Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan DHF

Dosen Pengampu : Ns. Lince Amelia, M. Kep

Disusun Oleh :

Kelompok 4

1. Meremius Yikwa (S18127027)


2. Murti Astuti (S19128013)
3. Liana Affandi P (S19128015)
4. DEsvira Auliyah (S19128020)
5. Rizal Wahyudi (S19128023)
6. Heni Novi Antika (S19128028)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN

MUHAMMADIYAH PONTIANAK

TAHUN ANGKATAN 2020/2021


KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT kami ucapkan karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada
Anak Dengan DHF” untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

Terimakasih penulis ucapkan kepada anggota kelompok yang telah berkontribusi


secara finansial maupun non-finansial dalam pembuatan makalah ini. Serta tidak lupa
terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Lince Amalia, M. Kep, selaku dosen mata
kuliah Keperawatan Anak karena berkat bimbingan beliaulah makalah ini dapat
terselesaikan secara tepat waktu.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis serta pembaca dalam


mengembangkan ilmu pengetahuan. Kami menyadari bahwasanya dalam penyusunan
laporan ini tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangan yang kami lakukan.
Sehingga kami memohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian.

Kubu Raya, 26 Maret 2021.

Kelompok 4

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN....................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................1
C. Tujuan....................................................................................................................2
BAB II : PEMBAHASAN......................................................................................3
A. Pengertian DHF...................................................................................................3
B. Anatomi Fisiologi Hematologi...........................................................................3
C. Etiologi.................................................................................................................5
D. Patofisiologi.........................................................................................................6
E. Komplikasi...........................................................................................................7
F. Pemeriksaan Laboratorium.................................................................................8
G. Tanda dan Gejala..................................................................................................8
H. Klasifikasi............................................................................................................9
I. Pemeriksaan Penunjang......................................................................................9
J. Penatalaksanaan.................................................................................................10
K. Pencegahan.........................................................................................................11
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN.............................................................12
A. Pengkajian..........................................................................................................12
B. Diagnosa Keperawatan.....................................................................................15
C. Intervensi............................................................................................................17
D. Implementasi......................................................................................................22
E.    Evaluasi..............................................................................................................23
BAB IV : PENUTUP............................................................................................24
A. Kesimpulan.........................................................................................................24
B. Saran.....................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................25

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan tanda dan gejala demam, nyeri otot,
nyeri sendi disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia
(Rohim,2004). Sekitar 2,5 milyar (2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko
untuk terkena infeksi virus Dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan
subtropics pernah mengalami letusan demam berdarah. Kurang dari 500.000
kasus setiap tahun di rawat di RS dan ribuan orang meninggal (Mekadiana,
2007).
Pada bulan januari 2009, penderita DHF di Jawa Tengah sebanyak 1706
orang. Sedangkan kasus DHF yang terjadi di beberapa kota di Jawa Tengah
sampai pertengahan 2009 sebanyak 2767 orang 73 diantaranya meninggal
(Lismiyati, 2009).
Sebagian pasien DHF yang tidak tertangani dapat mengalami Dengue
Syok Sindrom yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan pasien
mengalami deficit volume cairan akibat meningkatnya permeabilitas kapiler
pembuluh darah sehingga darah menuju keluar pembuluh. Sebagai akibatnya
hampir 35% paien DHF yang terlambat ditangani di RS mengalami syok
hipovolemik hingga meninggal. Saat ini angka kejadian DHF di RS semakin
meningkat, tidak hanya pada kasus anak, tetapi pada remaja dan juga dewasa.
Oleh karena itu diharapkan perawat memiliki ketrampilan dan pengetahuan
yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
DHF. Ketrampilan yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan untuk
mengidentifikasi tanda-tanda syok dan kecepatan dalam menangani pasien
yang mengalamim Dengue Syok Sindrom (DSS).

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Dengue
Hemmorhagic Fever (DHF).

1
2

C. Tujuan
1. Tujuan umum

Perawat mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan


Dengue Hemmorhagic Fever (DHF).

2. Tujuan khusus

Penulis mengetahui dan mampu :

a. Melakukan pengkajian pada klien dengan DHF.


b. Merumuskan dan menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan
DHF.
c. Menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan DHF.
d. Melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan DHF
e. Melakukan evaluasi pada klien dengan DHF.
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian DHF
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue yang ditularkan dari orang keorang melalui gigitan nyamuk
Aedes (Ae). (Kementrian Kesehatan RI, 2015).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu sindrom bersifat akut dan
benigna disebabkan oleh arbovirus yang ditandai oleh demam bifasik, nyeri
otot/sendi, ruam kulit, sefalgia, dan limfadenopati (Widagdo 2011).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang
disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi
mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer
& Suprohaita; 2000).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan
oleh empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan empat gejala klinis
utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan
,tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan (sindroma
renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat
menyebabkan kematian (Rohim dkk, 2002 ; 45).

B. Anatomi Fisiologi Hematologi


Darah merupakan jaringan yang terdiri dari dua komponen, plasma dan
sel darah (korpuskili). Plasma merupakan komponen intraseluler yang
terbentuk cair dan berjumlah sekitar 55% dari volume darah, sedangkan sel
darah merupakan komponen padat yang terdapat didalam plasma darah yang
terdiri dari sel eritrosit (sel darah merah), leokosit (sel darah putih),
Trombosit (bekuan darah) dengan jumlah 45% dari volume darah.

1. Plasma darah

Unsur ini merupakan komponen terbesar dalam darah, karna lebih


dari separuh darah mengandung plasma darah. Hampir 90% bagian dari
plasma darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari

3
4

makan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat


pembuangan. Fungsi lainya adalah menghasilkan zat kekebalan tubuh
terhadap penyakit atau zat antibodi (Wahyu, 2009).

2. Sel-sel darah

Sel-sel darah tersusun atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), trombosit (keping darah).

a) Sel darah merah

Sumber : Buku Sistem Peredaran Darah Pada Manusia gambar 2.2

Mengandung banyak hemoglobin. Darah berwarna merah sebab


hemoglobin berwarna merah tua. Sel darah merah dihasilkan dilimpa
atau kura, hati dan sumsum merah pada tulang pipih. Sel darah merah
yang sudah mati dihancukan didalam hati. Sel darah merah disebut juga
eritrosit berbentuk pipih degan cekungan dikedua permukaanya. Eritrosit
berfungsi mengedarkan oksigen dan karbon dioksida. Jumlah eritrosit
dalam setiap milimeter kubik darah adalah 5-6 juta eritrosit, artinya pada
tubuh manusia terdapat sekitar 30 miliar eritrosit. Jumlah eritrosit
didalam tubuh manusia bervariasi, sesuai dengan jenis kelamin, usia, dan
ketinggian tempat orang tersebut tinggal (Wahyu, 2009).

b) Sel darah putih

Sel darah putih berperan dalam membentuk sistem pertahanan tubuh


terhadap penyakit.

1) Agranulosit adalah leukosit yang tidak memiliki granula pada


sitoplasmanya. Terdapat 2 jenis agranulosit, yaitu limfosit dan
monosit.

2) Granulosit adalah leukosit yang memiliki granula pada


sitoplasmanya. (Wahyu, 2009).

c) Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam hemostatis.


5

Trombosit melekat pada lapisan endotel pembuluh darah yang robek


(luka) dengan membentuk plug trombosit. Jumlah trombosit 150.000-
350.000/ml darah. Sebagian besar antaranya berperan dalam merangsang
mulainya proses pembekuan darah. Umur trombosit sekitar 10 hari.
(Kiswari, 2014).

Gangguan hematologi yang terjadi pada pasien DHF :

a) Trombositopenia dan Hemokonsentrasi


Trombositopenia dan hemokonsentrasi banyak dijumpai pada
demam berdarah dengue. Trompositopenia (jumlah trombosit kurang
dari 100.000/pl). Trombositopenia kerap kali terjadi sebelum
terjadinya perubahan angka hematokrit.

Hemokonsentrasi yang terjadi akibat adanya perembesan plasma


dapat ditentukan berdasar peningkatan angka hematokrit. Pada
waktu terjadinya penurunan suhu badan penderita atau sebelum
terjadinya syok, terjadi penurunan jumlah trombosit diikuti
peningkatan angka hematokrit (Soedarto, 2012).

C. Etiologi.
1. Virus Dengue.
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke
dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe
yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut
terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara
serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavovirus ini
berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada
berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia
misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel
Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus.
2. Vektor.
6

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor


yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes
polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang
berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan
antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada
perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya ( Widagdo, 2011).

D. Patofisiologi.
Virus dengue masuk ke sirkulasi perifer manusia melalui gigitan
nyamuk. Virus akan berada didalam darah sejak fase akut/ fase demam
hingga klinis demam menghilang. Secara klinis, perjalanan penyakit dengue
dibagi menjadi tiga, yaitu fase demam (febrile), fase kritis dan fase
penyembuhan. Fase demam berlangsung pada hari ke-1 hingga 3, fase kritis
terjadi pada demam hari ke-3 hingga 7, dan fase penyembuhan terjadi setelah
demam hari ke 6-7. Perjalanan penyakit tersebut mempunyai dinamika
perubahan tanda dan gejala klinis pada pasien dengan infeksi dengue
haemoragic fever (DHF) (Arif Mansjoer, 2014).
Demam merupakan tanda infeksi dengue, terjadi mendadak tinggi selama
2-7 hari. Demam juga disertai gejala konstitusional lainya seperti lesu, tidak
mau makan, dan muntah. Selain itu pada anak lebih sering terjadi gejala facial
flush, radang faring, serta pilek. Pada DHF, terjadi peningkatan permeabilitas
vaskular yang menyebabkan kebocoran plasma ke jaringan. Kondisi tersebut
dapat mengakibatkan terjadi syok hipovolemia. Peningkatan permeabilitas
vaskular akan terjadi pada fase kritis dan berlangsung maksimal 48 jam (Arif
Mansjoer, 2014).
Kebocoran plasma terjadi akibat disfungsi endotel serta peran kompleks
dari sistem imun: monosit dan sel T, sistem komplemen, serta produksi
mediator inflamasi dan sitokin lainnya. Trombositopeniapun terjadi akibat
beberapa mekanisme yang kompleks, seperti gangguan megakariositopoiesis
(akibat infeksi sel hematopoletik), serta peningkatan destruksi dan konsumsi
trombosit. Manifestasi pendarahan yang paling sering dijumpai pada anak
ialah pendarah kulit (petekie) dan mimisan (epistaksis). Tanda pendarahan
lainya yang patut diwaspadai, antara lain melena, hematemesis, dan hematura.
7

Pada kasus tanpa pendarahan spontan makan dapat dilakukakan uji


tourniquet. Kebocoran plasma secara masif akan menyebabkan pasien
mengalami syok hipovolemik. Kondisi ini disebut sindrom syok dengue
(SSD) (Arif Mansjoer, 2014).

E. Komplikasi
Menurut Widagdo (2012) komplikasi DBD adalah sebagai berikut :
a. Gagal ginjal.
b. Efusi pleura.
c. Hepatomegali.
8

d. Gagal jantung

F. Pemeriksaan Laboratorium
Menurut Hindra (2004) pemeriksaan penunjangnya adalah:
a. Pemeriksaan darah tepi.
b. Pemeriksaan jumlah trobosit
c. Pemeriksaan limfosit apical
d. Pemeriksaan hematokrit
e. Uji serologi dengue Ig M dan Ig G

G. Tanda dan Gejala


1. Demam.
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari
kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan
dengan berlangsung demam, gejala – gejala klinik yang tidak spesifik
misalnya anoreksia. Nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri
kepala dan rasa lemah dapat menyetainya.
2. Perdarahan.
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan
umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji torniguet yang positif
mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura.
Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian
atas hingga menyebabkan haematemesis (Nelson, 1993 ; 296).
3. Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang
hebat (Ngastiyah, 1995 ; 349).
4. Hepatomegali.
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun
pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari
hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan
akan tejadi renjatan pada penderita.
5. Renjatan (Syok).
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya
penderita, dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit
lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis
9

disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya
menunjukan prognosis yang buruk.

H. Klasifikasi
Berdasarkan Patofisiologinya, DHF menurut World Health Organization
(WHO) 2011 dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan, yaitu: yaitu

I. Pemeriksaan Penunjang
1. HB, Hematokrit / PCV meningkat sama atau lebih dari 20 %.
Normal : PCV / Hm = 3 x Hb.
Nilai normal    :
- HB =          L : 12,0 – 16,8 g/dl.
P : 11,0 – 15,5 g/dl.
- PCV/Hm = L : 35 – 48 %.
P : 34 – 45 %.
2. Trombosit menurun  100.000 / mm3.
Nilai normal:
L : 150.000 – 400.000/mm3.
P : 150.000 – 430.000/mm3.
3. Leucopenia, kadang-kadang Leucositosis ringan.
10

Nilai normal :
L/P : 4.600 – 11.400/mm3.
4. Waktu perdarahan memanjang.
Nilai normal : 1 – 5 menit.
5. Waktu protombin memanjang.
Nilai normal : 10 – 14 detik.

J. Penatalaksanaan.
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
1. Tirah baring atau istirahat baring.
2. Diet makan lunak.
3. Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup
dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang
paling penting bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali)
merupakan cairan yang paling sering digunakan.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika
kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
9. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
10. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
11. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. Pada kasus dengan
renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus
sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan
diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20-30
ml/kg BB .Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit
dipertahankan 12 -48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah
teratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan
sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10
11

ml/kg BB/jam. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan


gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita
DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen
yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok. Pada DBD
tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24 jam.
Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. Infus
diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
a. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga
mengancam terjadinya dehidrasi.
b. Hematokrit yang cenderung mengikat.

K. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian
vektornya, yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut
dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan.
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara
lain dengan pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat pengembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan
manusia.
2. Biologis.
Pengendalian biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik
(ikan cupang).
3. Kimiawi.
Pengendalian kimiawi antara lain :
a. Pengasapan/fogging berguna untyk mengurangi kemungkinan
penularan sampai batas waktu tertentu.
b. Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air
seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas Klien.
Nama, umur (Secara eksklusif, DHF paling sering menyerang anak –
anak dengan usia kurang dari 15 tahun. Endemis di daerah tropis Asia,
dan terutama terjadi pada saat  musim hujan (Nelson, 1992 : 269), jenis
kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan.
2. Keluhan Utama.
Panas atau demam
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat penyakit sekarang.
Ditemukan adanya keluhan panas mendadak yang disertai
menggigil dengan kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi
antara hari ke 3 dan ke 7 dan keadaan anak semakin lemah. Kadang
disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, diare/konstipasi, sakit
kepala, nyeri otot, serta adanya manifestasi pendarahan pada kulit
b. Riwayat penyakit yang pernah diderita.
Penyakit apa saja yang pernah diderita klien, apa pernah
mengalami serangan ulang DHF.
c. Riwayat imunisasi.
Apabila mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan
akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
d. Riwayat gizi.
Status gizi yang menderita DHF dapat bervariasi, dengan status
gizi yang baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor
predisposisinya. Pasien yang menderita DHF sering mengalami
keluhan mual, muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi
ini berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang
mencukupi, maka akan mengalami penurunan berat badan sehingga
status gizinya menjadi kurang

12
13

e. Kondisi lingkungan.
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan
lingkungan yang kurang bersih (seperti air yang menggenang dan
gantungan baju dikamar)
4. Acitvity Daily Life (ADL)
a. Nutrisi : Mual, muntah, anoreksia, sakit saat menelan.
b. Aktivitas : Nyeri pada anggota badan, punggung sendi, kepala, ulu
hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktivitas sehari-
hari.
c. Istirahat, tidur:  Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan
nyeri.
d. Eliminasi :  Diare / konstipasi, melena, oligouria sampai anuria.
e. Personal hygiene : Meningkatnya ketergantungan kebutuhan
perawatan diri.

5. Pemeriksaan fisik, terdiri dari :


Adapun pemeriksaan fisik pada anak DHF diperoleh hasil sebagai
berikut:
a. Keadaan umum :
Berdasarkan tingkatan DHF keadaan umum sebagai berikut :
1) Grade I: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah,
tanda – tanda vital dan nadi lemah.
2) Grade II : Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, ada
perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta
nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
3) Grade III : Keadaan umum lemah, kesadaran apatis, somnolen,
nadi lemah, kecil, dan tidak teratur serta tensi menurun.
4) Grade IV : Kesadaran koma, tanda – tanda vital : nadi tidak
teraba, tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas
dingin berkeringat dan kulit tampak sianosis.
b. Kepala dan leher.
14

1) Wajah     : Kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar mata,


lakrimasi dan fotobia, pergerakan bola mata nyeri.
2) Mulut      : Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor,
(kadang-kadang) sianosis.
3) Hidung : Epitaksis
4) Tenggorokan : Hiperemia
5) Leher : Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas
rahang daerah servikal posterior.
c. Dada (Thorax).
Nyeri tekan epigastrik, nafas dangkal.
Pada Stadium IV :
Palpasi             : Vocal – fremitus kurang bergetar.
Perkusi            : Suara paru pekak.
Auskultasi       : Didapatkan suara nafas vesikuler yang lemah.
d. Abdomen (Perut).
Palpasi       : Terjadi pembesaran hati dan limfe, pada keadaan
dehidrasi turgor kulit dapat menurun, suffiing dulness, balote
mentpoint (Stadium IV).
e. Anus dan genetalia.
Eliminasi alvi                        : Diare, konstipasi, melena.
Eliminasi uri                         : Dapat terjadi oligouria sampai anuria.
f. Ekstrimitas atas dan bawah.
Stadium I : Ekstremitas atas nampak petekie akibat RL test.
Stadium II – III : Terdapat petekie dan ekimose di kedua ekstrimitas.
Stadium IV : Ekstrimitas dingin, berkeringat dan sianosis pada
jari tangan dan kaki.

6. Pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan darah klien DHF akan dijumpai :
a. Hb dan PCV meningkat ( ≥20%).
b. Trambositopenia (≤100.000/ml).
c. Leukopenia.
15

d. Ig.D. dengue positif.


e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
f. Urium dan Ph darah mungkin meningkat.
g. Asidosis metabolic : Pco2 <35-40 mmHg.
h. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

B. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang dapat timbul pada klien dengan DHF adalah
(SDKI, 2018) :
1. Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus dangue ditandai dengan
Tanda Mayor :
D.S : -
D.O : Suhu tubuh diatas kisaran normal.
Tanda Minor :
D.S : -
D.O :
a. Kulit merah.
b. Kejang.
c. Takikardi.
d. Takipnea.
e. Kulit terasa hangat.

2. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.


Tanda Mayor:
DS : -
DO :
a. Frekuensi nadi meningkat
b. Nadi terasa lemah
c. Tekanan darah menurun
d. Tekanan nadi menyempit
e. Turgor kulit menurun
16

f. Membran mukosa kering


g. Volume urin menurun
h. Hematokrit meningkat
Tanda Minor :
D.S :
a. Mengeluh haus.
b. Merasa lemah

DO :

a. Pengisian vena menurun


b. Status mental berubah
c. Suhu tubuh meningkat
d. Konsentrasi urin meningkat
e. Berat badan turun tiba-tiba

3. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna


makanan.
Tanda Mayor :
DS : -
D.O : BB menurun minal 10% di bawah rentang ideal
Tanda Minor :
DS : -
DO :
a. Cepat kenyang setelah makan.
b. Bising Usus hiperaktif
c. Kram/Nyeri abdomen.
d. Nafsu makan menurun.
e. Otot menelan lemah
f. Membran mukosa pucat
g. Sariawan
h. Rambut rontok berlebihan.
i. Diare.
17

4. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri


dan/atau vena
Gejala Mayor :
DS : -
DO:
a. Pengisian kapiler >3 detik
b. Nadi perifer menurun/tidak teraba
c. Akral teraba dingin
d. Warna kulit pucat
e. Turgor kulit menurun
5. Resiko Perdarahan berhubungan dengan gangguan koagulasi (penurunan
trombosit) ditandai dengan trombospenia.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif
ditandai dengan kurang informasi
a. Perilaku hiperbola.
b. Ketidakakuratan mengikuti perintah.
c. Ketidakakuratan melakukan tes.
d. Perilaku tidak tepat.
e. Pengungkapan masalah.

C. Intervensi (SDKI, 2018)


No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Hipovolemia Setelah dilakukan Manajemen
berhubungan tindakan … x 24 jam Hipovolemia:
dengan diharapkan hipovolemik Observasi
kehilangan terpenuhi dengan kriteria  Periksa tanda dan gejala
cairan aktif d.d hasil: hipovolemik
mukosa bibir Turgor kulit  Monitor intake dan
kering. Perasaan lemah me output cairan
Keluhan haus Terampeutik:
tekanan darah meningkat  Hitung kebutuhan cairan
intake cairan membaik  Berikan posisi modified
suhu tubuh menurun trendelenburg.
 Berikan asupan cairan
oral
18

Edukasi
 Anjurkan perbanyak
asupan cairan oral
 Anjurkan hindari
perubahan posisi
mendadak

Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian
cairan IV isotonis (Nacl,
RL), hipotonis (glukosa
2,5%), koloid (koloid,
plasmanate)
 Kolaborasi pemberian
produk darah

Pemantauan Cairan:
Observasi :
 Monitor status hidrasi
 Monitor BB
 Monitor hasil
Laboratorium
(MAP,CVP, PAP,
PCWP jika tersedia)

Terampeutik:
 Catat intake-output dan
hitung balance cairab 24
jam.
 Berikan cairan IV

Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian
diuretik
2 Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi:
b.d tindakan keperawatan 3 x Observasi
ketidakmampuan 24 jam diharapkan  Identifikasi status
untuk mencerna ketidak seimbangan nutrisi
makanan. nutrisi kurang dari  Identifkasi alergi dan
kebutuhan tubuh intoleransi makanan
terpenuhi  Indentifikasi kebutuhan
kalori dan jenis nutrien.
 Monitor asupan
makanan.
 Monitor BB
 Monitor hasil Lab
Terampeutik:
19

 Berikan makanan tinggi


kalori dan tinggi protein
 Berikan makanan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
 Berikan suplemen
makanan
 Sajikan makanan secara
menarik dan suhu ysng
sesuai.
Edukasi :
 Anjurkan duduk jika
mampu.
Kolaborsi :
 Kolaborasi pemberin
medikasi sebelum
makan (pereda nyeri,
antiemetic)
 Kolaborasi dengan ahli
gizi menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrien.

Pemantauan Nutrisi:
Observasi
 Identifikasi faktor yang
mempengaruhi asupan
gizi
 Identifikasi perubahan
BB
 Identifikasi kelainan
eliminasi (diare, darah)
 Identifikasi kemampuan
menelan
 Monitor hasil Lab

Terampeutik:
 Timbang BB
 Ukur antropometrik
komposisi tubuh
 Hitung perubahan BB

Edukasi :
 Jelaskan prosedur
pemantauan
 Informasikan hasil
pemantauan
3 Defisit Setelah dilakukan Edukasi Kesehatan
20

pengetahuan b.d tindakan 3x24 jam Observasi :


gangguan diharapkan defisit - Identifikasi kesiapan dan
kognitif d.d pengetahuan meningkat kemampuan menerima
kurang dengan kriteri hasil: informasi
informasi.  Kemampuan - Identifikasi faktor-faktor
menjelaskan suatu topik yang dapay meningkatkan
meningkat dan menurunkan motivasi
 Pertanyaan tentang perilaku hidup bersih dan
masalah yang dihadapi sehat
meingkat Terapeutik :
- Sediakan materi dan
media pendidikan
kesehatan
- Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai
kesepakatan
- Berikan kesempatan
untuk bertanya
Edukasi :
- Jelaskan factor risiko
yang dapat mempengaruhi
kesehatan
- Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat
- Ajarkan strategi yang
dapat
digunakan untuk
meningkatkan
perilaku hidup bersih dan
sehat
4 Resiko Setelah dilakukan Pencegahan Perdarahan
Perdarahan tindakan keperawatan … Observasi :
berhubungan x 24 jam diharapkan  Monitor tanda dan
dengan tingkat perdarahan gejala perdarahan
gangguaan menurun .  Monitor nilai
koagulasi Kriteria Hasil : hematocrit /
(penurunan Tingkat Perdarahan hemoglobin sebelum
trombosit)  Kelembapan membran dan sesudah kehilangan
ditandai mukosa membaik darah
dengan  Suhu tubuh meningkat  Monitor tanda dan
trombositopenia  Hematokrit membaik gejala ortostatik
 Monitor koagulasi
( mis. Prothrombin
time (PT), Partial
thromboplastin time
(PTT), fibrinogen,
deradasi fibrin dan/atau
platelet )
21

Terapeutik :
 Pertahankan bedrest
selama perdarahan
 Batasi tindakan
invasive, jika perlu
 Gunakan kasur
pencegah decubitus
 Hindari pengukuran
suhu rektal
Edukasi :
 Jelaskan tanda dan
gejala perdarahan
 Anjurkan menggunakan
kaus kaki saat ambulasi
 Anjurkan meningkatkan
asupan untuk
menghindari konstipasi
 Anjurkan menghindari
aspirin atau
antikoagulan
 Anjurkan meningkatkan
asupan makanan dan
vitamin K
 Anjurkan segera
melapor jika terjadi
perdarahan
Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian
obat pengontrol
perdarahan, jika perlu
 Kolaborasi pemberian
produk darah, jika perlu
 Kolaborasi pemberian
pelunak Tinja
5 Hipertermi Setelah dilakukan Manajemen Hipertermia
berhubungan tindakan keperawatan … Observasi :
dengan x 24 jam diharapkan  Identifikasi penyebab
proses infeksi hipertermi membaik. hipertemia (mis.
virus dengue Kriteria Hasil : Dehidrasi, terpapar
Termoregulasi lingkungan panas,
 Menggigil penggunaan incubator )
 Kulit merah  Monitor suhu tubuh
 Kejang  Monitor kadar elektrolit
 Pucat  Monitor haluan urine
 Suhu tubuh  Monitor komplikasi
 Tekanan darah akibat hipertermia
Terapeutik :
22

 Sediakan lingkungan
yang dingin
 Longgarkan atau
lepaskan pakaian
 Basahi dan kipasi
permukaan tubuh
 Berikan cairan oral
 Ganti linen setiap hari
atau lebih sering jika
mengalami
hyperhidrosis (keringat
berlebihan)
 Lakukan pendinginan
eksternal (mis. Seliput
hipotermia atau kompres
dingin di dahi, leher,
dada, abdomen, aksila )
 Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
 Berikan oksigen jika
perlu
Edukasi :
 Anjurkan tiring baring
Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian
cairan elektrolit
intravena, jika perlu

D. Implementasi
Implementasi, yang merupakan komponen dari proses keperawatan,
adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan
untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan
dilakukan dan diselesaikan. (Perry & Potter, 2005).

1. Tindakan Keperawatan Mandiri.

Tindakan yang dilakukan Tanpa Pesanan Dokter. Tindakan


keperawatan mendiri dilakukan oleh perawat. Misalnya menciptakan
lingkungan yang tenang, mengompres hangat saat klien demam.

2. Tindakan Keperawatan Kolaboratif.


23

Tindakan yang dilakukan oleh perawat apabila perawata bekerja dengan


anggota perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama
yang bertahan untuk mengatasi masalah klien.

E.   Evaluasi
Hasil asuhan keperawatan pada klien dengan DHF sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan
atau perubahan yang terjadi pada pasien. Adapun sasaran evaluasi pada
pasien demam berdarah dengue sebagai berikut :

a. Suhu tubuh pasien normal (360C - 370C), pasien bebas dari demam.
b. Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
c. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan
makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan.
d. Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada
pasien terpenuhi.
b. Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.
c. Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik
dengan tanda vital dalam batas normal.
d. Infeksi tidak terjadi.
e. Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.
f. Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari
perawat tentang proses penyakitnya.
BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue yang ditularkan dari orang keorang melalui gigitan nyamuk
Aedes (Ae). (Kementrian Kesehatan RI 2015). Dengue Haemoragic Fever
(DHF) adalah suatu sindrom bersifat akut dan benigna disebabkan oleh
arbovirus yang ditandai oleh demam bifasik, nyeri otot/sendi, ruam kulit,
sefalgia, dan limfadenopati (Widagdo 2011).

Gangguan hematologi yang terjadi pada pasien DHF adalah


Trombositopenia dan Hemokonsentrasi.Trombositopenia kerap kali terjadi
sebelum terjadinya perubahan angka hematokrit (jumlah trombosit kurang
dari 100.000/pl).. Hemokonsentrasi yang terjadi akibat adanya perembesan
plasma dapat ditentukan berdasar peningkatan angka hematokrit. (Soedarto,
2012).

Kerjasama antar tim kesehatan dan pasien/ keluarga sangat diperlukan


untuk keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien, komunikasi terapeutik
dapat mendorong pasien lebih kooperatif, teknik pengompresan di bagian
ketiak dan selangkangan dapat menurunkan suhu tubuh.

B. Saran
a. Pasien dan keluarga
Diharapkan keluarga mampu mengetahui tanda dan gejala demam
berdarah, dapat merawat pasien jika terkena demam berdarah serta dapat
mencegah terjadinya lingkungan yang kotor. Keluarga diharapkan mampu
melanjutkan perawatan di rumah dengan baik.
b. Perawat
Hendaknya penyuluhan kesehatan dijadikan suatu program di
ruangan guna meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang
penyakit pasien dan dapat mencegah komplikasi yang dapat terjadi.

24
DAFTAR PUSTAKA

Deyanti, Noly. 2019. Asuhan Keperawatan pada Anak Usia Remaja dengan
Dengue Haemoragik Fever dengan Masalah Keperawatan Ketidakefektifan
Termoregulasi di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya
Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan, EGC ; Jakarta.
Kemenkes RI. 2015. Demam Berdarah Biasanya Mulai Meningkat di Januari.
Diakses 24 Maret 2021.
https://www.kemkes.go.id/article/view/15011700003/demam-berdarah-
biasanya-mulai-meningkat-di-januari.html
M. Nurs, Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan pada Bayi dan Anak. Salemba
Medika. Jakarta.
Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. EGC. Jakarta.
Soedarto. 2012. Demam Berdarah Dengue Dengue Haemoohagic fever. Jakarta:
Sugeng Seto.
Widoyono. 2008. Penyakit tropis epidemologi, penularan, pencegahan, dan
pemberantasannya. Jakarta: Erlangga

25