Anda di halaman 1dari 17

INTERNALISASI PRINSIP-PRINSIP SYARI’AH DALAM MANAJEMEN

KEHUMASAN PADA PENYELENGGARAAN E-GOVERNMENT DI


PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DALAM MELAYANI PUBLIK

Fairuz Salsabila Kurniani & Shafira Aulia Rezkika


Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas
Negeri Sunan Kalijaga.
Pendahuluan

Pada era digital ini, banyak kegiatan dalam masyarakat yang terpengaruh oleh
globalisasi dan teknologi dan menjadi dampak tersendiri bagi instansi pemerintah.
E-government sendiri merupakan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi
antara pihak eksternal dengan pihak internal yang diharapkan mampu
meningkatkan kinerja pemerintahan dan memperbaiki pelayanan publik secara
efektif dan efisien [CITATION Anj18 \p 64 \l 1033 ].

Pada masa pemerintahan Megawati, dikeluarkanlah Instruksi Presiden


(Inpres) No. 3 Tahun 2003 tentang Strategi Pengembangan E-government serta
panduan yang telah dihasilkan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi
(Depkominfo) pada tahun 2004 yang pada dasarnya telah menjadi acuan bagi
penyelenggaraan e-government di pusat dan daerah (KOMINFO,
https://jdih.kominfo.go.id/
produk_hukum/view/id/326/t/instruksi+presiden+nomor+3+tahun+2003+tanggal+
9+juni+2003, akses 23 Desember 2020).

Penyelenggaraan e-government berbasis digital dalam melayani publik yang


menjadi tujuan Pemerintah Kota Yogyakarta tentu tidak akan berhasil tanpa
adanya andil dari Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfo)
kota Yogyakarta yang telah membuat dan mensosialisasikan kepada masyarakat.
Upaya-upaya pelayanan publik dilakukan melalui aplikasi Jogja Smart Service.
Adapun bentuk pelayanan yang tersedia dari aplikasi tersebut diantaranya;
Kedaruratan, Informasi dan Pengaduan, Data dan Informasi, Layanan Umum,
Jogja Event, BUMD/BLUD, Mitra Pemkot, dan layanan lainnya. Masing-masing
pelayanan tersebut berisi sub-sub pelayanan yang berhubungan dengan
Pemerintah Kota Yogyakarta (https://jss.jogjakota.go.id/, akses 23 Desember
2020).

Menurut Tracy L. Tuten dan Michael R. Solomon menyatakan bahwa, media


sosial adalah sarana untuk komunikasi, kolaborasi, serta penanaman secara daring
diantara jaringan orang-orang, masyarakat, dan organisasi yang saling terkait dan
saling tergantung dan diperkuat oleh kemampuan dan mobilitas
teknologi[ CITATION Ren20 \l 1057 ] . Maksudnya, media sosial merupakan jalan
pintas yang memperluas jaringan sosial di dalamnya. Media sosial mampu
memberikan pelayanan terbaik bagi para penggunanya yang haus akan
popularitas, informasi, dan pengetahuan sekalipun dengan sarasaran yang terjamin
pula. Namun, semua itu juga kembali kepada bagaimana sikap mereka
menggunakannya.

Jika melihat dalam konsep pelayanan publik, Mote (2008) berpendapat bahwa
pelayanan publik merupakan pemberian layanan atau pemberian pelayanan
keperluan kelompok ataupun masyarakat yang memiliki keperluan pada
organisasi sesuai dengan aturan pokok serta tata cara yang telah ditetapkan (Mote
dalam Novriando, 2020: 69-70). Pelayanan publik yang professional yakni adanya
akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan, dengan ciri diantaranya; 1)
Efektif, fokus utamanya yakni capaian yang menjadi tujuan dan sasaran; 2)
Sederhana, cara yang mudah, cepat, tepat, serta mudah dipahami dan
dilaksanakan; 3) Transparansi, adanya kejelasan dan kepastian mengenai
prosedur, persyaratan, dan keterbukaan (terbuka atas informasi apapun); 4) Tepat
waktu, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; 5) Responsif, cepat
menanggapi apa yang menjadi masalah; 6) Adaptif, cepat tanggap terhadap apa
yang menjadi tuntutan [CITATION Moe10 \p 98 \l 1033 ].

Pelayanan publik, berdasarkan UU No. 25 Tahun 2009, merupakan salah satu


fungsi penting pemerintah sebagai abdi masyarakat disamping regulasi, distribusi,
dan proteksi. Guna memastikan perealisasian layanan publik, maka harus
memenuhi prinsip-prinsip layanan yang tertulis dalam UU No. 25 Tahun 2009,
yakni berupa profesionalitas penyelenggara, partisipatif, keterbukaan, dan
akuntabilitas proses pelayanan[CITATION Kri15 \p 117 \l 1033 ].
Teknologi informasi menjadi sebuah kunci penyelenggaraan pelayanan
tersebut dapat berkembang secara totalitas di era modern ini. Peran teknologi
informasi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik
sebenarnya sudah tertuang di Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11
Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 04 Butir (c) yang
menyebutkan bahwa, "Pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik
dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan
publik”. Berdasarkan isi Undang-Undang tersebut secara langsung mengupayakan
penyelenggara pelayanan publik menggunakan teknologi informasi sebagai
perkembangan kualitas pelayanan publik yang diberikannya. Hal itu juga tak
menutup kemungkinan untuk pemberlakukan upaya negara berbasis elektronik
atau biasa dikenal dengan e-goverment. Awalnya para penyelenggara pelayanan
publik hanya menggunakan website sebagai media informasi. Namun seiring
berjalannya waktu, instansi pemerintah tidak hanya menggunakan
website melainkan media sosial[ CITATION Ren20 \l 1057 ]. Media sosial yang
begitu akrab dan kerap dilibatkan oleh masyarakat dalam segala urusan,
menjadikan sarana yang lebih instan dan efisien dalam membangun hubungan
relasi antara pihak pemerintah dengan masyarakatnya.

Oleh karena itu, sebagai seorang yang bijak marilah menggunakan perangkat
media sosial untuk keberlasungan timbal balik yang positif salah satunya dengan
mengkolaborasikan kinerja aplikasi Jogja Smart Service dan media sosial sebagai
bentuk penyelenggaraan pelayanan publik di masyarakat. Ketersediaan layanan
sekaligus aksesibilitas informasi yang ramah akses, adalah sebuah kebutuhan
dalam akuntabilitas Pemerintah Kota Yogyakarta. Keberhasilan peningkatan
keprofesionalan pelayanan, peningkatan partisipasi aktif masyarakat, dan
keterbukaan pelayanan sangat bergantung pada fungsi komunikasi dan informasi
yang diterapkan.

Humas atau Public Relations merupakan alat manajemen modern, yang mana
merupakan bagian internal dari sebuah institusi atau lembaga. Fungsi humas atau
Public Relations adalah bersifat melekat pada fungsi manajemen institusi, yakni
dapat menyelenggarakan komunikasi dua arah atau timbal balik antara institusi
atau lembaga yang diwakili dengan publiknya. Salah satu instansi yang
berpengaruh besar bagi kelangsungan pemerintahan Indonesia adalah instansi
Pemerintah Kota Yogyakarta. Dimana instansi Pemerintah Kota Yogyakarta
merupakan pembuat kebijakan sekaligus pelayan dari publik pada Kota
Yogyakarta.

Manajemen kehumasan pada sebuah institusi dalam menjalankan fungsinya,


sesungguhnya tidak terlepas dari prinsip-prinsip syari’ah di dalamnya. Prinsip
dapat diasumsikan sebagai sebuah dasar dan landasan dalam melakukan suatu
tindakan. Di dalam pelaksanaan seorang humas juga memiliki sebuah prinsip
untuk berkontribusi, khususnya bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip keislaman di
dalamnya. Salah satu fungsi penting pemerintah yakni menjadi pelayan dari
publik atau abdi masyarakat. Opini masyarakat terhadap pemerintah merupakan
hal yang penting. Untuk membentuk opini yang baik dari masyarakat, maka
pemerintah memerlukan manajemen kehumasan yang baik untuk membuat
strategi yang tepat agar dapat membangun hubungan dengan beragam publik.
Oleh karena itu, terdapat beberapa prinsip syari’ah yang mendukung
terlaksananya fungsi pelayanan publik dan e-government pada Pemerintah Kota
Yogyakarta, yang mana prinsip-prinsip tersebut dapat diinternalisasikan dengan
manajemen kehumasan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk memenuhi kewajiban
mereka secara baik kepada masyarakat dalam meningkatkan dan memaksimalkan
serta mendorong manajemen kehumasan Pemerintah Kota Yogyakarta yang
professional, transparan, dan efisien. Pada prinsipnya, ada 4 elemen utama yang
menjadi komponen penyusun prinsip syari’ah, yakni meliputi Shidiq, Amanah,
Tabligh, dan Fathanah.

Shidiq (kejujuran), memastikan bahwa manajemen kehumasan dilakukan


dengan moralitas yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Nilai ini mencerminkan
bahwa manajemen layanan informasi dan layanan publik akan dilakukan dengan
mengedepankan cara-cara yang diperkenankan (halal) serta menjauhi cara-cara
yang meragukan (subhat) terlebih lagi yang bersifat terlarang (haram).

Dalam hal kejujuran pastinya ada khabar yang menjelaskan tentang seruan
Nabi Muhammad saw. kepada umatnya untuk berlaku jujur di setiap keadaan,
dimanapun dan kapanpun itu. Ubaidillah Ibnush shamit r.a. menuturkan bahwa,
Rasulullah saw. bersabda, “Jamin untukku enam perkara dari kalian, aku
menjamin untuk kalian surga, enam perkara ini adalah: bila berbicara jujurlah,
tepatilah janji apabila kalian berjanji, apabila kalian dipercayai, tunaikanlah
amanah, …”, HR. Imam Ahmad [ CITATION Naw09 \l 1033 ].

Dengan sifat tersebut, Nabi Muhammad saw. menjadi seorang pemimpin


yang dipercaya oleh kaum dan pengikutnya. Orang-orang selalu diperlakukan
dengan adil dan jujur oleh Beliau. Beliau tidak hanya berbicara dengan kata-kata,
tetapi juga disertai dengan perbuatan dan keteladanan. Beliau tiap berkata selalu
konsisten dengan perbuatannya.

Amanah (pemenuhan kepercayaan), menjaga dengan ketat prinsip kehati-


hatian dan kejujuran dalam memanajemen layanan informasi dan layanan publik
terhadap masyarakat, sehingga timbul rasa saling percaya antara masyarakat dan
pemerintah. Karakter yang seharusnya dimiliki oleh humas pemerintah
sebagaimana karakter yang dimiliki Rasul yaitu sifat dapat dipercaya atau
bertanggung jawab. Beliau jauh sebelum menjadi Rasul pun sudah diberi gelar al-
Amin (yang dapat dipercaya). Sifat amanah inilah yang dapat mengangkat posisi
Nabi di atas pemimpin umat atau Nabi-Nabi terdahulu.

Firman Allah yang berbicara tentang amanah yang diemban oleh setiap
manusia terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 72, bunyinya:

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit,


bumi, dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan
mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh”, QS. Al-Ahzab: 72
(http://www.rumahfiqih.com/quran/33/72, akses 8 Januari 2021).

Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga


kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya. Kepercayaan
masyarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar
dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama.

Tabligh (menyampaikan), melakukan sosialisasi dan mengedukasi


masyarakat terkait informasi mengenai prinsip-prinsip, produk, dan jasa layanan
yang disediakan Pemkot Yogyakarta melalui media sosial dan aplikasi Jogja
Smart Service. Dalam melakukan sosialisasi sebaiknya tidak hanya
mengedepankan pemenuhan prinsip syari’ah semata, tetapi juga harus mampu
mengedukasi masyarakat mengenai manfaat dari penggunaan aplikasi tersebut.

Tabligh merupakan sifat Rasul yang cara dan metodenya agar ditiru. Sasaran
pertama adalah keluarga beliau, lalu berdakwah ke segenap penjuru. Sebelum
mengajarkan sesuatu, beliau yang terlebih dahulu melakukannya. Sifat Ini adalah
sebuah sifat Rasul untuk tidak menyembunyi-kan informasi yang benar apalagi
untuk kepentingan umat dan agama. Beliau tidak pernah sekalipun menyimpan
informasi berharga hanya untuk dirinya sendiri. Beliau sering memberikan berita
gembira mengenai kemenangan dan keberhasilan yang akan diraih oleh
pengikutnya di kemudian hari [CITATION Sak16 \p 44 \l 1033 ].

Fathanah (kecerdasan), memastikan bahwa manajemen kehumasan


dilakukan secara professional dan kompetitif sehingga pelayanan diberikan secara
yang terbaik dengan penuh kecermatan dan kesantunan (ri’ayah) serta penuh rasa
tanggung jawab (mas’uliyah).

Dalam pola kepemimpinan Muhammad saw. yang dikembangkan bersifat


friendship system, yaitu sistem perkawanan dan sistem kapabilitas. Hal ini dapat
dilihat dari penunjukan para sahabat untuk menduduki pos jabatan tertentu, tanpa
melupakan pertimbangan kompetensi masing-masing sahabat, sehingga mereka
dapat membuktikan kemampuanya sesuai dengan kompetensi masing-masing. Ini
merupakan bagian dari kecerdasan beliau dalam melihat peluang agar sistem
manajerial yang dilakukannya dapat berjalan dengan baik [CITATION Sak16 \p 45 \l
1033 ].

Fathanah merupakan sifat Rasul yang keempat, yaitu akalnya panjang sangat
cerdas sebagai pemimpin yang selalu berwibawa. Selain itu, seorang pemimpin
juga harus memiliki emosi yang stabil, tidak gampang berubah dalam dua
keadaan, baik itu dimasa keemasan dan dalam keadaan terpuruk sekalipun.
Menyelesaikan masalah dengan tangkas dan bijaksana. Sifat pemimpin adalah
cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta
tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi
pada umat. Sang pemimpin harus mampu memahami betul apa saja bagian-bagian
dalam sistem suatu organisasi/lembaga tersebut, kemudian ia menyelaraskan
bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai sisi yang telah
digariskan [CITATION Sak16 \p 45 \l 1033 ].

Pelayanan Publik terhadap Kepuasan Masyarakat melalui Aplikasi Jogja


Smart Service dan Media Sosial (Instagram) oleh Humas Pemerintah Kota
Yogyakarta

Aplikasi Jogja Smart Service Humas Pemerintah Kota Yogyakarta

Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa


pelayanan yang pada dasarnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh
instansi pemerintah di pusat, daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik
Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan dalam UU
No. 25 Tahun 2009 (Wikipedia, 2020).
Gambar 1. aplikasi Jogja
Smart Service

Jogja Smart Service (JSS) merupakan aplikasi pelayanan Pemerintah Kota


Yogyakarta dalam menanggapi respon secara cepat dan tepat serta dapat diakses
oleh masyarakat kota Yogyakarta. Pemerintah menerbitkan aplikasi ini pada
tanggal 11 Juni 2018. Aplikasi ini merupakan bentuk pengimplementasian e-
government Pemerintah Kota Yogyakarta yaitu Peraturan Walikota Nomor 15
Tahun 2015 yang berisi roadmap pengembangan e-government dalam tatanan kota
Yogyakarta [CITATION Nov20 \p 71 \l 1033 ] . Penerbitan aplikasi Jogja Smart
Service dirasa cukup untuk memberikan layanan berkualitas kepada masyarakat
dengan dasar penggunaan teknologi di dalamnya.
Maka dari itu, peneliti menganalisis bahwa standar pelayanan dari Humas
Pemerintah Kota Yogyakarta jika dilihat melalui aplikasi Jogja Smart Service dan
website https://jss.jogjakota.go.id/, yakni:

1. Prosedur pelayanan, yang dilakukan bagi pemberi dan pengguna pelayanan


termasuk laporan pengaduan sudah seusuai dengan prosedur pelayanannya.
2. Waktu penyelesaian, tiap laporan pengaduan yang diajukan oleh pengguna
layanan sudah ditanggapi dan ditindaklanjuti secara cepat.
3. Produk pelayanan, hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan. Standar pelayanan apabila dilihat dari
produk pelayanannya sudah sesuai dengan harapan, keinginan, dan kebutuhan
pengguna layanan. Produk layanan tersebutu diantaranya pelayanan
kedaduratan, informasi dan pengaduan, data dan informasi, layanan umum,
jogja event, BUMD, Mitra Pemkot, dan adanya tab untuk mendownload
materi.
4. Sarana yang tersedia dalam mengembangkan website di Kota Yogyakarta
sudah cukup memadai. Terlihat dengan adanya jaringan yang kuat, internet
yang menyeluruh, dan penggunaan komputer bagi setiap pegawai di
Pemerintah Kota Yogyakarta. Sarana tersebut juga selalu meningkat setiap
tahunnya [CITATION Anj18 \p 70-71 \l 1033 ].
5. Kompetensi pemberi pelayanan, harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan
pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan.
Dalam standar pelayanan publik pengelolaan program Jogja Smart Service
memang dilakukan oleh Diskominfo Pemkot Yogyakarta, tetapi dalam
penyelesaian laporan dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
terkait. Pada gambar 1, Pelayanan Gawat Darurat dilakukakn oleh Layanan
Emergency Medis, Kebakaran dilayani oleh Dinas Kebakaran, Kekerasan
(SIKAP) dilayani oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perlindungan
Perempuan dan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta. Jadi, aplikasi Jogja
Smart Service yang dikelola oleh Diskominfo Pemkot Yogyakarta ini sebagai
sarana jembatan atas pengaduan ataupun pelayanan di Kota Yogyakarta.
Semua pelayanan yang ada di dalam aplikasi sudah terintegrasi dengan
seluruh SKPD terkait agar bisa diselesaikan dengan cepat tanggap.
Sedangkan dilihat dari indikator-indikator pelayanan publik, yakni:
1. Efektif, lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi tujuan dan
sasaran. Humas Pemerintah Kota Yogyakarta sudah cukup efektif karena
Pemerintah Kota Yogyakarta sangat mengutamakan tujuan pelayanan publik.
Mereka mempersiapkan pelayanan publik yang dibutuhkan publik serta
memberikan dan memenuhi permintaan-permintaan publik sesuai keluhan
sehingga mampu memberikan rasa kepuasan kepada publik.
2. Sederhana, indikator ini belum dilaksanakan secara baik karena dalam
prosedur pelayanannya meskipun mudah dipahami oleh masyarakat pengguna
aplikasi Jogja Smart Service namun tidak mudah untuk diterapkan dan
dilaksanakan dengan baik.
3. Transparansi, adanya kejelasan dan kepastian mengenai:
a. Prosedur pelayanan sudah bersifat transparansi yang dalam hal ini
apabila masyarakat ingin mengetahui tentang prosedur pelayanan maka
masyarakat dapat langsung mengakses informasi tersebut melalui website
resmi yang disediakan, yaitu https://jss.jogjakota.go.id/.
b. Persyaratan pelayanan, dalam hal ini persyaratan teknis sudah bersifat
transparansi dilihat dari prosedur, waktu, dan standar pelayanan publik
dengan adanya pesyaratan teknis dapat sebagai acuan untuk
meningkatkan kualitas transparansi dan akuntabilitas pelayanan, maupun
persyaratan administratif.
4. Tepat waktu, Responsif, dan Adaptif, tiap laporan pengaduan yang diajukan
oleh pengguna layanan sudah ditanggapi dan ditindaklanjuti secara cepat.

Media Sosial (Instagram) Humas Pemerintah Kota Yogyakarta

Seperti paparan sebelumnya, yang menyinggung mengenai pengertian dari


pelayanan publik sendiri bahwa pelayanan publik merupakan rangkaian kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga Negara atas barang, jasa, atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan public [ CITATION
Ren20 \l 1057 ]. Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pelayanan publik ini
diperlukan adanya sebuah platform yang menjadi perantara atau media
terealisasinya program pelayanan tersebut, yakni salah satunya media sosial.

Dalam media sosial yang sering dikenal sebagai Instagram, Humas


Pemerintahan Kota Yogyakarta juga mengaplikasikannya sebagai platfrom
penyelenggaraan pelayanan publik akan kepuasan masyarakatnya dan bagaimana
bentuk dokumentasi mereka dalam melayani masyarakat secara maksimal.
Gambar 2. Pelayanan Publik
Kesehatan

Fenomena diatas, menunjukkan bahwa seorang Humas Pemkot Yogyakarta


yang sekaligus menjadi sebuah kontrol sosial bagi masyarakatnya memberikan
program kesehatan yang dilakukan melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
yang membuka pos layanan kesehatan di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Disitu
bisa diperhatikan bahwa layanan publik berupa kesediaan pos kesehatan keliling
yang menawarkan pemeriksaan kesehatan kepada pengunjung memberikan
sebuah fungsional dan tindakan yang tepat akan penghadapan permasalahan yang
ditimpa oleh seluruh masyarakat, akan wabah Covid-19 ini. Semua itu, dilakukan
dengan penuh pertimbangan akan prosedur kesehatan Covid-19 sendiri dengan
tetap melakukan social distancing, memakai masker, dan cuci tangan
menggunakan air yang mengalir.

Humas Pemkot Yogyakarta berhasil merealisasikan programnya melalui


tindakan menajemen yang tepat akan permasalahan yang menimpa Kota
Yogyakarta sendiri. Jika ditilik melalui manajemen kehumasan lainnya, Kota
Yogyakarta memang memiliki ketetapan dan kebijakan yang konsisten akan
permasalahan baru-baru ini seperti, menutup dan membatasi tempat kerumunan,
persedian vaksin yang terdapat pada rumah sakit tertentu, kualitas pembersihan
tempat umum dari sampah masyarakat yang dilakukan oleh beberapa tenaga kerja
kebersihan, dst. Hal itu semua bisa dibuktikan dengan dokumentasi yang ada pada
Instagram Pemkot Yogyakarta sendiri. Selain memberikan dampak positif kepada
pemerintahan, namun media sosial juga dapat memberikan dukungan dan
dorongan kepada masyarakat bahwa penyelenggaraan pelayanan publik yang
diterima sangat pantas dan transparan karena publik dapat membuktikannya
dengan mengaksesnya.

Internalisasi Prinsip-prinsip Syari’ah pada Manajemen Kehumasan


Pemerintah Kota Yogyakarta
Dalam prinsip-prinsip Islamic Corporate Governance, transparansi merujuk
pada shiddiq, akuntabilitas merujuk pada shiddiq, responsibilitas merujuk pada
amanah, tabligh, dan fathanah, keadilan merujuk pada shiddiq dan amanah.
Meskipun prinsip-prinsip tersebut tercakup dalam prinsip-prinsip Islamic
Corporate Governance bukan berarti Islamic Corporate Governance dan Good
Corporate Governance adalah hal yang sama. Karena pelaksanaan dan apikasinya
berbeda maka dasar hukum yang digunakan pun berbeda.
Terdapat beberapa prinsip syari’ah yang mendukung terlaksananya fungsi
pelayanan publik dan e-government pada Pemerintah Kota Yogyakarta, tentang
pelaksanaan manajemen kehumasan adalah menggunakan prinsip sifat nabi yakni
Shidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah, yang mana prinsip-prinsip tersebut
merupakan bagian dari sistem syari’ah. Nilai-nilai yang dimaksud antara lain
sebagai berikut:

Gambar 3. Tab
Berita
1. Shidiq (kejujuran), yang berarti segala yang disampaikan merupakan
keadaan yang sebenarnya, memastikan bahwa manajemen kehumasan
dilakukan dengan moralitas yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Nilai ini
mencerminkan bahwa manajemen layanan informasi dan layanan publik akan
dilakukan dengan mengedepankan cara-cara yang diperkenankan (halal) serta
menjauhi cara-cara yang meragukan (subhat) terlebih lagi yang bersifat
terlarang (haram). Prinsip shidiq sudah cukup diterapkan secara baik oleh
Humas Pemerintah Kota Yogyakarta, dimana adanya kejelasan dan
keterbukaan terhadap masyarakat mengenai penyampaian, pengaksesan, dan
pengelolaan layanan informasi yang up to date serta adanya pengelolaan
komunikasi yang interaktif antara masyarakat dan pemerintah melalui media
sosial, khususnya Instagram dan aplikasi Jogja Smart Service. Dengan nihil
nya penyebaran berita yang palsu atau hoax dari website
https://jss.jogjakota.go.id/, pegawai yang bekerja sebagai pengelola website
sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan profesional, yang mana
kedisiplinan dan akhlakul karimah sudah tertanam dengan baik. Selain itu,
dalam mengaplikasikan keterbukaan dan kejujuran akan program
manajemennya terlihat bahwa Instagram Pemkot Jogja menjadikannya
sebuah media yang dapat diakses serta banyaknya dokumentasi yang
menunjukkan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik oleh Humas Pemkot
Yogyakarta terealisasikan tanpa adanya janji yang tidak ditepati.

Gambar 4.
Instagram Pemkot
Jogja
2. Tabligh (menyampaikan), berarti menyampaikan kebenaran, melakukan
sosialisasi dan mengedukasi masyarakat terkait informasi mengenai prinsip-
prinsip, produk, dan jasa layanan yang disediakan Pemkot Yogyakarta
melalui media sosial dan aplikasi Jogja Smart Service. Prinsip tabligh belum
diterapkan secara baik oleh Humas Pemerintah Kota Yogyakarta karena
edukasi dan sosialisasi terkait website https://jss.jogjakota.go.id/ belum
diterima untuk kesuluruhan elemen masyarakat. Anjarini (2018)
mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa sosialisasi yang dilakukan
Humas Pemkot Yogyakarta hanya melalui media seperti kop surat, media
massa, dan saat pelatihan pegawai Pemerintah Kota Yogyakarta. Sosialisasi
tidak dilakukan secara langsung kepada masyarakat dan tidak dilakukan
secara berkala [CITATION Anj18 \p 70 \l 1033 ] . Lain halnya dengan analisis
yang dilakukan pada media sosial Intagram Pemkot Jogja, disitu banyak
menunjukkan sosialisasi dan penyampaian semua informasi apa yang menjadi
berita ter up to date karena memang pada dasarnya media sosial meliki fungsi
khusus dalam memberitaan atau penyampaian informasi baik secara lagsung
maupun tidak langsung karena mengkolaborasikan gambar dan ragkaian
kalimat bermakna didalamnya seperti, sosialisasi dan penyampaian informasi
akan pengadaan vaksin yang terjadi pada 15 Januari 2021 secara live
streaming di Youtube Pemkot Jogja sendiri. Jadi, pegawainya dalam
melayani publik sudah memenuhi prinsip Islam. Akan tetapi diharapkan ke
depannya dapat menjadi insan yang lebih teguh dan gigih sehingga dapat
mengajak yang lain ke arah kebenaran dengan mengamalkan sikap tabligh.

Gambar 5. Pengaduan
Masyarakat
3. Amanah (pemenuhan kepercayaan), berarti tidak ingkar janji dan
bertanggung jawab terhadap apa yang diamanahkan pada mereka. Apa yang
telah disepakati akan ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Menjaga dengan
ketat prinsip kehati-hatian dan kejujuran dalam memanajemen layanan
informasi dan layanan publik terhadap masyarakat, sehingga timbul rasa
saling percaya antara masyarakat dan pemerintah. Prinsip amanah sudah
diterapkan secara baik oleh Humas Pemerintah Kota Yogyakarta melalui
aplikasi Jogja Smart Service dan Instagram. Pada gambar 5, laporan
pengaduan layanan masyarakat Kota Yogyakarta dari tanggal 1 Desember
2020 hingga 23 Desember 2020 mencapai 83 laporan. Jumlah laporan yang
terselesaikan berjumlah 66 laporan, jumlah aduan yang dikerjakan sebanyak
13 laporan, sedangkan jumlah laporan yang belum ditindaklanjuti sebanyak 4
laporan. Dari statistik laporan tersebut, bisa disimpulkan bahwa para pegawai
dari Humas Pemkot Yogyakarta memiliki sifat amanah, serta dapat
bertanggung jawab atas tugas yang diberikan dengan menjalankannya sebaik
mungkin sesuai dengan prosedurnya, tidak ada unsur kedzaliman, penipuan,
dan intimidasi. Tidak hanya itu pembuktian bahwa internalisasi nilai-nilai
syariah terkandung dalam manajemen kehumasan Pemkot Jogja, namun juga
pada Instagramnya yang mendokumentasikan seluruh kegiatan yang positif
dan menguntungkan bagi pelayanan masyarakat Yogyakarta. Oleh karena itu,
rasa kepercayaan dan pengharapan hadir dalam hati masyarakat bagi
perkembangan penyelenggaraan pelayanan publik Humas Pemkot Jogja ke
depannya.
4. Fathanah (kecerdasan), memastikan bahwa manajemen kehumasan
dilakukan secara professional dan kompetitif sehingga pelayanan diberikan
secara yang terbaik dengan penuh kecermatan dan kesantunan (ri’ayah) serta
penuh rasa tanggung jawab (mas’uliyah). Prinsip fathanah dalam hal
pendidikan telah diterapkan dengan baik oleh Humas Pemerintah Kota
Yogyakarta. Para pegawai bekerja sesuai dengan pengetahuan, keahlian, dan
keterampilan mereka. Dalam penelitian Anjarini (2018), sumber daya
manusia yang dibutuhkan oleh Humas Pemkot Yogyakarta terkait pengelola
website memiliki syarat pendidikan minimal D3 Komputer untuk pengelola
sistem dan untuk pengelola jaringan, sedangkan untuk pengelola konten tidak
ada syarat pendidikannya, namun harus ahli dalam jurnalistik. Pelatihan yang
dilakukan guna meningkatkan kinerja pegawai dalam pengembangan website
sudah banyak diadakan, seperti pelatihan dan bimtek jaringan, diklat
jurnalistik, diklat administrator pengelola website kota, dan lain-lain.
Pelatihan tersebut tidak dilakukan secara berkala, apabila ada updating sistem
atau jaringan baru dilakukan pelatihan kembali [CITATION Anj18 \p 71 \l 1033 ] .
Sifat fathanah yang diterapkan, mampu membuka peluang untuk kemajuan
pemerintahan, mampu menghadapi tantangan, mampu bersaing dan
memperbaiki kelemahan ataupun kekurangan serta mempertahankan
kelebihan yang dimiliki pemerintahan.

Kesimpulan

Pada era digital ini, banyak kegiatan dalam masyarakat yang terpengaruh oleh
globalisasi dan teknologi dan menjadi dampak tersendiri bagi instansi pemerintah.
E-government sendiri merupakan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi
antara pihak eksternal dengan pihak internal yang diharapkan mampu
meningkatkan kinerja pemerintahan dan memperbaiki pelayanan publik secara
efektif dan efisien [CITATION Anj18 \p 64 \l 1033 ] . Sedangkan pelayanan publik
sendiri berdasarkan UU No. 25 Tahun 2009, merupakan salah satu fungsi penting
pemerintah sebagai abdi masyarakat disamping regulasi, distribusi, dan proteksi.
Guna memastikan perealisasian layanan publik, maka harus memenuhi prinsip-
prinsip layanan yang tertulis dalam UU No. 25 Tahun 2009, yakni berupa
profesionalitas penyelenggara, partisipatif, keterbukaan, dan akuntabilitas proses
pelayanan[CITATION Kri15 \p 117 \l 1033 ].

Menurut pembahasan sebelumnya, salah satu konsep manajemen kehumasan


Pemkot Jogja ialah menyelenggarakan pelayanan publik berbasis e-goverment
melalui sebuah aplikasi pintar dam media sosial berupa Instagram. Jogja Smart
Service (JSS) merupakan aplikasi pintar pelayanan Pemerintah Kota Yogyakarta
dalam menanggapi respon secara cepat dan tepat serta dapat diakses oleh
masyarakat kota Yogyakarta. Pemerintah menerbitkan aplikasi ini pada tanggal 11
Juni 2018. Aplikasi ini merupakan bentuk pengimplementasian e-government
Pemerintah Kota Yogyakarta yaitu Peraturan Walikota Nomor 15 Tahun 2015
yang berisi roadmap pengembangan e-government dalam tatanan kota Yogyakarta
[CITATION Nov20 \p 71 \l 1033 ]. Penerbitan aplikasi Jogja Smart Service dirasa
cukup untuk memberikan layanan berkualitas dan memiliki timbal balik positif
kepada masyarakat dengan dasar penggunaan teknologi di dalamnya.

Sebaliknya Instagram Pemkot Jogja sendiri juga menjadi konsep unik dalam
pengembangan penyelenggaraan pelayanan publik ini sebagai sebuah pion
dokumentasi yang memiliki nilai-nilai positif didalamnya sehingga, masyarakat
merasa puas dan percaya akan kemaksimalan penyelenggaraan program ini.
Semua itu dapat digagas dan dipercaya melalui bukti nyata yang telah penulis
bahas sebagai bahan analisis mengenai internalisasi nilai-nilai syariah didalam
manajemen kehumasan Pemerintahan Kota Yogyakarta saat ini melalui program
e-govermentnya.
Daftar Pustaka

Nawawi, Imam. 2009. Mutiara Riyadushalihin. Bandung: Mizan Pustaka. h. 79


Moenir, A.S. 2010. Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia. Jakarta : Bumi
Aksara. h. 98.
Internet:
Anjarini, A.K & Dwimawanti, I.H. 2018. Analisis Pengembangan Website
www.jogjakota.go.id dalam Penyelenggaraan E-Government di Pemerintahan
Kota Yogyakarta. Journal of Public Policy and Management Review, Vol. 7
No. 4, h. 64 & h. 70-71. Diakses dari https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/
jppmr/article/view/21732 pada 23 Desember 2020.
http://www.rumahfiqih.com/quran/33/72, diakses pada 8 Januari 2021.
https://jss.jogjakota.go.id/, diakses pada 23 Desember 2020.
https://pn-karanganyar.go.id/main/index.php/berita/artikel/973-pelayanan-publik,
diakses pada 15 Januari 2021.
KOMINFO. 2015. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tanggal 9 Juni 2003
tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government.
Diakses dari https://jdih.kominfo.go.id/produk_hukum/view/id/326/t/
instruksi+presiden+nomor+3+tahun+2003+tanggal+9+juni+2003 pada
tanggal 23 Desember 2020.
Kriyantono, R. 2015. Konstruksi Humas Dalam Tata Kelola Komunikasi
Lembaga Pendidikan Tinggi di Era Keterbukaan Informasi Publik. Jurnal
Pekommas, Vol. 18, No. 2, h. 117. Diakses dari
https://media.neliti.com/media/ publications/222394-konstruksi-humas-
dalam-tata-kelola-komun.pdf pada 23 Desember 2020.
Novriando, A., Purnomo, E.P., Salsabila, L: 2020. Efektivitas "Jogja Smart
Service" Terhadap Pelayanan Publik di Kota Yogyakarta. Government:
Jurnal Ilmu Pemerintahan, Vol. 13, No. 2, h. 69-71. Diakses dari https://
journal.unhas.ac.id/index.php/government/article/view/8817 pada 23
Desember 2020.
Sakdiyah. 2016. Karakteristik Kepemimpinan dalam Islam (Kajian Historis
Filosofis) Sifat-Sifat Rasulullah. Jurnal Al-Bayan, Vol. 22, No. 33, h. 44-45.
Diambil dari https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bayan/article/view/636
pada 8 Januari 2021.
Undang-Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Diakses dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Pelayanan_publik pada 23 Desember 2020.
Utami, R.A. 2020. “Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Melalui Optimalisasi
Media Sosial”. Diakses dari https://ombudsman.go.id/artikel/r/artikel--
peningkatan-kualitas-pelayanan-publik-melalui-optimalisasi-media-sosial
pada 15 Januari 2021.