Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1. LatarBelakang

Trombositopenia  adalah  suatu  kekurangan  trombosit,  yang merupakan


bagian dari pembekuan darah. Pada orang normal jumlah trombosit di dalam
sirkulasi berkisar antara 150.000-450000/ul, rata-rata berumur 7-10
hari kira-kira 1/3 dari jumlah trombosit di dalam sirkulasi darah
mengalami penghancuran di dalam limpa oleh karena itu untuk mempertahankan
jumlah  trombosit  supaya  tetap  normal  di  produksi 150.000 - 450000 sel
trombosit perhari. Jika jumlah trombosit kurang dari 30.000/mL,  bisa  terjadi
perdarahan  abnormal  meskipun  biasanya gangguan  baru  timbul  jika  jumlah
trombosit  mencapai  kurang  dari 10.000/mL.(Sudoyo, dkk ,2006).
ITP adalah singkatan dari Idiopathic Thrombocytopenic Purpura. Idiopathic
berarti tidak diketahui penyebabnya. Thrombocytopenic berarti darah yang tidak
cukup memiliki keping darah (trombosit). Purpura berarti seseorang memiliki
luka memar yang banyak (berlebihan). Istilah ITP ini juga merupakan singkatan
dari Immune Thrombocytopenic Purpura. (Family Doctor, 2006).
Idiophatic (Autoimmune) Trobocytopenic Purpura (ITP/ATP) merupakan
kelainan autoimun dimana autoanti body Ig G dibentuk untuk mengikat
trombosit.
ITP (Idiopathic Th rombocytopenic Purpurae ialah suatu gangguan autoimun
yang ditandai dengan trombositopeni (angka trombosit darah perifer kurang dari
150.000/mm3) akibat destruksi prematur trombosit yang meningkat (akibat
autoantibody yang mengikat antigen trombosit).
Tidak jelas apakah antigen pada permukaan trombosit dibentuk. Meskipun
antibodi antitrombosit dapat mengikat komplemen, trombosit tidak rusak oleh
lisis langsung. Insident tersering pada usia 20-50 tahun dan lebih sering pada
wanita dibanding laki-laki (2:1). (Arief mansoer, dkk).
ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) juga bisa dikatakan merupakan
suatu kelainan pada sel pembekuan darah yakni trombosit yang jumlahnya
menurun sehingga menimbulkan perdarahan. Perdarahan yang terjadi umumnya
pada kulit berupa bintik merah hingga ruam kebiruan. (Imran, 2008)
Dalam tubuh seseorang yang menderita ITP, sel-sel darahnya kecuali keping
darah berada dalam jumlah yang normal. Keping darah (Platelets) adalah sel-sel
sangat kecil yang menutupi area tubuh paska luka atau akibat teriris/terpotong
dan kemudian membentuk bekuan darah. Seseorang dengan keping darah yang
terlalu sedikit dalam tubuhnya akan sangat mudah mengalami luka memar dan
bahkan mengalami perdarahan dalam periode cukup lama setelah mengalami
trauma luka. Kadang bintik-bintik kecil merah (disebut Petechiae) muncul pula
pada permukaan kulitnya. Jika jumlah keping darah atau trombosit ini sangat
rendah, penderita ITP bisa juga mengalami mimisan yang sukar berhenti, atau
mengalami perdarahan dalam organ ususnya. (Family Doctor, 2006)
Trombosit berbentuk bulat kecil atau cakram oval dengan diameter 2-4µm.
Trombosit dibentuk di sumsum tulang dari megakariosit, sel yang sangat besar
dalam susunan hemopoietik dalam sumsum tulang yang memecah menjadi
trombosit, baik dalam sumsum tulang atau segera setelah memasuki kapiler
darah, khususnya ketika mencoba untuk memasuki kapiler paru. Tiap
megakariosit menghasilkan kurang lebih 4000 trombosit (Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II).
Megakariosit tidak meninggalkan sumsum tulang untuk memasuki darah.
Konsentrasi normal trombosit ialah antara 150.000 sampai 350.000 per
mikroliter. Volume rata-ratanya 5-8fl. Dalam keadaan normal, sepertiga dari
jumlah trombosit itu ada di limpa. Jumlah trombosit dalam keadaan normal di
darah tepi selalu kurang lebih konstan. Hal ini disebabkan mekanisme kontrol
oleh bahan humoral yang disebut trombopoietin. Bila jumlah trombosit menurun,
tubuh akan mengeluarkan trombopoietin lebih banyak yang merangsang
trombopoiesis.
Idiopathic thrombocytopenic Purpura mempengaruhi anak-anak dan orang
dewasa. Anak-anak sering mengalami idiopathic thrombocytopenic Purpura
setelah infeksi virus dan biasanya sembuh sepenuhnya tanpa pengobatan. Pada
orang dewasa yang menderita penyakit ITP sering lebih kronis. ITP diperkirakan
merupakan salah satu penyebab kelainan perdarahan didapat yang banyak
ditemukan oleh dokter anak, dengan insiden penyakit simtomatik berkisar 3
sampai 8 per 100000 anak per tahun.

Di bagian ilmu kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo terdapat 22 pasien baru
pada tahun 2000.Delapan puluh hingga 90% anak dengan ITP menderita apisode
pendarahan akut, yang akan pilih dalam beberapa hari atau minggu dan sesuai
dengan namanya (akut) akan sembuh dalam 6 bulan. Pada ITP akut ada
perbedaan insiden laki-laki maupun perempuan dan akan mencapai puncak pada
usia 2-5 tahun. Hampir selalu ada riwayat infeksi bakteri, virus, atau pun
imunisasi 1-6 minggu sebelum terjadinya penyakit ini. Perdarahan serinh terjadi
saat trombosit dibawah 20.000/mm3. ITP kronis terjadi pada anak usia > 7 tahun,
sering terjadi pada anak perempuan. ITP yang rekuen di definisikan sebagai
adanya episode trombositopenia > 3 bulan dan terjadi 1-4% anak dengan ITP. ITP
merupakan kelainan auto imun yang menyebabkan meningkatrnya penghancuran
trombosit dalam retikuloendotelial. Kelainan ini biasanya menyertai infeksi virus
atau imunisasi yang disebabkan oleh respons sistem imun yang tidak tepat.

1.2  Rumusan Masalah


1.Bagaimana konsep medis ITP ?
2.Bagaimana konsep keperawatan ITP?

1.3 Tujuan Penulisan


1.Agar mahasiswa mampu mengetahui konsep medis ITP.
2.Agar mahasiswa mampu mengetahui konsep keperawatan ITP.

1.4 Manfaat Penulisan


Harapan penulis setelah disusunnya makalah ini adalah mahasiswa lebih memahami
tentang asuhan keperawatan anak dengan ITP, serta memberikan gambaran tentang aplikasi
konsep dan teori keperawatan dalam asuhan keperawatan pada anak dengan ITP, serta
memberikan gambaran peran peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan  
1.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

ITP adalah singkatan dari Idiopathic Thrombocytopenic Purpura. Idiopathic berarti


tidak diketahui penyebabnya. Thrombocytopenic berarti darah yang tidak cukup memiliki
keping darah (trombosit). Purpura berarti seseorang memiliki luka memar yang banyak
(berlebihan). Istilah ITP ini juga merupakan singkatan dari Immune Thrombocytopenic
Purpura. (Family Doctor, 2006).

2.2 JENIS ITP


Secara klinis, ITP ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
1) ITP Akut : ITP akut [kurang dari 6 bulan] ini lebih sering terjadi pada anak [usia 2-6 tahun],
seringkali terjadi setelah infeksi virus akut [Rubeola, Rubella, Varicella zoozter, Epstein Barr
virus] dan penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh virus. Manifestasi perdarahan ITP
akut pada anak biasanya ringan, perdarahan intracranial terjadi kurang dari 1% pasien.
Biasanya ITP akut pada anak ini self limiting, remisi spontan terjadi pada 90% pasien
[dimana 60% sembuh dalam 4-6 minggu, dan lebih dari 90% sembuh dalam 3-6 bulan]. Dan
sekitar 5-10% lainnya berkembang menjadi ITP kronik [berlangsung lebih dari 6 bulan]
2) ITP kronik : ITP kronik ini terutama dijumpai pada wanita berumur 15-50 tahun. Episode
perdarahan dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, mungkin intermitten,
bahkan terus menerus.
2.
Tabel Perbedaan ITP akut dengan ITP kronik
ITP akut ITP kronik
     Awal penyakit 2-6 tahun 20-40 tahun
     Rasio L:P 1:1 1:2-3
     Trombosit <20.000/Ml 30.000-100.000/mL
     Lama penyakit 2-6 minggu Beberapa tahun
     Perdarahan Berulang Beberapa hari/minggu

   (Bakta, 2006; Mehta, et. al, 2006)


                                                                   
2.3 Etiologi 
a.    Penyebab dari ITP tidak diketahui secara pasti, mekanisme yang terjadi melalui
pembentukan antibodi yang menyerang sel trombosit, sehingga sel trombosit mati. (Imran,
2008). Penyakit ini diduga melibatkan reaksi autoimun, dimana tubuh menghasilkan antibodi
yang menyerang trombositnya sendiri. Dalam kondisi normal, antibodi adalah respons tubuh
yang sehat terhadap bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi untuk penderita
ITP, antibodinya bahkan menyerang sel-sel keping darah ubuhnya sendiri. (Family Doctor,
2006). 
Meskipun pembentukan trombosit sumsum tulang meningkat, persediaan trombosit
yang ada tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Pada sebagian besar kasus, diduga
bahwa ITP disebabkan oleh sistem imun tubuh. Secara normal sistem imun membuat antibodi
untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Pada ITP, sistem imun melawan
platelet dalam tubuh sendiri. Alasan sistem imun menyerang platelet dalam tubuh masih
belum diketahui. (ana information center, 2008).
b.     ITP kemungkinan juga disebabkan oleh hipersplenisme, infeksi virus, intoksikasi makanan
atau obat atau bahan kimia, pengaruh fisis (radiasi, panas), kekurangan factor pematangan
(misalnya malnutrisi), koagulasi intravascular diseminata (KID), autoimun. Berdasarkan
etiologi, ITP dibagi menjadi 2 yaitu primer (idiopatik) dan sekunder. Berdasarkan awitan
penyakit dibedakan tipe akut bila kejadiannya kurang atau sama dengan 6 bulan (umumnya
terjadi pada anak-anak) dan kronik bila lebih dari 6 bulan (umunnya terjadi pada orang
dewasa). (ana information center, 2008)
3.
c.    ITP juga terjadi pada pengidap HIV. sedangkan obat-obatan seperti heparin, minuman keras,
quinidine, sulfonamides juga boleh menyebabkan trombositopenia. Biasanya tanda-tanda
penyakit dan faktor-faktor yang berkatan dengan penyakit ini adalah seperti yang berikut :
purpura, pendarahan haid darah yang banyak dan tempo lama, pendarahan dalam lubang
hidung, pendarahan rahang gigi, immunisasi virus yang terkini, penyakit virus yang terkini
dan calar atau lebam.
 2.4 Patologi dan patofisiologi ITP
Kerusakan trombosit pada ITP melibatkan autoantibody terhadap gliko protein
yang terdapat pada membran trombosit. Penghancuran terjadi terhadap trombosit yang
diselimuti antibody, hal tersebut dilakukan oleh magkrofag yang terdapat pada limpa dan
organ retikulo endotelial lainnya. Megakariosit pada sumsum tulang bisa normal atau
meningkat pada ITP. Sedangkan kadar trombopoitein dalam plasma, yang merupakan
progenitor proliferasi dan maturasi dari trombosit mengalami penurunan yang berarti,
terutama pada ITP kronis.
Adanya perbedaan secara klinis maupun epidemologis antara ITP akut dan kronis,
menimbulkan dugaan adanya perbedaan mekanisme patofisiologi terjadinya trombsitopenia
diantara keduanya. Pada ITP akut, telah dipercaya bahwa penghancuran trombosit meningkat
karena adanya antibody yang dibentuk saat terjadi respon imun terhadap infeksi bakteri atau
virus atau pada imunisasi, yang bereaksi silang dengan antigen dari trombosit.
Mediator lainnya yang meningkat selama terjadinya respon imun terhadap
produksi trombosit. Sedangkan pada ITP kronis mungkin telah terjadi gangguan dalam
regulasi sistem imun seperti pada penyakit autoimun lainnya yang berakibat terbentuknya
antibodi spesifik terhadap antibodi.
Saat ini telah didefinisikan (GP) permukaan trombosit pada ITP, diantaranya GP
Ib-lia, GP Ib, dan GP V. Namun bagaimana antibodi antitrombosit meningkat pada ITP,
perbedaan secara pasti patofisiologi ITP akut dan kronis, serta komponen yang terlibat dalam
regulasinya masih belum diketahui.
Gambaran klinik ITP yaitu: 1) onset pelan dengan perdarahan melalui kulit atau
mukosa berupa : petechie, echymosis, easy bruising, menorrhagia, epistaksis, atau perdarahan
gusi. 2) perdarahan SSP jarang terjadi tetapi dapat berakibat fatal. 3) splenomegali pada
<10% kasus.
4.
5.
           2.5 Tanda dan gejala
a.   Bintik-bintik merah pada kulit (terutama di daerah kaki), seringnya bergerombol dan
menyerupai rash. Bintik tersebut ,dikenal dengan petechiae, disebabkan karena adanya
pendarahan dibawah kulit .
b.  Memar atau daerah kebiruan pada kulit atau membran mukosa (seperti di bawah mulut)
disebabkan pendarahan di bawah kulit. Memar tersebut mungkin terjadi tanpa alasan yang
jelas. Memar tipe ini disebut dengan purpura. Pendarahan yang lebih sering dapat membentuk
massa tiga-dimensi yang disebut hematoma.
c.  Hidung mengeluarkan darah atau pendarahan pada gusi. Ada darah pada urin dan feses.
Beberapa macam pendarahan yang sukar dihentikan dapat menjadi tanda ITP. Termasuk
menstruasi yang berkepanjangan pada wanita. Pendarahan pada otak jarang terjadi, dan gejala
pendarahan pada otak dapat menunjukkan tingkat keparahan penyakit.
d.   Jumlah platelet yang rendah akan menyebabkan nyeri, fatigue (kelelahan), sulit
berkonsentrasi.

      2.6 Pencegahan

a.   Idiopatik Trombositopeni Purpura (ITP) tidak dapat dicegah, tetapi dapat dicegah  
komplikasinya.
b.   Menghindari obat-obatan seperti aspirin atau ibuprofen yang dapat mempengaruhi platelet
dan  meningkatkan risiko pendarahan.
c.    Lindungi dari luka yang dapat menyebabkan memar atau pendarahan. Lakukan terapi yang
benar untuk infeksi yang mungkin dapat berkembang.
d.   Konsultasi ke dokter jika ada beberapa gejala infeksi, seperti demam. Hal ini penting bagi    
pasien dewasa dan anak-anak dengan ITP yang sudah tidak memiliki limfa.

6.
       2.7 Pemeriksaan penunjang
a. Hitung darah lengkap dan jumlah trombosit menunjukkan penurunan hemoglobin, hematokrit,
trombosit (trombosit < 20.000 / mm3).
b. Anemia normositik: bila lama berjenis mikrositik hipokrom.
c. Leukosit biasanya normal: bila terjadi perdarahan hebat dapat terjadi leukositosis.Ringan pada
keadaan lama: limfositosis relative dan leucopenia ringan.
d. Sum-sum tulang biasanya normal, tetapu megakariosit muda dapat bertambah dengan
maturation arrest pada stadium megakariosit.
e.  Masa perdarahan memanjang, masa pembekuan normal, retraksi pembekuan abnormal,
prothrombin consumption memendek, test RL (+).

2.8 Komplikasi
1.      Peradarahan Kranial (pada Kepala). Ini penyebab utama kematian penderita ITP.
2.      Kehilangan darah yang luar biasa
3.      Efek samping dari kortikosteroid
4.  Infeksi pneumococcal. Infeksi ini biasanya didapat setelah pasien mendapat terapi  
splenektomi. Si penderita juga umumnya akan mengalami demam sekitar 38.8 o.

2.9 Penatalaksanaan medis


Untuk praktisnya sebagian besar diagnosa ITP ditegakkan dengan cara eksklusi
(menyingkirkan faktor-faktor sekunder yang dapat menyebabkan trombositopeni), seperti
SLE, obat-obatan, trombositopenia post transfuse, leukemia. Dan mungkin pada sebagian
besar kasus ITP pada anak, awalnya akan didiagnosa dengan DHF dengan manifestasi
perdarahan 9 grade III-IV), tapi seperti yang disebutkan diatas, pada ITP tidak didapatkan
demam, pembesaran limpa dan tidak ada peningkatan hematokrit. Sebagian besar anak
penderita ITP dapat pulih tanpa penanganan medis, hanya dianjurkan untuk melakukan
observasi ketat dan sangat hati-hati terhadap penderita serta penanganan terhadap gejala-
gejala perdarahannya.

7.
Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit jika penanganan dan perawatan intensif
dan baik ini tersedia di rumah. Adakalanya penanganan dengan pengobatan oral Prednisone
atau pemasangan infus (masuk ke urat darah halus) berisikan zat gamma globulin untuk
meningkatkan jumlah sel darah merah penderita dengan cepat.
Penyakit ITP untuk penderita orang dewasa dapat berlangsung lebih lama
dibandingkan yang dialami anak-anak. Sebagian besar penderita dewasa ITP umumnya telah
mengalami adanya perdarahan yang terus meningkat dan mudah sekali mengalami luka
memar dalam kurun waktu beberapa minggu atau bahkan bulan. Untuk pasien wanita,
meningkatnya aliran darah menstruasi juga merupakan tanda-tanda utama.
Banyak orang dewasa yang mengalami thrombocytopenia (jumlah sel darah merah
dalam darah relatif sedikit) yang tidak terlalu parah. Pada kenyataannya,sebagian kecil orang
bahkan tidak mengalami gejala-gejala perdarahan. Kalangan ini umumnya didiagnosa ITP
saat melakukan tes pemeriksaan darah untuk suatu keperluan, dan ternyata salah satu hasilnya
menunjukkan jumlah sel darah merah yang sedikit.
Penanganan terhadap penyakit ITP yang diderita orang dewasa lebih ditujukan untuk
meningkatkanjumlah sel darah merahnya. Jika pengobatan obat tambah darah dan prednisone
tidakjuga banyak membantu, organ limpa penderita mungkin akan dikeluarkan melalui
tindakan operasi. Organ ini yang memproduksi sebagian besar antibodi yang selama ini
menghancurkan sel-sel darah merah dalam tubuhnya sendiri. Organ ini juga berfungsi untuk
menghancurkansel-sel darah yang tua atau rusak.

8.

BAB III

3.1 ASUHAN KEPERAWATAN IDIOPATHIC THROMBOCYTOPENIC PURPURA(ITP)


   
3.1.1 Pengkajian
a.Keluhan utama :
       Memar, bintik-bintik pada kulit, keluarnya darah pada hidung dan perdarahan pada
gusi gigi.
b.Riwayat penyakit sekarangang ditandai dengan
    Klien mengalami ITP yg ditandai dengan Memar, bintik-bintik pada kulit, keluarnya
darah pada hidung dan perdarahan pada gusi gigi.
c.Riwayat penyakit dahulu
     HIV AIDS yang mungkin diturunkan dari orang tua klien.
d.Riwayat penyakit keluarga
       Pihak keluarga mengalami HIV AIDS, kelainan hematologi.
e.Riwayat lingkungan
    Kondisi lingkungan kurang baik atau kumuh karena penyakit ini bias disebabkan oleh
virus atau bakteri seperti rubella, rubiola dan paksinasi dengan virus aktif.
a. Asimtomatik sampai jumlah trombosit menurun di bawah 20.000.
b. Tanda-tanda perdarahan.
1)      Petekie terjadi spontan.
2)      Ekimosis terjadi pada daerah trauma minor.
3)      Perdarahan dari mukosa gusi, hidung, saluran pernafasan.
4)      Menoragie.
5)      Hematuria.
6)      Perdarahan gastrointestinal.
c.       Perdarahan berlebih setelah prosedur bedah. 

9.
d.Aktivitas / istirahat.
  Gejala : - keletihan, kelemahan, malaise umum.
-    toleransi terhadap latihan rendah.
  Tanda : - takikardia / takipnea, dispnea pada beraktivitas / istirahat.
- kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
   e. Sirkulasi.
  Gejala : - riwayat kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI kronis,
menstruasi berat.
- palpitasi (takikardia kompensasi).
  Tanda : - TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil.
    f.Integritas ego.
  Gejala : - keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan:
    penolakan transfuse darah.
  Tanda : - DEPRESI.
    g. Eliminasi.
  Gejala : - Hematemesis, feses dengan darah segar, melena, diare,
konstipasi.
  Tanda : - distensi abdomen.
    h.Makanan / cairan.
  Gejala :- penurunan masukan diet.
- mual dan muntah.
  Tanda : - turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang elastisitas.
    i.  Neurosensori.
  Gejala : - sakit kepala, pusing.
  - kelemahan, penurunan penglihatan.
  Tanda : - epistaksis.
  - mental: tak mampu berespons (lambat dan dangkal).
    j.Nyeri / kenyamanan.
  Gejala : - nyeri abdomen, sakit kepala.
  Tanda : - takipnea, dispnea.

10.
    k.Pernafasan.
  Gejala : - nafas pendek pada istirahat dan aktivitas.
  Tanda : - takipnea, dispnea.
    l. Keamanan
Gejala : penyembuhan luka buruk sering infeksi, transfuse darah sebelumnya.
Tanda : petekie, ekimosis.

  3.1.2 Diagnosa keperawatan


 1.  Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan      
dengan salah interpretasi informasi ditandai dengan keterbatasan belajar, tidak familiar
dengan     sumber informasi.
 2. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor imunologis ditandai
dengan immobilisasi, kelemahan, hipertermi, perubahan turgor kulit.
3.  Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang
diperlukan     untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel ditandai dengan sianosis, oedema,
pucat.

11.
  3.1.3 Rencana keperawatan

1. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan salah interpretasi informasi.
Tujuan dan kreteria Intervensi Rasional
hasil
Setelah dilakukan
tindakan 1x24 jam1)   Berikan informasi tntang
1)      memberikan dasar pengetahuan sehingga
diharapkan keluarga ITP. Diskusikan kenyataan keluarga / pasien dapat membuat pilihan
mengerti akan bahwa terapi tergantung pada yang tepat.
penyakit klien dengan tipe dan beratnya ITP. 2)      ketidak tahuan meningkatkan stress.
Tujuan: 2)   Tinjau tujuan dan persiapan
3)      merupakan kekwatiran yang tidak
Pemahaman dan untuk pemeriksaan diagnostic. diungkapkan yang dapat memperkuat
penerimaan terhadap3)   Jelaskan bahwa darah yang ansietas pasien / keluarga.
program pengobatan diambil untuk pemeriksaan
yang diresepkan. laboratorium tidak akan
Criteria hasil: memperburuk ITP.
-Menyatakan
pemahaman proses
penyakit.
-Faham akan prosedur
dagnostik dan rencana
pengobatan.

12.
2. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor imunologis

Tujuan dan kreteria Intervensi Rasional


hasil
Setelah dilakukan
a.       Kaji integritas kulit untuk
a.       Memberikan informasi untuk perencanaan
tindakan 2x24 jam melihat adanya efek samping asuhan dan mengembangkan identifikasi
diharapkan kerusakan therapi kanker, amati awal terhadap perubahan integritas kulit.
bisa berkurang dengan penyembuhan luka. b.       Menghindari perlukaan yang dapat
Tujuan : menimbulkan infeksi.
-Klien dapat c.       Menghindari penekanan yang terus
mengidentifikasi b.      Anjurkan klien untuk tidak menerus pada suatu daerah tertentu.
intervensi yang menggaruk bagian yang gatal.d.      Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan
berhubungan dengan
c.       Ubah posisi klien secara produk yang kontra indikatif
kondisi spesifik teratur.
-Berpartisipasi dalam
pencegahan
komplikasi dan
d.      Berikan advise pada klien
percepatan untuk menghindari pemakaian
penyembuhan cream kulit, minyak, bedak
tanpa rekomendasi dokter.

13.
3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.

Tujuan dan kreteria Intervensi Rasional


hasil
Setelah dilakukan1)   Awasi TTV, kaji pengisian1)   memberikan informasi tentang derajat/
tindakan 2x24 jam kapiler. keadekuatan perfusi jaringan dan membantu
diharapkan kembali menentukan kebutuhan intervensi.
kebentuk normal 2)   meningkatkan ekspansi paru dan
dengan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan
Tujuan: seluler.
-Tekanan darah2)   Tinggikan kepala tempat3)   dapat mengindikasikan gangguan fungsi
normal. tidur sesuai toleransi. serebral karena hipoksia.
-Pangisian kapiler
baik. 4)   dispne karena regangan jantung lama /
Kriteria hasil: peningkatan kompensasi curah jantung.
Menunjukkan 3)   Kaji untuk respon verbal
perbaikan perfusi yang melambat, mudah
dibuktikan dengan terangasang.
TTV stabil.
4)   Awasi upaya parnafasan,
auskultasi bunyi nafas.

  

14.

BAB IV

KESIMPULAN

4.1 KESIMPULAN
1. ITP adalah singkatan dari Idiopathic Thrombocytopenic Purpura. Idiopathic berarti tidak
diketahui penyebabnya. Thrombocytopenic berarti darah yang tidak cukup memiliki keping
darah (trombosit).

2. Penyebab dari ITP tidak diketahui secara pasti, mekanisme yang terjadi melalui
pembentukan antibodi yang menyerang sel trombosit, sehingga sel trombosit mati. (Imran,
2008). Penyakit ini diduga melibatkan reaksi autoimun, dimana tubuh menghasilkan antibodi
yang menyerang trombositnya sendiri. Dalam kondisi normal, antibodi adalah respons tubuh
yang sehat terhadap bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi untuk penderita
ITP, antibodinya bahkan menyerang sel-sel keping darah ubuhnya sendiri.

3.Asuhan keperawatan ITP pada anak yaitu:

Dilakukan dengan langkah-langkah,pengkajian,analisa data,diagnosa


keperawatan,intervensi,dan implementasi keperawatan,dan evaluasi.

15.

Daftar pustaka

yunikewirahmaningrumy./2013/10/idiopatic-thrombocytopenic-
purpura.diakses/25/02/2015html