Anda di halaman 1dari 10

POPULASI DAN DISTRIBUSI PRIMATA DI BODOGOL,

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT


Lidya Stephani,Ristika Putri Istanti, Rani Ayu Lestari 1

1
Angota KSP Macaca Universitas Negeri Jakarta

Abstract
Primates are the important animal of Indonesia, and are now found in only fragmented forests in
Java such as Bodogol, Gede Pangrango National Park. The purpose of this research was to
determine the population density of primate in Bodogol, Gede Pangrango National Park. This
research was conducted on July, 8th-10th 2010 which used descriptive method with line transect. The
total distance walked was 9,75 km for these tracks: Cipadaranteun, Afrika, Long track and Cikaweni.
The results of this research are following (1) the density of primate which estimated by calculating
data according to Brockelman and Ali formula were Hylobates moloch 11.97 ind/km2, Presbytis comata
19.26 ind/km2, Trachypithecus auratus 17.09 ind/km2 and (2) primates in Bodogol, Gede Pangrango
National Park were most distributed in Afrika track.

Keywords: distribution, population, primates.

PENDAHULUAN menjadi pohon pakan primata itu sendiri.

Taman Nasional Gunung Gede Selain itu, pohon-pohon tersebut berperan

Pangrango (TNGGP) adalah kawasan dalam keseimbangan ekosistem di

hutan hujan tropis yang memiliki TNGGP. (www.gedepangrango.org)

keanekaragaman jenis fauna cukup tinggi.


Salah satu fauna yang ditemukan di Menurut Supriatna (2000), potensi

TNGGP adalah primata. Di TNGGP ini pengurangan habitat primata terparah

dapat ditemukan lima jenis primata, yaitu terjadi di Pulau Jawa. Hal tersebut terlihat

owa jawa (Hylobates moloch), Lutung dari semakin berkurangnya luas hutan

Budeng ( Trachypithecus auratus), surili yang menjadi habitat primata. Salah satu

(Presbytis comata), monyet ekor panjang wilayah yang menjadi habitat primata

(Macaca fascicularis), dan kukang yang mengalami penurunan luas wilayah

(Nycticebus javanicus) di Pulau Jawa adalah hutan PPKA-

(www.gedepangrango.org) Bododgol, Taman Nasional Gunung Gede


Pangrango, Jawa Barat.

Kelima jenis primata tersebut memiliki


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
peran yang sangat penting bagi kawasan
struktur populasi, kepadatan populasi, dan
Taman Nasional Gunung Gede
distribusi primata yang terdapat di
Pangrango, yaitu sebagai penyebar biji
Bodogol, kawasan Taman Nasional
(seed dispersal), karena dari biji-biji
Gunung Gede Pangrango, salah satu
tersebut akan tumbuh pohon-pohon yang
kawasan konservasi di Jawa Barat.

1
METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada


tanggal, 8-10 Juli 2010 di sekitar hutan
Ditelusuri antara lain jalur Afrika, kelompok, dan aktivitas yang terlihat
Rasamala, Cikaweni, and Cipadaranteun, pertama kali terdeteksi.
Pusat Penelitian Konservasi Alam Analisis data yang digunakan
Bodogol, TNGGP. adalah estimasi kepadatan populasi,
Metode yang digunakan adalah menurut Brockelman dan Ali dalam
metode deskriptif dengan teknik jalur. Alat Paterson (2001):
yang digunakan adalah handcounter,
kompas bidik, tabulasi data, kamera digital
Sony DSC- W110, inklinometer, jam
tangan, alat tulis, dan buku identifikasi
primata Supriatna, 2000
dimana :
Data yang diperoleh dicatat pada
tabulasi data dengan waktu perjumpaan, D = Kepadatan populasi (ind/km2)
sudut antara pengamat dan objek, sudut
N =Jumlah primata yang ditemukan
inklinometer untuk menentukan tinggi
(ind)
pohon tempat primata ditemukan, panjang
jalur, jumlah individu, komposisi W = Lebar jalur (km)

L = Panjang jalur (km)

2
3
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, telah diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 1. Tabel pengamatan frekuensi perjumpaan primata pada setiap jalur.

No JJ JO
Waktu Jenis Jml Keterangan
. (km) (km)
Trachypithecus
1 06.40 5 0,116 0,01 Jalur Afrika
auratus

2 07.36 Presbytis comata 2 0,116 0,01 Jalur afrika

07.42 Hylobates moloch Jalur


3 1 0,052 0,01
Cipadaranteun
4 08.47 Presbytis comata 1 0,356 0,005 Jalur afrika

5 08.55 Presbytis comata 1 0,446 0,015 Jalur afrika

6 08.57 Presbytis comata 2 0,446 0,005 Jalur afrika

10.55 Trachypithecus Jalur afrika


7 1 0,705 0,03
auratus
11.03 Trachypithecus Jalur afrika
8 2 0,705 0,03
auratus
11.08 Trachypithecus Jalur afrika
9 2 0,705 0,03
auratus
10 11.19 Presbytis comata 2 0,705 0,03 Jalur afrika

11 13.39 Hylobates moloch 1 0,446 0,03 Jalur afrika

12 13.40 Hylobates moloch 4 0,116 0,01 Jalur afrika

13 14.21 Hylobates moloch 1 0,446 0,03 Jalur afrika

10
9
8
7
Hylobatesmoloch
Jumlah 6
5
individu 4 Presbytiscomata
3
2 Trachypithecus
1
0 auratus
Cipadaranteun Rasamala
Jalur
Gambar 1. Diagram Batang Jumlah Primata yang Ditemukan Di Bodogol, TNGP

Owa Jawa (Hylobates


moloch)

Surili (Presbytis comata)

Lutung (Trachypithecus
auratus)
20 19,26
18 17,09
16 Hylobates moloch
14 11,97
Kepadatan 12 Presbytis comata
10
populasi 8
6 Trachypithecus
4 auratus
2
0

Gambar3. Diagram Batang Kepadatan Populasi Primata yang Ditemukan Di Bodogol,


TNGGP

Pengamatan di Bodogol, Taman Nasional primata yang ada di Bodogol, hanya 3


Gunung Gede Pangrango (TNGGP) jenis primata saja yang berhasil
dilakukan selama 3 hari, dimana ditemukan selama pengamatan yaitu Owa
ditemukan beberapa jenis primata di Jawa (Hylobates moloch), Lutung Budeng
beberapa jalur yang dilalui. Dari lima jenis
(Trachypithecus auratus), dan Surili dari hasil pengamatan ternyata pada hari
(Prebytis comata). pertama dan ketiga hanya ditemukan satu
individu Owa Jawa. ini dikarenakan Owa
Primata yang paling banyak
Jawa juga dapat ditemukan sendiri atau
ditemui adalah Lutung Budeng sedangkan
dalam keadaan soliter, dan biasanya
yang paling sedikit ditemui adalah Owa
adalah Owa Jawa dewasa dan diusir dari
Jawa. Jumlah Lutung Budeng dalam tiap
kelompoknya untuk membentuk kelompok
kelompok yang bisa mencapai 6-20 ekor
baru (Nowak dalam Oktaviani,2009).
ini yang memudahkan dalam menemukan
jenis tersebut. Berbeda dengan Owa Jawa Lutung Budeng (Trachypithecus
yang hanya 3-5 ekor setiap kelompoknya auratus) mempunyai ciri morfologi yang
atau Surili yang hanya 4-5 hingga 10-15 unik. Tubuh jantan maupun betina dewasa
ekor setiap kelompok sehingga kedua berwarna hitam, namun Lutung Budeng
jenis tersebut lebih sulit untuk ditemukan. muda memiliki rambut berwarna oranye.
Selain itu sifat Owa Jawa yang soliter Selain itu, jenis ini mempunyai ekor yang
dibanding dengan jenis primata yang lain lebih panjang daripada panjang tubuhnya.
juga menyebabkan Owa Jawa menjadi Kelompok Lutung Budeng juga terdiri dari
sedikit ditemukan (Nowak dalam 6-20 individu dalam satu kelompok.
Oktaviani, 2009). Berdasarkan data dari Faktor-faktor tersebut yang menyebabkan
Supriatna (2000), populasi Owa Jawa di Lutung Budeng mudah ditemukan pada
alam terus mengalami penyusutan akibat saat pengamatan.
fragmentasi habitat dan perburuan liar
Kappeler (1984), Owa Jawa
sehingga ini pun bisa mnejadi peyebab
merupakan genus Hylobates yang
dari sedikitnnya Owa Jawa yang terlihat
membutuhkan pepohonan besar dengan
saat pengamatan.
tajuk rapat dan memiliki percabangan
Owa Jawa (Hylobates moloch) yang tumbuh horizontal untuk membantu
biasanya memiliki 4-5 anggota dalam satu mereka dalam pergerakan yang bersifat
kelompok. Pada pengamatan primata ini brankiasi. Hal tersebut menyebabkan Owa
hanya pada hari kedua ditemukan satu Jawa hanya ditemukan di Jalur
kelompok yang memiliki 4 individu. Hal ini Cipadaranteun dan Afrika. Karena di Jalur
disebabkan karena waktu pertemuan Cikaweni, Rasamala, dan Long Track
dengan Owa Jawa yang berbeda. Karena tidak memiliki pepohonan yang rapat,
bersifat monogamy dan territorial, maka seperti pada dua jalur lainnya seperti
Owa Jawa selalu bergerak bersama Cipadaranteun dan Afrika.
dengan kelompoknya dalam mencari
makan yang dipimpin oleh betina dewasa
KESIMPULAN
(Sinaga dalam Oktaviani,2009). Selain itu,
Dari hasil pengamatan, dapat Barat. Bogor : Departemen
disimpulkan bahwa jenis primata yang Konservasi Sumber Daya Hutan
paling sedikit ditemui adalah Owa Jawa dan Ekowisata Fakultas Ilmu
(Hylobates moloch) sedengkan yang Kehutanan IPB.
paling banyak adalah Lutung Budeng
Paterson, James D. dan Donald
(Trachypithecus auratus). Jumlah Owa
Vandenbeld. 2001. Primate
Jawa dalam satu kelompok yang sedikit,
behavior: an exercise workbook.
sifatnya yang soliter dan populasinya yang
Penerbit : Waveland Universitas
terus menurun menyebabakan Owa Jawa
Michigan.
sedikit ditemukan. Primata terdistribusi
Supriatna, Jatna dan Edy Hendras W.
lebih banyak di jalur Afrika yang
2000. Panduan Lapangan
kebanyakan pohonnya dalam keadaan
Primata Indonesia. Jakarta :
berbuah saat pengamatan.
Yayasan Obor Indonesia.
SARAN
Anonim.2010. Tentang Taman
Dari penelitian ini, dapat
Nasional Gunung Gede
dikembangkan untuk penelitian yang lebih
Pangrango.
spesifik, seperti hanya pada satu jenis
primata. Selain itu, peneliti selanjutnya www.gedepangrango.org.

dapat menggunakan jalur yang lebih Diunduh tanggal 23


banyak untuk mendapatkan data yang Februari 2011.
valid.

DAFTAR PUSTAKA

Kappeler, M. 1984. The Gibbon in


Java. Edinburgh. Edinburgh
University Press.

Maryanto, Ibnu, Anang Setiawan, dan


Agus Prijono. 2008. Mamalia
Dilindungi Perundang-undangan
Indonesia. Cibinong: LIPI.

Oktaviani, 2009. Studi Perilaku Owa Jawa


(Hylobates moloch Audebert,
1798) di Taman Nasinal Gunung
Halimun Salak, Provinsi Jawa
.