Anda di halaman 1dari 2

Kegagalan konstruksi pada Jalan Tol Palembang-Indralaya

Belum sempat dilalui kendaraan roda empat, ruas jalan tol Palembang-Inderalaya melalui
pintu masuk di titik persimpangan menuju pintu keluar dari arah Jakabaring Palembang hendak
menuju ke arah Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir (OI), seketika ambles, Sabtu (17/6/2017) siang
pukul 13.00 WIB. Amblesnya ruas jalan tol Palembang-Inderalaya tersebut diketahui berada di
lokasi Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten OI.

Namun, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, amblesnya ruas jalan tol tersebut
diduga disebabkan faktor struktur tanah rawa timbunan yang diduga belum sepenuhnya
padat dan langsung dilakukan pengaspalan jalan. Sehingga, jalan tol yang dikerjakan oleh
kontraktor PT. Hutama Karya (HK) Tol tersebut sebagian mengalami ambles. 

Seperti diberitakan, tanah yang ambles karena secara kontruksi memang tidak bisa sebaik
konstruksi di zona lain akibat keberadaan kabel SUTET. Konstruksi tidak bisa
menanam vertical drine untuk menjalankan teknologi vakum konsolidasi (memvakum
rawa).  pembangunan jalan tol Palembang – Indralaya pembangunan tidak seluruhnya
menggunakan teknologi atau metode vakum dengan vertical drain atau pvd seperti pada
ruas jalan akses.
“Ambles terjadi di lokasi yang ada di bawah jaringan saluran udara tegangan tinggi PLN. Di
situ memang tidak menggunakan teknologi vakum untuk penimbunan jalannya karena ada
pipa minyak dan gas di bawahnya serta kabel listrik PLN

Jalan Tol Palembang Inderalaya (Palindra) menggunakan teknologi konsolidasi vakum


yang untuk kali pertama diterapkan di Indonesia untuk pembangunan jalan bebas
hambatan. Teknologi ini dipandang sangat tepat untuk mengatasi tanah lunak
berkedalaman 40 meter yang sangat membutuhkan penanganan khusus.

Semula HK memiliki sejumlah pilihan, di antaranya, teknologi tiang pancang, stone column,
dan cakar ayam. Namun setelah dilakukan pemantauan langsung ke Tiongkok yang telah
berhasil membuat ribuan kilometer jalan tol, maka diputuskan menggunakan konsolidasi
vakum.

Di Tiongkok, teknologi vakum ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1960 dan diperbaiki
lagi pada 1980-an dengan membuat teknologi konsolidasi vakum, dan belakangan ada yang
menerapkan teknologi konsolidasi vakum modifikasi.

Dengan teknologi ini maka batas minimal elevasi konstruksi dapat dicapai, yakni kurang
dari 10 cm dalam 10 tahun.

Saat akan divakum tentunya terjadi penurunan elevasi sehingga harus ditambahkan
material lagi, yakni tanah berkualitas, yakni tanah liat. Kemudian, zona vakum ini
dibungkus dengan plastik khusus berkualitas tinggi yang tidak mudah jebol karena kedap
udara dan air.

Lalu untuk lebih memaksimalkan proses, zona vakum ini dipompa selama 3-4 bulan tanpa
henti. Dampaknya, tanah menjadi terkonsolidasi dan tidak lembek lagi