Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN :

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

1. Pendahuluan
Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan
memberikan kesempatan kepada guru untuk menyelesaikan masalah-masalah
pembelajaran dan non pembelajaran secara profesional dan kolaboratif lewat
penelitian tindakan kelas secara terkendali. Upaya meningkatkan kompetensi guru
untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran akan memberi dampak positif
ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan masalah pembelajaran akan
semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah
investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi, masukan, proses,
sarana/prasarana, dan hasil belajar. Dan ketiga, peningkatan kedua kemampuan
tadi akan bermuara pada peningkatan kualitas lulusan.
Peningkatan kualitas pembelajaran adalah merupakan dampak logis dari
perkembangan ipteks yang sangat pesat. Perkembangan ipteks mengharuskan
penyesuaian dan peningkatan proses pembelajaran secara terus menerus.
Disamping itu, perlu adanya pemuthakiran pilihan atas konsep-konsep pembelajaran
yang mendidik dan diperlukan untuk meningkatkan kualitas lulusan itu sendiri.
Kemampuan meneliti di masa lalu cenderung dirancang dengan pendekatan
research-development-dissemination (RDD). Pendekatan ini lebih menekankan
perencanaan penelitian yang bersifat top-down dan bersifat teoritis akademik.
Paradigma demikian dirasakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan pemikiran
baru,yaitu: research-action-improvement (RAI). Manajemen penelitian ala RAI
bersifat buttom-up dan realitik-pragmatik, serta berangkat dari diagnosis masalah
secara nyata yang diakhiri dengan sebuah perbaikan (improvement). Upaya
perbaikan kualitas proses pembelajaran demikian menuntut adanya inisiatif dan
motivasi internal civitas itu sendiri (an effort to internally initiate endeavors for quality
improvement).
RAI mengisyaratkan perlunya kemitraan antar dosen-dosen-mahasiswa, baik
pada tataran yang bersifat praktis maupun konseptual. Kebutuhan akan kemitraan
yang sehat dan produktif, yang dikembangkan atas prinsip kesetaraan di antara
pihak-pihak terkait sudah sangat mendesak. Penelitianpun hendaknya dikelola
berdasarkan atas dasar kemitraan yang sehat (collaborative), sehingga kedua belah
pihak dapat memetik manfaat secara timbal balik (reciprocity of benefits). Melalui
rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) masalah-masalah
pembelajaran dapat dikaji dan dituntaskan, sehingga proses pembelajaran yang
inovatif dan ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diaktualisasikan secara
sistematis.

2. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas


Menurut Sanford penelitian tindakan adalah:
“Analysis, fact finding, conceptualization, planning, execution, more fact
finding or evaluation; and then a repetition of this whole circle of activities;
indeed, a spiral of such circles” (Sanford,1970:4).

1
Dapat disimak dari kutipan di atas bahwa penelitian tindakan merupakan suatu
kegiatan siklustis yang bersifat menyeluruh, yang terdiri dari analisis, penemuan
fakta, konseptualisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan penemuan fakta tambahan,
dan evaluasi. Definisi penelitian tindakan yang lebih lengkap dan menggambarkan
sifat atau karakteristik dari penelitian tindakan dikemukakan oleh Kemmis sebagai
berikut.

“ Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants


in a social (including educational) situation in order to improve the rationality
and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their
understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are
carried out” (Kemmis,1993:42).
Menurut Kemmis, penelitian tindakan merupakan sebuah inkuiri yang bersifat
reflektif mandiri yang dilakukan oleh partisipan dalam situasi sosial termasuk
kependidikan dengan maksud untuk meningkatkan kemantapan rasionalitas dari (a)
praktek-pratek sosial maupun kependidikan, (b) pemahaman terhadap praktek-
praktek tersebut, dan (c) situasi pelaksanaan praktek-praktek pembelajaran.
Penelitian tindakan adalah sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur
ulang dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-
perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi.

Perencanaan

Refleksi

Tindakan/
Observasi Perbaikan
Rencana

Refleksi

Tindakan/
Observasi
Perbaikan
Refleksi Rencana

Tindakan/
Observasi

2
Daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan
(planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses
dan hasil tindakan (observation and evaluation), dan melakukan refleksi (reflection),
dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai
(kriteria keberhasilan).

3. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas


Penelitian yang menggunakan ancangan penelitian tindakan kelas umumnya
diarahkan pada pencapaian sasaran sebagai berikut.
a. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas isi, masukan, proses dan hasil
pembelajaran ;
b. Menumbuh-kembangkan budaya meneliti para guru agar lebih proaktif mencari
solusi terhadap permasalahan pembelajaran ;
c. Menumbuhkan dan meningkatkan produktivitas meneliti para guru, khususnya
dalam mencari solusi masalah-masalah pembelajaran ;
d. Meningkatkan kolaborasi antar dosen-guru dalam memecahkan masalah
pembelajaran .

3
IMPLEMENTASI PTK

Drs. Fachrorrozie, M.Si

A. Diagnosis dan Penetapan Masalah


Masalah PTK yang merupakan penelitian guru di sekolah hendaknya
berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Guru yang
telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung
mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama
dengan guru yang lain
Masalah-masalah lain yang mungkin dihadapi guru dapat berupa:
• Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar? yang “ideal”
itu dapat meningkatkan antusiasme siswa sehingga mereka sepertinya “tidak
sabar” menunggu-nunggu datangnya jam pelajaran yang dibina oleh guru
tersebut;
• Bagaimana mengajak siswa agar di kelas mereka benar-benar aktif belajar (aktif
secara mental maupun fisik, aktif berpikir)?
• Bagaimana menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan kehidupan
siswa sehari-hari agar mereka dapat menggunakan pengetahuan dan
pemahamannya mengenai materi itu dalam kehidupan sehari-hari dan tertarik
untuk mempelajarinya karena mengetahui manfaatnya?
• Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk
membelajarkan materi?
• Bagaimana melaksanakan pembelajaran kooperatif?
Isu atau masalah itu harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dapat
diteliti dan diidentifikasi tujuan meneliti masalah tersebut.
Isu atau topik yang ingin diteliti: Definisikan apa isu atau peristiwa yang
menimbulkan permasalahan.

Masalah penelitian: Nyatakan isu sebagai suatu masalah.

Rumusan masalah: Tuliskan masalah dalam bentuk pertanyaan.

Tujuan penelitian:Deskripsikan apa yang diharapkan dapat diperoleh dengan


meneliti masalah ini.

Misalnya dipilih masalah sebagai berikut.


Isu : Siswa kurang aktif di kelas, cenderung tidak pernah
mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Guru sering
memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tetapi
hampir tidak ada siswa yang bertanya.
Masalah : Siswa perlu digalakkan untuk aktif dalam kelas, aktif secara
utuh (sedapat mungkin ”hands on” atau ”minds on”, bahkan
juga kalau mungkin ”hearts on”).
Fokus masalah: Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas?

4
Rumusan masalah PTK yang lengkap biasanya berupa suatu pertanyaan dalam
bentuk ”Masalah apa yang terjadi di kelas, bagaimana upaya
mengatasinya, apa tindakan yang dianggap tepat untuk itu, di kelas, dan
sekolah mana hal itu terjadi?”

Contoh fokus masalah (rumusan masalah yang belum dilengkapi dengan tindakan
dan lokasi penelitian): Bagaimana peningkatan partisipasi siswa dalam
kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on” ?

Tujuan penelitian: Merupakan jawaban terhadap masalah penelitian


Contoh tujuan (yang belum dilengkapi dengan tindakan dan lokasi penelitian):
Meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”,
”minds on” maupun ”hearts on”..

B. Bentuk dan Skenario Tindakan


Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan
(misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum
pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media
pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar
sekolah, penggunaan sungai, dan seterusnya), atau dapat pula dalam bentuk suatu
strategi pembelajaran (misalnya strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau
STAD atau TGT atau GI, strategi pembelajaran berbasis masalah dan seterusnya).
Contoh tindakan untuk rumusan masalah di atas: problem posing 1.
Bagaimana tindakan tersebut akan dilaksanakan dalam PTK perlu
direncanakan dengan cermat. Perencanaan pelaksanaan tindakan ini dituangkan
dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RP) atau dalam bentuk Skenario
Pembelajaran. Dalam makalah ini dilampirkan (Lampiran 2) contoh salah satu RP
untuk pembelajaran dengan Problem Posing (Chotimah dkk., 2005).

C. Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan


Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah
sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan
tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati.
1. Dari sisi proses
Dari sisi proses (bagan alirnya), instrumen dalam PTK harus dapat
menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat
berlangsung), dan output (hasil).
a. Instrumen untuk input
Instrumen untuk input dapat dikembangkan dari hal-hal yang menjadi akar
masalah beserta pendukungnya. Misalnya: akar masalah adalah bekal awal/prestasi
tertentu dari peserta didik yang dianggap kurang. Dalam hal ini tes bekal awal dapat
menjadi instrumen yang tepat. Di samping itu, mungkin diperlukan pula instrumen

1
Siswa menulis sejumlah pertanyaan yang terkait dengan materi yang ditentukan oleh guru.

5
pendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan,
misalnya: format peta kelas dalam kondisi awal, buku teks dalam kondisi awal, dst.
b. Instrumen untuk proses
Instrumen yang digunakan pada saat proses berlangsung berkaitan erat
dengan tindakan yang dipilih untuk dilakukan. Dalam tahap ini banyak format yang
dapat digunakan. Akan tetapi, format yang digunakan hendaknya yang sesuai
dengan tindakan yang dipilih.
c. Instrumen untuk output
Adapun instrumen untuk output berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian
hasil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Misalnya: nilai 75 ditetapkan
sebagai ambang batas peningkatan (pada saat dilaksanakan tes bekal awal, nilai
peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai
pada angka 75 perlu untuk dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

2. Dari sisi Hal yang Diamati


Selain dari sisi proses (bagan alir), instrumen dapat pula dipahami dari sisi
hal yang diamati. Dari sisi hal yang diamati, instrumen dapat dikelompokkan
menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers),
instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk
mengamati perilaku siswa (observing students) (Reed dan Bergermann,1992).

a. Pengamatan terhadap Guru (Observing Teachers)


Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang
metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang
organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu
bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal (anecdotal record).
Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam
kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran.
Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam
bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas
peristiwa yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal tidak mempersyaratkan
pengamat memperoleh latihan secara khusus

b. Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)


Catatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap
segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat
karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di
kelas. Di samping itu, pengamatan itu dapat menunjukkan strategi yang
digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran
yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang
lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.

c. Pengamatan terhadap Siswa (Observing Students).


Pengamatan terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai
hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara

6
individual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai
pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam
kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan
diimplementasikan, dan seusai tindakan.

Pokok Perhatian Tema-tema PTK


1.1 Perbaikan iklim belajar
1.1 Peningkatan partisipasi siswa.
1.3 Peningkatan daya kreativitas dan
1. Manajemen kelas dan Iklim Belajar
inovatif dalam proses pembelajaran
1.4 Peningkatan partisipasi orang tua
siswa dalam proses pembelajaran.
2.1 Penggunaan strategi pembelajaran
yang bervariasi
2.2 Sekuensial dalam desain kurikulum
2. Proses Mengajar-Belajar 2.3 Peningkatan keinginan siswa untuk
bertanggung jawab dalam belajar
2.4 Peningkatan keefektifan evaluasi
hasil belajar dalam belajar
3.1 Peningkatan pemanfaatan alat
peraga
3.2 Peningkatan pemanfaatan
3. Sumber belajar
lingkungan sebagai sumber belajar
3.3 Peningkatan kemitraan antara
sekolah dan masyarakat
4.1 Peningkatan keefetifan hubungan
guru, siswa, dan orang tua siswa
4. Perkembangan personal siswa 4.2 Peningkatan konsep diri siswa
4.3 Peningkatan strategi
pengembangan integritas siswa.

7
SISTEMATIKA USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

HALAMAN SAMPUL USULAN PENELITIAN


HALAMAN PENGESAHAN
A. JUDUL PENELITIAN
B. BIDANG KAJIAN
C. PENDAHULUAN
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
E. TUJUAN PENELITIAN
F. MANFAAT HASIL PENELITIAN
G. KAJIAN PUSTAKA
H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
I. JADWAL PENELITIAN
J. BIAYA PENELITIAN
K. PERSONALIA PENELITIAN
L. DAFTAR PUSTAKA
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN:
1. Instrumen Penelitian
2. Curriculum Vitae semua peneliti
3. Surat Keterangan Dinas Pendidikan
4. Surat Keterangan Kepala Sekolah

8
KAJIAN PUSTAKA
Arief Yulianto

Uraikan dengan jelas kajian teoretis dan empiris yang menumbuhkan gagasan
usulan PTK yang sejalan dengan rumusan dan hipotesis tindakan (bila ada).
Kemukakan juga teori dan hasil penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan
untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan sebagai
dasar penyusunan kerangka berpikir yang akan digunakan dalam penelitian

Fungsi Kajian PUstaka


mengetahui sejarah masalah penelitian,
membantu pemilihan prosedur,
memahami latar belakang teoretis masalah penelitian,
mengetahui manfaat penelitian sebelumnya,
menghindari duplikasi, dan
memberikan pembenaran pemilihan masalah penelitian.

Judul Contoh :
a. Pengaruh Bentuk Balikan dan Gaya Belajar Terhadap Tampilan Tulisan Dalam
Satuan Pembelajaran Mahasiswa D2 PGSD Denpasar Pada Mata Kuliah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah.
b. Pendidikan Kecakapan Berbasis Pengembangan Kewirausahaan Bagi Siswa
SLTPN
c. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik Dengan Strategi Pengajaran Model CLIS
di Program Studi S1 Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas
Mataram
d. Implikasi Model Pembelajaran Perubahan Konseptual untuk Meningkatkan
Pemahaman dan Mengatasi Miskonsepsi dalam Pembelajaran Kimia di SMA
e. Peningkatan Kemampuan Membaca Interpretatif dengan Teknik Jigsaw Siswa
Kelas 3 SMP
f. Meningkatkan Ketrampilan Berkomunikasi dan Berpikir Kritis Konsep Ekologi
Siswa MA NW Pancor Melalui Model Inkuiri dalam Kelompok Kooperatif
g. Perbandingan Efektivitas Pembelajaran Aljabar Linier Melalui Pembelajaran
Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Devision (Stad) Dan Jigshaw Pada
Kelompok Belajar Model Baku Dan Modifikasi

9
METODE PENELITIAN
Agung Yulianto, S.Pd, M.Si

Deskripsi
Kemukakan subyek penelitian, waktu dan lamanya tindakan, serta tempat penelitian
secara jelas. Uraikan secara jelas prosedur/langkah-langkah penelitian tindakan
kelas yang akan dilakukan. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat siklis.
Dalam perencanaan uraikan secara rinci hal-hal diperlukan sebelum pelaksanaan
tindakan (seperti misalnya: penyiapan perangkat pembelajaran berupa skenario
pembelajaran, media, bahan dan alat, instrumen observasi, evaluasi, dan refleksi).
Dalam pelaksanaan tindakan uraikan bagaimana tahapan-tahapan tindakan yang
akan dilakukan oleh guru maupun siswa pada awal, pertengahan dan akhir
pembelajaran. Dalam tahap observasi uraikan objek amatannya dan prosedurnya.
Dalam tahap evaluasi uraikan cara asesmen dan penyekorannya. Dalam tahap
refleksi uraikan prosedur, alat, pelaku, dan sumber informasi.
Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator
keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus lain. Untuk
memantapkan hasil tindakan, tiap-tiap siklus sebaiknya dilaksanakan dalam
beberapa kali pertemuan. Fungsi observasi proses dilakukan secara terus menerus
dalam PTK sesuai dengan siklus yang ditentukan. Di samping dosen sebagai
observer, guru sebaiknya juga dipersiapkan oleh dosen (ketua peneliti) untuk
melakukan tindakan dan/atau melaksanakan observasi proses (perekam kegiatan
pembelajaran) dan hasil dalam PTK. Dalam hal ini, peran guru dapat bergantian:
pada suatu saat dapat sebagai pengajar dan pada saat yang lain sebagai pengamat.
Dalam rencana pelaksanaan tindakan pada setiap tahapan hendaknya digambarkan
peranan dan intensitas kegiatan masing-masing anggota peneliti, sehingga tampak
jelas tingkat dan kualitas kolaborasi dalam penelitian tersebut.
Untuk penyusunan jadwal kegiatan penelitian, buatlah jadwal kegiatan penelitian
yang meliputi perencanaan, persiapan, pelaksanaan monitoring, seminar dan
penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk Gantt chart.

2) Perencanaan Tindakan
(a) Formulasi Hipotesis Tindakan
Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka perlu
dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang
dapat diambil dapat dirumuskan ke dalam bentuk hipotesis tindakan dalam
arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi bentuk jika suatu
tindakan dilakukan. Perencanaan tindakan hendaknya memanfaatkan secara
optimal teori-teori yang relevan dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh
di masa lalu dalam kegiatan pembelajaran/penelitian sebidang.
Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis
dalam penelitian formal. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam
bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki sistem,

10
proses, atau hasil. Contoh: Pembelajaran menulis berpendekatan proses
akan berdampak positif terhadap kualitas tulisan mahasiswa.
(b) Persiapan Tindakan
Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu perencanaan sebagai
tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara
lain:
 Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah
kegiatan dalam pembelajaran di samping bentuk-bentuk kegiatan yang
akan dilakukan.
 Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya
tindakan. Sarana pembelajaran ini dapat berupa misalnya perangkat
Lembar Kerja Siswa (LKS).
 Mempersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi
proses, kegiatan, dan hasil pembelajaran.
 Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan dan menguji
keterlaksanaannya di lapangan.
Hendaknya peran dari setiap kolaborator dideskripsikan dengan jelas agar di
dalam pelaksanaan mereka dapat berperan secara optimal. Kemungkinan dalam
PTK dapat dilibatkan:
 Kepala Sekolah. Kepala sekolah dapat berperan untuk
mensosialisasikan, membuat prakarsa PTK, menciptakan iklim agar PTK
dapat diterima oleh semua warga sekolah dan mengelola serta
mengendalikan situasi sekolah. Kepala sekolah dapat menjadi contoh
pebelajar yang baik dengan berperan sebagai observer kegiatan guru.
 Guru. Hendaknya peran guru tidak hanya sebagai “tukang mengajar”
untuk melaksanakan rancangan pembelajaran yang disusun dosen dari
LPTK, tetapi ia harus sudah terlibat sejak awal, dalam perencanaan,
penyusunan rancangan tindakan dan dalam implementasi, observasi,
monitoring, serta analisis, refleksi, dan evaluasi hasil tindakan yang
diterapkan. Jika mungkin prakarsa penelitian berasal dari guru.
 Dosen. Hendaknya dosen tidak bersikap sebagai “misionaris” (pemberi
masalah dan pembawa desain pemecahan masalah yang harus
dilakukan guru). Dosen di dalam implementasi bilamana perlu
mengambil inisiatif membantu guru dalam mengajar dengan memberi
contoh konkrit di kelas. Jadi benar-benar sebagai mitra dalam
pelaksanaan PTK. Dosen termasuk anggota tim, tidak bersifat pasif
sebagai penonton tatkala guru melaksanakan pembelajaran yang telah
diskenariokan. Dosen hendaknya juga berperan sebagai fasilitator dan
observer PTK.
 Siswa. Dalam skenario, hendaknya siswa dilibatkan secara aktif jangan
hanya dipandang sebagai obyek yang dikenai tindakan, siswa sebagai
obyek-subyek dalam proses PBM. Siswa dapat pula menjadi sumber
masukan untuk memperoleh data dan atau informasi tentang
pembelajaran yang dilaksanakan di kelasnya. Siswa dapat diajari dan
dilatih untuk melakukan penilaian diri.
3) Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi

11
(a) Pelaksanaan Tindakan
Jika semua dipersiapkan, maka skenario tindakan dilaksanakan dalam situasi
pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan merupakan
tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan
tindakan, kegiatan mengobservasi dilakukan secara berbarengan dengan
kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan
refleksi merupakan kenyataan proses pembelajaran yang utuh.
(b) Observasi dan interpretasi
Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang
terjadi selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi
menyatu dalam pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan
prosedur observasi yang mudah dan cepat dilakukan. Observasi akan
memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan diskusi sebagai balikan. Balikan
ini sangat diperlukan untuk dapat memperbaiki proses penyelenggaraan
tindakan. Hendaknya dalam melakukan proses observasi tim peneliti
mempergunakan berbagai macam cara dan alat untuk merekam secara
menyeluruh dan akurat perilaku guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Data yang dikumpulkan dapat berupa data kualitatif maupun data kuantitatif.
4) Analisis data, Evaluasi dan Refleksi
(1) Analisis Data
Jenis data dan atau informasi yang direkam selama observasi dan
monitoring dapat berupa data kuantitatif dan kualitatif tergantung dari
dampak atau hasil keluaran yang diharapkan.
Analisis data kualitatif dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi, data
paparan data, dan penyimpulan hasil analisis. Analisis data kuantitatif dapat
memanfaat- kan tehnik-tehnik pengolahan data kuantitatif seperti tabulasi,
menghitung rerata.
a. Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang
dilakukan melalui seleksi, pengelompokan, dan pengorganisasian data
mentah menjadi sebuah informasi bermakna. Data dan/atau informasi
yang relevan terkait langsung dengan pelaksanaan PTK yang diolah
untuk bahan evaluasi.
b. Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan
data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif,
tabel, grafik, atau perwujudan lainnya yang dapat memberikan
gambaran jelas tentang proses dan hasil tindakan yang dilakukan.
c. Penyimpulan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian
data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau
kalimat singkat, padat dan bermakna.
(2) Evaluasi
Hasil analisis tersebut dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap
proses dan hasil yang dicapai. Tim peneliti dapat mempergunakan kriteria
keefektifan atau keberhasilan pencapaian pada setiap siklus. Indikator
keterlaksanaan tindakan (proses) dapat disajikan dalam bentuk kriteria
yang berwujud telah dilaksanakannya aspek-aspek tindakan yang harus
dilakukan guru maupun siswa. Hal ini dapat berwujud kuantitatif dan/atau

12
kualitatif misalnya secara kuantitatif frekuensi pelaksanaannya dan secara
kualitatif sudah dilaksanakan atau belum. Indikator keberhasilan tindakan
dapat disajikan dalam bentuk kriteria yang berwujud kuantitatif dan/atau
kualitatif, misalnya secara kuantitatif untuk pencapaian penguasaan kosa
kata yang diukur dengan jumlah kosa kata, persentase siswa yang berhasil
mencapai nilai 7, atau berwujud kualitatif untuk perubahan perilaku guru,
perilaku siswa, perubahan iklim belajar dan lain sebagainya yang dapat
digambarkan secara kualitatif. Indikator keberhasilan tindakan untuk siklus I
umumnya kriterianya ditetapkan berdasarkan hasil refleksi awal dan
perkiraan kemungkinan peningkatan yang dapat dilakukan setelah
dilakukan tindakan tertentu. Indikator keberhasilan tindakan untuk siklus
berikutnya kriterianya ditetapkan berdasarkan hasil refleksi siklus
sebelumnya.
Dengan melihat proses dan hasil analisis tersebut dan dicocokkan dengan
kriteria, maka akan diperoleh data hasil evaluasi, apakah pelaksanaan PTK
pada suatu siklus sudah memuaskan atau belum. Hasil evaluasi ini akan
menjadi bahan untuk melakukan refleksi.
(3) Refleksi
Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji proses yaitu apa yang
telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi
demikian, dan tindakan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi
digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk
menghasilkan perbaikan. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan
sebagai berikut.
ANALISIS → PEMAKNAAN → PENJELASAN → PENYIMPULAN →
TINDAK LANJUT
(4) Perencanaan Tindak Lanjut
Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus I, maka
diperlukan langkah lanjutan pada siklus II. Satu siklus kegiatan merupakan
kesatuan dari kegiatan perumusan masalah, perencanaan tindakan,
pelaksanaan tindakan, obsevasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi.
Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan, dan karenanya perlu dibuatkan
semacam kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan dapat ditetapkan,
misalnya dengan menggunakan prinsip belajar tuntas. Apabila tingkat
perbaikan yang diharapkan tercapai minimal 75%, maka pencapaian itu
dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria.
Jika dikaitkan dengan penjadwalan kegiatan belajar, satu siklus diharapkan
terdiri dari beberapa pertemuan (sedapat mungkin lebih dari tiga pertemuan). Hal ini
perlu diperhatikan benar karena dampak suatu tindakan mungkin belum tampak di
dalam satu atau dua pertemuan saja.

13
Referensi
Dewa Komang Tantra 2005. Konsep Dasar dan Karakteristik Peneltiian Tindakan
Kelas. Disampaikan dalam : “ Pelatihan Metodologi Penelitian untuk
Peningkatan Kualitas Pembelajaran (PPKP) dan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) bagi Dosen-Dosen LPTK se-Indonesia” yang diselenggarakan oleh
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan
Perguruan Tinggi (Dit.PPTK dan KPT), Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional pada tanggal 8 – 11 Agustus 2005
di Batam
Herawati Susilo dan Kisyani Laksono. 2005. Implementasi PTK. Materi TOT
Nasional PTK dan PPKP Surabaya 2005. Direktorat PMPTK.
Tim Direktorat PMPTK. Buku Panduan Penelitian Tindakan Kelas.

14