Anda di halaman 1dari 2

ACARA IV (BUDIDAYA EMBRIO)

(Jarak satu baris)

i. Tujuan
Tujuan di isi sesuai dengan isi acaranya.
(Jarak satu baris)
ii. Dasar Teori
Budidaya embrio atau kultur embrio diartikan sebagai pengambilan embrio
dari biji dan mengecambahkan dalam kondisi aseptik. Budidaya embrio atau
kultur embrio adalah sebuah teknik mengisolasi dan menumbuhkan embrio muda
dan embrio masak secara in vitro(Roostika, Ika. 2018). Tujuan utama dari kultur
embrio adalah untuk ‘menyelamatkan’embrio yang kemungkinan besar gugur atau
mati sebelum buah menjadi matang. Kondisi seperti ini biasanya sering dijumpai
pada buah hasil persilangan, dimana absisi buah kerap kali dijumpai setelah
penyerbukan dan pembuahan (Rusdianto, & Indrianto, A. (2012 ). Keuntungan
dari teknik budidaya embrio adalah memiliki tingkat perkecambahan lebih tinggi
dari pada penaburan benih, menghemat waktu karena kecepatan tumbuh biakan
embrio lebih tinggi, dapat memulihkan kesehatan tanaman, memfasilitasi
pembentukan hibrida dan manajemen konservasi karena biakan embrio dapat
disimpan secara in vitro sebelum penggunaan yang lebih luas (Yelnitis. 2018. )
Terdapat dua macam budidaya embrio, yaitu budidaya embrio dari biji yang
masih muda dan budidaya embrio dari biji tua. Biasanya dilakukan untuk
menyelamatkan embrio pada fase awal perkembangannya, penggunaan embrio
muda lebih sulit dilakukan karena embrio masih membutuhkan nutrisi yang
kompleks dan harus dicukupi dalam media (Rusdianto, & Indrianto, A. (2012).
Budidaya embrio dari biji yang sudah tua (matang) memiliki teknik yang lebih
mudah dan biasanya dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan embrio menjadi
bibit. Media yang digunakan lebih sederhana ( Oetami, R. F. (2015 )
Budidaya embrio muda lebih sulit dibandingkan dengan budidaya embrio yang
telah tua (matang) dikarenakan dalam biji belum sepenuhnya berkembang dan
belum membentuk radicula dan plumula yang sempurna. Selain itu, biji belum
memiliki endosperm atau cadangan makanan yang memadai dalam mendukung
perkembangan dan perkecambahan embrio. Oleh karena itu, perlu disediakan
media kultur yang memadai bagi perkembangan embrio muda ini (Oetami, R. F.
(2015 ) . Pada beberapa kasus kadangkala dijumpai embrio masih dorman
sehingga perlu ditambahkan hormon tanaman yang bisa memecahkan dormansi
biji ini, misalnya Giberellin ( Lestari, E. G. (2011))

dapus

Lestari, E. G. (2011). Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan


Tanaman melalui Kultur Jaringan. Jurnal AgroBiogen, 7(1), 63–68.
Oetami, R. F. (2015). Kombinasi embriogenesis langsung dan Tak Langsung pada
Perbanyakan Kopi Robusta. Jurnal Warta Vol. 27 No.(2), Hal 1-5. Pusat
Penelitian Kopi Dan Kakao Indonesia.
Roostika, Ika. 2018. Kultur Embrio Pisang Liar Musa acuminata ssp. sumatrana
yang Langka. Jurnal Hortikultura. Vol. 28 No. 1. BBPP Pengembangan
Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.
Rusdianto, & Indrianto, A. (2012). Induksi kalus embriogenik pada wortel
(Daucus carota L.) menggunakan 2,4-Dichlorophenoxy Acetic Acid (2,4-
D). Jurnal Bionature, 13(2), 136– 140.
Yelnitis. 2018. Embriogenesis Somatik Rotan Tohiti (Calamus inops Becc. ex
Heyne). Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol. 12 No. 1. Balai Besar
Litbang BPTH. Yogyakarta