Anda di halaman 1dari 25

Bab 5

ANTENA ARRAY
POKOK BAHASAN:
ü Pengenalan antena array
ü Prinsip dasar antena array
ü Antena array dengan distribusi fasa serba-sama
ü Electronic scanning menggunakan array
ü Pencatuan array

TUJUAN BELAJAR:

Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:


ü Menjelaskan prinsip dasar antena array dan aplikasinya pada beberapa sistem
komunikasi.
ü Menurunkan secara matematis faktor array pada susunan array linier.
ü Mencari parameter-parameter antena array; jumlah elemen, pencatuan amplitudo
dan beda fasa relatif antar elemen, untuk mengahasilkan sintesa pola yang
diinginkan.
ü Menjelaskan prinsip kerja sistem electronic beam scanning dengan mengguna -
kan teknik antenna array.

5.1 PENGENALAN ANTENA ARRAY


Sistem siaran AM bekerja pada frekuensi 535-1605 KHz. Pada dasarnya , antena
yang digunakan adalah dipole vertikal sepanjang menara, dengan keketinggian antara
λ/6 sampai 5λ/8, bergantung pada karakteristik sistem operasi yang diinginkan dan
pertimbangan-pertimbangan lain yang diperlukan. Ketinggian fisiknya bervariasi antara

61
Bab 5 : Antena Array 62

46 m (150 kaki) sampai 274 m (900 kaki). Jika kita mengacuh pada panjang gelombang
frekuensi AM 1.000 KHz, maka ketinggiannya kira -kira 300 m. Karena medan radiasi
dari dipole tunggal pada bidang horizontal adalah serba-sama , maka dibutuhkan lebih
dari satu antena untuk mengatur pola antena horizontal sepanjang arah yang diinginkan
(misalkan diarahkan ke daerah perkotaan) dan untuk meminimumkan daya radiasi ke
daerah yang jarang penduduknya atau daerah operasi yang sama frekuensinya, untuk
menghindari interferensi yang tidak diinginkan. Untuk mencapai maksud tersebut,
perlu dioperasikan dua atau lebih antena yang dioperasikan secara bersama-sama.
Kombinasi antena -antena yang demikian ini disebut dengan antena array.
Ante na array banyak diaplikasikan secara luas pada sejumlah sistem
komunikasi, seperti sistem penyiaran (broadcast), komunikasi satelit dan sistem radar.
Dengan antena array, seorang perancang akan mudah menciptakan sistem antena yang
menghasilkan direktivitas yang tinggi, beamwidth yang sempit, side lobe yang rendah,
beam yang mudah diatur dengan pola antena yang tajam.
Dalam aplikasinya, sebagian besar antena array menggunakan elemen yang
sama; seperti antena dipole, antena celah, dan antena horn atau antena parabola, yang
dicatu dengan arus atau distribusi medan yang sama. Elemen-elemen antena array
biasanya diatur dalam konfigurasi yang bervariasi, seperti konfigurasi satu dimensi,
dimana tiap-tiap elemen disusun sepanjang garis lurus, atau konfigurasi kisi-kisi dua
dimensi, sehingga elemen membentuk jaringan persegi. Bentuk pola radiasi medan jauh
yang dihasilkan dari konfigurasi array tersebut, dapat dilakukan dengan mengontrol
amplitudo relatif dari elemen array. Cara lain adalah dengan menggunakan penggeser
fasa (phase shifter) antar elemen antena array, sehingga pola radiasi yang dihasilkan
dapat diatur secara elektronik.

5.2 PRINSIP DASAR ANTENA ARRAY

Pada bagian sebelumnya, telah dikenalkan tentang antena arary dan


penggunaaannya yang luas dalam beberapa sistem komunikasi. Pada bagian ini, akan
kita pelajari prinsip dasar teori array untuk mendesain pembentukan pola antena dan
mengatur pancaran utama (main beam) yang dihasilkan. Pada pembahasan ini,
Bab 5 : Antena Array 63

konfigurasi array dibatasi hanya array lin ier satu dimensi, dengan penempatan elemen
satu dengan elemen yang lain diatur secara lurus.
Kita asumsikan suatu antena array yang disusun secara linier N elemen yang
yang sama terletak sepanjang sumbu-z, seperti ditunjukkan pada Gambar 5-1. Elemen-
elemen tersebut dicatu dengan osilator yang sama dan didistribusikan melalui cabang-
cabang jaringan. Pada tiap cabang, sebuah attenuator atau amplifier dan penggeser fasa
yang dipasaing seri, untuk mengontrol amplitudo dan fasa relatif sinyal yang
diumpankan ke elemen antena pada cabang tersebut.
Pada daerah medan jauh dari elemen radiasi, dalam bentuk fasor intensitas
~
medan listrik Ee ( R ,θ ,φ ) ditunjukka n sebagai hasil dari dua fungsi, faktor propagasi
~
dari bentuk bola e− jkR R , yang harganya tergantung dari harga jarak (R) dan f e (?,ø)
yang harganya berbanding langsung terhadap medan listrik yang dihasilkan oleh elemen
array. Untuk satu elemen antena, medan listrik radiasi yang dihasilkan dirumuskan
sebagai:

~ e− jkR ~
Ee ( R ,θ ,φ ) = fe (θ ,φ ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . (3.1 )
R

Dan hubungannnya kerapatan daya S e adalah:


1 ~ 2
Se ( R,θ ,φ ) = Ee ( R,θ ,φ )
2η0

1 ~ 2
= f e (θ ,φ ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (3. 2)
2η 0R 2

Dengan meninjau elemen pada array ditunjukkan pada Gambar 5-1(b), medan jauh yang
dihasilkan oleh elemen i pada jarak R i , pada titik observasi Q dapat dinyatakan dengan:

~ e− jk Ri ~
Ei (Ri ,θ ,φ ) = Ai fe (θ ,φ ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.3)
Ri

dimana Ai = ai e j ψ i adalah koefisien pencatu kompleks (complex feeding coefficient),


~
yang menggambarkan eksitasi amplitudo ai dan fasa ψ i yang membangkitkan Ei ,

relatif terhadap eksitasi elemen referensi.


Bab 5 : Antena Array 64

(a) Elemen-elemen array yang dilengkapi dengan


control amplitude dan fasa

(b) Geometri array relatif terhadap titik


pengamatan Q

Gambar 5-1: Konfigurasi dan geometri dari array linier

Pada kenyataannya, eksitasi dari salah satu elemen pertama atau tengah array
digunakan sebagai referensi. Sebagai catatan, harga R i dan A i mungkin berbeda untuk
~
elemen yang berbeda pada susunan array, tetapi f e (θ ,φ ) sama pada semua elemen

jika dijumlahkan dan akhirnya menunjukkan pola yang sama.


Medan total pada titik observasi Q (R 0,θ,ø) merupakan penjumlahan dari medan
dari N elemen:
N −1
~
E ( R0,θ ,φ ) = ∑ E~i(Ri,θ ,φ )
i=0
Bab 5 : Antena Array 65

 N −1 e− jkRi  ~
= 
 ∑
 i =0
Ai
Ri 
 fe(θ ,φ ) . . . . . . . . . . . . . . . . (5.4)

Dimana R 0 menunjukkan jarak dari titik Q ke pusat sistem koordinat, yang dipilih
sebagai lokasi elemen ke-0. Untuk memenuhi kondisi medan-jauh yang diberikan oleh
Pers. (4.24) bab yang lalu, jika sebuah panjang array l = (N -1)d, dimana d merupakan
jarak antar elemen, maka jarak R0 harus cukup besar dan meme nuhi syarat:

2 l 2 2( N − 1)2 d 2
R0 ≥ = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.5)
λ λ
Kondisi ini, mengijinkan kita untuk mengabaikan perbedaan jarak dari titik Q ke tiap
elemen array, pada saat kita menentukan magnitudo dari medan radiasi, dengan
mengatur Ri = R0 sesuai dengan Pers. (5.4) untuk semua i. Sedangkan untuk bagian fasa
pada faktor propagasi, kita dapat menggunakan pendekatan sinar pararel sebagai
berikut:

Ri ≅ R0 − zi cos θ = R0 − id cos θ . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.6)

Dimana zi = id adalah jarak antara elemen i dan eleme n ke-0 (Gambar 5-2). Dengan
menggunakan dua pendekatan pada Pers. (5.4) akan diperoleh:

Gambar 5-2: Pengamatan paralel pada analisa array


Bab 5 : Antena Array 66

N −1

∑A e
~  e jkR0 
E ( R0,θ ,φ ) = fe (θ ,φ ) 
~ × jikd cosθ
. . . . . . . . . . . . . . (5.7)
 R0  i
  i =0

dan kerapatan daya antena array diperoleh dengan menggunakan Pers.(5.2) dan
dipeperoleh berikut:
1 ~ 2
S (R0 ,θ ,φ ) = E ( R0,θ ,φ
2η 0
2
N −1
1 ~
∑A e
2 jikd cosθ
= f e (θ ,φ ) i
2η0 R02
i=0

2
N −1
= S e ( R0,θ ,φ ) ∑A e
i=0
i
jikd cosθ
. . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.8)

Persamaan (5.8) di atas mengandung hasil dari dua faktor. Faktor pertama, Se ( R0 ,θ , φ ) ,

yaitu kerapatan daya energi radiasi yang dihasilkan oleh elemen individu. Dan faktor
kedua umumnya disebut faktor array (array factor), yang merupakan fungsi dari posisi
pada masing-masing elemen array dan koefisien pencatunnya, dan bukan merupakan
fungsi dari bentuk khusus dari radiator yang digunakan. Faktor array ini menyatakan
intensitas radiasi medan jauh dari array sebanyak N elemen, dengan elemen berupa
radiator isotropis. Dengan demikian, faktor array dari array N e lemen dapat dinyatakan
dengan:

N −1 2

Fa (θ ) =
∑A e
i =0
i
jikd cos θ
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.9)

Sedangkan, kerapatan daya dari antena array dinyatakan dengan:

S ( R0 ,θ,φ ) = S e (R 0 ,θ , φ ) Fa (θ ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.10)

Persamaan ini disebut prinsip perkalian pola (pattern multiplication). Prinsip ini akan
digunakan untuk mencari kerapatan daya pada medan jauh dengan cara:
(1) Mencari pola daya pada medan jauh dari elemen array yang diasumsikan dengan
radiator isotropis, sehinga dihasilkan faktor array Fa (θ ) .
Bab 5 : Antena Array 67

(2) Mengalikan hasilnya dengan kerapatan daya dari elemen tunggal (yang seharusnya
sama untuk semua elemen), S e ( R0 ,θ , φ ) .

Koefisien pencatu Ai , pada umumnya berbentuk kompleks, yang terdiri dari


faktor amplitudo a i dan faktor fasa ψ i :

Ai = ai e j ψ i . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.11)

Dengan memasukkan Pers (5.11) ke dalam (5.9), diperoleh:


2
N −1
Fa (θ ) = ∑a e
i =0
i
jψ i
e jikd cosθ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.12)

Dengan demikian, faktor array ditentukan oleh dua fungsi input, yaitu: distribusi
amplitudo array, dinyatakan sebagai ai dan distribusi fasa array dinyatakan sebagai ψ i .
Distribusi amplitudo mengontrol bentuk pola radiasi array, sementara itu distribusi fasa
dapat digunakan untuk menentukan arahnya.

Contoh
Contoh 5 -1:
5-1: Array dengan Dua Dipole Vertikal

Stasiun radio AM menggunakan dua dipole setengah gelombang yang diletakkan secara
vertikal dengan jarak λ /2, seperti ditunjukkan pada Gambar 5-3(a). Vektor dari lokasi
dipole pertama ke lokasi dipole kedua mengarah ke timur. Dua dipole tersebut dicatu
dengan eksitasi amplitudo yang sama, dan dipole sebelah timur dicatu dengan
pergeseran fasa relatif − π / 2 terhadap dipole satunya. Tentukan dan plot pola antena
array tersebut dalam bidang horizontal.

(a) Array dipole (b) Bidang observasi (c) Pola bidang horisontal

Gambar 5-3. Dua dipole setengah gelombang array (contoh 2-1)


Bab 5 : Antena Array 68

Penyesaian: Faktor array ditunjukkan dengan Pers.(5.12), digunakan untuk radiator


array yang disusun sepanjang sumbu-z. Agar sistem koordinat yang digunakan sama ,
kita memilih arah timur menjadi sumbu-z seperti ditunjukkan Gambar 5-3(b), dan kita
menempatkan dipole pertama pada z = −λ / 4 dan dipole kedua pada z = λ / 4 . Dipole
setengah gelombang beradiasi secara serba-sama pada bidang yang bidang tegak lurus
pada sumbunya, dalam hal ini merupakan bidang horizontal. Oleh karena itu, Se = S0

untuk semua sudut θ dalam Gambar 5.3(b), dimana S0 adalah harga maksimum dari
kerapatan daya radiasi oleh masing-masing dipole tersebut. Sehingga, kerapatan daya
radiasi yang disebabkan oleh dua dipole array tersebut adalah:

S (R ,θ ) = S0 Fa (θ )
Untuk dua elemen yang dipisahkan oleh d = λ / 2 dan dibangkitkan dengan amplitudo
yang sama (a0 = a1 = 1) , serta sudut fasa sebesar ψ 0 = 0 dan ψ1 = −π / 2 , maka Pers.
(5.12) menjadi:

1 2

Fa (θ ) =
∑a e
i=0
i
jψ i
e jikd cosθ

2
− jπ 2
= 1+ e e j (2π / λ ) (λ / 2) cosθ

2
= 1 + e j (π cosθ −π / 2

2
Fungsi dari bentuk 1 + e jx dapat diturunkan dengan memfaktorkan e jx / 2 dari dua

persamaan:
2 2
1 + e jx = e jx / 2 ( e− jx / 2 + e jx / 2 )

2 2
= e jx / 2 e− jx / 2 + e jx / 2

2
jx / 2 2 e − jx / 2 + e jx / 2
= e 2
2
Bab 5 : Antena Array 69

Nilai absolut dari e jx / 2 sama dengan 1, dan kita dapat mengenal fungsi dalam kurung
sebagai cos(x/2). Oleh karena itu:
2 x
1 + e jx = 4 cos 2  
2
Dengan rumusan di atas kita dapatkan nilai Fa (θ )

π π
Fa (θ ) = 4cos 2  cos θ − 
2 4
Kerapatan daya teradiasi oleh array adalah:
π π
S ( R ,θ ) = S 0 Fa (θ ) = 4 S 0 cos 2  cos θ − 
2 4

Fungsi di atas memiliki nilai maksimum S max = 4S 0 dan didapatkan ketika fungsi
kosinus sama dengan nol, sehingga:
π π
cos θ − = 0
2 4
Penyelsaiannya menjadi θ = 60 o . Ketika menormalisasi S ( R ,θ ) dengan harga
maksimum, kita dapatkan intensitas radiasi ternomalisasi:
S ( R,θ ) π π
F (θ ) = = cos 2  cos θ − 
S max 2 4
Pola dari F (θ ) tersebut, ditunjukkan pada Gambar 5-3(c).

Contoh
Contoh9.7
5-2: Sintesa Pola

Pada Contoh 5-1 sebelumnya, diketahui paramater array a0, a1, ψ 0 , ψ 1 dan d, dan kita
disuruh mencari pola dari dipole array dua elemen tersebut. Pada contoh ini, kita
menggunakan proses kebalikan. Kita dapat menentukan pola yang diinginkan, dan
kemudian disuruh mencari paramater array yang me nghasilkan bentuk pola tersebut.
Dengan menggunakan asumsi dua dipole vertikal seperti pada Gambar 5-3(b), tentukan
parameter array sedemikan rupa, sehingga menghasilkan pola radiasi maksimum ke arah
timur dan barat, dan tidak ada radiasi ke arah utara dan selatan.
Bab 5 : Antena Array 70

Penyelesaian: Dari Contoh 5-1, diketahui bahwa pengamatan radiasi array pada pada
bidang y-z dinyatakan dalam faktor array Fa (θ ) , yang pembentukannya tergantung pada

tiga parameter; yaitu: perbandingan amplitude a1 / a0 , perbedaan fasa ψ 1 − ψ 0 , dan

jarak (d) dan diilustrasikan pada Gambar 5-4(a). Untuk memudahkan analisa kita ,
ditentukan a0 = 1 dan ψ 0 = 0 . Sesuai dengan P ers. (5.9), dinyatakan:
2
1
Fa (θ ) = ∑a e
i=0
i
jψ i
e jikd cosθ

2
= 1 + ai e jψ i e j ( 2πd / λ cosθ

Dari contoh di atas, kita tetapkan bahwa syarat yang dibutuhkan adalah Fa = 0 ketika

θ = 90 o (arah utara dan selatan seperti pada Gambar 5-4(a)). Untuk pengamatan pada
sumbu-y jarak R0 dan R1 adalah sama seperti ditunjukkan pada Gambar 5-4(a), yang

berarti bahwa fasa propagasi berhubungan dengan waktu perjalanan gelombang yang
teradiasi oleh dua dipole adalah sama. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kondisi
stabil kita tentukan a1 = a0 dan ψ1 = ± π . Dalam kondisi ini, sinyal yang diradiasi oleh
dua dipole akan mempunyai amplitudo yang sama dan fasa berkebalikan sehingga
disebut inteferensi destruktif. Kesimpulan ini dapat dipastikan dengan mengevaluasi
faktor array untuk θ = 90 0 , dengan a1 = a0 = 1 dan ψ 1 = ± π .
2
Fa (θ = 90 o ) = 1 + 1 e± jπ = 1−1 = 0

(a) (b)

Gambar 5-4: (a) Dua dipole vertikal terpisah pada jarak d ;


(b) bentuk pola ternormalisasi pada bidang y-z
Bab 5 : Antena Array 71

Dua nilai dari ψ 1 , π dan − π membantu penyelesaian untuk mencari jarak d, saat kita

menetapkan bahwa spesifikasi dari pola radiasi array harus maksimum pada arah timur,

yaitu pada θ = 0o . Untuk ψ 1 = −π dan faktor array pada θ = 0o adalah:


2
Fa (θ = 0) = 1 + e− jπ + e j 2πd / λ

2
= 1 + e j (− π + 2πd / λ )

Agar Fa (θ = 0 ) maksimum, dibutuhkan sudut fasa dari batasan kedua sama dengan nol

atau kelipatan 2π .
2πd
−π + = 2n π
λ
λ
atau d = (2 n + 1) , n = 0, 1, 2, . . .
2
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dua dipole array yang dimaksud
mempunyai spesifikasi: a 0 = a1 , ψ 1 − ψ 0 = −π dan d = (2 n + 1) λ / 2 .

Untuk d = λ / 2 , faktor array pada θ dinyatakan dengan:


2
Fa (θ ) = 1 + e− jπ e jπ cosθ

2
= 1 − e j π cosθ

2
− j (π / 2 ) cos θ
 e j (π / 2) cosθ − e− j (π / 2) cosθ 
= 2 je  
 2j 

π 
= 4 sin 2  cos θ  .
2 
Faktor array ini mempunyai nilai maksimum 4, dimana level maksimum didapat dari
dua elemen array dengan amplitudo = 1 (unity ). Nilai Fa (θ ) maksimum pada arah

θ = 0 (arah timur) dan θ = 180 o (arah barat) seperti ditunjukkan pada Gambar 3-4(b).
Bab 5 : Antena Array 72

5.3 ARRAY N –ELEMEN DISTRIBUSI FASA SERBA-SAMA


Kita asumsikan suatu array dengan jumlah N-elemen, dengan jarak antar elemen
d dan eksitasi fasa pada semua elemen sama; dalam hal ini ψ i = ψ0 (i = 1, 2, …, N-
1). Array mempunyai fasa yang sama demikian ini, sering kali disebut sebagai array
broadside , karena pancaran utama (main beam) dari pola array faktornya , mempunyai
arah broadside dengan sumbu array. Berdasarkan Pers.(5.12) , array faktor dinyatakan
dengan:
2
N −1
Fa (θ ) = e jψ 0 ∑a e
i=0
i
jikd cosθ

2
N −1

∑ae
2
jψ 0 jikd cos θ
= e i
i= 0

N −1 2

=
∑a e
i =0
i
jikd cos θ
. . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.13)

Beda fasa antara medan radiasi oleh elemen yang berdekatan adalah:

2π d
γ = kd cos θ = cos θ . . . . . . . . . . . . . . . . . .(5.14)
λ

Dengan pernyataan sebagai fungsi γ , Pers. (5.14) dapat dinyatakan dengan


2
N −1
Fa (γ ) = ∑a e
i=0
i
ji γ
(fasa serba -sama) . . . . . . . . . . . . . (5.15)

Untuk distribusi amplitudo serba sama dengan a i = 1 (i = 1,2,…, N -1), maka

faktor array Fa (γ ) dapat dijabarkan berikut:

[
Fa (γ ) = 1 + e jγ + e j 2γ + ⋅ ⋅ ⋅ + e j (N −1)γ ] 2
. . . . . . . . . . . . . (5.16)

Bentuk deret geometri di atas dapat dinyatakan lebih sederhana dengan menerapkan
prosedur berikut ini. Pertama, kita definisikan:
Bab 5 : Antena Array 73

Fa (γ ) = f a (γ ) , .
2
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.17)

dengan:

[
f a (γ ) = 1 + e j γ + e j 2γ + ⋅ ⋅ ⋅ + e j (N −1)γ ] . . . . . . . . . . . . . . . . (5.18)

Selanjutnya, dengan mengalikan f a (γ ) dengan e j γ diperoleh:

[
f a (γ ) e j γ = e jγ + e j 2γ + ⋅ ⋅ ⋅ + e jNγ ] . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.19)
Hasil pengurangan Pers. (5.19) dan (5.18), menghasilkan:

f a (γ ) (1 − e j γ ) = 1 − e jN γ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.20)

1 − e jN γ
Atau: fa (γ ) =
1 − e jγ
e jN γ 2
e− jN γ 2
− e jN γ 2
=
e jγ 2
e − jγ 2
− e jγ 2

sin (N γ 2)
= e j( N −1)γ 2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.21)
sin (γ 2)
Setelah mengalikan fa(γ) dengan konjuget komplek, diperleh:

sin 2 ( N γ 2)
Fa (γ ) = (amplitudo dan fasa . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.22)
sin (γ 2 )
2 serba-sama)

Harga maksimum dari F a( γ) diperoleh pada γ = 0 (atau θ = π/2) dan sama dengan N2.
Hal ini mudah untuk memperolehnya dengan mengevaluasi Pers. (5.17) untuk γ = 0.
Dengan demikian, faktor array normalisasi dapat diperoleh sebagai berikut:

Fa (γ ) sin 2 (Nγ 2)
F an (γ ) = = 2 2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.23a)
Fa max N sin (γ 2)

 Nπ d 
sin 2  cos θ 
atau: Fan (θ ) =  λ  . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.23b)
 π d 
N 2 sin 2  cos θ 
 λ 
Gambar 5-5 menunjukkan faktor array ternormalisasi array linier F an (γ ) dengan

eksitasi amplitudo dan fasa serba-sama, dan d = λ/2 untuk jumlah elemen (N) yang
bervasiasi, yang tergambar dalam koordinat rectangular. Beberapa hal yang dapat
Bab 5 : Antena Array 74

diperhatikan pada gambar tersebut berkaitan dengan variasi jumlah elemen pada array
adalah :
(1) Dengan meningkatnya jumlah elemen N, akan mempersempit pancaran utama
(main beam) atau main lobe.
(2) Meningkatnya N, juga menambah jumlah lobe samping (side lobe) dalam satu
peiode dari fungsi F an (γ ) . Jumlah keseluruhan lobe (satu main lobe dan sejumlah

side lobe) dalam satu periode adalah sejumlah N-1. Sehingga ada N-2 side lobe dan
satu main lobe dalam setiap periodenya.
(3) Lobe minor mempunyai lebar 2π /N sedangkan untuk lobe utama dan grating lobe
mempunyai lebar 2 kali lipatnya.

N=2
N=3
N=4
N=5
N=10
Fan(γ)

γ
Gambar 5-5: Faktor array ternormalisasi dari array linier dengan
eksitasi amplitudo dan fasa serba-sama, d = λ/2
untuk jumlah elemen (N) yang bervasiasi

(4) Puncak dari lobe samping turun sebanding dengan meningkatnya N. Ukuran dari
puncak lobe samping ditentukan dengan side lobe level (SLL).

harga maksimum lobe samping terbesar


SLL =
harga maksimum lobe utama

(5) Fungsi F an (γ ) simetri pada ψ = ± 180o.


Bab 5 : Antena Array 75

Contoh 5 -3: Array Multiple -Beam


Carilah rumusan dari faktor array untuk dua elemen array dengan eksitas i sama dan
terpisah pada jarak d = 7λ/2, kemudian gambarlah pola dari array tersebut.

Penyelesaian: Faktor array untuk dua elemen array (N = 2) dengan eksitasi serba -sama
(a 0 = a 1 = 1) dinyatakan dengan:
2
N −1
Fa (γ ) = ∑a e
i =0
i
jiγ

= 1 + e jγ
2
= e jγ 2
(e − jγ 2
+ e jγ )
2 2

2 2
= e jγ 2
e− j γ 2
+ e jγ 2
= 4 cos 2 (γ 2 ),

dimana: γ = (2πd λ ) cosθ . Pola array ternormalisasi ditunjukkan pada Gambar 5-6,
terdiri dari tujuh beam, semua mempunyai besar yang sama, tetapi lebar sudut tidak
sama. Beam-beam tersebut terletak antara θ = 0 dan θ = π sama dengan jarak antara
elemen array d, yang diukur dengan unit λ /2.

Gambar 5-6: Pola array ternormalisasi dari dua elemen array dengan
jarak d = 7λ/2
Bab 5 : Antena Array 76

5.4 “ELECTRONIC SCANNING” MENGGUNAKAN ARRAY


Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mempelajari tentang fasa array serba -
sama, dimana koefisien pencatu fasa yang diberikan pada semua elemen array; ? 0 ke
? N-1 semuanya sama. Pada bagian ini, kita membahas tentang delay fasa antara elemen
yang berdekatan, sebagai alat untuk mengatur pola pancar secara elektronik (electronic
steering) dari arah broadside ? = 90o ke segala sudut ?0 yang diinginkan. Metode ini
digunakan untuk sebagai metode pengaturan arah beam secara elektronik, tanpa
menggubah posisi antena array secara fisik atau mekanik.
Electronic steering diperoleh dengan pe nerapan fasa delay linier secara progresif
pada elemen satu terhadap elemen yang lain, seperti ditunjukkan pada Gambar 5-7.

Gambar 5-7: Aplikasi fasa array linier

Besarnya fasa relatif elemen ke-0 terhadap elemen ke-i dinyatakan dengan:
ψ i = −iδ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.24)
dimana d adalah kenaikan fasa delay antara elemen-elemen yang berdekatan. Dengan
mesubstitusikan Pers. (5. 24) ke (5.12) diperleh:
2
N −1
Fa (θ ) =
∑a e
i=0
i
− jiδ
e jikd cosθ
Bab 5 : Antena Array 77
2
N −1
= ∑a e (
i =0
i
ji kd cosθ −δ )

N −1 2

=
∑a e
i=0
i
jiγ '
≅ Fa (γ ') . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.25)

dimana:
γ ' = kd cos θ0 − δ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.26)

Untuk memudahkan pembahasan, kita tentukan pergeseran fasa d sebagai fungsi sudut
?0 , yang disebut sebagai sudut sapu (scan angle), sebagai berikut:
d = kd cos ? 0 . . . . . . . . . . . . . . . . . .(5.27)

Sehingga pernyataan ?’ menjadi:

γ ' = kd (cos θ − cos θ 0 ) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(5. 28)

Faktor array yang dinyatakan pada Pers. (5.25), mempunyai bentuk fungsional sama
seperti faktor array yang dikembangkan sebelumnya untuk masalah array fasa serba -
sama, hanya pernyataan ? digantikan oleh ?’. Untuk distribusi amplitudo yang simetri
terhadap pusat array, faktor array Fa (γ ' ) akan maksimum saat ?’ = 0. Jika fasa serba -

sama (d = 0), maka arah ?0 = 90o , dan array yang demikian ini disebut dengan array
broadside. Menurut Pers.(5. 28), dalam kasus yang lebih umum tentang fasa array linier,
?’= 0 , sehingga maka ? = ?0. Dengan demikian, untuk penerapan fasa array linier, pola
array akan bergeser sepanjang sumbu cos ? dengan jumlah cos ?0 , dan arah radiasi
maksimum dapat diubah dari arah broadside (? = 900) ke arah end-fire ? = 0o. Untuk
mengubah pancaran ke arah end-fire (? = 0o), dengan memberi pergeseran fasa d sama
dengan kd radian.
Bab 5 : Antena Array 78

Contoh 5 -4: Eksitasi Amplitudo Serba-sama

Diasumsikan array N-elemen yang dicatu sengan distribusi amplitudo secara serba -
sama. Faktor array ternormalisasi diberikan pada Pers.(5.23). Dengan menggantikan ?
dengan ?’, faktor array ternormalisasi yang dinyatakan dengan:

sin 2 ( Nγ ' 2 )
Fan (γ ') = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5. 29)
N 2 sin 2 (γ ' 2 )
Dengan γ ' = kd (cos θ − cos θ0 ) . Pernyataan yang diberikan pada P ers. (5.29)
sekarang, merupakan faktor array yang dicatu dengan amplitudo sama ( a i = 1, untuk i
= 0, 1, . . . , N -1) dan kenaikan fasa relatif antar elemen ( ? i = -id ). Gambarlah faktor
array untuk N =10 dan d =?/2, agar pancaran utama ?0 = 0o , 45o dan 90o , serta amati
tentang lebar sudut setengah daya.

Penyelesaian: U ntuk N =10 dan d =?/2, gambar dari main lobe dari F a(?) ditunjukkan
pada Gambar 5-8 untuk ?0 = 0o, 45o dan 90o. K ita lihat bahwa lebar sudut setengah daya
(half-power beamwidth) meningkat se iring dengan pancaran yang diatur dari arah
broadside ke arah end-fire.

Gambar 5-8: Hasil penyelesaian contoh 5-4


Bab 5 : Antena Array 79

5.5 PENCATUAN ARRAY

Pada pembahasan sebelumnya, telah kita pelajari tentang cara mengarahkan


pancatuan antena ke arah sudut tertentu; ?0 , dengan dua kondisi: (1) distribusi fasa harus
linier pada elemen-elemen array, dan (2) magnitudo dari kenaikan fasa delay d harus
memenuhi Pers.(5.27); d = kd cos ?0. Kombinasi dari dua kondisi ini, menghasilkan
translasi sudut dari ? = 90o (broadside) ke sudut tertentu ? = ?0. Hal ini dapat dilakukan
dengan memberikan pencatuan masing-masing elemen secara elektronik, dengan
menggunakan penggeser fasa (phase shifter). Teknik ini dikenal dengan teknik
penyapuan frekuensi (frequency scanning ), yang bisa digunakan untuk mengontrol fasa
dari semua elemen secara serentak.
Gambar 5-9 menunjukkan contoh dari pencatuan array secara sederhana , yang
bekerja menggunakan teknik penyapuan frekuensi. Titik catu dari unit pembegi jalur,
dihubungkan ke elemen radiasi dengan menggunakan saluran transmisi dengan panjang
yang bervariasi, relatif terhadap elemen ke -0. E lemen ke-1, mempunyai panjang l lebih
panjang dari elemen ke-0, elemen ke-2 lebih panjang 2 l dan elemen ke -2 lebih panjang
3 l. Dengan demikian, panjang elemen ke -i adalah:

li = i l + l0 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.30)

dimana l0 adalah panjang elemen ke -0.

Gambar 5-9: Contoh pencatuan array menggunakan


teknik penyapuan frekuensi (frequency scanning)
Bab 5 : Antena Array 80

Perambatan gelombang pada frekuensi f melalui saluran transmisi dengan


− jβ li
panjang li mempunyai faktor fasa e , dimana β = 2π f up adalah konstanta fasa

dari saluran transmisi dan up adalah kecepatan rambat gelombang. Dengan demikian,
kenaikan fasa delay elemen ke-i relatif terhadap elemen ke-0, dinyatakan dengan:

ψ i ( f ) = − β ( li − l0 ) = − f ( li − l0 )
up

2π i
=− fl . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.31)
up

Jika frekuensi referensi f 0, maka kita bisa menentukan peningkatan panjang saluran
transmisi l sebagai berikut:
n0 u p
l= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.32)
f0

dimana n 0 adalah nilai integer tertentu. Dalam masalah ini, fasa delay ? l (f0 ) menjadi:

 f l
ψ 1( f 0 ) = −2π  0  = − 2n0π . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.33)
 up 
 
dan dengan cara yang sama, ψ 2 ( f 0 ) = −4n0 π dan ψ 3 ( f0 ) = −6 n0π . Jadi saat
frekuensi f0 , semua elemen akan mempunyai fasa yang sama (keliparan 2π ) dan array
beradiasi ke arah broadside. Jika frekuensi diubah menjadi f 0 + ?f, pergeseran fasa
yang baru relatif terhadap elemen ke-0 dinyatakan dengan:

2π 2π f0 l  2π l 
ψ 1( f 0 + ∆ f ) = − ( f0 + ∆ f ) l = − −  ∆f
up up  up 
 
 ∆f 
= −2 n0π − 2 n0π  
 f0 
= −2n0π − δ , . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5.34)
dimana d didefinisikan sebagai:
 ∆f 
δ = 2 n0π   . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5. 35)
 f0 
Dengan cara yang sama, diperoleh ψ 2 ( f0 + ∆ f ) = 2ψ 1 , ψ 3 ( f 0 + ∆ f ) = 2ψ 2 . Dengan

mengabaikan faktor 2π serta pengalinya ( karena tidak berpengaruh pada fasa relatif dari
Bab 5 : Antena Array 81

medan yang teradiasi), kita ketahui bahwa kenaikan pergeseran fasa berbanding
langsung dengan bagian deviasi frekuensi ( ∆f f 0 ). Dengan demikian, dalam array N-
elemen, dengan melekukan kontrol deviasi frekuensi ? f, secara tdak langsung akan
mengontrol terhadap nilai d, yang akhirnya akan mengontrol sudut penyapuan
(scanning ) ?0, sesuai dengan Pers. (5.27).
Dengan menyamakan Pers. (5.27) dengan (5. 32), akan diperoleh penyelesaian
cos ? 0 berikut:
2 n0π  ∆f 
cos θ0 =   . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5. 36)
kd  f0 
Sebagaimana frekuensi berubah dari f 0 menjadi f 0 + ?f, maka nilai k = 2π /? = 2π f /c
juga akan berubah. Tetapi jika ∆f f 0 bernilai kecil, kita dapat menganggap k adalah

konstan sama dengan 2π f0/c.

Contoh 5-5: “Steering Electronic”

Rancanglah antena array enam elemen yang pancaran utamanya dapat diarahkan
(steerable ) dengan spesifikasi berikut :
(1) Semua elemen dicatu dengan amplitudo yang sama.
(2) Pada f 0 = 10 GHz, array beradiasi pada arah broadside, dan jarak antar elemen d =
?0 /2, dimana ?0 = c / f0 = 3 cm.
(3) Pola array dapat diarahkan secara elektronik dalam bidang elevasi pada jangkauan
sudut antara ? = 30o sampai ? = 150o.
(4) Antena array dicatu dengan osilator tegangan yang dapat dikontrol secara bervariasi
dalam jangkauan antara 9,5 GHz sampai 10,5 GHz.
(5) Array menggunakan pencatu berjajar seperti Gambar 5-9, dan saluran transmisi
mempunyai kecepatan fasa u p = 0.8 c.
Bab 5 : Antena Array 82

Gambar 5-10: Array enam elemen


yang dapat diatur secara elektronik

Penyelesaian: Aray dapat diarahkan dari ?0 = 30o sampai ?0 = 150 o (seperti Gamba r
5-10). Untuk ?0 = 30o dan k d = (2π λ0 )(λ0 2) = π , dari Pers. (5.36) diperoleh:

1  ∆f 
= 2 n0   .
2  f0 
Diketahui bahwa f0 = 10 GHz dan frekuensi osilator bisa diubah antara ( f 0 – 0,5 GHz )
dan ( f 0 + 0,5 GHz ). Dengan demikian, ∆ f max = 0.5 GHz. Untuk memenuhi Pers.

(5.37), kita perlu memilih n 0 yang tepat, agar ? f dapat mendekati dan tidak melebihi
harga ∆ f max . Dengan P ers.(5.37), nilai n 0 dengan ?f = ∆ f max akan diperoleh:

f0 10 GHz
n0 = = = 5.
4 ∆ f max 4 × 0,5 GHz
Karena n 0 adalah integer, kita tidak perlu merubah harganya dan jika tidak demikian,
kita harus membulatkan harganya ke atas sehingga diperoleh harga integer. Aplikasi
dari Pers.(5. 32) untuk menentukan magnitudo dari penambahan panjang l :
n0 u p 5 × 0,8 × 3 × 10 8
l= = = 0 ,12 m = 12 cm.
f0 1010
Dengan N = 6 dan kd = π , Pers.(5.29) memberikan pernyataan pola array
ternormalisasi sebagai berkut:

sin 2 (3γ ')


Fan (γ ' ) =
36 sin 2 (γ ' 2 )
Dimana, menurut Pers. (5.28),
Bab 5 : Antena Array 83

γ ' = k d (cos θ − cos θ0 ) = π (cos θ − cos θ 0 )


dan dari P ers. (5. 36),

2 n0π  ∆f   f − 10 GHz 
cos θ0 =   = 10  
kd  f0   10 GH z 
Bentuk pola array seperti ditunjukkan dalam Gambar 5-11. Arah pancaran utamanya
adalah ? = ?0. Untuk f = f 0 = 10 GHz, ? 0 = 90o (arah broadside); untuk f = 10,5 GHz
, ?0 = 30o ; dan untuk f = 9,5 GHz, ?0 = 150o. Untuk setiap sudut ? 0 lain a ntara ?0 = 30 o
sampai ?0 = 150o , dapat diperoleh dengan menghitung frekuensi osilator dengan
menggunakan Pers.(5. 38).

Gambar 5-11: Pola array hasil penyelesaian contoh 5-5

SOAL-SOAL :

5.1 Dua elemen array terdiri dari dua antena isotropis terpisah pada jarak d dan terletak
sepanjang sumbu-z. Jika a 0 dan a 1 berturut-turut merupakan pencatuan amplitudo dari
antena pada z = 0 dan z = d , dan jika δ merupakan eksitasi fasa pada antena z = d relatif
terhadap antena yang lain. Carilah faktor array dan gambarlah pola tersebut pada bidang
x-z untuk keadaan berikut:
(a) a 0 = a 1 = 1, δ = π /4 dan d = λ /2
(b) a 0 = 1, a1 = 2, δ = 0 dan d = λ
(c) a 0 = a 1 = 1, δ = -π /2 dan d = λ /2
(d) a 0 = 1, a 1 = 2, δ = π /4 dan d = λ /2
(e) a 0 = 1, a 1 = 2, δ = π /2 dan d = λ /4
Bab 5 : Antena Array 84

5.2 Jika antena pada bagian (a) soal 1 di atas sejajar, vertikal, elemennya merupakan
dipole Herzian dengan sumbu sepanjang arah-x, carilah intensitas radiasi normalisasi
pada bidang x-z dan gambarlah hasilnya.

5.3 Dimisalkan dua antena array dipole pada Gambar 5-4(a). Jika kedua dipole tersebut
dicatu dengan koefisien yang sama ( a 0 = a 1 = 1 dan ψ 1 = ψ 2 = 0), carilah (d /λ )

yang tepat agar pada θ = 45 o faktor array (a) maksimum; (b) null.

5.4 Cari dan gambarlah faktor array ternormalisasi, serta tentukan sudut setengah daya
(half power beamwidth) untuk array linier lima elemen dengan jarak antar elemen 3λ /4,
jika masing-masing elemen mendapatkan pencatuan fasa yang sama dan distribusi
amplitudo serba-sama.

5.5 Tiga elemen isotropis array linier terletak sepanjang sumbu-z mempunyai jarak
antar elemen λ /4, seperti Gambar 5-12. Eksitasi amplitudo elemen di pusat dua kali
dengan bagian atas dan bawahnya, dan fasanya -π /2 untuk elemen bawah dan -π /2
untuk elemen atas relatif terhadap elemen pusat. Carilah faktor array dan gambarlah
pada bidang elevasi.

Gambar 5-12: Gambar untuk soal 5.5

5.6 Delapan elemen array linier dengan jarak antar elemen λ /2 dicatu dengan
amplitudo yang sama. Untuk mengarahkan pancaran utama ke arah 60o terhadap arah
broadside, berapa penambahan fasa delay yang harus diberikan pada elemen-elemen
yang berdekatan ? Juga, carilah rumusan dari faktor array dan gambarlah polanya.
Bab 5 : Antena Array 85

5.7 Array linier tersusun sepanjang sumbu-z, terdiri dari 12 elemen dengan jarak yang
sama; d = λ /2. Berapa pemberian fasa delay antar elemen yang sesuai, agar pancaran
utama mengarah pada arah 30o terhadap arah broadside. Carilah ekspresi dari faktor
array untuk mengarahkan antena tersebut dan gambarlah pola tersebut. Dari gambar
pola tersebut, estimasilah beamwidth-nya.