Anda di halaman 1dari 9

Tekanan

I. Pengertian Tekanan

Tekanan didefinisikan sebagai gaya tekan yang bekerja pada

satu satuan luas permukaan yang mengalami gaya tekan. Simbol

tekanan adalah P. Jadi bila sebuah gaya sebesar F bekerja pada sebuah

bidang A (area), maka besarnya tekanan adalah:

F
P = ……………………………… (persamaan 1)
A

Persamaan 1 tersebut dapat diubah menjadi :

F
F=PxA atau A =
P

Keterangan,

P = tekanan (pressure), satuannya N/m2 atau pascal (Pa)

F = gaya (force), satuannya newton (N)

A = luas bidang (area), satuannya meter per segi (m2)

Satuan Tekanan

Jika gaya tekan F = 1 newton bekerja pada luas permukaan

A = 1 m2 , maka menurut persamaan di atas tekanannya adalah

F 1newton N
P = = 2
=1 2
A 1m m

Dalam satuan Satuan Internasional (SI), satuan tekanan adalah

newton/m2 atau N/m2. Satuan tersebut juga diberi nama pascal

(disingkat Pa). Jadi, 1 N/m2 = 1 Pa.


Satu pascal (1 Pa) adalah tekanan yang dilakukan oleh gaya satu

newton pada luas permukaan satu meter persegi.

Penerapan Konsep Tekanan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari ditemukan banyak penerapan

konsep tekanan. Salah satu contohnya yaitu ukuran telapak kaki gajah

yang besar, ini karena gajah memiliki gaya berat yang cukup

besar, kira-kira 10.000 newton (massanya kira-kira 1 ton = 1000 kg).

Ketika gajah melangkah, seluruh beratnya hanya ditopang oleh salah

satu telapak kakinya. Jika telapak kaki gajah kecil maka tekanannya

pada tanah sangat besar, akibatnya gajah sukar berjalan di atas tanah.

Dengan ukuran telapak kaki gajah yang besar, luas bidang sentuh

dengan tanah menjadi lebih besar, sehingga tekanan gajah pada tanah

menjadi lebih kecil. Ini menyebabkan gajah lebih mudah berjalan di

atas tanah.

a) Hukum Pascal

Hukum Pascal menyatakan bahwa “tekanan yang diberikan pada

zat cair dalam suatu ruang (wadah) tertutup diteruskan ke segala arah

dengan sama besar (sama kuat)”. Pertama kali dikemukakan oleh

Blaise Pascal.

Manfaat dan penerapan prinsip hukum Pascal

Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan alat-alat

teknologi yang memanfaatkan prinsip hukum Pascal. Salah satunya


adalah dongkrak hidrolik. Model sederhana dongkrak hidrolik dapat

dilihat pada gambar 3.5

F2

F1

Beban
Kuasa
A2
A1
I II
Minyak

Gambar 3.5 Model sederhana dongkrak hidrolik

Tekanan yang dikerjakan pada pengisap yang penampangnya

kecil diteruskan oleh minyak (zat cair) melalui pipa menuju ke

pengisap yang penampangnya lebih besar (pengisap beban) sehingga

menghasilkan gaya angkat (gaya yang arahnya ke atas) yang besar.

Jika pada pengisap kecil dengan luas penampang A1 diberikan

atau dikerjakan gaya F1, maka tekanan yang dikerjakan sebesar

F1
P1 = , dan tekanan ini diteruskan melalui minyak (zat cair) ke
A1

pengisap besar dengan luas penampang A2, maka sesuai dengan

hukum Pascal:

P2 = P1
F2 F1 A
= atau F2 = 2 xF1 …………. … (persamaan 2)
A2 A1 A1
Keterangan,
F2 adalah gaya yang dihasilkan pada piston besar, satuannya adalah

newton (N)
F1 adalah gaya yang diberikan pada piston kecil, satuannya adalah

newton (N)

A1 adalah luas penampang piston besar, satuannya meter per segi (m2)

A2 adalah luas penampang piston kecil, satuannya meter per segi (m2)

Dongkrak hidrolik memberikan keuntungan yaitu dengan

memberikan gaya kecil pada pengisap kecil dapat dihasilkan gaya

yang lebih besar pada pengisap besar.

b) Konsep bejana berhubungan.

Apabila zat cair yang sejenis (satu jenis zat cair) dituangkan ke

dalam suatu bejana, maka permukaan zat cair tersebut dalam bejana

selalu mendatar dan sama tinggi. Prinsip ini diterapkan pada selang

plastik sebagai alat sederhana yang memanfaatkan prinsip bejana

berhubungan. Alat ini sering digunakan tukang bangunan untuk

menentukan apakah tinggi dua titik yang berjauhan pada suatu tempat

sama.

Apabila dua macam zat cair yang tidak sejenis dan tidak

bercampur dituangkan ke dalam suatu bejana, maka permukaan zat

cair yang tak sejenis tersebut tidak sama tinggi. Zat cair yang massa

jenisnya lebih kecil, permukaannya lebih tinggi daripada zat cair yang

massa jenisnya lebih besar.

c) Hukum Archimedes

Hukum Archimedes menyatakan bahwa: “suatu benda yang

dicelupkan sebagian atau seluruhnya di dalam suatu zat cair akan


mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair

yang dipindahkan (didesak) oleh benda tersebut”. Pertama kali

dikemukakan oleh Archimedes seorang ahli matematika Yunani.

Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dengan:

Gaya ke atas = Berat zat cair yang dipindahkan oleh benda

Gaya ke atas inilah yang menyebabkan sebuah benda bisa mengapung,

melayang, atau tenggelam.

d) Tenggelam, Melayang, dan Terapung

Berdasarkan hukum Archimedes, bahwa benda yang tercelup

sebagian atau seluruhnya dalam zat cair, benda mengalami dua gaya

yang berlawanan, yaitu gaya ke atas (Fapung) dan gaya berat atau berat

benda (w) ke bawah yang besarnya sama dengan berat zat cair yang

dipindahkan oleh benda tersebut. Kedua gaya inilah yang

menyebabkan adanya peristiwa tenggelam, melayang, dan terapung.

Tenggelam, contoh bendanya adalah batu, uang logam, dan

cincin emas. Bila suatu benda dimasukkan ke dalam air dan benda

terus bergerak ke bawah, berarti berat benda lebih besar daripada gaya

ke atas yang dialami benda. Jadi Wb > Fapung atau massa jenis benda

lebih besar daripada massa jenis zat cair ( benda > zat cair). Gambar 3.6a

Terapung , contoh bendanya adalah bola pimpong, kayu, gabus.

Bila suatu benda dimasukkan ke dalam air dan benda terus bergerak

naik sampai ada bagian yang muncul di permukaan air, berarti


Wbenda < Fapung atau ( benda < zat cair). bila benda sudah muncul di

permukaan zat cair dan diam, maka Wbenda = F apung, (gambar 3.6 b)

Fa Fa
zc zc Fa zc

Wb
Wb
Wb
(a) (b) (c)
Gambar 3.6 Peristiwa (a) Tenggelam, (b) Terapung, (c) Melayang

Melayang, contoh bendanya adalah kapal selam ketika

seluruhnya berada dalam air. Bila suatu benda dimasukkan ke dalam

zat cair dan benda tidak bergerak naik atau turun, berarti

Wbenda = F apung atau ( benda = zat cair). Gambar 3.6 c

Penerapan Hukum Archimedes

Dalam kehidupan sehari-hari penerapan hukum Archimedes

banyak dijumpai pada alat-alat teknologi, misalnya pada kapal

laut, kapal laut dapat mengapung dalam air laut, karena memiliki

rongga, sehingga kapal dapat mendesak volum air yang lebih besar.

Ini menyebabkan gaya ke atas yang dialami kapal laut menjadi lebih

besar. Gaya ke atas ini dapat mengimbangi berat kapal beserta

sejumlah penumpangnya sehingga kapal laut dapat mengapung di air

laut, dan juga pada kapal selam dapat mengapung, melayang,

tenggelam dalam air, kapal selam memiliki tangki pemberat yang

terletak di antara lambung dalam dan lambung luar. Agar dapat

menyelam, tangki pemberat diisi dengan air laut sehingga berat kapal
bertambah besar. Untuk mengapung kembali air laut dikeluarkan dari

tangki pemberat.

e) Pengertian tekanan udara atau atmosfer

Bumi yang bentuknya menyerupai bola dan merupakan tempat

kehidupan kita ini diselubungi atau diselimuti oleh lapisan udara yang

disebut atmosfer. Udara tersebut merupakan campuran dari berbagai

gas, yaitu nitrogen (78%), oksigen (21%), satu persen lainnya terdiri

atas argon (0,9%), karbon dioksida (0,03%), uap air yang jumlahnya

selalu berubah, gas-gas seperti hidrogen, ozon, metana, karbon

monoksida, helium, neon, kripton, dan xenon.

Tepat di atas permukaan air laut, atmosfer memiliki kerapatan

yang paling besar. Semakin tinggi dari permukaan air laut, semakin

kecil kerapatan atmosfernya. Udara dan gas-gas lainnya yang

menyusun atmosfer adalah memiliki massa, yang ditarik oleh gaya

gravitasi bumi. Oleh sebab itu atmosfer juga melakukan gaya. Gaya

tersebut menghasilkan tekanan pada permukaan bumi dan segala

sesuatu di bumi termasuk manusia. Tekanan udara di sekitar kita ini

biasa disebut tekanan atmosfer.

Satuan Tekanan Udara

Satuan tekanan dalam SI adalah Pa (pascal) atau N/m2. dan

satuan tekanan udara dalam SI adalah atm (atmosfer).

Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Evangista Torricelli

tahun 1644, dan dikenal dengan nama percobaan Torricelli,


menyatakan bahwa tekanan atmosfer di permukaan laut kira-kira

76 cmHg.

Tekanan ini disebut 1 atm, dengan demikian :

1 atm = 76 cmHg

f) Barometer dan Manometer

Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan atmosfer disebut

Barometer. Barometer air raksa ditemukan oleh Evangelista Torricelli

(1608-1647).

Barometer terdapat beberapa macam yaitu barometer Fortin,

barometer air, barometer aneroid. Barometer aneroid lebih praktis

daripada barometer raksa karena terbuat dari logam dan mudah

dibawa ke mana-mana. Barometer aneroid terdiri dari kotak logam

bergelombang yang dihubungkan ke jarum penunjuk melalui batang

penghubung, tuas, dan rantai yang lembut. Kotak logam tersebut

sangat peka terhadap perubahan tekanan atmosfer, apabila tekanan

atmosfer naik, maka volume kotak logam akan mengecil. Ini

mengakibatkan batang penghubung akan tertarik ke bawah dan rantai

akan menarik jarum penunjuk sehingga berputar ke kanan. Apabila

tekanan atmosfer turun, maka yang terjadi sebaliknya.

Barometer aneroid disebut juga Altimeter, dan digunakan

sebagai alat pengukur ketinggian pesawat.

Alat untuk mengukur tekanan udara dalam ruang tertutup adalah

manometer. Ada dua jenis manometer yaitu manometer raksa dan


manometer logam. Manometer yang menggunakan zat cair biasanya

manometer air raksa, yang disebut manometer air raksa, untuk

mengukur tekanan-tekanan yang tinggi digunakan manometer logam.

Salah satu manometer logam yang banyak digunakan adalah

manometer Bourdon.

Manometer logam terdiri dari pipa logam melengkung yang

dihubungkan dengan jarum penunjuk. Bila pipa mendapat

tekanan, maka lengkung pipa akan berkurang. Gerakan pipa tersebut

akan menarik tuas dan tuas itu akan menggerakkan jarum penunjuk.

Makin besar tekanannya, makin besar putaran jarum penunjuk.

Manometer Bourdon ini dilengkapi skala yang langsung menunjuk

tekanan yang diukur.