Anda di halaman 1dari 19

Tugas Individu

10 Desember 2012

KEALKHAIRAATAN

Disusun Oleh:
Nama : Stanley S Tjahjadi
No. Stambuk : 11-777-035
Pembimbing : Dr. Mufidah Aljufri

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2012
Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-
Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas Karya Ilmiah kealkhairatan
InI. Tidak lupa juga Saya capkan terima kasih kepada dosen kealkhairatan yaitu Ibu Dr.
Mufidah Aljufri yang telah membimbing Saya agar dapat mengerti tentang bagaimana cara
menyusun Karya Tulis Ilmiah ini.

Karya Ilmiah Ini disusun agar kita dapat mengetahui Sejarah perjuangan Habib Idrus Aljufri
dalam menyebarkan agama Islam di Sulawesi tengah, yang Saya sajikan dari berbagai
sumber. Makalah ini di susun oleh Saya dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari
diri Saya maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Tuhan akhirnya Karya Ilmiah  ini dapat terselesaikan.
semoga Karya Ilmiah Saya Dapat bermanfaat bagi Para Mahasiswa, Pelajar, Umum
Khususnya pada diri saya sendiri dan semua yang membaca Karya Tulis Saya ini, Dan 
Mudah mudahan Juga  dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca .
Walaupun Karya Ilmiah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya mohon untuk saran
dan kritiknya. Terima kasih
Daftar Isi

Kata pengantar................................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………......1-3
B. Identifikasi Masalah..........................................................................3
C. Tujuan...............................................................................................4
D. Metode.............................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN.....................................................................5-12

BAB III PENUTUP.............................................................................13-14

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................15
BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Al-Habib Idrus Bin Salim Al-Djuffri

Tonggak Islam di Indonesia Timur

Setiap tahun setelah hari raya Iedul Fitri, persisnya 12 Syawwal, ribuan umat Islam dari
berbagai daerah di kawasan Indonesia timur berduyun-duyun datang ke Palu, Sulawesi
Tengah. Tujuannya, menghadiri acara haul (peringatan wafatnya, red) tokoh dan tonggak
Islam di kawasan Indonesia Timur, Guru Tua Al-Alimul ‘Allamah HS Idrus bi Salim Al
Djufri. Di sanalah, penebar Islam asal Hadramaut yang menghabiskan separuh usianya di
Indonesia itu, dimakamkan.

Masyarakat Muslim Indonesia timur memang sangat sulit melupakan perjuangan gigih dari
seorang Tuan Guru HS Idrus bin Salim Al Djufri. Semangatnya untuk menebarkan Islam ke
pelosok-pelosok daerah terpencil, sangat dirasakan. Tak hanya pelosok yang bisa ditempuh
dengan jalan kaki dan kendaraan. Almarhum sering menembus daerah terpencil dengan
menggunakan sampan untuk memberikan pencerahan akidah Islam dan bimbingan kepada
umat Islam yang membutuhkan.

Habib Idrus muda memang gigih menimba ilmu agama. Pada usia 18 tahun ia telah hafal
Alquran ditambah tempaan langsung ayahnya, Habib Salim Aljufri.

Setelah ayahnya wafat, ia diangkat menjadi mufti muda di Taris menggantikan sang ayah.
Jabatan mufti yang disandangnya merupakan jabatan tertinggi di bidang keagamaan dalam
suatu kesultanan.

Gaya dakwah Habib Idrus sangat halus dan simpatik, sangat berbeda dengan gaya gerak
sejumlah ulama yang mengintroduksi gerakan di beberapa wilayah. Kendati Indonesia adalah
negeri keduanya — ia memutuskan pergi dari negerinya dan meluaskan dakwah ke Indonesia
tahun 1920-1n — ia sangat menjunjung tinggi negeri ini. Orang akan teringat betapa
kecintaannya kepada negerinya yang kedua ini dalam syairnya saat membuka kembali
perguruan tinggi pada 17 Desember 1945 setelah Jepang bertekuk lutut, ia menggubah syair,
Wahai bendera kebangsaan berkibarlah di angkasa; Di atas bumi di gunung nan hijau, Setiap
bangsa punya lambang kemuliaan; Dan lambang kemuliaan kita adalah merah putih.

Warisan besar dan berharga yang ditinggalkan Guru Tua adalah lembaga pendidikan Islam
Alkhairaat. Sampai saat ini Alkhairaat telah mengukir suatu prestasi yang mengagumkan.
Dari sebuah sekolah sederhana yang dirintisnya, kini lembaga ini telah berkembang menjadi
1.561 sekolah dan madrasah.

Selain itu, Alkhairaat juga memiliki 34 pondok pesantren, 5 buah panti asuhan, serta usaha-
usaha lainnya yang tersebar di kawasan Timur Indonesai (KTI). Sedangkan di bidang
pendidikan tinggi, yakni universitas, Alkhairaat memiliki lima fakultas definitif dan dua
fakultas administratif atau persiapan, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan
Fakultas Kedokteran dengan 11 program studi pada jenjang strata satu dan diploma dua.

Kitab Tarikh Madrasatul Khiratul Islamiyyah karya salah seorang santri generasi pertama
Habib Idrus, menyebut makna secara etimologis Alkhairaat berasal dari kata khairun yang
artinya kebaikan. Semangat menebar kebaikan itulah yang diusung Guru Tua, julukannya.

Ia memancangkan tonggak Alkhaeraat selama 26 tahun (1930-1956). Ia membesarkan


lembaga pendidikan yang didirikannya hingga pada akhirnya, tahun 1956, menjangkau
seluruh wilayah Indonesia timur.

Pada tahun itu pula dilaksanakan muktamar Alkhairaat yang pertama, bersamaan dengan
peringatan seperempat abad Alkhairaat. Dalam muktamar itu lahirlah keputusan penting,
yaitu berupa struktur organisasi pendidikan dan pengajaran, serta dimilikinya anggaran dasar.
Tonggak lembaga ini sebagai sebuah institusi modern terpancanglah sudah.

Periode selanjutnya adalah masa konsolidasi ide selama sembilan tahun yakni sejak 1956
hingga 1964. Guru Tua memberikan kepercayaan kepada santrinya yang terpilih yang
diyakininya cukup andal dan memiliki spesialisasi kajian. Murid-murid pelanjut Guru Tua
antara lain KH Rustam Arsjad, KH Mahfud Godal, yang ahli dalam bidang ilmu tajwid dan
tarikh, serta KHS Abdillah Aljufri yang ahli dalam ilmu sastra Arab dan adab. Rustam
menduduki posisi pimpinan pesantren karena keahliannya dalam bidang ilmu fikih dan tata
bahasa Arab.
Madrasah Alkhairaat terus berkembang walaupun saat itu hubungan transportasi maupun
komunikasi antara daerah belum selancar sekarang. Puncaknya, tahun 1964, Alkhairaat
membuka perguruan tinggi Universitas Islam (Unis) Alkhairaat di Palu. Habib Idrus duduk
sebagai rektornya.

Perkembangan perguruan tinggi ini tersendat tahun 1965. Perguruan tinggi ini dinonaktifkan.
Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswinya ditugaskan untuk membuka madrasah di
daerah-daerah terpencil. Ini sebagai upaya membendung komunisme, sekaligus melebarkan
dakwah Islam. Pada tahun 1969 perguruan tinggi tersebut dibuka kembali dengan satu
fakultas saja, yaitu Fakultas Syariah.

Pada tanggal 12 Syawwal 1389 H bertepatan dengan 22 Desember 1969 Habib Idrus bin
Salim Al-Djuffri atau lebih dikenal Guru Tua wafat. Ia menutup 46 tahun berkiprah di dunia
dakwah dan pendidikan dengan mewariskan lembaga pendidikan yang terus berkembang
hingga saat ini.

Setelah Guru Tua wafat, Alkhairaat menyempurnakan diri sebagai sebuah institusi modern
yaitu dengan adanya Perguruan Besar (PB) Alkhairaat, Yayasan Alkhairaat, Wanita Islam
Alkhairaat (WIA) dan Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) serta Perguruan Tinggi
Alkhairaat, lembaga ini juga memiliki surat kabar mingguan (SKM) Alkhairaat.

Kini Alkhairaat dipimpin oleh Ir Fadel Muhammad, gubernur Gorontalo yang juga seorang
pengusaha. Ia adalah alumni lembaga pendidikan Alkhairaat di Ternate, Maluku Utara. (dam)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, masalah – masalah yang muncul dapat di identifikasi
bagaimana latar belakang kehidupan dari Habib Idrus.
C. Tujuan

Penulisan Makalah ini bertujuan untuk :

1. Masyarakat dapat belajar dari teladan-teladan dan kebaikan yang diajarkan oleh habib
Idrus

2. Masyarakat dapat mengetahui latar belakang dan sejarah perjuangan Habib Idrus di
Sulawesi tengah.

D. Metode
Metode Yg Digunakan Dalam Penulisan Ini Adalah Metode Secara Langsung. Metode ini
mengkaji berbagai referensi tentang Profil Habib Idrus
BAB 2 PEMBAHASAN

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufry dilahirkan pada hari senin 14 Sya'ban 1309 H / 15 Maret
1892 M di Tarim, sekitar 5 kilometer dari Seiwun, Hadramaut, Yaman. Ayahandanya adalah
Habib salim bin Alwi bin Assegaf Al-Jufriy, seorang mufti di Hadramaut, sedang ibundanya,
Syarifah Noer adalah putri Raja Wajo, Sulawesi Selatan, yang bergelar Arung Matoa Wajo.

Sayyid Idrus dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama dan mencintai ilmu,
sehingga pribadinya tumbuh sebagai pecinta ilmu, terutama ilmu-ilmu agama. Sejak kecil
beliau sudah menampakkan kelebihan-kelebihannya, menjelang dewasa beliau sudah
memilki cakrawala berfikir yang luas. Beliau pun giat dan tekun menuntut ilmu.
Kecintaannya pada ilmu, barangkali lantaran beliau sangat terkesan akan nasihat salah
seorang gurunya agar beliau dapat menyamai ilmu kakeknya, Habib Alwy bin Saggaf Al-
jufry, penyusun kitab Syarah Umdatu Salik.

"Aku tidak hanya ingin menyamai kakekku, tetapi lebih dari itu, ingin memiliki ilmu
datukku, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib, yang oleh Rasulullah saw dikatakan, Aku adalah
kota ilmu pengetahuan, Dan Ali adalah pintunya; ilmu datukku lah yang hendak aku capai."

Beliau adalah Ulama Hadamaut yang hijrah ke Indonesia untuk menjaga benteng pertahanan
akidah Islam di Sulawesi dari rongrongan ancaman Missionaris Kristen. Beliaulah pendiri
Yayasan Alkhairaat, yang kini terdiri dari TK, SD, SMP,SMA, SMK,MI, MTS, MA hingga
Universitas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam Al-Khairaat berpusat di Kota Palu dan
menyebar ke daerah sekitar, menjadikannya sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Kawasan
Timur Nusantara.

Nasab Beliau adalah :


Habib Idrus bin Salim bin Alwi bin Segaf bin Alwi bin Abdullah bin Husein bin Salim bin
Idrus bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Abu Bakar Aljufri bin Muhammad bin Ali
bin Muhammad bin Ahmad bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Muhammad
Faqqqih Al-Muqaddam bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin
Ali AL-‘Uraidhi bin Jakfar As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin
Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahrah binti Rasulullah shallahu alaihi wa
sallam.

Habib Idrus lahir di kota Taris, 4 km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14 sya’ban 1309
H bertepatan dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari
ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim adalah seorang qadhi (hakim)
dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk memberi fatwa) di Kota Taris,
Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al Habib Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama
di masa itu. Beliau adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang fatwa-
fatwanya terkumpul dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya Al-Imam Al-habib
Abdurrahman Al-Masyhur.

Mula-mula beliau belajar kepada ayahandanya. Dan ketika usianya mencapai 12 tahun, beliau
sudah mampu menghafal Al-Qur'an. Selain itu beliai juga berguru kepada beberapa ulama
besar sahabat ayahnya, seperti:
• Habib Muhsin bin Alwi Assegaf
• Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih
• Habib Abdurrahman bin Ali bin Umar Assegaf
• Habib Abdullah bin Shaleh bin Husein Albahar

Dalam usia yang relatif sangat muda, beliau sudah dapat memahami dan menghafal lebih dari
200 ayat Ahkam, landasan hukum. 
Beliau juga sempat menjadi santri di salah satu rubath ( pesantren ) di Tarim. Usai
menamatkan pendidikan di pesantren tersebut, beliau mulai berdakwah dan mengajar.
Sebagai mubaligh, ketika itu beliau sempat dikenal dengan gelar Al-Bahrul Fahhamah
( pemilik pemahaman seluas lautan ). Penasihat pemerintah di bidang syariat, selama dua
tahun, menggantikan ayahandanya yang wafat.

Tatkala Habib Idrus menginjak usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat bahwa
kelak anak nya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara
khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat berkonsentrasi
dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf,
fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain
pada ayahnya, Habib Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di Hadramaut,
diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Abdurrahman bin Alwi
bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin
Husein bin Sholeh Al-Bahar, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib Abdullah
bin Umar As-Syathiri di Rubath Tarim.

Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib Idrus
berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam datuknya
Rasulullah salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam
bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak putranya ini
berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di Hijaz pada masa itu, untuk
memminta berkah, do’a serta ijazah dari mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-
Maliki Al-Hasani di Makkah. Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke
Hadramaut. Setelah itu beliau membawa Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota
Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh
yang merupakan kedua saudara kandung Habib Idrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke
Indonesia. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke
Hadramaut. Sebtibanya di Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh
ayah beliau.

Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang kemudian dikaruniai tiga
orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan. Pada bulan Syawwal
1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah beliau wafat. Dan pada tahun itu pula Habib Idrus
diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, padahal
usianya saat itu baru 25 Tahun.
Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan
Inggris itulah Habib Idrus bersama seorang sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah
(keduanya dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk mempublikasikan
kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Inggris di
Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan dengan matang dan rapi, keduanya berangkat
melalui Pelabuhan Aden. Namun di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh
pasukan Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah ditanah
beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka tidak diperbolehkan
bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian itu Habib Abdurrahman memilih tinggal
di Hadramaut, sedangkan Habib Idrus memilih hijrah ke Indonesia.

Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya
beliau tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah
Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu’ dan
Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-
Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia
untuk Arab Saudi periode sekarang.

Bukan hanya sebagai ulama, sayyid Idrus juga dikenal sebagai Mujtahid yang menentang
penjajahan Inggris terhadap negerinya, Yaman. Bersama sahabatnya, Habib Abdurrahman
bin Ubaidillah Assegaf, beliau berbagi tugas. Sayyid Idrus bertugas membawa dokumen
rahasia ke markas Liga Arab di Kairo. Tapi sampai di Pelabuhan Aden, beliau tertangkap
oleh tentara Inggris dan dikembalikan ke Hadramaut. Beliau dilarang pergi ke Timur Tengah,
tapi boleh ke salah satu dari dua tujuan : Asia tenggara atau Cina. Beliau memilih ke Asia
Tenggara, dan akhirnya ke Indonesia.

Tahun 1926, beliau menginjakkan kaki di Indonesia. Ini adalah kedatangannya yang kedua
kali, sebab semasa kecil beliau pernah ke Indonesia bersama sang ayah. Selain melepas
kerinduan pada kampong halaman ibundanya di Wajo, belakangan beliau menjadikan
Indonesia sebagai tempat berdakwah. Maka mulailah Sayyid Idrus mensyiarkan islam. Ketika
itulah beliau mulai mengajar, mula-mula di madrasah Jami'at Khair, Jakarta, kemudian
membuka dan memimpin Madrasah Al-Rabithah Al-Alawiyah di Solo yang kemudian
berganti nama menjadi Yayasan Diponegoro.
Aktivitas dakwahnya meluas hampir diseluruh Jawa. Beliau adalah ulama Ahlussunah
Waljamaah yang bermazhab Syafi'i dengan mengamalkan Tarekat Alawiyah. Bukan hanya
mengajar dan berdakwah di berbagai pelosok, Sayyid Idrus juga sempat menjalin hubungan
erat dengan para ulama yang ketika itu aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Salah seorang
ulama yang sangat akrab dengannya adalah K.H.Hasyim Asy'ari, pengasuh Pondok Pesantren
Tebuireng, Jombang, Jawa Timur dan pendiri Nahdatul Ulama.

Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang, disana beliau mengajar dan berdagang.
Namun di penghujung tahun 1928 M karena seringkali mengalami kerugian dalam
berdagang, Habib Idrus berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau
pindah ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928 bersama beberapa Habaib beliau
mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota Solo. Namun, pada akhir tahun 1929 M
Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke Sulawesi. Beliau kemudian berlayar
menuju Manado. Ketika kapalnya singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan
kesempatan itu untuk berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin
Khams Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan madrasah
di kota Palu.

Setibanya di Manado, Habib Idrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah


masyarakat arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya
disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh masyarakat
arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan mengusahakannya.

Tahun 1929, beliau mulai merambah Kawasan Timur Indonesia. Setahun kemudian, 1930,
beliau mulai berdakwah di Palu, Sulawesi tengah. Beliau berdakwah di kalangan suku Kali.
Kehadirannya di tengah-tengah suku Kali adalah takdir Allah swt, dan merupakan rahmat
bagi suku terbesar di Sulawesi Tengah tersebut. Sesungguhnya kedatangannya kesana tanpa
direncanakan sama sekali.

Kala itu, Sayyid Idrus tengah berada di Tondano, sekitar 35 kilometer dari Manado, Sulawesi
utara. Beliau kebetulan bersilaturrahmi dengan dua orang saudaranya yang telah lebih dahulu
hijrah ke Indonesia, masing-masing Habib Syekh bin Salim Al-Jufry dan Habib Alwi bin
Salim Al-Jufry. Kedatangannya di Palu hanyalah untuk transit menuju Wani, kecamatan
Tawaeli, Donggala, untuk memenuhi undangan tiga sahabatnya : Sayyid Ibrahim bin Zain al-
Mahdi, Sayyid Muhammad bin Muhsin ar-Rifai dan Sayyid Ahmad bin Ali Al-Muhdhar.

Setelah itu barulah ia menuju ke Palu. Kedatangannya ke Palu ternyata kemudian menjadi
catatan sejarah dalam mengawali dakwah di Kawasan Timur Indonesia. Melihat kondisi
masyarakat Palu kala itu yang sangat membutuhkan pendidikan agama, beliau pun segera
memutuskan untuk menetap disana. Tak lama kemudian, tanggal 30 Juni 1930, beliau
mendirikan madrasah bernama Al-Khairaat.

Dalam rentang waktu 365 hari, beliau berdakwah dan mengajar keliling, menyusuri berbagai
pelosok desa, menyeberangi sungai, menembus hutan dan perbukitan, merambah hamper
seluruh Sulawesi. Dan akhirnya, kini, Al-Khairat berkembang tidak hanya di Sulawesi
tengah, tapi juga Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Kalimantan, hingga Irian Jaya. Para
alumnus santrinya tersebar di seluruh Kawsan Timur Indonesia, sebagai pegawai negeri,
guru, dosen, pengusaha, ulama, bahkan juga para pejabat di daerah-daerah dan pejabat tinggi.

Kepada mereka, Sayyid Idrus berpesan dalam salah satu syairnya :


Wahai abna'ul Khairat, bangkitlah!
Tunaikan kewajiban mengajar
Kelak kalian menjadi pelopor terdepan
Kalian telah memiliki panutan yang di contoh-
kan oleh orang-orang sebelum kamu
yaitu para guru yang telah membimbingmu
Dalam perkembangannya, pengelolaan Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib Idrus.
Para murid yang belajar di sana tidak dipungut biaya sama sekali. Hal ini karena Habib Idrus
mengadaptasi sistem pendidikan arab yang pada umumnya tidak memungut biaya kepada
para muridnya. Sehingga para murid lebih fokus dalam belajar. Habib Idrus membrikan gaji
kepada para guru dan staf sekolah dari hasilnya berdagang.

Habib Idrus mengajar para santrinya dengan penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi.
Keikhlasan dan keuletan beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu
telah menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke seluruh
pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya. Keberadaan perguruan
Al-Khairaat dan para santrinya telah berhasil membentengi kawasan Timur Indonesia dari
para penginjil, yang waktu itu pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas
mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Indische Kerk (IK)
berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap (NZG) berpusat di Tentena, dan Leger
Dois Hest (LDH) berpusat di Kalawara.

Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan menjadikan kota Manado
sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu,
Jepang memerintahkan penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun
kependudukan Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para
muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara sembunyi-sembunyi.
Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang berjarak satu setengah kilometer dari
lokasi perguruan Al-Khairaat. Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya
menggunakan penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi-
sembunyi. Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Habib
Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara resmi. Beliau berjuang kembali untuk
mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-
1956) lembaga yang telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.

Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka perguruan


tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam Al-Khairaat dengan tiga fakultas di
dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Habib Idrus
sebagai Rektor pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun
1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para Mahasiswanya
diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil kawasan Sulawesi. Hal ini
sebagai upaya untuk membendung paham komunis sekaligus melebarkan dakwah Islam.
Setelah keadaan kondusif, pada tahun 1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali.

Masih dalam suasana Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib Idrus kembali
kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan Sastrawan itu
wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22 Desember 1969 M. sebelum
menjelang detik-detik kewafatannya, Habib Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang
memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang
menerima jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca talqin di
kubur.

Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah Al-Khairaat
dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada
umat. Mereka para murid-murid Al-Khairaat meneybar di seluruh kawasna Indonesia untuk
meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah satu murid belia
yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh Abdun, yang hijarh dari kota
Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan
pesantren Daarut Tauhid di Kota Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25
cabang Alkhairaat dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala
hidupnya. Kini perguruan Besar Alkahiraat danYayasan Al-khairaat, dibentuk pula Wanita
Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.
Sayyid Idrus, ulama besar dan pelopor dakwah di Kawasan Timur Indonesia. Sebelum wafat,
beliau berpesan agar pada setiap 12 Syawal para alumnus Al-Khairat, yang disebut abna'ul
Khairat dari segenap pelosok, menyelenggarakan silaturrahim. Dan ternyata 12 Syawal
adalah hari wafatnya, yang juga hari haulnya untuk memperingati jasa dan kepeloporan
ulama besar ini. 
BAB 3 PENUTUP

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa sosok guru tua
adalah yang patut kita teladani berikut ini Sifat-Sifat Teladan Habib Idrus bin Salim al-Djufri

1. Keikhlasan Hati dan Bertaqwa

Contoh keikhlasan beliau terlihat dari barang-barang yang telah terjual di Ampana, karena
beliau dengan ikhlas memberikan tenaganya dalam menjelaskan barang-barang dagangan
nya, bahkan ada pula orang yang meminta untuk membeli surban guru Tua (Habib Idrus),
pada saat itu pemuda tadi meminta agar membeli surban yang digunakan, akan tetapi Guru
Tua bertanya untuk apa engkau membeli surban yang sudah saya gunakan, seketika pemuda
itu menjawab saya bukan menginginkan surbannya akan tetapi saya meminta berkahnya,
dengan penuh keikhlasan beliau memberikan surbannya. Keikhlasan juga bisa terlihat dari
beliau mengumpulkan murid-muridnya sehingga menjadi sebuah lembaga termahsyur yang
diberi nama al-khairat. Kata al-Khairāt sendiri adalah berbentuk jamak yang artinya
kebaikan-kebaikan, makna dibalik itu adalah semangat menebar kebaikan itulah moto dari
HabibIdrus.

2. Sifat Patuh Menerima Perintah Allah SWT

Patuhnya Habib menjalankan perintah Allah beserta petunjuk-petunjuknya terlihat jelas


dengan beberapa mimpinya yang di aplikasikan dalam memilih lokasi bangunan, mimpi
tersebut diyakini oleh habib merupakan petunjuk dari Allah swt. Dengan mengikuti petunjuk
tersebut banyak yang puas termasuk masayarakat dan murid-muridnya.

3. Satu kata dan Perbuatan

Maksud dari perkataan ini ialah Habib Idrus selalu teguh dalam perkataan apa yang beliau
katakan, artinya dapat memahami apa keinginan orang banyak itu . Apabila Guru Tua
memberikan petunjuknya diusahakannya, ditepatinya, . Dari tingkah laku yang dikatakan “
satu kata dengan dengan perbuatan artinya kebiasaan yang sering dilakukan Habib Idrus.

4. Dapat mengendalikan hawa Nafsu

Hal ini bisa terlihat ketika ada seorang pemuda yang berada di Poso, yang bertanya dengan
sinis dan kurang sopan, akan tetapi Habib Idrus bin salim al-Djufri tidak marah dan tetap
berwibawa dalam menjawab soal tersebut, seketika orang kagum terhadap beliau karena tetap
berwibawa.

5. Teguh Pendirian dan Berani

Sifat teguh dan pendirian merupakan salah satu ciri khas beliau sebagai contoh Habib Idrus
pernah menjual pembungkus Radio yang pada saat itu ditanyakan oleh Kolonial Jepang
dengan pendirian yang teguh beliau menjelaskan beberapa penjelasan mengenai radio
tersebut, dan akhirnya beliau tidak ditangkap dan bebas karena beliau tetap teguh dengan
pendapat awal.
Daftar Pustaka

1. https://sites.google.com/site/pustakapejaten/manaqib-biografi/6-habaib-nusantara/sayyid-
idrus-bin-salim-al---jufry
2. http://muhsinschool87.blogspot.com/2010/07/sejarah-habib-idrus-bin-salim-al-djufri.html