pencemaran Lingkungan


Huruf b
Yang dimaksud dengan “asas kelestarian dan keberlanjutan”
adalah bahwa setiap orang memikul kewajiban dan tanggung
jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya
dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya
dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “asas keserasian dan keseimbangan” adalah
bahwa pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan
berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan
perlindungan serta pelestarian ekosistem.

Huruf d
Yang dimaksud dengan “asas keterpaduan” adalah bahwa
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilakukan
dengan memadukan berbagai unsur atau menyinergikan berbagai
komponen terkait.

Huruf e
Yang dimaksud dengan “asas manfaat” adalah bahwa segala usaha
dan/atau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan
dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat manusia selaras
dengan lingkungannya.

Huruf f
Yang dimaksud dengan “asas kehati-hatian” adalah bahwa
ketidakpastian mengenai dampak suatu usaha dan/atau kegiatan
karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah
meminimalisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Huruf g
Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup harus mencerminkan keadilan
secara proporsional bagi setiap warga negara, baik lintas daerah,
lintas generasi, maupun lintas gender.

Lampiran 221
Huruf h
Yang dimaksud dengan “asas ekoregion” adalah bahwa
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus
memperhatikan karakteristik sumber daya alam, ekosistem,
kondisi geografis, budaya masyarakat setempat, dan kearifan
lokal.

Huruf i
Yang dimaksud dengan “asas keanekaragaman hayati” adalah
bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
harus memperhatikan upaya terpadu untuk mempertahankan
keberadaan, keragaman, dan keberlanjutan sumber daya alam
hayati yang terdiri atas sumber daya alam nabati dan sumber daya
alam hewani yang bersama dengan unsur non hayati di sekitarnya
secara keseluruhan membentuk ekosistem.

Huruf j
Yang dimaksud dengan “asas pencemar membayar” adalah bahwa
setiap penanggung jawab yang usaha dan/atau kegiatannya
menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan.

Huruf k
Yang dimaksud dengan “asas partisipatif” adalah bahwa setiap
anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses
pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun
tidak langsung.

Huruf l
Yang dimaksud dengan “asas kearifan lokal” adalah bahwa
dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus
memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata
kehidupan masyarakat.

Huruf m
Yang dimaksud dengan “asas tata kelola pemerintahan yang
baik” adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas,
efisiensi, dan keadilan.

222 Pencemaran Lingkungan


Huruf n
Yang dimaksud dengan “asas otonomi daerah” adalah bahwa
Pemerintah dan pemerintah daerah mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan
kekhususan dan keragaman daerah dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 3
Cukup jelas.
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Kearifan lokal dalam ayat ini termasuk hak ulayat yang
diakui oleh DPRD.

Lampiran 223
Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Ayat (1)
Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup yang dimaksud dalam ketentuan ini, antara lain
pengendalian:
a. pencemaran air, udara, dan laut; dan
b. kerusakan ekosistem dan kerusakan akibat perubahan iklim.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

224 Pencemaran Lingkungan


Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “wilayah” adalah ruang yang merupakan
kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas
dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrasi dan/
atau aspek fungsional.

Ayat (2)

Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Dampak dan/atau risiko lingkungan hidup yang dimaksud
meliputi:
a. perubahan iklim;
b. kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan
keanekaragaman hayati;
c. peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana
banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan
dan lahan;
d. penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam;
e. peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan;
f. peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya
keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat;
dan/atau
g. peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan
manusia.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Lampiran 225
Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Pelibatan masyarakat dilakukan melalui dialog, diskusi, dan
konsultasi publik.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “baku mutu air” adalah ukuran
batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen
yang ada atau harus ada, dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya di dalam air.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “baku mutu air limbah” adalah
ukuran batas atau kadar polutan yang ditenggang untuk
dimasukkan ke media air.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “baku mutu air laut” adalah
ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi,
atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut.

Huruf d
Yang dimaksud dengan “baku mutu udara ambien” adalah
ukuran batas atau kadar zat, energi, dan/atau komponen

226 Pencemaran Lingkungan


yang seharusnya ada, dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam udara ambien.

Huruf e
Yang dimaksud dengan “baku mutu emisi” adalah
ukuran batas atau kadar polutan yang ditenggang untuk
dimasukkan ke media udara.

Huruf f
Yang dimaksud dengan “baku mutu gangguan” adalah ukuran
batas unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya yang
meliputi unsur getaran, kebisingan, dan kebauan.

Huruf g
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 21
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “produksi biomassa” adalah bentuk-
bentuk pemanfaatan sumber daya tanah untuk menghasilkan
biomassa.
Yang dimaksud dengan “kriteria baku kerusakan tanah
untuk produksi biomassa” adalah ukuran batas perubahan
sifat dasar tanah yang dapat ditenggang berkaitan dengan
kegiatan produksi biomassa.

Lampiran 227
Kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa
mencakup lahan pertanian atau lahan budi daya dan hutan.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “kriteria baku kerusakan terumbu
karang” adalah ukuran batas perubahan fisik dan/atau
hayati terumbu karang yang dapat ditenggang.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “kerusakan lingkungan hidup yang
berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan” adalah
pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang berupa
kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup yang
berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan yang
diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan.

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Cukup jelas.

Huruf g
Cukup jelas.

Huruf h
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

228 Pencemaran Lingkungan


Pasal 23
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Jasad renik dalam huruf ini termasuk produk rekayasa
genetik.

Huruf g
Cukup jelas.

Huruf h
Cukup jelas.

Huruf i
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Huruf a
Cukup jelas.

Lampiran 229
Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
dimaksudkan untuk menghindari, meminimalkan, memitigasi,
dan/atau mengompensasikan dampak suatu usaha dan/atau
kegiatan.

Pasal 26
Ayat (1)
Pelibatan masyarakat dilaksanakan dalam proses pengumuman
dan konsultasi publik dalam rangka menjaring saran dan
tanggapan.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 27
Yang dimaksud dengan “pihak lain” antara lain lembaga penyusun
amdal atau konsultan.

Pasal 28
Cukup jelas.

230 Pencemaran Lingkungan


Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Rekomendasi UKL-UPL dinilai oleh tim teknis instansi
lingkungan hidup.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 37
Cukup jelas.

Pasal 38
Cukup jelas.

Lampiran 231
Pasal 39
Ayat (1)
Pengumuman dalam Pasal ini merupakan pelaksanaan atas
keterbukaan informasi. Pengumuman tersebut memungkinkan
peran serta masyarakat, khususnya yang belum menggunakan
kesempatan dalam prosedur keberatan, dengar pendapat, dan
lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 40
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan izin usaha dan/atau kegiatan dalam
ayat ini termasuk izin yang disebut dengan nama lain seperti
izin operasi dan izin konstruksi.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Perubahan yang dimaksud dalam ayat ini, antara lain, karena
kepemilikan beralih, perubahan teknologi, penambahan atau
pengurangan kapasitas produksi, dan/atau lokasi usaha dan/
atau kegiatan yang berpindah tempat.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “instrumen ekonomi dalam
perencanaan pembangunan” adalah upaya internalisasi
aspek lingkungan hidup ke dalam perencanaan dan
penyelenggaraan pembangunan dan kegiatan ekonomi.

232 Pencemaran Lingkungan


Huruf b
Yang dimaksud dengan “pendanaan lingkungan” adalah
suatu sistem dan mekanisme penghimpunan dan
pengelolaan dana yang digunakan bagi pembiayaan
upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pendanaan lingkungan berasal dari berbagai sumber,
misalnya pungutan, hibah, dan lainnya.

Huruf c
Insentif merupakan upaya memberikan dorongan atau
daya tarik secara moneter dan/atau nonmoneter kepada
setiap orang ataupun Pemerintah dan pemerintah
daerah agar melakukan kegiatan yang berdampak positif
pada cadangan sumber daya alam dan kualitas fungsi
lingkungan hidup.
Disinsentif merupakan pengenaan beban atau ancaman
secara moneter dan/atau nonmoneter kepada setiap
orang ataupun Pemerintah dan pemerintah daerah
agar mengurangi kegiatan yang berdampak negatif
pada cadangan sumber daya alam dan kualitas fungsi
lingkungan hidup.

Pasal 43
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “neraca sumber daya alam” adalah
gambaran mengenai cadangan sumber daya alam dan
perubahannya, baik dalam satuan fisik maupun dalam
nilai moneter.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “produk domestik bruto” adalah
nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu
negara pada periode tertentu.
Yang dimaksud dengan “produk domestik regional bruto”
adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh
suatu daerah pada periode tertentu.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “mekanisme kompensasi/imbal
jasa lingkungan hidup antardaerah” adalah cara-cara

Lampiran 233
kompensasi/imbal yang dilakukan oleh orang, masyarakat,
dan/atau pemerintah daerah sebagai pemanfaat jasa
lingkungan hidup kepada penyedia jasa lingkungan hidup.

Huruf d
Yang dimaksud dengan “internalisasi biaya lingkungan
hidup” adalah memasukkan biaya pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup dalam perhitungan biaya
produksi atau biaya suatu usaha dan/atau kegiatan.

Ayat (2)

Huruf a
Yang dimaksud dengan “dana jaminan pemulihan
lingkungan hidup” adalah dana yang disiapkan oleh
suatu usaha dan/atau kegiatan untuk pemulihan kualitas
lingkungan hidup yang rusak karena kegiatannya.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “dana penanggulangan” adalah
dana yang digunakan untuk menanggulangi pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang timbul akibat
suatu usaha dan/atau kegiatan.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “dana amanah/bantuan” adalah
dana yang berasal dari sumber hibah dan donasi untuk
kepentingan konservasi lingkungan hidup.

Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “pengadaan barang dan jasa
ramah lingkungan hidup” adalah pengadaan yang
memprioritaskan barang dan jasa yang berlabel ramah
lingkungan hidup.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “pajak lingkungan hidup” adalah
pungutan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah
terhadap setiap orang yang memanfaatkan sumber daya
alam, seperti pajak pengambilan air bawah tanah, pajak
bahan bakar minyak, dan pajak sarang burung walet.

234 Pencemaran Lingkungan


Yang dimaksud dengan “retribusi lingkungan hidup”
adalah pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah
terhadap setiap orang yang memanfaatkan sarana yang
disiapkan pemerintah daerah seperti retribusi pengolahan
air limbah.
Yang dimaksud dengan “subsidi lingkungan hidup” adalah
kemudahan atau pengurangan beban yang diberikan
kepada setiap orang yang kegiatannya berdampak
memperbaiki fungsi lingkungan hidup.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “sistem lembaga keuangan ramah
lingkungan hidup” adalah sistem lembaga keuangan yang
menerapkan persyaratan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup dalam kebijakan pembiayaan dan
praktik sistem lembaga keuangan bank dan lembaga
keuangan nonbank.
Yang dimaksud dengan “pasar modal ramah lingkungan
hidup” adalah pasar modal yang menerapkan persyaratan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bagi
perusahaan yang masuk pasar modal atau perusahaan
terbuka, seperti penerapan persyaratan audit lingkungan
hidup bagi perusahaan yang akan menjual saham di pasar
modal.

Huruf d
Yang dimaksud dengan “perdagangan izin pembuangan
limbah dan/atau emisi” adalah jual beli kuota limbah
dan/atau emisi yang diizinkan untuk dibuang ke media
lingkungan hidup antarpenanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan.

Huruf e
Yang dimaksud dengan “pembayaran jasa lingkungan
hidup” adalah pembayaran/imbal yang diberikan oleh
pemanfaat jasa lingkungan hidup kepada penyedia jasa
lingkungan hidup.

Huruf f
Yang dimaksud dengan “asuransi lingkungan hidup”
adalah asuransi yang memberikan perlindungan pada saat
terjadi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Lampiran 235
Huruf g
Yang dimaksud dengan “sistem label ramah lingkungan
hidup” adalah pemberian tanda atau label kepada produk-
produk yang ramah lingkungan hidup.

Huruf h
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Kriteria kinerja perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup meliputi, antara lain, kinerja mempertahankan kawasan
konservasi dan penurunan tingkat pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup.

Pasal 46
Cukup jelas.

Pasal 47
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “analisis risiko lingkungan” adalah
prosedur yang antara lain digunakan untuk mengkaji pelepasan
dan peredaran produk rekayasa genetik dan pembersihan (clean
up) limbah B3.

Ayat (2)
Huruf a
Dalam ketentuan ini “pengkajian risiko” meliputi seluruh
proses mulai dari identifikasi bahaya, penaksiran besarnya
konsekuensi atau akibat, dan penaksiran kemungkinan

236 Pencemaran Lingkungan


munculnya dampak yang tidak diinginkan, baik terhadap
keamanan dan kesehatan manusia maupun lingkungan
hidup.

Huruf b
Dalam ketentuan ini “pengelolaan risiko” meliputi evaluasi
risiko atau seleksi risiko yang memerlukan pengelolaan,
identifikasi pilihan pengelolaan risiko, pemilihan tindakan
untuk pengelolaan, dan pengimplementasian tindakan
yang dipilih.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “komunikasi risiko” adalah proses
interaktif dari pertukaran informasi dan pendapat di antara
individu, kelompok, dan institusi yang berkenaan dengan
risiko.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 48
Cukup jelas.

Pasal 49
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “usaha dan/atau kegiatan tertentu
yang berisiko tinggi” adalah usaha dan/atau kegiatan
yang jika terjadi kecelakaan dan/atau keadaan darurat
menimbulkan dampak yang besar dan luas terhadap
kesehatan manusia dan lingkungan hidup seperti
petrokimia, kilang minyak dan gas bumi, serta pembangkit
listrik tenaga nuklir.
Dokumen audit lingkungan hidup memuat:
a. informasi yang meliputi tujuan dan proses pelaksanaan
audit;
b. temuan audit;
c. kesimpulan audit; dan
d. data dan informasi pendukung.

Lampiran 237
Huruf b
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal 54
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “remediasi” adalah upaya
pemulihan pencemaran lingkungan hidup untuk
memperbaiki mutu lingkungan hidup.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “rehabilitasi” adalah upaya
pemulihan untuk mengembalikan nilai, fungsi, dan manfaat
lingkungan hidup termasuk upaya pencegahan kerusakan
lahan, memberikan perlindungan, dan memperbaiki
ekosistem.

238 Pencemaran Lingkungan


Huruf d
Yang dimaksud dengan “restorasi” adalah upaya pemulihan
untuk menjadikan lingkungan hidup atau bagian-bagiannya
berfungsi kembali sebagaimana semula.

Huruf e
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pemeliharaan lingkungan hidup”
adalah upaya yang dilakukan untuk menjaga pelestarian fungsi
lingkungan hidup dan mencegah terjadinya penurunan atau
kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh perbuatan
manusia.

Huruf a
Konservasi sumber daya alam meliputi, antara lain,
konservasi sumber daya air, ekosistem hutan, ekosistem
pesisir dan laut, energi, ekosistem lahan gambut, dan
ekosistem karst.

Huruf b
Pencadangan sumber daya alam meliputi sumber daya
alam yang dapat dikelola dalam jangka panjang dan waktu
tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Untuk melaksanakan pencadangan sumber daya alam,
Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah
kabupaten/kota dan perseorangan dapat membangun:
a. taman keanekaragaman hayati di luar kawasan hutan;
b. ruang terbuka hijau (RTH) paling sedikit 30% dari
luasan pulau/kepulauan; dan/atau

Lampiran 239
c. menanam dan memelihara pohon di luar kawasan
hutan, khususnya tanaman langka.

Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “pengawetan sumber daya alam”
adalah upaya untuk menjaga keutuhan dan keaslian
sumber daya alam beserta ekosistemnya.

Huruf c
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “mitigasi perubahan iklim”
adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upaya
menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca sebagai bentuk
upaya penanggulangan dampak perubahan iklim.
Yang dimaksud dengan “adaptasi perubahan iklim” adalah
upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan
dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim,
termasuk keragaman iklim dan kejadian iklim ekstrem
sehingga potensi kerusakan akibat perubahan iklim
berkurang, peluang yang ditimbulkan oleh perubahan
iklim dapat dimanfaatkan, dan konsekuensi yang timbul
akibat perubahan iklim dapat diatasi.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.

240 Pencemaran Lingkungan


Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 58
Ayat (1)
Kewajiban untuk melakukan pengelolaan B3 merupakan upaya
untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap
lingkungan hidup yang berupa terjadinya pencemaran dan/
atau kerusakan lingkungan hidup, mengingat B3 mempunyai
potensi yang cukup besar untuk menimbulkan dampak negatif.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 59
Ayat (1)
Pengelolaan limbah B3 merupakan rangkaian kegiatan yang
mencakup pengurangan, penyimpanan, pengumpulan,
pengangkutan, pemanfaatan, dan/atau pengolahan, termasuk
penimbunan limbah B3.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Yang dimaksud dengan pihak lain adalah badan usaha yang
melakukan pengelolaan limbah B3 dan telah mendapatkan
izin.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.

Lampiran 241
Pasal 60
Cukup jelas.

Pasal 61
Cukup jelas.

Pasal 62
Ayat (1)
Sistem informasi lingkungan hidup memuat, antara lain,
keragaman karakter ekologis, sebaran penduduk, sebaran
potensi sumber daya alam, dan kearifan lokal.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 63
Cukup jelas.

Pasal 64
Cukup jelas.

Pasal 65
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu
konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan
lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan.
Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai
dan efektivitas peran serta dalam pengelolaan lingkungan
hidup, di samping akan membuka peluang bagi masyarakat
untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup

242 Pencemaran Lingkungan


yang baik dan sehat. Informasi lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada ayat ini dapat berupa data, keterangan,
atau informasi lain yang berkenaan dengan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan
tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat,
seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup,
laporan, dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup,
baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan
kualitas lingkungan hidup dan rencana tata ruang.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 66
Ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi korban dan/atau
pelapor yang menempuh cara hukum akibat pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup.
Perlindungan ini dimaksudkan untuk mencegah tindakan
pembalasan dari terlapor melalui pemidanaan dan/atau gugatan
perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian peradilan.

Pasal 67
Cukup jelas.

Pasal 68
Cukup jelas.

Pasal 69
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.

Lampiran 243
Huruf b
B3 yang dilarang dalam ketentuan ini, antara lain, DDT,
PCBs, dan dieldrin.
Huruf c
Larangan dalam ketentuan ini dikecualikan bagi yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Huruf d
Yang dilarang dalam huruf ini termasuk impor.

Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Cukup jelas.

Huruf g
Cukup jelas.

Huruf h
Cukup jelas.

Huruf i
Cukup jelas.

Huruf j
Cukup jelas.

Ayat (2)
Kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah
melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal
2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis
varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah
penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.

Pasal 70
Ayat (1)
Cukup jelas.

244 Pencemaran Lingkungan


Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Pemberian saran dan pendapat dalam ketentuan ini
termasuk dalam penyusunan KLHS dan amdal.

Huruf c
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 71
Cukup jelas.

Pasal 72
Cukup jelas.

Pasal 73
Yang dimaksud dengan “pelanggaran yang serius” adalah tindakan
melanggar hukum yang mengakibatkan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang relatif besar dan menimbulkan
keresahan masyarakat.

Pasal 74
Cukup jelas.

Pasal 75
Cukup jelas.

Pasal 76
Cukup jelas.

Pasal 77
Cukup jelas.

Pasal 78
Cukup jelas.

Lampiran 245
Pasal 79
Cukup jelas.

Pasal 80
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “ancaman yang sangat serius” adalah suatu
keadaan yang berpotensi sangat membahayakan keselamatan
dan kesehatan banyak orang sehingga penanganannya tidak
dapat ditunda.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.

Pasal 82
Cukup jelas.

Pasal 83
Cukup Jelas.

Pasal 84
Ayat (1)
Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak
keperdataan para pihak yang bersengketa.

Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa
lingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum.

246 Pencemaran Lingkungan


Pasal 85
Cukup jelas.

Pasal 86
Cukup jelas.

Pasal 87
Ayat (1)
Ketentuan dalam ayat ini merupakan realisasi asas yang ada
dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar
membayar. Selain diharuskan membayar ganti rugi, pencemar
dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh
hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu, misalnya
perintah untuk:
a. memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah
sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan
hidup yang ditentukan;
b. memulihkan fungsi lingkungan hidup; dan/atau
c. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan
pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan
tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 88
Yang dimaksud dengan “bertanggung jawab mutlak” atau strict
liability adalah unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak
penggugat sebagai dasar pembayaran ganti rugi. Ketentuan ayat ini
merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar
hukum pada umumnya. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat
dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup
menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu.

Lampiran 247
Yang dimaksud dengan “sampai batas waktu tertentu” adalah jika
menurut penetapan peraturan perundang-undangan ditentukan
keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan
atau telah tersedia dana lingkungan hidup.

Pasal 89
Cukup jelas.

Pasal 90
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “kerugian lingkungan hidup” adalah
kerugian yang timbul akibat pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup yang bukan merupakan hak milik privat.
Tindakan tertentu merupakan tindakan pencegahan dan
penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan serta
pemulihan fungsi lingkungan hidup guna menjamin tidak akan
terjadi atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan
hidup.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 91
Cukup jelas.

Pasal 92
Cukup jelas.

Pasal 93
Cukup jelas.

Pasal 94
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

248 Pencemaran Lingkungan


Ayat (3)
Yang dimaksud dengan koordinasi adalah tindakan berkonsultasi
guna mendapatkan bantuan personil, sarana, dan prasarana
yang dibutuhkan dalam penyidikan.

Ayat (4)
Pemberitahuan dalam Pasal ini bukan merupakan pemberitahuan
dimulainya penyidikan, melainkan untuk mempertegas wujud
koordinasi antara pejabat penyidik pegawai negeri sipil dan
penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 95
Cukup jelas.

Pasal 96
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Yang dimaksud dengan alat bukti lain, meliputi, informasi
yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara
elektronik, magnetik, optik, dan/atau yang serupa dengan itu;
dan/atau alat bukti data, rekaman, atau informasi yang dapat

Lampiran 249
dibaca, dilihat, dan didengar yang dapat dikeluarkan dengan
dan/atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang
di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas, atau yang
terekam secara elektronik, tidak terbatas pada tulisan, suara
atau gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf,
tanda, angka, simbol, atau perporasi yang memiliki makna
atau yang dapat dipahami atau dibaca.

Pasal 97
Cukup jelas.

Pasal 98
Cukup jelas.

Pasal 99
Cukup jelas.

Pasal 100
Cukup jelas.

Pasal 101
Yang dimaksud dengan “melepaskan produk rekayasa genetik”
adalah pernyataan diakuinya suatu hasil pemuliaan produk
rekayasa genetik menjadi varietas unggul dan dapat disebarluaskan
setelah memenuhi persyaratan berdasarkan peraturan perundang-
undangan.
Yang dimaksud dengan “mengedarkan produk rekayasa genetik”
adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka
penyaluran komoditas produk rekayasa genetik kepada masyarakat,
baik untuk diperdagangkan maupun tidak.

Pasal 102
Cukup jelas.

Pasal 103
Cukup jelas.

Pasal 104
Cukup jelas.

250 Pencemaran Lingkungan


Pasal 105
Cukup jelas.

Pasal 106
Cukup jelas.

Pasal 107
Cukup jelas.

Pasal 108
Cukup jelas.

Pasal 109
Cukup jelas.

Pasal 110
Cukup jelas.

Pasal 111
Cukup jelas.

Pasal 112
Cukup jelas.

Pasal 113
Informasi palsu yang dimaksud dalam Pasal ini dapat berbentuk
dokumen atau keterangan lisan yang tidak sesuai dengan fakta-fakta
yang senyatanya atau informasi yang tidak benar.

Pasal 114
Cukup jelas.

Pasal 115
Cukup jelas.

Lampiran 251
Pasal 116
Cukup jelas.

Pasal 117
Cukup jelas.

Pasal 118
Yang dimaksud dengan pelaku fungsional dalam Pasal ini adalah
badan usaha dan badan hukum.
Tuntutan pidana dikenakan terhadap pemimpin badan usaha dan
badan hukum karena tindak pidana badan usaha dan badan hukum
adalah tindak pidana fungsional sehingga pidana dikenakan dan
sanksi dijatuhkan kepada mereka yang memiliki kewenangan
terhadap pelaku fisik dan menerima tindakan pelaku fisik tersebut.
Yang dimaksud dengan menerima tindakan dalam Pasal ini
termasuk menyetujui, membiarkan, atau tidak cukup melakukan
pengawasan terhadap tindakan pelaku fisik, dan/atau memiliki
kebijakan yang memungkinkan terjadinya tindak pidana tersebut.

Pasal 119
Cukup jelas.

Pasal 120
Cukup jelas.

Pasal 121
Cukup jelas.

Pasal 122
Cukup jelas.

Pasal 123
Izin dalam ketentuan ini, misalnya, izin pengelolaan limbah B3, izin
pembuangan air limbah ke laut, dan izin pembuangan air limbah
ke sumber air.

252 Pencemaran Lingkungan


Pasal 124
Cukup jelas.

Pasal 125
Cukup jelas.

Pasal 126
Cukup jelas.

Pasal 127
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 5059

Lampiran 253
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
BIODATA PENULIS

Para ilmuwan tak obahnya seperti kafilah yang tersesat di pesisir.


Menemukan mutiara dan berseru tentang penemuannya,
Di puncak kesadaran yang syahdu, mereka menyadari
bahwa jauh di dasar samudra yang tak terselami,
ada ketidakberhinggaan mutiara yang tersimpan rapi

Indang Dewata
Di samping sebagai akademisi juga
sekaligus praktisi di bidang lingkungan
serta seorang birokrat. Penulis telah dua
kali ditempatkan sebagai Kepala Dinas
di Lingkungan Hidup dan Kepala Dinas
Pendidikan di Kota Padang. Kondisi
ini semakin memperluas wawasannya
menyikapi persoalan di ranah lingkungan
hidup terutama pencemaran. Saat sekarang, Doktor Ilmu Lingkungan
alumni Universitas Indonesia ini masih tekun untuk menyelesaikan Buku
Toksikologi Lingkungan, yang Insya Allah akan rampung. Aktivitas sehari
hari saat ini, di samping mengajar S1, S2 dan S3 dan menjabat sebagai
Ketua Pusat Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas
Negeri Padang, serta dipercayai sebagai Ketua oleh Pusat Studi
Lingkungan Hidup Perguruan Tinggi Se-Indonesia (BKPSL Indonesia).
Penulis juga aktif di Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Sumatera Barat
membidangi Pembangunan dan Lingkungan Hidup di samping sebagai
Peneliti di BKKBN Sumbar dan BKKBN Pusat. Kegiatan lainnya adalah
TIM Teknis AMDAL serta Tim KLHS serta Tim Panitia Seleksi (Pansel)
pejabat daerah di Kabupaten/Kota di Sumbar. Tercatat sebagai anggota
IESA (Indonesian Environmental Scientist Association) dan beberapa buku
lainya yaitu Kimia Lingkungan, Spirit go Grreen, Permodelan Sistem Dinamis.

Bab 4 | Perspektif Kimia Terhadap Pencemaran Lingkungan 255


Yun Hendri Danhas
Lahir di Kota Bukittinggi Tanggal 25
Juni 1972. Terlahir dari pasangan H.
Dahnius Has dan Hj Djasni. Memiliki
seorang anak Yuri Liberty Kencana
Al haq dari istri Sri Hendra Gustina.
Memperoleh gelar Sarjana Pertanian
dari Universitas Andalas tahun 1997
dan Magister Ilmu Lingkungan dari Universitas Negeri Padang Tahun
2014. Sebelumnya, di tahun 2012 mendapatkan sertifikat keahlian
bidang pendidikan nonformal dari Birmingham Education Consultan (BEC)
New Jersey, United States of America.
Saat ini, penulis senantiasa meneliti persoalan dan fenomena yang
berhubungan dengan lingkup ekonomi dan lingkungan.
Kesehariannya, penulis adalah sebagai Direktur Eksekutif di
Lembaga Pemerhati Lingkungan Hidup.

256 Pencemaran Lingkungan

Anda mungkin juga menyukai