Anda di halaman 1dari 9

KLIPING SENI BUDAYA REPRODUKSI

KARYA SENI LUKIS

Disusun Oleh :
Nama : Titi Erva Okna Herma
Yora
Kelas : XI IPS 2
Guru : Hengki Septiawan, S.Pd

MAN 1 KOTA BENGKULU


2020/2021
1. Sikap Berapresiasi
• Cari dan buatlah kliping reproduksi karya seni lukis, yang dipilih berdasarkan
lukisan yang kamu senangi.
• Tulis Biografi ringkas tokoh pelukis yang karya-karyanya kamu kliping

Judul : Kucing-the-cat
Karya : Popo Iskandar
Media : Cat Minyak dan Kanvas
Dimensi karya : 120 cm x 145 cm
Tahun : 1975
Judul : Jago
Karya : Popo Iskandar
Media : Cat minyak dan kanvas
Dimensi karya : 48 cm x 61 cm
Tahun : 1998
Judul : Kamboja
Karya : Popo Iskandar
Media : Paper dan hardboardcut
Dimensi Karya : 42 cm x 32 cm
Tahun : 1969
BIOGRAFI POPO ISKANDAR

Pelukis, penulis esai, kritikus sastra Sunda, dosen seni rupa IKIP Bandung. Lahir di Garut
pada 17
Desember 1927 dan meninggal pada 29 Januari 2000 pada umur 72 Tahun. Minatnya kepada
seni lukis tumbuh karena pengaruh abangnya, Angkama, seorang guru guru gambar HIS,
beranjak dewasa dibimbing oleh Hendra Gunawan dan Barli Samitawinata.
Bersama dengan kedua orang gurunya itu, Popo sering keluar masuk lorong dan
perkampungan Bandung dan sekitarnya. Dalam proses melukis, Popo merasa lebih dekat
dengan Hendra yang sifatnya terbuka, pandai bergaul dan memiliki rasa humor yang segar.
Pada masa revolusi, Popo menggabungkan diri dengan TRIP. Dia menamatkan SMP di
pengungsian. Setelah ada pengumuman Wakil Presiden Moh. Hatta yang memperkenankan
para pegawai sipil bekarja pada pemerintahan negara federal, Popo kembali ke Bandung.
Dia bermaksud mendalami seni lukis melalui pendidikan formal, pada jurusan Seni Rupa.
Tamat tahun 1958. Penulisan skripsi untuk memenuhi tugas kesarjanaan, menyebabkan ia
menulis esai dan kritik yang di antaranya dimuat dalam majalah Siasat (Jakarta) dan Budaya
(Yogyakarta).
Pada mulanya lukisan Popo, terpengaruh oleh gurunya, Ries Mulder, orang Belanda yang
mengajar di Juruan Seni Rupa dan cenderung berkiblat pada mazhab kubisme dan abstrak.
Tetapi pengaruh realisme Hendra Gunawan pun tetap kuat. Dalam perkembangan
selanjutnya, Popo menemukan gaya sendiri. Kegemarannya melukis kucing, menyebabkan
ia sering diberi julukan "pelukis kucing". Sang Pelukis Maestro ini terkenal dengan ciri khas
Lukisan bertema kucing, dilukis dalam gaya ekspresionis bernuansa minimalis, dengan
tehnik cat tebal dan bertekstur. Salah satu alasan Popo Iskandar gemar melukis kucing,
seperti yang pernah beliau ucapkan semasa hidup “ Tabiat kucing variatif, manja, binal dan
buas, tapi penurut. Karena itu saya menyukainya” katanya.
Dia melukiskan kegarangan, kemalasan, kelucuan, daya magis dan sifat-sifat lain yang
dia lihat ada pada kucing. Dengan garis-garis yang sugestif dan warna yang hanya dua-tiga
macam saja, dia mengungkapkan sifat-sifat kucing. Tetapi sebenarnya ia tidak hanya
melukis kucing. Binatang lain dan motif lain pun banyak dia lukis seperti batu-batuan,
lautan, kebun bambu, bunga, ayam, banteng, harimau, dll. Karya-karyanya seperti dapat
dibagi dalam berbagai periode sesuai dengan motif yang banyak dia lukis, seperti periode
jambangan bunga, periode kebun bambu, periode batu-batuan, periode lautan, periode
kucing, periode ayam, dll.
Popo sering menyelenggarakan pameran, baik tunggal maupun bersama dengan yang
lain, baik dalam negeri maupun di luar negeri. Pada tahun 1960, Popo terpilih sebagai
Ketua BPB Kiwari Bandung yang aktif menyelenggarakan diskusi dan pertunjukan
kesenian tradisional. Waktu pembentukan PPSS Popo menjadi salah seorang pendiri dan
duduk sebagai anggota pengurus yang pertama, bertugas menilai calon anggota.
Pada tahun 1970, Popo terpilih menjadi anggota Akademi Jakarta yang bertugas antara
lain menyusun calon anggota Dewan Kesenian Jakarta dan memberikan saran-saran dalam
bidang kebudayaan kepada Gubernur DKI Jakarta. Sehubungan dengan genapnya usia
Affandi 70 tahun, Akademi Jakarta menugaskan Popo menulis buku tentang Affandi.
Hasilnya adalah Affandi: Suatu jalan Baru dalam Realisme (Jakarta, 1977). Popo menjadi
anggota tim penyusun buku Sejarah Seni Rupa Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat
Kebudayaan Depdikbud (Jakarta, 1982), Naskahnya yang lain: Seni Lukis Indonesia pra-
Persagi. Lukisan Popo Iskandar banyak dikoleksi dan sekaligus dijadikan sebagai hiasan
dekorasi interior dalam rumah bergaya modern dan minimalis, karya-karya Lukisanya
banyak mendapatkan apresiasi dari para pengamat seni, baik dalam dan luar negeri.

2. Keterampilan Berapresiasi
• Pilih satu diantara tiga lukisan yang dipajang di depan kelas.
• Kemudiam kemukakan hasil apresiasi kamu dengan tahapan yang benar untuk
menyimpulkan makna lukisan
Judul : Kapal Karam Dilanda Badai
Karya : Raden Saleh
Media : Cat minyak dan kanvas
Dimensi karya : 97 cm x 74 cm
Tahun : 1837
Bentuk yang ditampilkan pada lukisan mengambil bentuk figuratif yaitu dua kapal yang
terombang-ambing di lautan yang sedang mengalami badai dan ada satu kapal yang di terjang
ombak lalu menabrak karang. Tekstur lembut pada awan dan tekstur kasar yang terlihat pada
kapal, ombak dan tebing. Cahaya pada lukisan tersebut muncul atau berasal dari arah kiri
bagian atas yang muncul dari balik awan gelap, dan cahaya tersebut mengenai ombak dan
kapal yang hancur. Terdapat warna biru muda di balik awan hitam yang menandakan cuaca
yang mulai cerah setelah datangnya badai besar, dan warna putih sebagai cahaya. Warna-
warna yang digunakan juga sangat tepat dengan suasana yang digambarkan.

Makna dari lukisan tersebut :


mengungkapkan gejolak jiwa yang terombang-ambing antara keinginan menghayati dunia
imajinasi dan menyatakan dunia nyata. Perpaduan keduanya terwujud dalam ekspresi visual
yang dramatis, emosional, sekaligus misterius. Dalam lukisan Kapal Dilanda Badai, dapat
dilihat bagaimana Raden Saleh mengungkapkan perjuangan dramatis dua buah kapal dalam
hempasan badai dahsyat di tengah lautan.
3. Pengetahuan Apresiasi
• Uraikan dengan singkat pemahaman kamu tentang tiga domain apresiasi seni
• Jelaskan proses kegiatan apresiasi seni dengan pendekatan saintifik
• Tulis latar belakang mengapa kamu memilih lukisam lukisan yang kamau
kliping.
Tigas domain apresiasi
1. FEELING berkaitan dengan perasaan yang muncul saat melihat keindahan
karya seni. Perasaan ini tentu berbeda-benda antara manusia yang satu dan
lainnya.
2. VALUING berkaitan dengan penilaian terhadap suatu karya seni. Nilai seni
dalam hal ini adalah bobot-bobot seni yang dikandung oleh karya seni.
3. EMPHATIZING berkaitan dengan empati, yakni sikap hormat terhadap dunia
seni rupa termasuk di dalamnya profesi yang berkaitan dengan dunia tersebut
seperti pelukis, pekramik, pepatung, pekria dan lain lain.
Proses kegiatan apresiasi dengan pendekatan saintifik
Dengan cara melakukan pengamatan langsung atau ikut berpartisipasi mengamati apa yang
akan di amati,kemudian setelah mengamati kita dapat menggali yang kemudian di
presentasikan sesuai dengan nilai yang ada setelah kita mengamatinya.

Latar belakang memilih lukisan


Pertama saya memilih lukisan karya Popo Iskandar karena saya merasa tertarik ketika
melihat lukisannya yang unik. Lukisan kucing karya Popo Iskandar membuat saya sangat
tertarik karena saya menyukai hewan kucing, selain itu beliau juga pernah berkata “ Tabiat
kucing variatif, manja, binal dan buas, tapi penurut. Karena itu saya menyukainya”. Dalam
serial kucing, ia menggali esensi binatang jinak, lucu, indah bahkan juga bisa memancarkan
sifat-sifat misterius. Hal tersebut juga dituangkannya didalam lukisan lain yang membuat
tertarik untuk dilihat.
Kedua saya memilih lukisan karya Raden Saleh dengan judul Kapal Karam Dilanda Badai
karena didalam karya tersebut terdapat makna perasaan gejolak jiwa manusia hidup di dunia
yang penuh dengan tantangan yang membuat saya tertarik memilihnya.

4. Penilaian Diri
1. Apakah kamu telah dapat membedakan lukisan yang indah dengan lukisan
yang tidak indah?
Jawab : iya saya dapat membedakannya, dengan melihat dan melakukan
analisis lukisan tersebut
2. Apakah anda telah dapat menemukan tema dan makna lukisan yang anda
apresiasi?
Jawab : iya saya sudah menemukana tema dan makna dari lukisan tersebut
melalui pengamatan saya sana referensi yang sumber yang lain.
3. Apakah penafsiran makna seni yang kamu buat dapat
dipertanggungjawabkan?
Jawab : tidak, karena saya membuat penafsiran belum secara mendalam untuk
memaknai sebuah lukisan seniman