Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH GAGAL DAN

CACAT

NAMA : BADRI PERMANA


KELAS : 3 JALAN TOL 2015
NIM : 4115110003

PENGAJAR : Dr.Ir FAUZRI FAHIMUDIN, MSc

JAKARTA 17 FEBRUARI 2018


GAGAL DAN CACAT KONSTRUKSI DI INDONESIA
Kegagalan Konstruksi adalah hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi
pekerjaan sebagaimana disepakati dalam kontrak baik sebagian maupun
keseluruhan sebagai akibat kesalahan pengguna atau penyedia.
Pada dasarnya, kegagalan bangunan dari sisi sisi faktor penyebabnya
dapatlah dikelompokan menjadi : ulah manusia, alam atau lingkungan, kombinasi
ulah manusia dan lingkungan/alam. Oleh sebab itu tinjauannya akan meliputi :
planning,desain arsitektur, enjiniring, ekonomi, dan lingkungan.
Selama berkecimpung di dunia proyek konstruksi sebagai praktisi,
ditemukan beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh kontraktor proyek
konstruksi yang berujung pada kegagalan proyek berupa keterlambatan, kerugian
dan mutu yang jelek.  Dimana hampir semuanya bersifat kronis atau telah lama
terjadi secara berulang.
Sebenarnya ada banyak kesalahan yang sering dilakukan, namun
setidaknya ada 10 kesalahan yang paling sering dilakukan oleh Kontraktor yang
bersifat “kronis” dan fatal. Kesalahan tersebut sepertinya tidak disadari dan belum
dapat diatasi oleh kontraktor sehingga menyebabkan kontraktor tersebut selalu
mengalami kesulitan  dan kegagalan dalam melaksanakan proyek. Tentunya
kondisi ini mesti dikoreksi dalam rangka pelaksanaan proyek jadi lebih baik.

 
Kegagalan Konstruksi yang pernah terjadi di Indonesia

1. Menara Saidah
Menara Saidah adalah nama
sebuah gedung yang berfungsi sebagai
pusat perkantoran dan terletak di Jalan
Gatot Subroto, Jakarta, Indonesia.
Sebelumnya nama gedung ini adalah
Gedung Grancindo dan didirikan lama
sebelum kemudian direnovasi besar
besaran menjadi Menara Saidah. Nama
yang diberikan pada gedung ini diambil
dari nama pemiliknya, Saidah Abu Bakar
Ibrahim. Gedung ini diresmikan pada
tahun 2001.
Pada tahun 2007 gedung ini resmi
ditutup untuk umum karena pondasi
gedung tidak tegak berdiri dan miring
beberapa derajat serta dianggap membahayakan keselamatan penghuni gedung.
Konstruksinya dianggap bermasalah sejak awal, namun dari pihak pemilik
maupun Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) tidak ada yang
bersedia memberikan penjelasan. Rahmat, salah satu petugas keamanan yang
pernah bekerja selama delapan tahun di gedung tersebut menuturkan pada tahun
2007 pemutusan hubungan kerja dilakukan secara sepihak, dan hingga hari ini
ratusan karyawan belum memperoleh pesangon.
Karena lokasinya yang strategis banyak penawaran masuk, termasuk dari
Universitas Satyagama pada tahun 2011. Keterangan yang diberikan oleh salah
satu petugas keamanan, Rahmat, pindah tangan pemilik tidak terjadi karena
pemilik awal tidak bersedia menunjukkan gambar struktur gedung.
Menara Saidah pada tahun 2012 oleh pemilik kemudian diserahkan dalam
pengawasan Polsek Cawang, Jakarta Timur dimana setiap pagi polisi dari Cawang
datang, dan menandatangan daftar. Masalah keamanan, termasuk kebakaran
sepenuhnya tanggung jawab polisi.
Pada tahun 2012 gedung dalam keadaan tidak terawat karena jalan akses
masuk dan keluar gedung sudah banyak yang pecah, dalam keadaan gelap, dan
hanya taman depannya yang masih dibersihkan menyewa jasa petugas kebersihan
jalan raya. Ketidak jelasan status gedung ini mengakibatkan masyarakat yang
tinggal disekitar khawatir dan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.Lurah
setempat, Shalih Nopiansyar, mengatakan permintaan bertemu dengan pemilik
terkait kelangsungan bangunan tidak berhasil, begitu pula pihak yang tertarik
membeli gedung yang selalu terhenti di tengah jalan dan tak ada kabar lagi.
Pemda setempatpun belum menerima laporan mengenai rencana terkait bangunan
Menara Saidah.
Dua pengamat pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna dan Nirwono Joga
menyatakan bahwa Pemerintah (Dinas P2B) dan pemilik harus bertanggung jawab
terhadap pembiaran gedung.
Nirwono menyatakan miringnya Menara Saidah dapat dikategorikan
sebagai gagal bangunan dimana terjadinya kemiringan atau masalah sedikit sudah
dikategorikan gagal bangunan karena ada keteledoran.
Selama ini kecelakaan karena faktor struktur gedung tidak pernah diproses
hukum sampai ke pengadilan karenanya pemilik gedung juga tidak terlalu
mengindahkan syarat-syarat pendirian gedung sesuai dengan aturan. Walaupun
dilakukan audit bangunan, apabila ada korban pun kasus selesai setelah
memberikan uang kerohiman, dan tidak diproses hukum. Sementara Yayat
menyatakan kasus Menara Saidah sebagai pelajaran dalam proyek pembangunan
gedung lainnya dalam melakukan pengawasan yang baik, termasuk juga
konstruksinya.
Pihak pengelola Gedung Menara Saidah, Dami Okta (Manajer Umum) PT
Gamlindo Nusa, membantah pemberitaan Tempo pada tahun 2013 bahwa gedung
itu miring. Menurut mereka, gedung itu sengaja dikosongkan sampai masa sewa
penyewa habis dan skema penyewaan pada calon penyewa berikutnya adalah satu
gedung secara keseluruhan.
2. Jembatan Siak III Pekanbaru
Komitmen Komisi
Pemberantasan Korupsi
(KPK) untuk ''menghabisi''
para penyedot uang rakyat
mulai dipertanyakan.
Pasalnya, kasus gagal
konstruksi Jembatan Siak
III, Pekanbaru, Riau yang
sangat merugikan warga di kota ini, belum juga ditangani KPK.
''Dengan adanya gugatan dari Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi
Kontraktor Konstruksi Indonesia (AKSI) dimana saksi ahli sudah jelas
menyatakan proyek itu gagal konstruksi dan diduga juga menggunakan material
yang tidak sesuai dengan perencanaan, sudah menjadi dasar bagi KPK untuk
melakukan proses hukum atau menangkap pihak-pihak terkait'' ujar Direktur
Badan Advokasi Publik, M Rawa El Amady kepada GoRiau.com, Jumat
(14/2/2014).
Menurutnya, dugaan korupsi proyek strategis dalam kehidupan masyarakat
tersebut, harus disikapi dengan proses hukum terhadap pihak-pihak yang
bertanggungjawab sebagai upaya penyelamatan uang negara sekaligus ''warning''
bagi pejabat dalam melaksanakan kegiatan publik.
''Kegagalan proyek ini juga menjadi peringatan bagi instansi terkait ke
depan, saat membangun jembatan dan gedung-gedung tinggi lainnya di Riau.
Selain merugikan negara juga membahayakan masyarakat,'' tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya Jembatan Siak III Pekanbaru yang
merupakan salah satu akses vital di Pekanbaru. Jembatan ini harus segera diganti
karena ternyata gagal konstruksi.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Kontraktor Konstruksi
Indonesia (AKSI) Syakirman menyebutkan, dalam persidangan di Pengadilan
Negeri (PN) Pekanbaru, dua saksi ahli dari Kadin Daerah Riau Prof Sugeng
Wiyono dan Prof Iswandi Irwan dari ITB telah mengakui Jembatan Siak III
memang gagal konstruksi.
''Berdasarkan Pasal 43 Undang-undang Jasa Konstruksi No.18 tahun 1999,
kegagalan konstruksi atau sebuah bangunan bukan diperbaiki, tetapi harus diganti.
Perbaiki Jembatan Siak III yang sekarang itu adalah akal-akalan Kadis PU.
Karena kesaksian kedua saksi ahli itu sudah memenuhi unsur bagi masyarakat
yang ingin melaporkan Kadis PU SF Harianto,'' tegas Syakirman usai menghadiri
persidangan di PN Pekanbaru, Kamis (13/2/2014)
Dia menambahkan, dalam Undang-undang Jasa Konstruksi itu juga
ditegaskan apabila terjadi kegagalan produksi, kesalahan dari perencanaan
didenda 5 persen dari kontrak perencanaannya dihukum penjara 5 tahun. Apabila
kesalahan berada di kontraktor perencana didenda 5 persen dihukum 5 tahun
penjara. Apabila terjadi dari pengawasan didenda 7 persen dan dipenjara 5 tahun
penjara.
Ketua DPN AKSI ini menyebutkan, undang-undang itu baku dan tidak ada
penafsiran lain. Artinya, tidak ada terjemahan lain, karena tidak ada dikatakan
undang-undang ini selanjutnya diatur peraturan ini.
''Kalau terjadi kesalahan konstruksi, salah dari bagian yang tiga itu, bagi
tim PPATK, KPA dan penerima barang, seluruh sertifikatnya harus dicabut
dengan waktu yang tidak ditentukan,'' ucapnya.
Syakirman menilai kegagalan pembangunan Jembatan Siak III
kebanyakan terjadi pada pelaksanaan. Artinya,  kontraktor pelaksana dan
kontraktor pengawas merupakan pihak yang sangat bertanggung jawab atas
kegagalan konstruksi Jembatan Siak III tersebut. Sehingga kedua kontraktor ini
mesti didenda sesuai Undang-undang Jasa Konstruksi.
3. Rukan Cendrawasih
Bangunan rumah kantor (Rukan) tiga lantai yang terletak di kompleks
Cendrawasih Permai, Jl. Ahmad Yani, Kecamatan Sungai Pinang Kota Samarinda
Kalimantan Timur runtuh pada tanggal 3 Juni 2014 saat masih dalam proses
pengerjaan yang menyebabkan 12 pekerjanya tewas. Bangunan ini memiliki lebar
25 m dan panjang 100 m dengan biaya konstruksi senilai kurang lebih 15 Milyar
rupiah.

Keruntuhan Bangunan

Dari observasi yang dilakukan penyebab keruntuhan bangunan ini sangatlah


kompleks diantaranya:
(1) Pertama, Kegagalan pondasi. Hal ini didasarkan keterangan bahwa
pengerjaan pengerukan lahan sampai lantai 1 selesai dikerjakan hanya
memerlukan waktu enam bulan. Padahal kondisi tanah eksisting adalah rawa
dan merupakan tanah lempung sehingga memerlukan waktu lama untuk
terkonsolidasi jika tanpa penanganan khusus seperti vertical drain.
(2) Kedua, Kegagalan Struktur Utama. Struktur utama yang dimaksud adalah
balok- kolom. Hal ini didasarkan fakta bahwa pekerja sempat diminta untuk
mengecek kolom yang retak di lantai 2. Meskipun tidak ada data detail
mengenai dimensi dan lokasi keretakan akan tetapi hal ini seharusnya telah
menjadi indikasi awal bahwa ada masalah dengan struktur yang sedang
dibangun. Apalagi apabila didasarkan pada filosofi desain struktur yang benar
yaitu “strong column- weak beam” yang artinya kolom tidak boleh
mengalami kegagalan struktur terlebih dahulu daripada balok. Kegagalan
kolom ini sendiri diduga karena adanya deviasi antara perencanaan dan
pelaksanaan dimana kontraktor mengurangi dimensi kolom dan jumlah
tulangan yang dipakai.
(3) Ketiga, Kesalahan sistem perancah pengecoran lantai. Penyebab awal
keruntuha adalah lantai 3 yang sedang dikerjakan secara tiba- tiba roboh.
Selain karena kolom yang mengalami kegagalan, maka sistem perancah yang
dipakai juga patut dicurigai tidak dirancang dengan benar. Dari dokumentasi
yang ada terlihat bahwa sistem perancah yang digunakan menggunakan
scafolding besi dan beberapa menggunakan kayu dolken. Bekisting dan
sistem perancah seharusnya didesain secara detail baik dalam desain maupun
metode pemasangannya. Inspeksi harus dilakukan secara ketat termasuk
pengecekan terhadap kekuatan beton yang telah dicor yang akan menopang
perancah tersebut.

Perancah dolken patah

(4) Keempat, organisasi proyek tidak benar. Proyek rukan ini diketahui tidak
memiliki konsultan perencana. Desain bangunan yang digunakan tidak
diketahui darimana dibuatnya. Pengawasan proyek ini pun hanya dilakukan
oleh mandor dari pemborong.
(5) Kelima, adanya pengalihan pekerjaan secara serampangan. Kontraktor proyek
rukan ini semula PT. Firma Abadi yang beralamat di Surabaya menyerahkan
sepenuhnya pekerjaan kepada perseorangan/ individu yang merupakan
pemborong berinisial NI yang beralamat di Samarinda yang kemudian
menyerahkan lagi kepada mandor yang berinisial S. Pengalihan pekerjaan ini
meliputi keseluruhan pekerjaan dan sama sekali tidak ada pengawasan dari
Kontraktor utama.
4. Jembatan Mahakam II
Jembatan yang merupakan tipe Gantung (Suspension Bridge) ini memiliki
panjang total 710 m. Keruntuhan terjadi pada tanggal 26 November 2011 sekitar
sepuluh tahun setelah diresmikan.

Jembatan Tenggarong runtuh


Identifikasi penyebab keruntuhan ini merupakan hasil investigasi yang
dilakukan oleh tim LPPM UGM pada tanggal 27 November 2011 (sehari setelah
kejadian) yang laporan lengkapnya dapat anda unduh disini. Berdasarkan fakta
yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa jatuhnya truss jembatan beserta
hangernya terjadi akibat kegagalan konstruksi pada alat sambung kabel
penggantung vertikal (clamps and sadle) yang menghubungkan dengan kabel

uama.
Clamps and Sadle
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan alat sambung ini mengalami
kegagalan diantaranya:

 Kurang baiknya perawatan jembatan yang menyebabkan konstruksi alat


penggantung kabel vertikal tidak berfungsi dengan baik dan tidak
terdeteksi kemungkinan adanya kerusakan dini.
 Kelelahan (fatigue) pada bahan konstruksi alat penggantung kabel vertikal
akibat kesalahan desain dalam pemilihan bahan atau sering terjadi
kelebihan beban rencana (over load) yang mempercepat proses terjadinya
degradasi kekuatan.
 Kualitas bahan konstruksi alat sambung kabel penggantung ke kabel
utama yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar perencanaan yang
ditetapkan.
 Kesalahan prosedur dalam pelaksanaan perawatan konstruksi atau
kesalahan dalam menyusun standar operasional dan perawatan konstruksi
yang direncanakan.
 Kemungkinan terjadinya penyimpangan kaidah teknik sipil dalam
perencanaan karena seharusnya konstruksi alat penyambung harusnya
lebih kuat daripada kabel penggantung yang disambungkan dalam kabel
utama.
 Kesalahan desain dalam menentukan jenis bahan/ material untuk alat
penyambung kabel penggantung vertikal yang dibuat dari besi tuang/ cor
(cas iron) atau kesalahan dalam menentukan jenis atau kapasitas kekuatan
alat tersebut.

5. Jembatan Penghubung Gedung Perpustakaan Daerah DKI


Bangunan jembatan penghubung ini menghubungkan gedung Badan
Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Keruntuhan terjadi pada.
tanggal 3 November 2014
Jembatan penghubung runtuh
Keruntuhan terjadi diakibatkan sistem perancah yang mengalami
kegagalan. Scafolding yang digunakan merupakan scafolding besi dengan kondisi
yang sudah tidak layak pakai:

 Kondisi scafolding banyak yang sudah keropos dan ada beberapa yang
sudah bolong.
 Pemasangan scafolding tidak dilengkapi dengan bracing, sehingga
scafolding tidak stabil.
 Adanya perlemahan scafolding yang tidak dihitung seperti adanya jalan

akses untuk kendaraan dibawah struktur yang sedang dibangun. Scafolding bengkok

Dari uraian tersebut diatas, kiranya akan dapat ditarik suatu kesimpulan, yaitu :
 Kegagalan bangunan disebabkan oleh faktor manusia, alam, kombinasi
keduanya.
 Kegagalan bangunan dapat ditinjau dari multi disiplin ilmu.
Dari Kesimpulan diatas kiranya dapat diajukan saran saran sebagai berikut :
 Masyarakat umum perlu diikut sertakan secara aktif dalam proses
perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan pembangunan
bangunan.Diperlukan regulasi yang bermuatan perlunya pemeriksaan
erkala bangunan dan utilitasnya, serta diaktifkan adanya building
inspectors.
Keppres No.80/2003 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Keputusan Menteri Keuangan No.470/KMK.01/1994 Tentang Penghapusan dan


Pemanfaatan BM / KN.

Vijay, Successfull Project management, McGrawHill Newyork 2000.

Stanley Goldhaber, CONSTRUCTION MANAGEMENT Principles and


Practices,John Wiley and Son Newyork 1977.

James Adrian, CM : The Construction Management Process,Reston Virginia 1981

Derniere Ame.http://jiwapamungkas.blogspot.com/2015/01/kasus-kegagalan-
konstruksi-di-indonesia.html diakses 2 Maret 2015

Manajemen Proyek Indonesia. http://manajemenproyekindonesia.com/?p=979


diakses 2 Maret 2015

Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Menara_Saidah diakses 2 Maret 2015

GoRiau.com.http://www.goriau.com/berita/riau/jembatan-siak-iii-gagal-
konstruksi-kpk-seharusnya-tangkap-kadis-pu-riau.html diakses 2 Maret 2015