Anda di halaman 1dari 13

3.

JARINGAN IKAT

Setiap jenis jaringan ikat dibangun oleh tiga macam komponen, yaitu:
sel, serabut, dan substansi dasar; serabut dan substansi dasar disebut
matriks ekstraseluler. Senyawa utama pembentuk substansi dasar yang
amorf adalah protein dan karbohidrat, jenis protein dan karbohidrat
(glikoprotein) berbeda-beda tergantung macam jaringan ikat. Dalam tubuh
vertebrata terdapat jaringan ikat biasa, jaringan ikat dengan sifat khusus,
dan jaringan ikat penyokong.

3.1 Jenis Sel dalam Jaringan Ikat Biasa

3.1.1 Sel Plasma


Sel ini berbentuk bulat atau oval, dengan sitoplasma yang bersifat basofil, inti
bulat dengan butir-butir kromatin tersusun berkelompok.

3.1.2 Makrofag
Bentuk sel ini berubah-ubah, karena sifatnya yang fagositosik. Di dalam
sitoplasma kaya akan lisosom, karena sel ini merupakan komponen penting
sistem pertahanan tubuh. Ada dua jenis, yaitu yang tetap di tempat (amotil) dan
yang motil (mampu bergerak secara amuboid).

3.1.3 Mast Cell


Sel ini berbentuk relatif bulat, sitoplasma mengandung butir-butir heparin
yang bertindak sebagai anti koagulan dan mengikat IgE. Banyak terdapat dalam
lamina propria (jaringan ikat kendur) pembuluh darah, saluran pernafasan, dan
saluran pencernaan makanan

3.1.4 Fibroblas
Sel ini berbentuk seperti kumparan tebal dan mempunyai juluran–juluran
pendek yang merata di permukaan sel. Dalam preparat histologis biasanya batas
sel (membran sel) sulit dilihat, yang tampak jelas hanya inti berbentuk oval,
ukuran inti lebih besar daripada inti sel-sel jaringan ikat lainnya. Sel ini aktif
memproduksi protein ekstraseluler seperti serabut kolagen, elastin, dan retikulin,
serta bermacam-macam proteoglikan, maka di dalam sitoplasmanya
mengandung banyak retikulum endoplasma kasar dan kompleks Golgi. Fibroblas
dalam keadaan non-aktif disebut fibrosit, berukuran lebih kecil dan hanya
mempunyai dua juluran yang terletak di kedua ujung permukaan sel yang
berbentuk seperti kumparan tipis, intipun menjadi lebih kecil, demikian pula
jumlah retikulum endoplasma kasar dan.kompleks Golgi berkurang.

18
Gambar 3.1 Diagram yang disederhanakan tentang modifikasi sel-sel dalam
jaringan ikat. Garis putus-putus menunjukkan bahwa ada sel
antara dalam proses modifikasi. Semua sel tidak digambarkan
dalam perbandingan ukuran yang sebenarnya. Sel endotel dan
mesotel adalah dua jenis epitel pipih yang sangat erat dengan
jaringan ikat.

19
Gambar 3.2 Diagramatis morfologi eksternal dan ultrastruktur
sel fibroblas dan fibrosit

3.2 Jenis Serabut dalam Jaringan Ikat Biasa

3.2.1 Serabut kolagen


Serabut kolagen dengan mikroskop elektron (ME) tampak sebagai pita-
pita melintang gelap-terang secara berurutan dengan periodisitas 67 nm.
Serabut kolagen dibangun oleh fibril-fibril yang terdiri dari subunit tropokolagen.
Kolagen merupakan protein yang paling luas penyebarannya di dalam jaringan
ikat (perhatikan Gambar 3.3). Sifat serabut ini kuat/tahan terhadap
tekanan. Ada empat jenis tropokolagen, maka ada empat macam serabut
kolagen. Kolagen tipe I banyak terdapat dalam jaringan tulang, ligamen,
tendon, dermis, dan dentin. Kolagen tipe II banyak terdapat dalam jaringan
rawan. Kolagen tipe III banyak berasosiasi dengan otot polos yang
membangun dinding saluran pencernaan makanan dan uterus. Kolagen tipe
IV banyak terdapat dalam membran basalis. Dalam sediaan segar tampak putih,
sehingga dikenal sebagai serabut putih.

3.2.2 Serabut elastin


Serabut ini dibangun oleh protein elastin yang disebut proteoglikan,
mudah dibedakan dari serabut kolagen, sebab tidak ada garis longitudinal,
dengan ciri khas bercabang-cabang dan beranastomose, perhatikan
Gambar 3.3. Dalam sediaan segar tampak berwarna kuning, sehingga dikenal
sebagai serabut kuning. Serabut ini bersifat sangat elastis, dapat diregangkan
satu setengah kali panjang semula. Maka serabut ini ditemukan dalam bagian
tubuh yang dapat meregang dan mengendur secara bergantian.

20
Gambar 3.3 Fotomikrograf preparat mikroskopik mesenterium
Struktur tebal dan berombak adalah serabut kolagen, filamen
tipis
bercabang-cabang dan membentuk anyaman adalah serabut
elastin (P. 200X mikroskop fase kontras)

3.2.3 Serabut retikulin


Serabut ini sangat halus, paling halus diantara serabut yang lain.
Banyak terdapat dalam jaringan hematopoietik (limpa, nodus limfatik, sumsum
tulang merah). Serabut ini disebut sebagai serabut argirofilik, karena afinitasnya
terhadap garam perak. Perhatikan Gambar 3.4.

3.3 Substansi Dasar dalam Jaringan Ikat Biasa (Matriks)


Substansi dasar ada lima jenis. Kondroitin sulfat yang terdapat
dalam jaringan rawan dan tulang, kulit dan kornea. Asam hialuronat
(hyaluronic acid) yang terdapat dalam jaringan rawan; tali pusar dan cairan
dalam bola mata (vitreous body). Dermatan sulfat yang terdapat dalam kulit,
dinding pembuluh darah, katup jantung, dan paru-paru. Keratan sulfat yang
terdapat dalam kornea, jaringan rawan, dan nucleus pulposus (bagian tengah
badan setiap ruas tulang belakang). Heparan sulfat dan heparin yang
terdapat dalam dinding aorta, hati, paru-paru, dan granul sitoplasma mast cell.

Gambar 3.4 Fotomikrograf preparat mikroskopik limpa


Memperlihatkan serabut retikulin/serabut retikuler
(P. 200X)

21
3.4 Jaringan Ikat Biasa
Jaringan ini berdasarkan jumlah (kandungan) serabut, ada dua jenis, yaitu
jaringan ikat kendur dan jaringan ikat padat.

3.4.1 Jaringan ikat kendur


Ciri khas jaringan ikat kendur adalah kandungan serabut sedikit (jarang),
dan jenis sel relatif banyak, serta sangat kaya dengan pembuluh kapiler
darah. Contoh: lamina propria, bagian tengah mesenterium.

3.4.2 Jaringan ikat padat


Ciri khas jaringan ikat padat adalah mengandung banyak serabut
kolagen (dalam bentuk sebagai berkas kolagen), jenis sel relatif sedikit, kaya
dengan kapiler darah. Bila serabut tidak teratur maka disebut jaringan ikat
padat tidak teratur, contoh: dermis, perikondrium, periosteum.
Sedangkan jaringan ikat padat teratur bila serabut-serabut tersusun secara
teratur paralel memanjang, contoh: tendon, ligamen. Perhatikan Gambar 3.5.

Gambar 3.5 Fotomikrograf jaringan ikat padat (P.300X)


a) jaringan ikat padat teratur, berkas kolagen tersusun sejajar
b) jaringan ikat padat tidak teratur, serabut kolagen acak

3.5 Jaringan Ikat dengan Sifat Khusus

3.5.1 Jaringan retikuler


Ciri khas jaringan ini adalah mengandung sel retikuler yang bentuknya
serupa fibroblas, tetapi ada yang berfungsi sebagai fagosom . Contoh: di sekitar
dinding pembuluh darah kecil (arteriol dan venula), dalam hati, limpa, nodus
limf, dan sumsum tulang.

3.5.2 Jaringan mukosa


Sel utama dalam jaringan ini adalah fibroblas, mengandung serabut
kolagen dan serabut elastik atau retikulin. Jaringan ini sebagai komponen utama
tali pusar dan pulpa gigi muda.

22
3.5.3 Jaringan elastik
Komponen utama adalah berkas serabut elastik, maka jaringan ini berciri
seperti serabut elastik. Jaringan ini terdapat pada ligamen kolumna vertebralis,
dan ligamen suspensorium penis.

3.5.4 Jaringan lemak


Terutama dibangun oleh sel lemak (sel lipid) yang mengandung
banyak senyawa lipid yang tersimpan di dalam vakuola (disebut vakuola lipid),
bentuk sel relatif bulat. Inti sel lemak yang dewasa berbentuk pipih dan terdesak
ke tepi sitoplasma oleh vakuola lipid yang membesar. Jaringan ini juga
mengandung serabut kolagen, fibroblas, leukosit, makrofag, dan kaya akan
pembuluh darah. Fungsi jaringan ini sebagai isolator panas, cadangan energi,
dan “bantal”pelindung. Letak di bawah kulit (subkutan), dengan wilayah
dan jumlah penyebaran yang tidak sama. Ada dua jenis lemak yang tersimpan,
maka ada dua jenis jaringan lemak yaitu jaringan lemak coklat dan jaringan
lemak putih atau kuning.

Gambar 3.6 Fotomikrograf jaringan adiposa unilokular (P.300X)


a) jaringan dalam stadium pertumbuhan
b) jaringan dalam stadium dewasa, telah terbentuk

3.6 Jaringan Darah (DARAH)


Darah merupakan modifikasi jaringan ikat, yang terdiri dari beberapa
jenis sel dan plasma darah (merupakan bagian ekstraseluler yang bersifat cair).
Perhatikan Gambar 3.1 jenis-jenis sel darah terdiri dari eritrosit, leukosit, dan
trombosit. Darah beredar melalui sistem pembuluh darah, dan pertukaran cairan
terjadi antara kapiler darah dan kapiler limf di dalam jaringan ikat, perhatikan
Gambar 3.7, sehingga vertebrata mempunyai peredaran darah tertutup.

3.6.1 Eritrosit (Sel darah merah)


Sel ini berdiameter 7- 8 µm, tebal bagian tepi 2 µm, berbentuk bulat
bikonkaf. Dalam sitoplasmanya kaya hemoglobin, suatu jenis protein yang
mengandung haem adalah derivat porfirin yang mengandung zat besi (Fe) dan
mampu mengikat oksigen maupun karbon dioksida. Eritrosit berfungsi
mengangkut oksigen dan karbon dioksida. Pada tubuh manusia, supaya
memaksimalkan fungsinya maka eritrosit dewasa dan fungsional tanpa inti,
umurnya lebih kurang 120 hari.

23
3.6.2 Leukosit (sel darah putih)
Sel ini digolongkan sebagai granulosit dan agranulosit. Yang termasuk
dalam kelompok granulosit (sitoplasma mengandung granula) adalah neutrofil,
eosinofil, dan basofil. Bentuk inti dan reaksi zat warna yang spesifik terhadap
granula merupakan ciri khas setiap sel tersebut. Agranulosit (sitoplasma tidak
mengandung granula) terdiri dari limfosit dan monosit.

3.6.2.1 Granulosit
a) Neutrofil
40 – 60% leukosit yang beredar adalah neutrofil. Ciri khas sel ini berdimeter 12-
15 µm dan intinya terdiri 3-5 lobus. Granula azurofilik merupakan 20%
granula neutrofil, granula tersebut merupakan modifikasi lisosom yang yang
mengandung enzim-enzim hidrolitik, maka sel ini berfungsi sebagai fagosom,
menghancurkan mikroba yang dikenali asing.
b) Eosinofil
Merupakan 5% leukosit yang beredar. Ciri khas sel ini berdimeter 9 µm dengan
inti berlobus dua. Ukuran granulanya lebih besar daripada granula dalam
neutrofil. Juga berfungsi sebagai fagosom dengan kemampuan lebih lambat
daripada neutrofil.
c) Basofil
Berjumlah paling sedikit, hanya 0-1% dari seluruh leukosit yang beredar. Ciri
khas sel ini berdiameter sekitar 12 µm, dengan inti berlobus 2 atau 3, granula
berdiameter 0,5 µm dan bersifat basofilik. Granula mengandung histamin yang
berfungsi sebagai vasodilator dan heparin yang berfungsi sebagai antikoagulan.
Permukaan basofil mempunyai reseptor yang mengikat IgE, maka sel inipun
berfungsi dalam sistem immunitas.

3.6.2.2 Agranulosit
a) Limfosit
Berjumlah 20- 40% dari leukosit yang beredar. Ciri sel ini umumnya berdiameter
5-8 µm dan ada pula yang sampai 15 µm, berinti bulat dan hampir
memenuhi seluruh volume sel. Sel ini dapat berdiferensiasi menjadi sel
plasma yang menghasilkan antibodi terhadap antigen yang spesifik. Limfosit
tidak hanya terdapat dalam darah tetapi juga terdapat dalam limpa, nodus limf,
tonsil, dan sumsum tulang.
b) Monosit
Berjumlah 7% dari leukosit. Sel ini berdiameter 12-18 µm, inti bulat dan
terletak pada satu sisi sitoplasma. Monosit akan berdiferensiasi menjadi
makrofag.

3.6.3 Trombosit (keping darah)


Sel ini berdiameter 2- 4 µm, yang dewasa fungsional tidak berinti, dalam
sitoplasma mempunyai sedikit granula yang mengandung serotonin. Sel ini
berasal dari pertunasan sel-sel sumsum tulang, yang semula megakariosit
(berinti banyak). Fungsi utama keping darah adalah mengawali proses
pembekuan darah, karena pada membrannya mempunyai enzim-enzim
permukaan yang dapat mengenali dan mengikat kolagen yang ada dalam matriks
ekstraseluler. Selanjutnya hal tersebut merangsang suatu rangkaian proses
pembekuan darah.

24
Gambar 3.7 Gerakan cairan melalui jaringan ikat. Cairan meninggalkan
kapiler melalui ujung arteial dan masuk kembali ke dalam darah
pada ujung venula. Sebagian cairan kembali melalui kapiler limf
yang berujung buntu

3.7 Jaringan Penyokong


Jaringan rawan atau jaringan kartilago, dan jaringan tulang atau jaringan
osteon termasuk dalam kelompok jaringan ikat, karena sifatnya yang relatif kuat
sebagai penyokong tubuh vertebrata, maka disebut sebagai jaringan penyokong.

3.7.1 Jaringan rawan (rawan)


Fungsi rawan adalah sebagai jaringan penyokong yang lentur atau
flexible. Sebagai bagian dari jaringan ikat, maka rawan terdiri dari sel rawan
(kondrosit), dengan matriks ekstraseluler disebut matriks rawan yang
mengandung serabut dan substansi dasar. Dalam matriks rawan terdapat
lakuna, adalah rongga tempat sel rawan. Matriks yang melapisi lakuna disebut
kapsula. Rawan tidak mempunyai saraf dan pembuluh darah; maka sari
makanan dan oksigen maupun hal yang sebaliknya sisa metabolisme sel-sel
rawan harus diperoleh dari/dibuang ke jaringan ikat padat di sekelilingnya secara
difusi. Ada tiga jenis rawan berdasarkan struktur matriksnya yaitu rawan hialin,
rawan elastin, dan rawan serabut, perhatikan Gambar 3.8.

3.7.1.1 Rawan hialin


Matriks rawan hialin mengandung serabut kolagen yang membangun
40% berat kering rawan ini, kondrosit berkelompok yang disebut kelompok
isogen. Dalam tubuh vertebrata pada umumnya rawan ini merupakan kerangka
awal pada masa embrio/fetus yang secara berangsur akan digantikan oleh
tulang. Rawan hialin terdapat pada struktur saluran pernafasan (laring, trakea,

25
bronkus), ujung ventral rusuk, dan permukaan persendian tulang.
Untuk mempelajari rawan ini amatilah preparat trakea.
Di bagian luar rawan hialin diselaputi oleh jaringan ikat padat tidak
teratur yang disebut perikondrium. Di sebelah dalam perikondrium terdapat
daerah peralihan yang disebut daerah kondrogenik yang mengandung sel
kondroblas. Kondroblas merupakan bakal kondrosit, sel ini masih sangat aktif
menghasilkan matriks rawan, bentuknya oval, dan soliter (tidak berkelompok).
Di bagian dalam daerah kondrogenik terdapat daerah rawan hialin yang
sebenarnya (jaringan rawan yang dewasa); berciri khas ada sel-sel kondrosit
berbentuk bulat yang isogen berada dalam lakuna. Kemampuan kondrosit untuk
membelah dan menghasilkan matriks rawan sangat rendah dibandingkan
kondroblas.

Gambar 3.8 Fotomikrograf jaringan rawan


a) rawan hialin, b) rawan elastin, c) rawan serabut

3.7.1.2 Rawan elastin


Matriks rawan elastin mengandung banyak serabut elastin dan sedikit
serabut kolagen. Rawan ini dapat dijumpai pada daun telinga, dan epiglotis.
Seperti rawan hialin maka rawan elastin inipun, bila diamati dari bagian luar ke
arah dalam berturut-turut adalah perikondrium, daerah kondrogenik, dan
jaringan rawan yang dewasa. Pengamatan terhadap preparat rawan elastin
daun telinga, pada bagian jaringan rawan yang dewasa tampak serabut elastin
yang tersusun rapat, bercabang dan beranastomose.

3.7.1.3 Rawan serabut


Matriks rawan serabut banyak mengandung serabut kolagen
berbentuk berkas-berkas yang tidak teratur, sehingga tampak
bergelombang dan kasar-kasar. Rawan ini tidak mempunyai perikondrium, maka
selalu melekat pada jaringan ikat padat di dekatnya. Dibandingkan dengan rawan
yang lain, kondrosit pada rawan serabut berukuran paling kecil, ada yang soliter
maupun berkelompok yang tersusun dalam deretan. Contoh dapat dijumpai
pada simfisis pubis, perlekatan ligamen dengan tulang, dan diskus
intervertebralis.

3.7.2 Jaringan tulang (tulang)


Jaringan tulang merupakan jaringan penyokong atau penunjang yang
utama dalam tubuh vertebrata pada umumnya. Tulang berfungsi sebagai

26
jaringan penyimpan cadangan kalsium, tempat berlangsung proses
hematopoiesis, melindungi organ penting di dalam tengkorak dan rongga dada,
tempat pelekatan otot lurik, dan bersama otot membangun alat gerak tubuh.
Sebagai bagian dari jaringan ikat maka tulangpun terdiri dari sel-sel
tulang (osteosit), matriks organik mengandung 95% serabut kolagen dan
sub-stansi dasar terbuat dari glikosaminoglikan dan glikoprotein, serta matriks
anorganik terutama mengandung kalsium dan fosfor yang membentuk kristal
hidroksiapatit atau Ca10 (PO4)6(HO)2. Pada jaringan tulang selain osteosit
dijumpai pula sel osteoblas, dan osteoklas. Osteoblas tidak mempunyai
juluran, berbentuk kubus bila sangat aktif mensintesa matriks organik, tetapi bila
aktivitasnya berkurang akan berbentuk pipih. Osteoklas merupakan sel raksasa
berinti banyak yang berfungsi sebagai perombak tulang, di dalam
sitoplasmanya mengandung banyak lisosom, dan sel ini bersifat motil. Setiap
osteosit terdapat di dalam lakuna, dan setiap osteosit mempunyai banyak
juluran halus yang disebut prosesus filopodial yang terletak di dalam
kanalikuli, dan wilayah matriks tulang yang ditembus oleh kanalikuli disebut
lamela tulang. Ada dua macam jaringan tulang yaitu tulang sponsa (tulang
bunga karang) dan tulang kompak.

3.7.2.1 Tulang sponsa (tulang bunga karang)


Tulang sponsa terdiri dari trabekula tulang yang bercabang dan
beranastomose. Di dalam trabekula terdapat osteoblas dan/atau osteosit. Ciri
khas tulang sponsa adalah osteosit tidak tersusun konsentris, sehingga lamela
tulang tidak tersusun secara konsentris dan tidak berlapis-lapis, maka tidak
membentuk sistem Havers. Dengan kata lain tulang sponsa tidak
mempunyai sistem Havers. Di antara trabekula terdapat sumsum tulang.
Pada permukaan tulang terdapat osteoblas yang tersusun berderet-deret.

3.7.2.2 Tulang kompak


Ciri khas tulang kompak adalah osteosit tersusun konsentris,
sehingga lamela tulang tersusun secara konsentris dan berlapis-lapis, maka
dikatakan mempunyai sistem Havers. Setiap osteosit terletak di dalam
lakuna. Setiap osteosit mempunyai prosesus filopodial, yang berfungsi
supaya transfer zat antar sel osteosit berlangsung lebih cepat.

Gambar 3.9 Fotomikrograf sayatan transversal melalui satu sistem Harvers

27
Gambar 3.10 Diagram sayatan transversal seperempat bagian
dari satu sistem Havers, dan dua osteosit dengan
prosesus filopodial

Gambar 3.11 Diagram tiga dimensi dinding suatu diafisis tulang panjang

28
Di antara sistem Havers terdapat lamela tulang yang susunannya tidak
teratur disebut lamela interstisial. Di bagian tengah setiap sistem Havers
terdapat saluran Havers yang dikelilingi oleh lamela Havers (lamela tulang
yang tersusun secara konsentris
Perhatikan bahwa posisi sistem Havers terletak di antara lamela
periosteum dan lamela endosteum.Tulang kompak di lapisan luar diselaputi oleh
periosteum, sedangkan di lapisan dalam terdapat endosteum yang
berbatasan dengan sumsum tulang. Periosteum merupakan jaringan ikat
padat tidak teratur, tampak jelas sebagai dua lapisan yang di bagian luar lebih
berserabut, sementara di bagian dalam lebih seluler dan vaskuler. Endosteum
berstruktur sama dengan periosteum, tetapi lebih tipis dan tidak tampak jelas
sebagai dua lapisan.
Berbatasan dengan periosteum terdapat lamela tulang yang tersusun
sejajar dengan lapisan luar tulang, yang disebut lamela sirkumferensial luar
atau lamela periosteum, sedangkan lamela tulang yang tersusun sejajar
dengan lapisan dalam tulang disebut lamela sirkumferensial dalam atau
lamela endosteum.

Gambar 3.12 Diagram dua dimensi sayatan longitudinal suatu tulang panjang
T ulang sponsa terdapat pada wilayah permukaan, tulang
kompak
di bagian dalam; permukaan persendian dilindungi oleh jaringan
rawan

Berdasarkan cara pembentukan jaringan tulang dikenal dua


macam tulang yaitu tulang endokondral dan tulang derma. Tulang
endokondral, jaringan tulang ini menggantikan kedudukan jaringan rawan
hialin yang mengalami degenerasi, sementara terjadi proses degenerasi rawan
berlangsung pula osteogenesis. Tulang derma, jaringan tulang ini berasal dari
jaringan mesenkim yang mengalami diferensiasi menjadi tulang.

29
Gambar 3.13 Diagram persendian tulang panjang
a) Ujung proksimal keping epifisial tibia tulang manusia umur 16 tahun
belum osifikasi, sehingga tulang masih tumbuh memanjang.
b) Sayatan longitudinal melalui sendi diartrosis, ligamen diangkat supaya
tampak membran dan rongga sinovial.

Gambar 3.14 Diagram struktur histologis membran sinovial, yang dilindungi


oleh sel-sel pembatas (epitel) pada permukaan rongga sinovial.
Antara epitel dengan jaringan ikat tidak terdapat membran
dasar.
Pada jaringan ikat sangat banyak kapiler darah dan terdapat sel-
sel adiposa.

30