Anda di halaman 1dari 22

ASKEP POST PARTUM NORMAL

A. Pengertian
Nifas (puerperium) adalah masa mulai setelah partus dan berakhir kira – kira 6
minggu. Akan tetapi, alat genetalia baru pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil
membutuhkan waktu 3 bulan (Prawiroharjo, 2000). Manjoer 2000 Hal 316. Masa nifas
atau puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah 6 minggu.
Hanifa 2006. Puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir
B. Klasifikasi
Masa nifas dibagi dalam 3 periode :
1. Puerperium dini, (immediate puerperium) : Dimana ibu telah diperbolehkaan berdiri
dan berjalan – jalan yaitu 0 – 24 jam post partum.
2. Puerperium intermediate. Waktu 1 – 7 hari post partum yaitu pulihnya alat – alat
genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.
3. Remote puerperium waktu 1 – 6 minggu post partum yaitu waktu yang diperlukan
untuk pulih dan sehat sempurna.
C. Perubahan fisiologi pada masa nifas
1. Alat genetalia
Alat – alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur – angsur pulih
kembali seperti keadaan sebelum hamil atau sering disebut involusi, selain itu juga
perubahan – perubahan penting lain, yakni hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi
karena lactogenik hormone dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar mammae.
2. Fundus uteri
Setelah janin lahir, tinggi fundus uteri kira – kira setinggi pusat, segera setelah
lahirnya plasenta TFU kurang lebih 2 jari diatas pusat, pada hari ke – 5 post partum
tinggi uterus yaitu 7 cm di atas simphysis. Sesudah 12 hari post partum uterus tidak
dapat diraba lagi diatas symphisis. Tebal Dinding uterus sendiri adalah 1,25 cm,
sedangkan pada bekas implantasi plasenta lebih tipis dari bagian lain. Bagian bekas
implantasi plasenta merupakan penanganan suatu luka yang kasar dan menonjol ke
dalam kavum uteri, segera setelah persalinan otot – otot uterus berkontraksi setelah
post partum, pembuluh – pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot uterus
akan terjepit, proses ini yang mengakibatkan perdarahan dapat berhenti setelah
plasenta dilahirkan.
Proses involusi :
Involusi TFU
Segera setelah persalinan 2 cm di bawah pusar

12 jam setelah persalinan 1 cm diatas pusat dan menurun kira – kira


1 cm setiap hari

Hari ke – 2 setelah persalinan 1 cm di bawah pusat

Hari ke 3 -4 setelah persalinan 2 cm di bawah pusat

Hari ke 10 pasca persalinan Tidak teraba


3. Serviks
Segera setelah persalinan / post partum, bentuk serviks agak menganga seperti
corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
seolah – olah pada perbatasan antara korpus dan serviks, uteri terbentuk semacam
cincin.
4. Vagina dan perineum
 Vagina nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran
seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi
mukus normal dengan ovulasi.
 Perineum
Episiotomi :
Penyembuhan dalam 2 minggu.
Laserasi :
TK I       :  Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot
TK II       :  Meluas sampai dengan otot perineal
TK III      :  Meluas sampai dengan otot spinkter
TK IV     :  melibatkan dinding anterior rektal
Pada post partum terdapat lochia, yaitu cairan / sekret yang berasal dari
kavum uteri dan vagina.
Macam – macam lochia :
a. Lochia rubra
Berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, cairan yang keluar berwarna
merah dan berlangsung selama 2 hari pasca persalinan
b. Lochia sanguinolenta
Berisi darah dan lendir, cairan yang keluar berwarna merah agak kekuningan dan
berlangsung pada hari ke 3 – 7 pasca persalinan
c. Lochia serosa
Berisi darah berwarna kuning, berlangsung dari hari ke 7 – 14 hari pasca
persalinan
d. Lochia alba
Cairan putih terjadi setelah 2 minggu pasca persalinan
5. Payudara
Pada masa nifas akan timbul masa laktasi akibat pengaruh hormon laktogen
(prolaktin) terhadap kelenjar payudara, kolostrum diproduksi mulai di akhir masa
kehamilan sampai hari ke 3 – 5 post partum dimana kolostrum mengandung lebih
banyak protein dan mineral tetapi gula dan lemak lebih sedikit. Produksi ASI akan
meningkat saat bayi menetek pada ibunya karena menetek merupakan suatu
rangsangan terhadap peningkatan produksi ASI
6. Ligamen
Ligamen – ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang selama
kehamilan dan partus, setelah jalan lahir, berangsur – angsur ciut kembali seperti
sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan
uterus jatuh ke belakang. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungnya turun”
setelah melahirkan karena ligament, fasia dan jaringan alat peunjang genetalia
menjadi agak kedor. Untuk memulihkan kembali jaringan – jaringan penunjang alat
genetalia tersebut, juga otot – otot dinding perut dan dasar panggul dianjurkan untuk
melakukan latihan – latihan tertentu pada 2 hari post partum sudah dapat diberikan
fisioterapi, keuntungan lain ialah dapat mencegah stasis darah yang mengakibatkan
trombosis masa nifas.
7. Sistem pencernaan
a. Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
b. Nafsu makan kembali normal.
c. Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.
8. Sistem perkemihan
Uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni sewaktu bayi
melewati jalan lahir. Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan
edema, seringkali disertai daerah – daerah kecil hemoragi
9. Sistem integumen
Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah
bayi lahir. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha dan panggul mungkin
memudar tetapi tidak hilang sebelumnya
D. Perubahan Psiklogi pada masa nifas
Bonding  dan Attechment
1. Bonding
a. Pengertian Bonding
Bonding adalah Daya tarik awal dan dorongan untuk terjadinya ikatan
batin antara orang tua dan bayinya (Bobak,2000)
Bonding adalah menggambar suatu hubunagan yang berawal dari saling
memikat diantara orang-orang seperti orang tua dan anaknya ketika pertama kali
bertemu (Brazelton,1987)
Bonding merupakan langkah awal untuk saling tertarik dan berespon
orang tua dan bayi serta merupakan dasar untuk menciptakan kasih sayang dan
menerima bayinya sebagai anggota keluarga
b. Prinsip Bonding
Prinsip Bonding tidak sebatas memperhatikan bayi kepada
ibu,memberitahu jenis kelamin,panjang,dan berat badan saja tetapi ada prinsip-
prinsip yang mendasarinya:
1) Pada menit pertama sesudah kelahiran adalah masa paling optimal untuk
dilakukan bonding
2) Respon spesifik manusiawi ketika pertama kali diberikan kepada orang tua
(memandang berkata, dan melakukan sesuatu)
3) Monotropi adalah proses yang terstruktur dimana pad satu waktu orang tuanya
hanya dapat berespon pada satu bayi (Bowlb,1958)
4) Perlu umpan balik antara orang tua dan bayi melalui beberapa tanda seperti
gerakan tubuh dan gerakan mata
5) Awal penentu perkembangan masa depan
c. Proses terjadinya bonding
Ikatan batin diawali oleh rasa kasih sayang tehadap bayi. Bayi -bayi yang
menderita karena diabaikan, rasa jemu dan kecemasan, tidak merasa cukup aman
untuk membentuk suatu ikatan batin dengan orang tua. Tetapi, terbentuk bukan
hanya karena bayi diberi makan dan dimandikan saja atau hanya berespon
kebutuhan - kebutuhan mendasar dari bayi, proses ikatan batin tak akan
berlangsung. Ikatan batin terjadi bila orang tua belajar untuk peka bahkan
terhadap sinyal – sinyal yang paling halus, seperti ekspresi wajah. Gerakan tangan
dan melakukan sesuatu. Cara terbaik untuk melakukan ikatan batin dengan bayi
adalah memperhatikan secermat mungkin apa yang dikatakan melalui bahasa
tubuh selain memberikan respon terhadap tanda-tanda yang lebih nyata
sifatnya,seperti tangisan atau anggukan (Bobak ,2000)
2. Attechment
a. Pengertian attachment
Attechment adalah suatu perubahan perasaan satu sam lain yang paling
mendasar ketika ada perasaan keterkaitan tanggung jawab dan kepuasan
(Stanton,1983)
Attechment adalah suatu perasan kasih sayang atau kesehatan yang mengikat
antara satu orang dengan orang lain.Attechment adalah unik,spesifik dan memerlukan
kesabaran   (Kalus,Kennel,1970)
b. Prinsip Penguatan suatu proses Attechment
Ketidaknyamanan dikurangi atau dirubah oleh ibu (pemberian perawatan
dalam bentuk yang lain) dan diganti dengan kesenangan,ibu memberikan dengan
pertasaan senang dan puas.Ibu akan mengulurkan tangan pada bayi,menjaga kontak
mata antara ibu dengan bayi,dan berbicara dengan baik, ibu menjadi infant, dicintai
dan dapat berinteraksi sebagai penguat agen atau setiap peristiwa.Ibu menjadi sesuatu
yang bermakna lain pada kehidupan Infant (Bobak,2000)
c. Proses terjadinya Attechment
Proses attachment dijelaskan sebagai suatu linear,dimulai saat ibu
hamil,semakin menguat pada awal periode pasca partum dan begitu terbentuk akan
menjadi konstan dan konsisten.Hal ini sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental
sepanjang rentan kehidupan (Parkes,Stevenson-Huilde,1992)

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap : Hb, Ht, leukosit, trombosit
2. Urine lengkap : Makroskopik (glukosa, prtein, bilirubin, urobilinogen, keasaman,
keton)
F. Komplikasi
1. Infeksi Nifas
 Infeksi nifas mencakup semua peradangan yg disebabkan oleh masuknya kuman-
kuman kedalam alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas.
 Demam dalam nifas sering disebabkan infeksi nifas, ditandai dengan suhu 38 ºC
yg terjadi selama 2 hari berturut-turut.
 Kuman2 penyebab infeksi dapat berasal dari eksogen atau endogen, kuman -
kumannya seperti streptococcus, bacil coli, staphylococcus.
2. Faktor Predisposisi
 Perdarahan
 Trauma persalinan
 Partus lama
 Retensio plasenta
 KU ibu (anemia dan malnutrition)
3. Macam-macam infeksi nifas :
1) Endometritis
Merupakan jenis infeksi yg paling sering, kuman-kuman memasuki
endometrium biasanya pada luka bekas insersio plasenta & dalam waktu singkat
mengikutsertakan seluruh endometrium.
2) Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe di dalam uterus
langsung mencapai peritonium sehingga menyebabkan peritonitis.
4. Bendungan asi
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus
laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena
kelainan pada putting susu (Mochtar, 1996).
Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi karena hambatan aliran
darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara.
Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan bayi pada
hari pertama lahir masih sedikit.
5. Infeksi payudara
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mammae
terutama pada primipara. Tanda-tanda adanya infeksi adalah rasa panas dingin
disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu dan tidak ada nafsu makan.
Penyebab infeksi adalah staphilococcus aureus. Mamae membesar dan nyeri dan pada
suatu tempat, kulit merah, membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak
ada pengobatan bisa terjadi abses.
6. Thrombophlebitis
Penjalaran infeksi melalui vena. Sering terjadi dan menyebabkan kematian.
Dua golongan vena yg memegang peranan yaitu:
 Vena-vena dinding rahim ligamentum. Latum (vena ovarica, vena uterina, dan
vena hipogastrika) atau disebut tromboplebitis pelvic
 Vena-vena tungkai (vena femoralis, poplitea, dan saphena) atau disebut
tromboplebitis femoralis
7. Perdarahan post partum
Perdarahan post partum adl perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam
setelah anak lahir.
Tahap perdarahan Post Partum :
 Early post partum (primer), terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
 Late post partum (sekunder), terjadi lebih dr 24 jam pertama setelah bayi lahir
Hal-hal yang menyebabkan perdarahan Post Partum
1) Atonia uteri : Gagalnya uterus berkontraksi dgn baik setelah persalinan
2) Retenio plasenta : Keadaan dimana plasenta belum lahir dlm waktu lebih dr 30
menit setelah bayi lahir
3) Inversio Uteri : Keadaan dimana keadaan fundus uteri terbalik sebagian atau
seluruhnya ke dalam kavum uteri
4) Robekan jalan lahir : Robekan jalan lahir merupakan penyebab ke2 tersering dari
perdarahan Post Partum
Gejala : perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelahh bayi lahir, kontraksi
uterus baik, plasenta baik, kadang ibu terlihat pucat, lemah , menggigil
Robekan perinium di bagi 4 :
 Tingkat 1 : Robekan hanya pada selaput lender vagina atau tanpa mengenai, kulit
perineum
 Tingkat 2 : Robekan mengenai selaput lender vagina & otot perinea transversalis
tapi tidak mengenai sfingter ani
 Tingkat 3 : Robekan mengenai seluruh perinium & otot springter ani
 Tingkat 4 : Robekan sampai mukosa rectum
G. Penanganan
Tindakan yang dibeikan untuk asuhan masa nifas normal pada ibu, yaitu :
1. Kebersihan diri
a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
b. Mengajarkan ibu bgaiman membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air ,
pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih
dahulu dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus
c. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2x sehari,
kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan
dibawah matahari atau disetrika
d. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan abun dan air sebelum dan sesudah
membersihkan daerah kelaminnya
e. Jika ibu mempunyai luka episiotomy atau laserasi sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah lu
2. Istirahat
a. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
b. Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan  - kegiatan rumah tangga biasa secara
perlahan – lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur
c. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam berbagai hal :
1) Mengurangi jumlah produksi ASI
2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri
3. Latihan
a. Diskusikan pentingnya mengembalikan otot – otot perut dan panggul kembali
normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi
kuat sehingga rasa sakit pada punggung
b. Jelaskan bahwa latihan – latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat
membantu mempercepat mengembalikan otot – otot perut dan panggul kembali
normal seperti :
1) Tidur terlentang dengan lengan samping, menarik nafas, tahan nafas ke dalam
dan angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai 5. Rieks dan ulangi 10
kali
2) Untuk memperkuat otot vagina, berdiri dengan tungkai dirapatkan.
Kencangkan otot – otot pantat dan panggul tahan sampai 5 kali hitungan.
Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali
3) Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu
naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke – 6 setelah
persalinan ibu harus mengerjakkan latihan sebanyak 30 kali
4. Gizi
ibu menyusui harus :
a. Mengkonsumsi makanan tambahan 500 kalori setiap hari
b. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin
yang cukup
c. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali
menyusui)
d. Tablet zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin
5. Perawatan Payudara
a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering
b. Menggunakan bra yang menyokong payudara
c. Apabila puting susu lecet, oleskan colostrum atau asi yang keluar pada sekitar
putting susu setiap kali menyusui. Menyusui tetap dilakukan dari puting susu
yang tidak lecet
d. Apabila lecet sangat berat, dapat diistirahatkan selama 24 jam. Asi di keluarkan
dan diminumkan dengan sendok
e. Apabila payudara bengkak, akibat bendungan asi, lakukan :
1) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama
5 menit
2) Urut payudara dari arah pangkal menuju areola atau gunakan sisir untuk
mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting
3) Keluarkan asi sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak
4) Susukan bayi setiap 2 – 3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh
asi, keluarkan dengan tangan
5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui
6) Payudara dikeringkan
6. Hubungan Perkawinan atau Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa
nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan, aman
untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai
masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.
Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.
7. Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu
hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana
mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat
membantu merencanaka keluarganyadengan mengajarkan kepada mereka cara
mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Biasanya wanita tidak menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan
lagi haidnya selama menyusui. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai
sebelum haid pertama kembali untukmencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko
cara ini adalah 2 % kehamilan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko,
menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu telah haid lagi
ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM

A. PENGKAJIAN
1. Identitas                          
Nama Pasien              :   
Umur                           :   
Suku/bangsa              :   
Agama                       :   
Pendidikan                 :   
Alamat                       :   
Status perkawinan      :   
Lama perkawinan      :   

2. Riwayat kesehatan sekarang


a. Keluhan utama masuk RS  : Nyeri pada perut bagian bawah
b. Riwayat keluhan utama     : Nyeri pada perineum
 mulai timbulnya     : setelah melahirkan
 Faktor pencetus      : kontraksi uterus atau pengeluaran lochia
 Lokasi keluhan       : daerah perut bagian bawah
 Sifat nyeri                : seperti tertusuk – tusuk
 Kuantitas                : Hilang timbul
 Kualitas                   : sedang (5)
 Hal – hal yang memberatkan   :    saat pasien bergerak
 Hal – hal yang meringankan    :    saat pasien berbaring
 Upaya untuk mengatasi            :    ibu terlihat mengelus perutnya
3. Riwayat Reproduksi
a. Riwayat Haid
1) Menarche : 12 tahun
2) Siklus haid : 28 hari
3) Banyak ganti duk : 2x/hari
4) Lamanya haid : 4 hari
5) Keluhan Haid : tidak ada
6) HPHT : 20 Oktober 2015
7) HPL : 27 Juli 2016
8) Usia kehamilan saat ini    : 40 Minggu
b. Riwayat Obstetri
GPAH

c. Riwayat persalinan sekarang


1) Tanggal persalinan     :    27 Juli 2016 / pukul : 15.40 wit
2) Tipe persalinan            :    spontan
3) Lama persalinan         :   Kala I- IV
4) Jenis kelamin bayi    :  Laki – laki
5) Berat badan             :  3600 gram
6) Panjang Badan        :  51 cm
7) APGAR Score 5 menit pertama   :
Bayi lahir dengan warna kulit merah seluruh tubuh (2), detak jantung
96x/menit (1), bayi menangis kuat (2), gerakan aktif dan fleksi ekstremitas
kuat (2), ada refleks bersin dan batuk (2). Total APGAR Score : 9
8) APGAR Score 5 menit kedua       :
Warna kulit merah seuruh tubuh (2), detak jantung 112x/m (2), bayi menangis
kuat (2), gerakan aktif dan fleksi ekstremitas kuat (2), Ada refleks bersin dan
batuk (2). Total APGAR Score : 10
d. Riwayat kehamilan dan kelahiran sebelumnya
No Kehamilan Persalinan Anak Keterangan
Usia penyuli Jenis Jenis L
Penyulit Penolong BB PB keadaan umur
kehamilan t kelamin kelamin D
- -

e. Riwayat keluarga berencana


1) Apakah pernah memakai kontrasepsi           :    Tidak pernah
2) Jenis kontrasepsi yang dipakai                      :    Tidak ad
3) Sejak kapan                                                   :    Tidak ada
4) Adakah rencana mengikuti KB                      :    Ya, ada
5) Dimana ibu berencana mengikuti KB            :    Puskesmas
6) Jenis kontrasepsi apa yang ingin dipakai      :    Suntik
7) Apakah keluarga atau suami mengizinkan   :    Ya
f. Riwayat imunisasi
1) Imunisasi TT1                                               :    1x
2) Imunisasi TT2                                               :    1x
3) Berapa kali mengikuti imunisasi                 :    2x
4) Usia kehamilan saat mengikuti imunisasi   :    4 & 6 bulan
g. Riwayat penyakit yang diderita
1) Tidak ada riwayat penyakit serius seperti DM, Tumor, Hipertensi, PMS, TBC.
2) Tidak ada penyakit yang menyertai kehamilan seperti sakit kepala hebat, nyeri
perut hebat dan kejang.
3) Tidak ada riwayat ketergantungan obat, alkohol dan merokok.
h. Riwayat kesehatan keluarga
Genogram 3 generasi
i. Aspek psikososial, ekonomi, dan spiritual
1) Status emosional : Baik
2) Pola interaksi klien : pasien dapat berinteraksi dengan petugas, keluarga
maupun lingkungan dengan baik
3) Harapan ibu : ibu berharap bisa segera sembuh dan cepat pulang
4) Pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami
5) Penghasilan dapat mencukupi kebutuhan sehari – hari
6) Ibu percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa ia akan segera pulih
j. Pola aktivitas sehari – hari
Klien mengatakan semoga tidak terjadi apa-apa dengan dirinya
1) Pola bernafas
RR 20x/menit
2) Kebutuhan cairan dan elektrolit
Sebelum sakit : Klien mengatakan sebelum sakit minum ± 1500 cc/hari
Selama sakit : Klien mengatakan tidak ada perubahan dalam mengkonsumsi
air putih ± 1500 cc/hari
3) Pola nutrisi dan metabolic
Sebelum sakit : Klien mengatakan sebelum sakit makan ± 3-5 x sehari dengan
lauk dan sayur habis 1 porsi penuh
Selama sakit : Klien mengatakan selama sakit makan 3x sesuai pemberian dari
rumah sakit dan habis
4) Pola eliminasi BAB dan BAK
Sebelum sakit : Klien mengatakan BAB 1x sehari dan BAK ± 5-7x /hari
Selama sakit : Klien mengatakan belum BAB selama di rawat di RS dan BAK
± 5x sehari
5) Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit : Klien mengatakan sebelum sakit klien masih beraktivitas
seperti biasa
Selama sakit : Klien mengatakan masih lemas dan hanya terbaring tidur
6) Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit : Klien mengatakan sebelum sakit tidur ± 6-8 jam perhari
Selama sakit : Klien mengatakan kadang terbangun pada malam hari
7) Pola peran berhubungan
Sebelum sakit : Klien mengatakan sebelum sakit berperan sebagai seorang
istri
Selama sakit : Klien mengatakan sedih karena tidak jadi berperan sebagai ibu
8) Pola nilai dan kepercayaan
Klien mengatakan bahwa klien beragama islam
9) Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Klien mengatakan perut terasa mulas seperti ingin BAB, mulas yang dirasa
menjalar dari perut bagian bawah sampai ke pinggang
10) Kebutuhan belajar
Klien masih banyak bertanya mengenai keadaannya kepada perawat
11) Kebutuhan persona hygiene
Sebelum sakit : Klien mengatakan sebelum sakit klien mandi ± 2-3 x sehari
dan menggosok gigi 3x sehari, mengganti pakaian 2x sehari
Selama sakit : Klien mengatakan baru mandi 1x dalam sehari
12) Kebutuhan pemenuhan ADL
Klien mengatakan membutuhkan bantuan dalam pemenuhan kebutuhan
aktivitasnya, pasien terkadang dibantu oleh suaminya dan juga ibu pasien

B. Pemeriksaan fisik
1. Pengamatan umum
a. Keadaan umum            :    Baik
b. Tingkat kesadaran         :    compos mentis
2. Tanda – tanda vital
a. Suhu                         :    36ºc
b. Nadi                         :    80x/menit
c. Respirasi                    :    20x/menit
d. Tekanan darah         :    120/70 mmHg
3. Pengukuran Antropometri
a. Berat Badan             :    49 kg
b. Tinggi Badan            :    154 cm
4. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
1) Bentuk                         :    Simetris
2) Keadaan rambut        :    Bersih
3) Warna                         :    Hitam
4) Nyeri kepala               :    Tidak ada
5) Wajah                         :    ekspresi tampak meringis jika bergerak
b. Mata
1) Bentuk                         :    simetris kiri dan kanan
2) Konjungtiva                :    anemis
3) Sklera                          :    tidak icterus
4) Fungsi penglihatan     :    baik
c. Hidung
1) Struktur                        :    simetris kiri dan kanan
2) Fungsi penciuman       :    baik
d. Telinga
1) Struktur                        :    simetris kiri dan kanan
2) Fungsi pendengaran   :    baik
e. Leher
1) Vena jugularis             :    teraba
2) Arteri karotis                :    teraba
3) Kelenjar limfe / tiroid   :    tidak ada pembesaran
f. Dada
Payudara
Bentuk                         :    simetris kiri dan kanan
Areola                         :    hiperpigmentasi
Colostrum                   :    ada kolostrum yang keluar
Puting susu                  :    tidak ada kelainan
Keluhan                       :    tidak ada
g. Abdomen
1) Inspeksi
Striae livida     :    ada
Linea nigra      :    ada
2) Palpasi
Tinggi fundus uteri  :    2 jari di bawah pusar
Kontraksi uterus      :    baik (teraba bundar dan keras)
h. Genetalia
1) Genetalia eksterna
Labia mayora      :        lecet
Labia minora   :    lecet
2) Genetalia interna
Vagina            :    pengeluaran lochia rubra hari ke -1warna merah kehitaman,
bau amis, banyaknya ±50 cc (setiap ganti duk)
Perineum         :    terdapat luka jahitan perineum dengan D: 4 jahitan, L : 4
jahitan

C. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan lanoratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil dan Nilai Normal Analisis
Saran
-
- - -

2. Pemeriksaan diagnostik
D. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
2. Risiko infeksi
3. Gangguan pola tidur
4. Risiko kekurangan volume cairan
5. Risiko ketidakmampuan menjadi orangtua
6. Ketidakefektifan pemberian ASI

E. Rencana Asuhan Keperawatan


No. SDKI SLKI SIKI
1. D.0077 Nyeri akut L.08063 Kontrol nyeri I. 08238 Managemen
Setelah dilakukan tindakan nyeri
keperawatan selama …x …menit Aktivitas :
diharapkan klien mampu : - identifikasi lokasi,
1. Melaporkan nyeri terkontrol karakteristik, durasi,
ditingkatkan dari 2 ke 4 frekuensi, kualitas,
2. Kemampuan mengenali intensitas nyeri
penyebab nyeri - identifikasi skala nyeri
Ditingkatkan dari 2 ke 5 - identifikasi faktor yang
3. Kemampuan menggunakan memperberat dan
tehnik non-farmakologis memperingan nyeri
Ditingkatkan dari skala 3 ke - berikan tehnik non-
skala 5 farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
2. D.0142 Risiko infeksi L.14128 kontrol resiko I.07225 Perawatan pasca
Setelah dilakukan tindakan persalinan
keperawatan selama …x …menit Aktivita :
diharapkan klien mampu : - monitor TTV
- Kemampuan mencari informasi - monitor lochea (warna,
tentang faktor resiko ditingkatkan jumlah baud an bekuan)
dari skala 3 ke skala 4 - periksa perineum atau
- Kemampuan mengidentifikasi robekan
faktor resiko ditingkatkan dari - Kosongkan kandung
skala 3 ke 4 kemih
- Kemampuan melakukan strategi - ajarkan perawatan
control resiko ditingktkan dari perineum yang tepat
skala 3 ke 4
- Kemampuan mengubah perilaku
ditingkatkan dari skala 3 ke4
- Kemampuan menghindrai faktor
resiko ditingkatkan dari skala 3
ke 4
3. D.0055 gangguan pola L.05045 pola tidur I.05174 Dukungan tidur
tidur Setelah dilakukan tindakan Aktivitas :
keperawatan selama …x …menit - Identifikasi pola
diharapkan klien mampu : aktivitas dan tidur
-keluhan sulit tidur ditingkatkan dari - Identifikasi faktor
skala 4 ke 2 pengganggu tidur
- keluhan sering terjaga ditingkatkan - Identifikasi makanan
dri skala 4 ke 2 dan minuman yang
- keluhan istirahat tidak cukup mengganggu tidur
ditingkatkan dari skala 4 ke 2 (mis. Kopi, the,
alcohol dll)
- Tetapka jadwal tidur
rutin
4. D.0036 Risiko L.03020 Keseimbangan cairan I.03098 Managemen
ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan cairan
cairan keperawatan selama …x …menit Aktivitas :
diharapkan klien mampu : - Monitor status hidrasi
- Asupan cairan ditingkatkan dari - Catat intake dan
skala 2 ke skala 4 output 24 jam
- Haluaran urin ditingkatkan dari - Berikan asupan
skala 2 ke 4 cairan
- Klembapan membrane mukosa
ditingkatkan dari skala 2 ke 4
- Turgor kulit ditingkatkan dari
skala 2 ke 4
5. D.0122 Kesiapan L13120 Peran menjadi orangtua I.13495 Promosi
peningkatan menjadi Setelah dilakukan tindakan pengasuhan
orangtua keperawatan selama …x …menit - Monitor status
diharapkan klien mampu : kesehatan anak dan
- Intervensi perawatan bayi status imunisasi anak
ditingkatkan dari skala 2 ke 4 - Dukung ibu menerima
- Verbalisasi kepuasan memiliki dan melakukan
bayi ditingkatkan dari skala 2 ke perwatan pre natal
4 secara teratur dan
- Keinginan meningkatkan pperan sedini mungkin
orangtua ditingkatkan dari skala - Fasilitasi orangtua
2 ke 4 dalam menerima
transisi peran
Ajarkan orangtua untuk
menanggapi isyarat bayi
6. D.0029 Menyusui L.03029 Status Menyusui I.03093 Konseling laktasi
tidak efektif Setelah dilakukan tindakan - Identifikasi keadaan
keperawatan selama …x …menit emosional ibu saat akan
diharapkan klien mampu : dilakukan koseling
- Perlekatan bayi pada payudara menyusui
ditingkatkan dari skala 3 ke 2 - identifikasi keinginan
- Kemampuan ibu memposisikan dan tujuan menyusui
bayi ditingkatkan dari skala 3 ke Identifikasi permaslahan
2 yang ibu alami selama
- Suplai asi adekuat ditingkatkan proses menyusui
dari skala 3 ke 2 - Gunaakan teknik
- Kepercayaan diri ibu mendengarkan aktif
ditingkatkan dari skala 4 ke 2 - Berikan pujian
terhadap perilaku ibu
yang benar
- Ajarkan tehnik
menyusui yang tepat
sesuai kebutuhan ibu

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4, Jakarta : EGC


Bobak .I.M dan Jansen M.D 2000, Keperawatan Maternitas dan ginekologi, jilid I, yayasan
IAPKP, bandung
Bagian Obstetri Dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UNPAD, 1993, Obstetri Fisiologi,
Elemen, Bandung
Manuaba, LB.G 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan
Prawiroharjo S, 1999. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai