Anda di halaman 1dari 20

BUDAYA DAN AMALIYAH NU 1

(KEHAMILAN, KELAHIRAN DAN KEMATIAN)

Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas ASWAJA

Disusun Oleh:

Kelompok 9

1. Rahma Nazilah Mahu (1250020016)


2. Alfi Nur Utami (1250020022)

PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam kami haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW karena dengan perjuangan beliau kita dapat sampai pada
sekarang ini.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata
sempurna baik segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena itu,
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pembaca guna menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi di masa
mendatang.

Semoga makalah ini bisa menambah wawasan para pembaca dan bisa
bermanfaat untuk perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

Penyusun

Kelompok 9

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 1

B. RUMUSAN MASALAH 1

C. TUJUAN 1

D. MANFAAT 1

BAB II PEMBAHASAN

A. BUDAYA DAN AMALIYAH KEHAMILAN DAN KELAHIRA 2


1. Do’a Saat Hamil Tingkeban Pitonan 2
2. Azan dan Iqamah Saat Bayi Lahir 3
3. Brokohan (Aqiqah) 4
4. Bancaan (Ulang Tahun) 5
B. BUDAYA DAN AMALIYAH KEMATIAN 5
1. Talqin 5
2. Yasinan dan Tahlilan 6
3. Tawassul, Haul, Pahala Bacaan Al-Quran dan Shadaqah Untuk Mayit 9
4. Ziarah Kubur, Megengan, Takziyah Dan Baca Quran Dikuburan 11

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN 16
B. SARAN 16

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap orang yang berdoa dianjurkan umtuk mendoakan dirinya sendiri,
kedua orang tuanya dan cucunya. Budaya memiliki kaitan yang sangat erat
dengan kehidupan dalam masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini masyarakat
Nahdlatul Ulama memiliki tradisi yang cukup unik yang tentunya tidak ada
dalam masyarakat lain. Anak merupakan suatu karunia Allah SWT yang tidak
ternilai bagi setiap pasangan suami istri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat kami
ambil yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana doa saat hamil ?
2. Mengapa harus azan dan iqamah saat bayi lahir ?
3. Apa yang dimaksud dengan brokohan (aqiqah)?
4. Apa saja budaya dan amaliyah seputar kematian ?

C. Tujuan
1. Mengetahui doa apa yang harus dipanjatkan ketika hamil
2. Mengetahui alasan adanya azan dan iqamah saat bayi lahir
3. Mengetahui budaya brokohan (aqiqah).
4. Mengtahui budaya dan amaliyah seputar kematian.

D. Manfaat
1. Kita dapat mengetahui doa apa yang harus dipanjatkan ketika hamil.
2. Kita dapat mengetahui alasan adzan dan iqamah saat bayi lahir.
3. Kita dapat mengetahui tradisi brokohan (aqiqah)
4. Kita dapat mengetahui tradisi seputar kematian.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Budaya dan Amaliyah Kehamilan dan Kelahiran


1. Do’a Saat Hamil Tingkeban Pitonan

Tingkeban merupakan tradisi adat masyarakat di Jawa secara turun-


temurun yang secara tidak langsung dapat meningkatkan rasa kepercayaan
seorang calon ibu dan ayah agar tetap berdo’a supaya dikaruniai seorang
cabang bayi yang sholeh dan sholihah, yaitu dengan adanya beberapa perilaku
ritual yang dilakukan masyarakat yang pada dasarnya adalah berdo’a untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Fungsi acara tujuh bulanan adalah memanjatkan do’a atas karunia yang
telah diberikan, dan sebagai ucapan rasa syukur yaitu beruapa saling
menitipkan, mengingatkan, dan mendoakan secara lahirnya dan secara
batinnya agar manusia selalu bersyukur atas rahmad Allah SWT yang telah
memberikan rezeki berupa anak. Tujuan dari acara tujuh bulanan adalah agar
ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan dan
mensyukuri atas nikmat allah SWT dan memohon agar bayi yang di kandung
selamat dan sehat serta diberikan karunia anak yang sholeh maupun sholihah
serta ibu dapat melahirkan dengan mudah tanpa ada suatu rintangan dan
hambatan.

Selama masa kehamilan ada beberapa tradisi selamatan dan doa.


Ada tingkeban  (selamatan  130 hari, 4 bulan) dan pitonan (selamatan 7 bulan).
Amaliah ini masuk dalam ayat :

2
"Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Dia menciptakan
isterinya, supaya dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya,
isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan
(beberapa waktu). Lalu tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri)
bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata : "Sungguh jika Engkau
memberi kami anak yang sempurna, tentu kami termasuk orang orang yang
bersyukur."(QS. Al-A'raf:189).

2. Azan dan Iqamah Saat Bayi Lahir


Islam menganjurkan kepada orang tua untuk melaksanakan azan dan
iqamah sesaat pasca  bayi lahir kedunia ini. Hal ini sesuai dengan sunnah yang
diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, tentunya dengan harapan anak tersebut
tumbuh dalam kesalehan dan ketaatan kepada Allah.
Salah satu hadist  diriwayatkan dari Husain bin Ali pernah mendengar
Rasulullah Saw. bersabda demikian:

‫ض ّرهُ أُ ُّم الصبيان‬


ُ َ‫ وأقا َم في أُ ُذنِ ِه اليُس َْرى لَ ْم ت‬،‫َم ْن ُولِ َد لَهُ َموْ لُو ٌد فأ َّذنَ في أُ ُذنِ ِه اليُ ْمنَى‬

Artinya: orang yang anaknya baru lahir, maka adzankanlah pada telinga
kanannya, dan bacakanlah iqamat pada telinga kirinya. Dijamin anak itu tidak
akan diganggu kuntilanak

Dalam hal ini, Sayyid Muhammad bin 'Ali al-Tarimi dalam al-Wasail al-
Syafi'ah fi al-Adzkar al-Nafi'ah wa al-Aurad al-Jami'ah telah memberikan
rangkaian amalan dan doa yang bisa dibaca saat bayi baru lahir ke dunia. Adapuan
dzikir dan doa itu adalah Sebagai berikut:

3
a. Membaca azan pada telinga bayi sebelah kanan. Hal yang biasa
dilakukan dan sangat penting adalah melantunkan adzan di telinga
sebelah kanan si bayi.
b. Membaca Iqamah pada Telinga Bayi Sebelah Kiri
Membaca iqamah pada telinga sebelah kiri bayi yang baru lahir juga
merupakan hal penting yang dapat dilakukan seorang ayah bagi buah
hatinya yang baru lahir.
c. Membaca Doa di Telinga Bayi Sebelah Kanan
Ketika bayi baru lahir, seorang ayah juga penting membaca doa pada
telinga bayi sebelah kanan. Adapun doa yang bisa dibacakan adalah
sebagai berikut.

‫اللهم اجْ َع ْلهُ بَا ًّرا تَقِيًّا َر ِش ْيدًا َوأَ ْنبِ ْتهُ فِي اإْل ِ ْساَل ِم نَبَاتًا َح َسنًا‬
Allâhummaj’alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan
hasanan
“Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas.
Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik.”

3. Brokohan (Aqiqah)
Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi Jawa untuk
menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan sehari setelah bayi lahir.
Kata brokohan sendiri berasal dari kata brokoh-an, yang artinya
memohon berkah dan keselamatan atas kelahiran bayi. Acara ini
biasanya para tetangga dekat dan sanak saudara berdatangan berkumpul
sebagai tanda turut bahagia atas kelahiran bayi yang dapat berjalan
dengan lancar. Tidak sedikit para tetangga yang membawa berbagai
macam oleh-oleh berupa perlengkapan bayi dan makanan untuk
keluarga yang melahirkan, berupa domba atau kambing. Apabila anak
yang dilahirkan laki-laki biasanya menyembelih dua ekor kambing dan
apabila anak yang dilahirkan perempuan maka akan menyembelih satu
4
ekor kambing.
Aqiqah juga salah satu upaya kita untuk menebus anak kita yang
tergadai. Aqiqah juga merupakan realisasi rasa syukur kita atas
anugerah, sekaligus amanah yang di berikan allah SWT terhadap kita.
Aqiqah juga sebagai upaya kita menghidupkan sunnah rasul SAW,
yang merupakan perbuatan yang terpuji, mengingat saat ini sunnah
tersebut mulai jarang di laksanakan oleh kaum muslimin.
4. Bancaan (Ulang Tahun)
Ritual yang disertai dengan penyajian tumpeng dan gudangan
dinamakan Bancaan. Bancaan adalah sebuah upacara sederhana
tradisi adat masyarakat Jawa yang menyertai sebuah tahapan
perkembangan seorang anak. Bancaan biasa dilakukan untuk
memperingati hari lahir berdasarkan pada hari pasaran penanggalan
Jawa atau wetonan, kemudian ketika anak baru mulai berhenti
menyusu pada ibunya atau masa disapih, dan saat-saat khusus seperti
ketika seorang anak sering jatuh sakit, serta bila seorang anak harus
berganti nama. Jadi tradisi Bancaan merupakan bentuk simbolisasi
rasa syukur dan doa kepada Tuhan yang biasa dilakukan oleh
masyarakat tradisional Jawa. Dan sayangnya tradisi Bancaan ini mulai
kurang dikenal.
B. Budaya Dan Amaliyah Kematian
1. Talqin
Menurut bahasa, talqin artinya mengajar, memahamkan secara lisan.
Sedangkan menurut istilah, talqin adallah:mengajar dan mengingatkan
kembali kepada orang yang sedang naza’ atau kepada mayit yang baru saja
dikubur dengan kalimat-kalimat tertentu. Talqin di bagi menjadi dua yaitu:
a) Talqin Orang yang sedang Naza’
Yaitu mengajarkan atau mendikte orang yang dalam keadaan
naza’ dengan bacaan kalimat tahlil. Tujuannya adalah agar orang
tersebut mampu melafadzkan kalimat tauhid sebagai akhir kata dalam
hidupnya. Sehingga dia berpulang dalam keadaan husnul khotimah.
5
Adapun talqin orang dalam keadaan naza’ sudah lagi tidak lagi
diragukan dasar hadisnya, karena Rasullah SAW sendiri juga
mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan, sebagaimana dalam
salah satu sabdanya:

‫هّٰللا‬ ‫هّٰللا‬
ِ ْ‫ فَاِنَّهُ َم ْن َكانَ ٰا ِخ ُر كَاَل ِم ِه اَل اِ ٰلهَ ااَّل ُ ِع ْن َد ْال َمو‬،ُ ‫لَقِّنُوْ ا َموْ تَا ُك ْم اَل اِ ٰلهَ اِاَّل‬
‫ت َدخَ َل‬
‫ رواه ابن حبان‬- ُ‫صابَه‬ َ َ‫ك َما ا‬ َ ِ‫صابَهُ قَ ْب َل ٰذل‬
َ َ‫ َواِ ْن َكانَ ا‬،‫ْال َجنَّةَ يَوْ ًما ِمنَ ال َّد ْه ِر‬
‫وصححه األلباني في صحيح الجامع‬
"Ajarilah orang mati kalian dengan kalimat "la ilaha illallah",
sesungguhnya barang siapa akhir perkataannya adalah "la ilaha illallah"
maka dia measuk surga pada hari di suatu masa, meskipun sebelumnya
telah menimpanya apa yang telah dia timpa" (HR. Ibnu Hibban, dan
dinilai shohih oleh Syekh Albani di dalam Kitab Shohih Al-Jami').

Dalam hadits lain Rasullah SAW bersabda:

‫ رواه احمد وابو داود‬- ُ‫َمنْ َكانَ ٰا ِخ ُر كَاَل ِم ِه اَل اِ ٰلهَ ااَّل هّٰللا ُ َو َجبَتْ لَهُ ا ْل َجنَّة‬

"Barang siapa akhir perkataannya adalah "la ilaha illallah", maka wajib
baginya surga"

Hadits-hadits di atas menunjukkan pentingnya talqin kepada orang yang


sedang dalam keadaan naza’ atau sakaratul maut.

b) Talqin Mayit
Talqin mayit adalah mengajarkan mayit dengan pertanyan-
pertanyaan dan jawaban-jawaban kubur sebagai pengingat kepadanya.
Talqin mayit sesudah di pendam merupakan salah satu dari cabang
permasalahan khilafiyah didalam umat Islam.
Hendaknya permasalahan khilafiyah seperti ini tidak diikuti dengan
saling menuduh, saling menyalahkan dan saling mengingkari, karena
baik dari pihak penerima maupun pihak penolak memiliki dasar
masing-masing.

2. Yasinan dan Tahlilan


a. Yasinan

Yasinan adalah membaca surat Yasin, baik sendirian atau


bersama-sama. Dalam kebersamaan ini bisa membacanya sendiri-
sendiri atau membacanya secara kor (berjamaah). Motif yang

6
mendasarinya adalah  keyakinan bahwa pahala bacaan dikirimkan kepada
orang yang sudah meninggal,  untuk mengiringi proses kematian
seseorang (keadaan sakit kritis yang diperkirakan kuat menuju kematian
atau dalam keadaan sakaratul maut agar yang dibacakannya ini cepat
sembuh atau segera mati secara mudah atas dasar kasih sayang Allah dan
yang  melihatnya merasa kasihan terhadap  penderitaan yang
sedang sakaratul maut ini, atau dikirimkan kepada orang yang masih
hidup tetapi diperlakukan seperti orang yang sudah meninggal, seperti
orang pergi haji. Selama haji ia diupacarai yasinan pada hari pertama dari
pemberangkatannya hingga hari ke tujuh yang selanjutnya setiap malam
Jumat hingga yang bersangkutan kembali sampai di rumah dengan
selamat. Upacara Yasinan hampir selalu menyatu dengan tahlilan.

Ritual yasinan untuk orang mati dilaksanakan sejak hari pertama


hingga hari ke tujuh selanjutnya pada hari ke 40, hari ke 100, ulang tahun
kematian pertama, ulang tahun kematian ke dua, hari ke 1000, dan
selanjutnya setiap satu tahun sekali pada hari kematiaanya sejauh
dikehendaki. Karena kerabat yang ditinggal mati memiliki kelebihan
ekonomi dan tanggungjawab moral sebagai pelaksanaan ajaran birrul
walidain (berbakti kepada kedua orang tua), yasinan dilakukan selama 40
hari sejak hari pertama kematian orang tua atau kerabatnya.
Yasinan dilakukan dalam waktu waktu tertentu misalnya malam Jumat
yang dilaksanakan di masjid atau dirumah rumah warga secara bergiliran
setiap minggunya. Selain pada malam Jum’at yasinan juga dilaksanakan
untuk memperingati dan “mengirim” doa bagi keluarga yang telah
meninggal pada malam ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan
keseribu.
Masyarakat mempercayai bahwa dengan membaca surat Yasin maka
pahala atas pembacaan itu akan sampai pada si mayat. Ada pula acara
Yasinan ini dilakukan untuk meminta hajat kepada Tuhan agar
dipermudah dalam mencari rizki maupun meminta hajat agar orang yang
sakit dan sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda
akan diakhirinya ke hidupan ini sudah jelas, maka surat Yasin menjadi
pengantar kepulangannya ke hadirat Allah.

7
Masyarakat melaksanakan tradisi ini karena turun temurun. Artinya
tradisi ini merupakan peninggalan dari nenek moyang mereka, dimana
Islam mengadopsinya sebagai bagian dari ritual keagamaan. Dari
pelaksanaan tradisi ini maka ada makna yang lain selain dari arti ayat-ayat
yang dibaca secara bersama sama.
 
b. Tahlilan
Tahlilan adalah ritual atau upacara selamatan yang dilakukan sebagian
umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk
memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya
dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya
dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan
seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.
Kata "Tahlil" sendiri secara harfiah berarti berizikir dengan mengucap
kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" (tiada yang patut disembah kecuali
Allah). Upacara tahlilan ditengarai merupakan praktik pada abad-abad transisi
yang dilakukan oleh masyarakat yang baru memeluk Islam, tetapi tidak dapat
meninggalkan kebiasaan mereka yang lama. Berkumpul-kumpul di rumah ahli
mayit bukan hanya terjadi pada masyarakat pra Islam di Indonesia saja, tetapi di
berbagai belahan dunia, termasuk di jazirah Arab. Oleh para da'i(yang dikenal
wali songo) pada waktu itu, ritual yang lama diubah menjadi ritual yang
bernafaskan Islam. Di Indonesia, tahlilan masih membudaya, sehingga istilah
"Tahlilan" dikonotasikan memperingati dan mendo'akan orang yang sudah
meninggal.

Tahlilan dilakukan bukan sekedar kumpul-kumpul karena kebiasaan zaman


dulu. Generasi sekarang tidak lagi merasa perlu dan sempat untuk melakukan
kegiatan sekadar kumpul-kumpul seperti itu. Jika pun tahlilan masih
diselenggarakan sampai sekarang, itu karena setiap anak pasti menginginkan
orangtuanya yang meninggal masuk surga. Sebagaimana diketahui oleh semua
kaum muslim, bahwa anak saleh yang berdoa untuk orangtuanya adalah impian

8
semua orang, oleh karena itu setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi
orang yang saleh dan mendoakan mereka. Dari sinilah, keluarga mendoakan
mayit, dan beberapa keluarga merasa lebih senang jika mendoakan orangtua
mereka yang meninggal dilakukan oleh lebih banyak orang(berjama'ah).

Maka diundanglah orang-orang untuk itu, dan menyuguhkan(sodaqoh)


sekadar suguhan kecil bukanlah hal yang aneh, apalagi tabu, apalagi haram.
suguhan(sodaqoh) itu hanya berkaitan dengan menghargai tamu yang mereka
undang sendiri. maka, jika ada anak yang tidak ingin atau tidak senang
mendoakan orangtuanya, maka dia (atau keluarganya) tidak akan melakukannya,
dan itu tidak berakibat hukum syareat. Tidak makruh juga tidak haram, anak
seperti ini pasti juga orang yang yang tidak ingin didoakan jika dia telah mati
kelak.

3. Tawassul, Haul, Pahala Bacaan Al-Quran dan Shadaqah Untuk Mayit


a. Tawassul untuk mayit

Tawasul adalah sebuah praktik doa di mana seseorang menyertai nama


orang-orang saleh dalam doanya dengan harapan doa itu menjadi istimewa dan
diterima oleh Allah SWT. Berikut ini dua lafal tawasul yang biasa digunakan
masyarakat. Secara umum praktik tawasul dianjurkan dalam Al-Quran Surat Al-
Maidah ayat 35:

َ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا اتَّقُوا هَّللا َ َوا ْبتَ ُغوا’ إِلَ ْي ِه ْال َو ِسيلَة‬

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah, carilah wasilah
kepada-Nya”

b. Haul Untuk Mayit


Secara bahasa kata “haul” berasal dari bahasa Arab, Haala-Yahuulu yang
artinya setahun atau masa yang sudah mencapai satu tahun.
Secara kultural, “haul” ialah peringatan hari kematian seorang tokoh
masyarakat, seperti Syaikh, Wali, Sunan, Kiai, Habib, dan lain-lain.

9
Untuk mengenang jasa-jasa, karomah, akhlaq dan keutamaan mereka. Tujuan
diadakannya haul adalah untuk mengenang jasa dan hasil perjuangan para tokoh
yang dihauli terhadap umat dan agama.

c. Pahala Baca Quran untuk Mayit


Menghadiahkan pahala bacaan Alquran semisal Surat Yāsīn, al-Ikhlāṣṣ, al-
Falaq, al-Nās, al-Fātiḥah dan bahkan mungkin seluruh bacaan Alquran kepada
mayat. Masalah seperti ini tampaknya sepele dan kecil, namun di kalangan
masyarakat kebanyakan, dapat disikapi secara berlebihan yang pada gilirannya
dapat mengganggu keharmonisan intern umat bergama yang berbeda paham.
Membaca Al-Quran dengan maksud menghadiahkan pahalanya kepada seorang
muslim yang telah mati merupakan masalah yang menjadi perselisihan para
ulama. Tentang hal ini ada dua pendapat.

a) Perbuatan ini tidak ada tuntunannya dalam syariat dan orang mati
tidak lagi memperoleh manfaat dari bacaan Al-Quran ini.
b) Orang yang mati memperoleh manfaat dari bacaan ini. Seseorang
boleh membaca dengan niat pahalanya untuk si A atau si B yang
muslim, baik ia masih kerabat atau bukan kerabat.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kedua karena membaca Al-
Quran termasuk kategori ibadah yang pahalanya boleh dipindahkan kepada orang
yang telah mati. Hal ini sebagaimana tersebut pada Hadits Sa’ad bin ‘Ubadah
ketika ia mewakafkan kebunnya untuk ibunya, dan juga tersebut pada Hadits
tentang kasus seorang shahabat laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwa ibunya yang telah lumpuh sampai meninggal, “Saya
mengira bahwa seandainya beliau masih dapat berbicara sewaktu hidupnya,
niscaya ia akan mewakafkan hartanya. Apakah sekarang saya boleh mewakafkan
harta atas namanya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Akan
tetapi, yang lebih baik adalah Anda cukup mendoakan orang yang telah mati
tersebut, sedangkan amal-amal shalih yang Anda lakukan untuk diri Anda sendiri,
karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫اريَ’ ٍة أَوْ ِع ْل ٍم يُ ْنفَ’ ُع بِ’ ِه أَوْ َولَ’ ٍد‬ َ ‫إِ َذا َماتَ ْا ِإل ْن َسانُ ا ْنقَطَ َع َع ْنهُ َع َملُ’هُ إِالَّ ِم ْن ثَالَثَ’ ٍة إِالَّ ِم ْن‬
ِ ‫ص’ َدقَ ٍة َج‬
ُ‫ح يَ ْد ُعوْ لَه‬
ٍ ِ‫صال‬
َ

10

“Apabila manusia telah mati maka amalnya terputus, kecuali tiga hal:
sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang terus memberi manfaat, atau anak
shalih yang mendoakan kebaikan dirinya.”
d. Shadaqah untuk Mayit
Islam sangat menganjurkan bersedekah. Ibadah ini manfaatnya bukan
hanya dirasakan oleh yang mengerjakannya, tapi juga orang lain. Ada banyak
sekali hikmah dari bersedekah. Allah SWT juga menjanjikan pahala melimpah
bagi pecinta sedekah. Semua amal perbuatan manusia telah terputus jalinan
maupun jaringannya dengan kehidupan alam dunia, kecuali tiga hal
sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya,

ُ‫ ” إِ َذا َماتَ اإْل ِ ْن َسانُ ا ْنقَطَ َع َع ْنهُ َع َملُه‬:‫ قَا َل‬،‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬ َ ‫ أَ َّن َرس‬،َ‫ع َْن أَبِي ه َُر ْي َرة‬
َ ِ‫ُول هللا‬
ُ‫ح يَ ْدعُو لَه‬ َ ‫ أَوْ َولَ ٍد‬،‫ أَوْ ِع ْل ٍم يُ ْنتَفَ ُع بِ ِه‬،‫اريَ ٍة‬
ٍ ِ‫صال‬ َ ‫ إِاَّل ِم ْن‬:‫إِاَّل ِم ْن ثَاَل ثَ ٍة‬
ِ ‫ص َدقَ ٍة َج‬
Artinya: dari Abi Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila
seorang manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya
kecuali tiga hal; sedekah jariyah, illmu yang bermanfaat, anak shalih yang
mendo’akannya.”
Berdasarkan hadist di atas, para ulama ahlussunnah wa aljamaah
berpandangan bahwa pahala dari sedekah, infak, bacaan Alquran, dzikir, serta
amal-amal saleh lain yang disampaikan oleh orang yang masih hidup dan
ditujukan untuk saudara sesama muslim yang telah meninggal, pahalanya akan
sampai kepada saudara yang telah meninggal tersebut.

4. Ziarah Kubur, Megengan, Takziyah Dan Baca Quran Dikuburan


a.Ziarah Kubur
Ziarah kubur merupakan salah satu perbuatan yang mengalami perubahan
(nasikh-mansukh). Pada zaman awal-awal Islam, Rasulullah melarang melakukan
praktik ini, tapi kemudian larangan tersebut mansukh (diubah) menjadi suatu
perbuatan yang diperbolehkan untuk dilakukan.  Berkaitan dengan hal ini,
Rasulullah bersabda dalam salah satu haditsnya:

ِ ‫ار ِة ْالقُب‬
’‫ُور فَ ُزورُوهَا‬ ُ ‫ُك ْن‬
َ َ‫ت نَهَ ْيتُ ُك ْ’م ع َْن ِزي‬
“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah
kalian,” (HR. Muslim). Dalam riwayat yang lain, Rasulullah tidak hanya
memerintahkan ziarah kubur, tapi beliau juga menjelaskan manfaat-manfaat
dalam melaksanakan ziarah kubur. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits
berikut:

11
ْ
‫ َوتُ َذ ِّك ُر‬، َ‫ َوتُ ْد ِم ُع ال َع ْين‬،‫ب‬ ْ ْ َّ َ
ُّ ‫’ فَإِنهُ ي ُِر‬،‫ُور أاَل فَ ُزورُوهَا‬
َ ‫ق القَل‬ ُ ْ ُ ُ ‫ُك ْن‬
ِ ‫ت نَهَ ْيتُك ْ’م ع َْن ِزيَا َر ِة القب‬
‫ َواَل تَقُولُوا‬،َ‫اآْل ِخ َرة‬
“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang)
berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati,
menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian
berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Anjuran melaksanakan ziarah kubur ini bersifat umum, baik


menziarahi kuburan orang-orang shalih ataupun menziarahi kuburan orang
Islam secara umum.

b. Megengan
Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan
Ramadhan, megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Ini
merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan
Ramadhan, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa, yaitu menahan
untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan
ibadah puasa tersebut. Adapun kegiatannya sangat bermacam-macam
sesuai dengan adat daerah setempat, tapi umumnya masyarakat Jawa
biasanya berbondong-bondong untuk berziarah kubur, membersihkannya
serta menaburi bunga diatasnya dan tidak lupa mendoa'akannya serta ada
juga yang membacakan yasin dan tahlil, kemudian Masak besar untuk
dibagikan kepada sanak famili dan pada malam harinya mengadakan
selamatan atau kenduri dengan mengundang para tetangga untuk
mendoakan keluarga yang sudah meninggal, ada juga yang selamatan atau
kendurinya diadakan bersama-sama oleh seluruh warga setempat
dilanggar/mushola.

Seiring berjalannya waktu tradisi megengan sendiri sudah mulai


sedikit ditinggalkan, mungkin tidak bagi masyarakat desa karena tradisi ini
masih sangat kental, melekat dan masih dianggap sakral tapi jika
menengok masyarakat kota mungkin sudah banyak yang meninggalkan
tradisi para leluhurnya ini karena berbagai alasan salah satunya sibuk
dengan pekerjaan masing-masing.
12
c.Takziyah
Secara bahasa Ta’ziyah (‫ )التعزية‬artinya menguatkan. Sedangkan
secara istilah adalah menganjurkan seseorang untuk bersabar atas
beban musibah yang menimpanya, mengingatan dosanya meratap,
mendoakan ampunan bagi mayit dan dari orang yang tertimpa musibah
dari pedihnya musibah. Imam al Khirasyi mengistilahkan Ta’ziyah
dengan : “Menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-
pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan
mayitnya”

Diantara dalil pensyariatannya adalah sebuah hadits :

‫صيبَ ٍة إِالَّ َك َساهُ هَّللا ُ ِم ْن ُحلَل ْال َك َرا َم ِة يَوْ َم ْالقِيَا َم ِة‬
ِ ‫َما ِم ْن ُم ْؤ ِم ٍن يُ َع ِّزي أَ َخاهُ بِ ُم‬

“Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranyayang


terkena musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaiankemulian
kepadanya di hari kiamat.” ( HR. Ibn Majah)

Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama bahwasanya


hukum berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah adalah sunnah

1. Mendapat pahala seperti pahala orang yang tertimpa musibah

‫صابًا فَلَهُ ِم ْث ُل أَجْ ِر ِه‬


َ ‫َم ْن َع َّزى ُم‬

“Barangsiapa yang berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka


baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.” (HR Tirmidzi)

2. Mendapatkan kemuliaan di hari Kiamat

‫ص ’يبَ ٍة إِالَّ َك َس ’اهُ هَّللا ُ ِم ْن ُحلَ’’ل ْال َك َرا َم’ ِة يَ’’وْ َم ْالقِيَا َم’ ِة‬
ِ ‫’زي أَخَ ’ اهُ بِ ُم‬
ِّ ’‫’ؤ ِم ٍن يُ َع‬
ْ ’‫َم’’ا ِم ْن ُم‬

“Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranyayang terkena


musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaiankemulian kepadanya di
hari kiamat.” ( HR. Ibn Majah)

Menurut jumhur ulama, waktu berta’ziyah adalah tiga hari, dan


dimakruhkan melebihi dari tiha hari, karena tujuan Ta’ziyah itu untuk
menenangkan hati orang yang tertimpa musibah. Setelah tiga hari, hati
13
biasanya sudah bisa tenang. Justru bila ada Ta’iyah setelah itu, akan
mengingatkan kepada kesedihannya. Pendapat ini didasarkan kepada
hadits:
‫ث أَي ٍَّام إِاَّل َعلَى‬
ِ ‫ق ثَاَل‬ ٍ ِّ‫اَل يَ ِحلُّ اِل ْم َرأَ ٍة تُ ْؤ ِمنُ بِاهَّلل ِ َو ْاليَوْ ِم اآْل ِخ ِر أَ ْن تُ ِح َّد َعلَى َمي‬
’َ ْ‫ت فَو‬
‫ج فَإِنَّهَا تُ ِح ُّد َعلَ ْي ِه أَرْ بَ َعةَ أَ ْشه ٍُر َو َع ْشرًا‬ ٍ ْ‫زَ و‬

"Tidaklah dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada


Allah dan hari Kiamat, untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali
berkabung kerana (ditinggal mati) suaminya, yaitu selama empat bulan
sepuluh hari.” (HR Bukhari dan Muslim).

d. Baca Qur’an di Kuburan


Membaca Al Qur’an di sisi kubur adalah di antara amalan
yang tidak dituntunkan sehingga tidak boleh kita lakukan. Kita tidak
boleh pula shalat di sisi kubur karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam  tidak pernah melakukan seperti itu. Begitu pula hal
tersebut tidak pernah dituntunkan oleh khulafaur rosyidin (Abu
Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen). Karena amalan tadi hanyalah
dilakukan di masjid dan di rumah sebagaimana sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‫صالَتِ ُك ْ’م فِى بُيُوتِ ُك ْ’م َوالَ تَت َّ ِخ ُذوهَا قُبُو ًرا‬
َ ‫اجْ َعلُوا ِم ْ’ن‬

“Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah


tersebut seperti kubur” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777).
Hadits ini menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk shalat
dan juga bukan tempat untuk membaca Al Qur’an.  Amalan yang
disebutkan ini merupakan amalan khusus di masjid dan di rumah.
Yang hendaknya dilakukan ketika ziarah kubur adalah memberi
salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan pada mereka”.

Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  setelah


penguburan mayit, beliau berhenti di sisi kubur dan berkata,

‫يت فَإِنَّهُ اآلنَ يُسْأ َ ُ’ل‬


’َ ِ‫ا ْستَ ْغفِرُوا’ ألَ ِخي ُك ْ’م َو َسلُوا’ لَهُ التَّ ْثب‬

“Mintalah ampun pada Allah untuk saudara kalian dan mintalah


kekokohan (dalam menjawab pertanyaan kubur). Karena saat ini
ia sedang ditanya” (HR. Abu Daud no. 2758. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih). Beliau sendiri tidak
membaca Al Qur’an di sisi kubur dan tidak memerintahkan untuk
melakukan amalan seperti ini.

14
Memang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar jika  riwayat
tersebut shahih- bahwa beliau melakukan seperti itu, alasan ini tidak
bisa dijadikan pendukung. Karena yang namanya ibadah ditetapkan
dari sisi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dari Al Qur’an.
Perkataan sahabat tidak selamanya menjadi pendukung, begitu pula
selainnya selain khulafaur rosyidin. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam  bersabda mengenai khulafaur rosyidin,

ُّ ‫ين ْال َم ْه ِديِّينَ َع‬


‫ضوا’ َعلَ ْيهَا بِالنَّ َوا ِج ِ’ذ‬ ’َ ‫سنَّ ِة ْال ُخلَفَا ِء ال َّرا ِش ِد‬
ُ ‫سنَّتِى’ َو‬
ُ ِ‫فَ َعلَ ْي ُك ْ’م ب‬

“Wajib atas kalian berpegang tegus dengan ajaranku dan juga


ajaran khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah
kuat-kuat ajaran tersebut dengan gigi geraham kalian” (HR.
Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42. Syaikh Al Albani
mengatakan hadits ini shahih). Ajaran khulafaur rosyidin bisa jadi
pegangan selama tidak menyelisihi ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi
wa sallam.

Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan sahabat lainnya,


maka itu tidak selamatnya  bisa menjadi pegangan dalam hal ibadah.
Karena sekali lagi, ibadah adalah tauqifiyah, mesti dengan petunjuk
dalil. Ibadah itu tauqifiyyah, diambil dari Al Qur’an dan ajaran
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang shahih.

Adapun perkataan Ibnul Qayyim dan sebagian ulama lainnya,


itu tidak bisa dijadikan sandaran. Dalam masalah semacam ini
hendaklah kita berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah. Amalan
yang menyelisihi keduanya adalah amalan tanpa tuntunan. Jadi, kita
tidak boleh shalat di sisi kubur, membaca Al Qur’an di tempat
tersebut, berthawaf mengelilingi kubur, dan tidak boleh pula berdo’a
kepada selain Allah di sana. Tidak boleh seorang muslim pun
beristighotsah dengan berdo’a kepada penghuni kubur atau si mayit.
Tidak boleh pula seseorang bernadzar kepada penghuni kabar karena
hal ini termasuk syirik akbar. Sedangkan berdo’a di sisi kubur atau
berdo’a pada Allah di sisi kubur termasuk amalan yang mengada-
ngada.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat Kami ambil bahwa ketentuan-ketentuan dimulai
dari ibu mengandung sampai melahirkan dan setelah melahirkan adalah
demi kebaikan si anak sendiri. Karna rangkaian kegiatan tradisi-tradisi
yang dilakukan tersebut berdasarkan sunnah keagamaan dan memiliki nilai
tetentu. Gambara yang terdapat dalam tradisi masyarakat Nahdlatul Ulama
dalam kehidupannya merupakan bagian dari kearifan budaya lokal yang
sesungguhnya mempunyai nilai-nilai yang sangat baik dan bermanfaaat
serta tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.
B. Saran
Dalam menyusun makalah tentang Budaya dan Amaliyah NU (Kehamilan,
Keahiran dan Kematian) pastilah makalah ini jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu kami sangat mengharapkan keritik dan saran dari para
pembaca.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://konsultasisyariah.com/3246-baca-alquran-untuk-orang-mati.html

https://muslim.okezone.com/read/2020/04/13/330/2198604/sedekah-atas-nama-
orang-yang-telah-meninggal-apakah-pahalanya-sampai-kepada-orang-tersebut?
page=2

https://hukumhaul.wordpress.com/
https://islam.nu.or.id/post/read/85281/praktik-tawasul-dalam-pandangan-
ahlussunah-wal-jamaah

jurnal.tarjih.or.id/index.php/tarjih/article/view/14.103

ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php.ettisial/article/view/1411/1036

https://islam.nu.or.id/post/read/37170/anjuran-melaksanakan-ziarah-kubur
https://muslim.or.id/8560-membaca-al-quran-di-sisi-kubur.html

ridna03.blogspot.com/2016/10/makalah-yasinan-tahlilan-wirid dan html

ucrus.blogspot.com/2018/05/makalah-tradisi-seputar-kehamilan

pelangiblog.com/2018/07/Pegertian-pembagian-dan-dasar-tentang.html

laduni.id/post/read/69509/rangkaian-doa-untuk-bayi-yang-baru-lahir

repo.iain.-tulungaggung.ac.id/649/2/Bab%201%20 pdf

media.neliti.com/media/publications/117218-ID-tradisi-adat-Jawa-dalam-
menyambut-kelahiran-bayi-pdf

infobudaya.net/2019/11/tradisi-bancaan-masyarakat-Jawa