Anda di halaman 1dari 7

Kelas Coniferopsida

Coniferopsida memiliki karakteristik umum meliputi habitus berupa pohon, daun


tunggal atau dalam berkas, lanset daun berbentuk seperti jarum atau sisik serta ada yang
berumah satu (monoceous) dan berumah dua (dioecious). Tumbuhan dari ordo ini banyak
dimanfaatkan oleh manusia. Misalnya, batang pinus digunakan untuk bahan industri kertas
dan korek api. Sedangkan cemara juga dapat digunakan sebagai tanaman hias. Kelas ini
terdiri dari 7 famili yaitu Pinaceae, Podocarpaceae, Cupressaceae, Cephalotaxaceae,
Araucariaceae, Taxodiaceae, dan Taxaceae. (Tjitrosoepomo, 2009).

Family Pinaceae merupakan tumbuhan berkayu, daun berbentuk jarum, duduknya


tersebar pada sirung panjang, atau pada sirung pendek terdapat daun berbentuk jarum. Jarum-
jarum dengan satu atau dua berkas pembuluh pengangkutan dan saluran resin. Tumbuhan ini
hampir selalu berumah satu strobilus jantan axillar bertangkai yang tersusun dalam suatu
spiral dengan dua kantong sari (Tjitrosoepomo, 2009).

Ciri utama kelas Coniferae adalah adanya tajuk kerucut (Coniferae berasal dari kata
Conus yang berarti kerucut, dan Ferein yang berarti mendukung). Anggotanya dapat berupa
semak, perdu, atau pohon. Daun-daunnya berbentuk jarum, sehingga sering disebut pohon
jarum. Tumbuhan ini berumah dua, tetapi ada juga yang berumah satu. Kelas Coniferae
terdiri dari beberapa ordo, antara lain ordo Araucariales, ordo Podocarpales, ordo
Cupressales, dan ordo Pinales. Ordo-ordo tersebut umumnya disusun oleh satu suku. Contoh
anggota ordo Araucariales adalah Agathis alba (Araucariaceae), contoh anggota ordo
Podocarpales adalah Podocapus imbricata (Podocarpaceae), dan contoh anggota ordo Pinales
adalah Pinus silvetris. Abies nordmanniana, dan Pinus merkusii (Pinaceae). Ordo Cupressales
terdiri dari dua suku, yaitu Taxodiaceae (contohnya Sequoia gigantae) dan famili
Cupressaceae contohnya Juniperus communis (Campbell, 2008).
Klasifikasi Pinus (Pinus merkusii) :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Coniferophyta
Subkelas : Pinopsida
Ordo : Pinales
Family : Pinaceae
Genus : Pinus
Spesies : Pinus merkusii
tumbuhan pinus (Pinus merkusii Jungh & De Vr) termasuk tumbuhan divisi
spermatophyte, sub divisi gymnospermae yaitu berbiji terbuka, kelas coniferae yaitu meliputi
tumbuhan semak-semak, perdu, atau pohon-pohon dengan tajuk yang kebanyakan berbentuk
kerucut. Ordo pinales karena daunnya berbentuk jarum, duduknya tersebar pada sirung
panjang, atau pada sirung panjang terdapat daun-daun yang berdaging sedang pada sirung
pendek daunya berbentuk jarum. Habitus pinus adalah pohon yang berperiodisitas pirenial.
Habitat pinus di wilayah ketinggian 400-2000 mdpl dengan curah hujan 1200-3000
mm/tahun dan jumlah bulan kering 0-3 bulan. Persebaran pohon pinus di Indonesia tumbuh
secara alami khususnya di Aceh, Tapanuli dan Kerinci.

Akar pinus termasuk sistem perakaran tunggang karena akarnya hanya terdapat satu
lembaga (radicula) yang tumbuh terus menjadi akar utama dan bercabang-cabang lebih kecil,
serupa dengan menurut (Tjitrosoepomo, 1994) akar tunggang ialah jika akar lembaga tumbuh
terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar
tunggang biasanya terdapat pada tumbuhan biji belah (dicotyledoneae) dan biji telanjang
(gymnospermae). Menurut (Hardiyatmo, 2006) akar secara mekanis dapat memperkuat tanah,
melalui transfer tegangan geser dalam tanah, menjadi tahanan tarik dalam akar.

Batang pinus berbentuk bulat dengan permukaan kulit luar kasar berwarna coklat kelabu
sampai coklat tua, tidak mengelupas dan beralur lebar serta dalam. Batang utama silindris,
lurus dalam tegakan rapat serta memiliki alur yang dalam, percabangan monopodial dengan
cabang-cabang membentuk putaran yang teratur. Tegakan pinus dewasa dapat mencapai
tinggi 30 m dan diameter 60–80 cm, sedangkan tegakan tua dapat mencapai tinggi 45 m dan
diameter 140 cm. Menurut (Agusta, 2000) deskripsi botani pinus pada umumnya batang
berkayu, bulat, keras, bercabang horizontal, kulit retak-retak seperti saluran dan berwarna
cokelat. Menurut (Sastrohamidjojo, 2004) batangnya dapat disadap untuk mengambil
getahnya dan diproses lebih lanjut dengan penyulingan menghasilkan gondorukem sebagai
komponen utama dan terpentin sebagai hasil samping, bisa diolah minyak atsiri dll.

Daun pinus berwarna hijau, berbentuk jarum dengan pangkal tumpul, bertepi rata dan
ujung daun yang runcing. Daun bertekstur kasap dan panjang daun kurang lebih 10-20 cm
dan urat daun sejajar. Tata letak daun tersebar. Daun pinus termasuk daun majemuk karena
satu tangkai terdapat lebih dari sehelai daun. Menurut (Siregar, 2005) daun pinus terdapat dua
jarum dalam satu ikatan panjang 16-25 cm, akan gugur dan menjadi serasah. Serasah pinus
merupakan serasah daun jarum yang mempunyai kandungan lignin dan ekstraktif tinggi serta
bersifat asam, sehingga sulit untuk dirombak oleh mikroorganisme. Serasah pinus akan
terdekomposisi secara alami dalam waktu 8–9 tahun. Daun dan tajuk pinus dapat
dimanfaatkan untuk mengurangi hujan netto melalui proses intersepsi.

Pinus memiliki bunga yang tidak lengkap karena berupa strobilus jantan sekaligus
betina dalam satu pohon. Bunga jantan berbentuk strobilus (silindris) berwarna krim.
Sedangkan strobilus betina berbentuk kerucut, tumbuh di ujung dahan. Ujungnya runcing,
bersisik dan biasanya berwarna coklat. Maka dari itu pinus merupakan tumbuhan berumah
saru (monocieous). Menurut (Ningsih, 2013) strobilus jantan letaknya terminal dan betinanya
letaknya aksilaris dan untuk membedakan mana jantan dan betina. Biasanya strobilus betina
lebih besar daripada yang jantannya. Selain itu biasanya strobilus jantan tumbuh pada cabang
yang lebih rendah daripada cabang strobilus betina. Memiliki jumlah makrofil dan
mikrofilnya banyak dengan posisi yang tersebar. Penyerbukan dan penyebaran biji dengan
bantuan angin (anemogami).

Buah pinus merupakan buah semu berbentuk kerucut, ketikamasih muda berwarna
hijau dan coklat saat tua. Terdapat biji yang terletak pada dasar sisik buah, seriap sisik
menghasilkan dua biji berbentuk bulat telur dan pipih serta bersayap. Sayap melekat pada
biji.

Siklus hidup pinus

Reproduksi pada Pinus merkusii terjadi secara seksual. Pinus memiliki daur hidup
yang khas, pembuahan sel telurnya terjadi di dalam jaringan sporofit induknya. Pinus
mempunyai tajuk berbentuk kerucut (strobillus). Strobillus tersebut merupakan tempat
sporangium (mikrosporangium dan makrosporangium) yang menghasilkan mikrospora dan
maksrospora. Pada reproduksi seksual, mikrospora (sel jantan) membelah menghasilkan
serbuk sari (bersel 4) yang akan dilepaskan ke udara. Sementara itu, sel telur yang berasal
dari pembelahan megaspora juga terbentuk pada strobillus betina.

Setelah serbuk sari menempel pada stobillus betina maka terjadi perkecambahan
serbuk sari. Serbuk sari membentuk buluh atau tabung serbuk sari yang tipis, dengan
membawa inti sperma menuju sel telur (dapat memakan waktu satu tahun). Selanjutnya, inti
sperma bersatu dan melebur membentuk zigot. Zigot berkembang menjadi embrio dengan
mengambil makanan dari endosperm. Pada saat itu, biji membentuk struktur tambahan
berupa sayap tipis.

Satu tahun kemudian, kerucut betina melepaskan bijinya satu persatu. Biji-biji yang
bersayap tersebut menyebar ketempat-tempat lain (terbang) dengan bantuan angin. Jika biji
sampai pada tempat yang sesuai maka terjadi perkecambahan biji, sehingga akan terbentuk
tumbuhan yang baru. (Campbell, 2008)

Pinus merupakan salah satu jenis tanaman yang potensial untuk dibudidayakan
dengan berbagai manfaat sebagai berikut: Batangnya dapat disadap karena mengandung
getah ,dan getah ini dapat diproses untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin.
Gondorukem dimanfaatkan lagi untuk bahan pembuatan sabun, resin dan cat sedangkan
terpentin biasanya digunakan untuk industri parfum, obat-obatan dan desinfektan. Hasil
kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan, bahan pembuatan korek
api, Pulp dan kertas serat rajang. Bagian kulitnya dapat dijadikan sebagai bahan bakar. Dan
abunya dapat dijadikan sebagai bahan campuran pembuatan pupuk karena mengandung
kalium. Pinus sering ditanam untuk rehabilitasi dan reboisasi lahan, karena Pohon conifer ini
dapat tumbuh pada berbagai lahan gersang dan kritis dan tidak memiliki syarat tumbuh yang
khusus. Secara Etnobotani Kerucut pinus (strobilus) oleh pengrajin dapat dijadikan sebagai
kerajinan tangan seperti aksesoris (gantungan kunci) dan sebagai hiasan rumah. (Ningsih,
2013).

Kelas Gnetopsida (Gnetophyta)

Divisi ini meliputi tiga genus yaitu Gnetum, Epedhra dan Welwitschia. Gnetum
mempunyai 30 jenis meliputi tumbuhan yang berupa pohon dan merambat dengan daun yang
tebal dan besar seperti kulit., menyerupai daun tumbuhan dikotil. Tumbuhan ini tumbuh
subur di daerah tropis. Epedhra mempunyai 35 jenis, pada umumnya berupa tumbuhan
semak dengan daun kecil seperti sisik dan batangnya bersambungan satu sama lainnya.
Tumbuhan ini tumbuh di daerah kering atau gurun. Welwitschia merupakan tumbuhan
berpembuluh paling aneh. Sebagian besar di tubuhnya tertanam dalam tanah berpasir. Bagian
yang muncul diatas tanah berupa cakram besar berkayu berbentuk konkaf dengan dua daun
yang berbentuk pita.

Tumbuhan ini hanya ada dan tumbuh pada daerah subtropis. Tumbuhan yang
termasuk kedalam golongan gynkgopsida terdiri atas tumbuhan-tumbuhan yang berkayu
dengan bermacam-macam habitus dan ada sebagian yang telah punah. Dalam pengamatan
secara makroskopik ditunjukan adanya organ reproduksi yang disebut stobillus yang berupa
mikrosporofi untuk sel jantan dan mikrosporofil untuk sel betina.

Gambar Melinjo
(Sumber:

Klasifikasi Gnetum gnemon

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Gnetophyta
Subkelas : Gnetopsida
Ordo : Gnetales
Family : Gnetaceae
Genus : Gnetum
Spesies : Gnetum gnemon L.

Gnetum gnemon merupakan tumbuhan yang habitusnya pohon dengan batang yang
berkayu serta pola percabangan monopodial dan merupakan tumbuhan berbiji terbuka.
Bijinya tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar. Batangnya kokoh, daunnya
tunggal berbentuk oval dengan ujung tumpul. Melinjo tidak menghasilkan bunga dan buah
sejati karena bukan termasuk tumbuhan berbunga. Yang dianggap buah sebenarnya adalah
biji yang terbungkus oleh selapis aril yang berdaging. Daunnya jenis tunggal dengan tepi
yang rata, duduk daunnya berhadapan serta sudah memiliki pola pertulangan daun. Letak
keduanya adalah sama-sama aksilaris. Jumlah mikrosporofi dan makrosporofil banyak dan
berkarang. Keterbukaan bijinya sudah hampir tertutup.

Gnetum gnemon memiliki biji yang hampir tertutup yang artinya sudah maju, Jenis
kelamin juga berpengaruh dari penilaian maju atau tidaknya tumbuhan ini, yang berjenis
kelamin ganda atau berumah satu dianggap lebih primitive daripada yang berumah satu.
Tanaman melinjo dapat diperbanyak dengan cara generatif (biji) atau vegetatif (cangkokan,
okulasi, penyambungan dan stek).

Reproduksi terjadi secara seksual, sel sperma memulai dengan bantuan angin terbang
menuju strobilus betina. Disini terjadi proses fertilisasi dan akhirnya terbentuk zigot yang
tumbuh menjadi biji. Biji in dilengkapi sayap sehingga apabila telah matang bisa jatuh di
tempat yang jauh dari induknya. Memiliki strobilus jantan dan betina dan satu pohon.
Stroblus jantan terletak diujung tangkai. Sedangkan strobilus betina terletak di ketiak batang
(Tjitrosoepomo, 2009). Daur hidup tumbuhan biji terbuka ini menunjukan persamaan dengan
tumbuhan paku heterospora.
Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.

Campbell, A., Neil. 2008. Biologi Jilid 2 Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.

Hardiyatmo, H. 2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Hidayat, Topik, dkk. (2020). Penuntun Praktikum Biosistematika Tumbuhan. Bandung:


Departemen Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.

Ningsih, D. H. 2013 Klasifikasi dan Deskripsi Pinus Merkusi Jung. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.

Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.

Siregar, E. 2005. Pemuliaan Pinus Merkusi. Medan: Universitas Sumatra Utara.

Silalahi, Marina. 2014. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Jakarta: FKIP UKI.

Tjitrosoepomo, G. 1994. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tjitrosoepomo, G. 2009. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Referensi tambahan

Tuapattinaya, P. M. BIOPENDIK (Jurnal Biologi, Pendidikan dan Terapan). Maluku:


Program Studi Pendidikan Biologi & Alumni Sarjana Pendidikan Biologi.

Steenis, V. 1997. Flora: untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta: Pradya Paramita.