Anda di halaman 1dari 8

Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Untuk mengetahui hukum-hukum islam dalam ilmu fiqih sebagaimana
yang telah mengutus Nabi Muhyammad Saw untuk menyampaikan agama
yang hak, memberi petunjuk kepada segenap manusia ke jalan kebaikan,
untuk kehidupan di dunia dan keselamatan di akherat.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menambah wawasan tentang ilmu fiqih
2. Untuk mengetahui sajauh mana perkembangannya
3. Untuk memberikan informasi yang mendalam tentang hal-hal yang
berkaitan dengan muzara’ah.

C. Alasan Memilih Judul


Dalam menyusun makalah ini penulis mengambil judul tentang
Muzara’ah, Musaqoh dan Mukharobah.
Sehubungan pengambilan judul diatas penulis akan mengemukakan
beberapa alasan, penulisan sesuai dengan judul yang dibuat.

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 1


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

BAB II
MUZARA’AH, MUSAQOH DAN MUKHAROBAH

A. Pengertian Muzara’ah
Muzara’ah yaitu paroan sawah atau ladang, seperdua, sepertiga atau
lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari petani (orang yang menggarap).
Mukhabaroh adalah paroan sawah atau ladang, seperdua, sepertiga
atau lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari yang punya tanah.
Sebagian ulama melarang paroan tanah semacam ini. Mereka
beralasan pada beberapa hadits yang melarang paroan tersebut. Hadits itu
ada dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim, di antaranya :

Artinya : “Rafi’ bin Khadij berkata, “Diantara Ansor yang paling banyak
mempunyai tanah adalah kami, maka kami persewakan, sebagian
tanah untuk kamidan sebagian untuk mereka yang
mengerjakannya. Kadang-kadang sebagian tanah itu berhasil baik,
dan yang lain tidak berhasil. Oleh karena itu, Rasulullah Saw
melarang paroan dengan cara demikian.” (Riwayat Bukhori)

Ulama yang lain berpendapat tidak ada halangan. Pendapat ini dikuatkan
oleh Nawawi, Ibnu Munzir dan Khattobi; mereka mengambil alasan hadits
Ibnu Umar :

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 2


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

Artinya : Dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya Nabi Saw telah memberikan kebun
beliau kepada penduduk Khaibar agar dipelihara oleh mereka
dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilan
baik dari buah-buahan maupun dari hasil pertahunan (Parawija).”
(Riwayat Muslim).

Adapun hadits yang melarang tadi maksudnya hanya “apabila penghasilan


dari sebagian tanah ditentukan mesti kepunyaan salah seorang di antara
mereka. Karena memang kejadian di masa dahulu itu mereka memarokan
tanah dengan syarat akan mengambil penghasilan dari sebagian tanah
yang lebih subur, persentase bagian masing-masing pu tidak diketahui.
Keadaan inilah dilarang oleh junjungan kita Nabi Saw dalam hadits
tersebut, sebab pekerjaan demikian bukanlah dengan cara adil dan insaf.
Pendapat ini pun dikuatkan dengan alasan bila dipandang dari segi
kemaslahatan dan kebutuhan orang banyak. Memang, kalau kita selidiki
hasil dari adanya paroan ini terhadap umum, sudah tentu kita akan lekas
mengambil keputusan yang sesuai dengan pendapat yang kedua ini.

B. Musaqoh
Musaqoh ialah pemilik kebun yang memberikan kebunnya kepada
tukang kebun agar dipeliharanya, dan penghasilan yang didapat dari kebun
itu dibagi antara keduanya, menurut perjanjian keduanya sewaktu akad.
Akad ini diharuskan (diperbolehkan) oleh agama karena banyak yang
membutuhkannya. Memang banyak orang yang mempunyai kebun, tetapi
tidak dapat memeliharanya; sedangkan yang lain tidak mempunyai kebun,
tetapi sanggup bekerja. Maka dengan adanya peraturan ini keduanya dapat

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 3


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

hidup dengan baik, hasil negara pun bertambah banyak dan masyarakat
bertambah makmur.

Artinya : “Dari Umar, “Sesungguhnya Nabi Saw telah memberikan kebun


beliau kepada penduduk Khaibar agar dipelihara oleh mereka
dengan perjanjian. Mereka akan diberi sebagian dari
penghasilannya, baik dari buah-buahan atau pun hasil pertahun
(palawija).” (Riwayat Muslim).

1. Rukun Musaqoh
a. Baik pemilik kebun maupun tukang kebun (yang mengerjakan), keduanya
hendaklah orang yang sama-sama berhak ber-tasarruf (membelanjakan)
harta keduanya
b. Kebun, yaitu semua pohon yang berbuah, boleh diparokan; demikian juga
hasil pertahun (palawija) boleh juga diparokan, menurut hadits tersebut
diatas. Yang kita maksud dengan ”hasil pertahunan” atau palawija ialah
semua tanaman yang hanya berbuah satu kali; sesudah berbuah satu kali
itu pohonnya lalu mati, misalnya padi, jagung dan sebagainya. Tanaman
ini kita bedakan dengan buah-buahan yang lain karena hukumnya sering
berbeda.
c. Pekerjaan, hendaklah ditentukan masanya, misalnya satu tahun, dua
tahun atau lebih, sekurang-kurangnya kira-kira menurut kebiasaan masa
itu kebun sudah mungkin berbuah. Pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh
tukang kebun ialah semua pekerja –pekerja yang bersangkutan dengan
penjagaan kerusakan dan pekerjaan (perawatan yang berfaedah) untuk
buah, seperti menyiram, merumput dan mengawinkannya.

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 4


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

d. Buah, hendaklah ditentukan dengan bagian masing-masing (yang punya


kebun dan tukang kebun), misalnya seperdua, sepertiga, atau berapa saja
asal berdasarkan kesepakatan keduanya pada waktu akad.

2. Zakat paroan sawah atau ladang


Zakat hasil paroan ini diwajibkan atas orang yang punya benih. Jadi,
pada muzara’ah yang diwajibkan zakat petani penggarap, sebab pada
hakekatnya dialah yang bertanam, yang tanah seolah-olah mengambil sewa
tanahnya , sedangkan penghasilan dari sewaan tidak wajib dikeluarkan
zakatnya.
Adapun pada mukhabarah, zakat diwajibkan atas yang punya tanah
karena pada hakekatnya dialah yang bertanam, petani hanya mengambil
upah pekerja. Penghasilan yang didapat dari upah tidak wajib dibayar
zakatnya. Kalau benih dari keduanya, zakat diwajibkan atas keduanya,
diambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi.

3. Mempersewakan
Mempersewakan ialah akad atas manfaat (jasa) yang dimaksud lagi
diketahui, dengan tukaran yang diketahui, menurut syarat-syarat yang akan
dijelaskan kemudian.
Firman Allah SWT:

Artinya : “Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka


berikanlah kepada mereka upahnya.” (At-Talaq : 6)

Hadits Rasulullah Saw. :

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 5


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah berbekam kepada


seseorang, dan beliau memberi upah tukang bekam itu.”
(Riwayat Bukhori dan Muslim)

4. Rukun Mempersewakan
a. Ada yang menyewa dan yang mempersewakan. Syaratnya adalah :
 Berakal
 Kehendak sendiri (bukan dipaksa)
 Keduanya tidak bersifat mubazir
 Baligh (minimal berumur 15 tahun)
Syarat-syarat ini semuanya sama seperti syarat penjual dan pembeli.
b. Sewa. Disyaratkan keadaannya diketahui dalam beberapa hal:
 Jenisnya
 Kadarnya
 Sifatnya
c. Manfaat. Syarat manfaat:
 Manfaat yang berharga. Manfaat yang tidak berharga adakalanya
karena sedikitnya, misalnya menyewa mangga untuk dicium baunya,
sedangkan mangga itu untuk dimakan. Atau karena ada larangan dari
agama, misalnya menyewakan seseorang untuk membinasakan orang
lain.
 Keadaan manfaat dapat diberikan oleh yang mempersewakan.
 Diketahui kadarnya, dengan jangka waktu seperti menyewa rumah
satu bulan atau satu tahun; atau diketahui dengan pekerjaan, seperti
menyewa mobil dari Jakarta sampai ke Bogor, atau menjahit satu stel
jas. Kalau pekerjaan itu tidak jelas kecuali dengan beberapa sifat,
harus diterangkan semuanya; membuat dinding umpamanya, harus
diterangkan terbuat dari apa, dari kayu atau dari batu, berapa
panjangnya, berapa pula lebar dan tebalnya.

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 6


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Muzara’ah yaitu paroan sawah atau ladang, seperdua, sepertiga atau
lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari petani (orang yang
menggarap).
2. Mukhabaroh adalah paroan sawah atau ladang, seperdua, sepertiga atau
lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari yang punya tanah.
3. Musaqoh ialah pemilik kebun yang memberikan kebunnya kepada tukang
kebun agar dipeliharanya, dan penghasilan yang didapat dari kebun itu
dibagi antara keduanya, menurut perjanjian keduanya sewaktu akad.
4. Mempersewakan ialah akad atas manfaat (jasa) yang dimaksud lagi
diketahui, dengan tukaran yang diketahui, menurut syarat-syarat yang
akan dijelaskan kemudian.
5. Rukun Mempersewakan
a. Ada yang menyewa dan yang mempersewakan.
b. Sewa.
c. Manfaat.
d. Diketahui kadarnya

B. Saran-saran
Kepada pembaca makalah ini hendaknya dapat bersifat objektif agar
bergerak hati dalam bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan dapat
pula membedakan tingkah laku yang harus dilakukan dan mana yang tidak
harus dilakukan.

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 7


Beti Makalah/Fiqih II/Semester II

DAFTAR PUSTAKA

Sufyana, Li, Drs. 2004. Fiqih Mu’amalah. Bandung : Sinar Baru Algensindo

Rasyid, Sulaiman, H. 2005. Fiqih Islam. Bandung : Sinar Baru Algensindo

Institut Agama Islam Banten (IAIB) Kampus Sidayu 8