Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS FISIKO KIMIA


PENENTUAN PANJANG GELOMBANG PENGUKURAN
PADA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

KELOMPOK 1

NAZARUL MASTURA (201FF04010)


RIRIT SAIRUROH (201FF04013)
SAKINA ISTIQOMAH (201FF04015)
ANISA FARADIVA RUMI (201FF04022)
I MADE GDE MAS BAYU P. (201FF04024)
MARSELINA NEDJA (201FF04025)
MAYA AULIA RAHMA (201FF04028)
ILHAM NURFADILLAH (201FF04043)
SHOFIA HANI LATIFAH (201FF04049)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANABANDUNG


2021
MODUL I
PENENTUAN PANJANG GELOMBANG PENGUKURAN PADA
SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET

1. TUJUAN PRAKTIKUM
A. Dapat menggunakan dan mengoprasikan Spektrofotometri Ultraviolet.
B. Menentukan panjang gelombang serapan maksimum (λmaks) sebagai
panjang gelombang pengukuran.

(Shofia Hani Latifah 201FF04049)


2. PENDAHULUAN
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu
sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran
menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut
dengan spektrofotometri (Basset,1994).
Spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu,
monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu
alat untuk perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding.
spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi
tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi dari
panjang gelombang (Khopkar, 2010).
Spektroskopi adalah metode penelitian yang didasarkan pada interaksi antara
materi dengan cahaya. Bila materi disinari cahaya, maka ada kemungkinan
bahwa cahaya akan diserap, dihamburkan, dipantulkan, dibelokkan,atau
diubah sudut getarnya. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang
didasarkan pada absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi
terhadap kepekaan mata manusia. Gelombang dengan panjang berlainan akan
menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan
panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi
seluruh spektrum nampak 400-760 nm (Gandjar, 2007).
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna
pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator
prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube ( Underwood,2001).
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya
oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang
radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu
panjang gelombang tertentu, Keuntungan utama pemilihan metode
spektrofotometri bahwa metode ini memberikan metode sangat sederhana
untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil (Purwadi, 2007).
Syarat larutan yang dapat digunakan untuk analisis campuran dua komponen
adalah komponen-komponen dalam larutan tidak boleh saling bereaksi,
penyerapan komponen-komponen tersebut tiak sama, komponen harus
menyerap pada panjang gelombang tertentu. Cara kerja spektrofotometri
secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding,
misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis
pada sel kedua. Kemudian pilih fotosel yang cocok 200 nm-650 nm (650 nm-
1100 nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang fotosel
dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer dengan menggunakan tombol
dark-current. Pilih yang diinginkan, bukan fotosel dan lewatkan berkas
cahaya pada blangko dan “nol” galvanometer didapat dengan memutar
tombol sensitivitas (Rohman, 2012).
Parasetamol atau asetaminofen adalah turunan apara-aminophenol memiliki
khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan aktivitas antiradang yang lemah.
Parasetamol merupakan metabolit henasen dengan efek antipiretik yang
ditimbulkan oleh gugus aminobenzena dengan efek analgetik parasetamol
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Efek
antiinflamasi sangat lemah. Parasetamol diamsorgbsi cepat dan sempurna
melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam
waktu ½ jam dan masa penuh plasma antara 1-3 jam. Dalam plasma 25%
paracetamol terikat oleh plasa, dimetabolisme oleh enzim mikrosom dihati
(Sulistia, 2007)
(Maya Aulia Rahma 201FF04028)
3. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan
- Spektrofoto - Paraceta
metri uv mol
- Labu Ukur
10, 50, 1000 - Metanol
ml
- Timbangan
Analitik
- Pipet
Volume
- Pipet Tetes
- Beaker Glass
- Kertas Lensa

(Anisa Faradiva Rumi 201FF04022)


4. PROSEDUR
A. Perhitungan untuk pembuatan larutan baku paracetamol
Data absorptivitas paracetamol dari UV and IR Spectra

E1%⁄1 𝑐𝑚 paracetamol dalam methanol = 850


A = 0,434

A = E 1%⁄1 𝑐𝑚 . b . c
0,434 = 850 . 1. C
C = 0,434/850
C = 0,00051 % b/v
C = 0,00051 g/100 mL
C = 510 μg/100 mL
C = 5,1 μg/mL = 5,1 ppm → Dibulatkan 5 ug/mL (5 bpj)

B. Pembuatan Larutan Baku Parasetamol

Timbang seksama 50 mg paracetamol

Larutkan dengan sedikit metanol p.a. sampai larut dalam beaker glass

c = 1000 ug/mL

Pindahkan ke dalam labu takar 50 mL, kemudian add dengan metanol p.a. sampai
tanda

c = 10 ug/mL
Pipet 1 mL larutan 1000 ug/mL, pindahkan ke dalam labu takar 10 mL, kemudian
add dengan metanol p.a. sampai tanda

c = 5 ug/mL
Pipet 5 mL larutan 10 ug/mL, pindahkan ke dalam labu takar 10 mL, kemudian
add dengan metanol p.a. sampai tanda

C. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum (λmaks) Paracetamol

Nyalakan spectrophotometer UV dengan tekan tombol “ON” hingga layar menyala

Tunggu 5 – 10 menit sampai tulisan di layar OK semua

Aktifkan mode PC, Buka aplikasi UVProbe pada PC

Atur menjadi mode Spectrum pada toolbar di UVProbe


Tekan F4 pada spektrofotometer untuk mengaktifkan untuk mengkoneksikan
dengan fisik

Lalu tekan connect di aplikasi UVProbe

Atur rentang panjang gelombang 200-400 nm pada toolbar edit pilih method

Masukkan larutan blanko (metanol p.a.) ke dalam sel, untuklakukan


baselinegelombang (wavelength scan)

Lap area permukaan agar tidak basah

Ganti kuvet berisi blanko dengan sampel

Penentuan λ maksimum paracetamol

Masukkan larutan baku paracetamol 5 ug/mL ke dalam sel, kemudian lakukan


pemindaian panjang gelombang (wavelength scan)

Klik star

Lalu, klik icon “Peak pick” untuk mendapatkan data absorban semua puncak pada
spektrum

Amati, panjang gelombang yang menghasilkan absorban paling tinggi digunakan


sebagai panjang gelombang pengukuran dalam penetapan kadar paracetamol

(Sakina Istiqomah 201FF04015)


5. DATA PENGAMATAN
A. Perhitungan Untuk Pembuatan Baku Paracetamol
Menggunakan Hukum Lambert-Beer
A = e.b.c
Ket : A : absorbansi
e : absorptivitas
b : tebal kuvet (cm)
c : konsentrasi (%)
a. Diketahui
A : 0,434
Absorban yg baik : 0,2 – 0,8
𝐸11%
𝑐𝑚 Paracetamol : 850
Tebal kuvet : 1 cm

b. Ditanyakan
Konsentrasi akhir yang di buat?

A = 𝑬𝟏%
𝟏 𝒄𝒎 .b.c

0,434 = 850 . 1 . c
0,434
c = .1
850

= 0,00051 % 𝑏⁄𝑣
= 0,00051 g/100 ml
= 510 µg/100ml
= 5,1 µg/ml
= 5 ppm
B. Pembuatan Larutan Baku Paracetamol 5ppm
50 mg 50 mL
Jadi, 50mg/50mL = 50.000 μg/50mL
= 1.000 μg/mL
= 1.000 ppm
C. Data Hasil Percobaan
V1 C1 = V2 . C2
V1 . 1000 ppm = 10 mL . 10 ppm
100
V1 = 1000 mL

= 0,1 mL
= ~ 100 μL (ad 10 mL methanol)

(Ririt Sairuroh 201FF04013)


6. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu dilakukan penentuan panjang gelombang
serapan maksimun paracetamol menggunakan metode spektrofotometri UV-
VIS dengan alat yang digunakan yaitu spektrofotometer uv-vis. Adapun
prinsip dari spektrofotometri UV-VIS adalah interaksi yang terjadi antara
energy yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi
berupa molekul. Besar energy yang diserap tertentu dan menyebabkan
electron tereksitasi dari ground state ke keadaan tereksitasi yang memiliki
energi lebih tinggi.
Analisis kadar paracetamol dengan menggunakan spektrofotometer adalah
dikarenakan dilihat dari strukturnya diketahui bahwa paracetamol memiliki
gugus kromofor dan gugus auksokrom sehingga menyebabkan senyawa ini
dapat menyerap radiasi pada daerah UV (ultraviolet). Dalam suasana asam
spektrum ultraviolet paracetamol memiliki Panjang gelombang 245 nm.
Gugus auksokrom tidak menyerap pada panjang gelombang 200-800 nm,
namun mempengaruhi spektrum kromofor dimana auksokrom tersebut terikat
(Wiryawan dkk., 2008). Gugus auksokrom mengandung pasangan elektron
bebas yang disebabkan oleh terjadinya mesomeri kromofor. Yang termasuk
dalam gugus auksokrom ini adalah substituen seperti – OH, -NH2, -NHR dan –
NR2. Gugus ini akan memperlebar sistem kromofor dan menggeser
maksimum absorpsi kearah panjang gelombang yang lebih panjang (Roth dan
Blaschke, 1985).
Sebelum melakukan pengukuran Panjang gelombang paracetamol, terlebih
dahulu melihat atau mengacu pada literatur berapa puncak Panjang
gelombang maksimum dari sediaan paracetamol. Berdasarkan literatur UV
dan IR Spektra, Panjang gelombang paracetamol dilihat berdasarkan pelarut
yang digunakan yaitu memiliki 3 puncak yang berbeda dengan menggunakan
3 pelarut yang berbeda pula. 3 pelarut yang bisa digunakan dengan Panjang
maksimum yang berbeda antara lain NaOH, HCl dan Methanol. Pada
percobaan kali ini diambil salah satu pelarut yaitu methanol dengan serapan
maksimumnya di 247 nm dengan E1% 1cm dari paracetamol 850.
Berdasarkan data yang telah dilihat dari literatur maka dapat digunakan untuk
menghitung pembuatan larutan baku paracetamol sesuai dengan hukum
Lambert-Beer dimana absorban yang baik berada pada rentang 0,2-0,8 dan
absorban yang memiliki kesalahan fotometrik terkecil adalah 0,434. Hasil
perhitungan larutan baku paracetamol berdasarkan data diatas, didapatkan
konsentrasi 5 ppm karena larutan baku ini yang memiliki kesalahan
fotometrik terkecil sehingga dapat dilakukan untuk penentuan panjang
gelombang serapan maksimum dari paracetamol.
Selanjutnya untuk pembuatan larutan baku paracetamol dengan konsentrasi 5
ppm. Pertama-tama dilakukan penimbangan, namun tidak dapat dilakukan
penimbangan parasetamol sebanyak 5 µg/ml atau 5 ppm karena batas deteksi
timbangan analitik 50mg, maka dilakukan pengenceran dari larutan dengan
kadar 50mg/50ml didapat hasil 1000µg/ml ppm. Dari 1000µg/ml ppm
diencerkan ke 10µl/ml ppm sehingga dapat diambil 100µl/ml ppm untuk
pengenceran pertama. Selanjutnya, untuk pengenceran kedua, diambil
100µl/ml ppm menggunakan mikropipet kedalam labu ukur 10ml dan
dimasukan kembali ke dalam labu ukur 10ml sebanyak 5ml untuk
pengenceran ketiga. Kemudian ad kan sampai tanda batas dengan pelarut
metahol. Setelah itu larutan baku 5 ppm hasil pengenceran ini dapat
dimasukan kedalam kuvet kwarsa untuk diukur Panjang gelombang serapan
maksimumnya.
Di awal pengujian sampel terlebih dahulu dilakukan auto zero yaitu
menggunakan blanko. Dimana blanko merupakan pelarut yang digunakan
tanpa sampel artinya hanya methanol saja. Maksud dari autozero ini adalah
untuk menolkan serapan yang ada pada area UV-VIS yaitu UV 200-400nm
dan VIS 400-800nm, kemudian lakukan juga baseline untuk menolkan
serapan pada blanko supaya tidak ikut terbaca. Setelah itu sampel dimasukan
pada kuvet lalu dimasukan kedalam alat spektrofotometer dengan kuvet yang
bening dan bersih menghadap sumber sinar dan tutup alat spektrofotometer.
Dilanjutkan dengan lakukan pengaturan pada alat spektrofotmeter, tekan
tombol start untuk membaca panjang gelombang dan serapan akan muncul
pada alat spektrofotometer.
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, didapat panjang gelombang
yaitu pada 243,25 nm. Namun berdasarkan literatur yang harusnya
paracetamol dengan pelarut methanol memiliki Panjang gelombang 247,
mengalami hipsokropik. Hipsokropik adalah pergeseran panjang gelombang
dari Panjang gelombang yang tinggi ke panjang gelombang yang lebih kecil.
Meskipun demikian sampel dalam pengujian ini dapat
dikonfirmasi/diidentifkasikan sebagai paracetamol.

(Nazarul Mastura 201FF04010 dan Marselina Nedja 201FF04025)


7. KESIMPULAN
A. Digunakan dan dioperasikan spektrofotometri ultraviolet untuk penentuan
panjang gelombang serapan maksimun paracetamol.
B. Didapatkan panjang gelombang yaitu pada 243,25 nm. Namun berdasarkan
literatur yang harusnya paracetamol dengan pelarut methanol memiliki
panjang gelombang 247, sehingga dapat dikatakan mengalami mengalami
hipsokropik. Hipsokropik adalah pergeseran panjang gelombang dari
panjang gelombang yang tinggi ke panjang gelombang yang lebih kecil.
Meskipun demikian sampel dalam pengujian ini dapat
dikonfirmasi/diidentifkasikan sebagai paracetamol.
(I Made Gde Mas Bayu 201FF04024)
8. DAFTAR PUSTAKA
Gandjar, I.G &Rohman.A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, PustakaPelajar,
Yogyakarta.
Khopkar, S.M., 2010, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI-Press : Jakarta
Purwadi, A., 2007, Kimia, PT. Grasindo: Jakarta.
Rohman, A., 2012, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Roth, H., & G. Blasshe, 1995, Farmasi Analisis, terjemahan S. Kisman dan S.
Ibrahim, Cetakan II, Yogyakarta : Gajah Mada Univ. Press
Sudjadi, & Rohman, A., 2008, Analisis Kuantitatif Obat. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press
Sulistia, & Gunawan, 2007, Farmakologi dan Terapi, UI Press : Jakarta

(I Made Gde Mas Bayu 201FF04024)

Anda mungkin juga menyukai