Anda di halaman 1dari 4

TUGAS MATA KULIAH GAGAL DAN CACAT

NAMA : BADRI PERMANA


KELAS : 3 JALAN TOL 2015
NIM : 4115110003

PENGAJAR : Dr.Ir FAUZRI FAHIMUDIN, MSc

JAKARTA 28 FEBRUARI 2018


KEGAGALAN STRUKTUR JEMBATAN KARTANEGARA

Jembatan Kutai Kartanegara adalah salah satu Jembatan yang dirancang dengan menggunakan
cablesuspension sebagai konstruksi utamanya yang berfungsi sebagai penahan sekaligus penyalur
tegangantegangan yang terjadi yang diakibatkan beban-beban statis ataupun juga beban-beban
dinamis. Dimana dalam perhitungan konstruksi jembatan biasanya diistilahkan dengan Beban
Mati (Dead Load) dan beban hidup (live Load) Selain kedua istilah beban tersebut masih ada
istilah lain untuk beban-beban yang biasa terjadi dan harus diperhitungkan antara lain beban
angin (Wind Load) dan beban yang disebabkan oleh gempa (Seismic Load) serta masih adalagi
tetapi jarang diperhitungkan yaitu Resonansi Load yang disebabkan pengaruh dari suatu bunyi
yang cukuup keras dan bisa menimbulkan getaran pada kontruksi jembatan, terjadi pada tempat-
tempat tertentu yang sering dilanda angin kencangatau badai. Dalam analisis perhitungannya
bebanbeban tersebut harus dikombinasikan antara satu dengan yang lain berdasarkan aturan-
aturan yang sudah baku dan telah ditetapkan sebagai peraturan-peraturan yang ahrus diikuti dan
dilaksanakan. Adapun yang dimaksud beban mati di atas adlah semua bagian komponen atau
material konstruksi yang bersifat tetap dan terus menerus membebani keberadaan konstruksi
tersebut. Untuk beban hidup umumnya merupakan beban segala macam kandaraan yang melintas
dan mempengruhi konstruksi tersebut sewaktu pada saat berada diatasnya. Sedangkan beban
angin dan beban gempa sifatnya temporary tetapi tetap harus ada dalam analysisnya. Mengamati
dan mencermati dari insiden kagagalan konstruksi pada jembatan kutai Kartanegara yang terjadi
pada hari sabtu tiga hari yang lalu berdasarkan keterangan saksi-saksi pada saat terjadinya
insiden kegagalan konstruksi, secara teoritis ada dua hal yang dapat menyebabkan hal tersebut 1.
Pertama, akibat adanya pengruh maitenance atau pemeliharaan (saat insiden terjadi
maitenence/pemeliharaan sedang berlangsung). 2. kedua adanya peningkatan beban hidup yang
bisa menjadikan terjadinya kelebihan beban (over load). Untuk alasan pertama kemungkinannya
sangat kecil karena umumnya maintenance atau pemeliharaan dilakukan dengan tidak mengganti
atau merubah konstruksi utama jembatan. Bagaimana dengan kemungkinan kedua hal ini terjadi
secara tidak langsung akibat dari adanya maintence/pemeliharaan dikarenakan adanya buka tutup
salah satu sisi jalan pada jembatan sehingga menyebabkan perlambatan dan bahkan bisa
kemacetan kendaraan yang berpengaruh pada peningkatan beban pada salah satu sisi yang lain
hal ini bisa membuat lantai jembatan miring tegak lurus sisi arah jalan pada jembatan ini sesuai
dengan keterangan salah seorang saksi yang melihat terjadinya kemiringan sisi jembatan pada saat
insiden. Mungkin hal ini penyebabnya? Jika dilihat dari kontruksinya yang terbagi menjadi
beberapa macam kontruksi yaitu Kontruksi utamanya, pertama adalah pondasi atau pilar, pada
jembatan Kartanegara ini meskipun ada sedikit cacat, tetapi tetap kokoh berdiri, dalam hal ini
tentunya bukan menjadi penyebab kegagalan kontruksi pada jembatan Kartanegara ini. Kedua
block beton penahan angkur cable tetap ada serta masih kokoh dan demikian pula cable
suspensionya tetap menempel serta tergantung pada pilar utama, sekalipun ada informasi block
beton sedikit ada keretakan dan pergeseran tetapi hal itu sudah terjadi beberapa waktu
sebelumnya, indikasi itu bisa dicermati pernah adanya pelebaran pada perletakan girder salah satu
sisi yang terletak di Tenggarongnya.

Kalaupun hal tersebut terjadi karena kegagalan end blok ternyata konstruksi rangka tetap tergantung pada
tempatnya dan tidak secepat hitungan detik jatuhnya bersamaan ke sungai serta adanya bekas dari
pergeseran tersebut. Dalam suatu kesempatan sertfikasi konstruksi pada 2004 di kota Samarinda, salah
satu mentornya yang cukup mengetahui dalam perancangan jembatan tersebut menyebutkan secara teknis
bahwa untuk sistem pembagian distribusi pembebanan pada jembatan kutai Kartanegara, terbagi 2, yaitu:
rangka baja dengan bentang 270 meter tersebut merupakan konstruksi penahan untuk semua beban mati
yang disalurkan ke pilar utama dan selanjutnya ke pondasi. Dan cable suspension utama sebagai penahan
konstruksi semua beban hidup untuk disalurkanke pilar dan seterusnya ke pondasi. Pada saat sebelum
terjadinya keruntuhan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang melintas dalam ini merupakan beban
hidup. Tentunya akan diterima calbe suspension-nya sebagai penyalur utama tegangan yang timbul dari
akibat hal itu. Yang sangat menarik kiranya untuk dicermati adalah semua beban hidup dari kendaraan
yang akan disalurkan ke cable suspension harus melewati kontruksi yang biasa disebut tie-rod/hanger atau
penggantung. Titik terlemah pada konstuksi tie-rod/hanger ini terletak pada derat bautnya dan pada
clampnya. Jika kita mengamati keruntuhan dilokasi insiden, hampir-hampir tidak tampak dari sisa-sia
kontruksi tie-rod/hanger atupun penggantung tersebut, jika disebabkan derat bautnya dapat dipastikan
sekurangkurangnya masih tetap tergantung dan berada pada tempat terkoneksinya di cable-suspension,
sementara clamp-clampnya juga tidak tersisa. Sangatlah sayang jika hal ini dikesampingkan begitu saja,
terutama pada kekuatan material clamp-nya yang pantas untuk dicurigai sebagai penyebabnya. Dugaan
lain, Kolapsnya jembatan yang sedang dalam tahap perawatan ini, menurut mas Eko dalam tulisannya
bahwa, “pertama tali yang putus dari tengah kemudian secara beruntun tali-tali di sisi lainnya mengikuti
putus dan runtuh”. Jembatan sebelum kolaps Jembatan setelah kolaps: tampak kabel utama masih utuh
Dasn pernyataan ini juga dibuktikan oleh foto-foto yang bisa didapati di google, kalau kabel vertikal nya
memang terputus dari kabel utama. Dalam arti, dugaan sementara bahwa kegagalan konstruksinya ada
pada clamp cable hanger nyayang tidak lagi sanggup menahan perubahan beban. Perubahan beban bisa
disebabkan: saat adanya perawatan yang disebut, pengalihan beban pada sisi tertentu jembatan
membuatnya tidak imbang (terpusat), sementara, kondisi tekanan angin mungkin menambah tekanan pada
kabel, dan dalam kondisi itu, ada baut yang aus, lalu putus. kondisi kabel utama dan vertikal Disisi lain,
ada yang menduga bahwa tiang utama penyangga bergeser dari pondasi, pemikiran ini tentu juga
memungkinkan kearah kabel vertikal tertarik dan kemudian putus.