Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR FARMASI

KERAPATAN DAN BOBOT JENIS

GOL/KLP : SENIN / A1-5

Alviyani Mahdalina Adzani 202210101122

Izzazahra Tijani Fathya Ayyaru 202210101123

Adilah Zahra Mujahidah 202210101125

Talitha Nirmala Arsani 202210101128

Aimmatur Rodhiyah Basyar 202210101130

BAGIAN KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER

2020
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR FARMASI

GOL/KEL. : SENIN / A1-5

TGL. PRAKTIKUM : 23 NOVEMBER 2020

MATERI PERCOBAAN : KERAPATAN DAN BOBOT JENIS

NAMA DOSEN : Dr. apt. Ayik Rosita Puspaningtyas, S.Farm.,M.Farm.

1. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa dapat menentukan kerapatan dan bobot jenis.

2. PRINSIP / TEORI DASAR


Suatu zat kimia dapat diidentifikasi berdasarkan sifat-sifat khas dari zat tersebut.
Sifat-sifat dari zat kimia dibagi dalam beberapa bagian yang luas, salah satunya
yaitu sifat intensif dan sifat ekstensif. Sifat ekstensif merupakan sifat yang
bergantung pada ukuran dari sampel yang sedang diselidiki. Sifat intensif adalah
sifat yang tidak bergantung pada ukuran sampel. Kerapatan dan berat jenis
merupakan contoh dari sifat intensif. Sehingga kerapatan dan bobot jenis tidak
bergantung pada ukuran sampel.

a. Kerapatan/Densitas
Kerapatan dapat didefinisikan sebagai ukuran massa per limit volume suatu zat
pada temperatur tertentu. Jika massa jenis suatu zat semakin tinggi, maka massa
setiap volumenya juga semakin tinggi. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika
yang paling sederhana. Selain itu sifat ini juga merupakan salah satu sifat fisika
yang paling definitif sehingga dapat digunakan untuk menentukan kemurnian suatu
zat. Secara umum kerapatan menjadi bagian pengujian bagi kemurnian zat.
Hubungan antara massa dan volume tidak hanya menunjukkan ukuran dan bobot
molekul suatu komponen, tetapi juga gaya-gaya yang mempengaruhi sifat
karakteristik “pemadatan” (packing characteristycs). Dalam sistem metrik
kerapatan diukur dalam gram per milliliter (untuk cairan) atau gram per centimeter
kubik.
Kenaikan suhu biasanya akan mengakibatkan kerapatan suatu zat menurun, tetapi
dalam bidang Teknik zat padat dan zat cair dianggap tidak termampatkan sehingga
kerapatannya dianggap tidak dipengaruhi suhu dan tekanan yang tidak begitu besar.
Kerapatan merupakan turunan dari besaran yang menyangkut satuan massa dan
volume. Biasanya dibatasi oleh massa persatuan volume pada temepratur tertentu
yang dilambangkan dengan 𝜌. Dapat dirumuskan dengan :
m
𝜌=
𝑣
Catatan :
𝜌 = massa jenis zat (kg/m3)
𝑚 = massa zat (kg)
𝑣 = volume zat (m3)

Apabila kerapatan suatu benda lebih besar daripada kerapatan air maka benda
tersebut akan tenggelam di dalam air. Apabila kerapatan suatu benda bernilai sama
dengan kerapatan air maka benda tersebut akan melayang di dalam air. Dan
apabila kerapatan suatu benda lebih kecil daripada kerapatan air maka benda
tersebut akan mengapung di permukaan air.

b. Bobot Jenis
Bobot jenis merupakan konstanta atau dapat juga disebut sebagai tetapan bahan
yang bergantung pada suhu untuk menjadi padat, cair, dan bentuk gas yang
homogen. Bobot jenis dapat didefinisikan sebagai ratio kerapatan suatu zat terhadap
air pada 4° C (dt 4). Karena dalam sistem metrik kerapatan air pada 4° C sama
dengan 1 gram/cc, maka nilai numerik kerapatan dan bobot jenis air dalam system
ini adalah sama. Dalam hal ini sifat unik tentang karakter air digunakan sebagai
bagian dalam mendefinisikan bobot jenis yang berdasarkan pada standarisasi
karakter kimia fisika suatu zat. Di samping itu dikenal definisi bobot jenis yang lain,
yaitu ratio kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air pada t yang sama (dtt ).
Bobot jenis berbeda dengan kerapatan, bobot jenis merupakan bilangan murni
tanpa dimensi. Bobot jenis ditentukan dengan piknometer, aerometer, timbangan
hidrostatik (timbangan Mohr Westphal) dan cara manometri. Kebanyakan zat padat
dan zat cair mengembang sedikit jika dipanaskan dan menyusut sedikit jika
dipengaruhi penambahan tekanan eksternal. Perubahan volume ini relatife kecil,
sehingga dapat disimpulkan bahwa kerapatan kebanyakan zat padat dan zat cair
hampir tidak bergantung pada temperatur dan tekanan. Begitupula sebaliknya,
kerapatan gas sangat bergantung pada temperatur dan tekanan.

3. ALAT YANG DIPAKAI


 Piknometer
 Timbangan
 Beaker glass
 Pemberat logam
 Gelas ukur

4. BAHAN YANG DIPAKAI


 Alkohol
 Aseton
 Kloroform
 Aquades
 Air es
 Parafin/lilin

5. CARA KERJA
5.1 Penentuan Kerapatan

Penentuan kerapatan dilakukan dengan menggunakan alat piknometer. Tahap


pertama yang dilakukan adalah penentuan volume piknometer pada suhu
percobaan :

Menimbang piknometer yang bersih dan kering dengan seksama

Mengisi piknometer dengan air hingga penuh, lalu direndam dalam air es,
sehingga suhunva kira-kira 2o C di bawah suhu percobaan.

Piknometer ditutup, pipa kapilernya dibiarkan terbuka dan suhu dibiarkan


naik sampai suhu percobaan, lalu pipa kapiler piknometer ditutup.

Membiarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu percobaan, lalu


air yang menempel diusap dan ditimbang dengan saksama
Cara perhitungan :

b
air

5.1.1 Penentuan Kerapatan Zat Cair X (etanol, aseton, kloroform)

Melakukan penimbangan zat X dengan menggunakan piknometer yang sama


seperti pada percobaan A, misal bobot zat = c gram = (bobot piknometer +
zat) - (bobot piknometer kosong)

kerapatan zat cair X = c gram


Vpikno ml
= c gram/ml
Vpikno
5.1.2 Menentuan Kerapatan Zat Padat yang Kerapatannya Lebih Besar dari
pada Air

Melakukan penimbangan zat padat yang akan ditentukan


kerapatannya, misalnya = x gram.

Menggunakan peluru besi sebagai contoh sampel

Memasukkan zat padat tersebut ke dalam piknometer yang sama, lalu


diisi penuh dengan zat cair.

Melakukan penimbangan dengan memperhatikan suhu percobaan


sama seperti suhu percobaan 1A. Misalkan bobotnva = d gram.
Perhitungan :
Bobot piknometer + zat padat + air = d gram
Bobot zat padat = x gram
Bobot piknometer + air = (d - x ) gram
Bobot air = (d – x) – a gram
Bobot air yang ditumpahkan oleh adanya zat padat
= (b- (d - x - a )) gram atau
= (b - d + x + a) gram,

Volume air yang ditumpahkan = volume zat padat


(b−d+x+a)gram
=  air gram/ml
atau
(b−d+x+a)
= ml
 air

x gram
Kerapatan peluru = (b−d+x+a)gram
 air gram/ml
x .  air
Ρ zat padat = gram/ml
(b−d+x+a)

Catatan : zat cair yang digunakan harus zat cair yang tidak dapat
melarutkan zat yang ditentukan kerapatannya

5.1.3 Penentuan Kerapatan Zat Padat yang Kerapatannya lebih kecil dari
pada Air

Melakukan seperti cara C dengan mengkaitkan zat (contoh sample : lilin) tersebut
dengan suatu pemberat yang kerapatan dan massanya sudah diketahui. Dalam
percobaan ini contoh pemberat adalah peluru besi dengan kerapatan yang sudah
diketahui (dilihat pada percobaan d) dan massa tertentu (z gram) sedangkan zat
padat yang diuji kerapatannya adalah lilin, dengan massa tertentu (y gram).Bobot
zat padat campuran x = (y + z) gram
Perhitungan :
Bobot piknometer + zat padat + air =e gram

Bobot zat padat (i.e.besi+lilin) =x gram

Bobot piknometer + air = ( e – x) gram

Bobot air = (e – x) – a) gram


Bobot air yang ditumpahkan oleh zat padat = (b- (e - x - a )) gram
Volume air yang ditumpahkan = volume zat
padat (campuran)
(b−(e−x−a)gram
= atau
 air gram/ml
(b−(e−x−a)
= ml
 air

V air yang ditumpahkan zat y (lilin) =V zat padat-Vzat z (peluru besi)


(b−(e−x−a) bobot z
= ml  ml
 air  air

= V zat y
y gram
Kerapatan zat padat (ρ zat y) = V zat y ml

5.2 Penetuan bobot jenis

Melakukan dengan pengolahan data yang ada dalam standard

Menentukan bobot jenis (dtt) etanol,aseton, dan kloroform berdasarkan


definisi
6. HASIL PENGAMATAN
HASIL PERCOBAAN
Kerapatan dan Bobot jenis

Suhu Percobaan 2o C

Suhu ruangan 20o C

1. Bobot piknometer kosong = 33,9238 gram

2. Bobot piknometer + air = 58,5683 gram

3. Bobot piknometer + etanol = 53,7660 gram

4. Bobot piknometer + aseton = 53,2250 gram

5. Bobot piknometer + kloroform = 70,0750 gram

6. Bobot zat padat (peluru) = 1,0383 gram

7. Bobot piknometer + peluru + air = 59,4713 gram

8. Bobot piknometer + lilin + peluru + air = 59,5154 gram

9. Bobot lilin = 0,0966 gram

10. Lihat dalam tabel

a. Kerapatan air pada suhu 20oc = 0,998 gram ml -1

b. Kerapatan air pada suhu 4o C = 1 gram ml -1

c. Bobot jenis etanol pada suhu 20o C (d 2020) = 0,805 gram ml -1


o 20
d. Bobot jenis aseton pada suhu 20 c (d 20) = 0,7831 gram ml -1
o 20
e. Bobot jenis kloroform pada suhu 20 c (d 20) = 1,4668 gram ml -1

Perhitungan :

1. Perhitungan volume piknometer


Bobot piknometer + air = 58,5683 gram
Bobot piknometer kosong = 33,9238 gram
Bobot air = 24,6445 gram
Volume piknometer = volume air
bobot air 24,6445 gram
= = 0.998 gram/ml = 24,6938 ml
 air

2. Perhitungan kerapatan zat cair


a. Etanol
Bobot piknometer + etanol = 53,7660 gram
Bobot piknometer kosong = 33,9238 gram
Bobot etanol = 19,8422 gram
bobot etanol 19,8422 gram
Kerapatan etanol = V piknometer = = 0,8035 gram/ml
24,6938 ml
kerapatan etanol 0,8035 gram/ml
Bobot jenis etanol = = = 0,8051
 air 0.998 gram/ml

b. Aseton
Bobot piknometer + aseton = 53,2250 gram
Bobot piknometer kosong = 33,9238 gram
Bobot aseton = 19,3012 gram
bobot aseton 19,3012 gram
Kerapatan aseton = V piknometer = = 0,7816 gram/ml
24,6938 ml
kerapatan aseton 0,7816 gram/ml
Bobot jenis aseton = = = 0,7831
 air 0.998 gram/ml

c. Kloroform
Bobot piknometer + kloroform = 70,0750 gram
Bobot piknometer kosong = 33,9238 gram
Bobot kloroform = 36,1512 gram
bobot kloroform 36,1512 gram
Kerapatan kloroform = =
V piknometer 24,6938 ml

= 1,4639 gram/ml
kerapata kloroform 1,4639 gram/ml
Bobot jenis kloroform = =
 air 0.998 gram/ml

= 1,4668
3. Perhitungan kerapatan zat padat (peluru besi)
Bobot Piknometer + peluru + air= 59,4713 gram
Bobot peluru = 1,0383 gram
Bobot piknometer + air = 58,433 gram
Bobot air = 24,5092 gram
Bobot air yang ditumpahkan = 24,6445 g - 24,5092 g = 0,1353 g
bobot air yang ditumpahkan
Volume air yang ditumpahkan =  air
0,1353 gram
= = 0,1355 ml
0.998 gram/ml
bobot peluru
Kerapatan peluru = volume air yang ditumpahkan
1,0383 gram
= = 7,6627 gram/ml
0,1355 ml
kerapatan peluru
Bobot jenis peluru =  air
7,6627 gram/ml
= = 7,6780
0.998 gram/ml

4. Perhitungan kerapatan zat semipadat (lilin)


Piknometer + lilin + peluru + air = 59,5154 gram
Bobot peluru + lilin = 1,1349 gram
Bobot piknometer + air = 58,3805 gram
Bobot air = 24,4567 gram
Bobot air yang ditumpahkan = 24,6445 g - 24,4567 g = 0,1878 g
Volume air yang ditumpahkan (volume zat padat campuran)
Bobot air yang ditumpahkan
=  air
0,1878 gram
= 0.998 gram/ml = 0,1881 ml

Volume lilin = Volume zat padat campuran - volume peluru


= 0,1881ml - 0,1355 ml = 0,0526 ml
Bobot lilin 0,0966 gram
Kerapatan lilin = Volume lilin = = 1,8365 gram/ml
0,0526 ml
kerapatan lilin 1,8365 gram/ml
Bobot jenis lilin = = = 1,8401
 air 0.998 gram/ml
7. PEMBAHASAN

7.1 Kerapatan

Kerapatan adalah massa (gram) per unit volume (ml) suatu zat pada
temperatur tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang paling sederhana
dan merupakan salah satu sifat fisika yang paling definitif dengan demikian dapat
digunakan untuk menentukan kemurnian suatu zat (ansel, 2004).

Kerapatan dapat diperoleh dengan membagi massa suatu objek dengan


volumenya. Massa atau volume adalah sifat ekstensif, dimana sifat ekstensif adalah
suatu sifat yang besarannya tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki.
Rapatan merupakan perbandingan antara massa dan volume, disini rapatan masuk
dalam sifat intensif. Sifat intensif adalah suatu sifat yang bergantung pada jumlah
bahan.

7.2 Bobot Jenis

Bobot jenis merupakan rasio kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air pada
suhu 4C. Dapat dinyatakan dengan beberapa angka di belakang koma sebanyak
akurasi yang diperlukan dalam penentuannya yang disebut dalam bentuk desimal.
Bobot jenis suatu zat dapat dihitung jika diketahui bobot dan volumenya. Pada hasil
perhitungan bobot jenis tidak memiliki satuan karena merupakan perbandingan
antara kerapatan suatu zat dengan kerapatan air. Pada dasarnya volume dan massa
mempengaruhi kerapatan suatu zat. Semakin besar massa benda maka semakin
besar pula kerapatan yang dimiliknya.

Bobot jenis dipengaruhi oleh besar atau kecilnya nilai kerapatan, dimana
bobot jenis berbanding lurus dengan kerapatannya. Apabila semakin besar
kerapatan maka bobot jenis juga semakin besar. Zat yang memiliki bobot jenis >
1,00 maka lebih ringan daripada air. Sebaliknya, jika bobot jenisnya < 1,00 maka
lebih berat daripada air.
7.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerapatan dan Bobot Jenis

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kerapatan dan bobot jenis suatu zat yaitu
sebagai berikut :

1. Massa zat
Massa zat berbanding lurus dengan kerapatan dan bobot jenisnya. Apabila suatu
zat mempunyai massa yang besar maka kerapatan dan bobot jenisnya akan
semakin besar pula, begitu juga sebaliknya.
2. Volume zat
Volume zat berbanding terbalik dengan kerapatan suatu zat. Namun, volume zat
berbanding lurus dengan massa zat. Semakin besar volume zat, maka
kerapatannya semakin kecil. Dimana ukuran partikel zat, bobot molekulnya, serta
kekentalannya dapat memberi pengaruh kepada bobot jenisnya.
3. Viskositas / kekentalan
Viskositas adalah gesekan dalam zat cair atau ukuran kekentalan dari suatu zat
cair. Viskositas berbanding lurus dengan bobot jenisnya. Jadi, semakin besar
viskositas yang dimiliki suatu zat maka semakin besar pula bobot jenis dan
kerapatannya.
4. Tekanan
Tekanan berbanding lurus dengan kerapatannya dan berbading terbalik dengan
volumenya. Semakin besar tekanan, maka volumenya mengecil dan
kerapatannya membesar. Dan semakin kecil tekanan, volumenya membesar dan
kerapatannya mengecil.
5. Suhu
Pada suhu yang tinggi berat jenis dari bahan yang diukur dapat menguap
sehingga akan dapat mempengaruhi bobot jenis dan kerapatannya. Suhu yang
digunakan biasanya yaitu suhu stabil.
7.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Literature pada Suhu 20C
7.4.1 Kerapatan (Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi VI)
No Zat Hasil Percobaan Literatur
1. Etanol 0,8035 g/ml 0,812-0,816 g/ml
2. Aseton 0,7816 g/ml 0,789 g/ml
3. Kloroform 1,4639 g/ml 1,476-1,480 g/ml
4. Peluru 7,6627 g/ml -
5. Lilin 1,8365 g/ml 0,84-0,89 g/ml

7.4.2 Bobot Jenis (Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi VI)

No Zat Hasil Percobaan Literatur


1. Etanol 0,804 0,812 - 0,816
2. Aseton 0,7831 0,789
3. Kloroform 1,4668 1,476 - 1,480
4. Peluru 7,6780 -
5. Lilin 1,8401 0,84-0,89

7.4.3 Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Hasil dengan Literatur


Perbedaan bobot jenis dan kerapatan antara hasil percobaan dengan literatur
dapat disebabkan beberapa faktor :
1) Adanya kontaminasi
Kontaminasi dapat mempengaruhi hasil akhir dari perhitungan kerapatan
dan bobot jenis yang didapat. Pengaruhnya yaitu semakin banyak
kontaminasi, maka semakin besar pula penyimpangan hasil percobaan yang
didapat.
2) Kemurnian zat
Kemurnian zat yang diisi akan berkurang jika ada zat lain yang masuk ikut
tercampur. Sehingga kebersihan dari piknometer sangat penting. Selain itu,
perlu dipastikan bahwa piknometer dalam keadaan kering.
3) Suhu percobaan
Pada keadaan suhu yang sangat rendah sulit untuk menghitung bobot
jenisnya, hal itu disebabkan oleh senyawa yang membeku pada suhu sangat
rendah. Sebaliknya, pada suhu yang sangat tinggi senyawa dapat menguap
sehingga mempengaruhi perhitungan bobot jenisnya. Oleh karena itu, dalam
percobaan digunakan suhu stabil yaitu 20C. Piknometer ditimbang pada
suhu 20C diharapkan sisa-sisa embun sudah tidak ada lagi. Jika masih ada
sisa embun yang tertinggal maka akan berpengaruh pada hasil penimbangan.
4) Cara pengerjaan
Jika memberikan tekanan yang terlalu lambat pada saat memasang
termometer akan dapat menyebabkan udara ikut masuk dan menghasilkan
gelembung yang dapat mempengaruhi perhitungan. Selain itu, timbangan
yang digunakan selama percobaan harus selalu sama dan saat melakukan
penimbangan kurang teliti maka akan mempengaruhi hasil perhitungan.

7.5 Penentuan Kerapatan dan Bobot Jenis

Dalam percobaan ini, alat yang digunakan yaitu piknometer. Piknometer


merupakan alat laboratoirum yang berguna untuk menentukan massa jenis suatu zat
padat atau cairan. Piknometer biasanya terbuat dari kaca dan pada bagian tengah
tutupnya terdapat pipa kapiler yang digunakan untuk mengeluarkan gelembung
udara dari alat tersebut. Sebelum menggunakan alat piknometer, sebaiknya alat
tersebut dicuci atau dibersihkan dan dikeringkan hingga tidak ada sedikitpun air
atau zat yang tertinggal di dalamnya. Hal itu diperlukan agar tidak terjadi kesalahan
dalam menentukan bobot kosong alat piknometer. Sample yang digunakan pada
percobaan kali ini yaitu etanol, aseton, kloroform, zat padat (peluru), dan
lilin/parafin.

Percobaan ini menggunakan air sebagai pelarut standar karena air memiliki
sifat netral. Selain itu, temperatur 4C air mempunyai sifat anomali air (kerapatan 1
gram/ml). Dapat disimpulkan bahwa kerapatan dan bobot jenis air adalah sama.
Pada percobaan ini menggunakan suhu 20C karena suhu tersebut merupakan suhu
optimal atau standar dari piknometer. Suhu diturunkan 2C dibawah suhu percobaan
dilakukan agar meminimalisir kemungkinan terjadinya kenaikan suhu ketika tangan
menyentuh piknometer dan terjadi penempatan ruang sehingga tidak ada gelembung
udara.

7.6 Pemanfaatan Bobot Jensi dan Kerapatan dalam Bidang Kefarmasian


a) Kerapatan dan bobot jenis digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu zat
dengan cara menghitung berat jenisnya terlebih dahulu kemudian dibandingkan
dengan teori yang ada. Jika berat jenisnya mendekati, maka zat tersebut memiliki
kemurnian yang tinggi.
b) Sebagai salah satu metode analisis yang berperan dalam menentukan senyawa cair.
c) Dapat mengetahui suatu obat dapat tercampur atau tidak sehingga mempermudah
dalam memformulasikan obat tersebut.
d) Dapat mengetahui bobot jenis suatu zat / sediaan khususnya yang terbentuk
laurtan.
e) Dapat mengetahui kelarutan suatu zat atau daya larut suatu senyawa obat.

7.7 Titik Kritis


Adapun titik kritis pada saat melakukan percobaan sebagai berikut :
1. Kesalahan penimbangan dapat terjadi akibat adanya gesekan atau gaya disekitar
neraca analitik dan pembulatan angka hasil penimbangan. Selain itu, keadaan
neraca analitik yang sudah tertutup atau tidak.
2. Saat melakukan penutupan piknometer dilakukan dengan pelan-pelan. Jika cara
penutupan piknometer dilakukan dengan cepat dapat menyebabkan zat dalam
piknometer tumpah terlalu banyak, sehingga mempengaruhi massa pada saat
penimbangan dilakukan.
3. Jika terdapat larutan yang tertinggal pada piknomete, maka akan dapat terjadi
kontaminasi larutan yang akan diisi. Hal itu dapat mempengaruhi hasil akhir
penimbangan. Jadi, harus dipastikan bahwa piknometer dalam keadaan bersih
dan kering sebelum memasukkan lagi larutan ke dalamnya.
4. Kesalahan dapat terjadi jika praktikan kurang teliti mengamati suhu saat
piknometer direndam di air es dan saat ditimbang. Selain itu, kesalahan
membaca skala pada alat juga akan mempengaruhi hasil akhir penimbangan.
5. Pada saat percobaan ini menggunakan suhu 20C, dimana sampel harus
diturunkan dulu suhunya 2C dibawah suhu percobaan.
8. KESIMPULAN

1. Kerapatan adalah massa (gram) per unit volume (ml) suatu zat pada temperatur
tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang paling sederhana dan
merupakan salah satu sifat fisika yang paling definitif dengan demikian dapat
digunakan untuk menentukan kemurnian suatu zat (Ansel, 2004).

2. Bobot jenis adalah rasio kerapatan zat terhadap kerapatan air pada suhu 4oC. Bobot
jenis dipengaruhi oleh besar atau kecilnya nilai kerapatan, dimana bobot jenis
berbanding lurus dengan kerapatannya.

3. Perbedaan hasil percobaan dan literatur


a. Kerapatan

Hasil
No. Zat
Percobaan Literatur

1. Etanol 0,8035 g/ml 0,812-0,816 g/ml

2. Aseton 0,7816 g/ml 0,789 g/ml

3. Kloroform 1,4639 g/ml 1,476-1,480 g/ml

4. Peluru 7,6627 g/ml -

5. Lilin 1,8365 g/ml 0,84-0,89 g/ml

b. Bobot Jenis

Hasil
No. Zat
Percobaan Literatur
1. Etanol 0,804 0,812 - 0,816
2. Aseton 0,7831 0,789
3. Kloroform 1,4668 1,476 - 1,480
4. Peluru 7,6780 -
5. Lilin 1,8401 0,84-0,89

4. Dari hasil percobaan diperoleh kerapatan aseton < kerapatan etanol < kerapatan lilin
< kerapatan kloroform < kerapatan peluru
5. Dari hasil percobaan diperoleh bobot jenis aseton < bobot jenis etanol < bobot jenis
lilin < bobot jenis kloroform < bobot jenis peluru
6. Hasil praktikum yang kami lakukan masih belum sepenuhnya sesuai dengan
literatur. Dari hasil percobaan di dapat kerapatan dan bobot jenis lilin yang relative
jauh selisihnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adanya
kontaminasi saat melakukan percobaan, suhu percobaan yang sangat rendah
membuat sulit menghitung bobot jenisnya serta cara pengerjaan yang disebabkan
karena ketidaktelitian praktikan dalam menimbang dan menghitung kerapatan dan
bobot jenis lilin.
7. Faktor yang mempengaruhi kerapatan adalah
- Massa zat
- Tekanan
- Viskositas
- Suhu
- Volume zat
8. Kegunaan bobot jenis dan kerapatan dalam bidang farmasi adalah untuk
menentukan kekentalan dan kemurnian serta kelarutan suatu sediaan sehingga
mempermudah dalam proses formulasi obat
9. DAFTAR PUSTAKA
Ansel, Howart C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2020, Farmakope Indonesia Edisi
VI. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV . Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.
Fajrin, Ika. Laporan Resmi Praktikum Fisika Farmasi.
https://www.academia.edu/18421465/Laporan_Resmi_Praktikum_Fisika_Farmasi_Ker
apatan_dan_Bobot_Jenis_
Hardianti, Dianeti. Laporan Praktikum Kimia Farmasi Fisik.
https://www.slideshare.net/minaaudina/laporan-farmasi-fisika-kerapatan-bobot-jenis-
zat-cair
Lachman, Leon. 1994. Teori dan Praktek Farmsi Industri. Jilid III. Edisi III. Jakarta :
Penerbit Universitas Indonesia.
Ptreucci R. H, 1999, Kimia Dasar Prinsip dan Teori Modern, Erlangga, Jakarta.
10. LAMPIRAN
1. Apa kaitan benda yang tenggelam, melayang dan terapung dalam air dengan
kerapatan suatu benda!
 Tenggelam
Suatu benda akan tenggelam apabila kerapatanbenda lebih besar dari pada
kerapatan pelarut atau cairan sehingga bendaakan mengalami gaya total ke bawah
yang tidak sama dengan nol
 Melayang
Suatu benda akan melayang apabila memiliki kerapatan yangsama dengan
kerapatan cairan saat benda diletakkan di dalam suatu cairan. Benda berada
ditengah dan tidak bergerak ke atas ataupun ke bawah
 Terapung
Jika kerapatan suatu benda lebih kecil daripada kerapatan zat cair maka benda
tersebut akan mengapung atau bergeraknya benda lebih kecil daripada gaya angkat
ke atas
2. Jelaskan perbedaan antara kerapatan dan bobot jenis!
Kerapatan adalah massa (gram) per unit volume (ml) suatu zat pada temperatur
tertentu. Kerapatan dapat diperoleh dengan membagi massa suatu objek dengan
volumenya. Massa atau volume adalah sifat ekstensif, dimana sifat ekstensif adalah
suatu sifat yang besarannya tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki.
Sedangkan bobot jenis merupakan rasio kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air
pada suhu 4C. Bobot jenis suatu zat dapat dihitung jika diketahui bobot dan
volumenya. Pada hasil perhitungan bobot jenis tidak memiliki satuan karena
merupakan perbandingan antara kerapatan suatu zat dengan kerapatan air. Bobot jenis
dipengaruhi oleh besar atau kecilnya nilai kerapatan, dimana bobot jenis berbanding
lurus dengan kerapatannya.

3. Jelaskan contoh aplikasi penggunaan data bobot jenis di bidang farmasi (minimal 2)
- Dengan mengetahui bobo jenis, farmasis dapat mengetahui kemurnian dari suatu
sediaan khususnya yang terbentuk larutan air yang digunakan untuk standar untuk
zat cair dan padat. Hidrogen atau udara untuk gas dalam farmasi, perhitungan berat
jenis terutama menyangkut cairan zat padat dan air merupakan pilihan yang tepat
untuk digunakan sebagai standar karena mudah di dapat dan mudah dimurnikan.
- Dengan mengetahui bobot jenis suatu zat, maka akan mempermudah dalam
memformulasikan obat karena dengan mengetahui bobot jenisnya, maka kita dapat
menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat lainnya.

Jember, 23 November 2020

Aimmatur Rodhiyah Basyar

Anda mungkin juga menyukai