Anda di halaman 1dari 5

Nama : Zefanya Rebecca G

NIM : 4115110025
Kelas : 3 Jalan Tol

1. Pengertian Gagal dan Cacat. Jelaskan dan Uraikan!


 Cacat Konstruksi adalah suatu kondisi penyimpangan atau ketidak sempurnaan hasil
dan/atau proses pekerjaan konstruksi yang masih dalam batas toleransi.
i) Artinya belum atau tidak membahayakan konstruksi secara keseluruhan.
ii) Biasanya dikarenakan kesalahan kecil pekerja oleh karena itu tidak
membahayakan pengguna namun menyebabkan ketidak nyamanan seperti
kebocoran atau ketidak rapihan pengerjaan bangunan.
iii) Tidak memiliki payung hukum atau landasan hukum yang membahas tentang hal
ini.
 Kegagalan konstruksi adalah suatu kondisi penyimpangan, kesalahan dan/atau
kerusakan hasil pekerjaan konstruksi yang dapat mengakibatkan keruntuhan konstruksi.
i) Menurut PP No. 29 Tahun 2000, Kegagalan Konstruksi adalah keadaan hasil
pekerjaan konstruksi yang tidak sesuai dengan spesifikasi pekerjaan sebagaimana
disepakati dalam kontrak kerja konstruksi baik sebagian maupun keseluruhan
sebagai akibat kesalahan pengguna jasa atau penyedia jasa.
ii) Berdasarkan Peraturan tersebut, kegagalan konstruksi dapat disebabkan oleh
penyedia jasa atau pengguna jasa, oleh karena itu perlu adanya peninjauan lebih
lanjut mengenai kegagalan konstruksi.
2. Aspek hukum terkait Gagal dan Cacat terhadap rencana dan konstruksi.
 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
 Pasal 1 ayat 6 mengenai yang dimaksud dengan kegagalan bangunan
 Pasal 25 ayat 1 – 3 mengenai hubungan tanggung jawab antar penyedia dan pengguna jasa
 Pasal 26 ayat 1 – 2 mengenai konsekuensi yang diperoleh bila terjadi kegagalan
bangunan
 Pasal 27 dan Pasal 28
 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi
 Pasal 34 mengenai pendefinisian kegagalan bangunan
 Pasal 31 mengenai pendeskripsian kegagalan konstruksi
3. Contoh – contoh kegagalan pada tahap :
a. Perencanaan
 Runtuhnya Rukan Cendrawasih, Samarinda (Juni 2014)
Dari observasi yang dilakukan penyebab keruntuhan bangunan ini sangatlah
kompleks diantaranya:
Pertama, Kegagalan pondasi. Hal ini didasarkan keterangan bahwa pengerjaan
pengerukan lahan sampai lantai 1 selesai dikerjakan hanya memerlukan waktu
enam bulan. Padahal kondisi tanah eksisting adalah rawa dan merupakan tanah
lempung sehingga memerlukan waktu lama untuk terkonsolidasi jika tanpa
penanganan khusus seperti vertical drain.
Kedua, Kegagalan Struktur Utama, balok- kolom. Kegagalan kolom ini sendiri
diduga karena adanya deviasi antara perencanaan dan pelaksanaan dimana
kontraktor mengurangi dimensi kolom dan jumlah tulangan yang dipakai.
Ketiga, Kesalahan sistem perancah pengecoran lantai. Penyebab awal
keruntuha adalah lantai 3 yang sedang dikerjakan secara tiba- tiba roboh.
Selain karena kolom yang mengalami kegagalan, maka sistem perancah yang
dipakai juga patut dicurigai tidak dirancang dengan benar. Dari dokumentasi
yang ada terlihat bahwa sistem perancah yang digunakan menggunakan
scafolding besi dan beberapa menggunakan kayu dolken. Bekisting dan sistem
perancah seharusnya didesain secara detail baik dalam desain maupun metode
pemasangannya
Keempat, organisasi proyek tidak benar. Proyek rukan ini diketahui tidak
memiliki konsultan perencana. Desain bangunan yang digunakan tidak
diketahui darimana dibuatnya. Pengawasan proyek ini pun hanya dilakukan
oleh mandor dari pemborong.
Kelima, adanya pengalihan pekerjaan secara serampangan.

 Runtuhnya Jembatan Mahakam II, Tenggarong (November 2011)


Berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa jatuhnya
truss jembatan beserta hangernya terjadi akibat kegagalan konstruksi pada alat
sambung kabel penggantung vertikal (clamps and sadle) yang menghubungkan
dengan kabel utama.
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan alat sambung ini mengalami
kegagalan diantaranya:

 Kurang baiknya perawatan jembatan yang menyebabkan konstruksi alat


penggantung kabel vertikal tidak berfungsi dengan baik dan tidak terdeteksi
kemungkinan adanya kerusakan dini.
 Kelelahan (fatigue) pada bahan konstruksi alat penggantung kabel vertikal
akibat kesalahan desain dalam pemilihan bahan atau sering terjadi kelebihan
beban rencana (over load) yang mempercepat proses terjadinya degradasi
kekuatan.
 Kualitas bahan konstruksi alat sambung kabel penggantung ke kabel utama
yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar perencanaan yang ditetapkan.
 Kesalahan prosedur dalam pelaksanaan perawatan konstruksi atau kesalahan
dalam menyusun standar operasional dan perawatan konstruksi yang
direncanakan.
 Kemungkinan terjadinya penyimpangan kaidah teknik sipil dalam perencanaan
karena seharusnya konstruksi alat penyambung harusnya lebih kuat daripada
kabel penggantung yang disambungkan dalam kabel utama.
 Kesalahan desain dalam menentukan jenis bahan/ material untuk alat
penyambung kabel penggantung vertikal yang dibuat dari besi tuang/ cor (cas
iron) atau kesalahan dalam menentukan jenis atau kapasitas kekuatan alat
tersebut.

b. Pelaksanaan / Konstruksi
 Pekerjaan Elevated Jalan Tol Becak Kayu
Diduga, tiang tersebut roboh ketika pekerja tengah melakukan pengecoran di
atas. Tiang pancang tersebut tidak kuat menahan beban kemudian ambruk dan
menimpa pekerja di bawahnya. Pekerja yang di atas pun jatuh.
 Bangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) tol Pasuruan-Probolinggo yang
berada di Pasuruan, ambruk pada Minggu 29 Oktober 2017
Pemasangan badan jalan diantara tiang beton yang akan menahan badan jalan
pada proyek
c. Penggunaan / Perawatan
 Ruas jalan tol Indralaya – Palembang ambles saat di ujicoba pada 17 Juni 2017
Kontur tanah rawa. Konstruksi ruas sepanjang 30 meter belum dilakukan
pembangunan permanen, mengingat kondisi jalan yang berada tepat dibawah
jalur saluran udara tegangan tinggi (Sutet) dan tidak bisa dilakukan proses
vakum untuk menopang tanah agar ketahanannya dapat terjamin. Belum
sepenuhnya padat dan langsung dilakukan pengaspalan. Bagian bawah jalan
masih terdapat udara dan sebagian permukaan air yang belum padat
sepenuhnya

 Ambruknya sebuah lantai mezanin di gedung II Bursa Efek Indonesia, Jakarta


pada 16 Januari 2018
Kementerian PUPR menyimpulkan dugaan sementara yakni beban yang
terkonsentrasi di satu titik selasar menyebabkan salah satu penggantung
terlepas, sehingga memicu penggantung lainnya terlepas. Selain itu, beban
yang ada pada saat peristiwa tidak mampu dipikul oleh tumpuan pada dinding
vertikal, sehingga memicu kegagalan bangunan.
Dugaan kegagalan bangunan gedung pada selasar mezzanine Lobi Gedung
BEI terjadi karena: (a) sling putus, (b) penjepit sling terlepas, (c) baut tidak
kencang, (d) baut patah, (e) penurunan kekuatan sling, baut, atau penjepit
akibat korosi, (f) robeknya pertemuan baja dengan beton kolom dan/atau
balok.
4. Bagaimana hubungan mata kuliah lainnya di teknik sipil dalam membahas fenomena
kegagalan dan cacat ? Berikan contoh dan jelaskan!
o Semua mata kuliah saling bersangkutan. Salah satu mata kuliah yang paling sering
membahas fenomena kegagalan dan cacat konstruksi adalah mata kuliah Pondasi dan
mekanika tanah. Hal ini bisa dilihat dari materi kedua mata kuliah tersebut saling
berdampingan dan merupakan penyebab utama kegagalan maupun cacat konstruksi
dapat terjadi. Biasanya yang mencaji penyebab adalah pondasinya yang kurang
mantap. Baik itu infrastruktur maupun bangunan. Pondasi yang gagal biasanya
disebabkan oleh pengujian ataupun identifikasi tanah yang salah. Mengakibatkan
pemrosesan dan perencanaan pondasi yang salah. Akhirnya timbul kecacatan sebuah
konstruksi yang baru disadari saat konstruksi telah dibangun atau dimulai proses
pengerjaannya. Seperti yang terjadi pada tol Palindra (Palembang-Indralaya) yang
kurang tepat melakukan metoda penyedotan air dari dalam tanah berawa sehingga
mengakibatkan amblas dan rusak parah. Hal tersebut terjadi dikarenakan metode
menyedotan sudah dirasa pantas padahal dilingkungan sekitar lokasi terdapat SUTET
yang harus dihindari. Akhirnya proses penyedotan tidak maksimal dan terjadi
kecacatan konstruksi saat ujicoba dilakukan.
5. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk kasus no 4?
o Rekomendasi solusi yang paling tepat adalah selain menguji tanah di lokasi tinjauan,
harus dipilih metoda yang paling benar demi mengurangi adanya potensi kerusakan
sebelum digunakan pada konstruksi. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah
mengubah rute dengan menggeser sedikit ruas jalan menjadi agak lebih jauh dari
SUTET demi keamanan proses pengerjaan dan hasil konstruksi. Atau bisa dengan
mengubah metoda penyedotan air dari tanah, dan menggantinya dengan mengunakan
pondasi cerucuk yang lebih aman dan tidak memerlukan alat listrik yang dapat
memicu kecelakaan kerja.