Anda di halaman 1dari 5

Audit Manajemen pada Fungsi Sumber Daya Manusia

manajemen pada fungsi ini bertujuan untuk menilai apakah kebutuhan SDM suatu
perusahaan sudah terpenuhi dengan cara yang hemat, efisien, dan efektif. Ruang lingkup pada
audit ini mencakup keseluruhan dari proses SDM yang meliputi:
1. perencanaan tenaga kerja, 2. penerimaan (rekrutmen) karyawan, 3. seleksi, 4. orientasi
dan penempatan, 5. pelatihan dan pengembangan, 6. penilaian kerja, 7.
pengembangan karier, 8. sistem imbalan dan kompensasi, 9. perlindungan karyawan,
10. hubungan karyawan, 11. pemutusan hubungan kerja (PHK).
Audit Manajemen pada Fungsi Sistem Informasi
Audit manajemen pada fungsi sistem informasi menekankan pada penilaian terhadap
keandalan sistem informasi yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan berbagai informasi
yang diperlukan secara akurat dan tepat waktu. Sistem informasi mencerminkan sistem
pengendalian yang diterapkan perusahaan. Oleh karena itu, keandalan suatu sistem informasi
berhubungan erat dengan keandalan sistem pengendalian yang diterapkan perusahaan. Untuk
menilai keandalan sistem informasi ini dapat dilihat apakah tujuan pengendalian di dalam
perusahaan telah tercapai atau tidak. Dengan berkembangnya teknologi saat ini, sebagian
besar audit manajemen pada fungsi ini diarahkan untuk audit sistem informasi yang berbasis
komputer (electronic data processing-EDP). Ruang lingkup audit ini meliputi:
1. dukungan satuan pengolah data, 2. perencanaan pengolahan data, 3. organisasi
pengolahan data, 4. pengendalian pengolahan data.

AUDIT MANAJEMEN LINGKUNGAN

Tujuan utama audit manajemen pada fungsi ini adalah untuk menilai sejauh mana perusahaan
telah melaksanakan tanggung jawab lingkungannya. Mengapa hal ini menjadi perlu? Banyak
kasus pengelolaan tanggung jawab lingkungan yang kurang baik, yang merupakan
pemborosan sumber daya bagi perusahaan. Tujuan audit pada fungsi ini mencakup baik
tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan internalnya (keselamatan dan kesehatan
kerja) maupun tanggung jawab lingkungan eksternal (pencemaran limbah).

Audit Sistem Manajemen Kualitas

Kualitas pada saat ini banyak digunakan sebagai strategi dalam memenangkan persaingan.
Menawarkan produk dengan kualitas yang relatif lebih tinggi dan harga yang relatif sama dari
pesaing dapat menjadi modal bagi perusahaan untuk memperluas pangsa pasarnya. Tetapi
kualitas juga bisa menjadi pemborosan bagi perusahaan. Audit sistem kepastian kualitas
bertujuan untuk menilai apakah sistem kepastian kualitas yang diterapkan perusahaan telah
mampu memandu proses operasi perusahaan untuk dapat mencapai kualitas produk sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Produk yang memenuhi standar kualitas pada dasarnya
adalah produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Audit Manajemen Bidang Perpajakan

Fungsi perpajakan pada perusahaan sebenarnya bukan hanya pada bagaimana  perusahaan
melaksanakan kewajiban perpajakannya secara benar sesuai dengan peraturan dan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah
bagaimana perusahaan mengelola fungsi ini untuk meminimalkan kewajiban perpajakannya.
Melalui perencanaan perpajakan yang matang. Perusahaan dapat mengelola berbagai
transaksi yang terjadi dengan memaksimalkan jumlah beban yang bisa dikurangkan terhadap
penghasilan yang diperoleh perusahaan, sehingga dapat memperkecil penghasilan kena pajak
(yang merupakan dasar pengenaan pajak bagi perusahaan).

Audit perpajakan (tax review)  dapat membantu Wajib Pajak dengan melakukan penilaian
terhadap pengelolaan fungsi perpajakan untuk menentukan:

1. Apakah setiap transaksi yang mengandung unsur perpajakan telah dikelola dengan
baik sehingga dapat meminimalkan kewajiban perpajakan perusahaan
(memaksimalkan deductable expense).
2. Apakah pengelolaan fungsi perpajakan telah dilakukan dengan baik dan tidak
melanggar aturan serta ketentuan perpajakan yang telah berlaku.

Apakah penyelesaian kewajiban perpajakan perusahaan (pembayaran dan pelaporan) telah


dilakukan dengan tepat waktu.
Audit Pendahuluan Audit pendahuluan dilakukan dalam rangka mempersiapkan audit lebih
dalam. Audit ini lebih ditekankan pada usaha untuk memperoleh informasi latar belakang
tentang objek audit. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan
pelaksanaan audit ini, antara lain: 1. pemahaman auditor terhadap objek audit, 2. penentuan
tujuan audit, 3. penentuan ruang lingkup dan sasaran audit, 4. review terhadap peraturan dan
perundang-undangan yang berkaitan dengan objek audit, 5. pengembangan kriteria awal
dalam audit. Pemahaman Auditor terhadap Objek Audit Objek audit meliputi keseluruhan
perusahaan dan/atau kegiatan yang dikelola oleh perusahaan tersebut dalam rangka mencapai
tujuannya. Setiap objek audit memiliki wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda
sesuai dengan karakteristik dan sistem pendelegasian wewenang yang diselenggarakan pada
perusahaan tersebut, Dalam suatu divisi yang dikelola secara terdesentralisasi, manajer divisi
memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengatur divisi tersebut seperti suatu
perusahaan yang berdiri sendiri. Perencanaan, pengelolaan, pengendalian, dan pengambilan
keputusan berkaitan dengan divisi tersebut menjadi wewenang dan tanggung jawab manajer
divisi, yang akan dipertanggungjawabkan bersamaan dengan penyajian laporan divisi kepada
manajemen pusat. Suatu divisi dapat berupa anak perusahaan, segmen bisnis atau cabang dari
suatu perusahaan. Departemen dalam suatu perusahaan memiliki wewenang dan tanggung
jawab utama pada departemen tersebut. Manajer (kepala departemen) pemasaran memiliki
wewenang untuk merencanakan, mengelola, mengendalikan, dan mengambil keputusan di
bidang pemasaran. Untuk mencapai tujuannya, objek audit menetapkan berbagai program
yang pelaksanaannya dijabarkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan. Setiap program-
program/aktivitas yang diselenggarakan pada setiap departemen/divisi harus selaras dengan
tujuan perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, auditor harus memahami tujuan
perusahaan dan berbagai program/aktivitas yang diselenggarakan untuk mendapatkan
pemahaman tentang keselarasan tujuan tersebut. Dalam pemahaman terhadap objek audit,
auditor harus mendapatkan informasi tentang sumber daya (kapasitas aktivitas) yang dimiliki
objek audit dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Di samping itu, metode operasi (cara
pelaksanaan kegiatan) juga harus menjadi perhatian penting karena dari hubungan antara
metode operasi dengan ketersediaan sumber daya, auditor akan mendapatkan informasi awal
apakah suatu kegiatan telah dilaksanakan dengan ekonomis, efisien, dan efektif dalam
mencapai tujuannya. Auditor harus membuat kesimpulan sementara secara umum atas
pemahamannya terhadap objek audit. Berbagai informasi yang diperoleh dalam tahap ini,
termasuk indikasi adanya kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki menjadi dasar dalam
membuat kesimpulan tersebut. Walaupun kesimpulan ini masih bersifat sementara, berbagai
temuan yang diperoleh pada tahap ini terutama indikasi adanya kelemahan-kelemahan yang
perlu diperbaiki, dapat digunakan sebagai dasar sementara untuk menentukan tujuan, ruang
lingkup, sasaran audit, dan penentuan kriteria serta bukti-bukti yang diperlukan. Auditor
harus mengomunikasikan dengan atasan pengelola objek atau pemberi tugas audit tentang
pemahamannya terhadap berbagai program/aktivitas objek audit untuk menghindari
terjadinya kesalahpahaman. Komunikasi ini lebih efektif jika dilakukan secara tertulis,
dengan meminta tanggapan pemberi tugas audit tentang hal-hal berikut. 1. Informasi yang
mendukung tujuan audit. 2. Informasi yang mengarahkan ruang lingkup audit. 3. Informasi
yang mengarah pada sasaran audit. Di samping mendapatkan tanggapan tentang hal-hal
tersebut, auditor juga harus mendapatkan tanggapan tentang kesimpulan umum yang telah
diajukannya untuk lebih memantapkan hasil kesimpulan auditor.
Penentuan Tujuan Audit Audinor haras menentukan tujuan audit untuk semua audit
manajemen yang dilakukan, dalam rangka menyajikan kerangka kerja audit. Tujuan audit
harus mengacu pada alasan mengapa eudit harus dilakukan pada objek audit dan didasarkan
pada penugasan audit. Penugasan audit biscanya memberikan tujuan audit dalam lingkup
yang luas. Terhadap hal ini auditor harus menggunakan keahlian profesionalnya untuk
merumuskan tujuan audit yang lebih spesifik Berikut ini adalah beberapa alasan yang
mendasari diperlukannya audit manajemen. 1. Terjadinya pemborosan dan ketidakefisienan
penggunaan sumber daya perusahaan 2. Tujuan yang telah ditetapkan tidak tercapai. 3.
Adanya alternatif yang lebih baik dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. 4.
Terjadinya penyimpangan dalam penggunaan sumber daya. 5. Adanya penyimpangan
terhadap peraturan dan kebijakan perusahaan. 6. Sistem informasi dan pelaporan yang kurang
baik Dalam merumuskan tujuan ini, auditor dapat melakukannya dengan cara berikut. 1.
Mengidentifikasi tujuan yang ada, yang mungkin mempunyai arti penting pada pemberi tugas
2. Mempertimbangkan tujuan audit yang telah ditetapkan pada masa sebelumnya. 3.
Mempertimbangkan aktivitas-aktivitas yang memiliki risiko kegagalan yang tinggi. 4.
Membahas dengan pemberi tugas dan pengelola objek audit.
Penentuan Ruang Lingkup dan Sasaran Audit Ruang lingkup audit menunjukkan luas (area)
dari sasaran audit. Beberapa hal penting yang merupakan keinginan dari pemberi tugas harus
diperhatikan dalam menentukan ruang lingkup audit. Di samping itu, penentuan ruang
lingkup audit harus mengacu pada tujuan audit yang telah ditetapkan. Secara garis besar,
ruang lingkup audit manajemen terdiri atas sebagai berikut. 1. Bidang keuangan. Ruang
lingkup bidang keuangan ini mencakup: pengendalian dan pertanggungjawaban dana dan
kekayaan lain serta kewajiban keuangan perusahaan, b. Pertanggungjawaban audit dari
kegiatan yang dilakukan, C penyelenggaraan catatan akuntansi, a laporan keuangan, e
pemanfaatan sistem akuntansi yang dimiliki perusahaan. 2 Ketaatan kepada peraturan dan
kebijakan perusahaan. Ruang lingkup ini termasuk di dalamnya: kesesuaian pelaksanaan
program dengan peraturan dan kebijakan perusahaan berkaitan dengan program tersebut, b.
Kesesuaian penerimaan dan penggunaan dana dengan peraturan dan kebijakan perusahaan
berkaitan dengan program tersebut. 3. Ekonomisasi. Ruang lingkup audit ekonomisasi
menekankan pada bagaimana setiap aktivitas/kegiatan dalam objek audit mengelola dana
yang dimiliki objek audit dalam memperoleh hasil yang lebih besar, termasuk pencapaian
alternatif pelaksanaan kegiatan dalam mencapai tujuan dengan biaya yang lebih rendah. 4.
Efisiensi. Efisiensi menyangkut optimalisasi penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Pada bagian ini auditor, menekankan pada bagaimana seharusnya
proses berjalan sehingga tercapai tujuan dengan pemanfaatan secara optimal sumber daya
yang dimilikinya. S. Efektivitas. Pada ruang lingkup ini, auditor menekankan perhatiannya
pada: pencapaian tujuan program dan kegiatan yang sudah ditetapkan. b. pemanfaatan hasil
program, pengaruh pemanfaatan hasil program atau kegiatan terhadap pencapaian tujuan
perusahaan secara keseluruhan. a. C.

Sedangkan yang menjadi sasaran dalam audit manajemen adalah kegiatan, aktivitas, program
dan bidang-bidang dalam perusahaan yang diketahui atau diidentifikasi masih memerlukan
perbaikan peningkatan, baik dari segi ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas. Ada (tiga)
elemen pokok dalam tujuan audit, antara lain : a. Kriteria Kriteria merupakan standar
(pedoman.norma) bagi setiap individu/kelompok di dalam perusahaan dalam melakukan
aktivitasnya. B. Penyebab Penyebab merupakan tindakan yang dilakukan oleh setiap
individu/kelompok di dalam perusahaan. Penyebab dapat bersifat positif, program/aktivitas
berjalan dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi, atau sebaliknya bersifat
negative, program/aktivitas berjalan dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang lebih
rendah dari standar yang telah ditetapkan. C. Akibat (effect) Akibat merupakan perbandingan
antara penyebab dengan criteria yang berhubungan dengan penyebab tersebut. Akibat negatif
menunjukkan program/aktivitas berjalan dengan tingkat pencapaian yang lebih rendah dari
kriteria yang ditetapkan. Sedangkan akibat positif menunjukkan bahwa program/aktivitas
telah terslenggara secara baik dengan tingkat pencapaian yang lebih tinggi dari kriteria yang
ditetapkan.3
Cara Menyajikan Temuan Audit Temuan audit merupakan fakta (data dan informasi) yang
ditemukan auditor dalam pelaksanaan auditnya, Penyajian temuan dalam audit manajemen
dapat dilakukan dalam bentuk kolom- kolom, di mana setiap kolom menyajikan temuan
berupa kondisi, kritería, penyebab, dan akibat (seperti yang digunakan pada buku ini), atau
dapat juga disajikan dalam bentuk narasi dengan sistematika urut ke bawah dimulai dari
kondisi, kriteria, penyebab, dan akibat. Kondisi: 1. Mendeskripsikan kondisi yang ditemukan
pada objek pemeriksaan. 2. Kondisi merupakan hasil aktual pelaksanaan program/aktivitas
pada objek yang diperiksa. 3. Kondisi bukan merupakan kesimpulan dari temuan. 4. Sajikan
kondisi seperti apa adanya pada saat ditemukan. Contoh: volume penjualan 500 unit/minggu.
Kriteria: 1. Merupakan panduan setiap individu/kelompok dalam melakukan aktivitasnya dan
digunakan untuk menilai aktivitas atau hasil aktivitas dari individu/kelompok pada objek
pemeriksaan. 2. Kriteria merupakan pedoman/standar yang terukur. 3. Sajikan kriteria apa
adanya seperti yang dirumuskan pada manual objek pemeriksaan. Contoh: volume penjualan
1.250/minggu, training sales 3 minggu, 2:1 (2 minggu pelatihan di kelas [in house training]; 1
minggu pelatihan kerja di lapangan [on the job training]).

Penyebab: 1. Merupakan tindakan atau aktivitas aktual vang dilakukan oleh


individu/kelompok pada objek pemeriksaan. 2. Penyebab merupakan penerapan dari kriteria
yang telah ditentukan 3. Sajikan penyebab sebagai rekaman atas kejadian/cara kerja dalam
melaksanakan aktivitas. Contoh: training sales 2 minggu in house. Akibat: 1. Merupakan
hasil pengukuran dan pembandingan antara aktivitas individu (kelompok) dan kriteria yang
telah ditetapkan terhadap aktivitas tersebut. 2. Lakukan penilaian dan pengukuran terhadap
pengaruh dari perbedaan antara pencapaian aktivitas dengan kriterianya. Contoh: akibat dari
tidak tercapainya volume penjualan, laba yang dicapai belum mampu memenuhi target.
Penelaahan terhadap Peraturan dan Kebijakan yang Berkaitan dengan Objek Audit Setiap
aktivitas dalam objek pemeriksaan diatur oleh seperangkat peraturan dan kebijakan. Untuk
mendapatkan praktik terbaik, aturan dan kebijakan yang menjadi pedomannya haruslah juga
yang terbaik (best practice) dan tidak menyimpang dari aturan yang lebih tinggi. Sebelum
menggunakannya sebagai kriteria untuk menilai, auditor harus menelaah terlebih dahulu
aturan- aturan dan kebijakan tersebut. Penelaahan ini bertujuan untuk memperoleh informasi
tentang peraturan-peraturan yang berhubungan dengan objek audit, baik bersifat umum
maupun yang berhubungan khusus dengan berbagai program/aktivitas yang diselenggarakan
pada objek audit. Dengan penelahaan ini auditor dapat memahami batas-batas wewenang
objek audit dan berbagai program yang dilaksanakan dalam mencapai tujuannya. Peraturan
dan kebijakan yang ditetapkan oleh objek audit dapat berupa adopsi terhadap peraturan yang
ditetapkan pemerintah atau yang secara penuh dikembangkan di dalam objek audit sebagai
penjabaran strategi dalam meningkatkan kemampuan bersaingnya. Pengembangan Kriteria
Awal dalam Audit Kriteria adalah norma atau standar yang merupakan pedoman bagi setiap
individu maupun kelompok dalam melakukan aktivitasnya di dalam perusahaan. Kriteria ini
akan digunakan untuk menilai pelaksanaan dan pengendalian berbagai aktivitas yang
dilakukan dalam perusahaan. Oleh karena begitu pentingnya peranan kriteria dalam audit
manajemen, auditor harus yakin bahwa kriteria yang digunakan sudah tepat dalam menilai
ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas berbagai program/aktivitas di dalam perusahaan.
Faktor yang memengaruhi kriteria yang akan digunakan dalam audit antara lain: