Anda di halaman 1dari 9

POLIGAMI DAN EKSISTENSINYA

Oleh : SRIYANA *)

Sejarah Poligami
Kata Poligami berasal dari bahasa Yunani “POLYGAMIE”, Poly berarti
banyak dan Gamie berarti laki-laki. Jadi arti dari polygamie adalah laki-laki yang
beristri lebih dari satu orang wanita dalam satu ikatan perkawinan.
Pada dasarnya sistim poligami telah ada sebelum Islam dikumandangkan oleh
Muhammad SAW sebagai Nabi dan utusan Allah yang merupakan penutup para
Nabi dan Rasul. Sebelum kedatangan Islam poligami telah biasa dan membudaya di
kalangan bangsa-bangsa di dunia baik di Barat maupun di Timur, begitu pula di
Timur Tengah. Diantara bangsa-bangsa yang telah membudaya dikalangan mereka
adalah : Bangsa Ibrani, Arab jahiliyah dan Cisilia yang kemudian melahirkan
sebagian besar penduduk yang menghuni negara-negara di Timur dan Barat, seperti
Rusia, Lituania, Polandia, Cekoslovakia, Yugoslavia dan sebagian dari orang-orang
Jerman serta Saxon yang melahirkan sebagian besar penduduk yang menghuni
negara Jerman, Swiss, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia dan Inggris.
Dan pada zaman Nabi Sulaiman juga berlaku sistim poligami di mana Nabi
Sulaiman juga mengawini lebih dari satu orang, dalam Hadist Shahih diterangkan
bahwa Nabi Sulaiman menikahi 100 orang wanita.
Banyak tuduhan dari kalangan Barat yang mengatakan bahwa Islam adalah
agama poligami dan Islamlah agama yang mula-mula membawa sistim poligami.
Sungguh sangat naif tuduhan semacam itu dan tidak beralasan, sebab sejak sebelum
Nabi Muhammad SAW, poligami sudah membudaya dikalangan bangsa-bangsa di
dunia sejak ribuan tahun yang lalu dan sampai saat ini yang menerapkan sistim
poligami bukan hanya Islam saja, namun agama lain juga menerapkan sistim
poligami, hanya beda cara, jumlah dan sistemnya saja.
Islam datang bukan membawa sistim poligami, namun Islam datang untuk
mengatur, mengidealisasikan, memanusiawikan, mengislamisasikan sistim poligami
yang telah membudaya di kalangan bangsa-bangsa di dunia khususnya bangsa Arab
Jahiliyah, sehingga sistim poligami yang tidak beraturan itu diatur oleh Islam, yang
tadinya tanpa batas, dibatasi hanya empat saja, yang tadinya wanita tidak diberi hak
waris, diberi hak waris oleh Islam, yang tadinya wanita dijadikan dan dianggap
seperti barang yang dapat dijualbelikan di pasar bebas, cara tidak manusiawi itu
dihapus oleh Islam, yang tadinya wanita di mata laki-laki bak seperti sampah,
disetarakan kedudukannya oleh Islam.
Hingga dewasa ini sistim poligami masih tetap dilakukan oleh bangsa-bangsa
di dunia ini yang bukan beragama Islam, seperti orang-orang Afrika, Hindu India,
Cina dan Jepang. Juga tidak benar bahwa sistim poligami itu hanya berlaku di
kalangan ummat Islam saja, sebab pemeluk agama lain juga mengikuti sistim
poligami, karena kitab Injil tidak melarang poligami, karena di sana tidak
ditemukan satu katapun yang melarang poligami.
Sebelum Islam datang, sistim poligami berlaku tanpa kendali, laki-laki kaya,
bangsawan, raja dan sejawatnya menikahi wanita tanpa batas, ada yang menikahi 4,
5,10, 18 dan bahkan lebih banyak dari itu. Namun setelah Islam datang poligami
yang tidak beraturan dan tidak manusiawi itu dibatasi hanya 4 orang saja. Karena
dengan mengawini wanita semaunya termasuk jenis diskriminasi terhadap wanita.
Wanita seolah tidak ada harganya, dan wanita hanya laksana mainan, pemuas nafsu
seksual dan benda yang dijualbelikan.
Keadilan Islam dalam masalah ini tercermin dalam firman Allah dalam Surat
An-Nisa’: 3 yang artinya :
“Dan menikahlah dengan wanita yang kamu cintai, dua, tiga atau empat
wanita, namun bila kamu khawatir tidak dapat berbuat adil, maka nikahilah
satu orang wanita saja ..”
B. Hukum Poligami
Ulama sepakat bahwa poligami hukumnya mubah, di mana dalam kondisi
tertentu seorang laki-laki boleh menikahi wanita lebih dari satu dan maksimalnya 4
orang wanita dalam satu ikatan perkawinan. Dalam hadits dari Abu Hurairah ra,
diceritakan, ia berkata : Sesungguhnya Rasullullah SAW, bersabda :
“Barang siapa yang menikahi dua orang wanita dan berbuat tidak adil
terhadap salah satunya, maka akan datang pada hari kiamat kelak dalam
keadaan miring sebelah “. (HR. Ahmad dan Arba’ah)
C. Syarat Poligami
Pada dasarnya syarat poligami sama saja dengan monogami, namun utamanya
adalah :
1. Sanggup Memberi Nafkah Lahir
Orang yang menikah hendaknya sudah mempunyai persiapan yang matang
dalam bidang finansial atau materi, sebab ia mempunyai tanggungan untuk
memberi belanja terhadap istrinya dan juga mencukupi kebutuhan rumah tangga
yang meliputi sandang, pangan dan papan sekalipun dapat dipikul bersama-sama
dengan istri, namun suami yang bertanggung jawab untuk mencukupinya,
apalagi mempunyai istri lebih dari satu, kalau dalam segi materi tidak mampu
mencukupi, maka lebih baik satu istri saja dulu dan nanti bila sudah mampu
baru cari istri lagi.
Dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra, diceritakan : Sesungguhnya
Rasulullah SAW, bersabda :
“Wahai para pemuda, siapa diantaramu yang telah mampu membiayai
pernikahan maka nikahlah...” (HR. Bukhari dan Muslim)..
2. Sanggup Memberi Nafkah Bathin.
Termasuk syarat bolehnya nikah atau juga poligami adalah masih mampu
memberikan nafkah bathin, kalau tidak maka tidak boleh berpoligami, karena itu
dapat berakibat buruk bagi wanita yang dinikahi, sedangkan satu istri saja sudah
tidak mampu apalagi istrinya tambah, jadi letoy dan malah kedodoran.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan : Sesungguhnya
Rasulullah SAW, bersabda :
“Takutlah kepada Allah dalam urusan perempuan, karena sesungguhnya kamu
mengambil mereka dengan amanah Allah dan dihalalkan bagimu mencampuri
mereka dengan kalimah Allah diwajibkan atas kamu (suami) memberi nafkah
dan pakaian kepada mereka (istri) dengan cara yang baik (pakaian yang
pantas). (HR. Muslim)
3. Mampu Berbuat Adil.
Islam membolehkan poligami, bukan asal numpuk istri saja kemudian masing-
masing disuruh mencari nafkah sendiri-sendiri, atau dibiarkan kesepian tanpa
didampinginya, kalau poligami model ini haram hukumnya. Maka orang yang
berpoligami harus mampu berbuat adil terhadap para istri-istrinya baik dalam
bergilir atau dalam segi materi. Kalau tidak, maka satu istri saja, toh itu pun
tidak akan habis kalau dipelihara dan dijaga baik-baik.
Dalam hadits dari Abu Hurairah ra, diceritakan: Sesungguhnya Rasulullah
SAW, bersada :
“Barangsiapa mempunyai dua orang istri dan tidak berbuat adil, maka akan
datang pada hari kiamat, badannya miring sebelah”. (HR. Abu Dawud, Nasa’i,
Tirmudzi dan Ibnu Majah dalam Fiqhusunnah II/96).
4. Wanita Mensyaratkan Agar Tidak Dimadu
Bila wanita mensyaratkan kepada suami yang menikahinya bahwa ia mau
menikah dengannya dengan syarat nantinya tidak dimadu, maka syarat itu syah
dan suami harus menepati janji dan bila tidak, maka wanita berhak untuk
menuntut perceraian kepada suaminya bila ia menghendakinya, namun bila ia
rela dimadu sekalipun pernah mensyaratkan saat akan nikah agar tidak dimadu,
hal ini juga tidak mengapa. Demikian pendapat Imam Ahmad bin Hambal dan
Ibn Taimiyah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim
disebutkan : Sesungguhnya Rasulullah SAW, bersabda :
“Sesungguhnya syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah syarat yang
menjadikan kamu halal bersebadan dengan istrimu”. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ibnu Qayyim juga mengatakan, bahwa seseorang laki-laki bila istrinya sudah
memberi syarat untuk tidak dimadu maka wajiblah syarat itu dipenuhi, namun
bila ternyata dikemudian hari ia tetap dimadu juga, maka ia berhak untuk
membatalkan perkawinan, bila ia menghendakinya. (Fiqhusunnah II/100).
D. Hikmah dan Sebab Diperbolehkannya Poligami
Islam membolehkan poligami dalam kondisi dan syarat tertentu, dan dibalik
bolehnya poligami tersebut mengandung hikmah yang sangat besar. Diantara sebab
dan hikmah diperbolehkannya poligami adalah :
1. Merupakan karunia dan rahmat Allah yang besar kepada manusia, dimana di
dalam kondisi tertentu Allah membolehkan laki-laki berpoligami dengan
maksimal 4 orang wanita dalam satu ikatan perkawinan. Dan merupakan
solusi terbaik dalam mengatasi masalah sosial yang berkaitan dengan wanita,
terutama pada masa di mana jumlah wanita lebih banyak dari jumlah pria,
sehingga banyak wanita menjanda, perawan tua merana dan anak-anak yatim
hidup sengsara tanpa ada yang membiayai kebutuhan hidupnya. Dengan
dibolehkannya poligami, maka kerancauan masalah sosial ini dapat
diminimalisir.
2. Islam sebagai agama yang mulia, mengatur segala bentuk kehidupan baik
individu, bertetangga, bermasyarakat, bernegara maupun hubungan
internasional, mewajibkan bagi kaum muslimin untuk melaksanakan
pembangunan di segala bidang. Mereka tidak akan sanggup memikul tugas
risalah ini, kecuali jika mereka mempunyai negara yang kuat dan sumber daya
manusia yang handal. Hal itu tidak akan terwujud apabila penduduknya hanya
sedikit. Jalan untuk mewujudkan penduduk dan sumber daya manusia yang
handal tersebut hanya dengan adanya perkawinan. Dan dalam segi lain
dilakukan poligami bagi penduduk yang mampu dalam segi ekonomi dan
mampu pula berbuat adil terhadap istri-istri yang dinikahinya.
3. Negara merupakan pendukung agama, dimana ia seringkali menghadapi bahaya
peperangan sehingga penduduknya ada yang meninggal akibat perang atau
bencana alam lainnya. Oleh karena itu haruslah ada badan-badan atau lembaga
yang memperhatikan nasib janda-janda, anak-anak yatim yang dapat
mengurangi beban mereka, dan termasuk solusi terbaik untuk mengatasi hal
tersebut adalah dengan dilakukannya poligami, karena dengan demikian para
janda, perawan tua dan anak yatim ada yang memberi kasih sayang dan
menanggung biaya hidupnya dan masa depannya terjamin.
4. Di negara-negara yang terjadi peperangan dan penjajahan dipastikan jumlah
penduduknya berkurang, maka salah satu cara untuk menggantikan nyawa-
nyawa yang melayang itu adalah dengan memperbanyak keturunan dan
termasuk jalan untuk mendapatkan banyak keturunan adalah poligami.
5. Bahwa adakalanya jumlah wanita pada suatu negara lebih banyak dari jumlah
pria, maka banyak wanita-wanita menjanda, perawan-perawan tua merana
menunggu cinta tiba, sedangkan kondisi ekonomi mereka sangat
memprihatinkan, bila dibiarkan demikian keadaannya dikhawatirkan mereka
terjerumus pada lembah hitam, maka solusi terbaik adalah dilakukannya sistem
poligami, untuk mencegah berbagai kemungkinan terjadinya hal-hal negatif.
6. Bahwa kesanggupan laki-laki untuk berketurunan lebih besar daripada wanita,
sebab laki-laki telah memiliki persiapan kerja seksual sejak aqil baligh sampai
lanjut usia, sedangkan wanita tidak demikian dan itu terjadi beberapa fase, yaitu
disaat haid yang kadang-kadang sampai 15 hari, di masa hamil dan di masa nifas
serta di masa monopouse yang mayoritas terjadi pada usia 50 tahun ke atas.
Setelah monopouse wanita sudah tidak bisa hamil lagi (kecuali seizin Allah) dan
naluri seksualnya juga menurun. Sedangkan laki-laki tidak demikian, malah di
usia tua daya seksualnya melebihi anak muda, yang biasa orang menyebutnya
“TUA-TUA KELADI”. Makin tua makin menjadi-jadi, dan makin suka kawin
dengan mencari istri lagi. Dalam kondisi yang demikian ini, sangatlah perlu
dicarikan solusi terbaik untuk menyalurkan gairah seksual yang membara sang
kakek, kalau tidak, tentunya kasihan si nenek yang sudah tua. Maka jalan terbaik
adalah dengan dibolehkannya poligami.
7. Sungguh tidak semua wanita itu subur, ada pula yang mandul, sedang termasuk
tujuan perkawinan adalah membuahkan keturunan sebagai generasi penerus.
Bila istri tidak dapat melahirkan tentu ini merupakan suatu masalah sosial yang
selalu mengganjal dan mungkin juga menyebabkan rumah tangga berantakan.
Untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan tercapainya tujuan berumah tangga
yang diantaranya adalah adanya keturunan, maka salah satu jalan adalah
membolehkan poligami.
8. Ada kalanya wanita terkena penyakit rotak, yaitu tersumbatnya farji dengan
daging stan qorn, yaitu farjinya tersumbat tulang, sehingga tidak dapat
berhubungan badan, sedangkan termasuk tujuan perkawinan adalah
berhubungan badan untuk membuahkan keturunan. Dalam kondisi yang
demikian ini tentunya harus ada solusi terbaik, yaitu dibolehkannya poligami.
9. Ada kalanya istri sakit berkepanjangan atau sakit menahun, sehingga tidak dapat
melayani suaminya, sedang suaminya sangat membutuhkan penyaluran biologis,
maka dalam kondisi semacam ini solusi terbaik yaitu berpoligami.
10. Ada kalanya laki-laki mempunyai gairah seksual yang sangat tinggi (hypersex),
yang secara alami mereka tidak puas hanya dilayani oleh seorang istri, sehingga
dikhawatirkan suami menyalurkan nafsu seksualnya di jalan yang haram, maka
cara terbaik adalah dengan dilakukan poligami. Dengan demikian suami tetap
pada jalur yang benar dan istri tidak capek mandi keramas.
Itulah diantara sebab-sebab dan hikmah diperbolehkannya poligami yang
menjadi pertimbangan dalam syari’at Islam guna menyelesaikan masalah-masalah
sosial kemasyarakatan, di mana Islam merupakan suatu agama yang bukan hanya
berlaku bagi suatu generasi saja atau pada masa-masa serta zaman tertentu, namun
adalah syari’at yang berlaku bagi segenap manusia sepanjang masa dan Islam
adalah universal, agama yang memperhatikan hak-hak asasi manusia, agama yang
selalu memberikan solusi terbaik bagi ummatnya pada setiap masalah yang timbul
dan dihadapinya.
E. Sebab-Sebab Orang Menolak Poligami
Poligami dilain pihak merupakan solusi untuk mengatasi masalah-masalah
sosial yang menyangkut wanita, namun disisi lain justru banyak wanita atau
khsususnya istri-istri yang menentang, hal ini bisa dimaklumi, karena mereka
beranggapan bahwa “siapa sich yang mau dimadu ?”, “siapa sich yang mau
diduakan ?”, “siapa sich yang mau suaminya dibagi dua?, mendingan cerai aja !!”.
Kalimat-kalimat seperti sudah bukan suatu klise sebagai alasan bagi istri-istri yang
menolak suaminya berpoligami. Namun secara umum, diantara sebab-sebab orang
menentang poligami adalah sebagai berikut :
1. Adanya anggapan bahwa poligami adalah bentuk penipuan terhadap wanita
dan hanya bertujuan untuk pemuasan seksual belaka.
Bukankah meniduri wanita kemudian ditinggal begitu saja tanpa tanggung
jawab itu yang disebut penipuan terhadap wanita? Bukankah membiarkan
wanita-wanita menjanda yang mendambakan laki-laki yang melindungi dan
mencukupi hidupnya serta menjamin kehidupan yang baik di masa depannya itu
bukan disebut penipuan kepada wanita? Dan Bukankah membiarkan perawan-
perawan tua merana menunggu cinta itu bukan suatu penipuan terhadap wanita?
Bukankah membiarkan wanita menjual auratnya, berpose porno telanjang dada,
paha dan pantat demi uang itu bukan penipuan terhadap wanita ?.
2. Adanya angapan bahwa poligami adalah sebagai aktivitas seperti binatang yang
hanya ingin kawin cerai saja.
3. Belum mengenal dan paham tentang hikmah dan sebab poligami, sehingga
dalam memahami lebih bersifat emosional dari pada rasional.
4. Egoisme wanita itu sendiri dalam hal ini kaum istri-istri, yang kadangkala tidak
mau tahu atau justru masa bodoh dengan nasib kaumnya sendiri. Dengan alasan
tidak mau dimadu, tidak mau diduakan atau tidak mau cinta suaminya dibagi-
bagi dengan wanita lain, apalagi sampai ada “Istri Untuk Suamiku”.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa poligami merupakan hak asasi
manusia dalam menjalani hidupnya dalam suatu ikatan perkawinan, yang bukan hanya
bertujuan untuk memuaskan nafsunya namun juga ingin merubah suatu kehidupan yang
lebih baik. Dan juga bagi peminat poligami agar berpikir lebih matang sebelum
berpoligami, bila segi negatifnya lebih besar, maka sebaiknya tidak perlu berpoligami,
karena akan membuat sengsara diri sendiri dan orang lain, memang saat ini jumlah
wanita lebih banyak dari pria dan perlu solusi terbaik yang diantaranya adalah
poligami. Namun solusi itu adalah dapat menyelesaikan masalah dan merubah keadaan
lebih baik dari sebelumnya bukan membuat petaka dan sengsara.

*) Pemerhati Masalah Sosial