Anda di halaman 1dari 11

AKUNTANSI MANAJERIAL

Akuntansi Manajemen dalam Era Globalisasi

Dosen Pengampu: Drs. Jihen Ginting, M.Si. Ak.CA

Disusun Oleh:

Fitra Wahyuni Hadi (7182220001)

Intan Khairullah (7183220057)

Salsabila Irfani (7183520001)

Filza Aulia Rahman (7183520020)

Putri Anastasya Salsabila (7183520047)

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Globalisasi mempengaruhi dalam konsep akuntansi manajemen dan teknik
yang diajukan. Dengan tekanan globalisasi yang meningkat dalam kompetisi,
kemajuan teknologi dan tekanan untuk mendapatkan informasi lebih cepat (Siegel
& Sorensen, 1999), Manajemen akuntansi sekarang memainkan peran lebih besar
dalam organisasi. Akuntan manajemen tidak hanya berperan sebagai penyedia
informasi tetapi berpartisipasi dalam pengambilan keputusan atau setidaknya
untuk membantu manajer membuat keputusan yang lebih baik. Ini ketika
akuntansi manajemen bergerak menuju pengelolaan sumber daya dengan
menerapkan alat analisis proses seperti aktivitas berdasarkan penetapan biaya,
siklus hidup biaya dan manajemen biaya teknologi seperti analisis biaya peluang.
Akuntansi manajemen juga memberikan masukan bagi pengambil
keputusan strategis. Hal ini didukung oleh temuan dalam survei yang dilakukan
oleh Institute of Management Accountant dan Ernst and Young (Garg, Ghosh,
Hudick & Nowacki, 2003). Lingkungan bisnis global ditandai oleh persaingan
yang ketat baik lokal maupun luar negeri dan kebutuhan untuk membuat
keputusan strategis tidak dapat dihindari untuk meningkatkan persaingan di
industri ini. Sebagai ahli strategi, akuntan manajemen secara kritis terlibat dalam
mengambil dan menegosiasikan langkah strategis yang tepat dan juga membantu
manajer menentukan pelanggan terpenting mereka, produk pengganti di pasar,
kemampuan kritis, kecukupan uang untuk didanai oleh strategi (Horngren et al,
2009 ) dan sejenisnya.
Dalam upaya memperkuat akuntan manajemen peran strategis mereka
memusatkan waktu dan usaha mereka dalam menangani akuntansi manajemen
strategis. Dalam rangka mengkonsolidasikan klaim ini, Bapak Udayasri
Kariyawasam, Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa Efek dan Dewan Asuransi Sri
Lanka, dalam pidato utama pada upacara wisuda CIMA Achievement pada
tanggal 30 Agustus 2009 di BMICH (Balai Konferensi Internasional

2
Bandaranaike Memorial), mengatakan Bahwa: 'Akuntan manajemen saat ini
meluangkan waktu mereka untuk' akuntansi manajemen strategis ', dengan
maksud untuk memperluas rentang akuntansi manajemen tradisional.
Era globalisasi juga ditandai dengan adanya (1) pergeseran teknologi
dari era hard automation ke era smart tecknology, pergeseran ini berdampak
luar biasa terhadap pekerjaan, sistem pekerja dan sistem manajemen yang
digunakan untuk mengelola sumber daya manusia. Dalam smart teknologi era,
pekerjaan berubah radikal dari yang mengandalkan otot dan ketrampilan, ke
knowledge based work-pekerjaan yang lebih mengandalkan otak dan
pengetahuan, dengan demikian tipe pekerjanya adalah knowledge workers yaitu
pekerja yang menggunakan pengetahuannya untuk menghasilkan produk dan
jasa. Sistem manajemen yang digunakan untuk mengelola knowledge worker
juga sangat berbeda dengan skilled workers.

B. Tujuan Pembuatan Makalah

1. Bagaimana akuntansi manajemen dalam era globalisasi?

2. Apa saja peran akuntansi manajemen dalam era globalisasi?

C. Manfaat Pembuatan Makalah

1. Untuk mengetahui bagaimana akuntansi manajemen dalam era


globalisasi.

2. Untuk mengetahui apa saja peran Akuntani Manajemen dalam Era


Globalisasi.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Akuntansi Manajemen Tradisional

Manajemen Tradisional merupakan manajemen yang digunakan sejak


abad ke 20 yaitu pada awalnya manajemen yang menekankan kepada
perhitungan harga pokok manajerial yaitu dalam penelusuran tingkat laba
perusahaan yang periodeik dan menggunakan informasinya untuk mengambil
keputusan yang strategis.

Sistem akuntansi ini hanya memusatkan pada ukuran-ukuran output


aktivitas yang di dasarkan pada volume produksi. Kebanyakan prosedur
perhitungan harga pokok produk dan akuntansi yang digunakan pada abad ke
20 dikembangkan tahun 1888- da 1924.
Akuntansi manajemen tradisional ini mengacu pada 3 hal yaitu:
1. Pembagian kerja : dimana organisasi sejumlah pekerjaan terhadap tenaga
kerja yang ada dalam organisasi
2. Hierarki proses fungsional : yaitu dimana setiap organisasi terdapat
adanya tingkatan karyawan menurut fungsinya atau pekerjaan yang
khusus dalam organisasi
3. Pengawasan yang ketat : yaitu dibutuhkannya banyak komunikasi dalam
hal pengawasan agar maksimal.
Seiring perkembangan zaman, manajemen tradisional pun tergeser
disebabkan karena kelemahan dari manajemen tradisional itu sendiri,
Diantaranya adalah:
a. Tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dalam keharmonisan
kerja.
b. Manajer mengalami kesulitan sehingga menyebabkan frustasi perusahaan
dikarenanakan akryawan tidak slealu mengikuti pola raisional.

4
c. Dalam pembuatan keputusan hanya menekankan pada pertimbangan
keuangan, namun tidak banyak mempertimbangkan aktivitas-aktivitas
operasi.

B. Persaingan Global dan Akuntansi Manajemen

Kemajuan teknologi informasi perkembangan teknologi informasi


menyebabkan batas-batas antar Negara menjadi semakin tidak jelas dengan
semakun meluasnya perdagangan bebas di seluruh dunia dam persaingan yang
bersifat global dan tajam yang memasuki tingkat persaingan dunia menjadi
menciut. Penciutan laba memaksa manajemen mencari berbagai strategi baru
yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang. Lingkungan
industry maju yang mendorong lahir nya ilmu-ilmu baru seperti:
1. Activity Based Costing (ABC)
Kelemahan-kelemahan sistem tradisional dalam menghadapi
perubahan lingkungan menyebabkan para pemikir mulai mencari system
alternative. Kaplan bersama rekan sejawatnya Cooper dari Harvard
Business School merancang suatu sistem alokasi biaya yang selanjutnya
berkembang menjadi satu cabang disiplin akuntansi biaya yang dikenal
dengan sistem ABC. Perbedaan mendasar pertama dari sistem ABC dan
sistem tradisional adalah pada asumsi yang digunakannya. Sistem
tradisional mengasumsikan bahwa “produk dan segala yang berhubungan
dengan produk menimbulkan biaya”, sementara sistem ABC berasumsi
bahwa “aktivitas menimbulkan biaya”.
Sistem ABC memperoleh kekuatan dari bagaimana cara output ABC
digunakan untuk mengelola biaya.Berangkat dari asumsi yang berbeda ini
membawa perbedaan pada cara pengelompokkan biaya produksi,
pengalokasiannya, perhitungan dan informasi yang dihasilkan. Sebagian
besar para ahli berpendapat bahwa sistem baru ini dapat menghasilkan
informasi manajemen yang lebih akurat dibanding dengan sistem lama.
Keunggulan sistem ABC akan lebih nyata apabila sistem ABC ini
diterapkan pada kondisi yang khusus (conventional wisdom) antara lain:

5
a. Dimana perusahaan telah menerapkan otomatisasi sedemikian rupa
sehingga biaya tenaga langsung sangat kecil sekali proporsinya dalam
biaya produksi (5%-10%).
b. Dimana perusahaan mempunyai biaya overhead yang sangat besar.
c. Dimana produk yang dihasilkan sudah sangat bervariasi dan proses
produksinya sangat kompleks.
d. Telah menggunakan teknologi komputer yang maju.

Sistem ABC tetap dapat diterapkan di dalam perusahaan dengan


kondisi berbeda dengan kondisi khusus, tetapi hasil yang diperoleh
mungkin tidak optimal. Keberhasilan ABC termasuk mengendalikan biaya
dengan mendorong pekerja memanipulasi proses dan membujuk
pelanggan untuk membeli output perusahaan yang dihasilkan untuk
menutupi cost-nya.

Contoh pengenalan sistem activity based costing (ABC) di perusahaan


India, dimana membawa perubahan besar dan menyebabkan tambahan
manfaat dalam area-area yang berbeda seperti fokus pada pelanggan yang
profitabel, perubahan dalam strategi penetapan harga produk, eliminasi
kegiatan yang berlebihan di seluruh rantai nilai, serta keputusan bauran
produk dan outsourcing. Hal ini mengarah pada fokus strategik.

2. Activity Based Management (ABM)


Merupakan suatu sistem yang menggunakan pendekatan terintegrasi
yang memfokuskan pada pengelolaan kegiatan agar dapat dilakukan
perbaikan berkesinambungan, baik terhadap nilai yang diterima pelanggan
(customer value) maupun laba yang diperoleh. ABM menekankan pada
activity based costing (ABC) dan proses analisis nilai. ABC memperbaiki
ketepatan pembebanan biaya-biaya pada saat penelusuran biaya terhadap
aktivitas dan selanjutnya terhadap produk atau para pemakai yang
mengkonsumsi aktivitas tersebut. ABM merupakan jantung dari sistem
akuntansi manajemen kontemporer.
3. Balance Score Card (BSC)

6
Balanced Score Card pertama kali diperkenalkan oleh Robert S.
Kaplan dan David Norton pada tahun 1992-an sebagai alat ukur kinerja
manajemen. Sementara alat ukur kinerja tradisional mengukur kinerja
manajemen hanya menggunakan perspektif keuangan, BSC ini mengukur
kinerja perusahaan melalui pendekatan keuangan (financial perspective),
perspektif pelanggan (customer perspective), perspektif bisnis intern
(internal business perspective) dan perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan (learning and growth perspective). Dalam operasionalnya
BSC ini menterjemahkan misi dan strategi perusahaan ke dalam tujuan dan
ukuran yang dirangkaikan secara terpadu ke dalam empat perspektif tadi.
Dalam perjalanan sejarahnya, BSC yang semula dimaksudkan hanya
sebagai alat ukur kinerja (performance measurement) ternyata telah
bergeser dan akhirnya menjadi suatu sistem manajemen kontemporer.
Sistem manajemen tidaklah muncul secara instan, tetapi merupakan proses
bertahap tahun demi tahun. Dengan BSC maka perusahaan dapat
mengukur strategi secara nyata menentukan strategi sasaran,
menyelaraskan program dan investasi dan membentuk sistem umpan balik.
Yang mempengaruhi perubahan akuntansi manajemen pada masa kini
diantaranya:
- Kemajuan teknologi informasi.
- Implementasi just-in time (JIT) manufacturing.
- Meningkatnya tuntutan mutu.
- Meningkatnya diversifikasi dan kompleksitas produk, serta
semakin pendeknya daur hidup produk.

- Diperkenalkannya computer-integrated manufacturing.


4.
C. Tema Baru Akuntansi Manajemen

1. Manajemen berdasarkan aktivitas


Merupakan pendekatan pengelolaan terpadu dan bersistem terhadap
aktivitas dengan tujuan untuk meningkatkan customers value dan laba
yang dicapai dari penyediaan value tersebut.

7
2. Orientasi Pelanggan
Nilai dari pelanggan adalah fokus utama karena perusahaan dapat
menciptakan keunggulan kompetitif dengan menciptakan nilai pelanggan
lebih baik dengan biaya yang sama atau lebih rendah dari pesaing atau
menciptakan nilai yang sama dengan biaya lebih rendah dari pesaing.
3. Efisiensi
Kualitas dan waktu merupakan hal yang penting, namun meningkatkan
dimensi tersebut tanpa peningkatan laba akan membuat kinerja menjadi
sia-sia. Agar pengukuran efisiensi menjadi bernilaia, biaya harus
diterapkan, di ukur dan dialokasikan dengan tepat.
4. Bisnis secara elektronik (E-Business)
E-Business merupakan transaksi bisnis dan pertukaran infomasi yang
dijalankan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
5. Waktu sebagai unsur kompetitif

Perusahaan kelas dunia mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk


mencapai pasar dengan cara memperpendek siklus desain, implementasi,
dan produksi. Perusahaan mengirim produk dengan cepat melalui
penghapusan waktu yang tidak bernilai tambah. Pengurangan waktu yang
tidak bernilai tambah semakin besar seiring dengan meningkatnya
kualitas. Tujuan keseluruhannya adalah meningkatkan daya tanggap
terhadap pelanggan.

Empat tema baru akuntansi manajemen lainnya yang harus diperhatikan,


yaitu :
- Memusatkan pada pengaruh perilaku (Mengaitkan strategi organisasi pada
tindakan). Akuntansi manajemen inovatif berguna untuk mendorong para
karyawan agar berperilaku sesuai dengan strategi organisasi sehingga
termotivasi untuk berpikir dan bertindak secara strategic dan
mengimplementasikan suatu strategi pilihan.
- Manajemen berdrive pasar (Market-driven). Manajemen pemicu pasar
mengharuskan manajemen berpikir untuk memberikan prioritas pada
kebutuhan pasar atau para karyawan di atas keterbatasan-keterbatasan

8
teknologi. Di atas semua itu, manajemen harus memperhatikan trend pasar
dan apa yang diinginkan dan diperlukan oleh pelanggan.
- Pendekatan dinamik. Pendekatan dinamis memandang bahwa kinerja
harus didasarkan pada jangka waktu panjang dan tidak hanya menekankan
pada jangka waktu pendek secara individual.

- Pendekatan berorientasi tim. Pendekatan berorientasi tim mensyaratkan


para akuntan manajemen harus memudahkan penggunaan secara bersama-
sama pengetahuan dan pengalaman dalam organisasi agar dapat
melakukan pengukuran kinerja keunangan maupun nonkeuangan.

D. Akuntansi Manajemen Resiko Keuangan

Tujuan Utama manajemen risiko keuangan adalah untuk meminimalkan


potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata
uang, kredit, komoditas, dan ekuitas. Risiko volatilitas harga yang dihadapi ini
dikenal sebagai risiko pasar. Para pelaku pasar cenderung tidak berani
mengambil risiko. Perantara jasa keuangan dan pencipta pasar memberikan
respon dengan menciptakan produk keuangan yang memungkinkan seorang
pelaku pasar untuk mengalihkan risiko perubahan harga tak terduga kepada
orang lain-pihak lawan. Pertumbuhan jasa manajemen risiko yang cepat
menunjukkan bahwa manajemen dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan
mengendalikan risiko keuangan.
Para pemberi pinjaman, karyawan dan pelanggan juga memperoleh
manfaat dari manajemen eksposur. Akhirnya karena kerugian yang
ditimbulkan oleh risiko harga dan suku bunga tertentu dialihkan kepada
pelanggan dalam bentuk harga yang lebih tinggi, manajemen eksposur
membatasi risiko yang dihadapi oleh konsumen. Akuntan manajemen
membantu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar, mengkuantifikasi
keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko alternatif, mengukur
potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk
lindung nilai tertentu dan mengevaluasi efektivitas program lindung nilai:
a. Identifikasi Risiko Pasar

9
Kerangka dasar yang bermanfaat untuk mengidentifikasikan berbagai
jenis risiko market yang berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko.
Kerangka ini diawali dengan pengamatan atas hubungan berbagai risiko
pasar terhadap pemicu nilai suatu perusahaan dan pesaingnya. Dan
biasanya disebut sebagai kubus pemetaan risiko. Istilah pemicu nilai
mengacu pada kondisi keuangan dan pos-pos kinerja operasi keuangan
utama yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Risiko pasar mencakup
risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta risiko harga komoditas dan
ekuitas.
b. Mengkuantifikasi Penyeimbangan

Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen
risiko meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan
alternatif strategi respons risiko. Akuntan harus mengukur manfaat dari
lindung dinilai dan dibandingkan dengan biaya plus biaya kesempatan
berupa keuntungan yang hilang dan berasal dari spekulasi pergerakan
pasar.

E. Peran Akuntansi Manajemen dalam Era Globalisasi

Untuk menyongsong pergeseran teknologip dari era hard automation ke


era smart tecknology, peran akuntan manajemen juga harus menyesuaikan.
Ross (1995) menyebutkan bahwa akuntan manajemen kana da telah
memelopori perubahan tersebut, perubahan peran tersebut adalah sebagai
berikut:

a. Menempatkan profesi akuntan manajemen sebagai anggota senior dalam


akuntan manajemen, yang berperan secara aktif dalam penentuan sasaran-
sasaran strategic perusahaan, bukan hanya sebagi penyedia informasi
akuntansi bagi pengambil keputusan.
b. Mendasarkan keahlian teknis profesi akuntan manajemen bagi pada
pengetahuan mendalam tentang advanced management control process
bukan lagi pada traditional cost accounting.
c. Memperluas tanggung jawab profesi akuntan manajemen ke proses
pengendalian diluar daerah yang murni keuangan.

10
d. Mengarahkan orientasi profesi akuntan manajemen ke bisnis yang lebih
bersifat strategik, bukan yang bersifat rutin dan operasional.

11