Anda di halaman 1dari 57

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PROVINSI PAPUA BARAT


MENURUT PENGGUNAAN
Gross Regional Domestic Product
of Papua Barat Province
by Expenditure

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI
PAPUA BARAT MENURUT PENGGUNAAN 2009
Gross Regional Domestic Product of Papua Barat Province
by Expenditure 2009

Katalog BPS/ Catalogue : 930202.9100

ISBN : -

Nomor Publikasi/ Publication Number : 91300.10.05

Ukuran Buku/ Book Size : 16.5 x 21.6 cm

Jumlah Halaman/ Total Page : ix + 48

Naskah/ Manuscript :
Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Papua Barat
Regional Balance Sheet and Statistical Analysis Division BPS-Statistic of Papua
Barat Province

Penyunting/ Editor :
Bidang Statistik Neraca Wilayah dan Analisis Statistik/
Regional Balance Sheet and Statistical Analysis Division

Gambar Kulit/ Cover Design :


Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik
Statistical Integrated Processing and Dissemination Division

Diterbitkan Oleh/ Published by :


BPS Provinsi Papua Barat
BPS-Statistics of Papua Barat Province

Dicetak Oleh/ Printed by :


CV. Alia Jaya

Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya


May be cited with reference to the source
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
limpahan rahmat-Nya penyusunan Publikasi Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan tahun 2009 oleh Badan
Pusat Statistik Provinsi Papua Barat dapat terselesaikan.

Publikasi PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan tahun 2009


ini terdiri dari tabel-tabel PDRB Penggunaan. Keterangan yang dihimpun
mencakup beberapa komponen penggunaan yaitu Pengeluaran Konsumsi
Rumah Tangga, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Non Profit,
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto,
Perubahan Stok, dan Ekspor Netto.

Publikasi ini akan sangat berguna bagi para perencana dalam menyusun
program pembangunan dan bagi para pengambil kebijakan dalam mengukur
keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan.
Dikarenakan keterbatasan data yang tersedia, maka beberapa data yang
disajikan terutama data tahun 2008 dan 2009 masih bersifat sementara yang
akan disempurnakan pada penerbitan berikutnya. Untuk itu, kritik dan saran
dari pembaca dan pemakai data tetap diharapkan untuk penyempurnaannya.

Dengan diterbitkannya buku ini maka diharapkan dapat memperkecil


kesenjangan yang ada antara ketersediaan dengan kebutuhan data sehingga
pelaksanaan pembangunan di provinsi ini dapat lebih berhasil guna dan
berdaya guna.
ii

Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu hingga terbitnya


publikasi ini kami ucapkan terimakasih.

Manokwari, September 2010

Kepala BPS Provinsi Papua Barat

Ir Tanda Sirait, MM
NIP. 195507211978011002
PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 iii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................... iii
Daftar Tabel .......................................................................................... v
Daftar Grafik ......................................................................................... vi
Daftar Lampiran .................................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Penjelasan Umum .................................................. 1
1.2 Alasan Teknis Pergeseran Tahun Dasar Harga
Konstan 1993 menjadi Harga Konstan 2000 ......... 2
1.3 Tujuan dan Kegunaan Statistik Pendapatan
Regional ................................................................. 4

BAB II KONSEP DAN DEFINISI 6


2.1 Struktur Pendapatan Regional Menurut Jenis
Penggunaan (by Type of Expenditure) ................... 6
2.2 Metode Pendekatan ............................................... 11
2.3 Penyajian Atas Dasar Harga Konstan .................... 11

BAB III PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO


MENURUT PENGGUNAAN 15
3.1 Pendahuluan ........................................................... 15
3.2 Komponen-komponen Permintaan Akhir .............. 17
3.2.1 Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga .......... 17
3.2.2 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nirlaba .... 22
3.2.3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah ............. 24

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 iv

3.2.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto ................ 25


3.2.5 Perubahan Stok ........................................... 27
3.2.6 Ekspor dan Impor ......................................... 28

BAB IV TINJAUAN EKONOMI PROVINSI PAPUA


BARAT TAHUN 2009 MENURUT PENGGUNAAN 30
4.1 Perkembangan PDRB Menurut Penggunaan ......... 30
4.2 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat ....... 32
4.3 Struktur Perekonomian Provinsi Papua Barat ..... 34
4.4 PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan 35

4.4.1 Konsumsi Rumahtangga ............................. 35


4.4.2 Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba ............. 38
4.4.3 Konsumsi Pemerintah ................................. 38
4.4.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto ................ 39
4.4.5 Perubahan Stok .......................................... 40
4.4.6 Ekspor dan Impor ........................................ 40

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Atas


Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Miliar Rupiah) 31

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Menurut


Penggunaan Tahun 2005-2009 (Persen) ......................... 34

Tabel 3. Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Berlaku dan


Kontribusinya dirinci menurut Konsumsi Makanan dan
Bukan Makanan Provinsi Papua Barat Tahun 2005-
2009 ......................................................................... 36

Tabel 4. Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Konstan 2000 dan


Laju Pertumbuhan dirinci menurut Konsumsi Makanan
dan Bukan Makanan Provinsi Papua Barat Tahun 2005-
2009 ......................................................................... 37

Tabel 5. Nilai Konsumsi Pemerintah ADH Berlaku, Distribusi


dan Laju Pertumbuhan Konsumsi Pemerintah Provinsi
Papua Barat Tahun 2005-2009 …………………….. 39

Tabel 6. Nilai PMTB ADH Berlaku, Distribusi dan Laju


Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto
Provinsi Papua Barat Tahun 2005-2009 .................. 40

Tabel 7. Nilai Ekspor dan Impor ADH Berlaku, Distribusi dan


Laju Pertumbuhan Ekspor dan Impor Provinsi Papua
Barat Tahun 2005-2009 …………………………….. 41

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 vi

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Perkembangan Pertumbuhan PDB dan PDRB


Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan
2000 Tahun 2005 – 2009 (Persen) ....................... 33

Grafik 2. Distribusi PDRB Menurut Penggunaan Tahun 2009


(Persen) ................................................................ 35

Grafik 3. Distribusi Konsumsi Rumahtangga Menurut Jenisnya


Tahun 2009 (Persen) ............................................ 37

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua


Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan
2000 Menurut Penggunaan (Jutaan Rupiah) .............. 43

Lampiran 2. Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Propinsi


Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga
Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ............. 44

Lampiran 3. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional


Bruto Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku
dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan
(Persen) ........................................................................ 45

Lampiran 4. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto


Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan
Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ... 46

Lampiran 5. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto


Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan
Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ... 47

Lampiran 6. Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto


Propinsi Papua Barat Menurut Penggunaan (Persen) ... 48

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Penjelasan Umum

Perencanaan pembangunan ekonomi suatu negara atau daerah


memerlukan berbagai macam data statistik untuk dasar penentuan strategi dan
kebijaksanaan agar sasaran pembangunan dapat dicapai dengan tepat. Strategi
dan kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang telah diambil pada masa-
masa yang lalu perlu dievaluasi dengan melihat hasil-hasil yang dicapai,
apakah masih perlu diperbaiki atau ditingkatkan kembali. Berbagai data
statistik yang merupakan ukuran kuantitas mutlak diperlukan untuk
memberikan gambaran tentang keadaan pada masa yang lalu dan masa kini,
serta sasaran-sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Salah
satunya adalah statistik Produk Domestik Regional Bruto baik dari sisi
lapangan usaha maupun dari sisi penggunaan.
Pada hakekatnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha
dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan
masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional, dan mengusahakan
pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan
tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah
mengusahakan agar pendapatan masyarakat semakin meningkat dan dengan
tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 2

Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat,


maka perlu disajikan statistik Pendapatan Regional secara berkala, untuk
digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan regional khususnya di
bidang ekonomi. Angka-angka pendapatan regional dapat dipakai juga
sebagai bahan evaluasi dari hasil pembangunan ekonomi yang telah
dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah daerah maupun
swasta.

1.2 Alasan Teknis Pergeseran Tahun Dasar Harga Konstan 1993


Menjadi Harga Konstan 2000

Tahun dasar yang digunakan di dalam penghitungan PDRB menurut


penggunaan sama seperti yang digunakan dalam penghitungan PDRB
menurut lapangan usaha yaitu tahun 2000. Beberapa pandangan secara teknis
yang perlu dikemukakan sebagai latar belakang mengapa tahun 2000 dipilih
sebagai tahun dasar penghitungan PDB/PDRB menggantikan tahun dasar
1993, dapat dijelaskan melalui butir-butir berikut ini :
1. Perekonomian Indonesia selama tahun 2000 dipandang relatif stabil,
karena sejak tahun 2000 hingga 2003 pertumbuhan ekonomi secara
agregat terus meningkat dari tahun ke tahun dengan besaran positif.
Hal itu bisa diberi makna sebagai awal berjalannya proses pemulihan
ekonomi setelah keterpurukan akibat krisis ekonomi di tahun 1998.
2. Perkembangan ekonomi dunia dalam kurun waktu 1993-2000 yang
diwarnai oleh globalisasi tentunya akan berpengaruh kepada
perekonomian domestik. Masih dalam periode tersebut, pada
pertengahan tahun 1997 terjadinya krisis ekonomi juga berdampak
kepada perubahan struktur perekonomian Indonesia. Secara ringkas,
bisa dinyatakan bahwa struktur ekonomi tahun 2000 telah berbeda

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 3

dengan tahun 1993. Untuk itu, pemutakhiran tahun dasar


penghitungan PDRB dari tahun 1993 ke tahun 2000 menjadi perlu
dilakukan agar hasil estimasi PDRB sektoral maupun penggunaannya
akan menjadi realistis, dalam pengertian mampu memberikan
gambaran yang jelas terhadap fenomena pergeseran struktur produksi
lintas sektor.
3. BPS telah menyelesaikan penyusunan Tabel Input Output Indonesia
2000. Tabel I-O tersebut secara baku dipakai sebagai basis bagi
penyusunan series baru penghitungan PDB baik sektoral maupun
penggunaan. Besaran PDB yang diturunkan dari Tabel Input Output
telah mengalami uji konsistensi pada tingkat sektoralnya dengan
mempertimbangkan kelayakan struktur permintaan maupun
penawarannya. Oleh karena itu, struktur perekonomian Indonesia
yang digambarkan melalui Tabel I-O tersebut dapat dijadikan sebagai
basis/dasar (benchmark) bagi penyempurnaan penghitungan estimasi
PDB.
4. Menurut rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
sebagaimana tertuang dalam buku panduan yang baru “Sistem Neraca
Nasional” dinyatakan bahwa estimasi PDB atas dasar harga konstan
sebaiknya dimutakhirkan secara periodik dengan menggunakan tahun
referensi yang berakhiran 0 dan 5. Hal itu dimaksudkan agar besaran
angka-angka PDB dapat saling diperbandingkan antar negara dan
antar waktu guna keperluan analisis kinerja perekonomian dunia.
5. Ketersediaan data dasar baik harga maupun volume (quantum) tahun
2000 secara rinci pada masing-masing sektor ekonomi relatif lebih
lengkap dan berkelanjutan. Hal itu dimungkinkan karena berbagai
departemen/kementrian maupun instansi pemerintah lainnya juga ikut

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 4

membangun statistik bagi keperluan perencanaan sektoralnya masing-


masing. Dengan dukungan data-data yang lebih lengkap dan terinci
serta berkesinambungan, diharapkan estimasi PDB/PDRB dengan
tahun dasar 2000 dapat disusun lebih akurat dan konsisten.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Statistik Pendapatan Regional

Statistik pendapatan regional yang disajikan dengan baik dan


lengkap akan dapat menggambarkan berbagai fenomena antara lain :
1. Produk domestik regional bruto yang disajikan atas dasar harga
konstan, akan menggambarkan tingkat pertumbuhan riil perekonomian
suatu daerah baik secara agregat maupun sektoral.
2. Pertumbuhan perekonomian yang timbul tersebut apabila dibandingkan
dengan jumlah penduduk masing-masing tahun, maka akan dapat pula
mencerminkan tingkat perkembangan pendapatan perkapita. Jika
pendapatan perkapita suatu daerah dibandingkan dengan pendapatan
perkapita daerah lain, maka angka-angka tersebut dapat dipakai sebagai
indikator untuk membandingkan tingkat kemakmuran material dengan
daerah lainnya.
3. Penyajian Produk Domestik Regional Bruto baik atas dasar harga
berlaku maupun atas dasar harga konstan, juga dapat digunakan sebagai
indikator untuk melihat inflasi ataupun deflasi yang terjadi. Demikian
pula apabila disajikan secara sektoral akan dapat juga memberi
gambaran tentang struktur perekonomian suatu daerah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Regional
yang disajikan secara berkala, wajar, dan komprehensif akan diketahui :

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 5

a. Indikator tingkat pertumbuhan perekonomian.


b. Indikator tingkat perkembangan pendapatan per kapita.
c. Indikator tingkat kemakmuran masyarakat.
d. Indikator tingkat inflasi dan deflasi.
e. Indikator dari struktur perekonomian suatu daerah.
Lebih khusus untuk penyajian PDRB dari sisi penggunaan akan
diketahui :
a. Besarnya pendapatan (nilai tambah) suatu wilayah yang dibelanjakan
kembali dalam perekonomian wilayah tersebut.
b. Besarnya pendapatan (nilai tambah) suatu wilayah yang diinvestasikan
kembali dalam perekonomian wilayah tersebut.
c. Besarnya pembiayaan transaksi antar wilayah dan antar negara.
d. Tingkat persediaan barang setengah jadi maupun barang jadi yang
dikuasai oleh berbagai pelaku ekonomi produksi maupun konsumsi.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 6

BAB II
KONSEP DAN DEFINISI

2.1 Struktur Pendapatan Regional Menurut Jenis Penggunaan

Penyajian dalam bentuk ini dapat memberi gambaran bagaimana


barang dan jasa yang diproduksi itu digunakan oleh berbagai golongan dalam
masyarakat. Oleh karena itu, dalam penyajiannya barang dan jasa harus
dikelompokkan menurut penggunaannya dalam masyarakat, yaitu digunakan
untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba (private
consumption expenditure), konsumsi pemerintah (government consumption
expenditure), ditanam sebagai barang modal (fixed capital formation), yang
tidak digunakan pada tahun laporan akan disimpan sebagai stok (increase in
stock) dan digunakan untuk barang ekspor netto.
Jadi penyajiannya akan berbentuk :
1. Pengeluaran konsumsi rumahtangga
2. Pengeluaran konsumsi pemerintah
3. Pembentukan modal tetap
4. Perubahan stok
5. Ekspor netto

Berikut ini merupakan penjelasan singkat tentang ruang lingkup


masing-masing item di atas:

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 7

1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga

Pengeluaran konsumsi rumahtangga meliputi seluruh


pembelian barang dan jasa oleh rumahtangga tanpa melihat
durability dari barang dan jasa itu, dikurangi penjualan dari barang
bekas netto (penjualan barang bekas dikurangi pembelian barang
bekas), dengan mengecualikan pengeluaran yang bersifat transfer,
pembelian tanah, dan rumah.
Pengecualian ini dilakukan sebab transfer akan dihitung
sebagai pengeluaran pada konsumen yang menerima transfer tadi,
sedang pengeluaran untuk tanah dan rumah dimasukkan dalam item
pembentukan modal (capital formation).
Kecuali pengeluaran yang dilakukan oleh rumahtangga
yang tercakup dalam item ini ialah pengeluaran rutin yang dilakukan
oleh lembaga swasta nirlaba (lembaga swasta yang tidak mencari
untung).
Pengeluaran yang dilakukan oleh lembaga ini untuk
pembelian barang-barang modal akan dimasukkan dalam item
pembentukan modal tetap. Pengeluaran konsumsi rumahtangga
swasta yang tidak mencari untung ini disebut Private Consumption
Expenditure.

2. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

Pengeluaran konsumsi pemerintah meliputi seluruh


pengeluaran rutin untuk pembelian barang dan jasa dari pihak lain

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 8

yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah,


dikurangi hasil penjualan barang dan jasa yang dilakukan oleh
Pemerintah.
Pengeluaran rutin di sini meliputi pembayaran upah dan gaji
kepada pegawai pemerintah, belanja barang, biaya pemeliharaan, dan
biaya rutin lainnya. Termasuk juga pengeluaran belanja modal untuk
keperluan militer.
Belanja modal untuk keperluan sipil misalnya pembelian
mobil, pesawat terbang, mesin-mesin, pembuatan gedung-gedung,
jalan, jembatan, dan sebagainya, akan dimasukkan dalam
pembentukan modal tetap, sedang pembelian seperti di atas, tetapi
untuk keperluan militer dimasukkan dalam Pengeluaran Konsumsi
Pemerintah.
Pengeluaran rutin tersebut harus dikurangi dengan hasil
penjualan barang dan jasa yang dilakukan oleh Pemerintah, misalnya
penjualan buku-buku yang diterbitkan oleh departemen-departemen,
penjualan bibit padi, dan telur dari pusat-pusat pembibitan milik
Pemerintah dan sebagainya.

3. Pembentukan Modal Tetap Bruto

Pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital


formation) ditambah perubahan stok (increase in stock) biasanya
disebut Gross Capital Formations, sebab memang keduanya
merupakan jumlah perubahan stok barang, baik barang-barang yang
sudah ditanam maupun yang masih disimpan.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 9

Untuk memudahkan penghitungan, kedua item tersebut


perlu dipisahkan. Apa yang tercakup dalam perubahan stok akan
dibicarakan kemudian sedangkan yang masuk dalam pembentukan
modal tetap mencakup besarnya modal yang ditanam selama satu
tahun, baik oleh pemerintah, swasta, lembaga swasta nirlaba maupun
rumahtangga (terbatas pada tanah dan rumah), dikurangi dengan
jumlah penjualan barang-barang modal bekas selama tahun yang
sama. Yang tercakup dalam barang modal tetap (durable procedure
goods) dan umur lebih dari satu tahun, misalnya tanah, rumah,
gedung, jalan, jembatan, dam-dam, mesin-mesin, alat-alat transport,
dan sebagainya .
Selain itu yang juga termasuk dalam pembentukan modal
tetap yaitu pembelian/penambahan ternak-ternak yang dipelihara
untuk diambil susunya, tenaganya, bulunya, dan sebagainya. Sedang
pembelian/penambahan ternak yang dipelihara untuk diambil
dagingnya (dipotong) akan dimasukkan dalam pembentukan modal
stok.
Dalam item ini termasuk juga pengeluaran-pengeluaran
untuk penanaman hutan baru, perkebunan-perkebunan atau tanaman-
tanaman keras yang baru bisa dipetik hasilnya setelah berumur lebih
dari satu tahun.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 10

4. Perubahan Stok

Yang dimaksud dalam item ini ialah barang-barang yang


diproduksi maupun yang diimpor pada tahun itu, tapi belum sempat
dipakai sampai akhir tahun, hingga masih disimpan sebagai stok.
Stok yang disimpan ini meliputi barang-barang mentah
yang belum sempat diproses menjadi barang lain, barang yang masih
dalam proses (work in process), dan barang-barang jadi yang belum
sempat dijual.
Seperti yang disebut di atas, yang juga termasuk dalam
increase in stock ini antara lain ialah penambahan ternak yang
dipelihara untuk dipotong.

5. Ekspor Netto

Ekspor netto di sini berarti selisih antara ekspor dan impor


dari barang dan jasa. Ekspor barang dan jasa meliputi ekspor barang-
barang yang dijual ke luar negeri dan antar propinsi, dimana
termasuk di dalamnya barang-barang dagangan (merchandise), jasa-
jasa transpor, asuransi, dan jasa-jasa lain.
Begitu pula untuk impor termasuk barang-barang dagangan
dan jasa-jasa lain yang dibeli dari luar negeri dan propinsi lainnya.
Juga pengeluaran/pemasukan barang yang bersifat pemberian/hadiah
ke/dari negara-negara lain dan barang-barang yang diekspor/impor
dengan dibiayai oleh uang yang diperoleh dari transfer antar negara.
Tetapi kalau pengeluaran/pemasukan barang yang bersifat

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 11

hadiah/pemberian ini dimaksudkan untuk keperluan militer tidak


termasuk dalam item ekspor/impor ini.

2.2 Metode Pendekatan

Pendekatan dari segi pengeluaran bertitik tolak pada penggunaan


akhir dari barang dan jasa di dalam wilayah provinsi. Jadi produk domestik
regional dihitung dengan cara menghitung berbagai komponen pengeluaran
akhir yang membentuk produk domestik regional tersebut. Secara umum
pendekatan pengeluaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai
berikut :
a) Melalui pendekatan penawaran yang terdiri dari metode arus barang,
metode penjualan eceran, dan metode penilaian eceran.
b) Melalui pendekatan permintaan yang terdiri dari pendekatan survei
pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, metode data anggaran
belanja, metode balance sheet, dan metode statistik perdagangan
luar negeri.
Pada prinsipnya kedua cara ini dimaksudkan untuk memperkirakan
komponen-komponen permintaan akhir seperti : konsumsi rumah tangga,
konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto dan perdagangan antar
wilayah (termasuk ekspor dan impor).

2.3 Penyajian Atas Dasar Harga Konstan

Salah satu kegunaan Pendapatan Regional menurut penggunaan ialah


untuk melihat perkembangan penggunaan PDRB dari tahun ke tahun. Karena
adanya pengaruh inflasi, maka daya beli uang akan mengalami penurunan

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 12

dari tahun ke tahun. Berkaitan dengan hal tersebut apakah kenaikan


pendapatan seseorang benar-benar naik atau tidak maka faktor inflasi ini
terlebih dahulu harus dieliminir dari pendapatan. Setelah faktor inflasi
dieliminir, maka pendapatan yang dihasilkan akan merupakan pendapatan
yang riil (real income), hingga naik turunnya pendapatan riil ini akan
mencerminkan naik turunnya daya beli.
Pendapatan Regional yang masih mengandung faktor inflasi disebut
pendapatan regional atas dasar harga yang berlaku (at current prices).
Apabila faktor inflasi sudah dieliminir, pandapatan regional disebut
pendapatan regional atas dasar harga konstan (at constant prices).
Untuk mendapatkan nilai atas dasar harga konstan, ada tiga metode
dasar yang dapat dipakai:

1. Revaluasi

Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mengalikan


kuantum produksi pada tahun yang bersangkutan dengan harga pada tahun
dasar. Begitu juga biaya-biaya antara dinilai dengan memakai harga pada
tahun dasar pula.
Dalam praktek, sangat sulit melakukan revaluasi terhadap biaya
antara yang digunakan, karena mencakup komponen biaya antara yang
sangat banyak, di samping data harga yang tersedia tidak dapat memenuhi
semua keperluan tersebut. Oleh karena itu, biaya antara atas dasar harga
konstan biasanya diperoleh dari perkalian antara output atas dasar harga
konstan masing-masing tahun dengan rasio (tetap) biaya antara terhadap
output pada tahun dasar.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 13

2. Ekstrapolasi

Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan


mengekstrapolasikan nilai tambah pada tahun dasar dengan menggunakan
indeks kuantum dari barang-barang produksi yang bersangkutan.
Bila terdapat kesulitan dalam memperoleh indeks kuantum dapat
dipakai indikator lain yang ada hubungannya dengan indeks kuantum
produksi itu, misalnya indeks tenaga kerja di bidang itu, indeks kuantum
dari input yang dipakai, dan sebagainya.
Ekstrapolasi dapat juga dilakukan terhadap output atas dasar
harga konstan, kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai tambah
terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga
konstan.

3. Deflasi

Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mendeflasikan


nilai tambah atas dasar harga yang berlaku dengan indeks harga dari
barang-barang yang bersangkutan. Indeks harga di sini dapat dipakai
indeks harga perdagangan besar, harga produsen maupun harga eceran
tergantung mana yang lebih sesuai.

Perkiraan nilai tambah PDRB Penggunaan atas dasar harga konstan


biasanya diperoleh dengan cara mendeflasikan nilai tambah atas dasar harga
berlaku dengan indeks harga yang sesuai. Misalnya indeks harga yang sesuai
untuk masing-masing komponen tersebut adalah indeks harga konsumen

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 14

untuk konsumsi rumah tangga, indeks harga perdagangan besar untuk


konsumsi pemerintah dan perdagangan antar daerah, dan indeks harga
perdagangan besar barang-barang investasi untuk pembentukan modal tetap
bruto.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 15

BAB III
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
MENURUT PENGGUNAAN

3.1 Pendahuluan

Pendapatan Regional menurut penggunaannya dapat memperlihatkan


komposisi penggunaan barang dan jasa, baik yang dihasilkan di dalam
wilayah maupun yang dihasilkan di luar wilayah untuk memenuhi permintaan
akhir. Sedangkan yang dimaksud dengan permintaan akhir adalah komponen
yang terdiri dari :
1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga.
2. Pengeluaran konsumsi lembaga swasta nirlaba.
3. Pengeluaran konsumsi pemerintah.
4. Pembentukan modal tetap bruto.
5. Perubahan stok.
6. Ekspor netto.

Ditinjau dari segi penyediaannya, maka barang dan jasa yang


digunakan untuk memenuhi permintaan akhir seperti tersebut di atas berasal
dari produk domestik serta impor. Secara ringkas dapat dinyatakan dalam
bentuk persamaan sebagai berikut :

Y + M = C + If + Is + E

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 16

dalam hal ini : Y = Produk Domestik


M = Impor
C = Konsumsi Rumah tangga, pemerintah dan lembaga
swasta yang tidak mencari untung
If = Pembentukan Modal Tetap Bruto
Is = Perubahan Stok
E = Ekspor

Jika yang dihitung adalah Produk Domestik, maka dari persamaan


tersebut di atas dapat diturunkan menjadi :

Y = C + If + Is + E – M
Y = C + I + (E – M)

dalam hal ini : I = If + Is = Investasi


E–M = Ekspor Netto

Berdasarkan persamaan terakhir ini Produk Domestik Regional Bruto


(PDRB) menurut penggunaan digolongkan menjadi tiga komponen besar
yaitu :
a. Untuk konsumsi yang meliputi :
 Konsumsi Rumah tangga
 Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba
 Konsumsi Pemerintah

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 17

b. Untuk pembentukan modal, meliputi :


 Pembentukan Modal Tetap Bruto
 Perubahan Stok barang jadi, setengah jadi, dan bahan mentah
c. Untuk penggunaan di luar wilayah netto :
 Ekspor ke luar negeri dan luar wilayah, dikurangi
 Impor dari luar negeri dan luar wilayah

Penghitungan komponen-komponen di atas memerlukan berbagai


macam data dari berbagai sumber. Mengingat keterbatasan data yang tersedia,
maka dalam publikasi ini tidak ditampilkan perbedaan antara PDRB termasuk
migas dengan PDRB yang tanpa migas, melainkan hanya ditampilkan secara
keseluruhan pada semua aspek yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat.

3.2 Komponen - Komponen Permintaan Akhir

3.2.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

Pengeluaran konsumsi rumah tangga mencakup semua pengeluaran


untuk konsumsi barang dan jasa dikurangi penjualan netto barang bekas dan
sisa/afkiran. Dalam hal barang–barang yang mempunyai kegunaan ganda di
samping untuk keperluan rumah tangga juga digunakan sebagai penunjang
dalam kegiatan usaha rumah tangga, maka pembelian dan biaya–biaya
dialokasikan secara proporsional terhadap masing-masing kegiatan.
Metode estimasi yang digunakan dalam memperkirakan besarnya
pengeluaran konsumsi rumah tangga dilakukan melalui metode langsung yang
didasarkan pada hasil survei pengeluaran konsumsi rumah tangga yang
dilaksanakan dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Data

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 18

pokok yang digunakan bersumber dari hasil Susenas yang dilaksanakan oleh
Badan Pusat Statistik di seluruh wilayah Papua Barat tahun 2009. Konsumsi
rumah tangga hasil Susenas tersebut meliputi :
1. Makanan, Minuman dan Tembakau, baik yang dimasak di rumah
maupun makanan jadi
2. Perumahan, Bahan Bakar, Penerangan, dan Air
3. Barang-barang dan Jasa
4. Pakaian, Alas Kaki dan Tutup Kepala
5. Barang-barang Tahan Lama
6. Pajak Pemakaian dan Premi Asuransi
7. Keperluan Pesta Upacara

Data konsumsi rumah tangga hasil Susenas masing-masing


dinyatakan selama periode satu minggu untuk kelompok bahan makanan dan
selama satu bulan untuk kelompok bukan bahan makanan. Oleh karenanya
untuk estimasi selama satu tahun dipergunakan beberapa asumsi sebagai
berikut :
 Untuk bahan makanan :
Konsumsi per kapita sebulan diperkirakan sama dengan 30/7 kali
konsumsi seminggu. Sedangkan konsumsi per kapita setahun sama
dengan 12 kali konsumsi sebulan.
 Untuk bukan bahan makanan :
Konsumsi per kapita setahun sama dengan 12 kali konsumsi per
kapita sebulan.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 19

Setelah perkiraan konsumsi rumah tangga per kapita per jenis barang
selama satu tahun diperoleh, maka untuk memperkirakan konsumsi pada
tahun-tahun lainnya dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut :

C(n + 1) = Cn + (b. dpt. Cn)

Dalam hal ini:


C(n+1) = Rata-rata konsumsi (kuantum) per kapita per bulan
pada tahun ke (n + 1)

Cn = Rata-rata konsumsi (kuantum) per kapita per bulan


pada tahun ke-n

dpt = Perubahan pendapatan per kapita harga konstan tahun


ke-n terhadap tahun ke (n + 1)

b = Koefisien elastisitas

Berdasarkan formulasi di atas diasumsikan bahwa konsumsi per


kapita tergantung besarnya koefisien elastisitas (b) atau tingkat
kecenderungan mengkonsumsi suatu barang atau jasa apabila pendapatannya
bertambah. Untuk mendapatkan nilai (b) ini dipakai analisa regresi silang
(cross regression analysis), dimana pengeluaran konsumsi per kapita menurut
kelompok pengeluaran dikorelasikan dengan pendapatan per kapita.
Pada hakekatnya ada jenis komoditi yang tidak akan bertambah
banyak konsumsinya walau pendapatan seseorang bertambah, bahkan
mungkin berkurang. Jenis komoditi ini dikatakan inferior untuk seseorang,
seperti ketela pohon, jagung, dan lain-lain, sebab jika pendapatan seseorang

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 20

naik dia cenderung akan mensubstitusikan komoditi-komoditi tersebut dengan


komoditi lainnya seperti terigu, roti dan lain-lain sejenisnya. Akan tetapi
sebaliknya ada pula komoditi yang dikatakan superior seperti minuman botol,
makanan dalam kaleng dan sebagainya. Jenis komoditi ini pada umumnya
akan semakin banyak dikonsumsi apabila pendapatan seseorang bertambah.
.
1. Kelompok Bahan Makanan

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa untuk mendapatkan


besarnya koefisien elastisitas (b) digunakan untuk persamaan regresi
dengan memakai fungsi eksponensial berikut :

Qi = a. ( Yib )

Dalam hal ini:


Qi = Rata-rata konsumsi per kapita per bulan (kwantum)
Yi = Pendapatan per kapita sebulan
a = Konstanta
b = Koefisien Elastisitas
Untuk menyederhanakan perhitungan, persamaan eksponensial
tersebut dibuat dalam bentuk linier dengan melogaritmakan :

Qi = a ( Yib )
Log Qi = log a + b log Yi

Sebelum digunakan untuk mengestimasi, dilakukan pengujian


terhadap nilai koefisien (b) ini untuk meyakinkan apakah koefisien ini

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 21

dapat dipakai atau tidak. Nilai koefisien (b) dipakai kalau nilai koefisien
(b) signifikan dan mempunyai koefisien yang tinggi (mendekati satu).
Setelah nilai koefisien (b) diperoleh dan nilai keabsahannya dapat
diterima, maka konsumsi pada tahun-tahun lainnya yang tidak ada
surveinya dapat diperkirakan dengan menggunakan formulasi seperti
yang telah diuraikan di atas, yaitu :

C(n + 1) = Cn + (b. dpt. Cn)

Nilai konsumsi kelompok bahan makanan atas dasar harga yang


berlaku diperoleh dengan mengalikan kuantum per jenis komoditi
dengan harga rata-rata setiap jenisnya pada masing-masing tahun.
Sedangkan nilai konsumsi atas dasar harga konstan 2000 dilakukan
dengan men-deflate nilai konsumsi kelompok bahan makanan atas dasar
harga yang berlaku dengan indeks harga masing-masing komoditi
menurut tahunnya dimana tahun 2000 = 100.

2. Kelompok Bukan Bahan Makanan

Dalam memperkirakan pengeluaran bukan bahan makanan


dipakai pengeluaran rata-rata per kapita sebulan dari hasil Susenas.
Sedangkan untuk mengestimasi pengeluaran rata-rata per kapita sebulan
pada tahun-tahun lainnya digunakan indeks harga konsumen yang
sesuai dengan kelompok pengeluarannya. Total pengeluaran atas dasar
harga yang berlaku diperoleh dengan mengalikan pengeluaran rata-rata
per kapita sebulan dengan 12 dan penduduk pertengahan tahun.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 22

Sedangkan total pengeluaran atas dasar harga konstan 2000 didapatkan


dengan cara mendeflate dengan indeks harga konsumen.

3.2.2 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba

Lembaga Swasta Nirlaba/Non-profit (LNP) adalah lembaga formal


ataupun informal yang dibentuk oleh perorangan, kelompok masyarakat,
pemerintah atau dunia usaha dalam rangka menyediakan jasa pelayanan
khususnya bagi anggota maupun kelompok masyarakat tertentu tanpa adanya
motivasi untuk meraih keuntungan. Secara garis besar jenis lembaga nonprofit
dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu :

1. LNP yang menghasilkan Jasa Komersial

LNP pada kelompok ini adalah LNP yang menjual jasa


layanannya pada tingkat harga pasar, yaitu harga yang didasarkan atas
biaya produksi. Jasa yang dihasilkan oleh lembaga ini berpengaruh
terhadap penawaran (supply) dari jenis jasa yang dihasilkan secara
keseluruhan. Bentuk LNP seperti ini dibedakan atas :
1.1 LNP yang menyediakan jasa layanannya bagi masyarakat
umum seperti lembaga penyelenggaraan pendidikan dan
kesehatan.
1.2 LNP yang menyediakan jasa layanannya bagi kalangan dunia
usaha seperti serikat pekerja, asosiasi bisnis, kamar dagang
dan sebagainya.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 23

2. LNP yang menghasilkan jasa nonkomersial

LNP pada kelompok ini adalah LNP yang menjual jasa


layanannya pada tingkat harga di bawah harga pasar, yaitu harga yang
tidak didasarkan atas biaya produksi. Bahkan terkadang jasa layanan itu
diberikan secara cuma-cuma. Bentuk LNP seperti ini dibedakan atas :
2.1 LNP yang kegiatan pelayanannya sebagian besar dibiayai
oleh pemerintah, baik yang keberadaannya terikat (pada
pemerintah) maupun tidak. Contohnya organisasi PMI,
Komisi Hak Asasi Manusia, Dharma Wanita dan sebagainya.
2.2 LNP yang dibentuk dan dibiayai oleh anggota masyarakat.
Lembaga ini disebut juga Lembaga Nonprofit yang melayani
Rumah tangga (LNPRT). Lembaga yang termasuk ke dalam
LNPRT dibedakan lagi atas :
2.2.1 LNP yang menyediakan jasa layanannya khusus untuk
anggota seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi
profesi, lembaga keagamaan dan sebagainya.
2.2.2 LNP yang menyediakan jasa layanannya bagi kelompok
masyarakat yang membutuhkan seperti organisasi
sosial, organisasi pemberi beasiswa dan sebagainya.

Pengeluaran dari lembaga nonprofit (LNP) ini meliputi pembelian


barang dan jasa, pembayaran upah gaji, penyusutan barang modal, pajak tidak
langsung neto. Untuk lembaga nonprofit (LNP) yang sebagian besar dibiayai
oleh pemerintah, maka lembaga ini termasuk ke dalam kegiatan pemerintah

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 24

umum dan tidak termasuk ke dalam kegiatan yang dimaksud di atas. Metode
estimasi dilakukan secara langsung berdasarkan hasil penghitungan dari sudut
lapangan usaha, dengan mengumpulkan output dari sektor jasa-jasa sosial
dimana lembaga nonprofit (LNP) tersebut banyak berperan. Penghitungan
atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara yang sama, yaitu
berdasarkan hasil penghitungan menurut lapangan usaha/sektoral.

3.2.3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

Pengeluaran konsumsi pemerintah mencakup pengeluaran untuk


belanja pegawai, penyusutan dan belanja barang (termasuk belanja perjalanan,
pemeliharaan, dan pengeluaran lain yang bersifat rutin) baik yang dilakukan
oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dikurangi dengan
penerimaan dari produksi barang dan jasa yang dihasilkan. Metode estimasi
dilakukan melalui pendekatan langsung terhadap realisasi pengeluaran belanja
pegawai dan belanja barang, baik yang bersumber dari belanja rutin maupun
belanja pembangunan khususnya untuk menaksir besarnya pengeluaran
konsumsi pemerintah sipil. Data diperoleh dari hasil laporan Realisasi
Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah Daerah Tingkat I, Pemerintah
Daerah Tingkat II, dan Desa. Sedangkan untuk pengeluaran konsumsi
pemerintah pusat dan pertahanan (Hankam) dilakukan dengan cara tidak
langsung, yaitu dengan menggunakan metode alokasi dari angka nasional
yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Perkiraan atas dasar harga konstan
2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi menggunakan indeks tertimbang
jumlah pegawai.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 25

3.2.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto

Yang dimaksud dengan pembentukan modal tetap bruto adalah


semua barang modal baru yang digunakan atau dipakai sebagai alat dalam
proses produksi di region tersebut. Jadi barang-barang modal itu dapat
diperoleh dengan cara membeli dan pengadaan baru di region tersebut atau di
luar region tanpa memandang apakah barang tersebut baru atau bekas. Yang
dikategorikan barang-barang modal adalah barang-barang yang mempunyai
umur satu tahun atau lebih.
Barang-barang yang tidak diproduksi kembali seperti tanah,
cadangan mineral tidak termasuk dalam pembentukan modal tetap bruto.
Akan tetapi pengeluaran untuk meningkatkan mutu dan penggunaan tanah
untuk dijadikan area perkebunan, perluasan area pertambangan dan lain
sebagainya merupakan pengeluaran untuk pembentukan modal tetap bruto.
Pembelian atau pembuatan barang-barang tahan lama untuk keperluan militer
bukan merupakan pembentukan modal tetap bruto, karena barang-barang
yang digunakan militer tersebut adalah bersifat konsumtif, kecuali perumahan
untuk tempat tinggal keluarga militer. Pembentukan modal tetap bruto :
1. Pembentukan modal tetap dalam bentuk bangunan atau konstruksi,
yang terdiri dari:
a. Bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal.
b. Bangunan atau konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan,
irigasi, pembangkit tenaga listrik dan jaringannya, instalasi
telekomunikasi, pelabuhan dan sebagainya.
c. Perbaikan besar-besaran dari bangunan tersebut di atas.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 26

2. Pembentukan modal tetap dalam bentuk mesin-mesin dan alat-alat


perlengkapan, yang terdiri dari :
a. Alat-alat transport, seperti kapal laut, kapal udara, bus, truk,
motor dan sebagainya.
b. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk pertanian.
c. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk industri, listrik
dan pertambangan.
d. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk pembuatan jalan,
jembatan dan sebagainya.
e. Mesin-mesin dan perabot untuk perlengkapan kantor, toko,
hotel, restoran dan sebagainya.
3. Perluasan perkebunan dan penanaman baru untuk tanaman keras.
Yang dimaksud dengan tanaman keras di sini adalah bermacam-
macam tanaman yang hasilnya baru akan diperoleh setelah berumur
satu tahun atau lebih. Termasuk juga di sini pengeluaran-
pengeluaran yang dilakukan oleh perkebunan besar selama
perkebunan itu belum mendatangkan hasil (berproduksi) dan
kegiatan penanaman kembali (reboisasi) yang dilakukan oleh
perusahaan pemerintah dan pemerintah sendiri.
4. Penambahan ternak yang khusus dipelihara untuk diambil susunya
atau bulunya atau untuk dipakai tenaganya dan sebagainya, kecuali
ternak yang dipelihara untuk dipotong.
5. Margin perdagangan atau makelar, service charge, dan ongkos-
ongkos pemindahan hak milik dalam transaksi jual beli tanah,

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 27

sumber mineral, hak pengusaha hutan, hak paten, hak cipta, barang-
barang modal bekas dari luar wilayah/region.

Mengingat sangat terbatasnya data mengenai pembentukan modal


tetap bruto, maka dilakukan dua macam pendekatan terhadap perkiraan nilai
pembentukan modal yaitu:
1. Perkiraan nilai pembentukan modal tetap yang terjadi dihitung
melalui pendekatan jenis barang yang digunakan, yaitu berupa
bangunan/konstruksi, mesin-mesin dan peralatan lainnya, yang
datanya bersumber dari hasil penghitungan produk domestik
regional bruto sektor bangunan ditambah dengan data yang
diperoleh dari Statistik Impor.
2. Sumber pembentukan modal tetap bruto lainnya diperoleh dari buku
APBD provinsi dan kabupaten/kota serta Biro Perekonomian dan
Penanaman Modal mengenai realisasi pembentukan modal di Papua
Barat.

Perkiraan nilai pembentukan modal tetap bruto atas dasar harga


konstan 2000 diperoleh dengan cara deflasi menggunakan indeks harga
perdagangan besar impor sebagai deflatornya.

3.2.5 Perubahan Stok

Stok merupakan persediaan barang-barang yang sudah


diproduksi/dihasilkan tetapi belum digunakan, meliputi persediaan bahan
mentah/bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. Perubahan stok

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 28

merupakan selisih antara stok akhir tahun dengan stok awal tahun. Mengingat
belum tersedianya data jumlah stok, maka perkiraan nilai perubahan stok
diperoleh dari selisih antara total produk domestik regional bruto menurut
lapangan usaha dengan jumlah komponen penggunaan lainnya.

3.2.6 Ekspor dan Impor

Kegiatan ekspor dan impor meliputi suatu transaksi yang terjadi


atas suatu barang dan jasa antara penduduk suatu region dengan penduduk
region lain, yang meliputi ekspor impor barang, jasa pengangkutan, jasa
asuransi dan berbagai jasa lainnya seperti jasa perdagangan yang diterima
oleh pedagang region tersebut yang kegiatannya mengadakan transaksi barang
region tersebut. Termasuk juga transaksi dari beberapa barang dan jasa yang
langsung dibeli di pasar domestik oleh bukan penduduk region tersebut dan
jasa pembelian langsung di luar region oleh penduduk region tersebut.
Transaksi barang dan jasa dimaksud adalah semua barang dan jasa yang
melintasi batas geografis suatu region.
Barang-barang yang melintasi batas geografis suatu region, akan
tetapi hanya merupakan tempat persinggahan saja dalam perjalanan menuju
atau kembali ke suatu tempat, barang-barang untuk peragaan, barang-barang
sebagai bahan penyelidikan, barang-barang kepunyaan turis atau penumpang
semuanya tidak termasuk di sini.
Barang-barang keperluan pelayanan atau penerbangan yang dibeli
pada waktu merapat atau mendarat di pelabuhan luar negeri atau luar region
dan ikan yang langsung dijual oleh kapal-kapal penangkap ikan milik
penduduk suatu region lain adalah merupakan transaksi barang dan jasa yang

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 29

harus dimasukkan dalam ekspor dan impor. Kegiatan ekspor dan impor dirinci
sebagai berikut :
a. Ekspor dan impor antar negara
b. Ekspor dan impor antar daerah/pulau

Sumber data dan metode estimasi yang digunakan dalam menaksir


besarnya nilai ekspor dan impor adalah sebagai berikut :
a. Ekspor dan impor antar negara, diperoleh langsung dari publikasi
Statistik Ekspor dan Impor terbitan Badan Pusat Statistik.
b. Sedangkan perkiraan nilai ekspor dan impor antar daerah/pulau
dihitung dengan menggunakan angka laju pertumbuhan ekspor dan
impor antar daerah/pulau pada tahun-tahun sebelumnya.
Perkiraan nilai ekspor dan impor atas dasar harga konstan 2000
dihitung dengan cara deflasi dengan menggunakan indeks harga perdagangan
besar umum untuk komponen ekspor dan impor antar pulau, serta Indeks
Harga Perdagangan Besar (IHPB) impor untuk antar negara.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 30

BAB IV
TINJAUAN EKONOMI PAPUA BARAT MENURUT PENGGUNAAN
TAHUN 2009

Keadaan perekonomian dunia mengalami keterpurukan selama tahun


2009. Hanya ada tiga negara yang mengalami pertumbuhan positif yaitu
China, India dan Indonesia. Keadaan tersebut berpengaruh terhadap
perekonomian di dalam negeri, termasuk perekonomian Papua Barat.
Pengaruh itu sangat terasa, terutama bagi usaha-usaha yang berorientasi
ekspor ke luar negeri. Hal ini tercermin dari tingkat ekspor yang mengalami
penurunan.
Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) merupakan
dua kegiatan besar yang dilaksanakan pemerintah secara nasional. Kedua
kegiatan tersebut memiliki dampak multiplikatif yang cukup besar di
perekonomian. Namun dampak tersebut kurang bisa dirasakan secara
maksimal di perekonomian Papua Barat. Hal ini dikarenakan masih
kurangnya bentuk usaha yang mengakomodir kegiatan pemilu dan pilpres di
Papua Barat.

4.1 Perkembangan PDRB Menurut Penggunaan

Nilai yang tercipta pada PDRB menurut penggunaan memberikan


gambaran kemampuan ekonomi masyarakat di Provinsi Papua Barat. Atau
dapat juga menggambarkan bagaimana nilai tambah sektoral yang tercipta
digunakan ke dalam tujuh komponen PDRB menurut penggunaan.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 31

Nilai PDRB yang tercipta pada tahun 2009 sebesar Rp 14.547,73 miliar.
Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 16,67 persen terhadap nilai
PDRB pada tahun 2008 yang mencapai Rp 12.469,03 miliar. Peningkatan ini
lebih besar dibandingkan peningkatan PDB yang mencapai 13,37 persen
dengan nilai PDB mencapai Rp 5.613,44 triliun pada tahun 2009. PDRB
Provinsi Papua Barat menyumbang 0,26 persen terhadap nilai PDB.

Tabel 1. PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Atas Dasar Harga
Berlaku Tahun 2005 – 2009 (Miliar Rupiah)

Komponen Penggunaan 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Konsumsi Rumah Tangga 4 839,25 5 807,03 6 556,76 8 614,25 10 041,36
2. Lembaga Swasta Nirlaba 54,68 64,20 72,56 83,16 106,57
3. Konsumsi Pemerintah 1 344,01 1 688,49 2 032,10 2 506,04 2 852,99
4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 2 942,65 3 159,41 3 469,30 4 080,08 4 498,24
5. Perubahan Stok 309,88 329,77 349,84 375,83 391,13
6. Ekspor 4 862,88 6 181,91 6 416,18 6 787,16 5 170,94
7. Dikurangi Impor (-) 6 439,58 8 285,29 8 529,46 9 977,50 8 513,50
PDRB 7 913,78 8 945,54 10 367,28 12 469,03 14 547,73
Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

Seluruh komponen PDRB menurut penggunaan pada tahun 2009


mengalami peningkatan. Nilai komponen konsumsi meningkat 16,04 persen
dari Rp 11.203,45 miliar pada tahun 2008 menjadi Rp 13.000,92 miliar pada
tahun 2009. Pengeluaran konsumsi rumahtangga memiliki nilai terbesar,
diikuti oleh konsumsi pemerintah dan lembaga swasta nirlaba. Nilai konsumsi
rumahtangga pada tahun 2009 meningkat sebesar 16,57 persen dibandingkan
nilai konsumsi rumahtangga pada tahun 2008. Nilai konsumsi rumahtangga
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat
PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 32

mencapai Rp 10.041,36 miliar. Komponen konsumsi lembaga nirlaba


meningkat sebesar 28,15 persen. Nilai konsumsi lembaga nirlaba yang
tercipta sebesar Rp 106,57 miliar. Sementara nilai komponen konsumsi
pemerintah meningkat sebesar 13,84 persen. Nilai konsumsi pemerintah yang
terjadi sebesar Rp 2.852,99 miliar.
Nilai komponen PMTB menunjukkan peningkatan yang sangat
signifikan pada tahun 2009. Nilai PMTB meningkat sebesar 10,25 persen
dibandingkan nilai pada tahun 2008. Nilai komponen PMTB yang tercipta
sebesar Rp 4.498,24 miliar. Sementara nilai ekspor mengalami penurunan
sebesar 23,81 persen. Nilai ekspor yang terjadi sebesar Rp 5.170,94 miliar.
Nilai impor juga mengalami penurunan sebesar 14,67 persen dengan nilai
impor yang terjadi sebesar Rp 8.513,50 miliar.

4.2 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat

PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 menunjukkan kinerja secara
riil. Hal ini dikarenakan pengaruh faktor kenaikan harga (inflasi) sudah
dieliminir dari PDRB atas dasar harga konstan. Dari sisi sektoral, PDRB ini
menunjukkan kenaikan yang terjadi pada tingkat produksi. Sementara dari sisi
penggunaan, PDRB ini menunjukkan kuantitas barang dan jasa yang
dikonsumsi.
Dengan demikian, kinerja pada sektor riil dapat tercermin melalui
penghitungan PDRB menurut penggunaan. Hal ini sesuai dengan asumsi
bahwa sejumlah barang yang diproduksi akan sama dengan barang yang
dikonsumsi. Tetapi sebenarnya tidak semua barang yang diproduksi langsung
habis terpakai dalam satu waktu. Oleh karena itu, dalam PDRB menurut
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat
PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 33

penggunaan terdapat komponen perubahan stok. Komponen inilah yang


menunjukkan barang dan jasa yang belum dikonsumsi oleh komponen-
komponen penggunaan lainnya.
Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat pada tahun 2009 mencapai
6,26 persen. Pertumbuhan tersebut lebih baik dibandingkan pertumbuhan
PDB yang mencapai 4,55 persen. Laju pertumbuhan PDRB Provinsi Papua
Barat dan PDB dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Perkembangan Pertumbuhan PDB dan PDRB Provinsi Papua Barat


Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2005 – 2009 (Persen)

Pertumbuhan tertinggi PDRB menurut penggunaan terjadi pada


komponen konsumsi lembaga swasta nirlaba, diikuti oleh pertumbuhan
konsumsi rumahtangga. Komponen lembaga swasta nirlaba tumbuh 19,91
persen. Komponen konsumsi rumah tangga tumbuh 6,18 persen. Komponen
konsumsi pemerintah tumbuh 5,45 persen. Sementara PMTB tumbuh 4,01

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 34

persen.
Kinerja aktivitas perdagangan Provinsi Papua Barat pada tahun 2009
mengalami kontraksi. Ekspor turun sebesar 27,15 persen. Sementara impor
turun sebesar 24,10 persen.

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan


Tahun 2005 – 2009 (Persen)

Komponen Penggunaan 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Konsumsi Rumah Tangga 5,05 9,19 6,15 10,57 6,18
2. Lembaga Swasta Nirlaba 8,93 9,54 7,59 5,30 19,91
3. Konsumsi Pemerintah 18,54 19,21 15,61 10,62 5,45
4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 2,45 4,08 5,53 2,46 4,01
5. Perubahan Stok 7,58 2,19 2,24 -0,38 -11,04
6. Ekspor 23,10 11,04 0,18 -6,99 -27,15
7. Dikurangi Impor (-) 20,10 17,88 1,47 -3,98 -24,10
PDRB 6,80 4,55 6,95 7,33 6,26
Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

4.3 Struktur Perekonomian Provinsi Papua Barat

Struktur perekonomian berdasarkan PDRB menurut penggunaan


menggambarkan bagaimana pendapatan (nilai tambah) yang tercipta
digunakan dalam kegiatan ekonomi. Struktur tersebut terlihat dari kontribusi
setiap komponen terhadap PDRB menurut penggunaan.
Konsumsi rumahtangga masih memegang peranan yang sangat besar
dalam perekonomian Papua Barat. Kontribusi yang diberikan komponen
konsumsi rumahtangga dalam PDRB menurut penggunaan tahun 2009

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 35

mencapai 69,02 persen. Kontribusi PMTB sebesar 30,92 persen. Sementara


kontribusi ekspor mencapai 35,54 persen. Sedangkan kontribusi impor,
sebagai komponen pengurang, memberikan kontribusi sebesar 58,52 persen.
Dengan demikian ekspor netto Papua Barat sebesar -22,98 persen.

Gambar 2. Distribusi PDRB Menurut Penggunaan Tahun 2009 (Persen)

4.4 PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan

4.4.1 Konsumsi Rumahtangga

Sebagaiamana telah disebutkan pada bagian sebelumnya, konsumsi


rumahtangga memiliki kontribusi paling besar terhadap PDRB menurut
penggunaan. Dengan nilai konsumsi mencapai Rp 10.041,36 miliar, konsumsi

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 36

rumahtangga mempunyai kontribusi sebesar 69,02 persen. Sementara dari sisi


kuantitas barang dan jasa yang dikonsumsi, konsumsi rumah tangga tumbuh
6,18 persen. Konsumsi rumahtangga terbagi menjadi dua macam konsumsi
yaitu konsumsi makanan dan konsumsi bukan makanan.

Tabel 3. Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Berlaku dan Kontribusinya dirinci menurut
Konsumsi Makanan dan Konsumsi Bukan Makanan Provinsi Papua Barat
Tahun 2005 – 2009
Makanan Bukan Makanan Total
Tahun Nilai Kontribusi Nilai Kontribusi Nilai Kontribusi
(Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen)
(1) (2) (3) (5) (6) (5) (6)
2005 3 293,17 41,61 1 546,09 19,54 4 839,25 61,15

2006 3 999,88 44,71 1 807,15 20,20 5 807,03 64,92

2007*) 4 550,00 43,89 2 006,76 19,36 6 556,76 63,24


)
2008** 6 003,69 48,15 2 610,56 20,94 8 614,25 69,09

2009***) 6 945,25 47,74 3 096,11 21,28 10 041,36 69,02


Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

Nilai konsumsi makanan pada tahun 2009 mencapai Rp 6.945,25 miliar.


Konsumsi tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,68 persen
dibandingkan konsumsi pada tahun 2008. Berdasarkan nilai konsumsi yang
tercipta, konsumsi makanan memberikan kontribusi sebesar 47,74 persen.
Dari sisi kuantitasnya, konsumsi makanan tumbuh sebesar 6,85 persen.
Nilai konsumsi bukan makanan pada tahun 2009 mencapai Rp 3.096,11
miliar. Dengan nilai konsumsi tersebut, konsumsi bukan makanan
memberikan kontribusi sebesar 21,28 persen. Sementara dari sisi
kuantitasnya, konsumsi bukan makanan tumbuh 4,74 persen.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 37

Tabel 4. Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Konstan 2000 dan Laju Pertumbuhan
dirinci menurut Konsumsi Makanan dan Konsumsi Bukan Makanan
Provinsi Papua Barat Tahun 2005 – 2009
Makanan Bukan Makanan Total
Tahun Nilai Pertumbuhan Nilai Pertumbuhan Nilai Pertumbuhan
(Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen)
(1) (2) (3) (5) (6) (5) (6)
2005 2 032,40 3,98 931,61 7,45 2 964,01 5,05

2006 2 194,31 7,97 1 041,99 11,85 3 236,30 9,19

2007*) 2 328,95 6,14 1 106,32 6,17 3 435,27 6,15


)
2008** 2 584,23 10,96 1 213,99 9,73 3 798,22 10,57

2009***) 2 761,26 6,85 1 271,55 4,74 4 032,81 6,18


Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

Gambar 3. Distribusi Konsumsi Rumahtangga Menurut Jenisnya Tahun 2009


(Persen)

Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa tingkat konsumsi


masyarakat Papua Barat sangat tinggi. Konsumsi masyarakat terhadap
kebutuhan makanan masih dominan. Hal ini terlihat jika konsumsi

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 38

rumahtangga didistribusikan terhadap konsumsi makanan dan bukan


makanan. Sekitar 69,17 persen dari konsumsi rumahtangga digunakan untuk
konsumsi makanan. Sementara konsumsi bukan makanan hanya sekitar 30,83
persen. Namun jika dilihat dari tingkat pertumbuhannya, pertumbuhan
konsumsi non makanan justru cenderung lebih tinggi dibandingkan konsumsi
makanan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai meningkatkan porsi
pengeluarannya terhadap pembelian barang-barang dan jasa pelengkap.

4.4.2 Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba

Konsumsi lembaga swasta nirlaba pada tahun 2009 mengalami


peningkatan sebesar 28,15 persen. Nilai konsumsi lembaga swasta nirlaba
yang tercipta sebesar Rp 106,57 miliar. Dengan nilai tambah tersebut
komponen ini memberikan kontribusi sebesar 0,67 persen terhadap PDRB.
Jika dilihat atas dasar harga konstan, konsumsi lembaga swasta nirlaba
mengalami pertumbuhan sebesar 19,91 persen. Pertumbuhan ini lebih besar
dibandingkan pertumbuhan yang terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 5,30
persen.

4.4.3 Konsumsi Pemerintah

Peranan pemerintah dalam perekonomian Papua Barat cukup besar. Hal


ini terlihat dari kontribusi yang diberikan terhadap PDRB tiap tahunnya.
Konsumsi pemerintah pada tahun 2009 mencapai Rp 2.852,99 miliar. Dengan
nilai tersebut, konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 19,61
persen terhadap PDRB.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 39

Tabel 5. Nilai Konsumsi Pemerintah ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan
Konsumsi Pemerintah Provinsi Papua Barat Tahun 2005– 2009
Nilai Distribusi Laju Pertumbuhan
Tahun
(Jutaan Rupiah) (Persen) (Persen)
(1) (2) (3) (4)
2005 1344 013,91 16,98 18,54
2006 1 688 491,14 18,88 19,21
)
2007* 2 032 097,74 19,60 15,61
)
2008** 2 506 043,16 20,10 10,62
)
2009*** 2 852 993,92 19,61 5,45
Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

Konsumsi pemerintah atas dasar harga konstan mengalami


pertumbuhan sebesar 5,45 persen pada tahun 2009. Pertumbuhan ini masih
lebih kecil jika dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2008 yang mencapai
10,62 persen.

4.4.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto

Pada tahun 2009 nilai PMTB mencapai Rp 4.498,24 miliar, meningkat


10,25 persen dibandingkan nilai PMTB pada tahun 2009. Dengan nilai
tambah tersebut, PMTB memberikan kontribusi sebesar 30,92 persen terhadap
PDRB. Jika dilihat laju pertumbuhannya, PMTB tumbuh 4,01 persen.
Pertumbuhan ini mengalami peningkatan dibandingkan pertumbuhan pada
tahun 2008 yang mencapai 2,46 persen.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 40

Tabel 6. Nilai PMTB ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan Pembentukan
Modal Tetap Bruto Provinsi Papua Barat Tahun 2005– 2009
Nilai Distribusi Laju Pertumbuhan
Tahun
(Jutaan Rupiah) (Persen) (Persen)
(1) (2) (3) (4)
2005 2 942 650,85 37,18 2,45
2006 3 159 413,76 35,32 4,08
)
2007* 3 469 303,24 33,46 5,53
)
2008** 4 080 076,40 32,72 2,46
)
2009*** 4 498 236,48 30,92 4,01
Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

4.4.5 Perubahan Stok


Pada tahun 2009 stok mengalami pertumbuhan negatif sebesar -11,04
persen. Sementara pada tahun sebelumnya terjadi pertumbuhan stok sebesar -
0,38 persen..

4.4.6 Ekspor dan Impor

Transaksi perdagangan antar wilayah menunjukkan penurunan


dibandingkan transaksi selama tahun 2009. Nilai ekspor pada tahun 2009
mencapai Rp 5.170,94 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar
23,81 persen terhadap nilai ekspor pada tahun 2008 yang mencapai Rp
6.787,16 miliar. Sementara pertumbuhan ekspor mengalami penurunan
sebesar 27,15 persen.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 41

Tabel 7. Nilai Ekspor dan Impor ADH Berlaku, Distribusi, dan Laju Pertumbuhan Ekspor
dan Impor Provinsi Papua Barat Tahun 2005 – 2009
Nilai (Jutaan Rupiah) Distribusi (Persen) Laju Pertumbuhan (Persen)
Tahun
Ekspor Impor Ekspor Impor Ekspor Impor
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
2005 4 862 876,13 6 439 578,42 61,45 81,37 23,10 20,10

2006 6 181 913,53 8 285 290,28 69,11 92,62 11,04 17,88


)
2007* 6 416 179,41 8 529 463,74 61,89 82,27 0,18 1,47
)
2008** 6 787 164,93 9 977 495,21 54,43 80,02 -6,99 -3,98

2009***) 5 170 937,93 8 513 500,94 35,54 58,52 -27,15 -24,10


Catatan: *) Angka Tetap **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

Apabila ekspor dirinci menurut daerah tujuannya, nilai ekspor ke luar


negeri lebih besar dibandingkan ekspor antar provinsi. Ekspor luar negeri
mencapai Rp 3.157,40 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar
35,97 persen terhadap ekspor luar negeri pada tahun 2008. Sementara ekspor
antar propinsi mencapai Rp 2.013,54 miliar atau naik sebesar 8,47 persen
terhadap ekspor antar provinsi pada tahun 2008. Apabila dilihat laju
pertumbuhannya, ekspor luar negeri turun 35,78 persen sedangkan ekspor
antar propinsi tumbuh 2,95 persen terhadap keadaan pada tahun 2008.
Nilai impor pada tahun 2009 mencapai Rp 8.513,50 miliar. Nilai
tersebut menurun 14,67 persen dibandingkan impor pada tahun 2008 yang
mencapai Rp 9.977,50 miliar. Jika dilihat berdasarkan nilai atas dasar harga
konstan, impor tumbuh minus 24,10 persen
Apabila dirinci menurut daerah asal barang, impor antar provinsi lebih
besar dibandingkan impor luar negeri. Nilai impor antar provinsi mencapai Rp
8.511,04 miliar, turun 14,55 persen terhadap nilai impor pada tahun 2008.
Sementara nilai impor luar negeri mencapai Rp 2,46 miliar atau turun sebesar

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 42

minus 85,29 persen terhadap impor luar negeri pada tahun 2008. Jika dilihat
laju pertumbuhannya, impor antar provinsi tumbuh minus 23,94 persen
sedangkan impor luar negeri tumbuh sebesar minus 88,34 persen.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 43

Lampiran 1. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga
Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Jutaan Rupiah)
PENGGUNAAN 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

ATAS DASAR HARGA BERLAKU

1. Konsumsi Rumah Tangga 4 839 252,05 5 807 032,92 6 556 761,43 8 614 250,23 10 041 359,40
a. Makanan 3 293 165,04 3 999 878,26 4 549 998,73 6 003 687,52 6 945 253,20
b. Bukan Makanan 1 546 087,01 1 807 154,66 2 006 762,70 2 610 562,71 3 096 106,19
2. Lembaga Swasta Nirlaba 54 684,23 64 204,31 72 563,15 83 157,66 106 567,80
3. Konsumsi Pemerintah 1 344 013,91 1 688 491,14 2 032 097,74 2 506 043,16 2 852 993,92
4. PMTB 2 942 650,85 3 159 413,76 3 469 303,24 4 080 076,40 4 498 236,48
5. Perubahan Stok 309 878,04 329 774,13 349 837,46 375 834,33 391 132,92
6. Ekspor 4 862 876,13 6 181 913,53 6 416 179,41 6 787 164,93 5 170 937,93
a. Luar Negeri 3 069 755,56 4 487 920,64 4 848 953,63 4 930 770,49 3 157 398,33
b. Antar Propinsi 1 793 120,57 1 693 992,89 1 567 225,78 1 856 394,44 2 013 539,60
7. Dikurangi Impor (-) 6 439 578,42 8 285 290,28 8 529 463,74 9 977 495,21 8 513 500,94
a. Luar Negeri 321 988,06 165 178,19 105 059,40 16 751,60 2 464,37
b. Antar Propinsi 6 117 590,36 8 120 112,10 8 424 404,34 9 960 743,61 8 511 036,58
PDRB 7 913 776,80 8 945 539,50 10 367 278,69 12 469 031,50 14 547 727,50

ATAS DASAR HARGA KONSTAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 2 964 008,64 3 236 303,54 3 435 271,35 3 798 224,88 4 032 812,48
a. Makanan 2 032 403,01 2 194 312,10 2 328 954,87 2 584 230,09 2 761 259,21
b. Bukan Makanan 931 605,62 1 041 991,44 1 106 316,48 1 213 994,79 1 271 553,28
2. Lembaga Swasta Nirlaba 29 545,08 32 363,43 34 818,25 36 664,46 43 965,59
3. Konsumsi Pemerintah 742 794,76 885 485,64 1 023 698,59 1 132 416,23 1 194 127,29
4. PMTB 1 579 512,60 1 643 883,01 1 734 781,02 1 777 497,44 1 848 845,50
5. Perubahan Stok 210 181,45 214 784,32 219 602,26 218 762,59 194 608,72
6. Ekspor 3 010 293,87 3 342 547,86 3 348 401,93 3 114 404,70 2 268 837,42
a. Luar Negeri 2 185 421,97 2 596 485,52 2 659 779,00 2 420 617,18 1 554 549,93
b. Antar Propinsi 824 871,90 746 062,34 688 622,93 693 787,52 714 287,49
7. Dikurangi Impor (-) 3 229 007,26 3 806 467,30 3 862 257,58 3 708 596,07 2 814 997,55
a. Luar Negeri 290 451,74 145 784,57 73 374,00 8 775,08 1 022,77
b. Antar Propinsi 2 938 555,52 3 660 682,72 3 788 883,58 3 699 821,00 2 813 974,77
PDRB 5 307 329,12 5 548 900,50 5 934 315,82 6 369 374,22 6 768 199,45
Catatan : *) Angka Yang Diperbaiki
**) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 44

Lampiran 2. Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar
Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
PENGGUNAAN 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

ATAS DASAR HARGA BERLAKU

1. Konsumsi Rumah Tangga 61,15 64,92 63,24 69,09 69,02


a. Makanan 41,61 44,71 43,89 48,15 47,74
b. Bukan Makanan 19,54 20,20 19,36 20,94 21,28
2. Lembaga Swasta Nirlaba 0,69 0,72 0,70 0,67 0,73
3. Konsumsi Pemerintah 16,98 18,88 19,60 20,10 19,61
4. PMTB 37,18 35,32 33,46 32,72 30,92
5. Perubahan Stok 3,92 3,69 3,37 3,01 2,69
6. Ekspor 61,45 69,11 61,89 54,43 35,54
a. Luar Negeri 38,79 50,17 46,77 39,54 21,70
b. Antar Propinsi 22,66 18,94 15,12 14,89 13,84
7. Dikurangi Impor (-) 81,37 92,62 82,27 80,02 58,52
a. Luar Negeri 4,07 1,85 1,01 0,13 0,02
b. Antar Propinsi 77,30 90,77 81,26 79,88 58,50
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

ATAS DASAR HARGA KONSTAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 55,85 58,32 57,89 59,63 59,58


a. Makanan 38,29 39,54 39,25 40,57 40,80
b. Bukan Makanan 17,55 18,78 18,64 19,06 18,79
2. Lembaga Swasta Nirlaba 0,56 0,58 0,59 0,58 0,65
3. Konsumsi Pemerintah 14,00 15,96 17,25 17,78 17,64
4. PMTB 29,76 29,63 29,23 27,91 27,32
5. Perubahan Stok 3,96 3,87 3,70 3,43 2,88
6. Ekspor 56,72 60,24 56,42 48,90 33,52
a. Luar Negeri 41,18 46,79 44,82 38,00 22,97
b. Antar Propinsi 15,54 13,45 11,60 10,89 10,55
7. Dikurangi Impor (-) 60,84 68,60 65,08 58,23 41,59
a. Luar Negeri 5,47 2,63 1,24 0,14 0,02
b. Antar Propinsi 55,37 65,97 63,85 58,09 41,58
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Catatan : *) Angka Yang Diperbaiki
**) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 45

Lampiran 3. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat
Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan
(Persen)
PENGGUNAAN 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

ATAS DASAR HARGA BERLAKU

1. Konsumsi Rumah Tangga 197,09 236,51 267,04 350,84 408,96


a. Makanan 193,57 235,11 267,45 352,90 408,24
b. Bukan Makanan 205,04 239,66 266,13 346,21 410,60
2. Lembaga Swasta Nirlaba 274,27 322,01 363,94 417,07 534,49
3. Konsumsi Pemerintah 293,04 368,15 443,06 546,40 622,05
4. PMTB 238,70 256,28 281,42 330,96 364,88
5. Perubahan Stok 175,12 186,36 197,70 212,39 221,04
6. Ekspor 181,56 230,81 239,56 253,41 193,07
a. Luar Negeri 160,27 234,31 253,15 257,43 164,84
b. Antar Propinsi 235,04 222,04 205,43 243,33 263,93
7. Dikurangi Impor (-) 210,14 270,37 278,34 325,60 277,82
a. Luar Negeri 196,45 100,78 64,10 10,22 1,50
b. Antar Propinsi 210,92 279,96 290,45 343,42 293,44
PDRB 199,96 226,03 261,96 315,07 367,59

ATAS DASAR HARGA KONSTAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 120,72 131,81 139,91 154,69 164,25


a. Makanan 119,46 128,98 136,90 151,90 162,31
b. Bukan Makanan 123,55 138,19 146,72 161,00 168,63
2. Lembaga Swasta Nirlaba 148,18 162,32 174,63 183,89 220,51
3. Konsumsi Pemerintah 161,95 193,06 223,20 246,90 260,36
4. PMTB 128,12 133,35 140,72 144,18 149,97
5. Perubahan Stok 118,78 121,38 124,10 123,63 109,98
6. Ekspor 112,39 124,80 125,02 116,28 84,71
a. Luar Negeri 114,10 135,56 138,86 126,38 81,16
b. Antar Propinsi 108,12 97,79 90,26 90,94 93,63
7. Dikurangi Impor (-) 105,37 124,22 126,04 121,02 91,86
a. Luar Negeri 177,21 88,95 44,77 5,35 0,62
b. Antar Propinsi 101,31 126,21 130,63 127,56 97,02
PDRB 134,10 140,21 149,95 160,94 171,02
Catatan : *) Angka Yang Diperbaiki
**) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 46

Lampiran 4. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas
Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
PENGGUNAAN 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

ATAS DASAR HARGA BERLAKU

1. Konsumsi Rumah Tangga 13,53 20,00 12,91 31,38 16,57


a. Makanan 13,56 21,46 13,75 31,95 15,68
b. Bukan Makanan 13,47 16,89 11,05 30,09 18,60
2. Lembaga Swasta Nirlaba 16,29 17,41 13,02 14,60 28,15
3. Konsumsi Pemerintah 28,11 25,63 20,35 23,32 13,84
4. PMTB 10,05 7,37 9,81 17,61 10,25
5. Perubahan Stok 21,92 6,42 6,08 7,43 4,07
6. Ekspor 49,51 27,12 3,79 5,78 -23,81
a. Luar Negeri 49,25 46,20 8,04 1,69 -35,97
b. Antar Propinsi 49,96 - 5,53 - 7,48 18,45 8,47
7. Dikurangi Impor (-) 29,75 28,66 2,95 16,98 -14,67
a. Luar Negeri 460,26 - 48,70 - 36,40 - 84,06 -85,29
b. Antar Propinsi 24,71 32,73 3,75 18,24 -14,55
PDRB 20,33 13,04 15,89 20,27 16,67

ATAS DASAR HARGA KONSTAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 5,05 9,19 6,15 10,57 6,18


a. Makanan 3,98 7,97 6,14 10,96 6,85
b. Bukan Makanan 7,45 11,85 6,17 9,73 4,74
2. Lembaga Swasta Nirlaba 8,93 9,54 7,59 5,30 19,91
3. Konsumsi Pemerintah 18,54 19,21 15,61 10,62 5,45
4. PMTB 2,45 4,08 5,53 2,46 4,01
5. Perubahan Stok 7,58 2,19 2,24 - 0,38 -11,04
6. Ekspor 23,10 11,04 0,18 - 6,99 -27,15
a. Luar Negeri 31,73 18,81 2,44 - 8,99 -35,78
b. Antar Propinsi 4,88 - 9,55 - 7,70 0,75 2,95
7. Dikurangi Impor (-) 20,10 17,88 1,47 - 3,98 -24,10
a. Luar Negeri 426,37 - 49,81 - 49,67 - 88,04 -88,34
b. Antar Propinsi 11,59 24,57 3,50 - 2,35 -23,94
PDRB 6,80 4,55 6,95 7,33 6,26
Catatan : *) Angka Yang Diperbaiki
**) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 47

Lampiran 5. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas
Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
PENGGUNAAN 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

ATAS DASAR HARGA BERLAKU

1. Konsumsi Rumah Tangga 113,53 120,00 112,91 131,38 116,57


a. Makanan 113,56 121,46 113,75 131,95 115,68
b. Bukan Makanan 113,47 116,89 111,05 130,09 118,60
2. Lembaga Swasta Nirlaba 116,29 117,41 113,02 114,60 128,15
3. Konsumsi Pemerintah 128,11 125,63 120,35 123,32 113,84
4. PMTB 110,05 107,37 109,81 117,61 110,25
5. Perubahan Stok 121,92 106,42 106,08 107,43 104,07
6. Ekspor 149,51 127,12 103,79 105,78 76,19
a. Luar Negeri 149,25 146,20 108,04 101,69 64,03
b. Antar Propinsi 149,96 94,47 92,52 118,45 108,47
7. Dikurangi Impor (-) 129,75 128,66 102,95 116,98 85,33
a. Luar Negeri 560,26 51,30 63,60 15,94 14,71
b. Antar Propinsi 124,71 132,73 103,75 118,24 85,45
PDRB 120,33 113,04 115,89 120,27 116,67

ATAS DASAR HARGA KONSTAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 105,05 109,19 106,15 110,57 106,18


a. Makanan 103,98 107,97 106,14 110,96 106,85
b. Bukan Makanan 107,45 111,85 106,17 109,73 104,74
2. Lembaga Swasta Nirlaba 108,93 109,54 107,59 105,30 119,91
3. Konsumsi Pemerintah 118,54 119,21 115,61 110,62 105,45
4. PMTB 102,45 104,08 105,53 102,46 104,01
5. Perubahan Stok 107,58 102,19 102,24 99,62 88,96
6. Ekspor 123,10 111,04 100,18 93,01 72,85
a. Luar Negeri 131,73 118,81 102,44 91,01 64,22
b. Antar Propinsi 104,88 90,45 92,30 100,75 102,95
7. Dikurangi Impor (-) 120,10 117,88 101,47 96,02 75,90
a. Luar Negeri 526,37 50,19 50,33 11,96 11,66
b. Antar Propinsi 111,59 124,57 103,50 97,65 76,06
PDRB 106,80 104,55 106,95 107,33 106,26
Catatan : *) Angka Yang Diperbaiki
**) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat


PDRB Menurut Penggunaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009 48

Lampiran 6. Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat
Menurut Penggunaan (Persen)
PENGGUNAAN 2005 2006 2007*) 2008**) 2009***)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Konsumsi Rumah Tangga 163,27 179,43 190,87 226,80 248,99


a. Makanan 162,03 182,28 195,37 232,32 251,52
b. Bukan Makanan 165,96 173,43 181,39 215,04 243,49
2. Lembaga Swasta Nirlaba 185,09 198,39 208,41 226,81 242,39
3. Konsumsi Pemerintah 180,94 190,69 198,51 221,30 238,92
4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 186,30 192,19 199,99 229,54 243,30
5. Perubahan Stok 147,43 153,54 159,31 171,80 200,98
6. Ekspor 161,54 184,95 191,62 217,93 227,91
a. Luar Negeri 140,47 172,85 182,31 203,70 203,11
b. Antar Propinsi 217,38 227,06 227,59 267,57 281,89
7. Dikurangi Impor (-) 199,43 217,66 220,84 269,04 302,43
a. Luar Negeri 110,86 113,30 143,18 190,90 240,95
b. Antar Propinsi 208,18 221,82 222,35 269,22 302,46
PDRB 149,11 161,21 174,70 195,77 214,94
Catatan : *) Angka Yang Diperbaiki
**) Angka Sementara
***) Angka Sangat Sementara

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat