Anda di halaman 1dari 8

KELOMPOK 3

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PERWIRA DEK TERKAIT


KESELAMATAN DAN KEAMANAN KAPAL

Disusun Oleh :

1. Yudika Farel Bramasta (0719023122)


2. Kevin Pratama (0719017122)
3. Zaidan Al Barokah Dzatmiko (0719024122)
4. Bitanisa Rosita Buchori (0719008222)
5. Mahardika Rama Satrio (0719019122)

Jl. Gn. Anyar Boulervard No.1, Gn. Anyar, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY,
Jawa Timur 60155 (031) 8714643
Definisi
Perwira Deck dan Tugasnya

Perwira deck adalah perwira kapal bagian deck, meliputi:


Mualim 1 (chief officer)
Mualim 2 (second officer)
Mualim 3 (third officer)

Mualim 1 (chief officer/chief mate)


adalah perwira deck senior. Dia perwira kepala departemen deck. Tugas dan tanggung jawabnya:
1. Melaksanakan dinas jaga dan bertanggung jawab kepada Nakhoda.
2. Memimpin dinas deck.
3. Melaksanakan perawatan kapal.
4. Melaksanakan administrasi muatan.
5. Atas perintah Nakhoda, memimpin kapal jika Nakhoda berhalangan.

“Mualim I (Chief Mate) adalah perwira kapal bagian deck yang jabtannya setingkat lebih rendah dari
nakhoda dan yang dapat menggantikan tugas bilamana nakhoda tidak dapat melaksanakan tugasnya
(PM 70 TAHUN 2013)”

Mualim 1 melaksanakan dinas jaga laut pukul 04:00-08.00 dan 16:00-20:00. Pada perusahaan tertentu
yang menempatkan Mualim 4, chief officer tidak melaksanaan dinas jaga, tetapi fokus pada muatan dan
perawatan. Dinas janganya dilaksakan oleh Mualim 4.

Mualim 2 (second officer)


disebut juga perwira navigasi. Dia bertanggung jawab :
1. Melaksanakan dinas jaga dan bertanggung jawab kepada Nakhoda.
2. Memelihara/mengeoreksi peta laut dan update publikasi pelayaran.
3. Memelihara peralatan dan kelengkapan alat navigasi termasuk lampu-lampu navigasi
4. Membuat noon report.
Mualim dua juga sebagai perwira medis, bertanggung jawab atas obat di kapal, mendata keluar masuk
obat, membuat laporan secara periodik ke manajemen.
Mualim 2 melaksanakan dinas jaga laut pada pukul 12:00-16:00 dan pukul 00:00-04:00.

Mualim 3 (third officer)


1. Melaksanakan dinas jaga dan bertanggung jawab kepada Nakhoda.
2. Memelihara peralatan dan kelengkapan alat keselamatan seperti lifeboats, liferafts,
lifebuoys,lifejackets dll.
3. Memelihara perlengkapan dan kelengkapan alat keselamatan pemadam.
4. Memelihara kelengkapan bendera.
5. Membuat laporan ship condition tiba dan berangkat.

Mualim 3 melaksanakan dinas jaga laut pada pukul 08:00-12:00 dan 20:00-24:00.

Tugas dan tanggungjawab di atas berlaku umum. Tiap perusahaan menyusun kebijakannya sendiri yang
dituangkan dalam Sistem Manajemen Keselamatan (SAFETY MANAGEMENT SYSTEM/SMS)
PERAN PERWIRA DEK

Kecelakaan dapat terjadi pada kapal-kapal baik dalam pelayaran, sedang berlabuh atau sedang
melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan/terminal meskipun sudah dilakukan usaha supaya yang
kuat untuk menghindarinya.
Manajemen harus memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Health and Safety work Act, 1974 untuk
melindungi pelaut pelayar dan mencegah resiko-resiko dalam melakukan suatu aktivitas di atas kapal
terutama menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja, baik dalam keadaan normal maupun darurat.
Suatu keadaan darurat biasanya terjadi sebagai akibat tidak bekerja normalnya suatu sistem secara
prosedural ataupun karena gangguan alam.
Gangguan pelayaran pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat langsung diatasi, bahkan perlu
mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan yang mengakibatkan Nakhoda dan
seluruh anak buah kapal harus terlibat baik untuk mengatasi gangguan tersebut atau untuk hares
meninggalkan kapal.
Keadaan darurat karena tubrukan kapal dengan kapal atau kapal dengan dermaga maupun dengan
benda tertentu akan mungkin terdapat situasi kerusakan pada kapal, korban manusia, tumpahan minyak
ke laut (kapal tangki), pencemaran dan kebakaran. Situasi Iainnya adalah kepanikan atau ketakutan
petugas di kapal yang justru memperlambat tindakan, pengamanan, penyelamatan dan penanggulangan
keadaan darurat tersebut.

Dalam hal ini, tidak lepas dari tugas dan tanggung jawab Perwira Kapal dalam tugasnya yang salah
satunya wajib menjaga keamanan dan keselamatan kapal dan isinya.
Meski begitu, Keselamatan dan Keamanan Kapal tidak serta merta menjadi tanggung jawab tunggal
perwira kapal yang bertugas. Perlu adanya kesadaran dari semua pihak agar pelayaran kapal menjadi
aman dan nyaman.

TINDAKAN DALAM KEADAAN DARURAT

Sijil bahaya atau darurat. Dalam keadaan darurat atau bahaya setia awak kapal wajib bertindak sesuai
ketentuan sijil darurat, oleh sebab itu sijil darurat senantiasa dibuat dan diinformasikan pada seluruh
awak kapal.

Sijil darurat di kapal perlu di gantungkan di tempat yang strategis, sesuai, mudah dicapai, mudah dilihat
dan mudah dibaca oleh seluruh pelayar dan memberikan perincian prosedur dalam keadaan darurat,
seperti :
1. Tugas-tugas khusus yang harus ditanggulangi di dalam keadaan darurat oleh setiap anak buah
kapal.
2. Sijil darurat selain menunjukkan tugas-tugas khusus, juga tempat berkumpul (kemana setiap
awak kapal harus pergi).
3. Sijil darurat bagi setiap penumpang harus dibuat dalam bentuk yang ditetapkan oleh
pemerintah.
4. Sebelum kapal berangkat, sijil darurat harus sudah dibuat dan salinannya digantungkan di
beberapa tempat yang strategis di kapal, terutama di ruang ABK.
5. Di dalam sijil darurat juga diberikan pembagian tugas yang berlainan bagi setiap ABK, misalnya:
a. Menutup pintu kedap air, katup-katup, bagian mekanis dari lubang-lubang pembuangan air
di kapal
b. Perlengkapan sekoci penolong termasuk perangkat radio jinjing maupun perlengkapan
Iainnya.
c. Menurunkan sekoci penolong.
d. Persiapan umum alat-alat penolong / penyelamat lainnya.
e. Tempat berkumpul dalam keadaan darurat bagi penumpang.
f. Alat-alat pemadam kebakaran termasuk panel kontrol kebakaran.

6. Selain itu di dalam sijil darurat disebutkan tugas-tugas khusus yang dikerjakan oleh anak buah kapal
bagian CID (koki, pelayan d1), seperti :
a. Memberikan peringatan kepada penumpang.
b. Memperhatikan apakah mereka memakai rompi renang mereka secara semestinya atau
tidak.
c. Mengumpulkan para penumpang di tempat berkumpul darurat.
d. Mengawasi gerakan dari para penumpang dan memberikan petunjuk di gang-gang atau di
tangga.
e. Memastikan bahwa persediaan selimut telah dibawa sekoci / rakit penolong.

7. Dalam hal yang menyangkut pemadaman kebakaran, sijil darurat memberikan petunjuk cara-cara
yang biasanya dikerjakan dalam terjadi kebakaran, serta tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan
dalam hubungan dengan operasi pemadaman, peralatan-peralatan dan instalasi pemadam kebakaran di
kapal.

8. Sijil darurat harus membedakan secara khusus semboyan-semboyan panggilan bagi ASK untuk
berkumpul di sekoci penolong mereka masing-masing, di rakit penolong atau di tempat berkumpul
untuk memadamkan kebakaran. Semboyan-semboyan tersebut diberikan dengan menggunakan ruling
kapal atau sirine, kecuali di kapal penumpang untuk pelayaran internasional jarak pendek dan di kapal
barang yang panjangnya kurang dari 150 kaki (45,7m), yang harus dilengkapi dengan semboyan¬-
semboyan yang dijalankan secara elektronis, semua semboyan ini dibunyikan dan anjungan.

Keamanan dan Keselamatan Operasi Kapal Dalam dunia pelayaran niaga kelaiklautan kapal
(seaworthiness) diatur di dalam “ The hague-Visby Rules maupun The Hamburg Rules“. Kelaiklautan
kapal selaku pengangkut tegas dinyatakan sebagai kewajiban dari pengangkut (carrier) atau pemilik
kapal (ship owner)

Dikatakan antara lain:


Pengangkut harus diikat sebelum dan di awal perjalanan untuk melakukan latihan dengan
memperhatikan:
(a) membuat kapal layak berlayar
(b) manusia yang benar, lengkapi dan suplai kapalnya
(c) membuat ruang palka, ruang pendingin dan ruang pendingin, dan semua bagian lain dari kapal
tempat barang diangkut, pas dan aman untuk penerimaan dan pengangkutan
NAHKODA
Nakhoda kapal mempunyai tanggung jawab penting dalam dalam sebuah kapal.
Tugas seorang nakhoda kapal adalah bertanggung jawab ketika membawa sebuah kapal dalam
pelayaran, baik itu dari pelabuhan satu menuju ke pelabuhan lainnya dengan selamat,Tanggung jawab
itu meliputi keselamatan seluruh penumpang atau barang yang ada dalam kapal.
Menurut UU. No.21 Th. 1992 dan pasal 341.b KUHD dengan tegas menyatakan bahwa Nakhoda adalah
pemimpin kapal.

Pada pasal 341 KUHD dan pasal 1 ayat 12 UU. No.21 Th.1992 maka definisi dari Nakhoda adalah sebagai
berikut :
Nakhoda kapal ialah seseorang yang sudah menanda tangani Perjanjian Kerja Laut (PKL) dengan
Pengusaha Kapal dimana dinyatakan sebagai Nakhoda, serta memenuhi syarat sebagai Nakhoda dalam
arti untuk memimpin kapal sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Nakhoda sebagai perwakilan Owner /pemilik kapal.


Tanggung jawab dari seorang nakhoda kapal adalah sebagai berikut :
1. Memperlengkapi alat- alat keselamatan diatas kapal.
2. Mengawaki kapalnya secara layak sesuai prosedur/aturan pelayaran.
3. Membuat kapalnya layak laut (seaworthy).
4. Bertanggung jawab atas keselamatan pelayaran.
5. Bertanggung jawab atas keselamatan Crew yang ada di atas kapal.
6. Mematuhi perintah pengusaha kapal selama tidak menyimpang dari peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Aspek

Analisa

Analisa statistik mengenai musibah pelayaran menunjukkan bahwa prosentasi musibah yang lebih tinggi
yang melibatkan satu atau lebih kecelakaan kapal terjadi di daerah pelabuhan, selat-selat yang sempit
termasuk alur-alur pada sungai daripada yang terjadi di dalam kondisi laut terbuka.

Tidak dapat dihindari bahwa resiko tubrukan akan cepat bertambah sesuai dengan pencakupan kapal-
kapal diperairan pantai dan ambangambang pelabuhan yang disebabkan oleh karena bertambahnya
kepadatan lalu lintas dibandingkan dengan laut terbuka.

Resiko kekandasan juga akan bertambah karena kapal-kapal mendekati perairan yang relatif dangkal
dan alurnya sempit dan resiko tubrukan juga sangat besar terutama dengan kapal-kapal yang sedang
berpapasan dan instalasi-instalasi pelabuhan pada saat pendekatan akhir selalu sering timbul.
Statistik

Statistik Kecelakaan Bermacam-macam study telah diadakan baik secara nasional maupun internasional
untuk maksud penganalisaan secara statistik kecelakaan berupa tubrukan, kandas dan musibah
pelayaran lainnya terutama yang sangat menonjol adalah kasus-kasus perompakan, pembajakan, teror,
dan sabotase yang telah menimbulkan dampak-dampak yang cukup besar terhadap keselamatan jiwa
manusia dan harta benda serta lingkungan hidup.

Tindakan-tindakan pelanggaran hukum terhadap pelayaran yang membahayakan keamanan dan


keselamatan jiwa manusia dan harta benda, telah menjadi keprihatinan serius seluruh masyarakat
internasional karena menggangu kegiatan pelayaran maritim dan sehingga mengurangi kepercayaan
masyarakat dunia akan keselamatan dan keamanan pelayaran. Berdasarkan petujuk sesuai data statistik
bahwa proporsi musibah pelayaran yang lebih tinggi terjadi di daerah pelabuhan dan ambangambang
yang menuju pelabuhan, perairan sempit dan selat- selat.

Pelaksanaan survey perkiraan bahaya yang cukup besar terdapat didaerah lingkungan kerja pelabuhan
termasuk di perairan yang rawan seperti pada selat-selat yang sempit dan sebagainya dapat
dipergunakan jasa konsultan yang akan menentukan faktor-faktor kemungkinan atas bermacam-macam
bahaya/kejadian yang mungkin terjadi seperti:
a. Tubrukan antara kapal-kapal
b. Kandas / terbalik dan sebagainya.
c. Tubrukan dengan instalasi pelabuhan
d. Perampokan / pencurian, pengrusakan, sabotase, teror dsb.

Dalam keadaan tertentu mungkin perlu dilakukan survey perkiraan bahaya atas kapal-kapal yang
mengangkut barang-barang berbahaya, misalnya LNG/LPG yang akan menentukan faktor kemungkinan
atas bermacammacam jenis kejadian yang terjadi apabila tidak ditangani secara profesional sehingga
terbuka peluang bagi oknum-oknum tertentu dengan mengadakan teror atau sabotase.

Pencegahan dan Penanganan

Upaya Mencegah Terjadinya Kecelakaan Kapal Laut Kecelakaan di laut yang terjadi dan diperlakukan
sebagai sebuah rahasia dengan beberapa alasan. Untuk itu perlu diperhatikan upaya pencegahan
kecelakaan kapal dengan memperoleh masukan dari berbagai pihak antara lain akademisi, para ahli
analisis kecelakaan dan pertolongan.

Untuk mencapai tujuan keselamatan, di perlukan upaya sebagai berikut:


(1) menyediakan praktek yang aman dalam operasional kapal dan lingkungan kerja,
(2) membangun perlindungan terhadap semua resiko yang di identifkasi,
(3) meningkatkan keterampilan manajemen keselamatan personal darat dan Onboard/ di kapal.

Setiap perusahaan sangatlah penting untuk mengembangkan, menerapkan dan mempertahankan


Sistem Manajemen Keselamatan yang meliputi:
(1) kebijakan keselamatan dan perlindungan lingkungan,
(2) prosedur pelaporan kecelakaan kapal dan penyimpangan dari ketentuan kode,
(3) petunjuk dan prosedur untuk memastikan keselamatan operasi kapal dan perlindungan lingkungan,
perkerja di atas kapal benar-benar menaati peraturan Internasional maupun perundang-undang Negara
Bendera kapal yang bersangkutan,
(4) menentukan tingkat Otoritas garis komunikasi antar personil darat (DPA) dan Manajemen
Keselamatan Maritim dan Upaya Pencegahan Kecelakaan Kapal ke Titik Nol (Zero Accident) di atas kapal,
(5) prosedur untuk siap dan tanggap dalam keadaan darurat,
(6) prosedur untuk internal Audit dan ditinjau ulang manajemen.

Kecelakaan kapal susah diprediksi dan dapat terjadi dimana saja. Oleh sebab itu untuk menghadapi
musibah di tengah laut sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, Kapal wajib melaksanakan persiapan-
persiapan dan persyaratan sebagai berikut:
(1) mengikuti peraturan International Manajemen code (ISM code),
(2) pengetesan cara operasinya kemudi darurat, (emergency Rudder),
(3) pengecekan beroperasinya GPS (Global Potitioning System),
(4) kek kelaikan sekoci (David) penolong diturunkan dan dinaikan,
(5) cek Jangkar dan rantai jangkar dalam keadaan baik,
(6) persiapan penerimaan Pilot (pandu),dan menurunkan Pilot,
(7) cek smoke detector di anjungan untuk mengantisipasi kebakaran di palka-palka,
(8) Peta-peta mulai dari tempat tolak sampai ketempat tujuan sudah dikoreksi dan up date,
(9) pemeriksaan generator, tes running atau tidak,
(10) pengecek lampu-lampu jalan dan lampu-lampu darurat,
(11) mengetes darurat mesin Induk,
(12) hasil Internal audit dan Manajemen review,
(13) pengopersian Oil Water sparator (OWS),
(14) menengecek tutup palka dan peralatan bongkar muat juga alat elektronik.

Sebaiknya pemerintah aktif berpartisipasi dan bekerja sama dengan berbagai asosiasi, akademisi serta
pusat penelitian kecelakaan kapal kemudian membentuk forum penyelidikan kecelakaan di laut sendiri
yang dapat menyusun berbagai aturan kebijakan. Di samping itu diperlukan pelatihan sumber daya
pelaut yang di laksanakan secara bersungguh-sungguh dan bertanggungjawab untuk anak buah kapal
(ABK), perwira kapal (officer and crew), seperti pelatihan BST (Basic Standard Trainning). Keterampilan
dan keahlian tersebut merupakan dasar sertifikat yang harus di miliki baik Nahkoda, Perwira, dan anak
buah kapal.

Penjaga Laut Dan Pantai (Sea And Coast Guard) dalam melaksanakan fungsi penjagaan dan penegakan
peraturan perundang-undangan di laut dan pantai sebagaimana dimaksud Pasal 276 ayat (1) dan
sebagaimana ditentukan Pasal 277 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran:
1. Melaksanakan tugas:
a. Melakukan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran sebagaimana dimaksud Pasal 116
undang-undang ini, meliputi keselamatan dan keamanan angutan di perairan, pelabuhan serta
perlindungan maritim;
b. Melakukan pengawasan pencegahan dan penanggulangan pencemaran di laut;
c. Pengawasan dan penertiban kegiatan lalu lintas kapal;
d. Pengawasan dan penertiban kegitan salvage, pekerjaan bawah air serta eksplorasi dan eksploitasi
kekayaan laut (seperti perikanan dan pertambangan);
e. Pengamanan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran
f. Mendukung pelaksanaan kegiatan pencarian dan pertolongan jiwa di laut.
2. Penjaga Laut Dan Pantai dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud Pasal 276 ayat (1)
sebagaimana ditentukan Pasal 277 ayat (2) melaksanakan koordinasi untuk:
a. Merumuskan dan menetapkan kebijakan umum penegakan hukum di laut;
b. Menyususn kebijakan dan standar prosedur operasi penegakan hukum di laut secara terpadu;
c. Kegiatan penjagaan, pengawasan, pencegahan dan penindakan pelanggaran hukum serta
pengamanan pelayaran dan pengamanan aktifitas masyarakat serta pemerintah di wilayah perairan
Indonesia
d. Memberikan dukungan tehnis administrasi di bidang penegakan hokum di laut secara terpadu.

Daftar Pustaka

https://www.slideshare.net/DhamarPamilih/isbn9786028741071

https://www.kamuspelaut.com/2019/06/mengenal-perwira-deck-dan-tugasnya.html

http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/t!
@file_artikel_abstrak/Isi_Artikel_542090245427.pdf