Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KAIDAH-KAIDAH FIKIH ASASI (al-Qawaid al-Asasiyah)


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Qawaid Fiqh Jinayah
Dosen Pengampu:
1. Drs. Atep Mastur, M.Ag.
2. Deden Najmuddin, M.Sy

Oleh Kelompok 1 :
Anita Widia Lestari 1183060087
Muhammad Hanif Qori 1183060051
Nisa Anindita M. 1183060058

PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

TAHUN AKADEMIK
2021
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum warah matullahi wabarakatuh

Dengan ucapan Bismillahirrohmanirrohim kami awali makalah ini agar


keberkahan senantiasa mengiringi perjalanan kami sebagai mahasiswa. Makalah ini
ditulis dengan tujuan untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Qawaid Fiqh Jinayah
sekaligus melatih kami agar dapat berproses dan sabar dan ikhlas.

Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas ridho-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah pertama kami ini. Terima kasih kami ucapkan
kepada kedua orangtua kami yang selalu mendukung serta mendoakan kami hingga
saat ini. Ucapan terima kasih tak lupa pula kami ucapkan kepada dosen pembimbing
kami yang selalu membimbing kami yakni Bapak Drs. Atep Mastur, M.Ag, dan
Bapak Deden Najmuddin, M.Sy. Serta kepada seluruh pihak yang mendukung kami
dalam proses pengerjaannya kami ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.

Makalah ini berjudul “Kaidah-Kaidah Fiqh Asasi (al-Qawaid al-Asasiyah)” yang


berisikan mengenai penjelasan tentang Kaidah-Kaidah Fiqh Asasi. Kami sebagai
penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan ataupun penyusunannya masih
dalam kekurangan dan perlu untuk diperbaiki. Maka dari itu, kami mohon kepada
pembaca untuk memberikan kritik serta saran yang dapat membantu untuk
memperbaiki kekurangan kami dalam pengerjaan makalah lainnya. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Di Rumah, 16 Maret 2021

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................................... ii
BAB I.......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................................1
C. Tujuan Masalah................................................................................................................. 1
BAB II.........................................................................................................................................2
PEMBAHASAN.......................................................................................................................... 2
A. Pengertian Qawaid Fiqhiyah............................................................................................... 2
B. Al-Qawaid Al Khamsah (Lima Kaidah) Asasiyah................................................................ 3
C. Kedudukan Dan Urgensi Qawaid Fiqhiyah.......................................................................... 5
BAB III....................................................................................................................................... 6
PENUTUP...................................................................................................................................6
A. Kesimpulan....................................................................................................................... 6
B. Saran.................................................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................. 7

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan berkembangnya zaman di dunia ini, tentu segala sesuatu itu
tidak berdiam diri saja. Namun, semua itu akan ada pergerakan yang pasti. Untuk
itulah betapa pentingnya ilmu pengetahuan di dunia ini agar setiap langkah zaman
yang terus berkembang manusia siap menghadapinya dengan baik. Di dalam Islam
sendiri hukum-hukum yang telah ada itu belum bisa membantu untuk menghadapi
perkembangan zaman yang semakin rumit. Untuk itu Islam memiliki suatu metode
dalam menetapkan hukum yang belum ada di syara yaitu Kaidah Fiqh. Kaidah Fiqh
ini ada salah satu metode dalam menetapkan hukum yang belum ada atau hukum
kontemporer.
Pengetahuan sejarah pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah fikih
dapat dilihat dari tiga faktor : Pertama, kita dapat mengetahui kesungguhan para
ulama dalam menciptakan pengetahuan tentang kaidah-kaidah fiqh sebagai pedoman
umum yang dapat dijadikan rujukan dalam penyelesaian masalah fiqih. Kedua,
keseriusan para ulama dapat dijadikan I’tibar atau pelajaran penting untuk mendorong
kegiatan berkreasi, menyambungkan ikhtiar mereka, dengan mempertahankan dan
memajukan Kaidah-kaidah fiqh bertujuan untuk menjaga eksistensi Hukum Islam.
Ketiga, kaidah-kaidah fiqh yang secara historis telah dirumuskan oleh ulama dimasa
yang lalu dapat langsung dimanfaatkan dalam menghadapi persoalan hukum Islam
kontemporer, tanpa harus membuang energi lagi. Untuk itu makalah ini akan
membahas beberapa topik dalam kaidah-kaidah fiqh.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Qawaid Fiqhiyah?
2. Apa saja yang termasuk ke dalam Kaidah Fiqh Asasiyah?
3. Apa saja Urgensi mempelajari Qawaid Fiqhiyah?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan Kaidah Fiqh
2. Untuk memahami apa saja yang termasuk ke dalam Kaidah Fiqh Asasiyah
3. Untuk memahami urgensi dari mempelajari Qawaid Fiqhiyah

1
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Qawaid Fiqhiyah

Istilah kaidah-kaidah fiqh adalah terjemahan dari bahasa arab al-qawa’id al-
fiqhiyah. Al-qawa’id merupakan bentuk plural (jamak) dari kata al-qa’idah yang
secara kebahasaan berarti dasar, aturan atau pondasi sedangkan Fiqhiyah dapat
diartikan sebagai penjenisan atau pngelompoan. secara terminologi pengertian fiqh
menurut al-Jurjani al-Hanafi adalah ”ilmu yang menerangkan hukum hukum syara
yang amaliyah ang diambil dari dalil-dalilnya yang tafsily dan diistinbatkan melalui
ijtihad yang memerlukan analisa dan perenungan".1
Kata alqawa`id dalam Al-Qur`an ditemukan dalam suratAl-Baqarah ayat 127
dan surat an-Nahl ayat 26 juga berarti tiang, dasar atau fondasi, yang menopang suatu
bangunan. Sedangkan kata al-fiqhiyah berasal dari kata al-fiqh yang berarti paham
atau pemahaman yang mendalam (al-fahm al-„amiq) yang dibubuhi ya‟ an-nisbah
untuk menunjukan penjenisan atau pembangsaan atau pengkategorian. Dengan
demikian, secara kebahasaan, kaidah-kaidah fiqh adalah dasar-dasar, aturan-aturan
atau patokan-patokan yang bersifat umum mengenai jenis-jenis atau masalah-masalah
yang masuk dalam kategori fiqh.
sifat kaidah fiqih itu adalah kulli atau umum, yang dirumuskan dari fiqih-fiqih
yang sifatnya partikular (juz‟iyah). Jadi kaidah fiqih adalah generalisasi hukumhukum
fiqih yang partikular. Kendatipun demikian, menurut kebiasaan, setiap sesuatu yang
bersifat kulli, termasuk kaidah-kaaidah fiqih ini, ditemukan pengecualian (istitsna),
pengkhususan (takhshish), penjelasan (tabyin) dan perincian (tafshil).
Jadi, Qawa’id Fiqhiyah dapat di artikan dasar-dasar atau asas-asas yang
berkaitan dengan masalah-masalah atau jenis-jenis fiqh. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwasanya Qawa’id Fiqhiyah pada hakikatnya adalah sekumpulan
kaidah-kaidah fiqh yang berbentuk rumusan-rumusan yang bersifat umum dalam
berbagai bidang yang sesuai ruang lingkupnya.

1
Hasbi as-siddiqy, Pengantar Hukum Islam, (Jakarta bulan bintang 1975). 25.

2
B. Al-Qawaid Al Khamsah (Lima Kaidah) Asasiyah
1. Kaidah Asasi Pertama : “Al Umuru Bimaqasidiha” Setiap Perkara Bergantung
Pada Tujuannya.
Maksud dari kaidah ini adalah bahwa setiap mukalaf dan berbagai bentuknya
serta hubungannya, baik dalam ucapannya, perbuatan, dan lain sebagainya
bergantung pada niatnya. Dengan kata lain, niat dan motif yang terkandung dalam
hati seseorang sewaktu melakukan suatu perbuatan menjadi kriteria yang
menentukan nilai dan status hukum amal yang ia dilakukan.2 Niat sangat penting
dalam menentukan kualitas ataupun makna perbuatan seseorang, apakah
seseorang itu melakukan suatu perbuatan dengan niat ibadah kepada Allah
ataukah dia melakukan perbuatan tersebut bukan dengan niat ibadah kepada Allah,
tetapi semata-mata karena nafsu atau kebiasaan3.
2. Kaidah Asasi Kedua : “Al-Yaqinu La Yuzalu Bi Al-syakk” Keyakinan Tidak
Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan
Maksud dari kaidah ini secara etimologi, ‫“ اﻟﯿﻘﯿﻦ‬al-yaqin” adalah sesuatu yang
menetap (al-istiqrar), kepercayaan yang pasti (al-jazim), teguh (al-tsabit), dan
sesuai dengan kenyataan (al-muthabiq li al-waqi`). Bisa juga dimaknai sebagai
ilmu, sesuatu yang dapat menjauhkan keraguan, dan sesuatu yang nyata,.4
Sedangkan secara terminologi, al-yaqin yaitu keyakinan yang kokoh dan sesuai
dengan kenyataan. Al-Suyuthi mengatakan al-Yaqin (‫ )اﻟﯿﻘﯿﻦ‬adalah sesuatu yang
tetap dan pasti, dapat dibuktikan melalui penelitian dan menyertakan bukti-bukti
yang mendukungnya.5 Dari sini menjadi jelaslah bahwa sesuatu yang hanya
berdasar pada perasaan atau keraguan, tidak dapat dijadikan pedoman untuk
memutuskan suatu permasalahan tentang sah atau tidaknya suatu ibadah.
Sebagaimana yang dikutip oleh Muchlis Usman, bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: Artinya: “ Dari Abu Hurairah
berkata : Rosululloh bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan
sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu

2
Qolyubi wa Umairah, Hasyiyah Syihabuddin al-Qolyubi, Singapura: Maktabahwa Mathba’ah Sulaiman Mar’i,
tt, JuzI,h..45
3
Djazuli, Kaidah-kaidah Fiqih: Kaidah-kaidah hukum Islam dalam menyelesaikan masalah yang praktis,
(Jakarta: Kencana, 2007), 34.
4
Toha Andiko, Ilmu Qowaid Fiqhiyyah, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2011), hlm. 68.
5
Fathurrahman Azhari, Qawaid Fiqhiyyah Muamallah, (Banjarmasin: LPKU, 2015), hlm. 71.

3
(kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia
mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim).
3. Kaidah Asasi Ketiga : “Al-Masyaqqah Tajlibut Taisir” Kesulitan
Mendatangkan Kemudahan
Maksud dari kaidah ini yaitu kesulitan menyebabkan adanya kemudahan atau
kesulitan mendatangkan kemudahan bagi mukallaf (subjek hukum), maka syari’ah
meringankannya sehingga mukallaf dalam situasi dan kondisi tertentu mampu
menerapkan dan melaksakan hukum tanpa ada kesulitan dan kesukaran. Kaidah
Al-Masyaqqah Tajlib tl-Taisir menunjukkan fleksibilitas hukum Islam yang bisa
diterapkan secara tepat pada setiap keadaan yang sulit atau sukar tetapi ada
kemudahan di dalamnya yang mampu menjawab berbagai permasalahan yang
dihadapi oleh mukallaf dengan menggunakan salah satu kaidah asasiyyah.
Keringganan tersebut dalam Islam dikenal dengan istilah rukhsah.6 Dalam ilmu
fikih, kesulitan yang membawa kepada kemudahan itu setidaknya ada tujuh
macam, yaitu: al-Safar,keadaan sakit,keadaan terpaksa,lupa (al-nisyan),
ketidaktahuan (al-jahli),kesulitan umum(‘umum al-balwa),kekurangan mampuan
(al-naqsh)7.
4. Kaidah Asasi keempat : “Addhororu Yuzalu” Kesulitan Harus Dihilangkan
Kaidah ini menjelaskan bahwa: Pertama, bahaya itu harus dihilangkan yang
didasarkan pada hadist nabi “ َ‫”ﺿﺮر و لَ ﺿﺮار ل‬. Kedua, bahwa keadaan dharurat
dapat memperbolehkan hal yang dilarang. Ketiga, kebolehan ( dalam melakukan
hal yang dilarang ) itu sekedarnya saja. Keempat, bahaya tidak boleh dihilangkan
dengan bahaya serupa. Kelima, bahaya khusus ditanggung untuk mencegah
bahaya umum. Arti lain dari kaidah ini adalah menunjukan bahwa berbuat
kerusakan itu tidak dibolehkan dalam agama Islam. Adapun yang berkaitan
dengan ketentuan Allah,sehingga kerusakan itu menimpa seseorang
kedudukannya menjadi lain, Adanya berbagai macam sanksi dalam fiqh jinayah
(hukum pidana islam)adalah juga untuk menghilangkan kumudaratan.
5. Kaidah Asasi Kelima : “Al-Adatu Muhakkamah” Kebiasaan Dapat Dijadikan
(Pertimbangan) Hukum
Maksud dari kaidah ini adalah tentang adat atau kebiasaan, dalam bahasa Arab
terdapat dua istilah yang berkenaan dengan kebiasaan yaitu al-‘adat dan al-‘urf.

6
Rachmat Syafe’i, MA, Ilmu..., h. h..284
7
A. Dzajuli, Kaidah-Kaidah Fikih , h..56-67

4
Adat adalah suatu perbuatan atau perkataan yang terus menerus dilakukan oleh
manusia lantaran dapat diterima akal dan secara kontinyu manusia mau
mengulanginya. Sedangkan ‘Urf ialah sesuatu perbuatan atau perkataan dimana
jiwa merasakan suatu ketenangan dalam mengerjakannya karena sudah sejalan
dengan logika dan dapat diterima oleh watak kemanusiaannya.8

C. Kedudukan Dan Urgensi Qawaid Fiqhiyah


Kedudukan Qawaid fiqhiyah dalam ifta dan qadha pada persoalan hukum
Islam adalah sebagai alat untuk istinbat yaitu sebagai metode dalam mengambil
sebuah hukum yang belum terdapat nashnya baik dalam al–Qur’an maupun hadist.9
Kaidah-Kaidah Fiqhiyyah Manfaat Qawaid Fiqhiyah :
1. Dengan mempelajari kaidah – kaidah fiqh kita akan mengetahui prinsip – prinsip
umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan
kemudian menjadi titik temu dari masalah – maslah fiqh.
2. Dengan memperhatikan kaidah – kaidah fiqh akan lebih mudah menetapakan
hukum bagi masalah – masalah yang dihadapi.
3. Dengan mempelajari kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi
dalam waktu dan tempat yang berbeda, untuk keadaan dan adat yang berbeda.
4. Meskipun kaidah – kaidah fiqh merupakan teori – teori fiqh yang diciptakan oleh
para Ulama, pada dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti
Al Qur’an dan AshShunnah, meskipun dengan cara yang tidak langsung.
5. Mempermudah dalam menguasai materi hukum.
6. Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak
diperdebatkan
7. Mendidik orang yang yang berbakat fiqh dalam melakukan analogi untuk
memahami permasalahan-permasalahan baru.
8. Mempermudah orang yang berbakat fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-
bagian hukum dengan mengeluarkan dari tempatnya.

8
Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h.
153
9
Darmawan, Kaidah-Kaidah Fiqhiyyah, (Surabaya : Revka Prima Media, 2020), h.3

5
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah kaidah-kaidah fiqh adalah terjemahan dari bahasa arab al-qawa’id al-
fiqhiyah. Al-qawa’id merupakan bentuk plural (jamak) dari kata al-qa’idah yang
secara kebahasaan berarti dasar, aturan atau pondasi sedangkan Fiqhiyah dapat
diartikan sebagai penjenisan atau pngelompoan. secara terminologi pengertian fiqh
menurut al-Jurjani al-Hanafi adalah ”ilmu yang menerangkan hukum hukum syara
yang amaliyah ang diambil dari dalil-dalilnya yang tafsily dan diistinbatkan melalui
ijtihad yang memerlukan analisa dan perenungan.

Jadi, Qawa’id Fiqhiyah dapat di artikan dasar-dasar atau asas-asas yang


berkaitan dengan masalah-masalah atau jenis-jenis fiqh. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwasanya Qawa’id Fiqhiyah pada hakikatnya adalah sekumpulan
kaidah-kaidah fiqh yang berbentuk rumusan-rumusan yang bersifat umum dalam
berbagai bidang yang sesuai ruang lingkupnya. Dan juga salah satu pentingnya
Mempelajari kaidah-kaidah fiqh itu kita akan mengetahui prinsip – prinsip umum fiqh
dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi titik
temu dari masalah – maslah fiqh.

B. Saran
itulah sekilas materi tentang “Kaidah-Kaidah Fiqh Asasi (al-Qawaid al-
Asasiyah)” yang dapat penulis sajikan. Semoga bermanfaat dan dapat membantu
terhadap proses belajar-mengajar. Apabila terdapat kesalahan, mohon dengan hormat
untuk diperbaiki kepada yang lebih benar. Segala kritik dan saran selalu penulis
harapan. Akhirnya segala kesempurnaan mutlak hanya milik Allah SWT. zat Yang
Maha Sempurna.

6
DAFTAR PUSTAKA

Darmawan, Kaidah-Kaidah Fiqhiyyah, (Surabaya : Revka Prima Media, 2020)


Djazuli, Kaidah-kaidah Fiqih: Kaidah-kaidah hukum Islam dalam menyelesaikan masalah yang praktis, (Jakarta:
Kencana, 2007)

Fathurrahman Azhari, Qawaid Fiqhiyyah Muamallah, (Banjarmasin: LPKU, 2015)

Hasbi as-siddiqy, Pengantar Hukum Islam, (Jakarta bulan bintang 1975).


Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002)

Toha Andiko, Ilmu Qowaid Fiqhiyyah, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2011)

Qolyubi wa Umairah, Hasyiyah Syihabuddin al-Qolyubi, Singapura: Maktabahwa Mathba’ah Sulaiman Mar’i, tt,
JuzI,