Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................................................i

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................1
2.1 Rumusan Masalah................................................................................................................1
3.1 Tujuan Penulisan..................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................................3
2.1 Gambaran Akuntansi Sosial, Lingkungan dan Audit …........................................................3
2.2 Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan....................................................................... 6
2.3 Akuntansi Lingkungan dan Sosial dalam Riset.................................................................... 6
2.4 Externalities……................................................................................................................... 7
2.5 Pengukuran dan Pelaporan Externalities............................................................................. 8
2.6 Identifikasi Social Benefit dan Social Cost........................................................................... 11
2.7 Prospek Penerapan Akuntansi Sosial di Indonesia.............................................................. 13
BAB III PENUTUP……………............................................................................................................14
3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................................14
3.2 Saran.................................................................................................................................14
DAFTAR RUJUKAN…………………………………………………………………………………………. 15

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan adanya konsep Manajemen modern yang berkembang, orientasi perusahaan dalam
mencapai laba maksimum perlu dikaitkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan yang seimbang
antara tuntutan pemilik perusahaan, kebutuhan para pegawai, pelanggan, pemasok, lingkungan dan
juga masyarakat umum. Hal ini karena berdasarkan sudut pandang manajemen modern, dalam
menjalankan segala aktivitas operasionalnya, perusahaan harus senantiasa berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya dan juga sumber-sumber ekonomi yang digunakan. Maka dari itu, perusahaan
harus mampu melihat apa saja yang diinginkan oleh lingkungan sosialnya, sehingga entitas bisnis
dan entitas sosial dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi demi kepentingan dan kesejahteraan
bersama.
Selain itu, dengan terus berkembangnya konsep manajemen tersebut, para akuntan juga
membicarakan tentang pengadaptasian masalah tanggung jawab sosial ini ke dalam ruang lingkup
akuntansi, agar tujuan utama pelaporan keuangan yang dapat memberikan infromasi kepada para
pemegang saham dan kreditur menjadi ikut bergeser pula kearah kecenderungan bahwa perlunya
pelaporan yang bersifat dari luar organisasi perusahaan (externality) dalam rangka memberikan
infromasi kepada beberapa kelompok orang luar yang berkepentingan terhadap perusahaan. Maka,
dapat dipahami bahwa diperlukannya akuntansi social ini dilandasi dari tuntutan tanggung jawab
perusahaan yang semakin meluas.
Sudah sejak lama masalah externality ini terus menjadi isu penting dikalangan profesi
akuntan. Beberapa penulis telah menggambarkan beberapa contoh hal yang dapat dianggap sebagai
externality, antara lain seperti melaporkan jumlah karyawan, jaminan kesehatan, informasi tentang
upaya pencegahan pencemaran lingkungan, standar kualitas, pengepakan produk ramah lingkungan,
penyaluran beasiswa pendidikan, kesempatan magang, pelatihan kerja bagi mahasiswa, dan
kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar industri. Dari beberapa contoh tersebut, perusahaan
dapat menerapkan akuntansi sosial ini dalam menjalankan aktivitasnya agar mendapat dukungan dari
pihak-pihak yang berkepentingan demi terciptanya kehidupan bersama yang sejahtera.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran Akuntansi Sosial, Lingkungan dan Audit?
2. Bagaimana Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan?
3. Bagaimana Pertumbuhan Akuntansi Sosial dan Lingkungan dalam Riset?
4. Apakah yang dimaksud Externalities?

1
5. Bagaimanakah Pengukuran dan Pelaporan Externalities?
6. Bagaimanakah identifikasi Social Benefit dan Social Cost?
7. Bagaimanakah prospek penerapan Akuntansi Sosial di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui gambaran Akuntansi Sosial, Lingkungan dan Audit.
2. Untuk mengetahui Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan.
3. Untuk mengetahui Pertumbuhan Akuntansi Sosial dan Lingkungan dalam Riset.
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud Externalities.
5. Untuk mengetahui Pengukuran dan Pelaporan Externalities.
6. Untuk mengetahui identifikasi Social Benefit dan Social Cost.
7. Untuk mengetahui prospek penerapan Akuntansi Sosial di Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Akuntansi Sosial, Lingkungan dan Audit Sosial


A. Akuntansi Sosial
Seidler dan Seidler (1975) dalam Grafikin menyarankan bahwa” akuntansi sosial adalah
modifikasi atau aplikasi, oleh akuntan, skill, teknik dan disiplin dari akuntansi konvensional (manajerial
dan keuangan), untuk analisis dan solusi persoalan bersifat sosial. Sedangkan Abt Asosicate dalam
laporan tahunan 1972 mengatakan bahwa : ” Memelopori audit sosialnya dalam laporan tahunan tahun
1971. sebuah neraca keseimbangan sosial dan laporan pendapatan sosial dipersiapkan yang
mentabulasikan efek dari perusahaan pada masyarakat, didefinisikan sebagai staff, komunitas lokal,
klien dan publik umum”.
CSR diminati kembali pada tahun 1980an dan 1990an sebagian besar karena minat yang
semakin besar dalam perhatian lingkungan. Dibuktikan dengan pernyataan Abt Associate Inc. Sosial
Operations and Income Statement meliputi sub heading untuk lingkungan dan tahun1992, sebuah buku
paper lingkungan berjudul pelaporan hijau, diedit oleh David Owen, dipublikasikan disebut akuntansi
sosial dan lingkungan.
Menurut Elkington (1997, hal. 87) dalam Deegan ”Akuntansi sosial bertujuan untuk menilai
dampak suatu organisasi atau perusahaan pada masyarakat baik dari dalam maupun dari luar. Isu yang
kerap kali tercakup adalah hubungan komunitas, keamanan produk, inisiatif pendidikan dan pelatihan,
sponsorship, lembaga amal, dan pekerjaan untuk kelompok yang kurang beruntung”. Sedangkan
Ramanathan menyatakan bahwa tujuan akuntansi sosial adalah untuk membantu mengevaluasi
seberapa baik sebuah Perusahaan memenuhi kontrak sosialnya.
Akuntansi sosial merupakan pengidentifikasian, pengukuran, dan analisis konsekuensi ekonomi
dan sosial antara perusahaan dengan lingkungannya (Freedman, 1989). Menurut Mathew dan Perrera
(1996), akuntansi sosial digunakan untuk menggambarkan bentuk komprehensif akuntansi yang
memasukkan externalities ke dalam rekening perusahaan seperti informasi tentang tenaga kerja, produk
dan pencegahan atau pengurangan polusi. Masalah utama akuntansi sosial adalah mengenai
bagaimana externalities (social benefit dan social cost) dapat diukur dan dilaporkan dalam laporan
keuangan agar dapat dikomunikasikan kepada pemakai laporan. Sementara tujuan akuntansi sosial
menurut Ramanathan (Yudiani,1998) adalah: (1) mengidentifikasikan dan mengukur kontribusi sosial
perusahaan; (2) membantu perusahaan untuk menentukan apakah strategi dan praktek perusahaan
sesuai dengan kepentingan sosial; dan (3) membuat informasi yang relevan mengenai sasaran,
kebijakan, program, kinerja dan kontribusi perusahaan kepada masyarakat.

3
Dengan melihat difinisi dan tujuannya, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik akuntansi
sosial meliputi: (1) identifikasi dan pengukuran dampak sosial yang diakibatkan oleh aktivitas
perusahaan; (2) pelaporan atas tanggung jawab sosial yang dibebankan pada perusahaan; (3)
mengevaluasi prestasi sosial perusahaan; dan (4) menyediakan informasi yang memungkinkan penilaian
komprehensif atas seluruh sumber daya dan akibat-akibat sosial-ekonomi.
Bila dilihat karakteristik akuntansi sosial, maka tidak mudah bagi perusahaan untuk melakukan
pengukuran maupun pelaporan terhadap dampak yang ditimbulkan dari aktivitas yang telah dilakukan
(externalities). Akuntansi konvensional tidak mampu menampung masalah externalities, karena segala
sesuatunya diukur dengan nilai ekonomi perusahaan dan bukan nilai ekonomi masyarakat. Untuk itu
diperlukan suatu standar akuntansi yang dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah
tersebut. Paling tidak harus ada tindakan untuk mengembangkan konsep dan standar oleh penyusun
standar akuntansi dan para ahli akuntansi untuk dapat menampung masalah akuntansi sosial. Sehingga
akuntansi dapat dimanfaatkan untuk menyusun kebijakan yang berhubungan dengan
pertanggungjawaban sosial yang diemban oleh perusahaan.
Pada 1996 Social Accouts APSO dinyatakan: “Prinsip utama metodologi akuntansi sosial
adalah masukan dari seluruh kategori stakeholder ke dalam proses identifikasi kriteria terhadap kinerj
aorganisasi yang diukur. Pada akhir tahun 1999 the Institute of Social and Ethical Accountability (ISEA)
yang menerbitkan standard AA1000, yang fokus pada proses terkait pengaturan dan pelaksanaan
akuntansi sosial dan yang layak dan sistem audit. AA1000 juga menawarkan pedoman dalam
mengembangkan program untuk melatih akuntan serta auditor sosial beretika, yang mungkin
mengandalkan asal usul sebuah subset profesi akuntansi yang baru.
Berdasarkan Rekan Senior KPMG (Inggris), Mike Rake: ”Di tahun-tahun belakangan ini, telah
menjadi bukti secara meningkat bahwa sebuah jarak yang luas memimpin perusahaan mengakui bahwa
performa keuangan bukan hanya merupakan meteran yang mana ketahanan mereka seharusnya
diukur ... KPMG berusaha menjadi penemu baru di bidang ini dengan membentuk persekutuan strategis
ini dengan mengakui pemimpin dalam laporan ketahanan kita akan dapat menawarkan sebuah
pelayanan yang unik untuk klien kita”.
B. Akuntansi Sosial dan Lingkungan
Berdasarkan teori yang telah dikemukan pada bagian sebelumnya, akuntansi sosial dan
lingkungan menjadi perhatian perusahaan karena perusahaan berusaha memenuhi harapan pihak-pihak
terkait dalam upaya mendapatkan legitimasi. Stakeholder theori menjelaskan bahwa perusahaan akan
memenuhi harapan stakeholder perusahaan sehingga perusahaan akan berupaya untuk menyampaikan
laporan yang menyajikan informasi mengenai upaya perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab
sosial dan lingkungan. Akuntansi sosial dan lingkungan yang dikenal selama ini berbentuk corporate

4
social responsibility (CSR) dan sustainability reporting (SR). Selain itu, akuntansi sosial dan lingkungan
juga dapat diterapkan dalam bidang akuntansi manajemen dan auditing. Akuntansi Pertanggungjawaban
Sosial dan Lingkungan Akuntansi pertanggungjawaban sosial dan lingkungan berada dalam koridor
akuntansi keuangan. Bentuk akuntansi pertanggungjawaban sosial selama ini dikenal dengan istilah
corporate social responsibility (CSR) dan sustainability reporting (SR).
Laporan akuntansi pertanggungjawaban sosial dapat dilaporkan pada annual report atau
sebagai laporan terpisah dari annual report. Akuntansi CSR dan SR menjadi perhatian perusahaan
sesuai dengan teori legitimasi dimana perusahaan berusaha untuk memenuhi harapan berbagai pihak
yang terkait dalam upaya mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat. Akuntansi CSR
didefinisikan sebagai proses seleksi variable-variabel kinerja sosial tingkat perusahaan, ukuran, dan
prosedur pengukuran, yang secara sistematis mengembangkan informasi yang bermanfaat untuk
mengevaluasi kinerja sosial perusahaan dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada kelompok
sosial yang tertarik, baik di dalam maupun di luar perusahaan (Angraini, 2006: 5). SR merupakan isu
baru yang kemudian berkembang terkait dengan pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan
berkesinambungan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan dunia sekarang tanpa
mengabaikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Hal ini terkait dengan
kebutuhan untuk memproteksi lingkungan (Gaffikin, 2008 : 206). SR tidak sekadar melaporkan
bagaimana menjaga kelestarian lingkungan, pembuangan limbah, dampak sosial atas operasi
perusahaan, tetapi mencakup pula bagaimana program dan kinerja perusahaan atas pengembangan
masyarakat (community development) terutama di daerah operasi perusahaan (Laily, 2005). Menurut
Gaffikin (2008 : 201), ide pertanggungjawaban sosial perusahaan bisnis sudah ada pada zaman Yunani
Klasik. Perusahaan bisnis diharapkan untuk menerapkan standar yang tinggi mengenai moralitas dalam
perdagangan. Pada zaman pertengahan di Eropa, Gereja mewajibkan industri dan perusahaan bisnis
berperilaku sesuai dengan kode moral Gereja. Isu ini kemudian menjadi hangat di Amerika Serikat pada
tahun 1960. Pada tahun 2000 perhatian serupa diberikan oleh Global Reporting Initiative (GRI), sebagai
bagian dari program lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memberikan pedoman SR yang
meliputi tiga elemen, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial yang selanjutnya direvisi pada tahun 2002
(Satyo, 2005).
C. Audit Sosial
Audit Sosial Salah satu bagian dari akuntansi sosial adalah audit sosial. Tujuan audit sosial adalah untuk
menilai kinerja perusahaan dalam hubungannya dengan harapan dan kebutuhan masyarakat (Deegan,
2004:322). Hasil audit sosial digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk
mengungkapkan kegiatan sosial perusahan dan sebagai dasar untuk kegiatan dialog dengan
masyarakat.

5
2.2 Akuntansi dan Pembangunan Sustanaible (Berkelanjutan)
Sejak tahun 1970-an terdapat banyak pembahasan di berbagai forum tentang implikasi
pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan, dan umat manusia. Pada tahun 1987, di bawah bantuan
PBB, Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan, di bawah kepemimpinan GH Brundhland,
mempublikasikan laporan yang berjudul ”masa depan umum kita ” yang dikutip secara luas pada Earth
Summit 1992 di Rio de Janeiro mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai:
”Pembangunan yang memenuhi kebutuhan dunia saat ini tanpa mengkompromikan
pada kemampuan generasi masa datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”.
Pada tahun 1992 Uni Eropa menerbitkan dokumen berjudul Towards Sustainability sebagai bagian dari
Fifth Action Programme nya. Salah satu petunjuk program tersebut untuk profesi akuntansi supaya
menjalankan tugas atau perannya dalam mengimpelementasikan sistem pembiayaan yang
menginternalisasi berbagai biaya lingkungan. Tahun 2000, Mineral Council of Australia (MCA)
menerbitkan sebuah Kode Manajemen Lingkungan, menerbitkan The Kerangka Mineral Australia untuk
Pembangunan Berkelanjutan, yang didesain untuk mendorong perusahaan – perusahaan untuk
berkomitmen menegakkan hak asasi manusia dan menghormati kultur, adat dan nilai dalam berhadapan
dengan pekerja dan yang lain yang dipengaruhi oleh aktivitas mereka.

Kemudian di tahun 2000 Environment Australia menerbitkan Kerangka Untuk Pelaporan Lingkungan
Publik: sebuah pendekatan Australia: sebuah pedoman untuk pelaporan terhadap indikator lingkungan.

Australian Corporation Act 2001 meminta perusahaan – perusahaan untuk melaporkan kinerja
lingkungan dalam laporan tahunan mereka. Lamberton (2005) menelusuri sejarah akuntansi
sustainabilitas dan atribut dengan Gray much dari perkembangan konseptualnya. Dia mengatakan
bahwa Gray mengidentifikasi tiga metode sustainabilitas yang berbeda dari akunting.
a. Biaya sustainable
b. Akuntansi inventaris modal alam
c. Analisis input – output
2.3 Pertumbuhan Akuntansi Sosial dan Lingkungan dalam Riset
Banyak penelitian ini berbeda dengan apa yang terjadi sampai awal 1990-an, ketika banyak
penelitian kurang sedang diterbitkan di daerah tersebut (dan ketika diterbitkan itu biasanya berasal dari
sejumlah kecil orang yang telah pergi melawan kecenderungan " "dan memeluk isu yang terkait dengan
akuntabilitas sosial dan lingkungan). Hal ini juga patut dicatat bahwa banyak dari apa yang disebut
"universitas terkemuka" di bidang akuntansi justru tidak melakukan penelitian di daerah yang
berhubungan dengan akuntabilitas sosial dan lingkungan Hal ini mempunyai implikasi untuk masuknya
"bakat baru". Para pendukung awal beberapa penelitian sosial dan lingkungan (dan peneliti awal dalam

6
tahun 1970-an dan 1980- an biasanya termasuk "lingkungan" dalam istilah yang lebih luas dari "sosial")
yang bisa dibilang dipandang banyak orang sebagai cukup radikal pada saat itu - sesuatu yang teori
kritis hari ini (mungkin diinformasikan oleh filsafat Marxis, feminis atau deep-hijau) bisa menemukan
cukup lucu. Seperti Mathews (1997, hal 488.) Menyatakan:
“Penelitan yang mereka teliti berhubungan dengan pengungkapan non- tradisional atau
menulis dalam mendukung pengungkapan sosial terkait dianggap baik sebagai radikal dan
kritis, karena mereka secara eksplisit maupun implisit mengkritik struktur saat ini dari disiplin:
laporan akuntansi keuangan historis bagi pemegang saham dan kreditur. Ini kemudian bahwa
beberapa penulis itu sendiri dikritik karena sedang dipersiapkan untuk memodifikasi dan
bukan menggantikan sistem di mana akuntansi itu terletak”

Pekerjaan para ahli teori kritis (seperti yang ditampilkan dalam jurnal seperti AAAJ dan
Perspektif Kritis tentang Akuntansi), kritik sangat dibutuhkan dan komentar tentang berbagai resep
pelaporan sosial. Mereka sering kritis terhadap para pendukung akuntansi sosial dan lingkungan karena
pendekatan yang diusulkan itu dianggap melakukan sedikit, atau apa-apa, untuk mengubah
Pendahuluan cara bisnis dilakukan operasi (Tinker dkk, 1991). Namun Gray (2002) memperingatkan,
akuntansi sosial adalah "topic hangat" pada tahun 1970an dan awal 1980-an dengan berbagai
organisasi dan pemerintah merangkul masalah ini, namun sepertinya hampir menghilang dari radar
selama lebih dari satu dekade. Seperti yang terjadi saat itu, pelaporan sosial dan lingkungan umumnya
merupakan praktek sukarela dibayangkan, dengan tidak adanya regulasi, itu bisa menghilang lagi -
tetapi dengan upaya didedikasikan untuk daerah kali ini, ini akan muncul tidak mungkin. Karena
perkembangan praktek akuntansi dan akuntabilitas sosial dan lingkungan masih dalam masa
pertumbuhan (misalnya, dibandingkan dengan praktek sejarah yang panjang dari pelaporan keuangan),
masih ada banyak perdebatan mengenai berbagai isu.
2.4 Externalities
Ekternalities merupakan dampak kegiatan perusahaan pada masyarakat atau dampak luar
perusahaan (Harahap, 1999). Externalitie terdiri dari external economies dan exernal diseconomies.
Exernal economies terjadi bila aktivitas-aktivitas perusahaan menyebabkan kenaikan sumber daya sosial
dan dianggap sebagai exernal benefit atau social benefit yang merupakan kontribusi perusahaan kepada
masyarakat. Sedangkan exernal diseconomies terjadi bila aktivitas perusahaan menyebabkan
penurunan sumber daya sosial dan dianggap sebagai exernal cost atau social cost yang merupakan
kerusakan yang diakibatkan oleh perusahaan. Ekternalities inilah yang membedakan akuntansi
konvensional dengan akuntansi sosial.

7
Selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak keuntungan
bagi masyarakat. Ia bisa memberikan kesempatan kerja, menyediakan barang yang dibutuhkan
masyarakat untuk dikonsumsi, ia membayar pajak, memberikan sumbangan, dan lain-lain. Karenanya
perusahaan mendapat legitimasi bergerak leluasa melaksanakan kegiatannya. Namun, lama kelamaan
karena akhirnya semakin disadari bahwa dampak yang dilakukannya terhadap masyarakat juga cukup
besar dan semakin lama semakin besar yang sukar dikendalikan seperti polusi, keracunan, kebisingan,
diskriminasi, pemaksaan, kesewenang-wenangan, dan produksi makanan haram. Dampak luar ini
disebut Externalities.
Karena besarnya dampak externalities terhadap kehidupan masyarakat, masyarakat pun
menginginkan agar dampak ini dikontrol sehingga dampak negatif Externalities atau social cost yang
ditimbulkannya tidak semakin besar. Dari sini berkembanglah ilmu akuntansi yang selama ini dikenal
hanya memberikan informasi tentang kegiatan perusahaan dengan pihak ketiga, maka dengan adanya
tuntutan ini maka akuntansi bukan hanya merangkum informasi tentang hubungan perusahaan dengan
pihak ketiga, tetapi juga dengan lingkungannya. Hubungan perusahaan dengan lingkungannya bersifat
non-reciprocal artinya transaksi itu tidak menimbulkan prestasi timbal-balik dari pihak yang berhubungan.
Ilmu akuntansi yang mencatat, mengukur, melaporkan, externalities ini disebut dengan Societal
Accounting.
Externalities terjadi bila aktivitas-aktivitas perusahaan menyebabkan kenaikan sumber daya
sosial dan dianggap sebagai external benefit atau social benefit yang merupakan kontribusi perusahaan
kepada masyarakat. Sedangkan exernal diseconomies terjadi bila aktivitas perusahaan menyebabkan
penurunan sumber daya sosial dan dianggap sebagai exernal cost atau social cost yang merupakan
kerusakan yang diakibatkan oleh perusahaan. Ekternalities inilah yang membedakan akuntansi
konvensional dengan akuntansi sosial.
Masalahnya, ekternalities mempunyai sifat-sifat yang menyebabkan keberadaanya menjadi
kurang diperhatikan, yaitu :
(1) Biaya dan manfaat sosial sukar diperkirakan sebelumnya;
(2) Identifikasi dampak ekternalities sulit dilakukan sebelum dampak tersebut benar-benar terjadi dan
(3) Ekternalities tidak mempunyai harga pasar. Sehingga masalah yang harus dipecahkan adalah
bagaimana perusahaan mempertanggungjawabkan social benefit dan social cost dan bagaimana
pengakuan, pengukuran dan pelaporannya.

2.5 Pengakuan, Pengukuran Dan Pelaporan Externalities


Pengakuan dan Pengukuran Externalities Akuntansi sosial timbul karena adanya respon
terhadap harapan masyarakat, yang kemudian timbul adanya “perjanjian sosial” antara masyarakat

8
dengan lembaga masyarakat (perusahaan). Konsekuensi “perjanjian” tersebut adalah, perusahaan
berkewajiban menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat baik manfaat ekonomi
maupun manfaat sosial. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa antara masyarakat dengan perusahaan
saling mengadakan transaksi.

Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam rangka pengembangan akuntansi sosial
berhubungan dengan pengukuran social benefit dan social cost. Social benefit dan social cost
merupakan externalities perusahaan sebagai akibat adanya “transaksi sosial” antara perusahaan
dengan lingkungannya termasuk masyarakat. (Ramanathan, 1981) mendefinisikan transaksi sosial
sebagai pelaksanaan aktivitas perusahaan yang mempengaruhi kepentingan berbagai kelompok sosial
dan tidak diproses melalui pasar. American Accounting Association dalam laporan Committee on Social
Cost (Mathews dan Ferera, 1996) menyatakan, ada tiga tingkatan pengukuran yang berkaitan dengan
perkembangan akuntansi sosial, yaitu: (1) Tingkat pertama, mengidentifikasikan dan mendiskripsikan
aktivitas; (2) Tingkat kedua, pengukuran aktivitas dengan menggunakan unit nonmoneter; dan (3)
Tingkat ketiga, penilaian aktivitas dengan taksiran financial. Sejalan dengan itu ,Freedman (1989)
mengusulkan langkah-langkah untuk mengakui dan mengukur transaksi akuntansi sosial adalah dengan
cara: (1) menentukan social benefit dan social cost ; (2) mengukur item-item yang relevan; dan (3)
mengukur dalam satuan uang (nilai moneter). Karena prosesnya tidak melalui pasar, maka tidak ada
harga yang pasti untuk menggambarkan nilai pertukaran tersebut. Sehingga, transaksi akuntansi sosial
tersebut sangat sulit untuk diidentifikasi dan diukur. Kesulitan ini mungkin juga merupakan salah satu
sebab mengapa perusahaan mengabaikan masalah akuntansi sosial (selain masalah biaya).
Kesulitan pengukuran social benefit dan social cost yang merupakan externalities, terjadi karena
interaksi antara perusahaan dengan lingkungan sosialnya tidak melalui pasar. Sehingga penetapan
jumlah uang sulit dilakukan. Untuk mengatasi kesulitan mengenai pengukuran social benefit dan social
cost (externalities), maka ada beberapa pendekatan pengukuran yang dapat digunakan yaitu sebagai
berikut :
a. Menggunakan nilai pengganti
Nilai pengganti ini digunakan karena externalities tidak dapat ditentukan secara langsung. Nilai
pengganti adalah nilai dari sesuatu yang diperkirakan mempunyai manfaat sama atau pengorbanan sama
dengan sesuatu yang diukur, yaitu dengan cara menghitung perubahan yang terjadi dalam produktivitas
karena adanya perubahan kualitas kehidupan. Misalnya: Pencemaran air dapat menimbulkan penurunan
produktifitas manusia karena terganggu kesehatannya. Penurunan produktivitas akan menurunkan tingkat
produksi, maka akan menjadi social cost. Tetapi jika perusahaan dapat melakukan tindakan pencegahan
pencemaran, maka akan menjadi social benefit.

9
b. Menggunakan tehnik survai
Pendekatan ini dilakukan dengan cara mencari informasi dari masyarakat yang menderita
kerugian atau menerima manfaat karena aktivitas perusahaan. Kalau menggunakan pendekatan survai,
perusahaan harus hati-hati dalam melakukan pengukuran. Karena tidak setiap individu dalam masyarakat
tahu dengan jelas dampak aktivitas perusahaan atas dirinya. Di samping itu tidak setiap individu juga
mampu menilai dampak tersebut dengan unit moneter. Contoh pendekatan survai adalah, mewawancarai
penduduk yang terkena pencemaran perusahaan yaitu dengan menanyakan berapa jumlah kerugian yang
diderita dan berapa jumlah kompensasi yang harus dibayar perusahaan atas kerugian tersebut.
c. Menggunakan reaksi pasar dalam menentukan harga
Dengan menggunakan pendekatan ini, pengukuran tidak dilakukan oleh perusahaan tetapi
dilakukan oleh pihak luar (pihak ketiga) yang independen. Misalnya putusan pengadilan berupa denda
yang harus dibayar oleh perusahaan karena pengaduan masyarakat atas kerusakan lingkungan yang
diakibatkan aktivitas perusahaan.
Pengukuran externalities dapat juga dilakukan dengan menggunakan akuntansi biaya penuh (full
cost accounting). Akuntansi biaya penuh dapat digunakan untuk menentukan biaya internal dan eksternal
yang terkait dengan dampak dan aspek lingkungan entitas bisnis, produk, atau proses untuk mencapai
tujuan dan kebijakan lingkungan (Willis, 1997). Akuntansi biaya penuh menghendaki identifikasi dan
pengukuran dampak dan pengaruh lingkungan yang terkait dengan ekosistem. Dampak dan pengaruh
lingkungan tersebut berhubungan dengan penggunaan sumber daya alam, degradasi dan perbaikannya.
Penggunaan pendekatan-pendekatan tersebut merupakan usaha untuk mengatasi masalah pengukuran.
Karena sampai sekarang belum ada kesepakatan bagaimana externalities yang meliputi social benefit dan
social cost dapat diidentifikasi dan diukur dalam praktek akuntansi keuangan, maka perusahaan dapat
memilih pendekatan tersebut sesuai persepsi masing-masing. Sehingga mereka dapat melaporkan
pertanggungjawaban sosial mereka sebagai bukti kepeduliannya terhadap lingkungan sosial.
Pengukuran dalam satuan uang Pengukuran dalam satuan uang untuk externalities (social
benefit dan social cost) biasanya menggunakan nilai moneter atau unit mata uang di mana perusahaan
tersebut berdiri. Pengukuran dengan satuan uang ini penting, untuk dapat memberikan persepsi yang
sama pada tiap-tiap orang. Karena nilai moneter adalah bahasa umum dalam akuntansi. Tetapi dalam
akuntansi sosial pemberian nilai moneter sulit dilakukan sehingga hasilnya tidak terlalu memuaskan.
Sebagian besar, input (cost) yang terjadi lebih mudah ditentukan dalam unit moneter. Karena jumlahnya
sebesar cost yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Di lain pihak, output yang berupa benefit sulit
ditentukan jumlahnya, karena bersifat intengible. Misalnya dalam kasus pencemaran, social cost dapat
ditentukan dari jumlah unit uang yang dikeluarkan untuk membayar ganti rugi kepada masyarakat.
Sedangkan social benefit ditentukan dari meningkatnya produktifitas masyarakat jika perusahaan

10
menanggulangi pencemaran tersebut. Pengukuran produktivitas merupakan masalah yang kompleks
karena menyangkut berbagai hal terutama masyarakat itu sendiri dan lamanya waktu yang tidak dapat
ditentukan. Adanya kesulitan dalam pemberian nilai moneter seperti yang disebutkan diatas, tidak
menutup kemungkinan untuk tetap dilakukan kuantifikasi atau pengukuran dampak aktivitas perusahaan
dengan menggunakan unit moneter. Menurut Edward and Black (Yudiani, 1998) umumnya ukuran input
(cost) lebih bisa dipraktekkan dan lebih memuaskan daripada ukuran output (benefit). Di samping itu,
dalam mengkuantifikasi eksternalitas dapat dilakukan dengan menggunakan ukuran moneter dan non
moneter seperti yang disarankan oleh Fredman (1989).
Pelaporan Externalities Laporan yang dihasilkan dari akuntansi sosial akan menyajikan masalah
esternalities yang meliputi social benefit dan social cost. Selama ini belum ada bentuk baku untuk
melaporkan aktivitas sosial perusahaan. Hal ini terjadi karena belum ada kesepakatan mengenai isi dan
bentuknya. Pada dasarnya, laporan tersebut bersifat sama, yaitu menyajikan informasi tentang data social
benefit dan social cost perusahaan. Di berbagai negara, sejumlah perusahaan telah melaporkan prestasi
sosialnya. Cakupan aspek sosial yang dilaporkan masih sangat bervariasi. Ada yang melaporkan
pertanggungjawaban sosialnya dalam laporan tahunan, dan ada yang mempublikasikan informasi tersebut
dalam laporan yang terpisah dari laporan tahunan. Guthrie dan Parker (Yudiani, 1998) melakukan
penelitian terhadap laporan tahunan perusahaan di Australia, Amerika Serikat dan Inggris antara tahun
1988 sampai dengan 1993 menunjukkan bahwa, sebagian besar (diatas 50%) dari 50 laporan tahunan
tersebut mengungkapkan informasi mengenai dampak sosial. Di Australia sebesar 50%, Amerika Serikat
85% dan di Inggris sebesar 98%. Informasi yang diungkapkan yaitu sumber daya manusia, komunitas dan
lingkungan. Guthrie dan Parker juga mengungkap cara pelaporan dampak sosial yang dilakukan oleh
masing-masing perusahaan. Di Amerika Serikat, laporan atas dampak sosial cenderung mengambil
bentuk diskripsi singkat pada laporan tahunan dengan mengkuantifikasi dalam bentuk unit meneter (untuk
social cost) dan non moneter. Di Inggris cara pengungkapan dampak sosial sama dengan di Amerika
Serikat. Sedangkan di Australia pengungkapannya cenderung bersifat non moneter. Variasi-variasi
tersebut merupakan bukti bahwa belum adanya pembakuan dalam pelaporan informasi dampak sosial
perusahaan menyebabkan ketidakseragaman dalam pelaporannya. Perbedaan materi yang diungkap
antara negara satu dengan negara lainnnya diduga karena ketentuan undang-undang yang berbeda
sebagai pencerminan kehendak rakyat.

2.6 Identifikasi Social Benefit Dan Social Cost


Proses pertama pengukuran transaksi akuntansi sosial adalah menentukan apa yang merupakan social
benefit dan social cost. Selama ini belum ada pembakuan mengenai apa saja yang dapat diklasifikasikan
sebagai social benefit dan social cost. Dalam praktek, identifikasi mengenai social benefit dan social cost

11
sangat tergantung pada persepsi perusahaan dengan mengacu konsep-konsep yang diberikan oleh para
ahli akuntansi. Freedman (1989) memberikan cara untuk mengidentifikasi social benefit dan social cost
yaitu dengan menggunakan proses produksi dan distribusi perusahaan sebagai dasar pengidentifikasian.
Dengan dasar tersebut, perusahaan akan dapat menentukan efek samping dari produknya dan
menterjemahkannya dalam item-item yang relevan.

Model alternatif pelaporan keuangan sehubungan dengan dampak sosial yang disebabkan oleh aktivitas
perusahaan oleh Parker, Ferris dan Otley (2000) dibagi ke dalam beberapa kategori. Dan perusahaan
dapat memilih salah satu model pelaporan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing
perusahaan.

1. Iventory Approach
Dampak-dampak sosial, baik positif maupun negatif diungkap dalam bentuk diskripsi. Pengungkapan
dalam satuan moneter dilakukan bila data tersedia.
2. Outlay Cost Approach
Pendekatan ini melihat dari sudut pandang perusahaan, yaitu dengan cara mengungkapkan berapa
cost yang dikeluarkan oleh perusahaan sehubungan dengan pertanggungjawaban sosial yang
dilakukannya dengan membagi ke dalam kategori-kategori tertentu. Para pengguna laporan keuangan
dapat melakukan perbandingan dengan tahun sebelunya. Pendekatan ini tidak berorientasi pada
constituents perusahaan, sehingga tidak mengungkapkan berapa social cost dan benefit cost yang timbul
bagi mereka
3. Cost Benefit Approach
Unsur-unsur yang dilaporkan adalah social cost dan social benefit. Pendekatan ini dipandang lebih
memadai dari kedua pendekatan sebelumnya, karena memungkinkan untuk dibandingkan antara social
cost dan social benefit.
4. Program Management Approach
Pendekatan ini mencoba menggambarkan upaya yang dilakukan dan hasil yang dicapai dari program
sosial perusahaan. Laporan menyajikan outlay cost dari kategori dampak sosial tertentu, sasaran
program, dan mengevaluasi apakah hasil yang dicapai telah sesuai dengan sasaran yang diharapkan.
Hasil yang dicapai disajikan secara naratif dan kuantitatif
5. Goal Accounting Approach
Model ini merupakan variasi model program management approach yang mengasumsikan bahwa
organisasi menyusun tujuan operasional, financial dan tujuan sosial

12
2.7 Prospek Penerapan Akuntansi Sosial di Indonesia
Di Indonesia, tanggung jawab sosial belum membudaya jika dibandingkan dengan negara-
negara maju (Yudiani, 1998). Hal tersebut disebabkan kurangnya kesadaran para pengusaha untuk
memenuhi tanggung jawab sosialnya. Upaya perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan lingkungan sekitar masih relatif rendah. Masih banyak perusahaan beroperasi semata-
mata untuk mengejar maksimalisasi laba tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan karena aktivitas
mengejar laba tersebut. Polusi, kebakaran hutan, kerusakan lingkungan masih menjadi isu yang harus
dipecahkan, termasuk juga masalah-masalah yang menyangkut karyawan maupun masyarakat sekitar.
Namun demikian, prospek penerapannya cukup cerah. Hal ini ditandai dengan munculnya
undang-undang dan berbagai macam peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti UU mengenai
pengelolaaan lingkungan hidup dan UU tentang ketenaga kerjaan, yang semuanya bertujuan agar
perusahaan mau melaksanakan tanggung jawab sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap
lingkungan sosialnya. Di samping itu reaksi masyarakat yang selalu kritis menilai lingkungan juga
semakin meningkat. Kepedulian masyarakat ini juga akan dapat membuat perusahaan menyadari
tanggung jawab sosialnya. Untuk dapat diterapkan, selain dibutuhkan kesadaran yang tinggi oleh
perusahaan dengan didukung UU dan peraturan serta peran masyarakat secara aktif, juga diperlukan
standar yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengakui, mengukur dan melaporkan
pertanggungjawaban sosial perusahaan dalam laporan keuangan. Meskipun Standar Akuntansi
Keuangan yang selama ini berlaku di Indonesia belum mencakup kepentingan masyarakat dan
lingkungan (Yuniarti, 1989). Dan ini seharusnya menjadi tantangan bagi akuntan di Indonesia. Untuk itu
diperlukan kerja yang terus menerus baik oleh team penyusun standar (IAI), para akuntan dan peneliti
untuk melakukan penelitian dan pengembangan bidang ilmu akuntansi yang tidak hanya sekedar
berfokus pada lingkup akuntansi konvensional saja. Sehingga, dari hasil kerja mereka akan tersusun
kerangka kerja teoritis yang dapat dijadikan standar untuk pembuatan laporan yang berorientasi sosial.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Akuntansi sosial merupakan pengidentifikasian, pengukuran, dan analisis konsekuensi
ekonomi dan sosial antara perusahaan dengan lingkungannya (Freedman, 1989).
2. Australian Corporation Act 2001 meminta perusahaan – perusahaan untuk melaporkan kinerja
lingkungan dalam laporan tahunan mereka. Lamberton (2005) menelusuri sejarah akuntansi
sustainabilitas dan atribut dengan Gray much dari perkembangan konseptualnya. Dia
mengatakan bahwa Gray mengidentifikasi tiga metode sustainabilitas yang berbeda dari
akunting yaitu Biaya sustainable, Akuntansi inventaris modal alam, dan Analisis input – output.
3. Karena perkembangan praktek akuntansi dan akuntabilitas sosial dan lingkungan masih dalam
masa pertumbuhan (misalnya, dibandingkan dengan praktek sejarah yang panjang dari
pelaporan keuangan), masih ada banyak perdebatan mengenai berbagai isu.
4. Ekternalities merupakan dampak kegiatan perusahaan pada masyarakat atau dampak luar
perusahaan (Harahap, 1999).
5. Beberapa pendekatan pengukuran yang dapat digunakan yaitu menggunakan nilai pengganti,
menggunakan teknik, survey, dan menggunakan reaksi pasar dalam menentukan harga.
6. Perusahaan dapat memilih salah satu model pelaporan tersebut dengan mempertimbangkan
kondisi masing-masing perusahaan yaitu Inventory Approach, Outlay Cost Approach, Cost
Benefit Approach, Program Management Approach, Goal Accounting Approach.
7. Prospek penerapan Akuntansi Sosial di Indonesia cukup cerah. Hal ini ditandai dengan
munculnya undang-undang dan berbagai macam peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah,
seperti UU mengenai pengelolaaan lingkungan hidup dan UU tentang ketenaga kerjaan, yang
semuanya bertujuan agar perusahaan mau melaksanakan tanggung jawab sebagai wujud
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. Di samping itu reaksi masyarakat yang
selalu kritis menilai lingkungan juga semakin meningkat. Kepedulian masyarakat ini juga akan
dapat membuat perusahaan menyadari tanggung jawab sosialnya.
3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan pembaca tentang materi konsep laba dan
modal sehingga dapat memahami ketika berkecimpung di dunia kerja atau sebagai pelaku usaha.
Jika ada peneliti atau pun penulis lain yang ingin melakukan penulisan tentang Societal Accounting
dapat menambahkan hal-hal apa saja yang masih kurang dari makalah kami ini, sehingga dapat
dijadikan sebagai referensi yang lebih lengkap bagi para pembaca.

14
DAFTAR RUJUKAN

Angraini. 2006. ”Pengungkapan Informasi Sosial Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan
Informasi Sosial Dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris Pada
PerusahaanPerusahaan Yang Terdaftar Bursa Efek Jakarta)”. Disampaikan Di Simposium
Nasional Akuntansi 9 Padang.

Deegan, Craig. 2004. Financial Accounting Theory. Australia: Mcgraw-Hill

Gaffikin, Michael. 2008. Accounting Theory Research, Regulation And Accounting Practice. N.S.W.:
Pearson Education.

Kholis, Azizul. 2002. “Tinjauan Teoritis Akuntansi Sosial (Social Accounting) dan Penerapannyan di
Indonesia”. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi Vol.2, No. 2 Agustus 2002 : 27-43.

Lily. 2005. “Indonesia Sustainability Reporting Award”. Akuntansi. Edisi 47. Tahun XII, Juli 2005. Hal. 17.

Satyo. 2005. “Perlu Political Will Yang Kuat”. Akuntansi. Edisi 47. Tahun XII, Juli 2005. Hal. 10—11.

Sugiono, Agus. 2013. “Akuntansi Sosial dan Lingkungan, Perlu atau Tidak? (Tinjauan Konsep dan
Implementasinya Pada Perusahaan-Perusahaan di Indonesia)”. Jurnal Pemikiran Penelitian
Ekonomi, Vol.1, No.1 Desember 2013.

15