Anda di halaman 1dari 27

JOINT VENTURE

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi Mata Kuliah

Aspek Hukum Dalam Bisnis

Dosen Pengampu :

Mirza Elmy Safira, M.H.

Disusun Oleh :

Husna Hidayati (18340035)

Anis Setiawati P. (18340035)

Nurul Ifadah (18340042)

Fahrudin (18340022)

UNIVERSITAS SUNAN GIRI SURABAYA


FAKULTAS EKONOMI
MANAJEMEN
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan YME, karena atas berkat dan rahmat-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah Joint Venture. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
kelompok mata kuliah Aspek Hukum dalam Bisnis. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Ibu
Mirza Elmy Safira, M.H. selaku dosen Aspek Hukum dalam Bisnis atas bimbingannya dalam
menyusun makalah ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memahami secara menyeluruh tentang Joint
Venture. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Kami menyadari, bahwa
makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna baik segi penyusunan, bahasa, maupun
penulisannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
semua pembaca demi perbaikan makalah kami selanjutnya.

Sidoarjo, 12 Desember 2020

Penyusun

ii
Daftar isi

COVER MAKALAH.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................1

A. Latar Belakang................................................................................................................1

B. Rumusan Masalah...........................................................................................................3

C. Tujuan Masalah...............................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................4

A. Pengertian........................................................................................................................4

B. Dasar Hukum Joint Venture..........................................................................................14

C. Tujuan dari Joint Venture..............................................................................................18

BAB III PENUTUP................................................................................................................21

A. Kesimpulan...................................................................................................................21

B. Saran..............................................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................23

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah, penanaman modal asing di negara-negara berkembang
pada umumnya, dilaksanakan dalam bentuk perusahaan-perusahaan yang diberi
subsidi. Akan tetap akhir-akhir ini sebagian besar dari penanaman modal itu berwujud
dalam bentuk joint venture, di mana tergabung harta kekayaan pihak asing dan lokal.
Berbagai faktor yang menyebabkan perkembangan joint venture, di antaranya ialah
dengan dikeluarkannya Undang undang yang melarang adanya pemilikan modal
sepenuh nya di tangan pihak asing, di samping diadakannya perang sang untuk
mendorong penanaman modal oleh pihak lokal. Yang lebih penting lagi ialah
timbulnya kesadaran di pihak asing akan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari
penggabungan usaha dengan pihak lokal, baik dengan badan-badan pemerintahan
maupun swasta.

Di antara keuntungan-keuntungan yang nyata jalan: tanah, modal, tenaga


kerja, pengetahuan bahasa lokal, pasaran lokal dan lain-lain. Beberapa keuntungan
yang tidak nyata ialah: hubungan dengan pemerintahan, langganan, pegawai, minat
yang kian hari kian berkurang terhadap nasionalisasi dan tidak adanya diskriminasi di
bidang hukum. Dengan adanya perhatian yang lebih besar terhadap join venture serta
keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh seperti disebut di atas, maka banyak
persoalan baru yang dikemu kakan dalam perundingan-perundingan joint venture,
terutama oleh perusahaan-perusahaan multi-nasional. Simposium mengenai
Perkembangan Industri yang diadakan di Athene pada tahun 1967, dalam mengakui
erkembangan perkembangan tersebut menyarankan agar UNIDO "Menyusun satu
pola perjanjian yang dapat dipakai oleh negara-negara yang berminat mengadakan
perun. dingan-perundingan bilateral atau multilateral dan Joint venture, perjanjian-
perjanjian Itu hendaknya di. sertal catatan-catatan lengkap mengenai ketentuan
ketentuan serta persyaratan-persyaratan dan hal-hal lain yang diperlukan".

Saran yang diajukan oleh Simposium Athene itu sifatnya agak optimistis,
sebab sepanjang pengalaman UNIDO hingga saat ini, belum dijumpai satu jenis joint
venture yang khas yang dapat dipakai sebagai proto-type Perjanjian. Justru dengan

1
adanya bermacam-macam ketentuan dan persyaratan untuk menyusun suatu
Perjanjian itulah, Joint Venture menjadi populer. Mengingat sifatnya yang beraneka
ragam dan oleh karena perusahaan-perusahaan multinasional pada umumnya me
miliki pengetahuan yang cukup luas mengenal masalah joint venture, maka tulisan ini
dibatasi sampai pada dua macam uraian yang agak baru pertama, akan dicoba untuk
mem bahas beberapa masalah utama yang dihadapi oleh pihak lokal dalam
perundingan serta pelaksanaannya satu joint venture.

Topik yang akan dibahas secara khusus adalah hak milik, struktur permodalan,
management, pemasaran, ke bijaksanaan keuangan, hak milik perindustrian, bantuan
teknik dan ketrampilan, penyelesaian perselisihan dan peng gantian partner. Kedua,
akan dicoba untuk mengemukakan beberapa kemungkinan lain yang merupakan
pendekatan pada masalah-masalah yang perlu dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang
bersangkutan. Dalam beberapa hal ter tentu pendekatan-pendekatan itu mungkin juga
sesuai dengan kebijaksanaan yang dijalankan oleh negara tuan rumah. Pasal-pasal
yang bersifat hukum/juridis akan di masukan ke dalam masalah pendekatan itu
sendiri.

Satu faktor yang terkenal dan penting yang membantu berhasilnya satu joint
venture, ialah kesediaan kedua belah pihak untuk kerjasama melaksanakan maksud
dan tujuan yang mereka telah tentukan. Oleh karena itu, pihak asing dan lokal dalam
memulai mengadakan perundingan untuk mendirikan satu perusahaan joint
disarankan untuk ber usaha menjauhkan diri dari keinginan untuk memperbesar
keuntungan pribadi yang bisa diperolehnya secara langsung dari usaha itu dengan
lebih mengutamakan diwujudkannya satu struktur organisasi berdasarkan hukum di
atas mana mereka mengadakan kerjasama secara harmonis untuk jangka waktu yang
panjang guna memperoleh hasil yang memuaskan yang tidak mungkin bisa dicapai
dengan tenaga sendiri. Tujuan dari perundingan ialah terutama untuk mencari jodoh
yang cocok dan bukan untuk memperkaya diri atas kerugian pihak Join.Maka dengan
tulisan ini diharapkan akan terbentuknya satu joint venture yang memunskan kedua
belah pihak melalui berbagni persyaratan dan ketentuan yang disaran. kan di sini yang
memungkinkan pihak-pihak yang bersangkutan untuk memilihnya guna memenuhi
kebutuhannya.1

1
Unido, Pedoman Perundingan jhJoint Venture, (Bandung: PT. Karya Nusantara,1976) hal. XI - XII

2
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Joint Venture ?


2. Bagaimana dasar hukum dari Joint Venture ?
3. Bagaimana tujuan dari Joint Venture ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pengertian dari Joint Venture.


2. Untuk mengetahui dasar hukum Joint Venture.
3. Untuk mengetahui tujuan dari Joint Venture..

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

Joint venture merupakan kerjasama antara beberapa perusahaan yang berasal


dari beberapa Negara, menjadi satu perusahaan untuk mencapai konsentrasi kekuatan-
kekuatan ekonomi yang lebih padat. Secara umum dapat dikatakan bahwa semua
bentuk kerjasama antar perusahaan dapat ditampung kedalam bentuk joint venture
tanpa memandang besar kecil-kecilnya modal, ataupun lokasi masing-masing partner.
Ciri–ciri joint venture adalah sebagai berikut :

1. Terdiri dari minimal satu perusahaan nasional dan satu perusahaan internasional.
2. Perusahaan dengan bentuk joint venture berdiri secara legal di Indonesia di bawah
payung PT atau Perseroan Terbatas.
3. Modal perusahaan joint venture berasal dari masing-masing perusahaan yang
terlibat dalam pendirian dan biasanya berbentuk saham.
4. Kekuasan yang dimiliki masing-masing perusahaan pendiri bergantung pada
besaran saham yang ditanamkan pada awal pembentukan joint venture.
5. Masing-masing perusahaan pendiri tetap berdiri sendiri untuk operasional dan
manajemen perusahaan tunggal mereka di luar badan usaha joint venture yang
dimiliki.
6. Apabila terjadi permasalahan serius terhadap perusahaan joint venture, hal itu
menjadi tanggung jawab bersama.

Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang penanaman Modal Asing


(PMS), perusahaan-perusahaan joint venture harus memiliki bentuk Perseroan
Terbatas (PT), terutama sekali akibat ketentuan hukum yang jelas antara pihak-pihak
yang membentuk usaha joint venturetersebut. Ketentuan hukum ini mensyaratkan
adanya perimbangan kekuatan modal antara pihak-pihak yang membentuk usaha joint
venture, sedangkan perusahaan terbatas itu terdiri atas pemilik yang mempunyai
saham. Di Indonesia usaha joint venture dikenal sebagai bentuk kerjasama perusahaan
domestik dengan perusahaan-perusahaan asing. Pemerintah mempunyai wewenang

4
untuk mengetahui dan menyetujui perjanjian-perjanjian umum dan khusus antara
pihak-pihak yang ber-joint venture.
Dalam manajemennya, perusahaan joint venture dipimpin oleh dewan direktur
yang dipilih oleh para pemegang saham, tidak terlepas dari tujuan utamanya, yaitu
meningkatkan ketrampilan teknis dan administratif bangsa sendiri untuk kemajuan
dan mengurangi atau membatasi ketergantungan dari bangsa lain. Oleh karena itu
pada saat menandatangani perjanjian joint venture, masalah pendidikan dan pelatihan
bangsa Indonesia dalan waktu sesingkat-singkatnya terlebih dahulu harus ditentukan.2
Joint Venture dapat dikatakan merupakan suatu kesepakatan antara dua atau
lebih investor, partner atau venturer yang membangun kerja sama untuk menjalankan
suatu bisnis atau untuk mencapai suatu tujuan, baik itu bersifat komersial atau non
komersial, di mana kerja sama tersebut tentunya dapat bersifat jangka panjang, atau
untuk jangka waku tertentu, misalnya untuk menyelesaikan satu proyek. Dalam
kesepakatan tersebut, masing–masing pihak venturer memiliki (hak) suara yang sama
terkait pengendalian proyek atau bisnis tersebut. Terkait kompleksitas pengendalian
dari sudut investor, posisi ventura bersama berada di tengah-tengah dari berbagai
bentuk strategi kerja sama.
Ventura bersama itu sendiri dapat :
a. dibangun mulai pembentukan ventura bersama yang baru, atau bahkan dari entitas
bisnis yang sudah ada dan atau berjalan
b. mengambil bentuk entitas berdasarkan ekuitas atau saham, atau hanya bersifat
kontraktual.

Dengan demikian, Joint venture merupakan sebuah konsep atau sebutan yang sang
fleksibel, dan istiah yung urnum (loose tern) digunakan dalam dunia bisnis Meskipun
umur dibicarakan dalam konteks bisnis internasional atau globalisasi, ataupun dalam
konteks aliansi strategis (strategic alliances), penggunaannya sering tidak konsisten.
Dengan kata lali sifat dari Joint Venture tertentu menjadi akan bergantung pada sejauh
mana fakta-fakta dan karakteristik yang mendasari kesepakatan tersebut, sumber daya
yang terlibat dan keinginan dari masing masing pihak veturer yang bekerja sama,
terlepas apakah kesepakatan tersebut dituangkan dalam perjanjian formal atau hanya
sebatas.3

2
Sudaryono, PengantarBisnis Teori dan Contoh kasus,(Yogyakarta : CV. Andi OFFSET,2015)hal. 75-77
3
Sukarnen Suwanto, Ventura Bersama (Joint Ventue) Panduan Akuntansi PSAK 12 (Revisi 2009)IAS 31 dan
Interaksinya dengan Standar Akuntansi Lainnya (Jakarta: Salemba Empat, 2012), hlm 2

5
Joint Venture adalah bentuk persekutuan yang menekankan kerjasama lebih
daripada untuk suatu yang sementara sifatnya. Perusaaan patungan terbentuk ketika
dua pihak atau lebih, baik secara pribadi maupun perusahaan bermaksud menjadi
partner satu sama lainnya untuk suatu kegiatan dan mengatur secara bersama suatu
perusahaan baru yang saham-sahamnya dimiliki secara bersama.4

Joint venture dapat diartikan sebagai suatu persetujuan (joint project) yaitu bentuk
persekutuan perseroan yang dibentuk oleh dua atau lebih perseroan untuk tujuan
tertentu. Tujuan utama dari joint venture adalah menggabung perseroan yang
memiliki keahlian yang berbeda untuk dapat dikontribusikan demi keberasilan suatu
project tertentu. Joint venture umumnya digunakan untuk pembangunan project
dengan skala besar dan untuk mempromosikan suatu perusahaan baru yang
memerlukan modal yang besar. Karakteristik utama dari joint venture adalah sebagai
berikut :

1) Dibatasi pada proyek tertentu.


2) Jangka waktunya dibatasi dengan perjanjian dan dihentikan pada saat proyek
sudah benar-benar telah selesai.
3) Dibawah kekuasaan seorang manajer, dimana namanya tertera dalam usaha.
4) Pada saat joint venture selesai, para partisipan akan membagi laba dan rugi sesuai
dengan perjanjian.

Jenis-Jenis Joint Venture

a) Joint Venture Domestik ialah salah satu bentuk kerjasama Joint Venture yang di
jalin antar perusahaan dalam negeri.

b) Joint Venture Internasioanal yaitu suatu bentuk kerjasama Joint Venture yang
melibatkan perusahaan asing sebagai salah satu pihak.

1. Bentuk Joint Venture


Ada dua bentuk Joint venture yaitu :

4
Erma Rajagukguk, Indonesianisasi Saham, cet. II (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm 12

6
a. Joint Venture Kontraktuil
Joint Venture Kontraktuil sering terbentuk di negara negara di mana
Undang-undangnya tidak mengenal hak pribadi, seperti misalnya di beberapa
negara dengan sistim ekonomi sentral. Oleh karena sifat dari joint venture
semacam itu tidak tetap, bentuk ini dianggap sebagai masa peralihan
menjelang terbentuknya satu Joint Company. Joint venture kontraktuil
diadakan dan dilaksanakan untuk penyediaan modal, peralatan, hak milik
perindustrian, bantuan teknik dan ketrampilan oleh pihak asing bagi pihak
pemerintah dengan imbalan royalty yang dibayarkan dasarkan hasil produksi.
penjualan dan keuntungan usahaan. Oleh karena sifat dari joint venture
kontraktuil ini sangat derhana dan masalah-masalahnya yang perlu dibuka
terbatas sekali, maka yang diuraikan dalam tulisan adalah joint venture
perbandingan. Sekalipun demikian dari sekian banyak ketentuan ketentuan
yang menyangkut joint venture perbandingan ini, kecuali mengenai masalah
hak milik berlaku pula hagi joint venture kontraktuil.5
b. Joint Venture Perbandingan
Joint Venture Perbandingan merupakan bentuk joint venture yang
paling umum di kalangan penanaman modal asing di negara-negara
berkembang Kadang-kadang mereka yang turut serta dalam penggabungan
modal menurut perbundingan ini, bisa terdiri dari dua atau lebih pihak dan
mereka bersama-sama terjun dalam satu perusahaan yang sudah ada. Akan
tetapi untuk sebagian besar dari kerjasama itu mendirikan perusahaan baru
karena perusahaan baru dengan ketentuan-ketentuan dan persyaratan-
persyaratan yang mereka tentukan bersama lebih sesuai daripada untuk
mentrapkannya itu semua di atas struktur yang lama.6
Joint venture perbandingan bisa berwujud dalam berbagai bentuk yang
berbeda satu sama lainnya menurut ketentuan-ketentuan masing-masing.
Lima macam yang tercantum di bawah dapat dipilih dan dua di antaranya yang
paling bawah merupakan bentuk yang tidak umum dipakai.
1) Hak milik minoritas asing.

5
Unido, Pedoman Perundingan Joint Venture, ( Bandung: PT. Karya Nusantara,1976) hal. 1
6
Unido, Pedoman Perundingan Joint Venture, ( Bandung: PT. Karya Nusantara,1976) hal. 2

7
2) Hak milik mayoritas asing
3) Hak milik sama rata 50/50.
4) Hak milik 49/49 dengan saham pengawasan oleh pihak ketiga.
5) Hak milik 100% di tangan salah satu pihak dan pihak lainnya dapat
memilih untuk memperoleh sebagian atau semua saham.
Satu hal yang merupakan masalah dalam menyusun perjanjian mendirikan
satu joint venture ialah untuk me nentukan besarnya persentase saham yang
bisa dimiliki oleh masing-masing pihak. Jumlah dan macam saham yang akan
dimiliki oleh masing-masing pihak tergantung kepada sampai sejauh mana
kedua belah pihak menginginkan untuk :
a) Turut ambil bagian dalam keuntungan dan perkembangan perusahaan.
b) Mempunyai hak suara sebagai pemegang saham dalam hal-hal sebagai
penunjukan dan pengangkatan para direktur, pembagian kekayaan,
perobahan-perobahan mengenai maksud dan tujuan perusahaan, perubahan
perubahan dalam struktur permodalan, dan lain-lain hal yang tercantum
dalam dokumen penggabungan.
c) turut ambil bagian dalam kekayaan setelah pembubaran perusahaan.
d) penyesuaian dengan kebijaksanaan yang dijalankan Pemerintah negara
tuan rumah sehubungan dengan hak milik pihak asing.
Dengan adanya berbagai macam saham agak sulit untuk mengadakan
klassifikasi joint venture menurut persentase saham yang dimiliki masing-
masing pihak. Sebagai contoh, memiliki 51% dari semua saham yang
memperoleh hak satu suara per saham dalam keadaan bagaimanapun hanya
merupakan satu persentase kecil dari seluruh modal yang ditanam dalam
perusahaan, jika saham tanpa suara juga dikeluarkan. Oleh karena itu, bila dua
atau lebih macam saham mendapat otorisasi untuk dikeluarkan, persentase
saham yang dimiliki masing-masing pihak hanya mempunyai arti apabila hak
yang melekat pada masing-masing macam atau kelas saham, diperinci; akan
tetapi jika hanya ada satu macam atau kelas saham, persentasenya akan menen
tukan luas serta partisipasi pengawasan dalam perusahaan, kecuali apabila
perjanjian menentukan lain.

Alasan penggunaan bentuk Ventura Bersama

8
Weston, Mitchell dan Mulherin menyebutkan beberapa alasan dibalik penggunaan
bentuk ventura bersama.
1) Perencanaan (dan Implementasi) strategis (termasuk restrukturisasi bisnis).
Ventura bersama adalah saah satu bagian dari berbagai cara, termasuk
kombinasi dengan cara-cara yang lain (pengembangan internal,
penggabungan usaha, investasi, kepentingan non pengendali atau minoritas,
aliansi strategis, dan lain-lain) dalam menyusun dan mengimplementasikan
strategi jangka panjang suatu perusahaan guna mencapai pertumbuhan yang
meningkatkan nilai perusahaan (dan pemegang saham).
2) Perolehan pengetahuan (atau transfer pengetahuan).
Berg, Duncan, dan Friedman (1982) menyebutkan 50% dalam semua
ventura bersama adalah bertujuan untuk memperoleh atau menguasai suatu
pengetahuan, atau untuk alih pengetahuan dan know-how titik lebih lanjut,
kompeksitas dari pengetahuan yang akan di transfer adalah satu faktor
kunci dalam menentukan huungan kontroktual diantara para partisipan.
Weston, Mitchell dan Mulherin (2004,359) menyebutkan bahwa
terdapat 782 venture bersama dan aliansi yang dilakukan oleh Microsoft
untuk kurun waktu dari 1985 sampai dengan 15 juni 2002, dan masih
merupakan contoh kecil dari banyak aktivitas yang dilakukan oleh
Microsoft sebagai bagian dari tujuan strategis Microsoft yang lebih besar
guna melakukan penetrasi ke pasar produk baru yang menarik serta
cakupan geografisnya. Eberapa dari usaha tersebut kurang berhasil
dibandingkan yang lainnya, namun itu semua merupakan bagian dari
program jangka panjang Microsoft dalam proses pembelajaran dan untuk
bertumbuh dengan melebarkan kemampuan Microsoft.
3) Mitigasi risiko
Tentunya dengan melibatkan sumber daya (baik dana, pengalaman, know-
how, organisasi, manajemen, jaringan distribusi, pemasaran dan penjualan,
dan lain-lain) dari berbagai partisipan dalam suatu venture bersama, dari
sudut pandang seorang investor, risiko berbisnis, terutama untuk memasuki
bidang usaha yang baru atau area geografis yang baru, dapat dimitigasi,
atau dapat dilakukan dengan jumlah investasi yang lebih kecil
dibandingkan apabila didanai sendiri.

9
Hal ini tampak jelas dalam kegiatan usaha yang umumnya memiliki tingkat
risiko yang relatif tinggi, misalnya dalam aktivitas eksplorasi minyak dan
gas bumi. pertambangan dan pengembangan produk-produk kimia Dalam
suatu studi yang dilakukan oleh Bachman (1965)7 pada awal tahun 1960 an,
bentuk ventura bersama banyak digunakan oleh perusahaan minyak dan gas
bumi guna memasuki industri kimia, sebagai berikut.
Nama Venture Investor Produk kimia
Bersama
Alamo Polymer Philips Petroleum dan Polypropylene
National Distillers
American Chemical Richfield Oil dan Vinyl chloride, ethylene
Stauffer
Ancon Chemical Continental Oil dan Methyl chloride
Ansul
Avisun Sun Oil dan America Polypropylene resins
Viscose
Goodrich-Gulf Gulf Oil dan Goodrich S-type rubber
Rubber
4) Aspek Pepajakan
Manfaat perpajakan ventura bersama secara umum tergantung ketentuan
dan peraturan perpajakan di masing-masing Negara untuk berbagai bentuk
ventura bersama, di antaranya:
a. Perusahaan yang kepemilikannya terbagi atas saham (dikenal
sebagai perseroan terbatas) (company limited by share);
b. Perusahaan yang dibatasi oleh jaminan (company limited by
guarantee);
c. Persekutuan tanggung jawab terbatas (Limited Liability
Partnership-LLP);
d. Persekutuan terbatas (limited partnership);
e. Persekutuan umum (general partnerhip);
f. Perseroan tanggung jawab terbatas Amerika Serikat (US Limited
Liability Company-LLC), yag umumnya terdaftar dinegara bagian
Delaware, Amerika Serikat. Manfaat dari LLC adalah dapat
memilih apakah dipajaki di Amerika Serikat sebagai suatu
7
Bachman, Jules.1965. “Joint Venture in the Lights of Recent Antitrust Development”. Antitrust Bulletin 10,
hlm. 7-23.

10
perseroan (corporation) atau persekutuan transparan pajak (tax
transparent partnership);
5) Aspek Internasional
Dalam melakukan penetrasi pasar ke suatu Negara yang tentunya
merupakan suatu lingkungan pasar yang asing bagi perusahaan
multinasional, bentukventura bersama banyak digunakan untuk
menurunkan risiko yang baik. Dalam beberapa Negara, termasuk Indonesia,
investasi di beberapa industry memerlukan kerjasama usaha dengan partner
loal, yang tetunya diharapkan memiliki egetahuan khusus mengenai kondisi
domestik, yang juga akan berperan penting bagi keberhasilan suatu ventura
bersama.

2. Pembentukan Joint Venture

Pihak–pihak Yang bersangkutan dalam joint venture bisa berupa perorangan,


badan hukum, pemerintah atau badan pemerintahan dan sifat dari perjanjian bisa
bilateral atau multiteral. Suatu badan pemerintahan sering menjadi partner lokal,
seperti misalnya satu perusahaan industri yang saham-sahamnya secara
keseluruhan dimiliki badan pemerintahan tersebut.

a. Jurisdiksi

Pada saat mendirikan satu joint venture para peserta harus menentukan daerah
kekuasaan hukum bagi perusahaan yang dimaksud Joint venture itu dapat
didirikan di negara yang berkembang atau jika dibentuk berdasarkan jurisdiksi
lain, kegiatannya dilakukan oleh cabang-cabangnya di negara tuan rumah.
Perusahaan joint venture bisa memperoleh keuntungan pajak dan lain-lain dari
usaha penggabungan di luar negara berkembang. Oleh karena hal semacam itu
jarang terjadi, maka hal tersebut tidak akan dibahas dalam tulisan ini Sebaliknya,
banyak negara berkembang memberikan perangsung terhadap penanaman modal
dalam industri yang didirikan dalam negeri, di sam ping adanya keuntungan-
keuntungan administratip bagi perusahaan-perusahaan itu. Oleh karena itu, dalam
tulisan Ini selanjutnya hanya akan dibahas perusahaan joint yang dibentuk di

11
negara berkembang di mana kegiatan-kegiatan utama dari perusahaan itu akan
dijalankan

b. Pembentukan Joint Company


Oleh karena pihak lokal pada umumnya ingin berada pada posisi di mana ia
dapat mengatur jalannya Joint Company, maka tanggung jawab itu sering
diberikan padanya. Jika dalam hal ini Pemerintah yang menjadi partnernya, pihak
asing sering diserahkan semua tanggung-jawab untuk me ngelola perusahaan itu.
Biasanya kedua belah pihak memi kul tanggung-jawab dalam penggabungan
modal. Biaya penggabungan dapat diatur bersama menurut perbandingan yang
ditanam, atau dibagi rata, atau dipikul seluruhnya oleh salah satu pihak.
c. Nama Joint Company

Jika ada itikad baik dari kedua belah pihak dalam perun dingan untuk memberi
nama pada Joint Company, maka nama yang akan dipilihnya itu hendaknya terdiri
dari nama perusahaan yang dimiliki kedua belah pihak (seperti misal mya Merek
Share and Dohme of India Ltd'). Cara lainnya ialah dicantumkamya merk atau
nama dagang di bawah mana hasil produksi perusahaan itu kemudian akan dijual
properti misalnya "Carling Brewery Hongkong Lid'). Nama biasanya dicantumkan
dalam permohonan untuk mendirikan Joint Company dan di samping itu perlu
disediakan pula nama lain sebagai alternatif, jika nama pertama tidak dapat
diterima oleh pejabat yang berwenang.

d. Dokumen Perjanjian Joint Company


Perlu untuk menentukan persyaratan-persyaratan yang akan mengatur hak dan
kewajiban pihak-pihak yang ber sangkutan dalam joint venture secara inter se' =
antara mereka dan 'vis a vis' = saling berhadapan, yang tercan. tum dalam
dokumen penggabungan. Semuanya itu tergan tung, pertama kepada jurisdiksi dan
sejauh mana kedua belah pihak menghendaki dokumen penggabungan itu the
ngatur diri mereka dalam usaha kerjasama itu.
Ada tiga cara dengan mana hak-hak yang bersangkutan dapat dilindungi
secara inter se dan vis a vis, yakni:

12
1) hak-hak kedua belah pihak sebagai pemegang saham dapat dilindungi oleh
hukum dalam hal diperlukannya mayoritas suara terhadap tindakan-tindakan
yang di. usulkan untuk mana diperlukan persetujuan kedua belah pihak.
2) hak-hak kedua belah pihak sebagai pemegang saham dapat dilindungi oleh
hukum di mana ketentuan-keten tuan dalam dokumen penggabungan
memerlukan satu mayoritas khusus untuk merobahnya atau satu penen. tuan
bahwa perobahan hanya dapat dilakukan atas dasar mayoritas suara semata-
mata. Untuk memperoleh per setujuan atas salah satu alternatip di atas, maka
mayo ritas suara harus cukup besar.
3) hak-hak kedua belah pihak sebagai pemegang saham dapat dilindungi oleh
hukum atas dasar suatu perjan jian mengenai Pemegang Saham, atau
gabungan suara jika hukum yang berlaku memungkinkan secara khu sus
diadakannya perjanjian semacam itu,

Satu hal yang merupakan masalah dalam perjanjian Pemegang Saham ialah
bahwa menurut ketentuan hu kum meralat atas suatu perbuatan khusus tidak
tersedia dan ganti rugi semata-mata tidak memberikan kepuasan. Masalah lainnya
ialah bahwa hukum di berbagai negara menganggap bahwa para Direktur
perusahaan adalah ke percaynan para pemegang saham dan ditunjuk untuk me
ngelola perusahaan dan bukan untuk mengurus kepentingan para pemegang
saham semata-mata. Oleh karena itu, per janjian-perjanjian yang membelenggu
kebijaksanaan para Direktur tidak ada faedahnya. Sekalipun para pemegang
saham mengadakan perjanjian yang mengikat dalam hal pe nunjukan para
Direktur namun mereka itu tidak dapat dipaksakan untuk bertindak menurut
keinginan para pe megang saham dan penggantian mereka dengan Direktur
direktur lain yang lebih lunak sungguh bukan usaha yang mudah dan merupakan
pembuangan waktu saja. Dimana perjanjian Pemegang Saham dan penggabungan
suara se cara khusus dapat dilaksanakan, keharusan untuk menyu sun persyaratan
tersendiri tidak diperlukan karena persya ratan-persyaratan dalam perjanjian joint
venture itu sendiri sudah cukup untuk menjamin adanya perlindungan yang
diberikan oleh hukum.
Dalam hal Perjanjian Pemegang Saham dan gabungan suara secara khusus
tidak dapat dilaksanakan, atau di mana persyaratan sehubungan dengan tindakan

13
pihak-pihak yang bersangkutan melalui para Direktur yang ditunjuknya dan batas
kekuasaannya tidak dibelenggu oleh perjanjian-perjanjian, perlu kiranya untuk
membuat sebanyak mungkin ketentuan dalam dokumen penggabungan sebagai
tindakan untuk melindungi diri. Dalam hal hukum sudah menyediakan per
lindungan secara khusus untuk maksud tersebut, keharus an untuk membuat
ketentuan-ketentuan yang bersifat perlindungan dalam dokumen penggabungan
tidak ada lagi. Akan tetapi tidak ada salahnya untuk berbuat demikian guna
menghilangkan keragu-raguan. Dalam hal ini satu prosedur yang berlaku harus
diikuti dengan melampirkannya ketentuan-ketentuan itu pada Perjanjian Joint
venture sebagai Schedule. Kemudian semua dokumen disampaikan kepada
pejabat yang berwenang untuk mengeluarkan sertipikat gabungan atau
memberikan otorisasi untuk persetujuan. Contoh ketentuan

a) Pihak lokal atau asing akan berusaha untuk menye diakan modal yang
diperlukan guna penggabungan usaha dalam bentuk (macam badan hukum)
yang didirikan berdasarkan (jurisdiksi) untuk selanjutnya disebut "Joint
Company
b) Pihak lokal dan asing akan berusaha agar Joint Company ini dijalankan
dengan baik menurut persyaratan yang tercantum dalam Perjanjian (nama
dokumen penggabungan seperti misalnya "Anggaran Dasar", "Surat Patent",
"Memorandum dan Pasal-pasal Perjanjian Gabungan", dan sebagainya yang
bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris akan mempunyai isi dan arti yang
sama) sebagaimana tercantum dalam schedule terlampir.
c) Biaya penggabungan Joint Company akan dipikul secara merata (atau menurut
formula lainnya) oleh pihak asing dan lokal.
d) Dalam hal salah satu ketentuan yang tercantum dalam Schedule tidak
mendapat persetujuan pejabat yang berwenang untuk dimasukan ke dalam
dokumen peng hubungan Joint Company, maka pihak-pihak yang ber
sangkutan berjanji untuk mengadakan amandemen terhadap itu yang sekiranya
dapat diterima oleh pejabat tersebut tanpa merobah arti yang dikandungnya,
atau dalam hal tidak diadakannya amandemen yang dimak sud akan
mengambil langkah lain termasuk disusunnya perjanjian lain yang memenuhi

14
ketentuan-ketentuan tersebut sehingga dapat diterima oleh pejabat yang
bersangkutan.8

B. Dasar Hukum Joint Venture

1. SK Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua Badan Kordinasi Penanaman


Modal Nomor. 15/SK/1994 mengenai Ketentuan Pelaksanaan Pemilikan Saham
dalam perusahaann yang dibentuk dalam rangka penanaman modal asing.

2. Pasal 23 UU Nomor 1 Tahun 1967 mengenai Penanaman Modal Asing

3. PP Nomor 20 Tahun 1994 menjelaskan mengenai kepemilikan saham dalam suatu


perusahaan yang didirikan dalam rangka PMA (penanaman modal asing).

4. PP Nomor 17 Tahun 1992 PP Nomor 7 tahun 1993 mengenai pemilik perusahaan


penanaman modal asing.

Joint venture pada dasarnya adalah salah satu cara untuk menanam modal di
Indonesia .Pengaturan mengenai joint venture diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal, penanaman modal asing yang akan dilakukan di
Indonesia dapat dilakukan dengan menggunakan modal asing seluruhnya maupun
berpatungan dengan penanam modal dalam negeri atau joint venture. Adapun cara yang
dilakukan dalam hal penanaman modal asing dalam bentuk patungan dapat berupa
mengambil bagian saham dalam pendirian perseroan terbatas, membeli saham, atau cara
lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ketentuan ini selanjutnya menjadi
dasar bagi pendirian perusahaan joint venture dalam penanaman modal asing di Indonesia.

Secara historis, pengaturan penanaman modal asing terdapat dalam Undang-undang


Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing terdahulu, hanyalah meliputi
penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investement), artinya pemilik

8
Unido, Pedoman Perundingan Joint Venture, ( Bandung: PT. Karya Nusantara,1976) hal. 7-9

15
modal secara langsung menanggung resiko dari investasi tersebut dan pemilik modal
secara langsung menjalankan perusahaan yang bersangkutan di indonesia.9

Selanjutnya dalam pengaturan penanaman modal asing yang terdapat Undang-undang


Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing di atas, diarahkan adanya
kerjasama modal asing dengan modal nasional dalam bidang-bidang usaha yang terbuka
bagi modal asing, yang bersifat tidak wajib, karena ketentuan yang ada hanya menyebut
kata “dapat”. Dengan kata lain tidak ada kebijakan pengaturan yang mengikat yang
mengharuskan penanaman modal asing harus dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan
penanam modal nasional. Bahkan lebih jauh undang-undang hanya mengharuskan
perusahaan yang seluruh sahamnya adalah modal asing untuk memberikan partisipasi bagi
modal nasional secara effektif setelah jangka waktu tertentu. Jikalau partisipasi dilakukan
dengan penjualan saham-saham yang telah ada, maka hasil penjualan tersebut dapat
ditransfer dalam valuta asing dari modal asing yang bersangkutan.

Hukum di beberapa negara tidak membolehkan kehadiran suatu perusahaan asing


yang dikuasai seluruh kepemilikannya atau melalui bentuk penanaman modal langsung
lainnya. Dalam hal ini salah satu cara untuk dapat melakukan usahanya adalah melalui
pembentukan usaha patungan (joint venture) dengan perusahaan lokal. Cukup banyak
negara-negara berkembang yang mengenakan syarat-syarat pembatasan ini agar dapat
mengontrol kegiatan perusahaan-perusahaan asing dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
usaha di wilyahnya. Kontrol tersebut antara lain pengenaan syarat pemilikan saham dalam
jumlah tertentu dari perusahaan tersebut. Cara ini juga dipandang sebagai salah satu cara
untuk mengalihkan teknologi.

Perkembangan kebijakan pengaturan penanaman modal di Indonesia khususnya yang


berkaitan dengan pengaturan joint venture antara investor asing dengan investor nasional
hingga saat ini dapat dilihat dengan mengacu kepada Undang-undang Penanaman Modal
No. 25 Tahun 2007 dan beberapa peraturan pelaksanaannya, antara lain: Peraturan
Presiden Nomor 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang
Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang
Penanaman Modal, Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Bidang Usaha yang

9
Erman Radjagukguk, Modul Hukum Investasi di Indonesia: Pokok Bahasan, op.cit, hlm. 61

16
Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman
Modal, dan Peraturan Kepala BKPM No. 1/P/2008 tentang Pedoman dan Tata
Cara Permohonan Penanaman Modal Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman
Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing.

Melihat pembahasan diatas jelas bahwa kedudukan joint venture dalam Penanaman
modal di Indonesia merupakan suatu bentuk cara atau upaya dalam penanaman modal
asing yang dilakukan investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.
Keberadaan perusahaan joint venture dalam penanaman modal mempunyai arti dan
manfaat yang sangat besar bagi penanam modal dalam negeri atau nasional maupun
penanaman modal asing yakni :10

Dasar Hukum PembentukanUndang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman


Modal adalahpembaharuan payung hukum investasi di Indonesia yang telah ditetapkan
sebagaiundang-undang pada tanggal 29 Maret Tahun 2007. Sebelumnya, undang-
undangtersebut didahului oleh undang-undang penanaman modal lainnya, yaitu Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing jo Undang-UndangNo.
11 Tahun 1970 Tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang No. 1 Tahun1967
Tentang Penanaman Modal Asing serta Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968Tentang
Penanaman Modal Dalam Negeri.UUPM telah mencabut semua ketentuan sebelumnya,
namun ketentuanpelaksanaan dari undang-undang sebelumnya dinyatakan tetap berlaku
sepanjangtidak bertentangan dengan dan belum diatur dengan peraturan pelaksanaan yang
baruberdasarkan UUPM. Ketentuan ini didasarkan oleh Pasal 38 ayat (1) UUPM. Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal secara tidak langsung
menyatakan bentuk kerjasama antara modal dalam negeri dengan modal asing dalam
bentuk joint venture.Mengadakan joint venture agreement merupakan langkah awal dalam
membentukjoint venture company. Di mana didalam joint venture agreemen tberisikan
kesepakatan para pihak tentang kepemilikan modal, saham, peningkatan kepemilikan
saham penyertaan, keuangan, kepengurusan,teknologi dan tenaga ahli, penyelesaian
sengketa yang mungkin akan terjadi, dan berakhirnya joint venture agreement.Joint
venture agreement yang merujuk kepada ketentuan umum hukum perjanjian yang diatur di
dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata).KUH Perdata terutama Buku
10
Salim HS. dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja. Grafindo Persada, 2008), hlm.
39.

17
III mengenai perikatan yang erat kaitannyadenganjoint venture agreement.KUH Perdata
mengatur ketentuan dasar suatu perjanjian, yaitu Pasal 1313 mengenai arti perjanjian,
Pasal 1320 mengenai persyaratan perjanjian, Pasal 1338 mengenai pemberlakuan sebuah
perjanjian yangmengikat para pihak. Penanaman modal asing di Indonesia yang
mensyaratkan adanya joint venture antara pemodal asing dengan pemodal nasional,
membentuk suatu perjanjian yang disebut joint venture agreement, Pasal 1319 KUH
Perdatamenyatakan bahwa:“Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus,
maupun yang tidakterkenal dengan suatu nama tertentu tunduk pada peraturan-
peraturanumum, yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu. Bahkan lebih jauh undang-
undang hanya mengharuskan perusahaan yang seluruh sahamnya adalah modal asing
untuk memberikan partisipasi bagi modal nasional secara effektif setelah jangka waktu
tertentu. Jikalau partisipasi dilakukan dengan penjualan saham-saham yang telah ada,
maka hasil penjualan tersebut dapat ditransfer dalam valuta asing dari modal asing yang
bersangkutan.11
Dalam rangka penanaman modal di wilayah Republik Indonesia. Pengusaha asing dan
pengusaha lokal membentuk suatu perusahaan baru yang disebut joint venture company di
mana mereka menjadi pemegang saham yang besarnya sesuai dengan kesepakatan
bersama. Pengusaha asing dan pengusaha lokal membentuk suatu perusahaan baru yang
disebut perusahaan joint ventures di mana mereka menjadi pemegang saham yang
12
besarnya sesuai dengan kesepakatan bersama Lahirnya joint venture company yang
berbentuk badan hukum yakni perseroan terbatas, tunduk kepada hukum perusahaan
dalam hal ini Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang PerseroanTerbatas.

C. Tujuan dari Joint Venture

Dalam joint venture terdapat tujuan utama yaitu menggabungkan perseroan yang
memiliki keahlian yang berbeda untuk dapat dikontribusikan demi keberhasilan suatu
project tertentu.

Lalu terdapat beberapa tujuan antara lain:

11
Ibid., hlm 76-77
12
Sunarjati Hartono, Masalah-masalah Joint Ventures Antara Modal asing dan Modal Indonesia, (Bandung:
Alumni, 1974), him. 5

18
1. Untuk menumpuk modal dalam rangka memenangkan tender jasa komunikasi pribadi
yang bernilai multimiliaran dolar.
2. Untuk membangun jaringan telepon nirkabel nasional.
3. Untuk menghindari harga akuisisi yang mahal.
4. Memanfaatkan sumber daya bersama (leveraging resources).
5. Mengeksploitasi kapabilitas dan keahlian masing-masing pihak.
6. Berbagi liabilitas.
7. Memperoleh akses pasar.
8. Diversifikasi bisnis yang fleksibel.
Keuntungan dan Kelemahan Joint Venture
Keuntungan Joint Venture sebagai berikut:

a. Perusahaan pendiri tetap memiliki hak otonomi atas perusahaan masing-masing.


Korporasi yang menjadi partner atau rekanan dalam joint venture tidak berhak turut
campur.

b. Dapat memaksimalkan skala ekonomi dan spesialisasi pada bidang usaha yang
dipilih.

c. Sumber informasi dan teknologi lebih lengkap dan lebih baik.

d. Modal yang tersedia lebih banyak karena berasal dari penggabungan beberapa
perusahaan pendiri.

e. Kredibilitas sebuah perusahaan joint venture lebih baik bila dibandingkan perusahaan
tunggal.

Kelemahan Joint Venture sebagai berikut:

a. Tanggung jawab terhadap semua resiko dibagi antar masing-masing patner.


b. Resiko rahasia tersebar lebih besar.
c. Resiko tertipu oleh partner usaha lebih besar.

19
d. Hutang peerusahaan menjadi tanggung jawab bersama, dan seluruh harta jadi
jaminannya.

Contoh-contoh Ventura Bersama

Banyak contoh diberikan mengenai ventura bersama, di antaranya sebagai berikut:

1. General Mills, Inc, membentuk ventura bersama dengan Nestle SA, supaya produk
sereal yang diproduksi General Mills, Inc, dapat dijual melalui jaringan penjualan luar
negeri yang dimiliki Nestle SA.
2. Anheuser-Busch, produsen produk minuman bir merek Budweiser dan lainnya.
melakukan perluasan atau ekspansi usaha ke pasar Jepang dengan membentuk ventura
bersama dengan Kirin Brewery, perusahaan bir terbesar di Jepang. Ventura bersama
Tersebut memungkinkan bir produksi Anheuser Busch didistribusikan menggunakan
saluran distribusi milik Kirin di Jepang Di samping itu. Anheuser Busch dapat
memanfaatkan fasilitas milik Kirin untuk memproduksi bir yang dipasarkan dalam
pasar domestik Jepang Sebagai imbalan Anheuser Busch akan membagi informasi
Tentang pasar bir Amerika kepada Kirin.
3. Xerox Corporation (Amerika Serikat) dan Fuji Photo Film Company (Jepang)
membentuk suatu ventura bersama dengan komposisi kepernilikan 50-50 yang
memungkinkan Xerox Corp, untuk melakukan penetrasi ke dalam pasar Jepang, dan
pada saat yang sama, memungkinkan Fuji Co. untuk memasuki bisnis mesin fotokopi.
Xerox juga membentuk suatu ventura bersama, Xerox International Partners, di mana
51% sahamnya dimiliki oleh Xerox, dan 49% lainnya oleh Fuji Xerox (ventura
bersama bentukan Fuji dan Xerox), untuk penjualan produk-produk tertentu yang
dibuat Amerika Serikat.
4. Sara Lee Corp. dan SBC Communications sepakat membentuk ventura bersama
dengan beberapa perusahaan di Meksiko guna memperoleh akses ke dalam pasar
lokal Meksiko.
5. Ventura bersama 50-50 dibentuk oleh Mitsubishi dan Westinghouse untuk
memproduksi dan memasok circuit breaker untuk masing-masing entitas induk
mereka.

20
6. Ventura bersama 50-50 dibentuk oleh Philips dan DuPont untuk kegiatan penelitian
dan pengembangan.
7. Ventura bersama 50-50 dibentuk oleh AT&T dan Philips pada tahun 1984 untuk
memproduksi dan memasarkan peralatan telekomunikasi.
8. Ventura bersama 50-50 yang dibentuk antara Chrysler Motors dan Mitsubishi Motors
di mana kedua perusahaan setuju untuk bersama-sama memproduksi kendaraan mobil
di Bloomington, Illinois.
9. GM sejak 1983 membentuk ventura bersama 50-50 dengan Daewoo (Korea). Toyota
(di Fremont, Kalifornia, Amerika Serikat) dan Suzuki (di Kanada).13

13
Sukarnen Suwanto, Ventura Bersama (Joint Ventue) Panduan Akuntansi PSAK 12 (Revisi 2009)IAS 31 dan
Interaksinya dengan Standar Akuntansi Lainnya (Jakarta: Salemba Empat, 2012), hlm 27-28.

21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Joint venture merupakan kerjasama antara beberapa perusahaan yang berasal


dari beberapa Negara, menjadi satu perusahaan untuk mencapai konsentrasi kekuatan-
kekuatan ekonomi yang lebih padat. Secara umum dapat dikatakan bahwa semua
bentuk kerjasama antar perusahaan dapat ditampung kedalam bentuk joint venture
tanpa memandang besar kecil-kecilnya modal, ataupun lokasi masing-masing partner.
Ada dua bentuk Joint venture yaitu : Joint Venture Kontraktuil dan Joint Venture
Perbandingan. Joint Venture Kontraktuil sering terbentuk di negara negara di mana
Undang-undangnya tidak mengenal hak pribadi, seperti misalnya di beberapa negara
dengan sistim ekonomi sentral. Joint Venture Perbandingan merupakan bentuk joint
venture yang paling umum di kalangan penanaman modal asing di negara-negara
berkembang Kadang-kadang mereka yang turut serta dalam penggabungan modal
menurut perbundingan ini, bisa terdiri dari dua atau lebih pihak dan mereka bersama-
sama terjun dalam satu perusahaan yang sudah ada. Jenis-Jenis Joint Venture adalah
Joint Venture domestik dan Joint Venture internasional. Pembentukan Joint Venture
adalah jurisdiksi , pembentukan joint company, dan nama joint company.

Pengaturan mengenai joint venture diatur dalam Undang-Undang No. 25


Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, penanaman modal asing yang akan dilakukan
di Indonesia dapat dilakukan dengan menggunakan modal asing seluruhnya maupun
berpatungan dengan penanam modal dalam negeri atau joint venture. Selanjutnya
dalam pengaturan penanaman modal asing yang terdapat Undang-undang Nomor 1
Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing di atas, diarahkan adanya kerjasama
modal asing dengan modal nasional dalam bidang-bidang usaha yang terbuka bagi
modal asing, yang bersifat tidak wajib, karena ketentuan yang ada hanya menyebut
kata “dapat”. Lahirnya joint venture company yang berbentuk badan hukum yakni
perseroan terbatas, tunduk kepada hukum perusahaan dalam hal ini Undang-Undang
No. 40 Tahun 2007 Tentang PerseroanTerbatas.

22
Tujuan pembentukan venture bersama adalah untuk menumpuk modal dalam
rangka memenangkan tender jasa komunikasi pribadi yang bernilai multimiliaran
dolar, untuk membangun jaringan telepon nirkabel nasional, untuk menghindari harga
akuisisi yang mahal, memanfaatkan sumber daya bersama (leveraging resources),
mengeksploitasi kapabilitas dan keahlian masing-masing pihak, berbagi liabilitas,
memperoleh akses pasar, diversifikasi bisnis yang fleksibel.

B. Saran

Ketika perusahaan melakukan kerjasama joint venture, perlu memperhatikan beberapa


masalah yang timbul. Diantaranya adalah 1. Perbedaan bahasa yang dapat mengganggu
kelancaran komunikasi antara pihak lokal dengan pihak asing. Maka dari itu perlu adanya
seseorang yang menguasai bahasa asing atau bahasa internasional demi menjaga
kelancaran komunikasi dan mencegah terjadinya kesalah pahaman dari masing – masing
pihak. 2. Perbedaan manajemen perusahaan dalam mengatur dan menjalankan perusahaan
masing–masing. Dalam hal ini, setiap anggota joint venture pasti ingin menerapkan
manajemen masing–masing pada perusahaan joint venture tersebut. Sehingga perlu
adanya diskusi yang benar–benar matang supaya tidak menimbulkan masalah yang
mengakibatkan gagalnya joint venture. 3. Pembagian saham yang akan mempengaruhi
dalam pengambilan keputusan. ketika perusahaan memiliki saham yang sama besar,
pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah harus dilakukan bersama – sama.
Sehingga pengambilan keputusan menjadi lambat. Berdasarkan hal ini beberapa
perusahaan membaginya dengan tidak sama besar dan disesuaikan dengan kemampuan
setiap perusahaan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Sudaryono. 2015. Pengantar Bisnis Teori dan Contoh kasus. Yogyakarta : CV. Andi
OFFSET

Unido. 1976. Pedoman Perundingan Joint Venture. Bandung: PT. Karya Nusantara.

Salim H.S. dan Budi Sutrisno. 2008. Hukum Investasi di Indonesia. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada

Hartono, Sunarjati.1974. Masalah-masalah Joint Ventures Antara Modal asing dan Modal
Indonesia. Bandung: Alumni

Rajagukguk erma. 1994. Indonesianisasi Saham Cet. II. Jakarta : Rineka Cipta

Khirandy, Ridwan, Kompetensi Absolut Dalam Penyelesaian Sengketa di Perusahaan Joint


Venture, Jurnal Hukum Vol. 26 No. 24, 2007.

24