Anda di halaman 1dari 110

STATISTIK  

KESEJAHTERAAN RAKYAT 
PROVINSI PAPUA BARAT 2009 
WELFARE STATISTICS OF  
PAPUA BARAT PROVINCE 
2009 

BADAN PUSAT STATISTIK


PROVINSI PAPUA BARAT
STATISTIK KESEJAHTERAAN RAKYAT
PROVINSI PAPUA BARAT 2009
WELFARE STATISTICS OF
PAPUA BARAT PROVINCE 2009

ISSN :
No. Publikasi/Publication Number : 91522.1013
Katalog BPS/BPS Catalogue : 4101002.9100
Ukuran Buku/Book Size : 21 cm x 29,7 cm
Jumlah Halaman/Total Pages : viii + 104 halaman /112 halaman

Naskah/Manuscript :
Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Papua Barat

Gambar Kulit/Cover Design :


Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik
BPS Provinsi Papua Barat

Diterbitkan Oleh/Published by :
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Dicetak Oleh/Printed by :

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya


May be cited with reference to the source 
KATA  
 

PENGANTAR 
Statistik  Kesejahteraan  Rakyat  Provinsi  Papua  Barat  2009  merupakan  publikasi 
tahunan  yang  dipublikasikan  oleh  BPS  Provinsi  Papua  Barat.  Ini  adalah  edisi  ketiga 
sejak  edisi  pertamanya  diterbitkan  pada  tahun  2008.  Publikasi  ini  memberikan 
gambaran pencapaian kesejahteraan rakyat di Provinsi Papua Barat pada tahun 2009 
dan  disajikan  sampai  level  kabupaten/kota.  Data  berasal  dari  hasil  Survei  Sosial 
Ekonomi Nasional (Susenas) yang mengacu pada kondisi Juli 2009. 
Publikasi  ini  mencakup  beberapa  aspek  yang  terukur  kesejahteraan  manusia  yang 
tentu  saja  mengacu  pada  data  yang  tersedia.  Penafsiran  dari  tren  yang  dianalisis 
dalam  tujuh  bagian,  yaitu  populasi,  kesehatan  dan  gizi,  pendidikan,  fertilitas, 
ketenagakerjaan,  perumahan dan lingkungan serta keadaan sosial lainnya. 
Untuk  semua  yang  telah  terlibat  dalam  penyusunan  publikasi  ini,  saya  ingin 
menyampaikan  penghargaan  yang  tinggi  dan  rasa  syukur.  Akhirnya,  kami  selalu 
menghargai  komentar  atas  publikasi  ini  untuk  perbaikan  lebih  lanjut  publikasi  lain 
yang serupa di tahun‐tahun mendatang.  
 
Manokwari,  Nopember 2010 
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat 
Kepala, 
 
 
Ir. Tanda Sirait, MM 
 
 

i  
PREFACE 
 

The 2009 Papua Barat Welfare Statistics  is an annual publication of Statistics—Papua 
Barat Province. It is the third edition since the first edition was published in 2008. It 
provides welfare status of Papua Barat Province in 2009. The main data source of this 
publication are from data collections that conducted by Papua Barat Regional Statis‐
tics Office.    
This publication covers several measurable aspects of human welfares which certainly 
refer  to  the  available  data.  The  interpretations  of  the  trends  are  analyzed  in  seven 
parts, i.e. population, health and nutrition, education, fertility, employment, housing 
and environment, and other social concern. 
To all who has involved in the preparation of this publication, I would like to express 
my high appreciation and gratitude. Finally, we always appreciate any comments on 
this publication for further improvement of other similar publications in the coming 
years. 
 
Manokwari,  July 2010 
Papua Barat – Province Statistics Office, 
 
 
Ir. Tanda Sirait, MM 

ii  
DAFTAR  TABLE OF  
ISI  CONTENTS 
Halaman Depan / Front Page
Kata Pengantar i

Preface ii
Daftar Isi / Table Of Contents iii
Daftar Tabel / List Of Tables v

Daftar Gambar / List Of Pictures vii

Bab I Pendahuluan / Chapter I Introduction

1.1 Umum / General 1


1.2 Sistematika Penyajian / Order of Presentatton 2

Bab II Metodologi/Chapter II Methodology

2.1 Kerangka Sampel / Sampling Frame 5

2.2 Rancangan Penarikan Sampel / Sampling Design 6

2.3 Jumlah Sampel Blok Sensus dan Rumah Tangga / 7


The number of Census Blocks and The Households

2.4 Metode Pengumpulan Data / Data Collection Method 7

2.5 Konsep dan Definisi / The Concept and The Definition 8

iii  
Bab III Kependudukan / Chapter III Population 17

Bab IV Kesehatan / Chapter IV Health 25

Bab V Pendidikan/Chapter V Education 55

Bab VI Fertilitas dan Keluarga Berencana/ 69

Chapter V Fertility and Family Planning

Bab VII Perumahan/Chapter VII Housing 81

Bab VIII Sosial Lainnya/Chapter VIII Other Condition 95

iv  
DAFTAR  LIST OF  
TABEL  TABLES 
Bab III Kependudukan
3.1 Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kabupaten/Kota 21
di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

3.2 Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Dirinci 22
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

3.3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun atau Lebih Menurut Jenis Kelamin 23
dan Status Perkawinan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat Tahun 2009

Bab IV Kesehatan
4.1 Persentase Penduduk Yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama 29—31
Bulan Referensi Dirinci Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009
4.2 Persentase Penduduk Yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi 32—34
Dirinci Menurut Jumlah Hari Sakit dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009
4.3 Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan dan Mengobati Sendiri Selama 35
Bulan Referensi Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

4.4 Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi Dirinci 36—38
Menurut Tempat/Cara Berobat, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

4.5 Persentase Penduduk Yang Mengobati Sendiri Selama Bulan Referensi 39


Dirinci Menurut Tempat/Cara Berobat, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

4.6A Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama, Jenis Kelamin dan 40—42
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

v  
4.6B Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir, Jenis Kelamin dan 43—45
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

4.7 Persentase Anak Usia 2 - 4 Tahun Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya 46—48
Disusui, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun

4.8 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Jenis Imunisasi, 49—51
Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

4.9 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi DPT, POLIO, dan 52—54
HEATITIS B, Menurut Frekuensi Imunisasi, Jenis Kelamin dan Kabupaten/
Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Bab V Pendidikan
5.1 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Status Pendidikan, 59—61
Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

5.2 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Status Pendidikan, 62


Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

5.3 Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin 63
Dirinci Menurut Kabupaten Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

5.4 Angka Partisipasi Kasar Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin 64
Dirinci Menurut Kabupaten Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

5.5 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun atau Lebih Menurut Ijazah Tertinggi 65—67
Yang Dimiliki, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

5.6 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Kepandaian Membaca dan 68


Menulis Huruf, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

Bab VI Fertilitas dan Keluarga Berencana


6.1 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin Menurut 73
Umur Kawin Pertama dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun
2009

6.2 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin Menurut 74
Penggunaan Kontrasepsi dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun
2009

vi  
6.3 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin Menurut 75
Alat/Cara Kontrasepsi yang Digunakan dan Kabupaten/Kota di Provinsi

6.4 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut 76
Jumlah Anak Lahir Hidup dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun

6.5 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut 77
Jumlah Anak Masih Hidup dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun

6.6 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut 78
Jumlah Anak Sudah Meninggal dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

6.7 Rata-rata Anak Lahir Hidup dari Wanita Pernah Kawin Berumur 15 - 49 Tahun 79
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

6.8 Rata-rata Anak Masih Hidup dari Wanita Pernah Kawin Berumur 15 - 49 80
Tahun Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Bab VII Perumahan


7.1 Persentase Rumah Tangga Menurut Penguasaan Tempat Tinggal dan 84
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.2 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai dan Dinding Terluas 85
dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.3 Tabel 7.3 Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai dan 86
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.4 Tabel 7.4 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan 87
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.5 Tabel 7.5 Persentase Rumah Tangga Dengan Sumber Air Minum Pompa, 88
Sumur Atau Mata Air dan Jarak Sumber Air Minum ke Tempat Penampungan
Kotoran/Tinja dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.6 Tabel 7.6 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Air Minum dan 88
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.7 Tabel 7.7 Persentase Rumah Tangga Menurut Cara Memperoleh Air Minum 89
dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

vii  
7.8 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Tempat Buang Air Besar dan 89
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.9 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Kloset dan Kabupaten/Kota di 90


Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.10 Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Akhir Kotoran/Tinja 91


dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.11 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Penerangan dan Kabupaten/ 92


Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.12 Persentase Rumah Tangga Pengguna PLN Menurut Daya Terpasang dan 93
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

7.13 Persentase Rumah Tangga Bahan Bakar Utama untuk Memasak dan 95
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Bab VIII Keadaan Sosial Ekonomi Rumah Tangga Lainnya


8.1 Persentase Rumah Tangga Yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan 100
Gratis dan Kartu Yang Digunakan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di

8.2 Persentase Rumah Tangga Yang Membeli Beras Miskin Dirinci Menurut 101
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

8.3 Persentase Rumah Tangga Yang Menerima Kredit Usaha Menurut 102
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

8.4 Persentase Rumah Tangga Yang Menguasai Telepon, Hand Phone, Desktop 103
dan Laptop Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

8.5 Persentase Rumah Tangga Yang Mengakses Internet Menurut Kabupaten/ 104
Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

viii  
BAB I  CHAPTER I 
PENDAHULUAN  INTRODUCTION 

1.1     Umum  1.1 General 

Pembangunan  adalah  suatu  Development  is  a  process  of 


proses  perubahan  ke  arah  yang  lebih  change  for  the  better  through  a 
baik  melalui  upaya  yang  dilakukan  planned  effort.  Because  development  is 
secara  terencana.  K a r e n a  a  process,  then  each  stage  of 
pembangunan  merupakan  sebuah  development  from  planning  to 
proses,  maka  setiap  tahapan  evaluation requires data. 
pembangunan mulai dari perencanaan   
sampai dengan evaluasi membutuhkan   
data.   
Apapun  program  pembangunan  Whatever  the  impact  of  the 
yang  direncanakan  dampak  akhirnya  planned  development  program  ends  up 
bermuara  pada  upaya  peningkatan  in  efforts  to  increase  people's  welfare. 
kesejahteraan  rakyat.  Tingkat  The  level  of  welfare  of  the  people 
kesejahteraan  rakyat  tergambar  pada  described  in  the  various  social  and 
berbagai  dimensi  sosial  dan  ekonomi  economic  dimensions  such  as  health, 
seperti  kesehatan,  pendidikan,  education,  employment,  housing, 
ketenagakerjaan,  perumahan,  poverty  reduction  and  access  to 
penurunan  tingkat  kemiskinan  dan   technology,  communication  and 
akses  terhadap  perkembangan  information. 
teknologi, komunikasi dan informasi.   

Informasi  tingkat  kesejahteraan  The  information  of  the  level  of 


di  atas,  secara  berkala  dimonitor  welfare  above,  regularly  monitored 
melalui  survei  berskala  nasional  yaitu  through  a  national  survey  of  the 
Survei  Sosial  Ekonomi  Nasional  atau  National  Social  Economic  Survey,  or 

1  
Susenas.    Susenas  mengumpulkan  SUSENAS.  SUSENAS  collected 
informasi  mengenai  kondisi  sosial  information  on  socio­economic 
ekonomi  masyarakat  sebagai  dasar  conditions  of  society  as  a  basis  for 
untuk memperoleh berbagai indikator  obtaining  a  variety  of  indicators  of 
pencapaian  kesejahteraan  rakyat.  achievement  of  public  welfare. 
Indikator  kesejahteraan  rakyat  yang  Indicators  of  public  welfare  resulting 
dihasilkan dari Susenas meliputi angka  from  SUSENAS  include  school 
partisipasi  sekolah  dan  angka  melek  enrollment  and  literacy  rates  in  the 
huruf  di  bidang  pendidikan;  angka  education dimension; rate of morbidity, 
morbiditas,  pemanfaatan  fasilitas  utilization  of  health  facilities, 
kesehatan,  pemberian  ASI,  imunisasi  breastfeeding,  immunization  and  birth 
dan  penolong  persalinan  di  bidang  attendants  in  health,  access  to  clean 
kesehatan;  akses  terhadap  air  bersih,  water,  home  ownership  status,  and 
status  kepemilikan  rumah,  dan  akses  access  control  technology,  information 
terhadap  penguasaan  teknologi,  and  communication  in  the  field  of 
informasi  dan  komunikasi  di  bidang  housing,  as  well  as  indicators  of  other 
perumahan;  serta  indikator  people's welfare.  
kesejahteraan rakyat lainnya.   

1.2     Sistematika Penyajian  1.2 c 

Publikasi  ini  merupakan  This  publication  is  a  set  of  data 


himpunan  data  yang  dihasilkan  dari  generated  from  SUSENAS  data 
pengumpulan  data  Susenas  tahun  collection  in  2009.  Statistics  of  Papua 
2009.  BPS Provinsi Papua Barat telah  Barat  Province  has  issued  a  similar 
menerbitkan  publikasi  serupa  sejak  publication  since  2007.  Thus,  the 
tahun  2007.  Dengan  demikian,  publication  of  Social  Welfare  Statistics 
publikasi  Statistik  Kesejahteraan  of  Papua  Barat  Province  presented 
Rakyat  Provinsi  Papua  Barat  baru  separately for the years 2007, 2008 and 
tersajikan secara terpisah untuk tahun  2009.  
2007, 2008 dan 2009.   
Publikasi  ini  disusun  dalam  This  publication  is  arranged  in 
tujuh bab. Bab I sebagaimana  saat ini  seven  chapters.  Chapter  I,  as  you 
Anda  baca  memuat  gambaran  umum  currently  reading  involve  general 
dan  sistematika  penyajian.  Bab  dua  overview  and  order  of  presentation. 
mengulas  metode  survei  yang  Chapter two reviews the methods of the 
dilengkapi dengan konsep dan definisi  survey  which  is  equipped  with  the 
dari  beberapa  variabel  terpilih.  Bab  concepts  and  definitions  of  some 

2  
tiga  sampai  dengan  bab  delapan  selected  variables.  Chapters  three 
menyajikan  data  kependudukan,  through eight chapters present data on 
kesehatan,  pendidikan  fertilitas  dan  population,  health,  fertility  and  family 
keluarga  berencana,  perumahan  dan  planning  education,  housing  and  social 
keadaan sosial ekonomi rumah tangga  and  economic  conditions  and  other 
lainnya.  Keenam  bab  tersebut  juga  household.  The  six  chapters  are  also 
disertai  ulasan  singkat  dari  masing‐ accompanied  by  a  brief  review  of  each 
masing data terkait.   of the related data.  
  
 
 

3  
BAB II  CHAPTER II 
METODOLOGI  METHODOLOGY 

2.1     Kerangka Sampel  2.1 Sampling Frame 

Kerangka  sampel  yang  For  the  2009  Susenas,  three  kinds  of 
digunakan dalam Susenas 2009 terdiri 
sampling  frames  were  used,  i.e.,  a 
dari  3  jenis,  yaitu:  kerangka  sampel 
sample frame for selecting enumeration 
untuk  pemilihan  blok  sensus, 
kerangka  sampel  untuk  pemilihan  areas  called  census  blocks,  a  sample 
subblok  sensus  (khusus  untuk  blok  frame  for  selecting  sub­census  block 
sensus  yang  bermuatan  rumah  tangga  (especially  census  blocks  containing 
lebih  dari  150  rumah  tangga),  dan 
more  than  150  households)  and  a 
kerangka  sampel  untuk  pemilihan 
sample frame for selecting households. 
rumah  tangga  dalam  blok  sensus/
subblok sensus terpilih.   

Kerangka  sampel  blok  sensus  The  sample  frame  for  selecting  census 
adalah  daftar  blok  sensus  biasa  hasil  blocks  were  from  the  2006  Economic 
Sensus  Ekonomi  2006  (Frame  BS 
Census  master  sampling  frames  of 
SE06) yang dipilih secara proportional 
census blocks using  the p.p.s,  size using 
probability to size dengan  size  jumlah 
rumah  tangga  hasil  pencacahan  the  number  of  households  of  the 
Pendaftaran  Pemilih  dan  Pendataan  respective census block which data was 
Penduduk  Berkelanjutan  (P4B).  provided  by  the  2003  pre  election  data 
Kerangka  sampel  blok  sensus  ini 
collection.  This  frame  of  census  block 
mencakup  blok  sensus  di  471 
covered  all  census  blocks  in  471 
kabupaten/kota  dan  dibedakan 
menurut  daerah  perkotaan  dan  regency/municipality  and  was 
perdesaan.  separated into urban and rural areas.  

 5 
Kerangka  sampel  rumah  tangga  The  households  sampling  frames  were 
adalah  daftar  rumah  tangga  hasil  the  list  of  households  collected  by 
pendaftaran  rumah  tangga  yang 
VSEN2009.L  questioner.  These  frames 
menggunakan  Daftar  VSEN2009.L. 
were  divided  into  three  kinds  of 
Kerangka  sampel  rumah  tangga  ini 
dibedakan  menurut  tiga  kelompok  households  expenditures  classification 
golongan  pengeluaran  rumah  tangga  in a month. 
sebulan.   

2.2     Rancangan Penarikan Sampel  2.2 Sampling Design 

Rancangan  penarikan  sampel  Susenas  The  procedure  for  selecting  sample  of 
2009  adalah  rancangan  penarikan  the  2009  Susenas  were  two  stage 
sampel  dua  tahap.  Penarikan  sampel  sampling.  The  procedure  for  selecting 
untuk  daerah  perkotaan  dan  sample  in  urban  and  rural  areas  was 
perdesaan  dilakukan  secara  terpisah.  conducted  separately.  The  procedure 
Prosedur  penarikan  sampel  Susenas  for  selecting  sampling  at  a  certain 
2009  untuk  suatu  kabupaten/kota  regency/municipality as follows: 
adalah sebagai berikut:     
a.  Tahap  pertama,  dari  master  a. The first stage, from master sampling 
sampling  frame  (MSF),  dipilih  nh  frame (MSF), a number of nh ordinary 
blok  sensus  biasa  (h  =  1,  untuk  census blocks were selected (h = 1, for 
perkotaan ; h = 2, untuk perdesaan).  urban;  h  =  2  for  rural).  For  census 
Untuk blok sensus yang muatannya  blocks  containing  more  than  150 
lebih  dari  150  rumah  tangga,  households,  must  be  conducted 
dilakukan  pemilihan  satu  subblok  selection  one  sub  census  block  using 
sensus  secara  PPS‐sistematik  systematic—p.p.s,  which  size  using 
dengan  size  banyaknya  rumah  the  number  of  households  of  pre 
tangga  hasil  pencacahan  P4B.  election  data  collection.  Then  listing 
Listing  rumah  tangga  dilakukan  households  were  conducted  in  every 
pada  seluruh  blok  sensus/sub‐blok  selected  census  block  or  sub  census 
sensus terpilih  block.     
b.  Tahap  kedua,  dari  setiap  blok  b.  The  second  stage,  for  every  selected 
sensus/subblok  sensus  terpilih  census  block/  sub  census  block  was 
kemudian  dipilih  sebanyak    16  selected  16  households 
rumah  tangga  dari    hasil  listing  systematically. 
secara sistematik.    

 6 
  Seluruh  rumah  tangga  terpilih  For  every  selected  household  in  the 
Susenas  2009  dicacah  dengan  2009 Susenas was interviewed using the 
kuesioner  kor  (Daftar  VSEN2009.K)  core  questioner  (VSEN2009.K)  and  the 
dan  kuesioner  modul  sosial  budaya  module of social, culture and education 
dan  pendidikan  ( D a f t a r  (VSEN2009.MSBP) on July 2009.  
VSEN2009.MSBP) pada Juli 2009.  
  
2.3   Jumlah Sampel Blok Sensus dan  2.3 The number of Census Blocks and 
Rumah Tangga  The Households 

Banyaknya  sampel  blok  sensus  dan  There were 146 census blocks and 2.336 


rumah  tangga  Susenas  2009  untuk  households in Papua Barat Province for 
Provinsi  Papua  Barat  sebanyak  146  the 2009 Susenas. The number of census 
blok  sensus  atau  2.336  rumah  tangga.  block samples were a minimum sample 
Jumlah  sampel  blok  sensus  untuk  size for estimation at regency level. The 
estimasi  kabupaten/kota  merupakan  allocation  for  urban  and  rural  samples 
minimum  sampel  untuk  estimasi  in  every  regency  were  proportional  to 
tingkat  kabupaten/kota.  Alokasi  the  number  of  all  households  in  urban 
menurut  daerah  perkotaan  dan  and  rural  areas.  So  that,  more 
perdesaan  di  setiap  kabupaten/kota  households had more samples. 
dilakukan  secara  proporsional 
 
terhadap  jumlah  populasi  rumah 
tangga  perkotaan  dan  perdesaan  di   
masing‐masing  kabupaten/kota. 
 
Sehingga daerah perkotaan/perdesaan 
yang  mempunyai  jumlah  rumah   
tangga  lebih  banyak  akan  memiliki 
 
jumlah  sampel  blok  sensus  yang  lebih 
banyak.    

2.4    Metode Pengumpulan Data  2.4 Data Collection Method 

Pengumpulan  data  di  setiap  rumah  The  data  collection  in  every  selected 
tangga  terpilih  dilakukan  melalui  household  were  conducted  by  direct 
wawancara  langsung  antara  pencacah  interview  between  a  interviewer  and 
dengan  responden.  Keterangan  respondent.  The  individual  data  was 
individu  dikumpulkan  melalui  gained  through  interviewed  directly. 
wawancara  dengan  individu  yang  While  the  household  data  was  gained 

 7 
bersangkutan,  sedangkan  keterangan  from interview with head of households, 
tentang  rumah  tangga  dikumpulkan  housewife,  or  another    household 
melalui  wawancara  dengan  kepala  member who knew the characteristic of 
rumah  tangga,  suami/istri  kepala  the household. 
rumah  tangga,  atau  anggota  rumah   
tangga  lain  yang  mengetahui   
karakteristik rumah tangga.   

2.5 Konsep dan Definisi  2.5 The Concept and The Definition 

Blok Sensus  Census Block 

Blok  sensus  adalah  bagian  dari  A  Census  Block  was  defined  as  a 
suatu  wilayah  desa/kelurahan  work  area  of  an  interviewer where 
yang merupakan daerah kerja dari  it was a part of a village. 
seorang Pencacah.    
Blok  sensus  biasa  (B)  adalah  An  ordinary  census  block (B) was 
blok  sensus  yang  muatannya  defined as census blocks containing 
antara  80  sampai  120  rumah  80  to  120  households  or  dwelling 
tangga  atau  bangunan  sensus  units,  or  non­dwelling  unit  census 
tempat  tinggal  atau  bangunan  buildings  or  a  combination  of  the 
sensus  bukan  tempat  tinggal  atau  two and were already saturated. 
gabungan  keduanya  dan  sudah 
jenuh.   
Blok  sensus  khusus  (K)  adalah   A  special  census  block  (K)  was 
blok  sensus  yang  mempunyai  defined as census blocks containing 
muatan  sekurang‐kurangnya  100  at least 100 persons, except in case 
orang,  kecuali  untuk  lembaga  of prison, for which no limit was set.  
pemasyarakatan  tidak  ada  batas  The  places  usually  designated  as 
muatan.  Tempat‐tempat  yang  bisa  special  census  blocks  were,  among 
dijadikan  blok  sensus  khusus  others:  military  barracks  and 
antara  lain:  asrama  militer  military dormitory, which entrance 
(tangsi)  dan  daerah  perumahan  is constantly guarded.  
militer dengan pintu keluar masuk 
yang dijaga.   
Blok sensus persiapan (P) adalah   A  prepared  census  block (P) was 
blok  sensus  yang  kosong.  Contoh:  defined as empty census blocks such 
Sawah,  kebun,  tegalan,  rawa,  as  rice  fields,  gardens,  meadows, 
 8 
hutan,  daerah  yang  dikosongkan  swamps, forest, emptied (removal of 
(digusur)  atau  bekas  permukiman  people)  area,  and  burned  down 
yang terbakar.  residential area. 

Rumah Tangga  Household 
Rumah tangga biasa adalah  Ordinary household was defined 
seorang atau sekelompok orang  as one or more persons living 
yang mendiami sebagian atau  together in a part or entire census 
seluruh bangunan fisik atau  or physical building, and usually 
sensus, dan biasanya tinggal  sharing the same pot.  
bersama serta makan dari satu 
dapur.    

Rumah tangga khusus adalah  Special household was defined to 
orang‐orang yang tinggal di  include those who lived in 
asrama, tangsi, panti asuhan,  dormitory, barracks, orphanage, 
lembaga permasyarakatan, rumah  prison, jail, and the group of ten or 
tahanan, dan kelompok orang yang  more who board with meal. 
mondok dengan makan (indekos)   
dan berjumlah 10 orang atau lebih.   

Rumah tangga khusus tidak  Special households were not 
dicakup dalam kegiatan  covered in Susenas.   
Susenas.   

Anggota rumah tangga (art)  Household member was defined to 
adalah semua orang yang biasanya  include all people who usually live 
bertempat tinggal di suatu rumah  in a household (head of the 
tangga (krt, suami/istri, anak,  household, husband / wife, son, 
menantu, cucu, orang tua/mertua,  daughter, grandchildren, parents / 
famili lain, pembantu rumah  in­laws, other relatives, domestic 
tangga atau art lainnya), baik yang  servants or other art), both located 
berada di rumah tangga responden  in the respondent household  or 
maupun sementara tidak ada pada  temporarily absent at the time of 
waktu pencacahan.  enumeration.  

Kepala rumah tangga (krt)  Household head (hhh) was defined 
adalah seseorang dari sekelompok  as one of the household member 
art yang bertanggung jawab atas  who was responsible for fulfilling 
kebutuhan sehari‐hari rumah  everyday’s needs of the  household 
tangga, atau orang yang dianggap/ or one who  was regarded or 
ditunjuk sebagai krt.  appointed as the head of the hhh. 

 9 
Status Perkawinan  Marital status 

Kawin adalah seseorang  Married was defined as locked in 
mempunyai istri (bagi laki‐laki)  marriage to a wife (for a man) or a 
atau suami (bagi perempuan)  husband (for a women) at 
pada saat pencacahan, baik  enumeration date, regardless of 
tinggal bersama maupun  whether they where living together 
terpisah. Dalam hal ini yang  or separately. In this case, included 
dicakup tidak saja mereka yang  not only those who where legally 
kawin sah secara hukum (adat,  married, state, etc.), but also those 
agama, negara dan sebagainya),  living together and considered as 
tetapi juga mereka yang hidup  husband and wife by the neighbors.  
bersama dan oleh masyarakat   
sekelilingnya dianggap sebagai   
suami‐istri.   

Cerai hidup adalah seseorang  Divorced was defined as separated 
yang telah berpisah sebagai  as husband /wife due to divorce and 
suami‐istri karena bercerai dan  not yet remarried. In this case, 
belum kawin lagi. Dalam hal ini  included those who confessed 
termasuk mereka yang mengaku  separation although legal 
cerai walaupun belum resmi  procedure were still to commence. 
secara hukum. Sebaliknya tidak  On the other hand, those who lived 
termasuk mereka yang hanya  separately but still in married 
hidup terpisah tetapi masih  status, e.g., husband or wife left by 
berstatus kawin, misalnya  his wife or her husband to seek 
suami/istri ditinggalkan oleh  education, work, income or other 
istri/suami ke tempat lain  things to other place. Women who 
karena sekolah, bekerja,  admitted that she was not yet 
mencari pekerjaan, atau untuk  married but had ever been pregnant 
keperluan lain. Wanita yang  was considered as divorced. 
mengaku belum pernah kawin   
tetapi pernah hamil, dianggap   
cerai hidup.   

Cerai mati adalah seseorang  Widowed was defined as men o 
ditinggal mati oleh suami atau  women whose wife or husband had 
istrinya dan belum kawin lagi.  died. 

   

 10 
Keluhan Kesehatan  Health complains 

Keluhan kesehatan adalah  Health complains was defined as 
gangguan terhadap kondisi fisik  physical or mental disturbances,  
maupun jiwa, termasuk karena  including those caused by accidents, 
kecelakaan, atah hal lain. Orang  or other causes. People who suffered 
yang menderita kronis dianggap  chronic diseases were considered to 
mempunyai keluhan kesehatan  have health complaint even though 
walaupun pada waktu survei  the disease did not resurface during 
(satu bulan terakhir) yang  the survey period (the last 30 days). 
bersangkutan tidak kambuh   
penyakitnya.   

Berobat jalan adalah  Outpatient care was defined as 
memeriksakan dan mengatasi  medical service rendered to 
gangguan keluhan kesehatan  overcome health disturbance by 
dengan perawatan di tempat‐ modern or traditional health centre  
tempat pelayanan kesehatan  having to stay in the health centre’s 
moderen atau tradisional tanpa  building for care, including 
menginap, termasuk perawatan  treatment at own home by inviting 
dengan mendatangkan petugas  medical personnel. 
medis ke rumah.   

Pendidikan  Education  

Tidak/belum pernah  No/some elementary school  was 
bersekolah adalah tidak atau  defined as didn’t go at all to or 
belum pernah bersekolah di  hasn’t been going any formal 
sekolah formal, misalnya tamat/ school, e.g.., didn’t continue to 
belum tamat taman kanak‐ elementary school after finishing 
kanak tetapi tidak melanjutkan  kindergarten or were going to but 
ke sekolah dasar.  hadn’t. 

Masih bersekolah sedang  Still going to school was defined as 
mengikuti mengikuti  attending any one of the formal 
pendidikan di suatu jenjang  school : elementary, secondary, 
pendidikan formal: pendidikan  university. 
dasar, menengah atau tinggi.   

Tidak bersekolah lagi adalah  Not longer going to school as was 
pernah sekolah tetapi pada saat  going to school, however, no longer 

 11 
pencacahan tidak lagi terdaftar  so at the time of enumeration. 
dan tidak lagi bersekolah. 
 

Fertilitas dan Keluarga Berencana  Fertility and family planning 

Anak kandung lahir hidup  Live birth was defined as showing signs 
adalah anak kandung yang pada  of life at the time of birth even tough 
waktu dilahirkan menunjukkan  only a moment such as heart pulsing, 
tanda‐tanda kehidupan,  breathing, and crying. A birth where 
walaupun mungkin hanya  none of these signs present was defined 
beberapa saat saja, seperti  as still birth. 
jantung berdenyut, bernafas, 
 
dan menangis.  
 
MOW (medis operasi wanita)/ Women sterilization or tubectomy 
tubektomi (sterilisasi wanita)  was defined as an operation performed 
adalah operasi yang dilakukan  on a women, i. e, tying up ovum channel 
pada wanita, yaitu mengikat  to prevent conception, with a purpose 
saluran telur untuk mencegah  so that the women can no longer bear a 
terjadinya kehamilan  child. An operation to remove the 
dimaksudkan agar wanita tidak  uterus for other reasons, i e. not to 
dapat mempunyai anak lagi.  prevent conception, was not defined as 
Operasi untuk mengambil rahim  sterilization. 
atau indung telur yang 
dilakukan karena alasan lain,   
bukan untuk mencegah wanita   
mempunyai anak lagi tidak 
 
termasuk sterilisasi.  
 
   

MOP (medis operasi pria)/ Man sterilization or vasectomy was 
vasektomi (sterilisasi pria)  defined as small operation performed 
adalah suatu operasi ringan  on man with a purpose to prevent 
yang dilakukan pria dengan  pregnancy happening to his spouse. 
maksud untuk mencegah   
terjadinya kehamilan pada 
 
pasangannya. 
 

Alat kontrasepsi dalam rahim  Intra uterus device (IUD) or spiral 
(AKDR)/spiral adalah alat yang  was defined as a  spiral shaped, T­shape 

 12 
dibuat  dari palstik halus/ or fan shaped small device of smooth 
tembaga berukuran kecil,  plastic or copper fit into the uterus to 
berbentuk spiral, T, kipas dan  prevent pregnancy.  
lainnya, dipasang di dalam 
 
rahim untuk mencegah 
terjadinya kehamilan   

Suntikan KB adalah salah satu  Family planning injection was defined 
cara pencegahan kehamilan  as a means of preventing pregnancy by 
dengan jalan menyuntikkan  injection a certain liquid into the body, 
cairan tertentu ke dalam tubuh  once in one, three or six months. 
secara periodik, misalnya satu, 
 
tiga atau enam bulan sekali.  
 
Susuk KB/norplan/implanon/ Family planning implant/Norplant/
alwalit (Alat Kontrasepsi  Imp anon was defined as sub­skin 
Bawah Kulit) adalah enam  contraception device, i.e., insertion of 
batang logam kecil yang  six metal pins under the upper arm skin 
dimasukkan ke bawah kulit  to prevent pregnancy.  
lengan atas untuk mencegah 
 
terjadinya kehamilan. 
 

Pil KB adalah pil yang diminum  Family planning pill was defined as a 
untuk mencegah terjadinya  certain pill taken to prevent pregnancy. 
kehamilan. Pil ini harus  The pill ought to be taken regularly 
diminum secara teratur setiap  daily.  
hari.  
 
Kondom/karet KB adalah alat  Condom or family planning rubber 
yang terbuat dari karet,  was defined as a device made of rubber , 
berbentuk seperti balon, yang  balloon shaped, wore by men during 
dipakai oleh krt/art laki‐laki  cupling for preventing pregnancy to his 
selama bersenggama dengan  wife or partner. 
maksud agar istrinya/ 
 
pasangannya tidak menjadi 
 
hamil.  
 
Intravag/tisue/kondom  Intravag tissue/women’s condom 
wanita adalah tisue KB yang  was defined as family planning tissue 
dimasukkan ke dalam vagina  inserted into women’s vagina before 
sebelum kumpul.   coupling. 

 13 
Cara tradisional  Traditional family planning  

Pantang berkala/sistim  Periodic abstinence/calendar  system 
kalender didasarkan pada  was defined as a method based on the 
pemikiran bahwa dengan tidak  thought that by not doing coitus on 
melakukan senggama pada hari‐ certain days, i .e, on monthly cycle of 
hari tertentu, yaitu pada masa  fertile days, a woman can avoid getting 
subur dalam siklus bulanan,  pregnant. This method was not the same 
seorang wanita dapat  as abstinence, i. e, not doing coitus for a 
menghindarkan terjadinya 
few. 
kehamilan.  
 
Senggama terputus adalah cara  Interrupted coitus was defined as a 
yang dilakukan oleh krt/art laki‐ method utilized by men to prevent the 
laki untuk mencegah masuknya  semen to reach the woman’s uterus, i.e., 
air mani ke dalam rahim wanita,  by drawing out his organ right before 
yaitu dengan menarik alat  climax. The reference period was 30 days 
kelaminnya sebelum terjadi 
before enumeration date. 
ejakulasi (klimaks). 
 
    

Cara tradisional lainnya  Other traditional method, e.g., 
misalnya menyusui dengan  abstinence, traditional concoction and 
sengaja untuk KB, tidak campur  massage. 
(puasa), jamu, dan urut. 
 
Perumahan  Housing 

Luas  lantai  adalah  luas  lantai  yang  Floor area was defined as the amount of 


ditempati  dan  digunakan  untuk  floor occupied for everyday’s need.  
keperluan sehari‐hari (sebatas atap).     

Leding adalah sumber air yang airnya  Pipe was defined as water source which 
telah  diproses  dalam  instalasi  water  has  been  processed  in  a 
penyaringan  sehingga  menjadi  jernih,  refinement installation to make it clear 
sebelum  dialirkan  kepada  konsumen  before  it  is  channeled  to  consumers 
melalui pipa saluran air.   through water pipe. 

Fasilitas Air Minum adalah instalasi  Drinking water fasility was defined as 
air minum yang dikelola oleh PAM/ drinking  water  installation  that 
PDAM atau non‐PAM/PDAM, termasuk  managed  by  PAM/PDAM  (state  water 
sumur dan pompa.   drinking  enterprise)    or  private  water 
 14 
  drinking  enterprise,  including  well  and 
  pomp.   
   

Teknologi dan Informasi  Technology and Information 
Telepon  adalah media yang  Telephone was defined as an 
menyalurkan percakapan jarak jauh  instrument which sent long distance 
melalui kawat dan listrik.  conversation through wire and 
  electricity. 
Komputer adalah mesin  Computer was defined as a fast 
penghitung elektronik yang cepat  electronic computing machine which 
dan dapat menerima informasi  could receive digital input information 
input digital, kemudian  and process it according to the set of 
memprosesnya sesuai dengan  instructions stored in its memory to 
program yang tersimpan di  produce information output.  
memorinya, dan menghasilkan 
output berupa informasi.   
Internet (Interconnected  Internet (interconnected network) 
Network) adalah sebuah sistim  was defined as a global 
komunikasi global yang  communication system that 
menghubungkan komputer‐ connected computers and computer 
komputer dan jaringan‐jaringan  networks around the word. 
komputer di seluruh dunia. 
 

 
 

 15 
BAB III  CHAPTER III 
KEPENDUDUKAN  DEMOGRAPHY 

D
Data  and  population  information 
ata  dan  informasi  are  still  be  needed.  In  development 
kependudukan  masih  planning,  population  information  such 
sangat  dibutuhkan.  Dalam  as size,  composition  and  distribution of 
perencanaan  pembangunan,  informasi  population  are  important  input  for  
kependudukan  seperti  jumlah  (size),  development  planning  right  on  target. 
komposisi  dan  distribusi  penduduk  The  population  is  object  and  actor  for 
merupakan  input  penting  agar  development. 
pembangunan  tepat  sasaran.   
Penduduk  selain  sebagai  objek  juga   
sebagai  subjek  (pelaku)   
pembangunan.   
Hingga pertengahan tahun 2009,  By  mid  2009,  Papua  Barat  Province  is 
Provinsi  Papua  Barat  diperkirakan  estimated  inhabited  by  743.860 
dihuni  oleh    743.860  jiwa.  Jumlah  population.  There  are  more  male 
penduduk  laki‐laki  sedikit  lebih  population  than  female  with  their 
banyak  daripada  penduduk  percentage  50,96  percents  and  49,04 
perempuan  dengan  persentase  50,96  percents.  Sex  ratio  consists  of  103,93 
berbanding  49,04  persen.  Rasio  jenis  male  to  100  females.  Unless  Kaimana 
kelamin 103,93 penduduk laki‐laki per  and  Sorong  Regency,  all  of  regency/
100,00  penduduk  perempuan.  Kecuali  municipality  in  Papua  Barat  Province 
Kabupaten  Kaimana  dan  Kabupaten 

 17 
Gambar/Picture 3.1.
Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Disajikan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Population Composition By Sex and Regency/Municipality in Papua Barat Province in 2009

Perempuan/Female 
Laki‐laki/ Male 

Sorong,  semua  kabupaten/kota  di  are  inhabited  by  more  males  than 
Papua  Barat  dihuni  oleh  lebih  banyak  females. (see Picture 3.1). 
laki‐laki  daripada  perempuan  (Lihat   
Gambar 3.1).   
Gambaran  ini  menunjukkan  These  figures  show  that  Papua 
bahwa  Papua  Barat  dan  Papua  pada  Barat  and  Papua  in  general  not  be  a 
umumnya  bukan  menjadi  daerah  regional destination for the community 
tujuan  migran  bagi  komunitas  of  migrant  women.  Very  long  distances 
perempuan.  Jarak  yang  sangat  jauh  (from  the  western  and  central  of 
(dari  wilayah  barat  dan  tengah  Indonesia) and transportation costs are 
Indonesia)  dan  biaya  transportasi  very expensive to be barriers factors for 
yang  sangat  mahal  menjadi  faktor  migrants  to  come  to  migrate  to  Papua 
penghambat  bagi  kaum  migran  untuk  Barat. According to the migration law , 
datang  bermigrasi  ke  Papua.  Menurut  women  tend  to  migrate  at  a  relatively 
hukum migrasi (The Law of Migration),  close distance.  
perempuan  cenderung  bermigrasi   
pada jarak yang relatif dekat.   

 18 
Dilihat  dari  struktur  umur  Viewed  from  the  age  structure  of 
penduduk,  Papua  Barat  masih  population,  the  population  of  Papua 
tergolong  penduduk  transisi  dari  Barat  is  in  transition  from  young  to  
penduduk  muda  menuju  penduduk  intermediate  population.  This  is  shown 
intermediet.  Hal  ini  ditunjukkan  by  percentage  of  population  aged  less 
dengan persentase penduduk berumur  than 15 years at least 35 percent (35.16 
kurang  dari  15  tahun  sedikitnya  35  percent)  but  the  median  age  of  the 
persen  (35,16  persen)  tetapi  median  population  is  between  20­29  years  (23 
umur penduduk berada di antara 20 –  years). Manokwari regency and Sorong 
29  tahun  (23  tahun).    Kabupaten  Municipality  are  two  areas  that  have 
Manokwari  dan  Kota  Sorong  entered an intermediate phase in which 
merupakan  dua  wilayah  yang  telah  the  percentage  of  resident  population 
memasuki  fase  penduduk  intermediet  aged  under  15  years  of  less  than  35 
di  mana  persentase  penduduk  percent.  
berumur  di  bawah  15  tahun  kurang 
 
dari 35 persen. 
 

Gambar/Picture 3.2
Struktur Umur Penduduk Papua Barat Tahun 2009
Age Structure of Papua Barat in 2009

Laki‐laki/  Perempuan/
Male  Female 

 19 
Komposisi  penduduk  menurut  The composition of the population 
status  perkawinan  menunjukkan  by marital status shows the percentage 
persentase  penduduk  yang  berstatus  of  population  who  have  the  status  of 
belum  kawin  pada  kelompok  laki‐laki  unmarried  in  the  group  of  men  larger 
lebih  besar  dibandingkan  perempuan.  than  females.  Table  3.3  shows  the 
Tabel  3.3  memperlihatkan  persentase  percentage of men and women who are 
penduduk  laki‐laki  dan  perempuan  unmarried  status  of  Papua  Barat  for 
yang  berstatus  belum  kawin  di  Papua  41.30  percent  and  34.72  percent.  This 
Barat  sebesar  41,30  persen  dan  34,72  fact indicates that the  group of women 
persen.  Fakta  ini  mengindikasikan  entered  the  ladder  earlier  than  men 
bahwa  kelompok  perempuan  lebih  marriage. 
awal  memasuki  jenjang  perkawinan 
 
daripada laki‐laki. 
 

Gambar/Picture 3.2
Penduduk Papua Barat Yang Belum Kawin Tahun 2009
Unmarried Population of Papua Barat in 2009

Provinsi Papua Barat
Kota Sorong
Kab. Raja Ampat
Kab. Sorong
Kab. Sorong Selatan
Kab. Manokwari
Kab. Teluk Bintuni
Kab. Teluk Wondama
Kab. Kaimana
Kab. Fakfak

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00

Perempuan/Female Laki‐laki/Male

 20 
Tabel 3.1 Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Jenis kelamin
Kabupaten/kota
Laki-laki Perempuan Total
Kab. Fakfak 51.41 48.59 100.00
Kab. Kaimana 46.73 53.27 100.00
Kab. Teluk Wondama 51.93 48.07 100.00
Kab. Teluk Bintuni 52.71 47.29 100.00
Kab. Manokwari 50.00 50.00 100.00
Kab. Sorong Selatan 51.78 48.22 100.00
Kab. Sorong 49.31 50.69 100.00
Kab. Raja Ampat 54.56 45.44 100.00
Kota Sorong 51.92 48.08 100.00
Provinsi Papua Barat 50.96 49.04 100.00
Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 21 
Tabel 3.2 Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Jenis kelamin
Laki-laki Perempuan Total
Kabupaten/Kota
Kelompok Umur Kelompok Umur Kelompok Umur
0 - 14 15 - 64 65+ Total 0 - 14 15 - 64 65+ Total 0 - 14 15 - 64 65+ Total

Kab. Fakfak 36.03 61.24 2.73 100.00 34.45 63.07 2.47 100.00 35.26 62.13 2.60 100.00
Kab. Kaimana 38.24 60.32 1.44 100.00 35.98 62.61 1.41 100.00 37.04 61.54 1.42 100.00

Kab. Teluk Wondama 41.16 56.81 2.03 100.00 42.50 55.36 2.14 100.00 41.80 56.11 2.08 100.00

Kab. Teluk Bintuni 36.43 62.27 1.30 100.00 42.22 56.71 1.07 100.00 39.17 59.64 1.19 100.00

Kab. Manokwari 33.72 64.23 2.06 100.00 32.63 65.35 2.03 100.00 33.17 64.79 2.04 100.00
Kab. Sorong Selatan 39.53 59.75 0.72 100.00 39.51 59.98 0.51 100.00 39.52 59.86 0.62 100.00

Kab. Sorong 32.30 64.64 3.06 100.00 38.64 59.10 2.26 100.00 35.52 61.83 2.65 100.00

Kab. Raja Ampat 39.53 57.83 2.64 100.00 32.94 65.97 1.09 100.00 36.54 61.53 1.94 100.00
Kota Sorong 29.99 68.59 1.42 100.00 34.98 63.49 1.54 100.00 32.39 66.14 1.48 100.00

Prov. Papua Barat 34.40 63.67 1.93 100.00 35.96 62.33 1.71 100.00 35.16 63.02 1.82 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 22 
Tabel 3.3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun atau Lebih Menurut Jenis Kelamin dan Status Perkawinan Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009

Jenis kelamin
Laki-laki Perempuan Total
Kabupaten/Kota Status perkawinan Status perkawinan Status perkawinan
Belum Cerai Cerai Belum Cerai Cerai Belum Cerai Cerai
Kawin Total Kawin Total Kawin Total
kawin hidup mati kawin hidup mati kawin hidup mati
Kab. Fakfak 42.56 53.70 0.00 3.74 100.00 36.02 53.80 3.80 6.38 100.00 39.38 53.75 1.85 5.02 100.00
Kab. Kaimana 42.96 53.08 0.62 3.34 100.00 33.54 58.68 0.83 6.94 100.00 37.94 56.06 0.73 5.26 100.00
Kab. Teluk Wondama 45.84 49.14 1.48 3.54 100.00 37.73 52.10 2.26 7.91 100.00 42.00 50.54 1.85 5.61 100.00
Kab. Teluk Bintuni 44.36 54.52 0.31 0.81 100.00 30.06 63.07 0.60 6.27 100.00 37.79 58.45 0.44 3.32 100.00
Kab. Manokwari 39.50 57.47 0.44 2.59 100.00 35.56 58.54 1.08 4.81 100.00 37.53 58.01 0.76 3.70 100.00
Kab. Sorong Selatan 41.70 55.74 0.00 2.56 100.00 35.10 58.21 0.68 6.01 100.00 38.55 56.92 0.32 4.21 100.00
Kab. Sorong 35.61 61.93 1.06 1.39 100.00 31.29 63.51 0.73 4.47 100.00 33.53 62.69 0.90 2.88 100.00
Kab. Raja Ampat 45.57 48.96 0.91 4.56 100.00 36.02 57.72 0.70 5.55 100.00 41.10 53.07 0.81 5.03 100.00
Kota Sorong 42.66 55.08 1.05 1.20 100.00 36.07 58.85 1.17 3.91 100.00 39.51 56.89 1.11 2.50 100.00
Prov. Papua Barat 41.30 55.80 0.65 2.25 100.00 34.72 58.88 1.25 5.16 100.00 38.10 57.30 0.94 3.66 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 23 
BAB IV  CHAPTER IV 
KESEHATAN  HEALTH 

Pelayanan  di  bidang  kesehatan  Services in the field of public health is a 


masyarakat  merupakan  hak  dan  right  and  a  fundamental  requirement 
kebutuhan yang mendasar yang harus  that  must  be  met  by  the  government. 
dipenuhi  oleh  pemerintah.  Development  in  this  field  aims  so  that 
Pembangunan  di  bidang  ini  bertujuan  people  can  easily  obtain  health  care 
agar  masyarakat  dapat  memperoleh  quality, and affordable for all residents, 
pelayanan  kesehatan  secara  mudah  so  the  expected  degree  of  public  health 
dan berkualitas serta terjangkau untuk  will increase. 
semua  penduduk,  sehingga   
diharapkan  derajat  kesehatan   
masyarakat akan semakin meningkat.    
Penyediaan  fasilitas  kesehatan  Provision  of  public  health 
umum  seperti  rumah  sakit,  facilities  such  as  hospitals,  health 
puskesmas,  puskesmas  pembantu,  centers,  sub  health  centers,  including 
termasuk  tenaga  kesehatan  baik  dari  health  personnel  both  in  terms  of  both 
segi  jumlah  maupun  kualitas  serta  quantity  and  quality  as  well  as  other 
pusat  pelayanan  lainnya  merupakan  service  centers  are  factors  that 
faktor  yang  sangat  menentukan  determine the success of development in 
keberhasilan  pembangunan  di  bidang  the field of health. 
kesehatan.    
 

 25 
Oleh  karena  kesehatan  adalah  Because of health is a vital matter 
hal  yang  sangat  vital  bagi  manusia,  for  human  beings,  improving  health 
peningkatan  jangkauan  pelayanan  care  coverage  should  be  more 
kesehatan  harus  semakin  diperbaiki.  improved.  One  indicator  of  success  of 
Salah  satu  indikator    keberhasilan  development in this field is the intensity 
pembangunan  di  bidang  ini  ialah    and  quantity  of  people  who  suffer 
intensitas  dan  kuantitas  masyarakat   health problems. 
yang menderita gangguan kesehatan.    
 Sebanyak  30,18  persen   A  total  of  30.18  percent  of  the 
penduduk  di  Papua  barat  mengalami  population  in  western  Papua 
gangguan  kesehatan.  Sebanyak  15,29  experiencing health problems. A total of 
persen  penduduk  di  provinsi  ini  15.29  percent  of  the  population  in  this 
menderita  batuk,  kemudian  gangguan  province suffering from cough, then the 
paling banyak selanjutnya adalah pilek  next  most  disorders  are  cold  and  hot 
dan  panas  (  masing‐masing  13,82  dan  (respectively 13.82 and 13.72 per cent). 
13,72 persen).  Batuk, pilek, dan panas  Coughs,  colds,  and  sometimes  heat 
terkadang  disebabkan  oleh  infeksi  caused  by  viral  infections,  dust,  or 
virus,  debu,  atau  kondisi  lingkungan  environmental  conditions  are 
yang tidak bersahabat. Oleh karena itu,  unfavorable.  Therefore,  the  addition  of 
penambahan  obat‐obatan  yang  medicines  needed  for  this  type  of 
dibutuhkan  untuk  jenis  gangguan  ini  disorder  will  certainly  be  more  helpful 
tentunya  akan  semakin  membantu  people  in  the  process  of  healing  and 
penduduk dalam proses penyembuhan  prevention of serious diseases. 
maupun  pencegahan  terhadap   
penyakit yang lebih serius.   
 Kabupaten  Teluk  Bintuni  paling  Teluk  Bintuni  District  in  terms  of 
tinggi dalam hal persentase penduduk  highest  percentage  of  residents  who 
yang  mengalami  gangguan  kesehatan  experienced  health  problems  (45.71 
(45,71  persen).    Kabupaten  Teluk  percent).  Teluk  Bintuni  District  as  a 
Bintuni sebagai kabupaten pemekaran  district  division  is  still  new,  still  have 
yang  masih  baru,  masih  mengalami  limited manpower  and  health  facilities. 

 26 
keterbatasan  tenaga  dan  sarana  Construction  of  health  facilities  in  the 
kesehatan.  Pembangunan  sarana  Teluk  Bintuni  continues  to  this  day. 
kesehatan  di  Teluk  Bintuni  masih  Public  hospitals  have  been  set  up  in 
terus berlanjut hingga saat ini.  Rumah  order  to  support  health  facilities  in  the 
sakit  umum    sudah  mulai  didirikan  district. 
demi  menunjang  sarana  kesehatan  di 
 
kabupaten ini.  
 Meanwhile,  if  observed  from  the 
 Sedangkan jika diamati dari sisi 
side  of  the  gender,  women  tend  to  be 
gender,  perempuan  cenderung  lebih  
more  prone  to  suffer  health  problems. 
rentan menderita gangguan kesehatan. 
As  many  as  31.15  percent  of  West 
Sebanyak  31,15  persen  perempuan 
Papuan  women  experience  health 
Papua  Barat  mengalami  gangguan 
problems,  while  men  slightly  smaller 
kesehatan,  sedangkan  laki‐laki  sedikit 
(29.24 percent). 
lebih kecil (29,24 persen). 
 

Semakin  sering  dan  semakin  The more frequent and the longer 


lama  seseorang  mengalami  sakit  a  person  experiences  pain  means  that 
berarti  bahwa  semakin  lemah  daya  the  weaker  the  body  resistance  to 
tahan  tubuhnya  terhadap  penyakit.   disease.  Based  on  pain  intensity,  the 
Berdasarkan  intensitas  sakit,  people  of  West  Papua's  most  ill  for  not 
penduduk  Papua  Barat  paling  banyak  more  than  3  days  (58.39  percent).  A 
menderita  sakit  selama  tidak  lebih  total of 43.82 percent of the population 
dari  3  hari  (58,39  persen).    Sebanyak   are ill choose to outpatient rather than 
43,82  persen  penduduk  yang  sakit  inpatient. And most people choose to go 
memilih untuk berobat jalan  daripada  at  health  centers  /  sub­health  centers 
rawat  inap.    Dan  sebagian  besar  (56.86  percent).  Still  there  are  some 
penduduk  memilih  berobat  di  people who take medication to Batra or 
puskesmas/puskesmas  pembantu  shaman  (0.5  percent).  The  most  widely 
(  56,86  persen).  Masih  terdapat  used  drug  to  treat  the  disease,  is 
sebagian  orang  yang  melakukan  modern medicine. 
pengobatan  ke  batra  atau  dukun  (0,5   
persen).  Obat  yang  paling  banyak 

 27 
digunakan  untuk  mengobati  penyakit,   
adalah obat‐obatan modern.    

Selain  hal  di  atas,    keberhasilan  In  addition  to  the  above,  success 
di bidang kesehatan juga dapat dilihat  in  the  health  sector  can  also  be  seen 
dari  menurunnya  angka  kematian  ibu  from  the  decline  in  maternal  mortality 
dan angka kematian balita.  Kesehatan  and child mortality. Maternal and child 
ibu  dan  anak  secara  umum  dapat  health  in  general  can  be  seen  from  the 
dilihat  dari  data  penolong  kelahiran.  data  of  birth  helper.  Helper  births 
Penolong  kelahiran  yang  dilakukan  performed  by  doctors  or  other  medical 
oleh dokter atau tenaga medis lainnya  personnel  deemed  better  than  shaman 
dianggap  lebih  baik  jika  dibandingkan  or  family.  Amounted  to  41.11  per  cent 
dengan  dukun  atau  famili.  Sebesar   of  infants  born  in  West  Papua  is 
41,11 persen kelahiran balita di Papua  assisted  by  a  midwife,  and  only  8.8 
Barat  dibantu  oleh  bidan,  dan  hanya  percent  who  use  the  services  of  first­
8,8  persen  yang  menggunakan  jasa  born  physician  as  helper.  The  role  of 
dokter  sebagai  penolong  pertama  shaman  in  West  Papua  in  this  case  is 
kelahiran.    Peran  dukun  di  Papua  still highly influential  (23.76 percent of 
Barat  dalam  hal  ini  masih  sangat  births assisted by a shaman). 
berpengaruh  (23,76  persen  kelahiran 
 
dibantu oleh dukun). 
 

Selain  memperhatikan  penolong  In  addition  to  considering  the 


kelahiran  anak,  ketercukupan  nutrisi  child's  birth  helper,  adequacy  of 
dan gizi anak juga harus diperhatikan.  nutrition and child nutrition should also 
Hal  ini  bertujuan  agar  anak  kuat  dan  be  considered.  It  is  intended  that  a 
cerdas. . ASI sebagai makanan pertama  strong and intelligent children. . Breast 
untuk  balita  menyediakan  asupan  gizi  milk  as  first  food  for  infants  provides 
yang  sempurna  dan  sesuai  kebutuhan  perfect  nutrition  and  toddler  needs. 
balita.    Sebagian  besar  anak  berusia  Most  children  aged  2­4  years  of  never 
2—4    tahun    pernah  disusui  selama  2  breast­fed  for  2  years  or  more  (43.66 
tahun atau lebih (43,66 persen).   percent). 

 28 
Tabel 4.1 Persentase Penduduk Yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Bulan Referensi Dirinci Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki
Asma/
Sakit
napas Diare/ Keluhan
Kabupaten/Kota Panas Batuk Pilek kepala Sakit gigi Lainnya
sesak/ buang air Kesehatan
berulang
cepat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Kaimana 5.50 11.79 4.99 0.73 2.34 2.73 0.27 0.80 17.13

Kab. Teluk Wondama 20.55 22.21 18.19 1.99 2.85 14.63 1.63 6.65 36.11

Kab. Teluk Bintuni 12.10 13.56 11.36 1.75 2.71 9.12 1.76 17.28 39.46

Kab. Manokwari 21.94 20.34 19.18 3.02 2.71 5.77 1.48 20.42 38.90

Kab. Sorong Selatan 11.90 18.24 13.35 0.00 1.14 1.17 3.05 5.20 27.63

Kab. Sorong 11.97 16.99 14.27 3.01 0.79 5.83 1.11 7.95 28.42

Kab. Raja Ampat 11.01 10.99 7.21 2.01 1.35 2.24 1.12 2.65 18.58

Kota Sorong 13.26 15.25 12.26 1.59 3.80 6.15 3.20 10.87 27.24

Provinsi Papua Barat 14.07 15.90 13.36 1.89 2.32 5.39 1.82 10.73 29.24

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 29 
Tabel 4.1 Persentase Penduduk Yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Bulan Referensi Dirinci Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Perempuan
Asma/
Sakit
napas Diare/ Keluhan
Kabupaten/Kota Panas Batuk Pilek kepala Sakit gigi Lainnya
sesak/ buang air Kesehatan
berulang
cepat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab. Fakfak 4.71 6.31 8.34 0.46 0.00 2.38 0.48 1.60 12.12
Kab. Kaimana 5.61 9.70 5.56 0.79 1.82 3.45 0.91 1.55 18.08
Kab. Teluk Wondama 25.96 27.51 23.70 2.15 2.48 20.08 0.19 6.70 41.79
Kab. Teluk Bintuni 12.40 10.95 11.33 0.90 1.90 10.25 1.48 31.55 52.67
Kab. Manokwari 22.59 23.38 23.65 2.39 0.62 4.84 2.18 24.31 42.89

Kab. Sorong Selatan 8.36 16.26 12.07 0.50 1.23 2.47 3.21 5.68 27.58

Kab. Sorong 11.46 15.22 16.98 1.49 1.74 6.25 1.24 7.48 28.97
Kab. Raja Ampat 8.22 8.77 5.76 1.09 0.55 2.73 0.28 2.47 14.25
Kota Sorong 11.88 9.96 9.93 1.27 2.66 5.49 1.51 13.22 28.02
Provinsi Papua Barat 13.37 14.67 14.30 1.40 1.46 5.43 1.54 13.27 31.15

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 30 
Tabel 4.1 Persentase Penduduk Yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Bulan Referensi Dirinci Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
Asma/
Sakit
napas Diare/ Keluhan
Kabupaten/Kota Panas Batuk Pilek kepala Sakit gigi Lainnya
sesak/ buang air Kesehatan
berulang
cepat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab. Fakfak 6.13 7.14 8.65 0.58 0.45 2.68 0.47 1.68 13.86

Kab. Kaimana 5.56 10.68 5.30 0.76 2.06 3.11 0.61 1.20 17.64

Kab. Teluk Wondama 23.15 24.76 20.84 2.07 2.67 17.25 0.94 6.67 38.84

Kab. Teluk Bintuni 12.24 12.32 11.35 1.35 2.33 9.65 1.63 24.03 45.71

Kab. Manokwari 22.26 21.86 21.42 2.70 1.66 5.31 1.83 22.37 40.89

Kab. Sorong Selatan 10.19 17.28 12.73 0.24 1.18 1.80 3.13 5.43 27.60

Kab. Sorong 11.71 16.09 15.64 2.24 1.27 6.05 1.18 7.71 28.70

Kab. Raja Ampat 9.74 9.98 6.55 1.59 0.98 2.46 0.74 2.56 16.61

Kota Sorong 12.59 12.71 11.14 1.44 3.25 5.84 2.39 12.00 27.62

Provinsi Papua Barat 13.72 15.29 13.82 1.65 1.89 5.41 1.68 11.98 30.18

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 31 
Tabel 4.2 Persentase Penduduk Yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Jumlah Hari Sakit dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki
Jumlah Hari Sakit
Kabupaten/Kota
<= 3 4-7 8 - 14 15 - 21 22 - 30 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 54.57 38.98 4.76 0.00 1.68 100.00


Kab. Kaimana 50.70 46.89 0.00 2.40 0.00 100.00
Kab. Teluk Wondama 26.50 55.92 13.15 2.99 1.45 100.00

Kab. Teluk Bintuni 67.01 27.63 2.28 3.08 0.00 100.00

Kab. Manokwari 55.77 37.26 3.27 2.54 1.15 100.00

Kab. Sorong Selatan 71.16 27.57 0.00 1.27 0.00 100.00

Kab. Sorong 66.89 21.46 8.24 0.00 3.41 100.00

Kab. Raja Ampat 66.03 31.16 2.80 0.00 0.00 100.00


Kota Sorong 49.64 44.35 3.21 1.40 1.39 100.00

Provinsi Papua Barat 56.78 36.47 3.84 1.68 1.23 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 32 
Tabel 4.2 Persentase Penduduk Yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Jumlah Hari Sakit dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Perempuan
Jumlah Hari Sakit
Kabupaten/Kota
<= 3 4-7 8 - 14 15 - 21 22 - 30 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 56.87 36.14 4.64 0.00 2.35 100.00


Kab. Kaimana 63.03 36.97 0.00 0.00 0.00 100.00
Kab. Teluk Wondama 37.21 53.95 6.72 1.39 0.73 100.00

Kab. Teluk Bintuni 74.00 16.85 6.35 2.80 0.00 100.00

Kab. Manokwari 58.43 33.95 4.34 1.64 1.64 100.00

Kab. Sorong Selatan 75.98 20.03 3.98 0.00 0.00 100.00

Kab. Sorong 63.87 27.45 5.78 0.00 2.90 100.00

Kab. Raja Ampat 48.82 43.92 4.85 2.40 0.00 100.00


Kota Sorong 54.38 36.37 5.93 1.32 2.00 100.00

Provinsi Papua Barat 60.10 32.28 4.91 1.25 1.47 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 33 
Tabel 4.2 Persentase Penduduk Yang Menderita Sakit Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Jumlah Hari Sakit dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
Jumlah Hari Sakit
Kabupaten/Kota
<= 3 4-7 8 - 14 15 - 21 22 - 30 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 55.45 37.90 4.71 0.00 1.94 100.00


Kab. Kaimana 57.39 41.51 0.00 1.10 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 31.84 54.94 9.94 2.19 1.09 100.00

Kab. Teluk Bintuni 70.77 21.83 4.47 2.93 0.00 100.00

Kab. Manokwari 57.17 35.52 3.83 2.07 1.41 100.00

Kab. Sorong Selatan 73.47 23.97 1.91 0.66 0.00 100.00

Kab. Sorong 65.32 24.58 6.96 0.00 3.14 100.00

Kab. Raja Ampat 59.65 35.89 3.56 0.89 0.00 100.00


Kota Sorong 51.57 41.09 4.32 1.37 1.64 100.00

Provinsi Papua Barat 58.39 34.44 4.36 1.47 1.35 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 34 
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan dan Mengobati Sendiri Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki Perempuan Total


Kabupaten/Kota
Berobat Jalan Mengobati Sendiri Berobat Jalan Mengobati Sendiri Berobat Jalan Mengobati Sendiri

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 46.63 91.46 40.01 94.72 43.82 92.85


Kab. Kaimana 11.96 63.38 5.85 65.99 8.62 64.81

Kab. Teluk Wondama 38.19 53.81 35.08 47.39 36.58 50.49

Kab. Teluk Bintuni 23.85 47.59 18.67 32.30 21.03 39.26

Kab. Manokwari 29.88 69.28 30.37 68.32 30.13 68.78

Kab. Sorong Selatan 14.47 74.65 16.08 71.38 15.25 73.07

Kab. Sorong 20.91 81.11 23.25 67.17 22.11 73.98

Kab. Raja Ampat 13.15 24.12 17.20 44.26 14.73 31.97


Kota Sorong 39.79 65.15 31.42 60.44 35.70 62.85

Provinsi Papua Barat 29.01 66.58 26.52 61.78 27.75 64.15

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 35 
Tabel 4.4 Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Tempat/Cara Berobat, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki

Rumah Rumah Praktek


Puskesmas/ Praktek Praktek Dukun
Kabupaten/Kota Sakit Sakit dokter/ Lainnya
pustu nakes batra bersalin
Pemerintah Swasta poliklinik

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab. Fakfak 21.14 0.00 15.58 53.69 9.66 6.33 0.00 0.00

Kab. Kaimana 4.01 0.00 16.04 83.96 0.00 0.00 0.00 0.00

Kab. Teluk Wondama 12.90 0.00 0.00 87.10 0.00 0.00 0.00 0.00

Kab. Teluk Bintuni 0.00 7.90 0.00 86.20 0.00 0.00 0.00 13.84

Kab. Manokwari 5.72 16.94 19.98 56.68 1.44 0.00 0.00 1.46

Kab. Sorong Selatan 17.37 0.00 5.95 76.69 0.00 0.00 0.00 0.00

Kab. Sorong 9.35 4.32 18.35 45.32 18.32 0.00 0.00 4.32

Kab. Raja Ampat 9.02 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Kota Sorong 8.59 4.71 43.69 41.43 10.58 0.00 0.00 0.78

Provinsi Papua Barat 8.52 7.91 22.91 56.85 6.08 0.50 0.00 2.29

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 36 
Tabel 4.4 Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Tempat/Cara Berobat, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Perempuan

Rumah Rumah Praktek


Puskesmas/ Praktek Praktek Dukun
Kabupaten/Kota Sakit Sakit dokter/ Lainnya
pustu nakes batra bersalin
Pemerintah Swasta poliklinik

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab. Fakfak 21.90 5.06 18.76 49.30 0.00 4.99 0.00 0.00

Kab. Kaimana 6.81 6.81 26.81 66.38 0.00 6.81 0.00 0.00

Kab. Teluk Wondama 9.03 0.00 0.00 93.63 0.00 0.00 0.00 1.36

Kab. Teluk Bintuni 4.59 12.58 2.10 89.12 2.10 2.10 2.10 6.29

Kab. Manokwari 9.86 8.62 30.36 49.84 0.00 0.00 0.00 1.98

Kab. Sorong Selatan 27.63 0.00 5.53 66.85 0.00 0.00 0.00 5.53

Kab. Sorong 3.71 0.00 18.53 62.96 14.79 0.00 0.00 0.00

Kab. Raja Ampat 11.01 11.23 0.00 88.77 0.00 0.00 0.00 0.00

Kota Sorong 12.37 5.10 36.70 42.76 3.07 0.00 0.00 2.05

Provinsi Papua Barat 10.70 6.11 24.23 56.87 2.59 0.50 0.18 2.12

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 37 
Tabel 4.4 Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Tempat/Cara Berobat, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan

Rumah Rumah Praktek


Puskesmas/ Praktek Praktek Dukun
Kabupaten/Kota Sakit Sakit dokter/ Lainnya
pustu nakes batra bersalin
Pemerintah Swasta poliklinik

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab. Fakfak 21.44 1.96 16.82 51.99 5.91 5.81 0.00 0.00

Kab. Kaimana 5.05 2.52 20.03 77.44 0.00 2.52 0.00 0.00

Kab. Teluk Wondama 10.98 0.00 0.00 90.34 0.00 0.00 0.00 0.67

Kab. Teluk Bintuni 2.22 10.16 1.01 87.61 1.01 1.01 1.01 10.18

Kab. Manokwari 7.91 12.54 25.46 53.06 0.68 0.00 0.00 1.73

Kab. Sorong Selatan 22.58 0.00 5.73 71.68 0.00 0.00 0.00 2.81

Kab. Sorong 6.32 2.00 18.45 54.82 16.42 0.00 0.00 2.00

Kab. Raja Ampat 9.93 5.12 0.00 94.88 0.00 0.00 0.00 0.00

Kota Sorong 10.21 4.88 40.69 42.00 7.35 0.00 0.00 1.33

Provinsi Papua Barat 9.57 7.04 23.55 56.86 4.39 0.50 0.09 2.20

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 38 
Tabel 4.5 Persentase Penduduk Yang Mengobati Sendiri Selama Bulan Referensi Dirinci Menurut Tempat/Cara Berobat, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki Perempuan Total


Kabupaten/Kota
Obat Obat Obat
Obat modern Lainnya Obat modern Lainnya Obat modern Lainnya
tradisional tradisional tradisional

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 48.67 95.20 3.23 45.62 97.92 0.00 47.34 96.38 1.83
Kab. Kaimana 80.80 40.61 2.17 74.52 42.96 2.38 77.31 41.92 2.29

Kab. Teluk Wondama 42.68 90.67 2.72 39.56 90.34 2.01 41.16 90.51 2.38

Kab. Teluk Bintuni 22.21 82.92 11.90 27.26 86.62 3.89 24.47 84.58 8.31

Kab. Manokwari 34.75 80.02 1.89 30.26 84.86 1.47 32.41 82.54 1.67
Kab. Sorong Selatan 82.04 78.39 50.08 76.30 80.08 43.76 79.34 79.18 47.11

Kab. Sorong 9.27 94.16 0.00 20.47 85.92 0.00 14.48 90.33 0.00

Kab. Raja Ampat 69.98 40.16 4.82 34.67 65.33 0.00 50.92 53.74 2.22
Kota Sorong 16.31 92.41 2.83 21.49 91.99 5.25 18.74 92.21 3.96

Provinsi Papua Barat 33.24 84.58 7.08 33.76 85.07 5.70 33.49 84.82 6.41

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 39 
Tabel 4.6A Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki
Penolong Kelahiran Pertama
Kabupaten/Kota Tenaga
Dokter Bidan Dukun Famili/keluarga Lainnya TT
paramedis lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Kab. Fakfak 4.73 61.97 0.00 29.76 3.54 0.00 0.00


Kab. Kaimana 6.63 35.76 22.28 21.60 13.73 0.00 0.00
Kab. Teluk Wondama 8.32 29.34 1.40 12.51 48.44 0.00 0.00
Kab. Teluk Bintuni 6.98 25.60 5.57 36.39 22.66 2.81 0.00

Kab. Manokwari 11.40 52.16 0.94 10.36 23.28 1.86 0.00

Kab. Sorong Selatan 3.22 29.02 14.52 32.27 20.97 0.00 0.00

Kab. Sorong 4.45 37.79 4.45 22.18 24.45 6.66 0.00

Kab. Raja Ampat 0.00 5.16 0.00 39.65 51.78 3.40 0.00
Kota Sorong 15.30 60.12 1.54 21.49 1.56 0.00 0.00

Provinsi Papua Barat 8.24 43.23 4.42 23.76 18.64 1.71 0.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 40 
Tabel 4.6A Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Perempuan
Penolong Kelahiran Pertama
Kabupaten/Kota Tenaga
Dokter Bidan Dukun Famili/keluarga Lainnya TT
paramedis lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Kab. Fakfak 9.84 59.32 0.00 30.83 0.00 0.00 0.00


Kab. Kaimana 5.59 31.19 14.85 31.63 16.74 0.00 0.00
Kab. Teluk Wondama 11.57 33.71 0.00 16.85 37.87 0.00 0.00
Kab. Teluk Bintuni 3.11 24.33 15.51 38.56 16.96 1.54 0.00

Kab. Manokwari 14.50 49.61 0.00 11.32 23.09 1.49 0.00

Kab. Sorong Selatan 0.00 19.22 24.98 36.58 19.22 0.00 0.00

Kab. Sorong 2.07 35.47 0.00 37.47 18.75 6.23 0.00

Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 0.00 40.09 59.91 0.00 0.00
Kota Sorong 18.18 46.25 1.85 27.41 5.39 0.91 0.00

Provinsi Papua Barat 9.38 38.88 4.90 27.40 17.86 1.58 0.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 41 
Tabel 4.6A Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki dan Perempuan


Penolong Kelahiran Pertama
Kabupaten/Kota Tenaga
Dokter Bidan Dukun Famili/keluarga Lainnya TT
paramedis lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Kab. Fakfak 7.07 60.76 0.00 30.25 1.92 0.00 0.00


Kab. Kaimana 6.10 33.41 18.46 26.75 15.28 0.00 0.00
Kab. Teluk Wondama 10.00 31.60 0.68 14.75 42.98 0.00 0.00
Kab. Teluk Bintuni 5.14 25.00 10.29 37.42 19.95 2.21 0.00

Kab. Manokwari 13.12 50.74 0.42 10.89 23.17 1.65 0.00

Kab. Sorong Selatan 1.75 24.55 19.29 34.23 20.17 0.00 0.00

Kab. Sorong 3.23 36.59 2.16 30.07 21.51 6.44 0.00

Kab. Raja Ampat 0.00 3.22 0.00 39.82 54.84 2.12 0.00
Kota Sorong 16.61 53.78 1.68 24.20 3.31 0.42 0.00

Provinsi Papua Barat 8.80 41.11 4.66 25.54 18.26 1.65 0.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 42 
Tabel 4.6B Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki
Penolong Kelahiran Pertama
Kabupaten/Kota Tenaga
Dokter Bidan Dukun Famili/keluarga Lainnya TT
paramedis lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Kab. Fakfak 17.12 65.35 0.00 17.53 0.00 0.00 0.00


Kab. Kaimana 8.59 35.80 24.23 21.60 9.78 0.00 0.00
Kab. Teluk Wondama 8.38 40.25 4.19 26.41 20.76 0.00 0.00
Kab. Teluk Bintuni 8.37 25.62 6.96 34.97 21.27 2.81 0.00

Kab. Manokwari 19.07 44.46 0.94 13.17 20.49 1.86 0.00

Kab. Sorong Selatan 1.61 33.86 16.13 30.66 17.74 0.00 0.00

Kab. Sorong 8.91 37.78 4.45 35.51 8.91 4.44 0.00

Kab. Raja Ampat 1.73 24.13 3.47 68.98 1.70 0.00 0.00
Kota Sorong 21.40 54.01 3.08 19.96 1.56 0.00 0.00

Provinsi Papua Barat 13.09 42.99 5.51 26.66 10.57 1.18 0.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 43 
Tabel 4.6B Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Perempuan
Penolong Kelahiran Pertama
Kabupaten/Kota Tenaga
Dokter Bidan Dukun Famili/keluarga Lainnya TT
paramedis lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Kab. Fakfak 18.02 69.60 2.10 10.28 0.00 0.00 0.00


Kab. Kaimana 5.59 34.93 16.70 31.63 11.15 0.00 0.00
Kab. Teluk Wondama 11.57 44.09 2.61 19.53 20.90 1.31 0.00
Kab. Teluk Bintuni 4.65 22.82 17.04 36.99 16.96 1.54 0.00

Kab. Manokwari 17.57 48.02 0.00 11.32 21.61 1.49 0.00

Kab. Sorong Selatan 0.00 23.09 26.93 30.77 19.22 0.00 0.00

Kab. Sorong 2.07 47.97 0.00 43.72 4.16 2.07 0.00

Kab. Raja Ampat 0.00 2.87 0.00 94.26 2.87 0.00 0.00
Kota Sorong 20.03 45.33 2.78 25.56 5.39 0.91 0.00

Provinsi Papua Barat 11.37 42.05 5.80 27.89 11.86 1.03 0.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 44 
Tabel 4.6B Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki dan Perempuan


Penolong Kelahiran Pertama
Kabupaten/Kota Tenaga
Dokter Bidan Dukun Famili/keluarga Lainnya TT
paramedis lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Kab. Fakfak 17.53 67.29 0.96 14.21 0.00 0.00 0.00


Kab. Kaimana 7.05 35.35 20.36 26.75 10.48 0.00 0.00
Kab. Teluk Wondama 10.03 42.24 3.38 22.85 20.83 0.68 0.00
Kab. Teluk Bintuni 6.60 24.29 11.75 35.93 19.22 2.21 0.00

Kab. Manokwari 18.23 46.44 0.42 12.14 21.11 1.65 0.00

Kab. Sorong Selatan 0.88 28.94 21.06 30.71 18.42 0.00 0.00

Kab. Sorong 5.38 43.04 2.16 39.75 6.46 3.22 0.00

Kab. Raja Ampat 1.08 16.13 2.16 78.49 2.14 0.00 0.00
Kota Sorong 20.77 50.04 2.94 22.52 3.31 0.42 0.00

Provinsi Papua Barat 12.25 42.53 5.65 27.26 11.20 1.11 0.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 45 
Tabel 4.7 Persentase Anak Usia 2 - 4 Tahun Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki
Lama Disusui (bulan)
Kabupaten/Kota
<= 5 6 - 11 12 - 17 18 - 23 >= 24 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 0.00 5.27 23.71 7.66 63.36 100.00


Kab. Kaimana 5.11 34.51 39.40 16.74 4.24 100.00
Kab. Teluk Wondama 4.68 6.90 28.06 39.53 20.82 100.00
Kab. Teluk Bintuni 0.00 20.95 20.10 13.04 45.90 100.00
Kab. Manokwari 0.00 0.00 11.78 23.96 64.25 100.00
Kab. Sorong Selatan 0.00 10.51 52.65 7.89 28.95 100.00
Kab. Sorong 9.07 9.07 27.26 9.11 45.48 100.00
Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 38.86 13.90 47.24 100.00
Kota Sorong 5.75 28.47 24.37 5.75 35.65 100.00

Provinsi Papua Barat 2.67 12.98 27.07 13.45 43.83 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 46 
Tabel 4.7 Persentase Anak Usia 2 - 4 Tahun Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009
Perempuan
Lama Disusui (bulan)
Kabupaten/Kota
<= 5 6 - 11 12 - 17 18 - 23 >= 24 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 0.00 10.66 31.61 3.55 54.18 100.00


Kab. Kaimana 1.19 20.67 43.72 20.67 13.75 100.00
Kab. Teluk Wondama 6.07 8.22 18.40 30.63 36.69 100.00
Kab. Teluk Bintuni 7.95 12.91 20.39 22.40 36.34 100.00
Kab. Manokwari 1.26 0.00 27.02 19.18 52.54 100.00
Kab. Sorong Selatan 0.00 0.00 25.82 12.93 61.25 100.00
Kab. Sorong 6.66 6.66 29.96 13.38 43.34 100.00
Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 43.94 32.05 24.02 100.00
Kota Sorong 8.13 24.15 16.27 14.35 37.10 100.00

Provinsi Papua Barat 3.85 9.07 26.64 16.95 43.48 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 47 
Tabel 4.7 Persentase Anak Usia 2 - 4 Tahun Yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
Lama Disusui (bulan)
Kabupaten/Kota
<= 5 6 - 11 12 - 17 18 - 23 >= 24 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 0.00 7.56 27.07 5.91 59.45 100.00


Kab. Kaimana 3.45 28.67 41.22 18.40 8.26 100.00
Kab. Teluk Wondama 5.42 7.60 22.92 34.79 29.27 100.00
Kab. Teluk Bintuni 3.99 16.92 20.25 17.74 41.11 100.00
Kab. Manokwari 0.68 0.00 19.97 21.39 57.96 100.00
Kab. Sorong Selatan 0.00 5.79 40.59 10.15 43.47 100.00
Kab. Sorong 7.68 7.68 28.82 11.57 44.25 100.00
Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 40.94 21.34 37.71 100.00
Kota Sorong 6.87 26.44 20.56 9.80 36.33 100.00

Provinsi Papua Barat 3.25 11.06 26.86 15.17 43.66 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 48 
Tabel 4.8 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Jenis Imunisasi, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat Tahun 2009
Laki-laki
Jenis Imunisasi
Kabupaten/Kota
BCG DPT POLIO CAMPAK HEPATITIS B
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab. Fakfak 98.23 100.00 96.65 91.34 93.11


Kab. Kaimana 97.36 94.73 94.73 88.86 88.18
Kab. Teluk Wondama 86.09 81.84 77.64 66.60 57.02
Kab. Teluk Bintuni 100.00 100.00 98.35 88.26 100.00
Kab. Manokwari 71.96 71.97 73.81 58.79 63.58
Kab. Sorong Selatan 93.56 90.31 91.94 83.87 88.72
Kab. Sorong 93.34 93.34 93.34 82.22 73.36
Kab. Raja Ampat 84.54 84.54 84.54 79.34 82.81
Kota Sorong 96.89 94.57 94.57 80.71 92.25

Provinsi Papua Barat 90.56 89.59 89.47 78.73 82.64

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 49 
Tabel 4.8 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Jenis Imunisasi, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat Tahun 2009
Perempuan
Jenis Imunisasi
Kabupaten/Kota
BCG DPT POLIO CAMPAK HEPATITIS B
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab. Fakfak 100.00 98.12 91.82 85.52 96.02


Kab. Kaimana 100.00 100.00 95.65 81.45 87.04
Kab. Teluk Wondama 84.39 80.47 84.39 70.09 68.78
Kab. Teluk Bintuni 98.43 95.38 98.46 89.23 90.71
Kab. Manokwari 68.01 67.91 71.74 59.67 56.66
Kab. Sorong Selatan 94.21 88.46 90.35 76.89 76.86
Kab. Sorong 91.68 89.59 87.50 81.25 77.10
Kab. Raja Ampat 77.20 74.32 74.32 71.51 74.32
Kota Sorong 89.07 89.07 89.99 81.67 89.99

Provinsi Papua Barat 86.47 84.89 85.47 75.80 77.56

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 50 
Tabel 4.8 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Jenis Imunisasi, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
Jenis Imunisasi
Kabupaten/Kota
BCG DPT POLIO CAMPAK HEPATITIS B
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab. Fakfak 99.04 99.14 94.44 88.68 94.44


Kab. Kaimana 98.72 97.44 95.20 85.05 87.60
Kab. Teluk Wondama 85.21 81.13 81.13 68.40 63.10
Kab. Teluk Bintuni 99.26 97.81 98.40 88.72 95.59
Kab. Manokwari 69.76 69.71 72.66 59.28 59.74
Kab. Sorong Selatan 93.86 89.46 91.22 80.68 83.31
Kab. Sorong 92.48 91.40 90.32 81.72 75.29
Kab. Raja Ampat 81.78 80.70 80.70 76.39 79.61
Kota Sorong 93.31 92.06 92.48 81.15 91.22

Provinsi Papua Barat 88.56 87.29 87.52 77.29 80.16

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 51 
Tabel 4.9 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi DPT, POLIO, dan HEATITIS B, Menurut Frekuensi Imunisasi, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki
DPT POLIO HEPATITIS B
Kabupaten/Kota
1 2 3+ 1 2 3+ 1 2 3+

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 15.56 1.77 82.67 18.33 9.15 72.52 20.93 3.80 75.27
Kab. Kaimana 35.55 8.30 56.15 28.59 6.96 64.45 44.17 10.51 45.32

Kab. Teluk Wondama 71.14 1.71 27.15 69.58 1.80 28.62 53.56 7.35 39.09

Kab. Teluk Bintuni 17.06 14.75 68.18 15.94 9.32 74.75 18.75 11.95 69.31

Kab. Manokwari 33.88 14.55 51.57 31.73 14.02 54.25 35.57 8.98 55.44

Kab. Sorong Selatan 17.84 5.35 76.81 8.79 17.52 73.69 23.63 1.82 74.55

Kab. Sorong 16.71 9.51 73.79 9.53 11.93 78.54 27.30 6.07 66.63

Kab. Raja Ampat 16.32 10.25 73.43 18.37 6.15 75.48 20.80 4.19 75.01
Kota Sorong 45.07 5.74 49.19 45.88 4.11 50.01 45.36 5.05 49.58

Provinsi Papua Barat 28.82 8.31 62.87 26.59 9.48 63.93 32.07 6.30 61.62

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 52 
Tabel 4.9 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi DPT, POLIO, dan HEATITIS B, Menurut Frekuensi Imunisasi, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Perempuan
DPT POLIO HEPATITIS B
Kabupaten/Kota
1 2 3+ 1 2 3+ 1 2 3+

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 19.26 4.28 76.47 18.32 6.86 74.82 13.12 6.56 80.32
Kab. Kaimana 42.78 6.20 51.03 36.31 7.74 55.95 38.51 4.30 57.19

Kab. Teluk Wondama 61.28 0.00 38.72 60.06 0.00 39.94 49.10 3.80 47.11

Kab. Teluk Bintuni 16.50 18.45 65.05 19.11 12.89 68.00 14.24 15.65 70.10

Kab. Manokwari 39.81 3.28 56.91 41.94 9.49 48.57 38.54 2.61 58.85

Kab. Sorong Selatan 19.59 4.34 76.07 17.03 6.37 76.60 14.98 7.49 77.52

Kab. Sorong 9.33 9.27 81.40 4.78 11.86 83.36 13.53 5.40 81.08

Kab. Raja Ampat 26.82 11.52 61.67 34.55 7.65 57.80 34.55 3.86 61.59
Kota Sorong 19.56 14.37 66.07 18.34 18.14 63.52 25.35 14.22 60.43

Provinsi Papua Barat 25.20 8.52 66.28 24.65 10.82 64.52 24.73 8.03 67.24

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 53 
Tabel 4.9 Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi DPT, POLIO, dan HEATITIS B, Menurut Frekuensi Imunisasi, Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
DPT POLIO HEPATITIS B
Kabupaten/Kota
1 2 3+ 1 2 3+ 1 2 3+

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 17.23 2.91 79.86 18.33 8.13 73.54 17.30 5.08 77.62
Kab. Kaimana 39.36 7.19 53.45 32.57 7.36 60.07 41.28 7.34 51.38

Kab. Teluk Wondama 66.09 0.83 33.08 64.46 0.83 34.71 51.04 5.35 43.61

Kab. Teluk Bintuni 16.80 16.46 66.73 17.44 11.01 71.54 16.72 13.62 69.67

Kab. Manokwari 37.09 8.45 54.46 37.34 11.53 51.13 37.14 5.62 57.24

Kab. Sorong Selatan 18.63 4.90 76.48 12.51 12.48 75.01 19.99 4.21 75.80

Kab. Sorong 12.97 9.39 77.64 7.15 11.90 80.95 20.02 5.72 74.26

Kab. Raja Ampat 19.96 10.69 69.35 23.98 6.67 69.35 25.63 4.07 70.30
Kota Sorong 33.79 9.55 56.65 33.64 10.34 56.02 36.34 9.19 54.47

Provinsi Papua Barat 27.10 8.41 64.49 25.66 10.12 64.22 28.60 7.12 64.28

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 54 
BAB V  CHAPTER V 
PENDIDIKAN  EDUCATION 

Menjadi  bangsa  yang  maju  tentu  To become a developed nation would be 


menjadi  cita‐cita  yang  ingin  dicapai  ideal  of  a  nation  .  To  be  achieved  One 
oleh  setiap  negara.    Salah  satu  faktor  factor  that  drives  the  progress  of  the 
yang  mendorong  kemajuan  bangsa  nation  is  education.  Once  the 
adalah  pendidikan.  Begitu  pentingnya  importance  of  education,  to  measure 
pendidikan,  hingga  tolak  ukur  the  progress  of  a  nation  can  be 
kemajuan  suatu  bangsa  dapat  diukur  measured  by  progress  in  education. 
dari kemajuan di bidang pendidikan.    

Pembangunan  pendidikan  di  Development  of  education  in  Indonesia 


Indonesia  dititikberatkan  pada  focused  on  improving  and  expanding 
peningkatan  pelayanan  pendidikan  the  reach  of  educational  services.  In  a 
dan  perluasan  jangkauan  pelayanan  simple  indicator  of  the  success  of 
pendidikan.  Secara  sederhana  development  in  this  field  seen  by  the 
indikator  keberhasilan  pembangunan  number of illiterate population and the 
di  bidang  ini  dilihat  dari    banyaknya  level  of  school  participation.  The 
penduduk yang buta huruf dan  tingkat  Government  is  committed  to  eradicate 
partisipasi  sekolah.  Pemerintah  illiteracy  in  Indonesia.  In  West  Papua, 
memiliki  komitmen  untuk  membasmi  as  much  as  23.02  percent  of  the 
buta  huruf  di  Indonesia.  Di  Papua  population  aged  10  years  and  over  are 
Barat,  sebanyak  23,02  persen  illiterate.  There  is  still  illiterate 
penduduk usia 10 tahun ke atas masih  population  would  require  local 
buta  huruf.  Masih  adanya  penduduk  governments  to  promote  literacy 

 55 
yang  buta  huruf  tentunya  menuntut  programs.  Eradication  of  illiteracy  can 
pemerintah  setempat  untuk  be done by increasing the participation 
menggalakkan  program  of the population either through formal 
pemberantasan  buta  huruf.  or informal education. 
Pemberantasan  buta  huruf  dapat   
dilakukan  dengan  cara  meningkatkan 
 
partisipasi  penduduk  baik  melalui 
pendidikan formal maupun informal.   

Indikator  selanjutnya  adalah  The next indicator is the level of school 

tingkat  partisipasi  sekolah.  Semakin  participation.  The  higher  the  level  of 

tinggi tingkat partisipasi sekolah maka  school participation, it can be said that 

dapat  dikatakan  bahwa  jangkauan  the  increasingly  wide  range  of 

pelayanan  pendidikan  semakin  luas.  educational  services.  Amounted  to 

Sebesar  28,81  persen  penduduk  usia  28.81 percent of the population aged 10 

10 tahun ke atas di Papua Barat  masih  years  and  over  in  West  Papua  are  still 

sekolah,    sedangkan    6,98  persennya  in  school,  while  6.98  percent  did  not  / 

tidak/belum pernah bersekolah.    have never been to school. 

Partisipasi sekolah laki‐laki lebih  School  participation  of  men  is  higher 

tinggi dari pada perempuan. Tabel 5.1  than  women.  Table  5.1  shows  that  the 

menunjukkan  bahwa  persentase  laki‐ percentage  of  men  aged  10  years  and 

laki  usia  10  tahun  ke  atas  yang  masih  over  who  are  still  in  school  at  29.54 

sekolah  sebesar  29,54  persen,  artinya  percent,  meaning  is  that  of  100  men 

adalah  bahwa  dari 100  orang  laki‐laki  aged  10 years there were 29­30 people 

usia  10  tahun  terdapat  29‐30  orang  who  are  still  in  school.  While  the 

yang  masih  sekolah.  Sedangkan  percentage  of  women  aged  10  years 

persentase  perempuan  usia  10  tahun  and over who are still in school is 28.04 

ke  atas  yang  masih  sekolah  adalah  percent.  

28,04 persen.   

Keberadaan  penduduk  usia  10  The  existence  of  population  aged  10 
tahun  ke  atas  yang  tidak/belum  years  and  over  who  did  not/  never 
pernah  sekolah  menunjukkan  bahwa 
 56 
jangkauan  pelayanan  pendidikan  school  shown  that  the  reach  of  
masih  perlu  peningkatan,  sehingga  education  services  are  still  need  to 
semua  orang  mendapatkan  increasing, so that all people get decent 
pendidikan yang layak.  education. 

Untuk  mengukur  jangkauan  To  measure  the  coverage  of 


layanan  pendidikan  dapat  dilihat  dari  education services can be seen from the 
daya  serap  sistem  pendidikan  absorption of the educational system of 
terhadap  penduduk  usia  sekolah  atau  the school age population or referred by 
biasa disebut dengan angka partisipasi  school  enrollment.  Enrollment  rates 
sekolah.  Angka  partisipasi  sekolah  indicate how many people who already 
menunjukkan  seberapa  banyak  take  advantage  of  existing  educational 
penduduk  yang  sudah  memanfaatkan  facilities. 
fasilitas pendidikan yang ada.    

  94,37 93,35
 
100 92,34
88,77 88,37 88,59
90
 
80
70 61,79
5 7,95  
60 53,5
50
 
40
30  
20
10  
0
L P L+P  

7 —12 13—15 16—18  

Meningkatnya  APS  menunjuk‐ Increasing  the  APS  showed  the  success 


kan  adanya  keberhasilan  of  development  in  education.  APS  of 
pembangunan  di  bidang  pendidikan.  West  Papuan  population  aged  7­12 
APS penduduk Papua Barat usia 7—12  years  worth  of  93.35  percent,  meaning 
tahun  bernilai  sebesar  93,35  persen,  that out of 100 people aged 7­12 years, 
artinya adalah dari 100 penduduk usia  93  of  which  are  still  in  school.  APS 
7—12  tahun,  93  diantaranya  yang  elementary  and  junior  high  Sorong  is 
masih  sekolah.    APS  SD  dan  SMP  Kota  highest  among  the  other  districts, 
 57 
Sorong  paling  tinggi  diantara  namely  respectively  98.26  and  96.81 
kabupaten  lainnya,  yakni  masing‐ per cent. 
masing 98,26  dan  96,81  persen  (Lihat 
Tabel  ).    
 
Semakin tinggi jenjang usia, nilai  The  higher  levels  of  age,  APS 
APS  cenderung  semakin  menurun,  values  tend  to  decline,  given  the 
mengingat  semakin  berkurangnya  reduction  in  the  composition  of  the 
komposisi  penduduk  yang  population  who  participate  in 
berpartisipasi  dalam  pendidikan.   APS  education.  APS  men  at  all  levels  of  age 
laki‐laki  di  seluruh  jenjang  usia  have  a  higher  value than  in  women.  As 
mempunyai nilai yang lebih tinggi dari  a citizen of men and women have equal 
pada  perempuan.  Sebagai  warga  opportunity  to  obtain  education. 
negara  laki‐laki  dan  perempuan  Therefore,  gender  disparities  in 
memiliki  kesempatan  yang  sama  education  are  expected  to  be  changed 
untuk  memperoleh  pendidikan.  Oleh  in a way to give the widest opportunity 
karena  itu,  disparitas  gender  dalam  for  women  to  obtain  a  decent 
pendidikan diharapkan mampu diubah  education. 
dengan  cara  memberikan  kesempatan 
 
yang  seluas‐luasnya  kepada 
 
perempuan  untuk  memperolah 
pendidikan yang layak.   

Indikator  selanjutnya  yang  The  next  indicator  used  to 


digunakan  untuk  mengukur   measure  the  achievement  of 
pencapaian  pembangunan  di  bidang  development in the field of education is 
pendidikan  ialah  tingkat  pendidikan.  the  level  of  education.  The  level  of 
Tingkat  pendidikan  secara  umum  education  in  general  can  be  seen  from 
dapat  dilihat  dari  ijazah  terakhir  yang  the  last  diploma  had.  Amounted  to 
dimiliki.  Sebesar  33,62  persen  33.62 percent of the population aged 10 
penduduk  usia 10 tahun ke atas tidak  years  and  over  have  no  diploma. 
mempunyai ijazah.     

   
 58 
Tabel 5.1 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Status Pendidikan, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009
Laki-laki
Tidak/ Masih Sekolah Jumlah Tidak
Belum
Kabupaten/Kota yang Masih BErsekolah Jumlah
Pernah SMA/MA/ Diploma/
SD/MI SMP/MTs Sekolah Lagi
Sekolah SMK Universitas
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab. Fakfak 6.96 17.07 4.21 4.27 1.50 27.05 65.99 100.00

Kab. Kaimana 8.02 21.09 3.79 3.89 0.00 28.77 63.21 100.00

Kab. Teluk Wondama 7.54 27.85 4.01 2.41 0.40 34.68 57.78 100.00

Kab. Teluk Bintuni 9.34 18.94 6.51 2.56 0.25 28.26 62.39 100.00

Kab. Manokwari 8.87 19.49 6.89 7.10 2.09 35.58 55.56 100.00

Kab. Sorong Selatan 8.33 23.68 1.60 2.93 0.53 28.74 62.93 100.00

Kab. Sorong 6.86 17.96 2.03 3.48 0.87 24.34 68.80 100.00

Kab. Raja Ampat 7.04 22.93 3.69 7.63 0.00 34.25 58.71 100.00

Kota Sorong 3.63 14.88 5.09 4.98 1.31 26.27 70.11 100.00

Provinsi Papua Barat 6.98 18.83 4.68 4.89 1.14 29.54 63.48 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 59 
Tabel 5.1 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Status Pendidikan, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009
Perempuan
Tidak/ Masih Sekolah Jumlah Tidak
Belum
Kabupaten/Kota yang Masih BErsekolah Jumlah
Pernah SMA/MA/ Diploma/
SD/MI SMP/MTs Sekolah Lagi
Sekolah SMK Universitas
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab. Fakfak 8.60 17.96 5.14 5.09 1.57 29.75 61.65 100.00

Kab. Kaimana 8.34 21.00 2.21 3.78 0.08 27.06 64.59 100.00

Kab. Teluk Wondama 12.10 26.02 4.24 2.23 0.00 32.48 55.42 100.00

Kab. Teluk Bintuni 18.15 23.37 4.57 0.70 0.53 29.16 52.69 100.00

Kab. Manokwari 17.55 15.79 3.67 4.90 3.62 27.98 54.47 100.00

Kab. Sorong Selatan 10.69 20.25 4.50 1.69 0.56 27.00 62.31 100.00

Kab. Sorong 16.26 20.10 3.41 3.39 0.28 27.19 56.55 100.00

Kab. Raja Ampat 10.31 18.23 4.23 6.08 0.30 28.84 60.85 100.00

Kota Sorong 5.05 17.78 5.52 2.00 2.18 27.48 67.47 100.00

Provinsi Papua Barat 12.02 18.70 4.28 3.39 1.67 28.04 59.94 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 60 
Tabel 5.1 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Status Pendidikan, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
Tidak/ Masih Sekolah Jumlah Tidak
Belum
Kabupaten/Kota yang Masih BErsekolah Jumlah
Pernah SMA/MA/ Diploma/
SD/MI SMP/MTs Sekolah Lagi
Sekolah SMK Universitas
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab. Fakfak 7.76 17.50 4.67 4.67 1.53 28.37 63.86 100.00

Kab. Kaimana 8.19 21.04 2.94 3.83 0.04 27.86 63.95 100.00

Kab. Teluk Wondama 9.71 26.98 4.12 2.32 0.21 33.64 56.66 100.00

Kab. Teluk Bintuni 13.50 21.03 5.59 1.68 0.38 28.69 57.81 100.00

Kab. Manokwari 13.15 17.67 5.30 6.02 2.84 31.83 55.02 100.00

Kab. Sorong Selatan 9.48 22.01 3.01 2.32 0.55 27.89 62.63 100.00

Kab. Sorong 11.62 19.05 2.72 3.44 0.57 25.78 62.60 100.00

Kab. Raja Ampat 8.56 20.74 3.94 6.91 0.14 31.74 59.70 100.00

Kota Sorong 4.31 16.28 5.30 3.54 1.73 26.85 68.83 100.00

Provinsi Papua Barat 9.45 18.77 4.48 4.16 1.40 28.81 61.74 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 61 
Tabel 5.2 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kabupaten Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

7—12 13—15 16—18


Kab/Kota
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 89.18 98.18 93.65 86.24 89.98 87.97 35.44 68.27 53.02

Kab. Kaimana 100.00 94.36 97.20 78.72 85.35 82.31 33.44 43.9 39.03

Kab. Teluk Wondama 90.28 87.51 89.07 93.23 89.99 91.35 60.84 64.24 62.31

Kab. Teluk Bintuni 97.23 95.18 96.12 80.96 81.4 81.18 71.49 26.9 56.94

Kab. Manokwari 94.42 87.26 91.24 94.46 84.59 89.79 89.73 66.49 79.15

Kab. Sorong Selatan 90.4 91.19 90.78 64.02 79.94 71.09 46.41 37.08 41.83

Kab. Sorong 93.48 85.72 88.79 84.61 88.88 86.36 47.36 59.02 53.62

Kab. Raja Ampat 94.90 93.64 94.34 94.77 95.8 95.17 63.29 59.94 61.76

Kota Sorong 97.03 99.35 98.26 97.19 96.31 96.81 52.52 36.58 45.93

Provinsi Papua Barat 94.37 92.34 93.35 88.77 88.37 88.59 61.79 53.50 57.95

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 62 
Tabel 5.3 Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kabupaten Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

SD SMP SMA
Kab/Kota
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 89.18 94.74 91.94 46.82 47.68 47.22 31.75 54.68 44.03
Kab. Kaimana 99.03 94.36 96.71 40.06 23.39 31.05 25.77 40.55 33.67
Kab. Teluk Wondama 88.50 87.51 88.07 13.86 25.03 20.35 30.42 32.12 31.16
Kab. Teluk Bintuni 95.85 93.79 94.73 54.85 44.14 49.33 36.73 12.53 28.83
Kab. Manokwari 91.56 84.45 88.40 68.02 40.85 55.16 71.01 39.68 56.74
Kab. Sorong Selatan 90.40 91.19 90.78 8.04 39.97 22.22 35.7 18.54 27.27
Kab. Sorong 93.48 85.72 88.79 26.9 50.02 36.37 47.36 40.83 43.86
Kab. Raja Ampat 94.90 91.51 93.40 36.85 33.2 35.44 60.00 43.99 52.70
Kota Sorong 94.79 91.61 93.10 90.91 79.77 73.85 51.15 21.34 38.82

Provinsi Papua Barat 92.94 89.59 91.25 49.55 48.41 49.03 50.96 34.96 43.55

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 63 
Tabel 5.4 Angka Partisipasi Kasar Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kabupaten Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

SD SMP SMA
Kab/Kota
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kab. Fakfak 118.60 121.49 120.04 46.82 63.69 54.63 67.93 67.39 67.64
Kab. Kaimana 109.32 126.92 118.07 60.04 34.25 46.11 55.55 54.14 54.80
Kab. Teluk Wondama 123.09 133.06 127.47 68.98 47.56 56.54 36.54 40.15 38.10
Kab. Teluk Bintuni 120.46 112.97 116.41 96.77 57.38 76.48 37.92 19.04 31.76
Kab. Manokwari 114.25 113.04 113.71 100.09 57.75 80.05 86.37 69.49 78.68
Kab. Sorong Selatan 121.92 105.90 114.19 24.00 80.01 48.88 39.27 22.24 30.90
Kab. Sorong 134.82 101.43 114.67 26.90 66.65 43.18 63.15 54.46 58.49
Kab. Raja Ampat 147.35 127.60 138.59 36.85 58.32 45.14 96.84 79.89 89.12
Kota Sorong 118.37 116.11 117.17 76.35 101.57 87.26 72.80 38.85 58.76

Provinsi Papua Barat 121.00 114.05 117.50 64.97 67.86 66.29 69.34 53.60 62.04

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 64 
Tabel 5.5 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun atau Lebih Menurut Ijazah Tertinggi Yang Dimiliki, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki
Ijazah/STTB tertinggi yang Dimiliki

Kab/Kota Tidak Diploma IV/


Akademi/
Mempunyai SD/MI SLTP/MTs SMU/SMA SM Kejuruan Diploma I/II Universitas/ Jumlha
Diploma III
Ijazah S2/S3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab. Fakfak 26.82 25.71 16.59 19.51 4.67 1.11 0.49 5.11 100.00

Kab. Kaimana 34.46 39.56 16.97 5.09 1.38 0.80 0.43 1.31 100.00

Kab. Teluk Wondama 46.80 26.34 11.23 9.54 4.30 0.68 0.23 0.89 100.00

Kab. Teluk Bintuni 34.08 27.56 18.56 14.15 1.80 1.23 0.28 2.34 100.00

Kab. Manokwari 28.10 18.87 16.53 18.39 5.74 1.39 1.39 9.58 100.00

Kab. Sorong Selatan 39.39 29.67 19.57 8.07 1.22 0.00 0.00 2.09 100.00

Kab. Sorong 42.84 21.19 15.82 10.79 5.00 0.67 1.01 2.67 100.00

Kab. Raja Ampat 35.36 24.55 24.14 12.67 1.09 0.27 0.54 1.37 100.00

Kota Sorong 25.45 16.57 17.27 17.80 14.57 0.40 1.64 6.30 100.00

Provinsi Papua Barat 31.96 22.40 17.33 14.89 6.52 0.78 0.99 5.13 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 65 
Tabel 5.5 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun atau Lebih Menurut Ijazah Tertinggi Yang Dimiliki, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Perempuan
Ijazah/STTB tertinggi yang Dimiliki

Kab/Kota Tidak Diploma IV/


Akademi/
Mempunyai SD/MI SLTP/MTs SMU/SMA SM Kejuruan Diploma I/II Universitas/ L+P
Diploma III
Ijazah S2/S3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab. Fakfak 29.06 26.63 19.99 15.38 4.21 1.67 1.12 1.94 100.00

Kab. Kaimana 36.00 40.85 15.60 5.34 1.25 0.63 0.25 0.09 100.00

Kab. Teluk Wondama 50.92 30.00 10.13 5.37 2.54 0.50 0.54 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 40.95 36.01 10.67 7.96 1.32 0.46 1.45 1.17 100.00

Kab. Manokwari 27.79 20.62 15.37 17.98 4.14 1.10 3.13 9.88 100.00

Kab. Sorong Selatan 44.81 36.61 14.48 2.52 0.31 0.00 0.31 0.94 100.00

Kab. Sorong 52.57 18.62 17.27 6.77 1.72 0.68 1.36 1.01 100.00

Kab. Raja Ampat 31.80 36.80 19.94 9.46 1.01 0.33 0.00 0.67 100.00

Kota Sorong 30.05 17.67 17.55 18.11 7.71 0.53 3.56 4.82 100.00

Provinsi Papua Barat 35.44 25.00 16.32 12.69 3.81 0.73 2.04 3.96 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 66 
Tabel 5.5 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun atau Lebih Menurut Ijazah Tertinggi Yang Dimiliki, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Laki-laki dan Perempuan
Ijazah/STTB tertinggi yang Dimiliki

Kab/Kota Tidak Diploma IV/


Akademi/
Mempunyai SD/MI SLTP/MTs SMU/SMA SM Kejuruan Diploma I/II Universitas/ L+P
Diploma III
Ijazah S2/S3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab. Fakfak 27.91 26.16 18.24 17.51 4.45 1.38 0.80 3.57 100.00

Kab. Kaimana 35.28 40.25 16.24 5.22 1.31 0.71 0.33 0.66 100.00

Kab. Teluk Wondama 48.70 28.03 10.72 7.61 3.48 0.59 0.37 0.48 100.00

Kab. Teluk Bintuni 37.15 31.34 15.03 11.38 1.59 0.89 0.81 1.82 100.00

Kab. Manokwari 27.96 19.69 15.99 18.19 4.99 1.26 2.20 9.72 100.00

Kab. Sorong Selatan 41.99 33.00 17.13 5.41 0.78 0.00 0.15 1.54 100.00

Kab. Sorong 47.50 19.96 16.52 8.87 3.43 0.68 1.18 1.88 100.00

Kab. Raja Ampat 33.74 30.13 22.23 11.20 1.05 0.30 0.29 1.05 100.00

Kota Sorong 27.66 17.10 17.40 17.95 11.28 0.46 2.56 5.59 100.00

Provinsi Papua Barat 33.62 23.64 16.85 13.85 5.23 0.76 1.49 4.57 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 67 
Tabel 5.6 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Menurut Kepandaian Membaca dan Menulis Huruf, Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Laki-laki Perempuan Laki-laki dan Perempuan


Kabupaten/Kota Huruf Huruf Huruf Buta Hu- Huruf Huruf Huruf Buta Hu- Huruf Huruf Huruf Buta Hu-
latin arab lainnya ruf latin arab lainnya ruf latin arab lainnya ruf
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)

Kab. Fakfak 90.71 30.70 3.03 20.17 90.12 25.48 2.01 19.18 90.42 28.14 2.53 19.69
Kab. Kaimana 91.28 11.74 0.22 19.75 88.77 11.70 0.16 21.17 89.93 11.72 0.19 20.50

Kab. Teluk Wondama 81.13 3.54 8.72 29.11 76.79 2.47 6.68 34.41 79.07 3.04 7.75 31.66

Kab. Teluk Bintuni 87.61 28.74 5.51 24.01 77.27 25.05 4.21 32.42 82.72 27.00 4.89 27.98

Kab. Manokwari 87.84 6.77 2.47 20.32 78.73 7.49 1.18 30.35 83.34 7.12 1.84 25.34

Kab. Sorong Selatan 84.97 1.93 0.00 27.07 81.14 1.12 0.56 28.73 83.11 1.54 0.27 27.87

Kab. Sorong 87.70 3.43 5.15 21.88 75.23 4.28 4.26 33.27 81.40 3.86 4.70 27.66

Kab. Raja Ampat 88.77 7.48 6.38 22.98 87.26 5.74 6.96 20.84 88.07 6.67 6.65 22.01
Kota Sorong 96.18 11.57 3.10 14.15 91.77 10.14 2.20 17.19 94.05 10.88 2.66 15.61

Provinsi Papua Barat 89.84 11.13 3.35 20.33 83.42 10.04 2.49 25.82 86.69 10.59 2.93 23.02

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 68 
BAB VI  CHAPTER VI 
FERTILITAS  FERTILITY 

Seperti  halnya  negara‐negara  Like  other  countries,  especially 


lain,  terutama  negara  yang  sedang  developing countries, since the late 20th 
berkembang,  sejak  akhir  abad  ke‐20  century,  Indonesia  was  not  spared  of 
ini  Indonesia  tidak  luput  dari  gejala  the  symptoms  Duma  blasting 
duma  yakni  peledakan  penduduk  population  (Population  Exploition). 
(Population  Exploition).  Laju  Rapid  population  growth  rate  can  not 
pertumbuhan  penduduk  yang  cepat  be  separated  from  due  to  high  birth 
tidak  lepas  dari  akibat  tingginya  rates  and  declining  mortality  rates 
tingkat  kelahiran  dan  menurunnya  (increase in life expectancy). 
tingkat  kematian  (naiknya  angka   
harapan hidup).    
Permasalahan  yang  ditimbulkan  The  problems  caused  by  the  high  birth 
akibat  tingginya  angka  kelahiran  rate  is  growing  children's  composition 
adalah  semakin  besarnya  komposisi  as the population ages unproductive (0­
anak‐anak  sebagai  bagian  dari  14  years).  The  amount  of  composition 
penduduk  usia  tidak produktif    (  0‐14  has  resulted  in  rate  dependence  of  the 
tahun).  Besarnya  komposisi  tersebut  higher  life.  Population  explosion  is  also 
mengakibatkan  angka  ketergantungan  making  increasing  food  needs,  which 
hidup  yang  semakin  tinggi.  Peledakan  the  government  must  be  able  to 
jumlah  penduduk  juga  membuat  increase  food  production  in  line  with 
kebutuhan  pangan  semakin  population  growth.  
meningkat,  dimana  pemerintah  harus   
 69 
mampu  meningkatkan  produksi   
pangan  seiring  dengan  pertambahan   
jumlah penduduk.   
To  overcome  it  all,  the  government 
Untuk  mengatasi  itu  semua, 
promote  family  planning  program  to 
pemerintah  menggalakkan  program 
curb  population  growth  rates  in  line 
keluarga  berencana  guna  menekan 
with economic growth. High birth rates 
tingkat  pertumbuhan  penduduk  agar 
can  not  be  separated  from  the  number 
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.  
of  women  of  childbearing  age  (WUS) 
Tingkat  kelahiran  yang  tinggi  tidak 
and  couples  of  childbearing  age  (EFA).  
lepas  dari  banyaknya  wanita  usia 
The  first  marriage  age  is  one  indicator 
subur (WUS) dan pasangan usia subur 
to  describe  the  level  of  fertility  of  a 
(PUS).    Umur  perkawinan  pertama 
region, as more young people to do the 
merupakan salah satu indikator untuk 
marriage  will  be  more  long­term 
menggambarkan  tingkat  fertilitas 
reproduction  so  that  the  greater  the 
suatu  wilayah,  karena  semakin  muda 
chances  of  giving  birth  to  many 
seseorang  melakukan  perkawinan 
children.  Thus,  this  allows  a  higher 
maka  akan  semakin  panjang  masa 
fertility  rate.  A  clearer    description 
reproduksinya sehingga akan semakin 
about  the  age  of  first  marriage  age  of 
besar  peluangnya  untuk  melahirkan 
women  10  years  and  over  in  West 
banyak anak. Dengan demikian, hal ini  
Papua  can  be  seen  in  Table  6.1.  
memungkinkan  terjadinya  tingkat 
 
fertilitas  yang  lebih  tinggi.  Gambaran 
 
yang  lebih  jelas  mengenai  usia 
 
perkawinan  pertama  wanita  umur  10 
 
tahun  ke  atas  di  Papua  Barat  dapat 
 
dilihat pada Tabel 6.1. 
 
Tabel  6.1  menunjukkan  bahwa    Table  6.1  shows  that  there  are  8.02 
terdapat 8,02 persen perempuan yang  percent  of  married  women  under  age 
menikah  di  bawah  umur  (kurang  dari  (less  than  16  years).  Women  in  West 
16  tahun).  Perempuan  di  Papua  Barat  Papua's most lots married at age 19­24 
paling  banyak  menikah  di  usia  19‐24  years  (51.27  percent).  Although  the 

 70 
tahun  (51,27  persen).  Meskipun  population of West Papua is the least in 
jumlah  penduduk  Papua  Barat  adalah  Indonesia  but  the  promotion  of  family 
yang  paling  sedikit  di  indonesia  akan  planning  remain  encouraged  here. 
tetapi  penggalakan  keluarga  Family  planning  programs  not  only  to 
berencana  tetap  digalakkan  disini.  reduce  the  birth  rate  but  to  adjust  the 
Program  keluarga  berencana  tidak  spacing  to  form  a  plan  generation 
hanya untuk menekan angka kelahiran  touted as BKKBN. 
akan  tetapi  untuk  mengatur  jarak   
kelahiran  demi  membentuk  generasi 
berencana  seperti  yang  didengung‐  
dengungkan BKKBN. 
  
Berdasarkan  penggunaan  alat  Based on contraceptive use, as much as 
KB, sebanyak 46,78 persen perempuan   46.78 per cent of women aged 10 years 
usia  10  tahun  ke  atas  yang  pernah  and  over  who  ever  married  have  never 
kawin tidak pernah menggunakan alat  used contraceptive. While 29.02 percent 
KB.  Sedangkan  29,02  persennya  of currently used contraceptive and the 
sedang  menggunakan  alat  KB  dan  rest  are  not  using  birth  control  again. 
sisanya sudah tidak menggunakan lagi  Of  the  women  who  are  using  family 
alat  KB.  Dari  perempuan  yang  sedang  planning,  60.55  percent  use  family 
menggunakan  KB,  60,55  persennya  planning  Injection  and  27.65  percent 
menggunakan  KB  Suntik  dan  27,65  using  birth  control  pills.  Family 
persennya  menggunakan  Pil  KB.  KB  planning  and  birth  control  pills 
suntik  dan  pil  KB  banyak  dipilih  oleh  injecting  chosen  by  many  women  in 
perempuan  di  Papua  Barat  dengan  West  Papua  with  more  practical  and 
alasan lebih praktis dan ekonomis.   economical reasons.  
 

Program  keluarga  berencana  Family  planning  programs  to  promote 


mempromosikan  kepada  masyarakat  to  the  public  to  have  two  children 
untuk memiliki dua anak cukup. Untuk  enough.  To  see  how  far  the  success  of 
melihat  seberapa  jauh  keberhasilan  family  planning  programs  can  be  seen 
program KB dapat dilihat dari  jumlah   from  the  number  of  children  born. 
anak  yang  dilahirkan.    Tabel  6.4  Table  6.4  shows  that  as  many  as  22.17 

 71 
menunjukkan  bahwa    sebanyak  22,17  percents  of  women  10  years  and  over 
persen  perempuan  usia  10  tahun  ke  who  had  ever  married  gave  birth  two 
atas  yang  pernah  kawin  melahirkan  children born alive.  
dua anak lahir hidup.   

  Persentase Perempuan Pernah Kawin yang Melahirkan Dua Anak Lahir Hidup 
Gambar  Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009 
6.1 
Picture  The Percentage of Ever Married Women   Gave Birth Two Children Born ALive by 
Regency / Municipality in the Province of Papua Barat in 2009  

Kota Sorong 24.86

Kab. Manokwari 24.59

Kab. Kaimana 23.62

Provinsi Papua Barat 22.17

Kab. Fakfak 21.66

Kab. Sorong 20.56

Kab. Teluk Bintuni 19.68

Kab. Sorong Selatan 17.37

Kab. Raja Ampat 16.61

Kab. Teluk Wondama 15.55

0 5 10 15 20 25 30

 72 
Tabel 6.1 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin Menurut Umur Kawin Pertama dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Papua Barat Tahun 2009

Umur Perkawinan Pertama


Kabupaten/Kota
< 16 16 - 18 19 - 24 > 24 Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 7.74 16.21 57.40 18.65 100.00

Kab. Kaimana 2.17 17.86 61.64 18.32 100.00

Kab. Teluk Wondama 7.77 25.58 49.29 17.35 100.00

Kab. Teluk Bintuni 16.06 22.50 47.64 13.80 100.00

Kab. Manokwari 8.10 30.71 43.67 17.52 100.00

Kab. Sorong Selatan 7.37 27.93 53.66 11.04 100.00

Kab. Sorong 13.88 23.04 50.73 12.35 100.00

Kab. Raja Ampat 2.78 25.06 56.59 15.57 100.00

Kota Sorong 5.08 26.51 53.71 14.70 100.00

Provinsi Papua Barat 8.02 25.29 51.27 15.42 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 73 
Tabel 6.2 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin Menurut Penggunaan Kontrasepsi dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Pengguna/memakai alat/cara KB
Kabupaten/Kota
Sedang menggunakan Tidak menggunakan lagi Tdk pernah menggunakan Total
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab. Fakfak 24.66 23.39 51.95 100.00

Kab. Kaimana 23.18 19.54 57.29 100.00

Kab. Teluk Wondama 15.86 18.28 65.87 100.00

Kab. Teluk Bintuni 28.58 17.89 53.53 100.00

Kab. Manokwari 22.80 27.80 49.40 100.00

Kab. Sorong Selatan 35.14 16.90 47.96 100.00

Kab. Sorong 30.14 31.78 38.08 100.00

Kab. Raja Ampat 19.45 22.75 57.80 100.00


Kota Sorong 40.09 22.98 36.93 100.00

Provinsi Papua Barat 29.02 24.20 46.78 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 74 
Tabel 6.3 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin Menurut Alat/Cara Kontrasepsi yang Digunakan dan Kabupaten/
Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Alat/cara KB yg sedang digunakan


Kabupaten/Kota MOW/ MOP/ Intervag/ Cara
AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Kondom Total
Tubektomi Vasektomi Tisue Tradisional
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
Kab. Fakfak 1.77 1.97 1.97 66.14 7.45 20.70 0.00 0.00 0.00 100.00
Kab. Kaimana 1.79 0.00 1.79 84.17 0.00 12.24 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 0.00 0.00 5.17 67.66 0.00 13.58 0.00 0.00 13.58 100.00

Kab. Teluk Bintuni 0.00 0.25 1.49 58.31 1.49 38.46 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Manokwari 1.54 0.00 3.94 66.40 5.37 21.20 0.00 0.00 1.54 100.00

Kab. Sorong Selatan 0.00 0.00 0.00 77.60 0.00 7.46 0.00 0.00 14.94 100.00

Kab. Sorong 3.40 1.68 1.68 50.86 5.08 33.91 0.00 0.00 3.38 100.00

Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 2.82 85.73 0.00 8.57 0.00 0.00 2.88 100.00
Kota Sorong 1.82 0.46 3.63 48.49 3.56 39.33 0.00 0.45 2.27 100.00

Provinsi Papua Barat 1.59 0.56 2.68 60.55 3.58 27.65 0.00 0.14 3.25 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 75 
Tabel 6.4 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut Jumlah Anak Lahir Hidup dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Anak Lahir Hidup


Kabupaten/Kota
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10+ Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Kab. Fakfak 10.59 18.72 21.66 21.80 8.96 9.13 3.85 1.48 1.97 1.41 0.43 100.00

Kab. Kaimana 9.86 27.05 23.62 15.14 12.44 7.47 3.12 0.88 0.42 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 7.36 16.80 15.55 18.28 12.62 11.26 4.27 6.11 3.47 2.56 1.72 100.00

Kab. Teluk Bintuni 9.23 20.87 19.68 18.82 12.75 7.14 5.11 1.00 1.89 0.93 2.56 100.00

Kab. Manokwari 11.36 16.16 24.59 15.79 14.72 5.77 6.22 1.60 1.63 1.26 0.90 100.00

Kab. Sorong Selatan 10.00 13.14 17.37 14.74 16.86 11.03 5.79 2.62 3.67 1.57 3.22 100.00

Kab. Sorong 6.17 20.46 20.56 11.79 12.26 13.40 6.13 4.59 1.57 1.02 2.04 100.00

Kab. Raja Ampat 10.57 17.83 16.61 15.01 13.35 11.11 5.54 6.63 2.24 0.55 0.56 100.00

Kota Sorong 13.63 15.22 24.86 19.11 9.02 4.72 3.85 4.36 2.34 0.54 2.34 100.00

Provinsi Papua Barat 10.58 17.67 22.17 16.67 12.29 7.95 5.04 3.02 2.00 0.99 1.60 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 76 
Tabel 6.5 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut Jumlah Anak Masih Hidup dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Anak Masih Hidup


Kabupaten/Kota
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10+ Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Kab. Fakfak 11.07 19.70 22.64 19.84 9.88 10.06 2.94 1.48 1.40 0.99 0.00 100.00

Kab. Kaimana 9.86 27.21 23.47 15.48 12.11 7.47 3.12 0.88 0.42 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 7.36 18.09 16.84 18.28 13.93 10.77 4.33 4.37 3.45 1.72 0.86 100.00

Kab. Teluk Bintuni 10.52 20.88 19.76 19.40 14.73 7.05 4.33 1.01 1.47 0.85 0.00 100.00

Kab. Manokwari 11.89 17.20 25.82 16.68 14.86 5.77 4.72 1.43 0.90 0.00 0.72 100.00

Kab. Sorong Selatan 10.00 13.66 18.41 18.43 16.34 14.18 3.15 3.72 1.57 0.55 0.00 100.00

Kab. Sorong 8.73 19.95 22.60 12.82 14.97 10.73 4.08 4.09 1.02 0.51 0.51 100.00

Kab. Raja Ampat 12.79 17.81 17.72 17.75 12.77 10.01 5.04 4.43 1.12 0.00 0.56 100.00

Kota Sorong 14.36 15.77 25.41 19.99 9.21 5.80 3.86 2.70 1.98 0.36 0.55 100.00

Provinsi Papua Barat 11.49 18.16 23.14 17.56 12.91 8.09 4.02 2.45 1.36 0.40 0.43 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 77 
Tabel 6.6 Persentase Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut Jumlah Anak Sudah Meninggal dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Anak Masih Hidup


Kabupaten/Kota
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10+ Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Kab. Fakfak 92.33 5.26 1.50 0.00 0.49 0.00 0.00 0.00 0.43 0.00 0.00 100.00

Kab. Kaimana 99.51 0.49 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 84.86 10.44 2.56 1.72 0.41 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 88.99 5.21 1.88 0.93 0.85 0.86 0.43 0.43 0.00 0.43 0.00 100.00

Kab. Manokwari 86.77 7.62 4.03 0.70 0.53 0.00 0.00 0.35 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Sorong Selatan 79.46 9.98 4.72 4.27 0.52 1.05 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Sorong 80.44 10.33 4.60 2.55 1.06 1.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 82.28 10.04 4.41 2.74 0.00 0.53 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 100.00

Kota Sorong 86.03 8.56 1.28 1.97 1.79 0.00 0.18 0.00 0.18 0.00 0.00 100.00

Provinsi Papua Barat 86.33 7.76 2.86 1.58 0.85 0.31 0.07 0.12 0.08 0.03 0.00 100.00

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 78 
Tabel 6.7 Rata-rata Anak Lahir Hidup dari Wanita Pernah Kawin Berumur 15 - 49 Tahun Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

Kelompok Umur Ibu


Kabupaten/Kota
15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 Rata-rata
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Kab. Fakfak 1.00 1.10 1.67 2.48 3.10 2.84 3.59 2.08

Kab. Kaimana 0.34 0.85 1.50 2.22 2.64 3.59 2.90 1.83

Kab. Teluk Wondama 1.00 1.50 1.75 3.79 3.77 4.51 4.70 2.69

Kab. Teluk Bintuni 0.66 1.38 2.24 3.39 3.82 3.60 3.78 2.47

Kab. Manokwari 0.46 1.48 1.71 2.52 3.23 4.10 3.07 2.13

Kab. Sorong Selatan 0.67 1.73 2.56 3.45 3.69 3.55 3.51 2.59

Kab. Sorong 0.67 1.00 1.79 2.60 3.53 4.39 4.58 2.58

Kab. Raja Ampat 0.40 1.06 1.88 2.39 3.31 4.16 5.26 2.14

Kota Sorong 0.31 0.91 1.81 2.59 2.67 3.14 4.88 2.06

Provinsi Papua Barat 0.53 1.19 1.85 2.68 3.21 3.75 4.01 2.23

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 79 
Tabel 6.8 Rata-rata Anak Masih Hidup dari Wanita Pernah Kawin Berumur 15 - 49 Tahun Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

Kelompok Umur Ibu


Kabupaten/Kota
15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 59 Rata-rata
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Kab. Fakfak 1.00 1.10 1.61 2.42 3.10 2.75 3.49 2.04

Kab. Kaimana 0.34 0.85 1.49 2.22 2.64 3.59 2.90 1.83

Kab. Teluk Wondama 1.00 1.46 1.73 3.21 3.50 4.37 4.36 2.53

Kab. Teluk Bintuni 0.66 1.38 2.18 3.10 3.42 2.88 3.76 2.29

Kab. Manokwari 0.46 1.39 1.64 2.46 2.95 3.76 2.62 1.98

Kab. Sorong Selatan 0.67 1.64 2.41 3.03 3.37 3.17 3.10 2.36

Kab. Sorong 0.67 1.00 1.70 2.43 3.16 3.69 4.04 2.32

Kab. Raja Ampat 0.40 1.06 1.73 2.14 3.14 3.89 4.82 2.00

Kota Sorong 0.31 0.88 1.79 2.32 2.60 2.98 4.56 1.96

Provinsi Papua Barat 0.53 1.15 1.79 2.49 3.00 3.41 3.67 2.09

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 80 
BAB VII  CHAPTER VII 
PERUMAHAN  HOUSING 

Perumahan  dan  permukiman  Decent,  healthy,  savety,  harmonious,  


yang  layak,  sehat,  aman,  serasi,  dan  and  integrated  homes  and  settlement 
teratur  merupakan  salah  satu  are  human  basic  need  and  main  factor 
kebutuhan  dasar  manusia  dan  in increasing the values of living quality 
merupakan  faktor  penting  dalam  and  human  welfare.  Every  citizen  has 
peningkatan  harkat  dan  martabat  the right to settle, take benefit and take 
mutu  kehidupan  serta  kesejahteraan  control  the  decent,  healthy,  savety, 
rakyat.    Setiap  warga  negara   harmonious  and  integrated  homes 
mempunyai  hak  untuk  menempati,  (Law  Number  4  of  1992  on  Housing 
menikmati,  atau  memiliki  rumah yang  Chapter III Housing Article 3).  
layak  dalam  lingkungan  yang  sehat   
aman,  serasi  dan  teratur  (Undang‐  
Undang  Nomor  4  Tahun  1992  Bab  III   
Perumahan Pasal 5 ).   

Idealnya,  setiap  rumah  tangga  Ideally,  every  household  has  their  own 
memiliki rumah sendiri. Tetapi, karena  home.  However,  due  to  the  imbalance 
ketidakseimbangan  antara  between housing growth and household 
pertumbuhan  perumahan  dan  rumah  growth  and  the  limited  ability  of  new 
tangga serta keterbatasan kemampuan  households to own a house then not all 
rumah  tangga  baru  untuk  memiliki  households  stay  in  their  own  home.  
rumah  maka  belum  semua  rumah  SUSENAS  2009  showed  only  67.71 
tangga  menempati  rumah  sendiri.  percent  of  the  households  who  occupy 

  81 
Susenas  2009  menunjukkan  hanya  their  own  homes.  The  remaining  32.29 
67,71  persen  rumah  tangga  yang  per  cent  stayed  in  a  house  contract, 
menempati  rumah  sendiri.  Sisanya  rent,  housing  or  rent­free  house  (See 
yaitu  32,29  persen  menempati  rumah  Picture 7.1 or Table 7.1).   
kontrak,  sewa,  rumah  dinas  atau   
rumah  bebas  sewa  (Lihat  Gambar  7.1   
atau Tabel 7.1).    
Kualitas  perumahan  di  Papua  The quality of housing in West Papua in 
Barat pada tahun 2009 seperti terlihat   2009 as shown in Figure 7.2. More than 
pada  Gambar  7.2.    Lebih  dari  90  90  percent  of  housing  in  West  Papua, 
persen  perumahan  di  Papua  Barat  were  not  the  ground  floors  (ceramics, 
berlantai bukan tanah (keramik, tegel,  tiles,  or  bamboo)  and  roofed  feasible 
atau bambu) dan beratap layak (bukan  (rather  than  the  material  leaves). 
dari  bahan  dedaunan).  Tetapi,  However, the percentage of permanent­
persentase  rumah  berdinding  walled  houses  of  about  52.27  percent. 
permanen  sekitar  52,27  persen.  There  are  38.36  percent  of  homes  with 
Terdapat  38,36  persen  rumah  dengan  floor  area  per  capita  of  less  than  10 
luas  lantai  per  kapita  kurang  dari  10  square meters. 
meter per segi.    
Gambar 7.1  
Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Terluas, Jenis Atap Terluas, Jenis 
Dinding Terluas dan Luas Lantai Per Kapita di Papua Barat Tahun 2009. 

100 91.6 93.6


90
80
70
60 52.27
50
38.36
40
30
20
10
0
Lantai Bukan  Atap L ayak *) Dinding  Luas lantai  pe r 
Keterangan: * Tidak Beratap Dedaunan  

  82 
Masalah  penerangan  juga  The  problem  of  lighting  is  also  an 
merupakan  bagian  penting  dari  important  part  of  housing  information. 
informasi  perumahan.  Di  daerah  yang  In  fairly  advanced  areas,    main  source 
cukup  maju,  sumber  penerangan  of  lighting  at  night  use  electricity.  In 
utama  di  malam  hari  menggunakan  West Papua alone, the electricity can be 
listrik.  Di  Papua  Barat  sendiri,  listrik  enjoyed by 68.98 percent of households 
baru bisa dinikmati oleh 68,98 persen  in  which  57.67  per  cent  sourced  from 
rumah  tangga  di  mana  57,67  the  PLN,  a  State  Electricity  Company, 
persennya  bersumber  dari  listrik  PLN  and  the  remaining  11.31  per  cent  of 
dan  11,31  persen  sisanya  bersumber  electricity comes from non­PLN (Genset 
dari  listrik  non  PLN  (Genset  atau  or diesel). Thus there are 31.02 percent 
PLTD).    Dengan  demikian  masih  of the territory of West Papua who have 
terdapat  31,02  persen  wilayah  di  not affordable electricity yet.  
Papua  Barat  yang  belum  dimasuki   
listrik.    

Penggunaan  kayu  bakar  sebagai  The  use  of  firewood  as  fuel  for  cooking 
bahan  bakar  untuk  memasak  masih  is  still  quite  dominant  in  West  Papua. 
cukup  dominan  di  Papua  Barat.  Tabel  Table  7:13  shows  55.25  percent  of 
7.13  memperlihatkan  55,25  persen  households  use  firewood  as  main  fuel 
rumah  tangga  memanfaatkan  kayu  for  cooking.  Besides  firewood,  kerosene 
bakar  sebagai  bahan  bakar  utama  used by 41.25 percent of households for 
untuk  memasak.  Selain  kayu  bakar,  cooking.  Only  3.04  percent  of 
minyak  tanah  dimanfaatkan  oleh  households using gas for cooking.  
41,25  persen  rumah  tangga  untuk   
memasak.  Hanya  3,04  persen  rumah   
tangga  yang  menggunakan  gas  untuk   
memasak.  

  

  83 
Tabel 7.1 Persentase Rumah Tangga Menurut Penguasaan Tempat Tinggal dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Status penguasaan bangunan tempat tinggal

Kabupaten/Kota Rumah Milik


Milik sendiri Kontrak Sewa Bebas sewa Dinas Orang Tua/ Lainnya Jumlah
Sanak/Saudara
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Kab. Fakfak 60.06 3.00 6.91 13.01 8.30 8.72 0.00 100.00

Kab. Kaimana 83.88 1.09 1.86 5.31 4.55 3.32 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 74.06 0.79 1.19 3.59 4.78 15.18 0.40 100.00

Kab. Teluk Bintuni 74.70 1.41 4.98 11.36 4.95 1.74 0.86 100.00

Kab. Manokwari 54.23 0.79 3.27 3.46 27.03 11.23 0.00 100.00

Kab. Sorong Selatan 85.42 0.00 0.00 0.52 0.00 14.06 0.00 100.00

Kab. Sorong 83.86 1.04 2.08 5.21 3.12 4.69 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 88.02 1.05 0.52 0.52 3.12 6.76 0.00 100.00

Kota Sorong 57.24 3.18 23.41 6.12 4.20 5.85 0.00 100.00

Provinsi Papua Barat 67.71 1.55 7.28 5.46 10.00 7.93 0.07 100.00

 
84 
Tabel 7.2 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai dan Dinding Terluas dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Jenis Lantai Terluas Jenis Dinding Terluas


Kabupaten/Kota
Bukan tanah Tanah Jumlah   Tembok Kayu Bambu Lainnya Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


Kab. Fakfak 93.21 6.79 100.00 75.32 23.42 0.00 1.26 100.00

Kab. Kaimana 75.37 24.63 100.00 53.99 45.62 0.39 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 97.20 2.80 100.00 14.79 81.98 0.00 3.23 100.00

Kab. Teluk Bintuni 96.86 3.14 100.00 8.30 91.70 0.00 0.00 100.00

Kab. Manokwari 96.40 3.60 100.00 51.72 45.45 0.63 2.20 100.00

Kab. Sorong Selatan 96.87 3.13 100.00 18.23 57.81 1.05 22.92 100.00

Kab. Sorong 80.20 19.80 100.00 42.71 53.13 4.16 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 91.65 8.35 100.00 56.78 34.93 3.11 5.18 100.00

Kota Sorong 92.35 7.65 100.00 80.59 17.48 1.33 0.60 100.00

Provinsi Papua Barat 91.60 8.40 100.00 52.27 43.34 1.32 3.07 100.00

 
85 
Tabel 7.3 Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Luas Lantai
Kabupaten/Kota
<=19 20 - 49 50 - 99 100 - 149 150+ Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab. Fakfak 4.12 42.61 47.15 4.92 1.20 100.00

Kab. Kaimana 7.05 76.67 14.80 0.85 0.63 100.00

Kab. Teluk Wondama 1.99 83.21 14.39 0.42 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 1.48 80.93 16.29 0.43 0.87 100.00

Kab. Manokwari 3.12 58.16 32.67 3.26 2.80 100.00

Kab. Sorong Selatan 0.00 88.02 9.90 1.56 0.52 100.00

Kab. Sorong 1.04 64.06 34.38 0.52 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 0.52 83.86 14.57 1.05 0.00 100.00

Kota Sorong 5.59 43.14 42.75 5.79 2.73 100.00

Provinsi Papua Barat 3.11 61.51 30.95 2.89 1.55 100.00

 
86 
Tabel 7.4 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Sumber air minum

Kabupaten/Kota Air Sumur Mata air


Air isi Leding Leding Sumur Sumur tak Mata air Air
kemasan bor/ tak Air sungai Lainnya Jumlah
ulang meteran eceran terlindung terlindung terlindung hujan
bermerk pompa terlindung

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
Kab. Fakfak 0.00 1.26 32.89 4.66 0.00 5.59 8.31 8.37 0.93 0.46 37.53 0.00 100.00

Kab. Kaimana 0.46 1.41 2.52 0.69 1.55 36.79 14.97 1.53 6.56 0.92 32.60 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 0.40 0.40 0.40 3.57 3.59 6.43 0.40 41.18 10.83 32.80 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 0.00 8.92 0.44 4.32 5.19 25.37 5.84 6.49 0.86 4.35 37.34 0.86 100.00

Kab. Manokwari 0.16 7.16 18.78 0.16 5.92 20.80 5.20 14.15 17.13 7.08 3.47 0.00 100.00

Kab. Sorong Selatan 0.00 0.00 0.00 1.57 0.00 1.05 1.04 4.69 14.04 25.03 50.50 2.08 100.00

Kab. Sorong 1.04 3.13 0.00 0.00 0.00 18.75 13.02 4.16 1.04 13.02 45.84 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 0.00 0.00 9.92 44.26 18.71 17.72 8.87 0.00 0.00 0.52 100.00

Kota Sorong 12.58 44.93 11.70 1.39 1.80 13.70 2.60 4.39 0.40 0.20 5.92 0.40 100.00

Provinsi Papua Barat 2.89 12.64 10.66 1.36 2.99 17.89 6.88 9.13 7.10 7.22 20.89 0.34 100.00

 
87 
Tabel 7.5 Persentase Rumah Tangga Dengan Sumber Air Minum Pompa, Sumur Atau
Mata Air dan Jarak Sumber Air Minum ke Tempat Penampungan Kotoran/Tinja
dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009
Jarak ketempat penampungan kotoran/tinja
Kabupaten/Kota
=< 10 m > 10 m Tidak tahu Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab. Fakfak 13.75 76.22 10.03 100.00

Kab. Kaimana 11.73 80.62 7.64 100.00

Kab. Teluk Wondama 38.29 39.85 21.86 100.00

Kab. Teluk Bintuni 15.25 66.52 18.24 100.00

Kab. Manokwari 11.42 48.71 39.87 100.00

Kab. Sorong Selatan 5.02 87.50 7.48 100.00

Kab. Sorong 15.50 49.30 35.21 100.00

Kab. Raja Ampat 47.68 17.78 34.54 100.00

Kota Sorong 38.65 30.55 30.80 100.00

Provinsi Papua Barat 20.63 49.21 30.17 100.00

Tabel 7.6 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Air Minum dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Penggunaan fasilitas air minum


Kabupaten/Kota
Sendiri Bersama Umum Tidak ada Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 64.08 11.73 9.90 14.29 100.00
Kab. Kaimana 24.41 31.20 31.34 13.05 100.00
Kab. Teluk Wondama 15.03 45.59 35.17 4.21 100.00
Kab. Teluk Bintuni 63.21 21.62 11.65 3.51 100.00
Kab. Manokwari 48.68 28.70 17.52 5.10 100.00
Kab. Sorong Selatan 49.19 3.17 5.82 41.82 100.00
Kab. Sorong 48.91 20.65 17.40 13.04 100.00
Kab. Raja Ampat 4.68 44.79 50.53 0.00 100.00
Kota Sorong 55.30 25.27 16.52 2.91 100.00

Provinsi Papua Barat 46.65 23.95 18.61 10.79 100.00

  88 
Tabel 7.7 Persentase Rumah Tangga Menurut Cara Memperoleh Air Minum dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Cara memperoleh air minum


Kabupaten/Kota
Membeli Tidak membeli Jumlah
(1) (2) (3) (4)
Kab. Fakfak 30.98 69.02 100.00
Kab. Kaimana 4.27 95.73 100.00
Kab. Teluk Wondama 2.40 97.60 100.00
Kab. Teluk Bintuni 13.25 86.75 100.00
Kab. Manokwari 18.03 81.97 100.00
Kab. Sorong Selatan 0.00 100.00 100.00
Kab. Sorong 6.77 93.23 100.00
Kab. Raja Ampat 0.52 99.48 100.00
Kota Sorong 68.47 31.53 100.00

Provinsi Papua Barat 24.37 75.63 100.00

Tabel 7.8 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Tempat Buang Air Besar dan
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Penggunaan fasilitas tempat buang air besar


Kabupaten/Kota
Sendiri Bersama Umum Tidak ada Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 65.83 10.56 11.16 12.44 100.00
Kab. Kaimana 19.96 13.98 36.03 30.04 100.00
Kab. Teluk Wondama 24.73 31.14 19.25 24.88 100.00
Kab. Teluk Bintuni 77.87 7.40 5.62 9.10 100.00
Kab. Manokwari 57.58 15.41 4.06 22.96 100.00
Kab. Sorong Selatan 58.31 4.18 7.82 29.69 100.00
Kab. Sorong 55.72 10.94 12.50 20.83 100.00
Kab. Raja Ampat 13.56 20.82 49.97 15.65 100.00
Kota Sorong 82.58 9.97 3.92 3.53 100.00

Provinsi Papua Barat 59.49 12.37 10.98 17.16 100.00

  89 
Tabel 7.9 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Kloset dan Kabupaten/Kota di
Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Jenis kloset
Kabupaten/Kota Cemplung/
Leher angsa Plengsengan Tidak pakai Jumlah
Cubluk
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 47.46 31.27 19.68 1.59 100.00
Kab. Kaimana 43.10 29.10 25.58 2.22 100.00
Kab. Teluk Wondama 1.06 73.44 21.80 3.70 100.00
Kab. Teluk Bintuni 43.06 24.78 31.69 0.47 100.00
Kab. Manokwari 60.43 26.10 11.84 1.63 100.00
Kab. Sorong Selatan 27.41 51.09 20.76 0.74 100.00
Kab. Sorong 39.46 15.79 40.80 3.95 100.00
Kab. Raja Ampat 56.85 36.40 4.28 2.47 100.00
Kota Sorong 44.75 50.78 4.06 0.41 100.00

Provinsi Papua Barat 46.04 34.97 17.36 1.63 100.00

  90 
Tabel 7.10 Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Akhir Kotoran/Tinja dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2009

Tempat pembuangan akhir tinja


Kabupaten/Kota Sungai/ danau/ Pantai/ tanah la-
Tangki/SPAL Kolam/sawah Lobang tanah Lainnya Jumlah
laut pang/ kebun
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Kab. Fakfak 50.40 0.00 21.87 21.27 6.06 0.40 100.00

Kab. Kaimana 32.39 0.77 3.25 35.09 28.50 0.00 100.00

Kab. Teluk Wondama 55.52 1.61 19.64 16.03 7.20 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 40.53 0.87 19.02 37.85 1.31 0.43 100.00

Kab. Manokwari 57.45 0.16 6.77 24.00 11.46 0.16 100.00

Kab. Sorong Selatan 23.45 1.56 31.26 41.12 0.00 2.60 100.00

Kab. Sorong 36.97 3.13 13.54 33.86 11.98 0.52 100.00

Kab. Raja Ampat 47.96 1.04 11.47 36.41 2.60 0.52 100.00

Kota Sorong 91.22 0.40 2.79 2.66 2.93 0.00 100.00

Provinsi Papua Barat 55.09 0.91 11.69 24.01 7.87 0.43 100.00

 
91 
Tabel 7.11 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Penerangan dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Sumber penerangan
Kabupaten/Kota
Listrik PLN Listrik non PLN Petromak/ aladin Pelita/sentir/obor Lainnya Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Kab. Fakfak 70.69 7.90 3.26 18.15 0.00 100.00

Kab. Kaimana 12.58 44.67 22.40 19.19 1.16 100.00

Kab. Teluk Wondama 4.01 15.20 12.85 57.54 10.40 100.00

Kab. Teluk Bintuni 17.61 49.31 0.87 28.31 3.90 100.00

Kab. Manokwari 66.41 4.36 1.55 27.52 0.16 100.00

Kab. Sorong Selatan 35.39 2.60 0.00 61.48 0.52 100.00

Kab. Sorong 48.96 10.42 2.61 38.02 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 39.04 15.09 5.74 40.13 0.00 100.00

Kota Sorong 92.95 2.79 0.00 4.26 0.00 100.00

Provinsi Papua Barat 57.67 11.31 3.06 27.21 0.74 100.00

 
92 
Tabel 7.12 Persentase Rumah Tangga Pengguna PLN Menurut Daya Terpasang dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Daya Terpasang (Watt)


Kabupaten/Kota
450.00 900.00 1.30 2.20 > 2.200 Tanpa Meteran Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Kab. Fakfak 33.04 35.92 18.80 2.54 1.23 8.47 100.00
Kab. Kaimana 26.57 26.66 23.47 3.77 1.26 18.27 100.00

Kab. Teluk Wondama 9.91 29.73 50.00 10.36 0.00 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 43.79 24.13 16.75 2.45 0.00 12.87 100.00

Kab. Manokwari 30.16 31.65 20.14 3.98 0.00 14.06 100.00

Kab. Sorong Selatan 11.76 5.89 1.47 0.00 0.00 80.88 100.00

Kab. Sorong 63.83 22.33 2.13 0.00 1.06 10.64 100.00

Kab. Raja Ampat 41.39 4.00 49.33 0.00 0.00 5.28 100.00
Kota Sorong 28.04 29.76 22.76 1.08 1.71 16.65 100.00

Provinsi Papua Barat 33.60 27.86 18.80 1.97 0.88 16.90 100.00

 
93 
Tabel 7.13 Persentase Rumah Tangga Bahan Bakar Utama untuk Memasak dan Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Bahan Bakar Utama untuk Memasak


Kabupaten/Kota
Listrik Gas/LPG Minyak Tanah Arang/Briket Kayu Bakar Lainnya Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Kab. Fakfak 0.00 1.33 48.38 0.00 50.29 0.00 100.00

Kab. Kaimana 0.00 0.16 13.80 0.00 85.66 0.39 100.00

Kab. Teluk Wondama 0.00 0.00 9.97 0.40 89.64 0.00 100.00

Kab. Teluk Bintuni 0.00 2.25 15.56 0.00 81.67 0.52 100.00

Kab. Manokwari 0.00 3.89 49.62 0.31 46.18 0.00 100.00

Kab. Sorong Selatan 0.00 0.00 0.00 0.00 99.48 0.52 100.00

Kab. Sorong 0.00 1.04 23.96 0.52 74.48 0.00 100.00

Kab. Raja Ampat 0.00 0.00 5.20 0.51 94.28 0.00 100.00

Kota Sorong 0.00 7.51 84.70 0.20 6.99 0.60 100.00

Provinsi Papua Barat 0.00 3.04 41.25 0.24 55.25 0.23 100.00

 
94 
BAB VIII  CHAPTER VIII 
SOSIAL LAINNYA  OTHER CONDITIONS 

Indikator  sosial  lainnya  yang  Other social indicators show the level of 


menunjukkan  tingkat  kesejahteraan  welfare of the population is in access of 
penduduk  adalah  akses  penduduk  population  to  poverty  reduction 
terhadap  program  pengentasan  programs and access to technology and 
kemiskinan  dan  akses  terhadap  information  (IT).  Poverty  reduction 
teknologi  dan  informasi  (TI).  Program  programs  are  collected  through 
penanggulangan  kemiskinan  yang  SUSENAS  data  collection  involves  the 
dihimpun  melalui  pengumpulan  data  reduction  of  expenditures  of  poor 
Susenas  meliputi  pengurangan  households to basic needs of health care 
pengeluaran  rumah  tangga  miskin  costs  and  the  purchase  of  poor  rice 
untuk  kebutuhan  dasar  yaitu  biaya  (raskin) and increased income for poor 
kesehatan dan pembelian beras miskin  households through direct cash transfer 
(raskin)  dan  peningkatan  pendapatan  (BLT)  of  and  credits  for 
rumah  tangga  miskin  melalui  bantuan  microenterprises.  Population  access  to 
langsung tunai (BLT) dan kredit usaha.  IT  include  the  ownership  of 
Akses  penduduk  terhadap  TI  meliputi  communication  media  such  as 
penguasaan media komunikasi seperti  telephones,  computers,  and  mobile 
telepon,  komputer,  dan  handphone;  phones,  and  access  to  the  Internet 
dan  akses  penduduk  terhadap  media  media.  
internet.   

Pengarusutamaan  penanggula‐ Poverty  reduction  mainstreaming 


ngan  kemiskinan  mencakup  dua  involve  two objectives. First, reduce the 

 95 
sasaran.  Pertama,  mengurangi  beban  expenditure of poor households on basic 
rumah tangga miskin untuk kebutuhan  needs  such  as  free  health  services,  free 
dasar  dan  kedua,  meningkatkan  education  services  and  rice  for  poor. 
pendapatannya.  Pengurangan  beban  The second is to increase their income.  
rumah  tangga  miskin  antara  lain   
melalui  program  raskin,  pembebasan   
biaya kesehatan dan dana BOS.      

Gambar  8.1  memperlihatkan  Picture  8.1  shows  that  the  access  of 
bahwa  akses  masyarakat  terhadap  people  to  free  health  services  were 
layanan  kesehatan  gratis  berbeda  different  between  region.  The  highest 
antar  satu  kabupaten/kota.  Akses  access was in Teluk Wondama Regency. 
tertinggi  tercatat  di  Kabupaten  Teluk  More  than  85  percents  of  Teluk 
Wondama.  Lebih  dari  85  persen  Wondama People had accessed the free 
penduduk Kabupaten Teluk Wondama  health  services.  The  Free  Health 
telah  menikmati  layanan  kesehatan  Services  in  Teluk  Bintuni  Regency, 
gratis.  Sementara  layanan  kesehatan  Sorong  Selatan  Regency  and  Raja 
gratis  di  Kabupaten  Teluk  Bintuni,  Ampat Regency had been accessed by a 
Kabupaten  Sorong  Selatan,  dan  half  of  all  people.  In  another  regencies, 
Kabupaten Raja Ampat telah dinikmati  the  program  has  been  accessed  by  less 
oleh  lebih  dari  separuh  penduduk.  than  25  percents  of  the  people  and  the 
Layanan  kesehatan  gratis  di  lowest  access  was  in  Kaimana  Regency 
kabupaten  lainnya  dinikmati  oleh  (15,47 percents). 
kurang  dari  25  persen  penduduk   
dengan  persentase  terendah  di   
Kabupaten Kaimana (15,47 persen).   

Dibandingkan  dengan  akses  Compared  to  the  free  health  services, 


layanan kesehatan gratis, lebih banyak  more  households  could  access  rice  for 
rumah  tangga  yang  dapat  mengakses  poor  program  (See  Table  8.2).  In  Raja 
program  raskin  (Tabel  8.2).  Di  Ampat Regency, more than 90 percents 
Kabupaten  Raja  Ampat,  lebih  dari  90  of  households  stated  that  they  had 
persen  rumah  tangga  menyatakan  bought  the  rice.  The  percentage  of 

 96 
membeli  beras  raskin.  Persentase  households who had bought the rice for 
rumah  tangga  yang  membeli  raskin  di  poor  in  Kaimana  Regency,  Sorong 
Kabupaten  Kaimana,  Kabupaten  Regency,  Teluk  Wondama  Regency  and 
Sorong,  Kabupaten  Teluk  Wondama,  Fakfak Regency were high enough. The 
dan  Kabupaten  Fakfak  cukup  tinggi  percentage  were  86,59;  77,09;  76,01 
dengan besaran masing‐masing 86,59;  and  71,87  percents.  At  province  level, 
77,09;  76,01  dan  71,87  persen.  Di  the  rice  for  poor  program  has  been 
tingkat provinsi sendiri layanan raskin  accessed by 59,06 percents. 
telah dinikmati oleh 59,06 persen.   

Program  peningkatan  The  program  of  improving  income  of 


pendapatan  rumah  tangga  miskin  poor households was divided into three 
dibagi  menjadi  tiga  kluster.  Kluster  clusters.  The  first  cluster  was  the  very 
pertama  adalah  rumah  tangga  yang  poor  and  poor  households  in  the 
sangat miskin dalam pengertian harus  meaning they must be given “ the fishes” 
diberi  “ikan”  melalui  BLT  (Bantuan  through  direct  cash  transfer  that  has 
Langsung  Tunai)  yang  telah  been  conducted  in  2005,  2006  and 
dilaksanakan  pada  tahun  2005,  2006  2008.  The  purpose  of  this  program  in 
dan  2008.  Program  ini  pada  awalnya  the  earlier  to  reduce  the  direct  impact 
untuk  meringankan  dampak  langsung  of  the  increasing  fuel  price  policy  to 
kenaikan  bahan‐bakar  minyak  akibat  poor people. The increasing of fuel price 
melonjaknya  harga  minyak  mentah  di  was two times in 2005, that was in Mei 
pasar  internasional.  Kenaikan  BBM  and October. 
pada tahun 2005 terjadi dua kali yaitu   
pada bulan Mei dan Oktober.    

Kluster  kedua  adalah  rumah  The  second  cluster  was    near  poor. 
tangga  yang  mendekati  miskin  yang  Generally,  these  households  had  a  job 
harus  diberi  “kail”.  Umumnya  rumah  but  did  not  developed  by  constrain  of 
tangga ini telah memiliki usaha namun  modal.  Thus,  the  government  has 
tidak  dapat  berkembang  karena  created  a  program  of  empowering 
keterbatasan  modal.  Untuk  itu  society.  The  program  were 
pemerintah  menyediakan  program  implemented  through  Independent 

 97 
kredit  usaha  agar  rakyat  miskin  PNPM.  The  third  cluster  was 
memiliki  akses  pinjaman  kredit  usaha  empowering  microenterprises  through 
melalui  PNPM  Mandiri.  Kluster  ketiga  KUR or cooperation    
adalah  rumah  tangga  yang   
membutuhkan  bantuan  pemasaran   
hasil  “tangkapan  ikannya.”  Bentuknya   
berupa KUR, atau Koperasi.     

Informasi  penanggulangan  The  information  of  reducing  poverty 


kemiskinan  yang  dapat  diperoleh  dari  program  that  could  be  gained  from 
Susenas  2009  terbatas  pada  BLT,  Susenas  in  2009  just  only  direct  cash 
raskin  dan  kredit  usaha.  Tabel  8.3  transfer,  rice  for  poor,  and  credits  for 
memperlihatkan  rumah  tangga  yang  microenterprises.  Table  8.3  showed  the 
menyatakan  menerima  BLT  pada  households that had received the direct 
tahun 2008/2009 adalah 55,59 persen  cash transfer in 2008/2009 were 55,59 
dengan  persentase  tertinggi  di  percents with the highest percentage in 
Kabupaten  Sorong  Selatan  (93,75  Sorong  selatan  Regency  (93,75 
persen)  dan  terendah  di  Kota  Sorong  percents) and the lowest one in Sorong 
(20,36 persen).   City (20,36 percents).     

Akses  penduduk  terhadap  kredit  The  access  of  the  people  to  credits  for 
usaha  masih  sangat  terbatas.  Kurang  microenterprises  was  very  small.  Less 
dari  lima  persen  rumah  tangga  yang  than  five  percents  of  households  that 
mengakses  kredit  usaha.  Persentase  accessed  this  credits.  The  highest 
tertinggi  di  Kabupaten  Kaimana  yaitu  percentage  was  in  Kaimana  Regency, 
14,72 persen.  that was 14,72 percents. 

Selain informasi penanggulangan  Besides  the  reducing  poverty 


kemiskinan,  perkembangan  akses  informations,  the  developing  access  to 
teknologi komunikasi dan informasi di  information  and  communication 
Papua  Barat  juga  dimonitor.  Pada  technology  in    Papua  Barat  was 
tahun  2009,  delapan  dari  sepuluh  monitored also. In 2009, eight from ten 
rumah  tangga  di  Papua  Barat  telah  households in Papua Barat had cellular 
menguasai  telepon  seluler  telephone  (handphone).  The  highest 
 98 
(handphone).  Persentase  rumah  percentage of households using cellular 
tangga  pengguna  telepon  selular  telephone  was  Sorong  City  and  the 
tertinggi  di  Kota  Sorong  dan  terendah  lowest  one  was  Raja  Ampat  Regency. 
di  Kabupaten  Raja  Ampat.  Hal  ini  This  could  be  make  sense  because  the 
dapat  dimaklumi  karena  pembukaan  cellular  telephone  infrastructures  was 
jaringan  telepon  selular  pertama  di  operated in Sorong for the first time. In 
Papua  Barat  pertama  kali  di  Kota  Raja Ampat Regency, the using cellular 
Sorong.  Sementara di Kabupaten Raja  telephone  was  bounded  in  the  capital 
Ampat  akses  telepon  selular  masih  city  of  regency  and  to  operate  new 
terbatas  di  ibu  kota  kabupaten  dan  network  needed  high  cost  because  of 
pembukaan  jaringan  baru  the  islands  geographically.  The 
membutuhkan  biaya  yang  sangat  information  of  another  technology  and 
besar  karena  kondisi  geografis  communication  such  as  computers  and 
Kabupaten  Raja  Ampat  berupa  internet access could be found in Table 
kepulauan.  Informasi  teknologi  dan  8.4 and Table 8.5.     
komunikasi  lainnya  seperrti 
  
penguasaan  komputer  dan  akses 
 
internet  dapat  dilihat  pada  Tabel  8.4 
dan Tabel 8.5.    

    

 
 
 

 99 
Tabel 8.1 Persentase Rumah Tangga Yang Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Gratis dan Kartu Yang Digunakan Dirinci Menurut Kabupaten/
Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

% Rumah Tangga
yang Mendapat
Kabupaten/Kota Askeskin KKB Kartu Sehat Lainnya Jumlah
Pelayanan
KEsehatan Gratis
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab. Fakfak 24.06 26.22 5.54 62.96 5.27 100.00
Kab. Kaimana 15.47 59.78 2.45 34.29 3.48 100.00
Kab. Teluk Wondama 86.01 17.63 18.07 33.06 31.23 100.00
Kab. Teluk Bintuni 58.33 79.06 11.08 1.49 8.37 100.00
Kab. Manokwari 18.68 46.38 20.17 14.31 19.14 100.00
Kab. Sorong Selatan 62.49 5.85 2.49 79.98 11.68 100.00
Kab. Sorong 16.14 80.64 6.45 0.00 12.91 100.00
Kab. Raja Ampat 57.26 54.54 12.69 29.13 3.64 100.00
Kota Sorong 15.63 44.29 15.72 11.04 28.95 100.00

Provinsi Papua Barat 28.53 43.23 11.36 30.60 14.80 100.00


Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 100 
Tabel 8.2 Persentase Rumah Tangga Yang Membeli Beras Miskin Dirinci Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Harga Beras Per Kg (Rp.) Rata-rata Harga


Kabupaten/Kota Jumlah
Per Kg
< 1.000 1.000 1.001— 2.000 > 2.000
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab. Fakfak 77.29 1.30 11.02 10.40 100.00 1986.33
Kab. Kaimana 14.17 15.75 45.08 25.01 100.00 1981.14
Kab. Teluk Wondama 67.29 0.52 10.55 21.64 100.00 1981.40
Kab. Teluk Bintuni 2.15 17.54 54.49 25.82 100.00 1996.75
Kab. Manokwari 45.99 0.00 30.68 23.33 100.00 1970.83
Kab. Sorong Selatan 30.81 0.85 67.49 0.85 100.00 1882.31
Kab. Sorong 12.17 0.00 45.26 42.57 100.00 2288.86
Kab. Raja Ampat 29.43 0.00 1.65 68.91 100.00 2705.49
Kota Sorong 3.02 0.00 19.37 77.61 100.00 2498.57

Provinsi Papua Barat 31.14 1.90 30.89 36.06 100.00 2172.14


Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 101 
Tabel 8.3 Persentase Rumah Tangga Yang Menerima Kredit Usaha Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2009

Program
% Rumah
Nasional Program Program
Tangga Yang
Kabupaten/Kota Pemberdayaan Pemerintah Program Bank Koperasi/ Perorangan Lainnya
Menerima Kredit
Masyarakat lainnya Yayasan
Usaha
(PNPM) Mandiri

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Kab. Fakfak 3.92 0.93 1.86 1.66 0.86 0.46 0.00

Kab. Kaimana 14.72 13.09 0.78 1.24 0.00 0.00 0.00

Kab. Teluk Wondama 6.41 3.21 3.61 0.40 0.00 0.81 0.00

Kab. Teluk Bintuni 2.96 0.43 0.00 1.14 0.86 0.96 0.00

Kab. Manokwari 3.74 0.77 0.00 0.63 2.02 0.32 0.16

Kab. Sorong Selatan 2.08 2.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Kab. Sorong 1.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.04

Kab. Raja Ampat 3.12 2.07 1.05 0.52 0.00 0.00 0.00

Kota Sorong 6.72 0.20 0.60 5.32 0.80 0.00 0.00

Provinsi Papua Barat 4.45 1.45 0.52 1.64 0.83 0.22 0.19

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 102 
Tabel 8.4 Persentase Rumah Tangga Yang Menguasai Telepon, Hand Phone, Desktop dan Laptop Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat Tahun 2009

Kabupaten/Kota Telepon Rumah Handphone Destop/PC Laptop/notebook

(1) (2) (3) (4) (5)

Kab. Fakfak 8.91 47.98 10.71 7.45

Kab. Kaimana 0.32 15.85 3.03 1.70

Kab. Teluk Wondama 0.00 25.94 1.99 3.18

Kab. Teluk Bintuni 0.86 39.41 5.23 6.10

Kab. Manokwari 15.05 61.25 8.55 12.72

Kab. Sorong Selatan 0.00 8.85 1.04 2.08

Kab. Sorong 1.04 29.16 2.08 2.08

Kab. Raja Ampat 0.00 7.84 0.52 0.52

Kota Sorong 13.91 80.92 7.84 9.30

Provinsi Papua Barat 7.90 47.30 5.90 7.08

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, Susenas Juli 2009

 103