Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

MINGGU 4
SURVEI & MANAJEMEN INFORMASI PERTANAHAN

PEMETAAN DAN PENGUKURAN BIDANG TANAH SECARA VIRTUAL DI


LOKASI 2

Oleh:
Labisa Wafdan
18/431137/TK/47730

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK GEODESI


DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2021
A. MATA ACARA PRAKTIKUM
Pemetaan dan pengukuran bidang tanah secara virtual di lokasi 2
B. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mahasiswa membuat sketsa rencana bidang tanah yang akan diukur di lokasi
masing - masing (minimal 5 bidang tanah) dilengkapi dengan titik rencana poligon
perapatan dengan satu titik TDT di awal dan di akhir.
2. Mahasiswa membuat titik kontrol poligon (PTTS) pada lokasi pemetaan yang
diikatkan pada TDT (awal dan akhir). Kemudian dilakukan pengukuran sudut dan
jarak menggunakan tool Measure di software QGIS.
3. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan RTM (Ray Trace Method) dari hasil
pengukuran sudut dan jarak tersebut untuk mendapatkan koordinat seluruh titik
poligon perapatan.
4. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan terhadap hal-hal yang diperlukan
dalam pengadaan pengukuran titik dasar perapatan.
C. ALAT & BAHAN
a. Alat
1. Laptop
2. Tetikus
3. QGIS
4. Microsoft Word
5. Microsoft Excel
b. Bahan
1. Koordinat TDT
2. Citra Google Satellite
D. LANDASAN TEORI
Kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah memerlukan acuan arahdan
informasi geospasial. Diperlukannya peta dasar pendaftaran dan peta kerja yang dapat
dijadikan sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengukuranbidang tanah di
lapangan. Kegiatan pengukuran di lapangan tentunya dapat memberikan informasi
yang membantu dalam mengidentifikasi posisi bidang tanah, titik dasar teknik dan usur
geografis..
Titik Dasar Teknik adalah salah satu komponen yang diperlukan sebagau titik
yang mempunyai koordinat yang diperoleh dari suatu pengukuran dan perhitungan
dalam suatu sistem tertentu yang berfungsi sebagai titik kontrol atau titik ikat untuk
keperluan pengukuran dan rekonstruksi batas. Titik dasar teknik perapatan bersifat
sementara dan berfungsi sebagai titik bantu selama pengukuran bidang tanah
berlangsung. Titik dasar teknik perapatan dibuat dengan alasan tidak dimungkinkannya
dilakukan pengikatan langsung suatu bidang tanah dari titik dasar teknik orde 2, 3 atau
4. Untuk itu diperlukan titik-titik bantu yang merapatkan titik dasar teknik tersebut dan
bersifat sementara atau dengan kata lain hanya dipergunakan pada saat pengukuran
bidang tanah dilaksanakan.
Pengukuran terrestris sering dipilih untuk mengukur posisi titik TDT Orde-4
yang merupakan perapatan dari TDT Orde-3. Metode terestris yang bisa dipakai salah
satunya adalah dengan membentuk geometri poligon terbuka terikat pada kedua
ujungnya seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Sebuah TDT Orde-3 A dan B dirapatkan menjadi TDT Orde-4 bernomor 1,2,3, dan 4.
Titik A dan B dipakai sebagai titik ikat yang telah diketahui koordinatnya (XA, YA
dan XB, YB) dari pengukuran sebelumnya. Titik poligon 1 sampai 4 adalah titik yang
akan diukur koordinatnya. Titik A,B, dan 1 s.d. 4 membentuk sebuah poligon terbuka
terikat pada ujungnya. Poligon jenis ini pada dasarnya dipakai ketika hanya terdapat
dua titik ikat atau tidak cukupnya titik ikat untuk membentuk poligon terbuka terikat
sempurna. Poligon jenis ini tidak memiliki data azimuth awal dan akhir yang fix seperti
pada poligon terbuka terikat sempurna, karena tiadanya titik pasangan pada titik awal
A dan B, sehingga azimuth ataupun nilainya tidak bisa dihitung langsung dari koordinat
fix. Penyelesaian kasus poligon ini umumnya menggunakan Ray Trace Method (RTM).
RTM pada dasarnya menggunakan azimuth awal pendekatan yang untuk bisa
menghitung koordinat pendekatan titik-titik poligon yang ada kemudian mengkoreksi
azimuth pendekatan dengan azimuth definitif. Hasilnya selisih dari kedua azimuth
tersebut adalah nilai rotasi orientasi poligon sebesar. Dengan adanya koreksi azimuth
ini, maka dapat diperoleh koordinat fix titik 1 sampai 4 yang telah terikat pada titik A
dan B.

E. LANGKAH KERJA
1. Tambahkan basemap Google Satellites dengan klik menu QuickMapServices.

2. Cari “Google Satellites” pada kolom Search QMS dan tekan Add.
3. Akan nampak basemap.

B. Menambahkan TDT

1. Unduh file TDT UGM dalam format .txt. Lakukan copy-paste ke Microsoft Excel dan
simpan dalam format .csv.
2. Buka file csv ke QGIS dengan memilih Delimited Text pada Data Source Manager.
3. Sesuaikan kolom pengaturan yang ada dengan data yang akan dibuka dan tekan Add.

C. Menampilkan TDT

1. Buat shapefile baru untuk membuat titik kontrol pada area pemetaan. Klik Layer,
Create Layer, New Shapefile Layer.
2. Buat pengaturan shapefile yag akan dibuat

3. Untuk menambahkan titik, aktifkan menu Toggle Editing pada Digitizing

Toolbar dan klik menu Add Point Feature .


4. Ukur jarak dan sudut dari setiap titik kontrol tersebut menggunakan tool Measure
pada Toolbar. Klik Measure Line untuk mengukur jarak.

Klik Measure Angle untuk mengukur Sudut.


5. Hitung azimut menggunakan plugin Azimuth Measurement .

F. Hasil & Pembahasan

Praktikum ini bermaksud untuk melakukan pengukuran koordinat titik perapatan


secara virtual berdasarkan titik dasar yang telah diberikan untuk mengikat 5 bidang tanah pada
lokasi 2 serta merencanakan hal-hal yang perlu dilakukan sebelum pengukuran lapangan. Data
praktikum yang dibutuhkan secara umum berupa data praktikum berupa jarak dan sudut antar
titik perapatan beserta azimut pada titik perapatan awal. Dari hasil praktikum ini diperoleh 7
titik poligon yang ditampilkan sebagai berikut. Titik peraptan diikatkan pada dua TDT orde 4
yang telah diketahui koordinatnya, yaitu BM11 (431064.571, 9141463.395) dan BM12
(430553.21, 9141488.964). Adapun rencana titik perapatan yang dibuat sebagai berikut.

Metode pengukuran yang digunakan merupakan metode terestrial. Metoda poligon adalah
salah satu cara penentuan posisi horisontal banyak titik dimana titik satu dengan lainnya
dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk
rangkaian titik-titik (poligon). Pengukuran titik dasar teknik dilakukan dengan cara poligon
terikat (tidak membentuk suatu loop) yang terikat di titik awal dan akhir. Berdasarkan Petunjuk
Teknis 01/JUKNIS-300/2016, bila dilakukan di lapangan metode pengukuran yang perlu
diperhatikan saat mengukur sudut, jarak, dan azimut sebagai berikut:
1. Pengukuran sudut mendatar dilakukan dalam dua seri dengan urutan bacaan biasa -
biasa - luar biasa - luar biasa untuk masing-masing seri. Selisih sudut antara seri
pertama dengan seri kedua ≤ 5’’.
2. Pengukuran jarak dengan menggunakan EDM (Electronic Distance Meter) harus
dilakukan ke jurusan muka dan belakang serta dilakukan 3 (tiga) kali untuk setiap
jurusan dengan perbedaan ≤ 1 cm. Hasil pengukuran titik dasar teknik perapatan
mempunyai salah penutup jarak ≤ ± 1:5.000. Ketelitian titik dasar teknik perapatan
yang merupakan titik detail pada pembuatan peta garis dengan pengukuran situasi lebih
besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta.
3. Pengamatan azimuth magnetis dilakukan bila sistem koordinat titik ikat dinyatakan
dalam sistem koordinat lokal. Pengukuran azimuth magnetis dilakukan sekurang-
kurangnya 2 (dua) kali, dengan selisih sudut 10”.

Survei pendahuluan adalah tahapan kegiatan paling awal yang dilakukan untuk
memastikan lokasi pemasangan titik dasar teknik sesuai dengan perencanaan yang telah
dilakukan dengan melihat kondisi nyata di lapangan. Hasil survei pendahuluan titik dasar
teknik perapatan ditandai menggunakan bahan sederhana yang tersedia di daerah setempat,
yaitu paku seng dimana bahan ini nantinya tidak digunakan untuk waktu yang cukup lama
karena pada dasarnya walaupun pengikatan suatu bidang tanah dilakukan dari titik dasar teknik
perapatan. Untuk memudahkan penandaan titik dasar teknik perapatan pada formulir data
pengukuran dan perhitungan, petugas pengukuran diberikan kebebasan untuk memberikan
nomor dengan catatan harus unik/tunggal pada setiap titik dasar teknik perapatan selama
dilakukannya pengukuran bidang tanah.

Pengukuran ini dilakukan dengan asumsi menggunakan 4 orang dalam satu kelompok
di mana satu orang sebagai pencatat sketsa dan data-data tambahan atau orang yang membantu
pelaksanaan pengukuran, satu orang sebagai pemegang total station, dan dua orang sebagai
pemegang dari prisma. Sarana mobilisasi yang digunakan adalah 2 sepeda motor. Dalam
praktikum ini, alat yang dibutuhkan adalah sebuah total station dan dua buah prisma yang harus
dicek terlebih dahulu keadaannya untuk memastikan apakah masing-masing alat tidak ada
kerusakan/kekurangan dan baterai pada total station sudah penuh. Jika peralatan sudah diangap
memenuhi standar, pengukuran siap dilakukan. Secara umum, kegiatan pengukuran ini
direncanakan sesuai time tabel berikut:
Hari Hari
Kegiatan
1 2
Survey pendahuluan
Pengukuran jarak & azimuth beserta pengolahan data

Pukul Kegiatan Lokasi


07.00 - 07.15 Cek alat DTGD
07.15 - 07.20 Mobilisasi ke BM12 Jalan
07.20 - 07.35 Mengukur azimut BM12-BM1 BM12
07.35 - 07.36 Berpindah ke BM1 Jalan
07.36 - 07.51 Mengukur jarak dan sudut BM12-BM1-BM2 BM1
07.51 - 07.52 Berpindah ke BM2 Jalan
07.52 - 08.07 Mengukur jarak dan sudut BM1-BM2-BM3 BM2
08.07 - 08.08 Berpindah ke BM3 Jalan
08.08 - 08.23 Mengukur jarak dan sudut BM2-BM3-BM4 BM3
08.23 - 08.24 Berpindah ke BM4 Jalan
08.24 - 08.32 Mengukur jarak dan sudut BM3-BM4-BM5 BM4
08.32 - 08.33 Berpindah ke BM5 Jalan
08.33 - 08.48 Mengukur jarak dan sudut BM4-BM5-BM6 BM5
08.48 - 08.49 Berpindah ke BM6 Jalan
08.49 - 09.04 Mengukur jarak dan sudut BM5-BM6-BM7 BM6
09.04 - 09.05 Berpindah ke BM7 Jalan
09.05 - 09.20 Mengukur jarak dan sudut BM6-BM7-BM11 BM7
09.20 - 09.25 Mobilisasi ke DTGD Jalan
09.25 - 09.40 Mengembalikan alat dan olah data DTGD

Berdasarkan Petunjuk Teknis 01/JUKNIS-300/2016 seperti yang telah disebutkan bisa diambil
contoh metode pengukuran sebagai berikut:

1. Untuk pengukuran sudut dengan titik berdiri alat di BM1, total station dibidikkan ke
arah BM12 dengan posisi teropong biasa dan diputar ke arah kanan menuju BM2
dengan posisi biasa. Setelah itu, teropong diposisikan pada posisi luar biasa dan diukur
kembali nilai sudut pada BM2 dan dilanjutakn dengan membidik teropong pada BM1
dengan posisi luar biasa. Lakukan kembali langkah tersebut hingga diperoleh selisih
sudut antara seri pertama dengan seri kedua ≤ 5’’
2. Untuk pengukuran jarak dengan titik berdiri alat di BM1, jarak diukur dengan
melakukan 3 kali pengukuran jarak antara BM1-BM12 dan melakukan 3 kali
pengukuran jarak antara BM1-BM2 hinnga diperoleh perbedaan jarak antar jurusan ≤
1 cm.
3. Untuk ngukuran azimuth magnetis dilakukan pada BM12 yang diaahkan ke BM1
minimal 2 kali dengan selisih sudut 10”.

Hasil yang diperoleh dari pengukuran poligon RTM secara virtual diperoleh azimut
awal pada BM12 adalah 107,77° serta tabel sebagai berikut.

Baseline 12-1 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 6-7 7-11


Jarak
84,002 108.811 41.404 62.176 60.362 45.586 74.927 124.927
(m)

Sudut
12-1-2 1-2-3 2-3-4 3-4-5 4-5-6 5-6-7 6-7-11
BM
Sudut
152.748 179.819 104.214 282.799 137.214 231.258 180
(°)

Tabel bowditch berdasarkan data-data hasil pengukuran tersebut sebagai berikut.

Sudut Koordinat (m)


Azimut Jarak dsin α dcos α
Titik Horizontal x y
(α⁰) (d m) (m) (m)
(°)
BM12 430553.21 9141488.964
107.77 84.002 79.994 -25.637
1 152.748 430633.204 9141463.327
80.518 108.811 107.324 17.925
2 179.819 430740.528 9141481.252
80.337 41.404 40.817 6.950
3 104.214 430781.345 9141488.202
4.551 62.176 4.933 61.980
4 282.799 430786.278 9141550.182
107.35 60.362 57.616 -18.000
5 137.214 430843.894 9141532.182
64.564 45.586 41.167 19.579
6 231.258 430885.061 9141551.761
115.822 74.927 67.446 -32.636
7 180 430952.507 9141519.125
115.822 124.907 112.435 -54.407
BM11 431064.942 9141464.718

Setelah tabel bowditch disusun, lakukan perhitungan sebagai berikut:

1. Hitung azimut antara koordinat-koordinat TDT tetap

𝑋𝐵𝑀11 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 − 𝑋𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝


𝛼 ′ = 𝑡𝑎𝑛−1
𝑌𝐵𝑀11 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 − 𝑌𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝

431064.571 − 430553.21
𝛼 ′ = 𝑡𝑎𝑛−1
9141463.395 − 9141488.964

𝛼 ′ = −87.1374885959531° + 180° = 92.8625114°

2. Hitung azimut antara koordinat TDT hitung akhir dengan TDT tetap awal

𝑋𝐵𝑀11 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 − 𝑋𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝


𝛼 ′′ = 𝑡𝑎𝑛−1 =
𝑌𝐵𝑀11 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 − 𝑌𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝

431064.942 − 430553.21
𝛼 ′′ = 𝑡𝑎𝑛−1
9141464.718 − 9141488.964

𝛼 ′′ = −87.2873087343316° + 180° = 92.71269127°

3. Hitung selisih azimut

𝛿 = 𝑎′ − 𝑎′′ = 92.8625114° − 92.71269127° = 0.149820138°

4. Hitung jarak antara koordinat-koordinat TDT tetap

𝑑 ′ = √(𝑋𝐵𝑀11 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 − 𝑋𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 )2 + (𝑌𝐵𝑀11 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 − 𝑌𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 )2

𝑑′ = √(431064.571 − 430553.21)2 + (9141463.395 − 9141488.964)2

𝑑′ = 511.999849689413 𝑚
5. Hitung jarak koordinat TDT hitung akhir dengan TDT tetap awal

𝑑′′ = √(𝑋𝐵𝑀11 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 − 𝑋𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 )2 + (𝑌𝐵𝑀11 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 − 𝑌𝐵𝑀12 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 )2

𝑑′′ = √(431064.942 − 430553.21)2 + (9141464.718 − 9141488.964)2


𝑑′′ = 512.306282499001 𝑚
6. Hitung konstanta jarak
𝑑′ 511.999849689413
𝑘= = = 0.999401856
𝑑′′ 512.306282499001
7. Hitung koreksi azimut
𝛼 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 = 𝛼 𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 + 𝛿

α α
Operasi
ukuran δ (⁰) terkoreksi
matematis
(⁰) (≈⁰)
107.77 107.92
80.518 80.668
80.337 80.487
4.551 4.701
+ 0.149820138
107.35 107.5
64.564 64.714
115.822 115.972
115.822 115.972

8. Hitung koreksi jarak


𝑑 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 = 𝑑 𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 × 𝑘

d ukuran Operasi k d terkoreksi


(m) matematis (≈ m)
84.002 83.952
108.811 108.746
41.404 41.379
× 0.999401856
62.176 62.139
60.362 60.326
45.586 45.559
74.927 74.882
124.907 124.832

9. Tabel bowditch berdasarkan jarak dan azimut terkoreksi

Sudut Koordinat (m)


Azimut Jarak dsin α dcos α
Titik Horizontal x y
(α⁰) (d) (m) (m)
(°)
BM12 430553.21 9141488.964
107.92 83.98 79.879 -25.831
1 152.748 430633.089 9141463.133
80.668 108.783 107.307 17.634
2 179.819 430740.396 9141480.767
80.487 41.393 40.810 6.839
3 104.214 430781.206 9141487.606
4.701 62.160 5.092 61.930
4 282.799 430786.298 9141549.536
107.5 60.346 57.534 -18.140
5 137.214 430843.832 9141531.396
64.714 45.574 41.194 19.460
6 231.258 430885.026 9141550.856
115.972 74.907 67.320 -32.793
7 180 430952.346 9141518.063
115.972 124.674 112.225 -54.668
BM11 431064.571 9141463.395

Tabel bowditch pada langkah 9 tersebut menghasilkan koordinat-masing masing titik dasar
perapatan yang sudah terkoreksi dan siap digunakan untuk mengikat kelima biadng tanah
yang telah disebutkan. Hal ini ditandai dengan koordinat BM11 hasil perhitungan metode
RTM sama dengan koordinat BM11 yang telah ditetapkan.

G. KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Metode pengukuran terestris (pada praktikum ini secafra virtual) dapat digunakan untuk
mengukur koordinat titik perapatan pada lokasi 2 sehingga diperoleh 7 titik dasar
perapatan. Pada masing-masing titik perapatan diukur terhadap besaran sudut dan jarak
antar titik perapatan hingga BM11, sedangkan pada BM 12 diukur data azimut awal
terhadap BM1.
2. Data hasil pengukuran yang telah diperoleh kemudian diolah menggunakan metode
poligon RTM hingga koordinat akhir BM11 hasil pengukuran sama dengan koordinat
BM11 hasil perhitungan akhir menggunakan metode RTM, sehingga dapat diperoleh
koordinat fix masing-masing titik dasar perapatan.
H. DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Infrastruktur Keagrariaan. (2016). Petunjuk Teknis Pengukuran dan
Pemetaan Bidang Tanah Sistematis Lengkap Nomor : 01/JUKNIS-300/2016.
Jakarta: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional. (1997). Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Jakarta:
Kementerian Agraria/Badan Pertanahan Nasional.
Wahyudi, M. I. (2019). Pemetaan Tanah Sistematis Lengkap Dusun Cebur (Blok 1)
Kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, UNNES).

Anda mungkin juga menyukai