Anda di halaman 1dari 11

BAB 3.

FILUM PORIFERA

Porifera berasal dari kara porus yang berarti berlubang dan ferre berarti
pembawa. Hewan ini dulu dikelompokkan dalam dunia tumbuhan, tetapi sekarang dalam
dunia hewan. Porifera (spons) merupakan hewan multi seluler tingkat rendah (tingkat
jaringan pertama) paling primitive, kecuali untuk 150 spesies air tawar, spons
merupakan hewan laut. Mereka berlimpah di air laut, bebatuan, cangkang molluska,
tumbuhan di kedalamamn air atau karang yang menyediakan substrat. Beberapa spesies
hidup di pasir yang lunak atau dasar lumpur.

1.1. Karakteristik Umum


1. Jaringan masih sangat primitive ( longgar )
2. Bentuk tubuh radia simetri atau asimetri
3. Tidak terdapat anggota tubuh
4. Tubuh mempunyai dua lapisan (diploblastik). Lapisan luar disebut pinakodemis dan
lapisan sebelah dalam disebut koanodermis
5. Tubuh mempunyai koanosit, ostia, saluran organic, atau keduanya
6. Rangka tubuh terdiri dari spikula, serabur organic, atau keduanya
7. Terdapat tiga tipe saluran yaitu l askonoid, sikonoid, leukomoid
8. Pencernaan makanan dilakukan secar intraseluler
9. System saraf masih primitive
10. Reproduksi dilakukam secara seksual dan aseksual.aseksual; pertunasan,
pembentukan bagian tubuh tereduksidan gemule seksual. Bersifat hemaprodit,
sperma berasal dari arkeosit.
11. Bisa bersifat tumbuhan, melekat pada substrat
12. Habitat umumnya dilaut di laut dan hanya satu familia yang terdapat di air tawar
Bentuk tubuh luar sangat sedehana, struktur tabung berdinding tipis seperti
Leucosolenia dan Scypha atau berbentuk tanpa beraturan.lapisan tubuh spons dibagi
menjadi 3 kelompok, (1) lapisan penutp; pinakodermis, (2) lapisan koanosit, dan (3)
mesenkim.
Pada lapisan pinakodermis terdapat epitel pipih dengan kekuatan kontraksi
menengah.Epitel ini tanpa disertai membrane dasar.Bagian dasar dari pinakosit
mensekresikan bahan-bahan yang mlekatkan spons ke substrat.Pinakosit menurunkan sel
porosity yaitu sel yang berbentuk tabung yang berhubungan dengan spongosoel.Porosit
dapat membuka dan menutup akibat suatu kontraksi tubuh.
Seluruh spons, kecuali Myxsopongida memiliki skeleton.Skeleton terdiri dari
karbonat, liat atau silikia dalam bentuk spikula atau serabut spongin.Spikula merupakan
struktur Kristal yang memancar dari satu titik.Spikula ini merupakan hasil sekresi
amoebosit mesenkhimal (skleroblas). Jenis-jenis spikula yang terdapat pada porifera
adalah :
1. Monakson, yaitu spikula yang terbentuk melalui pertumbuhan sepanjang aksis
sehingga berbentuk batang dan beberapa menjadi kurva atau lurus. Ujungnya bisa
runcing, membulat seperti tombol atau berkait.
2. Triakson, yaitu spikula yang mempunyai tiga jari yang berpotongan satu sama lain.
3. Tetrakson, spikula yang mempunyai 4 jari.
4. Poliakson, yaitu spikula yang mempunyai jari yang banyak dan berukuran sama.
Ada dua istilah tambahan untuk menjelaskan spikula yaitu megasklera yang
merupakan spikula besar yang merupakan unsure utama penyokong skleton darn
mikrosklera yang dipertimbangkan lebih kecil.
Sponging merupakan skleton yang terbuat dari zat organic, zat tanduk dan
substansi elastic. Dia disekresikan oleh spongoblast.
Fisiologi sangat tergantung pada aliran air. Oksigen, zat makanan serta limbah
metabolisme diperoleh atau disalurkan melalui aliran air. Air dipompakan dengan luar
biasa. Leucosolenia dengan tinggi 10 cm dan diameter 1 cm serta jumlah kamar
berflagela 2.250.000 buah dapat memompakanair sebanyak 22,5 liter perhari.

Gambar 44. Spikula dan sponging.


Ket 1. Monakson manaktinal. 2. Monakson diaktinal. 3. Monakson kura. 4.
Monakson dengan ujung berkait. 5. Tetrakson. 6. Triakson tritadiat. 7.
Tetrakson(sama). 8. Triakson heksaktinal. 9-10. Ploakson. 11. Serabut sponging.
Sistem saluran pada porifera meliputi tiga jenis saluran air, yaitu askonoid,
sikonoid, dan leukonoid.
1. Tipe Askonoid
Tipe ini adalah tipe paling sederhana, contohnya pada Leucosolenia. Arah aliran
adalah; air masuk – ostium – spongosoel – oskulum – air keluar.
2. Tipe Sikonoid
Tipe ini adalah sistem lebih lengkap pada pori dan salurannya, contohnya pada
Scypa. Aliran air ; air masuk – ostium – kanal inkuren – prosopil – kanal radial –
apopil – spongosoel – oskulum – air keluar.
3. Tipe Leukonoid
Adalah tipe saluran paling kompleks, dihasilkan oleh lipatan-lipatan tubuh,
contohnya pada spongilia. Terdapat ruang berflagea yang kecil dan speris, yang
berbatasan dengan koanosit. Aliran air yaitu : air masuk – ostium – kanal inkuren –
prosopil – kamar berflagea – apopil – kanal ekskuren – oskulum – air keluar.

Gambar 45. Tipe-tipe saluran air pada porifera


Ket; 1. Tipe askonoid. 2. Tipe sikonoid. 3. Tipe leukonoid.

3.2. Klasifikasi
Berdasarkan bahan pembentuk dan jumlah spikula, filum porifera dibagi menjadi 3
kelas, yaitu;
1. Kelas Calcarea ; spikula dari kapur.
2. Kelas Heactinellida; spikula berjari 3-6, leukonoid.
3. Kelas Demospongiae, spikula dari silica atau sponging, atau keduanya, leukonoid.
Kelas Calcarea
Dengan cirri-ciri, tubuh berukuran kecil (tidak lebih dari 10 cm), bersifat soliter
atau koloni. Bentuk tubuh adalah simetris atau seperti jambangan. Skeleton terdiri dari
spikula monakson dan kapur. Permukaan tubuh diselaputi oleh duri; oskulum sering
dengan pinggir spikula monakson. Tipe saluran adalah askonoid, sikonoid, dan
leukonoid.
Ordo Homocoela, dengan cirri-ciri; askonoid dengan dinding tipis, bentuk tubuh
silindrid. Dinding tubuh tanpa lipatan, koanosit di sepanjang garis spongosoel. Sering
berkoloni. Contoh; Leucosolenia, Clathrina, Acvssa.

Gambar 46. Jenis-jenis Calcarea.


Ket; A. homocoela, Clathrina lacunose. B. heterocoela, Grantia labyrinthica,
tiga fase pertumbuhan. C. hetero-coela, Leuconia aspera.

Ordo heterocoela, dengan ciri-ciri: Sikonoid dan leukonoid, berdinding tebal.


bentuk jambangan bunga. Tubuh dengan lipatan, koanosit hanya sepanjang kamar
berflagela Soliter atau koloni. Contoh:Scyphia, Granthia, Leuconia (Gambar 48).

Kelas HEXACTINELIDA (Hyalospongia)


Dengan ciri-ciri tubu berukuran lebh besar dapat mencapai satu meter. Skeleton
spikula-spikula silica, triaksonatau berjari enam. Bentuk seperti cangkir, kendi atau
jambangan. Tanpa ephitelium epidermis atau eksopinako-dermis, tanpa permukaan
sinsitium penghubung antara pseudopodium amoebosit. Koanosit terbatas pada tuang
berbentuk jari. Terdapat di laut, beberapa di dasar laut, paling umum di perairan tropis.
Ordo Hexasterospora. spikula heksaster (berbentuk seperti binatang dengan
cabang aksis masuk ke dalam jung jari. Ruangan berflagela tersusun benrturan dan
radial. biasanya berhubungan dengan substratum secara langsung. Contoh Eupectella
(gambar 47), Fernera, Eurette Staurocalyptus.

Gambar 47. (a). Eupectella, (b). Hyalonema longissimum (Hegner & Engmann, 1968).

Ordo Amphidiscophora. Spikula amfidiskus (dengan sebuah keping cembung).


Ruang memipih tersusun tidak beraturan. BiASANYA berhubungan dengan substratum
oleh berkas-berkas akar. Contoh Hyalonema, Euplectella (gambar 49), Pheronema,
Monoraphis

Kelas Demospongiae.
Tubuh berukuran kecil sampai besar, bersifat soilter atau kolon. Skeleton tidak ada,
atau spikula silica atau serabut sponging atau keduanya. Spikula silica monoaksonatau
berjari enam. Bentu tubuh seperti jambangan, cangkir atau kendi. Organisasi tubuh
leakonoid, khoanosit di tepi sampai ruang kecil. Kebanyakan di laut , beberapa di air
tawar.

Subkelas 1. Myxsospongida
Spikula silica (jika ada selalu berjari empat, tetrakson) Tubuh memipih atau
membulat , warna cerah hingga cerah, kebanyakan di perairan dangkal.
Ordo 1. Myxsospongida. Struktur sederhana, tanpa spikula. Contoh (Oscrella,
Haliscara durjadini.
Ordo 2. Carnosa, Spikulaberukuran sama contoh: Plankia, Plankortis
Ordo 3. Choristida. Spikula besar dan kecil. Contoh: Thenea (Gambar 48), Geodia.

Gambar 48. Demospongia, Thenea muricata (Hegner & Engmann, 1968).

Subkelas 2. Monaxoida.
Spikula silica, utamanya monoakson, sponging ada atau tidak. Tubuh bervariasi
kebanyakan di perairan dangkal, beberapa di dasar laut dan air tawar.
Ordo 1. Hadromonera, Spikula besar dan bertombol pada ujung ppih, spikula kecil;
bila ada seperti bintang. Spongin tidak ada. Contoh: Cliona, Suberites.
Ordo 2. Halicondrina. spikula besar lebih dari satu jenis, biasanya dua jari. Spongin
ada, Contoh; Halicondria
Ordo 3.Poeciloscerina, spikula besar disatukan oleh sponging kecilke dalam jaringan
yang beraturan.; spikula kecil berbentuk-C kurva. Contoh: Microcina
Ordo 4. Haploscireina, spikula besar 2 jari, biasanya bukan spikula kecil. Biasanya ada
sponging. Contoh:Haliclona, Chalina (Gambar 51), Myenia.
Gambar 49. Demospongia, Chalina oculata (Hegner &Engmann, 1968 ).

Subkelas 3. Kerastosa,
Spons zat tanduk dengan skeleton hanya sponging. Bentuk tubuh biasanya
membulat &memipih, dengan permukaan kasar & berwarna gelap. Contoh: Euspongia,
Phyllospongia. Hippospongia, Spongia dan Oscarella (Gambar 50)

Gambar 50. Demospongia, Keterangan (A) Kerastosa Spongia officinalis, (B)


Myxospongida, Oscarella lobularis, (Hegner & Engmann, 1968).

3.3. CONTOH TERPILIH


3.3.1. Leucosolenia
Morfologi menunjukkan bentuk yang Simetris radial, berbentuk jambangan, vertikal
seperti tabung. Warna tubuh kekuningan. Lapisan tubuh terdiri dari dua lapis yang dibagi
menjadi tiga bagian (Gambar 50), yaitu:
1. Pinakordemis (epitel sinsitium); terdiri dari pinakosit, porosit, ostium (porus dermal/
porus inkuren)
2. Koanodermis (epitel gastral) terdiri dari oanosit
3. Mesenkim yang longgar; terdiri dari amoebosit, arkeosit, kolenosit, sklerosit,
skreloblas; spikula.
Ciri fisiologi meliputi tingkah laku yang menunjukkan tidak mempunyaikemampuan
berpindah dan reaksi terhadap stimuli lambat. Lokomosi bersifat sesil yang
mengandalkan aliran air untuk mendaatkan makanan dan O2 Nutrisi dilakukan seara
intraseluler melalui sel amoebosit. Mangsa: plankton, hewan dan tumbuhan mikro dan
partikel organic. Respirasiberupa pengambilanoksigen dan aliran airdengan cara difusi.
Eliminasi, merupakan pengeluaran limbah metabolit (NH3) dengan cara difusi; Gambar
51.

Gambar 51. Struktur tubuh Leucosolenia (Kotpal, et al., 1981).

Reproduksi; aseksual dilakukan dengan cara bertunas. Secara seksual merupakan


hewan monoceius, sperma dan ovum dihasilkan melalui gametogenesis. Perkembangan
terjadi ketika holoblastik ekual, kemudian menjadi sitoblastula, parenkhimula, individu
muda dan akhirnya menjadi spons dewasa.
Gambar 52. Model fisiologi Leucoselenia (Kotpal et al., 1981).

3.3.2. Scypha
Morfologi mempunyai bentuk simetris radial, bentuk seperti jambangan, panjang
1-3 cm. Warna tidk spesifik tetapi bervariasi dari kelabu sampai coklat. Habitat adalah di
laut.
Stuktur internal meliputi dinding tubuh yang terdiri dari dua lapisan dimana
organisasi seluler terdiri dari:
1. Pinakodermis terdiri dari epitel dermal, pinakosit
2. Koanodermis da
3. Mesenkhim yangterdiri dari arkeosit, kolenosit, teosit, skleroblas, sel-sel kelenjar, dan
sel-sel germinal.
Gambar 53. Struktur internal Scypha (Kotpal et al., 1981).

Komponen sistem saluran terdiri dari ostia/porus dermal, miosit, kanal inkuren,
prosofil, kanal radial, apofil, spongosoel, dan oskulum. Skeleton terdiri dari spikula
monoakson dan spikula tetrakson yang dihasilkan oleh skleroblas. Lapisan luar (lapisan
penebal) & lapisan dalam (lapisan penyokong); bertanggung jawab terhadap
perpanjangan spikula.
Fisiologi hampir menyerupai Leucosolenia. Pergerakan dibatasi oleh
ketidakpunyaan organ lokomotor. Beberapa mekanisme fisiologi sangat tergantung aliran
air. Scypha bersifat filter feeder, makanan beerupa plankton dan partikel organic.
Pencernaan melalui sel leher , pseudopodium sel amoebosit dan vakuola makanan.
Respirasi berupa pengambilan oksigen dari aliran air melalui difusi. Eksresi berupa
pengeluaran limbah nitrogen dengan cara difusi. Sistem saraf dan tingkah laku
menunjukkan tidak diketmukannya sel saraf/sensoris, karena itu setiap sel menjadi
reaktif. Reproduksi aseksual secara pertunasandan gemula: seksual berupa hewan
monoecius. Spermatogenesis dan oogenesis terjadi pada arkeosit. Perkembngan dimulai
ketika terjadi fertilisasi kemudian diikuti pembelahan holoblstik ekual, menjadi
stomoblastula, larva amfiblastula, gastrula, dan metamorphosis dimana outer non-
flagellet menjadi eksopinakordemis, skleroblas dan inner chonacyt menjadi arkeosit,
amobosit.
Daftar pustaka
Barnes, R.D 1987. Invertebrate Zoology. Saunders College Publishing, Philadelphia.
Hegner, R.W. dan J.G Engemann. 1968. Invertebrate Zoology. Macmillan Publishing
Co. Inc., New York.
Kotpal, R.L., S.K Argwal dan R.P Khetrpal. 1981. Modern Textbook of Zoology
Invertebrates. Rastologi Publications. Meerut.
Sugiri, N. 1989. Zoologi Avertebrata I. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sugiri, N. 1989. Zoologi Avertebrata II. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor,
Bogor.