Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................................................i

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................1
2.1 Rumusan Masalah................................................................................................................2
3.1 Tujuan Penulisan..................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................................3
2.1 Pengertian Etika Bisnis.........................................................................................................3
2.2 Hubungan Bisnis dan Lingkungan........................................................................................3
2.3 Prinsip-prinsip Etika Bisnis...................................................................................................8
2.4 Etika Lingkungan Hidup.......................................................................................................13
2.5 Prinsip-prinsip Etika Lingkungan Hidup...............................................................................15
BAB III PENUTUP……………............................................................................................................16
3.1 Kesimpulan .........................................................................................................................16
3.2 Saran................................................................................................................................16
DAFTAR RUJUKAN…………………………………………………………………………………………. 17

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada hakikatnya, segala hal di dunia ini saling bergantung satu sama lain, seperti halnya
dalam dunia perbisnisan yang tidak bisa berjalan dengan baik tanpa kehadiran masyarakat yang ikut
serta menjalankan sistem dalam ruang lingkup bisnis itu sendiri. Selain kehadiran masyarakat, dunia
bisnis juga sangat membutuhkan hal-hal yang ada pada alam salah satunya untuk membantu proses
produksinya.
Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan dengan lingkungan.
Aktivitas dan proses bisnis merupakan kegiatan pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang
disediakan oleh alam. Sebab itu, hubungan antara etika, bisnis dan lingkungan hidup sangat erat
sekali. Hal ini berarti, jika bisnis itu membutuhkan bahan baku dari alam, maka alam itu tentu harus
diperlakukan secara layak tanpa merusak habitatnya. Ini semua merupakan tanggung jawab suatu
perusahaan yang memiliki etika bisnis yaitu bagaimana perusahaan mempunyai tanggung jawab dan
sosial untuk memperbaiki dan melindungi lingkungan kearah yang lebih baik. Sehingga, perusahaan
yang baik pasti memahami etika bisnis dengan baik pula.
Etika bisnis merupakan suatu bidang ilmu ekonomi yang terkadang dilupakan banyak orang,
padahal melalui etika bisnis inilah seseorang dapat memahami suatu bisnis, bagaimana bersikap
manis, menjaga sopan santun, berpakaian yang baik sampai bertutur kata. Secara sederhana etika
bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi
harus dapat diingat dalam praktek bisnis sehari-hari bahwa etika bisnis dapat menjadi batasan bagi
aktivitas bisnis yang dijalankan.
Agar suatu perusahaan dapat tetap menjaga keseimbangan antara etika, bisnis dan
lingkungan hidup, maka dibutuhkan suatu aturan-aturan yang berisi ketentuan bagaimana mengelola
dan mempergunakan sumber daya alam sebagai bahan produksinya dengan baik serta tanpa
melakukan eksploitasi secara berlebihan. Dalam hal ini perusahaan perlu bersama-sama
pelanggan/konsumen, pemasok dan pelaku bisnis lainnya untuk menjalankan praktik bisnis yang
berwawasan lingkungan. Perusahaan itu sendiri pun harus senantiasa melakukan upaya-upaya
dalam mengimplementasikan nilai-nilai etika dan hukum dalam setiap praktik bisnisnya dan juga
bertanggung jawab untuk melindungi lingkungan demi keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan
seluruh makhluk hidup yang ada di dunia.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian Etika Bisnis?
2. Apakah hubungan Bisnis dan Lingkungan?
3. Bagaimanakah prinsip-prinsip Etika Bisnis?
4. Bagaimanakah Etika Lingkungan Hidup?
5. Bagaimanakah prinsip-prinsip Etika di Lingkungan Hidup?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Etika Bisnis.
2. Untuk mengetahui hubungan Bisnis dan Lingkungan.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip Etika Bisnis.
4. Untuk mengetahui Etika Lingkungan Hidup.
5. Untuk mengetahui prinsip-prinsip Etika di Lingkungan Hidup.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Etika Bisnis


Etika berasal dari bahasa Yunani yang berarti karakter, kebiasaan atau sekumpulan perilaku
moral yang diterima secara luas. Menurut Solomon (1984) yang dikutip dalam Abdul Jalil (2010), etimologi
dari etika menunjukkan dasar karakter individu untuk melakukan hal-hal yang baik, aturan sosial yang
membatasi seseorang atas sesuatu yang benar atau yang salah yang dikenal juga dengan istilah
moralitas. Etika adalah bagian dari filsafat yang membahas secara rasional dan kritis tentang nilai, norma
atau moralitas. Terminologi yang paling dekat dengan pengertian etika dalam Islam disebut sebagai
akhlak (bentuk jama’nya khuluq).
Menurut K. Bertens (2000) dalam buku Etika, merumuskan pengertian etika kepada tiga
pengertian juga. Pertama, etika digunakan dalam pengertian nilai-niai dan norma-norma moral yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kedua, etika
dalam pengertian kumpulan asas atau nilai-nilai moral atau kode etik. Ketiga, etika sebagai ilmu tentang
baik dan buruk. Rafik Issak Beekum (2004) mengatakan Etika adalah bidang ilmu yang bersifat normatif
karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang
individu.
Etika bisnis merupakan prinsip-prinsip moral atau aturan tingkah laku atau kaidah-kaidah etik
yang dianut dalam berbisnis (Dochak Latief, 2006). Menurut Ernawan (2007) yang dikutip dalam Ernani
(2009), etika bisnis adalah aturan main prinsip dalam organisasi yang menjadi pedoman membuat
keputusan dan tingkah laku . Etika Bisnis adalah pengetahuan tentang tata cara ideal dalam pengaturan
dan pengelolaan antara lain: norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan berlaku secara
ekonomi dan sosial. Pertimbangan yang diambil pelaku bisnis dalam mencapai tujuannya adalah dengan
memperhatikan terhadap kepentingan & fenomena sosial dan budaya masyarakat.
Etika bisnis dalam Islam adalah sejumlah perilaku etis bisnis (akhlaq al Islamiyah) yang
dibungkus dengan nilai-nilai syariah yang mengedepankan halal dan haram. Jadi perilaku yang etis itu
ialah perilaku yang mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangnya. Dalam Islam etika bisnis ini sudah
banyak dibahas dalam berbagai literatur dan sumber utamanya adalah Al-Quran dan sunnaturrasul.
Pelaku-pelaku bisnis diharapkan bertindak secara etis dalam berbagai aktivitasnya. Kepercayaan,
keadilan dan kejujuran adalah elemen pokok dalam mencapai suksesnya suatu bisnis di kemudian hari.
2.2 Hubungan Bisnis dan Lingkungan

3
Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan dengan lingkungan. Justru
ada pihak–pihak atau variabel–variabel atau faktor–faktor yang tersedia di lingkungan ddan yang terkait
dengan bisnis itulah dapat diselenggarakan kegiatan bisnis. Dengan ungkapan lain dapat dinyatakan
bahwa bisnis merupakan kegiatan pengelolaan sumber–sumber ekonomi yang disediakan oleh
lingkungannya. Disamping itu bisnis tidak terlepas dengan adanya faktor–faktor lingkungan yang
mendukung maupun yang menghambat atas tujuan yang ingin dicapai bisnis. Di lain pihak lingkungan
bisnis merupakan seluruh karakter dan faktor yang dapat mempengaruhi baik secara langsung maupun
tidak langsung terhadap bisnis. Sebalikna bisnis dapat secara langsung maupun tidak dapat
mempengaruhi atau menciptakan pengaruh terhadap lingkungannya. Oleh karena itu interaksi antara
bisnis dan lingkungannya atau sebaliknya menjadi tema pencermatan yang cukup penting dan sangat
urgen bagi kegiatan bisnis terhadap masyarakat. Sehingga eksistensi bisnis layak diterima atau
memberikan pengaruh tertentu yang positif atau negatif terhadap lingkungannya. Hal ini merupakan
indikasi yang memberikan status tertentu terhadap peran yang diberikan bisnis dan eksistensinya
terhadap masyarakat, terutama jika dilihat dari sudut kepentingan lingkungannya.
Hubungan antar bisnis dengan lingkungan sangat erat. Perusahaan yang tidak mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan akan tersingkir dari kancah persaingan bisnis. Hubungan antar
bisnis dengan lingkungan kemudian ditelaah oleh para usahawan. Pada mulanya telaah dilakukan secara
tradisional yaitu mereka beranggapan bahwa bisnisnyalah yang merupakan hal yang terpenting atau yang
menduduki titik sentral sedangkan lingkungan merupakan hal sekunder yang mengelilingi bisnisnya.
Pandangan tradisional tersebut sering disebut dengan yang berorientasi produsen atau “Producer
Oriented Aproach”. Pandangan itu memang cocok dengan kondisi saat itu, dimana pada saat itu
keadaannya disebut sebagai “seller’s market”, yang artinya produsen masih langka sehingga barang
apapun yang dihasilkan akan selalu terjual.
Akan tetapi keadaan itu berubah, dimana pengusaha menjadi bertambah banyak dan
masyarakat menjadi lebih selektif sehingga timbulah persaingan yang ketat diantara para pengusaha.
Hanya pengusaha yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumenlah yang mampu
bertahan. Keadaan ini disebut “buyer’s market” atau “pasar pembeli” yaitu keadaan dimana pembeli yang
akan menentukan semuanya dan bukan penjual. Dalam hal ini berlaku suatu ungkapan “pembeli adalah
raja”. Dalam hal ini siapa yang berhasil mendekati konsumen dialah yang akan bertahan dalam kancah
persaingan bisnis. Pada saat seperti inilah pengusaha harus pandai melihat factor lingkungan. Jadi dalam
hal ini yang merupakan factor yang sentral adalah masyarakat atau konsumen sedangkan pengusaha
atau bisnisman mengelilinginya untuk melayani kebutuhan secara lebih baik sesuai dengan selera
konsumen. Pandangan ini disebut “Consumer Oriented Approach” atau “pendekatan yang berorientasi
konsumen”.

4
Lingkungan Dapat dibagi dua Bagian Internal Dan Eksternal:
A. Lingkungan Internal

Merupakan factor-faktor yang ada di dalam organisasi yang berpengaruh terhadap manajemen operasi.
Adapun pengaruh dari lingkungan internal terhadap organisasi secara singkat dapat dikemukakan sebagai
berikut :
a. Visi-misi
Visi diartikan sebagai gambaran kondisi atau potret dimasa depan (berjangka panjang) yang
akan dituju oleh sebuah organisasi. Sementara itu misis adlah pernyataan mengenai maksud dan
filosofi organisasi atau alasan mengepa sebuah orgaisasi eksis. Setiap tingkatan manajemen
harus memahami sepenuhnya apa yang menjadi visi dan misi organisasi.
b. Budaya Perusahaan
Budaya adalah sistem dari kebersamaan nilai, kepercayaan, dan kebiasaan di dalam sebuah
organisasi yang berinteraksi dengan struktur formal yang menghasilkan norma perilaku dalam
organisasi. Ia merupakan iklim social dan psikologis dari ebuah perusahaan, dan wujudnya bisa
merupakan budaya yang tertuutuo atau terbuka. Dalam budaya tertutup keutusan cendrung
dibuat oleh tingkatan yang leih tinggi dalam menajemen. Manajer kurang begitu percaya pada
bawahan, banyak kerahasiaan di seluruh jajaran organisasi, dan karyawan tak terdorong untuk
kreatif atau terlibat dalam pemecahan masalah. Sebaliknya, dalam budaya terbuka keputusan
dibuat pada tingkatan manajemen yang lebih rendah, kepercayaan terhadap bawahan atau
karyawan cukup besar dan karyawan di dorong agar keatif dan diikut sertakan dalam pemecahan
masalah.
c. Gaya manajemen
Sikap dan preferrensi atasan mempengaruhi bagaiman sebuah tugas dilaksanakan. Masalah
dapat jika gaya manajerial dari manajer yang lebih tinggi berbeda dengan manajer tingkat bawah.
Secara umum, manajer tingkat bawah harus menyesuaikan diri dengan gaya dari atasan.
d. Kebijakan
Kebijakan menetapkan batasan sebagai batasan seabagai arahan dalam membuat keputusan.
Kebijakan yang dibuat oleh manajer tingkat bawah harus selaras dengan dengan kenijakan dari
manajer yang lebih tinggi. Kebijakan seringkali dimaksudkan untuk menjamin konsistensi dalam
praktik misalnya mengenai kapan dan bagaimana kinerja dinilai.
e. Karyawan
Karyawan berbeda-beda satu sama lain dalam berbagai hal sperti kecakapan, sikap, tujuan
pribadi, dan kepribadian. Akibatnya, perilaku seorang manajer yang efektif dengan seorang

5
karyawan mungkin tidak efektif dengan karyawan lain. Pada kasus yang ekstrem karyawan
mungkin berbeda satu sama lain sehingga hampir tak mungkin dikelola sebagai sebuah
kelompok. Agar bisa efektif, manajer harus mempertimbangkan perbedaan, baik individual
maupun kelompok.
f. Organisasi informal
Anggota organisasi akan menjumpai dua jenis organisasi di dalam perusahaan, yaitu formal dan
tidak formal (informal). Organisasi formal ditunjukkan oleh bagan struktur organisasi dan uraian
jabatan. Organisasi informal adalah hubungan yang berkembang dan pola interaksi manusia di
dalam organisasi yang tidak ditetapkan secara resmi. Organisasi informal dapat berdampak
positif atau negative terhadap jalannya kegiatan perusahaan.
g. Hubungan antar unit
Manajer harus memahami benar hubungan antar divisi atau departemen yang ada dan harus
memanfaatkan hubungan tersebut secara maksimal. Jika pekerjaan sebuah divisi tergatung pada
divisi lain dalam arus kerja, maka manajer harus memahami bahwa kerjasama dengan divisi-
divisi lain sangat dibutuhkan jika pekerjaan harus diselesaikan secara efisien atau produktivitas
divisi ingin ditingkatkan.
B. Lingkungan Ekternal
Lingkungan eksternal adalah semua faktor atau pihak – pihak atau variabel dinamis yang berada
di luar bisnis atau perusahaan. Secara makro sebenarnya banyak variabel yang terkait dengan lingkungan
eksternal perusahaan. Lebih jelas lagi dinyatakan bahwa jika perusahaan didirikan di suatu daerah atau
negara atau didalam suatu sistem masyarakat, maka praktis perusahaan ini merupakan bagian yang tak
terpisahkan dengan masyarakat ini. Dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa perusahaan yang
didirikan di masyarakat merupakan sub sistem masyarakat yang sudah tentu dituntut untuk berperilaku
harmoni dengan semua unsur – unsur di dalam masyarakat. Lingkungan eksternal dari sebuah organisasi
pada umumnya dibedakan atas lingkungan umum dan lingkungan khusus (juga disebut lingkungan tugas)
yang meliputi pemasok,pelanggan, pesaing, pembuat peraturan, dan serikat pekerja.
1. Lingkungan Umum
Lingkungan umum terdiri dari kondisi-kondisi latar belakang dalam lingkungan eksternal yang dapat
berpengaruh besar terhadap kegiatan operasional dari sebuah organisasi. Lingkungan ini meliputi :
a. Kondisi Ekonomi
Yaitu kondisi umumdari perekonomian yang berkaitan dengan suku bunga, inflasi, konvertibilitas
mata uang, tingkat penghasilan perkapita, roduk domestic bruto, kebijakan moneter dan fiscal,
sistem perpajakan, penduduk, pengangguran, tingkat upah dan indicator ekonomi lainnya yang
berkaitan.

6
b. Kondisi Sosial-Budaya

Kondisi umum dari nilai-nilai social yang berlaku mengenai hak asasi manusia, adat-istiadat,
norma, nilai, kepercayaan, bahasa, sikap, perilaku, bahasa, agama, selera, aspirasi, tend
pendidikan dan lembaga social terkait.
c. Kondisi Hukum – Politik
Yaitu Ideologi politik, partai dan orgnisasi politik, bentuk pemerintah, hokum, undang-undang dan
peraturan pemerintah yang mempengaruhi transaksi bisnis, perjanjian dengan Negara lain, hak
paten dan merek dagang.
d. Kondisi Teknologis
Yaitu kondisi umum dari pengembangan dan tersedianya teknologi di dalam lingkungan,
termasuk kemajuan ilmu pengetahuan.
e. Kondisi Lingkungan Alam, Merupakan kondisi umum dari alam dan kondisi lingkungan fisik.
Perbedaan dalam factor-faktor yang berkaitan tersebut akan sangat terasa bagi organisasi yang
beroperasi international. Kondisi dalam lingkungan umum tersebut banyak berbeda dalam satu Negara
dengan Negara-negara lainnya. Para manajer yang berhasil dari organisasi yang beroperasi international
dapat memahami berbagai perbedaan ini dan membantu organisasi dalam membuat penyesuaian
operasional yang diperlukan.
2. Lingkungan Khusus
Lingkungan khusus terdiri atas organisasi, kelompok, perorangan yang actual dengan siapa sebuah
organisasi harus berinteraksi agar dapat beroperasi dan berkembang. Seringkali disebut juga lingkungan
tugas, lingkungan ini berbeda untuk setiap organisasi, tergantung situasi dan domain operasi yang unik
dari organisasi. Elemen – elemen penting dalam lingkungan khusus dari sebuah organisasi meliputi :

a. Pelanggan
Yaitu kelompok individu dan organisasi konsumen atau nasabah tertentu yang membeli barang
dari organisasi dan atau menggunakan jasanya.
b. Pemasok
Pemberi sumberdaya manusia, informasi dan keuangan serta bahan mentah tertentu yag
dibutuhkan oleh organisasi untuk beroperasi.
c. Pesaing
Organisasi tertentu yang menawarkan barang dan jasa yang sama atau serupa kepada
kelompok konsumen atau nasabah yang sama.
d. Pembuat Peraturan

7
Badan atau perwakilan pemerintah pada tingkat lokal, daerah dan pusat sebagai penegsk hokum
dan perturan yang berpengaruh terhadap kegiatan operasional organisasi.
e. Serikat Pekerja
Yaitu organisasi yang menghimpun para pekerja untuk memperjuangkan aspirasi para
anggotanya.
Hubungan Lingkungan Eksternal dan Internal dengan Organisasi
Lingkungan eksternal sebagai sumber untuk pemasok dari sumber daya dan konsumen dari output.
Seberapa besar lingkungan ini dapat mendukung organisasi dapat membawa dampak terhadap operasi
dan kinerja organisasi. Hubungan yang baik dengan para pemasok akan lebih menjamin kelancaran
masuknya sumber daya yang dibutuhkan dan pelanggan yang merasa puas akan mendukung permintaan
terhadap barang dan jasa yang dihasilkan.
Lingkungan internal berpengaruh langsung terhadap tingkat kemampuan dalam proses yang meliputi
ketiga subsistem yang ada di dalam sistem organisasi, yaitu masukan (input), transformasi, dan keluaran
(output).
2.3 Prinsip-Prinsip Etika Bisnis
Dalama Buku (Sataloff, Johns, and Kost 2019) Secara umum etika bisnis merupakan acuan cara yang
harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Oleh karena itu etika
bisnis memiliki prinsip umum yang dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan
bisnis yang dimaksud. Adapun prinsip etika bisnis tersebut adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Otonomi
Yang dimaksud dengan prinsip otonomi adalah perusahaan secara bebas memiliki kewenangan untuk
mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang
dianggapnya baik untuk dilakukan dan pelaksanaan sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki. bisnis
yang otonom adalah orang yang sadar sepenuhnya akan apa yang menjadi kewajibannya dalam dunia
bisnis. Sedangkan cirinya, antara lain :
a. Mengetahui bidang kegiatan yang ditekuninya.
b. Mengetahui situasi yang dihadapinya.
c. Mengetahui apa yang diharapkan dari bidang usaha yang ditekuni.
d. Mengetahui tuntutan dan aturan yang berlaku bagi bidang kegiatannya.
e. Sadar dan mengetahui akan keputusan dan tindakan yang akan diambil.
f. Sadar dan mengetahui akan terjadi risiko yang timbul bagi: Dirinya sendiri, Perusahaan, dan
pihak lain.
g. Sadar dan mengetahui bahwa keputusan dan tindakan yang akan diambilnya akan sesuai atau,
sebaliknya, bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu.

8
Persyaratan bagi orang bisnis yang otonom adalah memiliki kebebasan karena merupakan unsur hakiki
dari prinsip otonomi. Adapun kebebasan yang dimaksud disini antara lain:
a. Kebebasan dalam mengambil keputusan.
b. Kebebasan bertindak berdasarkan keputusan yang terbaik dalam waktu yang tepat.
c. Dilandasi tanggung jawab. Dalam etika, kebebasan adalah prasyarat utama untuk bertindak
secara etis, karena tindakan etis itu sendiri, dalam bahasa indonesia, bersumber dari kemauan
baik dan kesadaran pribadi untuk berbuat baik.
Kebebasan berbuat baik kepada pelaku bisnis pada scala besar maupun scala kecil untuk tidak hanya
melakukan:
a. Menuntut hak.
b. Perintah bekerja.
c. Melakukan pengendali dari luar.
d. Perlakuan tidak etis
Secara khusus dalam dunia bisnis, tanggung jawab moral yang diharapkan dari setiap pelaku bisnis yang
otonom mempunyai dua arah. Pertama, yang paling pokok adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Kedua, tanggung jawab moral juga tertuju kepada semua pihak terkait yang berkepentingan stakeholders.
Hal ini memperlihatkan bahwa bisnis bukan sekadar asal melakukan bisnis, melainkan melakukan bisnis
dengan pertimbangan yang sangat matang. Etika bisnis adalah aturan yang menegaskan suatu bisnis
boleh bertindak dan tidak boleh bertindak, aturan- aturan tersebut bersumber dari aturan tertulis maupun
tidak tertulis (Fahmi, 2013:3). Jadi etika bisnis menyangkut baik atau buruknya perilaku manusia dalam
menjalankan bisnisnya. Bisnis yang beretika harus dilihat dari tiga sudut pandang yaitu ekonomi, hukum,
dan moral (Bertens, 2013: 25). Dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang baik adalah bisnis yang
menghasilkan keuntungan tanpa merugikan orang lain. b) Dari sudut pandang hukum, bisnis yang baik
adalah bisnis yang tidak melanggar aturan hukum c) Dari sudut pandang moral, bisnis yang baik adalah
bisnis yang sesuai dengan moralitas.
2. Prinsip Kejujuran
Kegiatan bisnis secara umum terdiri dari kegiatan berproduksi dan penjualan, baik dilakukan sekaligus
atau terpisah. Dilakukan sekaligus bila perusahaan disamping melakukan kegiatan berproduksi atas
suatu barang atau jasa, juga melakukan kegiatan pemasaran atas barang atau jasa tersebut.
Disamping itu perusahaan ada yang hanya melaksanakan kegiatan berproduksi saja atau pemasaran
saja. Berkait dengan kegiatan bisnis tersebut, prinsip kejujuran merupakan merupakan nilai yang
paling mendasar (modal dasar atau aset yang paling dan sangat berharga) dalam mendukung
keberhasilan kinerja perusahaan. Karena kejujuran dalam berbisnis adalah kunci keberhasilan,
termasuk untuk bertahan dalam jangka panjang, dalam suasana bisnis yang penuh persaingan ketat.

9
Dalam lingkup kegiatan bisnis prinsip kejujuran menumbuhkan kepercayaan, sekaligus merupakan
syarat, untuk dapat menjalankan bisnis secara profesional bersama-sama dengan:
a. Karyawan Perusahaan.
b. Pelanggan dan Konsumen.
c. Pemasok atau Rekanan.
d. Pihak lain yang terkait dalam menjalin relasi bisnis.
Aplikasi prinsip kejujuran dalam kegiatan bisnis ditujukan terhadap bidang-bidang berikut:
a. Perjanjian Kontrak Kerja
Ini merupakan momentum terbinanya suatu Kerjasama lanjutan di bidang-bidang bisnis lain
terhadap: Perusahaan lain, Tenaga Ahli, Peneliti dan lain lain. Distributor, pemasok dan lain lain.
Syarat-syarat yang ditetapkan dalam perjanjian kontrak harus dipenuhi secara konsekuen. Bila
tidak berarti pelaku bisnis telah menggali kubur bagi bisnisnya sendiri.
b. Penawaran Barang
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa kepercayaan konsumen adalah hal yang
paling pokok. Perusahaan harus menjaga hubungan baik dengan konsumen dimana produk yang
dibuat dan dipasarkan harus benar-benar mencerminkan kualitas produk yang sesuai dengan
fakta, tidak terdapat unsur manipulasi. Jika konsumen merasa tertipu, dalam waktu singkat akan
mempunyai efek multiplier-expansive yang luar biasa.
c. Hubungan Kerja Dengan Perusahaan Lain
Yang dimaksud dengan perusahaan lain disini dapat berupa para pesaing dari perusahaan yang
sejenis atau mitra usaha antara lain: perusahaan agen, distributor, pemasok. Khusus dalam
hubungan dengan pesaing perusahaan agar secara jujur dianggap sebagai teman atau kolega.
Karena perusahaan pesaing ini dapat diikut sertakan sebagai mitra usaha sesuai dengan prinsip
win-win solution (suatu hubungan yang bertujuan saling membutuhkan, saling menutupi, saling
menghidupi dan saling menguntungkan). Tidak diperkenankan saling membunuh atau saling
mematikan bidang usaha dengan perusahaan pesaing. Terhadap perusahaan milik pesaing agar
diterapkan bentuk lomba dalam memberikan pelayanan terbaik, mutu terbaik dan harga
terjangkau.
d. Hubungan Dengan Tenaga Kerja
Perusahaan harus berprinsip bahwa tenaga kerja harus dipandang sebagai mitra usaha.
Sedangkan kejujuran dalam perusahaan hanya mungkin terjaga kalau ada etos bisnis yang baik,
dimana karyawan diperlakukan secara baik dan manusiawi, diperlakukan sebagai manusia yang
mempunyai hak-hak tertentu pemberian upah yang adil, pemberian kompensasi lembur yang
wajar dan terbinanya sikap saling menghargai sebagai manusia antara satu dan yang lainnya.

10
Hal ini akan mendorong kreativitas dan meningkatkan loyalitas terhadap perusahaan sehingga
meningkatkan produktivitas karyawan.
3. Prinsip Tidak Berniat Jahat
Bisnis didirikan dengan suatu komitmen untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan
karyawan, masyarakat konsumen atau stakeholders pada umumnya. Komitmen ini adalah untuk
mencapai tujuan yang baik dan positif. Sehingga tidak terlintas niatan untuk berbuat jahat terhadap
masyarakat. Prinsip ini justru akan dapat menyelamatkan perusahaan.
4. Prinsip Keadilan
Yang dimaksud dengan keadilan adalah tercapainya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Prinsip
keadilan menuntut agar setiap orang dalam kegiatan bisnis internal perusahaan maupun relasi
eksternal perusahaan perlu diperlakukan sesuai dengan hak dan kewajiban. Keadilan menuntut agar
tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya. Keadilan ditujukan kepada stakehoders
terkait dengan penetapan yang sudah disepakati bersama, antara lain:
a. Penetapan harga jual yang layak terhadap konsumen.
b. Penetapan harga beli yang layak terhadap pemasok.
c. Penetapan keuntungan yang wajar terhadap pemilik perusahaan.
d. Penetapan upah yang layak terhadap karyawan.
Sudut pandang ekonomis yang perlu diperhatikan antara lain: Sudut pandang moral dan etika. Dalam
sudut pandang ini mengejar keuntungan merupakan hal yang wajar, asalkan tidak tercapai dengan
merugikan pihak lain. Maka menghormati kepentingan dan hak orang lain merupakan hal yang penting.
Jadi, ada batasnya juga dalam mewujudkan tujuan perusahaan namun hal itu juga harus demi
kepentingan bisnis itu sehingga bisnis yang etis tidak membawa kerugian bagi bisnis itu, terutama dilihat
dari jangka panjang. Aspek etis dalam sudut pandang moral dan etika bisa dilihat dari janji yang harus
ditepati, kepercayaan, dan menjaga nama baik. Dengan demikian perilaku baik dalam konteks bisnis
dalam sudut pandang moral adalah perilaku yang sesuai dengan norma moral dan agama karena suatu
perbuatan dinilai baik menurut arti terdalam justru kalau memenuhi standar etika. Disamping dari sudut
pandang hukum membutuhkan sudut pandang moral antara lain:
a. Hukum dirumuskan dengan baik, tetapi karena salah satu alasan sulit untuk dilaksanakan,
misalnya karena sulit dijalankan evaluasi yang efektif. peraturan hukum yang tidak ditegakan
akan ditaati juga.
b. Banyak hal bersifat tidak etis, sedangkan menurut hukum tidak dilarang. tidak semuanya yang
bersifat tidak memiliki moral dianggap ilegal.
c. Hukum sering kali bisa disalah gunakan. Perumusan hukum tidak pernah sempurna, sehingga
orang yang beritikad buruk bisa memanfatkan celah dalam hukum yang berlaku.

11
d. Proses terbentuknya undang-undang atau peraturan hukum lainnya memakan waktu lama,
sehingga masalah-masalah baru tidak segera bisa diatur secara hukum.
e. Sudut pandang moral hukum kerap kali mempergunakan pengertian yang dalam kontek hukum
tetapi tidak didenifisikan dengan jelas dan sebenarnya diambil dari konteks moral.
Sudut pandang hukum bisnis adalah kegiatan ekonomis dengan maksud memperoleh untung. Dalam
bisnis modern keuntungan diekspresikan dalam bentuk uang. Prinsip kegiatan antar manusia bertujuan
untuk mencari kuntungan, karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Jadi bisnis selalu bertujuan mendapat
keuntungan dan perusahaan dapat disebut organisasi yang didirikan dengan tujuan mencari keuntungan.
Teori ekonomi menjelaskan bagaimanapun dalam sistem ekonomi pasar bebas para pengusaha dengan
memanfaatkan sumber daya yang langka antara lain: tenaga kerja, bahan mentah, menghasilkan barang
dan jasa yang berguna untuk masyarakat. Jika kompetisi pada pasar bebas berfungsi dengan semestinya,
selanjutnya akan terjadi efisiensi di bidang ekonomis, artinya menggunakan prinsip ekonomi untuk
mencapai hasil maksimal akan dicapai dengan pengeluaran minimal dalam harga produk atau jasa yang
paling menarik untuk publik. Oleh karena efisiensi merupakan kata kunci dalam ekonomi modern, para
ekonom telah mengembangkan berbagai kegiatan. Dengan demikian dari sudut ekonomis, good business
adalah bisnis yang membawa banyak keuntungan.
Hukum dan etika memiliki kaitan yang erat karena etika harus menjiwai hukum. berarti peraturan
hukum harus ditentukan supaya keadaan tidak menjadi kacau, tetapi cara diaturnya tidak berkaitan
dengan etika sehingga peraturan hukum merupakan keyakinan moral. Cabang penting dalam ilmu hukum
modern adalah hukum dagang atau hukum bisnis sebab hukum merupakan sudut pandang normatif,
karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum lebih
jelas dan pasti karena peraturan hukum berdasarkan perundang-undangan yang berlaku dan ada sanksi
tertentu.
5. Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri
Prinsip ini merupakan prinsip tindakan bisnis yang dampaknya berpulang kembali kepada bisnis itu
sendiri. Pelaku bisnis dituntut menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaannya. Dengan kata
lain, prinsip ini merupakan tuntutan dan dorongan dari dalam diri pelaku dan perusahaan untuk
menjadi yang terbaik dan dibanggakan. Sebagai contoh, seandainya manajemen perusahaan dengan
team worknya memiliki falsafah kerja dan berorientasikan memberikan kepuasan kepada pelanggan,
maka dapat dipastikan para pelanggan akan makin percaya terhadap perusahaan. Demikian juga jika
para manajemen berorientasikan pada pemberian kepuasan kepada karyawan yang berprestasi, maka
dapat dipastikan karyawan akan makin loyal terhadap perusahaan. Oleh karena itu prinsip hormat
pada diri sendiri mesti diberlakukan pada estika bisnis.
6. Prinsip Saling Menguntungkan

12
Prinsip ini menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
Prinsip ini terutama mengakomodasi hakikat dan tujuan bisnis. Karena sebagai produsen ingin
mendapatkan keuntungan dan sebagai konsumen ingin mendapatkan barang dan jasa yang
memuaskan (dalam bentuk harga wajar, kualitas baik dan pelayanan baik), maka bisnis dijalankan
dengan saling menguntungkan produsen dan konsumen. Dalam bisnis yang kompetitif, prinsip ini
menuntut agar persaingan bisnis haruslah melahirkan suatu win-win solution. Etika diharapkan mampu
memberikan manfaat yang berarti bagi pelaku usaha, sehingga diharapkan etika dapat mendorong
dan mengajak untuk bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan serta dapat
dipertanggung jawabkan. Etika di harapkan mampu mengarahkan pelaku usaha untuk berkembang
menjadi masyarakat yang tertib, teratur, damai dan sejahtera dengan mentaati norma yang berlaku
demi ketertiban dan kesejahteraan sosial. Setiap pelanggaran yang dilakukan baik sengaja ataupun
tidak sengaja harus diselesaikan menurut kode etik yang berlaku.
2.4 Etika Lingkungan Hidup
Etika merupakan kebiasaan hidup yang baik, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.
Etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan aturan tentang bagaimana manusia harus hidup yang baik
sebagai manusia. Etika Lingkungan merupakan “Refleksi kritis tentang norma dan nilai atau prinsip moral
yang selama ini dikenal dalam komunitas manusia untuk diterapkan secara lebih luas dalam komunitas
biotis atau komunitas ekologis” Sebagai refleksi kritis tentang apa yang harus dilakukan terkait dengan isu
lingkungan hidup, termasuk pilihan moral dlm memenuhi kebutuhan hidupnya yg memberi dampak pada
lingkungan.
Etika lingkungan hidup berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam dan juga relasi di
antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak
pada alam, dan antara manusia dengan makhluk hidup yang lain atau dengan alam secara keseluruhan,
termasuk di dalamnya kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak
langsung terhadap alam. Etika lingkungan merupakan dasar moralitas yang memberikan pedoman bagi
individu dan masyarakat dalam berperilaku atau memilih tindakan yang baik dalammenghadapi dan
menyikapi segala sesuatu berkaitan dengan lingkungan sebagai kesatuan pendukung kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan umat manusia serta makhluk lainnya (Anies, 2006).
A. Tiga Teori Etika Lingkungan Karena Ada Perbedaan Cara Pandang Yang Mendasar:
1. Antroposentrisme
Manusia sbg pusat sistem alam semesta hanya manusia yang mempunyai hak, kepentingan, dan
nilai atas alam. Kepentingan manusia yang paling utama, paling penting dan paling tinggi.
2. Biosentrisme

13
Setiap bentuk kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga bagi dirinya sendiri shg
pantas dan perlu mendapatkan penghargaan dan kepedulian atas nilai dan harga dirinya itu, terlepas
apakah dia bernilai atau tidak bagi kehidupan manusia.
3. Ekosentrisme => Deep Ecology
Mengembangkan wilayah pandangan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup (biotik)
maupuan yang tidak hidup (abiotik). Secara ekologis, sistem alam semesta dibentuk dan disusun oleh
sistem yang hidup dan benda-benda abiotik yang saling berinteraksi satu sama lain  saling
membutuhkan, saling melengkapi, saling mengisi  seluruh entitas ekologis mempunyai kewajiban dan
tanggung jawab moral yg sama .
B. Dasar Pemikiran/ Pendekatan Etika Lingkungan:
1. Dasar Pendekatan Ekologis
Mengenalkan suatu pemahaman adanya keterkaitan yg luas atas kehidupan; tindakan manusia pada
masa lalu, sekarang dan yang akan datang akan memberikan dampak pada orgaisme lain maupun
komponen ekosistem yang lain.
2. Dasar Pendekatan Humanisme
Setara dengan pendekatan ekologis, menekankan pada pentingnya tanggung jawab kita untuk hak
dan kesejahteraan manusia lain atas sumberdaya alam.
3. Dasar Pendekatan Teologis
Merupakan dasar dari kedua pendekatan sblmnya, bersumber dari niai-nilai agama bagaimana
sebenarnya alam diciptakan dan bagaimana kedudukan dan fungsi manusia serta interaksi yg
selayaknya terjalin antara manusia dan alam.
2.5 Prinsip-Prinsip Etika Lingkungan Hidup
1. Sikap menjaga ekosistem alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam
semesta.
2. Tanggung jawab bukan bersifat individu melainkan kolektif yang menuntut manusia untuk mengambil
prakarsa, usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta beserta
isinya.
3. Prinsip solidaritas yang membangkitkan rasa kebersamaan, dengan menjaga ekosistem alam dan
makhluk hidup, sehinga mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan.
4. Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam semesta, yang tidak didasarkan kepada
kepentingan pribadi.
5. Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam. Pola konsumsi dan produksi manusia modern
harus dibatasi.

14
6. Kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan ikut menikmati manfaat sumber
daya alam secara lestari.
7. Menjaga ekosistem agar tetap lestari dan tidak rusak sehingga sumberdaya alam bisa dinikmati
dimasa yang akan datang.
8. Prinsip integritas moral menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang
terhormat serta memeggang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan
sumber daya alam.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Etika berasal dari bahasa Yunani yang berarti karakter, kebiasaan atau sekumpulan perilaku
moral yang diterima secara luas.
2. Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan dengan lingkungan. Justru
ada pihak–pihak atau variabel–variabel atau faktor–faktor yang tersedia di lingkungan ddan
yang terkait dengan bisnis itulah dapat diselenggarakan kegiatan bisnis. Dengan ungkapan lain
dapat dinyatakan bahwa bisnis merupakan kegiatan pengelolaan sumber–sumber ekonomi yang
disediakan oleh lingkungannya. Disamping itu bisnis tidak terlepas dengan adanya faktor–faktor
lingkungan yang mendukung maupun yang menghambat atas tujuan yang ingin dicapai bisnis.
Di lain pihak lingkungan bisnis merupakan seluruh karakter dan faktor yang dapat
mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap bisnis.
3. Prinsip-prinsip etika bisnis adalah Prinsip otonomi, kejujuran, tidak berniat jahat, keadilan,
hormat pada diri sendiri, dan saling menguntungkan.
4. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam dan juga relasi di
antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang
mempunyai dampak pada alam, dan antara manusia dengan makhluk hidup yang lain atau
dengan alam secara keseluruhan, termasuk di dalamnya kebijakan politik dan ekonomi yang
mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.
5. Prinsip-prinsip etika lingkungan hidup adalah Sikap menjaga ekosistem alam, Tanggung jawab
bukan bersifat individu melainkan kolektif , Prinsip solidaritas yang membangkitkan rasa
kebersamaan, Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam semesta, Prinsip hidup
sederhana dan selaras dengan alam, Kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian
alam, Menjaga ekosistem agar tetap lestari, Prinsip integritas moral menuntut pejabat publik
agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memeggang teguh untuk
mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.
3.2 Saran
Hubungan antar bisnis dengan lingkungan sangat erat. Perusahaan yang tidak mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan akan tersingkir dari kancah persaingan bisnis. Karena adanya
hubungan tersebut, baiknya perusahaan terus bertanggung jawab pada alam dan lingkungan demi
kesejahteraan perusahaan itu sendiri dan juga masyarakat serta lingkungan sekitar tanpa ada pihak
yang dirugikan.

16
DAFTAR RUJUKAN

Beekum , Rafik Issa. 2004. Etika Bisnis Islami. Yogakarta.: Pustaka Pelajar
Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Jakarta: Kanisius
Hadiyati, Ernani. 2009. “Pengaruh Etika Bisnis terhadap Kewirausahaan pada Usaha Kecil Bengkel Les di
Pujon”, Jurnal Manajemen Gajayana, Vol.6, No.1, Juni 2009

Jalil, Abdul. 2010. “Implementation Mechanism of Ethics in Business Organizations”. International


Business Research. Vol. 3, No. 4, October 2010.

Latief, Dochack. 2006. Etika Bisnis Antara norma dan realitas, Muhammadiyah University Press

Sataloff, Robert T, Michael M Johns, and Karen M Kost. 2019. “Buku Etika Bisnis.” (Etika Bisnis Suatu
Pendekatan dan Aplikasinya Terhadap Stakeholders): 127.

http://www.academia.edu/3346537/Lingkungan_Bisnis Diakses Tanggal 03/03/2021

http://qeyty.blogspot.com/2008/10/bab-i-bisnis-dan-lingkungan_06.html Diakses Tanggal 03/03/2021

17