Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA
(PENETAPAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN
DOSIS TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA EKSKRESI URIN KUMULATIF )

OLEH :
KELOMPOK (3)
GELOMBANG (A2)

1. EFENDI (050218A060)
2. EKA HANDAYANI (050218A061)
3. EKA RAHMAH KHAIRIDA (050218A062)
4. EKA SUPARDINATA (050218A063)
5. EKA ZULHA MARLYANA (050218A064)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
TAHUN 2019
l . JUDUL PRAKTIKUM
Penetapan Parameter Farmakokinetika obat setelah pemberian dosis tunggal
menggunakan data ekskresi urin kumulatif.

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu menghitung parameter farmakokietika obat setelah pemberian
dosis tunggal melalui oral berdasarkan data ekskresi urin kumulatif.

3. DASAR TEORI
3.1 Definisi Farmakokinetika
Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat
dalam tubuh yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya
(ADME). Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian
umunya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai
ditempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa
biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut
dengan proses farmakokinetika (Sanjoyo, 2006).
3.2 Proses Farmakokinetika Obat
a. Absorbsi dan Bioavailabilitas
Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian,
menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan
dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tetapi secara
klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini menyatakan
jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi
(Sanjoyo, 2006).
b. Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi
darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan
oleh sifat fisika dan kimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase
berdasarkan penyebarannya didalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi
segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik
misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua
jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan seperti otot, visera, kulit, dan
jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu
yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah
antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas,
kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi
membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak
larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga
distribusinya terbatas terurama dicairan ekstrasel (Sanjoyo, 2006).
c. Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur
kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses
ini molekul obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut
dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi
melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga
biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada
obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik. Ada obat
yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim
biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih
lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir. Enzim yang
berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya
dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum
endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan
enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama
terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya
ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma (Sanjoyo, 2006)
d. Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk
metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau
metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali
pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang
terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses, yakni
filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubulus proksimal, dan rearbsorpsi
pasif ditubuli proksimal dan distal. Ekskresi obat melalui ginjal menurun
pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal
pemberian diperpanjang. Kadar kreatinin dapat dijadikan patokan dalam
menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat. Ekskresi obat juga
terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam
jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran
efek obat. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan
kadar obat tertentu. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan
logamtoksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik (Sanjoyo, 2006).
3.3 Parameter Farmakokinetik
Parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara matematis
dari model berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh atau metabolitnya
dalam darah, urin atau cairan hayati lainnya. Fungsi dari penetapan
parameter farmakokinetik suatu obat adalah untuk mengkaji kinetika
absorbsi, distribusi dan eliminasi didalam tubuh (Shargel dan Yu, 2005).
Tubuh dianggap sebagai satu kesatuan pada kompartemen satu. Obat masuk
dan secara cepat terdistribusi ke semua bagian lalu obat juga dapat keluar
dari tubuh karena merupakan kompartemen terbuka. Pada kompartemen satu
terbuka tidak menghitung kadar obat yang sebenarnya dalam jaringan, tapi
menganggap bahwa berbagai perubahan kadar obat dalam plasma
mencerminkan perubahan yang sebanding dengan kadar obat dalam jaringan.
Persamaan yang terkait dengan model kompartemen satu adalah:
Keterangan:
Cp= konsentrasi obat dalam plasma pada waktu t
Cop = konsentrasi obat dalam plasma pada t = 0
ke = konstanta kecepatan eliminasi dari kompartemen.
(Shargel et al., 2005)
Kompartemen dua terbuka terdiri dari kompartemen pusat dan perifer,
biasanya kompartemen pusat adalah darah dan perifer adalah jaringan-
jaringan. Distribusi obat dalam darah ke jaringan-jaringan terjadi pada laju
yang berbeda- beda. Persamaan farmakokinetik dua kompartemen setelah
pemberian intravena adalah:

Keterangan:
Cp = konsentrasi obat dalam plasma pada waktu t
A = perpanjangan y-axis pada ekstrapolasi fase distribusi
B = perpanjangan y-axis ekstrapolasi fase eliminasi
A = tetapan laju reaksi untuk fase distribusi
B = tetapan laju reaksi untuk fase eliminasi.(Shargel et al., 2005)
3.4 Perhitungan Parameter Farmakokinetik dari Data Ekskresi Urin
Tetapan laju eleminasi, K, dapat dihitung dari data ekskresi urin. Dalam
perhitungan ini laju ekskresi obat dianggap sebagai orde kesatu. Ke adalah
tetapan laju ekskresi ginjal, dan Du adalah jumlah obat yang diekskresi
dalam urin.
Dari persamaan tersebut, DB disubstitusi dengan DB = DB 0e−Kt
Dengan memakai logaritma natural untuk kedua sisi dari persamaan
tersebut dan kemudian diubah ke logaritma biasa diperoleh:

Dengan menggambarkan terhadap waktu diperoleh suatu garis


lurus, slop = -K/2,3 dan intersep . Untuk pemberian iv cepat, = dosis,
D0. Oleh karena itu jika diketahui, maka tetapan laju ekskresi ginjal (Ke) dapat
diperoleh. Karena K dan Ke dapat ditentukkan dengan metode ini, tetapan laju (K nr)
untuk berbagai rute eliminasi selain eksresi ginjal dapat diperoleh sebagai berikut:

Oleh karena itu eliminasi suatu obat biasanya dipengaruhi oleh ekskresi ginjal
atau metabolisme (biotransformasi), maka:

Karena rute eliminasi utama untuk sebagian besar obat melalui ekskresi ginjal
dan metabolisme (biotransformasi) maka Knr kurang lebih sama dengan km
Laju eksresi obat lewat urin Du/dt tidak dapat ditentukan melalui percobaan
segera setelah pemberian obat. Dalam praktek urin dikumpulkan pada jarak waktu
tertentu dan konsentrasi obat dianalisis. Kemudain laju ekskresi urin rata-rata
dihitung untuk tiap waktu pengumpulan. Harga Du/dt rata-rata digambar pada suatu
skala semilogaritmik terhadap waktu yang merupakan harga tengah (titik tengah)
waktu pengumpulan.

Tetapan laju eliminasi K dari data ekskresi urin dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
Metode lain untuk perhitungan tetapan laju eliminasi K dari data eksresi urin
dengan metode sigma-minus. Metode sigma-minus kadang-kadang lebih
disukai daripada metode sebelumnya, oleh karena fluktuasi data laju eliminasi
diperkecil.
Jumlah obat tidak berubah dalam urin dapat dinyatakan sebagai fungsi
waktu melalui persamaan berikut Du adalah jumlah kumulatif obat tidak
berubah yang diekskresi dalam urin.

Jumlah obat tidak berubah yang akhirnya diekskresi dalam urin dapat
ditentukan dengan membuat waktu t tak terhingga. Jadi diabaikan dan
didapat pernyataan sebagai berikut:

Untuk mendapatkan suatu persamaan linear, persamaan di atas dapat


ditulis dalam bentuk logaritmik:

3.5 Metode Penentuan Parameter Farmakokinetika


Penilaian ketersediaan hayati pada sukeralawan dapat dilakukan dengan
beberapa metode (Donatus, 2008):
1. Metode menggunakan data darah
Data darah dalam farmakokinetik berupa gambaran distribusi darah obat
dalam darah dimana Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat
yang dapat larut, kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan
dengan protein serum. Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat
tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan, tingkat
vasodilasi atau vasokonstriksi lokal, dan kecepatan aliran darah ke sebuah
jaringan.
2. Data urin
Data eksresi obat lewat urine dapat dipakai untuk memperkirakan
bioavailabilitas. Agar dapat diperkirakan yang sahih, obat harus dieksresi
dengan jumlah yang bermakna di dalam urine dan cuplikan urine harus
dikumpulkan secara lengkap.Jumlah kumulatif obat yang dieksresi dalam
urine secara langsung berhubungan dengan jumlah total obat yang
terabsorbsi.
Menurut BPOM tentang pedoman uji bioekivalensi tahun 2005,
pengambilan sampel urin pada kasus tertentu dimaksudkan apabila :
a) Sampel urin hanya digunakan jika kadar obat dalam darah terlalu
kecil untuk dapat dideteksi dan eliminasi obat dalam bentuk utuh
melalui ginjal cukup besar > 40 %);
b) Urin dikumpulkan di tempat studi secara periodik sampai sedikitnya
3 x waktu sampling biasanya 0-2, 4-8, 8-12 dan 1224 jam.
c) Volume urin setiap interval waktu tersebut harus diukur dan
dilaporkan;
d) Dibuat kurva jumlah obat kumulatif yang diekskresi dalam urin
terhadap waktu.
3. Data efek farmakologis
Data efek farmakologis digunakan untuk memonitor efek yang diinginkan
dalam sasaran terapi, maupun efek samping dalam pemakaian suatu obat.
4. Data respon klinis
Data respon klinis berkaitan dengan efek teuraupetik dan efek toksik
suatu obat dalam tubuh yang dipengaruhi berbagai faktor seperti usia,
jenis kelamin, dan kondisi fatofisiologi tubuh.
Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk
penetapan kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim
digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sedian obat yang metode
analisis zat berkhasiatnya telah diketahui cara dan validitasnya
(Rowland,1980).
3.5 Urin
Urin atau air seni maupun air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan
oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses
urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa
dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis
cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin
sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa
melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh
melalui uretra (Wilmar, 2000). Fungsi utama urin adalah untuk membuang
zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. (Wilmar, 2000)
3.6 Vitamin C
Vitamin C adalah Kristal putih yang mudah larut dalam air. Vitamin C yang
disebut juga sebagai asam askorbik merupakan vitamin yang larut dalam air.
Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut,
vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama
apabila terkena panas. Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali, tetapi
cukup stabil dalam larutan asam (Sunita, 2004). Di dalam tubuh, vitamin C
terdapat di dalam darah (khususnya leukosit), korteks anak ginjal, kulit, dan
tulang. Vitamin C akan diserap di saluran cerna melalui transpor aktif
(Sherwood, 2001).
Vitamin C di absorpsi melalui saluran cerna, pada bagian atas usus halus
secara difusi lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Vitamin C
terdistribusi luas dalam jaringan tubuh. Eliminasi vitamin C melalui urin
setelah ekskresi dari ginjal. Urin berbentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya
terjadi apabila kadarnya dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4
mg% (Pakaya, David 2014).
4. ALAT DAN BAHAN
4.1 Alat
 Labu takar
 Pipet volume 1,2,5 ml
 Spektrofotometer & cuvet
 Skalpel / SILET
 Sentrifuge
 Stopwach
 Botol
 Tabung Reaksi
 Masker
 Sarung Tangan
4.2 Bahan
 Tablet Vitamin C 500 mg
 Antikuagulan ( Larutan Kalium oksalat 2% dengan dosis 20 mg Kalium
oksalat/ 10 ml darah)
 Pengendap protein dan pewarna: 8 gr HgCl2, 8 gram, Ferri Nitrat, 24 ml
HCL 1 N aquadest ad 200 ml

5. PROSEDUR KERJA
5.1 Penyiapan Manusia Uji (Probandus)
a. Water loading :
Satu jam sebelum minum obat, probandus terlebih dahulu diberi 400 ml
air, kemudian 200 ml pada saat mium obat dan 4x setiap 1 jam sebanyak
200 ml
b. Sebelum minum obat kandung kencing di kosongkan secara sempurna.
Ambillah urin secukupnya untuk blanko
c. Setiap waktu interval pegambilan cuplikan, volume urin yang
diekskresikan harus dicatat.
d. Jika urin tidak segera dianalisis simpan di lemari es sampai dilakukan
analisis. Untuk keperluan ini urin dapat diberi toluene 0,5 – 1 ml.
e. Jaga jangan sampai ada satu cuplikan urin yang hilang
f. Pengumpulan urin dikerjakan sampai seluruh obat tak berubah praktis
telah diekskeresikan seluruhnya dalam urin ( 7-10 x t1/2 )
5.2 Pembuatan Larutan Baku Vitamin C
5.3 Pemberian Vitamin C dan Pengumpulan Urin
a. Probandus terlebih dahulu puasa selama minimal 6 jam
b. Kosongkan kantong urin probandus
c. Probandus diberi 1 tablet vitamin C dan minum 200 ml air, tiap jam
probandus minum 200 ml air
d. Kantong urin probandus dikosongkan, tiap proses pengeluaran urin dicatat
waktu dan volume
5.4 Analisis Cuplikan Parasetamol dalam Urin
a. Urin probandus dipipet 1 ml, 1 ml urin ditambahkan 4 ml NaOH ad 10 ml
aquadest
b. Analisis dengan spektrofotometer UV Vis
c. Input data kedalam tabel
d. Dihitung parameter farmakokinetik
e. Simpulkan dan laporkan hasil
6 HASIL
6.1 Data kurva baku

Konsentrasi (ή / ml) Asorbansi


10 0,106
20 0,326
30 0,516
40 0,798
50 0,993

6.2 Data sampel urin Vitamin C 500 mg

T (jam) Absorbansi Volume urin (ml)


0,25 0,239 80
2,50 0,257 85
3,25 0,286 75
4,75 0,156 68
5,50 0,342 75
6,80 0,126 95

7. PERHITUNGAN
7.1 Data Kurva Baku Vitamin C 500 Mg
KONSENTRASI ( µg/Ml ) ABSORBANSI
10 0,106
20 0,326
30 0,576
40 0,798
50 0,993
Data Kurva Baku Vitamin C
1.2

1
f(x) = 0.02 x − 0.11
Konsentrasi (μg/ml)

0.8 R² = 1
Absorbansi
0.6
Linear (Absorbansi )
0.4

0.2

0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55
Absorbansi

Dari data kurva baku didapatkan nilai A= -,0114 B= 0,022 dan R= 0,998
serta dapat persamaan Y= -0114 + 0,022X.

7.2 Data Sampel Urin


T (jam) ABSORBANSI VOLUME URIN (ml)
0,25 0,239 80
2,5 0,257 85
3,25 0,286 75
4,75 0,156 68
5,5 0,342 75
6,8 0,126 95
1. perhitungan nilai CP

T0,25 → y = -0,114 + 0,022x T4,75 → y = -0,114 + 0,022x


0,239 = -0,114 + 0,022x 0,156 = -0,114 + 0,022x
x = 16,045 x = 12,273
T2,50 → y = -0,114 + 0,022x T5,50 → y = -0,114 + 0,022x
0,257 = -0,114 + 0,022x 0,342 = -0,114 + 0,022x
x = 16,864 x = 20,727
T3,25 → y = -0,114 + 0,022x T6,80 → y = -0,114 + 0,022x
0,286 = -0,114 + 0,022x 0,126 = -0,114 + 0,022x
x = 18,182 x = 10,909
2. PERHITUNGAN NILAI Du

T0,25 → Du = Cp x Vol T4,75 → Du = Cp x Vol


= 16,045 x 80 = 12,273 x 68
= 1283,6 = 834,564
T2,50 → Du = Cp x Vol T5,50 → Du = Cp x Vol
= 16,864 x 85 = 20,727 x 75
= 1433,44 = 1554,525
T3,25 → Du = Cp x Vol T6,80 → Du = Cp x Vol
= 18,182 x 75 = 10,909 x 95
= 1363,65 = 1036,355

3. PERHITUNGAN NILAI Du Kum


T0,25 → Du Kum = DuKum0 + DuKum1 = 0 + 1283,6 = 1283,6
T2,5 → Du Kum = DuKum1 + DuKum2 = 1283,6 + 1433,33 = 2717,04
T3,25 → Du Kum = DuKum2 + DuKum3 = 2717,04 + 1363,65 = 4080,69
T4,75 → Du Kum = DuKum3 + DuKum4 = 4080,69 + 834,564 = 4915,254
T5,5 → Du Kum = DuKum4 + DuKum5 = 4915,254 + 1554,525 = 6469,779
T6,8 → Du Kum = DuKum5 + DuKum6 = 6469,779 + 1036,355 = 7506,134
Diketahui D~ = 7506,134

4. PERHITUNGAN NILAI D~ - DuKum (a) Log a


D~ – DuKum 0,25 = 7506,134 – 6222,534 = 6222,534 3,794
D~ – DuKum 2,50 = 7506,134 – 2717,04 = 4789,094 3,680
D~ – DuKum 3,25 = 7506,134 – 4080,69 = 3425,444 3,535
D~ – DuKum 4,75 = 7506,134 – 4915,254 = 2590,88 3,413
D~ – DuKum 5,50 = 7506,134 – 6469,779 = 1036,355 3,016
D~ – DuKum 6,80 = 7506,134 - 7506,134 = 0 0
5. PERHITUNGAN ∆T
∆T0,25 = T0,25 – 0 = 0,25 – 0 = 0,25
∆T2,5 = T2,5 – T0,25 = 2,5 – 0,25 = 2,25
∆T3,25 = T3,25 – T2,5 = 3,25 – 2,5 = 0,75
∆T4,75 = T4,75 – T3,25 = 4,75 – 3,25 = 1,50
∆T5,5 = T5,5 – T4,75 = 5,5 – 4,75 = 0,75
∆T6,8 = T6,8 – T5,5 = 6,8 – 5,5 = 1,30

6. PERHITUNGAN Tmid
Tmid 0,25 = T 0,25 + 0/2 = 0,25 + 0 / 2 = 0,125
Tmid 2,5 = T 2,5 + T 0,25/2 = 2,5 + 0,25/2 = 1,375
Tmid 3,25 = T 3,25 + T 2,5/2 = 3,25 + 2,5/2 = 2,875
Tmid 4,75 = T 4,75 + T 3,25/2 = 4,75 + 3,25/2 = 4,0
Tmid 5,5 = T 5,5 + T 4,75/2 = 5,5 + 4,75/2 = 5,125
Tmid 6,8 = T 6,8 + T 5,5/2 = 6,8 + 5,5/2 = 6,15

7. PERHITUNGAN Du/dt
Du/dt 0,25 = 1283,6/0,25 = 5134,4
Du/dt 2,50 = 1433,44/2,5 = 637,084
Du/dt 3,25 = 1363,65/3,25 = 181,812
Du/dt 4,75 = 834,564/4,75 = 556,376
Du/dt 5,5 = 1554,525/5,5 = 2072,7
Du/dt 6,8 = 1036,355/6,8 = 797,196

8. Log Du/dt
T0,25 = 3,170 T4,75 = 2,745
T2,5 = 2,804 T5,5 = 3,316
T3,25 = 3,26 T6,8 = 2,902

Rekapitulasi Data Percobaan dengan Urin Kumulatif

Vol Cp Du~ Log (Du~


T (jam) Absorbansi Du (µg) Du-kum ∆T
(ml) (µ/ml) -Dukum -Dukum)

0,25 0,239 80 16,045 1283,6 1283,6 6222,534 3,794 0,25


2,50 0,257 85 16,864 1433,44 2717,04 4789,094 3,680 2,25

3,25 0,286 75 18,182 1363,65 4080,69 3425,444 3,535 0,15

4,75 0,156 68 12,273 834,564 4915,254 2590,88 3,413 1,50

5,50 0,342 75 20,727 1554,525 6469,779 1036,355 3,016 0,75

6,80 0,126 95 10,909 1036,355 7506,134 0 0 1,30


Metode Perhitungan Parameter Farmakokinetik Pada Pengambilan Urin
1. Metode ARE ( Amount Of Drug Remaining To Be Excreted )
Metode ARE didapatkan dari hubungan T vs Log (Du~ -Dukum)
T (jam) Log (Du~
-Dukum)
0,25 3,794
2,50 3,680
3,25 3,535
4,75 3,413
5,50 3,016
6,80 0
Dicari persamaan regresi linier, lalu di dapatkan data berikut :

A = 4,668 B = -0,459 R = -0,740. Nilai r tidak – mendekati 0,99 artinya garis


yang terbentuk tidak linier. Jadi, dibuat kurva dari data tersebut dan diambil data
yang membentuk garis yang linier.

Didapatkan 3 titik yang membentuk garis lurus, yaitu :

T (jam) Log (Du~


-Dukum) Didapat nilai :
2,50 3,680
3,25 3,535 A = 4,248
5,50 3,016 B = -0,223
R = -0,999
Hubungan T vs Log (Du~ -Dukum)
4
3.5 f(x) = − 0.22 x + 4.25
3 R² = 1
2.5
Log (Du~ -Dukum)
T (jam)

2
Linear (Log (Du~ -Dukum))
1.5
1
0.5
0
2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6
Log (Du~ -Dukum)

Diketahui nilai A = 4,248 B = -0,223 ; R = -0,999


 Perhitungan nilai K1  Perhitungan nilai T1/2
k = -2,303 x b 0,693
T1/2 =
k = -2,303 x (-0,223) k
k = 0,513/jam 0,693
=
0,513
= 1,351/jam

 Perhitungan nilai KE ( kecepatan Ekskresi ) ( Du~ = A )


ke
Du~ = x D0
k
ke
anti log Du~ = x D0
k
ke
anti log 4,248 = x 500.000
0,513

ke
17701,089 = 0,513 x 500. 000

17701,089 x 0,513
Ke = 500.000
= Ke = 0,018 / jam

2. Metode Ekskresi Renal


Hubungan nilai Tmid vs Log Du/dt
Tmid Log Du/dt
0,125 3,710
1,375 2,804
2,875 3,260
4,0 2,745
5,125 3,316
6,15 2,902
Digambarkan kurva hubungan Tmid vs Log Du/dt didapatkan 3 titik yang
membentuk garis lurus, yaitu pada data berikut :
Tmid Log Du/dt
0,125 3,710 A = 3,697
2,875 3,260 B = -0,133
6,150 2,902 R = -0,993

Tmid vs Log Du/dt


4
3.5 f(x) = − 0.13 x + 3.7
3 R² = 0.99
2.5
Log Du/dt
T mid

2
Linear (Log Du/dt)
1.5
1
0.5
0
0 1 2 3 4 5 6 7
Log Du/dt

 Perhitungan nilai K  Perhitungan nilai Ke


K = -2,303 x b Ke x D0 = anti log a
K = -2,303 x (-0,133) anti log a
Ke =
K = 0,306/jam D0
anti log a 3,697
Ke =
500.000
4977,371
Ke =
500.000
Ke = 9,955 x 10-3 / jam

 Perhitungan nilai T1/2 Ke. D 0


 Du~ =
0,693 K
T1/2 =
K 9,955 x 10−3 x 500.000
0,693 =
= 0,306
0,306 Du~ = 16266,34 µg
= 2,265 jam Du~ = 16,266 mg

8. PEMBAHASAN
Vitamin C adalah nutrien yang larut dalam air serta penting untuk untuk menjaga kesehatan
yang mana lebih dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat.
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh antala lain untuk sintesa kolagen,
absorbsi dan metabolisme besi serta sebagai antioksidan.
Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas
usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata arbsorbsi adalah
90% untuk konsumsi diantara 20-120 mg/hari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram hanya
diarbsorbsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi
tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitary, dan retina. Vitamin C di ekskresikan
terutama melalui urin,sebagian kecil di dalam tinja dan sebagian kecil di ekskresikan
melaului kulit (Yuniastuti, 2008)
Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan parameter farmakokinetik Vitamin C
setelah pemberian dosis tunggal menggunakan data ekskresi urin kumulatif. Sampel urin
umumnya digunakan jika kadar obat dalam darah terlalu kecil untuk dapat dideteksi. Selain
itu sampel urin juga digunakan apabila eleminasi obat dalam bentuk utuh melalui ginjal
cukup besar yaitu lebih dari 40%. Salah satu keuntungan sampel urin jika digunakan dalam
analisis adalah mudah dilakukan karena pengambilan sampelnya lebih mudah daripada
pengambilan sampel darah serta jumlah sampel yang didapatkan banyak.
Pada awal percobaan ini akan didapatkan data kurva baku dari Vitamin C dan absorbansi
setelah dianalisa dengan spektrofotometer. Hasilnya diperoleh persamaan garis
y=−0,114+ 0,022 xdengan nilai r = 0,999. Persamaan ini kemudian digunakan untuk
perhitungan kadar Vitamin C dalam sampel urin. Setelah didapatkan kadar Vitamin C
dalam tiap-tiap sampel yang diambil pada waktu tertentu, dilakukan penentukan parameter
farmakokinetik dengan menggunakan 2 metode yang berbeda yaitu metode ekskresi renal
dan metode sigma minus/ARE (Amount of Drug Remaining to be Excreated). Adapun
parameter farmakokinetik yang dihitung pada percobaan ini adalah tetapan laju (k), tetapan
laju eliminasi (Ke), waktu paruh (T1/2), dan jumlah obat yang terdapat pada urin (Du ~) dari
Vitamin C melalui data urin kumulatif.
Pada metode ekskresi renal, perhitungan parameter farmakokinetika ditentukan berdasarkan
hubungan mid point time (Tmid) tiap interval pengambilan sampel urin dengan nilai

Du
logaritma jumlah obat dalam waktu tertentu (log ¿. Berdasarkan hubungan Tmid vs
dt

Du
log didapatkan persamaan yang tidak linier, yaitu didapatkan nilai r = -0,436. Hal ini
dt
menandakan semua data yang didapatkan tidak sahih, hal ini disebabkan oleh banyak factor
antara lain; perbedaan pH urin dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju ekskresi urin
yang bermakna, pengumpulan cuplikan dilakukan sampai semua obat terekskresi serta
pengambilan cuplikan harus dilakukan cukup sering untuk mendapatkan kurva yang baik.
Jadi dalam kasus ini, diplotkan beberapa data yang mendapatkan persamaan yang linier saja
yaitu y=3,697−0,133 x dengan nilai r = -0,993.
Berdasarkan persamaan tersebut diatas didapatkan nilai k (tetapan laju reaksi) sebesar 0,306
jam−1, waktu paruh (T1/2), sebesar 2,265 jam, kecepatan ekskresi (ke) sebesar 9,955 x 10−3
jam−1 serta jumlah Vitamin C dalam urin ( Du ) sebesar 16,266 mg. Dari hasil waktu paruh
obat ini diketahui waktu yang dibutuhkan obat untuk tereliminasi menjadi separuh dari
konsentrasi awal adalah 2,265 jam. Vitamin C sangat mudah di absobrsi dalam tubuh, yaitu
sekitar 90% dan 10% nya akan di eksresikan baik melalui urin, keringat ataupun tinja. Pada
praktikum ini pasien diberikan dosis tunggal vitamin C 500 mg, jika 90% di absorbsi oleh
tubuh maka hanya sekitar 10% di eskresikan yaitu sekitar 50 mg sedangkan data hasil yang
di dapat sekitar 16,266 mg melalui urin untuk sisa ekskresinya bisa di lalui melalui keringat
ataupun tinja. Sedangkan pada metode ARE, perhitungan parameter farmakokinetika
ditentukan berdasarkan hubungan waktu (jam) tiap interval pengambilan sampel urin
dengan nilai logaritma jumlah obat kumulatif [log ¿. Sama halnya dengan metode eksresi
renal, data yang didapatkan tidak menghasilkan persamaan garis yang linier sehingga untuk
mendapatkan persamaan yang linier dipilih data tertentu saja dengan persamaan
y=4,248−0,223 x dengan nilai r = -0,999.
Berdasarkan persamaan tersebut diatas didapatkan nilai k (tetapan laju reaksi) sebesar 0,513
jam−1, waktu paruh (T1/2), sebesar 1,351 jam, kecepatan ekskresi (ke) sebesar 0,018
jam−1 serta jumlah obat dalam urin ¿ ¿) sebesar 7506,134 μg. Tetapan laju ekskresi (ke)
adalah suatu laju ekskresi orde kesatu dengan satuan waktu−1 dan T ½ adalah waktu yang
dibutuhkan oleh obat untuk menjadi separo dari konsentrasi awal. Untuk tetapan laju
ekskresi (Ke) di peroleh hasil 0,018 /jam. Hasil ini di peroleh karena pemberian dosis
tunggal melalui oral. Pemberian obat melalui rute yang berbeda dapat mempengaruhi
tetapan laju ekskresi (Ke). S e l a i n i t u , Pengambilan sampel urin dengan metode ARE
berpengaruh pada jumlah kumulasi obat yang dieksresikan melalui urin, karena pada
metode ini nilai kumulasi obat pada waktu tak terhingga dianggap sama dengan nilai
kumulasi obat pada waktu pengambilan terakhir urin yaitu sebesar 7506,134 μg. Hal inilah
yang menjadi dasar lamanya waktu pengambilan urin pada metode ini.

9. KESIMPULAN
Penetapan parameter farmakokinetik vitamin C 500 mg pada sampel urin dilakukan dengan
metode ARE dan metode ekskresi renal. Pada metode ARE didapatkan nilai tetapan laju
eliminasi (k) sebesar 0,513 jam-1, waktu paruh (T1/2) 1,351 jam dan kecepatan ekskresi
(ke) sebesar 0,018 jam-1, sedangkan dengan metode ekskresi renal didapatkan nilai k
sebesar 0,306/jam, waktu paruh 2,265 jam, ke sebesar 9,955 x 10 -3 jam-1 dan dosis tak
terhingga (Du`~) obat dalam urin 16,266 mg.

Anda mungkin juga menyukai