Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH ETIKA UANG (MONEY ETHICS) TERHADAP

KECURANGAN PAJAK (TAX EVASION) DENGAN


RELIGIUSITAS, GENDER, DAN MATERIALISME
SEBAGAI VARIABEL MODERASI
(Studi pada WP OP yang Melakukan Kegiatan Usaha
atau Pekerjaan Bebas di Pekanbaru)

Oleh:
Ihsanul Hafizhah
Pembimbing: Yessi Mutia Basri dan Rusli

Faculty of Economics Riau University, Pekanbaru, Indonesia


e-mail: fy2.hafizhah@gmail.com

The Effect of Money Ethics Toward Tax Evasion with Religiosity, Gender, and
Materialism as A Moderating Variable

ABSTRACT

The objective of the study therefore is to examine the relationship between


money ethics and tax evasion as well as investigating the moderating effect of
religiosity (intrinsic and extrinsic), gender, and materialism on the relationship .
The population in this study is individual taxpayer that conducting business or
employment free in Pekanbaru. Data this study uses primary data directly through
a questionnaire. The data were analyzed to test the hypothesis using a simple
linear regression analysis and Moderated Regression Analysis (MRA). Results
from this study indicate that the first, the money ethics was related to tax evasion
with t count 3,260,<t table 2,002 and significant 0,002>0,05. Second, intrinsic
religiosity was moderate the relationship between money ethics and tax evasion
with t count (-2,379),<t table (-2,003) and significant 0,021>0,05. Third, extrinsic
religiosity was not moderate the relationship between money ethics and tax
evasion. Fourth gender was moderate the relationship between money ethics and
tax evasion with t count (-2,758),<t table (-2,003) and significant 0,008>0,05, the
fifth materialism was moderate the relationship between money ethics and tax
evasion with t count 8,010,<t table 2,003 and significant 0,000>0,05.

Keywords: Tax Evasion, Money Ethics, Religiosity, Gender,and Materialism

PENDAHULUAN

Negara Indonesia memiliki “keadilan sosial bagi seluruh rakyat


kewajiban untuk mensejahterakan Indonesia”. Yang memiliki makna
rakyatnya sebagaimana yang bahwa pemerintah harus
diamanatkan dalam dasar negara mewujudkan kesejahteraan untuk
republik Indonesia sila ke lima rakyatnya, memfokuskan pada

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1652


kemakmuran rakyatnya dengan cara mendorong terjadinya perilaku
melakukan pembangunan nasional kecurangan pajak. Etika dan perilaku
yang merupakan salah satu pengukur seseorang akan mendorong individu
tingkat kesejahteraan negara, untuk membayar pajak atau malah
pembangunan yang berupa fisik bersikap negatif dengan melakukan
(infrastruktur) maupun kualitas. kecurangan pajak (Kirchler et al.,
Guna mewujudkan kesejahteraan 2008).
tersebut pemerintah tentunya Tang (2002) mengatakan
memerlukan sumber dana yang tepat bahwa etika uang (money ethic)
dalam membiayai pembangunan dan seseorang memiliki pengaruh yang
belanja negara salah satunya yaitu signifikan dan langsung pada
melalui pemungutan pajak. Seiring perilaku yang tidak etis.Kecintaan
berjalannya waktu, semakin yang tinggi terhadap uang membuat
bertambahnya penduduk yang mereka bersedia melakukan hal-hal
dibarengi dengan bertambahnya yang tidak dibenarkan seperti tindak
wajib pajak, berkembangnya kecurangan pajak.
ekonomi diharapkan penerimaan Cara seseorang menilai sesuatu
pajak sebagai salah satu sumber itu etis atau tidak etis dilakukannya
pendapatan negara semakin kecurangan pajak tidak terlepas dari
meningkat dalam penerimaannya, keyakinan yang dianutnya.Komitmen
namun pada kenyataannya seseorang terhadap agama akan
penerimaan pajak sebagai mempengaruhi perilakunya. Allport
pendapatan negara mengalami dan Ross (1967) membagi
penurunan, Meski tetap sebagai religiusitas ke dalam dua dimensi
sumber utama penerimaan negara, yaitu religiusitas intrinsik dan
peran pajak dalam APBN mulai religiusitas ekstrinsik.Religiusitas
sedikit menurun, dari IERO intrinsik dideskripsikan sebagai
macroeconomic dashboard FEB seseorang yang termotivasi secara
UGM diketahui tingkat target intrinsik (dari dalam) untuk
penerimaan pajak dari tahun 2012- menjalani komitmen terhadap agama
2014 meningkat yaitu sebesar 1.033 yang dianutnya serta melihat iman
triliun – 1.193 triliun – 1.280 triliun, sebagai sesuatu yang terintegrasi
namun pada realisasinya malah yang mengarahkan pada nilai-nilai
menurun dari dua tahun sebelumnya dalam agama tersebut, sementara
yaitu 78,74% - 77,99% - 76,80%. religiusitas ekstrinsik adalah sugestif
Salah satu penyebab penurunan memiliki agama untuk alasan sebagai
penerimaan pajak negara adalah individu seperti untuk kepentingan
praktek kecurangan pajak.Maraknya bisnis. Lau, Choe, dan Tan (2013)
kasus kecurangan pajak yang terjadi menemukan bahwa religiusitas
di Indonesia menyebabkan intrinsik memoderasi hubungan etika
berkurangnya tingkat penerimaan uang dan kecurangan pajak,
negara dari pajak.Berbagai teori telah sementara religiusitas ekstrinsik
dikemukakan untuk merespon tidak memoderasi hubungan
kejahatan pajak. Selain pendekatan keduanya.
ekonomi klasik faktor psikologi juga

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1653


Penelitian terhadap gender juga 2)Apakah religiusitas instrinsik
telah dilakukan untuk melihat memoderasi pengaruh etika uang
pengaruh gender terhadap kecintaan terhadap kecurangan pajak 3)Apakah
terhadap uang dan perilaku etis religiusitas ekstrinsik memoderasi
kecurangan pajak. Tang et al., (2000) pengaruh etika uang terhadap
menemukan bahwa karyawan laki- kecurangan pajak 4)Apakah gender
laki lebih mementingkan uang memoderasi pengaruh etika uang
dibanding perempuan. Basri (2015) terhadap kecurangan pajak
menemukan bahwa jenis kelamin 5)Apakah materialisme memoderasi
berpengaruh terhadap love of pengaruh etika uang terhadap
moneydan kecurangan pajak. kecurangan pajak.
Selain etika uang, religiusitas, Dengan memperhatikan latar
dan gender, variabel lainnya yang belakang dan rumusan masalah di
mempengaruhi sikap etis seseorang atas, maka tujuan dari penelitian ini
terhadap tindakan kecurangan pajak adalah 1)Untuk menguji dan
adalah materialisme.Manoe (2014) mengetahui ada atau tidaknya
mengatakan materialisme memiliki pengaruh etika uang terhadap
pengaruh negatif terhadap pandangan kecurangan pajak 2)Untuk menguji
akan peran etika dan TJSP, yang dan mengetahui ada atau tidaknya
berarti semakin tinggi materialisme pengaruh moderasi religiusitas
seseorang maka etika yang dimiliki intrinsik terhadap etika uang dan
akan rendah maka kemungkinan kecurangan pajak 3)Untuk menguji
untuk melakukan kecurangan pajak dan mengetahui ada atau tidaknya
tinggi. pengaruh moderasi religiusitas
Penelitian ini bertujuan untuk ekstrinsik terhadap etika uang dan
menguji pengaruh etika uang (money kecurangan pajak 4)Untuk menguji
ethic) terhadap kecurangan pajak dan mengetahui ada atau tidaknya
(tax evasion) dengan menggunakan pengaruh moderasi gender terhadap
religiusitas, gender, dan materialisme etika uang dan kecurangan pajak
sebagai variabel moderasi. Penelitian 5)Untuk menguji dan mengetahui
ini merupakan replikasi dari ada atau tidaknya pengaruh moderasi
penelitianBasri (2014) yang hanya materialisme terhadap etika uang dan
menguji religiusitas dan gender kecurangan pajak.
sebagai variabel yang ikut
mempengaruhi hubungan etika uang TELAAH PUSTAKA
(money ethic) dengan kecurangan
pajak (tax evasion).Penelitian ini Kerangka Pemikiran dan
menambahkan satu variabel Pengembangan Hipotesis
moderasi materialisme sebagai saran Pengaruh Money ethics terhadap
dari penelitian sebelumnya. kerucangan pajak
Berdasarkan latar belakang Mardiasmo(2011)mengklasifik
diatas, maka rumusan masalah dalam asikan kecurangan pajak ke dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut: hambatan yang dihadapi pihak DJP
1)Apakah etika uang berpengaruh dalam pemungutan pajak yang
signifikan terhadap kecurangan pajak termasuk dalam jenis perlawanan

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1654


aktif yaitu meliputi semua usaha dan kecurangan pajak sebagai perilaku
perbuatan secara langsung ditujukan tidak etis jika sistem perpajakan,
kepada fiskus dengan tujuan untuk keadilan terpenuhi sesuai dengan
menghindari pajak denga cara hasil penelitian yang dilakukan
melanggar undang-undang. Izza;Hamzah (2009) Menurut
Tang (2002) menjelaskan perspektif Islam, kecurangan pajak
bahwa love of money tinggi akan dianggap tidak beretika. Seseorang
mengarah kepada prilaku tidak etis. dengan orientasi religiusitas
Orang yang mencintai uang sangat instrinsik akan menganggap bahwa
tinggi cenderung tidak akan mau money ethics dan kecurangan pajak
mengeluarkan uang untuk sesuatu itu akan selalu tidak etis dengan
yang tidak memberikan imbalan alasan apapun, meraka menganggap
balik kepadanya sementara pajak bahwa uang bukan segala-galanya
merupakan iuran wajib yang disetor dalam pemenuhan kebutuhan
ke kas negara tanpa jasa timbal balik mereka, karena individu dengan
atau kontraprestasi secara langsung religiusitas intrinsik akan
ke wajib pajak. Hal ini menimbulkan merelevansikan kebutuhannya
keinginan pada diri wajib pajak dengan motivasi dan makna-makna
untuk melakukan kecurangan pajak religius yang diyakininya. Maka
baik dengan tidak membayar pajak hipotesis yang diambil adalah:
ataupun melaporkan pajak dengan H2: Pengaruh Religiusitas ekstrinsik
nilai yang tidak benar. Maka sebagai variabel moderating
hipotesis yang diambil adalah: dalam hubungan antara money
H1:Money ethics berpengaruh ethics dan etika kecurangan
terhadap kecurangan pajak pajak
pajak
Pengaruh Religiusitas Ekstrinsik
Pengaruh Religiusitas Intrinsik sebagai variabel moderating dalam
sebagai variabel moderating dalam hubungan antara money ethics dan
hubungan antara money ethics dan kecurangan pajak
kecurangan pajak
Menurut Allport (1950), Menurut Allport (1950)
Seseorang yang mempunyai Religiusitas ekstrinsik
religiusitas intrinsik adalah orang menggambarkan peranan agama dari
yang menjadikan agama sebagai luar sebagai dukungan sosial.
tujuan hidupnya. Orang yang Individu yang memiliki religiusitas
mempunyai orientasi religiusitas ekstrinsik akan menggunakan
intrinsik akan menjadikan agama agamanya sebagai alat untuk
sebagai tolak ukur dalam memenuhi kepentingan pribadinya
menjalankan hidup yaitu dengan untuk pemuasan dirinya sendiri.
menginternalisasi nilai-nilai dari Pribadi seperti ini akan termotivasi
keyakinan agamanya dalam setiap jika ada faktor duniawi yang menurut
perbuatan yang dilakukannya sehari- dia menguntungkan. Uang menjadi
hari. Perspektif dari berbagai agama sangat penting untuk memenuhi
rata-rata sama yaitu menganggap kebutuhan hidup, mereka akan

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1655


mencari-cari alasan atau cara untuk materialisme cenderung memiliki
mendukung kepentingan bisnisnya. keinginan untuk memiliki banyak
Maka hipotesis yang diambil adalah: uang untuk memenuhi kebutuhannya
H3: Religiusitas ekstrinsik akan barang-barang mewah sebagai
memoderasi pengaruh money ajang menunjukkan jati dirinya.
ethics terhadap kecurangan Manoe (2014) mengatakan
pajak materialisme memiliki pengaruh
negatif terhadap pandangan akan
Pengaruh gender sebagai variabel peran etika dan TJSP, yang berarti
moderating dalam hubungan semakin tinggi materialisme
antara money ethics dan seseorang maka etika yang dimiliki
kecurangan pajak akan rendah, rendahnya etika akan
Beberapa penelitian meningkatkan kemungkinan untuk
menunjukkan bahwa perempuan melakukan kecurangan pajak. Maka
memiliki tingkat keyakinan yang hipotesis yang diambil adalah:
lebih tinggi terhadap etika, H5: Materialisme memoderasi
sedangkan laki-laki memiliki tingkat pengaruh money ethics
keyakinan lebih rendah terhadap terhadap kecurangan pajak
etika. Dengan kata lain, perempuan
sering dianggap lebih etis daripada METODE PENELITIAN
laki-laki. Salah satu penjelasan yang
sering digunakan untuk menjelaskan Populasi dalam penelitian ini
perbedaan tersebut adalah sosialisasi adalah WP OP yang melakukan
laki-laki dan perempuan yang kegiatan usaha dan pekerjaan bebas
beragam, laki-laki diajarkan untuk di Kota Pekanbaru. Jumlah sampel
menekankan persaingan sedangkan yang diteliti adalah sejumlah 60
wanita diajarkan untuk menekankan sampel. Jenis data penelitian ini
hubungan sosial (Beutell dan merupakan penelitian primer. Teknik
Brenner, 1984). Maka hipotesis yang pengumpulan data dalam penelitian
diambil adalah: ini menggunakan kuesioner. Metode
H4: Gender memoderasi pengaruh analisis data yang di gunakan di
money ethics terhadap dalam penelitian diantaranya uji
kecurangan pajak validitas data, uji reliabilitas, uji
normalitas, uji multikolonearitas, uji
Pengaruh materialisme sebagai autokorelasi, uji heteroskedastisitas,
variabel moderating dalam uji hipotesis, dan koefesien
2
hubungan antara money ethics dan determinasi (R ). Pengolahan data
kecurangan pajak menggunakan analisis regresi linear
Penelitian menunjukkan sederhana dan MRA.
bahwa orang dengan nilai-nilai
materialistis cenderung menjadi Defenisi Operasional dan
pemboros besar barang mewah dan Pengukuran Variabel
mahal (Trojsi et al 2006;. Watson Penelitian ini menggunakan
2003), hal tersebut memberikan arti variabel kecurangan pajak (Y),
bahwa orang yang memiliki sifat variabel independen yaitu etika uang

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1656


(X1), dan variabel moderasi yaitu cenderung lebih berkomitmen,
religiusitas intrinsik (X2), religiusitas agama menjadi pengatur hidup
ekstrinsik (X3), gender (X4), dan mereka serta sebagai pusat
materialisme (X5). pengalaman pribadi.Religiusitas
Intrinsik diukur menggunakan
Kecurangan Pajak (Y) Religious Orientation Scale (ROS)
Kecurangan pajak adalah yang dikemukakan oleh Allport dan
tindakan yang dilakukan untuk tidak Ross (1967). Indikator yang
membayar sebagian atau seluruh digunakan adalah Personal,
utang pajak yang ditanggungnya Unselfish, Relevansi terhadap
dengan cara melanggar peraturan seluruh kehidupan, Kepenuhan
perpajakan yang berlaku.Indikator terhadap penghayatan keyakinan,
kecurangan pajak adalahSistem Keteraturan penjagaan
Pajak,Keadilan Pajak, Diskriminasi. perkembangan iman, Asosiasional,
kecurangan pajak diukur dengan Ultimate
menggunakan kuisioner tax evasion Skala yang digunakan untuk
yang diadaptasi dari Mc Gee (2005) mengukur variabel religiusitas
dan Basri (2014). Skala yang intrinsik yaitu dengan skala likert
digunakan untuk mengukur etika lima poin yaitu 1 (sangat tidak
kecurangan yaitu dengan skala likert setuju) sampai 5 (sangat setuju).
lima poin yaitu 1 (sangat tidak
setuju) sampai 5 (sangat setuju). Religiusitas Ekstrinsik (X3)
Menurut Allport (1950),
Etika Uang (X1) seseorang yang mempunyai
Etika uang adalah religiustas ekstrinsik adalah orang
pengukuran perbedaan interprestasi yang menggunakan agamanya untuk
tiap individu dalam menilai arti uang mencapai tujuan mereka sendiri
dalam kehidupannya. Etika uang seperti orang yang pergi ke tempat
memiliki indikator sebagai adalah ibadah dengan tujuan untuk dilihat
Good(baik), Evil (jahat),Achievement orang atau sebagai status sosial.
(pencapaian),Respect/self- Religiusitas ekstrinsik diukur
esteem(rasa hormat/kepercayaan menggunakan Religious Orientation
diri),Freedom/power(kebebasan/kep Scale (ROS) yang dikemukakan oleh
uasaan), dan Budget (penganggaran). Allport dan Ross (1967).Indikator
Skala pengukuran etika uangdengan yang digunakan adalahInstitusional,
menggunakan skala likert 5 poin Selfish, Kompartemental,
yaitu 1 (sangat tidak setuju) sampai 5 Instrumental, Komunal, Perhatian
(sangat setuju). perkembangan iman yang bersifat
periferal dan kausal.Skala yang
Religiusitas Intrinsik (X2) digunakan untuk mengukur variabel
Menurut Gordon Allport, religiusitas intrinsik yaitu dengan
seseorang yang mempunyai skala likert lima poin yaitu 1 (sangat
religiusitas intrinsic adalah orang tidak setuju) sampai 5 (sangat
yang menganggap agamanya sebagai setuju).
tujuan hidup (end in itself). Mereka

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1657


Gender (X4) Analisis statistik deskriptif
Dalam penelitian ini jenis akan memberikan gambaran atau
kelamin yang dimaksud adalah laki – deskripsi suatu data yang dilihat dari
laki dan perempuan. Tidak ada nilai minimum, maksimum, rata–rata
pengukuran yang spesifik dalam hal (mean), dan standar deviasi yang
penilaian jenis kelamin, pengukuran dihasilkan dari variabel penelitian.
tersebut digunakan untuk mengetahui
apakah ada pengaruh yang berbeda
terhadap tingkat etik uang(money
Tabel 1
ethics) dengan persepsi kecurangan
Statistik Deskriptif
pajak berdasarkan perbedaan jenis
kelamin.Untuk pengukuran variabel
jenis kelamin dilakukan dengan Min Max Std.
menggunakan variabel dummy, yaitu imu imu Me Devia
untuk perempuan diberi kode 0 dan N m m an tion
laki – laki diberi kode 1. Kecurang 60 22.0 75.0 42.6 12.743
anPajak 0 0 333 85
Materialisme (X5) Money 60 35.0 65.0 52.6 8.4112
Penelitian menunjukkan Ethics 0 0 167 3
bahwa orang dengan nilai-nilai Religiusit 60 27.0 39.0 35.1 3.3349
materialistis cenderung menjadi asIntrinsik 0 0 167 3
pemboros besar barang mewah dan Religiusit 60 31.0 55.0 43.7 6.1908
mahal (misalnya, Trojsi et al 2006;. asEkstrins 0 0 500 2
Watson 2003). Manoe (2014) ik
mengatakan materialisme memiliki Gender 60 .00 1.00 .516 .50394
pengaruh negatif terhadap pandangan 7
akan peran etika dan TJSP, yang Materialis 60 16.0 45.0 26.7 6.0788
berarti semakin tinggi materialisme me 0 0 833 4
seseorang maka etika yang dimiliki
Valid N 60
akan rendah maka kemungkinan (listwise)
untuk melakukan kecurangan pajak Sumber : Data Primer Olahan, 2015
akan tinggi.Indikator yang digunakan
adalah kesuksesan(success),
sentralisasi (centrality), Hasil Uji Kualitas Data
kesejahteraan dalam hidup 1. Hasil Uji Validitas
(happiness). Skala yang digunakan Suatu instrumen dikatakan
untuk mengukur variabel valid apabila instrumen tersebut
materialisme yaitu dengan skala dapat digunakan untuk mengukur
likert lima poin yaitu 1 (sangat tidak apa yang seharusnya diukur
setuju) sampai 5 (sangat setuju). (Sugiyono, 2010). Uji validitas
digunakan untuk mengukur sah atau
HASIL PENELITIAN DAN tidaknya suatu kuesioner. Uji
PEMBAHASAN validitas bertujuan untuk menguji
kualitas kuisioner. Suatu kuesioner
Analisis Hasil Deskriptif dikatakan valid apabila pertanyaan

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1658


pada kuesioner mampu untuk yang sama akan menghasilkan data
mengungkapkan sesuatu yang akan yang sama (Sugiyono, 2010). Uji
diukur oleh kuesioner tersebut. reliabilitas digunakan untuk
Pengujian validitas ini menggunakan mengukur suatu kuesioner yang
corrected item-total correlation merupakan indikator dari variabel
yaitu dengan cara mengkorelasikan atau konstruk. Menurut Ghozali
masing-masing skor item dengan (2006) suatu kuesioner dikatakan
skor total dan melakukan korelasi reliabel jika jawaban seseorang
terhadap nilai koefesien korelasi terhadap pertanyaan adalah konsisten
yang overestimasi. antara nilai yang atau stabil dari waktu ke
diperoleh dari pertanyaan- waktu.Pengujian ini dilakukan
pertanyaan. Melihat validitas untuk dengan menghitung koefisien
masing-masing butir pertanyaan cronbach’s alpha dari masing –
dalam kuisioner dapat dilihat dari masing instrumen dalam suatu
nilai correlated Item atau variabel. Jika nilai cronbach’s alpha
membandingkan r hitung dengan r lebih besar dari 0,60 maka instrumen
tabeldengan kriteria sebagai berikut : tersebut dapat dikatakan reliabel atau
Jika r hitung lebih besar dari r andal untuk digunakan (Ghozali,
tabel maka item pertanyaan 2006). Semakin dekat koefisien
atau pernyataan dalam angket keandalan dengan 1,0 maka semakin
berkorelasi signifikan terhadap baik. Secara umum, keandalan
skor total yang artinya item kurang dari 0,6 dianggap buruk,
angket dinyatakan valid. keandalan dalam kisaran 0,7 bisa
Jika r hitung lebih kecil dari r diterima, dan lebih dari 0,8 adalah
tabel, maka item pertanyaan baik (Sekaran, 2006).
atau pernyataan dalam angket Berdasarkan hasil pengujian
tidak berkorelasi signifikan reliabilitas data untuk setiap variabel,
terhadap skor total yang artinya diperoleh hasil Cronbach alpha lebih
item angket dinyatakan tidak besar dari alpha 0,6 yang berarti
valid. bahwa alat ukur yang digunakan
Hasil pengujian validitas data dalam penelitian ini adalah reliabel
untuk semua butir pertanyaan pada atau dapat dipercaya.
kecurangan pajak, etika uang,
religiusitas intrinsik, religiusitas Hasil Uji Asumsi Klasik
ekstrinsik, gender, dan materialisme 1. Hasil Uji Normalitas
memiliki rhitung > rtabel, dimana rtabel Uji normalitas bertujuan untuk
sebesar 0,254. Jadi dapat menguji apakah dalam model regresi,
disimpulkan bahwa masing - masing variabel terikat, variabel bebas atau
item pertanyaan dalam variabel keduanya mempunyai distribusi
penelitian ini dinyatakan valid. normal atau tidak. Model regresi
yang baik adalah memiliki distribusi
1. Hasil Uji Reabilitas data normal atau penyebaran data
Instrumen yang reliabel adalah statistik pada sumbu diagonal dari
instrumen yang bila digunakan grafik distribusi normal
beberapa kali untuk mengukur objek Ghozali,2006). Pengujian normalitas

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1659


dalam penelitian ini digunakan dalam model regresi terjadi
dengan melihat normal probability ketidaksamaan varian dari satu
plot yang membandingkan distribusi pengamatan ke pengamatan yang
kumulatif dari data sesungguhnya lain (Ghozali,2006). Cara
dengan distribusi kumulatif dari data mendeteksinya adalah dengan
normal. melihat ada tidaknya pola tertentu
Berdasarkan pengujian pada grafik Scatterplot antara
statistik menunjukkan bahwa nilai SRESID dan ZPRED, di mana
dari Kolmogorov-Smirnov adalah sumbu Y adalah Y yang telah
1,141 dengan signifikansi yang lebih diprediksi, dan sumbu X adalah
besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,148 residual (Y prediksi – Y
maka dapat dikatakan bahwa data sesungguhnya) yang telah di-
berdistribusi normal dan model standardized (Ghozali,2001).
regresi layak dipakai untuk Berdasarkan hasil uji
memprediksi kecurangan pajak heteroskedastisitas, terlihat bahwa
berdasarkan masukkan variabel data tersebar dan tidak tampak
independennya. adanya suatu pola tertentu pada
sebaran data tersebut. Maka dapat
2. Hasil Uji Multikolonieritas disimpulkan bahwa tidak terdapat
Uji multikolinearitas bertujuan hetero-kedastisitas.
untuk menguji dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar 4. Hasil Uji Autokorelasi
variabel-variabel bebas (Ghozali, Menguji autokorelasi dalam
2006). Dalam penelitian ini teknik suatu model bertujuan untuk
untuk mendeteksi ada atau tidaknya mengetahui ada tidaknya korelasi
multikolinearitas di dalam model antara variabel pengganggu pada
regresi adalah melihat dari nilai periode tertentu dengan variabel
VarianceInflation Factor (VIF), dan pengganggu pada periode
nilai tolerance. Apabila nilai sebelumnya. Untuk mendeteksi ada
tolerance mendekati 1, serta nilai atau tidak autokorelasi dapat
VIF di sekitar angka 1 serta tidak dilakukan dengan melihat nilai
lebih dari 10, maka dapat Durbin-Watson. (Santoso 2007)
disimpulkan tidak terjadi mengatakan bahwa deteksi adanya
multikolinearitas antara variabel autokorelasi secara umum jika angka
bebas dalam model regresi D-W diantara -2 sampai +2, berarti
Berdasarkan pengujian statistik tidak ada autokorelasi.
diperoleh bahwa untuk setiap Berdasarkan pengujian statistik
variabel independennya memiliki diketahui bahwa nilai dhitung (Durbin-
nilai tolerance> 0,1 dan nilai VIF < Watson) terletak antara -2 dan +2= -2
10. Dengan demikian dapat diketahui < 1,591< 2. Dapat disimpulkan
bahwa tidak ada multi- kolonieritas. bahwa tidak ditemukannya
autokorelasi dalam model regresi.
3. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas Hasil Analisis Regresi Linier
bertujuan untuk menguji apakah Berganda

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1660


Berdasarkan pengujian yang taraf signifikansi 5 % (2-tailed)
dilakukan, diperoleh persamaan dengan persamaan n – k – 1: alpha/
regresi linier sederhana dan MRA 2= 60–3 – 1: 0,05/ 2= 56 : 0,025=
dalam penelitian ini sebagai berikut: ‒ 2,003 / 2,003 dimana n adalah
Y = 74,001+ 0,596 X1+e jumlah sampel, k adalah jumlah
Y=(-228,607)+3,937X1+8,234X2+(- variable bebas dan1 adalah konstan.
0,22)X1.X2
Y=22,493+0,284X1+65,308X4+(-
Dengan demikian diketahui t hitung
0,1069)X1.X4 (‒ 2,379)<‒ t tabel (‒ 2,002) dan
Y=228,687+(-0,894)X1+(-0,8241)X5+e Sig.(0,021) < 0,05. Artinya
religiusitas intrinsik memoderasi
Hasil Pengujian Hipotesis Pertama hubungan antara money ethics
Berdasarkan pengujian terhadap kecurangan pajak sehingga
statistik di ketahui nilai t table pada hipotesis diterima. Nilai beta sebesar
taraf signifikansi 5 % (2-tailed) (3,212) menunjukkan bahwa
dengan Persamaan n – k – 1: alpha/ meningkatnya level religiusitas
2= 60–1 – 1: 0,05/ 2= 58 : 0,025= intrinsik menurunkan pengaruh etika
‒ 2,002 / 2,002 dimana n adalah uang dengan kecurangan pajak yang
jumlah sampel, k adalah jumlah berarti memiliki hubungan positif.
variable bebas dan 1 adalah konstan. Hasil penelitian ini konsisten dengan
Dengan demikian diketahui t hitung penelitian Lau;Choe;Tan (2013)yang
3,260< ‒ t tabel 2,002 dan Sig.0,002 mengatakan bahwa religiusitas
< 0,05. Artinya money ethics intrinsik memoderasi hubungan
berpengaruh terhadap kecurangan money ethics dengan kecurangan
pajak, dengan demikian H1 diterima. pajak (tax evasion).
Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa tinggi Hasil Pengujian Hipotesis Ketiga
rendahnya money ethics yang ada Berdasarkan pengujian
dalam diri seseorang akan statistik di ketahui nilai t table pada
mempengaruhi terjadinya taraf signifikansi 5 % (2-tailed)
kecurangan pajak. Hasil ini relevan dengan persamaan n – k – 1: alpha/
dengan teori bahwa love of money 2= 60–3 – 1: 0,05/ 2= 56 : 0,025=
merupakan akar dari kejahatan ‒ 2,003 / 2,003 dimana n adalah
sangat kuat hubungannya dengan jumlah sampel, k adalah jumlah
“ketamakan” yang mengarahkan variable bebas dan1 adalah konstan.
seseorang kepada perilaku tidak etis Dengan demikian diketahui ‒ t tabel
(Tang ;Chiu, 2003). Hasil penelitian (‒ 2,003) < thitung (1,544)< t tabel
ini konsisten dengan penelitian (2,003) dan Sig.(0,128) > 0,05.
Lau;Choe;Tan (2013) yang Artinya religiusitas ekstrinsik tidak
mengatakan bahwa money ethics memoderasi hubungan antara money
berpengaruh positif terhadap ethicsterhadap kecurangan
kecurangan pajak (tax evasion). pajak.Dengan demikian H3 ditolak
dan H0 diterima. Religiusitas
Hasil Pengujian Hipotesis Kedua ekstrinsik tidak dapat berperan
Berdasarkan pengujian sebagai variabel moderating dalam
statistik di ketahui nilai t table pada hubungan money ethics dengan

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1661


kecurangan pajak. Hasil penelitian (8,010)> t tabel (2,003) dan
ini konsisten dengan penelitian Lau; Sig.(0,000) < 0,05. Artinya
Choe;Tan (2013), dan Basri(2014) materialisme moderasi hubungan
yang menemukan bahwa religiusitas antara money ethics terhadap
ekstrinsik tidak memoderasi kecurangan pajak.
hubungan antara money esthics Hasil penelitian ini konsisten
dengan kecurangan pajak (tax dengan penelitian Manoe (2014)
evasion). mengatakan materialisme
berpengaruh terhadap pandangan
Hasil Pengujian Hipotesis akan peran etika dan TJSP,
Keempat materialisme cenderung
Berdasarkan pengujian menyebabkan seseorang memiliki
statistik di ketahui nilai t table pada etika yang negatif yang berarti
taraf signifikansi 5 % (2-tailed) semakin tinggi materialisme maka
dengan persamaan n – k – 1: alpha/ kemungkinan untuk melakukan
2= 60–3 – 1: 0,05/ 2= 56 : 0,025= kecurangan pajak juga tinggi.
‒ 2,003 / 2,003 dimana n adalah
jumlah sampel, k adalah jumlah Hasil Koefisien Determinasi (R2)
variable bebas dan 1 adalah konstan. Berdasarkan pengujian
Dengan demikian diketahui t hitung statistik diperoleh hasil sebagai
(‒ 2,758)< ‒ t tabel (‒ 2,003) dan berikut:
Sig.(0,008) < 0,05. Artinya gender Nilai Adjusted R Square (R2)
memoderasi hubungan antara money model 1 menunjukkan koefisien
ethicsterhadap kecurangan pajak. determinasi sebesar 0,14 artinya
Hasil penelitian ini konsisten bahwa hanya 14% variabel
dengan penelitian Basri(2014) yang kecurangan pajak yang bisa
menemukan bahwa gender dijelaskan oleh variabel money
memoderasi hubungan antara money ethics, sisanya sebesar 86%
esthics dengan kecurangan pajak (tax dijelaskan oleh variabel lain di luar
evasion) juga dengan penelitian Tang model penelitian ini.
et al., (2000) yang menemukan Nilai Adjusted R Square (R2)
bahwa karyawan laki-laki model 2 menunjukkan koefisien
mementingkan uang dibandingkan determinasi sebesar 0,365 yang
perempuan. menunjukkan bahwa 36,5% variabel
kecurangan pajak
Hasil Pengujian Hipotesis Kelima yang dapat dijelaskan oleh
Berdasarkan pengujian variabel money ethics, religiusitas
statistik di ketahui nilai t table pada intrinsik dan interaksi money ethics
taraf signifikansi 5 % (2-tailed) dengan religiusitas intrinsik. Sisanya
dengan persamaan n – k – 1: alpha/ sebesar 63,5% dijelaskan oleh
2= 60–3 – 1: 0,05/ 2= 56 : 0,025= variabel lain di luar model penelitian
‒ 2,003 / 2,003 dimana n adalah ini.
jumlah sampel, k adalah jumlah Nilai Adjusted R Square (R2)
variable bebas dan 1 adalah konstan. model 3 menunjukkan koefisien
Dengan demikian diketahui t hitung sebesar 0,29 yang menunjukkan

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1662


bahwa 29% variabel penggelapan kecurangan pajak, karena
pajak yang dapat dijelaskan oleh menganggap kecurangan pajak
variabel money ethics, religiusitas merupakan hal yang wajar
ekstrinsik dan interaksi money ethics dilakukan.
dengan religiusitas ekstrinsik. 2. Hasil hipotesis kedua
Sisanya sebesar 71% dijelaskan oleh menunjukkan bahwa religiusitas
variabel lain di luar model penelitian intrinsik memoderasi pengaruh
ini. money ethics terhadap
Nilai Adjusted R Square (R2) kecurangan pajak dengan t hitung
model 4 menunjukkan koefisien (-2,379)> t tabel (-2,003) dan
determinasi sebesar 0,318 yang signifikansi 0,021<0,05.
menunjukkan bahwa 31,8% variabel Disimpulkan bahwa variabel
kecurangan pajak yang dapat religiusitas intrinsik merupakan
dijelaskan oleh variabel money variabel moderating. Sikap
ethics, gender dan interaksi money religiusitas intrinsik yang ada
ethics dengan gender. Sisanya dalam diri seseorang dapat
sebesar 68,2% dijelaskan oleh mengendalikan setiap perbuatan
variabel lain di luar model penelitian yang dilakukannya. Di dalam
ini. agama, perbuatan kecurangan
Nilai Adjusted R Square (R2) pajak adalah perbuatan yang
model 5 menunjukkan koefisien tidak benar sehingga dengan
determinasi sebesar 0,595 yang alasan apapun ia tidak akan
menunjukkan bahwa 59,5% variabel melakukanya karena ia
kecurangan pajak yang dapat menjadikan agama sebagai
dijelaskan oleh variabel money driving integrating motive yang
ethics, materialisme dan interaksi mengatur seluruh hidupnya.
money ethics dengan materialisme. 3. Hasil hipotesis ketiga
Sisanya sebesar 40,5% dijelaskan menunjukkan bahwa religiusitas
oleh variabel lain di luar model ekstrinsik tidak memoderasi
penelitian ini. pengaruh money ethics terhadap
kecurangan pajak, sehingga
SIMPULAN DAN SARAN disimpulkan bahwa variabel
religiusitas ekstrinsik bukanlah
Simpulan variabel moderating.
Adapun simpulan dalam 4. Hasil hipotesis keempat
penelitian ini adalah: menunjukkan bahwa gender
1. Hasil hipotesis pertama memoderasi pengaruh money
menunjukkan bahwa money ethics terhadap kecurangan
ethics berpengaruh signifikan pajak dengan t hitung (-2,758)> t
terhadap kecurangan pajak tabel (-2,003) dan signifikansi
dengan t hitung 3,260> t tabel 2,002 0,008<0,05, sehingga
dan signifikansi 0,002<0,05. disimpulkan bahwa variabel
Sikap cinta uang yang tinggi gender merupakan variabel
menyebabkan seseorang moderating.
cenderung melakukan

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1663


5. Hasil hipotesis kelima teknologi informasi, ataupun
menunjukan bahwa materialisme norma dan budaya yang berbeda.
memoderasi pengaruh money 3. Peneliti selanjutnya dapat
ethics terhadap kecurangan menggunakan variabel
pajak dengan t hitung 8,010> t tabel religiusitas intrinsik ataupun
2,003 dan signifikansi materialisme sebagai variabel
0,000<0,05, sehingga dapat independen untuk meneliti
disimpulkan bahwa variabel pengaruhnya terhadap
materialisme merupakan kecurangan pajak.
variabel moderating. orang yang
memiliki sifat materialisme DAFTAR PUSTAKA
cenderung memiliki keinginan
untuk memiliki banyak uang Allport, G. W. 1950. The Individual
untuk memenuhi kebutuhannya and His Religion. New York:
akan barang-barang mewah MacMillan.
sebagai ajang menunjukkan jati
dirinya. Keinginan untuk Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967).
memiliki uang banyak berarti Personal religious orientation
memiliki kecintaan yang tinggi and prejudice. Journal of
terhadap uang, tingkat kecintaan Personality and Social
yang tinggi terhadap uang akan Psychology.
menurunkan etika sehingga
memungkinkan untuk Basri, Yesi Mutia. 2014. Efek
melakukan kecurangan pajak. Moderasi Religiusitas dan
Gender Terhadap Etika Uang
Saran (money ethics) dan
Adapun saran dari penelitian Kecurangan Pajak (Tax
ini adalah sebagai berikut: Evasion).Jurnal SNA 17
1. Penelitian selanjutnya akan lebih Mataram.
baik lagi jika memperluas sampel
penelitian, menambah jumlah Beutell, N.J &Brenner ,O.C (1984)
sampel, ataupun menambah Birth order, sex and
kriteria objek penelitian yang geographical region as
tidak hanya wajib pajak orang influences on WARM Scores :
pribadi yang melakukan kegiatan Are There Difference ?Paper
usaha atau pekerjaan bebas present at annual convention
sehingga hasil penelitian dapat of Academy of Management.
digeneralisasi. Boston.
2. Menambahkan jumlah variabel Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi
independen yang dapat Analisis Multivariaete
mempengaruhi kecurangan pajak Dengan Program SPSS.
seperti diskriminasi perpajakan, Semarang: Badan Penerbit
kualitas pelayanan pajak, Universitas Diponegoro.
ketepatan pengalokasian,

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1664


Lau T C , Choe K L & Tan L P.
2013. The Moderating Effect Sekaran, Uma. 2006. Metodologi
of Religiosity in the Penelitian untuk Bisnis Buku
Relationship between Money 2. Jakarta: Salemba empat.
Ethics and tax
evasion.Journal of Sugiyono.2008.MetodologiPenelitia
International Accounting, n Bisnis.Bandung:Alfabeta.
Auditing and Taxation 17
Tang, T. L. P. 2002. Is the love of
Kirchler, E., Hoelzl, E., and Wahl, I. money the root of all evil? Or
2008. Enforced versus different strokes for different
voluntary compliance: The folks: lessons in 12 countries.
“slippery slope” Paper presented to the
framework.Journal of International Conference on
Economic Psychology. Business Ethics in the
Knowledge Economy. Hong
Manoe, Rayneke Varadina. 2014. Kong, China.
Pengaruh Idealisme,
Relativisme, dan Trojsi, J. D., Christopher, A. N., &
Materialisme terhadap Marek, P. 2006. Materialism
Pandangan akan Peran Etika and
dan Tanggung Jawab Sosial money spending disposition
Perusahaan (TJSP). as predictors of economic
Thesis.Yogyakarta. and
personality variables. North
Mardiasmo. 2011. Perpajakan. American Journal of
Yogyakarta: ANDI. Psychology.

McGee, R. W., Ho, S. S. M., & Li, Undang-Undang Dasar Negara


A. Y. S. 2008. A comparative Republik Indonesia,
study on perceived ethics of Pancasila sila ke 5
tax evasion: Hong Kong vs.
the United States. Journal of Vitell, S. J., Singh, J., & Paolillo, J.
Business Ethics. G. P. 2007. Consumers’
ethical beliefs: The roles of
Pradanti, Noviani Rindar. 2014. money, religiosity and
Analisis Pengaruh Love of attitude toward business.
Money Terhadap Persepsi Journal of Business Ethics.
Etis Mahasiswa Akuntansi.
Skripsi, Semarang. Watson, J. J. 2003. The relationship
of materialism to spending
Santoso, Gempur. 2007. Metodologi tendencies, saving, and debt.
Penenlitian Kualitatif dan Journal of Economic
Kuantitaif. Jakarta: Prestasi Psychology.
Pustaka

JOM FEKON, Vol.3 No.1 (Februari) 2016 1665